MISTRI SEKOTAK PIZZA TAK BERTUAN

PIZZA DOMINO

 

 

Oleh : Deddy Azwar

Pekerjaanku di kantor beberapa bulan terakhir  ini lumayan sibuk, sungguh menyita waktu serta tenaga, sehingga membuatku kembali pulang malam hari alias lembur alias over night. Masalah ini semakin bertambah kompleks, setelah dua rekan sekantor mengundurkan diri dengan berbagai alasan. Dari alasan misi suci atau hijrah demi syariah sampai mencoba berbisnis. Tentu saja beban volume perkerjaan juga meningkat.

Pada awalnya pekerjaan pada satu seksi dikerjakan standarnya oleh lima orang di dalam  satu kubikel , namun sekarang dikerjakan hanya dengan 3 orang saja. Cukup signifikan bukan? Mustahil ini tidak akan menjadi efek bagi kami. Suasana yang kurang nyaman dan tidak pernah kami bayangkan selama ini cukup menohok. Alhasil kami jadi sering mengecap jam lembur alias menjadi laki-laki malam.  Persoalan ini bukannya tidak pernah diangkat oleh bos kami untuk dilaporkan ke Departmen Head biar dicari solusi atau jalan keluar. Kesimpulannya, Big Boss menjanjikan angin surga, yaitu tahun depan akan diusahakan mendatangkan seorang pegawai baru.

Zaman sekarang manajemen kebanyakan menggadang-nggadangkan soal efisiensi di  setiap sudut  di tiap organisasi. Ini telah menjadi trend di dunia bisnis perusahaan. Ada istilah yang keluar dari mulut-mulutnya para petinggi yang memegang tampuk perusahaan.

Pada bulan itu tepatnya tanggal 27 Desember 2018, di penghujung tahun, di kantor kami menggelar acar tutup tahun dengan acara berkumpul-kumpul dan makan-makan. Sudah menjadi tradisi di kantor kami pada setiap akhir tahun mengadakan semacam acara syukuran. Paling ada sedikit wejangan dari Bos untuk meningkatkan kinerja, mempertahankan preatasi dan melampau target yang telah disepakati. Sebab di tahun mendatang tantangan semakin kompleks. Belum lagi target yang ditentukan oleh manajemen juga meningkat. Oleh karena itu pelu bekerja sama saling bergotong royong. Tidak ada masalah yang tidak ada solusinya apabila dikerjakan secara team work.

Setelah acara hajatan selesai. Kami pun meneruskan pekerjaan.

“Pekerjaan teman-teman sudah beres?” Tiba-tiba pertanyaan kepala seksi memecah ketenangan dan kesunyian kami dalam bekerja. Tampaknya si Bos sudah selesai membereskan segala pernak-pernik di atas meja kerjanya sampai bersih.

“Belum Pak. Saya masih muterin sistem untuk report portfolio nasabah untuk minggu depan. Biasanya Pak, sistemnya masih lemot. Loadingnya masih lama. Karena saya mencoba di PC saya memakan waktu dua jam. Lama banget. Akhirnya kami menggunakan komputer yang pernah dipakai Pak Lukito malah lebih cepat.” Jawabku sambil terus menatap arah komputer yang masih bekerja.

“Oh begitu ya. Lucu juga ya. Malah komputer lama bisa diandalkan ya..”

“Entahlah apa yang salah. Sepertinya komputer kita yang baru ini tidak support sistem kita. Saya nggak tahu bagaimana pengadaannya. Apakah tidak diselaraskan dengan sistem yang ada.”

“Baiklah. Selama masih nyaman ya sudah dipakai aja dulu. Maaf ya, saya pulang dulu, tidak bisa menemani lembur.”

“Oke Bos, silahkan. Hati-hati. Langsung pulang ya, jangan mampir kemana-mana lho. Kalau jatuh bangun sendiri ya…”

Si Bos hanya tersenyum saja sambil berlalu.

Beberapa rekan kerja sudah satu persatu pamit pulang. Tinggallah tiga seksi yang masih belum pulang. Seperti biasanya ketiga seksi inilah yang selalu menjadi penghuni kantor paling bontot.  Karena tuntutan perkerjaannya, menimbulkan rasa loyalitas untuk berlama-lama di kantor. Ada istilah kantor telah menjadi ‘rumah kedua’.

Malam itu semua karyawan dibagikan satu persatu sekotak pizza Dominos yang cukup menggiurkan. Hadiah ini cukup dapat menciptakan sebuah senyuman bagi semua karyawan. Paling tidak ada sesosok makanan dapat dibawa pulang dan dimakan bersama keluarga. Ada juga yang sengaja makan di kantor.  Rata-rata mereka yang belum mempunyai keluarga alias bujangan.

Aku agak bernafas lega, pekerjaan hari ini sudah beres. Akan tetapi masih ada beberapa pekerjaan yang masih bisa dipending. Merasa badan sudah letih, aku bersiap-siap untuk pulang. Kertas-kertas yang semula tadi berserakan, lalu peralatan kantor yang centang perenang satu persatu kurapikan. Setelah bersiap untuk lupa. Oh, ya, hampir lupa ada sekotak pizza jangan lupa di bawa pulang. Semua rekan sekubikalku sudah pada pulang duluan. Cepat-cepat kumasukkan ke dalam goodiebag.

Tiba-tiba mataku tertuju pada meja kerja temanku bernama Arisan. Ternyata di sana ada sekotak pizza dan btiga lembar voucher belanja dari MAP yang ketinggalan. Rupanya temanku lupa membawanya pulang. Mungkin dia terburu-buru. Aku mengambil inisiatif untuk memberitahukannya melalui Whatsapp. Aku mulai mengetik…

“Bro…merasa ketinggalan pizza dan voucher nggak?”

“Hmmm….Oh iya. Waduh dmn (dimana) pak.”

“Meja.”

“Oke pak. Pizza boleh  bpk bawa.”

“Biar ga bs (basi)”

“Voucher tlg (tolong) keep dlu pak.”

“Boleh pizzanya kutaruh di kulkas aja?”

“Boleh pak, ini masih di kantor?”

“Iya.”

“Busyet msh ada kerjaan pak?”

“Lumayan. Baru saja selesai.”

“Aku sih nggak kemakan kalau ditaruh di kulkas. Nanti takut akan mengeras. Enaknya sih dimakan hangat.”

“Oh iya. Bener juga sih..”

“Kalau bapak mau, boleh dibawa pulang saja. Tetapi kalau nggak mau tolong bawa aja nanti kalau bertemu satpam di bawah atau di pos, kasihkan mereka saja pak.”

“Kalau dikasih nggak nolak. Mau dong. Terima kasih banget kalau begitu bro…”

“Sama2 pak.”

“Voucher sudah ada di laci bro..Oh ya inputan biaya kalau belum sempet dikerjakan pagi aja ya.”

Chating via WA pun selesai. Akupun pulang dengan senyum puas.

Namun setelah sampai di rumah. Setelah pizza dimakan beramai-ramai, tiba-tiba aku kaget melihat ada yang misscall ke handphoneku. Dari rekan kerjaku bernama Wawan. Oh ada apakah gerangan ya?

Akupun melihat ke aplikasi Whats App lagi.

“Pak Tekya.”

“Pizza saya kebawa ya?”

Mataku melotot. Akupun tertegun sesaat. Keningku mulai berkerut kerut. Sambil menggruk-garuk dagu yang berjenggot. Lho..kenapa tadi Aris mengakui itu pizza yang tertinggal itu adalah miliknya. Berjuta pertanyaan menggantung di benakku.

“Kirain pizza itu punya Aris. Tadi saya WA dia dan bilang barangnya ketinggalan di meja. Lalu dia mengakuinya dan dikasih ke saya. Waduh saya minta maaf nih kang Wawan. Saya tidak bermaksud….Bener nih saya jadi nggak enak nih. Terus terang saya jadi bingung. Tenang kang, saya janji akan saya ganti besok.”

“Nggak apa-apa pak hehe.”

“Nuhun Kang.”

Setelah kejadian itu, tepatnya besok lusanya pizza yang tertukar saya ganti dengan empek-empek asli yang saya datangkan dari Palembang. Kecele juga.

Besoknya temenku, si Arisan mengakui kesalahannya. Menurut penitirannya sesampai di rumah dia nggak sempat ngecek lagi barang  bawaannnya tapi langsung  tidur karena capai.

PIZZA DOMINO

Iklan

SERIAL ‘MASA SMA MASA BODO? dalam MALAM MINGGU NAN CREEPY/MENCEKAM DI KOMPLEKS PENJARA

pic7

BISIKAN BISIKAN ANEH DI BELAKANG RUMAH

Ferry berlari lari tergopoh-gopoh dari arah pintu depan langsung menuju kamar Agus. Karena keadaan sekitar gelap tanpa penerangan sedikitpun. Tampak jelas seperti orang linglung dan setengah takut. Dia seperti diuber oleh sekawanan zombie kampung. Saking takutnya dia lupa mengunci pintu depan. Sempat menabrak kamar pembantu, membentur tembok, menyeruduk kolong meja dan akhirnya tersungkur di tackle patung harimau yang sedang menganga mulutnya. Ferry jatuh terjerembab. Dan dia berusaha menahan teriakan sakitnya. Sepintar-pintar menahan akhirnya ketahuan juga. Akan tetapi suara jatuhnya terdengar sampai ke kamar dimana anak-anak sedang berkumpul.  Apalagi Bik Kinah, pembantu rumah, kagetnya bukan main. Jantungnya nyaris copot. Bik Kinah terbangun dari tidur nyenyaknya. Sebelum berdiri Bik Kinah memastikan terlebih dahulu apak dia sedang bermimpi atau tidak. Makanya dia mencubit pipinya. Lalu menuju cermin besar di sudut kamar.

Untungnya suara gaduh tidak terdengar sampai ke kamar orangtua dan saudar-saudaranya Agus. Karena lokasi kamarnya jauh dari lokasi kejadian.

Teman-teman Agus terperanjat. Mereka saling tatap-tatapan. Kebetulan mereka belum berniat tidur malam itu. Akan tetapi mereka tidak berniat mencari tahu. Masing masing saling merpersilahkan siapa yang mau keluar kamar duluan. Hanya Yudo yang sudah molor duluan.

“Gus, siapa yang bikin ribut di luar kamar? Perasaan saya nggak enak nih..”Bisik Faisol dengan mimik muka kepengen tahu. Keningnya berkernyit. Rambutnya yang keriting tidak serta merta menjadi lurus. Faisol cepat tanggap membaca situasi.

“Yuk, kita lihat.” Ajak Tekya. “Paling juga di Ferry. Memang dasar penakut.”

Ada kali lima menit Agus Cs terdiam. Setelah mereka sadar bahwa tidak sedang bermimpi, semua segera berhamburan keluar kamar. Baru saja beberapa langkah, Ferry sudah menunggu tepat di depan kamar juga dengan nafas ngos ngosan. Nyaris saja dia bertabrakan dengan Agus.

“Hei kecoak! Ada apa sih semprul? Diuber pocong atau ketemu hantu janda?” tanya Yudo Gempul sambil menghela nafas.

“Disentot tawon, kali?” Tuduh Apto kesal bin sebel.

“Combro pedas kamu Gus! Kebon di belakang rumah kamu itu ada setan penunggunya. Kamu nggak bilang bilang. Swear creepy banget deh. Payah kamu Gus, nggak bilang bilang ke saya. Mau membunuh teman sendiri ya?” Ferry memberondong Agus dengan rentetan pertanyaan.

“Penunggu bagaimana maksudnya?” Mata Agus terbelalak. Dia perlu waktu untuk berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Ferry. Jari telunjukknya mengetuk ketuk keningnya. “Ohh..dulu memang ada penunggunya. Dia malah tinggal di tengah-tengah kebon karet itu. Orangnya sih memang kurang bersahabat. Mungkin stress kali tinggal sendiri di kebon keramat. Rada seram wajahnya. Brewokan dan ada bekas codet di pipi kanannya. Tapi sekarang dia sudah dipecat. Bgaiaman nggak? Baru kerja seminggu sudah meminta gaji tinggi. Perjam lagi…Dasar kunyuk nggak?”

“Bukan penunggu itu maksudku, combrok!” Ucap Ferry jengkel. “Itu mah penjaga. Dama saja dengan James Bond dong. Jaga masjid dan kebon. Bayipun nggak takut. Ini kumaksut makhluk asral yang tidak kelihatan oleh manusia biasa. Hantu penunggu hutan atau kebon..”

“Hantu hutan atau kebon?!” Tanya Agus setengah terperanjat. “Setahuku sih nggak ada…”

Apto, Faisol, Yudo dan Tekya saling merapatkan badan. Mereka merinding dan bergidik mendengarnya, kecuali Yudo malah sudah ngorok tertidur di lantai. Pulas sekali. Ternyata dia belum mengetahui keadaan. Dia tidak dapat menahan kantuk.

“Jadi benar Gus, hutan itu ada penunggunya?” Tanya Ferry sambil mengguncang-guncang bahu Agus untuk meminta kepastian.

“Lho, siapa bilang nggak ada…”Jawab Agus dengan getir.

Mendengar jawaban Agus, kontan Ferry nyaris pingsan jika tidak cepat cepat dibopong. Mukanya tampak pucat.

Suasana kembali hening. Dua jenak kemudian. Anehnya tiba-tiba meledaklah tertawa si Agus. Teman-teman Agus memandang dengan heran. Apakah Agus kesurupan?

“Wweeeeeee ternyata Ferry penakut juga ya. “Ledek Agus girang. “Ketahuan kartunya nih yee. Penakut kok dipelihara? Mana ada hantu di dini. Daerah ini sudah sterill dengan yang begituan. Ferry Ferry. Di sini aman tentram, tertib dan damai. Sudahlah…kubilang tidak ada hantu di sini. Emangnya kuburan? Coba kamu tengok di kuburan, suasananya sepi, sunyi, senyap dan hening. Nggak ada berisik satu sama lain. Kecuali ada yang bangun baru bikin heboh. Perasaan takut berlebihan yang ada dalam hatimu itu yang membuat kamu membayangkan yang seram seram. Mereka (ghost) itu demen sama orang yang penakut dan tidak beriman lho…Contohnya nggak usah jauh-jauh kayak kamu Fer…Ayo friend be calm. Easy going aja lagi…Dont be afraid. Selama ini orang yang bernama Agus blepotan tidak pernah di takutin hantu.”

Mana mungkin takut, orang sereman kamu daripada hantu Gus…”Ledek Faisol lagi.

“Jangan takabur kamu Gus, ntar didatangan baru kamu semaput.” Kata Apto mencibir.

Ferry memberi sugesti agar Agus yakin bahwa yang dia alami tadi adalah buka cerita bohong belaka. Dia yakin melihat bayangan hitam dengan kilatan cahaya. “Percayalah Gus, saya tadi melihat ada penampakan hitam di hutan itu. Biar dijodohin sama artis Desy Ratnasari sekalipun.”

“Ah, itu akal akalan kamu saja. Kalau sama Desy, saya juga nggak nolak Fer..” Tegas Agus sambil nyengir kudanil.”

Ferry melanjutkan ceritanya, walaupun teman-temannya sudah tak minat mendengarnya. “Bayangan itu bergerak gerak dengan caya yang mati nyala mayi nyala. Sumpah mesum saya berani Gus, ngapain saya musti berbohong. Nggak ada gunanya.” Ferry tetap berusaha menerangkan kejadian itu di hadapan teman-temannya.

“Jangan jangan yang kamu lihat maling kali Fer… “Tebak Tekya.

“Iya kali.” Faisol ikut-ikutan.

Agus sudah mulai bosan dengan ocehan Ferry. Dia cepat cepat mengajak teman-temannya segera masuk ke kamar sebelum Orang tuanya terbangun karena mendengar suara gaduh. Yudo Gempul yang masih tidur lelap diseret ramai ramai dengan paksa menuju kamar. Habis susah dibanguninnya. Mungkin disiram air comberan baru bangun.

Bik Kinah pun yang terlambat keluar dari kamar akibat berdandan terlalu lama agak kecele pas menemukan suasana  di luar sudah kondusif. Dia mulai yakin bahwa dia mungkin sedang bermimpi. Buktinya tidak terjadi apa apa di ruang tamu. Awalnya dia sempat berpikir yang tidak tidak.

Di dalam kamar mereka berjanji tidak membahas kejadian tadi. Agus juga mulai ogah menanggapi ocehan Ferry yang sesekali masing mengungkit ungkit. Agus mulai menyetel kaset Godbless mini componya untuk mengalihkan suasana dan menetralisir dari ketegangan. Tidak lama kemudian mengalunlah lagu ‘Rumah kita’ dari mulut si kribo Achmad Albar dengan suara khasnya yang serak serak becek. Sebetunya Agus juga memiliki audio tape deck bertingkat tiga yang bisa bikin suasana kamar menggelegar. Dan diyakini dapat membangunkan orang sekomplek yang sedang tidur pulas.

Bagu Agus, dengan mendengarkan musik via mini compo juga lumayan.  Agus meninggikan sedikit volumenya hingga mencapai 50 %. Lampu equalizernya menyala naik turun. “Ayo turun. Mari kita melantai..”Ajak Agus sambil mencoba orang menirukan tari tor tor.

“Ah..yang bener kamu Gus. Nanti orangtuamu ngamuk bagaimana?” Tanya Faisol seakan meminta kepastian. Takut nya hoax kan bisa berabe.

“Gila kamu Solpatu! Kau kira Bapakku banteng bisa mengamuk. Awas kamu ya!” Ancam Agus sambil ngakak. “Jangan kawatir kamarku kedap suara kok.”

Mereka berenam pun berjingkrak jingkrak dengan gilanya. Seakan-akan sedang melantai di diskotik midnight.

“Hallooo….Astaga teman-teman..Apakah malam ini kita tidak tidur ya?” Akhirnya Yudo Gempulpun terbangun dengan shock. Dia memprotes keras.

“Hey Yud, katanya kita ini mau begadang ala Rhoma Irama kan…Yang namanya begadang tidak tidur sampai pagi. Kalau mau tidur pulang sonoo..” Teriak Tekya sambil joget joget india.

Yudo Gempul harus mengalah untuk malam ini. Dengan terpaksa dia ikut ikutan joget. Kepengen tidur juga tidak bisa. Mana bisa nyenyak tidur di tengah hingar bingar.

Faisol bagaikan lupa daratan. Dia layaknya berperan sebagai gitaris handal musik cadas. Tangannya di ayun ayunkan bak gitaris handal Eddie van Hallen. Rambutnya yang kribo dikibas kibaskan lalu menaikkan dan menurunkan kepalanya. Serasa iklan shampoo. Seolah olah dia memiliki rambut nan panjang terurai. Bergerak ke sana sini mengikuti alunan dan dentuman musik. Roh metal dan rock mulai merasukinya. Hampir saja jidat dan ubun ubunnya digetok Tekya dengan gagang sapu. Aguspun  mulai tersadar melihat teman-temannya seperti kerasukan jin iprit mabok. Dia merendahkan tingkat volumenya. Agus menepak jidatnya. Dia kawatir orangtuanya memergoki, marah lalu menyiram dengan air es. Atau Agus membayangkan bapaknya yang galak itu melepar dia dan teman temannya ke luar rumah. Di hati kecil Agus berniat Ferry cepat melupakan apa yang telah terjadi.

Suasanapun kembali normal. Agus cs mulai merasa keringatan, capek dan mengantuk. Lalu mereka menyetel film cowboy sambil tidur tiduran di karpet yang empuk. Untungnya kamar Agus memiliki pendingin AC yang bagus sehingga dalam hitungan menit keringat mereka telah hilang.

“Ngomong ngomong, emang kamu melihat bayangan hitam itu dengan mata kepalamu hidung kakimu sendiri, Fer?” Tekya membuka percakapan di saat mereka telah melupakan. Ferry yang semula mulai lupa jadi teringat kembali.

“Sejak kapan kamu memiliki indra ke enam?” Potong Yudo sambil ngemik kripik.

“Jelas dong, masak meminjam indra tetangga sih? “ Celoteh Ferry dengan mata bulat berbinar binar. Jujur saya tidak melihat penampakan makhluk tersebut namun saya mendengar secara samar samar suara orang bercakap-cakap sambil cekikikan. Kamu tahu tidak. Kencingku jadi belepotan. Ngocor sana sini. Masih untung nggak kencing di celana.”

“Ah, itu sih akal-akalan kamu saja Fer,” tandas Faisol cepat, “Biar kita-kita pada takut tuh. Buktinya, kamu Cuma dengar suaranya doang langsung mengira itu hantu. Siapa tahu suara angin malam. Saya kira kamu melihat secara jelas di depan mata. Dasar penakut kamu. Soal sepele begitu kok digede-gedein.”

“Nah, apa kubilang, si Ferry itu….desis Agus dengan jumawa.

“Alamak, kalian masih belum percaya juga,” potong Ferry sebel, “aku nggak ngalor ngidul tetapi…”

“Tetap ngibul kan…?” Sambar Apto nyengir keledai.

Sudah stop, tidak usah diteruskan lagi. Katanya kalian mau main set sot. Mana kartunya Gus?” Tekya sedikit protes.

(Bersambung)pic7

SERIAL ‘MASA SMA MASA BODO?’ dalam MALAM MINGGU NAN CREEPY / MENCEKAM DI KOMPLEKS PENJARA

  1. TIBA DI KOMPLEK TAHANAN (part 2)

Malam kian larut.

