6. KETIKA KECEWA BERGANTI BAHAGIA TAK TERDUGA

IMG_20120330_164633

Oleh : Deddy Azwar

Setelah dikecewakan oleh Kak Alex, Sutan tidak mau berputus asa. Dia kumpulkan semua tenaga, dia kobarkan semangat dan dia buang jauh-jauh rasa sesal, sedih dan rasa malas yang tiba-tiba datang menyerang. Dia harus bangkit dan berdiri. Kekecewaan dan kesedihan akan menimbulkan sebuah penyesalan yang tak akan ada habisnya. Malah akan membawa keterpurukan. Yang akan bermuara kepada kegagalan. Sutan tidak mungkin terus bersedih, bertangis-tangisan, berteman saputangan yang selalu basah kuyup dan menyender di ujung ranjang dengan muka tertunduk. Itu bukan jiwa seorang ksatria. Mirip film india dan sinetron Indonesia.

Masa itu telah lewat. Sebuah pekerjaan yang ditawarkan Kak Alex sepertinya sudah tidak harapan lagi. Angan-angan untuk langsung cepat bekerja pupus sudah. Bayangan akan mengalami nasib sebagai seorang pengangguran sementara sudah di depan mata. Sutan mulai membuka lembaran baru. Karena dia sudah kadung merantau dari kota kelahirannya menuju Jakarta untuk mecari pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Tidak mungkin toh dia harus balik lagi ke Palembang. Istilah kata, genderang peperangan nasih telah ditabuh, terompet perjuangan telah ditiupkan, sang ksatria pun telah siap dengan tekad disertai perlengkapan senjata yang lengkap. Dan berkeyakinan penuh menuju medan perang untuk berlaga.

Tujuan Sutan sebetulnya baik, dia sebagai anak tertua dari enam bersaudara, kesemuanya laki-laki, tidak ingin merepotkan kedua orangtuanya. Adik-adiknya yang telah beranjak dewasa tentu lebih membutuhkan biaya untuk sekolah maupun kuliah. Sedangkan Papa sudah pensiun ketika Sutan menuntaskan program diploma perbankan. Otomomatis Sutan merasa dialah satu-satunya menjadi harapan tulang punggung keluarga. Sebagai kakak dia rela mengalah demi adik-adiknya dapat melanjutkan sekolah. Biarlah dia pergi merantau untuk meringankan beban keluarga. Namun Sutan berjanji dan bertekad untuk melanjutkan kuliah dan mengambil gelar kesarjanaannya setelah uang tabungan dari hasil bekerja kelak sudah mencukupi. Itu hutangnya kepada Papa dan Mama. Dia ingin sukses dan dapat membantu ekonomi keluarga. Kalaupun belum bisa membantu, setidak-tidaknya dia telah mampu menghidupi dirinya sendiri.

Setiap hari Sutan telah disibukkan dengan menulis lamaran. Lembar per lembar ditulisnya dengan tulisan tangan sambung dengan rapi. Sutan tidak mau mengandalkan mesin ketik atau komputer. Dari tulisan tangan dapat menggambarkan karakter seseorang. Kemaren sore Sutan memborong 10 buah map dari warung dekat rumah. Warna mapnyapun ngejreng. Pink! Kebetulan warna map lain sudah habis. Dia juga membeli kertas bergaris dan amploh coklat berukuran A4.

Sutan mulai hunting mencari alamat-alamat perusahaan dari yellow pages. Dia tidak memilih-milih bidang perusahaan. Mulai dari pabrik ban, transportasi, perhotelan, waralaba, otomotive, perminyakan dan teknologi. Namun Sutan tetap memprioritaskan perusahaan keuangan atau perbankan sesuai bidang studynya. Untuk beberapa hari Sutan berkutat di kamar melulu. Mirip gadis pingitan. Tante Ai jadi kebingungan sendiri melihat tingkah Sutan yang jarang keluar kamar. Biasanya sering kelihatan ngobrong bareng Mba Susi dan Mas Bachri, asisten rumah tangga. Sampai-sampai menjelang makan siang Sutan harus dijemput dan dipanggil-panggil dulu oleh Mba Susi. Tante Ai kawatir melihat Sutan masih larut dalam kesedihan dan kekecewaannya.

