SERIAL “OFFICE ALONE” (KESEPIAN DI KANTOR) dalam judul SORE SORE TAK JADI HORE HORE

5540_1118927770339_6693016_n

Oleh : Deddy Azwar
Pukul 07.15 pagi hari Jum’at.
Agan memacu motornya dengan cukup kencang. Jarum berwarna merah di spedometer sudah mencapai 80 kilometer. Deru mesinnya meraung raung, laksana bunyi mesin pemotong rumput diesel. Mendekati tikungan tajam, sembari bergaya bak pembalap sirkuit dia menurunkan kecepatan dengan mengendorkan pedal gasnya. Sesaat kemudian, di hadapan Agan terbentang sebuah kontur jalanan yang menanjak lalu menurun sedikit dan berbelok tajam. Dengan serta merta beliau membelokkan stang motornya ke kiri dengan tingkat kemiringan yang optimal. Layaknya biker MotoGP yang hendak melewati rintangan sulit, sejatinya harus menurunkan tingkat kecepatan, namun tidak demikian bagi ‘setan jalanan’. Makin ngebut di tikungan makin asik. Sebuah keputusan cepat dengan perhitungan akurat akan dapat menyelesaikannya. Adalah kepuasan tersendiri nan tiada tara jika dapat menundukkannya. Bagian ini si pengendara wajib memiliki keahlian khusus yang bisa dipelajari atau sudah dari sononyo jago (otodidak). Terlebih lebih jika dengkul si pembalap menyentuh aspal dalam keadaan posisi miring.
Ketika memasuki kawasan perkantoran dimana lokasi tempat dia berkerja. Agan sedikit ngedumel saat menemukan keramaian di pintu gerbang belakang gedung tersebut. Apakah yang terjadi? Mengapa begitu banyak orang ya? Oh..Agan langsung teringat tulisan chat disertai attachment gambar via whats app yang dikirim Kang Bidin subuh tadi, yang mengabarkan ada kebakaran kecil di area gedung kantor tetangga.
“Mas Agan…Mas Agan…!” terdengar suara wanita memanggil manggil namanya. Agan yang baru saja mendaratkan pantatnya di kursi langsung menoleh mencari sumber suara. Celingak celinguk.
“Cihuyy…Aku di siniiii…” suara itu terdengar lagi. Agak manja.
“Idiih. Kok bisa ya ada suara tanpa rupa. Siapapun wujudmu tunjukkanlah wahai makhluk…”ancam Agan sedikit bercanda. Beberapa rekan kerja ada yang terkejut. Agan menduga suara tersebut berasal dari arah pantry.
Ternyata tebakan Agan benar, mendadak kepala Mba Mimi nongol dari balik pintu pantry sambil masih keukeh terus memanggil seraya melambaikan tangannya.
“Eh Mba Mimi ya yang panggil saya. Ada apa? Kenapa ada di sono sih?”
“Ngomong ngomong telat nggak?” Mba Mimi meninggikan nada suaranya.
“Nyarisss. Lagi sarapan ya Mba?”
“Nggak kok. Lagi ngangetin lasagna….Aku begitu denger kabar gedung sebelah terbakar langsung berusaha datangnya pagi pagi. Takut kenapa napa.
“Aku lupa Mba. Bukannya nggak baca wasap grup kita. Sadarnya pas melihat ada rame rame di bawah tadi. Emang apa yang terjadi sih?”
“Gensetnya terbakar Gan..Mungkin kurang dirawat dan dikontrol.”
Belum sempet Mba Mimi menjawab, tiba tiba terdengar suara dari bilik kaca. Ternyata si Bram muncul sambil membawa lembaran kertas dari mesin facsimile.
“Oh lo Bram. Tumben datang pagi. Hehehe…”
“He-eh Gan.Tadi saya bareng istri. Dia mulai masuk kerja hari ini.”
“Ohh. Si kecil diasuh siapa?”
“Sama ibu mertua. Kita kan sama sama kerja.”
Mba Mimi lari lari kecil mendekati.
“Idiih pada tega ya jadi ngelupain saya di pantry.” Mba Mimi menghampiri Agan dan Bram.
“Lagian siapa suruh di situ lama lama. Kayak ayam bertelor aja. Udahan makan lasagnanya?”
Mba Mimi mengangguk. “Orang porsinya hanya sedikit. Kalau banyak pasti saya bagi bagi deh.”
“Oh ya hari ini kan kabarnya ada bubur gretongan lho?” tanya Juned yang baru datang dan langsung melepaskan tas ranselnya berwarna hitam. Mengucek ngucek matanya. Lalu menguap.
Mba Mimi, Agan dan Bram meloncat kegirangan. “Ah masa? Beneran Jun?”
“Pada nggak bace email ya?”
“Asiikkkk!!”
Lima menit kemudian terdengar microphone internal / pengeras suara gedung berkumandang memberitahukan kepada seisi gedung untuk tetap berjaga jaga dan waspada jika kebakaran belum dapat ditanggulangi. Masing masing lantai diharap untuk menjaga serta mengamankan segala bentuk dokumen dokumen berharga.
