‘SERIAL MASA SMA MASA BODO?’ MEMBURU CAMELIA

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Oleh : Deddy Azwar

Masih ingatkah kawan-kawan dengan sesosok cewek yang dengan sudi plus sedikit terpaksa meminjamkan payungnya kepada Tekya di saat hujan deras tempo hari? Disaat keduanya berlarian menuju ke sekolah sembari membelah derasnya hujan. Mereka berlari susul susulan memghindari hujan. Kemudian ketika keduanya telah mendarat di halaman sekolah dengan keadaan basah kuyub, Tekya mengeluarkan sejumlah duit kertas lecek sebagai upah sewa, namun ditolak secara halus oleh sang cewek. Lalu dengan secepat kilat di lenyap di balik  tembok sekolah. Tekya justru senang karena duit jajannya selamat. Kagetnya kenapa dia menolak? Dan yang menjadi tanya besar bagi Tekya adalah lupa menanyakan namanya. Tekya sedikit menyesal dan kepikiran terus. Untungnya mereka satu sekolah. So sedikit membuat Tekya sedikit lega. Paling tidak kapan-kapan pasti ketemu. Hanya masalah waktu saaja. Siapa sangka kejadian romantis itu menjadi sesuatu yang amat berkesan dan terbayang terus oleh Tekya. Entah kalau bagi si cewek itu?

Ya, walaupun masih satu sekolah dan saru pekarangan entah sampai saat ini Tekya belum ada kesempatan bersua wajahnya. Akibat banyaknya PR di sekolah ditambah lagi kegiatan ekstrakulikuler membuat Tekya belum sempat menyelidiki keberadaan tuh cewek. Di kantin tak ketemu, di tempat ganti pakaian kosong? di lapangan bola di belakang sekolah nihil, diperpustakaan juga nggak ada, di parkiran motor apalagi. Pas upacara bendera di sekolah tiap Senin juga tidak ketemu. Tekya heran. Jangan-jangan cewek itu sosok bidadari yang dikirmkan Tuhan untukku? Tekya langsung jumawa. Oh kemanakah gerangan engkau wahai bidadariku. Jujur deh, aku belum sempat membalas kebaikanmu. Haruskah kita bertemu hanya di setiap musim hujan? Jangan dong…Pinta Tekya. Apakah pertemuan kemarin hanya sekali seumur hidup?

Bagi Pola peristiwa itu romantis banget. Ingin rasanya itu terulang kembali. Basah-basah kuyub biarin deh, gua jabanin. Begitu janji Tekya dalam hati. Agak muluk memang.

Semenjak  minggu lalu, ditambah lagi saling tatap-tatapan tidak sengaja itu membuahkan sebuah cinta segar nan hijau. Love for the first time. Swear, kalau disuruh mengingat-ingat masih membekas senyum manisnya. Bentuk wajahnya yang oval dengan dagu nan lancip. Rambut panjangnya berwarna agak kemerah-merahan terurai.  Sorot matanya nan sendu dan sayu. Badannya nan tinggi semampai. Berat badan yang proporsional. Ditambah lagi kulitnya yang putih. Oh ya bibir tipisnya nan merah merekah. Terkya langsung terbayang dengan aktris Mandarin Lin Ching Hsia jaman old. Wajahnya nyaris oriental. Sekilas Tekya bisa menilai Si cewek bukan tipe yang merepotkan pasangannya.  Itu terbukti ketika dia memandang Tekya dengan malu-malu harimau. Artinya tidak jelalatan melihat cowok ganteng. Kesimpulannya Tekya merasa ganteng nih? Tepat sekali cewek itu tipe lugu dan polos. Betulkah sangkaan Tekya. Pokoknya kepolosan dan keluguan yang ditawarkan sang cewek mistrius itu begitu terpancar dari wajah innosense tanpa dosa ditambah sorot matanya yang teduh. Hanya satu kata : FEMINIM.

Tekya terjangkit penyakit demam cinta. Dan yang dapat menyembuhkan adalah dokter cinta. Lalu nebus resep obatnya di apotik cinta pula. Cinta itu pula yang selalu mengusik tiap tidur malamnya. Wajah sang cewek kian terbayang melulu. Kadang tidak mengingat lokasi. Tidak di rumah, di pekarangan sekolah, di kamar tidur bahkan saat di kamar mandipun wajah imutnya selalu terbayang di pelupuk mata. Seringnya kebawa mimpi. Seakan-akan dia senantiasa hadir dalam mimpi-mimpi indahnya. Figurnya lama-kelamaan bagaikan virus yang menyerang hati dan jantung juga merusak pikiran. Memporak-porandakan jiwa. Untungnya belum bikin sakit jiwa. Tekya mulai bertingkah yang aneh-aneh. Sekarang dia mulai getol berdandan, mengatur ritme dan gaya berjalan. Tekya sudah mulai memperhatikan penampilan. Ambil contoh : Jikalau dulu boro-boro mengurusi rambut. Kadang sisir aja sering lupa kalau tidak diingatkan Mama. Seringnya kelima jarinya jadi pengganti sisir. Mau keadaan rambut awut-awutan kayang benang mah masa bodoh. Gaya rambutpun seada dan sekenanya. Rapi syukur berantantakan mujur. Mau rambut di sisir belah tengah, belah samping, belah duren atau belah ketupat tidak pernah dia singgung dan pikirin. Untuk siapa kagi kalau bukan untuk sang pujaan.

Pokoknya bagi Tekya menjaga penampilan adalah yang utama, penting dan genting. Dan kalau kebelet kencing musti buka kancing untuk pipis. Ingat jangan sampai nungging kayak trenggiling. Terus kalau sudah di toilet lihat samping kiri dan kanan. Takut tahu-tahu ada pocong laki ikut-ikutan kecing juga. Wah bisa modar.

Akhirnya Tekya bertekad memulai pencariannya. Diawali dengan berdoa terlebih dahulu. Rencananya dia akan mengitari seluruh tiap sudut halaman sekolah. Memeriksa setiap ruangan kelas dengan berpura-pura mencari teman. Tekya berkeyakinan kuat akan berhasil. Mustahil tidak dapat menemukan satu orang di area sekolah sendiri.  Tidak ada alasan untuk menyerah. Emang seberapa besar sih halaman sekolah Tekya? Emang ada berapa lantai gedung sekolahnya?

Keesokan harinya ketika masuk jam istirahat (keluar main). Tidak seperti biasanya bel istirahat jam pertama berbunyi lamaaaaa berulang-ulang. O-oh ternyata kabelnya konslet. Beberapa siswa langsung berhamburan keluar. Ada yang berjalan sendiri, mencari teman segank ataupun ikut gerombolan yang mempunyai selera seragam. Sudah bisa ditebak di otak mereka biasanya sudah terbayang-bayang akan makanan yang enak dan lezat di kantin sekolah, sudah menghantui perut mereka sejak 1 jam yang lalu. Kali ini Tekya tidak minat ikut siapa-siapa. Dia sudah berniat sejak tadi pagi ingin memisahkan diri dari teman-temannya. Tidak menerima ajakan dari siapapun. Lima menit sebelum bel istirahat berdering Tekya sudah berada di luar kelas. Sejenak kemudian Tekya sudah duduk di pokokan persis dekat jendela di kantin Kak Mail. Dengan memilih posisi duduk strategis Tekya berharap dapat memantau setiap gerak-gerik setiap aktifitas siswa dari balik tirai tanpa ketahuan. Kebetulan kaca jendela kantin Kak Mail rada gelap. Ya namanya usaha siapa tahu sang cewek kepergok sedang makan tekwan lima piring? Setelah hampir 10 menit Tekya tidak menemukan incarannya. Bidikannya belum menemui sasaran. Memasuki kam istirahat yang kedua Tekya mencoba menelusuri koridor kelas satu persatu. Tidak tanggung-tanggung, dari lantai satu sampai ke lantai tiga dia periksa. Malah sampai ke kolong-kolong meja segala. Nihil.

Pada hari kedua giliran tempat parkiran motor, lapangan bola dan lapangan basket mendapat giliran. Pada hari ketiga tinggal ruang perpustakaan, ruang praktikum, ruang kamar ganti olahraga dan gudang. Hasilnya semua sama saja. Tekya nyaris putus asa.

Ketika pulang sekolah, tekya buru-buru mencari tempat duduk di halte depan sekolah. Dia kepingin cepat pulang sebelum dikepung oleh teman seganknya untuk ngumpul-ngumpul ataupun sekedar ngobrol ngalor-ngidul yang tak jelas. Mending dia memilih cepat pulang dikarenakan perut dilanda keroncongan. Sampai di halte Tekya jadi ngos-ngosan deh! Situasi di halte tidak begitu ramai lagi.

Ketika Tekya sedang memelototi setiap angkutan kota dan bis sekolah yang lewat. Tekya takut tidak dapat oplet (angkot). Sinar matahari sudah berada tepat di atas kepala. Sudah hampir 20 menit Tekya belum dapat angkot. Kadang ada satu atau dua yang berhenti, akan tetapi langsung diserobot siswa lain. Tekya kembali menuju halte kembali dengan langkah gontai. Entah untuk kesekian kalinya dia begitu. Maklum siang nan terik itu menciptakan suasana hangat bagi semua sehingga kebanyakan orang pingin cepat sampai tujuan agar terhindar dari sinar ultra violet milik matahari. Tidak terkecuali si Tekya.

Tekya mendaratkan pantatnya yang tepos itu pada kursi besi di sebuah halte. Andaikan kursi itu dapat berbicara kursi pasti akan mengeluh hingga berteriak : “Idih aku bosan ketemu pantat si kurus ini lagi!!”. Tekya menundukkan kepalanya. Menghela nafas sebentar sambil berguman. “Duh, sudah siang begini maasak belum mendapatkan angkot sih. Dari kejauhan Tekya sempat mengintip Agus Blepotan dan gang kelas 1.3 juga dihadiri beberapa siswa dari kelas lain masih asik nongkrong di bawah besar lagi tua di pinggir jalan yang menghadap ke lapangan sepak bola. Selain halte, pohon besar itu dinobatkan menjadi tempat favorit untuk berteduh di bawah terik sinar matahari. Kabar punya kabar santer terdengar isu bahwa itu pohon lumayan angker dan keramat. Coba saja singgah ke sana saat malam tiba dijamin tak ada satupun yang berani mampir ke sana.

Di tengan perenungan dan kebengongan di padepokan halte sekolah, tiba-tiba mata Tekya tertuju pada sesosok wajah yang dia kenal. Bola matanya nyaris tak berkedip. Seolah-olah ingin meloncat keluar.  Tekya segera berkonsentrasi seraya mengingat-ingat. Aduh, siapakah gerangan cewek itu. Oh ya. Tralala trilili trijengki. Tidak salah lagi bidadari inilah yang saya cari, teriak Tekya dalam hati. Mata Tekya terus mengamati seorang siswa cewek berparas manis sedang bingung mencari bangku kosong di dalam bis kota yang hendak melaju. Tekya bangkit berdiri dan mencoba menghampiri. Kemudian dia berlari-lari kecil mengiringi bis tersebut.

“BINGO!” Akhirnya dapat juga namamu oh bidadariku,” Pekik Tekya tidak tertahan lagi. Ucapan itu terlepas begitu saja di bawah alam sadar. “YES YES, NAMAMU TELAH KUKANTONGI!” Tekyapun tersenyum 20 jari. Selamat tinggal lapar.

“SOL, nongomong-ngomong kamu tahu sama cewek bernama Camelia nggak?” Tekya bertanya kepada Faisol saat jeda pelajaran Fisika.

“Apa? Taman Ria? Waduh aku belum pernah ke sana tuh,” jawab Faisol sambil mengeluarkan komik Doraemon dan cergam Pendekar Hina Kelana.

“Dasar Kutukupret!” Damprat Tekya kesal. “Sajak kapan kamu bolot Sol?”

“Dasar Sontoloyo!” Balas Faisol tak mau kalah seraya membentangkan kedua tangannya. “Apa salahku?”

“Makanya kalau pejabat lagi berbicara nyimak dong. Kamu tahu Camelia tidak?”

Faisol mengeryitkan dahinya. “Tunggu dulu kawan…Saya ingat-ngat dulu. Camelia Contesa? Camelia Malik? Cameli lagunya Ebiet G Ade? Kriting mulai ngelantur.

“Kamu mikirnya kejauhan Sol Patu. Yang aku maksud Camelia di sekolah kita.”

“Ohhh itu. Camelia.. ya ya Camelia..”

“Artinya kamu tahu dong. Ayo apa yang kamu ketahui tentang dia?”

“Nggak. Aku nggak tahu. Kayaknya aku pernah punya deh. Tapi nama Camelia banyak di Palembang ini. ”

“Sontoloyo! Kupret!” Tekya menggetok jidat Faisol. “Kasihan kamu Sol. Selalu tidak upadate masalah yang beginian. Katanya playboy cap kuda duduk. Wah rugi kamu Sol. Ini cewek punya kisah khusus dengan saya. Cakepnya nggak ketulungan. Pokoknya belagak nian.” Tekya mengacungkan dua jempolnya. “Two thumb!”

“Ah yang benar? Biasanya saya tahu kok kalau ada siswi yang yahud. Apalagi adik-adik kelas kita. Emang kamu kena banget sama dia?”

“Pertanyaan yang bagus. Pasti kenal duongg.”Tekya mencoba berbohong seraya membusungkan dadanya yang datar. “Siapa dulu. Tekya kenal semua cewek pintar, bermutu dan berkwalitas.”

“Siapa dulu dong temannya. Faisolll.” Balas Faisol tak kalah sengit.”Tidak rugi kamu kenal sama awak. Awak juga kenal secara detail sama gadis2 sepalembang malah.”

“Bohong besar hehehe.” Ucap Tekya cespleng.

Faisol penasaran. Dia meminta Tekya menceritakan kisah awal pertemuannya dengan cewek berpayung itu. Segala kelebihan objeknya dipaparkan secara lengkap. Tekya mengisahkan semuanya tanpa ada yang terlewati, secara terperinci dan detail. Terutama pada bagian menguraikan anatomi tubuh. Dasar laki-laki! Faisol serius menyimak seraya berdecak kagum. Matanya sesekali melotot. Air liurnya nyaris menetes. Faisol langsung membayangkan dari miss universe, ratu sejagad, bintang film sampai miss world. Angan-angan terlempar jauh melampaui batas.

“Hanya satu kata. AMAZING! Penuturanmu super komplit. CIAMIK sekali.” Puji Faisol sambil bersiul. “Awak semakin penasaran setelah mendengar dongeng awak.”

“Eh sembarangan ya. Ini serius bukan dongeng. Real story. Fact.” Tukas Tekya sambil mendorong pundak Faisol.

“Iya Tekya. Awak bercanda. Penesan brur, penesan brur.”

Tekya meminta sahabatnya itu membantunya mencari tahu keberadaan sang pujaan hatinya.Tekya menatap Faisol penuh harap.

“Boleh. Awak penasaran kepingin tahu sejauhmana selera kamu terhadap wanita. Gimana sih tampangnya.”Ucap Faisol dengan nada setengah meledek

“Pokoknya si Yuli gacoanmu lewat.”

“Really? Serius?”

“Very beatiful abis deh.”

“Coba sebutkan kelebihannya…”

“Wajahnya oval, dagunya lancip. Rambutnya hitam sedikit kemerah-merahan. Wajah mandarin. Kayak pirang nggak jelas gitu deh. Bodinya bohay cak biola. Bibir tipis merekah. Kulitnya putih muluss.”

“Teruss…Apa lagi yang putih Tekya..”

“Betisnya. Aduhhh apalagi…?” Tekya mikir.

“Pa-hanya, ya?” Ucap Faisol pelan tapi lirih sambil ngiler…

“Dasar parno. Ada. Uban neneknya.”

Keduanya tertawa lepas. Membuat bingung teman di sekitanya.

“Kapan ini memulai misi kita Sol?” Tanya Tekya setelah reda.

“Tahun depan. Yang hari ini juga monyong. Waktu istirahat ‘keluar mainlah’…”

“Itu baru namanya kance. Ce-es.”

Mereka berdua ber-toast ria.

Suasana kelas lain. Seorang gadis sedang asik mencorat-coret di buku tulisnya bersampul berwarna coklat. Pelajaran Sejarah baru saja usai. Sambil menanti pergantian guru, Camelia Carla mempergunakan waktunya yang tersisa untuk melepaskan hobinya menggambar bunga. Teman-temanya yang lain ada yang sibuk bercanda, bergosip dan bersenandung. Beberapa anak memanfaatkan untuk buang air kecil di taman sekolah eh salah di toilet. Guratan spidolnya yang lincah menunjukkan kemahirannya menggambar berbagai macam bunga. Camelia Carla sangat menyukai bunga. Terutama bunga yang kelihatan cantik apalagi berbentuk unik. Dia akan betah memandangi dan membelai itu bunga. Ada beberapa jenus bunga yang dia sukai. Bunga Matahari, bunga Sakura, bunga mawar, bunga edelwies dan lain-lain. Camelia tidak suka dengan bunga yang jelek seperti bunga bakung, bunga tahi ayam dan bunga plastik!

“Hei cewek tukang kembang!” Teriakan Chica memecahkan ketenangan, kesunyian dan keseriusan Camelia.

Camelia hanya menanggapi dengan menoleh sekilas lalu tersenyum mengejek. Walaupun wajahnya dijelek-jelekin bagaimanapun tetap cantik. Saking dongkolnya karena dicuwekin, Chica  mencubit pelan pipi sahabat sebangkunya itu. Camelia tersentak dan hanya bereaksi sesaat.

“Please dong cicak..Lagi serius nih. Aku sedang konsentrasi menggambar bunga Mawar langka dari Afrika nih.”

“Bodo ah.  Terserah mau mawar dari Etiophia kek. Emang gue pikirin. Ayo dong comel, katanya bersedia menemani Aku ke perpus. Dua hari yang lalu kulihat ada novel baru lho. Lima Sekawannya Enid Blyton cetakan terbaru di sana. Aku kawatir kalau kita telambat keburu diembat anak kelas lain. Apalagi kelas 1.7 semuanya pada kutubuku.”

“Iya…kok anak kelas 1.3 sedikit sekali minat mereka untuk membaca ya cak?”

“Tau. Iya kali. Beberapa hari ini kamu ngomongin anak kelas 1.3 melulu. Aku curigation pasti ada apa-apanya.”

“Ah nggak kok. Tidak ada apa-apa.” Tukas Camelia agak mendelik.”Ngomong-ngomong apa saja yang kamu ketahui tentang mereka?”

“Mereka? Anak kelas 1.3 maksudmu?”

“He-eh.”

“Setahuku kalau anak kelas 1.7 terkenal dengar julukan kutubuku. Nah anak kelas 1.3 itu kutukupret. Hahaha…”

“Ah kamu bisa aja. Bercanda melulu.”

“Please comel. Angkatlah pantatmu sebentar. Ayuk kita ke koperasi eh perpus ding. Lima sekawan..lima sekawan Mel. Aku sudah tak tahan nih. Kalau sampai sana ternyata kosong kamu musti traktir Aku pempek panggang ya.”

“Lho kok gitu..Enak di kamu nggak enak di saya. Dasar cicak di dinding. Tunggu…kemarin pas aku sendiri kesana. Lima Sekawannya kosong kok..”Jawab Camelia dengan santai tanpa beranjak sedikitpun.

Chica semakin kesal dengan kelakuan sohibnya yang malas-malasan. Antara ikhlas dan pamrih. Antara mau dan ogah. Singkat cerita Chica sekonyon-konyong menarik paksa sohibnya. Pada akhirnya Camelia menurut juga.

Waktu istirahat yang dinanti-nantipun tiba. Bagi Tekya mungkin saat itu  adalah moment bel istirahat yang sangat spesial, spesifik dan luar biasa bedanya selama hidupnya di sekolah. Ceile. Begitulah hati anak kawula muda yang sedang kesengsem dengan sang pujaan hatinya. Tekya merasa kenapa ya kok seperti kayak diguna-guna. Tapi sepertinya tidak mungkin. Memangnya Tekya cowok ganteng sedunia yang dapat membius jutaan hati wanita. Bukan pula artis yang mempunyai ribuan fans. Bukan pula yang dapat mengumpulkan massa saat konferensi pers. So Tekya kamu jangan GE-ER ya. Tekya itu memang cakep kalau dilihat dari jembatan Ampera. Kalau dideketin katanya mirip pelawak Jimmy Gideon. Nah lho…Kesimpulannya no guna-guna but love for the first time kali….Katanya hati menjadi berkembang-kembang.

Faisol berjalan beriringan langkah dengan Tekya. Mereka menyusuri koridor terbuka menuju gedung perpustaakaan sekolah. Lokasinya berada di belakang kantin. Kali ini mereka tak langsung menuju kantini seperti hari biasanya, tapi malah menyambangi perpustakaan terlebih dahulu. Sungguh diluar kebiasaan. Sok kutubuku banget gayanya.

Hari itu pengunjung perpustakaan masih sepi. Karena jam-jam segitu kebanyakan siswa-siswi pada ngumpul di kantin. Maklum, keadaan perut musti diutamakan ketimbang otak. Bagaimana mau berpikir dalam keadaan lapar, bukan?

“Yang mana Tekya anaknya? Yang itu ya?” Tuding Faisol ketika sampai di depan pintu di dekat majalah dinding.

“Salah Solpatu. Itu si nenek ijah alias Azizah. Ngapain dia di perpustakaan?”Koreksi Tekya sambil geleng-geleng kepala.

“Oalah! Jadi yang mana Tekya?”

“Sabar dulu. Sol sol…Nah itu dia. Betul banget sepertinya dia sedang menuju kantin-eh salah ke perpustakaan. Yuk kita ikutin. Eh dia menuju dan masuk ke perpustakaan. Cepat buruan Sol. Langkahnya di besarkan dikit dong. Aduh Sol. Kamu melihat kemana? Itu anaknya. Gila makin kece aja. Kamu lihat nggak sih?!

“Iya iya. Awak lihat bayangannya.”

“Bayangan bagaimana? Setan kali…”Keluh Tekya tak paham.

Ternyata Faisol gagal fokus. Matanya melenceng ke objek yang lain. Sepertinya ada siswi lain yang menarik perhatiannya.

“Anu anu Tekya. Kan dia kan sudah keburu masuk ke perpustakaan. Lenyap di balik pintu. Mana saya tahu badannya. Tentu tinggal bayangannya. Awak ini lolo nian.” Kilah Faisol.

“Awak yang lolo. Semprul!” Omel Tekya. “Makanya harus konsentrasi dong Solpatu
. Kalau orang sedang berbicara mohon diperhatikan. Kalau orang menunjuk jangan meleng. Apa kan kataku. Kita kehilangan jejak. Buruanku lenyap.”

“Jangan overacting deh. Kita tidak sedang di pasar inpres yang ramai. Ini sekolah Tekya. Percayalah kalian akan kupertemukan.”

“Janji?”

“Iya janji.” Mereka bertoast ria.

“Yuk kita susul!”

Sebelum mendatangi perpustkaan mereka berdua menyambangi toilet karena sudah kebelet pengen kencing. Saking terburu-buru mereka salah masuk ke toiket milik cewek. Entah karena tidak tahu atau disengaja. Untung mereka cepat sadar dan berbalik arah.

“Buruan Sol!” Tekya menggedor pintu toilet. “Kamu ketiduran ya?”

“Iya. Kagek doken (sebentar napa sih)! Tahu gitu saya titip aja sama kamu kencingnya.”

“Lolo. Goblok!”

Di perpustakaan. Camelia dan Chica berjalan susul-susulan. Mereka menyusuri tiap koridor perpustakaan dan menemukan rak yang berlabel ‘FIKSI”. Segala novel dari berbagai genre tersusun rapi dan terpajang di sebuah rak berbahan dari kayu jati. Selain novel lokal adapula novel internasional.  Dahulu kala sempat  buku berjenis fiksi dilarang oleh Kepala Sekolah masuk ke ruang perpustakaan. Karena akan dikhawatirkan bacaan lain takut tidak mendapatkan tempat. Kepsek beralasan para pelajar jadi malas membaca buku-buku cetak pelajaran sekiranya ada novel. Menurut pengalaman, pelajar lebih betah dan nyaman berlama-lama sampai lupa waktu dan lupa belajar  jika sudah membaca sebuah novel. Namun setelah Kepala Perpustakaan dan para guru turun tangan baru diperbolehkan. Setelah beberapakali melakukan mediasi. Akhirnya sang Kep Sek lembek juga. Setelah diselediki ternyata dia anti cerita fiksi.

“Tuh kan apa kubilang ternyata sudah habis.”Rengek Chica mirip anak balita kehilangan permen.

“Sudah jangan sedih dulu Cak…Habis kan bukan berarti ada? Yuk, kita periksa. Tetap semangat mencari. Siapa tahu masih ada yang tergeletak dimeja sisa dibaca orang.”Camelia meyakin walau agak ketar ketir. Idiihh kalau tidak ketemu dia bakal traktir Chica pempek panggang.

“Kayaknya nggak mungkin deh. Mukjizat kalau masih ada.” Chica sudah merasa hopless.

Mereka berdua langsung hunting menyeruak menelusuri setiap lorong. Tiap tiap diperiksa satu persatu. Camelia malah kadang-kadang mencomot satu persatu buku dan majalah yang sudah tersusun rapi, lalu meletakkan kembali dalam keadaan kacau. Masalahnya sang sohib suka ngamuk yang aneh-aneh jikalau keinginannya tidak tercapai. Camaelia bertekad harus menemukan novel Lima Sekawan yang diincarnya. Seandainya saja di sebelah ada toko buku, Camelia pasti akan berusaha bela-belain untuk mampir kesana untuk….meminjam dan mempotokopi. Alamak!

