TANPA HONDAKU, AKU BAGAIKAN HILANG ARAH DAN TUJUAN

IMG_20140730_150011

Oleh : Deddy Azwar

Aku mempercepat laju sepeda motorku. Kencang sekali. Serasa terbang melayang. Kilometernya nyaris mencapai 100 , hingga bodinya nan ringan bergoyang ke sana ke mari. Walaupun sedikit bergetar namun tetap stabil. Ternyata terbukti hasilnya setelah diservice di AHASS sabtu lalu. Honda Supra Fit yang kutunggangi semakin kuat dan perkasa.
Kemacetan lalu lintas kulalui dengan zig zag sempurna. Tanpa ampun Semua kendaraan di depan kusalip. Semakin jumawa kudibuatnya. Tiada peduli metromini bahkan truk container sekalipun dilawan. Beberapa supir bus mengomel sembari mengepalkan tinjunya. Makin laju kecepatannya mengiringi mesinnya yang menderu halus. Layaknya pembalap motor Grand Prix kutelusuri jalan. Kuselesaikan segala macam tikungan dengan maneuver ala Michael Hayden. Aku seakan-akan berada di arena balap sirkuit Sentul. Sementara para pejalan kaki kuibaratkan para penonton yang bersorak sorai memberi support.
Sebenarnya aku khawatir sekali jika kehilangan moment berharga ini. Entah apa yang dicari, yang pasti aku harus berupaya menjangkau tempat tujuan tepat waktu. Alias on time man…Jika tidak, kesempatan ini akan lenyap dan sulit untuk kugapai lagi. Kesempatan belum tentu datang dua kali. Kalaupun ada pengecualiannya, sungguh beruntunglah orang tersebut.
Aku memang sedang mengikuti tes yang diselenggarakan oleh perusahaan. Semacam tes kenaikan jabatan atau lebih dikenal dengan nama promosi. Bahasa Inggris adalah materi yang akan kuhadapi nanti. Bayangkan bila kali ini aku mengalami kegagalan, aku harus bersabar menunggu dua tahun berikutnya. Lama bukan? Maha tahan. Anda pasti sependapat bahwa menunggu itu suatu perbuatan yang membosankan. Bertalian dengan urusan hati.
Jabatan sebagai asisten manajer sudak lama kudiam-idamkan dari dulu dan menjadi incaran semua karyawan. Di kantor tempatku bernaung, faktor senioritas tidak begitu berpengaruh sama sekali. Puluhan tahun lamanya mengabdi tak membuat manajemen i merasa kasihan atau menjadi lebih manusiawi. Loyalitas benar-benar dikesampingkan. Tak perlu heran suatu saat karyawan yang masa kerjanya baru seumur jagung akan menjadi atasan kita dalam waktu singkat. Begitulah roda kehidupan. Mereka yang dulunya menghormati dan menyegani sekarang pura-pura tidak kenal. Begitu juga yang dialami para pejuang dan pahlawan kita di masa kemerdekaan. Rata-rata mereka terabaikan sampai sekarang.
Seandainya berhasil lulus nanti tentunya banyak benefit sudah menanti di ujung mata. Selain jenjang karir, prestise, fasilitas dan yang paling utama gaji otomatis makin menjulang. Oh betapa berbahagianya istri dan anakku. Orang tua dan adik-adikku pasti berbahagia pula.
Rasa kurang percaya diri sering menghinggapi sehingga membuatku semakin kurang yakin dapat bersaing melawan karyawan lebih muda usianya.
Namun jangan mau kalah sebelum bertanding. Ada baiknya kita mengambil dan mengoptimalkan kesempatan yang telah diberikan manajemen. Tinggal kita memacu semangat untuk bersaing. Karena bila telah tertinggal jauh kemungkinan di masa mendatang akan menjadi tahun-tahun yang sangat berat untuk ditempuh
Banyak asa bermukim di kepala. tak kunjung menjadi kenyataan. Sampai detik ini cukup dipendam dalam hati saja. Penghias angan-angan. Dalam menjalani hidup kita mesti mempunyai angan dan impian yang tinggi. Bila perlu setinggi angkasa.
Untungnya aku tak perlu memikirkan membeli rumah lagi. Ingin sekali memasukkan anakku kursus bahasa inggris, memberikannya asuransi dan lain sebagainya. Pun membelikan istri tercinta perhiasan, mengajaknya shoping , ke salon entah apalagi. Mengirim uang untuk orangtua dan mertua ku yang berada nun jauh diseberang pulau Sumatera sana. Membantu biaya sekolah adik-adikku. Pikiranku kian menerawang. Bermimpi sebelum tidur.