Setelah pengumuman selesai, giliran Erza yang bersuara dengan vokal yang tak kalah lantangnya.
“Hallo rekan semuanya. Diminta menuju ruangan ke sisi barat sekarang. Akan info penting nih.”
“Penting apaan?. Lagi asik antre bubur nih. Lapar.” Tukas Mba Diana galak
“Antrean bubur gratisnya ditinggal dulu ya? Langsung menuju ruang Etiophia ya..Ada sharing knowledge dari tim dana pensiun.” Teriak Herza, sang panitia.
“Nggak mau! Enak aja. Makan dulu baru info.”
“Ya udah deh, terserah. Pokoknya nyusul ya. Di absen lho.”
Herza pun nyelonong pergi.
“Ternyata semua orang sudah ngantre bubur toh. Pantas ruangan sepiii ya. Kalau soal makanan aja pada tepat waktu” protes Bram sambil mengambil dua tusuk sate jeroan.
“Kirain jalan di Jakarta aja yang macet..Antre bubur juga.”canda Memey.
Menjelang azan Maghrib, Agan segera menuju ke ruang pantry. Agan memang sedang menjalani puasa sunnah syawal setelah lebaran. Dia hendak mempersiapkan makanan berbuka puasa. Kebetulan makanan bubur ayamnya disimpan di dalam kulkas. Namun, sore itu bukannlah hari keberuntungan buat Agan. Ada sedikit cobaan menjelang telah menunggu. Pada saat hendak mengambil mangkok bubur ayam, tangannya tanpa sengaja menyenggol gelas kemasan plastik minuman susu coklat chattime. Tak ampun lagi. Kemasan plastik tersebut pecah dan jatuh berceceran. Padahal lantai pantry terbuat dari papan bukan keramik. Tetap aja tuh plastik buyarr..
“Astagfirullah!” ucap Agan sedikit tertahan. Cepat cepat dia memasukkan bubur ayamnya yang sedingin es tersebut ke dalam Microwave. Setelah menekan tombot hangat durasi 2 menit. Sebelum ke ruang janitor, Agan mampir dulu ke meja Ratnasari, sambil berbisik..” Eh Ratna kamu tahu nggak minuman chattime di kulkas punya siapa?”
“Oh..saya kurang tahu Pak Agan. Coba tanya yang lain deh. Memangnya ada apa Pak?”
“Nggak. Ada musibah kecil.” Jerit Agan sambil berlalu. Meninggalkan Ratna yang masih kebingungan.
Berikutnya Agan mirip petugas Badan Sensus Nasional menanyakan rekannya satu persatu dengan mendatangi meja mereka. Tentunya masih tetap berbisik bisik. Takut ketahuan. Anehnya tiap orang yang ditanya tiada satupun yang mengaku memiliki minuman itu. Agan makin penasaran. Apa mungkin minuman itu milik bos atau jangan jangan titipan milik department sebelah?
Ya udah kalau tidak ada yang punya mungkin punya hantu wewe penunggu gedung kali…Hihihi…Tiba tiba Agan teringat akan lantai pantry yang belum dibersihkan. Dia segera menuju ruang janitor untuk menemui Mba Maimunah, sang office girl. Olili..ternyata si mbak sudah pulang dari tadi. Siapapun tak ditemuinya di ruang janitor. Mau nggak mau suka nggak suka sadar nggak sadar Agan mesti membersihkan lantai seorang diri, sebelum ketahuan Bapak Departmen Head. Atau sebelum Mba Bariah memergokinya. Agan takut diomelin. Bukan rahasia lagi, kalau Mba Bariah ngamuk seolah olah mendengarkan gelombang AM radio berisi suara omelan, sindiran yang pedas nonstop sepanjang siaran. Sungguh tersiksa. Agan inginmenghindari semua itu.
Dengan berjingkrak jingkrak pelan ala detektiv swsta, sambil mengendap ngendap, Agan membawa tongkat pel lantai menyusuri ruangan skat demi skat. Ketika melewati beberapa rekan dari departmen tetangga, dia hanya bisa menekuk mukanya dalam dalam. Agan kawatir aksinya bakal diketahui dan setelah itu diketawain rame rame deh. Huh…jangan sampai hal itu terjadi, bisa berabe. Akan tetapi sepandai pandai tupai melompat bakal ketahuan juga. Pak Oneaw yang asik ngobrol sambil ketawa ketiwi di pojokan menangkap gelagat aneh, dengan cepat dia bertanya “Gan! Ngapain pake bawa pel segala. Rajin Amat. Sejak kapan lu mo gantiin Maimunah? Hah?! Huahua…
“Biasa Bos gerakan kebersihan…Ini tongkat narsis terpanjang di dunia Pak Oneaw.” Ngeles Agan sambil terus berjalan.
Lima menit kemudian.
“Beres!” teriak Agan. Dia sedikit bisa bernafas lega. Lantai sudah tampak bersih dan kinclong. Belum puas memandangi hasil kerjanya…seonggok tubuh gempal dan subur terjatuh di lantai. Gedossrakkk!!! Suara cukup ribut membahana. Mirip gempa bumi. Ruanganpun seakan bergetar. Berbagai dugaan dan tuduhan anehpun bermunculan.