Suatu pagi secara tidak sengaja, Tante Ai melintas ke kamar anaknya, Erik, kini dihuni Sutan.  Sambil mengintip dari luar. Kebetulan pintu kama agak terbuka sedikit. Melihat Sutan yang rajin membuat surat lamaran pekerjaan, Tante Ai hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala. Ternyata Sutan tidak larut dan surut. Baguslah, Tante Ai membatin. Sesekali Tante Ai langsung buru-buru turun ke bawah untuk mencari Mba Susi. Tante Ai lantas memintanya untuk membelikan makanan ringan dan membuatkan segelas susu coklat untuk Sutan. Saat itu Sutan agak terkejut. Setelah mengetahui darimana ide tersebut berasal. Sutan langsung menghampiri Tante Ai untuk mencium tangan dan mengucap terima kasih. Tante Ai mengusap ubun-ubun Sutan sambil tergelak-gelak.

Suatu pagi di hari senin. Sutan sudah tampak rapih sekali.

“Selamat pagi Maktuo.Sutan pergi ke kantor pos dulu ya. Mohon pamit.” Sutan sempet celingak celinguk, setelah akhirnya menemukan Tantenya lagi asik di kitchen room.

“Ngapain? Sudah buka kantornya jam segini?” tanya Tante Ai.

“Anu..Sutan mau masukin lamaran dulu ya.” Kata Sutan seraya membetulkan letak posisi topinya. Sambil menjinjing kantung plastik berwarna hitam berisi map dan amplop.

“Oh oke deh. Hari ini ke perusahaan mana saja?” Tanya Tante Ai sedang membantu Mba Susi memasak di dapur. Matanya terus tertuju pada buku masakan di atas meja. Kacamatanya sengaja diturunkan hingga menempel ke hidungnya yang bangir. Mulutnya tampak komat kamit. Kemudian dia berbicara sedikit keras seperti memberi aba-aba (arahan) ke Mba Susi. Sang pembantu mengangguk-angguk tanda bingung.

“Kalau Jum’at kemaren mengirim ke semua alamat kantor bank di Jakarta ini. Hari ini campur-campur kok Maktuo. Pabrik sepatu juga. Show room mobil juga. Ada yang dikirim ke PO.Box dan sisanya Sutan mendatangi HRD nya. Kalau nggak nitip ke Satpam perusahaan.”

“Good.” Oke deh. Hati-hati ya. Mau di antar supir?” tawar Tante Ai.

“Nggak usah. Terima kasih Maktuo. Kantor posnya dekat, di depan komplek. Paling naik angkot saja nanti ke Cilandak KKO.”

“Good. Oh ya, yang dekat Trakindo itu. Maktuo lupa ngasih tahu. Eh, ternyata Sutan sudah tahu duluan. Denger-denger di situ ada puluhan perusahaan ngumpul di sana. Perusahaan asingnya juga banyak. Mudah-mudahan ada yang nyangkut. Semoga success ya.”

“Terima kasih Maktuo.”

“Oh ya pulangnya jangan sore-sore. Hari ini makan di rumah saja. Siang ini masakannya very special lho. Iya nggak Mba Susi? Jangan jajan di warung-warung di pinggir jalanan. Pokoknya jangan sembarangan deh. Kurang higenis. Kalau terpaksa benar-benar cari tempatnya yang bersih ya.”

“Iya Maktuo.”

Pagi itu suasana kantor pos masih lengang. Biasanya kalau agak kesiangan, ramainya minta ampun. Masalahnya itu kantor pos hanya ada satu-satunya di area komplek. Kebetulan lokasinya mendompleng dengan gedung kampus Institut Ilmu Pemerintahan. Sutan sengaja datang pagi, biar tidak desak-desakan. Setelah beres memasukkan beberapa lembar amplop ke loket.

“Kilat khusus atau biasa Mas?” tanya petugas loket pos.

“Kalau khusus harganya berapa dan Kapan sampainya Pak?”

“Seribu lima ratus, besok sampainya. Kalau dua ribu lima ratus diusahakan sore ini.”

“Yang biasa saja Pak. Tidak terlalu buru-buru kok.”

“Kalau biasa bisa dua hari. Bisa juga nggak sampai..”

“Nggak sampai. Waduh, maksudnya bagaimana Pak? Hilang di jalan gitu?”

“Ah, kamu serius amat. Orang saya bercanda kok. Itu sudah menjadi tanggung jawab kami untuk berusaha mengantarkan sampai ke tujuan dalam kondisi baik.”

“Ah Bapak. Ada ada saja. Saya kirain….Masalahnya ini surat adalah masa depan saya. Surat ini juga yang menentukan berapa lama saya tetap tinggal di Jakarta.”

