HONDA KUPER ALIAS KUAT PERKASA

Oleh : Deddy Azwar

(Mengenang almarhumah Uni Gusmita , wafat karena kecelakaan motor di Maninjau Sumatera Barat)

Hari Sabtu nan cerah di awal bulan Juni. rumah kami didatangi tamu dari jauh. Uni saya bersama suaminya datang berkunjung ke rumah dengan mengendarai sepeda motor Honda Karisma baru lagi mengkilap. Uni dalam bahasa padangnya adalah kakak perempuan. Keduanya tersenyum sumringah ke arah saya.

“Assalamualaikum. Apa kabar?” Sapa Uda Budi dari luar pagar sambil melepaskan helmnya. Begitu pula dengan istrinya.
“Waalaikumsalam, Alhamdulillah baik.” Jawabku spontan.

Buru-buru Saya membuka pintu pagar sambil segera mempersilahkan mereka berdua masuk. Saya langsung berteriak memanggil nama istri saya.
“Wi! Ada tamu dari luar kota nih.

” Luar kota? Siapa Say?” tanya istri saya heran.

” Iya… jauh noo..Bekasi.” jawab saya bercanda.

Istri mencubit lengan saya dengan manja. ” Bekasi mah masih deket atuh.”

Teriakan nyaring saya mengagetkan istri yang sedari tadi sibuk memasak di dapur. Buru-buru doi ke luar rumah, menyalami Uda Budi dan Uni Gus. Sembari cipika cipiki sama uni.
“Honda keluaran baru nih yeee. Keyreen…Rancak bana (bagus sekali). Onde Mande,” puji istri,”pasti baru beli.”
“Wah, ketinggalan berita. Baru dari mana. Sudah seminggu lagi.” tangkis Ni Gus.
“Sukses dong. Dapat undian apa beli? Bukannya kemaren bilang lagi bokek.”
“Ini motor beli dari uang pesangon, tahu.” Uni menjelaskan.
“Pesangon!” Saya dan istri terbelalak.”Jangan bercanda. Uni dan Uda baru kena PHK?”

“Benar Ded, Wi, kami berdua jadi kena PHK. Sudahlah ceritanya panjang” suara Uda Budi terdengar lirih sembari tertunduk. Apa mau dikata sudah nasib kami begini. Kami ambil hikmahnya saja. Akibat PHK ini keinginan kami untuk memiliki sepeda motor terpenuhi. Motor Honda lagi. Makanya kami langsung test drive kemari. Punya motor ternyata enak benar lho. Hemat ongkos kuat tenaga. Yaa… cuaca panas campur debu biasalah. Cuma ke bintaro saja sih kecilah. Dua hari lalu kami bawa ke Purwakarta. Bensinnya irit. Coba Tenaganya mantap. Larinya kencang. Bandingkan kalau naik bis, sudah capek. Belum tentu dapat tempat duduk lagi.”
“Gila si Uda! Dia sampai menyalip metromini berkali-kali. Padahal bawa motornya belum jago benar tuh” Uni Gus mencentil telinga suaminya mesra.”
“Aduh! Iya… Ded. Saya cuma butuh dua hari saja belajar motor. Setelah itu bisa dilepas” Si Uda sesumbar.
“Lain kali tidak boleh begitu, Da.” Saya menasehati.”Hati-hati bawa motornya.”
“ Oke. Kalau tahu nikmat begini naik motor sudah dari kemaren-kemaren saya beli. Jangan bosan ya kalau kami jadi lebih sering ke mari nantinya.?”
Saya mengangguk sembari tersenyum. “Kami malah senang kok. Pintu kami slalu terbuka”
Uda Budi menyodorkan kunci agar saya mau mencoba motornya. Saya menolak halus. “ Lupa ya? Saya kan tidak bisa bawa motor.”
“Masak sih? Hari gini…Ya sudah nanti sore saya ajarin deh. Kamu kan sudah punya basic, bawa sepeda. Gampanglah itu”

