KAMPUS…..IING!!! (CERITA SUKA DUKA ANAK KULIAHAN/ COLLEGE STORIES

rMonk

Inpirasi didapat saat penulis berkuliah di Universitas Tridinanti Palembang. Ditulis secara stripping. Tiap edisi selalu direvisi. Mohon kritik dan saran dari Ideazworld5 Fans Club sebelum diterbitkan. Terima kasih.

Oleh : Deddy Azwar

1. OSPEK KAMPUS KITA
Setelah melewati serangkaian tes yang cukup melelahkan, membosankan, serta menguras pikiran dan tenaga, akhirnya Tekya La Kadham ( TLK) bisa bernafas lega. Lebay banget yak! Tapi tunggu dulu bro..masih ada satu tahapan lagi sudah menunggu di depan mata. Tahapan itu bernama OSPEK atau Mapras atau yang lebih beken lagi PLONCO.Nama yang terakhir kurang enak didengar. Mirip mantel hujan.

OSPEK, sepertinya sudah akrab di telinga kita. Apalagi yang pernah mengecap bangku SMA sebagai pelajar maupun Perguruan Tinggi berpredikat mahasiswa. Namun begitu kebanyakan mahasiswa baru kurang suka dengan nama ini. Akan tetapi, mau tidak mau tiap calon mahasiswa diwajibkan mengikuti. Bagi mahasiswa senior OSPEK tersebut boleh dikatakan sarana ajang balas dendam untuk ngerjain para yuniornya. Bagi Tekya, OSPEK akan buang waktu saja. Nggak asik. Sarat dengan ’penyiksaan’ fisik. Pelecehan martabat. Penurunan gengsi dan bikin malu di hadapan para mahasiswi cantik. Istilah kerennya penindasan indentitas…

Jika keisengan dan kejahilan yang ditumpahkan oleh para senior kepada para yunior masih wajar sah sah saja. Asal jangan keterlaluan alias di luar kontrol. Kalau sudah begitu para dosen wajib turun gunung turut mengawasi sebelum terjadi hal hal yang negatif.

Padahal di luar sana, masyarakat luas mengharapkan kegiatan OSPEK menghasilkan sesuatu yang positif penuh kreatifitas. Yang bermanfaat. Sesuatu yang mendidik. Istilah kata kedokteran…OSPEK itu bagaikan multivitamin yang bersinergi merasuki aliran darah lalu masuk melalui urat nadi dan menyebar ke seluruh penjuru tubuh pada akhirnya menjangkiti seluruh organ dengan ion ion positif yang merefresh pikiran dan tindakan. Weleh weleh…apa iya?. Sure! Banyak kok kegiatan yang perlu keberanian positif tapi cukup menantang. Ambil contoh, outbond, pinball, arung jeram dan lintas alam yang dapat memupuk rasa kebersamaan dan tanggungjawab. Namun dikemas dalam bentuk permainan yang sungguh menimbulkan penasaran tapi mengasykkan. Memangi lagi ngetrend belakangan ini lho. Diperuntukkan bagi siapa saja tanpa memandang usia. Kecuali bagi penderita penyakit jantung.

Masih ingat akan peristiwa kelam nasional beberapa tahun silam terjadi di lingkungan sekolah STPDN yang menimpa salah satu anak didiknya. Menjadi korban sia sia akibat ulah para seniornya yang menghukum di luat kontrol. Seyogyanya dari sekolah tersebut diharapkan dapat mencetak kader kader terbaik untuk memimpin bangsa yang mempunyai semangat tinggi, jiwa nasionalis tangguh dan berani, dihiasi akhlak mulia dan terpuji. Pada kenyataannya sungguh bertolak belakang. Mirisnya… dari sanalah lahir aksi kekerasan dan pembullian hingga berujung pada wafatnya salah satu siswanya. Kalau sudah begini..penyesalan selalu datang belakangan. Orangtua mana yang rela dengan keadian tragis ini.

