“SERIAL OFFICE ALONE” dalam cerita INFORMAN DARI WARUNG MIE AYAM DAN SEBUAH KISAH YANG ROMANTIS YANG TRAGIS

Oleh : Deddy Azwar

IMG_20140726_195500

IMG_20120610_184203

Hari sabtu pagi, saat sang mentari perlahan naik, Agan memarkirkan motornya di sebuah warung soto ayam milik Mas Plongo, langganannya. Ya, sehabis mengurus pembayaran pajak STNK mobilnya di kantor SAMSAT Serpong. Layaknya habis melewati perjalanan panjang nan melahkan, tampaknya dia lapar berat, sehingga sudah musti nongkrong di sana sepagi ini. Walaupun hari itu masih terhitung pagi, namun warung yang menjual soto ayam dan mie ayam telah open house dari subuh. Karena jarang-jarang lho tukang jual mie ayam yang stay alias diam di warung (maksudnya bukan yang dagang pakai gerobak dorong) sudah membuka dan menjajakan dagangannya. Lumrahnya kan jualan ba’da Dhuhur gitulah!
Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa Mas Plongo ini tergolong pedagang yang rajin dan berdisiplin tinggi, tidak kenal lelah dan waktu, mehamami kondisi perut pelanggan, menjunjung tinggi kariernya (ceile!). Artinya dia termasuk mahkluk Tuhan yang berusaha menjemput rezeki disaat semua pedagang masih pada bermalas-malasan untuk bangun tidur di pagi hari. Mending menarik selimut untuk melanjutkan tidur lagi. Mungkin juga untuk melanjutkan episode mimpi yang sempat tertunda.
Oh, ya setahu Agan Mas Plongo ini sudah berkeluarga dan memiliki satu putra yang masih kecil. Awalnya merantau dari kampung di Jawa Timur ke Jakarta untuk memperoleh kehidupan dan penghidupan yang layak. Beberepa pekerjaan telah dicicipi dan dilakoninya. Ya, semacam pekerjaan kasar kayak gitulah. Mulai dari buruh kasar, kuli angkut pelabuhan, tukang bangunan, sales pakaian dalam, sopir angkot dan akhirnya terdampar di bisnis kuliner alias penjual soto dan mie ayam. Setahu Agan lagi, dulunya Mas Plongo itu suka dagang dengan gerobaknya di pelataran yang sempit, di depan ruko yang punya usaha pendidikan yakni, kursus bimbingan belajar.
Dulunya hanya berjualah soto ayam to’. Begitulah kondisinya sebelum mempunyai warung yang agak lumayan besar dan manusiawi. Kini, Mas Plongo sudah memiliki rumah kecil nan bersahaja ditempati bersama keluarganya. Dulu pertama kali dia beli tanah masih seharga Rp.3000.000 permeter. Cukup mahal bukan, untuk hidup di kota metropolitan seperti Jakarta. Kalau tidak punya keahlian, semangat, tekad untuk maju, pendidikan yang cukup, serta kerja keras sebaiknya kembali saja ke kampung halaman. Tak perlu malu! Usahakan membagun dan memajukan kampung sendiri dulu. Itu! (meminjam gaya Pak Mario Teguh, sang motivator)