Mobil milik Bapaknya Agus yang berwarna hitam metalik saat malam hari nyaris tak kelihatan bentuknya. Mobil itu kini sedang memasuki kawasan tahanan yang luas lagi sepi. Agus memperlambat laju kendaraannya ketika hendak melewati pos penjagaan di pintu masuk.

“Selamat malam Pak Juned.” Agus mengucapkan salam dengan sopan kepada penjaga pos yang bernama Juned. Tampaknya mereka sudah akrab.

“Malam juga bang Agus. Tumben jam segini baru pulang. Ngapel ya?”

“Ah nggak. Teman ulang tahun Pak. Oh ya ini saya bawa rombongan teman sekelas. Saya mau ajak nginap ke rumah. Kita mau kongkow kongkow dulu dah.”

Tekya, Faisol, Ferry, Apto dan Yuda mengucapkan say hallo sembari melambaikan tangan kepada petugas penjaga. Penjaga membalasnya dengan ramah di tengah rasa kantuknya nan membara. Rasa tanggungjawabnya yang tinggi itulah membuat mereka menahan kantuk dan rasa kangen meluk bantal guling di springbed yang empuk.

Agus blepotan memberhentikan mobilnya tepat di depan garasi. Nah, sudah pada tahu kan rumahnya Agus ini memang berada di komplek rumah tahanan. Cobak tebak, kenapa biasa begitu? Betul, karena bapaknya si Agus itu adalah direktur di rumah tahanan tersebut. Logikanya, memang masuk akal sih. Masak jabatan kepala lapas malah tinggal komplek keuangan. Rada ganjil kali ya. Para penumpang mobil yang tadi duduk di belakang langsung mengucap syukur yang mendalam. Mereka bernafas lega. Plong rasanya. Seakan-akan selamat dari goncangan mobil ‘terkutuk’ itu. Eh nggak adil kalau kita menyalahkan mobilnya. Dia kan benda mati. Tepat sekali, salahkanlah si Agus sableng itu yang merasa pembalap F1.

“Gus, sepi bener rumah kamu. Sudah pada ngorok semua ya?” Tanya Tekya ketika telah tiba di kamar Agus, sembari mencolek Yudo Gempul.

“Eh sontoloyo! “ Yudo bereaksi kesal, “ Lihat jam dong Tekya. Ini sudah tengah malam. Jelas sudah pada tidur dong. Pertanyaannya nggak berbobot banget deh.”

“Lagian lu Tek, kalau nanya sama Yudo pas dia habis makan. Kalau sekarang lagi nggak ada tenaganya.

“Sekarang sepi..Karena Bapakku sudah tidur. Coba kalau kita pas sampai lebih awal ini rumahku pasti sudah mirip pasar malam.”

“Bapakmu tidur malam melulu ya. Memang sibuk banget? Mengawasin tahanan satu persatu tiap hari sampai malam?” Tanya Faisol meminta penegasan.

“Hobinya menonton film dan sepak bola di parabola.” Tegas Agus sembari menyelempangkan handuk di lehernya.

“Babe kamu begadangnya kuat juga.” Jelas Agus setelah mereka berkumpul di kamar.

“He-e. Ya begitulah.” Agus mengangguk.

“Menurutku pasti repot menjadi kepala rumah tahanan. Belum tanggungjawabnya yang berat banget. Selalu was-was jika ada tahanan yang mencoba kabur. Kan dapat mengancam keamanan. Bisa-bisa senewen mikirinnya.”Ujar Apto.

Agus kembali mengangguk-angguk. Sesekali menggaruk rambutnya yang rada keriting.

“Hebat bapak kamu Gus. Saya sependapat dengan yang diucapkan Apto tadi..” Giliran Faisol angkat bicara. “Saya salution deh. Kalian tahu teman-teman, bersedia tinggal di komplek tahanan sekaligus menjadi bos petugas lapas penjara yang mempunyai wilayah cukup luas ini saja termasuk orang yang pemberani. Jarang lho orang yang mau. Bagaimana tidak…Coba bayangkan lagi enak tidur dengan minpi indah e-eh tiba-tiba ada petugas  datang ke rumah sambil menggedor-gedor pintu lalu melaporkan ada narapidana kasus pembunuhan melarikan diri. Dan diduga mereka masih berkeliaran di sekitar kompleks. Oh my God!”

Tekya, Ferry, Yudo dan Apto mendengarkan dengan serius bercampur dengan rasa takut. Mereka saling berpandangan satu sama lain. Menyaksikan roman muka teman-temannya Agus hanya bisa nyengir dan terseyum. “Tumben kamu pintar Sol dalam hal ini. Sudahlah kalian tidak perlu kawatir. Narapidana di sini sudah pada jinak-jinak rajawali. Sudah biasa. Keluarga kami di sini bersama petugas tentunya saling bahu membahu dan bekerja sama kalau seandainya ada kejadian seperti yang dibilang Faisol. Terbukti kejadian itu sudah pernah beberapa kali terjadi. Yeah..adakalanya tegang dan mencekam kalau belum menangkap buronannya.”

“Sudahlah jangan diteruskan. Seram kumendengarkannya.” Tukas Tekya sembari merasakan bulu kuduknya berdiri. Merinding. Duduknya semakin mepet dengan Yudo yang mirip tembok badannya. Paling tidak Tekya sedikit aman.

“Kalian lapar? Makan kita? “ Tiba-tiba pertanyaan Agus Blepotan memecah kesunyian.

“Aduh Agus, ini pertanyaan yang bagus yang kutunggu sejak tadi kita sampai..” Yudo tersenyum sumringah sambil memeluk erat Faisol yang langsing. Saking eratnya Faisol kriting nyaris mau berak. “Apaan nih gajah bengkak. Sana gih mending kamu meluk tembok deh!

“Lho kok pada bengong. Kuulangi lagi pertanyaanku. Kalian lapar nggak?” Teriak Agus sambil berkacak pinggang.

“Iyaaaaa…! Kami LAPAARRR AGUUSSS..!”Jawab teman-temannya serempak.

“Gila! Masih lapar toh. Dasar perut karung semuanya. Tunggu sebentar Aku ke dapur dulu ya. Siapa tahu masih ada sisa-sisa makan malam..”

“Kok sisa sih Gus..Teganya teganya…”Rengek Yudo manja. Dia tak henti membelai-belai perutnya yang keroncongan.

Tidak lama kemudian Agus keluar dengar wajah kecewa dan hambar. Semakin tambah kusut mukanya. “Sudah ludes. Mereka menyangka pasti saya sudah makan di luar. Tapi jangan pada loyo gitu dong. Tunggu sebentar fren, saya bangunkan si bibik sebentar. Masak apa kek. Mie goreng. Mau dong? Atau masakan apa kek yang bisa dihangatkan untuk dihidangkan. Biar kita santap.”

“Waduh, lebih baik jangan deh Gus. Kalau sudah pada tidur jangan dibangunkan. Merepotkan kamu saja.” Tahan Tekya dengan refleks mencekal pundak Agus. “Dimana-mana orang sedang enak tidur dengan mimpi indah dibangunkan, gimana gitu…”

“Iya deh Gus. Enggak eenak nanti. Kalau kuingat-ingat  agak kenyang sedikit kok.  Tadi di acara ulang tahun Evel makanannya banyak juga. Tadi aku nambah dua kali bakso bikinan Mamanya Evel. Bangunan orang yang sedang enak tidur bisa-bisa step lho ntar..”

“Ohh, nggak begitu merepotkanlah fren. Si bibik itu sudah kayak penjaga malam. Dia sudah biasa begadang. Hobinya tiap malam nonton telenovela, film india dan dangdutan. Hahaha..” Ujar Agus seraya memandangi temannya satu persatu. Bapakku kan sering pulang malam kala sehabis mengecek atau memeriksa kondisi para tahanan. Kadang Bapak sering berintraksi dengan mereka. Tanya keadaan dan lain-lain. Mereka kan manusia juga bro..Bapak juga pengin minta laporan apakah ada yang aneh-aneh tidak kelakuan mereka. Jadin pas kebetulan dia pulang dari lembur malam tinggal gedor pintunya si bibik. Bik makan dong. Si bibik bangun..’tuan saya masih ngantuk, bikin sendiri aja ya’. Akhirnyanya Bapakku minta tolong anak buahnya beli di warung.

Tekya tertawa ngakak. “Berani juga bibik kamu nolak perintah tuannya Gus..”

“Itu tandanya si bibik sedang capek.” Tegas Agus bernada ngeles. “Lagian umurnya lebih tua dari bapakku. Nanti kualat. Mana berani bapakku. Intinya bapakku menghormati orang yang lebih tua. Kesimpulannya bagaimana? Jangan basa basi. Nanti keburu basi nasinya….”

Tekya CS menganguk-angguk tanda masih lapar.

“Bagaimana kalau kita bikin mie goreng aja. Tak perlu membangunkan si bibik.” Saran Faisol terdengar bijaksana.

“Ayukk, siapa takut makan lagi..”Yugo Gempul langsung nimbrung. Badannya yang lebih mirip karung goni ini loncat-loncat ke sana ke mari.

Agus segera menarik Ferry yang sedang melamun limun. “Fer, ikut aku yuk ke dapur. Kalian santai saja dulu di kamarku. Nyetel musik boleh tapi jangan kenceng-kenceng ya..”

“Lha kok kita bedua aja? Terus sementara Tekya, Faiso, Apto dan Yudo enak-enak tiduran santai. Ini nggak enak di saya enak di mereka dong. Lagian saya nggak jago memasak.”

“Sudahlah, nggak baik perhitungan. Ayolah item…” Rayu Agus sambil menyibak-nyibak rambut Ferry.

Sebelum sampai dapur Ferry merasa kebelet berat. Pada awalnya Agus memintah Ferry menahan dulu hasrat untuk pipis. Karena tanggung belum memulai sudah bertingkah macam-macam. Agus merasa sebel sepertinya Ferry sengaja mencari-cari alasan untuk menghindar.

“Agus, aku pengen pipis nih. Dimana kamar mandi?”

“Ah, kamu pura-pura ya mau menghindar ya?”

“Swear deh. Ya udah aku pipis di sini lho..”

“Sempru! Awas kalau berani. Aku lepar sampai ke loteng!”

“Tuh, pipis aja di kebun belakang rumah. Kebetulan kamar mandi lagi diperbaiki.”

“Kamu yang bener dong. Masak aku harus pipis di kebun belakang. Masih nuansa hutan begitu. Mana gelap pula. Oke fine, aku nggak bakalan main ke rumah kamu lagi.”

“Aduh, pakai ngambek lagi. Kamar mandiku agak jauh. Nih, keluar dapur kamu belok kiri, terus melewati ruang makan keluarga yang kita sudah lewati tadi. Paham? Setelah itu masuk ke ruang tengah yang besar. Letaknya di pokok persis dekat wastafel. Buruan deh. Awaw jangan lama-lama.”

“Kamar mandir di sekitar sini nggak ada apa? Biasanya juga di dekat dapur ada kamar mandi. Jauh ya?”

“Dekat kok.”

“Mana lagi rumah kamu gede lagi. Bukannya ruangan yang tadi gelap gulita.”

“Cepetan dong nggak gelap amat kok. Jadi orang jangan penakut dong. Kamu alergi gelap ya Fer?”

Agus sedikit memaksa dan mendesak Agus sambil mendorong bahu Ferry. Ferry memang agak sedikit penakut. Dan dia paling benci film horor. Lagipula ini pengalaman pertama dia menginap di rumah dinas bapaknya Agus yang lumayan besar. Bangunan mirip rumah pada zaman belanda. Rumah ini ditempati secara turum temurun. Langi-langitnya tinggi. Mempunyai pilar-pilar yang banyak dan berukuran tinggi-tinggi. Belum lagi kalau kita membuka pintu kamar selalu mengeluarlan bunyi menderit nyaring. sudah berimajinasi nanti kalau lewat tempat gelap biasanya suka ada yang nyolek Timbul keraguan untuk menuju ke kamar mandi, akan tetapi dia tak akan mampu menunda hasrat untuk pipis. Masak sudah gede ngompol. Apa kata dunia?

“Ayolah, jangan sungkan-sungkan ya Fer. Anggap saja rumah Bapakku.”

Ferry tidak menanggapi  ocehan Agus. Dengan rasa galau Ferry bergegas menuju pintu depan yang terbuka sedikit. Dari kejauhan Agus mendengar pekikan kecilnya dari mulutnya Ferry. “Agus, aku boleh pipis di luar saja. Gelap Gus di sini. Kamu naruh saklar lampu dimana sih! Nggak apa-apa kan? Aman nggak?”

“Aman kok tapi…kalau siang! Tagihan listrik mahal. Pakai insting aja ya.
” Jawab Agus sambil cekikikan kayak kuda nil setelah melihat Ferry yang lenyap di balik pintu tanpa penerangan lampu sedikitpun. Yang ada hanya rembesan cahaya lampu dari teras depan.

Dengan rasa deg degan Ferry mengumpulkan segala keberaniannya untuk menerobos susasana yang gelap dalam ruangan itu. Agus sepertinya malas juga menunjukkan dimana saklar lampu ruang tengahnya.

Beda situasi di dalam rumah Agus beda pula situasi di luar rumah.  Di tengah rerimbunan hutan karet yang tinggi menjulang dan juga daun alang-alang setinggi dada tumbuh mengelilingi sebuah tembok beton nan kokoh. Tingginya sekitar 3 meter berhiaskan kawat besi berduri yang menjalar hingga pucuk besi yang tertantap di tembok. Dalam kepekatan malam yang dingin mencekam. Suara burung hantu terdengar samar-samar saling bersahut-sahutan.2

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

SERIAL MASA SMA MASA BODO? dalam MALAM MINGGU NAN CREEPY / MENCEKAM DI KOMPLEKS PENJARA

Oleh : Deddy Azwar

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

  1. BUT KEBUTAN MALAM

Sebuah mobil merk Daihatsu Taft GT keluaran entah dari tahun antah berantah kapan, melesat cepat bagai sekelabatan makhluk asral yang melintas dalam kegelapan malam nan pekat. Sang mobil berbahan bakar diesel itu meliuk-liuk sambil sesekali melakukan manuver zig zag di atas jalan beraspal. Melintasi jalan raya yang menyepi. Menembus kegelapan malam. Terlihat sebuah rombongan patroli bermotor cc besar sudah pulang tugas, hendak memasuki markas mereka. Pihak keamanan tidak memberlalukan jam malam karena dirasa keadaan masih kondusif. Kemungkinan dikarenakan sekumpulan pembalap liar sudah pada pulang dan kembali ke kandang. Terlihat hanya beberapa kendaraan roda empat dan kendaraan roda dua yang lalu lalang. Terlihat juga beberapa gelintir pemuda-pemudi malam nan gaul asik nongkrong selepas bubaran diskotik midnight. Terlihat juga di pengkolan taman kambang iwak, ada segelintir biji bencong sexy yang sedang berusaha merayu dan menggoda beberapa orang yang melintas baik, bermotor maupun bermobil maupun yang jalan kaki. Kebetelan malam itu malam minggu. Kala itu jam sudah menunjukkan pukul. 24.00 WIB.

Ketika memasuki tikungan cukup tajam, sang mobil yang kemungkinan disupiri oleh remaja geblek itu bukannya mengendorkan kadar gasnya e-eh makin gila-gilaan malah tancap pedal gas habis. Beruntung saja,  ternyata supirnya dari medan itu rada gesit dan hapal kondisi jalan, sehingga mobil itu melewati setiap tikungan dengan sukses. Walaupun sempat akan mengalami oleng namun bisa dikendalikan dengan bail. Padahal jalanan yang barusan ditaklukkan tadi termasuk zona berbahaya dan rawan kecelakaan. Dasar supir gila dan sudah bosan hidup nampaknya.

Ada kalanya terlihat asap dari knalpot dan asap dari ban mobil tercium sangit. Lalu terdengar juga bunyi berdecit yang berasal dari arah ban mobil yang mulai agak gundul itu. Mirip keadaan suara di arena balap saat kejar-kejaran di tiap lap. Sesekali melakukan manuver. Sesekali zig zag. Kemudian ngempot sana ngempot sini. Untungnya ban yang dipergunakan bukan ban vulkanisir sih.

Kira kira para pembaca penasaran dan pingin tahu atau pingin kenalan nggak ya sama pengemudi nekat dalam mobil tadi? Sejenak jika melongok ke dalam akan terhampar suasana tegang tingkat dewa. Betapa tidak? Siapakah yang merasa nyaman dan tenang bila mobil yang mereka tumpangi dikemudikan oleh pengemudi gila mabok songhie tersebut. Siapapun tak rela.

Ternyata di dalamnya terdapat lima penumpang yang masih tampang remaja dan tablo. Akibat ulah di supir membuat mereka serempak teriak-teriak riuh diselingi pekikan histeris ketakutan yang bernada manja? Ketika para penumpang bersitegang, was-was di saat mobil itu meliuk-meliuk, zig zag dan kebut kebutan, si pengemudi malah terkekeh kekeh. Seakan-akan puas hatinya telah memacu  andrenalin teman-temannya.

“SIAPPP!!” Ayo pada pegangan yang kuat ya. Kita akan terbang lagi. Jangan sampai ada yang terpental dan terlempar ya. Cihuiiiy!” Teriak Agus Blepotan yang punya congor mancung dengan mata yang berbinar-binar memberikan aba-aba yang menandakan dia akan kumat kembali. “Dengarkan ini last lap lho…!”

“Cukup! Cukup Agus biadab!” Teriak Faisol paling kenceng. “Aku belum siap mati muda TAHU!!” Tangannya terus menjawil-jawil pundak Agus.

“Santai saja temans. Aku supir medan ini. Jangan kawatir. “ Jawab Agus sambil nyegir kambing. “Tetap kalem dan santai dong. Jangan terlalu ribut banget. Nanti saya tidak kosentrasi nyupirnya. Pada mau nyebur di got ya. Diaam ya!”

“Oogaaah..!!” Teriak para penumpang kompak.

“Iya Gus. Seumur-umur belum pernah naik mobil ngebut kayak angkot nguber setoran begini. Nyebut nyebut dong…” Ferry juga merasakan kecemasan yang sama dengan Faisol.

“Tobat Gus…kita-kita belum pada nyicip kawin nih!” Timpal Tekya sembari berpegangan erat pada ujung jok.

“Kamu kalau sudah bosan hidup jangan ngajak-ngajak Semprul! “ Hardik Faisol lagi. Rambutnya nan keriting berubah menjadi lurus terurai? Mukanya yang putih kontan berubah pucat pasi. “Awak tidak sudi mati konyol di dalam mobil. Awak tak mau besok mendengar ada berita di koran ada mobil jungkar balik nyungsep ke dalam got! Masa depan awak masih cerah. Perjalanan Awak masih panjaaaang. Aku akan punya istri yang cantik nian. Setidaknya itu ramalan hasil terawangan mbah Robert tetangga awak. Gus…Gus.. Aduh kepalaku kejedok atap mobilmu nih.”

Di saat remaja-remaja lain pada ketakutan akut, terdapatlah seorang remaja yang ganjil dan bertolak belakang sekali prilakunya yang sangat senang dengan kondisi tersebut. Namanya Yudo Gempul.  Dia justru malah kegirangan bukan main. Bisa dibilang hanya dia yang mensupport sang sopir malam itu.

“Tancap terus Gus!” Kamu mau dijuluki banci kaleng? Aku dukung ngebutmu. Sudahlah jangan dengarkan teriakan mereka. Mental cemen semua. Teruskan Guus. Oh…amboy.”

“Kletak! Tak ampun lagi, kepala Yudo Gempul sukses kena jitak oleh Faisol.

“Dasar karung beras lu! Kamu yang bermental betino!” Serang Apto kesal. “Badan gemuk kayak kowe nggak bakalan laku di zaman teknologi nanti. Slow Gus! Aku ora doyan mati konyol..”

“Kami dukung Apto. Pecinta hidup! Hidup punya Apto! HIDUUP!” Tak pelak lagi dia mendapat dukungan dari semua teman temannya.

“Hidup punya Apto?” Tanya Tekya bingung.

“Iya, BESAR lho…”jawab Ferry. Semangatnya…maksudku Tekya!”

“Apalagi awak ini sebagai poto model dan playboy kampung yang sangat dilestarikan. Coba kalau awak mati muda banyak cewek kehilangan pundakku sebagai tempat bersandar. “Ujar Faisol jumawa. “Untunglah awak masih dapat menghindari semua godaan dan rayuan cewek cewek, sehingga jangan risau wahai teman temanku. Awak masih perjaka tong tong sampai saat ini…”

“Kamu ngomong apa dih Sol. Kirain sedang kumur kumur. Bikin bingung aku saza BAH!” Timpal Agus sambil tetap asik menyetir.

Pas mobil melewati jalan mendatar, Agus tiba-tiba mengurangi pedal gasnya. Suasana di dalam mobil  mendadak sunyi. Tekya, Faiso, Apto dan Ferry langsung menghela nafas lega sembari mengusap usap dada mereka.

