MASA KEEMASAN ATAU KEKUNINGANKAH MASA KECILKU? PERMAINAN MASA KECIL

IMG_20140729_105422

Oleh : Deddy Azwar

Pernahkan kalian merasakan masa keemasan? Mungkin dapat saya lukiskan…Masa kejayaan atau dengan kata lain ‘masa keemasan’ dimana sebuah suasasana atau keadaan seseorang bisa berpredikat sebagai orang awam,raja, institusi, atau sebuah kerajaan. Merasakan sebuah keberhasilan yang dicapai melalui perjuangan dan pengorbanan tak kenal waktu dan akhirnya bertemulah pada sebuah tahapan akhir yang melampaui harapan yang telah dicanangkan di awal.
Ada yang bilang posisi kamu lagi berada di atas daun. Biasanya profesi artis yang dijuluki seperti ini. Entah daun apa? Kalau dalam bayangan saya yang dapat melakukan sesuatu yang mustahil itu tidak lain seorang pendekar yang memiliki kedigjayaan kanuragan yakni ilmu meringankan tubuh. Sudah barang tentu dia dapat mudah menginjak seonggok daun yang ringan dengan leluasa. Bahkan meloncat sambil jumpalitan dari daun yang satu ke daun yang lain. Aduhai!
Lantas apa korelasi dengan judul di atas? Masak sih ya seorang anak yang baru duduk di bangku SD kelas 5 sudah merasakan kesuksesan. So pasti kesuksesan ukuran anak SD pula. Apakah mungkin meraih masa keemasan di masa kecil? Bisa saja. Ingat..Tiada yang tidak mungkin di dunia ini bisa terjadi atas kehendak yang kuasa.
Namun saya ingin berkisah tentang sesuatu hal yang berbeda lho.
Sekitar era tahun 1983 ketika itu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) Negeri 127 Palembang. Kebetulan sekolah itu berlokasi tepat di belakang rumah saya. Bisa dibayangkan betapa dekat jaraknya. Sehingga cukup dari balik tirai kaca nako saya dapat mengamati segala gerak gerik aktivitas sekolah. Baik itu pemandangan kerumunan murid-murid sedang berkeliaran pas jam istirahat (keluar main), sewaktu upacara, jajan dan lain lain.
Keuntungannya saya tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk mencapai sekolah. Paling nekatnya melewati kawat berduri rumah saya dan setelah menginjak tembok langsung meloncat deh. Akan tetapi aksi ini dilarang keras oleh Papa saya. Dia kawatir anaknya bakal nyangsang di kawat berduri dong. Untuk amannya saya harus memulai dengan jalan yang normal yakni berjalan keluar dari pagar rumah dan mengitari jalan menurun, sampai tiang listrik dekat pos siskamling belok ke kanan lalu masuk gerbang sekolah. Itulah cara paling cantik menurut anggapan Papa saya. Dan disetujui oleh Mama dan Nenek saya.
Kerugiannya juga ada lho yaitu kalau guru wali kelasku suka order teh manis hangat dan air putih dari sekolah kepadaku. Biasanya kalau pembantu di sekolah berhalangan hadir sehingga tidak ada yang menyajikan minuman untuk guru. Otomatis sayalah menjadi sasarannya. Saya terpaksa berteriak dari bawah ke rumah meminta Mama untuk membuatkan minuman buat guru. Sebenarnya agak semangat juga sih karena kebetulan yang meminta guru idamanku yang cantik dan masih muda pula. Namanya Aku sedikit lupa. Mungkin Ibu Lestari. Selain Ibu Lestari aku akan mempersiapkan seribu satu alasan untuk menolaknya. Ada lagi ketidakenakan yang lain seperti jika ada moment pelajaran Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) ada acara pelajaran tata boga atau kuliner(masak-memasak). Kenapa? Karena hampir separuh peralatan dapur Mamaku pindah ke sekolah untuk sementara waktu. Bertetangga dengan sekolah yang membuatku sebel. Terlebih lagi saya anak laki-laki. Tidak begitu akrab dengan panci, priuk, centong dan kuali. Terus..apa lagi ya. Oh ya saya juga kerap kebagian jatah piket membersihkan halaman kelas di pagi hari serta memindahkan bangku-bangku di atas meja bila teman teman tidak sempat melakukannya. Huh!
Masa kanak-kanak saya dulu belum mengenal peralatan canggih dan modern seperti sekarang ini. Dahulu kami belum kenal handhphone, tablet, kapsul, PS, Ibox, gadget dll. Saya malah sungguh berterima kasih pada Tuhan karena di zaman itu belum modern, sehingga kami terbiasa bermain dengan alam yang dikaruniakan Tuhan. Kami teramat puas dengan keadaan keterbatasan fasilitas bermain yang modern. Membuat kami menjadi anak-anak yang kuat dan tidak manja. Kami menjadi terbiasa kreatif dan banyak ide untuk menciptakan beraneka ragam permainan sesuai masa itu. Mau tahu bentuk permainan kami waktu itu. Mari kita simak…