Wah! Jadi panjang ceritanya. Yuk kita kembali ke calon mahasiswa Tekya La kadham. Nama Kadham mengingatkan kita pada sosok artis Ellya Kadham. Penyanyi dangdut tersohor di masanya. Ayo..jangan pura pura nggak tahu ya…Mari kita intip apa yang dilakukan si Tekya dalam rangka menghadapi hajatan OSPEK pada keesokan harinya.

Selepas sholat Isya Tekya mencari Mamanya di ruang tamu. Rupanya yang dicari sedang serius mengerjakan sesuatu. Belum sempat menghampiri, Mama keburu berkata…
” Ki… Eh kebetulan. Sini dong.” Panggil Mama Tekya lirih seraya menyodorkan berupa untaian untaian tali yang panjang., ”Ini kalung rumbai rumbainya bikinan Mama sudah jadi. Coba Pakai deh.”
” Terima kasih Ma” Tekya menyambut pemberian Mamanya dengan muka sumringah sebentuk kalung dari seutas tali rapiah, berhiaskan gulungan pipa sedotan yang telah berubah menadi butiran butiran mirip mutiara. Berwarna warni berkerlap kerlip. Ada dua buah ketupat dari bahan daun kelapa menggantung bak liontin pada sisi tali. Ketupat sebagai simbol gelombang ke dua sewaktu mengikuti ujian masuk ke kampus itu. dengan.

”Ih, Mamaku ternyata jago juga ya..” Puji Tekya sembari mendaratkan ciuman di pipi Mamanya dua kali Cup cup ah! Di ciuman yang terakhir Tekya enggan melepaskannya. Tentu saja Mama bingung. Tangannya cepat cepat menghalangi mulut Tekya yang memonyong itu.
“Udah dong ciumnya. Nanti bedaknya pada luntur nih!”
“Bedak? Kirain bau parfum. Bedak baru nih yee. Kok aroma minyak kelapa sih Ma?”
“Bukanlah. Ini rasa durian. Tuh..kamu ngaca deh Tek. Bedaknya nempel di mulut.”
“Oh iya.” Tekya cepat cepat menghapus noda bedak dengan sehelai tisu. “Kok durian begini sih Ma. Beda gitu. Sejak kapan bedak ada rasanya. Kayak jus aja.”
Tekya jadi cekikikan. Dia bisa menebak Mama pasti bercanda.

“ Iya menjelang malam hari baunya bisa berubah.” Elak Mama sekenanya. Ada ada saja.

“ Eh, hari gini masih ada kayak begituan ya Tek? Kirain sudah nggak jaman lagi. Mama jadi ingat waktu zaman mapras dulu. Semasa sekolah SMA di kampung. Onde mande, waktu kuliah juga pernah. Kalau membayangkannya idihh lucu banget. Persis seperti kamu sekarang. Dikerjain para senior. Nama panggilan Mama dulu apa ya…Aduh lupa. Oh iya koreng.” Tanpa sadar Mama jadi sik bercerita nostalgianya dahulu kala.”
”Ih, tega amaat Mamaku dinamain begitu. Oh iya Ma? Jadi OSPEK ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda ya?”
”Mungkin. Mama nggak tahu pasti. Mama kan lahir setelah kemerdekaan.”
”Terus, dulu Mama dihukum apa saja? Disuruh push up atau lari keliling sawah. Hehe.”
“Kamu menghina Mama banget ya…Mentang mentang Mama dari kampung. Mana ada sawah.” Mama nggak mau terima. Dengan serta merta Mama mencubit pantat Tekya. Untungnya Tekya jago mengelak. .””Eit..nggak kena!” elak Tekya dengan gesit menggoyangkan pinggangnya. Mirip penyanyi dangdut pas acara kawinan.

”Ah Mama, begitu aja tersinggung. Oh ya, pertanyaan Tekya tadi belum dijawab. Mama pernah dihukum apa saja dulu?”
“ Apa ya? Kasih tempe nggak ya?” Mama Cuma nyengir. Tekya tersenyum. Tak lama kemudian ibu dan anak ini terlihat akrab kembali.

