PERSAHABATAN ANTARA DIREKTUR DAN PEMASARAN

Cerpen oleh : Deddy Azwar

BAG 1
Jarum jam di dinding menunjukan pukul 14.00 tepat.  Seorang bapak separuh baya sedang tersender duduk di sudut kamarnya yang luas. Terlihat roman mukanya menggambarkan  gundah gulana. Busa kursinya nan empuk made in Italy yang konon kabarnya kalau sudah menghempaskan pantatnya di sana membuat pikiran menjadi tenang dan rasa ingin tidur ternyata tidak terbukti. Sikapnya menunjukkan kegalauan tingkat tinggi. Seolah olah deraan persoalan menari nari berkelana dan berputar di setiap ruang otaknya mendesak desak samapi ke ubun ubun.

Padahal baru seminggu yang lalu Pak Syaih, nama beliau, dengan pedenya memimpin forum rapat umum pemegang saham (RUPS) bersama jajaran direksi lain memaparkan segala tetek bengek profil perusahaan baik itu mencakup perkembangan maupun permasalahannya. Sekaligus mengumumkan  berita angin segar baik bagi karyawan maupun stake holder. Bahwasanya bank yang mereka gawangi pada tahun ini sukses mendulang laba cukup fantastis bahkan melampaui ekspektasi. Ini sebagai ajang pembuktikan bagi Pak Syaih, ulah tangan dinginnyalah perusahaan meraih serangkaian kesuksesan ketimbang pemimpin terdahulu. Pada kenyataan yang terjadi di lapangan berbeda, sang dirut hanya meneruskan kebijakan warisan direktur terdahulu. Tanpa mengeluarkan gebrakan baru. Namun di mata para bankir bank pesaing dia dijuluki bankir bertangan frozen (es). Cukup seram! Mengingatkan kita pada judul film animasi (kartun) karya Walt Disney yang mengisahkan seorang putri kerajaan yang mempunyai sepasang tangan ajaib yang dapat menyihir semua benda menjadi es.
Entah mengapa untuk kali ini beliau sulit untuk berkonsentrasi. Pikirannya ngelayap kesana kemari kayak balon yang habis ditiup dalam dalam lalu dilepas. Pluussss…!!! Mental sana mental sini. Terbang sana terbang sini. Kejedok sana kejedok sini. Arahnya buram. Sebentar sebentar dia melepas kacamata Roddenstocknya yang baru dibeli sewaktu liburan di Beijing. Kemudian disekanya bagian kacanya dengan tisu khusus berserat halus sampai mengkilap. Dihawain-hawain sedikit lalu diseka lagi. Lalu dipakai. Wah agak lumayan terang….daripada lumanyun he he, gumannya. Jadi lebih enakan dipakai membaca.
Jabatan yang diemban sebagai petinggi atau direktur utama di sebuah bank terbesar dan terkenal di negeri ini sudah tidak selayaknya berpikir sekeras ini. Mengapa mesti repot repot malah kepala bisa kian plontos. Sebetulnya mudah saja bagi beliau dalam hal membereskan problema. Cukup tunjuk salah satu anak buahnya, assistant managing director, deputy, evp , manager ataupun staffnya untuk turut memecahkan masalahnya. Betul tidak? Tapi Pak Syaih merasa malu hati untuk selalu berpangku tangan terus. Disokong melulu. Dia merasa belum banyak berkontribusi. Prestasinya terbilang cukup bagus. Terbukti apabila kita memasuki ruangan kerjanya. Deretan piagam, piala, dan plakat baik dari dalam maupun luar negeri terpampang di setiap sudut dinding. Sengaja dipamerkan kepada para relasi saat datang berkunjung sambil menceritakan historikal tiap penghargaan. Senyumnya selalu sumringah. Sekaligus berpromosi kilahnya. Biasa taktik marketing.
Namun setelah sang tamu berlalu. Sang dirutpun kembali dilanda  hampa dan kesepian.  Benarkah  semua prestasi yang didapat adalah hasil kerja kerasnya? Pikiran monoton itu kianberkecamuk.
