MENCARI KANTOR KAK ALEX,MENEMUKAN KEBOHONGAN PUBLIK DAN TETAP SEMANGAT

 

IMG_20120218_144233

Oleh : Deddy Azwar

 

Sesuai yang dijanjikan Paman Davtri, bahwa dia akan meminta istrinya untuk mengantar Sutan mencari alamat kantor tetangganya di Palembang, telah ditepati. Tante Ai pun menyanggupi dengan senang hati. Hari itu bertepatan dengan jadwal beliau bertanding bridges antar istri-istri kantor di mana tempat Paman Davitri bekerja. Pagi itu Tante Ai dan Sutan, diantar sopir meluncur ke bilangan Jakarta Selatan menuju ke arah Tebet. Mereka sempat menemui kemacetan di beberapa titik ruas jalan.

Sesampai di sana, Tante Ai membantu Sutan mencarikan kantor yang dimaksud. Mereka berjalan di sebuah komplek pertokoan yang masih sepi. Biasanya ruko-roko baru buka jam setengah delapan ke atas. Sebelumnya sempat kebinguan mencari tempat bertanya dikarenakan masih sepi. Di pos penjaga, tidak seorangpun kelihatan batang hidung satpam.

“Sutan, kalau ditilik dari alamatnya benar ini tempatnya. Kantornya sepertinya menyempil di antara pertokoan di sini.”

“Tidak salah lagi Mak Tuo.”

“Kita tunggu rame dulu. Mak Tuo masih rancu sama nomor atau bloknya. Nomornya kurang cantik jadi susah tembus.”

“Iya Mak Tuo. Tembuss?? Kurang jelas dan membingungkan.”

“Itu.”

Setelah menunggu sekitar setengah jam, muncullah seorang satpam yang sibuk membetulkan ikat pinggangnya. Tampaknya baru saja pipis. Kelihatan dari mukanya yang mirip stiker toilet. Dia hendak menuju ke pos penjaga. Sesekali tangannya menutupi mulutnya yang menguap lebar. Masih terkantuk.

“Maaf Pak.” Sutan mendekati, sedangkan Tante Ai menunggu di tempat, “Saya mau bertanya.”

“Iya Mas. Silahkan.” Jawab satpam itu sambil garuk-garuk pantat. Mungkin di gigit tokek.

Dengan serta merta Sutan menunjukkan sehelai kertas berisikan alamat. Satpam mencodongkan kepala ke kertas itu. Matanya mungkin kurang awas atau rabun pagi. Makanya harus lebih dekat.

“Oh. Kantornya berada di lantai dua, Mas. Kalau nggak salah pasti benar kan? Itu kantor Air supply.”

“Bapak ini bagaimana toh. Itu nama penyanyi dari Australia. Persedian air eh udara ding. Jadi itu kantornya?”

“Betul. Maaf tadi maksud saya supplier, mas. Sudah beberapa hari ini tuh kantor kelihatan sering liburnya. Sepi. Mungkin lagi tidak ada proyek.”

“Hah! Sepi Pak? Bangkrut, maksudnya.”

“Tahu dah. Samperin saja ke sono.”

“Oh. Saya kirain lemper..Jadi laper.”

Tidak begitu sulit mencari tangga untuk menuju kantornya Kak Alex. Walaupun sedikit agak tersembunyi di belakang gedung.

Dengan mudah Sutan menemukan kantornya Kak Alex yang persis terletak di paling pojok. Tante Ai mencoba untuk mengamati suasana di dalam kantor dari celah jendela yang tidak tertutup tirai. Seraya celingak celinguk hingga hidungnya yan mancung menempel di kaca nako. Buru-buru dibersihkannya debu-debu itu dengan sehelai tissue. Sutan tersenyum.

“Tidak ada tanda-tanda kantor yang sibuk, ya? Di atas meja hanya ada kabel-kabel bersliweran tak beraruran, sebagai penghubung laptop. Beberapa lemari tua. Jok. Ada banyak map menumpuk miring.”

“Kantor yang lucu ya Tante Ai.”

Tidak lama kemudian naiklah seorang laki-laki sambil menyandang ransel dan memangku map berwarna merah. Mereka saling melempar senyum.

“Kenalkan Mas, saya Sri.” Laki-laki itu pertama menyodorkan tangannya dengan ramah.

“Sri..? Saya Sutan.” Balas Sutan bercampur bingung. Entah dengan namanya atau tampangnya.

Terjadilah percakapan singkat dan akrab. Baru diketahui ternyata Sri berasal dari Palembang juga. Dia mengakui telah beberapa hari mampir ke kantor Kak Alex ini. Namun tidak pernah menemui seorangpun yang ngantor. Melihat Sutan sudah ada temannya, Tante Ai pun mohon pamit.

“Sutan, kalau nanti mau pulang telepon saja ke Om atau Maktuo ya. Nanti dijemput sopir.”

“Nggak usah Mak Tuo. Nanti Sutan mencoba pulang sendiri saja.”

“Sutan ini Jakarta. Bukannya di daerah. Nanti kamu bingung mencari jalan ke rumah. Nanti malah nyasar. Mak Tuo nanti diomelin. Lain kali saja kalau mau pulang sendiri. Ya udah Maktuo pergi dulu.”

“Iya Mak Tuo. Terima kasih banyak. Hati-hati Maktuo.”

