‘SERIAL MASA SMA MASA BODO?’ IN : KEJUTAN PENTING TIDAK PENTING DI PESTA HARI LAHIR EVEL…PART 2

BERSEPEDA PAGI ITU PELARIAN MEMBAWA COWOK

Oleh : Deddy Azwar

Minggu pagi nan cerah, niat Evel hendak bersepedaan akhirnya terlaksana juga di tengah kesibukannya sebagai pelajar so pasti wajib belajar menghadapi ulangan harian yang acapkali datang tanpa diduga. Memang sih ada beberapa guru yang hobi mengadakan ulangan dadakan. Alhasil banyak siswa yang mendapatkan nilai tak sedap dipandang mata. Ditambah lagi seabreg kesibukan mengurusi persiapan pesta ulangtahunnya yang semakin mepet. Plus membaca situasi terkini di peta kondisi komunikasi antar teman sekelas sedang tidak kondusif-kondusifnya. Akhirnya Evel mengambil jalan tengah untuk mencoba berolahraga di pagi ke kambang iwak park. Baginya mau dibilang pelarian dari segala masalah yang semakin menumpuk begitu menyiksa dan menderanya. Terserah anggapan orang sekitar. Masa bodoh.

“Pokoknya pagi ini Aku tak mau diganggu. Sebab, Aku ingin menghibur diri dengan berolahraga sepeda sendirian.”Jerit batin Evel membuncah. Siapa tahu akan mengobatin hatiku yang galau ini. Aku harap setelah ini pikiranku lebih sehat dan segar. Bodyku lebih fit dan bugar. Toh, Aku sudah lama mengidam-idamkan situasi seperti ini. Bukankah terakhir bersepeda sewaktu masih kelas 1 SMP. Setelah itu sepertinya tiada waktu lagi. Oh alangkah senangnya hatiku. Sementara waktu persenan eh persetan dengan urusan sekolah. Memang Aku pikirin!“

Minggu itu Evel memang nekad bersepeda ria tanpa persiapan yang matang. Pagi-pagi gelap dengan berjingkrak-jingkrak dia menuju gudang belakang untuk mengambil sepeda BMX hadiah dari Papanya sewaktu naik ke kelas dua SMP. Dia lupa sudah kondisi terakhir sepedanya itu bagaiman? Sepeda yang sudah sekian tahun tak tersentuh itu nyaris berkarat dan berdebu. Yang paling parah angin di dalam kedua ban sepedanya sudah minim sekali. Boleh di bilang kempes level menengah. Siapa peduli? Rasa emosional, kekalutan dan kekacauan hati mengalahkan segalanya. Yang penting tugasku pagi mengayuh sepeda sejauh kemampuanku. Sejauh yang kumau.

Setelah menutup pintu gerbang pelan-pelan, Evel bagai kilat segera mengayuh pedal sepedanya sekencang-kencangnya. Sengebut-ngebutnya. Ketika sampai di portal gerbang, Evel hampir saja menyeruduk pos siskamling. Untungnya dengan sigap dan cekatan dia mengendalikan laju sepedanya agar seimbang dan tidak terjatuh. Evel sempat melambaikan tangan ke arah satpam komplek perumahan. Pak satpam bernama Rosidi membalasnya dengan senyum manis.

Saat memasuki jalan yang menanjak, Evel mulai kehabisan tenaga. Dia baru sadar sepeda yang dibawanya tidak bergigi layaknya sepeda balap. Makin dikayuh serasa semakin berat. Seakan-akan sepedanya menggandeng sebuah gerbong milik kereta tua. Hua! Dia berharap cemas dan berdoa semoga ban sepesanya tidak bermasalah. Kalau sudah begini kejadiannya dia berharap peristiwa hari itu adalah Cuma mimpi belaka. Namun dia harus  dan ‘bangun dari tidurnya’ dan serta merta mengakui bahwa yang barusaja dia alami bukanlah mimpi. Fakta dan real. Evel langsung shock refleks.

Kini…pemandangan jalan aspal yang menanjak sudah terhampar di hadapannya sekali lagi adalah kenyataan. Masih belum percaya? Singkatnya…Hadapilah kenyataan di depan matamu! Walau berat sekalipun.

Evel beguman dalam hati, ‘mengapa sepeda ini semakin berat ya?’. Aduh, ternyata benar ban sepedanya sudah kempes pes. “Aduh, ya ampun mudah-mudahan ini hanya mimpi.” Gumannya sambil keringat dingin. Perlahan dari dahinya mulai timbul butir-butir peluh. Butir itu luluh dan rapuh. Tak lama kemudian dia melorot dari batang hidung lalu berselancar ke bibiar atas. “Huh, asin. Puihh!”

Otomotis dia kewalahan dan kelelehan. Padahal setelah turunan dia akan sampai di kambang iwak park. Evel bingung dan penasaran. Jaraknya masih lumayan jauh. Sudah terbayang di benaknya akan menggandeng sepedanya dalam kondisi jalan yang menurun. Seandainya sepeda ini sudah tua dan rongsokan pastilah sudah Evel tinggalin begitu saja.

“Hallo cantik…” Tiba-tiba terdengar suara cowok tak dikenal menggodanya, “itu cowoknya? Pantas dia ganteng terus.” Ada sekumpulan cowok binal dan ganjen nongkrong di trotoar kambang iwak park.

Evel tidak menoleh sedikitpun. Dia jaga gengsi. Evel paling anti digodain murahan kayak gitu. Makanya dia jalan terus. Buru-buru menjauh. Bagi Evel mau tuh cowok-cowok penggoda dari grup band korea yang wajahnya halus-halus dan keren-keren sekalipun masa bodo. Pokoknya nilai langsung merosot di mata Evel. Apakagi kalau menggodanya beraninya ramai-ramai. Jelas bukan pejantan tangguh.

Evel tidak memungkiri bahwa dirinya adalah seorang gadis manis mempunyai potensi untuk digoda oleh laki-laki manapun. Rugi rasanya bagi mereka untuk melewati moment berharga dan langka itu dengan membiarkan bidadari lewat begitu saja. Evel itu faktanya menggemaskan. Lelaki mana yang tidak tergoda. Tidak usianya tua tidak usianya muda. Baik yang sudah status double apalagi yang jomblo bu….jangan. Yang paling tidak memandang sambil memolototi.

Evel mengalami pelecehan ringan..Simak percakapannya di bawah ini.

“Eh, adik cakep. Sudikah kiranya jadi mantu saya, “ Tanya seorang Om-om sambil berlalu.

“Maaf Pak. Saya masih sekolah. Belum niat kawin muda.”

“ Aduh kasihan ya. Sejak kapan bannya kempes? “ Goda yang lainnya. “Oh seandainya saya dulu bercita-cita menjadi tukang tambak ban..”

“Tinggalin aja sepedanya, mending boncengan sama saya..”

“Ogah! Lagi nggak mood naik ojek.

”Kesian nian mbak ini. Maaf eyke nggak bisa bantuin. Takut dandanan eyke rusak demplon deh. “ Bencongpun turut berpartispasi.

Kalau ketemu makhluk begini Evel langsung tersenyum kecut sambil baca ayat kursi.

“Aduh.. manis-manis kok gandeng sepeda, mending gandeng abang deh. “

“Emang saya truk gandeng bang!” Balas Evel sengit.

Evel berusaha sekuat tenaga mempercepat langkahnya, namun tak kuasa, apa daya karena menenteng sepeda yang sedang gembos ya jadi beratlah. Evel merasa seakan-akan dia bagaikan hidangan lezat yang hendak diperebutkan untuk dimakan. Atau bak seorang bidadari yang tinggal sendirian di pulau terpencil lalu berdatanganlah beberapa orang pelaut yang terdampat lalu menemukan seonggok bidadari cantik yang ingin disantap.

“Hai…”Tiba-tiba terdengar suara halus. “Ada apa dengan sepedanya?” Seorang cowok dewasa menegor dengan senyum ramah.

Evel tidak menoleh sedikitpun ke arah sumber suara. Hatinya makin kesal. Makin gondok. Ingin rasanya dia mencengkram orang yang barusan menegur lalu melemparkan ke kambang iwak. Oh andai kita kuat…

Evel tetap melengos dan tetap memilih diam. Hidungnya kembang kempis. Walaupun Evel sudah menampakkan muka marah. E eh tuh cowok masih tetap dengan pendiriannya mengiringi langkah Evel.

“Kalau tidak mau bantu lebih baik jangan menggoda deh…” Tandas Evel sewot.

“Maaf sebelumnya dik, saya tidak bermaksud menggoda hanya mau mebantu kok. Saya tidak tega melihat adik begitu..”

“Bantu? Ah yang benar?” Evel menghentikan langkahnya dan menatap cowok itu serius dengan malu-lamu. Ternyata dari figurnya kelihatannya cowok berwajah lumayan tampan dan macho. Wah, sayang kalau tidak diladeni.“ Memangnya kakak tukang tambal ban? Saya kok tidak lihat membawa peralatannya. “

“Saya bukan tukang tambal ban. Saya hanya mau membantu bannya yang kempes.”

“Bagaimana caranya?”

“Begini, adik tunggu sebentar di bangku itu aja. Bangku panjang yang dekat tong sampah. Nanti saya pulang dulu ke rumah saya untuk mengambil alat pompa. Mau nggak? Mau ya? Mau dong…”

“Idih kok maksa sih..Jelas maulah. Masak saya dorong sepeda sampai rumah. Bisa gempor. Bisa bengkak betis saya.”

“Gimana? Deal?”

“Nanti dulu. Emang rumah kakak dimana? Bisa-bisa besok dong  kembalinya..”

“Nggak jauh kok. Sekitar-sekitar sini. Lagian saya juga bawa sepeda. Saya memarkirnya di sudut taman. Tenang, cepat kok. Saya biasa ngebut naik sepedanya.”

“Oke Kak. Jangan lama-lama ya Kak. Sudah mulai panas nih matahari.”

Si cowok dewasa itu langsung lari ke arah parkiran sepeda. Sekejab dia sudah melesat dengan sepeda balapnya. Tak lama kemudian si cowok sudah kembali berdiri di hadapannya dengan menenteng pompa ban berukuran mini.

“Sudah beres Dik. Coba diperiksa lagi tekanan bannya. Kalau belum kenceng nanti saya pompa lagi.”

“Oh ya sudah keras ban sepeda saya lho. Terima kasih banyaknya ya.” Evel menghela nafas lega. Mukanya berubah berseri dan sumringah.

“Kok Cuma terima kasih aja Dik…”

Evel tercekat dan melongo kayak orang kenyang bego. “Maksud Kakak apa? Oh saya lupa. Saya musti bayar berapa?” Dalam hati Evel mengomel, semua lelaki sama saja. Membantu pasti ada maunya. Dasar lelaki hidung belang dan buaya darat!

“Eit, saya ikhlas kok dan tidak minta dibayar. Emang tampang saya kayak abang tukang tambal ban apa?”

“Syukurlah, masalahnya saya lupa membawa dompet. Kakak lebih mirip bintang film kok. Lalu Kakak minta apa? Awas lho jangan minta macam-macam ya.”

“Ah adik bisa saja. Eh eh anu…” Cowok itu mulai gelagapan ngomongnya. “Saya….boleh ditinggalin alamatnya?”

Mendengar pengakuan cowok itu, Evel nyaris tertawa, untung dia dapat meredamnya.

“Oh itu. Alamat saya untuk apa? Alah, tidak perlu kok. Kakak keberatan nggak mengantarkanku pulang?”

Mendapat jawaban tak diduga begitu sang cowok girang bukan main. Nyaris pingsan malah!

 

KETERASINGAN DI SEKOLAH…LHO KOK BISA?

     Bel jam kedua berdentang tiga kali. Segerombolan pelajar masuk berebutan masuk kelas. Bagi pelajar kelas satu siap-siap naik tangga sampai ke lantai tiga. Yang enak pelajar kelas tiga, kelas mereka berada di lantai utama. Tinggal jalan santai tak perlu berlari dan naik tangga.

Tak satupun anak-anak di kelas 1.3 yang hadir hari itu menyinggung soal ultah Evel, temen mereka. Mereka cuwek. Seolah-olah tidak terjadi sesuatu yang penting. Mereka melewati hari demi hari lurus-lurus saja. Padahal sebentar lagi Evel akan merayakan pesta ultahnya. Apa daya belum ada temannya yang berbasa-basi menyinggungnya.

Evel duduk di kursi dengan perasaan gundah gulana. Dia ingin bersikap santai namun dia tidak dapat membohongi perasaannya yang berkabut….Ditabir mega-meganya. Kulihat dua tangan dibalik punggungnya. Madu di tangan kananmu. Racun di tangan kirimu…(Lho lho malau melantur ke lagu Madu dan Racunnya-Bill n Brod). Evel mulai menyimpan kecurigaan yang muncul beruntun. Dadanya bergemuruh bagai pesawat komersil hendak lepas landas ke udara. Segala rasa berkecamuk hebat. Pokoknya rasa marah mix sebal. Sekali dua kali Evel kedapatan memergoki teman-temanny yang duduk dekat jendela sedang asik berbisik-bisik menggosipin dirinya. Bila Evel melihat mereka. Mereka langsung pura-pura asik membaca dan menulis. Lalu cuwek dengan sekitarnya. Oh oh Astaga! Entah apa yang terjadi? (Pinjam liriknya Ruth Sahanaya). Apa tidak bikin gondok menahun tuh. Hiiyyyy…

“Apa begini ini ya lingkungan dan gaya persahabatan antar pelajar di SMA yang bagus ini? Tidak pernah ambil peduli kepada temannya yang akan ulang tahun. Masak di anggap tabu atau tidak dianggap sebagai momen penting bagi mereka. Atau hanya sekedar bunag-buang uang, waktu dan tenaga doang ya?” Renung Evel sedih. “ Oh ya Aku tahu. Mungkin sebagian besar tidak pernah merayakan tradisi ultahnya. Mungkin dengan berbagai alasan uang atau yang lain. Idihh kuno banget ya. Di zaman modern kayak begini masih ada yang bersikap kolot dan tradisional. Betul betul tak memahami dan menghormati teman sekelas. Kemana rasa solider mereka sebagai sahabat? Apa arti persahabatan yang selama ini dibangun dengan susah payah. Dinilai dari untung dan ruginya. Tidak ada perhatian dan kepedulian sama sekali. Tahu begitu aku bersekolah di Jakarta aja. Menyesal sekolah di kota ini. Bagaikan tersisihkan, terasingkan.,.Sudahlah percuma. Biarlah kubersedih. Tiada guna. Evel musti kuat dan tegar. Tanpa dukungan moril dan mereka toh pestaku akan tetap jalan kok.

Sebenarnya prasangka Evel kepada teman-temannya sungguh terlampau berlebihan. Oh, seandainya Evel tahu betapa pedulinya dan sayangnya teman sekelasnya kepada dirinya tentu akan terharu sambil mewek-mewek. Tapi kalau sudah ketahuan ceritamnya jadi tidak seru dong. Masak jalan ceritanya sudah ketebak.

Eveline tidak enak hati sama Mamanya. Kebetulan Mamanya asli keturunan kesultanan Palembang dan paham betul kebiasaan dan adat istiadat yang berlaku untuk wong Palembang. Dia bukan hanya mewakili sebagai figur Mama yang keibuan tapi figur Ibu yang ke-Mama-an. Beliau menjadi base camp curhatan dan menjadi panutan terutama untuk anak-anak yang perempuan. Mama seringkali mengingatkan anak-anaknya tentang nilai-nilai kebaikan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya yang lembut selalu jitu untuk dicerna dan diterapkan. Hampir tidak pernah mengumbar kata-kata kasar kepada siapapun. Sepertinya garis kesultanan berpengaruh sekali dan membentuk prilaku Mama menjadi dewasa dan bijak. Bukan berarti Mama tidak pernah marah sih…Kadang-kadang beliau bisa marah bila melihat kebandelan anaknya. Tapi tidak sampai mendamprat dan berubah menjadi gendoruwo yang menyeramkan. Marahnya masih dalam porsih wajar. Selebihnya Mama sangat penyanyang dan pemanja. Ada satu lagi, bila diperlukan Mama sewaktu-waktu dapat menjelma menjadi teman yang enak diajak bercerita. Kesimpulanm klisenya…Mama adalah cinta, Mama merupakan segalanya dan selalu bersemayan dalam hati sanubari Eveline yang terdalam.

“Evel..” Kata-kata lembut yanmg menyejukkan keluar dari mulut Mama tercinta. Tepatnya menjelang sore hari. Ketika Mama sedang membersihkan dapur setelah habis memasak.

“Iya. Kenapa Ma?” Jawab Evel sambil menggayut sembari melingkarkan tangganya ke punggung Mama. Eveline sekejab menjadi anak manja. Saking eratnya pelukannya itu membuat Mama nyaris sesak nafas. Evel buru-buru mengendorkan kadar pelukannya. Evel masih sempat menciumi pundak orang yang melahirkannya dan mengenalkan segala isi dunia.

“Idihh, kok jadi manja kayak waktu SD dulu. Kamu itu tidak pernah lepas dari Mama. Kemana-mana selalu ikut. Mirip sticker. Bahkan sewaktu Mama masih ngantor dulu kamu menangis minta ikut. Evel evel..sekarang kamu sudah besar. Tidak terasa sudah kelas 1 SMA. Sayang Mama. Hanya saja Mama tidak kuat meggendong kamu lagi. Beraaat.”

“Hehe. Jangan dong Ma. Evel nggak mau lihat Mama turun berok. Hahaha. Nanti gantian Evel yang menggendong Mama. Oh ya tadi Mama panggil Evel ya. Ada apa sih Ma? Mama mau curhat ke Evel ya?” Evel cekikikan mirip Pokemon.

“Kamu ada ada saja Vel. Nggak kebalik itu. Kan biasanya kamu yang suka curhat ke Mama. Emang Mama, Mama Dede apa. Curhat dong Ma! Ini lho Vel..Sebentar lagi kan keluarga kita akan menggelar pesta ulang tahun Evel.  Mama hanya heran saja. Sampai hari ini belum melihat teman-teman sekelas kamu yang main ke rumah. Biasanya ada Debby suka mampir. Belajar bersama Kek. Atau bulan kemaren teman sebangku kamu, siapa namanya…..”

“Arleini Ma..”

“Iya itu. Dia juga suka mampir dan sering minta resep masakan ke Mama. Lho pada kemana mereka ya? Atau si Agus yang dulu naksir kamu. Dulu saban hari kerjaannya nelpon melulu. Mama kirain bapaknya kerja di kantor telepon lho. Agak aneh aja Vel. Mama tidak melihat seorangpun main ke mari menjelang ultahmu. ”

Tiba-tiba Kakak perempuan Evel yang berbisnis Salon main ke dapur dan mendengar percakapan antara Evel dan Mamanya yang seru. Sedikit banyaknya percakapan itu terdengar. “Iya Vel, kok teman-teman kamu pada begitu. Saat tidak dibutuhkan pada ngumpu dan tumplek semua. Hari tiap hari kamu mengundang temanmu kemari. Kalian sering ngobroln belajar bersama bahkan Kakak dengar sering ngerumpinya deh. Pas mau seibuk begini nggak kelihatan satupun batang hidungnya. Jangan-jangan pas hari H, mereka tidak pada datang pula. Bantu-bantu kek. Sebagaimana adat orang timur kan begitu ya Ma? Kakak kira kamu mungkin terlalu sombong di sekolah. Atau pemalu,mungkin. Makanya Vek, pesan Kakak, kamu harus pandai bergau dan menyari teman. Biar banyak teman. Tetap akrab baik suka maupun duka.”

“Ini si Kakak datang-datang langsung nyerocos aja mulutnya kayak sepur di statsiun Kertapati. Lihat si Evel menjadi serba salah.”

“Nggak apa apa Ma. Mungkin Kakak betul. Evel musti instropeksi diri lagi. Evel yakin persahabatan kami tetap terjaga kok Kak baik disekoalh maupun di luar. Kalau sombong nggaklah. Apanya yang mau disombongin sih..Mungkin teman Evel pelajar karir semua jadi pada sibuk.”

“Pelajar karir?”

“Oohh. Becanda kok Mam. Eveline juga tidak tahu Ma. Kemungkinan mereka pada sibuk belajar Ma mirip wanita karir. Kali aja mereka punya teman baru selain Evel. Mungkin mereka nggak enak hati atau takut merepotkan tuan rumah kali…”

“Padahal Mama selalu welcome ketika mereka datang. Jangan-jangan kamu…musuhan gitu. Nggak kan?”

“Iya nggaklah Ma. Mama Mama. Masak kami musuhan? Emang anak TK. Nggak mungkinlah Ma.” Evel berusaha meyakinkan Mama bahwa dia tidak pernah mengecawakan siapa-siapa di sekolah. Terlebih untuk menyinggung perasaan orang lain. “Menurut Evel setiap orang tentu mempunyai rasa bosan Ma. Nah saat ini mereka sedang taraf bosa tingkat tinggi untuk main ke rumah kita. Bisa dibilang masa tenggang dan masa renggang. Percayalah Ma, suatu hari, ketika saat rasa kangen itu pasti mereka datang kemari.”

Evel mengerlingkan matanya ke arah Mama. Mama berlalu bersama sunggingan senyuman termanisnya.

Mama hanya mengangguk perlahan. Tandanya mulai memahami atau malah menyimpan kecurigaan lain. Entahlah. Di lubuk hati Mama cukup mempercayai ucapan anaknya yang mulai ranum itu. Ya, masa remaja sebentar lagi akan dilalui Evel. Penuh gejolak. Akan ada beberapa letupan mewarnai pada masamu. Ceria dan sedih. Masa SMA itu memang indah. Banyak orang di saat tuanya kepingin mengulangi kembali ke masa itu. Makanya getol menghadiri acara reunian angkatan. Banyak dugaan-dugaan yang meleset. Berdecak kagum. Merasa prihatin. Merasa empati. Percaya diri. Minder. Kekeluargaan.

Ada yang menyesali diri kenapa waktu SMA sangat pemalu dengan yang namanya perempuan.  Jangan untuk bertegur sapa menatap saja enggan. Ada juga di masa SMAnya terkenal playboy, namun saat telah beranjak dewasa malah keseringan jomblo. Ada juga waktu SMA kuper, eh dewasa malah berubah supel. Atau kebalikannya. Semua bisa saja berubah tanpa dapat ketebak. Dulu terkenal pintar malah tidak menjadi apa-apa. Dulu terkenal bandel seantero sekolah justru menjadi orang sukses. Semua prediksi bisa saja berbalik arah.

BUKA KADO ATAU BELAH KADO YA?

Bukan kelas 1.3 namanya kalau tidak selalu berisik dan bikin gara-gara. Seperti pagi itu, menjelang siang hari seperti ini. Kala perut para pelajar sudah mulai memprotes sambil berinstrumentalia sembari meronta-rontra meminta majikannya segera peduli untuk mengisi mereka dengan sebungkus cemilan atau sesendok nasi. Hujan deras yang baru saja reda makin mendramatisir suasana. Dari  jendela lantai tiga tampak ranting pohon yang menjulang keadaannya basah kuyub. Butiran air menetes satu demi satu jatuh ke tanah rerumputan dari ujung daun nan hijau.

 

KETIKA PRASANGKA MENJADI TAK TERDUGA. KETIKA KESEPIAN MENJADI KERAMAIAN..

Ketika pergantian jam pelajaran datang, anak-anak kelas 1.3 memanfaatkan waktu yang terbilang sedikit itu untuk melakukan bermacam-macam aktivitas. Ada yang buru-buru ke toilet karena kebelet pipis. Ada yang dengan sigap mengambil buku novelnya yang diumpetin di dalam laci meja. Ada yang melancarkan rayuan-rayuan gombal. Biasanya dilakukan anak cowok kepada anak cewek yang jadi korbannya. Ada yang langsung ngejeprak tidur di dalam lipatan tangannya. Mirip orang pingsan. Ada yang lari ke arah jendela untuk menghirup udara bebas, seakan sudah bertahun-tahun lamanya terkurung dalam sel penjara. Ada yang main catur, kartu remi dan gaplek. Terakhir ada yang main tebak-tebakan.

“Ayo, siapa yang bisa jabaw tak kasih permen mentos gratis. Apakah perbedannya saya dengan aku?” Tantang Yudo seraya mengibas-ngibas dagunyas. Matanya sedikit berbinbar-binar.

“Aku aku!” Teriak Choi sambil tunjuk tangan. “Mudah nian itu. Itu pelajaran bahasa Indonesia. Kalau kata ‘saya’ digolongkan bahasa yang anda unsur sopan santunnya. Nah, kata ‘aku’ itu kesannya terdengar kasar di telinga. Selain belum baku juga tidak berlaku umum. Apalagi saat berbicara dengan orang yang lebih tua.” Tak dinyana si Choi menjelaskan dengan panjang lebar.

“Choi choi, sudah panjang berbelat belit salah pula. Mau jadi reporter ya kamu.” Potong Yudo tidak sabaran.

“Choi reporter gagal.” Ledek Iwan terkekeh.

“Oke, kalau begitu. Ada lagi yang tahu? Ayo tunjuk jari. Enak lho kalau bisa dapat permen. Lumayan buat ganjil perut. Pada menyerah semua ya? Tebak-tebakan gampang begini pada bengong. Parah ya bahasa Indonesia kalian. Ogud jawab ya. Kalau ‘saya’ berlaku untuk manusia. Mudah nian bukan?”

“Tunggu dulu, kalau ‘aku’ giman? Belum dijawab.” Tanya Choi protes.

“Kamu?”

“Iya. Aku?

“Monyet..”

“Dasar ayam bekicot! Tertipu saya.” Choi menepuk jidatnya yang jenong dan luas itu.

Yudo tertawa puas sambil membusungkan perutnya.

“Gantian dong Yudo. Saya juga punya tebakan.”Ucap Choi sambil semangat. Dia tidak mau kalah set. Coba kamu mengucapkan kalimat ‘monyet bawa paku’ dari pelan ke cepat tapi nonstop ya. Harus jelas. Bisa nggak?”

“Apaan tuh. Bukan tebakan ya. Cemen ah. Kalau bisa hadiahnya apa dulu?” Tanyo Yudo penasaran.

“Ada deh spesial dari saya.”

“Iya apaan. Martabak mesir juga spesial tahu..”

“Ayo tebak dulu. Baru hadiah.”

“Oke!” Yudo menyanggupi tantangan Choiruddin.

“Oke. Kecil itu mah kalau Cuma ngikutin doang. Awas ya kalau kamu bohong. Kucemplungin ke kolam belakang perpustakaan.” Ancam Yudo sambil mengepalkan jarinya mirip petinju.

Choi sempat ketar ketir. Dia tidak berani membayangkan bagaima jadinya bentuk mukanya kalau kena tinju dan dicemplungin di kolam.

Yudo mulai mengucapkan kalimat yang diberikan Choi. Pada awalnya dia menyebutkan dengan pelan, lalu artikulasinya jelas dan teratur. Kelihatan dari wajah-wajah temannya yang manggut-manggut. Kemudian Yudo harus mempercepat ritmenya. Lama kelamaan ucapannya terdengar janggal dan aneh. Ngelantur dan ngawur. Pada akhirnya dia kejebak dan terpeleset mengucapkan ‘ monyet bapak aku’. Kontan meledaklah tawa teman-temannya. Yudo langsung ngamuk dan sadar telah dikerjain oleh si Choi.

“Dasar anak kurang ajar lu Yud! Apa saya tidak salah dengar. Apa tadi kamu bilang ‘ monyet bapak kamu?’ Kuwalat kamu. Masak orangtuanya disamakan dengan monyet. Huyyy!

“Awas kamu Choy kulempar kamu dari lantai tiga”

“Aduuh. Ampuuun.” Yudo dan Choi terlibat kejar-kejaran sampai tersengal-sengal.

Tiba-tiba Ichsan TWEJ slonong boy ikut andil meneawarkan tebakan.

“Saya ada tebakan nih. Ayo Yudo dan Choi balik kemari. Siapa yang merasa jenius silahkan jawab. Saya yakin kalian tidak bisa. Silahkan pilih salah satu. Enak mirip manusia atau mirip monyet?”

“Monyet lagi. Monyet melulu.” Agus ngedumel sambil menghapus papan tulis.

“Hmmm…mending mirip manusia…”Sambar Yudo dan Choi berbarengan.

“Weee, mirip manusia? Artinya kalian itu monyet betulan yang mirip dengan manusia. Sadar juga kalian. Kena deh…”Pekik Ichsan senang sekali karena berhasil ngerjain Yudo dan Choi.

“Sontoloyo!” Berani-beraninya ngatain kita monyet Choy! Ayo uber!” Ujar Yudo sambil mendorong-dorong punggung temannya. “Enak aja. Kamu yang monyet!”

“Ichsanpun akhirnya mendapatkan tempat yang layak di bak sampah sekolah.

Jumat pagi yang cerah dan penuh berkah. Kebetulan tanggal berwarna merah alias libur sekolah. Tampak dua orang sejoli sedang mengobrol mesra dari atas sepeda. Tidak  berapa jauh di depan pagar salah satu rumah berpagar tinggi, keduanya berhenti, lalu mereka turun dari sepeda.

“Vel, Kakak sampai disini saja ya nganternya?” Ucap cowok itu. Ternyata Eveline barusaja selesai sepedaan bersama cowok yang pernah menolong memompa ban sepedanya tempo hari.

“Adik sabar aja. Kakak rasa teman-temanya tidak sejahat yang dikira. Mungkin mereka mau bikin kejutan..”

“Yeah, smoga saja begitu Kak. Rasa-rasanya Evel pengen pindah sekolah aja deh.”

“Wooo…Segitunya. Sudahlah jangan diambil hati.”

“Mampir dulu Kak sebentar.”Tawar Evel, tidak lupa memberikan senyum termanisnya.

“Gimana ya, Kakak kalau sudah mampir tidak bisa sebentar. Apalagi kalau ditemani Evel.”Canda Rizal sambil terus menatap mata pasangannya. Evel buru-buru menoleh ke arah lain.

“Lama juga boleh kok.”

“Kapan-kapan aja ya dik. Kakak tidak enak, sepertinya sedang repot mempersiapkan pesta ultamu. Lagipula bajuku basah dan keringatan. Kapan-kapan saja. Bisa agak lamaan. Oh ya dik, habvis Jum’atan Kakak ada keperluan mengantar adik mengaji.”

“Oke deh. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut lho. Ntar benjol..”

“Benjol?”

“He-e, Di tembok sana ada tulisannya ‘ngebut benjol banyak anak-anak.”

Rizal tertawa lebar. Dia merasa ada sesuatu yang lucu. “Ada ada saja. Balik dulu dik. Titi salam buat orang di rumah. Bye…”

Rizal langsung mengayuh sepeda balapnya. Sempat ngesot sedikit. Akhirnya hilang di balik tikungan. Evel masih menatap kepergian teman barunya itu. Setidaknya dia memiliki seorang teman baru. Saat hendak berbalik, Evel melihat  sesuatu yang membuat jantungnya berdegub kencang. Matanya sedikit memicing. Dia melihat seperti ada rombongan sirkus berjalan ke arahnya. Setelah makin mereka mendekat ternyata  adalah rombongan adalah teman-teman sekelasnya. Eveline begitu terharu. Dia bingung. Menyambut tamu tersebut atau menyambitnya? Menyuruh mereka masuk atau Evel ngumpet pura-pura….