Menurut rumor yang beredar dari pegawai bawahannya yang cukup senior mengabarkan bahwa Pak Syaih bukanlah merupakan figur direktur pujaan mereka dan malah jauh dari kesan ideal apalagi bijaksana dan bijaksini. Para lower menjuluki sang dirut bagai ‘boneka’ dirut yang lama yaitu Pak Kocang, beliau dilengser keprabonkan karena tergiur tawaran menjadi Pejabat pemerintah. Yang pegawai bawah sesalkan entah mengapa kebijakan yang kurang populer itu mesti dilanjutkan. Jelas Jelas menguntungkan kalangan atas saja. Karyawan lama merasa dianak tirikan. Sedangkan karyawan baru dimanja manja. Semacam pilih bulu gitu deh. Untuk mencapai level manager mereka harus menempuh beberapa tahapan tes terlebih dahulu. Tiap tahapan mengacu ke sistem gugur. Yang membuat paling sakit hati menerpa beberapa karyawan yang gagal pada tahapan wawancara, padahal sang pewawancara adalah bos mereka langsung di departemennya. Tidak semestinya menggagalkan anak asuhnya sendiri. Mereka beranggapan itu tindakan paling kejam dan tak manusiawi. Masak sih tega menghalangi karir anak buahnya sendiri. Tertawa di atas penderitaan orang lain namanya.
Kejadian ini ototmatis mengundang keresahan. Tidak heran, imbasnya banyak karyawan yang gagal mengikuti tes menagih untuk dipensiundinikan atau bahkan mengundurkan diri seenak hati. Alias pergi tanpa pamit. Yang belakangan disebutkan adalah kumpulan pegawai fresh graduate yang nota bene di anakemaskan. Momen baik ini segera dimanfaatkan oleh bank pesaing untuk mencaplok orang orang buangan. Mereka berlomba lomba membajak karyawan yang sudah terluka hatinya. Tentunya diiming-imingi gaji tinggi. Berimbas kepada perusahaan untuk menyediakan anggaran lebih demi melunasi pesangon mereka.

Kita kembali lagi ke profil Pak Syaih, sampai saat ini masih berjibaku dengan problematikanya.
Pada tahun awal menjabat Pak Syaih sudah mempunyai firasat bakal menghadapi banyak persoalan persoalan pelik. Adalah pekerjaan mustahil dapat menebak isi kepala manusia. Jauh jauh hari dia telah mempersiapkan mental, sikap, jiwa yang kuat, serta tekadnya agar tak gentar menghadapi kemungkinan yang akan terjadi. Pokoknya segala tetek bengeknyalah. Bila telah menyangkut masalah hati dan perasaan. Dia tidak tega. Para karyawan sekarang mulai berpikit kritis dan puitis dalam berkomentar. Mereka sudah berani dan gampang mengorganisir massa untuk berdemo terlebih lebih jika mendapat perlakuan kurang adil dan dicuwekin aspirasinya. Yang perlu di khawatirkan apabila bertindak anarkis. Anggapan manajemen tidak profesional kadang tidak sepenuhnya benar. Menurut mereka presentase negatifnya condong dominan.
Para punggawa bank terkadang kurang konsen mengupas nasib bawahannya. Setali tiga uang dengan para dewan yang sering melupakan amanat rakyatnya. Biasanya kala rapat usai, usai pula eksekusinya . Mereka telah lupa kemasyuran yang dibangun semata mata karena support bawahan. Kodrat manusia sebagai makhluk sosial kadang terabaikan. Nasib orang bawah acapkali jadi permainan orang besar. Suatu peristiwa alamiah
Minggu lalu banyak karyawan lower protes terkait pinjaman rumah karyawan tahap kedua. Padahal kebijakan anyar diharapkan meredam gejolak. Ketidakpuasan bermula dari kekecewaan seorang karyawan lower senior terkait pengajuan pinjamannya yang dipersulit,  Sesuatu yang wajib hukumnya jikalau sukses melalui tahapan birokrasi yang berlika liku dan berbelat belit. Sehingga membuat mereka berbelok arah meminjam ke bank tetangga.
