DIA LO GUE (DIALOG)

 

IMG_20120216_150242

Oleh : Deddy Azwar

      Hampir di setiap malam minggu dan di tiap tahun ini, Sitty merasa hidupnya monoton banget. Kenapa? Sudah beberapa dekade do’i masih menyandang status jomblo. Awalnya sih bisa diatasi. Lama kelamaan tidak betah juga. Bisa-bisa terkenal penyakit cinta koroner, pembengakakan hati yang luka, kekurangan darah cinta, tekanan belaian sayang dan broken syndrome and you.
Jomblo alias masih belum dapat pacar alias single ini sebetulnya sudah diantisipasi oleh Sitty sejak tamat SMA. Makanya saat memasuki usia remaja, Sitty termasuk golongan yang mudah bergaul. Walaupun basicnya dia pemalu, daripada kuper mending malu-maluin sekalian. Untungnya Sitty dibekali wajah manis menggemaskan, dibaluti kulit putih, ditanamkan pipi chubby, dihiasin dengan dua mata bulatnya yang selalu berbinar-binar. Bodynya sedang kok. Gendut nggak kurus jauh. Level menengah mendekati sedang.

Nah! Waktu zaman SMA, Sitty otomatis pernah juga jadi incaran para remaja cowok-cowok di lingkungan sekolah. Hampir tiap pagi digodain, dicubitin dan diajak berteman. Sayangnya, di antara sekian banyak kerumunan, tak ada satupun makhluk yang mempunyai keberanian menyatakan suka, sayang dan cinta. Menawarkan menjadi pendamping. Teman curhat. Teman nonton. Teman belanja. Teman kanak-kanak(lho?).
Merujuk dari kejadian di atas, Sitty langsung mengoreksi diri. Kira-kira apa yang kurang dari dirinya. Semua oke kok. Wajah cerah, body semok, miskin juga nggak, kuper apalagi, tinggi standar de-el-el. So what apa loh? Perlu diet biar kayak peragawati. Ah udah ah, capek.

Oh ya..Ada sebuah momen kalau tidak diingat yang teringat terus bahkan lengket sampai sekarang. Susah dilupakan. Saat duduk di bangku kelas tiga SMA, ada seorang cowok yang naksir dan menguber-uber Sitty. Terutama di saat jam istirahat, Sitty biasanya rutin langsung memasuki kantin sekolah. Si Cowok yang diketahui bernama Dullah itu, dengan nama panggilan Patrick (oh, sungguh tidak nyambung sekali), dengan tiba-tiba sudah mencegat Sitty diiringin semburan rayuan-rayuannya. Dan…Sitty acapkali kaget dengan serangan mendadak tersebut.
“Hai, hello Sitty. Mau ke mana?” goda Dullah suatu hari. Mengeluarkan tampangnya yang pas-pasan. Jika diteliti dari jarak dua kilometer kita seperti melihat artis zamannya catatan si boy, Onky Alexander yang ganteng itu. Akan tetapi setelah didekati seperti Monkey Jeleksantet. Bayangkan!
Sitty hanya tersenyum dan cepat mengontrol emosi serta nafsu. Walaupun dinampakkan seonggok dinosaurus di hadapannya, Sitty tetap bersikap kalem, berprinsip jangan tegang, harus tetap tersenyum, biar laku. Dengan ukuran standar senyum, yaitu mulut kanan ditarik 3 centimenter, mulut kiri ditarik 3 centimeter, bola mata menampakkan kesayuan, nafas ditahan, perut dimundurkan 5 centimeter dan pantat di condongkan 5 centimeter.
“Eh, Tulang ya?” jawab Sitty ramah. Dalam hati kecilnya, ingin rasanya membating si Dullah dengan teknik tae kwon do dan menenggelamkannya di selokan. Hiyy.
“Nama Gue Dullah, Sitty.” Dullah, sang remaja kolot ini mengoreksi namanya, “ayah dan bundaku hampir dua tahun lho searching di internet mencari namaku.”
“Maaf, Dullah. Gue mau ke kantin.”
“Mau ngapain Sitty?”
“Nambal ban! Namanya ke kantin itu mau makan dong. Masak mau jongkok.”
“Oh nggak maksud gue..Kirain mau sekedar beli cemilan. Boleh ikut nggak?”
“Boleh.”
Dullah pun dengan luapan hati gembira mengiringi langkah Sitty yang gontai akibat lesu. Mengapa saya selalu diikutin penampakan makhlus halus melulu. Sekali-sekali makhluk manis gitu. Mulut Sitty tampak seperti komat-kamit bak dukun sembur. Prilaku yang ganjil itu memancing Dullah ingin bertanya.
“Bibirnya kenapa Sitty. Kayak orang komat-kamit. Sariawanita ya?”
“Nggak, lagi baca ayat kursi.”
“Idihh, emang saya sebangsa setan..”