Sepasang suami istri ini tinggal di Bekasi Timur tepatnya di Pulo Gebang. Sedangkan saya tinggal di Bintaro Tangerang. Kira-kira satu setengah jam perjalanan jarak yang mereka tempuh. Lumayan jauh bukan? Namun anehnya, wajah mereka sama sekali tidak menampakkaan tanda-tanda keletihan atau keloyoan setelah menempuh perjalanan jauh. Malahan rona kebahagiaan tertangkap oleh mata saya. Wajah keduanya berseri-seri sembari tertawa lebar. Puas hati ini.
Sabtu kali ini terasa berbeda. Biasanya, tiap akhir pekan saya dan keluarga memilih melancong ke mall dekat rumah. Sekarang Sudah terbayang akhir pekan berikutnya rumah kami tidak akan sesepi minggu kemaren. Setelah memiliki sepeda motor, uda Budi dan istrinya berjanji akan lebih sering berkunjung. Dulu, mereka selalu malas kalau ditawari bertamu. Jawabannya tunggu nanti kalau suatu saat kami punya motor melulu. Kami maklum, jarak yang jauh selalu menjadi rintangan.

Istripun senang jadi punya teman bercerita., Terlebih-lebih Zaki anak pertama saya. Dia gembiranya bukan main. Sepanjang hari kerjanya memaksa orang untuk mendengarkan ceritanya.

Jika bepergian, angkot dan taksi jadi alat transportasi pavorit kami. Apalagi di tempat kami bermukim alat transportasinya dibatasi hanya sampai jam 7 malam. Setelah itu bergiliran dengan tukang ojek. Makanya jadi serba susah di Jakarta tanpa kendaraan pribadi. Kemana-mana terasa jauh. Kemana mana naik bis kota…(mirip lagu) Belum lagi faktor keamanan dan keselamatan. Boleh dikata sejak zaman buahelak alat tranportasi di Jakarta minim perkembangan. Bis-bis tua yang beroperasi di jalanan jauh dari kesan layak. Para pengusaha alat transportasipun lebih mengincar keuntungan daripada nyawa manusia.

Walaupun saya tahu hati sepasang suami-istri ini pasti sedang sedih dan pedih. Kasihan sekali! Bagaimana tidak, belum genap sebulan mereka terkena PHK dari perusahaan masing-masing dalam waktu yang hampir berdekatan. Alasannya sih klise! Perusahaan dimana mereka bekerja mengalami kerugian sehingga perlu memangkas ratusan pekerjanya demi efisiensi serta kelangsungan hidup perusahaan . Kalau sudah begini karyawan lama acap kali jadi korban. Perusahaan merasa tidak kuasa untuk menaikkan gaji mereka. Belum lagi jika tiap tahun para pekerja selalu merengek-rengek, bahkan meronta-ronta minta tambahan gaji atau bonus sekadar menutupi kebutuhan di tengah lonjakan harga kebutuhan pokok yang semakin senewen. Para pekerja merasa gaji yang mereka diterima sudah tidak layak lagi. Apalagi untuk hidup di kota metropolitan.

Karyawan lama dianggap jauh dari produktif dan memakan banyak biaya. Perusahaan lebih memilih menarik karyawan baru lalu digaji murah. Alhasil biaya produksi jadi hemat. Acap kali loyalitas serta pengabdian kurang mendapat perhatian dan tempat  kerja.
Kembali soal motor! Sejak kanak-kanak sampai dewasa bahkan setelah berkeluarga pun saya nggak pede dan sebel dengan benda yang bernama motor itu. Tidak aneh lagi, setelah mempunyai pekerjaanpun saya masih belum bisa mengendarainya. Memang kagak minat! Bukan gengsi sih..Saya belum cukup berani untuk itu. Saya cukup puas jadi penebeng di belakang saja. Sampai-sampai saya di kantor selalu menjadi bahan ledekan teman sekerja karena hampir setahun menjadi penebeng setia motor teman. Padahal teman yang ditebengin merasa tidak keberatan kok. Malah senang ada teman ngobrol katanya. Kebetulan jalan yang hendak kami lalui ketika berangkat bekerja adalah searah.