Ketidakyamanan dan ketidakesejahteran yang mereka harapkan seakan dilecehkan. Perusahaan semakin pelit untuk menggelontorkan uang gaji yang selaras tingkat inflasi. Menurut satu majalah perbankan ibukota terdapat ketimpangan sangat curam antara gaji level bawah dengan menengah. Apalagi top manager. Dalam tulisan dua halaman itu memuat bahwa gaji karyawan banknya paling terendah di bandingkan bank lain. Beda halnya dengan gaji direksinya paling tinggi di antara bank lain. Bayangkan…
Pak Syaih tetap saja belum beranjak dari sofa empuk di rumahnya. Pantatnya tetap lengket. Pikirannya sudah penat. Dahinya kembali berkerut. Rambutnya yang masih hitam awut awutan. Raut mukanya memancarkan kepayahan. Hidungnya kembang kempis. Diam diam diambilnya sekotak cerutu di laci. Barang ini sudah lama ditinggalkannya semenjak dia terkena bronchitis parah lima tahun lalu. Namun tidak bisa ditolak siapa tahu menjelma menjadi dewa penolong. Paling tidak membuatnya pikirannya kembali lancar bak keran air sehingga dapat mengeluarkan ide ide brilian.

BAG.2

Sabtu pagi yang cerah. Pak Syaih sudah berdandan necis. Berbalut jas kedinasan serta sepatu super mengkilap menaiki mobil Toyota Alphard warna orange. Beliau ingin memenuhi undangan kerjasama salah satu perusahaan property bonafid yaitu PT Kolong Jembatan Real Estate. Sejak pukul lima subuh kesibukan di area perumahan dinasnya sudah terasa auranya. Segala protokolernya telah disiapkan. Para satpam kantor tampak kasak kusuk sembari mondar mandir berkeliling dengan handy talkie di genggaman. Beberapa satpam tampak kecewa terlukis di wajah mereka dikarenakan hari libur mereka biasanya berkumpul bersama keluarga dikorbankan. Pak Syaih segera menuju bandara Soekarno Hatta. Kali ini pameran perumahannya diselenggarakan di luar pulau Jawa. Tepatnya kali ini kota yang akan disinggahi adalah Palembang. Kota tempat kelahirannya yang terkenal dengan pempekmya. Kesempatan ini tentunya akan dimanfaatkan untuk bersilaturahmi dengan orangtua, saudara serta jiron tetangganya.
Lima tahun lalu PT Kolong Jembatan RE belum ada apa apanya. Namun kini menjelma menjadi holding company. Berkembang pesat. Membawahi beberapa anak perusahaan beraneka bidang. Sejajar dengan perusahaan perumahan besar lainnya. Akibat kelihaian dan tangan dingin sang owner. Adalah Pak Kadam, sang aktor sekaligus kreator. Tidak saja menjadi perusahaan terkemuka dan disegani namun asetnya telah mencapai nilai triliunan rupiah. Penjualan Perumahan dan apartemen yang mereka tawarkan selalu laris. Resepnya, selain produk yang dijual selaras dengan selera konsumen, so pasti mereka memiliki tenaga marketing yang tidak hanya handal tapi juga menguasai lapangan. Mereka seperti terlahir memiliki indra keenam yang dapat menebak niat pelanggan.
Kepiawaian memilih suatu lahan untuk kemudian menyulapnya menjadi sebuah kawasan hunian asri dan bergengsi dengan tambahan inovasi kreatif sehingga menambah nilai plus. Otomatis selalu menjadi incaran dan buruan pelanggan. Siapa yang tidak ingin bermukim di kawasan nan elit, milik perusahaan bonafid tentunya akan melipatgandakan harga jual di kemudian hari. Nilai investasi cepat melonjak. Makanya pembelipun membludak. Bahkan pihak bank sebagai penyandang dana kredit senang sekali bekerja sama. Mereka tidak segan segan menggelontorkan dana besar bila prospek cerah sudah terbentang di depan mata.