Pegawai perpustakaan berhenti di salah satu rak. Kepalanya menggeleng pelan. Bola matanya sedikit melotot di balik kacamatanya yang tebal. Huh! Siapa sih yang berani mengacaukan sejumlah rak buku yang semula tersusun rapi? Tidak tahu apa ya? Kemaren, saya sepanjang hari menyusun buku-buku itu dengan hati-hati. Apa tidak kasihan sama saya ya?

Tekya sedang mengisi buku tamu di meja registrasi setelah tiba di perpustakaan. Faisol menunggu di belakang Tekya.

“Temennya yang kriting tidak mengisi buku tamu?” Tanya Bu Monika, sebagai penjaga perpustakaan menyimpan kecurigaan. Itulah akbiat Faisol jarang mengunjungi perpustakaan jadi tidak dikenal seantero perpustakaan.

“Oh nggak perlu Bu Monik. Faisol ini tukang ojek yang mangkal di depan sekolah.” Jawab Tekya sekenanya. Faisol menonjok pundak Tekya agak  keras. Kelihatan dia ngedumel tak karuan.

“Bu, saya ini juga pelajar disini. Sumpah.” Tukas Faisol ketus.

“Oohh. Saya kirain pelayannya Kak Mail kantin.”Tuduh Bu Monika sambil tersenyum kaget.

Tekya dan Faisol bergegas masuk menuju rak bagian Fiksi. Dia langsung mencomot beberapa novel andalannya. Setelah itu mereka mulai mencari incarannya. Mereka memeriksa di setiap sudut-sudut meja di sana. Seakan-akan tak membiarkan buruan mereka lepas. Siapa tahu si dia terperangkap di bawahnya (meja) hingga tak berkutik dan tinggal Tekya dan Faisol meringkusnya dengan mudah. Setelah itu Tekya berangan-angan Camelia dengan ikhlas dibimbingnya untuk mengucapkan tiga kata yaitu ‘ aku cinta kamu.  Begitulah khayalan atau angan-angan dua cowok ini. Simpel tapi bisa disemprot.

Hingga akhirnya datang suatu moment dahsyat dimana tanpa sengaja dua pasang remaja ini hampir saja bertabrakan satu sama lain. Untungnya karena kehati-hatian tiap-tiap orang hampir saja insiden dahsyat terjadi di depan pintu perpustakaan. Jujur, segalanya di luar skenario. Walaupun begitu Tekya bersyukur banget. Malah Tekya tadi berharap tabrakan benar-benar terjadi. Dengan begitu paling tidak bisa menyentuh setidaknya lengannya Camelia nan halus.

“Aduhhh kamu Sol!” Ucap Camelia gemes. Mukanya sedikit memucat. “Untung saja kami sigap bisa ngerem langkah kami. Coba kalau tidak bakal malu deh kita…”

Nama Faisol tak sengaja dipanggil oleh bibir mungil milik cewek manis berwajah orientalis. Cicha dan Tekya saling berpandangan dengan tatapan keheranan. Menandakan antara Faisol dan Camelia ternyata telah saling kenal. Tekya menghela nafas panjang. Setidaknya jalannya untuk berkenalan lebih akrab lagi dengan Camelia terbuka lebar. Faisol bisa dijadikan kambing hitam eh jadi mak comblang maksudnya.

 

“Hampir saja…”Chica geleng-geleng kepala. Nafasnya terdengar ngos-ngosan. Seraya meraba-raba dadanya. “Kalau saja ini bukan temen kamu Comel. Hih! Mungkin udah aku cemplungin ke sumur deh. Bikin jantung mau copot aja.” Untungnya Chica hanya berbisik. Jadi tidak membuat Faisol tersinggung.

“Uhffff…hampir aja kita melukai Cameli yang cakep.”Faisol memulai percakapan setelah detik-detik yang menegangkan urat syaraf itu terlewati. Kelihatan Faisol juga gugup dan gelagapan. Suaranyapun terdengar parau. Mirip kakek-kakek genit minta tolong ketika kecebur sumur. Sedangkan Tekya hanya terdiam terpaku terlem dan mematung. Tiba-tiba perasaan nervous dan malu menjangkiti. Namun Tekya berusaha menetralisir suasana. Mencoba untuk dipede-pedein. Padahal faktanya jantung Tekya berdebar-debar pada pertemuan keduanya dengan cewek yang pernah menolongnya agar terhindar dari basahnya hujan.

“Faisol ya?” Pekik Camelia pelan bercampur kaget. Eh nggak sangka kamu bisa masuk SMA ini juga. Temen SMP kita bilang kamu berniat melanjutkan ke SMP di kampung bapakmu?”

“Iya Lia. Rencananya semula begitu. Aku dan Ibu lebih memilih menetap di Palembang saja. Biarlah bapakku mencari duit di sana. Kami lebih betah disini. Eh Lama kelamaan Bapakku nggak kuat juga. Pada akhirnya dia mengalah mengikuti kami pindah. Aku betul betul tidak mengira lho bisa masuk SMA dambaan. Blessin banget gitu deh ah.”

Tekya sedikit terharu bercampur bahagia serta bangga terhadap level korespondensi Faisol yang lumayan oke itu ternyata pernah menjalin tali persahabatan dengan seorang siswi semanis Camelia. Oh…sungguh senangnya.

Ternyata Faisol terlalu lama beramah tamah dan berbasa basi ngobrol dengan Camelia sehingga mengabaikan keberadaan Tekya dan Chica. Mereka terlalu asik membicarakan masa-masa yang telah lampau. Tinggalah Tekya dan Chica saling berpandang-pandangan dan berhadap-hadapan cantik. Keduanya malu-malu untuk memulai saling menegur. Mereka adu gengsi kayaknya. Satu kata untuk Faisol. Terlalu…Jikalau melihat gelagat sesaat kelihatan Camelia agak sedikit kesal dan sebetulnya ingin juga bercengkrama dengan Tekya. Tapi Faisol mencercanya dengan berbagai pertanyaan yang menggebu-gebu.

“Sol…Sol..Udah dong ngobrolnya. Seru banget. Sampai lupa sama teman sendiri…”Sela Tekya sekonyong-konyong.

“Eh iya Mel. Kenalin ini temenku.”ucap Faisol.

Tekya langsung mengulurkan tangannya. Dan disambut dengan lembut oleh Camelia. Mereka berjabat tangan. Mereka saling melempar senyum yang termanis yang mereka miliki. Tak lupa Tekya juga menyalami Chica.

Tekya sengaja menanti pernyataan apa yang akan keluar darti mulut Camelia bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya. Masak sih dia tak akan ingat. Atau dia terserang penyakit amnesia di usia muda yang akut. Duh! Moment itu tak kunjung keluar. Tekya akan malu sekali seandainya Camelia begitu saja melupakan kejadian yang romantis berpayung di bawah hujan deras. Sudah dapat dibayangkan dia akan diledek habis-habisan. Faisol akan mengeluarkan nyengir kudanya yang natural.

Hingga pada suatu ketika…

“Tekya, sepertinya saya pernah melihat kamu dimana ya….” Tampaknya Camelia tidak lupa nih.

“Ayo, dimana coba tebak. Di tv ya?” Ceplos Tekya.

“Oh di bawah kolong jembatan. Dia sedang ngemis.” Faisol ikut ikutan nimbrung.

“Aiya…kamu yang minjam payungku tempo hari kan?” Camelia mengurlurkan jari telunjuknya ke pundak Tekya.

Tekya bernafas lega. Akhirnya Camelia nan cakep itu mengakui bahwa mereka pernah bertemu. Hati Tekya berbunga-bunga. Dia nyaris berniat sujud syukur di tempat. Namun dia urungkan.

Tiba-tiba Chica mengajak Camelia, Faisol dan Tekya untuk kembali ke perpustakaan lagi. Chica masih belum puas kalau belum mendapatkan novel lima sekawan yang dia incar.

“Ayo dong temenin ya. Saya mau nyari buku untuk di bawa pulang. Biasa buat baca sambil  tidur-tiduran.”

“Ngomong-ngomong si Chica mau cari buku pelajaran ya? “ Tanya Tekya kepada Camelia, setelah mereka duduk di kursi. “Rajin sekali ya temanmu itu.”

“Bukan buku pelajaran. Tapi novel lima sekawan.” Jawab Camelia seraya menyibakkan rambutnya yang sebahu dan berwarna kepirang-pirangan.

“Lima sekawan?!” Faisol ikut nimbrung. Lalu dia meneriaki Chica dari jauh. “Jangan diteruskan Chica mencarinya. Percuma. Sampai lebaran juga tidak bakalan ketemu.” Karena suara Faisol terdengar parau membuat suaranya tidak terdengar oleh Chica.

“Emang kenapa Sol?” Tanya Camelia bingung.

Faisol membisikkan sesuatu di telinga Camelia seraya jari telunjuknya menuju ke arah Tekya. Tekya pura-pura bego.

Camelia lalu mengangguk tanda mengerti. Kemudian dia mengucap lirih dengan suara nan menggoda…”Tekya,  kamu ternyata penganggum lima sekawan juga ya?”

“Iya ya. Memangnya kenapa?” Tekya kurang siap ditodong seperti itu. Ditanya eh malah balik nanya. Ketahuan sedang grogi.

“Tekya, merapat dong saya mau membisikkan sesuatu.” Panggil Camelia sambil mencondongkan badannya ke depan sambil melambaikan tangannya.

Tekya terkesima dan mengiyakan. Tekya bangkit dan berdiri. Tidak lama kemudia dia sudah duduk di samping Camelia. Entah topik apa yang akan dibicarakan oleh si cakep itu.

“Oh itu. Oke. Boleh kok. Apa sih yang tidak untuk kamu Lia.” Ujar Tekya. Kelihatan dia sedang menetralisir detak jantungnya yang terus berdegup kencang dengan irama tak menentu.

“Gombal!” Cibir Camelia. Ih, walaupun dia berusaha menjelek-jelekkan wajah, ajaibnya tetap tak bosan Tekya memandangnya.

“Waduh, Tekya mulai berani tuh sama kamu Lia. Biasanya dia pemalu lho. Sekarang malah malu-maluin.

Jam istirahat kali ini merupakan moment teramat spesial bagi Tekya. Really, sudah cukup lama dia memandam rasa kangen ingin bertemu dengan sosok Camelia. Entah kapan terwujud? Setelah kejadian hujan-hujan kemaren itu sungguh berkesan bagi remaja seperti Tekya. Beberapa hari setelah itu dia berharap dipertemukan kembali oleh Tuhan. Tanpa sadar kadang saat saat menjelang tidur malam wajah Camelia seakan-akan mengusiknya. Oh..apakah ini pertanda cinta pada pandangan pertama. Mirip lagu melayu yang didendangkan oleh penyanyi A Rafiq. Ya A Rafiq adalah penyanyi yang kesohor di jamannya. Pada setiap penampilannya suka berdandan ala Elvis Presley.

Padatnya pelajaran di sekolah membuatnya tidak ada waktu untuk mencari-cari keberadaannya Camelia. Oh, terlalu cepatkah cinta itu menghampiri…

Ruangan perpustakaan sekolah menjadi saksi pertemuan indah ini. Pertemuan mereka bagaikan pertemuan sahabat lama yang telah lama terpisah. Mungkin tahunan. Mereka asik sekali bercengkrama. Ngobrol ngalor ngidul. Walaupun masih sedikit canggung dan malu-malu. Tapi menurut Tekya dan Faisol sangat bernilai sekali. Rasanya berat sekali untuk mengangkat pantat dari kursi. Terlebih-lebih meninggalkan perpustakaan. Nggak kuat! Bel pun berbunyi. Suka tidak suka mau tidak mau mereka harus masuk kelas kembali. Duduk dengan tenang di bangku masing-masing untuk menerima pelajaran.

Di dalam kelas Chica masuk ke dalam kelas dengan muka masam dan ditekuk. Sepanjang koridor menuju kelas Camelia melihat ada keganjilan pada tingkah laku sahabatnya itu. Dia menjadi orang yang kalem dan pendiam. Kerjaannya hanya menunduk saja. Kecewa berat. Camelia tak habis pikir akan jalan pikiran sang sobat yang tiba-tiba mendadak aneh gara-gara gagal mendapatkan novel lima sekawan. Kegilaannya akan buku karang Enid Blyton itu sudah pada taraf sekarat.

Hendrasukma, teman sekelas Camelia yang berbodi gembor sedang asik menggosipin artis lokal. Sebut saja Mawar.

“Kalian pada tahu belum kalau bintang sinetron bernama Kembang Tahi Ayam alias Mawar itu ternyata penyuka sesama jenis lho?” Hendrasukam mulai menyalakan api gosip kepada temsan-temannya.

“Ah masak? Jangan nuduh sembarangan dong. Dosa tahu Ndra…”Sela Sopian sambil nyengir beruang.

“Namanya gosip kan belum tentu benar Sopi..” Bela Hendra. “Aku pernah baca di salah satu tabloid infotainment lagi. Kalau dia cewek tulen kenapa belum kawin-kawin sampai sekarang.? Hayooo…!

“Benar juga  ya. Dia kan cantik, sexy, bohay dan ya ya ya.” Timpal Maruto.”Kalau dia mau cowok mana yang tak bisa ditalkukkan.”

“Jangan asal bikin opini sendiri.” Tukas Nyunyun saraya membenahi kepangnya yang copot pitanya. “Siapa tahu dia masih ingin meneruskan kuliahnya. Mungkin ke Es lima kali. Atau mungkin sedang membiayai adiknya yang sedang kuliah. Kan butuh biaya besar.  Jadi dia fokus ke karir dulu.

“Aku rasa si Kembang sering dikecewakan laki-laki hidung belang. Jadi dia tidak mau nyemplung ke lobang yang sama.” Kali ini Sianida angkat bicara. “Makanya dari pada berteman dan jadi mangsa laki-laki lebih baik berteman denagn sesama jenis.”

“Ciri-cirinya gimana Hend?” Tanya Tania dengan muka lugu dan polos.

“Gampang kok. Kamu bisa lihat kalau orang sedang berpacaran. Maksudku pacaran normal. Beda jenis. Coba bayangkan. Yeah mirip mirtip begitulah. Kalau sedang berjalan mereka acapkali bergandengan. Kadang berpelukan untuk meluapkan rasa rindu berat mereka. Terus..kalau lagi mereka berciuman deh…”

“Mudah-mudahan di kelas kita tidak ada yang kayak begituan ya.” Ucap Susi pelan.

Mari kita lihat antara Camelia dan Chica masih berseteru.

“Lia, pokoknya aku hari ini kecewa berat sama kamu.” Protes Chica dengan jengkel jengkol setelah mendaratkan pantanya di kursi.

“Kecewa gimana si Cak?” Tanya Camelia dengan tampang diblo-onin. “Bukannya aku sudah menemani kamu ke perpustakaan. Please deh. Aku sudah berbaik-baik kok masih… ”

“Iya sih. Kamu memang baik. Tapi karena kita telat saja sekian menit. Lima sekawannya ludes dipinjam oleh kelas lain. Terlebih lagi besok kan long week end. Biasanya seharian mengurung di kamar berteman lima sekawan. Kamu tahu kan Lia.?.Aku pelan-pelan berniat meninggalkan kebiasaan dugem dan ngelayap sampai pagi.

“Maafin Aku ya.” Camelia menarik tangan Chica serta mengusap-usap jari jemari sohibnya itu. “Aku baru mengerti betapa berartinya novel lima sekawan bagimu.Swear! Aku support banget minat bacamu. Aku juga menghargai perjuangan dan pengorbananmu untuk melawan di dunia malam.”

“Ingat Lia. Walaupun dahulu aku tenggelam dalam kehidupan dunia malam. Tapi aku bisa menjaga diri. Aku tidak pernah terlibat sex bebas, alkohol apalagi narkoba.”

Camelia merapatkan badannya ke Chica. Lalu mereka berangkulan hangat sekali. Chica membalas dengan mencekal pundak temannya. Untuk beberapa saat Camelia membisikkan sesuatu ke telinga Chica. Tiba-tiba Chica bereaksi. Mulutnya menganga. Matanya melotot. Lambat laun mulutnya yang beberapa jam lalu tampak memble mulai menampakkan kegembiraan yang luar biasa.

“Kamu serius Lia? Kamu serius Lia?” Tanya Chica sambul mengulang-ulang. Seakan-akan tiidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar tadi.

“He-he.” Camelia mengangguk dan tersenyum. “Aku harus berterima kasih sama Tekya. Aku jadi malu, baru saja kenalan sudah merayu demi minjam lima sekawanmu itu…”

Tiba-tiba Chica bangkit dan melonjak gembira. Dia meloncat-loncat mirip anak TK kebagian kue ulang tahun. Ditariknya tangan Camelia…Adegan berikutnya mereka berpelukan dengan mesra.

Mereka tidak sadar bahwa Hendra Sukma cs sedang menyaksikan adegan dimaksud. Tentunya dengan mata setengah melotot. Serta mulut terbuka. ..

Iklan

Tokopedia, Satu Aplikasi untuk Semua Kebutuhan

Hai. Cobain Aplikasi Tokopedia, yuk! Bisa belanja dengan harga terbaik, isi pulsa atau bayar tagihan ini itu juga mudah. Download sekarang & nikmati cashback s.d 30rb untuk transaksi pertamamu. Kode: TPDED9016. Cek –
https://tokopedia.link/1ZWmqFTDcL

SERIAL ‘MASA SMA MASA BODO’ DIMANA ADA HUJAN, DISANA ADA BERKAH. SIAPKAN DAUN PISANG SETELAH HUJAN.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Oleh : Deddy Azwar

     Pagi itu langit terlihat menghitam dan memekat. Segerombolan awan hitam tadi kemudian berlari berarak, berkelana, menggayut di angkasa lepas. Lebih mirip kapan yang kehita-hitaman dihantam uraian debu. Bisa juga seperti paru-paru yang menggelap setelah dihantam kandungan nikotin dari asap perokok dari tahun ke tahun.

Perlahan bergerak menutupi langit sedikit demi sedikit. Tadinya suasana cerah benderah, terang benderang berubah menjadi mendung mendengung, gelap gemerlap .  Hembusan angin nan sepoy lembut menerpa siapa saja tanpa pandang bulu. Bulunya merk apa dan jenis apa pasti kena. (Emang bulu jins?) Semilir angin sepoy nan amboy malah kerap membuat gugur beberapa helai dedaunan kering pada sebuah dahan nan lapuk. Persis keadaannya ketika gerhana matahari datang menjelang, suasana berubah mirip petang.

Cuaca mendung dan pertanda sebentar lagi hujan akan mengguyur. Itulah kesimpulannya.

Titik dan bulir hujan mulai perlahan jatuh. Memeluk tanah sehingga membuat segalanya basah dan kuyub. Tanah yang berdebupun tampak seperti mengeluarkan asap ketika titik air menerpanya.

Pak Adaptasi Sutan Bagindo, pagi itu, tengah menyeruput kopi susu buatan istrinya, Samsidar Markonah. Kemudian dia melahap beberapa lembar roti tawar yang telah diolesi selai srikaya. Tidak terasa dia telah menyikat hampir semua roti yang tersaji. Menyisakan empat lembar roti tawar di piring, di atas meja kecil berenda. Tangannya memegang lembaran koran pagi. Saking asiknya wajahnya ketutupan koran tersebut. Sementara dia sibuk memelototi koran, istrinya yang setia itu, kebetulan hanyakan mengenakan piyama, tetap sibuk saja mengolesi roti yang tersisa dengan mentega, selai buah nenas dimixed butiran kismis rasa coklat berwarna warni. Sadap betul!

Meva, anak sulung mereka yang sedang beranjak dewasa, masih pelajar kelas satu SMA, baru saja menyelesaikan sarapan, bangkit berdiri meraih tas hikingnya bergambar snoopy, sebelum menyorongkan kursi ke bawah meja. Lalu dia mendaratkan pantatnya ke bantal sofa yang empuk gepuk dengan posisi orang santai sedunia. Meva Sumaiyah mulai menjalin tali sepatu ketsnya berwarna putih bersih. Ya tali sepatunya lucu dan unik. Warna warni!

“Onde mande Tuesday, Uda ini bagaimana kho? Sudah jam segini masih dempet saja dengan koran. Sepertinya tidak bisa dipisahkan ya. Coba Uda, lihatlah ke luar jendela sana ho. Kayaknya mau hujan lebat nih!” ujar istrinya seraya melongokkan kepada ke jendela berkaca nako. Dalam keseharian istrinya kerap memanggil suaminya dengan sebutan ‘Uda’, karena kebetulan mereka berasal dari suku Minangkabau.

“Iyo Ayah. Cepatlah sikit dong. Meva mau menebeng sampai sekolah yo?”rayu Meva dengan manja. Matanya mengerdip ke ayahnya. Dibalas ayahnya dengan memonyongkan mulutnya.

“Ayah, jadi jelek kalau begitu deh.”

“Sabanta lai nak. Berita metropolitan lagi seru,”ucap Pak Adaptasi Sutan Bagindo, tetap tidak melepaskan pandangannya dari koran pagi itu. Dia terus berkosentrasi membaca koran baris demi baris, kolom demi kolom, lembar demi lembar. Seakan tidak boelh ketinggalan berita barang sekalimatpun. Memang, sebagai kepala sekolah, dia ogah buta berita dan informasi. Terutama yang berhubungan dengan dunia pendidikan. Dia tidak sudi tersaingi dengan guru-guru yang lain. Di kantor sekolah, para guru mempunyai kebiasaan menyombongkan diri tentang sebuah informasi. Seakan-akan dia paling jago menguasai informasi. Mereka suka mengklaim bahwa diri mereka tidak kuper dan selalu update berita yang menjadi topik utama dan berita hangat, sehangat pisang goreng. Ya begitulah. Mereka juga berebutan ingin mendapat pujian dari Pak Bagindo.

“Hebat hebat kalian. Ditengah terpaan sinetron teve dan jadwal mengajar kalian yang padat masih sempat membaca berita. Saya senang mendengarnya. Saya salut! Tugas guru memang mengajar karena untuk saat ini ilmu pengetahuan kita lebih banyak daripada murid. Makanya kita menyampaikannya agar mereka mengetahui dan pintar. Dan perlu diingat dan diketahui oleh guru juga jangan sampai ketinggalan berita yang yang terkini. Jangan sampai kita ditertawakan oleh murid-murid karena minim informasi. Kalau sudah begitu lebih baik kita berganti profesi menjadi pelawak saja.”

“Onde mande, Uda. Sebenarnya berita apa yang dibaca nih sehingga membuatmu serius begitu ha. Matanya sampai melotot begitu.”tanya istrinya agak kesal dan penasaran dari tadi dicuwekin melulu.

“Ini ni Bu. Si Demi Moore, bininya Bruce Jeep Wills, bikin heboh dan kontroversi. Dia tampil tanpa busana di majalah Vanity Vair. Apa nda gilo tuh. Padahal perutnya lagi kembung alias hamil.”

Istrinya bertambah kesal rupanya. “Onde mande, kirain baca berita pendidikan, tidak tahunya berita begituan. Ayah ayah… Sudah mulai genit pula ha. Ayo, kemarikan korannya. Suadh tua bangka juga. Bisa tidak putus-putus nanti. Atau bacanya di kantior saja setelah habis makan siang, Ayah. Seperti tidak ada waktu luang saja.”

Sekonyong-konyong sang istri merebut koran dari cengkraman suaminya. Karuan saja akibat terlalu kuat, mengakibatkan koran kesayangannya robek besar hampir terbelah dua. Brett!

Pak Bagindo kaget kemudian tercengang.

Istrinya terbengong.

Meva Terkekeh.

Si kucing termeong.

Si ayam terkukuk.

“Waduh Ibu ibu…Lihat koran Ayah jadi robek begini. Ibu harus perbaiki ya. Bagaimana caranya kek. Saya belum sempat baca seluruh berita. Celaka tiga belas ini namanya ha. Berita Demi Moorenya juga kena. Onde Mande. Bagaimana pula ni ha. Macam mana ini ha.” Pak Bagindo mencak-mencak hampir membuat sarungnya copot. Dia lupa ternyata belum pakai celana dinas.

“Aman itu Da. Nanti Ambo (saya) sambung pakai plaster ha.”

“Tapi jangan pakai plaster berwarna hitam ya.”

“Bereslah itu.”

“Ibu ini ado-ado sajo. Memangnya duit receh yang diplester. Kalau duit receh masih layak ditukar di money changer. Lha kalau nasib koranku ini, siapa yang doyan koran bekas tambalan. Tukang loak saja ogah. “ Tampaknya Pak Bagindo masih belum puas dan tampak kecewa berat.

“Ibu minta maaf ha. Habis Ayah juga yang bikin masalah. Da, istrimu ini bukan tukang sulap yang dapat mengembalikan koran itu ke wujud semula.”

“Aduh aduh! Pusing kepalo Meva ini. Pusingg pusiang pusiiiang.” Meva menepuk-nepuk kepalanya. “Masa ribu karena persoalan sepel gitu. Ayah Ibu ayo berpelukan…Malu kan sama tetangga kiri kana depan belakang. Malu juga sama Pushme kucing Meva. Lihatlah kupingnua berdiri karena kaget. Nanti Meva ganti koran Ayah dengan majalah Bobo dulu ya hehe. Atau nanti Meva borong deh korannya. Bila si abang loper korannya Meva bawain ke mari.”

