TENTANG KANTONG KRUPUK MASUK BAGASI PESAWAT, SUPIR TAKSI, DELAY DAN REUNI PERAK SMA.

IMG_20140727_074651IMG_20140728_081746

IMG_20140810_104148

Oleh : Deddy Azwar

Setelah menemukan sebuah kantong kertas besar berisi krupuk pesanan di sudut kamar, Aku buru-buru langsung mencari Mamaku. Ada sedikit rasa kesal di dalam dada.
“Ma, kenapa kantong krupuknya besar sekali!” teriakku sedikit keras, “ Repot nanti membawanya.”
“Ala kamu, biasa saja lagi. Mana ada berat sih bawa krupuk. Tinggal dijinjing. ”jawab Mamaku.
“Ada baiknya dibagi dua saja Ma. Biar bisa dimasukkan ke tas.”saranku lagi belum tenang.
Kemaren saya meminta tolong ke Mama untuk dipesankan krupuk khas Palembang sebanyak satu setengah kilogram untuk kwalitas nomor satu alias super yang nantinya akan dibagi ke tetangga dan rekan kerja. Kerupuk tersebut agar di kemas dalam kantong seperempat saja. Lalu saya memesan juga krupuk kwalitas setengah bagus alias rempesan alias krupuk reject sebanyak satu setengah kilo juga dan dikemas sama dengan yang pertama, sehingga akan menghasilkan enam bungkus. Ternyata tidak disangka bentuknya akan sebesar begitu.
Hari Minggu saya akan bertolak ke Jakarta kembali, setelah hari Sabtu ada acara reuni perak 25 tahun di SMA saya. Tak disangka ternyata acaranya cukup padat juga. Dari pukul delapan pagi sampai menjelang Isya baru sampai di rumah. Adapun rundown acaranya yang sempat saya ingat yaitu mendengar kata sambutan dari ketua panitia, kepala sekolah, kilas balik poto poto semasa sekolah, bertemu guru-guru pengajar saya baik yang sudah pensiun maupun yang masih aktif mengajar. Kemudian mengenang teman sekolah yang telah wafat. Pemberian santunan kepada keluarga mereka. Acara poto-poto selfie dan bersama-sama yang bikin heboh. Lalu acara indoor di sekolah ditutup dengan istirahat, sholat dan makan siang prasmanan. Setelah afterlunch acara outdoor dilanjutkan di sebuat kapal pesiar bernama Segentar Alam. Serunya kami diajak untuk mengelilingi sungai musi dan melewati jembatan Ampera. Akhirnya kami berlabuh di Pulo Kemaro. Setelah itu kami semua ditraktir oleh salah satu teman yang sukses untuk minum dan mencicipi donat ala Jco di dermaga Point sungai Musi. Pokoknya seru dan asik dapat berkumpul bernostalgia dengan teman-temas sekolah dulu. Kami saling tertawa bahagia, bercerita pengalaman masing-masing, menanyakan keluarga, pekerjaan dan lain lain. Kami melepaskan kerinduan setelah 25 tahun tidak bertemu. Walaupun akrab berkomunikas via sosmed.
Tanpa terasa sore itu saya telah berada di bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Sebuah lapangan terbang kebanggaan masyarakat Palembang. Sebenarnya saya ingin berangkat santai. Namun setelah membaca sms dari maskapai penerbangan…
YTH PELANGGAN NAM AIR (SRIWIJAYA AIR GROUP) :
DIINFORMASIKAN JADWAL PENERBANGAN RUTE PALEMBANG-JAKARTA IN9085 TGL 11 OKTOBER 2015 PUKUL 15.30 WIB.
CHECK-IN DI BANDARA DIBUKA 2 JAM DAN DITUTUP 45 MENIT SEBELUM JAM KEBERANGKATAN DI COUNTER CHECK IN NO 06 & 07
KAMI MENYEDIAKAN FASILITAS CITY CHECK-IN YANG DIBUKA 1 HARI SEBELUM KEBERANGKATAN DI KANTOR SRIWIJAYA AIR JL.JEND SUDIRMAN KM 3.5 NO 18 AB PALEMBANG.TELP 0711-388888.
Safety start from here tips today!!!
“Selalu kenakan sabuk pengamanan anda selama di dalam pesawat, walaupun lampu tanda pengaman sudah dimatikan.”
“have a nice, Sriwijaya Air & Nam Air Group Distrik Palembang:, Your Flying Partner.
Mau tidak mau saya musti buru-buru daripada ketinggalan pesawat. Kalau kita sebagai penumpang tidak boleh telat untuk check in, namun dari sisi maskapai boleh delay. Agak tidak adil dan bijaksana memang.