Namun, rupanya situasi ini tidak disukai ole Yudo yang juga punya hobi nonton balapan. Dia ingin mempengaruhi Agus Blepotan untuk kembali memacu mobilnya kencang-keancang. Saat menemui tikungan lagi, Yudo sibuk mengguncang-guncang bahu Agus. Dia berusaha membakar semangat temannya itu. “Ayo kebut Gus! Kebut Gus!” Dia bahkan tak peduli apabila kepalanya bakaslan dijitak oleh teman temannya secara bergiliran.

Anak-anak yang sudah memulai memasuki masa tenang dari jantung berdebar mulai memoloti Yudo. Ferry meniupi jarinya pertanda aba-aba dia akan menjitak kepala yudo lagi. “Awas lu ya Yudo. Emang kepala kamu terbuat dari batok kepala ya?”

“Pada baru tahu ya kalau kepala saya itu satria bajaj hitam.” Balas Yudo tersenyum sinis. Tampak jelas senyum bernuansa mengejek.

“Pantes, namanya juga anak tentara,”dumel Tekya, “Rupanya sudah kebal ditempeleng Bapaknya sejak dalam kandungan. Eh, Do, kapan-kapan dipinjam ya.”

“Buat bakal apaan?” Tanya Yudo penasaran.

“Bakal diadu sama banteng.”

“Lemak bae (Enak saja). Kepalaku tidak ternilai harganya dari apapun.”

“Kapal peyang gitu mana laku. Belagu kamu…”

“Kepalaku sudah kebal dengan benda apapun.”

“Oh ya sudah pernah diadu sama stick dongkrak? Kita coba ya..”

Tekya pura-pura mengambil ancang-ancang sambil mengancer-ancer dimana bagusnya dipukulnya. Yudo kaget bukan main dan akhirnya keburu pingsan.

Bersambung…

PERJALANAN DUNIA PERHAPEAN, BERNOSTALGIA DENGAN HANDPHONE SONY ERICCSON JADUL..

Oleh : Deddy Azwar

Hai Ideazworld fans, Apa kabar semuanya? Dalam edisi khusus kali ini izinkan saya  mengajak para blogger sekalian untuk dapat menengok perjalanan handphone / hape hape merk Sony Ericsson khusunya dan merk lain pada umumnya.  Siapa yang tidak kenal dengan pabrikan telepon selular dari negeri Jepang dan Swedia? Setelah mereka merger maka disulaplah menjadi Sony Ericsson. Sebelumnya telah ada merek lain yang ikut meramaikan persaingan handphone. Macam : Blackberry, Nokia, Siemens, Sharp, Philips, Polytron, Samsung dan Iphone dan hape hape merk Xiomi, Oppo, Vivo,Asus dan Lenovo berasal dari negeri tirai bambu alias China / Tiongkok. HP Soner sempat beberapa dekade menguasai pangsa selular di dunia eletronik komunikasi.

Dengan tampilannya yang menarik ala Sony, ditambah beberapa fitur yang menarik dan mumpuni. Jurus inilah yang dipakai untuk membius konsumen.

Kalau tidak salah ingat features handphone dari dulu hanya berkutat pada layana SMS (short message service) kamera beberapa pixel, alat pemutar MP3 dan video player, organizern alarm, FM Radio, ringtones,  (polyphonic), kecepatan jelajah internet, hybrid, WAP protocol, HSDPA, 3G, 4G dll.

Belum lagi si Sony suka membandrol harga Hape dengan kalap. Jika ekslusif pasti musti keluar berju-juta. Mirip dengan nokia yang hobi memproduksi jenis hape setiap hari atau minggu (ya)? Nokia sering latah dan hobi menempeli produknya dengan serangkaian hurup kapital dan nomor, Macam Nokia 8550 dan seterusnya. Kadang yang bikin jengkel miskin fitur tapi mahal. Bagaimana mungkin? Coba bayangkan? Saat konsumen lagi bangga-bangganya dengan serial tertentu e-eh tahu-tahu besoknya sudah nongol lagi seri yang terbaru. Bikin kecele nggak tuh. Dengan harga baru dan lebih mahal tentunya.

Sedangkan Samsung merupakai pemain lama yang sudah tidak asing lagi. Produknya ngetop, berkarakter ala Korea, handal dalam berteknologi tinggi. Punya kesamaan dengan Sony penuh inovasi dan agak berplagiat. Seperti halnya pabrikan pabrikan dari Korea lainnya. Ada juga LG yang cukup jadi pesaing dan bikik getar getir. Hanya semakin kesini semakin melempem produknya. Walaupun begitu memproduksi televisi LCD / LED dan alat rumah tangga masih menjadi andalannya.

Sedangkan Iphone, dari zaman konon sudah dikenal akan harga produknya di atas rata-rata merk lain,  nggak jelas juntrungannya. Padahal features yang dipersembahkan masih minim dan biasa. Konsumennya sudah ketebak kok. Kebanyakan pemakai mempunyai gengsi yang tinggi. Ada perasaan penuh percaya diri jika sedang memegangnya. Mereka lebih mementingkan kwalitas ketimbang kuantitas. Miskin feature tapi harga selagit. Dari dulu Samsung dan Iphone sudah bersaing berebut pangsa dan pasar. Memang untuk kalangan eropan Iphone cukup mendominasi. Menurut saya konsumen Iphone hanya berlandaskan lebih kepada gaya, gengsi dan fashion saja. Padahal banyak yang gaptek teknologi. Dengan memamerkan logo apel bekas gigitan saja mereka sudah merasa pede. Coba kita lihat dan simak setiap film lokal dan luar negeri juga sinetron. Semuanya latah menyombongkan laptop merk Apple kepunyaan mereka dengan logo yang bersinar. Otomatis ini sangat menguntungkan Apple mendapatkan iklan secara gratis. Mungkin biaya material produksi yang membikin mahal. Oh ya mereka santer terdengar pernah bersidang hukum dalam kasus jiplak menjiplak teknologi. Siapa meniru siapa?

Dan ada satu lagi merk HP Blackberry yang cukup fenomenal untuk membius hampir separuh manusia di dunia menjadi zombie gila gengsi dan gaya. Membentuk para konsumennya menjadi yang hobi menunduk-nunduk sombong, mereka mengetik sambil berjalan. Padahal saya pernah mencibir hape ini. Alasannya cukup simpel dikarenakan BB memiliki layar yang mungil dan keypadnya yang lebar dan non touchscreen. Dan ramalan saya menjadi kenyataan wabah BB tidak berlangsung lama. Akhirnya era BB digeser era hape ponsel pintar (smartphone) dengan layar monitor nan luas plus model-model cantik plus aplikasi android yang banyak memberikan kemudahan dan kenyamanan. Tidak jarang gara-gara BB ini membuat pemakainya ketabrak saat menyebrang, kecelakaan saat berkendara dan kejeblos masuk got. Dari sinilah prilaku maniak bermula yang menciptakan kaum nggak peduli dengan sekitar dan cuwek bebek goreng. Ambil contoh ketika mereka dalam masuk ke dalam lift. Kadang di dalam mereka pura-pura saling tak mengenal. Semua sibuk mengetik qwerty sambil serius atau senyum sendiri. Mengetik di keypad Qwarty adalah lebih penting dan gaye. Gila nggak? Nggak punya BB berarti nggak gaul. Makanya perlu digauli??? Saking asiknya ber BB, membuat anak tidak menghormati orangtuanya. Menghambarkan suasana kekeluargaan di meja makan. Dengan berbekal seonggok BB saja kita sudah merasa seakan mengenggam dunia. Mereka melupakan bahwa mereka sebenarnya berkodrat sebagai makhluk sosial. Perlu interaksi dan berkomunikasi. Singkat kata pengaruh teknologi merusak segala sisi prilaku kemanusiannya manusia lho…

Keadaan ini semakin menjadi jadi setelah hape smartphone menendang BB jauh-jauh dengan teganya. Makin lama makin melenakan para penikmat HP. Mereka semakin cuwek satu sama lain. Mulai dari sini kita mengenal  istilah istilah hoax, viral, subcribe, followers, netizen, youtubers, like, disliken hastag,vlog, blog,aplikasi, install, WA dan lain lain.

Akhir kata, kesimpulan saya adalah bahwa nusantara kita tercinta ini style, fashion, gengsi masih menjadi nomor satu ketimbang fungsinya. Hal ini yang sudah terbaca oleh para anlisis selular pabrikan hape.

Berikut info lain yang saya rangkum…

Selalu dekat

Anda selalu bisa menjangkau panggilan, pesan teks dan pesan bergambar serta email push standar. Melihat foto teman dan keluarga pada layar sewaktu mereka menelepon. K310i memperpendek jarak.

Telepon kamera yang mudah digunakan

Tekanan pertama pada tombol kamera mengaktifkan kamera, tekanan kedua untuk memotret. Anda dapat menunjukkan album foto ukuran saku kepada orang lain, lasung pada layar berwarna. Browse foto Anda, temukan yang Anda inginkan. Nikmatilah bersama.

Berasyik-ria dengan aneka foto

Gunakan fitur face warp [bentuk wajah] dan buatlah foto apa pun yang Anda ambil mengundang senyuman. Rentangkan, remukkan, pelintir. Bentuk sesuka Anda.

Selaras

K310i dapat dihubungkan ke PC dengan kabel USB (aksesori opsional). Sinkronkan buku telepon Anda dengan Kontak yang ada dalam komputer atau pindahkan isinya ke telepon. Pada kalender, Anda dapat memasukkan tanggal ulang tahun, hari peringatan dan pertemuan serta sejumlah pengingat yang mengingatkan Anda apabila ada hal yang harus dilakukan.

Terdengar seperti musik

K310i dapat memutarkan nada dering musik yang sesungguhnya dalam format MP3. Pilihlah di antara nada dering yang sudah disimpan sebelumnya dalam telepon atau download nada musik baru dari layanan download Sony Ericsson PlayNow™ atau situs web operator Anda.

Permainan

Apabila ada waktu luang, nikmatilah permainan 3D ponsel yang cepat dan menantang, lengkap dengan kekuatan dan umpan-balik suara. Layar 65K UBC (Ultra Bright Color) membuat permainan jadi asyik dan meriah.
SE J230
Harga :
Rp. 695,000
More Info…
Sony Ericsson Z300
Harga :
Rp. 875,000
More Info…
Sony Ericsson W900
Harga :
Rp. 5,000,000
More Info…
SE M600
Harga :
Rp. 3,175,000
More Info…
SE W810
Harga :
Rp. 3,300,000
More Info…
SE K608
Harga :
Rp. 1,705,000
More Info…
SE K790
Harga :
Rp. 3,735,000
More Info…
SE K310
Harga :
Rp. 1,135,000
More Info…
SE K510
Harga :
Rp. 1,385,000
More Info…
SE K800
Harga :
Rp. 4,400,000
More Info…
SE W300
Harga :
Rp. 1,925,000
More Info…
SE K610
Harga :
Rp. 2,650,000
More Info…
SE P990
Harga :
Rp. 7,550,000
More Info…
Sony Ericsson J210
Harga :
Rp. 610,000
More Info…
Sony Ericsson K700
Harga :
Rp. 1,850,000
More Info…
Sony Ericsson K750
Harga :
Rp. 2,185,000
More Info…
Kabel USB DCU-60
Lihat
HCH-60
Lihat
Desk Stand CDS-60
Lihat

 

‘SERIAL MASA SMA MASA BODO?’ IN : KEJUTAN PENTING TIDAK PENTING DI PESTA HARI LAHIR EVEL…PART 2

BERSEPEDA PAGI ITU PELARIAN MEMBAWA COWOK

Oleh : Deddy Azwar

Minggu pagi nan cerah, niat Evel hendak bersepedaan akhirnya terlaksana juga di tengah kesibukannya sebagai pelajar so pasti wajib belajar menghadapi ulangan harian yang acapkali datang tanpa diduga. Memang sih ada beberapa guru yang hobi mengadakan ulangan dadakan. Alhasil banyak siswa yang mendapatkan nilai tak sedap dipandang mata. Ditambah lagi seabreg kesibukan mengurusi persiapan pesta ulangtahunnya yang semakin mepet. Plus membaca situasi terkini di peta kondisi komunikasi antar teman sekelas sedang tidak kondusif-kondusifnya. Akhirnya Evel mengambil jalan tengah untuk mencoba berolahraga di pagi ke kambang iwak park. Baginya mau dibilang pelarian dari segala masalah yang semakin menumpuk begitu menyiksa dan menderanya. Terserah anggapan orang sekitar. Masa bodoh.

“Pokoknya pagi ini Aku tak mau diganggu. Sebab, Aku ingin menghibur diri dengan berolahraga sepeda sendirian.”Jerit batin Evel membuncah. Siapa tahu akan mengobatin hatiku yang galau ini. Aku harap setelah ini pikiranku lebih sehat dan segar. Bodyku lebih fit dan bugar. Toh, Aku sudah lama mengidam-idamkan situasi seperti ini. Bukankah terakhir bersepeda sewaktu masih kelas 1 SMP. Setelah itu sepertinya tiada waktu lagi. Oh alangkah senangnya hatiku. Sementara waktu persenan eh persetan dengan urusan sekolah. Memang Aku pikirin!“

Minggu itu Evel memang nekad bersepeda ria tanpa persiapan yang matang. Pagi-pagi gelap dengan berjingkrak-jingkrak dia menuju gudang belakang untuk mengambil sepeda BMX hadiah dari Papanya sewaktu naik ke kelas dua SMP. Dia lupa sudah kondisi terakhir sepedanya itu bagaiman? Sepeda yang sudah sekian tahun tak tersentuh itu nyaris berkarat dan berdebu. Yang paling parah angin di dalam kedua ban sepedanya sudah minim sekali. Boleh di bilang kempes level menengah. Siapa peduli? Rasa emosional, kekalutan dan kekacauan hati mengalahkan segalanya. Yang penting tugasku pagi mengayuh sepeda sejauh kemampuanku. Sejauh yang kumau.

Setelah menutup pintu gerbang pelan-pelan, Evel bagai kilat segera mengayuh pedal sepedanya sekencang-kencangnya. Sengebut-ngebutnya. Ketika sampai di portal gerbang, Evel hampir saja menyeruduk pos siskamling. Untungnya dengan sigap dan cekatan dia mengendalikan laju sepedanya agar seimbang dan tidak terjatuh. Evel sempat melambaikan tangan ke arah satpam komplek perumahan. Pak satpam bernama Rosidi membalasnya dengan senyum manis.

Saat memasuki jalan yang menanjak, Evel mulai kehabisan tenaga. Dia baru sadar sepeda yang dibawanya tidak bergigi layaknya sepeda balap. Makin dikayuh serasa semakin berat. Seakan-akan sepedanya menggandeng sebuah gerbong milik kereta tua. Hua! Dia berharap cemas dan berdoa semoga ban sepesanya tidak bermasalah. Kalau sudah begini kejadiannya dia berharap peristiwa hari itu adalah Cuma mimpi belaka. Namun dia harus  dan ‘bangun dari tidurnya’ dan serta merta mengakui bahwa yang barusaja dia alami bukanlah mimpi. Fakta dan real. Evel langsung shock refleks.

Kini…pemandangan jalan aspal yang menanjak sudah terhampar di hadapannya sekali lagi adalah kenyataan. Masih belum percaya? Singkatnya…Hadapilah kenyataan di depan matamu! Walau berat sekalipun.

Evel beguman dalam hati, ‘mengapa sepeda ini semakin berat ya?’. Aduh, ternyata benar ban sepedanya sudah kempes pes. “Aduh, ya ampun mudah-mudahan ini hanya mimpi.” Gumannya sambil keringat dingin. Perlahan dari dahinya mulai timbul butir-butir peluh. Butir itu luluh dan rapuh. Tak lama kemudian dia melorot dari batang hidung lalu berselancar ke bibiar atas. “Huh, asin. Puihh!”

Otomotis dia kewalahan dan kelelehan. Padahal setelah turunan dia akan sampai di kambang iwak park. Evel bingung dan penasaran. Jaraknya masih lumayan jauh. Sudah terbayang di benaknya akan menggandeng sepedanya dalam kondisi jalan yang menurun. Seandainya sepeda ini sudah tua dan rongsokan pastilah sudah Evel tinggalin begitu saja.

“Hallo cantik…” Tiba-tiba terdengar suara cowok tak dikenal menggodanya, “itu cowoknya? Pantas dia ganteng terus.” Ada sekumpulan cowok binal dan ganjen nongkrong di trotoar kambang iwak park.

Evel tidak menoleh sedikitpun. Dia jaga gengsi. Evel paling anti digodain murahan kayak gitu. Makanya dia jalan terus. Buru-buru menjauh. Bagi Evel mau tuh cowok-cowok penggoda dari grup band korea yang wajahnya halus-halus dan keren-keren sekalipun masa bodo. Pokoknya nilai langsung merosot di mata Evel. Apakagi kalau menggodanya beraninya ramai-ramai. Jelas bukan pejantan tangguh.

Evel tidak memungkiri bahwa dirinya adalah seorang gadis manis mempunyai potensi untuk digoda oleh laki-laki manapun. Rugi rasanya bagi mereka untuk melewati moment berharga dan langka itu dengan membiarkan bidadari lewat begitu saja. Evel itu faktanya menggemaskan. Lelaki mana yang tidak tergoda. Tidak usianya tua tidak usianya muda. Baik yang sudah status double apalagi yang jomblo bu….jangan. Yang paling tidak memandang sambil memolototi.

Evel mengalami pelecehan ringan..Simak percakapannya di bawah ini.

“Eh, adik cakep. Sudikah kiranya jadi mantu saya, “ Tanya seorang Om-om sambil berlalu.

“Maaf Pak. Saya masih sekolah. Belum niat kawin muda.”

“ Aduh kasihan ya. Sejak kapan bannya kempes? “ Goda yang lainnya. “Oh seandainya saya dulu bercita-cita menjadi tukang tambak ban..”

“Tinggalin aja sepedanya, mending boncengan sama saya..”

“Ogah! Lagi nggak mood naik ojek.

”Kesian nian mbak ini. Maaf eyke nggak bisa bantuin. Takut dandanan eyke rusak demplon deh. “ Bencongpun turut berpartispasi.

Kalau ketemu makhluk begini Evel langsung tersenyum kecut sambil baca ayat kursi.

“Aduh.. manis-manis kok gandeng sepeda, mending gandeng abang deh. “

“Emang saya truk gandeng bang!” Balas Evel sengit.

Evel berusaha sekuat tenaga mempercepat langkahnya, namun tak kuasa, apa daya karena menenteng sepeda yang sedang gembos ya jadi beratlah. Evel merasa seakan-akan dia bagaikan hidangan lezat yang hendak diperebutkan untuk dimakan. Atau bak seorang bidadari yang tinggal sendirian di pulau terpencil lalu berdatanganlah beberapa orang pelaut yang terdampat lalu menemukan seonggok bidadari cantik yang ingin disantap.

“Hai…”Tiba-tiba terdengar suara halus. “Ada apa dengan sepedanya?” Seorang cowok dewasa menegor dengan senyum ramah.

Evel tidak menoleh sedikitpun ke arah sumber suara. Hatinya makin kesal. Makin gondok. Ingin rasanya dia mencengkram orang yang barusan menegur lalu melemparkan ke kambang iwak. Oh andai kita kuat…

Evel tetap melengos dan tetap memilih diam. Hidungnya kembang kempis. Walaupun Evel sudah menampakkan muka marah. E eh tuh cowok masih tetap dengan pendiriannya mengiringi langkah Evel.

“Kalau tidak mau bantu lebih baik jangan menggoda deh…” Tandas Evel sewot.

“Maaf sebelumnya dik, saya tidak bermaksud menggoda hanya mau mebantu kok. Saya tidak tega melihat adik begitu..”

“Bantu? Ah yang benar?” Evel menghentikan langkahnya dan menatap cowok itu serius dengan malu-lamu. Ternyata dari figurnya kelihatannya cowok berwajah lumayan tampan dan macho. Wah, sayang kalau tidak diladeni.“ Memangnya kakak tukang tambal ban? Saya kok tidak lihat membawa peralatannya. “

“Saya bukan tukang tambal ban. Saya hanya mau membantu bannya yang kempes.”

“Bagaimana caranya?”

“Begini, adik tunggu sebentar di bangku itu aja. Bangku panjang yang dekat tong sampah. Nanti saya pulang dulu ke rumah saya untuk mengambil alat pompa. Mau nggak? Mau ya? Mau dong…”

“Idih kok maksa sih..Jelas maulah. Masak saya dorong sepeda sampai rumah. Bisa gempor. Bisa bengkak betis saya.”

“Gimana? Deal?”

“Nanti dulu. Emang rumah kakak dimana? Bisa-bisa besok dong  kembalinya..”

“Nggak jauh kok. Sekitar-sekitar sini. Lagian saya juga bawa sepeda. Saya memarkirnya di sudut taman. Tenang, cepat kok. Saya biasa ngebut naik sepedanya.”

“Oke Kak. Jangan lama-lama ya Kak. Sudah mulai panas nih matahari.”

Si cowok dewasa itu langsung lari ke arah parkiran sepeda. Sekejab dia sudah melesat dengan sepeda balapnya. Tak lama kemudian si cowok sudah kembali berdiri di hadapannya dengan menenteng pompa ban berukuran mini.

“Sudah beres Dik. Coba diperiksa lagi tekanan bannya. Kalau belum kenceng nanti saya pompa lagi.”