“Sombong sekali kamu ya Meva. Masih status pelajar sajo sudah ngomongnya melantur. Pitih saja masih minta sama orangtua. Mau mencoba memborong koran. Habis nanti uang jajanmu. Nda ado nan tersiso. Yang benar saja kamu ini ha.” Canda Pak Bagindo sambil mencubit pipi anak kesayangannya itu. Meva langsung cemberut.

Sekonyong-konyong  kilat menyambar. Petir menggelegar. Semua menjadi kaget. Terdiam. Dalam hati mereka segera mengucap Istigfar. Hujan yang tadinya gerimis berubah menjadi semakin deras mengguyur bumi pertiwi.

“Astaga gawat! Percekcokan kita terdengar oleh Tuhan,”desis Pak Bagindo dengan mimik muka diseriusin. Lalu dia tersenyum manis. Sang istripun tertawa, menular ke Meva. Kucingnya yang bernama Pushme pun tidak ketinggalan ikut tergelak-gelak.

Beberapa menit berselang, sanga istri Samsidar Markonah melepas keprgian suaminya, Sutan Bagindo sampai ke teras depan. Di tengah guyuran hujan, Pak Sutan sambil menggandeng Mewa berlari kecil menuju mobil mereka. Sebuah Toyota Hadrtop tua tapi antik yang diparkir di luar garasi. Dengan sepayung berdua bergegas menaiki kendaraan. Mobil itupun melaju ke jalan raya. Menerjang hujan dengan jumawa. Lalu berkumpul dengan komunitas mobil lain.

Di sebuah komplek perumahan yang berdekatan dengan rumah tahanan. Kira-kira berjarak 1 kilometer berdiri bangunan kokoh berbentuk benteng. Bangunan itu adalah penjara untuk orang-orang yang terkena hukuman karena melanggar hukum. Pagarnya yang super tinggi dihiasi dengan kawat berduri. Bak tanaman yang melilit pohon. Rupanya bangunan itu telah berdiri sejak zaman pendudukan Jepang. Semacam peninggalan zaman tentara Nippon. Tak jauh dari situ ada plang dengan tulisan besar tipe ‘arial’ berbunyi : ‘Rumah tahanan Bertobat itu Indah’. Tulisan yang sama dapat diktemukan juga di atas pintu gerbang masuk. Namanya cukup mengandung makna atau pesan untuk mengajak semua orang untuk bertobat dan menjuhkan diri dari niat atau perbuatan jahat.

Berbeda dengan penjara pada umumnya. Padahal apabila kita memasuki area tersebut akan merasakan suasana yang lebih tegang melebihi penjara yang terkejam di dunia, yaitu ‘Penjara Alcatraz’.

Nah! Kebetulan Agus Blepotan bermukim di daerah yang kita maksud. Kok bisa ya? Mau lagi…Di lokasi perumahan Agus juga turun hujan, namun tidak sederas di rumah Pak Kepsek. Maklum, hari itu hujan turun tidak merata.

Agus tinggal bersama kedua orangtuanya dan tiga saudara perempuannya. Kebetulan bapaknya bekerja sebagai kepala penjara. Makanya bapaknya termasuk orang yang dihormati dan terpandang. Memikul tanggungjawab yang cukup berat. Setiap hari bertugas mengawasi dan memastikan suasana tahanan tetap kondusif dan para tahanannya betah sehingga tidak ada yang berniat kabur sebelum masa tahanannya jatuh tempo. Bisa ditebak, otomatis seluruh keluarga pada manggut bin nurut untuk menempati rumah dinas yang disediakan lengkap dengan fasilitas yang ada. Pada awalnya Ibu dan ketiga anak perempuannya ragu untuk tinggal disana. Mungkin ada kekawatiran akan mempengaruhi secara psikologi. Tentu beda rasanya tinggal di perumahan dekat penjara dibandingkan perumahan pada umumnya. Malah sang Ibu pernah usul ke bapaknya untuk mencari rumah kontrakan saja. Mereka takut kalau-kalau salah satu tahanan mantan pembunuh menjebol sel dan lepas lalu kabur mencari jalan keluar dengan mengitari kompleks dengan menteror rumah. Atau yang lebih ekstrem denagn menakuti-nakuti atau bahkan mencekik leher orang yang ditemuinya dengan sadis. Biasanya aksi itu dilakukan tengah malan, dimana saat orang tidur lelap dihiasi mimpi-mimpi indah. Bayangkan! Bukan tanpa alasan, karena keluarga ini pernah mengalami kejadian yang seram itu. Sehingga sampai detik ini sang Ibu masih trauma. Beberapa tahun lahu ada seorang tahanan bekas pembunuh bayaran berdarah dingin berhasil menjebol dinding penjara. Untungnya sipir penjara dan tim yang berjaga pada malam itu cepat tanggap. Mereka berhasil menangkap dan menjebloskan kembali ke penjara. Plus penambahan masa tahanan. Seandainya takdir berkata lain, misalnya tahanan itu berhasil mengelabui penjaga dan masuk ke rumah dan menteror kepala penjara. Bisa saja dia suaminya diikat. Siapa yang akan membantu mereka. Tentu si narapidana dengan mudah membekuk para perempuan dengan mudah. Kejadian di atas masih menjadi momok bagi kaum ibu rumah tangga disana. Wakaupun sebelumnya mereka telah dibekali ilmu bela diri dari kantor.

Berkat ketelatenan dan kesabaran Pak  Banteng dalam menasehati istrinya. Akhirnya luluh juga. Bapaknya berusaha menyakinkan untuk tidak takut. Karena mereka tidak sendiri. Masih ada keluarga lain yang bernasib sama. Akhirnya persaan takut sang istri pun berangsur pudar dengan sendirinya. Tanpa terasa mereka telah tinggal disana kurang lebih empat tahun tanpa ada gangguan yang berarti. Malah, si Agus, anak laki-laki mereka yang nomor dua, tampak akrab dan bersahabat dengan beberapa orang penghuni rutan. Kadang-kadang Agus pulang sampai larut malam melayani penjaga penjara main gaplek atau main catur.

Pagi itu, Ibu Agus berteriak kencang sekali. Urat lehernyapun sampai jelas terlihat menegang. Sambil memegang toa (pengeras suara) sang Ibu mendatangi kamar anak-anaknya satu persatu.

“Agusss! Agustiniiii! Agustinaaa! Niniiik! Eh kalau Ninik kan masih TK. Ayo bangun! Apa kalian tidak mau berangkat ke sekolah? Hari ini bukan hari libur ya. Ayo cepat sedikit. Kalau hujan begini usahakan berangkatnya lebih pagi. Antisipasi macet atau banjir. Ayo buruan bangun, mandi dan sarapan pagi!”

Tanpa ba bi bu lagi semuanya otomatis terjaga. Mereka alergi dengan suara yang keluar dari pengeras suara. Benar-benar memekakkan telinga.

Tidak lama kemudian terdengarlah hiruk pikuk, hingar bingar, klbak klebuk, gemuruh dari ruang tengah. Setelah semua menyelesaikan mandi pagi, mereka bergegas berebutan mendatangi meja makan untuk sarapan pagi. Masing-masing saling mendahului, tidak mau kalah. Takut kehabisan jatah roti mentega campur coklat yang sedap buatan Ibunya. Akibat buru-buru dan serakah, mulut Agus langsung blepotan.

“Aduh kalian ini. Jangan membuat malu ibu dong. Kan anak-anak Ibu sudah pada besar-besar kok masih bertingkah tidak senonoh. Masak tiap pagi musti begini terus. Brisik terus. Persis anak kecil rebutan permen. Kalem sedikit kenapa sih.”

“Iya nih Bu. Agus sama Agustina sama saja bandelnya. Kakak sduah bilang bersikaplah sopan dan dewasa, lalu kalian akan dihargai pula oleh orang lain.”ujar Agustini, sebagai anak tertua ambil bagian. Dia merasa bertanggungjawab untuk memperingati adik-adiknya.

“Dengar apa yang dikatakan Kakakmu. Pasang telinga kalian baik-baik. Jadilah anak-anak yang baik dan penurut.”timpal Ibunya lagi. “Aduh Agus, kamu kan sudah kelas satu SMA. Kok jorok amat sih. Mulut sampai blepotan begitu. Bersihkan dengan tisu segera.”

“Maklum Bu, dia kan masih bayi. Makan saja masih belum beres.” Celetuk Agustina.

“Ibu selalu saja membela Mba Tina. Dia juga sama dengan Agus telat bangunnya. Mentang-mentang dia anak paling tua. Selalu lolos dari omelan. Dimana letak keadilan di rumah ini.”protes Agus sembari menyeka mulutnya. Lidahnya juga menjilat-jilat sisa kismis dan susu coklat yang masih menempel.”

“Agus, siapa saja yang nakal pasti Ibu omelin. Ngapain Ibu pilih bulu. Emang kalian ayam? Semua anak kesayangan Ibu. Semua posisinya sama di rumah ini.” Cetus Ibu Agus.

“Idih kamu ngiri ya Gus? Kakak tadi kaget dengar Ibu teriak lewat speaker. Disangka tadi ada gempa teknoktronik.”

“Tektonik Tin,” jelas Ibu cepat-cepat meluruskan, “ bukan elektronik.”

“Sorry Bu. Maksud Aku tadi mau ngomong begitu. Eh, sudah keduluan,”dalih Agustina mesem-mesem. Matanya merem-melek dengan genit. Lidahnya sengaja dijulurkan ke arah Agus. Agus pura-pura mau nimpuk pakai meja.

Petir menggelegar. Di luar hujan mulai lebat.

Tiba-tiba si bungsu Ninik alias Butet, si paling bontot barusaja keluar dari kamar sembari mengucek-ngucek matanya. Tanga kanannnya yang mungil masih memeluk bantal guling ‘Winnie the pooh’ nya. Sedangkan tangan sebelah kirinya mendekap selimutnya yang panjang menjuntai ke lantai.

“E-eh si cantik Butet sudah bangun ya..” sambut Ibu dengan suara sepertri mendendangkan sebuah lagu.

Ninik tersenyum.

“Bapak kemana Bu? Masak Butet tidak dibangunkan. Bapak nakal. Butetkan masu berangkat sekolah. Hari ini bu guru kasih pelajaran cara menggambar pemandangan di desa. Dia juga mau membuat patung dari lilin. Tahunya….telat deh. Butet harus berangkat pagi..Uhukk..uhuk” rengek Ninik sambil menarik-narik celemek Ibunya. Tangannya mengusap pipi dan mencium kening Ninik dengan lembut dan penuh kasih sayang. Kakak-kakaknya lalu bergantian mencium adik bungsungnya yang masih menggemaskan itu.

“Bapak tadi sudah mencoba membangunkan Ninik. Tapi tadi susah bangunnya. Bapak lihat tidurnya nyennyak sekali. Jadi Bapak tidak tega menganggu tidurnya Ninik. Bapak tadi minta maaf katanya harus berangkat ke kantor buru-buru karena ada rapat.”

“Rapat itu apa Bu?”

“Rapat itu. Bapak bersama teman-teman dikantornya membicarakan sesuatu yang penting.” Jelas Ibu sekenanya.

“Oh ngobrol ya. Tapi yang penting-penting. Iya iya.” Ninik mengangguk tanda mengerti.

“Yuk, mimik susu duulu. Nanti biar Opung yang mengantar. Sebentar lagi dia datang. Opung lagi jojing.” Ibu dengan cekatan memangku anak bungsunya itu. Ninik membalasnya dengan pelukan erat dan sayang.

“Bu…, Butet tidak mau diantar sama Opung ya.”

“Lho, kenapa sayang?”

“Opung kalau jalan suka lelet Bu.”

“Habis mau diantar sama siapa, wahai tuan putri?”

“Sama Ibu saja ya.”

“Bagaimana ya. Pekerjaan rumah tangga Ibu masih banyak dan kamar-kamar masih berantakan. Belum pakaian-pakaian kotor belum dicuci dan disetrika.”

“Ibu sekali-sekali istirahat dong. Kalau sakit bagaimana? Atau cari pembantu saja. Kalau ada pembantu kan bisa antar Butet. Betul nggak?”

“Sayang banget ya sama Ibu. Oke.” Jawab Ibu sambil menganggukkan kepala. Ninik melionjak kegirangan. Tertawanya lebar banget. Kemudian dia buru-buru meminum susu rasa strawberry kegemarannya dengan lahap sekali.

“Buu, jadi Bapak sudah berangkat duluan nih ceritanya?” tanya Agus dengan nada lemas.”Kok Bapak tega sih membiarkan anak-anaknya pergi sekolah dengan basah kuyub. Lalu kami ke sekolah naik oplet(angkot) ya?”

“Bukan begitu. Pokoknya semua tenang deh. Nanti Opung yang akan mengantarkan. Bapak tidak membawa mobil kok. Bapakmu tadi bilang ada keperluan mendesak. Makanya subuh-subuh dia sudah duluan bangun. Mana belum sempat sarapan pula. Tuh, lihat gelas kopinya masih di meja.”

“Ada apa sih Bu?” Tanya Agustina penasaran. Apa ada tahanan kabur. Atau dapat pelimpahan tahanan dari kota lain?”

Ibu menggeleng tanda tidak tahu. “Opung kemana nih. Tenaganya dibutuhkan untuk menyetir pagi ini malash belum balik-balik.”

“Opung lagi, Opung lagi.” Agustina ngambek.”Nyetir mobilnya lelet Bu. Bisa-bisa baru sampai pas jam istirahat deh.”

Agus berlari ke kamarnya untuk mengambil ular karet yang dibelinya kemarin sore. Setelah dimasukkan ke saku celana dia bergegas pergi.

Kesimpulannya Agus mengalah, lebih memilih naik angkutan umum saja. Kakak perempuannya akan diantar oleh Ibu. Karena setelah ditunggu lama si Opung belum nongol-nongol juga dari jojing. Ibu menduga si Opung pasti sedang berteduh di sesuatu tempat. Ibu berniat memanggil Agus biar bisa berangkat sama-sama. Akan tetapi Agus sudah terlanjur lenyap dari pandangan.

Tepat di kebun wak haji Adenin Palembang, Agus berhenti sebentar. Timbul ide untuk mengambil daun pisang yang lebar yang kebetulan menjuntai guna dipakai sebagai penganti payung. Ibarat kata pepatah tak ada payung daun pisangpun lumayan.

Tekya berusaha mempercepat langkahnya, tetap tidak bisa. Walaupun sudah separuh tenaganya di kerahkan, ayunan langkahnya semakin berat. Pantas saja, sepatu bagian bawahnya, tepatnya di alas kakinya sudah lengket dengan tanah liat yang merah. Belum lagi menghindari genangan air pada jalan yang berlobang, membuat pandangan menjadi saru. Terang saja dia kewalahan hari itu dia berjalan di tengan hujan yang semakin lama semakin lebat. Sialnya, tanpa dibekali sebuah payung lagi, Tekya menerobos hujan yang terus mendera. Tak ayal lagi, kondisi pakaian seragamnya nyaris basah kuyub.

Pada hari itu, keberuntungan sedang tidak berpihak kepada Tekya. Bagaimana tidak, ketika angkutan umum tinggal 100 meter lagi, tiba-tiba entah kenapa angkot yang dia tumpangi mendadak mogok. Bukan hanya bang supirnya yang kalang kabut, tetapi penumpang di dalamnya yang kebetulan tersisa Tekya seorang juga ikut senewen. Jarak antara sekolah dengan posisi kendaraan mogok masih tanggung. Sedangkan cuaca sedang tidak bersahabat. Hujan masih turun dengan curah lumayan deras. Bang Supir sudah berusaha mencoba dengan berbagai cara, semampunya dia. Berbagai gaya menstarter pada kunci kontak dia terapkan, namun tetap setrumnya terdengar lemah. Usahanya sia-sia. Kasihan keduanya.

“Bagaimana ini Pak? Masih tidak bisa ya?” Tanya Tekya berharap-harap cemas. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 07.25. Sudah mepet betul.

“Iya Dik, sepertinya akinya lemah. Selemah hatiku saat ini gambarannya..” jawab Abang supir dengan lemas.

“Ayo bang, usaha lagi. Saya yakin Abang bisa kok. Banyak jalan menuju sekolah eh menuju roma ding. Coba stater lagi. Atau bukan karena akinya yang soak atau gara-gara lampu kucing atau wipernya yang rusak jadi menular ke mesinnya kali….”

“Adik, coba ya, jangan sok tahu deh. Saya sudah belasan tahun menjadi supir. Belum pernah terjadi seumur hidup saya kalau lampu kucing atau wipernya mati membuat mesin mobil mati juga. Nggak nyambung nian. Jadi jangan pakai mengajarin deh. Adik sekolah saja yang benar dan rajin. Jangan mencontek.” ucap Supir dengan ketus bercampur kesal.

“Eh, abang kok sewot sih.”balas Tekya ketus. “Masalahnya jarak sekolah saya tinggal sedikit lagi. Malah mobilnya mogok. Kalau saya turun, habislah saya kena hujan. Bagaimana ini? Tugas Abang belum selesai karena belum mengantar saya sampai tujuan. Penumpang adalah raja. Aduh! Sial bener saya hari ini.”

“Saya mengerti. Kita sama sama ketiban sial.”

“Bang, jadi kesimpulannya bagaimana? Apa yang harus dilakukan?”

“Satu-satunya cara adalah dengan mendorong, Dik.”

“Didorong? Saya sendiri?”

“Mau nggak mau. Kalau Saya ikut dorong siapa yang ngarahin stirnya Dik. Bisa-bisa kecebur got.”

“Oh begitu. Hujan-hujan begini. Terus kalau saya sakit siapa yang tanggungjawab? Coba pikirkan?”

“Mana saya tahu. Males banget deh. Hujan-hujan begini disuruh mikir. Kalau nggak mau ya sudah turun saja. Nanti Adik telat lho…”

Akhirnya dengan terpaksa Tekya keluar dari angkot dan menerobos hujan yang masih turun. Tekya masih mendengar teriakan Bang Supir sayup-sayup.

“Wah, katanya mau bantuin dorong dulu? Kok malah kabur..”

“Saya bantuin doa yaaa..!” pekik Tekya dengan penuh semangat. Meninggalkan bang supir dan mobil angkotnya yang masih terparkir di pinggir jalan.

Tekya tidak mungkin menanti hujan reda. Pawang hujan juga pasti tidak tahu, pikirnya dalam hati. Tekya memutuskan meneruskan perjalanannya sakralnya menuju sekolah. Dia musti mempercepat langkahnya agar tidak terlambat.

“Dasar apes sekali hari ini. Gara-gara mobil angkot yang sudah tua. Ya Tuhan apakah salah dan dosaku? Uhukk.. “Tekya tak henti mengutuki keadaannya. “Lagipula angkot sudah tua dan butut masih saja dioperasikan. Pantasnya sudah dimuseumkan. Coba kalau cuaca tidak hujan pasti saya sudah pilih-pilih angkot. Sudah mogoknya tidak pakai kompromi pula. Mbok ya hujannya berhenti dulu baru mogok. Aduh! Basah semua nih. Bisa-bisa sampai di sekolah diketawain sekelas. Oh my God! Buku gambarku juga ikut mandi hujan. Hiyyy dinginnnn…Brr..brr.”

Pada suatu ketika, tiba-tiba wajah Tekya langsung berubah ceria. Di hadapannya tersaji seorang murid cewek sedang berjalan juga. Dari belakang Tekya terus mengamati gerak-gerik si cewek. Tekya berusaha mendekat dan mensejajari langkahnya. Tekya semakin penasaran ingin melihat wajahnya. Siapa tahu dia kenal. Atau mungkin teman sekelasnya. Lumayan bisa nebeng. Kebetulan sekali cewek itu membawa dua buah payung. Kesempatan baik ini langsung dimanfaatkannya. Tekya memberanikan untuk menyapa..

“Hai, hallo, hallo hallo Bandung aku sedang kedinginan…Boleh nggak numpang payungnya. Payung saya ketinggalan di rumah.”

Cewek yang disapa otomatis kaget, ada cowok tidak dikenal tapi sok kenal. Si cewek langsung pasang muka curiga dulu. Walaupun di hadapannya berdiri seorang cowok sekelas Tommy Page, sepertinya si cewek tetap teguh pada pendiriannya. Emang saya cewek apaan langsung takluk dan termakan rayuan lirih si cowok cakep yang sekarang berdiri disampingnya. Menjaga image dan sedikit aksi jual mahal sebagai seorang wanita adalah hal yang terpenting. Apalagi kepada orang yang belum kita kenal.

“Mba mba, bokeh kan saya pinjam payungnya. Oke deh, kalau perlu saya sewa deh barang beberapa menit saja. Paling tidak sampai ke sekolah tidak kebasahan begini.”

“Nggak usah ya. Kamu siapa? Dari SMA mana sih? Berani-beraninya negur orang. Saya tidak kenal situ.” Tolak cewek itu sambil mendlik sewot. Tanpa menghiraukan permohonan Tekya yang mengiba-iba, dia terus berjalan berlenggak lenggok bak ‘gadis kebaya’. Bukan Tekya namanya bila menyerah begitu saja. Dia terus membarengi si cewek.

“Please…Pinjamkan dong Aku payungmu barang sekejab. Jangan pelit dong.”

“Bukannya saya pelit. Payung ini kekecilan buat kamu. Payung ini kepunyaan adik saya yang masih SD kelas satu.” Lagi-lagi si cewek menolak.

“Masak nggak boleh. Kamu tega nian ya melihat saya basah kuyub.  Ngomong-ngomong sepertinya kita satu sekolah deh.”

“Lho, Kamu tahu darimana?”

“Itu..dari atributmu ketahuan. Tidak bisa dibohongi. Kita satu sekolah.”

“Aku belum pernah melihat kamu.”

“Kamunya saja mungkin jarang bergaul. Di kelas melulu. Saya kan anak pungky, makanya jarang di kelas. Maksudnya saya nggak suka berlama-lama dalam kelas.”

“Kenapa? Nggak betah ya?” Akhirnya si cewek tanpa sadar memayungkan Tekya juga. Tekya tidak menjawab. Lama kelamaan dia tidak tega juga melihat Tekya menggigil kedinginan. “Kamu kesinian dong, katanya mau nebeng.”

Kemudian cewek itu malah menyodorkan juga sebuah payung kecilnya kepada Tekya. “Nih pakai.” Tekya dengan cepat membuka ikatannya dan segera mengembangkan payung itu.

“Terima kasih ya. Aku sudah menduga kamu pasti cewek baik hati. Kamu mirip artis idolaku dari Hongkong.“

“Emang siapa?”

“Lin Ching Hsia.”

“Nggak kenal.”

“Oh ya? Sayang sekali. Dia top lho. Kamu harus sering nonton film Mandarin.”

“Biarin. Aku kurang suka.”

“Sekali lagi terima kasih ya sudah meminjamkan payungnya.”

“Eeit enak saja pinjam. Sewa dong. Tarif Rp 5000 saja sampai sekolah.”

“Aduh, mahal amat. Ya sudah nggak apa-apa. Deal. Tapi bayarnya belakangan ya.  Hari ini saya bawa uangnya ngepas.”

“Iya.”

Tanpa dikomando, mereka berdua mulai berlari-lari kecil agar tiba sebelum bel berbunyi.

Sampai di depan lobby sekolah, mereka bergabung dengan murid-murid pasukan berpayung lain yang bernasib sama. Tekya meraba saku celananya. Lalu merogoh dompetnya dan menyodorkan uang kertas seribuan tiga lembar kepada si cewek. “Sekali lagi terima kasih ya Mba. Kekurangannya nanti saya bayar. Please..”

Cewek itu langsung mengambil payungnya dan bergegas meninggalkan Tekya yang masih memegang uang sembari berdiri mematung.

“Ini uang mbaaaa!” teriak Tekya tanpa memperdulikan sekitar.

“Nggak usah, pegang saja. Bercanda kok.”

Si cewek itu lenyap di balik tangga.

“Namanya siapa ya..Jadi lupa kenalan.” Tekya tersenyum tersipu-sipu.

Pak Kepsek terlihat berjalan tergopoh gopoh seraya menenteng tas besar berwarna hitam. Yang pasti tuh tas bukan bermerk Hermes. Di luar hujan masih belum juga berhenti. Namun intensitasnya sudah berkurang. Cendrung gerimis. Tidak biasanya beliau hari itu tidak membawa payung panjangnya. So jadi Pak Kepsek menggunankan sehelai saputangannya yang berwarna pink norak menjadikan penghiasa kepalanya, agar terhindar dari butiran-butiran air. Yang menghantam ubun-ubunnya berkali-kali. Sebagaimana yang kita dengar bahwa air hujan mengandung sedikit air raksa yang dapat mengakibatkan kepala menjadi pusing. Nasib Pak Kepsek masih lebih beruntung dibandingakan dari guru-guru yang lain. Malah, Bu Susun Kutacane nyaris basah kuyub.