Ya sudah…mari kita lanbutkan cerita Ups..aku bernafas lega. Akhirnya tibalah aku di sebuah gedung universitas nan megah. Entah kenapa aku tidak berpikir langsung mencari tempat parkir. Saking buru-burunya motor cukup diparkirkan di pinggir trotoar dengan standar miring. Padahal tes akan berlangsung hampir dua jam. Masa bodoh, pikirku lagian siapa yang mau mencuri sih. Langkah kupercepat. Anak tangga demi anak tangga aku loncati. Tanpa memanfaatkan sarana lift, terus berusaha mencari lokasinya. Banyak sorot mata memandang aneh. Tapi semua tak kuhiraukan. Tampaknya kecepatan yang kuciptakan tak membuahkan hasil. Perburuan waktu ini sia-sia belaka. Dari kejauhan tampak pintu ruangan tempat berlangsungnya tes telah ditutup rapat.
“Gawat nih! Semoga masih diperbolehkan masuk” Batinku, seraya mengatur jalan nafas yang ngos-ngosan. Detak jantung ini terus berlomba-lomba berdetak. Kencangnya melampaui kecepatan Valentino Rossi. Peluh sebesar butiran jagung meluncur tak beraturan di sekitar wajah dan leher. Dengkulpun ikut gemetaran. Tungkai ikut lemas, tegang seperti kehilangan banyak pelumas, Mataku terus mencari-cari “Oh Tuhan hangus sudah harapan ini. Akankah kesempatan emas ini lenyap tak berbekas terbawa angin. Oh, salah apakah aku?”
Setibanya di depan pintu, langkahku terhenti tiba-tiba. Seorang bapak bertubuh tinggi gempal mengulurkan tangannya menghadang. Beliau rupanya pengawas ujian bertugas hari ini. Lagaknya persis Polantas menyetop kendaraan.
“Berhentilah di situ!” Teriaknya menyeringai. “Mohon tenang saudara. Jangan membuat keributan. Di dalam butuh ketenangan.
“Maaf Pak, saya peserta tes. Izinkan saya masuk dong?” Aku mencoba untuk berlaku ramah.
“Eit, tunggu. Saudara terlambat, jadi tidak diperkenankan masuk. Sesuai peraturan yang telah disepakati. Anda kami anggap gugur. Silahkan pulang.”
“Sebelumnya mohon maaf. Tadi ada container mogok di pinggir jalan tol pak. Sudilah Bapak berbaik hati mengizinkan saya masuk.”
“Tidak boleh! Sekali tidak tetap tidak! Mengerti!” Hardik si Bapak.
“Tolonglah pak. Masak anda tega mengubur masa depan saya akibat terlambat tiga menit.”
“Tiga menit? Sedetikpun keterlambatan anda tetap tidak bisa ditolerir. Pulanglah. Belajarlah untuk menghargai waktu.” Sepertinya jam karet tidak berlaku pada tes ini.
“Wah, Sedikitpun anda tidak memiliki hati nurani.” Hatiku mulai kesal.
“Maaf Saudara bagaimanapun peraturan harus ditegakkan.”
Aku mencoba melabrak tapi tak kuasa menembus luas bidang badannya bagaikan terali sel penjara. Kokoh sekali. Aku terpental. Emosiku membukit, bergelora dan panas mendidih. Seakan-akan ingin secepat kilat menerkam mulut sang bapak. Ku coba bangkit dan terus berusaha. Lagi-lagi hasilnyapun sama. Terseok-seok dibuatnya. Langklahku gontai.
“Pulanglah cepat! Saudara jangan mencari perkara.” Mukanya menampakkan roman sangar.
Aku tersadar. sampai mengamuk singapun si bapak tetap tak bergeming. Tampaknya percuma berdebat sama orang berhati “robot mesin”. Hatinya sudah membatu. Nuraninya telah mati. Kupikir ada baiknya aku pulang. Alasan apa yang pantas untuk diceritakan di rumah.
Tiba-tiba saja teringatlah akan motor Supra Fitku yang tadi kuparkirkan secara serampangan di pinggir trotoar. Demi merengkuh waktu, telah kusia-siakan dia. Oh…teman setiaku. Jantung ini berdetak lagi tapi lebih hebat. Nafas ini buru-memburu. Kupercepat ayunan langkah. Terus kupercepat. Larikupun bak burung terbang. Ingin rasanya cepat sampai di sana. Berat benar terasa langkahku. Siapapun yang menghalangi pandangan kuperingatkan segera menghindar semua. Mungkin mereka mengira ada monster lapar mengamuk mencarai mangsa.
Sesampai di lokasi parkir, aku terperanjat stadium tiga. Honda Supra Fitku sudah tak berada di tempatnya lagi. Oh, kemanakah dia? Dicurikah? Siapakah orang berhati busuk itu. Oh Otakku berputar keras. Segala penjuru tempat parkir telah aku jelajahi. Namun tetap tak kutemukan. Hilang tak berbekas. Tuhan apalagi dosa ini. Berat nian cobaan ini. Dua kejadian apes menimpa hambamu hari ini. Aku berteriak histeris sekuat-kuatnya. Tanpa terasa air mata mengalir. Ingin sekali menangis sejadi-jadinya.
Jangan-jangan sepeda motor Honda kesayanganku hilang! Perasaanku jadi tak enak. Prasangka negatif menari-nari di pikiran. Oh..sungguh tak percaya. Akhirnya kuputuskan untuk mengakhiri pencarian dan pulang saja.