“Oh ya sudah keras ban sepeda saya lho. Terima kasih banyaknya ya.” Evel menghela nafas lega. Mukanya berubah berseri dan sumringah.

“Kok Cuma terima kasih aja Dik…”

Evel tercekat dan melongo kayak orang kenyang bego. “Maksud Kakak apa? Oh saya lupa. Saya musti bayar berapa?” Dalam hati Evel mengomel, semua lelaki sama saja. Membantu pasti ada maunya. Dasar lelaki hidung belang dan buaya darat!

“Eit, saya ikhlas kok dan tidak minta dibayar. Emang tampang saya kayak abang tukang tambal ban apa?”

“Syukurlah, masalahnya saya lupa membawa dompet. Kakak lebih mirip bintang film kok. Lalu Kakak minta apa? Awas lho jangan minta macam-macam ya.”

“Ah adik bisa saja. Eh eh anu…” Cowok itu mulai gelagapan ngomongnya. “Saya….boleh ditinggalin alamatnya?”

Mendengar pengakuan cowok itu, Evel nyaris tertawa, untung dia dapat meredamnya.

“Oh itu. Alamat saya untuk apa? Alah, tidak perlu kok. Kakak keberatan nggak mengantarkanku pulang?”

Mendapat jawaban tak diduga begitu sang cowok girang bukan main. Nyaris pingsan malah!

 

KETERASINGAN DI SEKOLAH…LHO KOK BISA?

     Bel jam kedua berdentang tiga kali. Segerombolan pelajar masuk berebutan masuk kelas. Bagi pelajar kelas satu siap-siap naik tangga sampai ke lantai tiga. Yang enak pelajar kelas tiga, kelas mereka berada di lantai utama. Tinggal jalan santai tak perlu berlari dan naik tangga.

Tak satupun anak-anak di kelas 1.3 yang hadir hari itu menyinggung soal ultah Evel, temen mereka. Mereka cuwek. Seolah-olah tidak terjadi sesuatu yang penting. Mereka melewati hari demi hari lurus-lurus saja. Padahal sebentar lagi Evel akan merayakan pesta ultahnya. Apa daya belum ada temannya yang berbasa-basi menyinggungnya.

Evel duduk di kursi dengan perasaan gundah gulana. Dia ingin bersikap santai namun dia tidak dapat membohongi perasaannya yang berkabut….Ditabir mega-meganya. Kulihat dua tangan dibalik punggungnya. Madu di tangan kananmu. Racun di tangan kirimu…(Lho lho malau melantur ke lagu Madu dan Racunnya-Bill n Brod). Evel mulai menyimpan kecurigaan yang muncul beruntun. Dadanya bergemuruh bagai pesawat komersil hendak lepas landas ke udara. Segala rasa berkecamuk hebat. Pokoknya rasa marah mix sebal. Sekali dua kali Evel kedapatan memergoki teman-temanny yang duduk dekat jendela sedang asik berbisik-bisik menggosipin dirinya. Bila Evel melihat mereka. Mereka langsung pura-pura asik membaca dan menulis. Lalu cuwek dengan sekitarnya. Oh oh Astaga! Entah apa yang terjadi? (Pinjam liriknya Ruth Sahanaya). Apa tidak bikin gondok menahun tuh. Hiiyyyy…

“Apa begini ini ya lingkungan dan gaya persahabatan antar pelajar di SMA yang bagus ini? Tidak pernah ambil peduli kepada temannya yang akan ulang tahun. Masak di anggap tabu atau tidak dianggap sebagai momen penting bagi mereka. Atau hanya sekedar bunag-buang uang, waktu dan tenaga doang ya?” Renung Evel sedih. “ Oh ya Aku tahu. Mungkin sebagian besar tidak pernah merayakan tradisi ultahnya. Mungkin dengan berbagai alasan uang atau yang lain. Idihh kuno banget ya. Di zaman modern kayak begini masih ada yang bersikap kolot dan tradisional. Betul betul tak memahami dan menghormati teman sekelas. Kemana rasa solider mereka sebagai sahabat? Apa arti persahabatan yang selama ini dibangun dengan susah payah. Dinilai dari untung dan ruginya. Tidak ada perhatian dan kepedulian sama sekali. Tahu begitu aku bersekolah di Jakarta aja. Menyesal sekolah di kota ini. Bagaikan tersisihkan, terasingkan.,.Sudahlah percuma. Biarlah kubersedih. Tiada guna. Evel musti kuat dan tegar. Tanpa dukungan moril dan mereka toh pestaku akan tetap jalan kok.

Sebenarnya prasangka Evel kepada teman-temannya sungguh terlampau berlebihan. Oh, seandainya Evel tahu betapa pedulinya dan sayangnya teman sekelasnya kepada dirinya tentu akan terharu sambil mewek-mewek. Tapi kalau sudah ketahuan ceritamnya jadi tidak seru dong. Masak jalan ceritanya sudah ketebak.

Eveline tidak enak hati sama Mamanya. Kebetulan Mamanya asli keturunan kesultanan Palembang dan paham betul kebiasaan dan adat istiadat yang berlaku untuk wong Palembang. Dia bukan hanya mewakili sebagai figur Mama yang keibuan tapi figur Ibu yang ke-Mama-an. Beliau menjadi base camp curhatan dan menjadi panutan terutama untuk anak-anak yang perempuan. Mama seringkali mengingatkan anak-anaknya tentang nilai-nilai kebaikan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya yang lembut selalu jitu untuk dicerna dan diterapkan. Hampir tidak pernah mengumbar kata-kata kasar kepada siapapun. Sepertinya garis kesultanan berpengaruh sekali dan membentuk prilaku Mama menjadi dewasa dan bijak. Bukan berarti Mama tidak pernah marah sih…Kadang-kadang beliau bisa marah bila melihat kebandelan anaknya. Tapi tidak sampai mendamprat dan berubah menjadi gendoruwo yang menyeramkan. Marahnya masih dalam porsih wajar. Selebihnya Mama sangat penyanyang dan pemanja. Ada satu lagi, bila diperlukan Mama sewaktu-waktu dapat menjelma menjadi teman yang enak diajak bercerita. Kesimpulanm klisenya…Mama adalah cinta, Mama merupakan segalanya dan selalu bersemayan dalam hati sanubari Eveline yang terdalam.

“Evel..” Kata-kata lembut yanmg menyejukkan keluar dari mulut Mama tercinta. Tepatnya menjelang sore hari. Ketika Mama sedang membersihkan dapur setelah habis memasak.

“Iya. Kenapa Ma?” Jawab Evel sambil menggayut sembari melingkarkan tangganya ke punggung Mama. Eveline sekejab menjadi anak manja. Saking eratnya pelukannya itu membuat Mama nyaris sesak nafas. Evel buru-buru mengendorkan kadar pelukannya. Evel masih sempat menciumi pundak orang yang melahirkannya dan mengenalkan segala isi dunia.

“Idihh, kok jadi manja kayak waktu SD dulu. Kamu itu tidak pernah lepas dari Mama. Kemana-mana selalu ikut. Mirip sticker. Bahkan sewaktu Mama masih ngantor dulu kamu menangis minta ikut. Evel evel..sekarang kamu sudah besar. Tidak terasa sudah kelas 1 SMA. Sayang Mama. Hanya saja Mama tidak kuat meggendong kamu lagi. Beraaat.”

“Hehe. Jangan dong Ma. Evel nggak mau lihat Mama turun berok. Hahaha. Nanti gantian Evel yang menggendong Mama. Oh ya tadi Mama panggil Evel ya. Ada apa sih Ma? Mama mau curhat ke Evel ya?” Evel cekikikan mirip Pokemon.

“Kamu ada ada saja Vel. Nggak kebalik itu. Kan biasanya kamu yang suka curhat ke Mama. Emang Mama, Mama Dede apa. Curhat dong Ma! Ini lho Vel..Sebentar lagi kan keluarga kita akan menggelar pesta ulang tahun Evel.  Mama hanya heran saja. Sampai hari ini belum melihat teman-teman sekelas kamu yang main ke rumah. Biasanya ada Debby suka mampir. Belajar bersama Kek. Atau bulan kemaren teman sebangku kamu, siapa namanya…..”

“Arleini Ma..”

“Iya itu. Dia juga suka mampir dan sering minta resep masakan ke Mama. Lho pada kemana mereka ya? Atau si Agus yang dulu naksir kamu. Dulu saban hari kerjaannya nelpon melulu. Mama kirain bapaknya kerja di kantor telepon lho. Agak aneh aja Vel. Mama tidak melihat seorangpun main ke mari menjelang ultahmu. ”

Tiba-tiba Kakak perempuan Evel yang berbisnis Salon main ke dapur dan mendengar percakapan antara Evel dan Mamanya yang seru. Sedikit banyaknya percakapan itu terdengar. “Iya Vel, kok teman-teman kamu pada begitu. Saat tidak dibutuhkan pada ngumpu dan tumplek semua. Hari tiap hari kamu mengundang temanmu kemari. Kalian sering ngobroln belajar bersama bahkan Kakak dengar sering ngerumpinya deh. Pas mau seibuk begini nggak kelihatan satupun batang hidungnya. Jangan-jangan pas hari H, mereka tidak pada datang pula. Bantu-bantu kek. Sebagaimana adat orang timur kan begitu ya Ma? Kakak kira kamu mungkin terlalu sombong di sekolah. Atau pemalu,mungkin. Makanya Vek, pesan Kakak, kamu harus pandai bergau dan menyari teman. Biar banyak teman. Tetap akrab baik suka maupun duka.”

“Ini si Kakak datang-datang langsung nyerocos aja mulutnya kayak sepur di statsiun Kertapati. Lihat si Evel menjadi serba salah.”

“Nggak apa apa Ma. Mungkin Kakak betul. Evel musti instropeksi diri lagi. Evel yakin persahabatan kami tetap terjaga kok Kak baik disekoalh maupun di luar. Kalau sombong nggaklah. Apanya yang mau disombongin sih..Mungkin teman Evel pelajar karir semua jadi pada sibuk.”

“Pelajar karir?”

“Oohh. Becanda kok Mam. Eveline juga tidak tahu Ma. Kemungkinan mereka pada sibuk belajar Ma mirip wanita karir. Kali aja mereka punya teman baru selain Evel. Mungkin mereka nggak enak hati atau takut merepotkan tuan rumah kali…”

“Padahal Mama selalu welcome ketika mereka datang. Jangan-jangan kamu…musuhan gitu. Nggak kan?”

“Iya nggaklah Ma. Mama Mama. Masak kami musuhan? Emang anak TK. Nggak mungkinlah Ma.” Evel berusaha meyakinkan Mama bahwa dia tidak pernah mengecawakan siapa-siapa di sekolah. Terlebih untuk menyinggung perasaan orang lain. “Menurut Evel setiap orang tentu mempunyai rasa bosan Ma. Nah saat ini mereka sedang taraf bosa tingkat tinggi untuk main ke rumah kita. Bisa dibilang masa tenggang dan masa renggang. Percayalah Ma, suatu hari, ketika saat rasa kangen itu pasti mereka datang kemari.”

Evel mengerlingkan matanya ke arah Mama. Mama berlalu bersama sunggingan senyuman termanisnya.

Mama hanya mengangguk perlahan. Tandanya mulai memahami atau malah menyimpan kecurigaan lain. Entahlah. Di lubuk hati Mama cukup mempercayai ucapan anaknya yang mulai ranum itu. Ya, masa remaja sebentar lagi akan dilalui Evel. Penuh gejolak. Akan ada beberapa letupan mewarnai pada masamu. Ceria dan sedih. Masa SMA itu memang indah. Banyak orang di saat tuanya kepingin mengulangi kembali ke masa itu. Makanya getol menghadiri acara reunian angkatan. Banyak dugaan-dugaan yang meleset. Berdecak kagum. Merasa prihatin. Merasa empati. Percaya diri. Minder. Kekeluargaan.

Ada yang menyesali diri kenapa waktu SMA sangat pemalu dengan yang namanya perempuan.  Jangan untuk bertegur sapa menatap saja enggan. Ada juga di masa SMAnya terkenal playboy, namun saat telah beranjak dewasa malah keseringan jomblo. Ada juga waktu SMA kuper, eh dewasa malah berubah supel. Atau kebalikannya. Semua bisa saja berubah tanpa dapat ketebak. Dulu terkenal pintar malah tidak menjadi apa-apa. Dulu terkenal bandel seantero sekolah justru menjadi orang sukses. Semua prediksi bisa saja berbalik arah.

BUKA KADO ATAU BELAH KADO YA?

Bukan kelas 1.3 namanya kalau tidak selalu berisik dan bikin gara-gara. Seperti pagi itu, menjelang siang hari seperti ini. Kala perut para pelajar sudah mulai memprotes sambil berinstrumentalia sembari meronta-rontra meminta majikannya segera peduli untuk mengisi mereka dengan sebungkus cemilan atau sesendok nasi. Hujan deras yang baru saja reda makin mendramatisir suasana. Dari  jendela lantai tiga tampak ranting pohon yang menjulang keadaannya basah kuyub. Butiran air menetes satu demi satu jatuh ke tanah rerumputan dari ujung daun nan hijau.

 

KETIKA PRASANGKA MENJADI TAK TERDUGA. KETIKA KESEPIAN MENJADI KERAMAIAN..

Ketika pergantian jam pelajaran datang, anak-anak kelas 1.3 memanfaatkan waktu yang terbilang sedikit itu untuk melakukan bermacam-macam aktivitas. Ada yang buru-buru ke toilet karena kebelet pipis. Ada yang dengan sigap mengambil buku novelnya yang diumpetin di dalam laci meja. Ada yang melancarkan rayuan-rayuan gombal. Biasanya dilakukan anak cowok kepada anak cewek yang jadi korbannya. Ada yang langsung ngejeprak tidur di dalam lipatan tangannya. Mirip orang pingsan. Ada yang lari ke arah jendela untuk menghirup udara bebas, seakan sudah bertahun-tahun lamanya terkurung dalam sel penjara. Ada yang main catur, kartu remi dan gaplek. Terakhir ada yang main tebak-tebakan.

“Ayo, siapa yang bisa jabaw tak kasih permen mentos gratis. Apakah perbedannya saya dengan aku?” Tantang Yudo seraya mengibas-ngibas dagunyas. Matanya sedikit berbinbar-binar.

“Aku aku!” Teriak Choi sambil tunjuk tangan. “Mudah nian itu. Itu pelajaran bahasa Indonesia. Kalau kata ‘saya’ digolongkan bahasa yang anda unsur sopan santunnya. Nah, kata ‘aku’ itu kesannya terdengar kasar di telinga. Selain belum baku juga tidak berlaku umum. Apalagi saat berbicara dengan orang yang lebih tua.” Tak dinyana si Choi menjelaskan dengan panjang lebar.

“Choi choi, sudah panjang berbelat belit salah pula. Mau jadi reporter ya kamu.” Potong Yudo tidak sabaran.

“Choi reporter gagal.” Ledek Iwan terkekeh.

“Oke, kalau begitu. Ada lagi yang tahu? Ayo tunjuk jari. Enak lho kalau bisa dapat permen. Lumayan buat ganjil perut. Pada menyerah semua ya? Tebak-tebakan gampang begini pada bengong. Parah ya bahasa Indonesia kalian. Ogud jawab ya. Kalau ‘saya’ berlaku untuk manusia. Mudah nian bukan?”

“Tunggu dulu, kalau ‘aku’ giman? Belum dijawab.” Tanya Choi protes.

“Kamu?”

“Iya. Aku?

“Monyet..”

“Dasar ayam bekicot! Tertipu saya.” Choi menepuk jidatnya yang jenong dan luas itu.

Yudo tertawa puas sambil membusungkan perutnya.

“Gantian dong Yudo. Saya juga punya tebakan.”Ucap Choi sambil semangat. Dia tidak mau kalah set. Coba kamu mengucapkan kalimat ‘monyet bawa paku’ dari pelan ke cepat tapi nonstop ya. Harus jelas. Bisa nggak?”

“Apaan tuh. Bukan tebakan ya. Cemen ah. Kalau bisa hadiahnya apa dulu?” Tanyo Yudo penasaran.

“Ada deh spesial dari saya.”

“Iya apaan. Martabak mesir juga spesial tahu..”

“Ayo tebak dulu. Baru hadiah.”

“Oke!” Yudo menyanggupi tantangan Choiruddin.

“Oke. Kecil itu mah kalau Cuma ngikutin doang. Awas ya kalau kamu bohong. Kucemplungin ke kolam belakang perpustakaan.” Ancam Yudo sambil mengepalkan jarinya mirip petinju.

Choi sempat ketar ketir. Dia tidak berani membayangkan bagaima jadinya bentuk mukanya kalau kena tinju dan dicemplungin di kolam.

Yudo mulai mengucapkan kalimat yang diberikan Choi. Pada awalnya dia menyebutkan dengan pelan, lalu artikulasinya jelas dan teratur. Kelihatan dari wajah-wajah temannya yang manggut-manggut. Kemudian Yudo harus mempercepat ritmenya. Lama kelamaan ucapannya terdengar janggal dan aneh. Ngelantur dan ngawur. Pada akhirnya dia kejebak dan terpeleset mengucapkan ‘ monyet bapak aku’. Kontan meledaklah tawa teman-temannya. Yudo langsung ngamuk dan sadar telah dikerjain oleh si Choi.

“Dasar anak kurang ajar lu Yud! Apa saya tidak salah dengar. Apa tadi kamu bilang ‘ monyet bapak kamu?’ Kuwalat kamu. Masak orangtuanya disamakan dengan monyet. Huyyy!

“Awas kamu Choy kulempar kamu dari lantai tiga”

“Aduuh. Ampuuun.” Yudo dan Choi terlibat kejar-kejaran sampai tersengal-sengal.

Tiba-tiba Ichsan TWEJ slonong boy ikut andil meneawarkan tebakan.

“Saya ada tebakan nih. Ayo Yudo dan Choi balik kemari. Siapa yang merasa jenius silahkan jawab. Saya yakin kalian tidak bisa. Silahkan pilih salah satu. Enak mirip manusia atau mirip monyet?”

“Monyet lagi. Monyet melulu.” Agus ngedumel sambil menghapus papan tulis.

“Hmmm…mending mirip manusia…”Sambar Yudo dan Choi berbarengan.

“Weee, mirip manusia? Artinya kalian itu monyet betulan yang mirip dengan manusia. Sadar juga kalian. Kena deh…”Pekik Ichsan senang sekali karena berhasil ngerjain Yudo dan Choi.

“Sontoloyo!” Berani-beraninya ngatain kita monyet Choy! Ayo uber!” Ujar Yudo sambil mendorong-dorong punggung temannya. “Enak aja. Kamu yang monyet!”

“Ichsanpun akhirnya mendapatkan tempat yang layak di bak sampah sekolah.

Jumat pagi yang cerah dan penuh berkah. Kebetulan tanggal berwarna merah alias libur sekolah. Tampak dua orang sejoli sedang mengobrol mesra dari atas sepeda. Tidak  berapa jauh di depan pagar salah satu rumah berpagar tinggi, keduanya berhenti, lalu mereka turun dari sepeda.

“Vel, Kakak sampai disini saja ya nganternya?” Ucap cowok itu. Ternyata Eveline barusaja selesai sepedaan bersama cowok yang pernah menolong memompa ban sepedanya tempo hari.

“Adik sabar aja. Kakak rasa teman-temanya tidak sejahat yang dikira. Mungkin mereka mau bikin kejutan..”

“Yeah, smoga saja begitu Kak. Rasa-rasanya Evel pengen pindah sekolah aja deh.”

“Wooo…Segitunya. Sudahlah jangan diambil hati.”

“Mampir dulu Kak sebentar.”Tawar Evel, tidak lupa memberikan senyum termanisnya.

“Gimana ya, Kakak kalau sudah mampir tidak bisa sebentar. Apalagi kalau ditemani Evel.”Canda Rizal sambil terus menatap mata pasangannya. Evel buru-buru menoleh ke arah lain.

“Lama juga boleh kok.”

“Kapan-kapan aja ya dik. Kakak tidak enak, sepertinya sedang repot mempersiapkan pesta ultamu. Lagipula bajuku basah dan keringatan. Kapan-kapan saja. Bisa agak lamaan. Oh ya dik, habvis Jum’atan Kakak ada keperluan mengantar adik mengaji.”

“Oke deh. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut lho. Ntar benjol..”

“Benjol?”

“He-e, Di tembok sana ada tulisannya ‘ngebut benjol banyak anak-anak.”

Rizal tertawa lebar. Dia merasa ada sesuatu yang lucu. “Ada ada saja. Balik dulu dik. Titi salam buat orang di rumah. Bye…”

Rizal langsung mengayuh sepeda balapnya. Sempat ngesot sedikit. Akhirnya hilang di balik tikungan. Evel masih menatap kepergian teman barunya itu. Setidaknya dia memiliki seorang teman baru. Saat hendak berbalik, Evel melihat  sesuatu yang membuat jantungnya berdegub kencang. Matanya sedikit memicing. Dia melihat seperti ada rombongan sirkus berjalan ke arahnya. Setelah makin mereka mendekat ternyata  adalah rombongan adalah teman-teman sekelasnya. Eveline begitu terharu. Dia bingung. Menyambut tamu tersebut atau menyambitnya? Menyuruh mereka masuk atau Evel ngumpet pura-pura….