Tidak apa sih. Ibu Idayati Gaga lebih miris legi menjadi tontonan gratis anak-anak. Masalahnya sang guru yang baru berdinas 6 bulan itu nyaris mandi. Bisa dibayangkan lekuk-lekuh bodynya nan semok itu jadi terpampang jelas bagai lukisan pemandangan yang mendapat ponten 100. Untungnya blazer hitam yang membalut tubuhnya cukup membantu kemejanya berwarna putih berkrah rada transparan, sedikit tertutup, sehingga menghalangi pandangan nakal orang-orang. Otomatis suasana hujan yang tidak romantisme itu dihiasi dengan suara teriakan wuihh….Bu Idayati nan menggemaskan itu telah dapat membaca situasi yang merugikan dirinya. Sekejab pemandangan makhluk  nan indah ciptaan Tuhan itu telah lenyap dibalik pintu.

Cukup soal Ibu Idayati Gaga, kita kembali fokus kepada keadaan Pak Kepsek. Walaupun tidak menarik perhatian. Sampai depan pintu lobi utama gedung sekolah, beliau disambut ramah oleh petugas administrasi dan tata usaha.

“Selamat pagi Pak, “ sapa Pak Tukijan  sumringah ketika berpas-pasan dengan atasannya, “Tumben tidak membawa payung Pak.? Aduh baju bapak basah semua.”

“Selamat pak Kijan. Iya saya lupa membawa payung. Tidak menyangka akan turun hujan. Bahkan koran pagiku juga tak terselamatkan. Ihikss”

“Betul Pak. Kadang prediksi kita suka meleset. Lho bawa tidak bawa mobil?”

“Mana mungkin bawa mobil, Pak Kijan. Mobil kan berat. Bagaimana mungkin? Canda Pak Kepsel.

“Ah Bapak bisa saja. “

“Saya diantar istri sampai di depan warung dekat SMEA.”

“Belanja dulu Pak?”

“ Iya beli permen dapat rokok.”

“Ah mana mungkin.”

“Mungkinlah..saya beli rokok uang kembaliannya ditukar permen. Hahaha..”

Keduanya tertawa.

“Wah, saya lihat kondisi kamu tidak basah. Pakaianmu kering kerontang. Diantar becak sampai ke halaman sekolah ya? Atau jangan-jangan kamu nginap di sekolah alias tidak pulang?”

“Tidaklah Pak.” Pak Tukijan hanya nyengir kuda nil.” Ah Pak Sutan ini bercanda melulu. Memangnya saya petugas siskamling. Hari ini saya datang lebih pagi Pak. “

“Bagus. Pak Tukijan, umumkan kepada guru-guru lain ya.”

“Umumkan apa Pak?”

“Tolong kosongkan kamar mandi. Saya mau pakai mesin pengering dulu. Masalahnya saya tidak bawa pakaian ganti.”

“Siap Pak. Oh ya, saya boleh pinjam korannya sebentar. Saya mau melihat pengumuman nama-nama pemenang  kuis TTS terbitan minggu lalu. Siapa tahu nama saya nyangkut.”

“Nih. Kalau menang jangan lupa traktir ya.” Ujar sang Kepsek sambil mengerdipkan matanya genit  sambil tidak lupa menyodorkan koran leceknya karena basah.

Pak Tukijan mengangguk sambil nyengir dinosaurus. Dengan mata-mata berbinar-binar dia membawa koran itu ke ruangannya. Lalu dibentangkannya lebar-lebar. Diiringi degup jantungnya yang berlari-lari. Setelah dibolak balik dilipat digulung dan dibentangkan dikibarkan lagi tetap tidak ketemu halaman yang dimaksud. Sampai pada suatu ketika, mata Pak Tukijan membelalak sambil mendengus kesal.

“Sialan. Pak Sutan bagaiman sih. Pantas, yang dikasih koran dua bulan lalu. Ternyata koran bekas.”

Dan..Pak Sutan pun ikut-ikutan lenyap di balik pintu. Besok-besok mungkin si pintu lenyap digondol maling. Hihi..

Air mulai menggenangi pekarangan, membasahi tanaman apotik hidup dan sedikit lapangan basket, tapi cukup mengakibatkan lapangan sepak bola menjadi becek. Suasana koridor kelas tampak sepi. Tiap kelas telah memulai aktivitas belajar. Tampak beberapa siswa masih berkeliaran di sekitar kantin untuk sekedar membeli cemilan dan minuman kaleng.

Sudah lumrah untuk suatu revolusi eh salah maksudnya hujan selalu dijadikan kambing hitam untuk datang terlambat. Alasan bisa bermacam-macam. Banjirlah…Jalanan macetlah…

Bel masukpun menjadi molor, biasanya pukul 7.30 WIB disulap menjadi pukul 8.30. Tergantung deras atau tidaknya curah hujan yang turun. Di lokasi lain mungkin momen hujan dapat dijadikan alasan untuk narik selimut lalu meringkuk di tempat tidur. Beberapa anak-anak kecil tampak asik bermain bola sepak di lapangan yang becek. Mereka tak menghiraukan efek dari hujan tersebut.

Sementara itu, sekumpulan gang serdadu kelas 1.3 tengah membentuk kerumunan sambil duduk-duduk bangku panjang. Di sana  ada beberapa pentolan siswa yang bandel. Seperti si Faisol Kriting, Ichsan TWEJ, Agus Blepotan, Ali Sanawiyah, Apto Priggodani dan Yudo Gempul.

“Heyy…Telya lakadam!! Sudah salaman belum sama Yudi!” Panggil Faiso seraya melambaikan tangannya. Tekya hanya terdiam bengong. Mirip kambing bingung.

“Sudah, kemari aja. Nggak dikerjain kok. Pakai pura-puran pinter lagi lho. Bukannya kamu sduah lebih tahu kalau masalah beginian. Kemaren kan hari raya Imlek alias sinchia..Katanya tetangga kamu kiri-kanan banyak chinesenya.” Timpal Ali Sanawiyah cengengasan yang menjadi ciri khasnya.

“Waduh, iya iya,” Tekya baru sadar sembari menepuk jidatnya, “selamat sinchia ya Yudi. Xong chi Fat Choy.  Xongsi..Xongsi..Tekya menyatukan dua genggam tangannya mirip kayak pendekar dalam film Mandarin memberi hormat.

“Kenapa tidak bawa kue yang berwarna merah-merah itu,” sela Yudo Gempul.

“Oh yang dari kacang hijau itu, “ sambar Yudi Sungideres yang kebetulan penganut Khong Hu Chu.. Yudo Gempul mengangguk. “Tenang kawan-kawan soal kue-kue gampang. Semuanya tersedia. Kue kering karna kejemur ada. Kue basah yang kecemplung sumur juga ada. Bahkan pempek dan tekwan orangtua juga menyediakan. Apalagi minuman cincau kaleng. Ssttt…bir songhie juga ada beberapa krat. Komplit. Asal nggak pada ngantongin kacang yg banyak seperti tahun kemaren.

“Bagaiman kalau pulang sekolah nanti kita mampir ke rumah Yudi? Rumah kamu di daerah Yud. Jauh tidak dari sekolah kita.” Ujar Faisol Kriting berapi-api. Saking kepingin dapat makanan gratis.

“Khusus acara begini, kita always standby kok Yud..” Cerocos Ichsan TWEJ. Kacama tebalnya nyaris copot ketika mendengar kata makanan.

“Lu ada shong hie sama whisky juga Yud?” Tanya Agus Blepotan.

Yudi mengangguk. “Iya habis pamanku juga doyan mabok.”

“Paten paten. Mantap!” puji Apto Pringgodani senyam senyum.

“Emang kenapa Gus..kamu nanya minuman keras? “ Tanya Yudi sedikit penasaran. “Kamu doyan mabok juga ya? Belum dewasa. Belum akhir balik, lebih jangan dulu deh. Nanti malah muntah-muntah di rumahku.”

“Ah kamu belum tahu Aku sih. Aku sudah lama tidak menenggak minuman-minumas keras. Sedap nih kalau di rumahmu ada. Masak Cuman kue-kue dong. Ah cemen bro…Emang saya pelajar banci kaleng. “ ketus Agus Blepotan yang rada bertampang centeng pasar inpres. Anatominya saja kalau diamati secara seriud lebih mirip botol kecap.

“Wah ini ini kalau kalian minum awas ya. Pokoknya tidak ada acara teler-teleran ya..”Protes Debby sambil menunjuk-nunjuk ujung hidung Agus. Agus terkesiap kaget. Dia kesel hidungnya yang sudah pesek alias mancung kedalem itu ditunjuk-tunjuk.

“I agree with you Debby. Deal. Thats stupid boy. Forbiden. Not useful. Very dangerous. Kalau pakai acara teler, I’am not followlah…timpal Ichsan TWEJ.

Pukul sembilan kurang seperempat bel berbunyi panjang. Pelajaran untuk jam pertama dipagi nan indah untuk kelas 1.3 yaitu kesenian atau menggambar. Dan akan diasuh oleh Kak Seto eh salah yang betul oleh Bu Yuli. Akan tetapi karena beliau berhalangan hadir lantaran ada kabar berita jalan menuju ke rumahnya kebanjiran. Sampai sekarang belum ada guru penggantinya. Sontak banyak siswa-siswa yang kecewa, alasannya tidak lain dan tidak bukan karena menggambar merupakan pelajaran yang super santai. Asik dibuat untuk rilex, melamun, ngalor ngidul dan menggosip. Noteabene tidak perlu menguras pikiran dan urat saraf. Tekya, termasuk paling menggerutu kali ini. Betapa tidak dia musti berkorban menyewa payung demi menyelamatkan bukur gambarnya. Dia juga sudah menyiapakan segala macam tetek bengek peralatannya, rapido, jangkar, mistar, spidol, pensil de el el. Dan dia juga terlihat dua ratus kali lebih serius dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Oh Ibu Yuli, engkau membuatku kecewa deh. Saking kesalnya, ingin rasanya Tekya melompat dari ruangan kelas di lantai tiga dilengkapi dengan parasut tentunya. Olala. Sejurus kemudian Tekya menerawang.

Rekan sebangku Tekya lain lagi, si Faisol menyaksikan Tekya yang tengah dilanda kecewa berat. Kelihatan dari gerak geriknya yang tidak tenang. Niat rencana ingin mengusili si Tekya, dia urungkan. Tekut disemprot. Lalu Faisol segera mengambil topik aksi lainnya. Oh ya lebih baik dia melamunkan makhluk hidup ciptaan Tuhan yang paling indah yaitu : perempuan alias cewek. Tampangnya seruwet rambut kribonya. Alamak! Rupanya dia sedang membayangkan sesosok wajah manis bernama Emilia, anak cewek kelas 1.5. Kelasnya tepat di muka tangga lantai tiga. Akibatnya Faisol jadi tertawa sendiri persis orang sedeng.

Tiba-tiba..Lamunan Faisol buyar gebyar. “ Sol..sol..kamu bawa buku gambar tidak?” Rupanya Tekya yang punya gawe. Eeh mahkluk yang ditanya malah tidak menjawab sepatah katapun. Dia tak bergeming. Tetap setia melamun. Swear, Faisol tak menghiraukan teguran teman sebangkunya. Akhirnya Tekya menempuh jalan terakhir menimpuk jidat Faisol dengan buku gambar berukuran A3. PLOOKK!!! Baru Faisol tersadar dan mulai kembali ke alam nyata.

“Ada apah sing begajul. “hardik Faisol kelabakan. “Kamu mengusik lamunanku saja. Kan sulit lagi Aku untuk berkesentrasi untuk kembali melamun. Tahu nggak?!”

“Aku lupa bawa buku gambar! Puas?!” Omel Faisol kepada Tekya. “Kamu ini kenapa si Tekya, tidaak boleh melihat orang senang sedikit sih. Buyar deh lamunannku. Kabur tuh cewek…”

“Wuihh, segitu sewotnya. Padahal saya kan tanyanya baik-baik. Sol Sol..Faisol bedegul. “

“Lupa Luapa! Aku lupa bawa. Emang kamu mau pinjamin Aku?”

“Ogah. Nanti kamu keterusan malesnya slalu lupa membawa buku gambar.”

“Habis ukurannya besar. Tasku tidak muat.”

“Yang penting niat bro..”

“Kali ini kamu beruntung. Bu Yuli berhalangan.”

“Asikkk.” Lantas kita sekarang waktunya bebas.” Wajah Faisol bercahaya. Dalam hatinya pengin loncat-loncat kegirangan namun diurungkannya tindakan gila tersebut.

“Lho aku kok nggak nemui buku gambarmu Tekya. Lupa juga ya?”Ledek Faisol dengan bibir yang dimancungkan. Nyaris dower mirip Mick Jagger. “Kalau begitu skor kita sama ya. Senasib sepenanggungan. Sama-sama lupa bawa buku gambar. Ibarat saudara kembar saja. Serupa tapi tak sama. Kalau kamu mirip manusia sedangkan saya manusia asli. Hehehe..”

Timbullah rasa  kesal Tekya. Sambil mendengus kayak wedus. Tekya cepat cepat merogoh sesuatu dari sorong mejanya. Kemudian terpampanglah seonggok buku menggambar ukuran A3 yang kondisinya sedikit basah dan kumal. Untung masih layak pakai.

Faisol kaget. Kedua bola matanya yang hitam bergeser ke tengah mirip orang juling. Sesaat kemudian kepalanya menggeleng-geleng tanda takjub heran.

“Gara-gara hujan sialan!” Maki Tekya.

“Astagfirullah! Nyebut Tekya…Hujan itu berkah dari Allah.”

“Ampun ya Allah. Ampuni bacot hambamu ini. Asal njeplak aja. Saya khilaf ya Tuhan.” Tekya langsung gelagapan.

Faisol cekikikan sampai  punggungnya tersender di sandaran bangku. Tiba-tiba dia refleks mengajak Tekya untuk toast. Dengan gerakan sedikit lamban dan gelagapan, akhirnya Tekya menyambut juga lima jari milik Faisol. Kelima jarinya juga keriting seindentik dengan rambutnya. Lalu Faisol berkata, “ Dengarin ya Tekya. Kamu masih lebih hoki dibanding Aku. Buku gambar milik kamu masih berwujud barang. Lha! Kalau punya awak ini sudah tidak ada juntrungnya lagi. Alias lenyap.”

“Maksudmu? Buku gambarmu basah kena hujan lalu menjadi hancur menjadi potongan-potongan kecil. Begitu?”

“Bukan begitu maksud awak. Hilang tak berbekas..”

“Aku jadi bingung Sol. Masih belum mudeng dan belum tahu arah pembicaraannya.”

“Gawat kamu. Kebanyakan minum pil koplo ya. Jadi overdosis.”

“Sudahlah, Jangan banyak cincong. Ceritamu diringkas aja. To the pont gitu.”

“Oke. Keseimpulannya “BUKU GAMBARKU KETINGGALAN DI OPLET”. Puas kamu?!”

Meledaklah ketawa Tekya seketika mendengan alasan dari mulut Faisol.

“Sudah kuduga kamu pasti akan meledekku. Huh! Daasar tidak setia kawan.”

“Lantas kamu tidak menguber dan berteriak? Biar busnya berhenti.”

“Sudah. Tapi mereka terus aja pergi. Ihikksss..”

“Kasihan kamu Sol. Aku turut prihatin.” Tekya menepuk bahu temannya dengan buku gambarnya yang kumal bin dekil.

Selang beberapa menit kemudian, menjelang pelajaran usai, suasana kelas tampak riuh gemuruh seperti di pasar inpres. Setidaknya terdapat beberapa gelintir anak-anak cowok bertingkah seperti begundal-gundal pacul-cul gembelengan…melancarkan aksi membuat gaduh. Sementara anak-anak cewek mengalah dan tidak mau terlibat, cukup berlaku kalem dan acu-acuh cuwek. Lebih nyaman menjadi penonton saja.

Para Serdadu kelas 1.3 dapat digolongkan katagori remaja berusia tanggung yang penuh kreativitas, enerjik over dinamis.

Seperti kejadian kali ini, sebuah konser gelap dadakan yang dimotori oleh Yuda Gempul tercipta sudah, plus personelnya macam  Agus Blepotan, Ferry Item, Choi Kurcaci also starring Sony Betapermax  mulai bangkit kekumatannya. Mereka bertindak atas komando Yuda Gempul yang menggerak-gerakkan layaknya konduktor atau dirigen yang memandu sekelompok pemusik pada suatu pagelaran konser musik. Beberapa anak bagaikan keiblisan mengeplak-geplak meja seolah-olah drum. Tentu saja bunyi yang dihasilkan berantakan. Lebih mirip knalpot pecah yang racing. Jauh dari kesan harmonis dan merdu. Komposisinya kocar-kacir. “PLAK! DUNG DUNG PLAK! PLETAK! GENJRANG GENJRENG! NA NA NA NA!” Kurang lebih seperti itulah nadanya. Sungguh tidak jelas. Suaranya membahana. Walaupun begitu mereka tetap cuwek dan kompak. Lama kelamaan agak terdengar dan terbentuk juga nadanya.

Memang, tidak ada greget dan nilai seninya. Yang pasti amburadul yang membuat pusing kepala. Sekali lagi, ahenya mereka tampak menjiwai seaakan-akan mengikuti irama dari pak komposer dengan benar. Tidak beberapa lama sayup-sayup terdengar lagu dengan balutan irama padang pasir di Timur Tengah. Mendayu-dayu dan melenggak lenggok bak ratu kebaya. Namun lagunya terdengar hancur ketika dimasukkan lirik yang diplesetkan menjadi parodi. Padahal iramanya mengambil sebuah lagu Koe Plus yang berjudul ‘di sekolah’. Lagunya kurang lebih seperti ini..: DI SEKOLAH YANG KUHITOING-LUHITOUNG, HANYAKAH CIWEK. KTELAH LAMA MENULAK-MENULAAAK EH MASIH NGEBEET JUGA.

Sejumlah siswi cewek seperti : Lala Arleini, Eveltine, Debby, Fatimah, Inyoy, Novelita, Dewi Brisik, Elbala Diba, Baba Bubu dan sejenisnya. Mereka serempak meneriakkan suara “HUUUUUU..! Zoel yang sering gamang akan jenis kelaminnya itu masuk ke kelompok mana. Zoel yang feminim itu memang lebih tertarik bermain dengan siswi cewek, walaupun dia terpasung dalam badan lelaki. Namun naluri dan sifatnya nyemplung  ke perempuan yang lemah lembur serta gemulai. Namun, kali ini Zoel tak ingin ambil bagian pada parade kali ini. Dia hanya terdiam diri di sudut kelas. Entah siluman apa yang sedang mamasuki raganya sehingga dia berlaku kalem kali ini. Biasanya dia acap berbaur malah terkadang bikin heboh. Tadi pagi Zoel ikut merasakan siraman air hujan yang dipercikan dari ban mobil oplet atau angkot. Kejadian itu sempat membuatnya naik darah. Zoel tak sempat mengumpat sopirnya, karena telah lenyap di balik tikungan. Juga timbul rasa malu ketika tengah memasuki area sekolah. Beberapa gelintir dari kelas lain sempat terdengar cekikikan tertawa mereka yang sepenuhnya Zoel rasakan nada meledek. Melihat bajunya terdapat beberapa bercak noda tanah dan basah. Seragamnya yang sebelumnya putih bersih mengkilap menjadi hitam buram. Seandainya saja (kalau boleh berandai-andai) disekitar kejadian masih sepi pastilah Zoel sudah berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Zoel hanya tidak tega menyaksikan Ibunya dengan susah payah membersihkan noda. Guyuran hujan dan insiden tadi pagi langsung membuatnya mati rasa.

Oh ya Debby sempat  menarik-narik tangannya diiringan rayuan agar mau bergabung. Tapi tak mempan. Zoel sudah terlanjur tidak bernafsu.

“Kenapa si Zoel?” Tanya Eltine kepada Debby.

“Entahlah. Tidak biasanya. Kesambet jin n jun kali.”jawab Debby sekenanya.

“Mungkin dia kesal sama kejadian tadi pagi yang merenggut….”cerita Eveltine.

“Merenggut….baju seragamnya ya? Hahaha.” Debby sumringah.

Eveltine dan Debby cekikikan.

Susasana tidak kondusif. Di tengah hiruk pikuk kelas yang mirip kapal Titanic yang pecah. Di sebuah meja dekat jendela. Iwan Mukejenuh yang bertubuh gembal, berbodi subur dan lumayan kekar. Selain berwajah Boolywood tampak sedang memeras keringat (bukan susu sapi ya…) mengumpulkan segala upaya, semangat dan tenaga yang dia punya dalam perhelatan adu panco gelap. Kali ini melawan Hery.

Mereka membentuk semacam arena yang melingkar. Masing-masing supporter maupun panchocheersleader mendukung andalannya. Auro dan aroma panas penuh semangat dari kubu masing-masing untuk  memenangkan jagoannya. Iwan menampakkan wajah penuh ketenangan dan kesantaian dalam menghadapi Hery. Sebagai juara bertahan panco antar bangku di kelas tersebut berusaha bersikap tenang. Berbeda 180 derajat dengan keadaan Hery. Dia dengan susah payah berupaya sekuat tenaga untuk menaklukkan Iwan. Nafasnya berhembus satu persatu. Terengah-engah dan payah. Butir-butiran keringan  mulai bercucuran membasahai beberapa bidang badannya.

“Ayo, terus Wan, masalah lo kalah si ceking Hery’ Tulangnya saja seperti papan cucian. Dia nggak ada apa-apanya!!” Teriak Faisol memberi semangat membara. “Jangan sampai kalah dong. Krdibilitasmu bisa anjlok.”

“Tenang Sol. Emang tampang saya tampang kalah. Nggak lah ya.”

“Ayon Ri! Hancurkan si juara bertahan Bila perlu sampai mampuih. Anggap saja  Iwan itu gentong air. Ayo Her, jangan malu-maluin bangsa Afrika.”dukung Apto sengit.

“Sialan kamu To. Kalau mau support yg bener. Tapi jangan fitnah dong saya dibilangin dari Afrika.

Dengan mudah bagi Iwan Mukejenuh untuk menaklukkan Hery Slim. Pergelangan tangan milik Hery agak kebiru-biruan terkulai lunglai. Sebagai tanda perjalanan aliran darahnya belum lancar. Walaupun begitu Hery tidak ingin menunjukkan muka kalahnya. Dia tetap tegar dan tersenyum. Tentu saja Hery tidak mau harga dirinya jatuh di hadapan siswi-siswi kelas 1.3. Bisa-bisa dia dicemooh dan diperolok-olok. Rasa sakitnya yang sedikit-dikit mulai mendera ditahannya kuat-kuat. Sudah menjadi rahasia umum kalau adu panco barusan terjadi adalah kurang fair alias tidak seimbang.  Hery yang berbadan tipis alias kurus nggak keurus itu harus dipaksa melawan Iwan. Terang saja Hery langusng keok dan KO cepat.

“Herryy. Tadi kamu sarapan apa sih..” Tanya Iqbal.

Hery hanya mesem-mesem. Buru-buru dia ngeluyur ke toilet. Alasannya sudah kebelet. Padahal dia mau mengaduh sepuasnya tanpa orang yang mengetahuinya.

“Makan serbuk gergaji ya?” Ledek Iwan jumawa.”Hayo siapa lagi lawan berikutnya. Ingat! Sebelum turun lapangan dicek dulu ya tenaganya. Kira-kira kalau tidak sanggup melawan saya mundur saja. Jangan kayak si Herry. Tidak kuat tapi belagak jago dipaksakan. Jadi begini akibatnya.”

Tiba-tiab muncul Andre unjuk kebolehan.

“Nyali lu gede juga Ndre..”Sambut Iwan sinis.

“Begini-begini saya sudah beberapa kali nonton film Silvester Stallone..” ucap Andre seraya mngyingsingkan lengan bajunya hingga kelihatannya ujung ketiaknya.

“Jangan ketinggian gulung bajunya Nde. Baunya kurang sedap. Ketek jelek kamu kelihatan.” Protes Iwan.

“Oh ya tadi kamu belajar dari film Stallone ya. Saya tebak pasti film ‘OVER THE TOP’. Pilem tentang seorang plonco.. eh pemanco.

“Enak saja. Sembarangan jawabnya. Asal njeplak aja. Salah.”ujar Andre kesal.

“Lantas film apa dong…”

“Basic Insticn.”

“Ancurminah. Anjriiit!”

Pinsa Anu Gerah, Iqbalik, Akhyar kembali bersorak-sorak sambil bertepuk tangan memberi semangat kepada kedua petarung panco tersebut.

Mari kita beralih ke meja lain. Ternyata sedang berlangsung pertandingan catur yang cukup….santai antara master Tekya dan master Agus Kecik. Akan tetapi keduanya menunjukkan muka tegang. Tekya dengan gaya bertopang dagu. Sedangkan Agus Kecil bertopeng monyet…hihi. Biar dikira penonton sedang memeras otak.

“Skakt Mamat!!” Pekik Tekya tertahan. Agus Kecik agak terpelongo. Mata terpelotot. Lidahnya menjulur. “ Ayo kamu mau kabur kemana? Raja kamu telah terkepung. Silahkan dik Agus yang kecik mengalah saja.” Tekya melonjak kegirangan seakan sudah yakin bakal menang. “Jalan kamu semua sudah ketutup. Kiri kana ada ruko. Hehehe.”

“Eit..tunggu dulu dong. Kasih kesempatan saya mencari jalan dan siasat.” Agus kecik ngotot belum mau mengaku kalah. Dia berusaha memandangi satu persatu buah catur-caturnya. Siapa tahu masih mempunyai peluang. Walaupun keadaan sang raja sedang gawat dan kritis toh masih ada mentri, benteng, luncuk dan sejumlah pion.

“Tenang sajalah. Masih banyak jalan menuju kecurangan..” Bisik Agus Kecik sambil berbisik kepada Choy.

