MISS YOU ALL, KETEMU ARTIS, LONELY DAN TERBAWA PERASAAN

IMG_20111218_181052

5. MISS YOU ALL, KETEMU ARTIS, LONELY, KESEPIANDAN TERBAWA PERASAAN

Hari Sabtu telah tiba. Sutan sedang sibuk melipat sprei spring bed. Merapikan selimut tebal. Membersihkan karpet kamar dengan vacuum cleaner. Sutan ingin kamar beserta isinya terlihat sempurna. Bersih dan rapi. So..ketika Erik pulang mendadak dari Kansas, looks everything is oke. Clean n perfect!

Selesai membereskan tempat tidur, Sutan beranjak untuk merapikan segala pernak pernik benda di atas bufet. Berupa sovenir-sovenir impor. Pasti dibelinya dengan dollar. Ada gitar klasik mini, mobil formula one mini, motor harley davidson mini, ferrari mini, motor sport mini dan rok mini cheerleader tim softball…(nama yang terakhir bukan celana asli).

Erik, anak paling bontot dari keluar Paman Davitri ini tergolong remaja yang selalu mengikuti perkembangan mode dan upto date. Gaul gitu. Terlihat pakaian-pakaiannya yang tergantung rapi di dalam lemari. Terutama t-shirtnya keren-keren. Cool. Kemejanya sungguh mengikuti perkembangan zaman. Anak orang kaya sih. Sutan mengguman. Fashionable sekali Kebetulan pintu lemarinya tidak terkunci..

Untungnya ruangan kamar dilengkapi AC tanam berukuran, sutan tidak banyak mendapati debu. Sutan serta merta menyusun majalah-majalah milik Erik. Jenis-jenisnya ¾ Peka. Sutan mengelompokkan berdasarkan jenisnya. Ada majalah musik Rolling Stones. Ada majalah khusus teknologi, majalah khusus film dan majalah remaja. Let’s talk about music. Selera musik Erik juga oke punya. Erik dibekali mini compo, tapedeck juga walkman. Koleksi kaset dan cdnya juga bejibun. Dari album solo, hits single, evergreen, best of the best. Genre musiknya pun bervariasi. Dari klasik, simpony, orchestra, pop, slow rock, jazz dan sarung. (kalau ini bukan jenis musik tapi buat perlengkapan sholat) Tampaknya Erik menjauhi dangdut dan metal. Kalau saja dia mengenal siapa itu Rhoma Irama, tentu dia akan ketagihan dengan stylenya. Petikan gita Bang Haji fantastik sekali. Kasihan Erik…Koleksi kaset milik Erik yaitu, Madonna, Rem, Oli, New Kids on the Block, Oasis, Toto, Tommy Pages, Yellow Pages, Duran-duran, Level 42. Sutan kaget karena tidak menemukan kaset murottal?

Selera film gimana? Lebih canggih lagi koleksi vcd dan laser disc lumayan banyak. Ada serial tv film, sequel film, musical, horror, drama, action dan discoveri channel. Kapan-kapan saya musti setel film dan musiknya nih, batin Sutan.

Sedang asik-asik berbenah, tiba-tiba dari arah bawah terdengar suara berisik. Penasaran, Sutan berlari kecil mendekati jendela. Menyingkap tirai, lalu…

Dari atas Sutan mengamati seorang gadis remaja cantik sedang asik bermain bersama anjing pudel kesayangannya. Secepat kilat Sutan mencomot binokuler di atas rak dinding. Lima menit kemudian Sutan serius mengeker sambil memonitor tingkah laku dan gerak gerik sang gadis.

“Astaga! Mudah-mudahan bukan mimpi!” Pekik Sutan agak keras. “Iya. Betul sekali. Rasanya kenal deh. Siapa ya? Aduh! Tidak salah lagi. Dia….artisss!!!”

Sutan girang bukan main. Kepingin dia salto dan berjingkrak jingkrak ke sana ke mari. Syukur, dia bisa menahan luapan kegembiraannya.

Right, rupanya rumah Paman Davitri bertetanggaan dengan rumah milik orangtuanya Amara, sang vokalis Lingua. Penyanyi terkenal ibukota. Band new comer yang digilain para remaja saat ini. Lagunya juga asik punya.

“Makanya Koming, Apek, Parman, Hodland.” Sutan meneriakkan nama-nama temennya satu persatu. “Sungguh rugi kalian, tidak ikut saya merantau. Diajak untuk merubah nasib ogah. Sekarang, pengalamanku bertambah dibanding kalian. Cuma kenal artis lokal doang. Hehe. Catat ya, sebentar lagi aku bakal ajak kenalan tuh artis.”

Ketika masih asik meneropong Amara, Sutan kelupaan bahwa dari bawah melirik sang artis juga mengamatinya dari bawah. Secepat kilat Sutan menutup tirai dan langsung meloncat di atas spring bed. Jantungnya berdegub kencang. Ketahuan deh…

Beberapa jam berlalu. Sutan merasa kesepian lagi. Tak sanggup dia mengusir sepi yang kembali menjangkitinya.

Sutan dengan lemas mendaratkan pantatnya yang bidang ke lantai. Punggungnya dibiarkan menyender di sisi tempat tidur. Sekonyong-konyong terbayang wajah orangtuanya yang nun jauh di sana. Sedang ngapain ya mereka? Bayangan wajah adik-adiknya serasa melayang-layang di atas langit-langit. Uda kangen sama kalian. Padahal baru segenap seminggu, Sutan sudah kesantet penyakit melankolis. Terlebih lagi saat teringat wajah neneknya yang rada cerewet, imut tapi baik. Ay..ay… Kalau saja ada telepon genggam pasti sudah aku hubungi mereka. Tekadnya.

Sutan segera membongkar tas ranselnya. Kelihatan merogoh sesuatu. Ternyata sebuah album poto kecil. Pengobat rindunya. Semenjak tiba di Jakarta belum pernah sekalipun dia menjamahnya. Dibukanya cover depan album. Dipandanginya lekat-lekat lembar demi lembar. Terasa air matanya menetes. Sutan menangis tersedu-sedu. Layaknya tangisan Nobita dalam film kartun Doraemon…

Rumah besar dan megah itu kembali sepi. Tadi pagi Paman Davitri pamit untuk main golf. Sedangkan Tante Ai mengikuti pertandingan bridges di kantor Paman. Susi, asisten rumah tangga sedang masak di dapur. Mas Bachri, tukang bersih halaman sedang ngapelin pembantu depan rumah. Paling nanti sore, Sutan mencoba merayu Mas Bachri untuk mengajaknya berkeliling komplek. Sambil mengamati rumah Amara, tentunya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s