Lenyap sudah Hondaku. Aku bingung besok bekerja naik apa? Bis? Aku merasa usiaku sudah tak pantas lagi untuk berdiri dan bergelantungan di sana. Kenikmatan di setiap hari-hariku tak bisa kunikmati kembali dengan bermotor. Tak habis pikir, aneh ya tempat sebesar itu tak ada satupun petugas parkir yang dapat ditanyai. Kubenturkan kepala di pohon kelapa berulang-ulang. Sakitnya tak kurasakan. Betapa bodoh dan cerobohnya diriku. Alasan apa yang pantas diceritakani kepada istriku? Biasanya anakku mencemoohkan. Kuatkah menerima ejekan teman sekerja? Sudikah nanti asuransi mengganti kerugian atas musibah ini agar meringankan bebanku untuk mencicil kembali kredit motorku. Tertawakah semua manusia melihat perbuatan bodohku. Beribu pertanyaan tak penting bermunculan. Menyeruak di antara puing-puing hati. Mengapa penyesalan acapkali datang terlambat.
Badanku lemas bagai lepas dari raga. mungkin kalau dihitung keringatku mencapai tiga ember. Tulang-tulangku serasa tanpa engsel. Kejadian berikutnya sudah pasti mudah ditebak. Tak disangka ada satu buah kelapa jatuh dan mendarat manis tepat dikepalaku. Akupun pingsan di bawah pohon…
“Tidaaak!!” Teriakanku membahana membelah malam. Selimut dan bantal guling terlempar. Berhamburan ke bawah ranjang. Waduh…kiranya aku tengah bermimpi. Dada kuelus berkali-kali. Ku singkap tirai jendela. Oh, masih gelap rupanya. Masih tengah malam. Berarti…
Ku palingkan muka ke sebelah. Istri dan anakku masih asik terlelap berteman mimpi. Aku tak mau mereka terusik oleh mimpi burukku. Dengan gerakan reflek aku menuju ruang tamu. Tentu saja aku langsung teringat akan motorku.
Oh, syukurlah sepeda motor Honda kesayanganku masih ada di ruang tamu. Terima Kasih Tuhanku. Segera aku peluk erat Honda Supra Fit berwarna Black Silver. Kuciumi dari stang, jok, lampu sampai knalpot. Baaunya masih segar. Memang kemaren sore baru saja kucuci, kusirami dan bahkan kusemir sampai mengkilap Sedikitpun tak kubiarkan kotoran dan debu menghinggapinya.
Oh Honda Supra Fit-ku, kaullah pujaan hatiku. Jangan pergi tinggalkanku lagi. Walau dalam mimpi. Berat rasanya menjalani hidupku sehari-hari tanpamu. Kau antar kemanapun kusuka. Walau kutahu sebenarnya dirimu letih. Telah hampir empat tahun lamanya kau isi hatiku. Kau temani aku pagi, sore hinggap malam. Walupun begitu kau tetap perkasa. Larimu semakin cepat. Kokoh, kuat dan bersahaja saja nampaknya.
Setiap hari selama dua jam kau membawaku tanpa rasa capek. Rata-rata 40 kilometer pulang pergi ku pacu dirimu.
Namun masih ada satu lagi kegembiraanku. Tes promosi itu..berarti tes yang harus kujalani belum hangus toh. Aku masih punya kesempatan.
Aku berhasil melalui tes pertama. Dua minggu kemudian hasil tes kedua diumumkan. Namaku tidak tercantum dalam tes berikutnya. Sedih memang, tapi apa mau dikata. Show must go on. Never give up.
Sepanjang menuju tempat perpakiran wajahku tertunduk lesu. Rupanya Tuhan belum mengizinkan. Aku tak mampu menatap setiap orang yang lewat. Aku yakin suatu saat hari itu pasti datang. Tidak perlu bersedih teman, jika menghadapi kegagalan. Mungkin itu untuk sementara baik untuk kita. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya lho.
Setibanya disana aku mencoba untuk tersenyum. Di depan sana sang Honda Supra Fit menyambut kedatanganku. Sepertinya merasakan kegetiran hatiku. Seakan menghiburku, “jangan sedih sobat, mari kita pulang. Jalan masih luas membentang.” Dalam sekejab aku telah berada di atas motor untuk siap kembali mengejar impian bersama Hondaku.

Ada banyak motor di jalanan tapi Cuma Honda yang jadi andalanku”
Tanpa Honda aku bagaikan jauh dari handai taulan
Tanpa Honda aku seperti hilang arah dan tujuan”
Bersama Honda aku jadi keren dan semakin percaya diri
Bersama Honda kulalui hari dengan langkah pasti
Kurengkuh waktu Kugapai Harapan
Honda setia menemani tanpa henti
Honda teman sejatiku….melajulah kencang

Jakarta, Februari 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s