“Apa kamu bilang curang? Pantesss…Ternyata…Perasaan awak tadi mengatakan pasti ada yg tidak beres.”

“Tadi itu iya sih. Sekarang murni lho..Giliran saya kan sekarang, skak ster hayooo…”ucap Tekya santai tanpa dosa.

“Steer? Mana ada ster? Ulang! Ulang! Itu tadi nggak syah!” Faisol mengamuk pertanda dia tak diterima.

“KEDOBRAAAKKKK!!!” Tak ayal lagi buah-buah catur berjatuhan dan berhamburan. Entah kenapa siapa yang berbuat? Entah siapa gerangan yang menganggu dan berbuat usil. Wow usult punya usut ternyata rupanya si Faisol yang membuat ulah. Kesambet jin Afrika kali…Balasannya rambut Faisol yang keriting itu diacak-acak oleh Tekya. AJAIB! Rambut Faisol tak berubah sedikitpun. Catur is finish.

Keributan tak berujung itu benar-benar membuat bising. Tak beda seperti keadaan di pasar kaget yang heboh oleh teriak-teriakan para pedagang selagi menawarkan barang loakannya. Otomatis beberapa kelas tetangga merasa terusik kondisi belajar mereka. Akibatnya suara para guru yang menerangkan pelajar berteriak sampai suara mereka parau tidak terdengar sama sekali ke telinga para murid.  Dulu, memang semua guru sudah pada maklum terhadap kelas 1-3 yang basicnya susah diatur dan dijelimetin dengan nasehat-nasehat usang. Badungnya sudah tidak ketulungan lagi. Tapi sekarang, aliran darah mereka sudah terlanjur naik sampai kepala. Istilah lain  sudah naik pitam.

“Aduh!” Ada yang tahu kelas mana itu yang bikin ribu?!” Tiba-tibal Ibu Wiwi melontarkan sebuah pertanyaan yang tak perlu dijawab dengan menguras otak kanan maupun kiri.

“Kelas satuuu tigaaaa Buuu.!!!” Teriak ana-anak murid kelas 1-5 secara serempak seperti koor paduan suara buaya. Mirip orkes simponi little pony.

“Lihatlah anak-anak, omel Bu Wiwi yang kebetulan memandu pelajaran bahasa Inggris di kelas 1-5, mendengar keributan itu.”Mirip anak-anak bebek kehilangan video game. Tak patut kaliah contoh. Untungnya rata-rata mereka berotak encer. Yang bernilai positif boleh kita contoh. Kenakalannya jangan ya. Sungguh memalukan. Terlalu…”

“Pada mau bertelor kali Bu. “Celetuk Udin Zabriks dari bangku paling belakang.

Mari kita kembali melihat keadaan kelas 1-3 yang saat ini menjadi sorotan para guru. Kegaduhan sudah mereda. Faisol dan Tekya yang tadi bertikai gara-gara bermain catur sudah didamaikan oleh teman-teman mereka sendiri.

Fatimah, Endah beserta Baba sedang asik membuka lembar demi lembar sebuah majalah remaja yang terbit edisi bulanan. Nama majalahnya Mode. Berita-berita sudah ketahuan yaitu sekitar mode dan fashion. Selain itu juga memamerkan model-mode muda yang kece-kece dan klimis-klimis. Sesekali mata mereka melotot sewaktu melihat gambar-gambar sosok-sosok para cover boy yang bertampang macho berpose bertelanjang dada di pinggir empang ikan lele. Pokoknya memakan satu halaman penuh.

“Waduh, kapan ye Ogut dapet lanang belagak-belagak mak ini (kapan ya saya dapat cowok cakep-cekep seperti ini) Oh betapa senengnya seandainya kelak dapat pendamping hidup itu sekeren ini. Betapa indah dan berwarnanya dunia. Bisa-bisa ogut betah dan sebulan tidak pernah keluar rumah.”

“Ngapain? Kali bersih-bersihin rumah ya? Ngepel dan nyapu gitu?” Tanya Endah mirip cewek bolot.

“Hey..emang kita pasangan babu apa? Maksudnya kami akan memadu kasih sepanjang hari dan malam. Lokasinya tidak perlu jauh-jauh. Kamar mandi kamar tidur,  kamar tidur kamar mandi.

“Idih, maunya! Emang kalau menikah itu lepas dari kewajiban urusan rumah tangga apa?!” Potong Baba, “Nih kalau saya nih Fatimeh. Kamu dengerin yee. Cowok pendamping aku tidak perlu terlalu good looking atau handsome tampangnya gitu. Tidak perlu muluk-muluk deh. Emang cerita dul muluk. Kepribadian dan akhlak nomor wahid. Terus dia merupakan laki-laki yang bertanggungjawab sebagai kepala rumah tangga. Menjadi imam bagi keluarga. Mempunyai pekerjaan yang mapan. Setia, pengertian, penyayang, sedikit kocak dan….cinta aku sampe dunia memisahkan kita.”

“Apanya yang nggak muluk- muluk. Semua kriteriaku sudah kamu borong semua Baba..” Ketus Endah. “ Saya sepakat sama kamu, buat jadiin cowok kalau bisa cakep. Tapi kalau suami tidak perlu cakep nanti sudah menjaganya. “

“Terserah kaliahlah. Kalau ogut mnasalah tampang sangat penting karena….” ucap Fatimah.

“…Sudahlah, Aku tahu alasannya. Untuk memperbaiki keturunan kan?” Samber Baba spontan.

Fatima sangat dongkol mendengarnya. “ Huh…memang betul sih..” katanya dalam hati. H rasanya Fatimah ingin meninju muka si Baba Holiang. Dasar terlalu jujur!

“Heh Baba Holiang! Kamu itu sudah gila dan aneh ya. Mukamu itu sudah kayak sendal jepit malah mencari cowok jelek sih. Apa kamu tidak kasihan sama anakmu kelak. Merana banget punya orangtua bermuka di bawah standar. Hehe…” Ledek Fatima sambil terkekeh-kekeh.

“Ponten seratus buat Fatimah. “ Endah menimpali. “Make sense itu. Cewek baskom cocoknya sama cowok baskom juga. Hua hua hua.”

“Bukan begitu mulut sumur! Cuka para! Maksud saya ..seumpama dikasih Tuhan cowok jelek kayak Tom Cruise atau Andrew Shue. Saya tidak mungkin menolak.” Baba ngeles.

Bisa ditebak setelah itu rambut Baba diacak-acak.

Dimeja depan, Arleini terlibat percakapan seru dengan Eveline. Biasa, maklum sedang menggosip. Gossip is the sip. Makin digosok makin siip deh! Di deretan bangku belakang keduanya, ada sosok Debby dan Novel menjadi pendengar setia setiap curahan gosip. Yang namanya pendengar hanya pasang kuping lebar-lebar, terus mata diplototin pertanda gosip itu seru dan juga mulut melongo sambil terbuka lebar-lebar.

“Vel..” Arleini membuka bumbu gosip baru.” Semalam Aku rasanya memergoki Bapakmu nongol di televisi deh.”

“Oh ya. Ah masak? Di tipi mana?”

“RCTI”

“RCTI?? Ooh mungkin juga. Belakangan ini Papa sibuk sekali. Sering pulang sampai larut malam sih. Ternyata kami juga sekeluarga baru tahu Papa tuh jago mengamati pemain bola. Dulu dia jago tarkam. Kalau tidak salah di posisi sebagai sticker atau gelandangan kekinian. Sorry saya lupa. Oleh karena itulah dia kerap diminta sebagai komentator khusus sepak bola.”

“Huh, kalo itu saya sudah tahu. Sebelum kamu lahir ke dunia ini malah..Tapi kasli ini beda lho Vel..Aku lihat dia stasiun yang beda. Nggak biasanya gitu.”

“Tunggu dulu. Aku belum paham maksudmu. Ohhh..Kamu melihat Papaku di stasiun Kereta Api ya?”

“Eh bukan. “

“Habis stasiun mana lagi. Stasiun kereta bukan. Stasiun pesawat kali ya?”

“Ngawur kamu.”

“Memangnya disaluran mana dong? Kok Aku sampai tidak tahu. AYO dong apa nama acaranya?” Eveline menampakkan wajah polos bercampur bingung.

“Di acara ini…eee…kontes ‘academy funny face award’!!”

“Goblok..Nggak lucu ah. Ngaco kamu Len!”

Semua tertawa terkekeh kekeh.

“Tuuhh kan, apa kubilang. Lucu kan Bapakmu?Buktinya  kalian pada ketawa. Hua hua.” Leni puas sekali ledekannya berhasil menjerat Eveline. Termasuk Debby dan Novel.

Kali ini Debby yang pingin cerita gosip tentang dirinya sendiri. Debby tidak mau kalah rupanya.

“Ayo sekarang gantian dong. Kalian dengerin curhatanku..” Rengek Debby.

“Ihh..Tidak mau denger curhat ah, Deb.”ujar Leni ketus. “Omongan kita ini hari khus gosip doang bukan cuthat Deb.”

“Curang deh. Curhatku ini ada bumbu gosipnya tau?!” Debby tidak patah semangat. Dia terus ingin bercerita.

“Ya udah deh. Kita dengerin aja kasihan kan Len. Masak temen sekelas curhat kita cuwekin.” Bela Novelita.

“Iya Len. Lanjutkan Deb.” Eveline juga memberi kans pada Debby.

“Baik. Saya akan mulai bercerita…”Belum lagi Debby memulai babak ceritanya sudah dipotong Arleini.

“Pada suatu hari hiduplah sang kancil…”Samber Leni.

“Ahhh Leni. Tidak begitu-begitu amat lagi. Goblok. Memang dongeng sebekum tidur.” Protes Debby kesal.

Sekarang gantian Eveline, Arleini dan Novelita menjadi pendengar setia.

“Nomong-ngomong Ogud lagi sedih nih. Pokoknya sedang dirundung sedih berat nan mendalam. Pilu dan dak kolu (nggak kuat).” Tiba-tiba roman wajah Debby berubah lemas, letih dan lunglay. Tampak sedikit guratan-guratan kepedihan yang berujung pada kepedihan. Juga kecewa.

“Sedih karena apa Deb? Diputus pacar ya? Cup cup sudahlah jangan sedih..” Arleini langsung merasa iba. “Lelaki masih banyak kok di pasar 16 ilir. Ceritakanlah Deb. Siapa tahu kami bisa membantumu.”

“Seriusan Deb?!” Novelita sedikit terperanjat sembari terbelalak.

“Terrusss Deb…”Pancing Eveline tidak sabaran bercampu penasaran.

Debby mulai bersabda…”Begini ceritanya. Kalian kan sudah tahu. Aku kan sudah lumayan lama berpacaran dengan Edot..”

“Berapa lama Deb?” Tanya Leini antusias.

“Lama sih. Sudah 7 hari gitu..”

“Kalo baru tujuah hari belum lama lagi. Baru seumur jagung bakar itu mah. Apalagi sama Bandot…”Celetuk Novelita.

“Novel! Awas kamu. Nama pacarku Edot bukan bandot. Kedengerennya nggak enak tahu?!”

“Iyo iyo. Sudah, lanjutkelah. “Novelita gregetan.

“Nah, hubungan kami ini telah diketahui oleh orangtuanya Edot. Dan mereka tidak ada masalah yang berarti. Kami telah direstui untuk menjadi teman akrab alias pacaran. Dan pesan orangtuanya, asal masih batas wajar dan normal. Kami diminta tetap menjaga diri masing-masing. Bayangkan sampai segitunya pesannya. Bagiku itu gimana gitu dan sakral dan kramat banget.”

Untuk sementara teman-temannya Debby pada berdecak kagum. Sedikit terharu.

Kemudian Debby melanjutkan kisahnya…”Nah…disaat kedua orangtua telah sepakat dan harmonis. Tiba-tiba tidak ada kabut tidak ada asap ada seserorang yang menetang hubungan kami berdua yang sudah berjalan manis ini.  Makhluk satu ini yang menjadi penyebab dan pangkal masalahnya. Dia dia..tega tidak merestui hubungan kami…”Debby sedikit menunduk. Ada nada getir di nada suaranya. Untuk beberapa detik dia menghela nafas. Menghirup nafas dalam dalam lalu menghembuskannya lewat pantat. Idiihhh!

“ Waduh gawat Deb!” Pekik Eveline.

“Pasti dari paman bibik, tante om atau dari adik atau kakak? Atau saudara jaunya ya?” Arleini menduga-duga.”Siapa sih. Ya udah kita tonjok aja Deb.”

“Oh so sad and so bad…” rintih Novelita turut prihatin.”

“Nah, kalian mau tahu siapa orangnya?” Tanya Debby dengan nada penuh kecewa.

“Iya Deb, kasih tahu kepada sahabatmu ini siapa nama cecunguk itu?” Eveline langsung naik pitam. Amarahnya memuncak. Dia langsung menyingsingkan lengan bajunya. Sepertinya darah mudanya mengalir kencang sekali. Ingin rasanya dia menghantam orang yang menjadi penghalang jalinan kasih teman sekelasnya itu. Rasa kesetiakawanannya boleh juga.

“Serempak mereka menyodrokan kepalanya masing agar mendekat kepada mulut Debby. Sepertinya Debby hendak berbisik. Kelihatannya dari mulutnya yang sedikit dower ingin berbicara. Lipstik berwarna jingga yang melekat di bibirnya dibasah-basahin dengan ujung lidahnya. Jadi ada efek mengkilap dan cerah benderah. Debby mulai memberi kode agar teman-temannya lebih mendekat lagi.

“S-siapa Deb? Aku nggak dengar kamu tadi ngomong apa?” Tukas Eveline.

“Yeee…Orang belum ngomong kok.” Bela Debby sambil memelintir bibirnya yang bagian bawah. Mirip nenek lemper.

“Ayo dong beri tahu. Cepetan. Nanti keburu bel berbunyi.” Arleini nyerocos penuh nafsyu.

“NAMANYA CEK ODAH MARODAH!!” Cetus Debby.

“NAH! Siapa pula itu?”Tanya Arleini, Eveline dan Novelita tersintak serempak.

“BABUNYA YANG BAHENOL DAN GANJEN!” HAHAHAHA…”Debby tidak sanggup lagi menahan ketawanya yang meledak-ledak. Saking puasnya tertawa, mata Debby nyaris mengeluarkan air mata dan terkentut-kentut. Untung persoalan yang satu ini dia berusaha untuk menahannya. Demi gengsi dan harga diri. Ketiga orang temannya baru sadar telah dikerjain oleh Debby. Mereka sewot bukan main.

“SIALAAANNNN KAMU DEBBY!!!” Tak ampun lagi. Kini rambut Debby yang semula dikucir pita telah awut-awutan diacak-acak jadi tidak karuan.

Di sela jam pelajaran menggambar  yang kosong itu diisi oleh anak-anak kelas 1.3 dengan canda ria dan keributan-keributan yang tak berarti. Mereka beranggapan kapan lagi dapat bertindak ‘free play in the class’. Lantas mereka segera bersuka ria. Mengenyahkan semua kepenatan otak mereka. Karena kesempatan jarang datang dua kali alias berentetan. Makanya musti dimanfaatkan sebaik-baiknya. Walaupun tampak sedikit buruk.

Dalam hati mereka mengucap syukur kepada Tuhan sang Pencipta karena hari ini telah dianugerahkan guyuran hujan membasahi bumi. ‘Hujan awet’ istilah mereka alias hujan yang belum berhenti walau menjelang bubaran sekolah. Hujan yang menyamankan dan menyejukkan hati.

Apabila hujan deras yang terus turun, maka akan mengakibatkan banjir. Makan jangalah kita menyalahkan sang hujan. Berarti kita berpransangka jelek kepada sang Pencipta. Tak boleh begitu ya. Kadang tanpa disadari kita mengumpat-umpat hujan. Seakan dia sebagai tersangkan yang harus dihukum. Padahal kita tahu keasalahn pasti ada pada manusia. Iya toh. Banjir terjadi karena siapa? Siapa lagi kalau bukan manusia yang suka membuang sampah seenaknya. Menebang pohon sesukanya. Memanfaatkan lahan yang semestinya untuk resapan air malah mendirikan mall, perumahan dan pertokoan. Mbo ya disulap menjadi taman yang asri dan rimbun. Sehiingga tiap butiran hujan yang jatuh. Sang bumipun siap menyambutnya penuh suka cita.

Tekya melongok ke luar jendela. Dari lantai tiga seperti  menyimpan pemandangan yang lumayan. Sudah kodratnya ketika sedang di atas biasanya melihat ke atasnya lagi. Setelah itu baru ke bawah. Kemudian pandangan diarahkan ke seberang jalan. Terlihat beberapa orang yang tidak membawa payung berlarian mencari tempat berteduh. Halte adalah menjadi sasaran empuk dibanding pohon. Lalu taman hijau milik sekolah yang mulai menggenang. Kolam ikan pun nyaris meluber karena tidak sanggung menampung serangan air hujan. Sejenak dilihatnya genteng sekolah yang kelihatan bersih tersapu hujan. Butiran air itu seperti berebut untuk meluncur menuju talang air.

“Terima kasih ya Tuhan. Aku suka sekali cuaca hari ini. Semula aku menuduh Tuhan. Tadi sih benar menyebalkan sekali. Kini hatiku senang.” Bathin Tekya. Mukanya sumringah sambil memberikan senyum terbaiknya.

Suasana hati Tekya berbanding terbalik dengan Ichsan TWJ, sang ketua kelas. Dia sudah berusaha dari tadi untuk menenangkan suasana kelas. Berusaha untuk mengajak semua teman sekelasnya untuk duduk manis, tidak ribut dan tertib. Namun bagi Ichsan TWEJ terlalu sulit untuk menyetir ataupun mengkoordinir puluhan orang dengan niat yang berbeda. Keseimpulannya adalah : Dia gagal mengontrol dan mengatasi kegaduhan demi kegaduhan. Pernah terlintas di benaknya untuk mencoba marah dan galak sebuas beruang kutub. Malah teman-teman seperti  Agus Blepotan dan Yudo Gempul tidak mempan dan tak perduli. Mereka lebih galak faktanya. Ya ampun. Ichsan ingin segera meletakkan jabatan nirlabanya sebagai ketua kelas sebelum waktunya. Mungkin lebih cepat lebuh baik. Bukannya dia tak pernah mencoba mengumpulkan semua uneg-uneg dan kemarahannya. Ketika hendak memuntahkan nafsu marah itu…Sudah sih. Hasilnya dia dicemplungin ke dalam bak sampah yang besar di belakang sekolah. Walaupun bagi mereka itu bercanda. Bagi Ichsan itu sudah keterlaluan. Tapi itu dulu, sebelum mereka akrab. Namun setelah akrab….makin parah. Hehe. Habis ketika sedang marah Ichsan lebih mirip pelawak Timbul Srimulat. Habis deh dia menjadi bahan olok-olokan.

Ichsan memutuskan untuk bertindak kalem saja. SDS. Selamatkan diri sendiri.

Ajaibnya, ketika waktu menunjukkan jam istirahat (keluar main), suasana kelas 1.3 makin mengglegar. Ritme kegaduhan tetap terjaga. Out of control again. Pasalnya Bu Sapi’i belum juga kelihatan daun telinganya. Entah terlambat memasuki kelas atau tidak mengajar. Masih simpang siur. Masih plintat plintut. Intonasi nada suara para siswa disini masih meninggi. Dobly stereo saja kalah berisik. Tiba-tiba diawali sebuah teriakan keras melengking dan nyaring membahana mengisi seluruh ruang kelas. Pastinya membikin kaget semua orang. Sumber suara tersebut dari mulut seorang siswa cewek bernama Sridimitha Rajni Kutacane Tunjahe-jahe (oayayai ini nama apa gerbong kereta api). Dia merupakan cewek blasteran Aceh-India. Si Sridimitha sedang dilanda ketakutan tingkat akut. Dia sedang berlari kencang menelusuri koridor kelas di lantai tiga. Derap kakinya mengundang beberapa pasang mata. Yang spontan nongol dari balik jendela kaca kelas. Semua pada penasaran. Ada apakah gerangan yang terjadi? Otomotas menjadi tontotan gratis kelaslain. Mungkinkah si sri melihat penampakan hantu wewe atau nini towok atau setan alas kaki? Namun…? Tidak lama kemudian muncullah penampakan seorang manusia di belakang Sridimitha. Orang itu terus mengejar untuk menyusul korbannya.

Usut punya usut ternyata biang keroknya adalah Agus Blepotan. Dia berusaha mengisengi Sridimitha dengan menakut-nakuti dengan ular-luran karet. Sedangkan sang cewek sudah tampak pucat mukanya. Dari hitam manis menjadi putih manis. Nafasnya pun sudah tersengal-sengal. Matanya yang bulat membesar. Untunglah, sang pahlawan yang tengah melamun bernama Ichsan TWEJ dengan sigap dan refleks menengahi kedua anak kelasnya itu.

“Came on guy. Comeon Gus! Are you crazy?”Ichsan membentas Agus secara refleks. Akhirnya emosinya yang tak tahan menyaksikan perempuan dianiaya ringan.

Agus tersentak kaget. “Apa San. Aku hanya bercanda doang. Tak usahlah kau teriak macam tu.” Agus langsung mengantongi ular mainannya ke dalam saku.

“Mitha! Sudah aman kok. Hanya ular mainan!”Teriak Ichsan TWEJ memanggil Sridimitha kencang. “Gus, kamu kan sudah gede. Masak bercanda seperti anak di playgroup sih. Kamu semestinya melindungi cewek dong. Bukan menakuti seperti tadi. Ayo Gus, minta maaf secara jantan.”

Agus sebetulnya rada gengsian. Apalagi sampai dibentak oleh seorang Ichsan. Seorang cowok culun berkacamata tebal dan kutu buku pula. Kebetulan menjadi ketua kelasnya. Dan harus dihormati. Dalam hati Agus berkata beraninya dia membentak-bentak aku. Agus untuk kali ini dia mencoba menuruti perintah sang ketua kelas.

“Bukan begitu Gus. Aku minta maaf kalau tadi membuatmu kaget. Karena tadi aku spontan saja. Karena kaget bukan main mendengar suara histeris wanita.”

Ichsan cepat-cepat menarik tangan Agus disaat melihat Sridimitha keluar dari persembunyiannya. Dia keluar dibalik ruang ganti pakaian. Mitha mendatangi secara mengendap-endap. Masih ada perasaan takut dan jengkel. Ingin rasanya dia menampar pipi si Agus keras-keras. Atau dia juag bernafsu ingin menarik rambutnya si Agus geblek itu.

“Awas kamu Gus! Kelewatan ya. Kuadukan kau ke kepala sekolah nanti baru tahu rasa.” Ancam Mitha serius.

“Sorry Mitha. Janganlah kau adukan aku. Jangan karena hanya ular karet aku sampai diskors. Aku Cuma ingin memamerkan ular kobra karet ini saja kok. Aku beli di bawah jembatan Ampera. Terus si Mitha kaget dan kabur. Ulaar karet doang, Mit..” Ucap Agus lirih dan pelan sekali. Mukanya mencoba untuk cengengesan. Agak tersedak.

“Agus bohong San. Jangan percaya dia.”Bantah Sridimitha bergidik.”

“Tenang Mit. Aku percaya Tuhan kok, bukan Agus.” Nada Ichsan TWEJ sedikit bercanda.

“Dia bukan memamerkan ular itu.” Lanjut Mitha lagi. “Aku yakin dia sengaja menakut-nakuti Aku karena tidak jadi memperkenalkan dia dengan Evi. Agus naksir Evi, San”

“Mitha…Evi mana?” Elak Agus.” Siapa yang mau kenalan. Jangan kau bongkar pula soal si Evi tu.”

“Evi? Anak mana?” Tanya Ichsan.

“Evi itu…Anaknya yang berkacamata tebal kayak kamu. Dia jago bahasa Inggris juga.” Jawab Mitha.

“Oh ya?” Ichsan agak terperangah. Dia memang agak takjub dengan cewek yang jago bahasa Inggris. Biar nyambung kalau diajak coversation.

“Kenapa San?” Tanya Agus melotot. Ada nada cemburu dik kata-katamu. “Masalahku saja belum beres. Aku dulu kenalan baru kamu.”

“Oke, habis itu giliran saya ya,”harap Ichsan TWEJ seraya mengiba.

Agus dan Sridimitha memandang aneh ke arah sang ketua kelas, lalu bertanya  serempak : “ADA DENGANMU ICHSAN?!”

Ichsan hanya bisa terpelongo. Sepertinya dia bertindak di bawah alam sadar.

“Huh! Kok ya laki-laki dimana aja sama ya! Nggak bisa lihat barang baru. Cewek licin sedikit. Dasar mata belang.”

“Joking, joking Sri. Kamu menanggapinya serius sekali. Kayaknya Agus bukannya tipenya Evi deh..”ceplos Ichsan.

“Jaga mulutmu, San…” Ancam Agus dengan gigi gemelutuk mirip jambu klutuk mengutuk Ichsan jadi kutuk buku.

Sepulang sekolah gerombolan anak-anak kelas 1.3 berbondong-bondong menyerbu rumahnya Yudi. Apalagi kalau bukan menyicipin penganan imlek buatan Mamanya Rudi. Xong Chi Fat choy!

WASPADALAH! BEGINI CIRI-CIRI TEMPAT MAKAN Ada ‘Jin Peludah’ Sebagai Penglaris, MENYERAMKAN!

