SEPATU PUTIH, MAHAL TAPI BERNODA

IMG_20140729_164408

Oleh : Deaz A Packard

“Maaaa!!” rengek Zaki manja.”Nanti belikan Zaki sepatu merk Converse ya, Ma. Teman temanku sudah punya semua. Mereka bilang saya payah dan tidak kompak.”
“Iya, tapi sepatu untuk apa dulu, Zak?” jawab Mama seraya meletakkan hand phonenya di atas meja di ruang tamu. “Bukankah sepatu warna hitam yang kamu punya masih bagus? Tidak robek toh? Oh iya, sepatu futsal juga masih layak pakai. Masak harus beli lagi. Ah, yang benar saja deh.”
“Aduh, Mama ini bagaimana sih. Pasti lupa lagi deh.”
“Lupa? Memang Mama pernah janji apa ke Zaki?”
“Tuh kan lupa. Mama pernah berjanji seandainya Zaki berhasil masuk SMP Negeri Favorit akan dibelikan sepatu baru untuk sekolah. Terus sama gadget juga.”
“Oh itu..Oke, oke. Kalau demi keperluan sekolah pasti Mama prioritaskan. Zaki tidak perlu khawatir. Pasti akan Mama belikan. Tapi ingat, syaratnya… harganya jangan yang terlalu mahal ya. Kisarannya menurut anggaran dan kemampuan kita.”
“Tentang gadget, bagaimana?”
“Sabar ya, nak. Satu persatu dulu.”Tiba tiba terdengar suara papa dari dalam kamar. Beberapa menit kemudian Papa keluar, lalu duduk di kursi tamu. Berkumpul bersama Mama dan Zaki.
“Betul apa yang dikatakan Mamamu. Kita akan membeli sepatu untuk keperluan sekolah terlebih dahulu.”
“Aduh, Papa bagaimana, kan sudah janji beli gadget juga.” Zaki mulai kecewa.
“Paham. Beli smartphone ntar ntar saja. Kalau masih ada sisa uang dari pembelian sepatu. Ngomong ngomong berapa harga sepatu Converse itu?”
“Murah sih Pa Ma. Kata Didit hanya sekitar Rp 700.000,-“
Mama dan pama sama sama kaget. Lalu mereka berdua saling berpandangan.
“Tujuh ratus ribu?” kata Papa Mama serempak. Lalu berkata dengan bijaksana.
“Wajar sih. Sesuai dengan kwalitasnya. Melihat harganya Papa tebak pasti bagus, awet dan nyaman dipakai. Mungkin bagi orangtuanya Didit harga segitu tidak seberapa. Tapi bagi Kami itu agak mahal, Nak.”
“Bisa saja kita belikan, Pa.” Tambah Mama. “Salah satu mesti dikorbankan.”
“Dikorbankan? Maksud Mama?” Kali ini Papa dan Zaki bertanya bersamaan.
“Idih, sampai kaget begitu. Maksud Mama, smartphone ditunda dulu.”
“Zaki tidak setuju deh Ma. Pokoknya beli smartphonenya barengan sepatu!”
“Oke. Kalau Zaki tidak mau menurut. Mama akan batalin semuanya. Mau?” Ancam Mama sedikit galak. Zaki langsung terdiam. Dia begitu paham tabiat sang Mama kalau sedang marah. Kalau dipikir dipikir, perkataan Mama ada benarnya , guman Zaki. Kalau ingin membeli dua macam barang sekaligus tapi memiliki dana kecil. Mau tidak mau kita harus bertindak bijaksana, harus dipilah pilah dahulu yang manakah yang lebih penting. Disesuaikan dengan kemampuan tentunya.
Setelah berdiskusi beberapa menit. Akhirnya Mama dan Papa membuat kesepakatan. Zaki diizinkan membeli sepatu yang diinginkannya dengan catatan melupakan smartphone untuk sementara waktu. Kecuali harga sepatu yang diincar mendapat diskon besar besaran!
Setelah satu jam setengah berkeliling mencari cari sepasang sepatu berwarna putih polos di sebuah counter sepatu departemen store, akhirnya Zaki dan papanya menyerah juga. Kepada setiap pelayan toko yang mereka tanya rata rata menggelengkan kepala.
“Maaf Dik, tidak ada. “ ucap salah satu pelayan kepada Zaki dengan ramahnya . “Sepatu warna putih polos yang itu khusus perempuan. Semua merek sepatu yang kami punya tidak memproduksi sepatu putih polos. Rata rata bercorak dan berstrip. Mungkin di toko lain ada. Biasanya sepatu model begitu dari merek terkenal dan harganya sedikit mahal. Sayang sekali toko ini tidak bisa menyediakannya.”
