4. TIBA DI RUMAH PAMAN. DIKAGETKAN OLEH WANITA BERPAKAIAN PUTIH BERAMBUT PANJANG

IMG_20120811_144537

Matahari telah naik. Sinarnya tumpah memanaskan dan mengeringkan bumi. Penduduk bumi baru menyadari saat sinar ultraviolet itu menyentuh kulit mereka.
Sutan sedang duduk manis disebuah taksi yang meluncur ke pusat kota. Setelah sempat beberapa menit waktu terbuang untuk transit dari bis antar pulau antar propinsi. Setelah sampai Jakarta, pihak perusahaan otobis telah menyiapkan para penumpang bis sebuah bis berukuran sedang yang akan membawa mereka ke alamat masing-masing. Sesuai janji semula. Namun, Sutan dan tiga orang penumpang sedikit beruntung, karena tidak mendapat jatah kursi akibat kepenuhan. Akhirnya pihak bis mencari solusi mencarikan taksi.
Sutan mengucek-ngucek matanya. Dia terjaga dari tidur lelahnya, setelah sekian menempuh perjalanan sehari semalam. Dia baru sadar ternyata pantatnya masih duduk di jok taksi. Dua penumpang sudah turun lebih awal. Sekarang tinggal berdua dengan seorang remaja laki-laki seusianya. Anak berwajah oriental itu mengenakan kemeja berwarna putih berbahan katun. Sikapnya terlihat tenang. Sekilas Sutan menebak dia anak Jakarte yang mengisi liburan di Palembang. Gayanya kalem. Berbeda sekali dengan Sutan hampir setiap lima menit sekali kepalanya mendongak ke luar jendela melihat pemandangan di luar mobil. Kampungan banget deh. Takjub dan kagum dengan gedung-gedung tinggi yang keren dan mewah. Di Palembang? Gedung tertinggi hanya memiliki sepuluh lantai. Sudah tergolong keren..
“Tinggal dimana?” Akhirnya Sutan memberanikan diri bertanya. Orang dari daerah memang terkenal ramah, tidak biasa berdiam diri tanpa bertegur sapa. Apalagi sudah duduk berdua di taksi, samping-sampingan pula. Sepi obrolan. Hellowww. Sungguh membosankan.
“Depok.” Jawabnya singkat, jelas tapi kurang padat.
“Depok? Waduh, dimana itu? Duluan mana sama Ampera Raya Ragunan.?”
“Elo dulu. Gue ama sopir akan mengantarkan alamat lu dulu. Baru giliran gue.”
“Oh. Terima kasih. Tinggal di Jakarta ya?
“Iya. Gue ke Palembang cuma mau lihat Oma di sana. Elu?”
“Saya mau nyari kerjaan. Tamat kuliah bulan kemaren. Kamu masih kuliah apa sudah kerja?”
“Gue gawe. Kantor gue di bilangan sudirman. Baru pertama kali ke Jakarta ye?”
“Oh tidak, sudah tiga kali. Pertama waktu bayi. Kedua waktu SMA. Ketiga ya sekarang ini. Sendiri lagi.”
Taksi berwarna merah menyala itu tepat berhenti di sebuah rumah megah berlantai dua. Disekelilinginya berdiri pagar besi yang tinggi. Sutan dibantu sopir, dengan serta merta menurunkan kopernya dari bagasi. Beberapa menit kemudian taksi menghilang di balik pagar.
Sutan menatap rumah bercat putih lekat-lekat.
“Wow! “ batin Sutan. “Sudah kuduga rumah Mamak Davitri pasti besar megah. Selama ini yang kulihat hanya potonya. Rumahnya orang kaya kenapa selalu sepi ya?”
Sutan langsung mengetok pagar. Pemilik rumah belum juga keluar. Dicari-carinya bel sambil planga plongo. Rupanya tombol bel tersembunyi di atas kotak surat. Sutan memencet berkali-kali. Akhirnya…
Sutan meletakkan tas ransel dan kopernya di sisi kasur springbed. Tak disangka sekarang di sudah menginjakkan kakinya di Jakarta. Ibukota negara Indonesia. Wuihh. Sutan menempati kamar lantai dua. Tadi dia diantar Susi, pembantu Mak Fitri. Adalah sebuah kamar minimalis, dilengkapi teras menghadap ke jalan. Isi kamar dipenuhi perabotan yang tersusun rapi. Kelihatannya produk dari luar negeri semua.
