MELEWATI MALAM BERSAMA PAK DAHLAN ISKAN

Oleh : Deddy Azwar

How can I imagine? Sungguh sukar dibayangkan.

Entah kenapa ya tiba-tiba saya bisa kelihatan akrab layaknya sebagai sahabat dengan seorang sekelas mentri BUMN. Peristiwa ini terjadi hanya dalam sekejap pada suatu malam. Tidak dapat saya gambarkan suasana pada saat itu. Begitu hangat terasa. Bahkan sedikit kental (ini ngomongin susu apa ya?) Kami tidak hanya sekedar menyapa bahkan berjabatan tangan, kami sedikit berdiskusi banyak hal, berdebat ringan atau memimum teh sambil berguyon. Ketika… beliau menawarkan saya tumpangan di mobilnya. Amazing!! Karuan saja, sekonyong-konyong langsung saya terima dengan hati riang. Aduh pada ngiri tuh! Jarang jarang gitu lho..?
Pada awalnya kubayangkan akan segera mencicipi nikmatnya melemparkan pantatku untuk duduk di jok empuk mobil dinas milik pejabat yang notabene pasti mewah. Namun dugaanku meleset. Entah, apapun istilahnya paradoks, kontradiktif, bertolak belakang atau….Lho mengapa? Iyalah….Yang pasti pada malam spesial itu Sang Mentri melepaskan segala atribut berbau kementriannya. O-o apa yang terjadi? Pokoknya jauuuuuh dari kesan protokoler dan birokrasi. Tak ayal lagi raut kekecewaan meliputi segala ruang wajahku. Makanya, jangan secepat kilat untuk menyimpulkan segala sesuatu. Jadi, jangan menghayalkan tentang mobil kedinasan yang mewah, menawan lagi mengkilap, lengkap dengan hadirnya si wajah garang para pengawal pribadi / bodyguard yang ketat mengawal. Bahkan seakan terdengar sayup sayup derungan motor fore rider yang mengiringinya di tengah kemacetan ibukota Jakarta pun tak nampak. Tentu saja diiringi raungan sirinenya yang bikin ribut. Lantas dimana istimewanya?
Sejenak Saya jadi terbayang akan sebuah tembang lawas mancanegara milik Debbie Gibson. Judul lagunya “Only in my dream”. Era tahun 80 an. Setali tiga uang deh dengan kisahku kali ini. Wah! Ini lagi…apa hubungannya dengan lagu. Sudahlah nanti akan terjawab seiring berjalannya waktu. Lho makin bingung kan….
Pada awal bulan Februari 2012 kisah ini bermula. Pada suatu malam sekonyong-konyong saya disapa seorang Bapak. Singkat cerita. Lalu langsung tampak akrab. Layaknya pertemuan seorang sahabat lama yang baru bertemu. Walaupun perawakannya sudah tua tapi masih enerjik lho.. tutur katanya santun, ramah dan tampak bersahaja. Selain suaranya lembut dan suka tersenyum pembawaannya juga tenang. Penampilannya begitu sederhana. Jauh dari kesan glamour. Dengan mengenakan kemeja putih idolanya yang berbahan katun rapi terkesan rapi mirip orang kantoran minus dasi.
Celananya nge jeans juga, bersepatu kets atau sepatu olahraga. Tapi saya belum ngeh juga. Siapa sih bapak yang berdiri di hadapan saya? Tadi sih saya sempat samar samar dia mengucapkan namanya “Dahlan”. Sebuah nama yang cukup singkat. Roman romannya pernah dengar nih nama. Saya berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan atau mempertajam memori. Namun mentah juga. Sebuah nama yang sebenarnya sudah ada di ujung lidah namun bagitu sukar untuk diucapkan.
Tiba-tiba lamunanku terpecah. Belum sempat kumuntahkan kata kataku….
“Ayo mari ikut saya. Kita jalan.” ajaknya sembari merangkul . Bersahabat sekali.
“Kemana Pak?” sahut saya penasaran
“Muter aja kita.”
“Wah jadi enak nih Pak”
Saya tak menampik tawaran itu. Dia segera menuju ke mobil yang terparkir. Saya mengikuti langkahnya yang mengayun cepat. Sesekali saya berusaha menyusul. Biar satu saf. Kami segera menemukan sebuah mobil tua bermerk suzuki jimny keluaran tahun 80an yang terparkir melintang.
Sejurus kemudian kami telah telah berada di dalam kendaraan terebut. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Sekitar 40 km per jam. Membelah kepekatan malam yang ramai. Sesekali beliau memamerkan lagi senyum khasnya. Walau usianya sudah tidak muda lagi tetapi kelincahan dan kecekatannya menyupir masih handal. Sang bapak ini begitu menikmati duduk di kursi kemudi. Begitupun ketika bertemu tikungan tangannya cukup lincah menutar kemudi ke kiri dan kanan. Sesekali dia menatap saya. Tetap dengan tersenyum tentunya. Dengan tatapan mata sayu.
Beliau mengisahkan bahwa tak terbersit di benaknya suatu saat dapat menduduki jabatan sebagai mentri. Sebuah posisi penting dan menjadi incaran. Wah saya sedikit kaget mendengarnya stetelah dia mengaku mentri. Eiit tunggu dulu…
Oh..ternyata seseorang yang duduk di sebelah saya adalah….Dahlan Iskan!!. Sang fenomenal. Saya berusaha bersikap netral saja. Namun saya simpan saja kekagetan itu walau yang tersisa tinggal kebengongan. Sudah bukan rahasia lagi bila kita berprestasi dan pandai mengambil hati atasan bersiaplah disanjung dan bila sebaliknya siap siap ditendang. Pemilik Jawa Pos ini pernah juga mengecap jabatan dirut PLN.