“EEEVEEELLLLL…!!” Teriak Faisol paling kencang. Tangannya dilambai-lambaikan. Dia berteriak berkali-kali mirip rocker Achamd Albar ketika akan membuka konser dengan sebuah lagu. Makin lama suaranya makin parau. Tampaknya Faisol membawa sesuatu. Ngapain dia bawa kandang ayam kemari? Eveline tak mampu berkata apa-apa. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia hampir lupa untuk segera mandi lalu menyambut tamu-tamu istimewa itu.

Faktanya hampir separuh teman perempuan sekelas Evel nongol secara tiba-tiba. Kecuali Faisol dan Tekya ditunjuk mewakili kaum Adam. Bagaikan mimpi disiang hari. Mereka sudah hadir di hadapan Evel. Dan Evel merasa tidak enak hati dan merasa bersalah telah berprasangak yang bukan-bukan. Ceritanya mereka terjun langsung ke lapangan dalam rangka membantu meringankan orang kaya yang akan melaksanakan hajatan ulang tahun. Kalau dipandang sekilas mirip kerumunan sedang berdemo. Keluarga besar Evelin sempat terkaget-kaget dan terharu biru laut dibuatnya. Disangka ada penggusuran mendadak.

Faisol dan Tekya secara simbolis menyerahkan dua ayam kampung kepada Eveline. sebagai hadiah ulang tahun teraneh.

“Sol sol, kenapa bukannya ayam yang sudah dipotong aja sih. Malah ayam yang masih berkokok kamu bawa kemari. Merepotkan orang saja.” Protes Debby sambil mencibir.

“Lagian siapa yang motong? Kita-kita yang mau kamu suruh potong. Kerjaan kami membantu di bagian dapur.” Tukas Yuli sambil berlacak pinggang.

Mau tidak mau harus mau. Kesimpulannya Faisol dan Tekya mencari orang yang ahli dalam menyembelih ayam. Setelah setengah jam mereka datang bersama bapak tua yang didaulat sebagai tukang jagal ayam. Ketika hendak dipotong terjadi kejadian yang lucu, ayamnya malah kabur ke sana kemari. Saking stressnya melihat pisau yang tajam mengkilap. Untunglah sebelum masuk sholat Jum’at ayamnya baru ketangkap dengan bantuan warga komplek perumahan.

Night weekend pun tiba. Rumah Eveline sudah mulai kelihatan ramai. Pesta ulang tahun barus saja digelar. Sama-sama terdengar lagu Dek Sangke.

…Dek Sangke aAku dek sangke

Cempedak berbuah nangke..

Setelah lagu Dek Sangke dan sepatah dua patah kata dari tuan rumah kelar…

Lampu lampu disko berwarna-warni, berkelap kelip menyinari setiap sudut ruangan. Menambah semarak suasana. Apabila sinarnya menerpa mata, cukup menyilaukan.

Alunan musik dan lagu ala Spanyol mengalun merdu berasal dari tape deck tingkat tiga. Kalau sekarang namanya home theatre. Dilantunkan oleh penyanyi Madonna. Lagunya La Isla Bonita. Lagu yang cukup ngetop pada tahun itu. Iramanya cukup menghentak.

…..Tropical the island breeze

All of nature, will and free

This is where I long to be

La Isla Bonita…

Semua yang hadir merasakan aura yang sama. Kegembiraan tiada tara. Terlebih lagi Eveline. Tampak wajahnya berseri-seri. Sinar kebahagiaan dan keharuan terpancar dari wajahnya. Beberapa teman Eveline baik cewek maupun cowok tumpah ruah ke lantai disko. Asik berjingkrak-jingkrak sambil berlenggak lenggok bak bujang gadis Palembang.

“Aku terharu Sol!” Teriak Agus Blepotan kepada Faisol.

“Aku juga terharu akan kesuksesan acaranya ini Gus.”

“Kok kamu ikut-ikutan terharu aja.”

“Maksud kamu terharu yang bagaiman sih Gus.”

“Kan semula Aku pernah request ke Eveline kalau bisa ada acara disko. Biar hobiku tersalur.”

“Ah kamu serasa Rhoma Irama aja. Sok jago joge aja

“Kok Om Rhoma? Dia kan raja dangdut bukan raja disko, tahu!”

“Aku juga suka disko Gus. Emang kamu aja. Eveline! Aku cium kamu!”

“Ena saja. Saya aja pernah naksir belum kok. Dasar muka dangdut!”

“Masa bodo!”

Mereka kembali berjingkrak-jingkak. Tapi saling membelakangi.

Para undangan menunjukkan wajah puas.

Acara demi acara berlangsung santai, tertib dan seru. Apalagi acara semakin meriah, setelah Ichsan dan Yudo didampuk menjadi MC dadakan. Keduanya berhasil menghidupkan suasanan. Mereka dengan bebas meledek para hadirin. Ichsan TWEJ juga mengajak para tamu main tebak-tebakan basi. Zoel diajak Julius untuk menemaninya memperagakan gerakan senam aerobik.

Apto, Agus dan Sony diserahi tugas memandu acara‘selendang kaget’ atau ‘lempar selendang’. Cara bermainnya cukup asikn dimana panitia akan menyetel sebuah lagu jenis apa saja. Selama musik atau lagu dimainkan sehelai selendang akan diestafetkan kepada peserta yang duduk melingkar. Nah, ketika lagu berhenti akan dilihat selendang itu terakhir ada pada siapa. Nah,dia yang akan mendapat hukuman. Hukumannya unik-unik kok. Ada yang didaulat untuk menari, berjoget, melawak, baca puisi konyol.merayu dan lain sebagainya.

Disk jockey amatiran untuk acara disko digawangi oleh Fikry dan Iwan. Seyogyanya mereka musti kompal dalam mengatur lagu dan musik. Ini malah sering bentroknya ketimbang akurnya. Masing-masing saling rebut-rebutan menyetel lagu dan saling mempertahakan egonya. Fikry demen musik hard rock dengan beta-beat cepat sedangkan Iwan  doyan musix remix nonstop dengan lagu khusus dangdut rasa pop barat. Jadi runyam dan berantakan deh. Untungnya perseteruan itu tak berlangsung lama, dikarenakan diprotes oleh para tamu.

Tak terasa malam telah semakin larut. Pestapun usai. Para undangan dari dekat dan dari jauh mulai satu persatu meninggalkan tempat berlangsungnya acara. Rumah besar nam megah itu kini sunyi dan sepi. Masih ada satu atau dua barang yang belum disusun dan dikembalikan ke tempat semula. Tadi teman-teman sekelas Evel bahu membahu membantu membereskan ruangan yang tadi terpakai. Karena kasihan Papa dan kakak-kakaknya Evel meminta mereka untuk pulang. Takut kelelahan dan kemalaman sampai di rumah.

Lampu rumah Eveline mulai dipadamkan oelh penghuninya.

Hanya ada satu kamar tersisa yang belum padam penerangannya. Kamar siapa lagi kalau bukan kamarnya Eveline. Cewek itu tengah asik bergulang guling di atas kasur empuknya. Dia tiduran di tengah genangan aneka macam kado yang menumpuk dan berserakan. Eveline bertekad untuk bergadang malam itu.  Dia ingin sekali mengetahui apa saja isi kado-kado yang dia terima. Ada yang berbungkus cantik, adanya juga yang unik. Ada yang berukuran kecil dan besar. Tiap kado ternyata diselipin kartu beserta ucapannya. Eveline membacanya sambil cekikikan mirip kentawa kuntil anak di tengah malam. Rata-rata isinya kocak-kocak, membuat Evel tak berhenti tertawa. Debby Cs menghadiahi perabotan dalam cewek. Fatimah CS memberikan kado stasionery yang lucu-lucu. Rizal, temen barunya memberikan boneka Little Mermaid yang lucu. Akhirnya..sampai pada kado terakhir dari Agus Belepotan. Isinya membuat Evel sontak kaget juga geleng-geleng kepala. Sepasang pakaian dalam wanita lengkap sebuah BH atau bra berukuran sedang dan celana renang swimsuit two peces. Eit, tunggu dulu si Agus yang malas menulis catatan di sekolah itu meninggalkan secarik kertas surat berwarna oranye. Pas dicium kok bau aroma Baygon.

Hallo Evel manis semanis kue sagon. Seimut kue kumbu.

Selamat ulang tahun yang ke 15. Semoga panjang umur, murah rezeki, tambah dewasa, makin terbuka matanya melihat kegantengan saya yang sesungguhnya. Sukses di sekolah. Sukses meraih cita juga cinta. Jangan buru-buru pacaran dulu ya. Oh ya, jika dalam kurun waktu setahun ini kamu masih belum punya pacar. Silahkan hubungi saya baik lewat surat, telepon, wesel, telegram,handy talkie maupun interkom. Saya bersedia menjadi pacar sewaan gratis tanpa garansi. Mumpung saya mau dan belum kadaluwarsa.

Evel, janganlah ragu ataupun bimbang melihat kado ini. Apalagi sampai kaget. Nanti aku juga ikutan kaget dong. Kado ini memang spesia nuat kamu. Menunjukkan kepedulianku akan anatomi tubuhmu. Maaf, agak privacy memang. Pakailah. Kuharap kamu akan menyukainya. Kuharap pula agar merasa ada seorang Agus di dadamu. Seorang cowok tampan yang sedang mencari jati dirinya. Seorang cowok yang bijaksana yang pernah kamu tolak tembakannya. Mudah-mudah pas ya. Andaipun kelonggaran saya bersedia menemani untuk menukarnya. Selagi pihak toko masih ada garansi. Sebenarnya saya mau mengukur sandiri tapi takut kena gampar. Oh ya teriring salam manis juga untuk keluargamu. Selamat mencoba…

NB : Kado ini dibeli lho, bonnya ada, dan bukang maling jemuran tetangga..(Ketawa dong hehe)

Salam susu kental manis

– Agus Marcelo Blepotand-

Tanpa terasa Evel mulai merasakan kantuk. Sesekali dia menguap lebar. Sesekali dia tersenyum. Perlahan ditutupnya surat dari Agus beramplop pink. Dia menerawang sembari berguman. “Bingo! Kebetulan sekali. Bik Ipah sangat membutuhkan barang ini. Thanks ya Agus…”

Letika hendak menerkam bantal guling, secara tak sengaja Eveline menemukan sebuah kado dibalik tirai jendela. Dengan semangat dia membuka tanpa melihat nama pengirimnya. Setelah mengetahui apa isi kadonya Evel pun pingsan dengan sukses. Dalam keadaan pingsan dia tetap tersenyum. Ternyata kado dari Ferry berisi kepala badut yang meloncat keluar kotal alias  ‘joker in the box’ . MET BOBO YA EVEL…

MASA SMA MASA BODO? DALAM : KEJUTAN PENTING TIDAK PENTING DI PESTA HARI LAHIR EVEL…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

KEJUTAN PENTING TIDAK PENTING DI PESTA HARI LAHIR  EVEL…

Oleh : Deddy Azwar

PESTA ULTAH EVEL SARAT URAT SARAF

Beberapa terakhir ini, salah satu temen cewek sekelas Tekya, sesosok Eveline Sihombing  namanya, kelihatan super sibuk sekali. Mondar mandir seperti bis kawasan Trans Musi trayek Unsri-Indralaya. Entahlah apa yang sedang menganggu pikirannya. Evel, gadis blasteran Jerman-Palembang-Batak ini mempunya wajah yang cukup lumayan cakep. Dan tentu saja selalu men

jadi incaran siswa-siswa gelap mata. Terlebih lagi untuk mereka yang masih menyandang gelar jomblo.Jangankan dari kalangan kelas internal, kelas eksternalpun banyak yang antre yang menggoda. Pokoknya Evel merupakan salah satu aset dari kelas 1.3 yang wajib dipelihara dan dilestarikan sekaligus diamankan dari siswa-siswa hidung belang.

Evel…Ayo kalian bisa menebak tidak bagaimana sih orangnya? Logikanya jalan dong, ditilik dari namanya saja mustinya kalian sudah jago membayangkan bagaimana rupa dan bentuk orangnya. Betul kan…? Modern dan milenial gitu atau imperial dan kolonial ya? Tidak seperti makhluk yang menyandang nama Faisol yang kuno cendrung kolonial. Cewek tergolong peranankan indo sih…Coba anda bayangkan sendiri. Bentuk wajahnya yang lonjong, dagunya juga lancip berbelah pula di tengahnya, apalagi ya? Oh ya hidungnya mancung. Mirip dagu Timothy Dalton..(kok cowok? Belum nemu siapa yaa kalau artis pemilik dagu berbelah berkelamin perempuan….oh iya tepat sekali yaitunSophia Latjuba kalee…). Terus…Evel memiliki rambut yang panjang tebal dan agak kepirang-pirangan. Dia tidak terlalu dipusingkan dalam hal perawatan rambutnya. Simple saja, cukup ditarik ke belakang, dibiarkan dan diikat seadanya mirip gadis indian pada umumnya. Alisnya nan hitam merambat bak gajah beriring? Matanya nan sayu dan redup dengan bola mata berwarna kecoklat-coklatan. Membius semua cowok.

Usut punya usut, si Evel ternyata punya benang kusut eh sebentar lagi mau berulang tahun. Tinggal menghitung hari saja usianya akan bertambah genap 16 tahun. Sudah gede lagi…Dia berniat memperingati dan merayakan dimana hari dia dibrojolin dari perut Mamanya. Evel lahir pada salah satu puskesmas di sana, bertepatan ketika Papanya sedang bertugas di Jerman. Tepatnya di Munchen. Di sebuah kota terbesar dimana terdapat klub sepakbola termasyhur di kota tersebut bernama Bayer Munchen. Ada beberapa orang anak kelas 1.3 menganggumi klub ini. Eh kok jadi ngelantur ke tema sepakbolah yaaa..

Kembali ke laptop…Tentu saja Evel berniat merayakan hari istimewamnya itu dengan sebuah perayaan pesta khusus, ya dilangsungkan cukup di rumahnya saja. Biar lebih akrab dan terkesan kekeluargaan.  Rencananya Evel hanya mengundang semua teman sekelas dan beberapa gelintir teman dekat rumah. Tradisi ini sudah terjaga sejak dia lahir. Dari tahun ke tahun selalu dirayakan. Baik perayaan berskala kecil, sederhana maupun mewah. Evel sudah pernah mengalami semua tahapan itu. Terlebih kagi di saat karier Papanya sedang jaya-jayanya. Itu terjadi pada beberapa tahun silam. Semua keluarga Pak Sihombing, termasuk Evel pasti pernah mengecap kisah-kisah penuh kesan dan bermakna. Dan akan selalu teringat sepanjang masa.

Kalau untuk menyewa gedung pertemuan yang memuat banyak tamu, pas lihat tabungannya tidak memadai. Apalagi untuk membooking lounge diskotik. Nggak kebayang deh kayaknya…Lagipula  gaya banget untuk sebagai seorang pelajar sekolah. Beda halnya kalau dirinya bertitel selebriti. Untuk meminta traktir Papa atau Mama, Evel agak segan. Takut merepotkan mereka.

Setelah  mengadakan rapat keluarga, akhirnya ulang tahun Evel telah disetujui. Dan disepakati lokasi pesta di rumah sendiri. Sebab tetangga menolak untuk dipinjami rumah mereka. Haha. Pihak keluarga akan membentuk panitia kecil serta akan melibatkan beberapa kerabat dekat. Seperti tante Butet dan abang Ucok juga. Papa menolak keras pagar bagus. Iya eyalah…emang mau mantenan?!

“Vel, dana dari Papa dan Mama hanya segitu. Kamu cukup-cukupi aja. Kecuali kamu mau nambahin dari tabunganmu sendiri. Papa sarankan pestanya sederhana saja. Jadi kalau bisa tidak menganggu gugat duitmu. Oh ya, ada sumbangan juga dari salon kakakmu. Yeah…walaupun tidak begitu membludak. Tinggal kamu bagaimanan memanage dan mengkalkulasinya.”

“Iya Vel. Urusan konsumsi serahkan saja ke Mama. Nanti Mama yang tangani semua. Insya Allah Mama sanggup kok. Kita tidak perlu memesan ke Bakery manapun. Jadi kita bisa menghemat pengeluaran. Mama sempat cari-cari info ke toko kue di pasar. Semua harga barang pokok pada naik. Otomatis berimbas juga ke mereka. Beberapa kue langganan mengeluh. Walaupun berat hati mereka terpaksa harus menaikkan harga pula. ” Mama Evel menimpali.

“Iya. Makasih Mama.” Ucap Evel pelan. Walaupun ada sedikit nada kecewa dari roman wajahnya yang sayu. Akan tetapi dia akan mencoba berbesar hati untuk menerima kesederhanaan pestanya. Evel berusaha bersikap dewasa untuk memaklumi semua itu.

“Sabar ya adikku cakep…”Bisikan halus keluar dari kakak tertuanya yang bertugas mengelola salon milik keluarga. “Kebetulan pesta ulang tahunmu kali ini giliran kita sedang tidak mempunyai banyak uang. So super simple. So sederhana banget. Menurut kakak ini kali pertama orangtua kita tidak dapat membantu banyak dalam soal keuangan. Tidak seperti biasanya. Dulu kita masih mampu menyewa restoran, gedung pertemuan, cottage bahkan lounge sebuah hotel. Toh dulu semua anaknya telah puas merasakannya. Adakalanya kita berada pada posisi yang tidak kita inginkan. Kita harus belajar ikhlas. Sejak kecil, pada saat kita masih culun-culun, rezeki orangtua kita masih lancar jaya. Dahulu bisnis salon sedang booming dan persaingan masih sedikit. Sekarang kamu lihat bisnis salon sudah banyak bermunculan kayak jamur. Beberapa tetangga kita juga mempunyai salon. Persaingan semakin ketat. Semakin kesini rezeki rada seret.”

Semua wejangan diterima Evel dengan lapang dada. Kepalanya semakin menunduk. Terbenam dalam kesedihan. Tidak dapat dipungkiri, dia merasa mendapat giliran ulang tahun yang apes. Evel berusaha tegar dan tidak larut dalam kecewaan. Evel berusaha memainkan mimik mukanya guna menahan tangis. Dia mencoba untuk menahan. Seandainya dia menangis, tentu akan membuat kedua orangtua dan kakak adiknya bersedih. Evel tidak ingin semua itu terjadi gara-gara ke-mewek-kannya.

“Kesimpulannya…”Kali ini Mama menutup pembicaraan..” Kita beli apa yang sepantasnya kita beli. Itulah yang kita butuhkan. Kita harus fokus dan jangan macam-macam. Kita juga harus hemat. Kamu jangan kawatir. Perkara masak bakso dan mie celor biar Mama yang tangani bersam bibik dan Kak Oval. Oh ya perlu ditambhakan penganan mpek-mpek juga kan?  Pasti temen-temenmu suka dan berebutan kayak tahun lalu. Haha..Mama dan bibik sampai kerepotan. Habis mereka minta tambah lagi.

Semua yang hadir dalam rapat tertawa dan tersenyum.

“Perabotan yang di ruang tamu dan ruang tengah…”Mama melanjutkan, “kita ungsikan sementara ke gudang dulu. Biar ruang tamu kita kesannya luas. Kue Mak Suba kan Mama tidak jago membuatnya. Bagaimana kalau kita pesan ke tante Ujuk? Murah kok..Evel setuju tidak?”

“Eve rasa tidak perlu Ma. Kan kata Mama sendiri kita harus hemat. Bagi Evek menurut Mama murah, harga itu mahal menurut Eve lho Ma.”

“Ya udah kalau tidak jadi.”

“Acara diskonya jadi nggak Ma?” Tanya Evel agak ragu.

“Apa? Disko Vel…” Nada Mama agak tinggi menjawab pertanyaan anaknya. “Mama rasa nggak perlua ada disko-diskoan Vel. Kamu lupa ya bahwa acara ultahmu kan diselenggarakan di rumah bukan di diskotik. Acara disko itu kan membutuhkan ruang yang besar. Rumah kitakan sempit.”

“Masak nggak ada acara joget-joget Ma? Tidak seru dong!” Protes Evel. Dengan sigap Mama menarik lengan Evel pelan. Lalu membenamkan kepala anaknya ke dadanya dengan lembut. Diciuminya rambut Evel dengan rasa sayang. Evel mengikuti saja walau mulanya agak kaget. Mama suka kadang bertindak sayangnya  berlebihan. Evel tidak dapat berkutik dan pasrah.

“Mau dong Ma..” Kak Vina iri melihat pemandangan tersebut. Ternyata semua anaknya mengerubungi Mama dengan manja dan centil.

“Idih..semua minta dipeluk. Ayo siapa lagi..?” Tantang Mama sambil melirik Papa yang mesem-mesem.

“Papa nggak mau ikutan nih..”Goda Evel.

“Nanti aja bagian Papa malam aja ya Ma. Haha.”Balas Papa.