“Aku mesti berhati-hati di sini. Bisa-bisa kesenggol jatuh. Gawat nasibku.”Sutan membatin.
Jam besar berukiran dari kayu jati berdentang empat kali. Tak terasa sudah sore. Tapi suasana rumah tetap saja sepi. Sutan menuruni tangga menuju ruang tamu dan mencoba duduk di kursi goyang. Saking asiknya duduk, tanpa sadar dia tertidur. Lelap sekali.
Sutan terjaga dari tidurnya. Meregangkan kedua tangannya seraya menguap lebar. Lalu dikuceknya kedua matanya. Gawat! Sudah pukul empat sore. Ternyata dia ketiduran enak. Masih di kursi goyang. Betapa kagetnya Sutan ketika dimengarahkan pandangannya ke arah sofa. Seorang wanita berpakaian putih sedang duduk di sofa sambil mengamati gerak geriknya. Alamak! Mahkluk apaan itu. Hantukah itu? Di rumah sebesar ini? Wajar..
“Capek sekali kamu nampaknya, Sutan?” Mahkluk itu mengeluarkan suara. Aman. Sebab suaranya sudah akrab di telinga Sutan. Sejenak dia terbelalak. Matanya yang sipit berusaha untuk melebar. Ternyata sang tante, si empunya rumah sudah datang. Sepertinya baru saja menyelesaikan Sholat Ashar, karena masih mengenakan mukena.
“Eh, Maktuo Ai. Maaf Sutan ketiduran. Habis rumahnya sunyi dan sepi.” Sutan memberi alasan.
“Pakai pesawat ya?”
“Bukan Maktuo. Naik bis.”
“Oh iya, tante lupa. Sebelumnya Zur sudah ngasih tahu kok.” Maktuo tertawa.
“Oh iya. Mama sudah ngabarin katanya.”ujar Sutan.
“Pukul berapa Sutan sampai Jakarta?”
“Tadi…Pukul berapa ya…? Eng..eng..Pukul Sembilan lewat seperempat sampai Jakarta. Mestinya habis subuh tadi sampainya. Bisnya semalam kelamaan istirahatnya. Jadi telat deh..Terus sampai rumah Maktuo siang. Sekitar Pukul Setengah satuan.”
“Sudah makan siang?”
“Sudah Maktuo. Tadi dihidangkan oleh Mba Susi tadi.”
“Bagus. Memang Tante sudah wanti-wanti ke dia. Nanti keponakan Om datang dari Palembang. Kamu siapin makan siang yang spesial. Hehe..”
“Iya, terima kasih Maktuo?”
“Enak masakannya.”
“Lezat sekali. Mantap Maktuo.” Sutan mengacungkan dua jempolnya.
“Hehehe. Bisa aja kamu. Susi memang jago masak. Makanya Tante suka. Ya sudah kalau masih ngantuk tidur aja lagi. Si Om mungkin pulangnya agak malam. Santai saja anggap saja rumah sendiri.”
“Terima kasih Maktuo. Sutan mau sholat Ashar dulu.”
“Oke.”
Tepat pukul Setengah Delapan. Semua sudah berkumpul mengitari meja makan. Sutan makan dengan malu-malu.
“Pulang kerja jam berapa tadi Mak?” Sutan membuka percakapan dengan ramah. Sutan menyebut Paman Davitri dengan sebutan ‘Mamak’. Dalam bahasan Minang berarti Paman. Mama Sutan adik dari Paman Davitri. Sedangkan Tante dengan sebutan ‘Maktuo’.
“Selepas Maghrib saya pulang. Seharusnya overnight. Cuma tadi Pak Direktur Utama minta rapat mendadak. Persiapan menyambut Bos dari United Stated. Biasalah..dia mau datang kita yang repot. Persiapan budgetlah, reportlah, ya pokoknya segala macem. Ternyata rapatnya diundur besok.”