Semua kalangan bisnis memuji sekaligus iri hati mengetahui kesuksesan perusahaan property Pak Kadam yang selalu melampaui ekspektasi. Keirian juga menghinggapi hati Pak Syaih sang direktur dan pernah berpikir untuk membajak beberapa karyawan yang berprestasi di Perusahaan itu untuk dijadikan tenaga marketing kredit mikro di perusahaannya. Alasannya karena selain mereka memililki sarat pengalaman, refernsi klien yang banyak sehingga mempermudah proses kredit mikro yang sedang dia genjot genjot yang pada akhir tahun ini dengan target menguasai pangsa pasar. Dia yakin sekali masih bisa mengeruk profit dari sektor ini. Pak Syaih tak sudi kecaplok bank lain. Lagipula, siapa sih yang tidak butuh dana tunai di era sulit ini?
Memang kalau menganut filosofi pemilik klub sepakbola termasyhur dan kaya raya seperti Real Madrid yang terbiasa membajak pemain yang telah terasah bakatnya dari pada melahirkan pemain zero to hero. Mencontohlah yang dilakukan punggawa Klub Bola Liga Inggris Arsenal, Arsene Wenger. Tidak sedikit pesepakbola terkenal lahir dari tangan dinginnya. Robin van Persie salah satunya.
Pada faktanya menarik orang luar ke dalam perusahaan membutuhkan dana dan waktu yang tidak sedikit. Boros sudah pasti. Sedangkan sekarang perusahaan sedang giat giatnya menjalani efesiensi. Cukup lama Pak Syaih mengincar salah satu pentolan perusahaan property itu yang bernama Pak Abud. Beliau merupakan asset berharga yang sangat diandalkan Pak Kadam untuk urusan marketing. Produk apapun laku kalau sudah berada di tangannya ibarat dia bisa merubah rongsokan menjadi berlian. Waw! Dia memiliki insting dalam menjual. Jiwa marketingnya muncul secara otodidak. Kebanyakan pesaing mengira Pak Abud berguru pada para pakar marketing ternama. Atau mungkin menimba ilmu di universitas mancanegara. Padahal, Pak Syaih dan Perusahaan sudah menyiapkan iming iming gaji selangit untuk memindahkan Pak Abud ke perusahaannya. Jabatan spektakulerpun sudah disediakan. Ditambah fasilitas menggiurkan. Wah…kalau ditolak kebangetan dah! Pikir Pak Syaih.

BAG. 3
Minggu siang itu kota Palembang begitu terik. Sinarnya menyinari seluruh tempat. Panasnya bagai menusuk kulit. Syukurlah, udara nan sejuk di dalam lobby hotel berbintang lima di kota itu cukup dapat menghalau hawa panas. Pertemuan di sepakati di sebuah restoran milik hotel tersebut. Namanya Restoran Cepat Abis. Di ruangan ekslusif tersebut, Pak Syaih menjamu kliennya untuk bersantap makan siang, setelah kemaren waktu mereka habis tersita melayani para pelanggan yang antusias.
Tujuannya untuk menindaklanjuti kerjasama dalam pembiayaan kredit perumahan dan apartemen. Ini sudah kali ketiga perkawinan siri bisnis mereka yang selalu berbuah kesuksesan. Setiap kota yang disambangi saat pameran tak pernah sepi peminat. Rumah segala tipe berikut apartemen yang di launching laris manis. Mirip kacang tojin. Para peminat selalu takut kehabisan. Apalagi perusahaan yang mengadakan pameran adalah perusahaan bonafid. Rugi jika kehabisan stock. Jaminannya sudah pasti nilai jual nan selangit
“Selamat ya Pak Abud. Amazing!” Pekik Pak Syaih kepada para tamu. “Sungguh luar biasa tim yang anda pimpin bekerja dengan maksimal dengan prestasi optimal. Kami sangat puas atas kineja rekan rekan semua. Saya berharap mudah mudahan kontrak kerjasama ini terus berlanjut secara berkesinambungan. Masih banyak kota kota lain yang belum kita taklukan. Kita harus menjadi pioner di sini. Bagaimana menurut Pak Abud?”
