SERIAL “OFFICE ALONE”dalam MALAM YANG MENCEKAM

oleh : deddy azwar

Suasana malam di jalan raya Mampang kala itu cukup lengang. Kendaraan yang melintaspun bisa dihitung dengan jari. Padahal jam baru menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Di tahun 2001. Pak Tung mengendarai mobilnya dalam kecepatan sedang. Jarum spedometer menunjukkan ke angka 40 kilomter per jam, kadang berpindah dengan cepat ke angka 80 km /jam. Disebelahnya Pak Tung duduk Agan, temen kantornya. Mereka berdua tengah dalam perjalanan pulang dari kantor ke rumah. Setelah sekian menit suasana hening dan sunyi. Agan berkomentar…
“Eh-Pak Tung, boleh dikencengin dong tapenya, biar rada heboh dikit. Kalau sepi begini bikin ngantuk.”
“Oke Gan. Kamu mau disetel radio mana? Radio Bekicot FM, Sontoloyo FM atau di Remaja kolot FM, kalau malam begini ada curhatan remaja sekitar pacaran lho. Mau denger?”
“Setel lagu aja Pak. Ngomong-ngomong yang disebutkan tadi nama-nama radio apa nama judul film sih?” Agan sedikit ngikik.
“Nama-nama binatanglah..Wuahaaaa…” Pak Tung tertawa besar membahana. Kayaknya dia puas ngerjain Agan, temen kantornya yang termasuk newbie ini. Menurut pandangannya si Agan ini masih polos. Makanya suka dibecandain. Agan merantau dari kota Palembang untuk mencari pekerjaan setelah sempat melakoni sebagai kuli furniture dan instalatur listrik ketika masih dikotanya, terdampar di perusahaan sekuritas sebagai part timer saat masa awal perantauannya.. Akhirnya keinginanan orangtuanya terkabul agar Agan bekerja di bank. Selain selaras dengan jurusan kuliah yang dia ambil. Kalau dalam lubuk hati terdalam, sejujurnya Agan berkeinginan bekerja sesuai dengan hobinya menggambar, mendesain dan menulis. Paling tidak angan-angan nya bekerja sebagai rkuleporter disebuah stasiun televisi, menulis artikel atau cerita di sebuah majalah, mendesain atau merancang busana di sebuah perusahaan konveksi atau butik, atau bahkan menjadi sutradara pada perusahaan film. Ya, semasa kelas tiga menjelang kelulusan SMA sudah terpatri di dadanya untuk mendermabaktikan hidupnya di bidang seni, dengan melanjutkan pendidikannya kuliah di Institut Kesenian Jakarta atau mendaftar di sekolah merancang busana di Sekolah perancang busana milik Susan Budiharjo. Mentok-mentoknya sekolah di perhotelan.
Lalu Pak Tung memasukkan kaset kompilasi lagu barat koleksinya, tidak lama terdengarlah musik disko yang menghentak-hentak. “Anggap aja kita lagi di diskotik Gan..”ucapnya kembali ketawa besar sambil tetap fokus mengemudikan mobil Mazdanya.
“Lumayanlah. Daripada sepi.”Agan tersenyum. Jemari tangannya mulai mengetuk pahanya sambil mengikuti irama musik.
“Wah saya kenal nih lagu…Tapi lupa.”
“Itu sama saja tidak tahu, Gan.”
“Lupa bukan berarti tidak tahu dong Pak.”
“Up to you Gan.” Ujar Pak Tung kesel.
“Ngomong-ngomong istri masih suka bikin kue Pak?” tanya Agan mengalihkan pembicaraan daripada merentet kemana mana nantinya. Kebetulan istrinya Pak Tung mempunyai hobi memasak dan ahli bikin kue. Demi memenuhi hasrat sang Pak Tung bela belain membeli mesin pembuat kue biar makin rajin dan mahir.
“Masih. Kan saya sudah modalin buat mesinnya. Terus beli ovennya yang gede. Istriku suka nitip kuenya di toko bakery salah satu tetangga kami. Hasil jerih payahnya cukup lumayan. Keuntungannya bisa dipakai buat biaya modal kembali untuk membeli mesin dan bahan bahan pokoknya. Belakangan ini kelihatannya cukup banyak pesanan dari mana-mana.”
“Oh ya. Istri bapak hebat.”
“Siapa dulu dong suaminya.” Pak Tung membanggakan dirinya. “Hitung-hitung membantu gaji suami.”
“Kuenya apaan saja Pak?”