“Tidak apa apa Mba.” Potong Papa tampak menenangkan. Walau batinnya belum tenang, karena belum mendapatkan sepatu kesayangan anaknya. Terlebih Zaki, kelihatan sekali raut mukanya tampak kecewa. Padahal empat hari lagi harus sudah dipakai. Waduh, semua jadi ikut menjadi repot gara gara peraturan di sekolah yang mewajibkan para muridnya untuk mengenakan sepatu putih pada tiap hari kamis. Sebetulnya tidak mesti berwarna putih polos sekali, asal warna dasarnya saja putih.
“ Ada garis atau strip warna lain bisa kami tolerir, kok.” Kata ibu Yati kepada Papanya Zaki, guru konseling di sekolah itu , ketika beliau mengurus kelengkapan dokumen kepad petugas administrasi di sana. “ Asal jangan terlalu banyak coraknya, Pak. Lebih bagus lagi kalau putih polos semua.” Tambah Ibu Yati.
Permintaan yang sungguh berat!
“Ayo Kak.” Ajak Papa, sambil menepuk bahu anaknya.”Hari telah larut malam. Mallnya sebentar lagi akan tutup. Tenanglah, besok kan Minggu. Pama temani lagi mencari sepatu itu sampai dapat. Papa janji kok. Jangan patah semangat. Yang penting kita tetap berusaha serta jangan lupa berdoa.”
“Oke Pa.” Ucap Zaki lirih, walau tampak lemas bercampur cemas.
Mereka berdua bergegas untuk pulang. Sesampai di area parkir kendaraan, Papa kembali menghibur anaknya.
Pada keesokan harinya.
“Let’s go. Kita lanjutkan pencarian!” ajak Papa dengan penuh semangat, sambil menyalakan mesin mobilnya.
“Iya Pak. Seakan akan kita berdua sedang berpetualang mencari jejak sepatu misterius berwarna putih yang menyeramkan. Hehehe.”
“Kamu terlalu sering nonton film kartun Dora ya?” Ledek Papa tersenyum.
Zaki mengangguk sambil cemberut. “Saya kan suka film Doraemon dan Naruto, Pa!”
Kali ini, mereka measuki mall yang berbeda, tepatnya di ITC Serpong. Setiap lantai mereka jelajahi dengan penuh kecermatan dan kehati hatian. Kebanyakan kios kios kecil terletak di pinggiran toko menjual pakaian, koran dan majalah, barang cendramata dan sandal karet warna warni. Mereka , berjualan, diapit oleh toko toko yang menjual perhiasan, telepon seluler dan sepatu.
Sesampai di lobby Mall, Mata Papa tiba tiba tertuju ke sebuah toko sepatu lain. Lokasinya terletak menyudut. Bila tidak teliti sukar untuk menemukannya. Belum lagi terhalang oleh tangga eskalator dan penyewaan permainan mobil mobilan.
“Yuk, Kak, coba kita kesana. Siapa tahu ada.”
“Ayo!”
Merekapun dengan sigap menemukan pelayan toko yang baru saja hendak keluar. Papa dengan cekatan menghentikan langkahnya dengan mencolek pundaknya.
“Mas, mau kemana? Kami sedang mencari sepatu putih.” Hadang Papa sambil merentangkan tangannya.
“Maaf Pak, saya mau ke kamar kecil dulu. Sama rekan saya saja. Namanya Mba Stella. Permisi.”
“Silahkan Mas.”
Tidak berapa lama kemudian Papa dan Zaki keluar dari toko dengan langkah gontai. Untuk kesekian kalinya Mereka tidak mendapatkan sepatu yang dimaksud. Sudah tentu merasa kecewa sekali.
“Kita cari kemana lagi ya, Ki?” Sepertinya Papa sudah mulai putus asa.”Sepertinya semua toko sepatu yang ada di mall ini sudah kita jelajahi semua.”
“Bagaimana nih Pa?” Tanpa terasa mata Zaki mulai berkaca kaca. “Saya takut diledekin teman teman sama di hukum guru di setrap di tengah lapangan.”
“Ah, kamu jangan berpikiran negatif begitu. Tidak mungkin gara gara tidak memakai sepatu putih kamu menjadi hitam akibat di jemur. Kalau gurumu bertindak anarkis, nanti Papa yang turun tangan. Sudahlah jangan jawatir. Ingat, dunia tidak selebar celana kolor,kan?” Papa mencoba melucu.
“Daun kelor, Pa!” Zaki mengoreksi.
“Pak! Pak! Jangan pergi dulu!” Tiba tiba terdengar suara memanggil manggil dari kejauhan. Papa dan Zaki kaget dan menoleh berbarengan. Ternyata suara tersebut berasal dari seorang pelayan toko yang bernama Mba Stella. Toko sepatu terakhir yang mereka kunjungi.
“Ada apa Mba? Apakah ada barang kami yang tertinggal?” Tanya Papa heran, setelah sampai di depan pintu toko.
“Maaf ya Pak, saya mungkin mengagetkan. Tunggu sebentar saya ingin memperlihatkan sesuatu.”