“Sama sama Pak. Haha….peluang jangan sampai dibuang dong. Bukan begitu Pak Syaih? Saya juga sebagai team leader mewakili Pak Kadam beserta rekan rekan tak lupa mengucapkan banyak terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada perusahaan kami. Betul sekali Pak. Saya berharap kerjasama kita terus berlanjut. Mumpung pasar property masih booming. Lahan perawan masih bejibun kan? Saya baca di koran kebutuhan akan hunian akan terus meningkat kedepannya. Ini bisnis cuan banget. Sebab orang lebih memilih berinvetasi tanah atau rumah Pak ketimbang investasi bodong. Hua hua hua…Tidak heran saham saham properti cukup mengkilap tahun ini.”
“Betul. Sebab mencari bisnis ‘the right bussiness’ yang tepat itulah keberuntungan kita Pak. Anda setuju kan Pak?”
“Absolutely agree Bos. Laba berlipat pat pat…Hehehehe.” Mereka terlawa lepas bersama sama. Memang bila tujuan tercapai luapan emosional kegembiraan dirayakan dengan begitu menggebu gebu.

BAG. 4

Pada waktu senggang Pak Syaih memcoba menghampiri Pak Abud lebih persuasif lagi. Hasrat ingin membajak Pak Abus sudah tidak bisa ditawar lagi. Ini demi kemajuan marketing perusahannya. Masa bodoh rekanan bisnisnya mau bilang apa. Sekali kali berakal licik perlu juga nih. Walau begitu Pak Syaih mengetahui tindakan profesional yang bagaimana yang akan diambil…Biar tidak terkesan berkhianat.
“Oh ya Pak Abud, kita memang belum terlalu akrab. Kalau tidak berkeberatan bolehlah saya tahu tentang Bapak. Bagaimana bisa sesukses seperti sekarang ini. Ada resep khusus ?”
“Ay ay..Pak Syaih ini terlalu melebih-lebihkan. Istilah anak muda sekarang lebay gitu lho..”
Mereka tertawa cekikikan. Kali ini lebih lepas dan berderai.
“Saya serius Pak. Bagi saya bapak sudah berada di deretan top marketing manager level atas.”
“Ya. Terima kasih Pak. Saya belum apa apa dibandingkan Bapak yang sukses sebagai direktur utama bank besar. Posisi Bapak menjadi impian semua orang. Butuh kesempatan dan perjuangan untuk berada di situ. Dan itu tidaklah mudah bagi semua orang untuk mencapai high level. Kadang sering sebatas impian semata.”
“Terima kasih atas pujiannya Pak. Karena saya menjalani hidup dengan enjoy. Nikmatinya bagai air mengalir saja ini Pak Abud. Dimana kita berlabuh disitulah kita tunjukkan prestasi kita.”
“Bahkan berkorban yang besar Pak… Ada kalanya sampai2 kita harus siap dicuwekin sama isti dan anak-anak. Karena waktu kita banyak tersita untuk pekerjaan. Apalagi sekarang dalam mewujudkan good corporate governence di perusahaan kami membuat saya rutin mengunjungi cabang-cabang kami sampai ke pelosok untuk sosialisasi budaya internal perusahaan. Ya…biar juga nggak dikatain sombonglah. Masak dirut cuma nemplok di Head office melulu. Ha ha ha…
“Saya maklum. Bank besar memerlukan intraksi yang luas.”
