TETANGGA MASA GITU ? dalam KENA TILANG 86

TMG KT86

(poto dari Net TV di google)

Oleh : Deddy Azwar
Pada suatu siang di hari Sabtu, Adi pulang ke rumahnya dalam keadaan tergopoh gopoh Napasnya tampak sekali ngos ngosan. Saking terburu-buru, bukannya langsung mengetuk pintu rumahnya melainkan malah menggedor gedor kaca jendela. Wajahnya sampai di lengket-lengetin di kaca sampai kempot. Idih, lucu sekali mirip badut Ancol.
“Angel! Angel! Buka pintu! Buka pintunya Angel!” teriaknya sembari tetap memukul mukul kaca jendela.
Angel yang tengah sibuk memasak telor ceplok di dapur tentu saja kaget bukan kepalang. Sampai sampai dia mau nemplok di dinding. Tapi tidak bisa. Baru sadar bahwa dia bukanlah Spiderwoman. Alat spatula terlepas dari genggaman terbang hampir menyentuh langit langit dapur.
Angel langsung mencari sumber suara yang membuatnya senewen. Sampai lupa memetikan kompor terlebih dahulu.        “Ternyata kamu Di! Apa apan sih pakai teriak-teriak kayak kesetanan begitu? Hey, kamu sudah lupa pintu rumah kita? Awas ya, kalau kacanya pecah anggaran melukismu dipotong. Mau?”
Adi tentu saja tidak mendengar ancaman istrinya karena dia masih di luar rumah. Masih sibuk teriak teriak.
“Angel! Buka dong Angel! Ini Saya suamimu….Angel.” Angel segera membuka pintu dan segera menarik suaminya ke dalam rumah. Ketika hendak menutup pintu Angel sempat tersenyum kecut melihat sekilas ke arah Bastian dan Bintang, tetangganya, yang sedari tadi mengintip dari depan pagar. Bintang melambaikan tangan. Pluk! Pintu ditutup.
Tidak lama kemudian. Adi sudah berada di kursi ruang tamu. Nafasnya sudah mulai bisa diatur.
Di kediaman Bastian dan Bintang.
“Bi…Suara cemprengnya Adi benar benar bikin aku kaget. Sumpah deh!” Ucap Bastian ketika mereka baru memasuki ruang dapur.
“Aku juga Bas. Sampai menganggu acara nonton DVD kita.”
“Gawat Bi..” Filmnya lupa di pause deh.”
“Gampang Bas..kita tidak sedang menonton siarang langsung, bukan? Kan bisa di previous atau direplay sayang.”
“Oh iya ya. Kamu memang pintar Bi..”Rayu Bastian sambil mencubit dagu istrinya.”Yuk, kita nonton lagi.”
Ketika tiba di ruang tamu keduanya kaget saat mengetahui lampu telah mati.
“Kenapa dimatiin pas hari libur sih..PLN tidak tahu apa kita lagi nyetel DVD. Huuu…” ujar Bintang dongkol. Keduanya tampak sangat kecewa.
Kita kembali ke Rumah Adi dan Angel.
“Sekarang ceritain kenapa kamu mirip orang stress tadi. Teriak nggak karuan.
Para tetangga pada kaget tahu?!.”
“Ini gara gara kamu juga sih….Angel.”
“Lho kok malah aku disalahin?
“Iya Kamu. Gara gara Kamu menyuruh Aku membeli bumbu masak sih. Nggak taunya di sana pas ada razia Polantas. Kena deh aku.”
“Kok bisa? Aku kan suruh beli ke warung Mpok Belinda. Cukup berjalan kaki toh. Kenapa musti jauh-jauh ke supermarket. Salah sendiri.”
“Kok saya lagi disalahin.” Tuh…kan selalu saja Aku salaaah.”
“Iyalah. Saya merasa aneh saja. Bingung gitu. Masak sih orang berjalan kaki bisa kena tilang polisi.”
“Di warung habis bumbunya Angel. Jadi sebagai suami yang tidak mau mengecawakan istrinya. Aku berusaha mencari di luar komplek. Karena jaraknya cukup jauh saya mengendarai motor.”
“Terus….”