Kembali lagi ke cerita awal. Agan sudah duduk manis di sebuah kursi plastik berwarna merah. Kursi tersebut berada di luar warung. Entah kenapa tiba tiba Agan mengangkat pantatnya yang bohay lalu pindah ke kursi kayu di dalam warung. Oh, kiranya sinar mentari pagi itu jatuh tepat mengenail kursi tersebut. Makanya dia pindah, takut jadi hitam kali…
“Mas, pesan mie ayam dong satu.” Kata Agan kepada Mas Plongo yang tengah asik duduk di kursi mini sambil membersihkan beberapa ikat sayur sawi. Kali ini dia tidak ditemani sang istri.
“Siap Bos! Makan di sini atau dibungkus?” tanya Mas Plongo, sambil bangkit dan berdiri menghampiri Agan. Lalu dia beranjak ke tempat pos utamanya untuk mengambil segenggam mie yang masih berbentuk gulungan. Mirip gulungan tali nilon. Kemudian mencemplungkannya ke sebuah wadah besar dipenuhi air mendidih. Ketika tutup wadah itu dibuka, tampak asap putih mengepul di udara. Beberapa saat kemudian dengan cekatan dia memasukkan beberapa buah bakso. Dia mengaduk-aduk keduanya. Tak lupa menjatuhkan beberapa sayuran sawi.
“Dari mana Pak Agan? Pagi-pagi sudah keluyuran? Nggak ngantor apa?” Mas Plongo membrondong dengan beberapa pertanyaan agak marketing. Terutama yang menyinggung kata kantor, sudah biasa dan rada basi.
“Ini kan Sabtu bro…” kilah Agan, “ngapain masuk kantor? Kecuali ada lembur khusus Mas”
“Oh iya-ya. Sing aku lupa toh mas.” Jawab Mas Plongo dengan ciri khasnya selalu cengengesan.
“Lho..mas sendiri ngapain jualan hari sabtu. Nggak liburan juga.”
“Wong jualan nggak kenal libur. Nggak kayak orang kantoran. Ada hari liburnya. Ada gajiannya. Enak. Lha saya kalau nggak jualan dapur ora ngebul Den…Hua hua hua…”Mas Plongo tertawa terkekeh-kekeh. Di saat tertawapun dia masih sempat mengiris-iris daun bawang menjadi potongan kecil kecil. “Ada-ada saja.”
Agan tersenyum sambil mencomot seonggok koran pagi yang sudah tidak beraturan lagi lipatannya. “Mas, ini koran apa bungkus nasi sih.?”
“Itu koran baru. Baca aja. Eh, ada iklan HP murah lagi canggih. Cuma Rp 1,1 juta lho..” Pancing Mas Plongo.
“Oh iya? Merk apaan?” Agan langsung tertarik kalau menyerempet teknologi atau berita selular. “Mana Mas? Di halaman berapa? Kok nggak nemu?” cerocos Agan sambil membolak balik lembar demi lembar koran itu.
“Pelan-pelan toh Mas…Wah jadi kusut deh koranku. Di halaman tengah.” Mas Plongo ngomong sambil membalikkan badan sedikit namun tetap membelakangi Agan.
“Ini sudah ketemu. Busyet! Asik juga tuh spesifikasinya. Fitur fiturnya canggih. Oh..Mitho A38 Fantasy Max.
Spesifikasi dan harga Mito A38 Fantasy Max