Berada di puncak karir tentu tidak selamnya menyenangkan Pak Abud. Kebebasan kita sedikit terenggut dan kita harus ready toh…Semua ada aturannya. Semua ada protokolernya. Saya malah membayangksan sewaktu saya masih menjadi assistant manager. Setiap petang selesai menuntaskan semua pekerjaan, saya bebas ngeluyur kemanapun. Kongkow dengan teman satu angkatan. Monton ke bioskop. Menikmati gazebo di warung padang langganan saya di kebon sirih. Saat itu saya belum terganggu dan dikejar rapat sampai larut malam.”
“Oh ya Pak bagaimana tentang level bawah di tempat bapak?” tiba tiba Pak Abud langsung memotong dan mengalihkan percakapan.
“Maksudnya…? Tumben Bapak membicarakan posisi level low manager. Manajamen kami sangat mengapresiasi mereka. Walaupun pengaruhnya sedikit sekali bagi perusahaan. Malah kami ingin memangkas mereka yang berpendidikan Diplolama tiga dan SMA ke bawah.”
“Waw kejam sekali…Kenapa bisa begitu Pak…?”
“Zaman cepat berubah. Tuntutan kwalitas semakin tinggi. Mereka agak memberatkan biaya operasionsal. Apalagi kami sedang menggalakkan efisisensi. Walau berat hati tetap harus dijalankan. Kami masih terus berdiskusi dengan steak holder dan dewan komisaris.”
“Bukankah berarti akan memangkas karyawan senior di perusahaan anda. Bukankah juga mereka telah memberikan kontribus maksimal. Bukankah kesuksesan yang diraih Bank Bapak buah dari hasil kerja keras mereka semasa mereka muda. Saya rasa bapak harus menghargai loyalitas mereka. Mereka telah berada lama mungkin jauh sebelum bapak masuk. Tak bisa dibayangkan betapa kecewanya mereka. Saya pernah mengalami dan merasakan kekecewaan itu. Cukup pedih…”
Pak Syaih langsung tersentak kaget mendengar kalimat terakhir yang terlontar dari Pak Abud. Orang seperti Pak Abud pernah dikecewakan juga. Rasanya tak masuk akal.
“Ya, bagi perusahaan kontribusi mereka sudah tidak maksimal lagi..bahkan kami menilai perlahan lahan mulai surut. Di zaman sekarang kami menginginkan sumberdaya yang fresh graduate, cekatan dan profesional. Tentunya kami musti menaikkan level grade paling rendah s1 dan s2. Bila perlu tamatan luar negeri. Mereka akan sangat ketinggalan. Ada juga sih yang bisa bersaing namun sedikit sekali. Ada satu dua yang punya otak encer. Itu kita pakai. Kalau mereka tidak mengenhance mereka punya education mereka akan tereleminasi.”
“Tapi…. semua tidak sepenuhnya benar Pak Syaih. Bagi saya pendidikan penting tapi tidak menjamin kesuksesan karir mereka. Bapak boleh memprioritaskan hal itu namun jangan terlalu mendewakan. Bapak tahu bos saya yang sekarang?. Dia hanya tamatan SMA tapi dalam hal membangun perusahaan property ini patut diacungin jempol. Dia belajar ilmu manajemen dan marketing lewat media membaca, Learning by doing.
“Ah masak sih pak saya bahkan tak percaya. Saya bahkan mengira berliau…..”
“Lulusan luar negeri?”
“Sama saya dulu juga beranggapan begitu.”
“Tidak kentara ya Pak..Bapak selalu beranggapan pendidikan dari luar adalah segalanya. Jangan salah…banyak orang pintar jadi tinggi hati, sombong dan terkesan tidak loyal. Mereka pintar secara akademik namun belum teruji di lapangan dalam mengambil keputusan. Tidak ada manusia terlahir sempurna seutuhnya. Masing masing dianugerahi kelebihan dan kekurangan. Tergantung sikap mereka apakah mau belajar dari hal hal tersebut untuk menjadi handal.”
“Tapi mungkin beda dengan SMA di perusahaan saya . Bos anda produk lama.”
“Maksudnya..”
“Anda pasti tahu taipan Sudono Salim taipan yang malah tidak tamat SD. Itu contohnya.”