“Tante sempat kaget melihat si om tiba-tiba sudah di depan pintu kamar. “timpal Tante Ai. “Katanya overnight. Biasanya dia suka call kalau pulang cepat. You make me shock honey. It’s okelah. No Problem.”
“Keluarga di Palembang gimana?”
“Alhamdulillah. Sehat Mak. Hanya nenek mulai sering sakit-sakitan.”
“Oh ya?” tanya Paman Davitri kaget. Sejenak dia menghela nafas. Tampak dari raut wajahnya bahwa kawatir dengan keadaan ibunya yang tercinta. “Kasihan Amak. Usianya sudah hampir 80 tahun. Tapi masih juga nggak mau diam. Jalan kesana jalasn kesini. Saya sudah sarankan waktu dimanfaatkan untuk istirahat. Masih juga membantu pekerjaan dapur.”
“Biar saja Pa. Mungkin dia kalau tidak banyak gerak nanti badannya kaku. Salah pula kita. Kelamaan berbaring di tempat tidur mungkin membuatnya bosan. Hanya saja pekerjaan yang berat jangan dulu. I think she is very expresive, maybe. Gesit lho Pa, Mamamu itu.”
“Iya Mak, nenek masih lincah kok. Kemarin ikut mengantarkan Sutan ke terminal. Sutan dipeluk lama sekali. Nenek menangis. Katanya..Nenek ingin sekali menyaksikan Sutan menikah. Doakan ya agar nenek panjang umur. Begitu katanya. Sutan jadi sedih juga. Nenek juga nitip salam ke Mamak dan Maktuo. Kapan-kapan Nenek berkunjung ke Jakarta.”
“Good. Oke.”kata Paman Davitri. Sedikit agak lega mendengar kabar perihal Ibunya. Jika diteliti, tampak mata sang Paman berkaca-kaca.
Tante Ai hanya menunduk lesu.
Sutan ikut terbawa perasaan. Seandainya saja tidak ada keduanya, kepingin rasanya ia menangis. Ternyata jauh dari orang yang kita cintai menimbulkan rasa rindu yang berbeda. Sutan kangen sama cubitan sayang sang nenek. Mendadak sutan teringat Mama, Papa dan kelima adik-adiknya di Palembang.
“Iya kapan-kapan Papa musti pulang ke Palembang. Kasihan Mama. Kelihatan dia kangen sekali.”
“Yes. I will take my vacation. So..Sutan apa rencanamu di Jakarta? Kapan akan menemui orang yang menjanjikan kamu perkerjaan itu?”
“Alex, Mak.”
“Siapa namanya? Jelek?” tanya Tante Ai sembari menyeruput Jus tomat samapi habis.
“Alex Maktuo.”
“Sutan ingin menemuinya secepatnya Mak. Biar jelas. Kalau sudah dapat kerjaan, Sutan berencana mencari tempat kost. Kalau kelamaan takut merepotkan keluarga di sini.”
“Sutan…sutan. Kami tidak merasa direpotkan kok..”jelas Tante Ai sambil meletakkan kacamata Rodenstocknya. “Tinggallah di sini dulu. Jangan kepikiran mau ngekost dulu ya. Kami senang betul Sutan berada di sini. Menemani kami yang kesepian di rumah sebesar ini. Jadi kelihatan ada nafasnya nih rumah. Terasa sepi banget kalau hanya dihuni tiga orang.”
“Iya Makto banyak terima kasih…Oh ya Maktuo, Dazil,Erick dan Delon kemana? Kok tidak kelihatan?”
“Kalau Dazil masih di Stated sama istri dan anak-anaknya, Erick masih kuliah di Kansas ambil teknologi. Sedangkan Delon dan keluarganya menetap di Bintaro.
“Pantes…sepi. Suda pada keluar semua ternyata…”
“Oh ya Sutan…” tanya Paman Davitri sambil berdiri tegak seraya mendorong kursi ke bawah meja. “Dimana addressnya si Alex itu?”
“Daerah Tebet Mak.”
“Besok lusa kamu kesana ditemani si Ai. Kebetelan dia mau main bridges di Pondok Indah. Mamak minta di antar kamu dulu. Oke?”
“Oke Mak.”
Selesai makan malam, mereka menuju ke kamar masing-masing.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s