Dulu, bila ada temen yang berbaik hati datang menawari saya untuk membawa atau mengajari naik sepeda motor akan langsung saya tolak. Tidak dulu lah ya…Terlihat ekstrem memang. Tapi itulah kenyataan. Sudah terpatri di benak saya, naik motor itu tidak asik. Bila dating musim panas kepanasan. Musim hujan kebanjiran. Menurut saya system keamanan dan keselamatan dalam mengendarai motor minim sekali. Oleng sedikit pasti langsung jatuh dan terluka. Sudah sering saya melihat berita kecelakaan motor di televisi. Kebanyakan akibat ulah si pengendara itu sendiri yang selalu merasa sok jago jalanan. Seakan-akan merasa menyimpan nyawa kedua. Atau ulah sopir truk yang mengantuk berat sembari berusaha menyalip si motor. Hal ini selalu menghantui dan menjadik momok yang mengerikan. Tapi lama-kelamaan saya mulai berpikir logis. Asal kita hati-hati, tidak sombong, selalu waspada dan mentaati peratiuran lalu lintas tentunya akan membantu meminimalisir hjal itu. Dan yang terpenting selalu berdoa kepada Tuhan memophon selalu diberi keselamatan. Karena tidak terlalu cinta motor membuat saya kurang familiar merek-merk sepeda motor apalagi featur-featurnya Dalam hati saya bertanya-tanya. Makin penasaran jadinya.

Di zaman sekarang ini mengendarai sepeda motor menjadi pihan utama ketimbang mobil. Karena motor sejalan dengan realita kehidupan kota Jakarta yang sudah di atas ambang normal. Kemacetan, kesemrawutan dan polusi udara telah terbiasa menjadi penghias kota. Motorlah digadang gandang paling serasi menghadapi hiruk pikuknya jalan raya. Kesimpelan bodinya memudahkannya meliuk-liuk, menyelip di tengah himpitan kemacetan. Motor memecah kebuntuan hangar bingarnya ibukota. Kenaikan tarif bus tiap tahun pastilah memberatkan semua orang, terutama kalangan menengah kebawah. Biaya hidup bergerak dinamis, sedang pendapatan statis. Membeli motor membuat hidup lebih mudah karena waktu tidak lagi jadi pengambat. Mengirit ongkos membuat kita bisa menabung. Jalan-jalan sore sungguh asik dengan motor. Lihat saja tiap sore di bulan puasa menjelang buka puasa motor menjadi teman ngabuburit.

Oh kiranya sepeda motor si uda ini bermerk Honda toh, pantas. Kata orang-orang, motor ini dikenal paling irit, perawatannya mudah, Spare partnya terjangkau, bengkelnya tersebar sampai ke pelosok. Bahkan Kata berita di Koran motor Honda sudah teruji kehandalannya di dunia balap. Ah masak sih? Apa iya? Saya belum percaya kalau belum mengalaminya.

Semakin lama dipandang dan diamati sepertinya enak juga punya sepeda motor sendiri. Keren juga. Kapan ya punya motor, angan saya menari-nari.

Padahal dari dulu saya tidak begitu tertarik dengan apanya yang namanya motor. Kalau hujan kebasahan, kalau panas kepanasan. Bannya Cuma dua lagi.