”Dengar nih Tekya. Kami pernah disuruh lari tapi hanya sebatas di pekarangan sekolah dong. Luas pekarangannya minta ampun. Ada dua kali lapangan…..badminton. Bikin capek ya? Letak sawahnya masih jauuuuh….satu kiloan lagi jaraknya dari sekolahan Mama. Di ujung labuh.”
”Ooh. Terus Mama pingsan?”
“Nggak. Temen Mama yang pingsan karena paginya dia belum sarapan.”
“Seru dong eh tapi kasihan tuh.”
“Iyalah. Para guru kelabakan dan segera meminta maaf kepada orangtuanya.”

”Ya udah. Bagaimana kalung emas mahal kamu ini sudah cocok belum?” Mama bercanda dengan menyebut kalung OSPEK itu emas. Hihi.
” Gimana? Pas tidak?”
”Sudah pasti pas lah Ma. Wong lobangnya sebesar gentong begini. Hehe. ”
“Oh ya? Hua hua…” Gantian Mama yang tergelak gelak. “Bagus dong. Sengaja Mama buat se-ukuran XL”
” Emang kaos, pake ukuran segala. Ini kalung kan Ma? Tapi ukuran XL nya selebar leher gajah nih Ma.”

Lalu mereka saling tos! Papa yang sejak dari tadi asik membaca koran ternyata diam diam mengintip tingkal laku Mama dan Tekya. Lalu tersenyum sendiri sambil gelang si patu gelang eh geleng kepala maksudnya. Pas hendak minum, si Papa hampir saja menenggak jamu milik Mama. Dikira air teh manis.

Sebenarnya jika diamati, sepasang bola mata Tekya berbinar binar bak sinar berpijar lho. Senyumnya sumringah mulutnya terpekik, kalau saja bukan di hadapan Mamanya sudah pasti dia akan berjingkrak jingkrak deh. Tekya bersyukur sekali karena sang Mama telah bela belain merajut kalung unik, memotong sedotan plastik, merangkai pernak pernik warna warni serta dicampur sedikit daun kelapa kering. Semua peralatan itu dibeli Mama dari warung Kosim.
Setahu Tekya, mama figur ibu rumah tangga yang sangat sibuk. Yang pasti beda sibuknya dibanding wanita karier yang bekerja di kantor. Beliau sudah terbiasa mengurusi segala urusan rumah tangga sendirian tanpa pembantu. Mama juga terlatih merawat dan membesarkan 6 orang anak laki lakinya yang kini mulai beranjak dewasa. Tugas mencuci dan menjemur pakaian, memasak sekaligus menghidangkannya. Menyapu dan mengepel lantai. Sungguh! Mama memang wanita super. Kalau Papa, juga sosok pria istimewa di mata Mama dan Tekya. Walaupun siang malam sibuk bekerja mencari nafkah di kantor, sesibuk sibuknya Papa, tidak sungkan sungkan untuk turun ke dapur membantu meringankan tugas istrinya. Papa juga spesialisasi mengecat rumah, membersihkan halaman serta membetulkan genteng yang bocor. Pokoknya beliau dapat diandalkan. Konon, sedari muda beliau sudah ditinggal wafat ibunya sehingga tidak sempat bermanja manja dan bersantai santai. Masa remaja dihabiskan untuk belajar dan bekerja di sawah. Makanya dulu Papa terkenal kuper dan terkesan pemalu. Tamat SMA Papa sudah merantau dari kampungnya, desa Koto Gadang Maninjau menuju Pulau Bangka guna mengadu nasib menjadi guru di sebuah sekolah militer. Setelah beberapa tahun kemudian Papa ‘terdampar’ di kota Palembang. Melanjutkan kuliah sambil bekera di sebuah bank peninggalan jaman Belanda. Papa merasa cocok di kota pempek ini sampai sekarang.

Papa terlahir dari keluarga sederhana namun sangat religius dan sangat menghormati adat istiadat. Selepas maghrib jadwal tetap Papa bersama dengan teman-teman seusianya pergi mengaji di surau dekat rumah mereka. Bukan karena Kakek tak pandai mengaji lho. Karena Kakek, selain ingin anaknya bendapatkan ilmu tajwid yang benar juga tujuannya menanamkan sikap berani, sosial dan bertanggungawab.