Jalantauhid – Bagi Anda yang suka makan di
luar rumah atau punya hobi wisata kuliner, waspada dan telitilah memilih tempat makan karena bisa jadi makanan yang anda makan mengandung zat penglaris. Walaupun tujuan si pemilik tempat makan tersebut agar konsumen menggandrungi makanan yang dijualnya, akan tetapi proses penglaris biasanya melibatkan jin peludah yang tentu saja sangat menjijikkan.

 Waspadalah! Ini Ciri-Ciri Tempat Makan Ada 'Jin Peludah' Sebagai Penglaris, Menakutkan!
Sumber : muslimahcorner.com

Jin Peludah adalah setan yang dipakai sebagai sarana penglaris makanan. Tidak hanya warung-warung pinggir jalan saja yang menggunakan jasa makhluk jahat ini.. sekarang sudah berkembang digunakan di mall-mall yang ada dikota – kota besar.

Disebut jin peludah karena sebelum di sajikan kepada konsumen, makanan ini di ludahi akan menjadi terasa nikmat dan konsumen akan ketagihan untuk datang ke warung makan tersebut. Selain jin peludah ada juga jin penjilat piring yang akan digunakan oleh konsumen. Proses tersebut ternyata mampu menambah rasa makanan yang di sajikan, Bahkan kadang-kadang jika di rasa kurang maka tindakan meludah itu dilakukan sampai dua kali atau tiga kali secara berturut-turut.

Efek dari tindakan jin ini di samping membuat enak masakan yang di sajikan juga membuat energi negatif akan masuk ke tubuh orang yang memakan masakan tersebut, di

sisi lain kadang jika orang yang memakan masakan yang di ludahi itu kebetulan adalah orang baik-baik perilaku dan muatan spiritualnya, maka kadang setelah memakan makanan yang di ludahi, beberapa waktu kemudian dia akan merasa mual dan mungkin juga muntah-muntah.

Banyak orang yang telah mengalami hal tersebut. Salah satunya seperti yang dialami seorang Kyai yang diajak makan di sebuah restoran di Jakarta oleh temannya. Ketika ia duduk di kursi restoran, Pak Kyai mendadak sakit kepala dan buru-buru keluar tidak jadi makan, setelah ditanya, beliau memberikan selendang yang dia pakai kepada teman itu… tiba-tiba teman itu melihat beberapa sosok mahluk telanjang bulat yang mondar mandir meludahi setiap makanan yang dihidangkan kepada pengunjung.

Jin peludah hanya salah satu jenis penglaris, banyak cara lain yang dilakukan pemilik rumah makan agar warungnya laku.

Adapun ciri-ciri tempat/rumah makan, toko kue atau tempat kuliner lainnya yang menggunakan Media Sihir dalam usahanya yaitu :

Kalau warung besar semacam restauran, pasti ada toilet atau ruang dekat dapur yang nggak boleh dimasuki siapapun. Biasanya di dalamnya ada orang tua renta yang sakit kakinya dicelup ke air untuk kuah masakan.

Kalau warung pinggir jalan, perhatikan panci atau periuknya. Biasanya kalau pake penglaris hanya si tukang dagang yang boleh buka, jadi pembeli tidak boleh sembarang ambil kuah atau lihat-lihat isinya.

Biasanya terdapat buntelan kain putih di tempat nasi, gagang centong sayur, atau di peralatan masak lainnya.

Warung pinggir jalan yang menggunakan penglaris, tempat cuci piringnya terpisah jauh dan tidak terlihat kegiatan cuci piringnya.

Kalau dibawa pulang, rasanya berubah drastis berbeda dengan rasa jika dimakan di tempat makan atau makanannya cepat menjadi basi sehingga tidak sempat termakan.

Jika dinetralkan dengan doa rasanya jadi standar.
Itu hanya salah satu trik nakal dari pengusaha warung makan, agar laris. Kita tidak menghakimi semua warung-warung makan, karena tidak semuanya memakai trik jahat seperti ini. Bersekutu dengan bangsa Jin dengan tujuan dan cara apapun tidak dibenarkan dalam ajaran agama, bahkan hal tersebut merupakan perbuatan syirik yang mampu membenamkan pelakunya kelembah Jahannam. Sebagai orang beriman jangan lupa berdoa, karena orang yang dekat dengan Tuhan akan dijauhkan dari segala yang jahat. Berdo’alah dimana saja dan kapan saja ketika akan dan sesudah makan. Jika perlu bacalah ayat kursi. Sebarkan info ini agar saudara dan teman kita tahu. Semoga menjadi amalan sholih.

Sumber: Muslimahcorner.com

IDE KREATIF HIASAN DINDING KAMAR TIDUR

 

Sumber : Ideproperty.com

Hiasan dinding kamar tidur kadang bisa membuat suasanya kamar menjadi lebih rileks dan nyaman. Ruangan untuk tidur adalah tempat dimana seseorang beristirahat untuk beberapa waktu, untuk itu penataan dan pendekorasiannya harus benar-benar diperhatikan.

Berikut ini ideproperti.com berikan beberapa ide kreatif yang bisa dijadikan hiasan dinding untuk kamar tidur Anda.

1. Bingkai foto keluarga bentuk pohon (hierarki)
Dalam sebuah ruangan kamar tidur umumnya terdapat bingkai foto sendiri maupun foto keluarga. Anda bisa menjadikan beberapa bingkai foto tersebut sebagai hiasan dinding. Misalnya dengan membentuk pola pohon atau semacam.
hiasan dinding kamar tidur bingkai foto pohon

2. CD bekas
Anda memiliki banyak CD (Compact Disk) bekas? bisa pula dijadikan hiasan dinding. Konsep dinding kamar tidur Anda akan bernuansa metalik.
hiasan dinding kamar tidur cd bekas

3. Bingkai gantung
Umumnya foto atau lukisan berbingkai ditempelkan pada dinding, namun bagaimana jika digantung saja? Konsep tersebut tentunya unik dan kreatif. Anda bisa menerapkannya sebagai hiasan dinding kamar tidur Anda.
hiasan dinding kamar tidur frame gantung

4. Gitar gantung
Bagi anak laki-laki gitar tentunya merupakan benda yang ‘cowok banget’. Anda bisa pula menjadikannya sebagai hiasan dinding. Anda bisa meletakkan gitar kesayangan Anda di dinding. Atau bisa pula membuat hiasan dinding dari gitar bekas dan kreatifkan sendiri.
hiasan dinding kamar tidur gitar dinding

5. Jam dinding unik
Di dalam kamar tidur pastinya ada jam dinding. Namun jika jam dindingnya itu-itu saja tentu terasa biasa saja. Anda bisa menggunakan ide kreatif jam dinding seperti berikut,
hiasan dinding kamar tidur jam

6. Hiasan dinding kaset game
Anda seorang gamer? Tentu memiliki banyak koleksi CD game. Nah, daripada bertumpuk dan membuat kamar semakin berantakan, coba manfaatkan sebagai hiasan dinding kamar Anda.
hiasan dinding kamar tidur kaset game

7. Topeng
Hiasan dinding berupa topeng bisa pula Anda jadikan hiasan dinding kamar tidur. Ada banyak macam hiasan dinding berupa topeng dan salah satu yang populer adalah oleh-oleh dari Bali.
hiasan dinding kamar tidur mask

8. Kata-kata motivasi
Bagi kebanyakan anak remaja maupun dewasa tentu akan senang jika kamar tidurnya memiliki hiasan dinding berupa kata-kata yang memotivasi. Sebagai stimulan bagi Anda supaya menjalani hari-hari lebih semangat tentu hiasan berupa kata-kata motivasi akan sangat bagus.
hiasan dinding kamar tidur motivasi

9. Nama diri sendiri
Hiasan dinding berupa nama sendiri tentu unik. Anda bisa membuat hiasan dinding kamar Anda sendiri. Kreatifkan sesuai selera.
hiasan dinding kamar tidur nama

10. Poster
Poster adalah stuf yang paling umum dan disukai banyak orang sebagai hiasan dinding. Print lah gambar-gambar kesukaan Anda atu sesuatu yang bisa membuat Anda semangat dan jadikan poster untuk dindind kamar tidur Anda.
hiasan dinding kamar tidur poster

11. Rak
Rak untuk barang-barang sekolah atau kantor bisa dijadikan hiasan dinding.
hiasan dinding kamar tidur rak buku

12. Rak buku
Buatlah rak buku yang unik dan kreatif. Misalnya rak buku gantung.
hiasan dinding kamar tidur rak buku2

13. Binatang gantung
Mainan berupa hewan atau binatang yang bisa digantung tentu menjadi hal yang unik.
hiasan dinding kamar tidur tokek

Nah, Anda tertarik untuk memilih hiasan dinding kamar tidur yang mana? Atau Anda memiliki ide sendiri? Kamar tidur yang digunakan sebagai tempat menghabiskan hari harus memberikan rasa senyaman mungkin bagi penggunanya. Memberikan hiasan dinding sebagai cara yang ampuh untuk menjadikan kamar tidur semakin nyaman. Koneksikan hiasan dinding kamar tidur Anda dengan hobi atau kesukaan Anda. Anda suka musik maka kaitkan dengan musik, Anda senang main game maka kaitkan dengan video game, dan lain sebagainya.

IDE IDE KREATIF PENUH INOVASI DARI BOTOL BEKAS DAN BAHAN LAIN

 

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sumber : Ideproperty.com

 

Ide kreatif dari botol bekas sebenarnya sangat banyak. Banyak sesuatu yang bisa tercipta dari botol plastik bekas. Mulai dari hal-hal yang sepele dan bahkan sampai hal yang sangat bermanfaat. Kita bisa memanfaatkan botol plastik bekas hasil sampah rumah tangga sebagai sesuatu yang lebih bermanfaat.

Botol plastik mungkin adalah benda anorganik yang sulit terurai jika sudah menjadi sampah. Oleh karena itu pemanfaatan kembali atau recycle adalah hal yang sangat bijak untuk dilakukan. Jika Anda memiliki beberapa botol plastik bekas di rumah, maka jangan dibuang begitu saja. Anda bisa memanfaatkan botol tersebut menjadi lebih berguna. Jika Anda memiliki anak kecil, Anda bisa membuat mainan dari botol plastik bekas tersebut. Atau bisa juga membuat beberapa benda simple yang bisa membantu pekerjaan rumah tangga, seperti sapu, gantungan baju, rak, dll. Nah, unik bukan?

Dalam artikel ini akan kami bahas tentang ide unik dan inovatif membuat barang-barang bermanfaat yang dibuat dari limbah botol plastik. Produk unik dari botol yang bisa dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan rumah.

Berikut ini ideproperti.com berikan 45 ide kreatif dari botol plastik bekas untuk rumah Anda. Ide-ide ini didapatkan dari internet dan bisa Anda ikuti dan pelajar:

1. Sendok, garpu, pisau dari botol plastik
Anda bisa menggunting botol plastik yang agak tebal dengan pola sendok dan garpu. Tentunya botol plastik yang digunakan memiliki pola seperti pola sendok, garpu dan pisau. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar di bawah ini.
sendok garpu pisau dari botol plastik - IDEPROPERTI.COM

 

2. Mainan untuk Anjing piaraan
Ambil botol plastik yang berukuran kecil, lalu gulung dengan kain dan tali di setiap ujungnya.
mainan untuk anjing dibuat dari botol plastik - IDEPROPERTI.COM

 

3. Hiasan dingin kepala rusa dari botol
Di benua Amerika biasanya menggunakan kepala rusa sebagai hiasan dinding. Anda bisa menirunya namun menggunakan botol plastik bekas. Caranya mudah saja, Anda bisa menggunakan botol yang memiliki pola seperti kepala rusa lalu kreasikan tanduknya dengan tutup botol.
hiasan dinding kepala rusa dari botol bekas - IDEPROPERTI.COM

 

4. Furniture yang dilapisi dengan tutup botol
Anda bisa membuat kerangkanya dahulu dengan besi, kemudian lapisi dengan tutup botol yang warna-warni.
furniture dibuat dari lapisan tutup botol - IDEPROPERTI.COM

 

5. Mainan Anjing dari botol plastik
Anda memiliki piaraan anjing? Anda bisa membuat mainannya dari botol plastik seperti gambar di bawah
toy mainan untuk anjing dari botol plastik - IDEPROPERTI.COM

 

6. Boneka pinguin dari botol plastik
Botol plastik bekas bisa pula dimanfaatkan dan dibuat menjadi bonek pinguin. Potong dua botol plastik, lalu gabungkan antara ujung bawah dengan ujung bawah. Lalu lukis membentuk gambar pinguin.
boneka pingui dari botol plastik - IDEPROPERTI.COM

 

7. Botol bumbu dapur seperti daun bawang, rempah-rempah dll
Tidak perlu lagi membeli tempat bumbu dapur karena dengan botol plastik yang ukurannya kecil juga bisa.
botol bumbu dapur dari botol plastik bekas - IDEPROPERTI.COM

 

8. Tempat pernak-pernik unik
Tempat pernak-pernik perhiasan Anda bisa Anda buat sendiri dari botol plastik.
tempat pernak-pernik dari botol plastik bekas - IDEPROPERTI.COM

 

9. Juicer atau pemeras jeruk dari botol plastik
Memeras jeruk juga bisa Anda lakukan dengan memanfaatkan botol plastik. Tentu botolnya harus memiliki cekungan di bagian bawah seperti pada gambar ini.
re juicer pemeras jeruk dari botol plastik bekas - IDEPROPERTI.COM

 

10. Pot bunga dinding horizontal
Dinding halaman rumah bisa Anda berikan sentuhan go green dengan pot bunga yang dibuat dari botol plastik bekas. Metode ini adalah seperti metode tanaman hidroponik. Anda tinggal melubangi bagian tengah botol plastik, kemudian berikan media tanam berupa tanah, lalu berikan bibit tanamannya. Tentu harus rutin penyiraman airnya. Hasilnya bisa Anda lihat seperti gambar di bawah ini.
pot bunga dinding horizontal dari botol plastik - IDEPROPERTI.COM

 

11. Inovasi genteng dari botol plastik
Anda memiliki banyak sekali botol plsatik ukuran besar yang tidak terpakai? Anda bisa membuatnya menjadi genteng plastik. caranya sangat mudah
inovasi genteng dari botol plastik bekas - IDEPROPERTI.COM

 

12. Bottle watering
Menyiram tanaman bisa juga dengan botol plastik bekas lho.. pilihlah botol yang memiliki pegangan tangannya. Lalu lubangi kecil-kecil pada penutupnya.
bottle watering penyiram tamanam dengan botol - IDEPROPERTI.COM

 

13. Lampu botol plastik untuk atap rumah
Ide inovatif ini sangat unik karena menggunakan botol plastik bekas sebagai pencahayaan. Anda bisa menempelkan botol plastik yang berisi air penuh di atap atau di genteng rumah Anda. Jika siang dan sore maka akan seperti bercahaya karena memantulkan sinar matahari.
lampu GENTENG dari botol plastik - IDEPROPERTI.COM

 

14. Kotak bingkisan unik dari botol plastik
Membuat suvenir atau kotak bingkisan hadiah bisa pula menggunakan botol palstik bekas.
kotak bungkus permen dan kado dari botol plastik - IDEPROPERTI.COM

 

15. Tempat kantong hp
Agar saat menge-cash hp lebih rapi Anda bisa membuat kantung hp dari botol plastik lalu tempelkan pada dinding.
tempat kantong hp saat ngecash dari botol - IDEPROPERTI.COM

 

16. Celengan babi dari botol plastik
Potong botol dan sambungkan kembali supaya botol menjadi lebih kecil. Berikan tempelan untukmata dan kuping, lalu lubangi di punggungnya.
Celengan Babi dari botol plastik bekas - IDEPROPERTI.COM

 

17. Jebakan tikus
Jebakan tikus pun bisa Anda buat dari botol plastik.
jebakan tikus dari botol plastik bekas - IDEPROPERTI.COM

 

18. Tirai
Tidari dari botol plastik cukup unik juga. Potong bagian bawah botol tipis, lalu rangkai membentuk tirai.
tirai-dari-botol-plastik-bekas - IDEPROPERTI.COM

 

19. Rumah dari botol plastik
Rumah kecil sebagai rumah untuk santai atau gudang bisa Anda bangun menggunakan bahan-bahan botol palstik. Contohnya seperti gambar ini.
rumah dari botol plastik - IDEPROPERTI.COM

 

20. Sandal dari daur ulang botol plastik
Di Jepang ada produk inovatif yakni sandal atau alas kaki yang dibuat dari botol plastik.
slipper from bottle sendal dari botol plastik - IDEPROPERTI.COM

 

21. Jam dinding dari tutup botol
jam dinding dari tutup botol - IDEPROPERTI.COM

 

22. Garden watering atau penyiram tanaman
Lubangi botol kecil-kecil lalu smabungkan dengan selang air.
garden watering dari botol plastik - IDEPROPERTI.COM

 

23. Sapu
Botol plastik bekas juga bisa dimanfaatkan menjadi sapu
sapu dari botol plastik - IDEPROPERTI.COM

 

24. Kuas untuk melukis
Pola tonjolan pada bagian bawah botol bisa Anda gunakan sebagai media kuas untuk melukis
kreatif tuas untuk cat lukis dari botol plastik - IDEPROPERTI.COM

 

25. Dompet botol plastik
Anda bisa membuat dompet dari botol plastik, petunjukkan seperti gambar di bawah ini
dompet botol plastik - IDEPROPERTI.COM

 

26. Pot tanaman hidroponik
Membuat pot tanaman hidroponik dari botol plastik bekas juga suatu yang inovatif. Anda bisa menggunakan beberapa botol bekas untuk dibuat pot lalu taruh di halaman depan rumah, seru bukan?
pot tanaman hidroponik dari botol plastik - IDEPROPERTI.COM

 

27. Hanger baju
hanger baju dari botol plastik - IDEPROPERTI.COM

 

28. Candle Bottle
Sulap botol plastik menjadi tempat lilin yang bagus.
candle bottle - tempat lilin dari botol plastik bekas - IDEPROPERTI.COM

 

29. Lilin tutup botol
lilin dari tutup botol - IDEPROPERTI.COM

 

30. Tanaman dinding vertikal
Hiasi dinding halaman rumah Anda dengan ide unik seperti tanaman dinding dengan botol plastik
tanaman_vertikal_botol_bekas_ - IDEPROPERTI.COM

 

31. Lampu gantung
Botol plastik juga bisa dijadikan lampu gantung
payung lampu dari botol plastik bekas - IDEPROPERTI.COM

 

32. Penutup kantong plastik
Ide kreatif tutup botol plastik bisa Anda terapkan seperti berikut.
ide kreatif tutup botol plastik untuk menutup plastik- IDEPROPERTI.COM

 

33. Wadah permen lucu
Anda bisa membuat wadah permen yang lucu.
tampat permen unik dari botol plastik bekas- IDEPROPERTI.COM

 

34. Tempat pensil
Gunakan botol yang bagus lalu bentuk pola menjadi tempat pensil
tempat pensil dari botol plastik- IDEPROPERTI.COM

 

35. Gantungan baju
gantungan pakaian dari botol plastik- IDEPROPERTI.COM

 

36. Hiasan kaktus unik
Botol plastik bekas bisa Anda kreasikan menjadi hiasan berupa tanaman kaktus
hiasan unik kaktus dari botol plastik bekas - IDEPROPERTI.COM

 

37. Tempat bumbu dapur
wadah bumbu dapur unik dari botol plastik bekas- IDEPROPERTI.COM

 

38. Rak koran dan majalah
rak koran dan majalah unik dari botol plastik bekas - IDEPROPERTI.COM

 

39. Buah apel sebagai hiasan
Hiasan buah apel bisa diletakkan di ruang tamu
hiasan buah apel dario botol plastik - IDEPROPERTI.COM

 

40. Wadah pernak-pernik: paku, gelang, karet, dll
wadah pernak-pernik dari botol plastik bekas - IDEPROPERTI.COM

 

41. Tanaman hias
Buat pot yang lucu dan beri media tanah atau hidroponik. Anda bisa meletakkannya sebagai hiasan
tanaman hias dari botol plastik bekas - IDEPROPERTI.COM

 

42. tempat pakaian kotor atau tempat mainan anak
Botol plastik bisa pula disulap menjadi tempat pakaian kotor atau tempat mainan anak
membuat tempat pakaian kotor dari botol plastik - IDEPROPERTI.COM

 

43. Tempat makan kucing
Anda memiliki kucing piaraan? Anda bisa memanfaatkan botol plastik bekas sebagai tempat makan kucing Anda
tempat makan kucing dari botol plastik - IDEPROPERTI.COM

 

44. Kursi dari botol plastik
Anda bisa membuat kursi mini dari botol plastik. Namun tentu kursi tersebut tidak bisa menopang berat beban orang dewasa ya.
kursi dari botol plastik

 

45. Mainan anak
Botol beekas bisa pula dijadikan berbagai jenis mainan untuk bayi dan anak kecil. Mulai dari robot, mobil-mobilan, roket, pistol, dan lain sebagainya. Baca: 32 Ide Daur Ulang Botol Plastik Jadi Mainan Anak
mainan anak mobil-mobilan dari botol plastik - IDEPROPERTI.COM

Nah, itu dia 45 ide kreatif dari botol plastik bekas. Anda bisa menciptakan kreasi Anda sendiri. Penggunaan bahan anorganik dan mendaur ulang atau memanfaatkan kembali adalah perlakuan yang bijak. Anda bisa menciptakan ruang kerja atau lingkungan hidup Anda dengan konsep go green.

Related Post to 45 Ide Kreatif dari Botol Plastik Bekas

32 Ide Daur Ulang Botol Plastik Jadi Mainan Anak

Posted at 28/12/2015

Daur ulang botol plastik jadi mainan anak mungkin masih jarang dilakukan oleh sebagian orang. Namun tahukah Anda bahwa dengan botol plastik bekas atau botol… Read More

membuat-hiasan-dari-batu-bentuk-binatang

Ide Hiasan Rumah dari Batu yang Dicat

Posted at 17/10/2014

Hiasan rumah merupakan faktor penting membuat tampilan rumah semakin ramai dan hidup. Banyak sekali ide-ide kreatif membuat hiasan rumah sendiri. Salah satunya ialah dengan… Read More

SERIAL ‘MASA SMA MASA BODO?’ MENGINTIP SI KRIBO PACARAN, APA ENAKNYA? KETIKA NGAPEL YANG DISHARE SECARA LIVE AKIBATNYA…

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Oleh : Deddy Azwar

“Mana sih rumahnya? Nggak seperti dikomplek ya. Tiap rumah bangunannya beda-beda. Bingung aku dibuatnya,”keluh Iwan Mukejenuh dongkol bukan kepalang.”

“Jangan bingung-bingung dong Wan…Yang namanya tinggal di perkampungan ya begin ini, Wan.”Tekya menanggapi dengan serius perkataannya temannya. “Berbeda alamnya antara perumahan di perkampungan dengan perumahan  di kompleks. Semua bangunan pasti mirip-mirip satu sama yang lain. Sebetulnya mencari alamat rumah di dalam komplek perumahan lebih rumit dan sulit lagi. Karena semuanya hampir setipe baik itu bentuk bidang dan bangunannya. Kadang-kadang warna cat rumahnyapun sama. Ukuran Sintetisnya juga…”

“Simetris kali…”potong Agus yang sedari tadi tekun menyimak mencoba meralat kalimat yang dilontarkan Tekya.

“Oh ya simetris. Aku baru tadi mau ngomongin itu.” Kilah Tekya senyum-senyum.

“Bayangkan hampir setengah jam kita mengitari kampung ini. Sudah banyak orang yang sudah kita tanyain dan interograsi. Rata-rata mereka menggeleng tidak tahu menahu. Huh! Kakiku sudah pada pegal-pegal. Seakan mau rontok tulang-tulangku. Jangan-jangan kamu salah menulis jalannya, tidak?”

“Pada dasarnya si Faisol kurang ngetop di kampungnya. Akibat malas berbaur dan berbaur. Begini jadinya. Padahal sangatlah penting untuk menjalin komunikasi dan silaturahmi antar tetangga. Nilai minusnya lebih banyak kalau kita tidak akrab dengan tetangga. Jika terjadi sesuatu atau musiabh yang tidak kita ketahui datang. Maka…orang yang pertama yang mengetahui dan menolong kita adalah’ jiron tetanggo’ itu. Terakhir yang kita tanyai si mbak tukang penjual jamu juga tidak tahu. Sudah kita sebutkan tadi bahwa ciri-cirinya badan tinggi kurus cendrung ceking, hidung bangir, bibir dower dan tebal dan rambut kribo mirip Ahmad Albar juga pada tidak tahu.”

“Sepertinya si Faisol tidak doyan jamu. Dia doyan sama Mbak penjual jamunya. Hihihi…”Ledek Agus.

“Tidak mungkin. Si Faisol sendiri yang menggambar denah lokasi rumahnya Wan. Menggunakan jari-jemarinya sendiri lho. ” Tekya berusaha meyakinkan Iwan yang sudah mulai rapuh dan goyah engsel-engselnya.”

“Mana coba kulihat.” Agus mengamati secarai kertas yang ada di genggaman Tekya. Kondisinya sedikit lecek dan basah. Dia mengamati di setiap sisi kertas, lalu mengibas-ngibas sebelum dibentangkan. Lagaknya seperti detektif partikelir yang ulung. “Kok semakin membingungkan. Ini gambar donal bebek ya.”

