GULAI AYAM YANG TERTUKAR

IMG_20111212_172201

IMG_20111224_180801 IMG_20120121_103543

Oleh : Deddy Azwar
Saat sore menjelang maghrib.
Kami baru saja selesai menyantap habis satu mangkok mie ayam segar dan lezat. Ya, bersama putri bungsu saya sama-sama kecapaian gara-gara saya sebelumnya mengajarkannya cara mengendarai sepeda.
Racikan bumbu dalam kuah yang bening tanpa santan bergumul bersama sayur sawi nan hijau pekat, telah membius selera kami. Sepertinya perut kami langsung bertekuk lutut akan rasanya nan berkharisma. Gulungan-gulungan mie kuningnya bak laut bergelombang sangat menggoda saluruan-saluran usus kami yang jumlahnya banyak. Kini mie tersebut sedang menari-nari dalam perut yang tadi keroncongan. Mungkin zat pengembangnya telah bekerja berupaya mendesak desak rongga perut kami. Ya begitulah kata-kata yang tepat untuk melukiskan semua itu.
Tiba-tiba notification icon whatsapp di smartphone saya muncul disertai nada deringnya yang berjenis guitar accoustic. Ternyata terdapat pesan titipan dari sang istri agar minta dibelikan juga mie ayam. Wah, ini akibat tadi saya potoin anak saya saat mulutnya menghirup gulungan mie, sambil bergaya dan mengacungkan jempolnya. Lalu poto tersebut saya kirim via whatsapp diserta teks..
’makan sphagety di cafe’….17.15
‘mau nggak?”….17.17
Dan di reply..
‘Papa ya, makan di warung saja ngaku di cafe’…..17.19
‘ Ampunnnn mie lagi mie lagi…..(ada ikon empat kepala kuning tersenyum)….17.21
‘Bli-in kakak satu ya…17.21
‘Kan tadi sudah bilang….17.22
‘Habis ditawarin bakso dia nggak mau’…..17.22
‘Say, ntar beli lauk ya, uangnya ntar diganti, ayam gulai aja 3’…….17.24
‘Spageti apa mie??……17.24
‘Kalao gak ada…..17.24
‘Sudahlah. Mie ayam itu kan? Kok spageti?…..17.26
‘Adalah kan masih sore…..17.26
‘Oke……17:28
Saya menutup premium flip cover case smartphone yang benuansa soft colorful, lalu kami cabut dengan Honda Blade Repsol menuju rute berikutnya rumah makan Padang si uda.
Sesampai di sana kami melihat salah satu pelayannya sedang duduk santai di jok motor yang sedang terparkir di sana. Kebetulan, dia lagi tidak melayani pembeli. Melihat kami datang dia sekonyong-konyong masuk ke dalam. Mantap, pelayan yang gesit dan cepat tanggap, gumanku.
“Beli ayam gulai 3. Masih ada kan?” tanya saya.
“Ada. Tapi tinggal dua.”jawab si pelayan gesit itu.
Saya membuang pandangan ke dalam rumah makan, sambil melongok, melihat sebuah keluarga terdiri dari tiga orang dewasa bersama satu anak kecil. Si ibu yang duduk di tengah berkerudung, mengenakan baju panjang berwarna biru. Badannya (maaf) lumayan subur. Dari jauh tampaknya dia kekenyangan.
“Oalah…”jawab saya sedikit kecewa. “Bungkus deh dua bagian dada semuanya. Terus ada lauk apa lagi?” Bersamaan itu datang lagi seorang pembeli seorang wanita muda mengenakan kaos garis-garis dipadu legging abu-abu. Tak lama kemudian menyusul lagi dua orang pembeli lagi.
“Ada ayam rendang, ayam goreng, ayam bakar dan asam padeh.” Si pelayan menyebut menunya satu persatu.
“Ayam rendang itu kayak gimana?” tanyaku seperti orang bingung.
“Sama seperti rendang. Ini ayam bukan daging sapi.”
“Boleh deh. Dibungkus satu dadanya juga. Jangan lupa tambah crispynya.”

“Wah, Pak, maaf tinggal sayap dan paha tuh. Saya aja ma? Dagingnya mirip dada kok.”
“Jangan sayap, paha aja.”
“Pakai nasi nggak pak?”
“Nggak usah.”
“Uda, ayam tigo! Bara Da?” teriak si pelayan kepada si Uda yang duduk di meja kasir sambil menghisap sebatang rokok kretek.
“Tiga puluh empat ribu.”
Ketika pesanan beres, saya belum berniat pulang kalau belum makan kerupuk keriting dulu. Sudah kebiasaan, kalau tidak makan krupuk yang berderuk-deruk belum afdol rasanya. Si bungsu minta dibelikan teh botol S-tea yang tidak dingin.
“Da, kerupuk sama teh botol tolong masukin ke bon ya.”pinta saya.
“Oke Da.” Jawab si Uda.
Ketika hendak mengambil pesanan, e-eh tiba pelayan nan gesit itu tampak kebingungan, gara-gara bungkusan plastik pesanan saya berisi tiga biji ayam telah raib entah kemana. Ketika saya menanyakan perihal tersebut, dia kaget. Mukanya pucat tapi tetap berusaha nyengir.
“Waduh, saya tidak tahu kemana ya. Tadi sih saya letakkan di sini, dekat tumpukan piring bersih.”
“Jangan-jangan ke bawa pembeli lain.” Saya menduga-duga bukan menuduh.”Eh, Mas tolong tanyakan ke cewek yang mau naik motor matic itu deh. Cepat mas, nanti keburu dia kabur.”
Pelayan yang masih usia muda itu berlari secepat kilat mengejar tapi hasilnya sia-sia. Si Uda pemilik warung mendatangi kami lalu dia berjanji akan menggantikannya. Kebetulan juga saya belum memberi uang.
“Kemungkinan kebawa oleh keluarga yang rame tadi. Mereka kebetulan mengorder banyak. Nda apa-apa sudah rezeki mereka. Untungnya masih ada sisa ayam gulai yang lain. Kebetulan ada yang membatalkan pesanan. Di tengah perjalanan pulang saya tersenyum-senyum sendiri sembari geleng-geleng kepala.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s