Huh, Naik motor lagi..  Tidak, tidak saya tidak menyukai mengendarai motor. Ogah. Motor tidak sejiwa dengan saya” Itu kata-kata tolakan saya dulu ketika istri memaksa saya untuk segera membeli motor. Berbagai alasan klise campur ketidak percaya diriankeluar tumpah ruah dari mulut saya. Takut jatuh lah kalau tersenggol mobil, trus kalau sudah jatuh boro-boro ditolongin-lah. Apakah suka melihat saya mengalami itu…?
Istri saya terus merayu, ditambah lagi mertua dan adik ipar ikut membantu meyakinkan.
Lama-lama hatiku yang tadinya bagaikan gunung es kokoh akhirnya perklahan-lahan lumer juga. Singkat cerita jadilah saya memiliki motor dengan mencicil motor melalui koperasi kantor.

Sungguh! Bagaikan mimpi rasanya kini saya jadi begitu mahir mengendarai sepeda motor di Jakarta. Dulu, saya merasa tak begitu yakin dapat menaklukkan keganasan jalan raya ibukota Jakarta. Saya beranggapan bahwa para pengendara motor di Jakarta adalah para pemberani semua. Tingkat ke-stressannya dan kesulitannya tinggi dibandingkan dengan kota-kota lain di nusantara. Betapa tidak? Tiap hari selain berpacu dengan waktu, bertemu kemacetan dan kesimpang siuran jalan, mereka juga senantiasa berhadapan dengan angkernya monster roda empat seperti truk container, fuso, metromini, kopaja, bis kota bahkan mobil pribadi yang kadang jalan “seenaknya dewe” . Belum lagi pejalan kaki yang menyebrang sembarangan tanpa melihat kiri-kanan bak laksana kucing bengong. Maka dari itu saya menjuluki mereka setan jalanan bernyawa dua.

Telah kita ketahui bersama mengendarai motor tentulah tidak seindah dan sesyahdu mengendarai mobil. Di mobil orang bisa dengan seenaknya tidur sejenak sembari menanti lampu hijau, memanggut-manggutkan kepalanya bersenandung mengikuti alunan musik. bahkan berkaroke, menonton film atau acara TV. Melahap berita-berita di Koran. Menikmati sejuknya pendingin udara. Huh…di surga rasanya.

Nah sekarang coba anda bayangkan jika sedang berada di atas kemudi motor. Mengantuk sedikit saja belum tentu anda akan sampai di tujuan. Kemungkinan besar anda akan mencium aspal dulu, tertidur di kolong truk atau di atas trotoar baru mencium metromini. Akhirnya terjaga di rumah sakit.

Pokoknya singkat kata di belakang kemudi motor anda harus berkonsentrasi tinggi, mempunyai perhitungan yang tepat, bermental baja, berani malu, lincah, cepat dalam mengambil keputusan serta keberuntungan.
Sepengelihatan saya selama ini para pengendara motor di Jakarta jarang yang cerdas dan rendah solidaritas. Bagaimana tidak, sesame pengendara acapkali saling mendahului, melawan jalur, sikut sana sini. Akibat kekurang sabaran, mereka senaknya saja menyerobot jalan orang lain sehingga menutupi jalan kendaraan lawan arahnya. Tidak aneh kalau sumber kemacetan karena ulah mereka sendiri. Setelah itu membunyikan klakson menjadi pelampiasnya seraya memaki-maki. Mau menang sendiri saja. Mungkin mereka beprinsip biar cepet asal selamat. Masa bodoh orang mau ngomong apa. Terus terang saya sedih dan prihatin sekali melihat fenomena ini. Walaupun sehari-harinya saya juga menunggang motor. Rasa-rasanya kalau sudah di atas motor mereka lupa akan dirinya sebagai manusia makhluk Tuhan yang bernyawa. Tanpa mengenakan helm ngebut seenaknya. Apakah lupa bahwa mereka mempunyai keluarga yang harap-harap cemas menunggu di rumah. Banyak kecelakan mengerikan di jalan raya tapi tidak diambil sebagai hikmah. Bertindak arogan di atas motor, tapi banci jika sudah terjatuh. Meringis-ringis lemah terkulai. Berdiripun tak kuasa. Kalau sudah begitu menyesalnya belakangan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s