Dialah Mentri BUMN yang merakyat. Begitu bersahaja dan kesederhanaan yang dimiliki dan diaplikasikan di tengah kekuasaan plus kekayaannya. Beliau tidak sungkan menginap di rumah penduduk di sebuah desa di Jawa Timur dengan hanya beralaskan tikar. Atau yang masih hangat berita pak menteri yang marah akibat antre lama di tol. Sehingga dia merasa perlu sampai membuka penghalang pintu tol. Terlepas apakah dia hanya mencari popularitasnya. Serius saya merasa tersanjung.
Dia bagai ketemu Sang Nabi. Atau ketemu sesosok pemain bola kreatif lagi berani menyeruak memecah kebuntuan dan berhasil mencetak gol. Namun dia..merasa .tak perlu melakukan selebrasi kesuksesan dengan berjingkrak-jingkrak sembari berjoget-joget, atau berlari keliling lapangan hijau menepuk dada serta mengayun-ayunkan kaosnya yang basah karena keringat. Dia cukup tersenyum dan mesem-mesem malah tertunduk malu. Begitu jarang terjadi.
Menjadi mentri itu memang gampang2 susah. Kami bercerita panjang lebar. Kami berdiskusi sejenak ketika melihat suatu kejadian yang kebetulan terlihat. Misalnya melihat segerombolan para penumpang kereta api kelas ekonomi berlomba-lomba untuk menaiki atap atau bergelayutan di pintu tanpa memperdulikan betapa berharganya nyawa mereka. Semua badan kereta api bak hidangan yang siap untuk disantap. Bercerita tengan ibukota metropolitan seperti Jakarta tak pernah ada habisnya. Apasaja bisa digarap di sini. Selalu saja ada episode episodenya. Setumpuk masalah baik itu yang sudah kelar maupun yang dipending tidak saja menjadi PR dan tanggungjawab Gubernur. Semua dari kita berperan serta. Ikut perduli. Menjaga kebersihan dan kelestarian kota. Selain problem banjir.dan kemacetan yang menghiasi berita di koran dan media televisi.
“Macet ini akbiat kurang disiplin” ujar Pak Dahlan Iskan.
“Setuju Pak”
“Ada pendapat?”
“Banyak Pak. Menurut saya begitu mudahnya sekarang orang memiiliki kendaraan bermotor. Segala bentuk dan merk mobil atau motor laku di jual di sini. Yang untung ya produsen otomotif. Belum lagi mal mal dan apartemen-apartemen di bangun seenaknya. Mejadi sumber kemacetan. Yah,,begitulah Pak.”
Beliau mengangguk angguk.
“Lalu”
“Saya lihat bapak orangnya baik dan jujur. Cocok di pemerintahan. “
Beliau menerawang.
“Maksudnya?”
“Lakukanlah yang terbaik. Orang seperti bapak sangat diperlukan di sini. Saya melihat jarang orang berbuat sesuatu dari dorongan hati nurani. Kebanyakan dari dorongan popuritas dan minta pamrih. Bapak sungguh tegas untuk persoalan tertentu. Aduh…nggak enak saya jadi menggurui Bapak.”
“Tidak apa. Terima Kasih.”
“Sama sama Pak.”
“Ada lagi?”
Saya menggeleng.
Tiba-tiba beliau menyetop mobilnya dan dengan sigap turun menghapiri kereta yang lagi berhenti. Sang Menteri berjalan dengan lincah menyeruak menerobos di antara sekerumunan orang yang hendak menuju kereta. Aneh, sedari tadi saya sedikitpun tak melihat pengawalnya sang mentri. Malam telah menjelang. Stasiun penuh sesak.
“Ayo, nanti kita ketinggalan.” Larinya yang cepat membuat saya jauh ketinggalan di belakang. “Cepatlah!”
Saya berusaha sekuat tenaga mencoba menyusul namun tak berhasil. Dari jauh saya melihat dia sudah sukses menaiki kereta. Pas lima menit kemudian kereta perlahan mulai bergerak untuk kemudian melaju kencang. Merasa tidak sanggup mengejar dengan napas tersengal-sengal Saya berteriak.
“Paaaakkk!! Saya tidak ikut.Bapak teruss saja.”
“Mengapaaaa?”
Terlambat. Belum lagi memberikan alasan….sang kereta telah lenyap dari pandangan. Ditelan pekatnya malam. Namun samar-samar Saya melihat beliau masih sempat mengacungkan jempolnya. Tersenyum seperti biasa.
Rasanya Saya ingin mencopot pakaian, mengepakkan sayap dan mengepalkan tinju lalu melesat bak Superman si manusia baja terbang mengejar kereta itu. Untuk dapat membantu langkah langkahnya. Tapi langsung sadar ternyata kami “beda alam”.
1332318403430Kereta kelas ekonomi melaju bersama seorang putra bangsa yang bertekad kuat yang memiliki dedikasi tinggi dan kelak membawa udara baru bagi negeri ini. Jangan halangi langkahnya. Mudah mudahan terus lahir benih benih seperti Dia. Jangan mencemoohnya. Biarkan dia…Pak Dahlan Iskan mewujudkan keinginannya. Mari support!
Lalu Saya terjaga dari mimpi indah itu. Beranjak untuk meraih air. Kutumpahkan guyuran air kemuka sambil….tersenyum. OMG!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s