Akan tetapi sepertinya problem disko ini belum habis sampai di situ aja. Pada keeseokan harinya, Evel habis pulang dari sekolah buru-buru mencari-cari Mama di dapur. “

“Ma…kata Neneng, kalau tidak ada cara disko nggak seru. Kuno..Tadi Evel diledek remaja yang tidak berjiwa muda, kolot dan kuno Ma.” Lapor Evel setelah menghadap Mama. Acara meracik bumbu baksonya diistirahatkila nan dulu. “Neneng siapa Vel?” Tanya Mama dengan sedikit sebel dan gemas. Gara-gara si Neneng, persoalan disko yang kemaren sudah clear menguak kagi, dan diungkit-ungkit kembali oleh Evel. Ingin rasanya Mama menyedot ubun-ubunnya temen Evel yang bernama Neneng itu dengan vacuum cleaner. Wow!

Belum habis kesabaran Mama. Tiba-tiba..

“Ada benernya juga Ma…”Sekonyong-konyong Papa nongol dari ruang tamu. Kebetulan hari ini Papa mengambil cuti kantor setelah beberapa malam rally lembur alias pulang malam. “Biar salah Ma. Namanya juga anak muda. Biarkalah mereka melepas energi dan semangat muda mereka dengan joget-joget dan berjingrak-jingkrak. Daripada nyewa diskotik. Asal tertib dan nggak ribut.”

“Papa lucu deh.” Adik Evel yang masih SMP ikut nyeletuk.”namanya juga ngedisko, pakai musik, joget-joget, jingkrak-jingkrak. Sudah pasti ribut dong Pa. Kalau adam ayem bukan disko namanya,tapi selamatan.”

Evel, sedari tadi hanya mematung saja. Menjadi pendengar setia.

“Bisa aja kok. Siapa bilang acara disko nggak bisa susasanya diciptakan hening dan sunyi . Coba aja di kuburan.”

Semua tertawa mendengar celetukan papa.

“PAPA!!” Papa ini apa-apaan sih. “ Mama Evel segera meredam suasana. “Disko itu kayak orang bego, Pap! Papa ingat ya?! Kok malah melanggar aturan yang telah kita sepakati kemaren. Tidak boleh Papa. Rumah ini sudah sempit. Ruangannya kurang mendukung. Lebih baik jangan deh. Nanti nenek-nenek tetangga kita pada jantungan mendengar hiruk pikuk dan hingar bingar.”

“Idiiih. Mama ini bagaimana sih. Mama sudah lupa ya. Kita pertama kali kan di diskotik. Pas ladies nigt pula. Lokasi itu menjadi tempat pelarian Mama waktu stress sama pelajaran sekolah.”

“Iya sih. Tapi karena rasa solider aja sama temenku minta dikawani. Tapi kami tidak macam-macam. Hanya mendengarkan musik dan melihat orang berjoget saja kok.”

“Saya sempat hampir menuduh Mama tergolong perempuan yang gimanaaa gituuuu.” Ujar Papa mesem-mesem.

Mama langsung menyubit pantat Papa dengan gemes. “Ternyata kalem dan pemalu kan..Pa?”

“Lain kali ingin menghilangkan kegalauan di toko buku dong. Atau ke bioskop kek, nonton film bollywood.” Ceplos Papa. Kalau dipikir perkataan Papa ada benarnya juga. Untungnya dahulu Mama tidak ketagihan ngedisko atau terjerumus ke dalam pergaulan remaja yang suka dugem.

Evel membawa dan mengantarkan sendiri undangan pesta ulang tahunnya. Baik kepada teman main dekat rumah, teman segank, sepupu dan tentu saja untuk teman-teman sekelasnya. Evel tidak ada keberanian untuk mengundang wali kelas dan para guru. Dia takut jadi bahan becandaan, bahan percontohan oleh gurunya apabila suasana perayaan ultahnya berlangsung kacau alias tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Belum lagi dibully oleh teman sekelas.

Evel, secara mandiri pula berbelanja berbagai perlengkapan ulang tahun, sepeti hiasan, balon dan pernak-pernik di departmen store. Tahu-tahu, pulangnya memborong belanjaan nan bejibun. Saking penuhnya keranjaan belanjannya, Evel sampai mencarter oplet lho. Bukan berarti Evel tidak punya teman yang bisa diajak belanja. Dia tidak mau merepotkan orang lain. Pendek kata, dia ogah mengandalkan orang lain. Dia risih jikalau anggaran dan konsep acara ulangtahunnya diketahui banyak orang. Sudah bukan suprise lagi toh!

Beberapa menjelang hari H, Evel kok merasakan sesuatu hal yang ganjil dengan suasana dalam kelas. Biasanya hiruk pikuk sekarang sunyi, tenang dan adem ayem. Dia memandangi satu persatu wajah-wajah teman sekelasnya yang mempunyai kesibukan masing-masing. Mereka tidak seperti saling mengenal. Ketika pagi hari dia memasuki kelas, menoleh ke arahnyapun tidak. Boro-boro ada yang menanyakan…”Vel, sudah sampai dimana persiapan ulang tahunmu?” Atau “Vel,..kalau nggak ada acara ngediskonya ditukar dengan acara sun-sunan dong?” Atau “Vel…aku masing bingung mau ngasih kado apa ya ke kamu.” Atau…”Vel, apa yang bisa kami bantu sebagai teman sekelasmu nin?” Dan… masih banyak lagi beraneka pertanyaan tanda keakraban yang Evel tunggu-tunggu dan harap-harap butuh.

Pokoknya, tak ada tanda kepanikan warga kelas 1.3 dalam menyambut ulang tahunnya yang tinggal menghitung hari. Terus terang dia seperti sangat dicuwekkan. Kejadian begini ini sungguh tidak mengenakkan. Dia bertanya-tanya ada apakah gerangan yang terjadi. Kesal bercampur dongkol. Serasa makan mpek-mpek tapi rasa jengkol..Apalagi ketika secara kebetulan Evel berpas-pasan dengan Arleni dan Fatimah. Dari kejauhan sudah ketebak mereka sudah pasti saling bertemu. Eh-eh ketika jarak sudah mulai berdekatan, Fatimah dan Arleni malah membelol melewati  jalan lain. Kenapa mereka sepertinya menghindari saya sih, pekik Evel dalam hati. Hampir saja Evel memanggil akan tetapi malah suara parau yang keluar.

Jangan-jangan teman-teman pada sekongkol mencuwekkanku dan memusuhiku gara-gara di perayaan ulang tahunnya acara joget diskonya dicoret dari daftar acara. Aneh bener ya. Dasar! Temen temenku kebanyakan menonton sinetron rupanya. Evel berkeyakinan temen-temen mungkin sedang menyiapkan sebuah kejutan untuknya di pesta hari ulang tahunnya nanti. Mana mungkin sih gara-gara soal sepele itu dapat merusak arti sebuah persahabatan.

FACE TO FACE IN THE CLASS

Pada keesokan paginya, Evel mencoba mengetes kembali kelakuan dari temen sekelasnya. Apakah ada perubahan atau malah lebih parah? Evel melangkahkan kakinya menuju ke arah kelas. Ketika jarak enam langkah menuju kelas Evel memperlambat gerakannya. Nyaris seperti berjingkrak-jingkrak. Mirip anak cewek habis pulang ngedugem kemalaman memasuki rumah.  Sesampai di kelas Evel hanya melihat sesosok cewek centil berambut tebal beromba-ombak dan berkacamata tebal. Namanya Debby. Saat itu dia sedang menulis di sebuah buku bersampul coklat kopi. Siapa tahu  si Debby tidak ikut-ikutan aksi tutup mulut seperti beberapa anak lainnya.

“Hallo Deb, sedang ngapain?” Tanya Evel seraya mendekatkan kepalanya ke bahu Debby. Saking dekatnya. Selintas Evel menangkap aroma harumnya wewangian dari rambut milik Debby. Evel seakan dihipnotis.

“Hallo juga Evel..Anu..Aku sedang mencatat yang ada di papan tulus. Emang kamu tidak tahu?” Debby balik melepar pertanyaan. Ayo buruan catat. Tidak lama lagi akan dihapus sama tim yang piket pagi lho.” Pandangan Debby tetap tidak lepas ke arah papan tulis. Seakan enggan menatap wajah Evel yang manis itu.

“Oh ya? Mauuu dong. Ntar aku copy paste ya…”Teriak Evel antusias.

“Boleh aja. Oh ya, sebentar lagi Aku mau menghadiri rapat OSIS.”

“Rapat OSIS?” Ada nada kaget di dalam pertanyaan Evel barusan. Kening mengeryit. Sampai-sampai alisnya nyaris menyatu. “Lho, bukanya khusus kelas dua ke atas? Sedangkan kita baru kelas satu toh.”

“Betul sih Vel. Tapi kemaren wakil ketuanya bilang bahwa tiap tahun siswa kelas satu diizinkan mengajukan sembilan calon untuk duduk mengisi kursi di seksi-seksi OSIS.”

“Berarti sudah ada ketentuan baru dong.”

“Itu sudah peraturan kapan taon Vel. Sudah kadaluwarsa.”

“Baguslah. Berarti sudah tidak ada diskriminasi senioritas ya.”

“Hal ini konon sudah menjadi tradisi di sekolah kita. Mereka ingin ada sistem regenerasi dalam organisasi OSIS. Ya, semacam turun temurun lah. Dari ketujuh kelas yang ada di kelas satu akan dicomot wakil-wakilnya untuk digojlok menjadi anggota OSIS yang tangguh.”

“Oh, begitcyu toh…”

“Bagaimana?” Debby mulai mendongak ke muka Evel.

“Bagaiman apanya?” Tanya Evel dengan raut muka rauh kebingunan. “Aku nggak ngerti.”

“Maksudku…Kamu tertarik tidak bergabung di organisasi ini. Asik lho. Yeah..hitung-hitung belajar berorganisasi. Punya banyak kawan. Terutama cowok-cowok keren dan pintar lho. Belajar berdiskusi, mengeluarkan pendapat. Ikut rapat-rapat. Manfaatnya yang lain nanti kita sudah tidak canggung-canggung lagi ketika terjun ke masyarakat. “

“Gimana ya…”

“Ayolah. Nggak usah kebanyakan pertimbangan untuk kegiatan positif seperti ini. Konon banyak alumni kita yang sukses sebelumnya semasa sekolah mereka terlibat dalam OSIS ini.”

“Yang kudengar kebanyakan pemimpin atau orang sukses bermula dari OSIS. “

“Nah, itu kamu sudah tahu.”

“Jangan sekarang Debby. Banyak yang sedang kupikirkan. Aku takut tidak dapat membagi waktu dan menganggu pelajaran.”

“Kamukan pintar. Tidak mungkinlah. Alasan aja deh kamu. Temani Aku dong. Biar kita bisa bersama.” Debby mengeluarkan jurus merayu mautnya. “Aku yakin seyakin-yakinnya kamu pasti bisa menanganinya kok. Tinggal bagaimana kitanya aja si Vel. Betu tidak?”

“Ahn kamu bisa saja. Nanti saya kasih kabar deh secepatnya. Sementara hold dulu. Aku pikir-pikir dulu apa untung ruginya.”

“Dasar otak dagang kamu! Kabarin ya ke Aku bahwa kamu mau. Nyatet lagi ah. Waduh sduah mau bel masuk nih.”

“Dasar anak rajin! Jangan terlalu diforsir, Deb. Dari tadi buru-buru amat ,mencatatnnya. Si amat saja tidak buru-buru kok. Hahaha. Santai sajalah. Oh ya Deb…Jangan sampai nggak datangnya lho nanti. Awas!”

“Undangan? Datang? Aku jadi bingung deh Vel?” Tanya Debby polos dengan mata melotot.

“Aduh Debby, jangan berlagak pilon deh. Coba kamu cek deh. Undangan khusus buat kamu sudah kutitipkan ke Novelita. Emang nggak sampe apa? Nggak perlu pakai perangko dan stempel kilat khusus lagi itu!” Nada suara Evel meninggi. Jari telunjuknyapun turut menari-nari.

“Oke oke. Emangnya siapa yang mau kawinan sih? Pembantu kamu?”

“Sebelku jadi dobel deh. Yaaa, soal undangan hari jadi Akulah. Hari ulang tahunku. My birthday. Kamu tak ubahnya seperti yang lain. Pura-pura tidak tahu, apa tidak mau tahu alias cuwek sama sahabat atau benar-benar lupa. Beda tipis deh kayaknya.” Evel kambuh penyakit nyerocosnya.” Sekarang ada nada hopeless di suara Evel.

“Walang kekek! Bujubune! Sontoloyo! Kalau terkait undangan ultahmu tentu saja Ogud tidak bakalan lupa. My dear…Tahu?!” Debby sudah mulai tidak tahan mendengar ocehan brutal yang tumpah ruah dari mulut Evel yang mungil dan bibirnya nan merah merekah. Debby kawatir jika Evel tiba-tiba ngerajuk, lalu mengeluarkan ait mata lalu….menangis dan mewek. Ah bisa kacau dunia persekolahan. Kalau sudah kejadian akan susah menenangkan hatinya.

“Oke, kalau memang aku ingat. Kapan acaranya?” Evel mengetes.

“Malam minggu kan..”

“Tepat sekali. Lima buat kamu…” Evel mengacungkan jempolnya.

“Yeaa kok lima sih? Pelit amat.”

“Habis kamu sudah membuatku jengkel.”

“Lagian kan masih atuh…”

“Biarin. Walaupun masih lama persiapan musti mateng Deb. Betul apa betul?”

“Betul.”

“Maaf ya Vel…” Ucap Debby lirih.

“Sudahlah. Tidak perlu dipikirin. Jauh hari sudah dimaafin kok.”

“Bukan soal itu..”

“Lho, lantas soal apa?”

“Sampai saat ini Aku belum bisa bantu-bantu di rumahmu.”

“Oh itu. Tidak perlu repot-repot kok. Hingga detik ini masih bisa kutangani kok. Nanti kalau pas Aku butuh bantuan pasti calling kamu. Jangan kawatir.”

Ketika Evel akan beranjak menuju bangkunya, sedikit dia menoleh dan berkata, “Oh ya Deb, semalam Aku lihat boneka Mickey Mouse cakep deh.”

“Memangnya kenapa Vel,” Debby sekali berlagak pilon. “Lagian sejak kapan kamu suka main boneka?”

“Idiih Debby. Ini kode dari Aku tahu?!” Evel mencoba mengerling tapi gara-gara kurang ahli, berakibat malah kedua matanya berkedip. Seperti orang kelilipan.

“Kode?? Oh, mau menjadi Ethan di Mission Imposible ya..Hahaha.”

“Bukan. Maksudku tu boneka Mickey Mouse cocol dijadikan kado lho..”

“Eh busyet!” Evel evel. Ternyata itu kodenya.”

Debby hanya mesem-mesem aja. “Boleh sih tapi….nggak janji.”

TEROR TELEPON MISTRIUS UNTUK KELUARGA AGUS

Dalam seminggu ini terjadi kejadian yang menyebalkan di rumah si Agus Blepotan. Jika dihitung-hitung dengan jari kaki, ada kali selusin kali  telepon di rumahnya berdering terus. Beda tipis mana bunyi bel mana bunyi telepon. Habis zaman dulu tidak ada ringtone polyponic.

Jangan salah sangka. Telepon berbunyi bukan pertanda Papanya Agus Blepotan seorang pengusaha yang selalu ditelepon mitra bisnisnya. Bukan pula Papanya jualan atau sales perabotan dan barang pecah belah sehingga saban hari diganggu oleh pelanggannya yang hendak memesan barang. Bukan pula seorang salesman yang menjual beraneka macam dan warna BH khusus Ibu-ibu, mba-mba maupun mbok-mbok centil yang menelepon karena kompalin dikarenakan karet busanya berasal dari stereofoam. Semua tuduhan itu salah besar. Entahlah sebesar apa.

Apalagi sampai menuduh telepon dari itu berasal dari fans fanatiknya Agus Blepotan. Tidak mungkin 100 persen. Karena dia bukan artis. Jangan salah arti ya. Maksud fans di sini buka para penggemar yang mengelu-elukannya. Namun fans itu terdiri dari kumpulan pekerja-pekerja berat butuh keahlian khusus. Hebat kan…Seperti tukang becak, sopir oplet dan tukang warung. Tidah subuh, tidak siang, tidak sore tidak maghrib malah sampai menjelang larut malam tiada berhenti berdering. Benar benar bikin pusing dan meneror seisi rumah.

Asal tahu saja. Suara yang keluar dari gagang telepon dari seberang sana sama sekali tidak enak mendengarnya. Sungguh menyebalkan dan memancing emosi untuk marah. Agus mencoba-mencoba mengingat-ingat sepanjang hidupnya, selama dia bersama keluarganya tinggal di komplek perumahan lapas itu belum pernah sekalipun mereka diteror oleh penelepon gelap. Kecuali penelepon berkulit gelap alias hitam atau negro. Itu mah sering. Baru kali ini ada makhluk yang berani bertindak tidak sopan dalam hal bertelepon kepada kepala rumah tahanan. Kalau di analisa nih orang termasul orang yang bernyali besar juga. Walaupun dia hanya berani menunjukkan suara jembrengnya saja.

Kita boleh sebut dia orang asing yang mistrius. Dari suaranya yang bernada getar menggelegar ketahuan bahwa dia berjenis kelamin laki-laki. Sauaranya sengaja di macho-machoin dan diserem-seremin. Agak parau, serak-serak monster dan disertai batu-batuk ala TBC sedikit.

Tebakan Agus kalau dari usianya berkisar 35 tahun ke atas. Menurut feeling Agus nih orang bisa jadi mantan buronan atau residivis yang sudah dibebaskan dari penjara namun merasa tidak puas mungkin dengan perlakuan selama dia mendekam di sana. Mungkin juga dia tidak puas dengan menu atau kokinya. Kepengen makan hamberger malah dikasih tahu tempe plus ikan asin goreng. Jadi tengsin berat. Atau pernah sekali waktu dia minta di pasangin AC atau dibeliin TV LED namun tidak dipenuhi. Ngambek jadinya.

Usut punya usut jika ditelusuri makin kusut dan semaput. Begitu gambaran kondisi keadaan rumah keluarga si Agus saat ini. Ancaman dari penelepon gelap sebenarnya ditujukan kepada Bapaknya Agus. Hanya saja dia sering kesal karena setiap telepon dijawab selalu bukan dari Bapaknya Agus. Seringnya sih pembantu rumah tangganya dan anggota keluarga yang lain. Kebetulan Bapak Agus yang menjabat sebagai kepala Lapas adalah orang yang sibuk. Dia sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap baik keamanan maunpun kesejahteraan para penghuni sel. Ini menyangkut soal kredibilitas karirnya. Bayangkan saja rata-rata penghuninya dari berbagai latar belakang profesi. Dari politikus, bankir, karyawan, pengusaha dan penggangguran. Kasusnyapun beraneka ragam seperti pencuri, pencopet pembunuh sampai kasus korupsi. Sangat complicated banget. Lalai sedikit saja bakal mencoreng nama negara. Karena tidak becus mengurus para tahanan. Coba bayangkan seandainya mereka lepas karena kurangnya ketatnya penjaagaan membuat mereka melarikan diri. Mereka tentu akan mengancam ketentraman masyarakat sekitar rumah tahanan khususnys dan masyarakat umum.

Akibat dari semua itu membuat Bapaknya Agus menjadi emosi berat dan ikut-ikutan stress lantaran dia dilarang oleh anggota keluarga untuk menjawab telepon sableng itu. Padahal Bapaknya Agus sudah siap mengomelin tuh sipenelepon sekaligus siap menerima tantangan seandainya diakjak ketemuan ataupu berduel. Dia merasa sama sekali tidak mempunya musuh. Musuhnya Cuma dua iblis dan setan!

Padahal selama berkarier sebagai orang tertinggi jabatannya di rumah tahanan, setiap tahanan diperlakukan secara kemanusiaan dan sesuai prosedur. Malah saking sayangnya lama masa tahanannya kadang suka ditambah lagi. Hehehe. Mungkin berat untuk meninggalkan lapas tercinta dan penuh kenangan?!

“Coba Bapak ingat-ingat duku deh, “desak Ibunya Agus dengan penuh ketidaksabaran, “Siapa tahu Bapak pernah menyakiti salah satu di antara tahanan itu di waktu lampau tapi mungkin Bapak lupa. Kalau tidak ngapain si kambing buluk itu menteror keluarga kita terus-terusan. Lagian berani banget sih dia menteror kepala lapas yang disegani di kota ini. Kayaknya dia kepengen dimasukkan ke sel lagi. Biar tahu rasa!”

“Ah, barangkali orang iseng atau orang gila yang tidak ada kerjaan saja,” Tangkis Bapak. Seingatku dulu sih ada anak tahanan pembunuh bayaran yang merasa dendam. Kalau tidak salah namanya Mat Codet. Tapi ujungnya kan sudah berdamai. Malah kami bersahabat. Baru semenjang ikut anaknya merantau ke Kalimantan saya lost kontak dengan dia.

“Oh ya Ibu ingat juga si Mat Codet. Coba siapa lagi Pak? Belum kakek kakek sudah pikun. Apalagi kalau sudah punya cucu.” Ibunya Agus setengah memaksa. Bukan apa-apa dia hanya ingin masalah ini segera kelar.

“Oh ya mungkin si Joni Kokang…?” ucap Bapak pelan karena masih lemas habis lembur.

“Joni Kokong kali Pak. Kerjanya suka mabuk-mabukan. Dulu Bapak sering berantem kecil-kecilan sama dia. Ingat kan katanya Bapak dulu pernah memaksa dia menenggak kecap manis sampai muntah-muntah. Hahaha…”

“Oh ya Bapak menjuluki dia dengan sebutan Joni Songhi. Kapan ya berantemnya? Oh waktu kami masih sama-sama lajang, muda dan ganteng….”

