SINOPSIS KESEPIAN DI KANTOR

SINOPSIS KESEPIAN DI KANTOR

1. NIAT MERANTAU

Sutan adalah pemuda berdarah minang yang lahir dan tumbuh besar di kota keras Palembang. Sebuah kota layaknya bronx di Amerika. Kota yang terkenal dengan kehidupan kriminalitas yang tinggi. Tepatnya waktu masa itu. Tapi itu masa lampau, kini kota Palembang lambat laun berusaha menghilangkan citra tersebut dan mulai berbenah menjadi kota industri perdagangan yang maju dengan lalu lintas bisnis yang padat. Kota itu mulai berbenah setelah diberikan kepercayaan menjadi tuan rumah Pekan Olaharaga Nasional (PON). Setelah sukses menggelar hajat besar tersebut proyek haul mulai dari tingkat nasional merangkak ke tingkat internasional menjadi tuan rumah Sea Games. Mulailah berduyun duyun tawaran menjadi tuan rumah. Ini tidak lepas dari lobby keren Pak Gubernur. Bukan itu saja persepakbolaan daerahpun meningkat pula.
Seiring seirama Potret kehidupan penduduknyapun mulai terangkat. Kota yang dulunya dijuluki kota terbelakang menjadi kota metropolitan. Pendapatan pemerintah daerahpun mulai menggeliat. Harga tanah di masa lalu seperti tidak berharga sekarang meranjak naik. Pembangunan infrastruktur dam property mulai menjamur. Dulu belum memiliki hotel berbintang lima. Kini mulai menjadi tujuan wisata dan kuliner.Menyusul pembangunan jalan layang, bus trans, ruko-ruko, mall dan apartemen. Konser-konser artis dari ibukota silih berganti datang berkunjung. Stasiun televisipu mulai berebutan untuk hanya sekedar meliput ataupun menggelar even even mereka.
Kita tinggalkan sejenak kepopuleran kota Palembang untuk beralir ke tokoh yang kita sebut di awal. Sejak duduk di kelas 3 SMA, Sutan sudah bertekad akan merantau mengadu nasib di Ibukota Jakarta, setelah menyelesaikan kuliahnya di Diploma 3 Perbankan. Sutan ingin mencoba belajar hidup mandiri di kota orang. Merantau adalah pilihannya. Sebagaimana sudah menjadi tradisi orang minang yang suka meninggalkan kota kelahiran mereka untuk menjelajah dan mencari kehidupan di kota orang bahkan di negara orang. Keinginan keras tersebut awalnya tidaklah berjalan mulus karena tidak mendapat persetujuan dari Papa dan Mamanya. Terlebih neneknya semata golek yang sangat disayanginya.
“Mengapa nenek tidak suka Aku merantau? “ tanya Sutan suatu hari bertanya mengenai alasan sang nenek menentang kepergiannya merantau.
“Aduh, cucu nenek tersayang. Awak kan tahu nenek sekarang sudah tua. Kalau awak jadi merantau ke seberang di pulau Jawa, tentu nenek akan merasa kesepian sekali. Nenek sekarang sudah sering sakit sakitan. Nenek sungguh kawatir awak akan kenapa kenapa di kota orang. Ya kalau umur nenek panjang bisa hidup 100 tahun lagi tidak masalah. Kalau tidak sampai..nenek akan sedih sekali tidak dapat menyaksikan awak menikah dan berkeluarga.”
“Ah, nenek terlalu terbawah perasaan nih. Percuma nek Sutan mempunyai darah Minang. Sutan ingin suatu saat kalau sukses akan membahagiakan Nenek kok.”
“Memangnya nenek sekarang tidak bahagia apa. Awak ini ada ada saja.”
“Sudahlah Nek. Tidak perlulah kawatir berlebihan. Doakan saja Sutan berhasil di rantau orang. Dan kalau Sutan menikah kelak nenek harus hadir ya?”
“Nanti kalau tidak berhasil dan hidupmu terkatung-katung bagaimana. Sedangkan kami jauh dan susah mendapat kabar bagaimana?”
“Sudahlah berpikiran yang tidak-tidak Nek. Nenek lupa ya, Sutan kan nanti menumpang dulu di rumah Mamak David. Anak nenek yang sudah berhasil di perantauan dan menjadi orang kaya. Bukankah itu telah menjadi bukti hijrah atau merantau juga anjuran Nabi untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Bukankah Nenek juga merantau kan dari kampung halaman untuk hidup di kota Palembang ini. Bener tidak?”
“Ah awak ini. Nenekkan diboyong oleh Mamamu ke kota ini.”
Berbeda kejadian ketika Sutan bersikeras menjelaskan niatnya kepada Papa dan Mama. Pada awalnya sangatlah susah merayu orangtuanya. Mereka bertekad ingin Sutan menyelesaikan dulu Sarjananya baru setelah itu mencari pekerjaan. Orangtua Sutan merasa berkewajiban akan hal tersebut.
“Papa dan Mama. Sutan berjanji akan memenuhi keinginan untuk melanjutkan kuliah meraih gelar S1 setelah mendapatkan pekerjaan. Sutan akan rajin menabung untuk biaya kuliah. Percayalah. Tapi bolehkah Sutan melanjutkan kuliah di IKJ. Sutan ingin menjadi sutradara. Atau mungkin menjadi desainer pakaian. Itu telah menjadi cita-cita Sutan sejak dulu.”
Sutan sutan..Simpan kata kata itu. Berkesenian dapat kau jadikan sebagai hobimu tapi jangan sebagai sandaran hidupmu. Kami hanya ingin kamu melanjutkan kuliah lalu bekerja. Jangan bercita-cita yang aneh-aneh. Kami tidak setuju kamu kerja di seni. Belum tentu menjadi masa depanmu kelak. Kamu kan tahu potret orang seni. Rambut panjang tidak terurus. Berbaju lusuh dan merokok. Hidup seenaknya dan sungguh tidak teratur.”
“Itu dulu Pa. Suatu saat orang seni akan berjaya dan banyak yang kaya. Artis akan menjadi pekerjaan yang buru-buru orang. Lihatlah artis sinetron. Hidupnya kaya. Parlente dan glamour. Rumahnya mewah hidupnya enak.”
“Iya silahkan kamu beralasan. Kamu lihat hidupnya orang-orang seni setelah tua. Setelah masa jaya dan keemasan mereka berakhir, usai pula hidup mereka.”
“Mengapa begitu?”
“Karena mereka tidak cepat tanggap memikirkan masa depan. Akibat terlalu nyeni jadi kelewat cuwek menghadapi hidup. Semasa muda mereka hidup berfoya foya. Hidup gemerlapan melupakan mereka. Lupa menabung. Apa yang terjadi ketika tua? Saat mereka tidak laku lagi. Mereka dicampakkan. Semua harta, rumah dan mobil dijual untuk menyambung hidup. Karena tidak punya uang pensiun. Teman-teman yang dulu setia satu persatu menjauh dan meninggalkan mereka setelah tahu susah. Kamu simpan nasehat orangtuamu ini. Pada dasarnya semua orangtua kepingin anaknya sukses dan hidup bahagia, Sutan.”
“Papa kok bisa tahu banyak kehidupan artis.”
“Sudahlah itu tidak terlalu penting. Makanya sering baca koran dan dengar radio.”
Sutan terdiam. Dia sadar orangtuanya memang produk orang lama yang biasa mengekang keinginan anaknya. Kebanyakan mereka bermain dijalur perasaan dan terlambat mengikuti perkembangan zaman. Namun sutan tidak mau jadi anak durhaka dan hidup kualat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s