Jika ketahuan kakek sengaja meninggalkan sholat kakinya langsung dipecut derngan sapu lidi. Kadang sampai merah. Demi menegakkan aturan agama Kakek tidak pernah main main. Menurut Kakek sholat itu masalah krusial. Teramat penting. Selain sebagai tiang agama, Sholat juga mengajarkan kedisiplinan waktu dan membentuk akhlak dan moral seseorang menjadi mulia di mata sang Khalik. Beliau tidak segan segan mengusir Papa. Kakek terkenal tegas dan disiplin. Oh ya, diam diam ternyata kakek Tekya memiliki ilmu putih. Ilmu yang didapat langsung dari kehendak Tuhan. Tidak semua orang mendapatkannya. Pernah suatu ketika, ini Mama yang cerita, Kakek pernah membuat dua orang pencuri kala itu tidak berkutik saat hendak mencuri padi di sawah milik keluarga mereka.

Ceritanya begini. Pada saat memasuki musim panen, suatu siang Kakek terkejut mendapati keadaan sawah garapannya acak acakan. Amburadul tak karuan. Centangparenang kalau bahasa Minangnya. Tidak karuan. Banyak padi yang sudah terpotong potong dan tercabut dari akarnya. Bahkan beberapa karung gabah ikut raib digasak pencuri. Sejenak Kakek berdiam diri di kamar berdoa dan bermunajat. Tak lupa memperbanyak sholat sunnah dan shalawat. Setelah membaca bathin Kakek hanya tersenyum ketika keluar dari kamar ‘pertapaan’nya. Seakan akan telah terkuak siapa dalangnya. Hingga akhirnya terdengar kabar pencuri telah tertangkap basah saat kembali memulai aksinya. Mereka ditemukan dalam keadaan berdiri mematung. Kaku. Persis patung maniken di mall mall. Hanya mata mereka saja bisa melirik sana sini. Setelah diikat oleh warga kemudian dibawa dan digiring ke rumah Kakek. Selidik punya selidik ternyata si pencuri masih ada hubungan keluarga. Kakek geram dan malu sekali. Singkat cerita peristiwa ini langsung tersebar. Nama Kakek jadi kesohor. Warga tidak mengira di balik kedisiplinan dan kealimannya ternyata memliki ilmu juga. Ketidak ditanya asal usul beliau mendapatkan ilmu sehebat itu. Kakek Cuma tersenyum lalu berbisik…ini ilmu dari Allah. Walaupun sudah terlanjur naik daun tapi pribadi Kakek tetap anggun.

Sampai dimana ya tadi? Aha..Desa Papa terletak di pelosok pinggiran danau Maninjau, Sumatera Barat. Sebagian penduduknya mengandalkan hasil hasil pertanian. Pemandangan disana sungguh indah dan bersuhu sejuk. Tekya dan keluarganya sudah tiga kali mudik ke sana. Maih ingat di benak Tekya, bagaimana asiknya mandi di pancuran sambil berenang, bermain di pematang sawah, berburu hama babi hutan bahkan menjelajah hutan mencari durian runtuh. Sungguh menyenangkan.
Keluarga Tekya dulu pernah mempunyai seorang pembantu, tapi minta berhenti karena sudah dimakan usia alias sudah nenek nenek. Kasihan. Pernah sekali waktu sang papa menawarkan untuk mencarikan pembantu pengganti. Mama menolak halus. Mending uangnya buat tambahin uang belanja, alasannya. Untuk saat ini, Mama lebih asik bekera sendiri. Belum lagi di zaman sekarang para pembokat pada belagu dan jual mahal. Minta gajinya juga nggak mikir mikir. Padahal segala kebutuhan dari makan sehari hari sampai kosmetika juga dipenuhi. Percuma dong kalau kerjanya standar saja. Tersinggung sedikit langsung minggat.

Seiring makin tumbuh dewasanya anak anak mereka, maka sudah barang tentu tenaga nya bisa dimanfaatkan. Pekerjaan rumah tangga yang semula berat mulai terasa ringan bila dikerjakan secara gotong royong. Sebab Mama punya tips khusus. Mengatur pembagian tugas. Ya, tiap anak khususnya yang sudah duduk di kelas 1 SMP ke atas mulai kebagian jatah. Biar terbiasalah.

