3. SIAP MERANTAU KE IBUKOTA

IMG_20120215_121823

“Kamu serius mau ke Jakarta, Tan? Tanya Syaih Apek, sahabat akrab tetangga rumah Sutan. Nadanya agak menyangsikan.
“Jakarta itu keras lho Sutan. Pikirlah masak-masak dulu.” Timpal Koming. “Jalannya sering macet. Padat. Disana kan elu elu gue gue. Tetangga kiri kanan malah tidak saling kenal. Katonyo sih.”
“Teman sekalian. Dalam nadiku ini mengalir darah Minang. Kan kalian tahu kan apa yang diperbuat jika mereka sudah beranjak dewasa?”
“Jualan?” jawab Koming dan Syaih serempak.
“Salah. Itu setelahnya. Merantau dulu dong. Demi mencari kehidupan yang lebih baik. Kalian mau ikut nggak?”
“Kami menjaga kampung baelah.” Tegas Koming. “Aku tidak tega meninggalkan Mamaku sendiri. Mana sudah tua lagi.”
“Aku sebetulnya mau ikut Sutan. Aku sudah bosan hidup begini-begini melulu. Cuma belum dikasih izin oleh Emakku. Ciciku juga melarang. Peliharaan ikan hiasku nanti terbengkalai.”
“Kalian payah. Tidak ada keberanian merantau?” Ledek Sutan. Ada nada kekesalan sepertinya.
“Kami kan sudah merantau Sutan. Dari tiongkok sana.” Tangkis Syaih.
“Haha..Itu yang merantau nenek moyang kamu. Kamunya belum.”
“Kau saja dulu. Nanti jika sudah berhasil ajak kami.”
“Oh. Maksudnya Aku jadi pembuka jalan, begitu? Waduh enak benar kalian. Ayolah, katanya kita sahabat yang kompak sampai tua. Yuk kita merantau. Kita taklukkan kota Jakarta yang terdengar sangar itu. Kan seandainya nanti kita sukses, kita mudik dengan dada tegap.”
“Bagaimana ya?” Koming garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Belum punya ongkos Sutan.”
“Minjam sama Koko Aping.”
“Nggak dikasih. Malah kudibentaknya.”
“Bener juga ya. Nanti kalau disana tabungan kita sudah mencapai lima juta baru kita pulang lagi.”
“Kita pulang untuk mudik doang. Bagaiman kau ini, idealnya sampai kita punya pekerjaan, punya rumah sampai punya keluarga di sana.”
“Bagaimana keluargaku di sini.?”
“Aduh! Kamu tinggal kirim duit tiap bulan ke mereka. Bila perlu kamu boyong semua keluargamu ke sana.”
“Maksudmu rumah peninggalan Bapakku dijual?”
“Terserah. Niatku kepingin tinggal disana. Ngapain kita mempertahankan hidup di kota ini yang tidak menjanjikan apa-apa, Syaih?”
“Aku mencintai kota Palembang ini.” Ucap Syaih lirih.
“Sama. Aku juga. Kan orangtua kita masih tinggal di sini. Masih bisa balik lagi kalau tidak sukses. Ya sudahlah besok lusa aku jadi ke Jakarta. Tiket bus sudah dibeliin Papaku. Nenekku akan ikut mengantar. Kalian kalau mau ikut boleh. Mobilku masih muat kok.”
“Kamu langsung kos ya?”
“Sementara tinggal di rumah Pamanku. Setelah itu aku mencari rumah Kak Alex. Dia sudah menjanjikan pekerjaan buatku. Kabarnya dia sudah berhasil disana. Dia bekerjasama dengan perusahaan milik anak mantan presiden kita. Hebat ya dia. Aku disana ikut jadi anak buahnya.”
“Oke Sutan. Kami doakan kau berhasil. Dan jangan melupakan kami.” Ujar Koming. Matanya berkaca-kaca. Kepalanya tertunduk lesu.
Terbayang lagi flashback ke masa-masa kanak-kanak. Bermain sepeda bersama. Mengejar layang-layang menembus semak-semak dan daun ilalang yang tumbuh tinggi-tinggi. Berenang di tepian sungai Musi dekat jembatan Ampera. Indah nian kenangan masa lalu. Kini, seorang teman, bernama Sutan akan pergi merantau ke kota seberang. Diam-diam Koming salut sekaligus kagum pada pendirian temannya itu. Hidup adalah pilihan. Sudah sewajarnya jika kita telah mempunyai tujuan yang hendak dicapai. Kita harusnya menguncinya. Lalu fokus. Menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Berkorban segalanya, demi mengambil sebuah langkah berani meninggalkan zona nyamannya untuk memulai sebentuk petualangan, pergolakan, berjuang melawan gelombang dan riak-riak kehidupan. Jangan lengah sedetikpun, bila tidak tidak ingin dihempaskannya ke tengah samudera.
Sutan seakan berhasil membuat hikayat baru dalam hidupnya, menegakkan tonggak sejarah di lokasi mereka berdiri bertiga. Tempat dimana mereka berpijak, berkumpul saat ini, menduduki rumput jepang, di bawah sebuah pohon rindang berdahan kokoh, berdaun subur, tepatnya di lokasi pemakaman di tanah berbukit, dihiasi rumput hijau milik para leluhur kaya dari dataran China. Pemakaman itu cukup luas. Di sekitarnya berjejer-jejer berdiri puluhan pohon karet. Semilir angin berhembus sepoi-sepoi, menciptakan suasana yang sejuk dan nyaman, terletak di tanah yang tinggi menjadi alasan ketiga sahabat itu memilih lokasi tersebut. Entah kapan mereka akan kumpul bersama lagi. Siapa yang bakal bisa menebak. Koming membentak dirinya dan memarahi hidup. Mengapa setelah menamatkan TK,SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi kita mesti disibukkan lagi untuk mencari pekerjaan alias sebagai pegawai atau berkarya alias bertindak sebagai pengusaha. Jika tidak kita akan dicap sebagai pengangguran. Dan dijauhi gadis-gadis. Terus dilabeli jomblo lagi. Idiih sakit hati!
Hari telah senja. Langit mulai gelap. Matahari telah pamit dari tadi. Perlahan tapi pasti, ketiga sahabat sejak kecil itu, berjalan pulang menuruni bukit. Koming tak bosan-bosannya menepuk pundak Sutan. Syaih merangkul erat bahu Sutan. Sekali lagi mereka saling bersalam-salaman. Berangkulan dan tertawa bersama. Lalu terhening sejenak dan terhanyut dengan perasaan dan emosi masing-masing. Betapa sulit untuk diucapkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s