“Akibat buru buru saya tak sempat bawa kelengkapan surat surat kendaraan. Apalagi mengenakan helm. Paham? Mana tiga hari lagi Aku harus sidang nih…”
“Lalu….”
“Tolong siapkan saja biaya sidangnya ya. Please…please Angel.”
“Apa apaan sih Kamu sih Di…Usaha gitu. Ajak damai dong. Jadi Kamu nggak perlu capek-capek menghadiri sidang kan…Hemat tenaga dan uang.”
“Nyogok maksud kamu? Duit dari mana? Hari gini. Aku bukan tipe begitu. Masak kamu ngajarin yang nggak-nggak sih.”
“Gimana caranya damai tanpa harus keluar uang.”
“Nggak bisa. Dasar pelit. Kamu lucu Angel. Aku kan kamu kasih uang pas pasan. Boro-boro. Kamu mau tahu nggak siapa yang menilang saya tadi Angel?”
“Satpam? Hansippp? Pakai tanya lagi ya so pasti Polisi kan?”
“Iya. Polisi dari tim 86 Angel…”
“Oh ya??? 86 dari Net Tv? So sweet…eh maksudnya supriseee. Kamu bakalan masuk teve dong Di? Wah bisa terkenal seantero komplek tuh…”goda Angel.
“Kamu keterlaluan Angel. Happy di atas kesusahan orang lain”
“Ya sudah nanti Aku kasih uangnya. Gampangkan…Tinggal potong anggaran kuas dan kanvas.”
“Apes nasibku.”
“Sekarang mana bumbunya? Buruan, Aku mau melanjutkan memasak.”
“Bumbu??” Oh my God!!
Adi tidak langsung menjawab pertanyaan istrinya tetapi setelah menepuk jidatnya, beliau langsung ke luar rumah sambil teriak…”Gawat bin Cawat! Bumbunya ketinggalan di pos Polisi!!”
Semenit kemudian dia telah hilang di balik pintu. Angel pun baru sadar dan teringat akan masakannya. Ternyata ketika melihat ke wajan ternyata telor ceploknya telah gosong. Aduh!
Ketika malam menjelang. Bastian dan Bintang masih terpaku di sudut meja makan. Mereka tengah menikmati makan malam hanya diterangi sebatang cahaya lilin saja. Ya..ternyata listrik masih padam. Padahal sudah pukul delapan.
“Bi…kita nggak punya batang lilin lagi? tanya Bastian sambil menyuap nasi.
Bintang menggeleng lemas.
“Sepertinya pemadaman listrik malam ini bakalan lama Bi… ”
“Sudahlah sayang nikmati saja. Anggap aja candle light dinner.“
“Apa? Candled dinner? Tapi kali ini nggak ada romantismenya sama sekali. Yang ada aku makin stress dan kesal.    Lagipula dalam keadaan gelap begini bisa-bisa saya salah makan lho Bi…”
Bastian tetap mengomel dan mengeluh dengan mulut dalam kondisi mengunyah makanan.
“Kamu tahu nggak? Aku tadi mau mengambil sendok terambil garpu. Mau ambil daging semur ke ambil jahe. Mau…..waduhh ini apa ya. Pedass..pedas banget, Biii, aku termakan cabeeee. Minum minum minummm!! Bastian ternyata telah terkunyah cabe hijau yang semula disangkanya mentimun. Ketika hendak berjalan menuju kulkas untuk mengambil sebotol air dingin. Tanpa sengaja kakinya tersandung kaki milik istrinya yang sedang terjulur. Bastian pun terjatuh dan untungnya terlempar ke sofa empuk.
“Ini malam minggu kelabuuuuu!!” teriaknya sambil mengaduh kesakitan. Diiringi suara lirih Bintang meminta maaf.
“Maaf ya Bas. Tadi kakiku pegal, makanya aku luruskan.”
Di lokasi lain, tepatnya di ruang makan Adi dan Angel sedang makan malam juga. Sedari tadi mereka terus mengamati dua buah telor ceplok yang telah berwarna kehitam hitaman di sebuah piring tepat di hadapan. Untuk beberapa saat keduanya saling berpandangan. Lalu menunduk lunglay.