“EEEVEEELLLLL…!!” Teriak Faisol paling kencang. Tangannya dilambai-lambaikan. Dia berteriak berkali-kali mirip rocker Achamd Albar ketika akan membuka konser dengan sebuah lagu. Makin lama suaranya makin parau. Tampaknya Faisol membawa sesuatu. Ngapain dia bawa kandang ayam kemari? Eveline tak mampu berkata apa-apa. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia hampir lupa untuk segera mandi lalu menyambut tamu-tamu istimewa itu.

Faktanya hampir separuh teman perempuan sekelas Evel nongol secara tiba-tiba. Kecuali Faisol dan Tekya ditunjuk mewakili kaum Adam. Bagaikan mimpi disiang hari. Mereka sudah hadir di hadapan Evel. Dan Evel merasa tidak enak hati dan merasa bersalah telah berprasangak yang bukan-bukan. Ceritanya mereka terjun langsung ke lapangan dalam rangka membantu meringankan orang kaya yang akan melaksanakan hajatan ulang tahun. Kalau dipandang sekilas mirip kerumunan sedang berdemo. Keluarga besar Evelin sempat terkaget-kaget dan terharu biru laut dibuatnya. Disangka ada penggusuran mendadak.

Faisol dan Tekya secara simbolis menyerahkan dua ayam kampung kepada Eveline. sebagai hadiah ulang tahun teraneh.

“Sol sol, kenapa bukannya ayam yang sudah dipotong aja sih. Malah ayam yang masih berkokok kamu bawa kemari. Merepotkan orang saja.” Protes Debby sambil mencibir.

“Lagian siapa yang motong? Kita-kita yang mau kamu suruh potong. Kerjaan kami membantu di bagian dapur.” Tukas Yuli sambil berlacak pinggang.

Mau tidak mau harus mau. Kesimpulannya Faisol dan Tekya mencari orang yang ahli dalam menyembelih ayam. Setelah setengah jam mereka datang bersama bapak tua yang didaulat sebagai tukang jagal ayam. Ketika hendak dipotong terjadi kejadian yang lucu, ayamnya malah kabur ke sana kemari. Saking stressnya melihat pisau yang tajam mengkilap. Untunglah sebelum masuk sholat Jum’at ayamnya baru ketangkap dengan bantuan warga komplek perumahan.

Night weekend pun tiba. Rumah Eveline sudah mulai kelihatan ramai. Pesta ulang tahun barus saja digelar. Sama-sama terdengar lagu Dek Sangke.

…Dek Sangke aAku dek sangke

Cempedak berbuah nangke..

Setelah lagu Dek Sangke dan sepatah dua patah kata dari tuan rumah kelar…

Lampu lampu disko berwarna-warni, berkelap kelip menyinari setiap sudut ruangan. Menambah semarak suasana. Apabila sinarnya menerpa mata, cukup menyilaukan.

Alunan musik dan lagu ala Spanyol mengalun merdu berasal dari tape deck tingkat tiga. Kalau sekarang namanya home theatre. Dilantunkan oleh penyanyi Madonna. Lagunya La Isla Bonita. Lagu yang cukup ngetop pada tahun itu. Iramanya cukup menghentak.

…..Tropical the island breeze

All of nature, will and free

This is where I long to be

La Isla Bonita…

Semua yang hadir merasakan aura yang sama. Kegembiraan tiada tara. Terlebih lagi Eveline. Tampak wajahnya berseri-seri. Sinar kebahagiaan dan keharuan terpancar dari wajahnya. Beberapa teman Eveline baik cewek maupun cowok tumpah ruah ke lantai disko. Asik berjingkrak-jingkrak sambil berlenggak lenggok bak bujang gadis Palembang.

“Aku terharu Sol!” Teriak Agus Blepotan kepada Faisol.

“Aku juga terharu akan kesuksesan acaranya ini Gus.”

“Kok kamu ikut-ikutan terharu aja.”

“Maksud kamu terharu yang bagaiman sih Gus.”

“Kan semula Aku pernah request ke Eveline kalau bisa ada acara disko. Biar hobiku tersalur.”

“Ah kamu serasa Rhoma Irama aja. Sok jago joge aja

“Kok Om Rhoma? Dia kan raja dangdut bukan raja disko, tahu!”

“Aku juga suka disko Gus. Emang kamu aja. Eveline! Aku cium kamu!”

“Ena saja. Saya aja pernah naksir belum kok. Dasar muka dangdut!”

“Masa bodo!”

Mereka kembali berjingkrak-jingkak. Tapi saling membelakangi.

Para undangan menunjukkan wajah puas.

Acara demi acara berlangsung santai, tertib dan seru. Apalagi acara semakin meriah, setelah Ichsan dan Yudo didampuk menjadi MC dadakan. Keduanya berhasil menghidupkan suasanan. Mereka dengan bebas meledek para hadirin. Ichsan TWEJ juga mengajak para tamu main tebak-tebakan basi. Zoel diajak Julius untuk menemaninya memperagakan gerakan senam aerobik.

Apto, Agus dan Sony diserahi tugas memandu acara‘selendang kaget’ atau ‘lempar selendang’. Cara bermainnya cukup asikn dimana panitia akan menyetel sebuah lagu jenis apa saja. Selama musik atau lagu dimainkan sehelai selendang akan diestafetkan kepada peserta yang duduk melingkar. Nah, ketika lagu berhenti akan dilihat selendang itu terakhir ada pada siapa. Nah,dia yang akan mendapat hukuman. Hukumannya unik-unik kok. Ada yang didaulat untuk menari, berjoget, melawak, baca puisi konyol.merayu dan lain sebagainya.

Disk jockey amatiran untuk acara disko digawangi oleh Fikry dan Iwan. Seyogyanya mereka musti kompal dalam mengatur lagu dan musik. Ini malah sering bentroknya ketimbang akurnya. Masing-masing saling rebut-rebutan menyetel lagu dan saling mempertahakan egonya. Fikry demen musik hard rock dengan beta-beat cepat sedangkan Iwan  doyan musix remix nonstop dengan lagu khusus dangdut rasa pop barat. Jadi runyam dan berantakan deh. Untungnya perseteruan itu tak berlangsung lama, dikarenakan diprotes oleh para tamu.

Tak terasa malam telah semakin larut. Pestapun usai. Para undangan dari dekat dan dari jauh mulai satu persatu meninggalkan tempat berlangsungnya acara. Rumah besar nam megah itu kini sunyi dan sepi. Masih ada satu atau dua barang yang belum disusun dan dikembalikan ke tempat semula. Tadi teman-teman sekelas Evel bahu membahu membantu membereskan ruangan yang tadi terpakai. Karena kasihan Papa dan kakak-kakaknya Evel meminta mereka untuk pulang. Takut kelelahan dan kemalaman sampai di rumah.

Lampu rumah Eveline mulai dipadamkan oelh penghuninya.

Hanya ada satu kamar tersisa yang belum padam penerangannya. Kamar siapa lagi kalau bukan kamarnya Eveline. Cewek itu tengah asik bergulang guling di atas kasur empuknya. Dia tiduran di tengah genangan aneka macam kado yang menumpuk dan berserakan. Eveline bertekad untuk bergadang malam itu.  Dia ingin sekali mengetahui apa saja isi kado-kado yang dia terima. Ada yang berbungkus cantik, adanya juga yang unik. Ada yang berukuran kecil dan besar. Tiap kado ternyata diselipin kartu beserta ucapannya. Eveline membacanya sambil cekikikan mirip kentawa kuntil anak di tengah malam. Rata-rata isinya kocak-kocak, membuat Evel tak berhenti tertawa. Debby Cs menghadiahi perabotan dalam cewek. Fatimah CS memberikan kado stasionery yang lucu-lucu. Rizal, temen barunya memberikan boneka Little Mermaid yang lucu. Akhirnya..sampai pada kado terakhir dari Agus Belepotan. Isinya membuat Evel sontak kaget juga geleng-geleng kepala. Sepasang pakaian dalam wanita lengkap sebuah BH atau bra berukuran sedang dan celana renang swimsuit two peces. Eit, tunggu dulu si Agus yang malas menulis catatan di sekolah itu meninggalkan secarik kertas surat berwarna oranye. Pas dicium kok bau aroma Baygon.

Hallo Evel manis semanis kue sagon. Seimut kue kumbu.

Selamat ulang tahun yang ke 15. Semoga panjang umur, murah rezeki, tambah dewasa, makin terbuka matanya melihat kegantengan saya yang sesungguhnya. Sukses di sekolah. Sukses meraih cita juga cinta. Jangan buru-buru pacaran dulu ya. Oh ya, jika dalam kurun waktu setahun ini kamu masih belum punya pacar. Silahkan hubungi saya baik lewat surat, telepon, wesel, telegram,handy talkie maupun interkom. Saya bersedia menjadi pacar sewaan gratis tanpa garansi. Mumpung saya mau dan belum kadaluwarsa.

Evel, janganlah ragu ataupun bimbang melihat kado ini. Apalagi sampai kaget. Nanti aku juga ikutan kaget dong. Kado ini memang spesia nuat kamu. Menunjukkan kepedulianku akan anatomi tubuhmu. Maaf, agak privacy memang. Pakailah. Kuharap kamu akan menyukainya. Kuharap pula agar merasa ada seorang Agus di dadamu. Seorang cowok tampan yang sedang mencari jati dirinya. Seorang cowok yang bijaksana yang pernah kamu tolak tembakannya. Mudah-mudah pas ya. Andaipun kelonggaran saya bersedia menemani untuk menukarnya. Selagi pihak toko masih ada garansi. Sebenarnya saya mau mengukur sandiri tapi takut kena gampar. Oh ya teriring salam manis juga untuk keluargamu. Selamat mencoba…

NB : Kado ini dibeli lho, bonnya ada, dan bukang maling jemuran tetangga..(Ketawa dong hehe)

Salam susu kental manis

– Agus Marcelo Blepotand-

Tanpa terasa Evel mulai merasakan kantuk. Sesekali dia menguap lebar. Sesekali dia tersenyum. Perlahan ditutupnya surat dari Agus beramplop pink. Dia menerawang sembari berguman. “Bingo! Kebetulan sekali. Bik Ipah sangat membutuhkan barang ini. Thanks ya Agus…”

Letika hendak menerkam bantal guling, secara tak sengaja Eveline menemukan sebuah kado dibalik tirai jendela. Dengan semangat dia membuka tanpa melihat nama pengirimnya. Setelah mengetahui apa isi kadonya Evel pun pingsan dengan sukses. Dalam keadaan pingsan dia tetap tersenyum. Ternyata kado dari Ferry berisi kepala badut yang meloncat keluar kotal alias  ‘joker in the box’ . MET BOBO YA EVEL…

Iklan

MASA SMA MASA BODO? DALAM : KEJUTAN PENTING TIDAK PENTING DI PESTA HARI LAHIR EVEL…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

KEJUTAN PENTING TIDAK PENTING DI PESTA HARI LAHIR  EVEL…

Oleh : Deddy Azwar

PESTA ULTAH EVEL SARAT URAT SARAF

Beberapa terakhir ini, salah satu temen cewek sekelas Tekya, sesosok Eveline Sihombing  namanya, kelihatan super sibuk sekali. Mondar mandir seperti bis kawasan Trans Musi trayek Unsri-Indralaya. Entahlah apa yang sedang menganggu pikirannya. Evel, gadis blasteran Jerman-Palembang-Batak ini mempunya wajah yang cukup lumayan cakep. Dan tentu saja selalu men

jadi incaran siswa-siswa gelap mata. Terlebih lagi untuk mereka yang masih menyandang gelar jomblo.Jangankan dari kalangan kelas internal, kelas eksternalpun banyak yang antre yang menggoda. Pokoknya Evel merupakan salah satu aset dari kelas 1.3 yang wajib dipelihara dan dilestarikan sekaligus diamankan dari siswa-siswa hidung belang.

Evel…Ayo kalian bisa menebak tidak bagaimana sih orangnya? Logikanya jalan dong, ditilik dari namanya saja mustinya kalian sudah jago membayangkan bagaimana rupa dan bentuk orangnya. Betul kan…? Modern dan milenial gitu atau imperial dan kolonial ya? Tidak seperti makhluk yang menyandang nama Faisol yang kuno cendrung kolonial. Cewek tergolong peranankan indo sih…Coba anda bayangkan sendiri. Bentuk wajahnya yang lonjong, dagunya juga lancip berbelah pula di tengahnya, apalagi ya? Oh ya hidungnya mancung. Mirip dagu Timothy Dalton..(kok cowok? Belum nemu siapa yaa kalau artis pemilik dagu berbelah berkelamin perempuan….oh iya tepat sekali yaitunSophia Latjuba kalee…). Terus…Evel memiliki rambut yang panjang tebal dan agak kepirang-pirangan. Dia tidak terlalu dipusingkan dalam hal perawatan rambutnya. Simple saja, cukup ditarik ke belakang, dibiarkan dan diikat seadanya mirip gadis indian pada umumnya. Alisnya nan hitam merambat bak gajah beriring? Matanya nan sayu dan redup dengan bola mata berwarna kecoklat-coklatan. Membius semua cowok.

Usut punya usut, si Evel ternyata punya benang kusut eh sebentar lagi mau berulang tahun. Tinggal menghitung hari saja usianya akan bertambah genap 16 tahun. Sudah gede lagi…Dia berniat memperingati dan merayakan dimana hari dia dibrojolin dari perut Mamanya. Evel lahir pada salah satu puskesmas di sana, bertepatan ketika Papanya sedang bertugas di Jerman. Tepatnya di Munchen. Di sebuah kota terbesar dimana terdapat klub sepakbola termasyhur di kota tersebut bernama Bayer Munchen. Ada beberapa orang anak kelas 1.3 menganggumi klub ini. Eh kok jadi ngelantur ke tema sepakbolah yaaa..

Kembali ke laptop…Tentu saja Evel berniat merayakan hari istimewamnya itu dengan sebuah perayaan pesta khusus, ya dilangsungkan cukup di rumahnya saja. Biar lebih akrab dan terkesan kekeluargaan.  Rencananya Evel hanya mengundang semua teman sekelas dan beberapa gelintir teman dekat rumah. Tradisi ini sudah terjaga sejak dia lahir. Dari tahun ke tahun selalu dirayakan. Baik perayaan berskala kecil, sederhana maupun mewah. Evel sudah pernah mengalami semua tahapan itu. Terlebih kagi di saat karier Papanya sedang jaya-jayanya. Itu terjadi pada beberapa tahun silam. Semua keluarga Pak Sihombing, termasuk Evel pasti pernah mengecap kisah-kisah penuh kesan dan bermakna. Dan akan selalu teringat sepanjang masa.

Kalau untuk menyewa gedung pertemuan yang memuat banyak tamu, pas lihat tabungannya tidak memadai. Apalagi untuk membooking lounge diskotik. Nggak kebayang deh kayaknya…Lagipula  gaya banget untuk sebagai seorang pelajar sekolah. Beda halnya kalau dirinya bertitel selebriti. Untuk meminta traktir Papa atau Mama, Evel agak segan. Takut merepotkan mereka.

Setelah  mengadakan rapat keluarga, akhirnya ulang tahun Evel telah disetujui. Dan disepakati lokasi pesta di rumah sendiri. Sebab tetangga menolak untuk dipinjami rumah mereka. Haha. Pihak keluarga akan membentuk panitia kecil serta akan melibatkan beberapa kerabat dekat. Seperti tante Butet dan abang Ucok juga. Papa menolak keras pagar bagus. Iya eyalah…emang mau mantenan?!

“Vel, dana dari Papa dan Mama hanya segitu. Kamu cukup-cukupi aja. Kecuali kamu mau nambahin dari tabunganmu sendiri. Papa sarankan pestanya sederhana saja. Jadi kalau bisa tidak menganggu gugat duitmu. Oh ya, ada sumbangan juga dari salon kakakmu. Yeah…walaupun tidak begitu membludak. Tinggal kamu bagaimanan memanage dan mengkalkulasinya.”

“Iya Vel. Urusan konsumsi serahkan saja ke Mama. Nanti Mama yang tangani semua. Insya Allah Mama sanggup kok. Kita tidak perlu memesan ke Bakery manapun. Jadi kita bisa menghemat pengeluaran. Mama sempat cari-cari info ke toko kue di pasar. Semua harga barang pokok pada naik. Otomatis berimbas juga ke mereka. Beberapa kue langganan mengeluh. Walaupun berat hati mereka terpaksa harus menaikkan harga pula. ” Mama Evel menimpali.

“Iya. Makasih Mama.” Ucap Evel pelan. Walaupun ada sedikit nada kecewa dari roman wajahnya yang sayu. Akan tetapi dia akan mencoba berbesar hati untuk menerima kesederhanaan pestanya. Evel berusaha bersikap dewasa untuk memaklumi semua itu.

“Sabar ya adikku cakep…”Bisikan halus keluar dari kakak tertuanya yang bertugas mengelola salon milik keluarga. “Kebetulan pesta ulang tahunmu kali ini giliran kita sedang tidak mempunyai banyak uang. So super simple. So sederhana banget. Menurut kakak ini kali pertama orangtua kita tidak dapat membantu banyak dalam soal keuangan. Tidak seperti biasanya. Dulu kita masih mampu menyewa restoran, gedung pertemuan, cottage bahkan lounge sebuah hotel. Toh dulu semua anaknya telah puas merasakannya. Adakalanya kita berada pada posisi yang tidak kita inginkan. Kita harus belajar ikhlas. Sejak kecil, pada saat kita masih culun-culun, rezeki orangtua kita masih lancar jaya. Dahulu bisnis salon sedang booming dan persaingan masih sedikit. Sekarang kamu lihat bisnis salon sudah banyak bermunculan kayak jamur. Beberapa tetangga kita juga mempunyai salon. Persaingan semakin ketat. Semakin kesini rezeki rada seret.”

Semua wejangan diterima Evel dengan lapang dada. Kepalanya semakin menunduk. Terbenam dalam kesedihan. Tidak dapat dipungkiri, dia merasa mendapat giliran ulang tahun yang apes. Evel berusaha tegar dan tidak larut dalam kecewaan. Evel berusaha memainkan mimik mukanya guna menahan tangis. Dia mencoba untuk menahan. Seandainya dia menangis, tentu akan membuat kedua orangtua dan kakak adiknya bersedih. Evel tidak ingin semua itu terjadi gara-gara ke-mewek-kannya.

“Kesimpulannya…”Kali ini Mama menutup pembicaraan..” Kita beli apa yang sepantasnya kita beli. Itulah yang kita butuhkan. Kita harus fokus dan jangan macam-macam. Kita juga harus hemat. Kamu jangan kawatir. Perkara masak bakso dan mie celor biar Mama yang tangani bersam bibik dan Kak Oval. Oh ya perlu ditambhakan penganan mpek-mpek juga kan?  Pasti temen-temenmu suka dan berebutan kayak tahun lalu. Haha..Mama dan bibik sampai kerepotan. Habis mereka minta tambah lagi.

Semua yang hadir dalam rapat tertawa dan tersenyum.

“Perabotan yang di ruang tamu dan ruang tengah…”Mama melanjutkan, “kita ungsikan sementara ke gudang dulu. Biar ruang tamu kita kesannya luas. Kue Mak Suba kan Mama tidak jago membuatnya. Bagaimana kalau kita pesan ke tante Ujuk? Murah kok..Evel setuju tidak?”

“Eve rasa tidak perlu Ma. Kan kata Mama sendiri kita harus hemat. Bagi Evek menurut Mama murah, harga itu mahal menurut Eve lho Ma.”

“Ya udah kalau tidak jadi.”

“Acara diskonya jadi nggak Ma?” Tanya Evel agak ragu.

“Apa? Disko Vel…” Nada Mama agak tinggi menjawab pertanyaan anaknya. “Mama rasa nggak perlua ada disko-diskoan Vel. Kamu lupa ya bahwa acara ultahmu kan diselenggarakan di rumah bukan di diskotik. Acara disko itu kan membutuhkan ruang yang besar. Rumah kitakan sempit.”

“Masak nggak ada acara joget-joget Ma? Tidak seru dong!” Protes Evel. Dengan sigap Mama menarik lengan Evel pelan. Lalu membenamkan kepala anaknya ke dadanya dengan lembut. Diciuminya rambut Evel dengan rasa sayang. Evel mengikuti saja walau mulanya agak kaget. Mama suka kadang bertindak sayangnya  berlebihan. Evel tidak dapat berkutik dan pasrah.

“Mau dong Ma..” Kak Vina iri melihat pemandangan tersebut. Ternyata semua anaknya mengerubungi Mama dengan manja dan centil.

“Idih..semua minta dipeluk. Ayo siapa lagi..?” Tantang Mama sambil melirik Papa yang mesem-mesem.

“Papa nggak mau ikutan nih..”Goda Evel.

“Nanti aja bagian Papa malam aja ya Ma. Haha.”Balas Papa.

Akan tetapi sepertinya problem disko ini belum habis sampai di situ aja. Pada keeseokan harinya, Evel habis pulang dari sekolah buru-buru mencari-cari Mama di dapur. “

“Ma…kata Neneng, kalau tidak ada cara disko nggak seru. Kuno..Tadi Evel diledek remaja yang tidak berjiwa muda, kolot dan kuno Ma.” Lapor Evel setelah menghadap Mama. Acara meracik bumbu baksonya diistirahatkila nan dulu. “Neneng siapa Vel?” Tanya Mama dengan sedikit sebel dan gemas. Gara-gara si Neneng, persoalan disko yang kemaren sudah clear menguak kagi, dan diungkit-ungkit kembali oleh Evel. Ingin rasanya Mama menyedot ubun-ubunnya temen Evel yang bernama Neneng itu dengan vacuum cleaner. Wow!

Belum habis kesabaran Mama. Tiba-tiba..

“Ada benernya juga Ma…”Sekonyong-konyong Papa nongol dari ruang tamu. Kebetulan hari ini Papa mengambil cuti kantor setelah beberapa malam rally lembur alias pulang malam. “Biar salah Ma. Namanya juga anak muda. Biarkalah mereka melepas energi dan semangat muda mereka dengan joget-joget dan berjingrak-jingkrak. Daripada nyewa diskotik. Asal tertib dan nggak ribut.”

“Papa lucu deh.” Adik Evel yang masih SMP ikut nyeletuk.”namanya juga ngedisko, pakai musik, joget-joget, jingkrak-jingkrak. Sudah pasti ribut dong Pa. Kalau adam ayem bukan disko namanya,tapi selamatan.”

Evel, sedari tadi hanya mematung saja. Menjadi pendengar setia.

“Bisa aja kok. Siapa bilang acara disko nggak bisa susasanya diciptakan hening dan sunyi . Coba aja di kuburan.”

Semua tertawa mendengar celetukan papa.

“PAPA!!” Papa ini apa-apaan sih. “ Mama Evel segera meredam suasana. “Disko itu kayak orang bego, Pap! Papa ingat ya?! Kok malah melanggar aturan yang telah kita sepakati kemaren. Tidak boleh Papa. Rumah ini sudah sempit. Ruangannya kurang mendukung. Lebih baik jangan deh. Nanti nenek-nenek tetangga kita pada jantungan mendengar hiruk pikuk dan hingar bingar.”

“Idiiih. Mama ini bagaimana sih. Mama sudah lupa ya. Kita pertama kali kan di diskotik. Pas ladies nigt pula. Lokasi itu menjadi tempat pelarian Mama waktu stress sama pelajaran sekolah.”

“Iya sih. Tapi karena rasa solider aja sama temenku minta dikawani. Tapi kami tidak macam-macam. Hanya mendengarkan musik dan melihat orang berjoget saja kok.”

“Saya sempat hampir menuduh Mama tergolong perempuan yang gimanaaa gituuuu.” Ujar Papa mesem-mesem.

Mama langsung menyubit pantat Papa dengan gemes. “Ternyata kalem dan pemalu kan..Pa?”

“Lain kali ingin menghilangkan kegalauan di toko buku dong. Atau ke bioskop kek, nonton film bollywood.” Ceplos Papa. Kalau dipikir perkataan Papa ada benarnya juga. Untungnya dahulu Mama tidak ketagihan ngedisko atau terjerumus ke dalam pergaulan remaja yang suka dugem.

Evel membawa dan mengantarkan sendiri undangan pesta ulang tahunnya. Baik kepada teman main dekat rumah, teman segank, sepupu dan tentu saja untuk teman-teman sekelasnya. Evel tidak ada keberanian untuk mengundang wali kelas dan para guru. Dia takut jadi bahan becandaan, bahan percontohan oleh gurunya apabila suasana perayaan ultahnya berlangsung kacau alias tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Belum lagi dibully oleh teman sekelas.

Evel, secara mandiri pula berbelanja berbagai perlengkapan ulang tahun, sepeti hiasan, balon dan pernak-pernik di departmen store. Tahu-tahu, pulangnya memborong belanjaan nan bejibun. Saking penuhnya keranjaan belanjannya, Evel sampai mencarter oplet lho. Bukan berarti Evel tidak punya teman yang bisa diajak belanja. Dia tidak mau merepotkan orang lain. Pendek kata, dia ogah mengandalkan orang lain. Dia risih jikalau anggaran dan konsep acara ulangtahunnya diketahui banyak orang. Sudah bukan suprise lagi toh!

Beberapa menjelang hari H, Evel kok merasakan sesuatu hal yang ganjil dengan suasana dalam kelas. Biasanya hiruk pikuk sekarang sunyi, tenang dan adem ayem. Dia memandangi satu persatu wajah-wajah teman sekelasnya yang mempunyai kesibukan masing-masing. Mereka tidak seperti saling mengenal. Ketika pagi hari dia memasuki kelas, menoleh ke arahnyapun tidak. Boro-boro ada yang menanyakan…”Vel, sudah sampai dimana persiapan ulang tahunmu?” Atau “Vel,..kalau nggak ada acara ngediskonya ditukar dengan acara sun-sunan dong?” Atau “Vel…aku masing bingung mau ngasih kado apa ya ke kamu.” Atau…”Vel, apa yang bisa kami bantu sebagai teman sekelasmu nin?” Dan… masih banyak lagi beraneka pertanyaan tanda keakraban yang Evel tunggu-tunggu dan harap-harap butuh.

Pokoknya, tak ada tanda kepanikan warga kelas 1.3 dalam menyambut ulang tahunnya yang tinggal menghitung hari. Terus terang dia seperti sangat dicuwekkan. Kejadian begini ini sungguh tidak mengenakkan. Dia bertanya-tanya ada apakah gerangan yang terjadi. Kesal bercampur dongkol. Serasa makan mpek-mpek tapi rasa jengkol..Apalagi ketika secara kebetulan Evel berpas-pasan dengan Arleni dan Fatimah. Dari kejauhan sudah ketebak mereka sudah pasti saling bertemu. Eh-eh ketika jarak sudah mulai berdekatan, Fatimah dan Arleni malah membelol melewati  jalan lain. Kenapa mereka sepertinya menghindari saya sih, pekik Evel dalam hati. Hampir saja Evel memanggil akan tetapi malah suara parau yang keluar.

Jangan-jangan teman-teman pada sekongkol mencuwekkanku dan memusuhiku gara-gara di perayaan ulang tahunnya acara joget diskonya dicoret dari daftar acara. Aneh bener ya. Dasar! Temen temenku kebanyakan menonton sinetron rupanya. Evel berkeyakinan temen-temen mungkin sedang menyiapkan sebuah kejutan untuknya di pesta hari ulang tahunnya nanti. Mana mungkin sih gara-gara soal sepele itu dapat merusak arti sebuah persahabatan.

FACE TO FACE IN THE CLASS

Pada keesokan paginya, Evel mencoba mengetes kembali kelakuan dari temen sekelasnya. Apakah ada perubahan atau malah lebih parah? Evel melangkahkan kakinya menuju ke arah kelas. Ketika jarak enam langkah menuju kelas Evel memperlambat gerakannya. Nyaris seperti berjingkrak-jingkrak. Mirip anak cewek habis pulang ngedugem kemalaman memasuki rumah.  Sesampai di kelas Evel hanya melihat sesosok cewek centil berambut tebal beromba-ombak dan berkacamata tebal. Namanya Debby. Saat itu dia sedang menulis di sebuah buku bersampul coklat kopi. Siapa tahu  si Debby tidak ikut-ikutan aksi tutup mulut seperti beberapa anak lainnya.

“Hallo Deb, sedang ngapain?” Tanya Evel seraya mendekatkan kepalanya ke bahu Debby. Saking dekatnya. Selintas Evel menangkap aroma harumnya wewangian dari rambut milik Debby. Evel seakan dihipnotis.

“Hallo juga Evel..Anu..Aku sedang mencatat yang ada di papan tulus. Emang kamu tidak tahu?” Debby balik melepar pertanyaan. Ayo buruan catat. Tidak lama lagi akan dihapus sama tim yang piket pagi lho.” Pandangan Debby tetap tidak lepas ke arah papan tulis. Seakan enggan menatap wajah Evel yang manis itu.

“Oh ya? Mauuu dong. Ntar aku copy paste ya…”Teriak Evel antusias.

“Boleh aja. Oh ya, sebentar lagi Aku mau menghadiri rapat OSIS.”

“Rapat OSIS?” Ada nada kaget di dalam pertanyaan Evel barusan. Kening mengeryit. Sampai-sampai alisnya nyaris menyatu. “Lho, bukanya khusus kelas dua ke atas? Sedangkan kita baru kelas satu toh.”

“Betul sih Vel. Tapi kemaren wakil ketuanya bilang bahwa tiap tahun siswa kelas satu diizinkan mengajukan sembilan calon untuk duduk mengisi kursi di seksi-seksi OSIS.”

“Berarti sudah ada ketentuan baru dong.”

“Itu sudah peraturan kapan taon Vel. Sudah kadaluwarsa.”

“Baguslah. Berarti sudah tidak ada diskriminasi senioritas ya.”

“Hal ini konon sudah menjadi tradisi di sekolah kita. Mereka ingin ada sistem regenerasi dalam organisasi OSIS. Ya, semacam turun temurun lah. Dari ketujuh kelas yang ada di kelas satu akan dicomot wakil-wakilnya untuk digojlok menjadi anggota OSIS yang tangguh.”

“Oh, begitcyu toh…”

“Bagaimana?” Debby mulai mendongak ke muka Evel.

“Bagaiman apanya?” Tanya Evel dengan raut muka rauh kebingunan. “Aku nggak ngerti.”

“Maksudku…Kamu tertarik tidak bergabung di organisasi ini. Asik lho. Yeah..hitung-hitung belajar berorganisasi. Punya banyak kawan. Terutama cowok-cowok keren dan pintar lho. Belajar berdiskusi, mengeluarkan pendapat. Ikut rapat-rapat. Manfaatnya yang lain nanti kita sudah tidak canggung-canggung lagi ketika terjun ke masyarakat. “

“Gimana ya…”

“Ayolah. Nggak usah kebanyakan pertimbangan untuk kegiatan positif seperti ini. Konon banyak alumni kita yang sukses sebelumnya semasa sekolah mereka terlibat dalam OSIS ini.”

“Yang kudengar kebanyakan pemimpin atau orang sukses bermula dari OSIS. “

“Nah, itu kamu sudah tahu.”

“Jangan sekarang Debby. Banyak yang sedang kupikirkan. Aku takut tidak dapat membagi waktu dan menganggu pelajaran.”

“Kamukan pintar. Tidak mungkinlah. Alasan aja deh kamu. Temani Aku dong. Biar kita bisa bersama.” Debby mengeluarkan jurus merayu mautnya. “Aku yakin seyakin-yakinnya kamu pasti bisa menanganinya kok. Tinggal bagaimana kitanya aja si Vel. Betu tidak?”