Papa sangat mensuport ide cemerlang istrinya. Papa bilang anak jangan terlalu dimanja, kelak dewasa mereka tak bisa apa apa bila tidak dilatih mengerjakan pekeraan rumah tangga sedini mungkin. Menjalani kehidupan jangan bergantung dengan seseorang. Ya itung itung mengajarkan kepada anak untuk belajar disiplin dan bertanggungawab. Sekaligus merasakan betapa tidak gampangnya menjadi ibu rumah tangga. Menurut Papa lagi, menjadi sosok seorang ibu rumah tangga lebih mulia ketimbang wanita karir. Beda banget kwalitas anak yang di asuh oleh pembantu maupun baby sitter.

Kawatir nanti dicap sebagai pembantu rumahtangga sudah bukan jamannya lagi Lantaran meringankan pekerjaan Mama di dapur. Ataupun tugas tugas lain seperti memasak, menyapu, merapikan tempat tidur, mengepel lantai, mencuci piring, mengganti genteng yang bocor sampai mencuci mobil sudah berlaku di keluarga di negara eropa. Mengapa? Karena di sana tidak gampang mendapatkan pembantu lho. Sudah itu kita perlu merogoh kocek dalam dalam untuk menggaji mereka. Jadi, sudah bisa ditebaklah…Hanya orang orang dari kalangan ningrat yang mampu memperkerjakan pembantu. Sekelas bintang hollywoodpun mikir dua kali dalam hal ini.

Pagi itu masih gelap. Lampu tiang di jalan raya masih dibiarkan menyala. Angin pagi dingin menusuk sekali. Lantaran guyuran hujan semalam. Makanya jalan masih terlihat basah dan agak licin.
Sesosok remaja baru turun dari angkot berwarna merah, yang berhenti persis di depan pintu gerbang kampus yang sudah menganga lebar. Setelah membayar sejumlah uang receh ke sopir, sang remajapun buru buru sembari berlari kecil menuju sebuah gedung berlantai tiga. Sebelum memasuki halaman, tepat di depan pintu gerbang, Tekya memandan.g plang billboard kampusnya penuh bangga. Disitu tertera nama kamspusnya, “ Univiersitas Jembatan Ampera”atau UMBARA,status disamakan. Walaupun nama itu kampus membingungkan dan kurang intelek, akan tetapi peminatnya selalu meningkat dari tahun ke tahun. Karena termasuk kampus terpandang di kota Palembang. Lokasinya strategis, tidak begitu jauh bila ingin menyentuh pusat kota. Istilah kata ‘ Trisaktinya Jakarta’ deh. Bonafit nggak tuh. Kebanyakan yang nyemplung di sana anak orang kaya. Tapi anak anak orang sederhana juga tidak kalah banyak. Tekya, contohnya. Tidak kaya tapi penuh kesederhanaan. Satu lagi, antara nama dan lokasi kampus ini sangat nggak nyambung banget. Kampusnya dimana… jembatan amperanya juga dimana…sama sama jauh deh. Hehe..

Di sisi kiri, terbentang gedung auditorium yang lumayan panjang untuk tempat pertemuan dan ruang kuliah umum. Akhirnya kesampean juga jadi anak kuliahan, pikirnya. Remaja tadi bernama Tekya. Kali ini dandanannya sama sekali tidak mirip sama mahasiswa kebanyakan. Biasanya stelan anak kampus mengenakan t-shirt atau kemaja lengan pendek dan berkerah. Dipadu dengan bawahan celana berbahan kain ataupun jean. Sepatunya bisa ventofel bisa kets. Asal jangan pakai sandal jepit nanti malah diusir rektornya.

