SERIAL “OFFICE ALLONE” dalam “LAMPU DISKO KERLAP KERLIP DUA PULUH JUTA UNTUK KAKI”

IMG_20111219_170704

Oleh : Deddy Azwar
SELEPAS jam makan siang. Agan bertemu Kang Bidin, orang Bogor, di depan pintu lift kantor mereka. Kang Bidin, siang itu cara berjalan agak lain dari biasanya. Tidak tegap. Di tangannya menggemgam sebuah kantong kresek transparan berwarna hijau. Lalu terjadilah percakapan.
“Eh Kang Bidin dari mana?” sapa Agan ramah.
“Tadi dari kantin kantor, ambil ini.”jawab Kang Bidin, sembari menunjukkan barang bawaannya.
“Oh.. makanannya dibungkus? Nasi uduk ya?” tebak Agan sok yakin.
“Ini bukan makan siang Agan. Ini alat terapi buat kakiku. Dipinjemin si Entin. Ibu kantin yang jualan ayam bakar kecap itu. Katanya pakai saja dulu. Pesannya tadi, hati hati ya Kang harganya mahal.”
“Mahal? Berapa?” tanya Agan antusias.
“Dua puluh…” bisik si Akang.
“Dua puluh ribu?”
“ Juta..”
Agan terdiam dan agak manyun.”Wow..Juta??.”
Kini, sorot mata Agan tidak lepas mengarah ke bungkusan di tangan Kang Bidin. Agan mulai penasaran. Masak sih barang mahal dibungkus kantong kresek doang. Biasanya ada tas atau kardusnya.
“Ooo. Kakinya kenapa Kang?” Jatuh dari motor gitu?”
“Buka. Penyakit lama suka kumat. Asam urat Gan..”
“Kirain…”
Ding dong! Pintu lift terbuka. Agan dan Kang Bidin beserta beberapa orang masuk bersamaan. Lift membawa mereka ke lantai 22.
Sesampai di lantai yang dituju pintu terbuka.
“Eh, kang ntar aku lihat ya alatnya. Penasaran nih.”
“Boleh aja. Ayuk ke ruangan saya.”
“Nanti aja. Aku kebelet pipis.”
“Ya udah, kucurin aja di sini. Hihi.”
“Gelo’.”
Mereka berpisah di depan meja security.
Sepuluh menit kemudian Agan telah berdiri di hadapan Kang Bidin. Otomatis si Akang sontak, si Agan membuatnya kaget, kirain ada mahkluk halus dari mana tiba tiba nongol.
“Mana kang yang tadi?”
“Apa-an?”
“Alat terapi yang katanya mahal.”
“Nih. Ada di dengkulku. Lagi dipakai.”
Kang Bidin menunjukkan benda yang lebih mirip stoples kecil yang biasanya diisi permen. Bentuk bulat berwarna hijau muda. Di dalamnya, tepatnya di sekeliling bundaran terdapat beberapa lampu yang tak henti berkerlap kerlip. Mirilp lampu disko. Coba kalau ada musiknya. Bisa joget. Klop deh! Di situ tercantum nama mereknya “Bio Set”.
“Lucu ya bentuknya. Buatan China ya?”
“Tau nih. Kayaknya made in Germany.”
“Pake batere?”
“Lha kagak tahu Gua. Dinamo kali. Apa di charge?”
“Pantesan mahal. Terus, dipegangin berapa lama?”
“Dua jem, Gan. Capek juga ya.”
“Menurut Aku, di-ikat aja Kang pakai apa kek. Masak selama dua jam dipegangin mlulu. Pegal juga atuh.”
Mereka tertawa berderai. Tidak lama kemudian Kang Bidin mengikuti saran Agan untuk mengikat alat terapi tersebut dengan sapu tangan. Kini, dia tidak perlu repot repot lagi.
“Pak Bidin, ini ada yang belum di upload. Tulungin..”teriak Yusria manja.
“Siapp maknyusss.”
Kang Bidin berjalan pede menuju meja sistem. Siap melakukan tugas tugasnya sebagai Kepala Seksi dengan tenang. Sementara lampunya masih terus menyala. Beberapa rekan melihat tingkah Kang Bidin sambil terheran heran.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s