“Ah kacau kamu. Cara melihatnya terbalik sih. Guoblokk!”ujar Iwan terkekeh kekeh.

“Sudahlahn mana mungkin si Faisol ngerjain kita. Menurut peta yang tergambar ini kayaknya arahnya yang kita tuju sudah benar dan cocok kok. Di samping warung dekat mesjid sudah kita temukan. Lalu tiang listrik agak bengkok, Lalu…dimana rumahnya ya? Harusnya sekitar ini. Ini RT 5, nomor 17 an. Ya betul mestinya nggak jauh-jauh amat dari sini, dimana kita berdiri. Katanya pagar rumahnya zebra cross. Belang belang.”Tekya nyaris berputus asa. Sampai detik ini kebingungan itu semakin bertambah. Kembali dipandanginya lekat-lekat peta karya Faisol Kribo yang semakin tambah lecek sulecek.

“Oh ya, berapa tadi nomor rumahnya, Gus?” Iwan mulai gusar. Nomornya 25, RT 5. Dasar si Faisol orangnya kuper sih, jadi tidak ada yang kenal. Sableng!”

“Dikerjain nih kita.”tukas Iwan seraya mengeluarkan sehelai saputangannya dan segera mengelap butiran-butiran keringatnya yang keluar segede gede megaloman.

Tekya, Iwan dan Agus merasa yakin telah masuk ke dalam perangkap permainan Faisol. Mungkin saja denah yang digambarnya itu secara asal-asalan tanpa ada maknanya untuk sengaja mengelabui teman-temanya. Masak sih Faisol setega itu. Apa dia tidak takut rambutnya yang kribo subur itu bakalan dipangkas habis hingga plontos? Apa Faisol tidak takut bakalan kehilangan kegantengan dan keperkasaannya hilang seketika? Ibarat Samson yang sebelumnya tangguh dan kuat menjadi lemas dan loyo setelah rambutnya yang gondrong dicukur habis!

Setelah setengah jam mereka hilir mudik mondar mandiri bolak balik  seperti petugas karyawan pertanahan yang sedang mengukur jalan raya. Sudah bertanya kesana kemari. Menapaki aspal yang basah. Namun.. rumahnya si Kribo tetap tak diketemukan juga.

Belum lagi cuaca saat itu kurang mensupport. Hujan deras disertai petir menggelegar baru saja usai. Kini tinggak tersisa rintik hujan gerimis yang awet. Semua jalanan menjadi basah dan banyak diketemukan air tergenang dimana-mana. Tapi asiknya udara menjadi sejuk.  Tak terkecuali keadaan mereka juga setengah basah. Mereka kelupaan membawa payung. Belum lagi rambut-rambut mereka pada lepek semua. Kalau saja mereka menakai bedak pastilah sudah luntur dari tadi. Untungnya setelah mereka turun dari angkot hujanpun sudi mengalah. Akan tetapi cuaca tak menghalangi tekat mereka untuk menemukan rumah Faisol walaupun sampai ke ujung dunia sekalipun.

Kira-kira apa sih yang mereka kejar sehingga sebegitu nekatnya menembus dinginnya malam minggu.

Tekya masih ingat ocehan-ocehan Faisol dua hari yang lau ketika mereka sedang menyantap martabak India Haji Abdul Rojak (HAR) di bilangan jalan Jendral Sudirman, kuliner yang terkenal seantero Palembang. Setelah capek seharian jalan jalan sekaligus berbelanja di mall. Perkataan dari mulut Faisol menghasilkan sebuah cerita yang membius teman-temannya. Tidak lupa sedikit ditambahin bumbu secukupnya. Layaknya gosip makin digosok dan digesek sedikit makin sip dan asek. Sedikit banyaknya sanggup mempengaruhi pikiran. Alhasil termakan rayuan asemnya.

“Dengar nih teman-teman..” Faisol memulai ceritanya dengan semangat kemerdekaan, “ Awak punya kabar gumbira ria. Lihatlah muka Awak, betapa senang hati ini.”

“Sudah kulihat mukamu, kok kayak biawak…”lontar Tekya tanpa bersalah.

“Hebat hebat. Tekya kalau ngomong suka bener ya.” Timpal Agus sambil menyantap martabaknya yang masih hangat menyengat.

Faisol mendelik sewot. “Awas kalau masih meledek juga Awak batalin traktirannya.”

“Sungguh nih Sol, kamu mau mentraktir kita-kita?” Tanya Iwan dengan sinat mata berbinar binar. Seakan tak percaya.

“Tadinya niatnya sih iya. Sekarang tidak jadi.” Jawab Faisol ketus meletus.

“Huh! Dasar tukang ngibul!” Semprot Iwan.

“Biarin..Habis kalian telah menyakiti hatiku. Hehehe..”

“Sudah lanjut banyolanmu tadi Sol.” Tukas Tekya menetralisir keadaan.

“Tunggu. Ini kisah nyata tahu?! Bukan banyolan.” Protes Faisol ngamuk. “jadi begini ceritanya..Awak punya tetangga baru. Mereka sekeluarga pindahan dari Jakarta. Kudengar mereka merasa tidak nyaman tinggal disana. Mereka bilang waktu kita kebanyak habis di jalan karena macet. Makanya mereka pingah kemari. Menurut mereka kota Palembang masih belum secrowded seperti di Jakarta…”

“Sebentar…ini mau cerita tentang Jakarta atau tentang cewek itu sih..”potong Agus dengan muka merengut.

“Sebentar dong mukadimah dulu dong baru ke pokok persoalan.” Bela Faisol sambi cengengesan seperti biasanya.

“To The Point aja. Aku sudah tidak sabaran..”kata Agus sumringah.

“Oke oke. Nafsu banget kalian ini. Jadi tetangga baruku ini mempunyai anak perempuan yang oke punya coy. Orang Jakarta bilang kece banget dah..Hehehe. Matanya mek bulat dan sangat membius, hidungnya mancung, rambut hitam lebat bak mayang terurai, alisnya bak iringan semut,bibirnya sudah merah, ranum merekah. Bodinya kayak gitar spanyol, pahanya putih mulus. Amboy begitu sempurna. Sangat sulit diungkapkan dengan kata-kata. Percaya nggak? Sampai detik ini Awak masih terbayang padanya dan menempel abadi di jidatku yang bidang.”

“Dimana-mana yang bidang itu dada, brur. Kalau jidat itu pasangannya plontosn tahu!” Omel Agus kepalang kesal.

“Sorry juga brur. Sama teman ini perhitungan banget. Salah sedikit juga nggak apa-apa dong. Awak yakin mampu menggaetnya. Kalau nenek dan pembantunya sudah merestui. Tinggal ortunya nih yang belum…”

“Kamu kege-eran kali Sol. “ucap Iwan ketus, “tanya dulu ceweknya suka nggak? Jangan-jangan kamu bertepuk sebelah tangan. Aku rasa kalau memang benar apa yang kamu sebutkan tadi bahwa ceweknya cakep banget dia pasti mikir dulu untuk berpacaran sama tukang sol sepatu kayak kamu. Hahaha…”

“Iya, kamu stil sok yakin banget deh Sol.” Agus ikut mensupport Iwan.   ng

“Busyet! Kalian meledek awak nian. Jangan begitulah. Begini-begini awak punya kharisma di hadapan cewek. Tapi sejauh ini kalau awak suka berpoas-pasan sama dia eh dianya yang duluan suka menyapa dan tersenyum duluan kok.”

“Siapa tahu kamu dikira satpam di situ.” Ledek Tekya ikut-ikut memojokkan Faisol.

“Asem! Memang Awak setua itu.” Bela Faisol.

“Kalau memang begitu kenyataannya kenalin sama kita dong Sol. Jangan cuam koar koar saja. Kami bertiga mau melihat buktinya.” Ujar Iwan tak sabaran sambil menelan air liur.

“Betul. Kami perlu bukti bukan janji,”tambah Agus.

“Hhmmm, bagaimana ya? Sebentar awak pikir-pikir dulu dulu.” Ucap Faisol agak ragu-ragu.Kepalanya yang berbalut rambut kribo nan lebat itu digaruk-garuk. Lalu tanganya telunjuk tampak menyentuh keningnya. Lagaknya seperti orang sedang berpikir keras. Kepalanya menengadah ke langit-langit restoran. Bola matanya berpindah ke kiri dan kanan dengan cepat.

“Bagaimana keputusan Sol? Sudahlah jangan kelamaan mikirnya. Sebagai kawan kita ingin menilai saja kira-kira itu cewek cocok nggak dengan kamu. Chasing sih boleh cakep. Namun di dalam hatinya kita tidak bisa menebak kan?” kata Tekya sok memberikan nasehat. “Kami akan ikut sedih jika kamu hanya jadi planet-planetan si cewek, Eh ngomong-ngomong siapa namanya Sol?”

“Eng..nganu sebetulnya masih rahasia..”ucap Faisol pelan dan sedikut ragu-ragu seraya menggaruk kembali kepalanya yang rimbun. Dalam urusan perempuan begini kelihatan Faisol ini banyak aksi mikirnya. Faisol beranggapan belum selayaknya teman-temannya mengenal lebih jauh kisah pendekatannya. Karena dia belum berani ‘menembak’ si cewek. Dia lebih afdol jika sudah benar-benar merasa memiliki sepenuhnya. “Nanti deh Awask beritahu. Sekarang top secret. Off the record dulu deh ya. Bagaimana kalau minggu depan kalian baru main ke rumahku. Siapa tahu Awak sudah jadian dengan dia dan pas malam minggu sudah ngapel ke rumahnya.”

“Oalah baby…tapi kami bertiga belum tahu dimana rumahmu.”Kata Tekya lagi.

“Oke oke.” ucap Faisol. Kemudian dia memanggil pelayan restoran untuk minta diambilkan semacam post it. “Ini Awak buatkan denah lokasinya ya. Di perkampungan Mertua Mantu Indah. Banyak konglomerat yang tinggal ditempatku. Tahu sendiri kan. Kamu bisa membayangkan bagaimana rumah-rumah di sana.”

Faisol barusaja menyelesaikan menggambar denah lokasi rumahnya pada secarik post it berwarna kuning. Dia menyerahkannya kepada Iwan. Buru-buru Tekya dan Agus mengerubungi Iwan. Kening mereka berkerinyit setelah melihat denah itu. Tampak jelas muka-muka mereka kebingungan sekali.

“Lucu ya. Lebih mirip kandang burung,Sol. Gambar rumahnya kecil-kecil serta jalan-jalan penghubungnya sempit-sempit. Denah lokasinya kayak benang kusut. Katanya disitu banyak tinggal konglemerat. “

“Enak saja. Kenapa? Gambarnya bikin bingung apa?” Tanya Faisol santai.”Memang sengaja dijelekin gambarnya. Karena ini lokasi rumah orang-orang penting. Kalau dibikin real nggak cukup kertasnya coyy.

Jadi agak disamarkan. Bisa bahaya.”

“Belagu kamu. Ngomong-ngomong disana tempat para konglomerat bermukim?”cerca Iwan, kali ini agak bringas.

“Siapa bilang? Maksud Awak perkampungan para supirnya konglomerat. Hua hua hua.”

“Huh, apa kubilang. Tidak ada tampang Faisol tinggal di sana.” Ujar Agus. “Yang ada kolong melarat.”

Semua tertawa lepas.

Sebelum bubaran Faisol mengingatkan kembali kepada teman-temannya. “Jangan lupa malam minggu depan ya. Awak tunggu di rumah. Jangan sampai nyasar.”

“Beres. Oke. Kamu siapin saja kue yang banyak.” Usul Iwan sambil tersenyum nakal.

Semenjak ada cewek cakep yang menjadi tetangga barunya itu, prilaku Faisol menjadi berubah 180 derajat celcius. Semakin ke sini semakin suka dandan dan berpenampilan parlente. Necis abis. Dulu rambut kribonya boro-boro tersentuh foam atau minya rambut. Diolesi dengan minyak kelapa saja sudah syukur. Seakarang lebih sering diminyaki. Dia mengoleksi minyak rambut macam Brisk, styling foam dan Gatsby. Dulu parfumnya sering minjam spray milik Ibunya yang beraroma bunga melati dan bunga kamboja. Eeh malah dijauhi oleh teman-temannya. Sekarang Faisol mengoleksi Playboy, Bulgari dan Eclat dari Oriflame. Ya ya sekali lagi gara-gara tetangganya yang perawan nan rupawan dapat merubah Faisol dengat cepat.

Faisol jadi semakin menitikberatkan penampilannya. Performance. Teman-teman sekolahnya dapat menangkap sinyal perubahan tersebut. Mereka mengira Faisol memasuki masa puber lebih awal. Berarti Faisol akan menjadi dewasa dan tua belum pada waktunya? Mungkin. Intinya semua menangkap keganjilan itu. Yeah, semua teman yang akrab dengan Faisol secara jujur mengakui. Terlebih-lebih bagi teman sepenongkrongan setiap pulang sekolah, seperti tekya, Ferry, Iwan, Yudi, Yudo, Agus, Sony, Fikry dan Pito. Lokasinya kongkow mereka pun tak jauh-jauh. Sekitar pelataran sekolah dan di halte depan sekolah. Mereka lebih memilih mejeng dan ngeceng dulu di pinggir jalan baru pulang setelah merasankan perut keroncongan. Faisol kini jarang hadir di tengah mereka. Mereka merasakan kehilangan sesuatu yang…tidak begitu penting. Seseorang yang selalu menjadi andalan sebagai…bahan ledekan. Apalagi di zaman edan ini. Lho lantas apa hubungannya? Nah?!

Faisol yang berpostur tinggi ini lebih mirip pelawak daripada murid sekolahan. Tingkahnya dan gaya bicaranya yang mengarah kemelayu-layuan kerap menjadi tempat pelampiasan nafsu teman-temannya dalam melontarkan bahan-bahan ledekan. Gaya bicaranya yang suka meledak-ledak tidak karuan. Seperti satpam sedang marah. Padahal nagamuk. Meskipun begitu Faisol jarang merasa tersinggung jika ledekannya tidak kelewat sadis agtau melampaui batas. Fasiol enjoy enjoy saja. Dia merasa seakan mendapatkan berkah dan pahala apabila telah membuat teman-temanya tertawa dan senang.  Mulia juga kamu Faisol.

Siapa menyangka ternyata Faisol pernah bercita-cita menjadi komedian atau pelawak, akan tetapi setelah mengetahui semua teman-teman mensupport e-eh dia malah curiga. Apakah mereka benar-bbenar ihklas mendorong untuk kemajuan karir Faisol atau hanya ingin sekedar untuk menjebloskannya ke comberan? Basah basah basah seluruh tubuh, ah ah ah mandiri madu. Itulah sepenggal lirik dari Ibu Elvi Sukaesih.

Suasana di rumah Faisol pada suatu senja.

“Paakkk! Buappaaakk! Paaakk!” teriak ibunya Faisol seperti kebakaran konde, dari arah ruang tengah. “ Ini coba kemari sebentar. Lihat si Faisol, sudah mulai  genit dan ganjen. Minta duit untuk beli minyak wangi, beli baju, beli celana, beli celana dalam beli ini beli itu. Gayanya sudah mulai mengarah gaya konsumtif. Lama-lama kita bisa bangkrut nih. “ Teriakannya membahana seantero rumah. Bapaknya langsung datang dengan tergopoh-gopoh.

“Ada apa sih Bu?” Tanya sang Bapak sembari membetulkan gulungan kain sarungnya. Seperti barusan habis nongrong di kamar mandi. Kaos oblongnya kelihatan kena kecipratan air. “Kupingku belum tuli Bu. Tidak usah pakai teriak-teriak segala. Tak bsiakah kamu memanggil namaku semesra dahulu lagi sih. Berisik kan?”

“Sudah tidak zaman lagi untuk mesra-mesraan. Sekarang ada duit baru mesra.”

“Dasar matre.”

“Biarin. Ngomong-ngomong bapak sudah cebok belum dari kamar mandi.”

“Sudah. Ada apa tadi? Ibu belum menjawab pertanyaanku.”

“Ini, coba urus anakmu yang sudah mulai bujang ini. Dasar bujang lapuk.”

“Lho, Ibu mau kemana? Kok malah kabur…”

“Saya mau menonton acara kesukaanku ‘Americas Funnies Video dulu ya. Keburu habis ntar. Lumayan buat menghilangkan stress. Kepalaku serasa mau pecah. Bisa-bisa anggaran belanjaku bisa jeblok.” Ibunya Fisol ngeluyur ke ruang televisi untuk menyaksikan acara kesayangannya, meninggalkan bapak dan Faisol Kribo yang terbengong-bengong dan berdiri mematung.

“Keanapa Sol? Kamu mecahin pring lagi?”

“Tidak.”

“Kamu menguras parfum Ibumu lagi?”

“Tidak.”

“Oh kamu nyolong bedak Ibumu lagi?”

“Juga tidak Pak. Pokoknya semuanya bukan.”

“Lantas apa?”

“Tadi Saya minta duit buat kencan tidak dikasih Pak. Dasar Ibu pelit.”

“Masak hanya buat membeli kacang nggak dikasih. Berapa sih harganya sebungkus kacang. Ya sudah pakai saja uang kamu dulu. Paling seperak dua perak. Nanti Bapak ganti.”

“Hah! Kacang? Bapak salah.  Saya minta uang untuk beli parfum ke Ibu buat kencan bukan kacang.”

“KENCAN?” Mata Bapaknya terbelalak.” Lalu itu makanan apa Sol?”

“Aduh Bapakku sayang. Sepertinya musti beli katebat yang banyak deh. Kencan itu istilah anak remaja sekarang. Kencan itu sama dengan nge-date alias mengunjungi pacar dalam rangka menjalin keakraban begitu. Bukan kacang. Memangnya saya monyet dikasih makan kacang. Ganteng-ganteng begini kan Awak anak Bapak juga toh.”

“Iya iya. Bapak tidak budeg hanya tidak dengar saja.”

“Samimawon Pak.”

“Iya miwon penyedap rasa ya.”

“Gawat! Celaka dua puluh nih. Pantas tadi ibu tadi memanggil Bapak sampai teriak-teriak segala.”Faisol berbisik lirih sembari menempelkan mulutnya ke ujung kuping Bapaknya.

“Apaan? Tidak kedengaran. Kamu bisik-bisik atau sedang ngomong sih.”

Akhirnya Faisol mengulangi kalimatnya. Kali ini berteriak kencang dengan sekuat tenaga. Tentu saja membuat Bapaknya kaget kelimpungan.

“Oke oke. Oh minta duit buat beli minyak wangi untuk keperluan kencan. Bapak paham sekarang. Kan dulu pernah muda juga. Lain kali tidak usah pakai teriak-teriak segala. Kamu sama saja dengan ibumu. Sama-sama menuduh Bapak budeg. Kamu butuh berapa duit?”

“Goban deh.”

“Berapa tuh?”

“Lima  puluh ribu.”

“Buat tadi duitnya?”

“Awak mau mengajak jalan-jalan sama nonton bioskop kawan cewek tetangga kita itu Pak.”

“Besak nian jumlah segitu, Sol. Kamu kira Bapak toke beras. Nih dua puluh lima ribu saja ya. Cukup tidak cukup harus terima. Labih bagus lagi kalau ada kembaliannya.”

“Paceklik nih yeee.”

Bapak lalu mengeluarkan uang selembar nominal dua puluh ribuan dan satu lembar lima ribuan dari dalam lipatan sarung yang ia kenakan. Kemudian diberikan kepada anak bujangnya itu. Faisol dengan secepat kilat menyambar uang dari tangan bapaknya.

“Oalah, Bapak menyimpan uang ini di celana dalam ya?”

“Enak saja. Di bawah udel kok. Oh ya ya siapa nama kawan cewek kamu Sol? Tadi kamu tetangga baru kita. S-siapa ya?”

“Namanya Robi.”

“Robi? Apa pacaran dengan sesama jenis ya? Apakah kamu ini home alone eh homo erectus? Kamu malu-maluin Saya ya.”

“Bapak jangan menuduh sembarangan dong. Begini-begini Faisol masih normal dan punya nafsu. Nama lengkapnya Yati Robiatul Sanawiyah. Nah panggilan sayangnya Robi.”

“Ada yang aneh dengan kawanmu itu Sol. Kenapa tidak memakai nama Yati saja. Kan lebih mengandung kadar kewanitaannya. Daripada si Robi.”

“Kimia kali Pak pakai kadar segala. Kan lebih nyentrik Pak. Hehehe. Menurutku kalau dia menyandang nama Yati agak gimana gitu Pak. Kedengarannya kurang sreg. Mirip-mirip istilah untuk orang yang tidak lagi mempunyai bapak atau ibu lagi.”

“Itu yatim, Faisol!.” Bapak membetulkan definisi arti kata ‘yatim’.

Faisol langsung ngibrit sambil tersenyum mirip nenek sihir. Dia sudah menduga bahwa bapaknya susah diajak bercanda plesetan. Faisol lari keluar rumah melewati pintu belakang menuju ke pagar di depan rumah. Namun ketika hendak menuju pagar, dia berhenti. Lalu menoleh lagi ke belakang seraya berteriak kencang sekali. “ HALOOO BAPAKKK!! INGAT YA KALAU ADA MENCARI AWAK, SURUH MENYUSUL KE TETANGGA SEBELAH.” Pekikikannya tersebut tak ayal lagi terdengar sampai tiga kelurahan. Ciamik!

Bapak hanya mengangguk dan menghela nafas panjang. Geleng-geleng kepala. Perasaan sewaktu muda dia tidak pernah gokil begitu deh. Siapa yang mewariskannya ya?

Kita kembali lagi ke nasib perjalanan ‘three musketers’ alias tiga anak bujang lapuk yang masih sibuk mencari alamat rumah Faisol yang mistrius lagi tulalit. Akan tetapi mereka tidak pernah menyerah dan berputus asa. Tetap semangat. Karena sudah kepalang tanggung. Kini, mereka kembali menegakkan kepala, meluruskan badan dan merapatkan barisan untuk tak lelah bertanya kepada setiap orang yang mereka jumpai. Pada akhirnya langkah mereka terhenti persis di depan sebuah warung sembako. Mereka bertanya kepada pengunjung warung yang sedang mengaduk-aduk stoples yang berisi permen.

“Permisi Pak, kami mau menumpang eh menanyakan alamat teman kami. Namanya Faisol. Rambutnya kribo abis. Masih pelajar SMA. Dengan ciri-ciri seb…”Iwan Mukejenuh berinisiati duluan untuk bertanya.

“Sebentar…adik-adik ini mau mencari alamat atau mencari anak hilang sih?”

“Alamat pak.” sambar Iwan lagi.

“Oh begitu. Tapi bertanyanya seperti mencari orang hilang. Jangan terlalu lengkap. Begini ya…adik-adik remaja. Mohon maaf. Sekali mohon maaf. Saya ini kebetulan orang baru. Saya tidak kenal yang namanya siapa tadi…Poncol ya?”

“Faisol pak, Faisol pak.” Telya buru-buru membenarkan.

“Nah…apalagi dia tukang sol sepatu….”

Tiba-tiba keluarlah si pemilik warung yang sejak tadi hanya memperhatikan angkat bicara. “O ya si Oyong James Bon ya. Namanya aslinya emang Faisol. Tetapi dia lebih dikenal dengan julukan si Oyong James Bon. Masih SMA kan? Ciri-cirinya tinggi kurus, rambutnya kriting eh kribok ding. Jalannya mirip bebek. Betul kan?”

“Tidak salah lagi Pak.” Tukas Agus tersenyum. Kemarten-kemaren dia sering kemari. Namun akhir-akhir ini jarang kelihatan batang hidungnya. Kalau mampir ke warung ini biasanya suka ngebon dulu. Di dalam ada buku bonnya kok. Sudah tiga jilid. Kayak komik bersambung. Pekerjaan sampingan bapaknya adalah makelar mobil butut. Perasaan nama julukan bapaknya ‘ Patrick Bumper’.

“Syukurlah Pak. Itu buronan eh teman sekolah yang kami cari sejak dua jam yang lalu dengan susah payah. Terima banyak ya pak atas informasinya. Boleh tunjukkan kepada kami arah menuju ke rumahnya.

Dengan sigap si bapak pemilik warung membantu menunjukkan rute yang harus dilalui. Sebelum mereka beranjak tak lupa Agus membeli beberapa permen dan lembar roti manis komplit ‘rasa yang pernah kecewa’ sebagai bekal di perjalanan sekaligus rasa ungkapan terima kasih. Agus juga sempat melayangkan satu pertanyaan.

“Ngomong-ngomong nih, sudah berapa lama tinggal di sini pak?”

“Anu ya. Brapa yak. Baru sekita enam tahunan.”

“Pantas. Berarti belum sampai sepuluh tahun dong.”

Wajah si bapak pemilik warung tampak mikir sebentar lalu berkata. “Iya betul betul…Adik ini betul-betul blo’on ya. Orangtua diajak  bercanda saja.“

Merekapun buru-buru kabur.

Di sebuah taman nan tandus, setengah asri, dengan bertemankan cahaya rembulan dan cahaya redupnya lampu taman, tampak sesosok remaja sedang asik merayu cewek bak Rommy sedang menggobamlin Juliet. Mereka tengah bercengkrama di atas ayunan dekat teras depan sebuah rumah yang memiliki pekarangan yang cukup besar. Semua rayuan mautnya keluar tumpah ruah tak henti bagai air terjun tanpa kran, keluar membuncah dari mulutnya yang tidak seksi itu. Rayuan ala fil Beverly hils 90210 saja kalah jauh.