Dengan menjinjing barang barang atribut OSPEK di dalam dua buddy bag, sebelum mencapai depan pintu gerbang kampus Tekya bertemu dan bergabung dengan beberapa peserta lain. Karena belum sempat berkenalan Tekya hanya senyam senyum saja. Maklum sama sama senasib dan sependeritaan.
“ Hallo Coy.” Tekya memberanikan diri menyapa anak laki laki di sampingnya. “Dari rumah jam berapa kamu?”
“ Hallo juga. Habis subuh langsung cabut. Kamu?” Anak itu membalas sapaan dengan kurang semangat. Sesekali menguap lebar.
“Sama. Nyaris saya tadi nggak dapat oplet.”
“Kalo tempat saya oplet sudah banyak yang ngetem pagi pagi.”
“Emang tinggal di mana?”
“Saya di Sekip ujung.”
“Oh. Saya di Bukit besar sebelum UNSRI.”
“UNSRI? Kanapa nggak ngampus di sana aja coy. Kan malah deket?”
“Saya nggak lolos UMPTN. Lagipula saya nggak milih UNSRI. May be mau mencoba tahun depan aja.”
“Kamu maunya di luar Palembang toh? Oh, kalau saya sudah males. Takut rugi umur.” Anak itu menguap lagi. Kali ini dia gagal menutup mulutnya sehingga baunya menyebar kemana mana. Tekya geli melihatnya, langsung nyeletuk.
“ Ada bola semalam ya?”
“ Eh nggak. Emang ada bola ya semalam? Mati aku ketiduran. Seru nggak? Siapa lawan siapa coy? Champion apa liga Inggris sih.”
“ Ah nggak ada kok.”
“Semalam saya habis begadang sama ayah memperbaiki pompa air kami yang ngadat. Makanya masih ngantuk banget karena kurang tidur….”

Saking asiknya mengobrol, mereka tidak sadar bahwa dari kejauhan, tepatnya dari arah belakang terdengar suara teriakan fals dari salah seorang kakak senior di antara kerumunan panitia yang duduk duduk santai di bawah tenda biru, yang sudah sedari subuh mangkal di pos OSPEK tersebut. Jauhnya jarak menyebabkan suaranya terdengar sayup sayup tak terdengar. Tekya dan kawannya tentu saja cuwek. Mereka terus saja berjalan.
“ Heyy semprul! Cepetan jalannya, malah ngobrol. Cepeeeettt!! Kakak senior berwajah culun berteriak lagi sambil melambaikan tangannya. Nada suaranya terdengar kesal. Mukanya yang tidak ada bakat seram sengaja dibikin sangar. Tapi tetap saja Tekya takut.
Tekya dan temannya buru buru mendekati.
“ Ada apa kakak?”
“Ada apa ada apa? Bagus ya. Masih baru saja sudah pada bolot. Gosipin siapa sih asik banget ngobrolnya? Sampai nggak denger dipanggil sama seniornya. Hallo!” Sang senior mengusap ngusap jenggotnya yang tumbuh jarang jarang sembari memandang dengan mata melotot. “Kenapa jalannya pelan kayak siput sih. Kebayang nggak sih tenggorokan saya kering tadi teriak teriak manggil kalian?
“Waduh, nggak kebayang kak.” Jawab Tekya spontan.
“Nggak perlu dijawab, tahu! Siapa suruh, hah?!”
“Bukannya tadi….” Teman Tekya mencoba membela diri.
“Maaf Kak. Kami kira….” Tekya mencoba membantu sohibnya dengan terbata bata.

Ternyata hari pertama sudah dihiasi dengan muka muka galak para senior dengan suara yang meraung raung. Belum sempat menyelesaikan ucapannya…

“Sudah, jangan nyari alasan deh!” Potong kakak mahasiswi senior mencoba menetralisir suasana.”Ayo cepat masuk barisan. Cepat cepat cepat…!” Beliau berteriak sambil menirukan prajurit yang sedang berjalan di tempat dalam tempo cepat. Untuk sementara waktu Tekya dan kawannya dapat bernafas lega.

Tekya dan teman barunya langsung siap siap untuk angkat kaki untuk kemudian membaur dengan rekan rekan OSPEK yang lain. Tiba tiba…
“ Eit nanti dulu. Mereka belum dikasih hukuman, Rosid.”
“Rosida, tahu! Rosid nama Bapakku.”
“Iya tahu. Kamu jangan ikut campur ya. Ini ogut coy.”
“Terserah kamu Dung. Acara pembukaan sedetik lagi akan dimulai. Tuh..Pak Rektor lagi beralan menuju mimbar. Semua peserta sudah berkumpul semua. Teman panitia juga. Kalau ada apa apa kusalahin kau ya?”
Kak senior yang bernama Dudung akhirnya menyerah juga. Dengan berat hati beliau melepaskan buaruannya. Tekya dan Arman.