Pada awalnya Dullah bersikap gentle mau mentraktir makan bakso dan pempek di kantin. Tapi cukup sehari doang. Besoknya dia mengaku kelupaan bawa dompet. Akhirnya Sitty yang membayar jajanannya yang lumayan banyak. Sudah bisa ditebak oleh Sitty. Untuk seterusnya Dullah bukan lagi lupa membawa dompet, akan tetapi memang tidak dibawanya sejak dari rumah. Benar-benar memanfaatkan kebaikan Sitty. Dullah yang mempunyai tampang standar itu ternyata percaya dirinya sudah terlanjur akut. Dullah merasa Sittylah yang harus berterima kasih dan wajar mentraktir dirinya. Sebab selama perjalanan ke kantin Sitty dia jaga dari godaan rayuan remaja-remaja hidung belang, layaknya bodyguard. Percaya diri Dullah betul-betul kebablasan.

Pada suatu hari Sitty sudah menyusun rencana secara matang untuk menjebak dan memojokkan Dulla di muka umum eh salah di muka kanti maksudnya. Seperti biasa mereka bareng makan di kantin lagi. Sitty hanya makan mie ayam, pempek lenggang dan krupuk kriting. Lalu segelas jus alpukat. Sedangkan Dullah dengan nekat makan banyak. Cemilannya soto mie, bakso malang, keredok dan kopi susu. Saat sedang serius makan, diam-diam Sitty pura-pura ke toilet lalu kabur lewat pintu belakang. Dullah dengan ramah mempersilahkan, tanpa curiga sedikitpun. Masih percaya diri akan tetap ditraktir Sitty. Sesampai di kelas Sitty menghela napas lega dan duduk di bangku dengan tenang. Sedikit berbisik…lo gue end. Meninggalkan Dullah yang terbengong sendiri. Terdengar kabar Dullah diuber-uber oleh para pedagang-pedagang di kantin. Bahkan Mba Stella menyodorkan sapu ke muka Dullah. Akhirnya, saking malunya Dullah langsung bolos sekolah. Besoknya izin sakit dua hari. Trauma dikerjain Sitty.

Namun, peristiwa lalu menjadi awalnya kekesalan Sitty. Layaknya karma diterima gadis imut, manis dan berpipi chubby itu. Setelah mengelabui Dullah yang suka berulah itu. Entahlah, apakah Dulla mengadu ke dukun pelet? Atau menjalani puasa mutih dengan nazar Sitty mendapat balasan yang setimpal. Ah, masa bodoh, pikir Sitty. Ngapain gue sampai mikir ke situ ya?