Tinggalah Sri dan Sutan menunggu di jok panjang. Sampai jam setengah sepuluh kantor tetap sepi. Sri ternyata juga dijanjiin bakal dikasih pekerjaan oleh Alex.

“Tan, kita samperin saja ke kos-kosannya. Tidak begitu jauh kok dari sini.”

“Kos-kosan? Rumahnya kali maksudmu?” tanya Sutan dengan mulut masih ternganga.

“Si Alex belum punya rumah di Jakarta ini.”

“Memang kamu tahu alamatnya, Sri?”

“Tahu. Saya sudah pernah dua kali ke sana. Ayo!”

“Yuk. Kamu bawa kendaraan?”

“Ada. Itu kendaraannya.” Kata Sri sambil menunjukkan bis jurusan kampung melayu yang melintas.

“Dasar. Hahaha…”

“Kalau jam segini bis biasa penuh. Siap-siap berdiri ya.”

“Oke.” Jawab Sutan mantap sambil berbisik lirih..”.Jakarta akan kutaklukkan. Perjuangan awal dimulai.”

Dengan menyambung kendaraan ojek, akhirnya sampailah mereka di tempat kos-kosan Alex. Sebenarnya dalam hati, Sutan tampak malas, lesu dan bimbang untuk bertemu dengan tetangganya itu. Sutan menangkap sebuah kebohongan publik yang telah dilakukan seorang oknum bernama Alex. Kembali terngiang-ngiang ucapan-ucapan Alex yang bercerita yang indah-indah tentang pekerjaannya dan kehidupannya di Jakarta. Sutan kehilangan gairah sama sekali. Pengorbanan yang dilakukannya untuk pergi merantau tidak segampang yang dipikirkan. Menyebrang pulau dengan tekad membara untuk meraih sukses masa depan yang gemilang. Menyebrang ke pulau Jawa sehari semalam di atas bis. Tapi kini…

Benar dugaan Sutan. Betapa kaget raut muka Alex ketika bertemu dengan Sutan. Seolah-olah sedang melihat setan di siang bolong.

“Hallo Sutan. Apa kabar? Silahkan masuk tamu dari jauh. Aku tidak mengira kau bakal benar-benar menemuiku di Jakarta. Saya kira anak rumahan seperti kamu tidak mungkin. Ternyata….salut salut.”

Di tengah suasana hati yang galau dan morat-marit, Alex tetap menservis tamunya dengan ramah. Segera dia lari ke warung depan untuk mencomot tiga buah teh botol dan beberapa bungkus cemilan ringan.

Sutan hanya mesem-mesem saja. Faktanya seorang Alex hanya menempati dan meninggali bilik-bilik sempit saja di Jakarta ini. Jauh dari ucapannya, bahwa dia tinggal sekomplek dengan pemilik perusahaan. Di sebuah komplek perumahan yang megah dan luas. Ternyata…hanya rumah kos. Tidak juga ditemukan sebuah mobil sedan mewah yang mengantar jemput. Boro-boro memakai supir. Dusta belaka. Sutan lebih menghargai seandainya Alex berkata sejujurnya. Tapi mungkin juga Sutan tidak mungkin sampai menginjakkan kakinya di tanah Jakarta, kalau Alex berkata sebenarnya. Ngapain dia mesti jauh-jauh merantau.

“Maaf ya Sutan. Saya sudah membohongi kamu. Ya, beginilah keadaanku di sini. Aku mohon kamu jangan ceritakan dulu ke ayahku. Aku belum sanggup menerima kemarahannya.”

“Itu kesalahan Kak Alex. Kenapa tidak berterus terang. Bahkan terhadap orang tua sendiri berani berbohong.”

“Dua tahun lalu saya sempat sukses. Kami selalu memenangi beberapa tender proyek. Yah..walaupun bukan proyek besar. Tapi sering. Usahapun lagi jaya-jayanyas. Tapi lumayanlah untuk menyambung hidup. Membayar sewa kantor, sewa apartemen. Juga memperkerjakan beberapa karyawan. Akibat terlanjur menuruti gaya hidup metropolitan. Gaya hidup level jet set gitu. Dan…salah satu teman kami tidak menyukai kelakuan boros kami. Badaipun datang. Teman kami itupun minggat. Padahal sangat kami andalkan setiap ada tender proyek. Perlahan kami jatuh. Otomatis kami kesulitan untuk menembus tender proyek. Makanya belum berani ke kantor. Karena sudah dua tahun nunggak. Untungnya belum diusir. Aku harap kau maklum Sutan. Aku berjanji akan mengajak bekerja jika kami mendapatkan proyek lagi. Aku janji!”

Kak Alex menepuk pundak Sutan dengan pelan. Dengan muka tetap tertunduk. Sedangkan Sri hanya berdiri mematung sambil menyender di dinding yang sedikit terkelupas. Dipandanginya map yang sedari tadi berada di dekapannya. Air mata akan menetes langsung dihapusnya segera. Berakhirkah perjuangannya di sini?

Sutan hanya bisa tersenyum kecut. Sinar ceria tadi pagi, telah sirna seketika.

“Sri, sebenarnya nama lengkap kamu siapa?” tanya Sutan ketika dalam perjalanan pulang.

“Sriyanto.”

“Kirain Sriyanti.”

Mereka tertawa hambar.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s