Papa dan Zaki saling berpandangan. Masih tidak mengerti dan kebingungan.
Pelayan itu dengan sekejap kembali masuk ke toko. Dua menit kemudian ke luar dengan tergopoh gopoh sambil membawa satu kardus sepatu. Dia langsung menunjukkannya. “Sebelumnya Saya mohon maaf, bukannya maksud menghina atau apa. Tadi, ketika mengorek ngorek gudang. Tanpa sengaja menemukan sepatu ini. Siapa tahu berkenan. Sepatu ini pilihan, berwarna putih tapi ada sedikit kekurangannya. Masing sisinya ada bercak noda kekuning kuningan. Merknya Converse asli lho. Harganya…”
“Saya mengerti.” Potong Papa. “Siapa yang tidak kenal merk ini. Sudah lama anak saya mengimpikannya. Mahal kan Mba?.”
Belum sempat Mba Stella menjawab.
“Mengapa sepatu ini seperti kelihatan kotor sekali ya Mba?” Tanya Zaki memberanikan diri. Walaupun begitu, hati Zaki belum puas seratus persen. Apalagi alasannya kalau bukan karena sepatunya bukan keluaran terbaru, bernoda dan bulukan lagi. Zaki tidak mau jadi bahan ledekan teman di sekolah maupun teman se-gang kompleks.
“Betul Dik. Mungkin akibat terlalu lama tersimpan di gudang, ditambah kondisi udara yang lembab membuat kelunturan warna kardus. “ Mba Stella menoleh ke arah Papa Zaki. “Saya berani jamin Pak, pasti tidak akan kecewa. Tinggal disikat sedikit, disiram air bersih, kemudian diberikan cairan pemutih, pasti kinclong lagi. Saya hanya berniat membantu saja. Saya perhatikan raut muka anak Bapak murung sekali. Saya berniat membantu. Selaras dengan motto toko kami ‘memberikan pelayanan yang terbaik dan tidak mengecewakan pelanggan’. Bagaimana, berminat Pak?”
Papa mencengkram erat sepasang sepatu itu. Beliau mengamati dengan teliti. Di bolak balik. Dilihat bagian depan dan belakang. Kwalitasnya masih bagus. Persis yang dijelaskan oleh Mba Stella.
“B-berapa harga sepatu ini Mba?” Tanya Papa memberanikan diri.
“Hmmm, Saya berikan harga khusus deh. Rp 100.000,-.”
“Seratus ribu? Ah yang benar Mba. Bercanda kali?”
“Tidak disangka bukan harganya, pak? Rezeki anak Bapak kok ini. Walaupun stok lama. Tapi ini tulen. Beda dengan barang bajakan. Kalau barunya tidak dapat harga segitu lho Pak.”
“Seratus ribu?!” Pekik Zaki dalam hati.”Asik! Berarti…”
Ingin rasanya Zaki berjingkrak jingkrak demi meluapkan kegembirannya, akan tetapi berusaha ditahannya, karena takut malu nanti dikirain anak tak waras. Dari dulu dia memang mengincar sepatu bermerk Converse.
Didit, Rafi dan Steven, teman-teman main satu komplek memang lagi demam sepatu bermerk. Pasti mereka berdecak kagum. Zaki bersyukur sekali, terima kasih Tuhan, ucapnya berkali kali. Zaki jadi teringat akan kata kata Didit tempo hari, “Beli dong Ki, biar kelihatan kompak geng kita. Biar semua tahu kita adalah tim yang solid. Tinggal kamu saja yang belum punya. Ayo buruan beli.”
“Bukannya tidak mau Dit. Kamu kan tahu orangtuaku tidak sekaya orangtuamu. Aku tidak mau memberatkan mereka.”
“Masak tidak mampu beli? Papa Kamu kan kerja di bank, Zak? Pasti banyak duitnya dong. Kalau habis tinggal dicetak lagi aja.”
Zaki tertawa lebar.
“Dit, dit, papaku kan bukan kerja di Bank Indonesia atau Peruri, yang bisa mencetak uang seenaknya. Kamu ada ada saja, Dit. Sudahlah, main futsal lagi .”yuuk!”
Perkataan Didit itu terus terngiang ngiang di benaknya. Tapi kini…
Bagaimana tidak senang sih? Sekarang, sepatu yang sudah diidamkan dari dulu kala sudah tersaji di depan mata. Bahkan sekarang ada dalam genggamannya.
Dalam perjalanan pulang, zaki terlihat tersenyum sendiri. Papa tidak heran melihat tingkah anaknya. Dia pantas bergembira, pikir Papa.
“Sekarang kita lanjut kemana Ki?” tanya Papa.
“Ke toko pusat penjualan handphone dong!”
Zaki baru sadar kalau Papanya dari tadi memberantakin rambutnya yang sudah disisr rapi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s