Pada siang hari, ketika semua peserta OSPEK sedang beristirahat santap siang. Dudung berjumpa lagi dengan Tekya dan Arman yang hendak memulai membuka perbekalan mereka.. Dudung tidak menyia nyiakan kesempatan yang berharga ini yaitu…untuk melanjutkan menginterograsi buruannya yang terlepas tadi. Ya, gara gara si Rosidah, hukuman push up gagal total dilaksanakan. Dudung mempuinyai prinsip jika melakukan suatu pekerjaan harus tuntas. Kalau tidak dia tidak akan puas dan susah tidur. Aneh? Apa hubungannya dong..

“Hallo. Be-Belum pada makan kan?” Tanya Dudung agak terburu buru sambil celingak celinguk. Takut aksinya dipergoki Rosidah.
“Baru mau akan Kak.”
“Bagus. Ayo, sebelum makan ada baiknya kalian push up terlebih dahulu ya. Biar sehat sehingga nafsu makan meningkat sehingga lahap makannya. Sudah. Jangan tanya nyambung apa tidak kata kataku tadi. Hehehe.”
“Ayo push up sekarang 25 kali. Laksanakan!”
“Waduh. Sebentar dulu Kak, kebanyakan tuh. Boleh nawar nggak? 10 kali aja ya. Please…” Pinta Arman dengan muka memelas seraya memohon mohon. Tanpa sengaja saat ingin melangkah menghampiri dengkulnya Dudung, kakinya kesenggol pot bunga kecil, sehingga tak ayal lagi kepala Arman menyeruduk ‘anu’nya Dudung. Dudung meringis kesakitan. Dia berjingkrak jingkrak kecil. Wajahnya berubah merah merona, dan akhirnya terdengar teriakan keras membahana. Beberapa orang siswa melihat ke arah mereka sambil terbengong bengong. Ada juga yang tersedak saat makan saking kagetnya.
“Adawww!!!
“ Kira kira dong. Kau ingin merusak kejantananku ya? Aduhhh buyunggku. Kau nggak apa apa kan?”
“ Maaf Kak sengaja eh nggak sengaja kok.”
Setelah sakitnya dirasakan berkurang, Dudung kembali berdiri tegap dan berkata.
“ Huh. Sampai dimana pembicaraan kita tadi? Oh ya…Kita ini sedang OSPEK, bukan di Pasar Cinde. Pakai nawar segala.”
“Masalahnya kan kami belum makan.” Arman membela diri. “Mana kuat dong. Kalau teradi apa apa Kakak mau bertanggung jawab?”
“Emang kalian hamil? Kok saya harus tanggungjawab.”
“Please…”Rengek Tekya sembari mengelus perutnya yang kempes.
“Bener juga ya. Oke oke. Ya udah saya kasih keringanan deh. 15 kali. Cepat! Nggak boleh nawar lagi.”

Keduanyapun langsung mengambil ancang ancang. Lalu…tu..wa…ga…pat.

Hari pertama OSPEK berjalan tidak begitu mulus. Rundown acaranya banyak yang kacau alias tidak tepat waktu. Seperti pagi itu masih banyak peserta yang datang terlambat dengan alasan bervariasi. Padahal hampir 80 persen dari mereka datang ke kampus dengan mengendarai mobil pribadi. Sisanya diantar sopir dan naik kendaraan umum. Kenapa kok bisa telat? Seperti diceritakan di awal, rata rata yang berkuliah di UJA adalah anak anak orang kaya. Anak pengusaha dan pejabat. Mungkin karena predikat kaya itulah menjadikan mereka makhluk yang jauh dari aktivitas berat, jaga gengsi, manja dan kadang kebal terhadap hukuman. Sepucuk surat katabelece dari orangtua mereka dapat merontokkan sebuah tembok peraturan tinggi dan kokoh sekalipun, yang diberlakukan di kampus. Terlebih lagi jika orangtuanya termasuk sebagai donatur setia kampus kudu mendapatkan perlakuan istimewa dong. Jangankan panitia OSPEK yang notabene kebanyakan diminati anak anak kalangan sederhana, para dosen atau bahkan rektor pun sungkan. Mereka pura pura tidak tahu dan hanya memilih diam saja daripada kehilangan donatur setia.
Salutnya…UJA ternyata mempunyai sisi malaikat juga. Tidak melulu memikirkan materi.atau duit semata akan tetapi peduli juga terhadap mahasiswa yang kurang mampu. Bagi yang berprestasi diberikan beasiswa.