Peristiwanya malah terjadi setelah Sitty sudah kuliah di semester awal. Ceritanya Sitty lagi bete di kamar kosnya yang gede tapi sumpek? Kebetulan teman-teman kosnya pada keluar malam mingguan untuk wakuncar. Pada hari bersejarah itu Sitty kembali menyandang status jomblo (lagi?)
Ketika sedang asik memeluk boneka kungfu pandanya di atas tempat tidur. Tiba-tiba ringtone SMS berbunyi Tut…tut..keladi awo-awo siapo yang terkentut ditembak rajo tuo…(ringtone yang aneh). Dengan sigap gaya jomblo Sitty langsung membaca…Pesan dari temannya Lily Krucilia. (nama yang aneh?)
Eh, Cabbi lagi ngapain elu? Udah jangan molor mlulu. Ntar melar lho. Kita keluar yuk. Apa kek nonton. Kongkow.
Sitty langsung membalas..
Gue nggak lagi molor, tau. Gue lagi fb, wa dan instagram sama temen-temen gue.
Nonton apa? Dimana?
Nonton orang mandi sudah nggak jaman. Nonton bioskop aja ya.
Oke. Elu yang traktir?
Alah..Be-es be-es aja dong. Kiriman gue belon dateng.

Akhirnya mereka sepakat bertemu di bioskop. Setelah sempat mengobrol seru karena jarang menggosip bareng lagi. Lily Krucillia mempersilahkan Sitty memesan tiket terlebih dahulu untuk film yang akan diputar jam 16.00. Otomatis Sitty kaget.
“Sitty, elu pesen tiket aja duluan. Ntar gue belakangan.” Ucap Lyli santai bonsai.
“Sebentar. Ini agak aneh bagi gue. Perasaan gue lagi kagak enuak nih.”
“Nggak enak gimana? Elo sakit ya?” Lyli memegang jidat Sitty. “Uh, bohong nggak demam kok.”
“Udah! Tadi ngajak gue untuk nonton bareng. Lha sekarang gue beli tiket sekarang. Ntar kita duduknya berjauhan. Gimana? Mikirrr! Dimana-mana kalau janjian harus bareng-bareng Lylii!!!.
“Eh anuh…Maaf Sitty. Nggak mesti bareng atuh. Kan kita janjian untuk ketemuan di bioskop aja. R Tadi pas lagi di angkot pacar gue nelpon. Katanya mau nimbrung nonton juga. Dia sudah memesan tiket duluan. Jadi gue ama dia duduknya dekatan.”
“Bukannya elu pernah cerita sudah putus. Status elu lagi jomblo. Dan katanya mau nyalonin jadi ketua jomblo sekampus. Teganya elu Lyli kempoot!! Teganya elu ngeboongin gue. Elu menghianati tali perjombolan kita. Tahu gitu mending gue molor tadi. Elu sudah membuang waktu istirahat gue.” Sitty mulai gerah dan mau teriak sambil menangis bombay boolywood.
“Maafin gue. Ini juga tanpa disengaja Sitty. Please..Dia tiba-tiba ngajakin gue baikan lagi. Gimana dong. Dia bilang hanya gue yang dicintai di dunia ini. Yang lain ngontrak. Rada gombal memang sihh. Dan ternyata… gue masih sayang…sama doi. Gue sudah bilang terus terang sama dia bahwa gua lagi mau nonton sama temen. Gua bilangin jangan ganggu dong. Tapi dia bersikeras dan memohon-mohon kayak orang mau nangis. Malah mau ngancam akan bunuh diri di pohon cabe. Gue…gue..nggak tega…Sitty. Please…”
Apa yang hendak dikata. Burger telah menjadi spagety (kok maksa sih). Sitty hanya terdiam kejang. Pikirannya campur aduk seperti adonan pempek. Gondok, kesal, marah dan naik pitam semua naik ke kepala. Namun pada ujungnya hanya bisa pasrah.
Di dalam bioskop, di saat temannya yang tega naga itu asik bercengkrama dengan pacarnya di depan kursi milik Sitty. Ya..Sitty yang duduk berteman dinding yang dingin. Padahal film yang sedang diputar adalah film kesukaannya dengan sang aktor Jacky Chen. Sitty telah berusaha untuk berkosentrasi penuh untuk mengikuti alur cerita film bergenre action-drama itu. Tetap lunglay. Kadang tanpa sadar dia tertidur. Saat terjaga Sitty film masih berlangsung. Tanpa sadar air matanya menetes. Disekanya dengan tissu. Lalu beranjak ke luar bioskop dengan gontai…Dia lo gue. Perlu dialog untuk memulai sesuatu di luar kuasa kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s