“Ahn kamu bisa saja. Nanti saya kasih kabar deh secepatnya. Sementara hold dulu. Aku pikir-pikir dulu apa untung ruginya.”

“Dasar otak dagang kamu! Kabarin ya ke Aku bahwa kamu mau. Nyatet lagi ah. Waduh sduah mau bel masuk nih.”

“Dasar anak rajin! Jangan terlalu diforsir, Deb. Dari tadi buru-buru amat ,mencatatnnya. Si amat saja tidak buru-buru kok. Hahaha. Santai sajalah. Oh ya Deb…Jangan sampai nggak datangnya lho nanti. Awas!”

“Undangan? Datang? Aku jadi bingung deh Vel?” Tanya Debby polos dengan mata melotot.

“Aduh Debby, jangan berlagak pilon deh. Coba kamu cek deh. Undangan khusus buat kamu sudah kutitipkan ke Novelita. Emang nggak sampe apa? Nggak perlu pakai perangko dan stempel kilat khusus lagi itu!” Nada suara Evel meninggi. Jari telunjuknyapun turut menari-nari.

“Oke oke. Emangnya siapa yang mau kawinan sih? Pembantu kamu?”

“Sebelku jadi dobel deh. Yaaa, soal undangan hari jadi Akulah. Hari ulang tahunku. My birthday. Kamu tak ubahnya seperti yang lain. Pura-pura tidak tahu, apa tidak mau tahu alias cuwek sama sahabat atau benar-benar lupa. Beda tipis deh kayaknya.” Evel kambuh penyakit nyerocosnya.” Sekarang ada nada hopeless di suara Evel.

“Walang kekek! Bujubune! Sontoloyo! Kalau terkait undangan ultahmu tentu saja Ogud tidak bakalan lupa. My dear…Tahu?!” Debby sudah mulai tidak tahan mendengar ocehan brutal yang tumpah ruah dari mulut Evel yang mungil dan bibirnya nan merah merekah. Debby kawatir jika Evel tiba-tiba ngerajuk, lalu mengeluarkan ait mata lalu….menangis dan mewek. Ah bisa kacau dunia persekolahan. Kalau sudah kejadian akan susah menenangkan hatinya.

“Oke, kalau memang aku ingat. Kapan acaranya?” Evel mengetes.

“Malam minggu kan..”

“Tepat sekali. Lima buat kamu…” Evel mengacungkan jempolnya.

“Yeaa kok lima sih? Pelit amat.”

“Habis kamu sudah membuatku jengkel.”

“Lagian kan masih atuh…”

“Biarin. Walaupun masih lama persiapan musti mateng Deb. Betul apa betul?”

“Betul.”

“Maaf ya Vel…” Ucap Debby lirih.

“Sudahlah. Tidak perlu dipikirin. Jauh hari sudah dimaafin kok.”

“Bukan soal itu..”

“Lho, lantas soal apa?”

“Sampai saat ini Aku belum bisa bantu-bantu di rumahmu.”

“Oh itu. Tidak perlu repot-repot kok. Hingga detik ini masih bisa kutangani kok. Nanti kalau pas Aku butuh bantuan pasti calling kamu. Jangan kawatir.”

Ketika Evel akan beranjak menuju bangkunya, sedikit dia menoleh dan berkata, “Oh ya Deb, semalam Aku lihat boneka Mickey Mouse cakep deh.”

“Memangnya kenapa Vel,” Debby sekali berlagak pilon. “Lagian sejak kapan kamu suka main boneka?”

“Idiih Debby. Ini kode dari Aku tahu?!” Evel mencoba mengerling tapi gara-gara kurang ahli, berakibat malah kedua matanya berkedip. Seperti orang kelilipan.

“Kode?? Oh, mau menjadi Ethan di Mission Imposible ya..Hahaha.”

“Bukan. Maksudku tu boneka Mickey Mouse cocol dijadikan kado lho..”

“Eh busyet!” Evel evel. Ternyata itu kodenya.”

Debby hanya mesem-mesem aja. “Boleh sih tapi….nggak janji.”

TEROR TELEPON MISTRIUS UNTUK KELUARGA AGUS

Dalam seminggu ini terjadi kejadian yang menyebalkan di rumah si Agus Blepotan. Jika dihitung-hitung dengan jari kaki, ada kali selusin kali  telepon di rumahnya berdering terus. Beda tipis mana bunyi bel mana bunyi telepon. Habis zaman dulu tidak ada ringtone polyponic.

Jangan salah sangka. Telepon berbunyi bukan pertanda Papanya Agus Blepotan seorang pengusaha yang selalu ditelepon mitra bisnisnya. Bukan pula Papanya jualan atau sales perabotan dan barang pecah belah sehingga saban hari diganggu oleh pelanggannya yang hendak memesan barang. Bukan pula seorang salesman yang menjual beraneka macam dan warna BH khusus Ibu-ibu, mba-mba maupun mbok-mbok centil yang menelepon karena kompalin dikarenakan karet busanya berasal dari stereofoam. Semua tuduhan itu salah besar. Entahlah sebesar apa.

Apalagi sampai menuduh telepon dari itu berasal dari fans fanatiknya Agus Blepotan. Tidak mungkin 100 persen. Karena dia bukan artis. Jangan salah arti ya. Maksud fans di sini buka para penggemar yang mengelu-elukannya. Namun fans itu terdiri dari kumpulan pekerja-pekerja berat butuh keahlian khusus. Hebat kan…Seperti tukang becak, sopir oplet dan tukang warung. Tidah subuh, tidak siang, tidak sore tidak maghrib malah sampai menjelang larut malam tiada berhenti berdering. Benar benar bikin pusing dan meneror seisi rumah.

Asal tahu saja. Suara yang keluar dari gagang telepon dari seberang sana sama sekali tidak enak mendengarnya. Sungguh menyebalkan dan memancing emosi untuk marah. Agus mencoba-mencoba mengingat-ingat sepanjang hidupnya, selama dia bersama keluarganya tinggal di komplek perumahan lapas itu belum pernah sekalipun mereka diteror oleh penelepon gelap. Kecuali penelepon berkulit gelap alias hitam atau negro. Itu mah sering. Baru kali ini ada makhluk yang berani bertindak tidak sopan dalam hal bertelepon kepada kepala rumah tahanan. Kalau di analisa nih orang termasul orang yang bernyali besar juga. Walaupun dia hanya berani menunjukkan suara jembrengnya saja.

Kita boleh sebut dia orang asing yang mistrius. Dari suaranya yang bernada getar menggelegar ketahuan bahwa dia berjenis kelamin laki-laki. Sauaranya sengaja di macho-machoin dan diserem-seremin. Agak parau, serak-serak monster dan disertai batu-batuk ala TBC sedikit.

Tebakan Agus kalau dari usianya berkisar 35 tahun ke atas. Menurut feeling Agus nih orang bisa jadi mantan buronan atau residivis yang sudah dibebaskan dari penjara namun merasa tidak puas mungkin dengan perlakuan selama dia mendekam di sana. Mungkin juga dia tidak puas dengan menu atau kokinya. Kepengen makan hamberger malah dikasih tahu tempe plus ikan asin goreng. Jadi tengsin berat. Atau pernah sekali waktu dia minta di pasangin AC atau dibeliin TV LED namun tidak dipenuhi. Ngambek jadinya.

Usut punya usut jika ditelusuri makin kusut dan semaput. Begitu gambaran kondisi keadaan rumah keluarga si Agus saat ini. Ancaman dari penelepon gelap sebenarnya ditujukan kepada Bapaknya Agus. Hanya saja dia sering kesal karena setiap telepon dijawab selalu bukan dari Bapaknya Agus. Seringnya sih pembantu rumah tangganya dan anggota keluarga yang lain. Kebetulan Bapak Agus yang menjabat sebagai kepala Lapas adalah orang yang sibuk. Dia sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap baik keamanan maunpun kesejahteraan para penghuni sel. Ini menyangkut soal kredibilitas karirnya. Bayangkan saja rata-rata penghuninya dari berbagai latar belakang profesi. Dari politikus, bankir, karyawan, pengusaha dan penggangguran. Kasusnyapun beraneka ragam seperti pencuri, pencopet pembunuh sampai kasus korupsi. Sangat complicated banget. Lalai sedikit saja bakal mencoreng nama negara. Karena tidak becus mengurus para tahanan. Coba bayangkan seandainya mereka lepas karena kurangnya ketatnya penjaagaan membuat mereka melarikan diri. Mereka tentu akan mengancam ketentraman masyarakat sekitar rumah tahanan khususnys dan masyarakat umum.

Akibat dari semua itu membuat Bapaknya Agus menjadi emosi berat dan ikut-ikutan stress lantaran dia dilarang oleh anggota keluarga untuk menjawab telepon sableng itu. Padahal Bapaknya Agus sudah siap mengomelin tuh sipenelepon sekaligus siap menerima tantangan seandainya diakjak ketemuan ataupu berduel. Dia merasa sama sekali tidak mempunya musuh. Musuhnya Cuma dua iblis dan setan!

Padahal selama berkarier sebagai orang tertinggi jabatannya di rumah tahanan, setiap tahanan diperlakukan secara kemanusiaan dan sesuai prosedur. Malah saking sayangnya lama masa tahanannya kadang suka ditambah lagi. Hehehe. Mungkin berat untuk meninggalkan lapas tercinta dan penuh kenangan?!

“Coba Bapak ingat-ingat duku deh, “desak Ibunya Agus dengan penuh ketidaksabaran, “Siapa tahu Bapak pernah menyakiti salah satu di antara tahanan itu di waktu lampau tapi mungkin Bapak lupa. Kalau tidak ngapain si kambing buluk itu menteror keluarga kita terus-terusan. Lagian berani banget sih dia menteror kepala lapas yang disegani di kota ini. Kayaknya dia kepengen dimasukkan ke sel lagi. Biar tahu rasa!”

“Ah, barangkali orang iseng atau orang gila yang tidak ada kerjaan saja,” Tangkis Bapak. Seingatku dulu sih ada anak tahanan pembunuh bayaran yang merasa dendam. Kalau tidak salah namanya Mat Codet. Tapi ujungnya kan sudah berdamai. Malah kami bersahabat. Baru semenjang ikut anaknya merantau ke Kalimantan saya lost kontak dengan dia.

“Oh ya Ibu ingat juga si Mat Codet. Coba siapa lagi Pak? Belum kakek kakek sudah pikun. Apalagi kalau sudah punya cucu.” Ibunya Agus setengah memaksa. Bukan apa-apa dia hanya ingin masalah ini segera kelar.

“Oh ya mungkin si Joni Kokang…?” ucap Bapak pelan karena masih lemas habis lembur.

“Joni Kokong kali Pak. Kerjanya suka mabuk-mabukan. Dulu Bapak sering berantem kecil-kecilan sama dia. Ingat kan katanya Bapak dulu pernah memaksa dia menenggak kecap manis sampai muntah-muntah. Hahaha…”

“Oh ya Bapak menjuluki dia dengan sebutan Joni Songhi. Kapan ya berantemnya? Oh waktu kami masih sama-sama lajang, muda dan ganteng….”

“Ehemmmm..” Ibu berdehem mencibir.

Pembicaraan mereka akhirnya terhenti oleh lagi lagi oleh bunyi dering telepon.

RIIINGGG!!

Mereka secara refleks bertatapan dengan mulut yang tertutup rapat.

TEROR TELEPON LAGI BIKIN DEMPLON

Hari Sabtu yang cerah, Agus Blepotan sedang asik bermain game perang-perangan di SEGA. Dari pagi sampai menjelang siang dia asik saja menembaki para tentara NAZI. Sampai lupa untuk memasak nasi untuk makan siang. Tekun banget main gamenya. Joystick dipegang erat serta mata memandangi layar TV dengan serius tak berkedip. Markas mereka dia gempur tanpa ampun. Bom molotov dia lemparkan ke segala arah. Dalam hitungan menit dia akan segera menguasai anak buahnya Adolf Hitler. “Sebentar lagi mereka akan menjadi tawananku. Hahaha…” Ledek Agus lagi.

Agus benar-benar merasa merdeka hari itu. Kebetulah seluruh isi keluarga kecuali dia pada pergi kondangan ke Pagaralam. Letaknya dipinggiran kota Palembang. Kira-kira menempuh waktu dua jam dengan berkendara mobil. Sedangkan pembantunya tidak mau kalah juga, sudah minta izin cuti karena ada kondangan. Jujur, Agus bete ditinggin sendiri di rumah. Untungnya dia mempunyai video game hadiah dari Opungnya sewaktu dia berhasil lulus SMP. Orangtuanya tidak begitu suka dengan jenis hadiahnya. Takut anaknya jadi malas belajar dan malah membuat anaknya ketagihan main game. Tapi Agus sudah berjanji tidak akan maniak game. Tidak perlu memakan waktu lama bagi Agus untuk melengkapi koleksi CD gamenya. Sampai saat ini dia hampir memiliki semua jenis permainan. “Coba kalau tidak ada video game, mana betah bah Aku di rumah.” Agus membatin. Ketika permainannya mencapai level terakhir, tiba-tiba telepon di ruang keluarga berdering kecil. Volumenya sengaja dikecilkan semenjak teror penelepon gelap minggu lalu. Sempat beberapa hari si penelepon libur dulu mungkin karena kehabisan koin. Agus dengan malas-malasan mengangkat telepon.

“Hallo? Ya, Selamat siang juga? Maaf dari siapa ini?”

“Hallo juga. Panggil saja saya Pegel. Ini siapa?” Sepertinya suara laki-laki.

“Saya….Gus Bonaparte. Anak dari yang punya rumah ini. Mau bicara dengan siapa?”

“Ya, tentu saja saya mau berbicara dengan Bapakmu. Saya nggak ada urusan dengan anak-anak..”

“Oh..” Agus langsung membanting telepon dengan kesal. “Biar tahu rasa!”

Telepon itu berbunyi lagi.

“Hallo?”

“Hey, kenapa teleponnya ditutup? Dasar anak kurang ajar ya. Berani-beraninya main tutup aja. Awas kamu ya!”

“Hey…ngapain Bapak sewot. Kan tadi bilang tidak ada urusan dengan anak-anak?!”

“Iya ya. Betul juga.”

“Bapak saya sedang kondangan. Belum pulang. Nanti kalau sudah pulang tidak usah telepon lagi. Tinggalkan pesan saja.”

“Enak saja. Bilang sama Bapakmu yang jelek itu ya, jika masih doyan hidup di dunia, segera lepaskan teman kami yang baru dia tahan 2 bulan lalu. Ingat tanpa syarat ya.

“Jadi-jadi Bapak to yang suka menelpon saban waktu. Dengar ya Bapak jelek abadi , Bapak telah menganggu ketentraman kami. Telah menteror kami.” Agus memberanikan diri menghardik bapak itu karena saking kesalnya. “Sudah suaranya kayak boneka Sesame street pakai diseram-seramin pula. Hihi. Tidak lucu ya.”

“Apa kamu bilang?!” Si penelepon gelap naik tensi. Dia tampak marah dimaki-maki oleh anak SMA. “Awas ya kamu anak brengsek! Kalau nanti dapat saya bikin pempek kapal selam ya.”

“Wowoowooo…Kami sekeluarga tidak takut dengan ancaman kamu! Hallo? Hallo?”

Sayang sekali, teleponnya sudah keburu ditutup. Agus lega. Dia mengambil nafas panjang. Sebenarnya Agus rada merinding juga. Rasa sayangnya kepada Bapaknya membuat nyalinya keluar untuk memaki-maki. Jujur, setelah habis menelepon dia merasa takut sendiri. Dia kawatir sang penelepon gelap itu tiba-tiba menjadi gelap mata dan segera mendatangi rumahnya dan menghabisinya bersama gerombolannya. “Mati Aku, ngomongnya kelepasan.” Muka Agus langsung berubah  pucat. Lima menit kemudian dia melanjutkan permainannya walaupun dengan konsentrasi buyar.

KUMPUL KUMPUL SERU DI RUMAH ARLEINI

Di sebuah rumah gedong alias middle cost housing alias rada mentereng. Sedang berkumpul sebagian serdadu cewek kelas 1.3 di sebuah teras halaman belakang yang luas lagi bening keramiknya.  Disekelilingnya dihiasi taman-taman dengan bunga-bunga hiasan yang berharga mahal. Terhampar di halaman  sekumpulan rumput jepang nan hijau laksana permadani membentang. Rumah Arleini saat ini sedang didaulat menjadi markas. Kenapa musti di rumahnya? Alasan pertama tidak lain dan tidak bukan karena Evel teman sebangkunya baik suka maupun duka. Mereka telah berdeklarasi bahwa mereka adalah teman yang cocok satu sama lain. Alasan kedua dikarenakan rumah Arleini cukup memadai menampung acara diskusi mereka. Tak bisa dipungkuri Arleini yang suka berpenampilan sederhana itu ternyata anak orang kaya. Rambutnya yang hitam lebat sebahu itu mengingatkan kita akan artis tahun 80an seperti Maya Rumantir, Anita Carolina Muhede dan Yessi Gusman di kala muda. Arleni bukan termasuk tipe tidak belagu dan sok pamer, seperti yang sering dilakukan oleh anak-anak pejabat yang sok kaya. Walaupun sedikit pemalu, Arleini termasuk orangnya supel dan mudah bergaul dengan siapa saja. Arleini tidak pelit dan sombong. Tidak jarang dia sering mentraktir nonton atau makan di kantin.

Semua juga tahu Papanya Arleini adalah Manager area di sebuah perusahaan asing yang memproduksi alat-alat berat. Karena keahlian dan keprofesionalannyalah membuat Papanya sering berpindah-pindah dari suatu kota ke kota lain. Sudah dua tahun belakangan ini mereka sekeluarga menetap di kota Palembang. Sebelumnya mereka pernah menetap di Samarinda, Manado, Ujung pandang, Surabaya, Medan, Pekanbaru dan Jakarta. Tidak heran antara Leni dan adik-adiknya lahir di kota yang berbeda-beda. Tak terkecuali tempat mereka mengenyam pendidikanpun tak luput dari perpindahan. Arleni bahkan sedikit banyak jadi menguasai dialek daerah lain. Arleini selalu menikmati dengan ikhlas dan happy setiap kota yang mereka tinggal.

Sementara itu angin sepoy sepoy  berhembus kesana kemari seakan menambah sejuknya suasana hari Sabtu. Beberapa anak perempuan yang memiliki rambut panjang nampak menyibak rambutnya yang berantakan karena kena tiiupan angin. Tak terkecuali Fatimah, bahkan mengkucir rambutnya yang hitam bergelombang.

“Amboy, disini anginnya enak ya. “ Seru Fatimah sambil terus membetulkan gaya rambutnya.

“Bawa pulang aja anginnya Timah..” Canda Debby.

Siapa saja yang hadir? Mereka adalah teman-teman akrab Evel yang sengaja menggelar rapat sendiri dalam rangka menghadapi pesta ulang tahunnya. Tentu seja acara tersebut sengaja dirahasiakan. Biar suprise. Mereka daha Arleini si tuan rumah, Debby, Sri Dimitha, Novelita, Endah, Nyunyun, Fatimah, Baba Sue Martini, Desi, Desy dan terakhir Mimi yang memang datang belakangan tadi. Bukan ceweknya namanya kalau acaranya tidak ramai. Pasar inpres saja kalah hiruk pikuknya. Mareka saling melempar argumen dan debat ala pilkada. Sampai-sampai Mama Arleini yang sedang getol istirahat di lantai dua sampai merasa terganggu okeh kehebihan mereka. Sesekali Mamanya mengintip dati balik jendela kaca. Was-was jangan-jangan ada yang sedang kumat lalu nekat bakar-bakar sampah di pekarangan. Atau ada yang gontok-gontokan karena silang pendapat. Hehe. Ada-ada saja. Padahal Mamanya sudah menyuguhi beraneka kue dan roti. Seperti Kue Mak Suba yang terkenal mahal itu, roti mary regar, black forest, roti subur, chiki. Tak ketinggalan cemilan wajib yaitu empek-empek lengkap dengan cukonya, kemudian ada tekwan dan model. Minumannya es kacang merah. Sekilas mirip pesta pernikahan dini. Mereka puas bukan main telah dimanjakan oleh tuan rumah.

“Asoy juga nih rapat kita kali ini. Makanan berhaburan dan bertaburan dimana-mana. Bisa-bisa badan-badan kita pada melar nih besok. Hahaha.” Sabda Desy sambil mengunyah pempek telor.

“Tapi kok aneh Arleini malah tidak gemuk sedikitpun ya…”timpal Baba ceria.

“Karena Leini tidak serakus kamu Ba,” ejek Mimi terkekeh-kekeh.

Baba langsung mingkem dan cemberut.

“Aku kan pada dasarnya malas ngemil kalau sudah makan nasi. “ Arleini membuat pengakuan. “Tapi karena menghormati kalian jadi nimbrung makan.”

“Begitu dong Len, itu baru namanya sobat yang baik.” Fatimah menimpali seraya mengacungkan jempolnya.

“Aku jadi ngiri sama kamu Len,” tukas Debby,” Aku nggak bisa nahan nafsu makan. Pokoknya makanannya apa aja aku sikat. Tidak ada pantangannya. Makanya Aku sampai sekarang belum menerapkan diet. Mungkin nanti kalau bengkak kali…Hahaha.

“Kalau Aku ngemil dikit aja langsung jadi daging. “ujar Baba sue Martini. “

“Kalau saya kebalikannya Ba…”Dessy ikut nimbrung. “Makan sebanyak apapun nggak gemuk-gemuk. Mungkin nanti kalo sudah nikah baru gemuk hehe.”

“Idiihhh…Dessy sudah kepengen nikah ya? Nikah sama siapa? Emang kalau sudah nikah bisa gemuk Des? “Ledek Sri Dimitha dengan suara yang kencang.

“Adeh deh.” Balas Dessy seraya menundukkan wajahnya tanda malu.

“Tanteku nikah malah makin kurus lho Dess..”Kali ini Endah yang membuat pengumuman.

“Tetanggaku namanya tante Ochie, waktunya gadisnya langsing dan singset eh pas kawin langsung bengkak. Hahaha. ”Nyunyun yang berkacamata tebal angkat bicara.

“Aku turut prihatin Nyun..”Sambar Mimi yang baru datang dari toilet. “Tidak semuanya cewek yang menjadi gemuk ataupun kurus hanya gara-gara menikah doang, Semua ada prosesnya. Tidak semata-mata lantaran karena perbuatan suaminya.” Bisa dihitung dengan jari kok ada suami yang menuntut istrinya agar berperawakan kurus dengan menjaga diet. Ada juga suami yang mood melihat istrinya gemuk dan montok.”

“Aduuuh! Kalian ini ngobrolin apa sih? Masih sekolah juga sudah ngomongin kawin.” Tiba-tiba Mamanya Arleini mendatangi tempat dimana teman anak-anaknya berkumpul.

Semuanya tersentak kaget, terdiam dan tertunduk malu. Tidak menyangka Mamanya melakukan sidak dengan diam-diam.

“Eh Mama gimana sih. Katanya janji nggak ikut nimbrung kita-kita.”Protes Arleini sewot.

“Siapa yang mau nimbrung. Mama mau ambil sesuatu.” Jawab Mamanya sambil berlalu setelah menemukan kunci mobilnya yang pindah tempat.

Tidak lama kemudian pecahlah tawa semuanya.

“Ayo kerja kerja!” Teriak Sri Dimitha. “Nanti keburu sore.”

Mereka melanjutkan kembali konrensi darurat yang sedari tadi berlangsung alot. Kali ini diskusi kepentok oleh masalah kado apa yang ideal diberikan pada pesta ulang tahun Evel nanti. Terkait biaya yang akan dikeluarkan ditanggung bersama-sama alias patungan. Namun hadiah apakah yang akan dibeli masih belum klop. Terjadi silang pendapat, pro dan kontra sudah lumrah pada suatu arena rapat. Dari sekian yang berdiskusi membentuk dua kubu. Kubu pertama terdiri dari Fatimah si hitam manis, Baba Sue Martin si bule KW, Dewi si rambut kepang karet, dan Sri si imut mengajukan ide kado yang berbentuk unik-unik norak macam : bando, stagen, penjepit rambut, kompor masak pakai sumbu, kuali, deodorat dan pembalut. Kesimpulan dari kubu Fatimah terpilih kado: PANCI. Sedangkan dari kubu Debby si kacamata tebal, Desy si keriting, Novelita si gilabaca, Sri Dimitha si gadis Boolywood KW dan Mimi si mimik susu memberikanb ide : Boneka Barbie, BH bermerk, Kaset lagu, Kipas angin, Stationery serba pink, shampoo orang-aring dan parfum impor.

“Panci?! Tidak salah denger tuh. Kampungan banget..” Ledek Debby and the gank sambil tertawa meledek.

“Weeee, enak aja.  Kalian yang kampungan. Nggak nyadar apa! Kalau tidak ada panci, ibu kalian mau masak pakai apa? Pakai baskom ya. Betul tidak teman-temanku?!” Balas dari Fatima CS tidak kalah sengit. Dua kubu ini nyaris gontok-gontokan pura-pura.

Arleini, sebagai sipencetus ide dibuat kelimpungan dan berteriak parau. “Sudah stop stop. Kalau begini bakal nggak kelar-kelar nih.”

Setelah beberapa menit berembug, maka diambillah sebuah kesepakatan nan gemilang dan cemerlang. Biar dua kubu diperlakukan secara adil, maka Arleini dengan bijaksana menampung semua ide hadiah teman-temannya lalu digabung menjadi satu hadiah. Lalu dikemas ke dalam sebuah kota besar. Mirip-mirip parcel gitu..

Bagi cewek-cewek alias kaum hawa kelas 1.3 ngumpul-ngumpul di rumah Arleini merupakan tempat yang cocok dan keren abis. Namu beda hal dengan Kaum nabi Adam alias cowok-cowol berkumpul di Kantin Kak Ma’il adalah kebebasan dan surga. Usai jam sekolah mereka dengan sengaja dan sadar membooking kantin kecil yang terletak di belakang sekolah untuk mendiskusikan hadiah apa yang akan dipersembahkan kepada Evel yang manis.  Otomatis pelajar dari kelas lain tidak bisa masuk dan hanya melihat-lihat saja. Sada juga yang mampir ke kantin di seberang jalan sekolah. Tidak sedikit yang karena kesal akhirnya memilih pulang saja.

Pelajar cowok kelas 1.3 kompak banget deh kalo soal yang berhubungan dengan cewek. Semua ikut ambil bagian. Biar dibilang solider dan perhatian sama Evel. Mereka mulai merubung kayak semut. Saking penuhnya kantin itu serasa akan roboh. Beberapa di antara mereka yang tidak mendapatkan kursi sengaja duduk di lantai dengan beralaskan koran dan majalah. Yudo secara nekat ingin duduk di meja langsung dijewer istri Kak Ma’il. “Maaf, ini bukan untuk traktor!”

Mereka rela berdesak-desakkan. Mereka rela bercucuran keringat dan berbau-bauan. Dan yang terpenting mereka harus bayar setiap makanan yang dicomot tanpa ngutang. Tidak ada karena alasan bokek lalu meninggalkan KTP. Sudah bukan zamannya lagi. Pada suatu ketika Kak Ma’il bersabda. “Hai, kalian ngumpul tidak lama kan? Sepertinya kami mulai sesak nafas nih.”

Acara heboh yang dimentori oleh Ichsan TWEJ dimulai. Dia membuka rapat dengan gaya yang digagah-gagahin seperti ketua MPR/DPR. Maklum cita-citanya kelak memang ingin menjadi diplomat atau politisi.

“Well, gay eh maaf guys! Sebelumnya terima kasih sudah bela-belain hadir di sini. Kalau anak kelas lain sudah pada pulang ke rumah masing-masing. Sudah bertemu Ibu Bapaknya di rumah. Mungkin mereka sedang atau sudah menyantap makan siang. Mungkin juga sudah ada yang bobo siang. Biarkanlah. Sedangkan kita disini mempunyai tugas mulia. Dalam rangka mengumpulkan dana untuk….teman kita yang akan berulang tahun yang sedang ditimpa kebahagiaan. Saya patut berbangga dan mengapresiasi tekad teman-teman untuk berkumpul di kantin tercinta ini. Kantin kita bersama…”

“Enak saja kalau ngomong. Itu kantinku, tahu!” Teriak Kak Ma’il dari arah dapur. Dari nadanya kedengaran seperti ingin menangis. Dia tidak rela kalau kantinnya mau direbut oleh anak-anak kelas 1.3. Walaupun begitu ada sedikit keharuan nan biru gara-gara kantinnya dibilang ‘ kantin tercinta’.

“Peace Kak Ma’il.” Pekik Agus sambil menenangkan teman-temannya.

“Lanjut ya..”Ucap Ichsan. “ Pokoknya saya salut dengan rasa persaudaraan kelas 1.3 ini. Di tengah perut yang keroncongan kita masih bisa berdiskusi. Hidup kelas 1.3. Jayalah di darat dan di udara. Alah..ngomong apo iki…Kalau bisa kita usahakan memberikan hadiah yang very interesting, very good, very exlusive, very cheap and very important to get remember. Saya sebagai the leader of the class sungguh terharu dan bercampur bangga. Ternyata selain kelas kita sering dicap negatif di luar sana, mari kita tunjukkan emansisapi eh maksudnya sikap solidaritas kita terhadasp teman yang sedang dilanda ulang tahunnya. Okelah saya tidak berpanjang lebar. Tentu kalian sudah pada laper akut. Oh ya untuk acara kali ini kita disponsori oleh Bos Yudho Gempul yang dermawan lagi kaya. Kalian silahkan makan cemilan secukupnya dan minum air putih sepuasnya. Bagi yang melebihi paket yang sudah kita tetapkan harap tanggung sendiri. Emang kantin nenek moyang lu. Oke, rapat sesi mengeluarkan ide dan saran dimulai!”

Tiba-tiba Choiruddin mohon pamit untuk pipin.

“Lihat si Choy. Mohon jangan ditiru. Disuruh mengeluarkan pendapat dia mengeluarkan yang lain…” umum Ichsan kepada khalayak ramai.

Mereka berteriak riuh. Anak-anak langsung fokus ke sipemberi sponsor yaitu Yudo Gempul. Beberapa anak berencana menggendong Yudho tapi dibatalkan. “Masak kita menggendong traktor.” Sebagai penggantinya mereka hanya mengeli-elukan saja.

“Bos Ichsan! Kalau saya bersama Tekya berniat ikhlas menghadiahi  kado ayam jago kesayangan  kami. Ayam tersebut akan kita potong bareng-bareng pada pagi hari tepat di hari ultahnya Evel.” Teriak Faisol diiringan anggukan Tekya.

Semua bertepuk tangan diiringin suara teriakan.

“Oh, sunggu masterpresent sekali,” Puji Agus sambil terkantuk-kantuk. Lalu menguap lebar.

“Mending kasih ayam betina aja, Sol.” Usu Iwan Kutacane. Teriaknya paling kencang,

“Enggak ah, nanti kamu gombalin ayam saya,” Tolak Faisol mencibirkan bibirnya yang dower.

“Dasar pempek kriting! Mana mungkin saya naksir ayam jelek kamu! Saya masih doyan sama cewek, tahu!” Iwan ngamuk-ngamuk. Kakinya jingkrak jingkrak turun naik.

“Hey, Wan..kalau kamu mau ngasih apa?” Tanya Ichsan TWEJ.