Karena selain kampusnya terletak di lokasi startegis di pusat kota Palembang, gedungnya megah dan mentereng. Halamannya luas banget, itu sih kalau digabung sama lapangan sepak bola yang lokasinya terletak di seberang kampus. Kirain?.

Ya, kata tialah sebuah kata telat yang akrab di telinga dan pernah dialami semua orang. Termasuk peserta OSPEK di kampus UJA. dan Alhasil waktu banyak terbuang untuk sesuatu yang tidak jelas, Panitia diwanti-wanti oleh Pembantu Rektor untuk tidak bertindak gegabah. Selalu menekankan kehati hatian dalam memberikan hukuman kepada siswa. Terlebih bagi calon siswa yang mengidap penyakit tertentu sehingga dirasa perlu diperiksa dulu di klinik kampus.
Para peserta yang terkena hukuman karena melanggar disuruh berlari memutari lapangan sepak bola yang terletak di depan gedung kampus sebanyak satu putaran. So pasti sanksi ini diperuntukkan bagi kaum laki laki. Untuk perempuan cukup mengelilingi lapangan basket tapi berkali kali. Lho? Just kidding.
Sanksi disuruh berlari kali ini terasa beda dan berat. Betapa tidak? Berlari dengan membawa sebuah ember yang diberi seutas tali kemudian dililitkan pada leher masing masing anak. Pura puranya mengenakan kalung ember. Tidak itu saja, di telinga mereka diselipkan sekuntum bunga tahi ayam yang beraroma tidak sedap. Amboy. Panitia juga memaksa terhukum untuk bertingkah seakan akan mereka berbahagia dan riang gembira melewati hukuman ini. Walaupun nafas mereka ngos ngosan. Capek tapi happy? Sehingga pemandangan unik ini memancing para penonton untuk tidak sanggung menahan tawa. Kesulitan tingkat tinggi itu adalah untuk tetap berlari dengan mimik muka tanpa dosa. Mana mungkin? Sedangkan kucuran keringat yang keluar bagai butiran kelereng kelereng yang tumpah ruah membasahi jidat serta punggung mereka. Basah kuyup. Pastinya.

Tuham maha Penyanyang sehingga atas izin-Nya cuaca saat itu diberikan keademan, karena sinar matahari tertutup oleh awan.

Hari berganti hari. Tanpa terasa OSPEK pun memeasuki hari terakhir. Derita pasti ada akhirnya. Begitu pula harapan Tekya bersama teman temannya. Tapi jujur begitu makin ke sini, Tekya baru merasakan OSPEK kali ini tidak seseram yang dibayangkan di awal. Ternyata di sela sela hiruk pikuk hajatan yang digelar pihak kampus itu terselip juga pelajaran nan berharga seperti memupuk rasa persaudaraan antar sesama, mengambil keputusan dalam suatu masalah, menjaga kekompakan tim dalam melewati berbagai rintangan, mempergunakan akal maupun pikiran dalam menganalisa, melatih keberanian dan menguji ketangkasan di setiap permainan, memupuk rasa empati dan setia kawan dan lain lain. Ternyata di balik kegarangan para senior masih tersimpan juga rasa solidaritasnya. Seperti saat Arman nyaris terpeleset ketika hendak

Iklan

4 thoughts on “KAMPUS…..IING!!! (CERITA SUKA DUKA ANAK KULIAHAN/ COLLEGE STORIES

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s