Jaringan Dual SIM (GSM/GSM)
Dimensi –
Layar 480 x 854 Pixels, 5 Inchi, ~267 ppi, IPS LCD
Memori 16 GB
microSD up to 32-64 GB
RAM 2 GB
Konektifitas 3G, HSDPA, WIFI, Bluetooth, port microUSB
OS Android 5.1 Lollipop
CPU Chipset –
Processor Quad Core 1.3 GHz Cortex-A7
GPU –
Kamera Depan 2 MP
Kamera Belakang 8 MP, LED flash, Autofokus
Baterai Li-Ion +-2000 mAh

Harga HP Mito A38 Fantasy Max
Mito A38 Fantasy Max dibanderol dengan harga sekitar Rp 1.200.000

Kelebihan Mito A38 Fantasy Max :
• OS Lollipop
• RAM 2GB dan ROM 8GB
• Layar IPS
• Harga mantap
Kekurangan Mito A38 Fantasy Max :
• Layar belum HD
• Kamera masih 8 MP

Puas membaca koran Agan memandang sekitar warung. Hanya ada dua orang pengunjung saat itu. Seorang ibu ibu yang subur sedikit montok dan seksi (sedikit sih..) Biasa saja. Matanya baru ngeh bahwa di dinding pemisah antara dapur dan “front office” itu warung tertempel sebuah pengumungan dengan huruf kapitan dengan spidol hitam. Tipe tulisan berkesan dikeren-keren kan membuat susah terbaca. Oh kiranya dia mau pindah alamat.
“Mau pindah kemana mas warungnya?” tanya Agan. “Emang kenapa di sini? Kontraknya habis ya?”
“Belum habis. Namanya nyewa ya mesti manut. Disuruh pindah ya pindah.” Ucap Mas Plongo lirih, “tempat ini mau digusur mas. Warungku pindah ke dekat mesjid. Kebetulan dari hasil menabung bertahun-tahun bisa dipakai untuk membeli sepetak tanah. Lumayan bisa buka warung lagi.”
“Syukurlah. Lalu ini jadi tempat apaan?”
“Akan segera dibangun ruko. Lihat saja ke sebelah. Ada empat ruko dalam proses pengerjaan . Masih inden saja sudah dipesen oleh Alfa dan Indomaret. Masing masing dua pintu.”
“Wow, menabjubkan! Ruko lagi ruko lagi…” Agan menggeleng-gelengkan kepalanya, “saya heran banget dengan negeri ini, selalu latah dan gemar dengan ilmu mencontek. Saat demam apartemen semua sibuk mendirikan apartemen. Saat sibuk demam ruko merajalela semuanya rame rame membangun ruko. Semuanya sibuk bikin usaha. Rumah tempat tinggal mereka sulap menjadi ruko. Entah ada izin dari badan pertanahan atau IMB, mereka kadang tak peduli. Lama-kelamaan semua pelosok kota bisa ada semilyar ruko. Termasuk di daerah kita ini. Sudah terjangkit wabah juga. Padahal saya melihat di dekat tol sana, banyak ruko-ruko kosong yang tidak terjual atau tidak ada penyewanya. Mendadak menjadi toko berhantu kali…Bagi pemilik ruko yang jeli membidik pasar dengan memahami lokasi mana saja yang dinilai strategis akan meraup untung besar. Mereka tanpa kesulitan membayar cicilan ke bank. Kasihan bagi rukonya yang tak laku untuk dijual maupun disewa, akan bersusah payah membayar cicilang bunga bank. Apalagi pokoknya. Bayangkan mas….kalau saja tidak dihuni itu ruko akan sia sia saja.”
“Betul Mas Agan. Semua ruko bangunan lama dirobohin semenjak berdirinya ruko ruko baru bernuansa modern.”
“Sayang sekali ya, capek capek dibangun e-eh dirobohin lagi. Karena tidak sesuai selera…”
“Untuk mencari untung semata.”
“Siapa yang kerjaan nih?” tanya Agan sedikit geram.
“Ini proyeknya si Andersen. Umurnya masih muda lho mas. Belum nyampe 40 tahun. Tapi bisnisnya luas dan menggurita. Dia memiliki beberapa bidang tanah di sekitar sini. Bermula hanya dari membeli dengab mencicil sepetak demi sepetak. Dari sekian hektar sekitar 5- 7 tahun yang silam, dia mengeluarkan kocek seharga 1 milyar. Coba bayangkan pada tahun segitu dia sudah mempunyai uang sebesar itu. Kaya bener tu orang. Jika saja tanahnya di jual sekarang sudah berapa untung..”
“Mustahil mas, paling juga uang milik bapaknya.”
“Mungkin juga tuduhanmu benar.”