Iwan langsung berlagak pilon. Lalu berubah seperti orang lagi mikir. Pundaknya langusng didorong oleh Agus. Iwan kaget bukan main. “Nanti nanti lagi Aku pikirkan.”

“Aku mau ngasih BH.” Teriak Agus Blepotan dengan semangat sambil mengepalkan tangannya.

Usulannya yang sangat norak itu langsung disambut tolakan oleh teman-temannya.

“Gus, kamu nginggau ya?” Tanya Yudo Gempul seraya menyikut tulang iga Agus. “Be-ha? Apa nggak keliru?”

“Keliru? Jadi Emak kamu pakai BH adalah perbuatan keliru?” Balas Agus.

“Slompret!” Umpat Yudo. Mendadak rambut keriting Agus makin awut-awutan setelah cengkraman Yudo mendarat di kepalanya. Akhrinya mereka kejar-kejaran sampai keluar kantin mirip sekali film India. Kemudian mereka berhenti di sebuah pohon akasia nan rimbun untuk berjoget-joget ria. Anak-anak mengolok-olok dari jendela kantin Kak Mail.

“Bagaiman kalau joker in the box?” Lebih seru dan mencekam..” pancing Ferry tiba-tiba menyeruak muncul dari belakang. Sepertinya dia ketinggalan ‘kereta’ selepas dari toilet.

“Konyol kamu Fer! Kamu mau dikeroyok orang sekampungnya gara-gara si Evel jantungan terus pingsan. Kamu mau?” Protes Choi dengan mata melotot.

Ferry langsung mingkem.

“Biar saya yang pangku kalau pingsan. Asiikkk.” Herry berteriak lantang.

“Musibah bagi Evel. Bisa-bisa kulit Evel berubah menjadi hitam gara-gara kelunturan kulitnya kamu Her Her.

Mereka mulai berembuk lebih serius. Masing-masing saling mengawasi. Takut ada mata-mata atau spionase asing yang mencuri dengar ide-ide yang keluar dari mulut mereka. Dan jikalau bocor sebelum waktunya bisa kacau balau. Tentu saja sudah tidak suprise lagi namanya.

“Ingat ya teman semua, Pertemuan kita hari bersifat rahasia. Jangan sampai kabar ini menyebar dan sampai ke telinga Evel. Nggak seru.” Ucap Ichsan dengan mimik serius. Terlihat dari kacamatnya sering turun ke tengah batang hidungnya yang bangir.

“Lantas apa hukumannya bagi mata-mata yang menyebarkannya?” Tanya Yudi penasaran.

“Kita gantung di tiang bendera sekolah!” Tekya membuka suara.

“Kita suram cuka pempek sebaskom. Biar dia berendam di sana. Haha..” Ini ide dari Samsu.

“Jangan itu terlalu sadis. Kita telanjangin saja. Lalu kita arak-arak ke pasar.”Yudo angkat bicara.

“Huss! Kalau mbok ya dipikir-pikir toh lek lek.”Sony mengucapkan dengan sok wibawa.

“Memang untuk hukuman orang yang begituan apa! Sudah sudah mulai serius lagi nih.” Ichsan mulai kesal lagi melihat teman-temannya membuang-buang waktu. Pada tidak tahu apa semua kepingin cepat pulang sampai di rumah untuk bobo siang.

“Ngomong-ngomong sampai kapan aksi tutup mulut ini berakhir pak ketua?” Tanya Tekya.

“Sehari sebelum hari ‘H’nya. Jangan sampai bocor ya. Kita bukan balon kan teman-teman? Terus nanti kumpulan hadiah dari teman yang beraneka ragam itu kita satukan ke dalam satu kotak besar. Saya rasa Evel pasti penasaran dan mengira-mengira hadiah pemberian kita. Mulailah mencari kado apa yang menurut teman-teman cocok. Nanti Faisol akan mendata dan mencatat semua kado yang masuk. Takutnya siapa ada yang mengasih kado petasan, tentu tolak dan kita ceburin ke sungai musi. Kado jangan mengandung SARA ya. Carilah kado yang mendidik dan bermanfaat. ”

“Kita bawa pakai apa tuh hadiah? Pakai kuda ya?” Kali ini Zoel yang bertanya sambil membasahi bibirnya yang merah dengan lidah.

“Tenang. Papa saya mobil bak terbuka.” Akhyar memberi tanggapan dan solusi.

Semua anak bilang…YES!”

Keeseokan harinya beberapa anak cowok kelas 1.3 sedang asik mengobrol dan bersenda gurau di belakang halaman sekolah. Persisnya dekat parkiran motor.

“Saya mau ngasih hair spray ah.” Ujar Ichsan sambil nyengir kuda lumping.

“Hair spray? Apaan tuh?” Tanya Apto serius.

“Hair spray kamu tidak tahu To? Kuno kamu.” Ichsan melongo.

“Iya. Jelasin apa dong. Oh tunggu tunggu..Hair kan artinya aku tahu……rambut. Kalo seprei kan penutup kasur. Kalau digabung Sepri dipakau untuk menutupi rambut?”Apto berusaha berpikir keras.

“Aduh, To. Penjelasannya ngawur sampai kemana-mana. Payah kamu. Hair spray itu penyemprot rambut. Fungsinya mirip minyak rambut. Nah kalo ini disemprot. Supaya rambut harum dan mudah ditata dan diatur. Pada umumnya dipakai oleh kaum wanita dan ibu-ibu. Memangnya ibu kamu tidak pakai itu?”

“Nggak tahu ya.” Apto menggeleng.”Setahuku kalau sehabis mandi rambutnya dibilas terlebih dahulu  dengan handuk biar kering. Setelah itu dikasih minyak kelapa sambil di usap-usap ke seleuruh kepala. Terutama pada ubun-ubun. Kemudian dipijat-pijat. Lalu…”

“Digoreng dan ditumis ya. Wah itu cara tradisional banget. Udik!”

“Kamu jangan salah. Hasilnya rambut ibuku panjang hitam subur dan mengkilap.”

“Dimana-dimana minyak kelapa itu untuk di dapur. Dipakai ibu-ibu untuk memasak. Di Amerika mana ada kutemui pakai minyak kelapa. Semua orang disana rata-rata pakai hair spray atau styling foam. Udah udah…”

“Kalau begitu juga mau ngasih hair spray yang terbuat dari minyak kelapa.” Apto langsung berlalu.

Ichsan hanya bisa geleng-geleng kepala sambil sedikit geram kepada Apto.

“Kalau ogut mau kasih kado angpao, lebih keren dan komersial.”Serobot Yudi. Padahal tidak ada yang nanya.

“Oh ya saya mau ngasih diare. Biar lebih romantis. Biar dia tahu selama ini saya suka memperhatikannya.” Usul Andi sembari nongkrong mirip orang kalau lagi be-ol. Tiba-tiba Breek! Celana abu-abunya yang sedikit ketat dan cungkring sobek. Untungnya hanya Andi sendiri yang tahu. Dia spontan berdiri sambil menutupi bagian tengahnya yang sobek sedikit. “Uff. Kalau teman-teman tahu pasti sudah diledek-ledekin extream nih.” Andi membatin.

“Andi andi. Emang si Evel sakit perut mau dikasih obat diare.” Protes Ichsan. Dia paling sebel kepada teman-temannya yang sok-sok gaya menggunakan bahasa Inggris tapi blepotan. Ichsan suka misunderstanding jika mendengar teman-temannya ngomong bahasa inggris nyablak.

“Well Ichsan. I’m forget. I mean Dairy bro.”Kilah Andi agak terpojok dan kehilangan sedikit konsetrasi. Dia masih shock memikirkan solusi celana seragamnya yang sobek bagian tengahnya.

“Oh ya coy,”pekik Faisol agak terhenyak. “Kita-kita belum mendengarkan komentar si Zoel nih tentang kado buat Evel. Ayo Zoel, ngomong doang. Jangan Cuma mesem-mesem kayak pohon asem yang belum kesiram air gitu dong. Hahaha..”

Zoel langsung mendadak kaget ketika didakwa oleh Faisol Kribo. Buku novel yang digenggamnya nyaris terlepas. Dia kesal dan jengkel namanya dibawa-bawa, akan tetapi tetapi dia berusaha tersenyum hambar. Tampak jelas pada sorotan matanya dan delik manjanya, terlukis guratan sebel kepada Faisol Kribo. Tak dapat dipungkuri.

“Apaan sih Sol Sepatu. Eyke sedang serius baca novel. Rumpi deh ah! Ntar eyke lurusin rambutmu yang kayak sarang burung. “ Zoel gelinjangan tak menentu. “Kadoku sebenernya tidak akan dipublic di sini. Akhirnya eyke buka juga deh secretnya…”

“Udah Zoel, jangan bercerita panjang lebar kayak novel deh..”colek Iqbal gregetan melihat Zoel. Selain teman sekelas Zoel juga bertetanggaan dengan Iqbal. “Cepatan, apa kadonya? Kita buka-bukaan di sini aja. Tenang deh tidak akan melebar kemana-mana. Hanya kita-kita saja yang tahu. Swear deh…”

“Eike mau ngasih kado….boneka putri salju dan kaset album New Kids on The Block. Idih..kebuka deh.”

Temen-temennya mengacungkan dua jempol ke arah Zoel. Two thumbs! Dan dia tidak menduga bakal mendapat apresiasi yang positif begitu. Dia spontan tersenyum lebar sambil tersipu-sipu malu.

“Ah ah. Nggak seru nggak seru. Mending kado dari saya lebih afdol dan uptodate, berkesan dan teringat-ingat sampai tua.” Sony Betapermax berkata sambil mencak-mencak. Mirif gaya gatot kaca blingsatan yang mau terbang ternyata lupa membawa sayap.

“Memangnya kado apaan sih Son Son…” Pekik Zoel penasaran. Dia sewot kalau kadonya disalib sama kado Sony.

“Kasih sun dong yang…”Ucap Sony seraya memonyongkan mulutnya seolah-seolah akan mencium Zoel.

Semua temannya mencibir. Akhirnya Sony dapat sambitan kado berupa satu biji pempek bekas gigitan dari Agus Blepotan yang mendarat mulus di jidatnya.

Di lokasi lain pada waktu yang bersamaan, tepatnya di taman bunga milik sekolah, Debby sedang duduk santai ditemani Arleini pada jam istirahat. Mereka ngobrol sambil tetap memandangi anak-anak cowok yang sedang latihan bola basket di lapangan di seberang taman. Biasalah, modus pura pura ngobrol namun matanya jelalatan kemana-mana melihat cowok cowok cakep.

“Deb..Deb!” Bisik Arleini sambil menepuk pundak Debby yang kondisinya seperti orang dihipnotis dan terkagun-kagum. “Sadar sadar bangun bangun Deb!”

Debby tetap terdiam. Mananya terus menatap lapangan basket. Arleni mengibas-ngibasnya tangannya di depan kacamata Debby. Debby tak bergeming. Saking kesalnya Arleini mendorong bahu Debby.

Debby mulai sadar dan gelagapan. “Ada apa? Apa ada?” Cerocosnya ngawur. “Iya, Len. Sampai dimana arah pembicaraan kita tadi?”

“Astagfirullah! Kamu kesambet jin cowok mana sih Deb? Saya kirain kamu sedang kemasukan.”

“Nggak kok. Kamu kan tahu aku itu maniak permainan basket. Jadi kuperhatikan secara seksama wajah-wajah pemainnya…eh maksudku trik-trik permainannya. Makanya aku lagi konsentrasi. Maklum deh, jadi lupa daratan.”Debby berusaha berkilah untuk membela diri.

“Eh, memperhatikan permainan basketnya atau yang lain…”Ledek Arleini. “Aku juga suka basket tapi tidak sampai sebegitu terpananya Deb.”

Debby membetulkan posisi kacamatnya yang super tebal. Memperbaiki posisi duduknya yang nyaris mengangkang tadi. Lalu duduk dengan posisi tegap. Siap!

“Oh ya Aku teringat sekarang. Te-Tema kita ta-tadi soal Evel kan?” Ucap Debby agak terbata-bata. Akhrinya Arleini menghela nafas panjang. Mengurut dadanya sejenak. Dia nyaris jantungan seandainya Debby kemasukan jin penghuni taman sekolah. Bisa-bisa kabur duluan boro-boro menyadarkan.

“Alhamdulillah, akhirnya kamu siuman juga Deb. “

“Ini Len. Kulihat-lihat belakangan ini Evel kan jarang ngumpul dengan kita. Gara-gara ide si Ichsan TWEJ yang membuat ide agar kita menjauhi Evel untuk sementara waktu menjelas pesta ulang tahunnya. Alsannya untuk membuat suprise. Kurasa nggak etis juga.”

“Maksudmu? Nggak testis gimana.”

“Nggak Etis Len. Idiih..mikirin jorok ya.”

Arleini meledak tawanya. “Emang kamu saja yang bisa mengerjain…”

“Waduh, ada unsur balas dendam nih yee…”

“Oke oke, teruskan Deb.”

“Oh kirain obrolan ini berhenti sampai disini. Begini, jadi pernah sekali waktu kusaksikan sendiri muka Evel terlihat kusut. Seperti orang stress dan banyak pikiran. Padahal kamu kan tahu sendiri Evel yang kita kenal orangnya easy going. Mana pernah Evel kulihat sebegitu kusutnya. Kita kan tahu dia anaknya yang simple, suka senyum dan selalu ceria. Aku tidak sudi Evel sahabatku…”

“Sahabat kita semua…” Sela Arleini. Terus…”

“Iya itu. Aku tak sudi jika Evel berubah jadi pemurung dan acuh tak acuh. Aku kawatir nanti dia malah menuduh kita-kita sombong lho. Tujuan kita semula ingin memberikan kejutan dan membuatnya bahagia malah menjadi bumerang untuk kita. Jangan terlalu ekstrim beginilah.”

“Mudah-mudahan kemungkinan jelek itu kita harapkan tidak terjadi ya. Aku yakin nggak separah itu. Evel semoga beranggapan bahwa kita sedang bikin kejutan buatnya. Oh ya aku ingat suatu kejadian. Aku pernah berpas-pasan sama dia sewaktu kami sama sama menuju ke perpustakaan. Dia justru malah senyam senyum dan meledek sambil berkata, ada demo diam ya. Aku sudah menduga sudah ketebak oleh Evel. Dasa anak pintar.”

“Oh ya.” Debby tersenyum sendiri sambil membayangkan kejadian yang sedang diceritakan Arleini. Lalu mnegucap pelan… “Semoga deh.”

Tanpa terasa percakapan terhenti oleh bel tanda masuk dari kejauhan. Mereka buru-buru menghambur masuk. Saling berangkulan. Ya, rangkulan seorang sahabat. Erat dan menentramkan hati.

Akan tetapi….tanpa disadari dan disangka oleh Debby dan Arleini, bahwa ada sepasang mata mengamati mereka dari atas balkon lantai tiga gedung kelas utama. “Ternyata sekongkol…”

 

BERSEPEDA PAGI ITU PELARIAN MEMBAWA COWOK

Minggu pagi nan cerah, niat Evel hendak bersepedaan akhirnya terlaksana juga di tengah kesibukannya sebagai pelajar so pasti wajib belajar menghadapi ulangan harian yang acapkali datang tanpa diduga. Memang sih ada beberapa guru yang hobi mengadakan ulangan dadakan. Alhasil banyak siswa yang mendapatkan nilai tak sedap dipandang mata. Ditambah lagi seabreg kesibukan mengurusi persiapan pesta ulangtahunnya yang semakin mepet. Plus membaca situasi terkini di peta kondisi komunikasi antar teman sekelas sedang tidak kondusif-kondusifnya. Akhirnya Evel mengambil jalan tengah untuk mencoba berolahraga di pagi ke kambang iwak park. Baginya mau dibilang pelarian dari segala masalah yang semakin menumpuk begitu menyiksa dan menderanya. Terserah anggapan orang sekitar. Masa bodoh.

“Pokoknya pagi ini Aku tak mau diganggu. Sebab, Aku ingin menghibur diri dengan berolahraga sepeda sendirian.”Jerit batin Evel membuncah. Siapa tahu akan mengobatin hatiku yang galau ini. Aku harap setelah ini pikiranku lebih sehat dan segar. Bodyku lebih fit dan bugar. Toh, Aku sudah lama mengidam-idamkan situasi seperti ini. Bukankah terakhir bersepeda sewaktu masih kelas 1 SMP. Setelah itu sepertinya tiada waktu lagi. Oh alangkah senangnya hatiku. Sementara waktu persenan eh persetan dengan urusan sekolah. Memang Aku pikirin!“

Minggu itu Evel memang nekad bersepeda ria tanpa persiapan yang matang. Pagi-pagi gelap dengan berjingkrak-jingkrak dia menuju gudang belakang untuk mengambil sepeda BMX hadiah dari Papanya sewaktu naik ke kelas dua SMP. Dia lupa sudah kondisi terakhir sepedanya itu bagaiman? Sepeda yang sudah sekian tahun tak tersentuh itu nyaris berkarat dan berdebu. Yang paling parah angin di dalam kedua ban sepedanya sudah minim sekali. Boleh di bilang kempes level menengah. Siapa peduli? Rasa emosional, kekalutan dan kekacauan hati mengalahkan segalanya. Yang penting tugasku pagi mengayuh sepeda sejauh kemampuanku. Sejauh yang kumau.

Setelah menutup pintu gerbang pelan-pelan, Evel bagai kilat segera mengayuh pedal sepedanya sekencang-kencangnya. Sengebut-ngebutnya. Ketika sampai di portal gerbang, Evel hampir saja menyeruduk pos siskamling. Untungnya dengan sigap dan cekatan dia mengendalikan laju sepedanya agar seimbang dan tidak terjatuh. Evel sempat melambaikan tangan ke arah satpam komplek perumahan. Pak satpam bernama Rosidi membalasnya dengan senyum manis.

Saat memasuki jalan yang menanjak, Evel mulai kehabisan tenaga. Dia baru sadar sepeda yang dibawanya tidak bergigi layaknya sepeda balap. Makin dikayuh serasa semakin berat. Seakan-akan sepedanya menggandeng sebuah gerbong milik kereta tua. Hua! Dia berharap cemas dan berdoa semoga ban sepesanya tidak bermasalah. Kalau sudah begini kejadiannya dia berharap peristiwa hari itu adalah Cuma mimpi belaka. Namun dia harus  dan ‘bangun dari tidurnya’ dan serta merta mengakui bahwa yang barusaja dia alami bukanlah mimpi. Fakta dan real. Evel langsung shock refleks.

Kini…pemandangan jalan aspal yang menanjak sudah terhampar di hadapannya sekali lagi adalah kenyataan. Masih belum percaya? Singkatnya…Hadapilah kenyataan di depan matamu! Walau berat sekalipun.

Evel beguman dalam hati, ‘mengapa sepeda ini semakin berat ya?’. Aduh, ternyata benar ban sepedanya sudah kempes pes. “Aduh, ya ampun mudah-mudahan ini hanya mimpi.” Gumannya sambil keringat dingin. Perlahan dari dahinya mulai timbul butir-butir peluh. Butir itu luluh dan rapuh. Tak lama kemudian dia melorot dari batang hidung lalu berselancar ke bibiar atas. “Huh, asin. Puihh!”

Otomotis dia kewalahan dan kelelehan. Padahal setelah turunan dia akan sampai di kambang iwak park. Evel bingung dan penasaran. Jaraknya masih lumayan jauh. Sudah terbayang di benaknya akan menggandeng sepedanya dalam kondisi jalan yang menurun. Seandainya sepeda ini sudah tua dan rongsokan pastilah sudah Evel tinggalin begitu saja.

“Hallo cantik…” Tiba-tiba terdengar suara cowok tak dikenal menggodanya, “itu cowoknya? Pantas dia ganteng terus.” Ada sekumpulan cowok binal dan ganjen nongkrong di trotoar kambang iwak park.

Evel tidak menoleh sedikitpun. Dia jaga gengsi. Evel paling anti digodain murahan kayak gitu. Makanya dia jalan terus. Buru-buru menjauh. Bagi Evel mau tuh cowok-cowok penggoda dari grup band korea yang wajahnya halus-halus dan keren-keren sekalipun masa bodo. Pokoknya nilai langsung merosot di mata Evel. Apakagi kalau menggodanya beraninya ramai-ramai. Jelas bukan pejantan tangguh.

Evel tidak memungkiri bahwa dirinya adalah seorang gadis manis mempunyai potensi untuk digoda oleh laki-laki manapun. Rugi rasanya bagi mereka untuk melewati moment berharga dan langka itu dengan membiarkan bidadari lewat begitu saja. Evel itu faktanya menggemaskan. Lelaki mana yang tidak tergoda. Tidak usianya tua tidak usianya muda. Baik yang sudah status double apalagi yang jomblo bu….jangan. Yang paling tidak memandang sambil memolototi.

Evel mengalami pelecehan ringan..Simak percakapannya di bawah ini.

“Eh, adik cakep. Sudikah kiranya jadi mantu saya, “ Tanya seorang Om-om sambil berlalu.

“Maaf Pak. Saya masih sekolah. Belum niat kawin muda.”

“ Aduh kasihan ya. Sejak kapan bannya kempes? “ Goda yang lainnya. “Oh seandainya saya dulu bercita-cita menjadi tukang tambak ban..”

“Tinggalin aja sepedanya, mending boncengan sama saya..”

“Ogah! Lagi nggak mood naik ojek.

”Kesian nian mbak ini. Maaf eyke nggak bisa bantuin. Takut dandanan eyke rusak demplon deh. “ Bencongpun turut berpartispasi.

Kalau ketemu makhluk begini Evel langsung tersenyum kecut sambil baca ayat kursi.

“Aduh.. manis-manis kok gandeng sepeda, mending gandeng abang deh. “

“Emang saya truk gandeng bang!” Balas Evel sengit. (besambung)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

‘SERIAL MASA SMA MASA BODO?’ MEMBURU CAMELIA

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Oleh : Deddy Azwar

Masih ingatkah kawan-kawan dengan sesosok cewek yang dengan sudi plus sedikit terpaksa meminjamkan payungnya kepada Tekya di saat hujan deras tempo hari? Disaat keduanya berlarian menuju ke sekolah sembari membelah derasnya hujan. Mereka berlari susul susulan memghindari hujan. Kemudian ketika keduanya telah mendarat di halaman sekolah dengan keadaan basah kuyub, Tekya mengeluarkan sejumlah duit kertas lecek sebagai upah sewa, namun ditolak secara halus oleh sang cewek. Lalu dengan secepat kilat di lenyap di balik  tembok sekolah. Tekya justru senang karena duit jajannya selamat. Kagetnya kenapa dia menolak? Dan yang menjadi tanya besar bagi Tekya adalah lupa menanyakan namanya. Tekya sedikit menyesal dan kepikiran terus. Untungnya mereka satu sekolah. So sedikit membuat Tekya sedikit lega. Paling tidak kapan-kapan pasti ketemu. Hanya masalah waktu saaja. Siapa sangka kejadian romantis itu menjadi sesuatu yang amat berkesan dan terbayang terus oleh Tekya. Entah kalau bagi si cewek itu?

Ya, walaupun masih satu sekolah dan saru pekarangan entah sampai saat ini Tekya belum ada kesempatan bersua wajahnya. Akibat banyaknya PR di sekolah ditambah lagi kegiatan ekstrakulikuler membuat Tekya belum sempat menyelidiki keberadaan tuh cewek. Di kantin tak ketemu, di tempat ganti pakaian kosong? di lapangan bola di belakang sekolah nihil, diperpustakaan juga nggak ada, di parkiran motor apalagi. Pas upacara bendera di sekolah tiap Senin juga tidak ketemu. Tekya heran. Jangan-jangan cewek itu sosok bidadari yang dikirmkan Tuhan untukku? Tekya langsung jumawa. Oh kemanakah gerangan engkau wahai bidadariku. Jujur deh, aku belum sempat membalas kebaikanmu. Haruskah kita bertemu hanya di setiap musim hujan? Jangan dong…Pinta Tekya. Apakah pertemuan kemarin hanya sekali seumur hidup?

Bagi Pola peristiwa itu romantis banget. Ingin rasanya itu terulang kembali. Basah-basah kuyub biarin deh, gua jabanin. Begitu janji Tekya dalam hati. Agak muluk memang.

Semenjak  minggu lalu, ditambah lagi saling tatap-tatapan tidak sengaja itu membuahkan sebuah cinta segar nan hijau. Love for the first time. Swear, kalau disuruh mengingat-ingat masih membekas senyum manisnya. Bentuk wajahnya yang oval dengan dagu nan lancip. Rambut panjangnya berwarna agak kemerah-merahan terurai.  Sorot matanya nan sendu dan sayu. Badannya nan tinggi semampai. Berat badan yang proporsional. Ditambah lagi kulitnya yang putih. Oh ya bibir tipisnya nan merah merekah. Terkya langsung terbayang dengan aktris Mandarin Lin Ching Hsia jaman old. Wajahnya nyaris oriental. Sekilas Tekya bisa menilai Si cewek bukan tipe yang merepotkan pasangannya.  Itu terbukti ketika dia memandang Tekya dengan malu-malu harimau. Artinya tidak jelalatan melihat cowok ganteng. Kesimpulannya Tekya merasa ganteng nih? Tepat sekali cewek itu tipe lugu dan polos. Betulkah sangkaan Tekya. Pokoknya kepolosan dan keluguan yang ditawarkan sang cewek mistrius itu begitu terpancar dari wajah innosense tanpa dosa ditambah sorot matanya yang teduh. Hanya satu kata : FEMINIM.

Tekya terjangkit penyakit demam cinta. Dan yang dapat menyembuhkan adalah dokter cinta. Lalu nebus resep obatnya di apotik cinta pula. Cinta itu pula yang selalu mengusik tiap tidur malamnya. Wajah sang cewek kian terbayang melulu. Kadang tidak mengingat lokasi. Tidak di rumah, di pekarangan sekolah, di kamar tidur bahkan saat di kamar mandipun wajah imutnya selalu terbayang di pelupuk mata. Seringnya kebawa mimpi. Seakan-akan dia senantiasa hadir dalam mimpi-mimpi indahnya. Figurnya lama-kelamaan bagaikan virus yang menyerang hati dan jantung juga merusak pikiran. Memporak-porandakan jiwa. Untungnya belum bikin sakit jiwa. Tekya mulai bertingkah yang aneh-aneh. Sekarang dia mulai getol berdandan, mengatur ritme dan gaya berjalan. Tekya sudah mulai memperhatikan penampilan. Ambil contoh : Jikalau dulu boro-boro mengurusi rambut. Kadang sisir aja sering lupa kalau tidak diingatkan Mama. Seringnya kelima jarinya jadi pengganti sisir. Mau keadaan rambut awut-awutan kayang benang mah masa bodoh. Gaya rambutpun seada dan sekenanya. Rapi syukur berantantakan mujur. Mau rambut di sisir belah tengah, belah samping, belah duren atau belah ketupat tidak pernah dia singgung dan pikirin. Untuk siapa kagi kalau bukan untuk sang pujaan.

Pokoknya bagi Tekya menjaga penampilan adalah yang utama, penting dan genting. Dan kalau kebelet kencing musti buka kancing untuk pipis. Ingat jangan sampai nungging kayak trenggiling. Terus kalau sudah di toilet lihat samping kiri dan kanan. Takut tahu-tahu ada pocong laki ikut-ikutan kecing juga. Wah bisa modar.

Akhirnya Tekya bertekad memulai pencariannya. Diawali dengan berdoa terlebih dahulu. Rencananya dia akan mengitari seluruh tiap sudut halaman sekolah. Memeriksa setiap ruangan kelas dengan berpura-pura mencari teman. Tekya berkeyakinan kuat akan berhasil. Mustahil tidak dapat menemukan satu orang di area sekolah sendiri.  Tidak ada alasan untuk menyerah. Emang seberapa besar sih halaman sekolah Tekya? Emang ada berapa lantai gedung sekolahnya?

Keesokan harinya ketika masuk jam istirahat (keluar main). Tidak seperti biasanya bel istirahat jam pertama berbunyi lamaaaaa berulang-ulang. O-oh ternyata kabelnya konslet. Beberapa siswa langsung berhamburan keluar. Ada yang berjalan sendiri, mencari teman segank ataupun ikut gerombolan yang mempunyai selera seragam. Sudah bisa ditebak di otak mereka biasanya sudah terbayang-bayang akan makanan yang enak dan lezat di kantin sekolah, sudah menghantui perut mereka sejak 1 jam yang lalu. Kali ini Tekya tidak minat ikut siapa-siapa. Dia sudah berniat sejak tadi pagi ingin memisahkan diri dari teman-temannya. Tidak menerima ajakan dari siapapun. Lima menit sebelum bel istirahat berdering Tekya sudah berada di luar kelas. Sejenak kemudian Tekya sudah duduk di pokokan persis dekat jendela di kantin Kak Mail. Dengan memilih posisi duduk strategis Tekya berharap dapat memantau setiap gerak-gerik setiap aktifitas siswa dari balik tirai tanpa ketahuan. Kebetulan kaca jendela kantin Kak Mail rada gelap. Ya namanya usaha siapa tahu sang cewek kepergok sedang makan tekwan lima piring? Setelah hampir 10 menit Tekya tidak menemukan incarannya. Bidikannya belum menemui sasaran. Memasuki kam istirahat yang kedua Tekya mencoba menelusuri koridor kelas satu persatu. Tidak tanggung-tanggung, dari lantai satu sampai ke lantai tiga dia periksa. Malah sampai ke kolong-kolong meja segala. Nihil.

Pada hari kedua giliran tempat parkiran motor, lapangan bola dan lapangan basket mendapat giliran. Pada hari ketiga tinggal ruang perpustakaan, ruang praktikum, ruang kamar ganti olahraga dan gudang. Hasilnya semua sama saja. Tekya nyaris putus asa.

Ketika pulang sekolah, tekya buru-buru mencari tempat duduk di halte depan sekolah. Dia kepingin cepat pulang sebelum dikepung oleh teman seganknya untuk ngumpul-ngumpul ataupun sekedar ngobrol ngalor-ngidul yang tak jelas. Mending dia memilih cepat pulang dikarenakan perut dilanda keroncongan. Sampai di halte Tekya jadi ngos-ngosan deh! Situasi di halte tidak begitu ramai lagi.

Ketika Tekya sedang memelototi setiap angkutan kota dan bis sekolah yang lewat. Tekya takut tidak dapat oplet (angkot). Sinar matahari sudah berada tepat di atas kepala. Sudah hampir 20 menit Tekya belum dapat angkot. Kadang ada satu atau dua yang berhenti, akan tetapi langsung diserobot siswa lain. Tekya kembali menuju halte kembali dengan langkah gontai. Entah untuk kesekian kalinya dia begitu. Maklum siang nan terik itu menciptakan suasana hangat bagi semua sehingga kebanyakan orang pingin cepat sampai tujuan agar terhindar dari sinar ultra violet milik matahari. Tidak terkecuali si Tekya.

Tekya mendaratkan pantatnya yang tepos itu pada kursi besi di sebuah halte. Andaikan kursi itu dapat berbicara kursi pasti akan mengeluh hingga berteriak : “Idih aku bosan ketemu pantat si kurus ini lagi!!”. Tekya menundukkan kepalanya. Menghela nafas sebentar sambil berguman. “Duh, sudah siang begini maasak belum mendapatkan angkot sih. Dari kejauhan Tekya sempat mengintip Agus Blepotan dan gang kelas 1.3 juga dihadiri beberapa siswa dari kelas lain masih asik nongkrong di bawah besar lagi tua di pinggir jalan yang menghadap ke lapangan sepak bola. Selain halte, pohon besar itu dinobatkan menjadi tempat favorit untuk berteduh di bawah terik sinar matahari. Kabar punya kabar santer terdengar isu bahwa itu pohon lumayan angker dan keramat. Coba saja singgah ke sana saat malam tiba dijamin tak ada satupun yang berani mampir ke sana.