Sebelum menginjak bandara saya menyempatkan menemani orangtua tersayang bersama cucunya untuk kondangan pernikahan adik dari istri adik saya di dareah kol Wahab kertapati. Pulangnya kami agak kewalahan mencari taksi Blue bird. Setelah di telpon akhirnya datang juga. Saya sempat keliru menyebutkan nomor handphone sendiri.
Di dalam perjalanan menuju rumah, usut punya usut ternyata si sopir adalah mantan warga Jakarta juga, baru empat bulan merantau ke Palembang. Sebelumnya tinggal di serpong, Tangerang. Sungguh suatu kebetulan sekali. Kami sempat bercerita dan kelihatan akrab.
“Disini lebih nyaman mencari uang Pak. “katanya sambil menyetir, “kalau di Jakarta sehari hanya bisa membawa dua-tiga penumpang sisanya terjebak macet. Jalanan nggak pagi-sore macet dan sukar diprediksi.”
“Bukan di sini juga mulai macet Pak?” tanya saya penasaran.
“Macet disini bisa diprediksi. Paling karena lampu merah. Yang penting macetnya masih bisa jalan.”
“Oh, berarti Bapak berada di kota yang tepat.” Kataku bangga sedikit berpromosi kota kelahiran.
“Kalau di sini macetnya tidak separah Jakarta atau Tangerang. Sehari dapatlah dua ratus ribu. Bisa dapat order penumpang berkali-kali. Kalau capek saya bisa istirahat dan tidur dulu di teras Masjid. Jarak di sini juga dekat-dekat. Pokoknya saya menjalani hidup dengan nyaman. Saya suka kota ini.”
Ada perasaan kagum juga saya kepada Pak Sopir taksi ini. Sepertinya omongannya agak menyentil saya.
“Bapak betul. Suatu saat saya akan menghabiskan masa tua saya di daerah. Mungkin tinggal di Palembang ini atau di Bukittinggi. Menjauhi hiruk pikuknya kota besar metropolitan…Ngomong-ngomong kok bapak bisa langsung hapal jalanan di sini?”
“Kalau kita sebagai supir taksi diajarkan agar menghapal lokasi hotel, restoran, mall, stasiun dan bandara saja. Pokoknya lokasi strategis. Kalau untuk arah jalan bisa ditunjuki oleh penumpang.
Tiba-tiba ada SMS masuk dari Tiket.com. Cukup menghibur dan menenangkan.
….”FLIGHT PLM-CGK, 11 OCT 15:30 Flight No: Namair (IN-9085) Booking code : HHDUKA Check-in opens at 14:00 Ignore if there’s changes.
Sebelum berpisah, bapak sopir berpesan jika kembali lagi ke Palembang dapat menghubunginya. Dia dengan senang hati akan mengantarkan kemana saja.
Waktu menunjukkan 14.05 WIB. Kakiku sudah menginjak lobby di SMB II Airport. Sudah terlihat antrian di koridor keberangkatan. Suasananya tidak begitu ramai saat itu dikarenakan bukan long weekend. Jadi bisa bergerak santai. Setelah melewati pintu pengamanan saya bergegas menuju meja check-in.
Ketika check-in di depan meja CS terdengar ada suara memanggil nama saya. Eh ternyata saya agak kaget bukan main setelah tahu ternyata teman sekaligus tetangga saya di Tangerang.
“Tak disangka kita ketemu di sini.”Jawabku tersenyum. Kami bersalaman. Ternyata dia tidak sendiri, juga bersama istri dan dua anak perempuannya.
“Kapan ke sini?”
“Hari Jum’at. Ya sempat juga delay satu jam setengah karena alasan cuaca alias kabut asap yang melanda Palembang. La kamu sendiri dalam rangka apa?”
“Kami berangkat hari Sabtu pagi. Sama-sama kena delay kita. Kami menghadiri sepupu nikah. Kamu sendiri ngapain?”
“Singkat sekali mudikmu, bro. Aku ada acara reuni perak SMA.”
“Oh ya? Ganjen banget pakai acara reunian segala. Seumur hidupku belum pernah merasakan yang begituan.”
“Ah masak? Kamu saja kali yang tidak mau. Atau pernah ada tapi bukan dari angkatan kamu, Ep.”
“Mungkin kali. Wah pasti seru dan asik dong bisa ngumpul-ngumpul lagi.” Desis E-ep ketika kami telah sampai di ruang tunggu menunggu borading pass, beliau menerawang sejenak.