“Ruko yang tepat berada di samping warungku ini juga punya dia. Supermarket kelas menengah itu disewakan Rp 90 juta setahun. Saya nggak habis pikir ternyata tanpa diduga kemampuan membayar sewanya yang selangit itu boleh juga. Saya dengar omsetnya sehari bisa mencapai 15 juta. Cukuplah untuk menggaji karyawan.”
“Relatif. Kalau pasar lagi ramai sih bisa segitu tapi kalau sepi bisa-bisa nombokin terus.”
Mereka terus asik menceritakan sosok pengusaha muda yang ternyata sudah sekian puluh tahun berkecimpung di dunia ular tangga eh salah maksudnya pem buatan tangga pesawat terbang yang dipesan oleh beberapa maskapai penerbangan. Tidak terbatas untuk tangga saja, beliau juga menerima order pembuatan trolly untuk mengangkut barang di bandara, locker-locker bagi pilot, pramugara-ri dan teknisi. Rasanya tak perlu kita hitung berapa omsetnya. Apalagi bermain sebagai produsen tunggal. Ternyata usut punya usut merupakan perusahaan milik keluarga besarnya yang tinggal di Palembang. Setelah ayah mereka tua, bisnis ini dipercayakan kepada kakak tertuanya untu dikelola. Andersen untuk sementara diminta menjadi asisten sambil belajar mendalami karakteritik bisnis ini. Karena kian sukses, sekarang Andersen dip ercaya untuk menangani sendiri. Kakaknya merasa adiknya sudah bisa dilepas sendiri. Andersen termasuk orang tidak cepat puas di bisnis pertanggaan, namun dia mencoba peruntungan di sektor property bangunan ruko. Dia membeli tanah terlebih dahulu, lalu didiamkan sampai harganya naik dulu baru dimanfaatkan.
Anehnya si Andersen yang mahir layang-layang ini (duile!) juga piawai berbisnis beli tanah ini, sampai detik ini masih betah menjomblo. Ada apakah gerangan?? Dengan kekayaan materi yang dimiliki tak mungkin dia tak laku-laku. Menurut Mas Plongo wajahnya Andersen orientalis, keren dan berkulit putih. Apalagi yang kurang? Bisa jadi dia terjangkit penyakit playboy, yang suka gonta ganti pacar, sehingga menurunkan minatnya untuk berumah tangga. Atau mungkin menilai cewek zaman sekarang kebanyakan matre, yang akan mempeloroti kekayannya saja, bukan berdasarkan cinta yang tulus dari lubuk hati.
Selidik punya selidik ternyata si Andersen malah termasuk tipe setia. Lagi-lagi menurut cerita Mas Plongo kita ini, dulu dia pernah punya pacar yang sangat dicintai dan dikasihinya sepenuh hati. Satu-satunya wanita idamannya. Mereka sudah berpacaran cukup lama, sehingga telah hapal kekurangan dan kelebihan masing-masing. Terdengar romantis, melankolis dan sentimentil…Lalu apa yang terjadi?
Kematian jualah yang memisahkan kisah cinta mereka. Suatu hari, ketika tengah menikmati suasana liburan di pulau Bali, di saat mereka menyenangkan diri dengan berenang dan bercanda di laut. Mereka baru sadar telah berada di tengah laut ganas, berombak dan bergelombang, serta mempunyai arus berputar yang menyedot dan menenggelamkan sang kekasih. Andersen memberanikan diri untuk menolong, malah hampir saja membunuhnya dikarenakan putarannya terlalu deras dan kencang. Walaupun mayatnya telah diketemukan, sempat dilarikan ke rumah sakit, namun tidak tertolong lagi. Sungguh drastis! Setelah sempat diotopsi. Akhirnya dimakamkan. Semenjak saat itu Andersen berubah dingin terhadap wanita. Baginya tak ada yang dapat menggantikan sang kekasih.
Mendengar kisah itu Agan jadi larut dalam rasa emosional. Kisah yang menggenaskan. Mirip cerita roman picisan. Kalau difilmkan lumayanlah…Memakan waktu yang panjang untuk dapat melupakannya. Menurut Mas Plongo, kalau kita memandang dari dunia bisnis dia akan rugi besar dan sedikit egois. Kenapa? Sayang sekali karena tidak akan ada keturunan sebagai penerus tahta bisnisnya. Andersen harus mencoba bangkit dan memulai membuka lembaran baru….untuk seorang kekasih baru….tentunya. semangat!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s