TEKA TEKI

Teka – Teki

Pertanyaan :
Apa bedanya Berjudi di Pacuan kuda dengan Berjudi di Bursa Efek?

Jawaban :
Kalau bedanya apa biar dijawab orang lain saja
Yang jelas keduanya sama-sama berjudi – Sama – sama keluar duit dengan keinginan dapat duit lebih banyak lagi

Pertanyaan :
Lalu bagaimana dengan yang beli saham supaya dapat deviden? Niatnya kan bukan judi.

Jawaban :
Yang berniat seperti itu, kalau pun ada jumlahnya sangat kecil, cuma seujung kuku saja

Pertanyaan :
Dasarnya apa, bisa dijelaskan lebih jauh lagi?

Jawaban :
Kalau benar : “Ada yang beli saham supaya dapat deviden”, harusnya tidak ada yang kebakaran jenggot & tak perlu diberitakan besar-besaran saat harga-harga saham berikut indeksnya pada rontok alias anjlok, toh mereka kan tetap dapat deviden alias tetap dapat duit ketika perusahaanya mau membagi deviden.
Jadi tidak perlu ribut – ribut di mana – mana seperti sekarang ini.

Pertanyaan :
Ada juga yang beranggapan bahwa beli saham sama saja memodali pengusaha supaya bisa mengembangkan / ekspansi bisnisnya, apakah itu juga salah?

Jawaban :
Oh itu niat yang sangat mulia sekali, tetapi sekali lagi coba perhatikan. Apakah ada statemen langsung entah dari Presiden negara Anu atau Pengusaha atau Ahli Ekonomi yang mengatakan: “Biar saja harga saham pada anjlok sekaligus indeksnya, toh niat orang beli saham kan baik…semoga niatnya diterima oleh Tuhan dan dibalas
oleh-Nya”.

Pertanyaan :
Apakah ada alasan tambahan bahwa yang berniat mulia seperti itu tidak ada?

Jawaban :
Perusahaan itu terima dana segar dari saham hanya saat IPO (Initial Public Offering / penawaran saham perdana) istilah kerennya adalah “Go Public”. Jadi logikanya tidak ada perusahaan yang pusing kalau harga saham dan indeks harga saham gabungan pada rontok, toh mereka sudah dapat duit saat IPO.

Pertanyaan :
Saat memperbesar porsi kepemilikan publik melalui penjualan saham berikutnya (setelah IPO) akan ada suntikan “dana segar” lagi untuk perusahaan atau pemiliknya. Jadi wajar dong kalau perusahaan / pemilik menginginkan harga sahamnya naik terus?

Jawaban :
Tidak wajar. Menjual sesuatu lebih mahal dari nilai seharusnya adalah tidak wajar.

Pertanyaan : Maksudnya?

Jawaban :
Kalau anda beli sesuatu…lebih mahal dari yang seharusnya anda bayarkan. Apakah anda tetap mau membeli ……???

Misal anda tahu hanya akan menerima senilai 1 juta dari 16,86 juta yang telah anda keluarkan?
Atau katakanlah, paling ringanlah, anda dapat 1 juta dari 13,31 juta yang anda keluarkan? Kecuali sedang mabuk atau “fly” ya normalnya pasti tidak mau.

Pertanyaan :
Ini dalam konteks apa?

Jawaban :
Pernah dengar istilah PER? (Price Earning Ratio).
Anda tahu berapa PER, misal NISP dan BCA pada 24 Maret 2006 ?
NISP per lembar adalah Rp 700 sedangkan PER-nya adalah 16,86
BCA per lembar adalah Rp 3.950 sedangkan PER-nya adalah 13,31
Artinya orang beli saham, tujuannya pastilah dapat untung ketika
harganya naik, meskipun untung-untungan. Alias Judi

Kalau pun ada orang cerdas bin jenius, pandai membaca kinerja perusahaan, laporan keuangan, dan tahu prospek bidang usaha tersebut ke depannya alias orang tersebut tidak pernah keliru memilih saham, selalu untung besar. Orang tersebut harusnya buat perusahaan sendiri, dan jual saham ke orang-orang bodoh yang rakus bin tamak (dengan konsekuensi tertentu, menurut agamanya)

Pertanyaan :
Bukankah ada pepatah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit? Deviden meskipun sedikit lama-lama akan BEP? Kemudian untung?

Jawaban :
Sudah dijawab di atas. Kalau benar : “Ada yang beli saham supaya dapat deviden”, harusnya tidak ada yang kebakaran jenggot dan tidak perlu diberitakan besar-besaran saat harga – harga saham berikut indeknya pada rontok alias anjlok, toh mereka kan tetap dapat deviden alias tetap dapat duit ketika perusahaanya mau membagi deviden. Jadi tidak perlu ribut – ribut di mana – mana seperti sekarang ini.

Kalau alasan mereka, BEP-nya akan lama, justru ini menunjukkan bahwa
niat mereka beli saham itu adalah mencari keuntungan pribadi, bukan
untuk membantu ekspansi pengusaha atau memperoleh deviden secara wajar.
Tapi yang ada adalah judi alias spekulasi saham, dapat untung dengan
cara untung-untungan (gambling) saat membeli saham.

Pertanyaan :
Lalu persamaannya dengan memasang taruhan di pacuan
kuda apa?

Jawaban :
Lho semakin banyak orang datang berjudi di pacuan kuda, otomatis pemilik dan pelatih kuda tersebut kan juga akan mendapat keuntungan yang lebih besar, karena bisa menaikkan harga taruhan setinggi langit. Akibatnya kehidupan yang lebih “baik” dan lebih “terjamin”. Coba kalau yang pasang taruhan cuma sedikit, siapa yang akan “menghidupi” pemilik, pelatih dan joki kuda tersebut?

Pertanyaan :
Lalu kenapa di Indonesia tidak dibuka judi pacuan kuda saja, toh sama – sama Judi di lantai bursa efek?

Jawaban : ………………… ???

Catatan :
Mohon maaf tidak berdalil & tidak ilmiah,karena sudah banyak yang nulis. Ruang lingkup tulisan ini adalah individu, bukan ekonomi mikro, apalagi ekonomi makro.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s