“Ehemmmm..” Ibu berdehem mencibir.

Pembicaraan mereka akhirnya terhenti oleh lagi lagi oleh bunyi dering telepon.

RIIINGGG!!

Mereka secara refleks bertatapan dengan mulut yang tertutup rapat.

TEROR TELEPON LAGI BIKIN DEMPLON

Hari Sabtu yang cerah, Agus Blepotan sedang asik bermain game perang-perangan di SEGA. Dari pagi sampai menjelang siang dia asik saja menembaki para tentara NAZI. Sampai lupa untuk memasak nasi untuk makan siang. Tekun banget main gamenya. Joystick dipegang erat serta mata memandangi layar TV dengan serius tak berkedip. Markas mereka dia gempur tanpa ampun. Bom molotov dia lemparkan ke segala arah. Dalam hitungan menit dia akan segera menguasai anak buahnya Adolf Hitler. “Sebentar lagi mereka akan menjadi tawananku. Hahaha…” Ledek Agus lagi.

Agus benar-benar merasa merdeka hari itu. Kebetulah seluruh isi keluarga kecuali dia pada pergi kondangan ke Pagaralam. Letaknya dipinggiran kota Palembang. Kira-kira menempuh waktu dua jam dengan berkendara mobil. Sedangkan pembantunya tidak mau kalah juga, sudah minta izin cuti karena ada kondangan. Jujur, Agus bete ditinggin sendiri di rumah. Untungnya dia mempunyai video game hadiah dari Opungnya sewaktu dia berhasil lulus SMP. Orangtuanya tidak begitu suka dengan jenis hadiahnya. Takut anaknya jadi malas belajar dan malah membuat anaknya ketagihan main game. Tapi Agus sudah berjanji tidak akan maniak game. Tidak perlu memakan waktu lama bagi Agus untuk melengkapi koleksi CD gamenya. Sampai saat ini dia hampir memiliki semua jenis permainan. “Coba kalau tidak ada video game, mana betah bah Aku di rumah.” Agus membatin. Ketika permainannya mencapai level terakhir, tiba-tiba telepon di ruang keluarga berdering kecil. Volumenya sengaja dikecilkan semenjak teror penelepon gelap minggu lalu. Sempat beberapa hari si penelepon libur dulu mungkin karena kehabisan koin. Agus dengan malas-malasan mengangkat telepon.

“Hallo? Ya, Selamat siang juga? Maaf dari siapa ini?”

“Hallo juga. Panggil saja saya Pegel. Ini siapa?” Sepertinya suara laki-laki.

“Saya….Gus Bonaparte. Anak dari yang punya rumah ini. Mau bicara dengan siapa?”

“Ya, tentu saja saya mau berbicara dengan Bapakmu. Saya nggak ada urusan dengan anak-anak..”

“Oh..” Agus langsung membanting telepon dengan kesal. “Biar tahu rasa!”

Telepon itu berbunyi lagi.

“Hallo?”

“Hey, kenapa teleponnya ditutup? Dasar anak kurang ajar ya. Berani-beraninya main tutup aja. Awas kamu ya!”

“Hey…ngapain Bapak sewot. Kan tadi bilang tidak ada urusan dengan anak-anak?!”

“Iya ya. Betul juga.”

“Bapak saya sedang kondangan. Belum pulang. Nanti kalau sudah pulang tidak usah telepon lagi. Tinggalkan pesan saja.”

“Enak saja. Bilang sama Bapakmu yang jelek itu ya, jika masih doyan hidup di dunia, segera lepaskan teman kami yang baru dia tahan 2 bulan lalu. Ingat tanpa syarat ya.

“Jadi-jadi Bapak to yang suka menelpon saban waktu. Dengar ya Bapak jelek abadi , Bapak telah menganggu ketentraman kami. Telah menteror kami.” Agus memberanikan diri menghardik bapak itu karena saking kesalnya. “Sudah suaranya kayak boneka Sesame street pakai diseram-seramin pula. Hihi. Tidak lucu ya.”

“Apa kamu bilang?!” Si penelepon gelap naik tensi. Dia tampak marah dimaki-maki oleh anak SMA. “Awas ya kamu anak brengsek! Kalau nanti dapat saya bikin pempek kapal selam ya.”

“Wowoowooo…Kami sekeluarga tidak takut dengan ancaman kamu! Hallo? Hallo?”

Sayang sekali, teleponnya sudah keburu ditutup. Agus lega. Dia mengambil nafas panjang. Sebenarnya Agus rada merinding juga. Rasa sayangnya kepada Bapaknya membuat nyalinya keluar untuk memaki-maki. Jujur, setelah habis menelepon dia merasa takut sendiri. Dia kawatir sang penelepon gelap itu tiba-tiba menjadi gelap mata dan segera mendatangi rumahnya dan menghabisinya bersama gerombolannya. “Mati Aku, ngomongnya kelepasan.” Muka Agus langsung berubah  pucat. Lima menit kemudian dia melanjutkan permainannya walaupun dengan konsentrasi buyar.

KUMPUL KUMPUL SERU DI RUMAH ARLEINI

Di sebuah rumah gedong alias middle cost housing alias rada mentereng. Sedang berkumpul sebagian serdadu cewek kelas 1.3 di sebuah teras halaman belakang yang luas lagi bening keramiknya.  Disekelilingnya dihiasi taman-taman dengan bunga-bunga hiasan yang berharga mahal. Terhampar di halaman  sekumpulan rumput jepang nan hijau laksana permadani membentang. Rumah Arleini saat ini sedang didaulat menjadi markas. Kenapa musti di rumahnya? Alasan pertama tidak lain dan tidak bukan karena Evel teman sebangkunya baik suka maupun duka. Mereka telah berdeklarasi bahwa mereka adalah teman yang cocok satu sama lain. Alasan kedua dikarenakan rumah Arleini cukup memadai menampung acara diskusi mereka. Tak bisa dipungkuri Arleini yang suka berpenampilan sederhana itu ternyata anak orang kaya. Rambutnya yang hitam lebat sebahu itu mengingatkan kita akan artis tahun 80an seperti Maya Rumantir, Anita Carolina Muhede dan Yessi Gusman di kala muda. Arleni bukan termasuk tipe tidak belagu dan sok pamer, seperti yang sering dilakukan oleh anak-anak pejabat yang sok kaya. Walaupun sedikit pemalu, Arleini termasuk orangnya supel dan mudah bergaul dengan siapa saja. Arleini tidak pelit dan sombong. Tidak jarang dia sering mentraktir nonton atau makan di kantin.

Semua juga tahu Papanya Arleini adalah Manager area di sebuah perusahaan asing yang memproduksi alat-alat berat. Karena keahlian dan keprofesionalannyalah membuat Papanya sering berpindah-pindah dari suatu kota ke kota lain. Sudah dua tahun belakangan ini mereka sekeluarga menetap di kota Palembang. Sebelumnya mereka pernah menetap di Samarinda, Manado, Ujung pandang, Surabaya, Medan, Pekanbaru dan Jakarta. Tidak heran antara Leni dan adik-adiknya lahir di kota yang berbeda-beda. Tak terkecuali tempat mereka mengenyam pendidikanpun tak luput dari perpindahan. Arleni bahkan sedikit banyak jadi menguasai dialek daerah lain. Arleini selalu menikmati dengan ikhlas dan happy setiap kota yang mereka tinggal.

Sementara itu angin sepoy sepoy  berhembus kesana kemari seakan menambah sejuknya suasana hari Sabtu. Beberapa anak perempuan yang memiliki rambut panjang nampak menyibak rambutnya yang berantakan karena kena tiiupan angin. Tak terkecuali Fatimah, bahkan mengkucir rambutnya yang hitam bergelombang.

“Amboy, disini anginnya enak ya. “ Seru Fatimah sambil terus membetulkan gaya rambutnya.

“Bawa pulang aja anginnya Timah..” Canda Debby.

Siapa saja yang hadir? Mereka adalah teman-teman akrab Evel yang sengaja menggelar rapat sendiri dalam rangka menghadapi pesta ulang tahunnya. Tentu seja acara tersebut sengaja dirahasiakan. Biar suprise. Mereka daha Arleini si tuan rumah, Debby, Sri Dimitha, Novelita, Endah, Nyunyun, Fatimah, Baba Sue Martini, Desi, Desy dan terakhir Mimi yang memang datang belakangan tadi. Bukan ceweknya namanya kalau acaranya tidak ramai. Pasar inpres saja kalah hiruk pikuknya. Mareka saling melempar argumen dan debat ala pilkada. Sampai-sampai Mama Arleini yang sedang getol istirahat di lantai dua sampai merasa terganggu okeh kehebihan mereka. Sesekali Mamanya mengintip dati balik jendela kaca. Was-was jangan-jangan ada yang sedang kumat lalu nekat bakar-bakar sampah di pekarangan. Atau ada yang gontok-gontokan karena silang pendapat. Hehe. Ada-ada saja. Padahal Mamanya sudah menyuguhi beraneka kue dan roti. Seperti Kue Mak Suba yang terkenal mahal itu, roti mary regar, black forest, roti subur, chiki. Tak ketinggalan cemilan wajib yaitu empek-empek lengkap dengan cukonya, kemudian ada tekwan dan model. Minumannya es kacang merah. Sekilas mirip pesta pernikahan dini. Mereka puas bukan main telah dimanjakan oleh tuan rumah.

“Asoy juga nih rapat kita kali ini. Makanan berhaburan dan bertaburan dimana-mana. Bisa-bisa badan-badan kita pada melar nih besok. Hahaha.” Sabda Desy sambil mengunyah pempek telor.

“Tapi kok aneh Arleini malah tidak gemuk sedikitpun ya…”timpal Baba ceria.

“Karena Leini tidak serakus kamu Ba,” ejek Mimi terkekeh-kekeh.

Baba langsung mingkem dan cemberut.

“Aku kan pada dasarnya malas ngemil kalau sudah makan nasi. “ Arleini membuat pengakuan. “Tapi karena menghormati kalian jadi nimbrung makan.”

“Begitu dong Len, itu baru namanya sobat yang baik.” Fatimah menimpali seraya mengacungkan jempolnya.

“Aku jadi ngiri sama kamu Len,” tukas Debby,” Aku nggak bisa nahan nafsu makan. Pokoknya makanannya apa aja aku sikat. Tidak ada pantangannya. Makanya Aku sampai sekarang belum menerapkan diet. Mungkin nanti kalau bengkak kali…Hahaha.

“Kalau Aku ngemil dikit aja langsung jadi daging. “ujar Baba sue Martini. “

“Kalau saya kebalikannya Ba…”Dessy ikut nimbrung. “Makan sebanyak apapun nggak gemuk-gemuk. Mungkin nanti kalo sudah nikah baru gemuk hehe.”

“Idiihhh…Dessy sudah kepengen nikah ya? Nikah sama siapa? Emang kalau sudah nikah bisa gemuk Des? “Ledek Sri Dimitha dengan suara yang kencang.

“Adeh deh.” Balas Dessy seraya menundukkan wajahnya tanda malu.

“Tanteku nikah malah makin kurus lho Dess..”Kali ini Endah yang membuat pengumuman.

“Tetanggaku namanya tante Ochie, waktunya gadisnya langsing dan singset eh pas kawin langsung bengkak. Hahaha. ”Nyunyun yang berkacamata tebal angkat bicara.

“Aku turut prihatin Nyun..”Sambar Mimi yang baru datang dari toilet. “Tidak semuanya cewek yang menjadi gemuk ataupun kurus hanya gara-gara menikah doang, Semua ada prosesnya. Tidak semata-mata lantaran karena perbuatan suaminya.” Bisa dihitung dengan jari kok ada suami yang menuntut istrinya agar berperawakan kurus dengan menjaga diet. Ada juga suami yang mood melihat istrinya gemuk dan montok.”

“Aduuuh! Kalian ini ngobrolin apa sih? Masih sekolah juga sudah ngomongin kawin.” Tiba-tiba Mamanya Arleini mendatangi tempat dimana teman anak-anaknya berkumpul.

Semuanya tersentak kaget, terdiam dan tertunduk malu. Tidak menyangka Mamanya melakukan sidak dengan diam-diam.

“Eh Mama gimana sih. Katanya janji nggak ikut nimbrung kita-kita.”Protes Arleini sewot.

“Siapa yang mau nimbrung. Mama mau ambil sesuatu.” Jawab Mamanya sambil berlalu setelah menemukan kunci mobilnya yang pindah tempat.

Tidak lama kemudian pecahlah tawa semuanya.

“Ayo kerja kerja!” Teriak Sri Dimitha. “Nanti keburu sore.”

Mereka melanjutkan kembali konrensi darurat yang sedari tadi berlangsung alot. Kali ini diskusi kepentok oleh masalah kado apa yang ideal diberikan pada pesta ulang tahun Evel nanti. Terkait biaya yang akan dikeluarkan ditanggung bersama-sama alias patungan. Namun hadiah apakah yang akan dibeli masih belum klop. Terjadi silang pendapat, pro dan kontra sudah lumrah pada suatu arena rapat. Dari sekian yang berdiskusi membentuk dua kubu. Kubu pertama terdiri dari Fatimah si hitam manis, Baba Sue Martin si bule KW, Dewi si rambut kepang karet, dan Sri si imut mengajukan ide kado yang berbentuk unik-unik norak macam : bando, stagen, penjepit rambut, kompor masak pakai sumbu, kuali, deodorat dan pembalut. Kesimpulan dari kubu Fatimah terpilih kado: PANCI. Sedangkan dari kubu Debby si kacamata tebal, Desy si keriting, Novelita si gilabaca, Sri Dimitha si gadis Boolywood KW dan Mimi si mimik susu memberikanb ide : Boneka Barbie, BH bermerk, Kaset lagu, Kipas angin, Stationery serba pink, shampoo orang-aring dan parfum impor.

“Panci?! Tidak salah denger tuh. Kampungan banget..” Ledek Debby and the gank sambil tertawa meledek.

“Weeee, enak aja.  Kalian yang kampungan. Nggak nyadar apa! Kalau tidak ada panci, ibu kalian mau masak pakai apa? Pakai baskom ya. Betul tidak teman-temanku?!” Balas dari Fatima CS tidak kalah sengit. Dua kubu ini nyaris gontok-gontokan pura-pura.

Arleini, sebagai sipencetus ide dibuat kelimpungan dan berteriak parau. “Sudah stop stop. Kalau begini bakal nggak kelar-kelar nih.”

Setelah beberapa menit berembug, maka diambillah sebuah kesepakatan nan gemilang dan cemerlang. Biar dua kubu diperlakukan secara adil, maka Arleini dengan bijaksana menampung semua ide hadiah teman-temannya lalu digabung menjadi satu hadiah. Lalu dikemas ke dalam sebuah kota besar. Mirip-mirip parcel gitu..

Bagi cewek-cewek alias kaum hawa kelas 1.3 ngumpul-ngumpul di rumah Arleini merupakan tempat yang cocok dan keren abis. Namu beda hal dengan Kaum nabi Adam alias cowok-cowol berkumpul di Kantin Kak Ma’il adalah kebebasan dan surga. Usai jam sekolah mereka dengan sengaja dan sadar membooking kantin kecil yang terletak di belakang sekolah untuk mendiskusikan hadiah apa yang akan dipersembahkan kepada Evel yang manis.  Otomatis pelajar dari kelas lain tidak bisa masuk dan hanya melihat-lihat saja. Sada juga yang mampir ke kantin di seberang jalan sekolah. Tidak sedikit yang karena kesal akhirnya memilih pulang saja.

Pelajar cowok kelas 1.3 kompak banget deh kalo soal yang berhubungan dengan cewek. Semua ikut ambil bagian. Biar dibilang solider dan perhatian sama Evel. Mereka mulai merubung kayak semut. Saking penuhnya kantin itu serasa akan roboh. Beberapa di antara mereka yang tidak mendapatkan kursi sengaja duduk di lantai dengan beralaskan koran dan majalah. Yudo secara nekat ingin duduk di meja langsung dijewer istri Kak Ma’il. “Maaf, ini bukan untuk traktor!”

Mereka rela berdesak-desakkan. Mereka rela bercucuran keringat dan berbau-bauan. Dan yang terpenting mereka harus bayar setiap makanan yang dicomot tanpa ngutang. Tidak ada karena alasan bokek lalu meninggalkan KTP. Sudah bukan zamannya lagi. Pada suatu ketika Kak Ma’il bersabda. “Hai, kalian ngumpul tidak lama kan? Sepertinya kami mulai sesak nafas nih.”

Acara heboh yang dimentori oleh Ichsan TWEJ dimulai. Dia membuka rapat dengan gaya yang digagah-gagahin seperti ketua MPR/DPR. Maklum cita-citanya kelak memang ingin menjadi diplomat atau politisi.

“Well, gay eh maaf guys! Sebelumnya terima kasih sudah bela-belain hadir di sini. Kalau anak kelas lain sudah pada pulang ke rumah masing-masing. Sudah bertemu Ibu Bapaknya di rumah. Mungkin mereka sedang atau sudah menyantap makan siang. Mungkin juga sudah ada yang bobo siang. Biarkanlah. Sedangkan kita disini mempunyai tugas mulia. Dalam rangka mengumpulkan dana untuk….teman kita yang akan berulang tahun yang sedang ditimpa kebahagiaan. Saya patut berbangga dan mengapresiasi tekad teman-teman untuk berkumpul di kantin tercinta ini. Kantin kita bersama…”

“Enak saja kalau ngomong. Itu kantinku, tahu!” Teriak Kak Ma’il dari arah dapur. Dari nadanya kedengaran seperti ingin menangis. Dia tidak rela kalau kantinnya mau direbut oleh anak-anak kelas 1.3. Walaupun begitu ada sedikit keharuan nan biru gara-gara kantinnya dibilang ‘ kantin tercinta’.

“Peace Kak Ma’il.” Pekik Agus sambil menenangkan teman-temannya.

“Lanjut ya..”Ucap Ichsan. “ Pokoknya saya salut dengan rasa persaudaraan kelas 1.3 ini. Di tengah perut yang keroncongan kita masih bisa berdiskusi. Hidup kelas 1.3. Jayalah di darat dan di udara. Alah..ngomong apo iki…Kalau bisa kita usahakan memberikan hadiah yang very interesting, very good, very exlusive, very cheap and very important to get remember. Saya sebagai the leader of the class sungguh terharu dan bercampur bangga. Ternyata selain kelas kita sering dicap negatif di luar sana, mari kita tunjukkan emansisapi eh maksudnya sikap solidaritas kita terhadasp teman yang sedang dilanda ulang tahunnya. Okelah saya tidak berpanjang lebar. Tentu kalian sudah pada laper akut. Oh ya untuk acara kali ini kita disponsori oleh Bos Yudho Gempul yang dermawan lagi kaya. Kalian silahkan makan cemilan secukupnya dan minum air putih sepuasnya. Bagi yang melebihi paket yang sudah kita tetapkan harap tanggung sendiri. Emang kantin nenek moyang lu. Oke, rapat sesi mengeluarkan ide dan saran dimulai!”

Tiba-tiba Choiruddin mohon pamit untuk pipin.

“Lihat si Choy. Mohon jangan ditiru. Disuruh mengeluarkan pendapat dia mengeluarkan yang lain…” umum Ichsan kepada khalayak ramai.

Mereka berteriak riuh. Anak-anak langsung fokus ke sipemberi sponsor yaitu Yudo Gempul. Beberapa anak berencana menggendong Yudho tapi dibatalkan. “Masak kita menggendong traktor.” Sebagai penggantinya mereka hanya mengeli-elukan saja.

“Bos Ichsan! Kalau saya bersama Tekya berniat ikhlas menghadiahi  kado ayam jago kesayangan  kami. Ayam tersebut akan kita potong bareng-bareng pada pagi hari tepat di hari ultahnya Evel.” Teriak Faisol diiringan anggukan Tekya.

Semua bertepuk tangan diiringin suara teriakan.

“Oh, sunggu masterpresent sekali,” Puji Agus sambil terkantuk-kantuk. Lalu menguap lebar.

“Mending kasih ayam betina aja, Sol.” Usu Iwan Kutacane. Teriaknya paling kencang,

“Enggak ah, nanti kamu gombalin ayam saya,” Tolak Faisol mencibirkan bibirnya yang dower.

“Dasar pempek kriting! Mana mungkin saya naksir ayam jelek kamu! Saya masih doyan sama cewek, tahu!” Iwan ngamuk-ngamuk. Kakinya jingkrak jingkrak turun naik.

“Hey, Wan..kalau kamu mau ngasih apa?” Tanya Ichsan TWEJ.

Iwan langsung berlagak pilon. Lalu berubah seperti orang lagi mikir. Pundaknya langusng didorong oleh Agus. Iwan kaget bukan main. “Nanti nanti lagi Aku pikirkan.”

“Aku mau ngasih BH.” Teriak Agus Blepotan dengan semangat sambil mengepalkan tangannya.

Usulannya yang sangat norak itu langsung disambut tolakan oleh teman-temannya.

“Gus, kamu nginggau ya?” Tanya Yudo Gempul seraya menyikut tulang iga Agus. “Be-ha? Apa nggak keliru?”