Mari kita simak rayuannya. Penasaran kan?

‘Robi..atau Yati…” Faisol mulai melancarkan serangan sporadis.

“Kakak ini bagaimana sih. Jadi laki-laki itu yang tegas dan konsisten dong. Kalau memanggil nama saya satu saja. Kalau lebih nyaman dengan memanggil Robi ya Robi saja. Kalau Yati ya Yati saja, jangan diborong dua-duanya. Itu kemaruk namanya. Jangan begitu dong. Itu namanya Kakak menduakan….nama saya.” Yati Robiatun Sanawiyah kelihatan kurang puas. Yati memang manis dan menggemaskan. Apalagi saat sedang merajuk dan bermanja. Entah kenapa dia bisa kepelet sama Faisol alias Oyong ini. Walaupun Robi tidak memiliki rambut panjang terurai namun Faisol tetap suka. Robi lebih senang berpenampilan ala Demi Moore.

“Awak panggil Yati saja ya? Kalau Robi kesannya gimana gitu…”kilah Faisol sambil fokus menatap lampu taman. Dia masih grogi menatap langsung wajah rupawan sang cewek.

“Bolehlah. Cepetan deh ah. Kak Oyong ini mau bilang apa?”

Faisol berdehem sejenak.

“Yati…”

“Hmmm…”

“Cobalah adik Yati melihat ke langit. Di antara kelamnya terdapat sinar-sinar imut-imut yang bercahaya. Kamu tahu? Cahaya tersebut yang membuat langit nampak indah. Sungguh menakjubkan ya. Apalagi ditambah dengan cahaya sinar rembulan purnama.”

“Kak Oyong ini ahli astronomi ya?”

“Tidak juga. Awak hanya takjub melihat fenomena di langit. Sama saja awak takjub dengan penampilan dik Yati malam ini. Begitu sempurna dimata kakak. Belum lagi pakaian yang adik kenakan. Serasi, luwes dan feminim. Pokoknya Yati itu very beatiful banget banget.”

“Aduh kak Oyong. Sudah deh gombalnya. Semua laki-laki sama saja. Kalau ada maunya jadi jago merayu.”

“Kakak pengecualiannya lho..”

“Masak?”

“Kak Oyong serius. Yati datang pada saat yang tepat.. pada saat…”

“Saat apa kak?”

“Ya pada saat rumah ini dijual oleh pemiliknya lalu dibeli oleh papa Yati. Coba kalau tidak buru-buru dibeli kan bisa angker nih rumah. Lalu kita tidak akan pernah berjumpa kan?”

“Ngaco! Kirain apaan.”

“By the way wewe. Rumahnya kok sepi amat. Jangan-jangan kita memang dikasih kesempatan leluasa untuk berduaan ya?”

“Jangan ge-er deh kak Oyong. Mama Papa ada kok di dalam. Lagi nonton sinetron. Kalau mau ramai kak Oyong bakar saja pos siskamling yang ada di pojokkan sama. Dijamin pasti ramai nanti.”

“Ah kamu ada-ada saja. Sadis pakai bakar-bakaran. Cukup ke pasar saja kan ramai.”

“Pasar malam juga ramai deh kalau mau mencari suasana ramai.”

“Oh ya. Oh penyuka sinetron juga ya ortunya. Sama dengan ortu kak Oyong juga begitu. Kirain sudah pada tidur. Kan asik, tidak ada yang mengawasi. Hihihi…”

“Tidak bakalan kak Oyong. Orang Yati kemana-kemana selalu ditemanin. Belum boleh dilepas jauh-jauh. Apalagi dibiarin malam-malam berdua-duanya dengan seorang cowok. Kak Oyong jangan macam-macam. Jangan salah, mereka selalu siaga kok demi Yati.”

Faisol alias Oyong tercekat. “Oh ya?”

“Kak Oyong tidak tahu ya. Di bawah kursi ini sudah Yati siapkan stick softball. Buat jaga-jaga kalau kak Oyong nakal. Kalau Papa bilang kalau ada seorang cowok yang iseng dan nakai sama Yati akan digantung di pohon mangga di belakang rumah.”

Faisol menelan ludah. Mulutnya mingkem-mingkem. Badannya mulai panas dingin dan sedikit gemetaran. ‘Waduh premannya juga keluarga si cewek’ batin Faisol. Pikirannya berkecamuk. Ternyata si Yati tidak bisa untuk cewek eksperimen. Bukan untuk dipermainkan seenaknya saja. Bagi Faisol yang berniat selumnya hanya untuk iseng-iseng berhadiah langsung kecut. Dalam hati yang paling dalam Faisol segera merubah niatnya untuk serius menjalin kasih dengan Yati. Tidak rugi kok. Sudah putih, cantik, seksi, manis dan rupawan, suaranya yang manja itu menjadi salah satu alsannya. Satu kata untuk Yati ‘SEMPURNA’. Terlebih-lebih Yati tampaknya menyukai Faisol yang mirip penyanyi dangdut Muchsin Alatas versi kw 3.

Diam-diam Yati yang melihat gaya Faisol yang mengkriuk, mengkerut dan mengkeret jadi geli dalam hati. Untungnya Yati sanggup menahan gelinya tersebut.

“Kak Oyong…yang lucu…” ucap Yatih lirih dan manja.

“Kok lucu?”

“Oh ya yang ganteng kayak genteng…Hihihi..”

“Terserah kamu deh.”

“Kak Oyong serius tidak ingin berteman dengan Aku?”

“Ya iyalah. Bahkan Kakak ingin lebih serius dan lebih dari sekedar seorang teman lho.”

“Maksudnya?”

“Pacar gitu.”

“Oh ya? Memangnya Kak Oyong suka tipe cewek seperti Aku?”

“Iya. Gombal atau gembel nih?”

“Serius Yati. Kak Oyong serius. Swear deh.”

“Demi apaan.”

“Langit dan bumi. Seisi alam semesta. Seluas angkasa, galaksi dan tata surya.”

Faisol mulai ngaco dan senewen kata-katanya. Dasar pujangga gagal.

“Oh ya? Dahsyat banget.” Yati terkesima. “Ngerayunya maut dan berbau sentimen begitu.”

“Apa? Tianmen? Siapa dia? Bekas pacar Yati ya?”tanya Faisol bego. Budeknya mulai keturan dari Bapaknya.

“Bukan Tianmen Kak. Budi nih. Budeg dikit ya. Maksud Yati sentimen.”

“Oh maaf kalau begitu. Missunderstanding. Waduh, sentimen itu maksudnya apa?”

“Katanya sudah SMA, definisi sentimen saja tidak kenal. Sentimen itu adalah terlalu berlebihan terhadap sesuatu. Terlalu over dosis. Makanya sering baca kamus dong kak. Kakak payah nih. Kalau mau jadi pacar Yati musti pintar syaratnya. Pasti kakak tidak tahu ‘elaborated code’ juga ya?”

“Tobat, tobat deh Yati. Istilah apa lagi tuh? Kode apa tadi? Kode buntut ya?”

“Bukan.”

“Kak Oyong minta tolong. Please. Pakai bahasa Indonesia saja ya. Kita wajib mencintai produk dalam negeri atau lokal.”

“Kak Oyong ini belagak pilon atau memang blo-on ya. Hehe. Maaf ya kalau Yati lancang. Itu artinya bahasa canggih. Dan itu sangat diperlukan dan diketahui di zaman era teknologi komputer ini.”

Semenit kemudian keduanya terdiam. Tanpa sengaja mereka bertatap-tatapan. Mata Yati tak mampu memandang bola mata Faisol yang bulat kayak boal pingpong itu lebih lama. Takut kesetrum atau takut kena guna-guna. Sedangkan mata Faisol kelihatan sedikit nakal dan liar. Keduanya serempak menunduk malu. Romantis namun kurang harmonis. Hehe…

Dalam kesunyian yang menyepi dan menghening itu, Faisol mencoba memberanikan diri untuk berucap sesuatu…

“Yati…, E-eng.., Yati mengerti bahasa Korea nggak?”

Yati hanya menggeleng pelan.

“Sun dong yang…” Ngerti nggak?”

“Sun itu matahari ya. Dong Yang nama kota ya?”

“Aduh, payah bin kuper nih. Masak nggak tahu.”

Yati kembali menggeleng untuk kedua kalinya. “Lantas apa dong…?”

Faisol lalu membisikkan maknanya di telinga Yati yang dihiasi anting-anting Hello Kitty. Mendengar bisikan Faisol Yati sontak kaget. Dia lalu mengusap-usap dada.

“Idih kak Oyong genit deh. Mau cium pipi Yati maksudnya. Pokoknya jangan sekarang. Kita kan belum resmi jadiannya. Pegang tangan saja sebenarnya tidak boleh apalagi sun di pipi. Bukan muhrimnya Kak. Kita berdua kan baru saja kenalan. Belum genap sebulan.”

Jangan sebut Faisol Kribo deh kalau belum mampu merebut hatinya Yati. Dia tetap saja gencar melontarkan rayuan hidung belang. Faisol yang kadang bandelnya suka kumat tetap berniat ingin ngesun pipi Yati. Padahal sudah dilarang keras. Faisol belum mau menyerah untuk merayu cewek di hadapannya, yang masih duduk di kelas 3 SMP ini. Faisol penasaran ingin menundukkan kegarangan si Yati. Akhirnya dengan semakin gencarnya rayuan maut mampu juga meluluhkan hatinya. Sepertinya bakat merayu itu juga diwariskan bapaknya yang mantan playboy cap kampung.

“Iya boleh. Tapi cium tangan saja ya. Kalau pipi NO. Ingat lho stick softballnya masih di bawah bangku.”

“Yaaa…kok cium tangan. Kayak anak sama orangtua dong.” Faisol kecewa. Wajahnya berubah ribet. Mirip benang kusut sebelum disulam.

“Ya udah kalau tidak mau.”

“Oke deh nggak apa-apa. Mencium jari jemarimu yang lentik juga tidak mengapa kok.”

“Tapi Cuma di tangan lho. Jangan menjalar kemana-mana ya. Nanti Yati pukul.”

“Iya iya. Nggak cang ca ya-an banget deh sama Kak Oyong.”

Kini, detik-detik menciumpun tiba. Faisolpun siap ambil ancang-ancang untuk ngesun jari jemari milik Yati nan halus dan putih itu. Bagi Faisol tangannya Yati montok juga. Walaupun begitu mata Yatipun ikut terpejam juga. Mari kita hitung…satu…dua…ti….

KLETAK! DUK! DUK! PLETUK! AWWW! ADUHH!

Sebiji batu koral atau kerikil kecil tiba-tiba melayang terbang dan landing di jidat Faisol yang bidang. Seolah-olah laksana peluru senapan yang dimuntahkan oleh seorang sniper terlatih. Otomatis Faisol kaget bukan kepalang. Dia merasakan sekali sakitnya yang berdenyut-denyut. Secara refleks bangkit dan berdiri. Sambil berkacak pinggang dan berteriak lantang..”HEY! SIAPA YANG BARUSAN TADI NIMPUK SAYA? AYO NGAKU!”

Faisol seakan murka. Sebiji batu yang telah merendahkan dan menjatuhkan martabatnya. Giginya bergemulutuk kayak jambu klutuk sambil memandangi semak-semak sekitar taman berumput jepang itu dengan geram. Matanya  sedikit melotot. Seakan bola matanya hendak melompat ke luar.

“Kenapa Kak?” tanya Yati belum mudeng.

“Seseorang telah menimpuk jidatku. Dasar haram jadah! Ayo siapa yang melempar tadi. Hoyy, kalau kalian berwujud manusia keluarlah berhadapan dengan secara jantan! Tapi jika han…hantuu keluarga secara….secara betina. Atau jangan…nongol deh sekalian!”

Yati hendak ngikik tapi untung bisa ditahannya.

Gertakan Faisol sia-sial alias tidak membuah hasil. Barang satu wujudpun tak nampak. Suasana sekejab kembali sunyi. Diiringi deruan semilir angin yang bersuhu dingin menerpa wajah mereka. Spontan membuat bulu  romawi berdiri. Rambut Faisol yang kribopun ikut-ikutan berdiri karena takut. Setelah dirasakan situasi tenang, aman dan terkendali, Faisol mendudukkan pantatnya di kursi lagi. Memasang kuda-kuda untuk mencium jemari lentik Yati.

Lima menit berselang. Kletak Ktipuk suara gendang bertalu-talu…Eh-eh malah menyanyi. Kali ini batu terkutuk itu melayang ke kepala ke kepala Faisol. Kerimbunan rambutnya dapat menghalau batu tersebut. Jadi tidak terasa sakit. Kurang ngefek. Jadi tidak menyebabkan benjol serius.

“E-eh masih nekat juga ya. Siapa nih yang usil sih. Sudah bosan hidup rupanya?!” makin Faisol mulai penasaran. Naik pitam. Naik delman. Dll. Dengan perasaan marah bercampur kesal yang tak terbendung. Dia merasa dipermainkan dan dipermalukan di depan Yati.

Faisol tampak kasak-kusuk mencari sesuatu. Dalam kekalutan Faisol menemukan ide brilian. Bingo! “Yati, biasanya Mamamu menyiram kembang dimana? Maksudku selangnya diletakkan dimana?”

Sebelum Yati menjawab. Nah ini dia! Faisol langsung gembira dan berjingkrak-jingkrak saat menemukan sebuag gulungan slang panjang untuk menyiram bunga. Buru-buru memasang ujung slang ke ujung kran. Kran diputar. Air siap dipancurkan!

Faisol mengarahkan slang itu secara membabi buta ke segala arah dan tempat. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Faisol untuk membungkam si pelempar batu mistrius.

“Jangan jangan! Ampun ampun! Kami menyerah. Oke kami keluar. Jangan disiram lagi. Kami minta maaf ya Sol.” Ujar salah satu dari mereka.

Satu persatu tersembul wujud kepala manusia nongol dari balik rimbunan taman.  Terdengar juga suara ketawa cekikikan. Tiba-tiba muncul tiga sosok remaja laki-laki. Sudah dapat ditebak siapa lagi kalau bukan Agus Blepotan, Tekya La Kadam dan Iwan Mukejenuh.

Faisol dan Yati tampak syok karena sudah diintip.

“Sontoloyo! Rupanya kalian hantunya toh. Senangnya melihat jidat kawannya lecet dan kepalanya benjol. Pada slompret ya.”bentak Faisol puas.

“Cuma bercanda kok Sol. Tadinya mau nimpuk pakai batu bata. Nggak tega. Haha…”ledek Tekya sambil mengibas-ngibaskan ujung celananya yang basah kuyub.

“Maaf ya Sol. Kamu tidak cedera kan. Lho kok bisa ya?” Giliran Iwan menimpali.

“Bukan begitu Sol alias Oyong.”ujar Iwan mengusap mukanya yang kebasahan.” Seharusnya kami bertiga yang marah. Kami beranggapan bahwa kau telah mengerjain dengan membuat denah bohong. Kamu niat nggak sih bikin peta rumahmu. Mana petanay tadi ya? Nah ini dia. Peta sialannya ternyata ikut-ikitan basah deh. Kami jadi kesasar kemana-mana. Rutenya centang perenang begitu, membuat bingung orang. Lihatlah keadaan kami sekarang menyedihkan sekali, bukan? Sudah kehujanan e-eh pas pakaian kami mau menjelang kering kamu guyur pakai air. Basah lagi jadinya nih.”

“Kayaknya cukup sekali saja deh ke rumahmu..Kami kapok!”rengek Agus.

“Ya sudah Awak juga minta maaf. Habis, kalian juga sih yang bikin kaget. Akhirnya senjata makan majikan. Hehehe..Jangan kapok ke rumahku lagi. By the way. Lantas tahu saya ada di sini dari mana?”

“Orang rumah kamu yang memberitahu. Terus dibantu juga sama orang warung sana.”

Puncaknya, kencan Faisol berantakan. Acara jalan-jalan malam mingguannya juga batal. Pada akhirnya dengan suka cita bercampur berat hati, Faisol jadi juga memperkenalkan Yati kepada kawan-kawannya. Agus mengerlingkan matanya tanda salut dengan keberuntungan Faisol sukses menaklukkan Yati. Tekya juga secara sembunyi sembunyi mengacungkan dua jari jempolnya. Two thumbs!

Selang beberapa minggu berlalu. Tepatnya pada minggu ke empat setelah insiden basah-basahan itu, Faisol kembali mengundang kawan-kawannya bertandang ke rumahnya. Ceritanya malam minggu ini Faisol hendak ‘wakupelcar = waktu ngapel pacar’ lagi. Kali ini Faisol berbuat nekat dan kumat lagi. Bagaiman tidak? Kali ini dia tidak ngapel sendiri, akan tetapi mengajak rombongan Agus, Iwan dan Tekya. Untuk apa? Untuk mengamati secara langsung alias ,mengintip lagi. Hitung menonton gratis dan belajar jurus jurus merayu ala Faisol. Ada ada saja. Remaja yang aneh! Kesimpulannya malam ini formasi yang dipakai adalah 3-1-1. Tiga orang pengintip, satu pelancar rayuan, satunya lagi korban rayuan.

Mulanya, ketiga kawannya menolak secara halus tawaran janggal dari Faisol. Agak risih juga. Selain takut menganggu, apa enaknya ngintip orang pacaran sih? Cuma bikin iri dan iri doang. Namun setelah dipikir dan ditimbang cukup asik dan menantang juga. Yang punya hajat juga tidak keberatan kok untuk diintip. Jujur, sebetulnya Faisol hanya kepingin memamerkan kecakepan pacarnya saja. Walau rada aneh.

Walaupun ide unik ini seratus persen murni berasal dari anak kribo itu, namun Tekya, Agus dan Iwan ketar-ketir juga jika ketahuan bisa gawat. Apakah dia tidak sadar seandainya kepergok bisa-bisa percintaannya dengan Yati terancam bubar. Yang pasti Faisol pasti sudah mempertimbangkan apa yang bakalan terjadi. Sebagai antisipasi kejadian yang tidak nyaman terjadi, Faisol memberlakukan beberapa syarat yang tidak boleh dilanggar oleh teman-temannya. Syarat pertama, Agus, Tekya dan Iwan diminta tidak membuat kecurigaan dan kekacauan. Kedua, Anak-anak diminta mengintip dari balik dinding taman yang terbuka. Ketiga cukup berat dan kurang manusiawi, dilarang untuk kentut dan sebisa mungkin untuk menahan rasa gatal. Jika ada yang  kedapatan melanggar akan dikenakan hukuman setimpal yaitu yang pertama, terhukum wajib mentraktir Faisol makan pempek sepuasnya di kantin Kak Ma’il selama empat hari. Hukuman kedua, wajib memperbaiki citra Faisol yang telah tercemar di hadapan Yati  dan keluarganya. Paling tidak hubungan Faisol dan Yati senantiasa terjalin. Ya sudahlah. The show must go on.

Malam minggu yang dinantikan telah tiba. Malam itu Faisol berdandan keren habis. Wah, kalau  kerennya habis berarti tinggal jeleknya dong? Rambutnya telah dicoba untuk disisir agar  rapi tapi tetap saja tidak rapi, malah awut-awutan kayak orang hutan. walaupun telah mematahkan tiga buah sisir, Faisol  tetap cuwek. Cilaka! Belum lagi satu botol minyak kelapa berubah fungsi menjadi minyak rambut juga menjadi korban alias habis tak tersisa. Walhasil sang rambutnya yang kribo tetap saja jauh dari klimis. Sedangkan kawan-kawannya yang masih jomblo itu terkesan berdandan seadanya saja.

“Yati, andai kamu menjadi cinderella. Kakak jadi apanya?” Tanya Faisol bukannya mulai melancarkan jurus merayunya malah main tebak-tebakan basi.

“Jadi apanya ya? Oh ya upik abunya, Mau?”

“Lho kok gitu. Demi Yati tidak apa-apa. Saya mengalah deh.”

“Oke lanjut. Siapa takut?” Tantang Yati dalam hati.

“Andai Yati sebagai bunga. Kakak sebagai…”

“Hama werengnya..”

“Kok bagianku jelek melulu.” Protes Faisol sambil merengut.

Yati cuwek saja.

Tidak jauh dari lokasi, tanpa sepengetahuan Yati, tim pengintip yang sedang berada di balik kerimbunan taman, mulai kasak kusuk gara-gara banyak nyamuk nakal berkeliaran. Sesekali terdengar cekikikan mirip kuntilanak.

“Kak…coba dengar deh, seperti ada orang tertawa. Jangan-jangan..”

“Hush! Ini kan malam minggu. Mana ada hantu keluar malam ini.”

“Sudahlah. Kita fokus saja ke urusan kita. Paling-paling kucing nguber tikus.”

“Bukan begitu Kak. Perasaan saya mulai tidak enak ini. Lihat ke sana deh, tidak angin kok pohon bonsan di taman depan bergoyang-goyang. Saya jadi curigation nih. Coba Kak Oyong ke sana. Tapi hati-hati ya.”

Agar tidak dicurigai, Faisol menuruti saja perintah demenannya. Faisol merangsek ke dalam rimbunan taman pohon bonsai yang tumbuh tinggi-tinggi. Ketika langkah Faisol mendekati ke lokasi persembunyian ketiga kawannya, dia langsung mengerlingkan matanya. Dibalas acunbgan jempol oleh dari balik pohon cabe.

“Tidak ada apa-apa kok Dik. Aman terkendali.” Ujar Faisol ketika kembali ke kursi taman di rumah sang cewek.

Tidak sampai tujuh menit, suasana kembali berisik.

“Kak, ada suara lagi. Berisik amat. Jangan-jangan…kawan-kawan kakak yang bandel itu.” Tebak Yati sambil sembunyi dibalik bahu Faisol yang ringkih.

“Alaah, mana berani mereka mengintip lagi. Ketiganya sudah mengaku kapok. Mereka sudah kakak damprat waktu mereka menginap di rumah tempo hari. Mungkin tikus got.”

Setelah sekian lama bercengkrama, bercerita, berguyon, bercanda, merayu dan cekakak cekikik, perlahan-perlahan, pantat Faisol beringsut-ingsut mendekati posisi duduknya Yati. Tampaknya akal bulusnya mulai bermain. Dia mulai melancarkan aksinya untuk mencium pipi pasangannya. Bukan Yati namanya bila tidak tahu akan niat ganjen Faisol. Yati sudah mencium gelagat yang tidak baik. Sudah terbaca dari kerdipan mata nakal Faisol. Dia hapal betul gelagat itu, pasti ada maunya. Yati hanya tersenyum saja. Dibalik itu dia telah menyiapkan perisai.

Nasib baik! Yati berpura-pura menyetujui permintaan nakal Faisol. Yati bersiap tertunduk malu seraya memicingkan kedua matanya. Pemandangan itu disaksikan oleh ketiga tim pengintai. Kasak kusuk lagi.

“Ayo Sol sosor terus..Sikat saja bleh.” Bisik Agus tak sabaran. Iwan dan Tekya lebih kalem, tapi dalam hati mereka berkecamuk.

“Sun saja Sol. Cepetan sebelum dia berubah pikiran,” tukas Iwan bersemangat. “Cepat dong Sol. Kesmepatan tidak datang dua kali. Mana nyamuk sih pada lapar-lapar pula.” Iwan asik menepak-nepak nyamuk-nyamuk nakal.

“Ayo Sol, kapan jadinya sih dari tadi tatapan melulu. Saling colek. Memang sabun colek.” Tekya juga mulai kumat bandelnya.

Akibat tidak dapat menahan nafsunya, merekapun terseruduk ke depan. Bahkan si Tekya terjungkal ke belakang, nyaris kecebur di got.

Uji kata pepatah selalu benar. Sepandai-pandainya tupai melompat akan jatuh jua. Menyimpan buah durian serapi apapun akan tercium juga aromanya. Faisol hanya geleng-geleng kepala. Mau diomelin adalah kawan sendiri. Bingung. Hanya bisa nepuk jidat dan gigit jari.

Kesimpulannya mereka kepergok juga oleh Yati. Tak ayal lagi ketiganya diseret di tengah taman. Berikutnya akal bulus Faisol ikut tercium juga. Akhirnya Yati juga mengetahui siapa yang mempromotori aksi pengintipan. Faisol jadi pusing sepuluh keliling.

“Jadi Kak Oyong yang mendalangi mereka untuk mengintip kita pacaran. Kakak jahat ih, tega-teganya. Yati kan jadi malu. Maluuu banget!” Rengek Yati nyaris menangis.

“Bener Ti, ini inisiatif mereka sendiri. Dasar mata keranjang kalian ya..”tangkis Faisol, lalu pura-pura menghardik.

“Bohong, Ti!” sambar Agus. “Ini ide kami bersama kok. Bukan niat jahat kok. Hanya saja Kak Oyongmu taku t kalau berpacaran sendirian. Katanya rumahmu angker.”

“Ya sudah. Cukup-cukup. Kalau Kakak benar-benar sayang sama Yati, pasti rela berkorban. Apapun yang Yati minta mau tidak melaksanakannya? Please…”

“Oh sure. So pasti Dik. Apapun kan kulakukan demi kamu. Kalau boleh tahu kira-kira kamu mau minta apa?”

Yati segera mengambil gulungan selang air dan menyemprotkan ke muka Faisol, Agus, Tekya dan Iwan. Byuur byarrr!. Semuanya menjadi basah kuyub.

“Yati ingin melihat kakak-kakak ini mandi wajib. Rasakan nih.”