“Banyaklah macam-macamnya. Ada kastengel, putri salju, sagu keju dan nastar. Hebatkan, saya jadi hapal nama-namanya.”
“Mantaplah” puji Agan.
Tiba-tiba Pak Tung melambatkan kecepatan laju kendaraannya. “ Lihat Gan, ada kejadian di depan sana!” pekiknya.
Mau tidak mau Agan juga mengarahkan pandangannya lebih tajam ke kaca depan. Ada sebuah pemandangan yang berat sebelah, yaitu pertikaian antara pengemudi mobil mewah dengan mobil biasa. Merri mobeka tampak terlibat pertengkaran kata-kata. Si pemilik mobil mewah dengan penuh emosi turun dari mobilnya, mendekati lalu dengan angkuhan memukul-mukul kap dan pintu samping mobil biasa. Entah apa yang mereka pertengkarkan.
Pak Tung menjalankan mobilnya secara perlahan-lahan, seakan takut kehilangan momen yang berharga yang sekarang tepat terhidang di depannya. Ini bukan momen sembarangan, seperti mengajarkan sebuah nilai kepada kita. Tidak banyak mobil yang kebetulan melintas, tertarik untuk sekedar menengok ‘ada apa sih’. Atau bila mereka perduli tentu akan melakukan sesuatu. Seperti melerai atau apapun.
Sekonyong-konyong Agan secara spontan meminta Pak Tung untuk berhenti.a
“Boleh stop nggak Pak.” Pinta Agan sambil memegang kemudi.
“Mau ngapain Gan?”
“Mau turun Pak. Ini sudah jelas tidak adil. Tak boleh dibiarkan.” Emosi Agan meletup letup. Rasa empatinya keluar.
“Eh jangan ikut campur Gan. Kamu gila apa?” Dengan sigap dan cekatan Pak Tung mengcengkram erat-erat pundak Agan. Lalu sedikit mendorong sehingga membuat Agan terduduk di jok.
“Kenapa Pak? Kok tidak boleh menolo…”
“Ini Jakarta coy, bukan di daerah. Bukan tidak boleh Gan. Kita kan tidak tahu permasalahannya secara pasti.”
“Saya kuatir dia akan main hakim sendiri Pak.”
“Percayalah, dia tak akan berani. Puluhan orang mengawasinya. Jika dia bertindak di luar batas akan merugikan dia sendiri. Para pengemudi lain pasti ada yang menolong. Karena di pintu keluar selalu ada polisi yang jaga.”
“Lho, bukannya sampai saat ini belum ada orang yang peduli dan mau membantu. Jakarta kan kota keras. Semua orang cuwek dan egois. Bukannya Pak Tung pernah bilang. Iya kan?”
“Sudahlah, jangan berdebat Gan. Begini, kita juga harus tetap waspada. Coba kamu bayangkan, seandainya pertikaian itu hanya sandiwara mereka saja gimana? Sedangkan sekarang sudah larut malam.”
“Maksud Pak Tung mereka berkomplot.”
“Iya misalnya. Bisa celaka kita.”
“Rasanya…”
“Oke kita bantu. Dengan cara kita. Yuk.”
Pak Tung agak sedikit menepikan mobilnya, seolah-olah hendak berhenti. Membunyikan klakson secara halus. Pak Tung memasang muka seram dan serius.
“Kacanya tidak diturunkan Pak?” usul Agan ketika hendak mendekat.
“Jangan!”
Entah kenapa tiba-tiba kemarahan si pemilik mobil mewah sedikit reda setelah curiga melihat ada mobil menghampirinya. Dia mungkin mengira mobil yang datang adalah salah seorang teman si pemilik mobil biasa atau serse. Dari kaca depan rayban 40% samar-samar terlihat dia perlahan meninggalkan mobil biasa. Sebelum pergi dia sempat menendang pintu samping dan memukul kap mobil. Tangan sebelah kanan mengepal. Mulut masih sempat meninggalkan ancaman terakhir.
“Awas lu. Lain kali Gua kasih pelajaran.”
Pak Tung dan Agan mulai bisa bernafas lega sambil menyaksikan mobil mewah yang sombong itu berlalu sambil meninggalkan bunyi knalpot yang bising dengan kepulan asap putih mengepul. Setelah jaraknya jauh terdengar lagi bunyi mendecit.
“Saya salut dengan keberanianmu untuk menolong orang Gan. Bertindaklah dengan smart. Jangan gegabah. Baca situasi dulu. Jangan langsung emosi. Oke?”
“Oke Pak. Terima kasih nasehatnya.”
IMG_20111217_163206

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s