SERIAL KAMPUSING…AKIBAT BOLOS KULIAH MENAIKI MOTOR TANPA HELM, AKHIRNYA DITANGKAP POLISI

Oleh : Deddy AzwarIMG_20140731_092524

Suasana kampus tampak sepi menjelang sore.

 

Beda banget saat di pagi hari, halaman kampus dipenuhi oleh kerumunan  mahasiswa. Biasanya beberapa orang membentuk kelompok-kelompok nongkrong sendiri-sendiri. Ada yang duduk-duduk di kantin karena lapar belum sarapan. Ada juga memanfaatkan kantin sebagai tempat ngumpet jika sedang bolos kuliah. Ada juga hanya sekedar mampir lalu membaca buku atau menyalin PR. Ini salah kaprah. Wrong place wrong purpose. Mestinya di warung tegal eh perpustakaan maksudnya. Ada yang sengaja menjadikan kantin menjadi tempat transit semata menunggu pelajaran yang belum dimulai atau menunggu pak dosen yang belum kunjung datang. Pokoknya bermacam-macamlah. Beberapa mahasiswi memilih kongkow di perpustakaan. Ada yang lagi fokus membaca buku, majalah atau koran. Ada yang juga sekedar duduk santai sambil bergosip membahas artis sinetron semalam. Tidak sedikit dari mereka yang tidak mempunyai tujuan sama sekali pergi ke perpustakaan. Ibaratnya mau ke kantin nggak punya uang, karena kiriman dari orangtua belum sampai, mending menghitung-hitung buku saja di sana. Ada ada saja.

 

Tekya, Arman, Ollan, Yamato, Juned,Midun dan Sahrul sedang berkumpul di parkiran motor. Teman-teman sekampus menjuluki mereka Gang Ceki atau Sodok.  Julukan bagi orang yang kesehariannya diwarnai dengan permainan di meja billiard alias bola sodok. Bahkan Jun suka diledekin proses kelahirannya di atas meja billiard. Makanya kepalanya kembaran sama bola billiard.

 

“Eh, lur..Pak Mahfud belum keliahatan batang tengkoraknya. Ngomong-ngomong dia niat mengajar nggak sih.” Juned membuka percakapan. Kepalanya yang nyaris plontos itu ditutupi topi ala Pak Tino Sidin.

“Iya sih kumis pak raden ketiduran kali di ruangannya.” Yamato asal ngejawab.

“Kudengar dari siswi cewek Pak Mahfud memang dari pagi tadi tidak ada di kampus. Mungkin mencari saweran lain.” Terang Juned.

“Bukan To, dia lagi nyukur kumisnya kali. Saking asiknya bulu yang lain ikut kecukur. Haha”ledek Arman.

Mereka tertawa terbahak-bahak.

“Haha. Pak Mahfud emang lucu ya. Sudah orangnya pendek, perutnya gendut lagi. Kalau sedang jalan pantatnya keman-mana.” Midun ikut menimpali.

“Sudah sudah, berdosa lho meledekin orangtua.”Tekya menengahi. “Ntar kedengaran dosen lain. Berabe kalo kita dilaporin. Gawat kita.”

“Ihh..tahu-tahu orangnya sudah nongol di depan kita. Habis kita disetrap sampai malam. Hua hua. “ucap Arman.

“Oke, begini aja lur..” ucap Sahrul sambil melintir kumisnya yang kalah tebal dengan pak dosen. “Kalau sampai jam dua kurang seperempat beliau belum datang kita cabut aja ya. Aku nggak enak sama Mba Emy. Karena meja kita sudah dipesan dan dipegang oleh dia. Besok-besok dia ogah mempercayai kita. Berarti…Pak Mahfud hari ini kurang beruntung bakal tidak ketemu boy band billiard. Hehe..”

“Setujuuuu!!”

 

 

Dasar kelakuan kawula remaja. Memang sih, sore itu ada mata kuliah Statistik. Pak Mahfud yang menjadi dosen pengajar, sampai jam setengah dua belum juga datang. Tekya CS tampak gelisah. Bukan karena mereka sungguh mencintai Statistik, akan tetapi naluri bermain billiard mereka suka kumat ketika menjelang sore. Midun, bahkan secara terang-terangan mengakui sudah kebelet pingin meluk meja billiard. Berbeda dengan tabiat Ollan, ingin segera melepaskan hasrat menciumi tongkatnya. Arman malah ingin mencoret-coret mukanya dengan spidol di meja skor. Tekya kalau memandangi meja billiard seakan-akan melihat spring bed. Bawaannya kepingin molor sambil ngorok. Sahrul lebih parah lagi, khayalannya tinggi, ingin mendekap dan memeluk Mba Emy dari belakang. Waduh kacau juga anak satu ini.