Di tengan perenungan dan kebengongan di padepokan halte sekolah, tiba-tiba mata Tekya tertuju pada sesosok wajah yang dia kenal. Bola matanya nyaris tak berkedip. Seolah-olah ingin meloncat keluar.  Tekya segera berkonsentrasi seraya mengingat-ingat. Aduh, siapakah gerangan cewek itu. Oh ya. Tralala trilili trijengki. Tidak salah lagi bidadari inilah yang saya cari, teriak Tekya dalam hati. Mata Tekya terus mengamati seorang siswa cewek berparas manis sedang bingung mencari bangku kosong di dalam bis kota yang hendak melaju. Tekya bangkit berdiri dan mencoba menghampiri. Kemudian dia berlari-lari kecil mengiringi bis tersebut.

“BINGO!” Akhirnya dapat juga namamu oh bidadariku,” Pekik Tekya tidak tertahan lagi. Ucapan itu terlepas begitu saja di bawah alam sadar. “YES YES, NAMAMU TELAH KUKANTONGI!” Tekyapun tersenyum 20 jari. Selamat tinggal lapar.

“SOL, nongomong-ngomong kamu tahu sama cewek bernama Camelia nggak?” Tekya bertanya kepada Faisol saat jeda pelajaran Fisika.

“Apa? Taman Ria? Waduh aku belum pernah ke sana tuh,” jawab Faisol sambil mengeluarkan komik Doraemon dan cergam Pendekar Hina Kelana.

“Dasar Kutukupret!” Damprat Tekya kesal. “Sajak kapan kamu bolot Sol?”

“Dasar Sontoloyo!” Balas Faisol tak mau kalah seraya membentangkan kedua tangannya. “Apa salahku?”

“Makanya kalau pejabat lagi berbicara nyimak dong. Kamu tahu Camelia tidak?”

Faisol mengeryitkan dahinya. “Tunggu dulu kawan…Saya ingat-ngat dulu. Camelia Contesa? Camelia Malik? Cameli lagunya Ebiet G Ade? Kriting mulai ngelantur.

“Kamu mikirnya kejauhan Sol Patu. Yang aku maksud Camelia di sekolah kita.”

“Ohhh itu. Camelia.. ya ya Camelia..”

“Artinya kamu tahu dong. Ayo apa yang kamu ketahui tentang dia?”

“Nggak. Aku nggak tahu. Kayaknya aku pernah punya deh. Tapi nama Camelia banyak di Palembang ini. ”

“Sontoloyo! Kupret!” Tekya menggetok jidat Faisol. “Kasihan kamu Sol. Selalu tidak upadate masalah yang beginian. Katanya playboy cap kuda duduk. Wah rugi kamu Sol. Ini cewek punya kisah khusus dengan saya. Cakepnya nggak ketulungan. Pokoknya belagak nian.” Tekya mengacungkan dua jempolnya. “Two thumb!”

“Ah yang benar? Biasanya saya tahu kok kalau ada siswi yang yahud. Apalagi adik-adik kelas kita. Emang kamu kena banget sama dia?”

“Pertanyaan yang bagus. Pasti kenal duongg.”Tekya mencoba berbohong seraya membusungkan dadanya yang datar. “Siapa dulu. Tekya kenal semua cewek pintar, bermutu dan berkwalitas.”

“Siapa dulu dong temannya. Faisolll.” Balas Faisol tak kalah sengit.”Tidak rugi kamu kenal sama awak. Awak juga kenal secara detail sama gadis2 sepalembang malah.”

“Bohong besar hehehe.” Ucap Tekya cespleng.

Faisol penasaran. Dia meminta Tekya menceritakan kisah awal pertemuannya dengan cewek berpayung itu. Segala kelebihan objeknya dipaparkan secara lengkap. Tekya mengisahkan semuanya tanpa ada yang terlewati, secara terperinci dan detail. Terutama pada bagian menguraikan anatomi tubuh. Dasar laki-laki! Faisol serius menyimak seraya berdecak kagum. Matanya sesekali melotot. Air liurnya nyaris menetes. Faisol langsung membayangkan dari miss universe, ratu sejagad, bintang film sampai miss world. Angan-angan terlempar jauh melampaui batas.

“Hanya satu kata. AMAZING! Penuturanmu super komplit. CIAMIK sekali.” Puji Faisol sambil bersiul. “Awak semakin penasaran setelah mendengar dongeng awak.”

“Eh sembarangan ya. Ini serius bukan dongeng. Real story. Fact.” Tukas Tekya sambil mendorong pundak Faisol.

“Iya Tekya. Awak bercanda. Penesan brur, penesan brur.”

Tekya meminta sahabatnya itu membantunya mencari tahu keberadaan sang pujaan hatinya.Tekya menatap Faisol penuh harap.

“Boleh. Awak penasaran kepingin tahu sejauhmana selera kamu terhadap wanita. Gimana sih tampangnya.”Ucap Faisol dengan nada setengah meledek

“Pokoknya si Yuli gacoanmu lewat.”

“Really? Serius?”

“Very beatiful abis deh.”

“Coba sebutkan kelebihannya…”

“Wajahnya oval, dagunya lancip. Rambutnya hitam sedikit kemerah-merahan. Wajah mandarin. Kayak pirang nggak jelas gitu deh. Bodinya bohay cak biola. Bibir tipis merekah. Kulitnya putih muluss.”

“Teruss…Apa lagi yang putih Tekya..”

“Betisnya. Aduhhh apalagi…?” Tekya mikir.

“Pa-hanya, ya?” Ucap Faisol pelan tapi lirih sambil ngiler…

“Dasar parno. Ada. Uban neneknya.”

Keduanya tertawa lepas. Membuat bingung teman di sekitanya.

“Kapan ini memulai misi kita Sol?” Tanya Tekya setelah reda.

“Tahun depan. Yang hari ini juga monyong. Waktu istirahat ‘keluar mainlah’…”

“Itu baru namanya kance. Ce-es.”

Mereka berdua ber-toast ria.

Suasana kelas lain. Seorang gadis sedang asik mencorat-coret di buku tulisnya bersampul berwarna coklat. Pelajaran Sejarah baru saja usai. Sambil menanti pergantian guru, Camelia Carla mempergunakan waktunya yang tersisa untuk melepaskan hobinya menggambar bunga. Teman-temanya yang lain ada yang sibuk bercanda, bergosip dan bersenandung. Beberapa anak memanfaatkan untuk buang air kecil di taman sekolah eh salah di toilet. Guratan spidolnya yang lincah menunjukkan kemahirannya menggambar berbagai macam bunga. Camelia Carla sangat menyukai bunga. Terutama bunga yang kelihatan cantik apalagi berbentuk unik. Dia akan betah memandangi dan membelai itu bunga. Ada beberapa jenus bunga yang dia sukai. Bunga Matahari, bunga Sakura, bunga mawar, bunga edelwies dan lain-lain. Camelia tidak suka dengan bunga yang jelek seperti bunga bakung, bunga tahi ayam dan bunga plastik!

“Hei cewek tukang kembang!” Teriakan Chica memecahkan ketenangan, kesunyian dan keseriusan Camelia.

Camelia hanya menanggapi dengan menoleh sekilas lalu tersenyum mengejek. Walaupun wajahnya dijelek-jelekin bagaimanapun tetap cantik. Saking dongkolnya karena dicuwekin, Chica  mencubit pelan pipi sahabat sebangkunya itu. Camelia tersentak dan hanya bereaksi sesaat.

“Please dong cicak..Lagi serius nih. Aku sedang konsentrasi menggambar bunga Mawar langka dari Afrika nih.”

“Bodo ah.  Terserah mau mawar dari Etiophia kek. Emang gue pikirin. Ayo dong comel, katanya bersedia menemani Aku ke perpus. Dua hari yang lalu kulihat ada novel baru lho. Lima Sekawannya Enid Blyton cetakan terbaru di sana. Aku kawatir kalau kita telambat keburu diembat anak kelas lain. Apalagi kelas 1.7 semuanya pada kutubuku.”

“Iya…kok anak kelas 1.3 sedikit sekali minat mereka untuk membaca ya cak?”

“Tau. Iya kali. Beberapa hari ini kamu ngomongin anak kelas 1.3 melulu. Aku curigation pasti ada apa-apanya.”

“Ah nggak kok. Tidak ada apa-apa.” Tukas Camelia agak mendelik.”Ngomong-ngomong apa saja yang kamu ketahui tentang mereka?”

“Mereka? Anak kelas 1.3 maksudmu?”

“He-eh.”

“Setahuku kalau anak kelas 1.7 terkenal dengar julukan kutubuku. Nah anak kelas 1.3 itu kutukupret. Hahaha…”

“Ah kamu bisa aja. Bercanda melulu.”

“Please comel. Angkatlah pantatmu sebentar. Ayuk kita ke koperasi eh perpus ding. Lima sekawan..lima sekawan Mel. Aku sudah tak tahan nih. Kalau sampai sana ternyata kosong kamu musti traktir Aku pempek panggang ya.”

“Lho kok gitu..Enak di kamu nggak enak di saya. Dasar cicak di dinding. Tunggu…kemarin pas aku sendiri kesana. Lima Sekawannya kosong kok..”Jawab Camelia dengan santai tanpa beranjak sedikitpun.

Chica semakin kesal dengan kelakuan sohibnya yang malas-malasan. Antara ikhlas dan pamrih. Antara mau dan ogah. Singkat cerita Chica sekonyon-konyong menarik paksa sohibnya. Pada akhirnya Camelia menurut juga.

Waktu istirahat yang dinanti-nantipun tiba. Bagi Tekya mungkin saat itu  adalah moment bel istirahat yang sangat spesial, spesifik dan luar biasa bedanya selama hidupnya di sekolah. Ceile. Begitulah hati anak kawula muda yang sedang kesengsem dengan sang pujaan hatinya. Tekya merasa kenapa ya kok seperti kayak diguna-guna. Tapi sepertinya tidak mungkin. Memangnya Tekya cowok ganteng sedunia yang dapat membius jutaan hati wanita. Bukan pula artis yang mempunyai ribuan fans. Bukan pula yang dapat mengumpulkan massa saat konferensi pers. So Tekya kamu jangan GE-ER ya. Tekya itu memang cakep kalau dilihat dari jembatan Ampera. Kalau dideketin katanya mirip pelawak Jimmy Gideon. Nah lho…Kesimpulannya no guna-guna but love for the first time kali….Katanya hati menjadi berkembang-kembang.

Faisol berjalan beriringan langkah dengan Tekya. Mereka menyusuri koridor terbuka menuju gedung perpustaakaan sekolah. Lokasinya berada di belakang kantin. Kali ini mereka tak langsung menuju kantini seperti hari biasanya, tapi malah menyambangi perpustakaan terlebih dahulu. Sungguh diluar kebiasaan. Sok kutubuku banget gayanya.

Hari itu pengunjung perpustakaan masih sepi. Karena jam-jam segitu kebanyakan siswa-siswi pada ngumpul di kantin. Maklum, keadaan perut musti diutamakan ketimbang otak. Bagaimana mau berpikir dalam keadaan lapar, bukan?

“Yang mana Tekya anaknya? Yang itu ya?” Tuding Faisol ketika sampai di depan pintu di dekat majalah dinding.

“Salah Solpatu. Itu si nenek ijah alias Azizah. Ngapain dia di perpustakaan?”Koreksi Tekya sambil geleng-geleng kepala.

“Oalah! Jadi yang mana Tekya?”

“Sabar dulu. Sol sol…Nah itu dia. Betul banget sepertinya dia sedang menuju kantin-eh salah ke perpustakaan. Yuk kita ikutin. Eh dia menuju dan masuk ke perpustakaan. Cepat buruan Sol. Langkahnya di besarkan dikit dong. Aduh Sol. Kamu melihat kemana? Itu anaknya. Gila makin kece aja. Kamu lihat nggak sih?!

“Iya iya. Awak lihat bayangannya.”

“Bayangan bagaimana? Setan kali…”Keluh Tekya tak paham.

Ternyata Faisol gagal fokus. Matanya melenceng ke objek yang lain. Sepertinya ada siswi lain yang menarik perhatiannya.

“Anu anu Tekya. Kan dia kan sudah keburu masuk ke perpustakaan. Lenyap di balik pintu. Mana saya tahu badannya. Tentu tinggal bayangannya. Awak ini lolo nian.” Kilah Faisol.

“Awak yang lolo. Semprul!” Omel Tekya. “Makanya harus konsentrasi dong Solpatu
. Kalau orang sedang berbicara mohon diperhatikan. Kalau orang menunjuk jangan meleng. Apa kan kataku. Kita kehilangan jejak. Buruanku lenyap.”

“Jangan overacting deh. Kita tidak sedang di pasar inpres yang ramai. Ini sekolah Tekya. Percayalah kalian akan kupertemukan.”

“Janji?”

“Iya janji.” Mereka bertoast ria.

“Yuk kita susul!”

Sebelum mendatangi perpustkaan mereka berdua menyambangi toilet karena sudah kebelet pengen kencing. Saking terburu-buru mereka salah masuk ke toiket milik cewek. Entah karena tidak tahu atau disengaja. Untung mereka cepat sadar dan berbalik arah.

“Buruan Sol!” Tekya menggedor pintu toilet. “Kamu ketiduran ya?”

“Iya. Kagek doken (sebentar napa sih)! Tahu gitu saya titip aja sama kamu kencingnya.”

“Lolo. Goblok!”

Di perpustakaan. Camelia dan Chica berjalan susul-susulan. Mereka menyusuri tiap koridor perpustakaan dan menemukan rak yang berlabel ‘FIKSI”. Segala novel dari berbagai genre tersusun rapi dan terpajang di sebuah rak berbahan dari kayu jati. Selain novel lokal adapula novel internasional.  Dahulu kala sempat  buku berjenis fiksi dilarang oleh Kepala Sekolah masuk ke ruang perpustakaan. Karena akan dikhawatirkan bacaan lain takut tidak mendapatkan tempat. Kepsek beralasan para pelajar jadi malas membaca buku-buku cetak pelajaran sekiranya ada novel. Menurut pengalaman, pelajar lebih betah dan nyaman berlama-lama sampai lupa waktu dan lupa belajar  jika sudah membaca sebuah novel. Namun setelah Kepala Perpustakaan dan para guru turun tangan baru diperbolehkan. Setelah beberapakali melakukan mediasi. Akhirnya sang Kep Sek lembek juga. Setelah diselediki ternyata dia anti cerita fiksi.

“Tuh kan apa kubilang ternyata sudah habis.”Rengek Chica mirip anak balita kehilangan permen.

“Sudah jangan sedih dulu Cak…Habis kan bukan berarti ada? Yuk, kita periksa. Tetap semangat mencari. Siapa tahu masih ada yang tergeletak dimeja sisa dibaca orang.”Camelia meyakin walau agak ketar ketir. Idiihh kalau tidak ketemu dia bakal traktir Chica pempek panggang.

“Kayaknya nggak mungkin deh. Mukjizat kalau masih ada.” Chica sudah merasa hopless.

Mereka berdua langsung hunting menyeruak menelusuri setiap lorong. Tiap tiap diperiksa satu persatu. Camelia malah kadang-kadang mencomot satu persatu buku dan majalah yang sudah tersusun rapi, lalu meletakkan kembali dalam keadaan kacau. Masalahnya sang sohib suka ngamuk yang aneh-aneh jikalau keinginannya tidak tercapai. Camaelia bertekad harus menemukan novel Lima Sekawan yang diincarnya. Seandainya saja di sebelah ada toko buku, Camelia pasti akan berusaha bela-belain untuk mampir kesana untuk….meminjam dan mempotokopi. Alamak!

Pegawai perpustakaan berhenti di salah satu rak. Kepalanya menggeleng pelan. Bola matanya sedikit melotot di balik kacamatanya yang tebal. Huh! Siapa sih yang berani mengacaukan sejumlah rak buku yang semula tersusun rapi? Tidak tahu apa ya? Kemaren, saya sepanjang hari menyusun buku-buku itu dengan hati-hati. Apa tidak kasihan sama saya ya?

Tekya sedang mengisi buku tamu di meja registrasi setelah tiba di perpustakaan. Faisol menunggu di belakang Tekya.

“Temennya yang kriting tidak mengisi buku tamu?” Tanya Bu Monika, sebagai penjaga perpustakaan menyimpan kecurigaan. Itulah akbiat Faisol jarang mengunjungi perpustakaan jadi tidak dikenal seantero perpustakaan.

“Oh nggak perlu Bu Monik. Faisol ini tukang ojek yang mangkal di depan sekolah.” Jawab Tekya sekenanya. Faisol menonjok pundak Tekya agak  keras. Kelihatan dia ngedumel tak karuan.

“Bu, saya ini juga pelajar disini. Sumpah.” Tukas Faisol ketus.

“Oohh. Saya kirain pelayannya Kak Mail kantin.”Tuduh Bu Monika sambil tersenyum kaget.

Tekya dan Faisol bergegas masuk menuju rak bagian Fiksi. Dia langsung mencomot beberapa novel andalannya. Setelah itu mereka mulai mencari incarannya. Mereka memeriksa di setiap sudut-sudut meja di sana. Seakan-akan tak membiarkan buruan mereka lepas. Siapa tahu si dia terperangkap di bawahnya (meja) hingga tak berkutik dan tinggal Tekya dan Faisol meringkusnya dengan mudah. Setelah itu Tekya berangan-angan Camelia dengan ikhlas dibimbingnya untuk mengucapkan tiga kata yaitu ‘ aku cinta kamu.  Begitulah khayalan atau angan-angan dua cowok ini. Simpel tapi bisa disemprot.

Hingga akhirnya datang suatu moment dahsyat dimana tanpa sengaja dua pasang remaja ini hampir saja bertabrakan satu sama lain. Untungnya karena kehati-hatian tiap-tiap orang hampir saja insiden dahsyat terjadi di depan pintu perpustakaan. Jujur, segalanya di luar skenario. Walaupun begitu Tekya bersyukur banget. Malah Tekya tadi berharap tabrakan benar-benar terjadi. Dengan begitu paling tidak bisa menyentuh setidaknya lengannya Camelia nan halus.

“Aduhhh kamu Sol!” Ucap Camelia gemes. Mukanya sedikit memucat. “Untung saja kami sigap bisa ngerem langkah kami. Coba kalau tidak bakal malu deh kita…”

Nama Faisol tak sengaja dipanggil oleh bibir mungil milik cewek manis berwajah orientalis. Cicha dan Tekya saling berpandangan dengan tatapan keheranan. Menandakan antara Faisol dan Camelia ternyata telah saling kenal. Tekya menghela nafas panjang. Setidaknya jalannya untuk berkenalan lebih akrab lagi dengan Camelia terbuka lebar. Faisol bisa dijadikan kambing hitam eh jadi mak comblang maksudnya.

 

“Hampir saja…”Chica geleng-geleng kepala. Nafasnya terdengar ngos-ngosan. Seraya meraba-raba dadanya. “Kalau saja ini bukan temen kamu Comel. Hih! Mungkin udah aku cemplungin ke sumur deh. Bikin jantung mau copot aja.” Untungnya Chica hanya berbisik. Jadi tidak membuat Faisol tersinggung.

“Uhffff…hampir aja kita melukai Cameli yang cakep.”Faisol memulai percakapan setelah detik-detik yang menegangkan urat syaraf itu terlewati. Kelihatan Faisol juga gugup dan gelagapan. Suaranyapun terdengar parau. Mirip kakek-kakek genit minta tolong ketika kecebur sumur. Sedangkan Tekya hanya terdiam terpaku terlem dan mematung. Tiba-tiba perasaan nervous dan malu menjangkiti. Namun Tekya berusaha menetralisir suasana. Mencoba untuk dipede-pedein. Padahal faktanya jantung Tekya berdebar-debar pada pertemuan keduanya dengan cewek yang pernah menolongnya agar terhindar dari basahnya hujan.

“Faisol ya?” Pekik Camelia pelan bercampur kaget. Eh nggak sangka kamu bisa masuk SMA ini juga. Temen SMP kita bilang kamu berniat melanjutkan ke SMP di kampung bapakmu?”

“Iya Lia. Rencananya semula begitu. Aku dan Ibu lebih memilih menetap di Palembang saja. Biarlah bapakku mencari duit di sana. Kami lebih betah disini. Eh Lama kelamaan Bapakku nggak kuat juga. Pada akhirnya dia mengalah mengikuti kami pindah. Aku betul betul tidak mengira lho bisa masuk SMA dambaan. Blessin banget gitu deh ah.”

Tekya sedikit terharu bercampur bahagia serta bangga terhadap level korespondensi Faisol yang lumayan oke itu ternyata pernah menjalin tali persahabatan dengan seorang siswi semanis Camelia. Oh…sungguh senangnya.

Ternyata Faisol terlalu lama beramah tamah dan berbasa basi ngobrol dengan Camelia sehingga mengabaikan keberadaan Tekya dan Chica. Mereka terlalu asik membicarakan masa-masa yang telah lampau. Tinggalah Tekya dan Chica saling berpandang-pandangan dan berhadap-hadapan cantik. Keduanya malu-malu untuk memulai saling menegur. Mereka adu gengsi kayaknya. Satu kata untuk Faisol. Terlalu…Jikalau melihat gelagat sesaat kelihatan Camelia agak sedikit kesal dan sebetulnya ingin juga bercengkrama dengan Tekya. Tapi Faisol mencercanya dengan berbagai pertanyaan yang menggebu-gebu.

“Sol…Sol..Udah dong ngobrolnya. Seru banget. Sampai lupa sama teman sendiri…”Sela Tekya sekonyong-konyong.

“Eh iya Mel. Kenalin ini temenku.”ucap Faisol.

Tekya langsung mengulurkan tangannya. Dan disambut dengan lembut oleh Camelia. Mereka berjabat tangan. Mereka saling melempar senyum yang termanis yang mereka miliki. Tak lupa Tekya juga menyalami Chica.

Tekya sengaja menanti pernyataan apa yang akan keluar darti mulut Camelia bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya. Masak sih dia tak akan ingat. Atau dia terserang penyakit amnesia di usia muda yang akut. Duh! Moment itu tak kunjung keluar. Tekya akan malu sekali seandainya Camelia begitu saja melupakan kejadian yang romantis berpayung di bawah hujan deras. Sudah dapat dibayangkan dia akan diledek habis-habisan. Faisol akan mengeluarkan nyengir kudanya yang natural.

Hingga pada suatu ketika…

“Tekya, sepertinya saya pernah melihat kamu dimana ya….” Tampaknya Camelia tidak lupa nih.

“Ayo, dimana coba tebak. Di tv ya?” Ceplos Tekya.

“Oh di bawah kolong jembatan. Dia sedang ngemis.” Faisol ikut ikutan nimbrung.

“Aiya…kamu yang minjam payungku tempo hari kan?” Camelia mengurlurkan jari telunjuknya ke pundak Tekya.

Tekya bernafas lega. Akhirnya Camelia nan cakep itu mengakui bahwa mereka pernah bertemu. Hati Tekya berbunga-bunga. Dia nyaris berniat sujud syukur di tempat. Namun dia urungkan.

Tiba-tiba Chica mengajak Camelia, Faisol dan Tekya untuk kembali ke perpustakaan lagi. Chica masih belum puas kalau belum mendapatkan novel lima sekawan yang dia incar.

“Ayo dong temenin ya. Saya mau nyari buku untuk di bawa pulang. Biasa buat baca sambil  tidur-tiduran.”

“Ngomong-ngomong si Chica mau cari buku pelajaran ya? “ Tanya Tekya kepada Camelia, setelah mereka duduk di kursi. “Rajin sekali ya temanmu itu.”

“Bukan buku pelajaran. Tapi novel lima sekawan.” Jawab Camelia seraya menyibakkan rambutnya yang sebahu dan berwarna kepirang-pirangan.

“Lima sekawan?!” Faisol ikut nimbrung. Lalu dia meneriaki Chica dari jauh. “Jangan diteruskan Chica mencarinya. Percuma. Sampai lebaran juga tidak bakalan ketemu.” Karena suara Faisol terdengar parau membuat suaranya tidak terdengar oleh Chica.

“Emang kenapa Sol?” Tanya Camelia bingung.

Faisol membisikkan sesuatu di telinga Camelia seraya jari telunjuknya menuju ke arah Tekya. Tekya pura-pura bego.

Camelia lalu mengangguk tanda mengerti. Kemudian dia mengucap lirih dengan suara nan menggoda…”Tekya,  kamu ternyata penganggum lima sekawan juga ya?”

“Iya ya. Memangnya kenapa?” Tekya kurang siap ditodong seperti itu. Ditanya eh malah balik nanya. Ketahuan sedang grogi.

“Tekya, merapat dong saya mau membisikkan sesuatu.” Panggil Camelia sambil mencondongkan badannya ke depan sambil melambaikan tangannya.

Tekya terkesima dan mengiyakan. Tekya bangkit dan berdiri. Tidak lama kemudia dia sudah duduk di samping Camelia. Entah topik apa yang akan dibicarakan oleh si cakep itu.

“Oh itu. Oke. Boleh kok. Apa sih yang tidak untuk kamu Lia.” Ujar Tekya. Kelihatan dia sedang menetralisir detak jantungnya yang terus berdegup kencang dengan irama tak menentu.

“Gombal!” Cibir Camelia. Ih, walaupun dia berusaha menjelek-jelekkan wajah, ajaibnya tetap tak bosan Tekya memandangnya.

“Waduh, Tekya mulai berani tuh sama kamu Lia. Biasanya dia pemalu lho. Sekarang malah malu-maluin.

Jam istirahat kali ini merupakan moment teramat spesial bagi Tekya. Really, sudah cukup lama dia memandam rasa kangen ingin bertemu dengan sosok Camelia. Entah kapan terwujud? Setelah kejadian hujan-hujan kemaren itu sungguh berkesan bagi remaja seperti Tekya. Beberapa hari setelah itu dia berharap dipertemukan kembali oleh Tuhan. Tanpa sadar kadang saat saat menjelang tidur malam wajah Camelia seakan-akan mengusiknya. Oh..apakah ini pertanda cinta pada pandangan pertama. Mirip lagu melayu yang didendangkan oleh penyanyi A Rafiq. Ya A Rafiq adalah penyanyi yang kesohor di jamannya. Pada setiap penampilannya suka berdandan ala Elvis Presley.

Padatnya pelajaran di sekolah membuatnya tidak ada waktu untuk mencari-cari keberadaannya Camelia. Oh, terlalu cepatkah cinta itu menghampiri…

Ruangan perpustakaan sekolah menjadi saksi pertemuan indah ini. Pertemuan mereka bagaikan pertemuan sahabat lama yang telah lama terpisah. Mungkin tahunan. Mereka asik sekali bercengkrama. Ngobrol ngalor ngidul. Walaupun masih sedikit canggung dan malu-malu. Tapi menurut Tekya dan Faisol sangat bernilai sekali. Rasanya berat sekali untuk mengangkat pantat dari kursi. Terlebih-lebih meninggalkan perpustakaan. Nggak kuat! Bel pun berbunyi. Suka tidak suka mau tidak mau mereka harus masuk kelas kembali. Duduk dengan tenang di bangku masing-masing untuk menerima pelajaran.

Di dalam kelas Chica masuk ke dalam kelas dengan muka masam dan ditekuk. Sepanjang koridor menuju kelas Camelia melihat ada keganjilan pada tingkah laku sahabatnya itu. Dia menjadi orang yang kalem dan pendiam. Kerjaannya hanya menunduk saja. Kecewa berat. Camelia tak habis pikir akan jalan pikiran sang sobat yang tiba-tiba mendadak aneh gara-gara gagal mendapatkan novel lima sekawan. Kegilaannya akan buku karang Enid Blyton itu sudah pada taraf sekarat.

Hendrasukma, teman sekelas Camelia yang berbodi gembor sedang asik menggosipin artis lokal. Sebut saja Mawar.

“Kalian pada tahu belum kalau bintang sinetron bernama Kembang Tahi Ayam alias Mawar itu ternyata penyuka sesama jenis lho?” Hendrasukam mulai menyalakan api gosip kepada temsan-temannya.

“Ah masak? Jangan nuduh sembarangan dong. Dosa tahu Ndra…”Sela Sopian sambil nyengir beruang.

“Namanya gosip kan belum tentu benar Sopi..” Bela Hendra. “Aku pernah baca di salah satu tabloid infotainment lagi. Kalau dia cewek tulen kenapa belum kawin-kawin sampai sekarang.? Hayooo…!

“Benar juga  ya. Dia kan cantik, sexy, bohay dan ya ya ya.” Timpal Maruto.”Kalau dia mau cowok mana yang tak bisa ditalkukkan.”

“Jangan asal bikin opini sendiri.” Tukas Nyunyun saraya membenahi kepangnya yang copot pitanya. “Siapa tahu dia masih ingin meneruskan kuliahnya. Mungkin ke Es lima kali. Atau mungkin sedang membiayai adiknya yang sedang kuliah. Kan butuh biaya besar.  Jadi dia fokus ke karir dulu.

“Aku rasa si Kembang sering dikecewakan laki-laki hidung belang. Jadi dia tidak mau nyemplung ke lobang yang sama.” Kali ini Sianida angkat bicara. “Makanya dari pada berteman dan jadi mangsa laki-laki lebih baik berteman denagn sesama jenis.”

“Ciri-cirinya gimana Hend?” Tanya Tania dengan muka lugu dan polos.

“Gampang kok. Kamu bisa lihat kalau orang sedang berpacaran. Maksudku pacaran normal. Beda jenis. Coba bayangkan. Yeah mirip mirtip begitulah. Kalau sedang berjalan mereka acapkali bergandengan. Kadang berpelukan untuk meluapkan rasa rindu berat mereka. Terus..kalau lagi mereka berciuman deh…”

“Mudah-mudahan di kelas kita tidak ada yang kayak begituan ya.” Ucap Susi pelan.

Mari kita lihat antara Camelia dan Chica masih berseteru.

“Lia, pokoknya aku hari ini kecewa berat sama kamu.” Protes Chica dengan jengkel jengkol setelah mendaratkan pantanya di kursi.

“Kecewa gimana si Cak?” Tanya Camelia dengan tampang diblo-onin. “Bukannya aku sudah menemani kamu ke perpustakaan. Please deh. Aku sudah berbaik-baik kok masih… ”

“Iya sih. Kamu memang baik. Tapi karena kita telat saja sekian menit. Lima sekawannya ludes dipinjam oleh kelas lain. Terlebih lagi besok kan long week end. Biasanya seharian mengurung di kamar berteman lima sekawan. Kamu tahu kan Lia.?.Aku pelan-pelan berniat meninggalkan kebiasaan dugem dan ngelayap sampai pagi.

“Maafin Aku ya.” Camelia menarik tangan Chica serta mengusap-usap jari jemari sohibnya itu. “Aku baru mengerti betapa berartinya novel lima sekawan bagimu.Swear! Aku support banget minat bacamu. Aku juga menghargai perjuangan dan pengorbananmu untuk melawan di dunia malam.”