“Angel, aku ada usul bagaimana kalau kamu masak mie instan. Biar ada kuahnya deh. Masak malam ini kita hanya makan seonggok telor gosong ini. Selain tidak elok dipandang. Tidak mengeyangkan pula.” Adi sedikit merayu.
“Setuju. Asal kamu yang masak. Aku lagi nggak mood. Anggap saja untuk menebus kesalahan kamu tadi siang.”
“Aku? Kamu saja Angel. Mie instant bikin kamu enak lho.”
“Nggak usah merayu deh. Sekali nggak tetap nggak. Ayo cepetan deh aku sudah lapar nih.”
“Oke oke. Aku akan masak mie dengan rasa…ala kadarnya…”
“Usahakan dong biar enak.”
Setelah selesai menyantap hidangan malam yang “istimewah” itu. Adi dan Angel bersiap siap menuju ke kamar tidur. Tiba tiba handphone milik Angel berbunyi. Ternyata dari Bintang, tetangga sebelah. Tampaknya Angel tengah berbicara serius. Sedangkan Adi lagi asik memencet tombol tombol remote control televisi. Diam-diam dia ingin melihat program 86. Sebuah tayangan seru terkait dunia kepolisian. Adi tiba tiba jadi teringat kejadian tadi siang sewaktu kena tilang oleh Tim 86. Tadi, kata juru kamera yang meliput akan ditayangkan malam nanti. Dia penasaran sekali seperti apa sih tampangnya saat kena tilang nongol di televisi. Hehe.
“Siapa yang telpon tadi Angel?” tanya Adi setelah melihat istrinya mematikan handphonenya.
“Bintang.”
“Bintang? Tumben malam malam.”
“Dia menanyakan apakah di tempat kita listriknya padam juga? Terus aku jawab nggak. Dia mengira kita menggunakan emergency lamp. Bastian melihat jendela kamar tidur kita kok terang benderang. Terus aku minta Dia coba periksa kotak sakelar sekering listriknya. Mungkin ada yang konslet jadi turun deh.”
“ Ya Angel..kenapa kamu kasih tahu caranya.”
“Ya harus dong. Tetangga dalam kesulitan kita wajib membantu. Begitulah kehidupan bertetangga Di…Kok kamu aneh malah sinis begitu. Tunggu, aku jadi curiga…jangan jangan kamu yang usil menurunkan sekering mereka ya? Ayo ngaku? Enam bulan yang lalu kamu ketangkap basah Bintang mematikan lampu mereka saat perayaan ulang tahun Bastian hanya gara gara kamu nggak kebagian siomay. Ingat kan?”
“Oke. Memang aku yang melakukannya Angel. Aku khawatir mereka menonton Aku kena tilang di delapan enam. Aku takut jadi bahan ledekan mereka nanti. Kan malu Angel.”
Angel hanya geleng geleng kepala sambil tersenyum meihat ulah suaminya. Ketika Adi mematikan teve. Angel mendadak protes.
“Nyalakan lagi tevenya Di…Aku mau lihat tampang kami di 86. Hehehe.”
“Ya udah kamu nonton aja sendiri. Aku ogah. Selamat tidur, istriku.” Padahal Angel tahu bahwa suaminya belum mengantuk. Melihat dari posisi tidurnya yang nggak biasa biasanya. Posisi tengkurap, seluruh bagian tubuhnya ditutup selimut.
Bintang dan Bastian sedang tertawa cekikan saat menonton program 86 di Net TV. Ada apakah gerangan? Ternyata alasannya tidak lain dan tidak bukan karena melihat raut mukanya Adi saat memohon mohon supaya tidak ditilang oleh Bapak dan Ibu Polisi. Mereka berdua tidak menyadari kalau gaungan suara tertawa mereka terbawa oleh angin malam dan akhirnya masuk ke telinga Adi. Secara rekflek Adi menutup telinganya dengan bantal dalam dalam…

Bintaro, Tangerang Maret 2015
(diikutkan lomba mengarang cerita TMG di Net TV)
TMG KT86

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s