“Wow..sebegitunya. Pasti surat lamaran kerja ya?”

“Betul Pak.”

“Iya ya. Kalau surat undangan pernikahan kalau bisa kilat khusus super deh. Ha ha ha..”

Mau tidak mau Sutan jadi tertawa juga melihat petugas kantor pos yang lucu itu.

Saat hendak ke luar dari kantor pos, mata Sutan tertuju kepada seorang gadis cantik berambut panjang hitam terurai. Melintas tepat di muka Sutan. Pakaiannya tampak santai dan casual. Berkacamata rayban hitam. Bercelana pendek kedombarangan. Jemarinya yang halus dan lentik itu mengeggam seutas rantai untuk anjing pudel. Sang anjing yang berpita berwarna pink dan berkalung sorban…eh salah snoopy maksudnya, berjalan ke sana ke mari sambil riangnya. Seolah-olah sedang melintas di atas catwalk. Lha kok kita malah fokus ke anjingnya ya! Nonanya masak dianggurin sih.

Nafas Sutan seakan berhenti berdetak. Lalu merasakan jantungnya berdebar kencang. Matanya tetap menatap ke depan. Perlahan mulutnya melongo. Bermimpikah diriku, jeritnya dalam hati. Apakah aku tidak salah melihat. Masak sih terbuai mimpi di pagi bolong. Sutan mencubit pipinya. Oh rupanya terasa  sakit. Ini sungguh kenyataan! Yup, seonggok gadis cantik yang biasanya hanya bisa dia tonton di televisi hadir penampakannya. Hanya beberapa jarak dari tempatnya berdiri mematung.

Ya ya ya. Seorang gadis yang pernah di intipnya dari jendela kamar atas. 100 persen asli itu ternyata Amara, vokalisnya Lingua yang keren itu. Khusus pada masa itu lho.

Secara sadar atau tidak mulut Sutan berteriak genit. “Amaraa…!!! Lalu pingsan dua detik. Setelah siuman langsung ditutupnya mulutnya yang comel itu. Bikin malu saja.

Amara spontan menoleh. Mencari-cari sumber suaranya.

“Hai..”tegur Amara ramah seraya refleks menarik rantai anjingnya karena si pudel nyaris nyelonong ke selokan.

“Hai juga. Kapan nyanyi lagi di tivi?” tanya Sutan sudah mulai berani. Walau masih grogi.

“Aduh..kapan ya.”jawabnya halus dan sedikit manja. Wajahnya sedikit merona. Sutan sempat melirik kulitnya yang kuning langsat. Mulus dan berbulu halus di lengannya.

“Kita lagi vakum dulu,” lanjut Amara. “Teman-teman sedang sibuk menyusun konsep apa yang akan dipakai untuk album kedua kita nanti. Jangan lupa beli kasetnya ya.”

“Oh pasti Mba Amara.”

Ternyata Amara juga hendak mampir ke kantor pos juga. Katanya waktunya tak banyak dan harus buru-buru guna keperluan syuting video clip. Sebelum kehilangan momen. Sutan buru-buru mengeluarkan sebuah amplop dan langsung disodorkan ke gadis di hadapannya. Amara bengong sejenak.

“Sebuah amplop. Buat apa nih. Kamu mau melamar saya ya?”

“Boleh minta tanda tangannya ya Mba Amara? Saya lupa membawa buku. Jadi..tanda tangannya di amplop saja ya.” Alasan Sutan.

“Ini kan amplop melamar kerjaan kamu kan. Sayang dong. Mana sudah ada alamatnya lagi.”

“Nggak apa-apa kok demi artis idola. Gampang nanti saya tukar dengan amplop baru.”

“Oke deh. Di baliknya saja ya.” Amara langsung membubuhkan tanda tangannya.

Sutan mengangguk cepat. Hatinya berbunga-bunga. Kalau saja bakal ketemu Amara, dia pasti sudah menenteng kamera. Amarapun berlalu, meninggalkan Sutan yang masih berdiri takjub. Maklum orang ndeso dari daerah, jadi jarang melihat artis bening.

Dengan sigap amplop hasil tanda tangan itu dipisahkan dari plastik. Sutan beranjak mencari tempat duduk persis di bawah pohon rindang. Setelah celingak celinguk. Takut ada orang lewat. Amplop itu dicium dengan bertubi-tubi..Ingat Sutan surat lamaran kamu belum pada dikirim lho..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s