“Ada gempa ya? Ada gempa ya?”
“Siapa yang ngejatuhin kulkas?”
“Kok bisa sih buah durian jatuh di pantry?”
“Kayak bunyi kontainer jatuh?”
“Ada gajah Lampung jatuh ya?
Beberapa orang menghampiri ruang pantry sambil bertanya tanya. Setelah Agan menjelaskan tidak terjadi apa apa baru mereka keluar.
“Tenang. Tidak terjadi apa apa. Silahkan kembali bekerja.”
Tanpa disadari oleh Agan, ternyata air susu coklat yang jatuh setelah dibersihkan, setelah kering, masih meninggalkan bekas licin yang bisa membuat orang tergelincir.
Mas Suton masih mengomel ngomel lantaran jatuh di lantai. “Mimpi apa aku semalem…” keluhnya.
“Maaf bro..Mas sih lantai belum kering main nyelonong bae…. Hihi..Agan tak sanggup menahan gelaknya.
“Untungnya bukan ibu hamil Gan. Bisa bisa kamu dikeroyok Ibu ibu lho.”
“Bener Mas. Aku bersyukur Mas Suton aja yang jadi korbannya. Yang cidera malah lantainya.”
Mereka masih bisa tertawa terpingkal pingkal.
Agan dihampiri Mba Permata.t
“Maapin aku ya Pak Agan kalau ada salah salah kata selama ini..”
“Seharusnya aku yang minta maaf sudah numpahin chattime-nya Mba Permata.”
“Hush! Sudahlah, tidak usah dipikirin lagi. Walau sedih karena sore ini aku berniat meminumnya. Jadi batal deh. Ya cincay lah asal….diganti aja ya. Nggak kok aku bercanda.”
“Bener nih? Terima kasih ya. Rencanaku tadi mau mampir ke Plaza Semanggi biar diganti.”
“Diganti cheese stick aja ya. Hehehe…”
“Oke deh. Aku jadi nggak enak nih, membuat kamu kecewa di hari terakhirmu bekerja di kantor ini. Ngomonh2 kenapa resign sih?”
“Mau fokus jaga anak aja. Masih butuh perhatian Aku. Menjadi ibu rumah tangga aja.”
“Wow..Mulia sekali hatimu. Jangan jangan diterima di tempat lain ya? Atau mau jadi sosialita. Atau mau jadi wiraswastawati…?”
“Masih belum tahu Pak.”
Belum genap delapan tahun bekerja, Mba Permata mantap memutuskan mengakhiri karirnya di kantor Agan. Melepaskan semua aktifitasnya yang selama ini mewarnai hidupnya. Yang membuat pernak pernik dalam kesehariannya. Dulu, dia telah terbiasa tenggelam dalam segala tetek bengek kesibukan. Kini akan ditinggalkannya. Hidup adalah pilihan. Hari harinya selalu dijejeli tugas tugas rutin dari mulai bangun subuh, mengurusi keperluan suami lalu menitipkan anak pada ibu mertuanya yang kebetulan tinggal serumah. Karena orangtuanya sedang ada keperluan di kota Solo. Status sebagai pegawai kadang membosankan kadang rindu canda canda teman kerja.
Keputusan yang dibuat tentulah bukan sesuatu yang ringan. Teramat berat memang. Terasa berat meninggalkan rekan rekan yang telah dianggap sebagai keluarga sendiri. Sekian tahun, dari pagi sampai malam, sampai pagi lagi, suatu siklus hidup yang musti dihadapi dan dijalani, ya karena rekan sekantor adalah sebuah keluarga.
Sekarang…tanpa disadarinya titik titik air mata menetes..Dia berusaha untuk mengeringkan gumpalan gumpalan air mata yang tak henti mengalir. Yang membias serta membuat merah di sekeliling mata bulatnya. Kain sapu tangan terus disapu sapu untuk menahannya…Sedangkan Agan teramat merasa bersalah. Seakan meninggalkan bekas luka di ujung perpisahan ini. Dengan menumpahkan segelas minuman yang akan dijamahnya sore ini. Ahh…
Tugas mulia sebagai sosok ibu rumah tangga telah menanti. Padahal ada banyak ibu ibu yang lain berniat menyusul hanya saja mereka belum mempunyai keberanian untuk merobohkan tembok raksasa itu. Kondisi ekonomi setidaknya menjadi alasan dari sekian puluh alasan. Walaupun ada juga teman yang dengan berat hati dan rela berpisah beda kota bahkan negara dengan suami ataupun istri tercinta demi sebuah pekerjaan dan karir. Sebetulnya tidaklah begitu sehat. Kodrat sebagai wanita kadang suka terlupakan. Berat untuk memilih keluarga atau kantor? Sungguh perlu mempertebal dan memantapkan keyakinan untuk memutuskan sesuatu demi masa depan demi kebahagian bersama. Tentunya dimusyawarahkan dulu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s