“Ingat Lia. Walaupun dahulu aku tenggelam dalam kehidupan dunia malam. Tapi aku bisa menjaga diri. Aku tidak pernah terlibat sex bebas, alkohol apalagi narkoba.”

Camelia merapatkan badannya ke Chica. Lalu mereka berangkulan hangat sekali. Chica membalas dengan mencekal pundak temannya. Untuk beberapa saat Camelia membisikkan sesuatu ke telinga Chica. Tiba-tiba Chica bereaksi. Mulutnya menganga. Matanya melotot. Lambat laun mulutnya yang beberapa jam lalu tampak memble mulai menampakkan kegembiraan yang luar biasa.

“Kamu serius Lia? Kamu serius Lia?” Tanya Chica sambul mengulang-ulang. Seakan-akan tiidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar tadi.

“He-he.” Camelia mengangguk dan tersenyum. “Aku harus berterima kasih sama Tekya. Aku jadi malu, baru saja kenalan sudah merayu demi minjam lima sekawanmu itu…”

Tiba-tiba Chica bangkit dan melonjak gembira. Dia meloncat-loncat mirip anak TK kebagian kue ulang tahun. Ditariknya tangan Camelia…Adegan berikutnya mereka berpelukan dengan mesra.

Mereka tidak sadar bahwa Hendra Sukma cs sedang menyaksikan adegan dimaksud. Tentunya dengan mata setengah melotot. Serta mulut terbuka. ..

SERIAL ‘MASA SMA MASA BODO’ DIMANA ADA HUJAN, DISANA ADA BERKAH. SIAPKAN DAUN PISANG SETELAH HUJAN.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Oleh : Deddy Azwar

     Pagi itu langit terlihat menghitam dan memekat. Segerombolan awan hitam tadi kemudian berlari berarak, berkelana, menggayut di angkasa lepas. Lebih mirip kapan yang kehita-hitaman dihantam uraian debu. Bisa juga seperti paru-paru yang menggelap setelah dihantam kandungan nikotin dari asap perokok dari tahun ke tahun.

Perlahan bergerak menutupi langit sedikit demi sedikit. Tadinya suasana cerah benderah, terang benderang berubah menjadi mendung mendengung, gelap gemerlap .  Hembusan angin nan sepoy lembut menerpa siapa saja tanpa pandang bulu. Bulunya merk apa dan jenis apa pasti kena. (Emang bulu jins?) Semilir angin sepoy nan amboy malah kerap membuat gugur beberapa helai dedaunan kering pada sebuah dahan nan lapuk. Persis keadaannya ketika gerhana matahari datang menjelang, suasana berubah mirip petang.

Cuaca mendung dan pertanda sebentar lagi hujan akan mengguyur. Itulah kesimpulannya.

Titik dan bulir hujan mulai perlahan jatuh. Memeluk tanah sehingga membuat segalanya basah dan kuyub. Tanah yang berdebupun tampak seperti mengeluarkan asap ketika titik air menerpanya.

Pak Adaptasi Sutan Bagindo, pagi itu, tengah menyeruput kopi susu buatan istrinya, Samsidar Markonah. Kemudian dia melahap beberapa lembar roti tawar yang telah diolesi selai srikaya. Tidak terasa dia telah menyikat hampir semua roti yang tersaji. Menyisakan empat lembar roti tawar di piring, di atas meja kecil berenda. Tangannya memegang lembaran koran pagi. Saking asiknya wajahnya ketutupan koran tersebut. Sementara dia sibuk memelototi koran, istrinya yang setia itu, kebetulan hanyakan mengenakan piyama, tetap sibuk saja mengolesi roti yang tersisa dengan mentega, selai buah nenas dimixed butiran kismis rasa coklat berwarna warni. Sadap betul!

Meva, anak sulung mereka yang sedang beranjak dewasa, masih pelajar kelas satu SMA, baru saja menyelesaikan sarapan, bangkit berdiri meraih tas hikingnya bergambar snoopy, sebelum menyorongkan kursi ke bawah meja. Lalu dia mendaratkan pantatnya ke bantal sofa yang empuk gepuk dengan posisi orang santai sedunia. Meva Sumaiyah mulai menjalin tali sepatu ketsnya berwarna putih bersih. Ya tali sepatunya lucu dan unik. Warna warni!

“Onde mande Tuesday, Uda ini bagaimana kho? Sudah jam segini masih dempet saja dengan koran. Sepertinya tidak bisa dipisahkan ya. Coba Uda, lihatlah ke luar jendela sana ho. Kayaknya mau hujan lebat nih!” ujar istrinya seraya melongokkan kepada ke jendela berkaca nako. Dalam keseharian istrinya kerap memanggil suaminya dengan sebutan ‘Uda’, karena kebetulan mereka berasal dari suku Minangkabau.

“Iyo Ayah. Cepatlah sikit dong. Meva mau menebeng sampai sekolah yo?”rayu Meva dengan manja. Matanya mengerdip ke ayahnya. Dibalas ayahnya dengan memonyongkan mulutnya.

“Ayah, jadi jelek kalau begitu deh.”

“Sabanta lai nak. Berita metropolitan lagi seru,”ucap Pak Adaptasi Sutan Bagindo, tetap tidak melepaskan pandangannya dari koran pagi itu. Dia terus berkosentrasi membaca koran baris demi baris, kolom demi kolom, lembar demi lembar. Seakan tidak boelh ketinggalan berita barang sekalimatpun. Memang, sebagai kepala sekolah, dia ogah buta berita dan informasi. Terutama yang berhubungan dengan dunia pendidikan. Dia tidak sudi tersaingi dengan guru-guru yang lain. Di kantor sekolah, para guru mempunyai kebiasaan menyombongkan diri tentang sebuah informasi. Seakan-akan dia paling jago menguasai informasi. Mereka suka mengklaim bahwa diri mereka tidak kuper dan selalu update berita yang menjadi topik utama dan berita hangat, sehangat pisang goreng. Ya begitulah. Mereka juga berebutan ingin mendapat pujian dari Pak Bagindo.

“Hebat hebat kalian. Ditengah terpaan sinetron teve dan jadwal mengajar kalian yang padat masih sempat membaca berita. Saya senang mendengarnya. Saya salut! Tugas guru memang mengajar karena untuk saat ini ilmu pengetahuan kita lebih banyak daripada murid. Makanya kita menyampaikannya agar mereka mengetahui dan pintar. Dan perlu diingat dan diketahui oleh guru juga jangan sampai ketinggalan berita yang yang terkini. Jangan sampai kita ditertawakan oleh murid-murid karena minim informasi. Kalau sudah begitu lebih baik kita berganti profesi menjadi pelawak saja.”

“Onde mande, Uda. Sebenarnya berita apa yang dibaca nih sehingga membuatmu serius begitu ha. Matanya sampai melotot begitu.”tanya istrinya agak kesal dan penasaran dari tadi dicuwekin melulu.

“Ini ni Bu. Si Demi Moore, bininya Bruce Jeep Wills, bikin heboh dan kontroversi. Dia tampil tanpa busana di majalah Vanity Vair. Apa nda gilo tuh. Padahal perutnya lagi kembung alias hamil.”

Istrinya bertambah kesal rupanya. “Onde mande, kirain baca berita pendidikan, tidak tahunya berita begituan. Ayah ayah… Sudah mulai genit pula ha. Ayo, kemarikan korannya. Suadh tua bangka juga. Bisa tidak putus-putus nanti. Atau bacanya di kantior saja setelah habis makan siang, Ayah. Seperti tidak ada waktu luang saja.”

Sekonyong-konyong sang istri merebut koran dari cengkraman suaminya. Karuan saja akibat terlalu kuat, mengakibatkan koran kesayangannya robek besar hampir terbelah dua. Brett!

Pak Bagindo kaget kemudian tercengang.

Istrinya terbengong.

Meva Terkekeh.

Si kucing termeong.

Si ayam terkukuk.

“Waduh Ibu ibu…Lihat koran Ayah jadi robek begini. Ibu harus perbaiki ya. Bagaimana caranya kek. Saya belum sempat baca seluruh berita. Celaka tiga belas ini namanya ha. Berita Demi Moorenya juga kena. Onde Mande. Bagaimana pula ni ha. Macam mana ini ha.” Pak Bagindo mencak-mencak hampir membuat sarungnya copot. Dia lupa ternyata belum pakai celana dinas.

“Aman itu Da. Nanti Ambo (saya) sambung pakai plaster ha.”

“Tapi jangan pakai plaster berwarna hitam ya.”

“Bereslah itu.”

“Ibu ini ado-ado sajo. Memangnya duit receh yang diplester. Kalau duit receh masih layak ditukar di money changer. Lha kalau nasib koranku ini, siapa yang doyan koran bekas tambalan. Tukang loak saja ogah. “ Tampaknya Pak Bagindo masih belum puas dan tampak kecewa berat.

“Ibu minta maaf ha. Habis Ayah juga yang bikin masalah. Da, istrimu ini bukan tukang sulap yang dapat mengembalikan koran itu ke wujud semula.”

“Aduh aduh! Pusing kepalo Meva ini. Pusingg pusiang pusiiiang.” Meva menepuk-nepuk kepalanya. “Masa ribu karena persoalan sepel gitu. Ayah Ibu ayo berpelukan…Malu kan sama tetangga kiri kana depan belakang. Malu juga sama Pushme kucing Meva. Lihatlah kupingnua berdiri karena kaget. Nanti Meva ganti koran Ayah dengan majalah Bobo dulu ya hehe. Atau nanti Meva borong deh korannya. Bila si abang loper korannya Meva bawain ke mari.”

“Sombong sekali kamu ya Meva. Masih status pelajar sajo sudah ngomongnya melantur. Pitih saja masih minta sama orangtua. Mau mencoba memborong koran. Habis nanti uang jajanmu. Nda ado nan tersiso. Yang benar saja kamu ini ha.” Canda Pak Bagindo sambil mencubit pipi anak kesayangannya itu. Meva langsung cemberut.

Sekonyong-konyong  kilat menyambar. Petir menggelegar. Semua menjadi kaget. Terdiam. Dalam hati mereka segera mengucap Istigfar. Hujan yang tadinya gerimis berubah menjadi semakin deras mengguyur bumi pertiwi.

“Astaga gawat! Percekcokan kita terdengar oleh Tuhan,”desis Pak Bagindo dengan mimik muka diseriusin. Lalu dia tersenyum manis. Sang istripun tertawa, menular ke Meva. Kucingnya yang bernama Pushme pun tidak ketinggalan ikut tergelak-gelak.

Beberapa menit berselang, sanga istri Samsidar Markonah melepas keprgian suaminya, Sutan Bagindo sampai ke teras depan. Di tengah guyuran hujan, Pak Sutan sambil menggandeng Mewa berlari kecil menuju mobil mereka. Sebuah Toyota Hadrtop tua tapi antik yang diparkir di luar garasi. Dengan sepayung berdua bergegas menaiki kendaraan. Mobil itupun melaju ke jalan raya. Menerjang hujan dengan jumawa. Lalu berkumpul dengan komunitas mobil lain.

Di sebuah komplek perumahan yang berdekatan dengan rumah tahanan. Kira-kira berjarak 1 kilometer berdiri bangunan kokoh berbentuk benteng. Bangunan itu adalah penjara untuk orang-orang yang terkena hukuman karena melanggar hukum. Pagarnya yang super tinggi dihiasi dengan kawat berduri. Bak tanaman yang melilit pohon. Rupanya bangunan itu telah berdiri sejak zaman pendudukan Jepang. Semacam peninggalan zaman tentara Nippon. Tak jauh dari situ ada plang dengan tulisan besar tipe ‘arial’ berbunyi : ‘Rumah tahanan Bertobat itu Indah’. Tulisan yang sama dapat diktemukan juga di atas pintu gerbang masuk. Namanya cukup mengandung makna atau pesan untuk mengajak semua orang untuk bertobat dan menjuhkan diri dari niat atau perbuatan jahat.

Berbeda dengan penjara pada umumnya. Padahal apabila kita memasuki area tersebut akan merasakan suasana yang lebih tegang melebihi penjara yang terkejam di dunia, yaitu ‘Penjara Alcatraz’.

Nah! Kebetulan Agus Blepotan bermukim di daerah yang kita maksud. Kok bisa ya? Mau lagi…Di lokasi perumahan Agus juga turun hujan, namun tidak sederas di rumah Pak Kepsek. Maklum, hari itu hujan turun tidak merata.

Agus tinggal bersama kedua orangtuanya dan tiga saudara perempuannya. Kebetulan bapaknya bekerja sebagai kepala penjara. Makanya bapaknya termasuk orang yang dihormati dan terpandang. Memikul tanggungjawab yang cukup berat. Setiap hari bertugas mengawasi dan memastikan suasana tahanan tetap kondusif dan para tahanannya betah sehingga tidak ada yang berniat kabur sebelum masa tahanannya jatuh tempo. Bisa ditebak, otomatis seluruh keluarga pada manggut bin nurut untuk menempati rumah dinas yang disediakan lengkap dengan fasilitas yang ada. Pada awalnya Ibu dan ketiga anak perempuannya ragu untuk tinggal disana. Mungkin ada kekawatiran akan mempengaruhi secara psikologi. Tentu beda rasanya tinggal di perumahan dekat penjara dibandingkan perumahan pada umumnya. Malah sang Ibu pernah usul ke bapaknya untuk mencari rumah kontrakan saja. Mereka takut kalau-kalau salah satu tahanan mantan pembunuh menjebol sel dan lepas lalu kabur mencari jalan keluar dengan mengitari kompleks dengan menteror rumah. Atau yang lebih ekstrem denagn menakuti-nakuti atau bahkan mencekik leher orang yang ditemuinya dengan sadis. Biasanya aksi itu dilakukan tengah malan, dimana saat orang tidur lelap dihiasi mimpi-mimpi indah. Bayangkan! Bukan tanpa alasan, karena keluarga ini pernah mengalami kejadian yang seram itu. Sehingga sampai detik ini sang Ibu masih trauma. Beberapa tahun lahu ada seorang tahanan bekas pembunuh bayaran berdarah dingin berhasil menjebol dinding penjara. Untungnya sipir penjara dan tim yang berjaga pada malam itu cepat tanggap. Mereka berhasil menangkap dan menjebloskan kembali ke penjara. Plus penambahan masa tahanan. Seandainya takdir berkata lain, misalnya tahanan itu berhasil mengelabui penjaga dan masuk ke rumah dan menteror kepala penjara. Bisa saja dia suaminya diikat. Siapa yang akan membantu mereka. Tentu si narapidana dengan mudah membekuk para perempuan dengan mudah. Kejadian di atas masih menjadi momok bagi kaum ibu rumah tangga disana. Wakaupun sebelumnya mereka telah dibekali ilmu bela diri dari kantor.

Berkat ketelatenan dan kesabaran Pak  Banteng dalam menasehati istrinya. Akhirnya luluh juga. Bapaknya berusaha menyakinkan untuk tidak takut. Karena mereka tidak sendiri. Masih ada keluarga lain yang bernasib sama. Akhirnya persaan takut sang istri pun berangsur pudar dengan sendirinya. Tanpa terasa mereka telah tinggal disana kurang lebih empat tahun tanpa ada gangguan yang berarti. Malah, si Agus, anak laki-laki mereka yang nomor dua, tampak akrab dan bersahabat dengan beberapa orang penghuni rutan. Kadang-kadang Agus pulang sampai larut malam melayani penjaga penjara main gaplek atau main catur.

Pagi itu, Ibu Agus berteriak kencang sekali. Urat lehernyapun sampai jelas terlihat menegang. Sambil memegang toa (pengeras suara) sang Ibu mendatangi kamar anak-anaknya satu persatu.

“Agusss! Agustiniiii! Agustinaaa! Niniiik! Eh kalau Ninik kan masih TK. Ayo bangun! Apa kalian tidak mau berangkat ke sekolah? Hari ini bukan hari libur ya. Ayo cepat sedikit. Kalau hujan begini usahakan berangkatnya lebih pagi. Antisipasi macet atau banjir. Ayo buruan bangun, mandi dan sarapan pagi!”

Tanpa ba bi bu lagi semuanya otomatis terjaga. Mereka alergi dengan suara yang keluar dari pengeras suara. Benar-benar memekakkan telinga.

Tidak lama kemudian terdengarlah hiruk pikuk, hingar bingar, klbak klebuk, gemuruh dari ruang tengah. Setelah semua menyelesaikan mandi pagi, mereka bergegas berebutan mendatangi meja makan untuk sarapan pagi. Masing-masing saling mendahului, tidak mau kalah. Takut kehabisan jatah roti mentega campur coklat yang sedap buatan Ibunya. Akibat buru-buru dan serakah, mulut Agus langsung blepotan.

“Aduh kalian ini. Jangan membuat malu ibu dong. Kan anak-anak Ibu sudah pada besar-besar kok masih bertingkah tidak senonoh. Masak tiap pagi musti begini terus. Brisik terus. Persis anak kecil rebutan permen. Kalem sedikit kenapa sih.”

“Iya nih Bu. Agus sama Agustina sama saja bandelnya. Kakak sduah bilang bersikaplah sopan dan dewasa, lalu kalian akan dihargai pula oleh orang lain.”ujar Agustini, sebagai anak tertua ambil bagian. Dia merasa bertanggungjawab untuk memperingati adik-adiknya.

“Dengar apa yang dikatakan Kakakmu. Pasang telinga kalian baik-baik. Jadilah anak-anak yang baik dan penurut.”timpal Ibunya lagi. “Aduh Agus, kamu kan sudah kelas satu SMA. Kok jorok amat sih. Mulut sampai blepotan begitu. Bersihkan dengan tisu segera.”

“Maklum Bu, dia kan masih bayi. Makan saja masih belum beres.” Celetuk Agustina.

“Ibu selalu saja membela Mba Tina. Dia juga sama dengan Agus telat bangunnya. Mentang-mentang dia anak paling tua. Selalu lolos dari omelan. Dimana letak keadilan di rumah ini.”protes Agus sembari menyeka mulutnya. Lidahnya juga menjilat-jilat sisa kismis dan susu coklat yang masih menempel.”

“Agus, siapa saja yang nakal pasti Ibu omelin. Ngapain Ibu pilih bulu. Emang kalian ayam? Semua anak kesayangan Ibu. Semua posisinya sama di rumah ini.” Cetus Ibu Agus.

“Idih kamu ngiri ya Gus? Kakak tadi kaget dengar Ibu teriak lewat speaker. Disangka tadi ada gempa teknoktronik.”

“Tektonik Tin,” jelas Ibu cepat-cepat meluruskan, “ bukan elektronik.”

“Sorry Bu. Maksud Aku tadi mau ngomong begitu. Eh, sudah keduluan,”dalih Agustina mesem-mesem. Matanya merem-melek dengan genit. Lidahnya sengaja dijulurkan ke arah Agus. Agus pura-pura mau nimpuk pakai meja.

Petir menggelegar. Di luar hujan mulai lebat.

Tiba-tiba si bungsu Ninik alias Butet, si paling bontot barusaja keluar dari kamar sembari mengucek-ngucek matanya. Tanga kanannnya yang mungil masih memeluk bantal guling ‘Winnie the pooh’ nya. Sedangkan tangan sebelah kirinya mendekap selimutnya yang panjang menjuntai ke lantai.

“E-eh si cantik Butet sudah bangun ya..” sambut Ibu dengan suara sepertri mendendangkan sebuah lagu.

Ninik tersenyum.

“Bapak kemana Bu? Masak Butet tidak dibangunkan. Bapak nakal. Butetkan masu berangkat sekolah. Hari ini bu guru kasih pelajaran cara menggambar pemandangan di desa. Dia juga mau membuat patung dari lilin. Tahunya….telat deh. Butet harus berangkat pagi..Uhukk..uhuk” rengek Ninik sambil menarik-narik celemek Ibunya. Tangannya mengusap pipi dan mencium kening Ninik dengan lembut dan penuh kasih sayang. Kakak-kakaknya lalu bergantian mencium adik bungsungnya yang masih menggemaskan itu.

“Bapak tadi sudah mencoba membangunkan Ninik. Tapi tadi susah bangunnya. Bapak lihat tidurnya nyennyak sekali. Jadi Bapak tidak tega menganggu tidurnya Ninik. Bapak tadi minta maaf katanya harus berangkat ke kantor buru-buru karena ada rapat.”

“Rapat itu apa Bu?”

“Rapat itu. Bapak bersama teman-teman dikantornya membicarakan sesuatu yang penting.” Jelas Ibu sekenanya.

“Oh ngobrol ya. Tapi yang penting-penting. Iya iya.” Ninik mengangguk tanda mengerti.

“Yuk, mimik susu duulu. Nanti biar Opung yang mengantar. Sebentar lagi dia datang. Opung lagi jojing.” Ibu dengan cekatan memangku anak bungsunya itu. Ninik membalasnya dengan pelukan erat dan sayang.

“Bu…, Butet tidak mau diantar sama Opung ya.”

“Lho, kenapa sayang?”

“Opung kalau jalan suka lelet Bu.”

“Habis mau diantar sama siapa, wahai tuan putri?”

“Sama Ibu saja ya.”

“Bagaimana ya. Pekerjaan rumah tangga Ibu masih banyak dan kamar-kamar masih berantakan. Belum pakaian-pakaian kotor belum dicuci dan disetrika.”

“Ibu sekali-sekali istirahat dong. Kalau sakit bagaimana? Atau cari pembantu saja. Kalau ada pembantu kan bisa antar Butet. Betul nggak?”

“Sayang banget ya sama Ibu. Oke.” Jawab Ibu sambil menganggukkan kepala. Ninik melionjak kegirangan. Tertawanya lebar banget. Kemudian dia buru-buru meminum susu rasa strawberry kegemarannya dengan lahap sekali.

“Buu, jadi Bapak sudah berangkat duluan nih ceritanya?” tanya Agus dengan nada lemas.”Kok Bapak tega sih membiarkan anak-anaknya pergi sekolah dengan basah kuyub. Lalu kami ke sekolah naik oplet(angkot) ya?”

“Bukan begitu. Pokoknya semua tenang deh. Nanti Opung yang akan mengantarkan. Bapak tidak membawa mobil kok. Bapakmu tadi bilang ada keperluan mendesak. Makanya subuh-subuh dia sudah duluan bangun. Mana belum sempat sarapan pula. Tuh, lihat gelas kopinya masih di meja.”

“Ada apa sih Bu?” Tanya Agustina penasaran. Apa ada tahanan kabur. Atau dapat pelimpahan tahanan dari kota lain?”

Ibu menggeleng tanda tidak tahu. “Opung kemana nih. Tenaganya dibutuhkan untuk menyetir pagi ini malash belum balik-balik.”

“Opung lagi, Opung lagi.” Agustina ngambek.”Nyetir mobilnya lelet Bu. Bisa-bisa baru sampai pas jam istirahat deh.”

Agus berlari ke kamarnya untuk mengambil ular karet yang dibelinya kemarin sore. Setelah dimasukkan ke saku celana dia bergegas pergi.

Kesimpulannya Agus mengalah, lebih memilih naik angkutan umum saja. Kakak perempuannya akan diantar oleh Ibu. Karena setelah ditunggu lama si Opung belum nongol-nongol juga dari jojing. Ibu menduga si Opung pasti sedang berteduh di sesuatu tempat. Ibu berniat memanggil Agus biar bisa berangkat sama-sama. Akan tetapi Agus sudah terlanjur lenyap dari pandangan.

Tepat di kebun wak haji Adenin Palembang, Agus berhenti sebentar. Timbul ide untuk mengambil daun pisang yang lebar yang kebetulan menjuntai guna dipakai sebagai penganti payung. Ibarat kata pepatah tak ada payung daun pisangpun lumayan.

Tekya berusaha mempercepat langkahnya, tetap tidak bisa. Walaupun sudah separuh tenaganya di kerahkan, ayunan langkahnya semakin berat. Pantas saja, sepatu bagian bawahnya, tepatnya di alas kakinya sudah lengket dengan tanah liat yang merah. Belum lagi menghindari genangan air pada jalan yang berlobang, membuat pandangan menjadi saru. Terang saja dia kewalahan hari itu dia berjalan di tengan hujan yang semakin lama semakin lebat. Sialnya, tanpa dibekali sebuah payung lagi, Tekya menerobos hujan yang terus mendera. Tak ayal lagi, kondisi pakaian seragamnya nyaris basah kuyub.

Pada hari itu, keberuntungan sedang tidak berpihak kepada Tekya. Bagaimana tidak, ketika angkutan umum tinggal 100 meter lagi, tiba-tiba entah kenapa angkot yang dia tumpangi mendadak mogok. Bukan hanya bang supirnya yang kalang kabut, tetapi penumpang di dalamnya yang kebetulan tersisa Tekya seorang juga ikut senewen. Jarak antara sekolah dengan posisi kendaraan mogok masih tanggung. Sedangkan cuaca sedang tidak bersahabat. Hujan masih turun dengan curah lumayan deras. Bang Supir sudah berusaha mencoba dengan berbagai cara, semampunya dia. Berbagai gaya menstarter pada kunci kontak dia terapkan, namun tetap setrumnya terdengar lemah. Usahanya sia-sia. Kasihan keduanya.

“Bagaimana ini Pak? Masih tidak bisa ya?” Tanya Tekya berharap-harap cemas. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 07.25. Sudah mepet betul.

“Iya Dik, sepertinya akinya lemah. Selemah hatiku saat ini gambarannya..” jawab Abang supir dengan lemas.

“Ayo bang, usaha lagi. Saya yakin Abang bisa kok. Banyak jalan menuju sekolah eh menuju roma ding. Coba stater lagi. Atau bukan karena akinya yang soak atau gara-gara lampu kucing atau wipernya yang rusak jadi menular ke mesinnya kali….”

“Adik, coba ya, jangan sok tahu deh. Saya sudah belasan tahun menjadi supir. Belum pernah terjadi seumur hidup saya kalau lampu kucing atau wipernya mati membuat mesin mobil mati juga. Nggak nyambung nian. Jadi jangan pakai mengajarin deh. Adik sekolah saja yang benar dan rajin. Jangan mencontek.” ucap Supir dengan ketus bercampur kesal.

“Eh, abang kok sewot sih.”balas Tekya ketus. “Masalahnya jarak sekolah saya tinggal sedikit lagi. Malah mobilnya mogok. Kalau saya turun, habislah saya kena hujan. Bagaimana ini? Tugas Abang belum selesai karena belum mengantar saya sampai tujuan. Penumpang adalah raja. Aduh! Sial bener saya hari ini.”

“Saya mengerti. Kita sama sama ketiban sial.”

“Bang, jadi kesimpulannya bagaimana? Apa yang harus dilakukan?”

“Satu-satunya cara adalah dengan mendorong, Dik.”

“Didorong? Saya sendiri?”

“Mau nggak mau. Kalau Saya ikut dorong siapa yang ngarahin stirnya Dik. Bisa-bisa kecebur got.”

“Oh begitu. Hujan-hujan begini. Terus kalau saya sakit siapa yang tanggungjawab? Coba pikirkan?”

“Mana saya tahu. Males banget deh. Hujan-hujan begini disuruh mikir. Kalau nggak mau ya sudah turun saja. Nanti Adik telat lho…”

Akhirnya dengan terpaksa Tekya keluar dari angkot dan menerobos hujan yang masih turun. Tekya masih mendengar teriakan Bang Supir sayup-sayup.

“Wah, katanya mau bantuin dorong dulu? Kok malah kabur..”

“Saya bantuin doa yaaa..!” pekik Tekya dengan penuh semangat. Meninggalkan bang supir dan mobil angkotnya yang masih terparkir di pinggir jalan.

Tekya tidak mungkin menanti hujan reda. Pawang hujan juga pasti tidak tahu, pikirnya dalam hati. Tekya memutuskan meneruskan perjalanannya sakralnya menuju sekolah. Dia musti mempercepat langkahnya agar tidak terlambat.

“Dasar apes sekali hari ini. Gara-gara mobil angkot yang sudah tua. Ya Tuhan apakah salah dan dosaku? Uhukk.. “Tekya tak henti mengutuki keadaannya. “Lagipula angkot sudah tua dan butut masih saja dioperasikan. Pantasnya sudah dimuseumkan. Coba kalau cuaca tidak hujan pasti saya sudah pilih-pilih angkot. Sudah mogoknya tidak pakai kompromi pula. Mbok ya hujannya berhenti dulu baru mogok. Aduh! Basah semua nih. Bisa-bisa sampai di sekolah diketawain sekelas. Oh my God! Buku gambarku juga ikut mandi hujan. Hiyyy dinginnnn…Brr..brr.”

Pada suatu ketika, tiba-tiba wajah Tekya langsung berubah ceria. Di hadapannya tersaji seorang murid cewek sedang berjalan juga. Dari belakang Tekya terus mengamati gerak-gerik si cewek. Tekya berusaha mendekat dan mensejajari langkahnya. Tekya semakin penasaran ingin melihat wajahnya. Siapa tahu dia kenal. Atau mungkin teman sekelasnya. Lumayan bisa nebeng. Kebetulan sekali cewek itu membawa dua buah payung. Kesempatan baik ini langsung dimanfaatkannya. Tekya memberanikan untuk menyapa..

“Hai, hallo, hallo hallo Bandung aku sedang kedinginan…Boleh nggak numpang payungnya. Payung saya ketinggalan di rumah.”

Cewek yang disapa otomatis kaget, ada cowok tidak dikenal tapi sok kenal. Si cewek langsung pasang muka curiga dulu. Walaupun di hadapannya berdiri seorang cowok sekelas Tommy Page, sepertinya si cewek tetap teguh pada pendiriannya. Emang saya cewek apaan langsung takluk dan termakan rayuan lirih si cowok cakep yang sekarang berdiri disampingnya. Menjaga image dan sedikit aksi jual mahal sebagai seorang wanita adalah hal yang terpenting. Apalagi kepada orang yang belum kita kenal.

“Mba mba, bokeh kan saya pinjam payungnya. Oke deh, kalau perlu saya sewa deh barang beberapa menit saja. Paling tidak sampai ke sekolah tidak kebasahan begini.”

“Nggak usah ya. Kamu siapa? Dari SMA mana sih? Berani-beraninya negur orang. Saya tidak kenal situ.” Tolak cewek itu sambil mendlik sewot. Tanpa menghiraukan permohonan Tekya yang mengiba-iba, dia terus berjalan berlenggak lenggok bak ‘gadis kebaya’. Bukan Tekya namanya bila menyerah begitu saja. Dia terus membarengi si cewek.

“Please…Pinjamkan dong Aku payungmu barang sekejab. Jangan pelit dong.”

“Bukannya saya pelit. Payung ini kekecilan buat kamu. Payung ini kepunyaan adik saya yang masih SD kelas satu.” Lagi-lagi si cewek menolak.

“Masak nggak boleh. Kamu tega nian ya melihat saya basah kuyub.  Ngomong-ngomong sepertinya kita satu sekolah deh.”

“Lho, Kamu tahu darimana?”

“Itu..dari atributmu ketahuan. Tidak bisa dibohongi. Kita satu sekolah.”

“Aku belum pernah melihat kamu.”

“Kamunya saja mungkin jarang bergaul. Di kelas melulu. Saya kan anak pungky, makanya jarang di kelas. Maksudnya saya nggak suka berlama-lama dalam kelas.”

“Kenapa? Nggak betah ya?” Akhirnya si cewek tanpa sadar memayungkan Tekya juga. Tekya tidak menjawab. Lama kelamaan dia tidak tega juga melihat Tekya menggigil kedinginan. “Kamu kesinian dong, katanya mau nebeng.”