“Kalau boleh Saya berpesan…. janganlah mengabaikan karyawan yang telah lama mengabdi. Rata rata mereka memiliki loyalitas yang tinggi dan jangan membiarkan dengan masa depan yang tidak pasti. Separuh hidup dan jiwa mereka telah disumbangkan untuk kemajuan perusahaan. Mereka berharap mencapai puncak karir yang bagus di usia senja mereka. Mereka sudah jenuh dijejali kebijakan para konsultan asing yang hanya tahu secara baku dan kaku. Makanya saya juga mendengar selentingan mereka mengambil pensiun dini setelah tidak mendapatkan kejelasan karir. Toh mereka lebih memilih perusahaan lain yang sangat menghargai pengalaman mereka. Tidak sedikit mereka sukses di luar sana. Meski ada juga yang terpuruk. Dengan bermodalkan nama besar perusahaan Bapak mereka banyak menduduki jabatan lumayan. Berjuang demi melanjutkan hidup yang lebih baik bukan persoalan mudah …Berpisah dengan sebuah perusahaan yang telah menghidupi mereka sekian tahun maka diperlukan ketegaran dan keberanian.”
Pak Syaih terkesima mendengar ucapan Pak Abud yang perlahan lahan mulai parau. Kata kata yang terlontarkan barusan sepertinya keluar dari lubuk hati terdalam itu bagaikan mencambuknya. Sangat mengena sekali. Kesannya seperti mengajari namun banyak makna tersirat di baliknya. Pak Abud begitu lihay menyentil sisi buruk dari perusahaannya. Jangan jangan semua itu berasal dari pengalaman pribadinya sehingga ucapannya tadi begitu tulus, serius dan memohon.
Keesokan harinya. Dalam penerbangan dari Palembang menuju Jakarta yang memakan waktu kurang lebih 55 menit terasa begitu lama. Pak Syaih masih terlihat termenung di kelas bisnis. Pak Syaih belum melupakan dan masih terngiang ngiang ucapan Pak Abud kemaren. Kebetulan Tim Pak Abud belum berniat pulang ke Jakarta. Mereka memutuskan untuk tetap bermalam di kota pempek tersebut. Barang menginap dua malam lagi guna keperluan liburan, kuliner dan riset lokasi.
Oh ya, tiba dia teringat sesuatu. Ya, sepucuk surat yang dititipkan melalui pengawal pribadinya. Ada apa rupanya? Bukannya bisa berkirim sms. Bb atau whats app. Ternyata surat dari Pak Abud. Tak sabar di bukanya.

Dear Pak Syaih,
Saya mohon maaf atas kelancangan kata kata saya kemarin. Bukan bermaksud turut campur dalam internal perusahaan Bapak. Kemaren sebetulnya saya ingin berterus terang Cuma…belum ada keberanian. Namun bukan rekanan yang baik toh jika diantara kita masih menyimpan rahasia. Ini sebenarnya secret sih..Serjujurnya saya pernah lima tahun lalu menjadi bagian dari Bank ini. Sure…saya pernah di sana lho. Saat itu Bapak masih menjabat Kepala Departemen. Saya masih karyawan bawahhh. Dan yang merasakan sama persis yang ceritakan kemarin. Selama berkarir saya merasa tidak pernah di berikan kesempatan untuk maju. Mungkin disebabkan beberapa alasan manajemen. Salah satunya ketidakpercayaan dalam menanggung kewenangan yang lebih tinggi. Ditengah kertidaknyamanan itu saya memutuskan untuk keluar. Semula saya ragu. Tapi ternyata tekad saya dibantu Tuhan. Saya sangat bersyukur sekarang bisa lebih sukses. Toh saya juga mampu menjadi manajer pemasaran ketika diberi kesempatan untuk maju…Terima kasih

Warm Regards
Abud
Pak Syaih menarik nafas dalam dalam. Rasa kantuknya mendadak hilang.

               THE END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s