Berenang di sungai.
Kadang-kadang habis pulang sekolah saya bersama teman sekolah bernama Daniel berenang di tepian sungai Musi. Dengan mengajak adik saya nomor dua bernama Ervan. Kami bertiga menumpang sebuah mobil truk milik perusahaan tempat Ayah Daniel bekerja. Sesampai di sana kami secepat kilat membuka baju dan celana untuk kemudian terjun ke sungai tanpa peduli airnya bersih atau kotor. Walaupun airnya sungai sering tertelan masuk ke kerongkongan kami. Masa Bodoh! Kami berlarian kesana kemari dengan cuwek dengan keadaan sekitar. Tanpa rasa malu kadang kami berbugil ria salto dari kapal ke sungai.
Mencuri pisang dari perahu pedagang yang sedang merapat di dermaga. Saling menciprati-ciprati air. Maklum waktu itu kolam renang belum menjamur. Kepuasan yang tak terbeli dan tergantikan.
Nangkring ala tarzan
Kalau anak-anak zaman sekarang tidak kesulitan menemukan arena bermain dan tempat nongkrong. Cukup menuju ke mall atau ke cafe. Kalau tempo dulu kami terbiasa kongkow di atas pohon jambu dan belimbing tetangga. Hampir semua anak khususnya laki-laki pada masa itu memiliki keahlian memanjat pohon. Jika tidak mau dikatagorikan banci kaleng. Termasuk nangkring di atas pohon kelapa yang terbilang tingkat kesulitannya lumayan. Sekali waktu saya pernah terjatuh dari pohon belimbing. Rasanya sakit, mata berkunang-kunang dan seluruh tubuh terasa gemetar.
Selama di atas pohon kami tidak akan kelaparan. Kan tinggal metik buah jambu biji, jambu air atau belimbing.
Main Petak Umpet (Singgitan)
Salah satu permainan yang mengasikkan dan mendebarkan. Biasanya dimainkan sampai sepuluh orang. Anak perempuan juga boleh diikutsertakan. Cara permainannya yang kalah harus menutup mata sambil menjaga tumpukan kaleng di dekatnya atau pohon tempat dia menutup matanya. Dia baru boleh membuka matanya saat hitungan kesepuluh bersamaan dengan berpencarnya peserta meninggalkannya mencari tempat persembunyian yang aman. Setelah itu sipenjaga perlu ke luar basecamp untuk mencari satu satu mencari tempat persembunyian peserta. Bila sukses menemukan salah satu peserta si penjaga kudu cepat berlari kembali ke tempat semula seraya memegang pohon atau menjaga tumpukan kaleng agar tetap utuh. Si penjaga akan bilang “Sin atau Cup”.
Adalagi permainan menggelindingkan ban bekas, enggrang, cabut, cengkling, bola kasti,nonton video HVS berbayar, gebokan/kontrakol, gasing, yoyo, ular-ularan, perang-perangan dengan senjata dari pelepah pisang, jedor-jedoran dari sebilah bambu kecil, pelornya dari buah cerry dan didorong dengan dengan lidi bambu sehingga menghasilkan bunyi mirip pistol, bermain gambaran, kelereng (ekar), jeduman (meriam bambu), masuk dalam tong kosong yang didorong, mobil balap dari papan dan rodanya dari kelahar sepeda, bersepeda, kungfu dan membaca majalah Bobo, Tom Tam, Hai, Mode, Kawanku, membaca komik gundala puterta petir, asmaraman s khoo ping hoo, wiro sambleng, denny manusia ikan, kungfu boy,komik silat pendekar hina kelana,petruk dan gareng dll.
Saya sempat menyewakan majalah Bobo kala itu.
Ada lagi kesibukan saya waktu kecil yaitu mencari barang-barang rongsokan / burukan (pemulung) seperti mainan bekas, bahan tembaga dan kuningan yang dipungut dari bak bak sampah orang-orang kaya. Saya bersama Masril, teman sekelas mencari uang jajan tambahan dengan menjalani aktivitas itu. Saya melakukan itu secara sembunyi-sembunyi takut kepergok orangtua. Barang-barang itu kami kumpulkan di rumah Masri. Setelah terkumpul banyak lalu kami timbang dan dijual ke penadah untuk dijadikan duit. Kami masing-masing dibekali sebuah magnet (besi berani) untuk dapat memastikannya apabila besi itu lengket berarti bahan kuningan atau tembaga. Saya juga kenal lagunya Dian Piesesha yang berjudul “bara api dalam senyummu” dari tapedecknya Masri yang saban siang disetel oleh kakaknya. Kepuasan tersendiri yang tak terbeli dan takkan terulang lagi. Namun sungguh sukar dilupakan. Inilah yang saya sebut masa keemasan atau kekuningan yang dimaksud.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s