Kemudian cewek itu malah menyodorkan juga sebuah payung kecilnya kepada Tekya. “Nih pakai.” Tekya dengan cepat membuka ikatannya dan segera mengembangkan payung itu.

“Terima kasih ya. Aku sudah menduga kamu pasti cewek baik hati. Kamu mirip artis idolaku dari Hongkong.“

“Emang siapa?”

“Lin Ching Hsia.”

“Nggak kenal.”

“Oh ya? Sayang sekali. Dia top lho. Kamu harus sering nonton film Mandarin.”

“Biarin. Aku kurang suka.”

“Sekali lagi terima kasih ya sudah meminjamkan payungnya.”

“Eeit enak saja pinjam. Sewa dong. Tarif Rp 5000 saja sampai sekolah.”

“Aduh, mahal amat. Ya sudah nggak apa-apa. Deal. Tapi bayarnya belakangan ya.  Hari ini saya bawa uangnya ngepas.”

“Iya.”

Tanpa dikomando, mereka berdua mulai berlari-lari kecil agar tiba sebelum bel berbunyi.

Sampai di depan lobby sekolah, mereka bergabung dengan murid-murid pasukan berpayung lain yang bernasib sama. Tekya meraba saku celananya. Lalu merogoh dompetnya dan menyodorkan uang kertas seribuan tiga lembar kepada si cewek. “Sekali lagi terima kasih ya Mba. Kekurangannya nanti saya bayar. Please..”

Cewek itu langsung mengambil payungnya dan bergegas meninggalkan Tekya yang masih memegang uang sembari berdiri mematung.

“Ini uang mbaaaa!” teriak Tekya tanpa memperdulikan sekitar.

“Nggak usah, pegang saja. Bercanda kok.”

Si cewek itu lenyap di balik tangga.

“Namanya siapa ya..Jadi lupa kenalan.” Tekya tersenyum tersipu-sipu.

Pak Kepsek terlihat berjalan tergopoh gopoh seraya menenteng tas besar berwarna hitam. Yang pasti tuh tas bukan bermerk Hermes. Di luar hujan masih belum juga berhenti. Namun intensitasnya sudah berkurang. Cendrung gerimis. Tidak biasanya beliau hari itu tidak membawa payung panjangnya. So jadi Pak Kepsek menggunankan sehelai saputangannya yang berwarna pink norak menjadikan penghiasa kepalanya, agar terhindar dari butiran-butiran air. Yang menghantam ubun-ubunnya berkali-kali. Sebagaimana yang kita dengar bahwa air hujan mengandung sedikit air raksa yang dapat mengakibatkan kepala menjadi pusing. Nasib Pak Kepsek masih lebih beruntung dibandingakan dari guru-guru yang lain. Malah, Bu Susun Kutacane nyaris basah kuyub.

Tidak apa sih. Ibu Idayati Gaga lebih miris legi menjadi tontonan gratis anak-anak. Masalahnya sang guru yang baru berdinas 6 bulan itu nyaris mandi. Bisa dibayangkan lekuk-lekuh bodynya nan semok itu jadi terpampang jelas bagai lukisan pemandangan yang mendapat ponten 100. Untungnya blazer hitam yang membalut tubuhnya cukup membantu kemejanya berwarna putih berkrah rada transparan, sedikit tertutup, sehingga menghalangi pandangan nakal orang-orang. Otomatis suasana hujan yang tidak romantisme itu dihiasi dengan suara teriakan wuihh….Bu Idayati nan menggemaskan itu telah dapat membaca situasi yang merugikan dirinya. Sekejab pemandangan makhluk  nan indah ciptaan Tuhan itu telah lenyap dibalik pintu.

Cukup soal Ibu Idayati Gaga, kita kembali fokus kepada keadaan Pak Kepsek. Walaupun tidak menarik perhatian. Sampai depan pintu lobi utama gedung sekolah, beliau disambut ramah oleh petugas administrasi dan tata usaha.

“Selamat pagi Pak, “ sapa Pak Tukijan  sumringah ketika berpas-pasan dengan atasannya, “Tumben tidak membawa payung Pak.? Aduh baju bapak basah semua.”

“Selamat pak Kijan. Iya saya lupa membawa payung. Tidak menyangka akan turun hujan. Bahkan koran pagiku juga tak terselamatkan. Ihikss”

“Betul Pak. Kadang prediksi kita suka meleset. Lho bawa tidak bawa mobil?”

“Mana mungkin bawa mobil, Pak Kijan. Mobil kan berat. Bagaimana mungkin? Canda Pak Kepsel.

“Ah Bapak bisa saja. “

“Saya diantar istri sampai di depan warung dekat SMEA.”

“Belanja dulu Pak?”

“ Iya beli permen dapat rokok.”

“Ah mana mungkin.”

“Mungkinlah..saya beli rokok uang kembaliannya ditukar permen. Hahaha..”

Keduanya tertawa.

“Wah, saya lihat kondisi kamu tidak basah. Pakaianmu kering kerontang. Diantar becak sampai ke halaman sekolah ya? Atau jangan-jangan kamu nginap di sekolah alias tidak pulang?”

“Tidaklah Pak.” Pak Tukijan hanya nyengir kuda nil.” Ah Pak Sutan ini bercanda melulu. Memangnya saya petugas siskamling. Hari ini saya datang lebih pagi Pak. “

“Bagus. Pak Tukijan, umumkan kepada guru-guru lain ya.”

“Umumkan apa Pak?”

“Tolong kosongkan kamar mandi. Saya mau pakai mesin pengering dulu. Masalahnya saya tidak bawa pakaian ganti.”

“Siap Pak. Oh ya, saya boleh pinjam korannya sebentar. Saya mau melihat pengumuman nama-nama pemenang  kuis TTS terbitan minggu lalu. Siapa tahu nama saya nyangkut.”

“Nih. Kalau menang jangan lupa traktir ya.” Ujar sang Kepsek sambil mengerdipkan matanya genit  sambil tidak lupa menyodorkan koran leceknya karena basah.

Pak Tukijan mengangguk sambil nyengir dinosaurus. Dengan mata-mata berbinar-binar dia membawa koran itu ke ruangannya. Lalu dibentangkannya lebar-lebar. Diiringi degup jantungnya yang berlari-lari. Setelah dibolak balik dilipat digulung dan dibentangkan dikibarkan lagi tetap tidak ketemu halaman yang dimaksud. Sampai pada suatu ketika, mata Pak Tukijan membelalak sambil mendengus kesal.

“Sialan. Pak Sutan bagaiman sih. Pantas, yang dikasih koran dua bulan lalu. Ternyata koran bekas.”

Dan..Pak Sutan pun ikut-ikutan lenyap di balik pintu. Besok-besok mungkin si pintu lenyap digondol maling. Hihi..

Air mulai menggenangi pekarangan, membasahi tanaman apotik hidup dan sedikit lapangan basket, tapi cukup mengakibatkan lapangan sepak bola menjadi becek. Suasana koridor kelas tampak sepi. Tiap kelas telah memulai aktivitas belajar. Tampak beberapa siswa masih berkeliaran di sekitar kantin untuk sekedar membeli cemilan dan minuman kaleng.

Sudah lumrah untuk suatu revolusi eh salah maksudnya hujan selalu dijadikan kambing hitam untuk datang terlambat. Alasan bisa bermacam-macam. Banjirlah…Jalanan macetlah…

Bel masukpun menjadi molor, biasanya pukul 7.30 WIB disulap menjadi pukul 8.30. Tergantung deras atau tidaknya curah hujan yang turun. Di lokasi lain mungkin momen hujan dapat dijadikan alasan untuk narik selimut lalu meringkuk di tempat tidur. Beberapa anak-anak kecil tampak asik bermain bola sepak di lapangan yang becek. Mereka tak menghiraukan efek dari hujan tersebut.

Sementara itu, sekumpulan gang serdadu kelas 1.3 tengah membentuk kerumunan sambil duduk-duduk bangku panjang. Di sana  ada beberapa pentolan siswa yang bandel. Seperti si Faisol Kriting, Ichsan TWEJ, Agus Blepotan, Ali Sanawiyah, Apto Priggodani dan Yudo Gempul.

“Heyy…Telya lakadam!! Sudah salaman belum sama Yudi!” Panggil Faiso seraya melambaikan tangannya. Tekya hanya terdiam bengong. Mirip kambing bingung.

“Sudah, kemari aja. Nggak dikerjain kok. Pakai pura-puran pinter lagi lho. Bukannya kamu sduah lebih tahu kalau masalah beginian. Kemaren kan hari raya Imlek alias sinchia..Katanya tetangga kamu kiri-kanan banyak chinesenya.” Timpal Ali Sanawiyah cengengasan yang menjadi ciri khasnya.

“Waduh, iya iya,” Tekya baru sadar sembari menepuk jidatnya, “selamat sinchia ya Yudi. Xong chi Fat Choy.  Xongsi..Xongsi..Tekya menyatukan dua genggam tangannya mirip kayak pendekar dalam film Mandarin memberi hormat.

“Kenapa tidak bawa kue yang berwarna merah-merah itu,” sela Yudo Gempul.

“Oh yang dari kacang hijau itu, “ sambar Yudi Sungideres yang kebetulan penganut Khong Hu Chu.. Yudo Gempul mengangguk. “Tenang kawan-kawan soal kue-kue gampang. Semuanya tersedia. Kue kering karna kejemur ada. Kue basah yang kecemplung sumur juga ada. Bahkan pempek dan tekwan orangtua juga menyediakan. Apalagi minuman cincau kaleng. Ssttt…bir songhie juga ada beberapa krat. Komplit. Asal nggak pada ngantongin kacang yg banyak seperti tahun kemaren.

“Bagaiman kalau pulang sekolah nanti kita mampir ke rumah Yudi? Rumah kamu di daerah Yud. Jauh tidak dari sekolah kita.” Ujar Faisol Kriting berapi-api. Saking kepingin dapat makanan gratis.

“Khusus acara begini, kita always standby kok Yud..” Cerocos Ichsan TWEJ. Kacama tebalnya nyaris copot ketika mendengar kata makanan.

“Lu ada shong hie sama whisky juga Yud?” Tanya Agus Blepotan.

Yudi mengangguk. “Iya habis pamanku juga doyan mabok.”

“Paten paten. Mantap!” puji Apto Pringgodani senyam senyum.

“Emang kenapa Gus..kamu nanya minuman keras? “ Tanya Yudi sedikit penasaran. “Kamu doyan mabok juga ya? Belum dewasa. Belum akhir balik, lebih jangan dulu deh. Nanti malah muntah-muntah di rumahku.”

“Ah kamu belum tahu Aku sih. Aku sudah lama tidak menenggak minuman-minumas keras. Sedap nih kalau di rumahmu ada. Masak Cuman kue-kue dong. Ah cemen bro…Emang saya pelajar banci kaleng. “ ketus Agus Blepotan yang rada bertampang centeng pasar inpres. Anatominya saja kalau diamati secara seriud lebih mirip botol kecap.

“Wah ini ini kalau kalian minum awas ya. Pokoknya tidak ada acara teler-teleran ya..”Protes Debby sambil menunjuk-nunjuk ujung hidung Agus. Agus terkesiap kaget. Dia kesel hidungnya yang sudah pesek alias mancung kedalem itu ditunjuk-tunjuk.

“I agree with you Debby. Deal. Thats stupid boy. Forbiden. Not useful. Very dangerous. Kalau pakai acara teler, I’am not followlah…timpal Ichsan TWEJ.

Pukul sembilan kurang seperempat bel berbunyi panjang. Pelajaran untuk jam pertama dipagi nan indah untuk kelas 1.3 yaitu kesenian atau menggambar. Dan akan diasuh oleh Kak Seto eh salah yang betul oleh Bu Yuli. Akan tetapi karena beliau berhalangan hadir lantaran ada kabar berita jalan menuju ke rumahnya kebanjiran. Sampai sekarang belum ada guru penggantinya. Sontak banyak siswa-siswa yang kecewa, alasannya tidak lain dan tidak bukan karena menggambar merupakan pelajaran yang super santai. Asik dibuat untuk rilex, melamun, ngalor ngidul dan menggosip. Noteabene tidak perlu menguras pikiran dan urat saraf. Tekya, termasuk paling menggerutu kali ini. Betapa tidak dia musti berkorban menyewa payung demi menyelamatkan bukur gambarnya. Dia juga sudah menyiapakan segala macam tetek bengek peralatannya, rapido, jangkar, mistar, spidol, pensil de el el. Dan dia juga terlihat dua ratus kali lebih serius dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Oh Ibu Yuli, engkau membuatku kecewa deh. Saking kesalnya, ingin rasanya Tekya melompat dari ruangan kelas di lantai tiga dilengkapi dengan parasut tentunya. Olala. Sejurus kemudian Tekya menerawang.

Rekan sebangku Tekya lain lagi, si Faisol menyaksikan Tekya yang tengah dilanda kecewa berat. Kelihatan dari gerak geriknya yang tidak tenang. Niat rencana ingin mengusili si Tekya, dia urungkan. Tekut disemprot. Lalu Faisol segera mengambil topik aksi lainnya. Oh ya lebih baik dia melamunkan makhluk hidup ciptaan Tuhan yang paling indah yaitu : perempuan alias cewek. Tampangnya seruwet rambut kribonya. Alamak! Rupanya dia sedang membayangkan sesosok wajah manis bernama Emilia, anak cewek kelas 1.5. Kelasnya tepat di muka tangga lantai tiga. Akibatnya Faisol jadi tertawa sendiri persis orang sedeng.

Tiba-tiba..Lamunan Faisol buyar gebyar. “ Sol..sol..kamu bawa buku gambar tidak?” Rupanya Tekya yang punya gawe. Eeh mahkluk yang ditanya malah tidak menjawab sepatah katapun. Dia tak bergeming. Tetap setia melamun. Swear, Faisol tak menghiraukan teguran teman sebangkunya. Akhirnya Tekya menempuh jalan terakhir menimpuk jidat Faisol dengan buku gambar berukuran A3. PLOOKK!!! Baru Faisol tersadar dan mulai kembali ke alam nyata.

“Ada apah sing begajul. “hardik Faisol kelabakan. “Kamu mengusik lamunanku saja. Kan sulit lagi Aku untuk berkesentrasi untuk kembali melamun. Tahu nggak?!”

“Aku lupa bawa buku gambar! Puas?!” Omel Faisol kepada Tekya. “Kamu ini kenapa si Tekya, tidaak boleh melihat orang senang sedikit sih. Buyar deh lamunannku. Kabur tuh cewek…”

“Wuihh, segitu sewotnya. Padahal saya kan tanyanya baik-baik. Sol Sol..Faisol bedegul. “

“Lupa Luapa! Aku lupa bawa. Emang kamu mau pinjamin Aku?”

“Ogah. Nanti kamu keterusan malesnya slalu lupa membawa buku gambar.”

“Habis ukurannya besar. Tasku tidak muat.”

“Yang penting niat bro..”

“Kali ini kamu beruntung. Bu Yuli berhalangan.”

“Asikkk.” Lantas kita sekarang waktunya bebas.” Wajah Faisol bercahaya. Dalam hatinya pengin loncat-loncat kegirangan namun diurungkannya tindakan gila tersebut.

“Lho aku kok nggak nemui buku gambarmu Tekya. Lupa juga ya?”Ledek Faisol dengan bibir yang dimancungkan. Nyaris dower mirip Mick Jagger. “Kalau begitu skor kita sama ya. Senasib sepenanggungan. Sama-sama lupa bawa buku gambar. Ibarat saudara kembar saja. Serupa tapi tak sama. Kalau kamu mirip manusia sedangkan saya manusia asli. Hehehe..”

Timbullah rasa  kesal Tekya. Sambil mendengus kayak wedus. Tekya cepat cepat merogoh sesuatu dari sorong mejanya. Kemudian terpampanglah seonggok buku menggambar ukuran A3 yang kondisinya sedikit basah dan kumal. Untung masih layak pakai.

Faisol kaget. Kedua bola matanya yang hitam bergeser ke tengah mirip orang juling. Sesaat kemudian kepalanya menggeleng-geleng tanda takjub heran.

“Gara-gara hujan sialan!” Maki Tekya.

“Astagfirullah! Nyebut Tekya…Hujan itu berkah dari Allah.”

“Ampun ya Allah. Ampuni bacot hambamu ini. Asal njeplak aja. Saya khilaf ya Tuhan.” Tekya langsung gelagapan.

Faisol cekikikan sampai  punggungnya tersender di sandaran bangku. Tiba-tiba dia refleks mengajak Tekya untuk toast. Dengan gerakan sedikit lamban dan gelagapan, akhirnya Tekya menyambut juga lima jari milik Faisol. Kelima jarinya juga keriting seindentik dengan rambutnya. Lalu Faisol berkata, “ Dengarin ya Tekya. Kamu masih lebih hoki dibanding Aku. Buku gambar milik kamu masih berwujud barang. Lha! Kalau punya awak ini sudah tidak ada juntrungnya lagi. Alias lenyap.”

“Maksudmu? Buku gambarmu basah kena hujan lalu menjadi hancur menjadi potongan-potongan kecil. Begitu?”

“Bukan begitu maksud awak. Hilang tak berbekas..”

“Aku jadi bingung Sol. Masih belum mudeng dan belum tahu arah pembicaraannya.”

“Gawat kamu. Kebanyakan minum pil koplo ya. Jadi overdosis.”

“Sudahlah, Jangan banyak cincong. Ceritamu diringkas aja. To the pont gitu.”

“Oke. Keseimpulannya “BUKU GAMBARKU KETINGGALAN DI OPLET”. Puas kamu?!”

Meledaklah ketawa Tekya seketika mendengan alasan dari mulut Faisol.

“Sudah kuduga kamu pasti akan meledekku. Huh! Daasar tidak setia kawan.”

“Lantas kamu tidak menguber dan berteriak? Biar busnya berhenti.”

“Sudah. Tapi mereka terus aja pergi. Ihikksss..”

“Kasihan kamu Sol. Aku turut prihatin.” Tekya menepuk bahu temannya dengan buku gambarnya yang kumal bin dekil.

Selang beberapa menit kemudian, menjelang pelajaran usai, suasana kelas tampak riuh gemuruh seperti di pasar inpres. Setidaknya terdapat beberapa gelintir anak-anak cowok bertingkah seperti begundal-gundal pacul-cul gembelengan…melancarkan aksi membuat gaduh. Sementara anak-anak cewek mengalah dan tidak mau terlibat, cukup berlaku kalem dan acu-acuh cuwek. Lebih nyaman menjadi penonton saja.

Para Serdadu kelas 1.3 dapat digolongkan katagori remaja berusia tanggung yang penuh kreativitas, enerjik over dinamis.

Seperti kejadian kali ini, sebuah konser gelap dadakan yang dimotori oleh Yuda Gempul tercipta sudah, plus personelnya macam  Agus Blepotan, Ferry Item, Choi Kurcaci also starring Sony Betapermax  mulai bangkit kekumatannya. Mereka bertindak atas komando Yuda Gempul yang menggerak-gerakkan layaknya konduktor atau dirigen yang memandu sekelompok pemusik pada suatu pagelaran konser musik. Beberapa anak bagaikan keiblisan mengeplak-geplak meja seolah-olah drum. Tentu saja bunyi yang dihasilkan berantakan. Lebih mirip knalpot pecah yang racing. Jauh dari kesan harmonis dan merdu. Komposisinya kocar-kacir. “PLAK! DUNG DUNG PLAK! PLETAK! GENJRANG GENJRENG! NA NA NA NA!” Kurang lebih seperti itulah nadanya. Sungguh tidak jelas. Suaranya membahana. Walaupun begitu mereka tetap cuwek dan kompak. Lama kelamaan agak terdengar dan terbentuk juga nadanya.

Memang, tidak ada greget dan nilai seninya. Yang pasti amburadul yang membuat pusing kepala. Sekali lagi, ahenya mereka tampak menjiwai seaakan-akan mengikuti irama dari pak komposer dengan benar. Tidak beberapa lama sayup-sayup terdengar lagu dengan balutan irama padang pasir di Timur Tengah. Mendayu-dayu dan melenggak lenggok bak ratu kebaya. Namun lagunya terdengar hancur ketika dimasukkan lirik yang diplesetkan menjadi parodi. Padahal iramanya mengambil sebuah lagu Koe Plus yang berjudul ‘di sekolah’. Lagunya kurang lebih seperti ini..: DI SEKOLAH YANG KUHITOING-LUHITOUNG, HANYAKAH CIWEK. KTELAH LAMA MENULAK-MENULAAAK EH MASIH NGEBEET JUGA.

Sejumlah siswi cewek seperti : Lala Arleini, Eveltine, Debby, Fatimah, Inyoy, Novelita, Dewi Brisik, Elbala Diba, Baba Bubu dan sejenisnya. Mereka serempak meneriakkan suara “HUUUUUU..! Zoel yang sering gamang akan jenis kelaminnya itu masuk ke kelompok mana. Zoel yang feminim itu memang lebih tertarik bermain dengan siswi cewek, walaupun dia terpasung dalam badan lelaki. Namun naluri dan sifatnya nyemplung  ke perempuan yang lemah lembur serta gemulai. Namun, kali ini Zoel tak ingin ambil bagian pada parade kali ini. Dia hanya terdiam diri di sudut kelas. Entah siluman apa yang sedang mamasuki raganya sehingga dia berlaku kalem kali ini. Biasanya dia acap berbaur malah terkadang bikin heboh. Tadi pagi Zoel ikut merasakan siraman air hujan yang dipercikan dari ban mobil oplet atau angkot. Kejadian itu sempat membuatnya naik darah. Zoel tak sempat mengumpat sopirnya, karena telah lenyap di balik tikungan. Juga timbul rasa malu ketika tengah memasuki area sekolah. Beberapa gelintir dari kelas lain sempat terdengar cekikikan tertawa mereka yang sepenuhnya Zoel rasakan nada meledek. Melihat bajunya terdapat beberapa bercak noda tanah dan basah. Seragamnya yang sebelumnya putih bersih mengkilap menjadi hitam buram. Seandainya saja (kalau boleh berandai-andai) disekitar kejadian masih sepi pastilah Zoel sudah berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Zoel hanya tidak tega menyaksikan Ibunya dengan susah payah membersihkan noda. Guyuran hujan dan insiden tadi pagi langsung membuatnya mati rasa.

Oh ya Debby sempat  menarik-narik tangannya diiringan rayuan agar mau bergabung. Tapi tak mempan. Zoel sudah terlanjur tidak bernafsu.

“Kenapa si Zoel?” Tanya Eltine kepada Debby.

“Entahlah. Tidak biasanya. Kesambet jin n jun kali.”jawab Debby sekenanya.

“Mungkin dia kesal sama kejadian tadi pagi yang merenggut….”cerita Eveltine.

“Merenggut….baju seragamnya ya? Hahaha.” Debby sumringah.

Eveltine dan Debby cekikikan.

Susasana tidak kondusif. Di tengah hiruk pikuk kelas yang mirip kapal Titanic yang pecah. Di sebuah meja dekat jendela. Iwan Mukejenuh yang bertubuh gembal, berbodi subur dan lumayan kekar. Selain berwajah Boolywood tampak sedang memeras keringat (bukan susu sapi ya…) mengumpulkan segala upaya, semangat dan tenaga yang dia punya dalam perhelatan adu panco gelap. Kali ini melawan Hery.

Mereka membentuk semacam arena yang melingkar. Masing-masing supporter maupun panchocheersleader mendukung andalannya. Auro dan aroma panas penuh semangat dari kubu masing-masing untuk  memenangkan jagoannya. Iwan menampakkan wajah penuh ketenangan dan kesantaian dalam menghadapi Hery. Sebagai juara bertahan panco antar bangku di kelas tersebut berusaha bersikap tenang. Berbeda 180 derajat dengan keadaan Hery. Dia dengan susah payah berupaya sekuat tenaga untuk menaklukkan Iwan. Nafasnya berhembus satu persatu. Terengah-engah dan payah. Butir-butiran keringan  mulai bercucuran membasahai beberapa bidang badannya.

“Ayo, terus Wan, masalah lo kalah si ceking Hery’ Tulangnya saja seperti papan cucian. Dia nggak ada apa-apanya!!” Teriak Faisol memberi semangat membara. “Jangan sampai kalah dong. Krdibilitasmu bisa anjlok.”

“Tenang Sol. Emang tampang saya tampang kalah. Nggak lah ya.”

“Ayon Ri! Hancurkan si juara bertahan Bila perlu sampai mampuih. Anggap saja  Iwan itu gentong air. Ayo Her, jangan malu-maluin bangsa Afrika.”dukung Apto sengit.

“Sialan kamu To. Kalau mau support yg bener. Tapi jangan fitnah dong saya dibilangin dari Afrika.

Dengan mudah bagi Iwan Mukejenuh untuk menaklukkan Hery Slim. Pergelangan tangan milik Hery agak kebiru-biruan terkulai lunglai. Sebagai tanda perjalanan aliran darahnya belum lancar. Walaupun begitu Hery tidak ingin menunjukkan muka kalahnya. Dia tetap tegar dan tersenyum. Tentu saja Hery tidak mau harga dirinya jatuh di hadapan siswi-siswi kelas 1.3. Bisa-bisa dia dicemooh dan diperolok-olok. Rasa sakitnya yang sedikit-dikit mulai mendera ditahannya kuat-kuat. Sudah menjadi rahasia umum kalau adu panco barusan terjadi adalah kurang fair alias tidak seimbang.  Hery yang berbadan tipis alias kurus nggak keurus itu harus dipaksa melawan Iwan. Terang saja Hery langusng keok dan KO cepat.

“Herryy. Tadi kamu sarapan apa sih..” Tanya Iqbal.

Hery hanya mesem-mesem. Buru-buru dia ngeluyur ke toilet. Alasannya sudah kebelet. Padahal dia mau mengaduh sepuasnya tanpa orang yang mengetahuinya.

“Makan serbuk gergaji ya?” Ledek Iwan jumawa.”Hayo siapa lagi lawan berikutnya. Ingat! Sebelum turun lapangan dicek dulu ya tenaganya. Kira-kira kalau tidak sanggup melawan saya mundur saja. Jangan kayak si Herry. Tidak kuat tapi belagak jago dipaksakan. Jadi begini akibatnya.”

Tiba-tiab muncul Andre unjuk kebolehan.

“Nyali lu gede juga Ndre..”Sambut Iwan sinis.

“Begini-begini saya sudah beberapa kali nonton film Silvester Stallone..” ucap Andre seraya mngyingsingkan lengan bajunya hingga kelihatannya ujung ketiaknya.

“Jangan ketinggian gulung bajunya Nde. Baunya kurang sedap. Ketek jelek kamu kelihatan.” Protes Iwan.

“Oh ya tadi kamu belajar dari film Stallone ya. Saya tebak pasti film ‘OVER THE TOP’. Pilem tentang seorang plonco.. eh pemanco.

“Enak saja. Sembarangan jawabnya. Asal njeplak aja. Salah.”ujar Andre kesal.

“Lantas film apa dong…”

“Basic Insticn.”

“Ancurminah. Anjriiit!”

Pinsa Anu Gerah, Iqbalik, Akhyar kembali bersorak-sorak sambil bertepuk tangan memberi semangat kepada kedua petarung panco tersebut.

Mari kita beralih ke meja lain. Ternyata sedang berlangsung pertandingan catur yang cukup….santai antara master Tekya dan master Agus Kecik. Akan tetapi keduanya menunjukkan muka tegang. Tekya dengan gaya bertopang dagu. Sedangkan Agus Kecil bertopeng monyet…hihi. Biar dikira penonton sedang memeras otak.

“Skakt Mamat!!” Pekik Tekya tertahan. Agus Kecik agak terpelongo. Mata terpelotot. Lidahnya menjulur. “ Ayo kamu mau kabur kemana? Raja kamu telah terkepung. Silahkan dik Agus yang kecik mengalah saja.” Tekya melonjak kegirangan seakan sudah yakin bakal menang. “Jalan kamu semua sudah ketutup. Kiri kana ada ruko. Hehehe.”

“Eit..tunggu dulu dong. Kasih kesempatan saya mencari jalan dan siasat.” Agus kecik ngotot belum mau mengaku kalah. Dia berusaha memandangi satu persatu buah catur-caturnya. Siapa tahu masih mempunyai peluang. Walaupun keadaan sang raja sedang gawat dan kritis toh masih ada mentri, benteng, luncuk dan sejumlah pion.

“Tenang sajalah. Masih banyak jalan menuju kecurangan..” Bisik Agus Kecik sambil berbisik kepada Choy.

“Apa kamu bilang curang? Pantesss…Ternyata…Perasaan awak tadi mengatakan pasti ada yg tidak beres.”

“Tadi itu iya sih. Sekarang murni lho..Giliran saya kan sekarang, skak ster hayooo…”ucap Tekya santai tanpa dosa.

“Steer? Mana ada ster? Ulang! Ulang! Itu tadi nggak syah!” Faisol mengamuk pertanda dia tak diterima.

“KEDOBRAAAKKKK!!!” Tak ayal lagi buah-buah catur berjatuhan dan berhamburan. Entah kenapa siapa yang berbuat? Entah siapa gerangan yang menganggu dan berbuat usil. Wow usult punya usut ternyata rupanya si Faisol yang membuat ulah. Kesambet jin Afrika kali…Balasannya rambut Faisol yang keriting itu diacak-acak oleh Tekya. AJAIB! Rambut Faisol tak berubah sedikitpun. Catur is finish.

Keributan tak berujung itu benar-benar membuat bising. Tak beda seperti keadaan di pasar kaget yang heboh oleh teriak-teriakan para pedagang selagi menawarkan barang loakannya. Otomatis beberapa kelas tetangga merasa terusik kondisi belajar mereka. Akibatnya suara para guru yang menerangkan pelajar berteriak sampai suara mereka parau tidak terdengar sama sekali ke telinga para murid.  Dulu, memang semua guru sudah pada maklum terhadap kelas 1-3 yang basicnya susah diatur dan dijelimetin dengan nasehat-nasehat usang. Badungnya sudah tidak ketulungan lagi. Tapi sekarang, aliran darah mereka sudah terlanjur naik sampai kepala. Istilah lain  sudah naik pitam.

“Aduh!” Ada yang tahu kelas mana itu yang bikin ribu?!” Tiba-tibal Ibu Wiwi melontarkan sebuah pertanyaan yang tak perlu dijawab dengan menguras otak kanan maupun kiri.

“Kelas satuuu tigaaaa Buuu.!!!” Teriak ana-anak murid kelas 1-5 secara serempak seperti koor paduan suara buaya. Mirip orkes simponi little pony.

“Lihatlah anak-anak, omel Bu Wiwi yang kebetulan memandu pelajaran bahasa Inggris di kelas 1-5, mendengar keributan itu.”Mirip anak-anak bebek kehilangan video game. Tak patut kaliah contoh. Untungnya rata-rata mereka berotak encer. Yang bernilai positif boleh kita contoh. Kenakalannya jangan ya. Sungguh memalukan. Terlalu…”

“Pada mau bertelor kali Bu. “Celetuk Udin Zabriks dari bangku paling belakang.

Mari kita kembali melihat keadaan kelas 1-3 yang saat ini menjadi sorotan para guru. Kegaduhan sudah mereda. Faisol dan Tekya yang tadi bertikai gara-gara bermain catur sudah didamaikan oleh teman-teman mereka sendiri.