“Eh Gan..ketemu mantan pacar dong..” pancing temanku. “CLBK…ce-el be-ka.”
“Apaan tuh?”
“Cinta Lama Belum Kelar. Hehehe.”
Kami tertawa lepas. “Ah kamu ada-ada saja. Boro-boro. Aku kan dulu anaknya pemalu banget. Banyakan bercandanya daripada seriusnya.”
“Mana ada sih playboy yang ngaku. Hehe..”
Saya mengasih kode tema saya dengan tangan telunjuk untuk memintanya untuk merapatkan telinganya. Lalu saya mulai berbisik..”Kamu dapat salam dari Diana lho..”
“Diana? Tunggu dulu Diana yang mana bro?” Matanya membelalak.
“Masak lupa. Yang pramugari Garuda itu.”
“Oh Diana bontet alias buntel dulu kami menjulukinya. Kami berkenalan di Jakarta sewaktu sama-sama masih bujangan dan gadisan. Kami ce-es banget. Gimana rupanya sekarang. Apakah dia masih bekerja di sana?” E-ep memberondong saya dengan berbagai pertanyaan yang membuat saya kewalahan untuk menjawabnya. Tidak lama terdengar dari pengeras suara bandara.
“Perhatian-perhatian! Pesawat tujuan keberangkatan Jakarta mengalami keterlambatan dikarenakan cuaca sehingga tidak memungkinkan untuk mendarat. Kepada para penumpang untuk tetap berada di ruang tunggu sampai ada pengumuman lebih lanjut. Kami mohon maaf untuk ketidaknyamanan ini, terima kasih.”
“Wah pesawat kita kena delay semua. Kabut asap menganggu sekali.”ujarku menghela nafas.
Dalam penantian yang cukup terasa panjang dan melelahkan sedikit agar terhibur dengan kehadiran temanku ini. Dia lalu memperlihatkan poto-poto liburannya selama beberapa hari di Singapur dan Malaysia. Kebetulan ada paket promo dari Air Asia yang dilihatnya dari internet. Cukup menarik dan menggiurkan juga, sehingga suatu saat saya berjanji akan mengajak keluarga liburan juga.
Tidak lama kemudian saya harus bersiap-siap boarding pass. Sedikit kecewa karena teman masih harus menunggu pesawat yang dari Jakarta mengalami sedikit gangguan teknis. Saya raih tas ransel dan kantong kerupuk menuju antrean di pintu keluar menuju pesawat. Sampai di muka pintu saya sedikit berdebat dengan petugas disebabkan kantong krupuk saya melebihi kapasitas sehingga harus masuk bagasi.
“Bapak yakin ini kantong kerupuk saya tidak bakal ketinggalan.?”
“Kami usahakan sampai bersamaan Pak.”
“Jangan sampai saya terhambat hanya karena kelamaan menunggu kantong ini. Bagaimana bisa, sedangkan sebentar lagi pesawat akan take of.”
“Tenang Pak. Sebentar lagi akan saya akan turun dan menuju bagasi pesawat Bapak kok.”
“Oke kalau begitu. Terima kasih. Ingat jangan sampai remuk ya kerupuk saya. Eit sebentar Pak saya musti menuliskan nama saya di kantong ini.
“Boleh Pak. Ini pulpennya.”
“Terima kasih. Tolong jaga barang saya ya Pak. Maklum ini oleh-oleh buat orang.”
“Baik Pak. Biasanya barang jenis makanan akan dikeluarkan pertama di bandara Jakarta Pak.” Petugas yang berbadan subur itu mengalungkan laber kertas “Limited Release Claim Check” dan menuliskan…”9085 (nomor pesawat) CGK (Cengkareng)…X-6 + di kantong krupuk tersebut.
Sempat ada rasa tidak percaya dan kekawatiran kepada petugas tadi. Tapi apa mau dikata saya harus mentaati peraturan. Mudah-mudahan bukan termasuk petugas pencuri kerupuk. Hihi..
Alhamdulillah have a nice flight. Oh ya saya lupa menceritakan bahwa saya mendapatkan kursi selalu di samping pintu darurat saat pergi dan pulang. Menurut pramugari penumpang yang duduk disitu adalah pilihan. Berbadan sehat dan memiliki rasa tanggungjawab terhadap keselamatan penumpang lain.
Sehingga saya tidak dapat menikmati keindahan pemandangan dari jendela pesawat. Pemandangan yang disuguhkan oleh Sang Maha Pencipta. Sesampainya di bandara Sukarno-Hatta akhirnya saya bertemu juga dengan..kantong krupuk saya yang berwarna coklat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s