“Keliru? Jadi Emak kamu pakai BH adalah perbuatan keliru?” Balas Agus.

“Slompret!” Umpat Yudo. Mendadak rambut keriting Agus makin awut-awutan setelah cengkraman Yudo mendarat di kepalanya. Akhrinya mereka kejar-kejaran sampai keluar kantin mirip sekali film India. Kemudian mereka berhenti di sebuah pohon akasia nan rimbun untuk berjoget-joget ria. Anak-anak mengolok-olok dari jendela kantin Kak Mail.

“Bagaiman kalau joker in the box?” Lebih seru dan mencekam..” pancing Ferry tiba-tiba menyeruak muncul dari belakang. Sepertinya dia ketinggalan ‘kereta’ selepas dari toilet.

“Konyol kamu Fer! Kamu mau dikeroyok orang sekampungnya gara-gara si Evel jantungan terus pingsan. Kamu mau?” Protes Choi dengan mata melotot.

Ferry langsung mingkem.

“Biar saya yang pangku kalau pingsan. Asiikkk.” Herry berteriak lantang.

“Musibah bagi Evel. Bisa-bisa kulit Evel berubah menjadi hitam gara-gara kelunturan kulitnya kamu Her Her.

Mereka mulai berembuk lebih serius. Masing-masing saling mengawasi. Takut ada mata-mata atau spionase asing yang mencuri dengar ide-ide yang keluar dari mulut mereka. Dan jikalau bocor sebelum waktunya bisa kacau balau. Tentu saja sudah tidak suprise lagi namanya.

“Ingat ya teman semua, Pertemuan kita hari bersifat rahasia. Jangan sampai kabar ini menyebar dan sampai ke telinga Evel. Nggak seru.” Ucap Ichsan dengan mimik serius. Terlihat dari kacamatnya sering turun ke tengah batang hidungnya yang bangir.

“Lantas apa hukumannya bagi mata-mata yang menyebarkannya?” Tanya Yudi penasaran.

“Kita gantung di tiang bendera sekolah!” Tekya membuka suara.

“Kita suram cuka pempek sebaskom. Biar dia berendam di sana. Haha..” Ini ide dari Samsu.

“Jangan itu terlalu sadis. Kita telanjangin saja. Lalu kita arak-arak ke pasar.”Yudo angkat bicara.

“Huss! Kalau mbok ya dipikir-pikir toh lek lek.”Sony mengucapkan dengan sok wibawa.

“Memang untuk hukuman orang yang begituan apa! Sudah sudah mulai serius lagi nih.” Ichsan mulai kesal lagi melihat teman-temannya membuang-buang waktu. Pada tidak tahu apa semua kepingin cepat pulang sampai di rumah untuk bobo siang.

“Ngomong-ngomong sampai kapan aksi tutup mulut ini berakhir pak ketua?” Tanya Tekya.

“Sehari sebelum hari ‘H’nya. Jangan sampai bocor ya. Kita bukan balon kan teman-teman? Terus nanti kumpulan hadiah dari teman yang beraneka ragam itu kita satukan ke dalam satu kotak besar. Saya rasa Evel pasti penasaran dan mengira-mengira hadiah pemberian kita. Mulailah mencari kado apa yang menurut teman-teman cocok. Nanti Faisol akan mendata dan mencatat semua kado yang masuk. Takutnya siapa ada yang mengasih kado petasan, tentu tolak dan kita ceburin ke sungai musi. Kado jangan mengandung SARA ya. Carilah kado yang mendidik dan bermanfaat. ”

“Kita bawa pakai apa tuh hadiah? Pakai kuda ya?” Kali ini Zoel yang bertanya sambil membasahi bibirnya yang merah dengan lidah.

“Tenang. Papa saya mobil bak terbuka.” Akhyar memberi tanggapan dan solusi.

Semua anak bilang…YES!”

Keeseokan harinya beberapa anak cowok kelas 1.3 sedang asik mengobrol dan bersenda gurau di belakang halaman sekolah. Persisnya dekat parkiran motor.

“Saya mau ngasih hair spray ah.” Ujar Ichsan sambil nyengir kuda lumping.

“Hair spray? Apaan tuh?” Tanya Apto serius.

“Hair spray kamu tidak tahu To? Kuno kamu.” Ichsan melongo.

“Iya. Jelasin apa dong. Oh tunggu tunggu..Hair kan artinya aku tahu……rambut. Kalo seprei kan penutup kasur. Kalau digabung Sepri dipakau untuk menutupi rambut?”Apto berusaha berpikir keras.

“Aduh, To. Penjelasannya ngawur sampai kemana-mana. Payah kamu. Hair spray itu penyemprot rambut. Fungsinya mirip minyak rambut. Nah kalo ini disemprot. Supaya rambut harum dan mudah ditata dan diatur. Pada umumnya dipakai oleh kaum wanita dan ibu-ibu. Memangnya ibu kamu tidak pakai itu?”

“Nggak tahu ya.” Apto menggeleng.”Setahuku kalau sehabis mandi rambutnya dibilas terlebih dahulu  dengan handuk biar kering. Setelah itu dikasih minyak kelapa sambil di usap-usap ke seleuruh kepala. Terutama pada ubun-ubun. Kemudian dipijat-pijat. Lalu…”

“Digoreng dan ditumis ya. Wah itu cara tradisional banget. Udik!”

“Kamu jangan salah. Hasilnya rambut ibuku panjang hitam subur dan mengkilap.”

“Dimana-dimana minyak kelapa itu untuk di dapur. Dipakai ibu-ibu untuk memasak. Di Amerika mana ada kutemui pakai minyak kelapa. Semua orang disana rata-rata pakai hair spray atau styling foam. Udah udah…”

“Kalau begitu juga mau ngasih hair spray yang terbuat dari minyak kelapa.” Apto langsung berlalu.

Ichsan hanya bisa geleng-geleng kepala sambil sedikit geram kepada Apto.

“Kalau ogut mau kasih kado angpao, lebih keren dan komersial.”Serobot Yudi. Padahal tidak ada yang nanya.

“Oh ya saya mau ngasih diare. Biar lebih romantis. Biar dia tahu selama ini saya suka memperhatikannya.” Usul Andi sembari nongkrong mirip orang kalau lagi be-ol. Tiba-tiba Breek! Celana abu-abunya yang sedikit ketat dan cungkring sobek. Untungnya hanya Andi sendiri yang tahu. Dia spontan berdiri sambil menutupi bagian tengahnya yang sobek sedikit. “Uff. Kalau teman-teman tahu pasti sudah diledek-ledekin extream nih.” Andi membatin.

“Andi andi. Emang si Evel sakit perut mau dikasih obat diare.” Protes Ichsan. Dia paling sebel kepada teman-temannya yang sok-sok gaya menggunakan bahasa Inggris tapi blepotan. Ichsan suka misunderstanding jika mendengar teman-temannya ngomong bahasa inggris nyablak.

“Well Ichsan. I’m forget. I mean Dairy bro.”Kilah Andi agak terpojok dan kehilangan sedikit konsetrasi. Dia masih shock memikirkan solusi celana seragamnya yang sobek bagian tengahnya.

“Oh ya coy,”pekik Faisol agak terhenyak. “Kita-kita belum mendengarkan komentar si Zoel nih tentang kado buat Evel. Ayo Zoel, ngomong doang. Jangan Cuma mesem-mesem kayak pohon asem yang belum kesiram air gitu dong. Hahaha..”

Zoel langsung mendadak kaget ketika didakwa oleh Faisol Kribo. Buku novel yang digenggamnya nyaris terlepas. Dia kesal dan jengkel namanya dibawa-bawa, akan tetapi tetapi dia berusaha tersenyum hambar. Tampak jelas pada sorotan matanya dan delik manjanya, terlukis guratan sebel kepada Faisol Kribo. Tak dapat dipungkuri.

“Apaan sih Sol Sepatu. Eyke sedang serius baca novel. Rumpi deh ah! Ntar eyke lurusin rambutmu yang kayak sarang burung. “ Zoel gelinjangan tak menentu. “Kadoku sebenernya tidak akan dipublic di sini. Akhirnya eyke buka juga deh secretnya…”

“Udah Zoel, jangan bercerita panjang lebar kayak novel deh..”colek Iqbal gregetan melihat Zoel. Selain teman sekelas Zoel juga bertetanggaan dengan Iqbal. “Cepatan, apa kadonya? Kita buka-bukaan di sini aja. Tenang deh tidak akan melebar kemana-mana. Hanya kita-kita saja yang tahu. Swear deh…”

“Eike mau ngasih kado….boneka putri salju dan kaset album New Kids on The Block. Idih..kebuka deh.”

Temen-temennya mengacungkan dua jempol ke arah Zoel. Two thumbs! Dan dia tidak menduga bakal mendapat apresiasi yang positif begitu. Dia spontan tersenyum lebar sambil tersipu-sipu malu.

“Ah ah. Nggak seru nggak seru. Mending kado dari saya lebih afdol dan uptodate, berkesan dan teringat-ingat sampai tua.” Sony Betapermax berkata sambil mencak-mencak. Mirif gaya gatot kaca blingsatan yang mau terbang ternyata lupa membawa sayap.

“Memangnya kado apaan sih Son Son…” Pekik Zoel penasaran. Dia sewot kalau kadonya disalib sama kado Sony.

“Kasih sun dong yang…”Ucap Sony seraya memonyongkan mulutnya seolah-seolah akan mencium Zoel.

Semua temannya mencibir. Akhirnya Sony dapat sambitan kado berupa satu biji pempek bekas gigitan dari Agus Blepotan yang mendarat mulus di jidatnya.

Di lokasi lain pada waktu yang bersamaan, tepatnya di taman bunga milik sekolah, Debby sedang duduk santai ditemani Arleini pada jam istirahat. Mereka ngobrol sambil tetap memandangi anak-anak cowok yang sedang latihan bola basket di lapangan di seberang taman. Biasalah, modus pura pura ngobrol namun matanya jelalatan kemana-mana melihat cowok cowok cakep.

“Deb..Deb!” Bisik Arleini sambil menepuk pundak Debby yang kondisinya seperti orang dihipnotis dan terkagun-kagum. “Sadar sadar bangun bangun Deb!”

Debby tetap terdiam. Mananya terus menatap lapangan basket. Arleni mengibas-ngibasnya tangannya di depan kacamata Debby. Debby tak bergeming. Saking kesalnya Arleini mendorong bahu Debby.

Debby mulai sadar dan gelagapan. “Ada apa? Apa ada?” Cerocosnya ngawur. “Iya, Len. Sampai dimana arah pembicaraan kita tadi?”

“Astagfirullah! Kamu kesambet jin cowok mana sih Deb? Saya kirain kamu sedang kemasukan.”

“Nggak kok. Kamu kan tahu aku itu maniak permainan basket. Jadi kuperhatikan secara seksama wajah-wajah pemainnya…eh maksudku trik-trik permainannya. Makanya aku lagi konsentrasi. Maklum deh, jadi lupa daratan.”Debby berusaha berkilah untuk membela diri.

“Eh, memperhatikan permainan basketnya atau yang lain…”Ledek Arleini. “Aku juga suka basket tapi tidak sampai sebegitu terpananya Deb.”

Debby membetulkan posisi kacamatnya yang super tebal. Memperbaiki posisi duduknya yang nyaris mengangkang tadi. Lalu duduk dengan posisi tegap. Siap!

“Oh ya Aku teringat sekarang. Te-Tema kita ta-tadi soal Evel kan?” Ucap Debby agak terbata-bata. Akhrinya Arleini menghela nafas panjang. Mengurut dadanya sejenak. Dia nyaris jantungan seandainya Debby kemasukan jin penghuni taman sekolah. Bisa-bisa kabur duluan boro-boro menyadarkan.

“Alhamdulillah, akhirnya kamu siuman juga Deb. “

“Ini Len. Kulihat-lihat belakangan ini Evel kan jarang ngumpul dengan kita. Gara-gara ide si Ichsan TWEJ yang membuat ide agar kita menjauhi Evel untuk sementara waktu menjelas pesta ulang tahunnya. Alsannya untuk membuat suprise. Kurasa nggak etis juga.”

“Maksudmu? Nggak testis gimana.”

“Nggak Etis Len. Idiih..mikirin jorok ya.”

Arleini meledak tawanya. “Emang kamu saja yang bisa mengerjain…”

“Waduh, ada unsur balas dendam nih yee…”

“Oke oke, teruskan Deb.”

“Oh kirain obrolan ini berhenti sampai disini. Begini, jadi pernah sekali waktu kusaksikan sendiri muka Evel terlihat kusut. Seperti orang stress dan banyak pikiran. Padahal kamu kan tahu sendiri Evel yang kita kenal orangnya easy going. Mana pernah Evel kulihat sebegitu kusutnya. Kita kan tahu dia anaknya yang simple, suka senyum dan selalu ceria. Aku tidak sudi Evel sahabatku…”

“Sahabat kita semua…” Sela Arleini. Terus…”

“Iya itu. Aku tak sudi jika Evel berubah jadi pemurung dan acuh tak acuh. Aku kawatir nanti dia malah menuduh kita-kita sombong lho. Tujuan kita semula ingin memberikan kejutan dan membuatnya bahagia malah menjadi bumerang untuk kita. Jangan terlalu ekstrim beginilah.”

“Mudah-mudahan kemungkinan jelek itu kita harapkan tidak terjadi ya. Aku yakin nggak separah itu. Evel semoga beranggapan bahwa kita sedang bikin kejutan buatnya. Oh ya aku ingat suatu kejadian. Aku pernah berpas-pasan sama dia sewaktu kami sama sama menuju ke perpustakaan. Dia justru malah senyam senyum dan meledek sambil berkata, ada demo diam ya. Aku sudah menduga sudah ketebak oleh Evel. Dasa anak pintar.”

“Oh ya.” Debby tersenyum sendiri sambil membayangkan kejadian yang sedang diceritakan Arleini. Lalu mnegucap pelan… “Semoga deh.”

Tanpa terasa percakapan terhenti oleh bel tanda masuk dari kejauhan. Mereka buru-buru menghambur masuk. Saling berangkulan. Ya, rangkulan seorang sahabat. Erat dan menentramkan hati.

Akan tetapi….tanpa disadari dan disangka oleh Debby dan Arleini, bahwa ada sepasang mata mengamati mereka dari atas balkon lantai tiga gedung kelas utama. “Ternyata sekongkol…”

 

BERSEPEDA PAGI ITU PELARIAN MEMBAWA COWOK

Minggu pagi nan cerah, niat Evel hendak bersepedaan akhirnya terlaksana juga di tengah kesibukannya sebagai pelajar so pasti wajib belajar menghadapi ulangan harian yang acapkali datang tanpa diduga. Memang sih ada beberapa guru yang hobi mengadakan ulangan dadakan. Alhasil banyak siswa yang mendapatkan nilai tak sedap dipandang mata. Ditambah lagi seabreg kesibukan mengurusi persiapan pesta ulangtahunnya yang semakin mepet. Plus membaca situasi terkini di peta kondisi komunikasi antar teman sekelas sedang tidak kondusif-kondusifnya. Akhirnya Evel mengambil jalan tengah untuk mencoba berolahraga di pagi ke kambang iwak park. Baginya mau dibilang pelarian dari segala masalah yang semakin menumpuk begitu menyiksa dan menderanya. Terserah anggapan orang sekitar. Masa bodoh.

“Pokoknya pagi ini Aku tak mau diganggu. Sebab, Aku ingin menghibur diri dengan berolahraga sepeda sendirian.”Jerit batin Evel membuncah. Siapa tahu akan mengobatin hatiku yang galau ini. Aku harap setelah ini pikiranku lebih sehat dan segar. Bodyku lebih fit dan bugar. Toh, Aku sudah lama mengidam-idamkan situasi seperti ini. Bukankah terakhir bersepeda sewaktu masih kelas 1 SMP. Setelah itu sepertinya tiada waktu lagi. Oh alangkah senangnya hatiku. Sementara waktu persenan eh persetan dengan urusan sekolah. Memang Aku pikirin!“

Minggu itu Evel memang nekad bersepeda ria tanpa persiapan yang matang. Pagi-pagi gelap dengan berjingkrak-jingkrak dia menuju gudang belakang untuk mengambil sepeda BMX hadiah dari Papanya sewaktu naik ke kelas dua SMP. Dia lupa sudah kondisi terakhir sepedanya itu bagaiman? Sepeda yang sudah sekian tahun tak tersentuh itu nyaris berkarat dan berdebu. Yang paling parah angin di dalam kedua ban sepedanya sudah minim sekali. Boleh di bilang kempes level menengah. Siapa peduli? Rasa emosional, kekalutan dan kekacauan hati mengalahkan segalanya. Yang penting tugasku pagi mengayuh sepeda sejauh kemampuanku. Sejauh yang kumau.

Setelah menutup pintu gerbang pelan-pelan, Evel bagai kilat segera mengayuh pedal sepedanya sekencang-kencangnya. Sengebut-ngebutnya. Ketika sampai di portal gerbang, Evel hampir saja menyeruduk pos siskamling. Untungnya dengan sigap dan cekatan dia mengendalikan laju sepedanya agar seimbang dan tidak terjatuh. Evel sempat melambaikan tangan ke arah satpam komplek perumahan. Pak satpam bernama Rosidi membalasnya dengan senyum manis.

Saat memasuki jalan yang menanjak, Evel mulai kehabisan tenaga. Dia baru sadar sepeda yang dibawanya tidak bergigi layaknya sepeda balap. Makin dikayuh serasa semakin berat. Seakan-akan sepedanya menggandeng sebuah gerbong milik kereta tua. Hua! Dia berharap cemas dan berdoa semoga ban sepesanya tidak bermasalah. Kalau sudah begini kejadiannya dia berharap peristiwa hari itu adalah Cuma mimpi belaka. Namun dia harus  dan ‘bangun dari tidurnya’ dan serta merta mengakui bahwa yang barusaja dia alami bukanlah mimpi. Fakta dan real. Evel langsung shock refleks.

Kini…pemandangan jalan aspal yang menanjak sudah terhampar di hadapannya sekali lagi adalah kenyataan. Masih belum percaya? Singkatnya…Hadapilah kenyataan di depan matamu! Walau berat sekalipun.

Evel beguman dalam hati, ‘mengapa sepeda ini semakin berat ya?’. Aduh, ternyata benar ban sepedanya sudah kempes pes. “Aduh, ya ampun mudah-mudahan ini hanya mimpi.” Gumannya sambil keringat dingin. Perlahan dari dahinya mulai timbul butir-butir peluh. Butir itu luluh dan rapuh. Tak lama kemudian dia melorot dari batang hidung lalu berselancar ke bibiar atas. “Huh, asin. Puihh!”

Otomotis dia kewalahan dan kelelehan. Padahal setelah turunan dia akan sampai di kambang iwak park. Evel bingung dan penasaran. Jaraknya masih lumayan jauh. Sudah terbayang di benaknya akan menggandeng sepedanya dalam kondisi jalan yang menurun. Seandainya sepeda ini sudah tua dan rongsokan pastilah sudah Evel tinggalin begitu saja.

“Hallo cantik…” Tiba-tiba terdengar suara cowok tak dikenal menggodanya, “itu cowoknya? Pantas dia ganteng terus.” Ada sekumpulan cowok binal dan ganjen nongkrong di trotoar kambang iwak park.

Evel tidak menoleh sedikitpun. Dia jaga gengsi. Evel paling anti digodain murahan kayak gitu. Makanya dia jalan terus. Buru-buru menjauh. Bagi Evel mau tuh cowok-cowok penggoda dari grup band korea yang wajahnya halus-halus dan keren-keren sekalipun masa bodo. Pokoknya nilai langsung merosot di mata Evel. Apakagi kalau menggodanya beraninya ramai-ramai. Jelas bukan pejantan tangguh.

Evel tidak memungkiri bahwa dirinya adalah seorang gadis manis mempunyai potensi untuk digoda oleh laki-laki manapun. Rugi rasanya bagi mereka untuk melewati moment berharga dan langka itu dengan membiarkan bidadari lewat begitu saja. Evel itu faktanya menggemaskan. Lelaki mana yang tidak tergoda. Tidak usianya tua tidak usianya muda. Baik yang sudah status double apalagi yang jomblo bu….jangan. Yang paling tidak memandang sambil memolototi.

Evel mengalami pelecehan ringan..Simak percakapannya di bawah ini.

“Eh, adik cakep. Sudikah kiranya jadi mantu saya, “ Tanya seorang Om-om sambil berlalu.

“Maaf Pak. Saya masih sekolah. Belum niat kawin muda.”

“ Aduh kasihan ya. Sejak kapan bannya kempes? “ Goda yang lainnya. “Oh seandainya saya dulu bercita-cita menjadi tukang tambak ban..”

“Tinggalin aja sepedanya, mending boncengan sama saya..”

“Ogah! Lagi nggak mood naik ojek.

”Kesian nian mbak ini. Maaf eyke nggak bisa bantuin. Takut dandanan eyke rusak demplon deh. “ Bencongpun turut berpartispasi.

Kalau ketemu makhluk begini Evel langsung tersenyum kecut sambil baca ayat kursi.

“Aduh.. manis-manis kok gandeng sepeda, mending gandeng abang deh. “

“Emang saya truk gandeng bang!” Balas Evel sengit. (besambung)

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.