Fatimah, Endah beserta Baba sedang asik membuka lembar demi lembar sebuah majalah remaja yang terbit edisi bulanan. Nama majalahnya Mode. Berita-berita sudah ketahuan yaitu sekitar mode dan fashion. Selain itu juga memamerkan model-mode muda yang kece-kece dan klimis-klimis. Sesekali mata mereka melotot sewaktu melihat gambar-gambar sosok-sosok para cover boy yang bertampang macho berpose bertelanjang dada di pinggir empang ikan lele. Pokoknya memakan satu halaman penuh.

“Waduh, kapan ye Ogut dapet lanang belagak-belagak mak ini (kapan ya saya dapat cowok cakep-cekep seperti ini) Oh betapa senengnya seandainya kelak dapat pendamping hidup itu sekeren ini. Betapa indah dan berwarnanya dunia. Bisa-bisa ogut betah dan sebulan tidak pernah keluar rumah.”

“Ngapain? Kali bersih-bersihin rumah ya? Ngepel dan nyapu gitu?” Tanya Endah mirip cewek bolot.

“Hey..emang kita pasangan babu apa? Maksudnya kami akan memadu kasih sepanjang hari dan malam. Lokasinya tidak perlu jauh-jauh. Kamar mandi kamar tidur,  kamar tidur kamar mandi.

“Idih, maunya! Emang kalau menikah itu lepas dari kewajiban urusan rumah tangga apa?!” Potong Baba, “Nih kalau saya nih Fatimeh. Kamu dengerin yee. Cowok pendamping aku tidak perlu terlalu good looking atau handsome tampangnya gitu. Tidak perlu muluk-muluk deh. Emang cerita dul muluk. Kepribadian dan akhlak nomor wahid. Terus dia merupakan laki-laki yang bertanggungjawab sebagai kepala rumah tangga. Menjadi imam bagi keluarga. Mempunyai pekerjaan yang mapan. Setia, pengertian, penyayang, sedikit kocak dan….cinta aku sampe dunia memisahkan kita.”

“Apanya yang nggak muluk- muluk. Semua kriteriaku sudah kamu borong semua Baba..” Ketus Endah. “ Saya sepakat sama kamu, buat jadiin cowok kalau bisa cakep. Tapi kalau suami tidak perlu cakep nanti sudah menjaganya. “

“Terserah kaliahlah. Kalau ogut mnasalah tampang sangat penting karena….” ucap Fatimah.

“…Sudahlah, Aku tahu alasannya. Untuk memperbaiki keturunan kan?” Samber Baba spontan.

Fatima sangat dongkol mendengarnya. “ Huh…memang betul sih..” katanya dalam hati. H rasanya Fatimah ingin meninju muka si Baba Holiang. Dasar terlalu jujur!

“Heh Baba Holiang! Kamu itu sudah gila dan aneh ya. Mukamu itu sudah kayak sendal jepit malah mencari cowok jelek sih. Apa kamu tidak kasihan sama anakmu kelak. Merana banget punya orangtua bermuka di bawah standar. Hehe…” Ledek Fatima sambil terkekeh-kekeh.

“Ponten seratus buat Fatimah. “ Endah menimpali. “Make sense itu. Cewek baskom cocoknya sama cowok baskom juga. Hua hua hua.”

“Bukan begitu mulut sumur! Cuka para! Maksud saya ..seumpama dikasih Tuhan cowok jelek kayak Tom Cruise atau Andrew Shue. Saya tidak mungkin menolak.” Baba ngeles.

Bisa ditebak setelah itu rambut Baba diacak-acak.

Dimeja depan, Arleini terlibat percakapan seru dengan Eveline. Biasa, maklum sedang menggosip. Gossip is the sip. Makin digosok makin siip deh! Di deretan bangku belakang keduanya, ada sosok Debby dan Novel menjadi pendengar setia setiap curahan gosip. Yang namanya pendengar hanya pasang kuping lebar-lebar, terus mata diplototin pertanda gosip itu seru dan juga mulut melongo sambil terbuka lebar-lebar.

“Vel..” Arleini membuka bumbu gosip baru.” Semalam Aku rasanya memergoki Bapakmu nongol di televisi deh.”

“Oh ya. Ah masak? Di tipi mana?”

“RCTI”

“RCTI?? Ooh mungkin juga. Belakangan ini Papa sibuk sekali. Sering pulang sampai larut malam sih. Ternyata kami juga sekeluarga baru tahu Papa tuh jago mengamati pemain bola. Dulu dia jago tarkam. Kalau tidak salah di posisi sebagai sticker atau gelandangan kekinian. Sorry saya lupa. Oleh karena itulah dia kerap diminta sebagai komentator khusus sepak bola.”

“Huh, kalo itu saya sudah tahu. Sebelum kamu lahir ke dunia ini malah..Tapi kasli ini beda lho Vel..Aku lihat dia stasiun yang beda. Nggak biasanya gitu.”

“Tunggu dulu. Aku belum paham maksudmu. Ohhh..Kamu melihat Papaku di stasiun Kereta Api ya?”

“Eh bukan. “

“Habis stasiun mana lagi. Stasiun kereta bukan. Stasiun pesawat kali ya?”

“Ngawur kamu.”

“Memangnya disaluran mana dong? Kok Aku sampai tidak tahu. AYO dong apa nama acaranya?” Eveline menampakkan wajah polos bercampur bingung.

“Di acara ini…eee…kontes ‘academy funny face award’!!”

“Goblok..Nggak lucu ah. Ngaco kamu Len!”

Semua tertawa terkekeh kekeh.

“Tuuhh kan, apa kubilang. Lucu kan Bapakmu?Buktinya  kalian pada ketawa. Hua hua.” Leni puas sekali ledekannya berhasil menjerat Eveline. Termasuk Debby dan Novel.

Kali ini Debby yang pingin cerita gosip tentang dirinya sendiri. Debby tidak mau kalah rupanya.

“Ayo sekarang gantian dong. Kalian dengerin curhatanku..” Rengek Debby.

“Ihh..Tidak mau denger curhat ah, Deb.”ujar Leni ketus. “Omongan kita ini hari khus gosip doang bukan cuthat Deb.”

“Curang deh. Curhatku ini ada bumbu gosipnya tau?!” Debby tidak patah semangat. Dia terus ingin bercerita.

“Ya udah deh. Kita dengerin aja kasihan kan Len. Masak temen sekelas curhat kita cuwekin.” Bela Novelita.

“Iya Len. Lanjutkan Deb.” Eveline juga memberi kans pada Debby.

“Baik. Saya akan mulai bercerita…”Belum lagi Debby memulai babak ceritanya sudah dipotong Arleini.

“Pada suatu hari hiduplah sang kancil…”Samber Leni.

“Ahhh Leni. Tidak begitu-begitu amat lagi. Goblok. Memang dongeng sebekum tidur.” Protes Debby kesal.

Sekarang gantian Eveline, Arleini dan Novelita menjadi pendengar setia.

“Nomong-ngomong Ogud lagi sedih nih. Pokoknya sedang dirundung sedih berat nan mendalam. Pilu dan dak kolu (nggak kuat).” Tiba-tiba roman wajah Debby berubah lemas, letih dan lunglay. Tampak sedikit guratan-guratan kepedihan yang berujung pada kepedihan. Juga kecewa.

“Sedih karena apa Deb? Diputus pacar ya? Cup cup sudahlah jangan sedih..” Arleini langsung merasa iba. “Lelaki masih banyak kok di pasar 16 ilir. Ceritakanlah Deb. Siapa tahu kami bisa membantumu.”

“Seriusan Deb?!” Novelita sedikit terperanjat sembari terbelalak.

“Terrusss Deb…”Pancing Eveline tidak sabaran bercampu penasaran.

Debby mulai bersabda…”Begini ceritanya. Kalian kan sudah tahu. Aku kan sudah lumayan lama berpacaran dengan Edot..”

“Berapa lama Deb?” Tanya Leini antusias.

“Lama sih. Sudah 7 hari gitu..”

“Kalo baru tujuah hari belum lama lagi. Baru seumur jagung bakar itu mah. Apalagi sama Bandot…”Celetuk Novelita.

“Novel! Awas kamu. Nama pacarku Edot bukan bandot. Kedengerennya nggak enak tahu?!”

“Iyo iyo. Sudah, lanjutkelah. “Novelita gregetan.

“Nah, hubungan kami ini telah diketahui oleh orangtuanya Edot. Dan mereka tidak ada masalah yang berarti. Kami telah direstui untuk menjadi teman akrab alias pacaran. Dan pesan orangtuanya, asal masih batas wajar dan normal. Kami diminta tetap menjaga diri masing-masing. Bayangkan sampai segitunya pesannya. Bagiku itu gimana gitu dan sakral dan kramat banget.”

Untuk sementara teman-temannya Debby pada berdecak kagum. Sedikit terharu.

Kemudian Debby melanjutkan kisahnya…”Nah…disaat kedua orangtua telah sepakat dan harmonis. Tiba-tiba tidak ada kabut tidak ada asap ada seserorang yang menetang hubungan kami berdua yang sudah berjalan manis ini.  Makhluk satu ini yang menjadi penyebab dan pangkal masalahnya. Dia dia..tega tidak merestui hubungan kami…”Debby sedikit menunduk. Ada nada getir di nada suaranya. Untuk beberapa detik dia menghela nafas. Menghirup nafas dalam dalam lalu menghembuskannya lewat pantat. Idiihhh!

“ Waduh gawat Deb!” Pekik Eveline.

“Pasti dari paman bibik, tante om atau dari adik atau kakak? Atau saudara jaunya ya?” Arleini menduga-duga.”Siapa sih. Ya udah kita tonjok aja Deb.”

“Oh so sad and so bad…” rintih Novelita turut prihatin.”

“Nah, kalian mau tahu siapa orangnya?” Tanya Debby dengan nada penuh kecewa.

“Iya Deb, kasih tahu kepada sahabatmu ini siapa nama cecunguk itu?” Eveline langsung naik pitam. Amarahnya memuncak. Dia langsung menyingsingkan lengan bajunya. Sepertinya darah mudanya mengalir kencang sekali. Ingin rasanya dia menghantam orang yang menjadi penghalang jalinan kasih teman sekelasnya itu. Rasa kesetiakawanannya boleh juga.

“Serempak mereka menyodrokan kepalanya masing agar mendekat kepada mulut Debby. Sepertinya Debby hendak berbisik. Kelihatannya dari mulutnya yang sedikit dower ingin berbicara. Lipstik berwarna jingga yang melekat di bibirnya dibasah-basahin dengan ujung lidahnya. Jadi ada efek mengkilap dan cerah benderah. Debby mulai memberi kode agar teman-temannya lebih mendekat lagi.

“S-siapa Deb? Aku nggak dengar kamu tadi ngomong apa?” Tukas Eveline.

“Yeee…Orang belum ngomong kok.” Bela Debby sambil memelintir bibirnya yang bagian bawah. Mirip nenek lemper.

“Ayo dong beri tahu. Cepetan. Nanti keburu bel berbunyi.” Arleini nyerocos penuh nafsyu.

“NAMANYA CEK ODAH MARODAH!!” Cetus Debby.

“NAH! Siapa pula itu?”Tanya Arleini, Eveline dan Novelita tersintak serempak.

“BABUNYA YANG BAHENOL DAN GANJEN!” HAHAHAHA…”Debby tidak sanggup lagi menahan ketawanya yang meledak-ledak. Saking puasnya tertawa, mata Debby nyaris mengeluarkan air mata dan terkentut-kentut. Untung persoalan yang satu ini dia berusaha untuk menahannya. Demi gengsi dan harga diri. Ketiga orang temannya baru sadar telah dikerjain oleh Debby. Mereka sewot bukan main.

“SIALAAANNNN KAMU DEBBY!!!” Tak ampun lagi. Kini rambut Debby yang semula dikucir pita telah awut-awutan diacak-acak jadi tidak karuan.

Di sela jam pelajaran menggambar  yang kosong itu diisi oleh anak-anak kelas 1.3 dengan canda ria dan keributan-keributan yang tak berarti. Mereka beranggapan kapan lagi dapat bertindak ‘free play in the class’. Lantas mereka segera bersuka ria. Mengenyahkan semua kepenatan otak mereka. Karena kesempatan jarang datang dua kali alias berentetan. Makanya musti dimanfaatkan sebaik-baiknya. Walaupun tampak sedikit buruk.

Dalam hati mereka mengucap syukur kepada Tuhan sang Pencipta karena hari ini telah dianugerahkan guyuran hujan membasahi bumi. ‘Hujan awet’ istilah mereka alias hujan yang belum berhenti walau menjelang bubaran sekolah. Hujan yang menyamankan dan menyejukkan hati.

Apabila hujan deras yang terus turun, maka akan mengakibatkan banjir. Makan jangalah kita menyalahkan sang hujan. Berarti kita berpransangka jelek kepada sang Pencipta. Tak boleh begitu ya. Kadang tanpa disadari kita mengumpat-umpat hujan. Seakan dia sebagai tersangkan yang harus dihukum. Padahal kita tahu keasalahn pasti ada pada manusia. Iya toh. Banjir terjadi karena siapa? Siapa lagi kalau bukan manusia yang suka membuang sampah seenaknya. Menebang pohon sesukanya. Memanfaatkan lahan yang semestinya untuk resapan air malah mendirikan mall, perumahan dan pertokoan. Mbo ya disulap menjadi taman yang asri dan rimbun. Sehiingga tiap butiran hujan yang jatuh. Sang bumipun siap menyambutnya penuh suka cita.

Tekya melongok ke luar jendela. Dari lantai tiga seperti  menyimpan pemandangan yang lumayan. Sudah kodratnya ketika sedang di atas biasanya melihat ke atasnya lagi. Setelah itu baru ke bawah. Kemudian pandangan diarahkan ke seberang jalan. Terlihat beberapa orang yang tidak membawa payung berlarian mencari tempat berteduh. Halte adalah menjadi sasaran empuk dibanding pohon. Lalu taman hijau milik sekolah yang mulai menggenang. Kolam ikan pun nyaris meluber karena tidak sanggung menampung serangan air hujan. Sejenak dilihatnya genteng sekolah yang kelihatan bersih tersapu hujan. Butiran air itu seperti berebut untuk meluncur menuju talang air.

“Terima kasih ya Tuhan. Aku suka sekali cuaca hari ini. Semula aku menuduh Tuhan. Tadi sih benar menyebalkan sekali. Kini hatiku senang.” Bathin Tekya. Mukanya sumringah sambil memberikan senyum terbaiknya.

Suasana hati Tekya berbanding terbalik dengan Ichsan TWJ, sang ketua kelas. Dia sudah berusaha dari tadi untuk menenangkan suasana kelas. Berusaha untuk mengajak semua teman sekelasnya untuk duduk manis, tidak ribut dan tertib. Namun bagi Ichsan TWEJ terlalu sulit untuk menyetir ataupun mengkoordinir puluhan orang dengan niat yang berbeda. Keseimpulannya adalah : Dia gagal mengontrol dan mengatasi kegaduhan demi kegaduhan. Pernah terlintas di benaknya untuk mencoba marah dan galak sebuas beruang kutub. Malah teman-teman seperti  Agus Blepotan dan Yudo Gempul tidak mempan dan tak perduli. Mereka lebih galak faktanya. Ya ampun. Ichsan ingin segera meletakkan jabatan nirlabanya sebagai ketua kelas sebelum waktunya. Mungkin lebih cepat lebuh baik. Bukannya dia tak pernah mencoba mengumpulkan semua uneg-uneg dan kemarahannya. Ketika hendak memuntahkan nafsu marah itu…Sudah sih. Hasilnya dia dicemplungin ke dalam bak sampah yang besar di belakang sekolah. Walaupun bagi mereka itu bercanda. Bagi Ichsan itu sudah keterlaluan. Tapi itu dulu, sebelum mereka akrab. Namun setelah akrab….makin parah. Hehe. Habis ketika sedang marah Ichsan lebih mirip pelawak Timbul Srimulat. Habis deh dia menjadi bahan olok-olokan.

Ichsan memutuskan untuk bertindak kalem saja. SDS. Selamatkan diri sendiri.

Ajaibnya, ketika waktu menunjukkan jam istirahat (keluar main), suasana kelas 1.3 makin mengglegar. Ritme kegaduhan tetap terjaga. Out of control again. Pasalnya Bu Sapi’i belum juga kelihatan daun telinganya. Entah terlambat memasuki kelas atau tidak mengajar. Masih simpang siur. Masih plintat plintut. Intonasi nada suara para siswa disini masih meninggi. Dobly stereo saja kalah berisik. Tiba-tiba diawali sebuah teriakan keras melengking dan nyaring membahana mengisi seluruh ruang kelas. Pastinya membikin kaget semua orang. Sumber suara tersebut dari mulut seorang siswa cewek bernama Sridimitha Rajni Kutacane Tunjahe-jahe (oayayai ini nama apa gerbong kereta api). Dia merupakan cewek blasteran Aceh-India. Si Sridimitha sedang dilanda ketakutan tingkat akut. Dia sedang berlari kencang menelusuri koridor kelas di lantai tiga. Derap kakinya mengundang beberapa pasang mata. Yang spontan nongol dari balik jendela kaca kelas. Semua pada penasaran. Ada apakah gerangan yang terjadi? Otomotas menjadi tontotan gratis kelaslain. Mungkinkah si sri melihat penampakan hantu wewe atau nini towok atau setan alas kaki? Namun…? Tidak lama kemudian muncullah penampakan seorang manusia di belakang Sridimitha. Orang itu terus mengejar untuk menyusul korbannya.

Usut punya usut ternyata biang keroknya adalah Agus Blepotan. Dia berusaha mengisengi Sridimitha dengan menakut-nakuti dengan ular-luran karet. Sedangkan sang cewek sudah tampak pucat mukanya. Dari hitam manis menjadi putih manis. Nafasnya pun sudah tersengal-sengal. Matanya yang bulat membesar. Untunglah, sang pahlawan yang tengah melamun bernama Ichsan TWEJ dengan sigap dan refleks menengahi kedua anak kelasnya itu.

“Came on guy. Comeon Gus! Are you crazy?”Ichsan membentas Agus secara refleks. Akhirnya emosinya yang tak tahan menyaksikan perempuan dianiaya ringan.

Agus tersentak kaget. “Apa San. Aku hanya bercanda doang. Tak usahlah kau teriak macam tu.” Agus langsung mengantongi ular mainannya ke dalam saku.

“Mitha! Sudah aman kok. Hanya ular mainan!”Teriak Ichsan TWEJ memanggil Sridimitha kencang. “Gus, kamu kan sudah gede. Masak bercanda seperti anak di playgroup sih. Kamu semestinya melindungi cewek dong. Bukan menakuti seperti tadi. Ayo Gus, minta maaf secara jantan.”

Agus sebetulnya rada gengsian. Apalagi sampai dibentak oleh seorang Ichsan. Seorang cowok culun berkacamata tebal dan kutu buku pula. Kebetulan menjadi ketua kelasnya. Dan harus dihormati. Dalam hati Agus berkata beraninya dia membentak-bentak aku. Agus untuk kali ini dia mencoba menuruti perintah sang ketua kelas.

“Bukan begitu Gus. Aku minta maaf kalau tadi membuatmu kaget. Karena tadi aku spontan saja. Karena kaget bukan main mendengar suara histeris wanita.”

Ichsan cepat-cepat menarik tangan Agus disaat melihat Sridimitha keluar dari persembunyiannya. Dia keluar dibalik ruang ganti pakaian. Mitha mendatangi secara mengendap-endap. Masih ada perasaan takut dan jengkel. Ingin rasanya dia menampar pipi si Agus keras-keras. Atau dia juag bernafsu ingin menarik rambutnya si Agus geblek itu.

“Awas kamu Gus! Kelewatan ya. Kuadukan kau ke kepala sekolah nanti baru tahu rasa.” Ancam Mitha serius.

“Sorry Mitha. Janganlah kau adukan aku. Jangan karena hanya ular karet aku sampai diskors. Aku Cuma ingin memamerkan ular kobra karet ini saja kok. Aku beli di bawah jembatan Ampera. Terus si Mitha kaget dan kabur. Ulaar karet doang, Mit..” Ucap Agus lirih dan pelan sekali. Mukanya mencoba untuk cengengesan. Agak tersedak.

“Agus bohong San. Jangan percaya dia.”Bantah Sridimitha bergidik.”

“Tenang Mit. Aku percaya Tuhan kok, bukan Agus.” Nada Ichsan TWEJ sedikit bercanda.

“Dia bukan memamerkan ular itu.” Lanjut Mitha lagi. “Aku yakin dia sengaja menakut-nakuti Aku karena tidak jadi memperkenalkan dia dengan Evi. Agus naksir Evi, San”

“Mitha…Evi mana?” Elak Agus.” Siapa yang mau kenalan. Jangan kau bongkar pula soal si Evi tu.”

“Evi? Anak mana?” Tanya Ichsan.

“Evi itu…Anaknya yang berkacamata tebal kayak kamu. Dia jago bahasa Inggris juga.” Jawab Mitha.

“Oh ya?” Ichsan agak terperangah. Dia memang agak takjub dengan cewek yang jago bahasa Inggris. Biar nyambung kalau diajak coversation.

“Kenapa San?” Tanya Agus melotot. Ada nada cemburu dik kata-katamu. “Masalahku saja belum beres. Aku dulu kenalan baru kamu.”

“Oke, habis itu giliran saya ya,”harap Ichsan TWEJ seraya mengiba.

Agus dan Sridimitha memandang aneh ke arah sang ketua kelas, lalu bertanya  serempak : “ADA DENGANMU ICHSAN?!”

Ichsan hanya bisa terpelongo. Sepertinya dia bertindak di bawah alam sadar.

“Huh! Kok ya laki-laki dimana aja sama ya! Nggak bisa lihat barang baru. Cewek licin sedikit. Dasar mata belang.”

“Joking, joking Sri. Kamu menanggapinya serius sekali. Kayaknya Agus bukannya tipenya Evi deh..”ceplos Ichsan.

“Jaga mulutmu, San…” Ancam Agus dengan gigi gemelutuk mirip jambu klutuk mengutuk Ichsan jadi kutuk buku.

Sepulang sekolah gerombolan anak-anak kelas 1.3 berbondong-bondong menyerbu rumahnya Yudi. Apalagi kalau bukan menyicipin penganan imlek buatan Mamanya Rudi. Xong Chi Fat choy!

WASPADALAH! BEGINI CIRI-CIRI TEMPAT MAKAN Ada ‘Jin Peludah’ Sebagai Penglaris, MENYERAMKAN!

Jalantauhid – Bagi Anda yang suka makan di
luar rumah atau punya hobi wisata kuliner, waspada dan telitilah memilih tempat makan karena bisa jadi makanan yang anda makan mengandung zat penglaris. Walaupun tujuan si pemilik tempat makan tersebut agar konsumen menggandrungi makanan yang dijualnya, akan tetapi proses penglaris biasanya melibatkan jin peludah yang tentu saja sangat menjijikkan.

 Waspadalah! Ini Ciri-Ciri Tempat Makan Ada 'Jin Peludah' Sebagai Penglaris, Menakutkan!
Sumber : muslimahcorner.com

Jin Peludah adalah setan yang dipakai sebagai sarana penglaris makanan. Tidak hanya warung-warung pinggir jalan saja yang menggunakan jasa makhluk jahat ini.. sekarang sudah berkembang digunakan di mall-mall yang ada dikota – kota besar.

Disebut jin peludah karena sebelum di sajikan kepada konsumen, makanan ini di ludahi akan menjadi terasa nikmat dan konsumen akan ketagihan untuk datang ke warung makan tersebut. Selain jin peludah ada juga jin penjilat piring yang akan digunakan oleh konsumen. Proses tersebut ternyata mampu menambah rasa makanan yang di sajikan, Bahkan kadang-kadang jika di rasa kurang maka tindakan meludah itu dilakukan sampai dua kali atau tiga kali secara berturut-turut.

Efek dari tindakan jin ini di samping membuat enak masakan yang di sajikan juga membuat energi negatif akan masuk ke tubuh orang yang memakan masakan tersebut, di

sisi lain kadang jika orang yang memakan masakan yang di ludahi itu kebetulan adalah orang baik-baik perilaku dan muatan spiritualnya, maka kadang setelah memakan makanan yang di ludahi, beberapa waktu kemudian dia akan merasa mual dan mungkin juga muntah-muntah.

Banyak orang yang telah mengalami hal tersebut. Salah satunya seperti yang dialami seorang Kyai yang diajak makan di sebuah restoran di Jakarta oleh temannya. Ketika ia duduk di kursi restoran, Pak Kyai mendadak sakit kepala dan buru-buru keluar tidak jadi makan, setelah ditanya, beliau memberikan selendang yang dia pakai kepada teman itu… tiba-tiba teman itu melihat beberapa sosok mahluk telanjang bulat yang mondar mandir meludahi setiap makanan yang dihidangkan kepada pengunjung.

Jin peludah hanya salah satu jenis penglaris, banyak cara lain yang dilakukan pemilik rumah makan agar warungnya laku.

Adapun ciri-ciri tempat/rumah makan, toko kue atau tempat kuliner lainnya yang menggunakan Media Sihir dalam usahanya yaitu :

Kalau warung besar semacam restauran, pasti ada toilet atau ruang dekat dapur yang nggak boleh dimasuki siapapun. Biasanya di dalamnya ada orang tua renta yang sakit kakinya dicelup ke air untuk kuah masakan.

Kalau warung pinggir jalan, perhatikan panci atau periuknya. Biasanya kalau pake penglaris hanya si tukang dagang yang boleh buka, jadi pembeli tidak boleh sembarang ambil kuah atau lihat-lihat isinya.

Biasanya terdapat buntelan kain putih di tempat nasi, gagang centong sayur, atau di peralatan masak lainnya.

Warung pinggir jalan yang menggunakan penglaris, tempat cuci piringnya terpisah jauh dan tidak terlihat kegiatan cuci piringnya.

Kalau dibawa pulang, rasanya berubah drastis berbeda dengan rasa jika dimakan di tempat makan atau makanannya cepat menjadi basi sehingga tidak sempat termakan.

Jika dinetralkan dengan doa rasanya jadi standar.
Itu hanya salah satu trik nakal dari pengusaha warung makan, agar laris. Kita tidak menghakimi semua warung-warung makan, karena tidak semuanya memakai trik jahat seperti ini. Bersekutu dengan bangsa Jin dengan tujuan dan cara apapun tidak dibenarkan dalam ajaran agama, bahkan hal tersebut merupakan perbuatan syirik yang mampu membenamkan pelakunya kelembah Jahannam. Sebagai orang beriman jangan lupa berdoa, karena orang yang dekat dengan Tuhan akan dijauhkan dari segala yang jahat. Berdo’alah dimana saja dan kapan saja ketika akan dan sesudah makan. Jika perlu bacalah ayat kursi. Sebarkan info ini agar saudara dan teman kita tahu. Semoga menjadi amalan sholih.

Sumber: Muslimahcorner.com

IDE KREATIF HIASAN DINDING KAMAR TIDUR

 

Sumber : Ideproperty.com

Hiasan dinding kamar tidur kadang bisa membuat suasanya kamar menjadi lebih rileks dan nyaman. Ruangan untuk tidur adalah tempat dimana seseorang beristirahat untuk beberapa waktu, untuk itu penataan dan pendekorasiannya harus benar-benar diperhatikan.

Berikut ini ideproperti.com berikan beberapa ide kreatif yang bisa dijadikan hiasan dinding untuk kamar tidur Anda.

1. Bingkai foto keluarga bentuk pohon (hierarki)
Dalam sebuah ruangan kamar tidur umumnya terdapat bingkai foto sendiri maupun foto keluarga. Anda bisa menjadikan beberapa bingkai foto tersebut sebagai hiasan dinding. Misalnya dengan membentuk pola pohon atau semacam.
hiasan dinding kamar tidur bingkai foto pohon

2. CD bekas
Anda memiliki banyak CD (Compact Disk) bekas? bisa pula dijadikan hiasan dinding. Konsep dinding kamar tidur Anda akan bernuansa metalik.
hiasan dinding kamar tidur cd bekas

3. Bingkai gantung
Umumnya foto atau lukisan berbingkai ditempelkan pada dinding, namun bagaimana jika digantung saja? Konsep tersebut tentunya unik dan kreatif. Anda bisa menerapkannya sebagai hiasan dinding kamar tidur Anda.
hiasan dinding kamar tidur frame gantung

4. Gitar gantung
Bagi anak laki-laki gitar tentunya merupakan benda yang ‘cowok banget’. Anda bisa pula menjadikannya sebagai hiasan dinding. Anda bisa meletakkan gitar kesayangan Anda di dinding. Atau bisa pula membuat hiasan dinding dari gitar bekas dan kreatifkan sendiri.
hiasan dinding kamar tidur gitar dinding

5. Jam dinding unik
Di dalam kamar tidur pastinya ada jam dinding. Namun jika jam dindingnya itu-itu saja tentu terasa biasa saja. Anda bisa menggunakan ide kreatif jam dinding seperti berikut,
hiasan dinding kamar tidur jam

6. Hiasan dinding kaset game
Anda seorang gamer? Tentu memiliki banyak koleksi CD game. Nah, daripada bertumpuk dan membuat kamar semakin berantakan, coba manfaatkan sebagai hiasan dinding kamar Anda.
hiasan dinding kamar tidur kaset game

7. Topeng
Hiasan dinding berupa topeng bisa pula Anda jadikan hiasan dinding kamar tidur. Ada banyak macam hiasan dinding berupa topeng dan salah satu yang populer adalah oleh-oleh dari Bali.
hiasan dinding kamar tidur mask

8. Kata-kata motivasi
Bagi kebanyakan anak remaja maupun dewasa tentu akan senang jika kamar tidurnya memiliki hiasan dinding berupa kata-kata yang memotivasi. Sebagai stimulan bagi Anda supaya menjalani hari-hari lebih semangat tentu hiasan berupa kata-kata motivasi akan sangat bagus.
hiasan dinding kamar tidur motivasi

9. Nama diri sendiri
Hiasan dinding berupa nama sendiri tentu unik. Anda bisa membuat hiasan dinding kamar Anda sendiri. Kreatifkan sesuai selera.
hiasan dinding kamar tidur nama

10. Poster
Poster adalah stuf yang paling umum dan disukai banyak orang sebagai hiasan dinding. Print lah gambar-gambar kesukaan Anda atu sesuatu yang bisa membuat Anda semangat dan jadikan poster untuk dindind kamar tidur Anda.
hiasan dinding kamar tidur poster

11. Rak
Rak untuk barang-barang sekolah atau kantor bisa dijadikan hiasan dinding.
hiasan dinding kamar tidur rak buku

12. Rak buku
Buatlah rak buku yang unik dan kreatif. Misalnya rak buku gantung.
hiasan dinding kamar tidur rak buku2

13. Binatang gantung
Mainan berupa hewan atau binatang yang bisa digantung tentu menjadi hal yang unik.
hiasan dinding kamar tidur tokek

Nah, Anda tertarik untuk memilih hiasan dinding kamar tidur yang mana? Atau Anda memiliki ide sendiri? Kamar tidur yang digunakan sebagai tempat menghabiskan hari harus memberikan rasa senyaman mungkin bagi penggunanya. Memberikan hiasan dinding sebagai cara yang ampuh untuk menjadikan kamar tidur semakin nyaman. Koneksikan hiasan dinding kamar tidur Anda dengan hobi atau kesukaan Anda. Anda suka musik maka kaitkan dengan musik, Anda senang main game maka kaitkan dengan video game, dan lain sebagainya.