SERIAL “OFFICE ALONE” dalam TENDANGAN BAYI DAN CURHATAN BU-MIL

IMG_20120517_133926

Oleh : Deddy azwar

     DI SEBUAH  mushola kantor, Ratnasari dan Ananda baru saja menyelesaikan sholat Ashar mereka. Keduanya tampak melipat mukena masing masing. Keduanya sedang berbadan dua.
“Ratna, kandunganmu sudah memasuki bulan keberapa?” Ananda membuka percakapan.
“Baru jalan lima bulan? Kamu Nda?” jawab Ratna datar.
“Aku empat bulan. Berarti kita selisih sebulan doang. Masih suka mual, mules gitu?”
“Ada sih dikit. Pas awal awal kehamilan rutin banget dia. Mau ngantor kayaknya males banget. Bawaannya pingin tidur tiduran terus di ranjang. Kayak gitu deh. Sekarang rada mendingan.”
“Kalau Aku awal kehamilan kan sempat badrest dua minggu. Sekarang agak mendingan. Oh ya baru terasa ya bagaimana membayangkan nyokap kita sewaktu mengandung. Di bawa bawa kemana mana. Hihi…Suka teringat waktu masih remaja suka ngebantah omongan si Mama. Nyeselnya baru sekarang. I Love you Bunda.”
“Iya Nda. Kita kan sudah tahu bagaimana pengorbanan serta kerja keras mereka dalam membesarkan kita. Bukan itu saja, mereka juga membekali kita dengan pelajaran pelajaran yang berharga. Sehingga kita tahu aturan aturan di masyarakat. Mendidik kita tanpa kenal lelah. Menyekolahkan kita. Sampai kita memasuki ke jenjang pernikahan. Merekapun merasa bertanggungjawab mengurus segala tetek bengeknya. Kamu masih mending Nda orangtuamu tinggal satu kota. Kapanpun kamu ada waktu bisa melampiaskan kerinduan sama Mamamu. Orangtuaku jauh di seberang. Ketemunya pas mudik lebaran doang. Itupun kalau ada uang.”
“Ya Rat, segala sesuatunya patut disyukuri. Makanya nabung dari sekarang.”
“Betul. Cuma belum kaya kaya. Huahua….Kalau kamu Nda, si dedek dalam perut masih suka nendang nendang nggak?”
“Jarang. Biasanya pas menjelang akhir bulan ini. Itu kan lagi sibuk sibuknya lembur mengerjakan laporan bulanan nasabah, kenceng banget nendangnya. Pokoknya kalau saya ada beban pikiran ataupun pendingan kerjaan. Baru dia nongol…Kayaknya dia kurang suka ibunya kerja kali. Hehehe. Kalau saja bisa komentar pasti dia bilang, ‘pulang Bu, sudah malam’.”
“Ah kamu ada ada saja. Kalau dedekku sering banget nendang nendang. Nggak pagi nggak malam. Terutama saat perutku lapar.”
“Masing masing beda ya ternyata.” Ananda tersenyum.
“Sekarang, kalau pergi ke kantor masih suka nebeng suami naek motor?” tanya Ratna.
“Iya. Belum mampu beli mobil. Masa kerjaku kan belum lima tahun, belum layak dapat pinjaman rumah ataupun kendaraan dari kantor kita.”
“Aku juga suka wanti wanti sama suami kalau bawa motor kudu hati hati. Ingat…lagi bawa calon dedek. Habis kalau naik angkutan umum suka sebel. Suka penuh sesak dan nggak dapat tempat duduk. Sudah berdiri lama belum ada yang iklas ngasih tempat duduk. Pada raja tega. Ngerti sih..semua penumpang butuh tempat duduk dan capek. Apalagi jarak di Jakarta mana ada yang dekat. Belum macetnya bo..Minta ampun.”
“Sama. Di kereta juga suka pada cuwek sama ibu ibu hamil. Rasanya mau nangis kalau capeknya terasa. Beda dengan di daerah. Masih ada rasa empati. Rasa persaudaraan masih kuat, belum luntur.”
Tiba tiba terdengar ada suara panggilan dari luar Mushola. Ternyata si Memey dari tadi sibuk mencari cari Ananda.
“Sudah selesai sholatnya Nda?”
“Sudah dari tadi. Kami lagi curhat-curhatan sesama Bu-Mil. Ada apa Mey sampai ke Mushola segala.”
“Dicari bos tuh. “Disuruh kirim email yang laporan posisi bulan ini. Katanya si nasabah belum terima.”
“Oke, thanks ya Mey. Bilang Pak Wawan aku segera kesana.”
“Hehehe kita keasyikan ngobrol Mei”..timpal Ratna tertawa. “Tugas telah memanggil. Kerja kerja dan kerja…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s