 

Mba Emy, nama seorang gadis manis, pencatat skor billiard,  yang acapkali menunggu mereka datang dengan harap-harap cemas. Maklum pelanggan prioritas. Amy suka kesepian jika gang billiard absen. Sebabnya kelakuan gang ini selalu membuat ramai. Selalu saling meledek dan bercanda di antara mereka. Pokoknya Amy selalu terhibur dan sering mesem-mesem sendiri. Seharusnya mereka dijuluki gang pelawak. Julukan gang billiard terlalu keren.

 

Saat yang ditunggu telah tiba. Sesuai komando Midun, sebagai kepala gang sudah memberi perintah untuk kabur. Mereka segera berhamburan menuju tempat parkir motor. Arman mempersilahkan Tekya untuk membonceng motor bebeknya. Midun berpasangan dengan Yamato. Sahrul menebengi Juned. Sedangkan Ollan tiada teman yang menemani alias sorangan wae alias jomblo. Pada awalnya motor mereka berjalan beraturan sambil konvoy. Lama-kelamaan jadi berpencar karena sudah sabar lagi ingin cepat sampai tujuan. Sahru dengan mengendarai motor plat merah memacu kencang. Diikuti oleh Ollan tidak mau kalah. Mereka salib-saliban sambil zig zag.  Arman yang berada di barisan paling depan sudah tancap gas, meninggalkan asap-asap dari knalpot yang berterbangan keman-mana. Midun juga berniat menyusul Arman. Kesimpulannya, mereka akhirnya berpencar-pencar dengan jarak rentang cukup jauh. Memilih jalan-jalan masing. Ayo, siapa cepat dia dapat.

 

Saking percaya dirinya mereka sampai melupakan bahwa bukan tidak mungkin mata-mata polisi sedang mengintai. Sebab para penebeng yang dibonceng tak satupun mengenakan sabuk pengaman eh helm maksudnya.

 

Arman dan Tekya sedang gelisah tingkat tinggi. Bagaimana mungkin saat ini mereka sedang berhenti di lampu merah, tapi disebelahnya ada sebuah mobil hardtop hijau berhenti juga. Di belakang kemudi ternyata seorang polisi sedang membawa bosnya. Tak ampun lagi, Arman dan Tekya kaget bukan main.

 

“Eh, Man. Coba lihat di samping kita sepertinya mobil polisi.”bisik Tekya sambil menjawil pundak temannya.

“Bukan kali. Mobilnya bukan mobil dinas kepolisian. Buktinya nggak ada sirenenya.”

“Memang nggak. Tapi di dalamnya…”

“Gawat!! Kalau begitu kamu pegangan yang kuat ya. Kita kabur saja. Aku mau ngebut.”

Arman berusaha untuk tancap gas namun motor mereka tidak bergerak sedikitpun.

Belum sempat melaksanakan niatnya. Ternyata sang ajudan Polisi yang berbadan besar dan tegap dengan angkuhnya menarik motor mereka dari belakang dengan sekuat tenaga. Roda belakang motor Arman nyaris terangkat sejauh sepuluh sentimeter. Lama kelamaan lepas juga cengkraman itu. Tak ayal lagi motor Arman menabrak tiang lampu merah. Mereka berdua jatuh tersungkur dengan sukses. Arman ternyata tidak patah arang. Dia masih berniat ingin kabur. Bayangan-bayangan jelek menari-nari di atas kepalanya. Ketakutan bakal diinterograsi di kursi listrik, masuk bui atau dikeroyok rame-rame oleh sesama penghuni penjara jika tertangkap nanti. Arman mulai beranjak dan hendak lari. Tiba-tiba kaosnya serasa ditarik erat-erat disertai bogem melayang di jidatnya.

 

“Ayo. Anak bandel mau lari kemana kamu. Berani-beraninya tidak pakai helm di wilayah ini.”

“Ampun Pak Polisi.” Teriak Arman lirih sembari meronta-ronta. “Lepaskan dong!”

Begitu cengkaraman di lepas. Tak ada aral melintang, Arman yang merasa berwajah mirip penyanyi kondang masa lampau, Tommy J Pisa itupun kembali jatuh. Kemejanya langsung kotor kena tanah merah. Sedangkan celananya sedikit robek di bagian dengkul. Darah segar mengalir dari sana. Tekya langsung menghampiri dan memapah temannya itu. Tekya merasa iba melihat keadaan temannya. Tampak jelas meringis sambil menahan sakit. Muka Arman yang hitam berubah menjadi merah padam, kalau saja bapak itu sendirian kemungkinan  akan berbeda episodenya, so pasti Tekya sudah mengeluarkan jurus tendangan kungfunya yang terkenal berbahaya. Akan tetapi Tekya tidak mau mengambil resiko. Bisa repot urusannya.

 

“Tahan Basuki! “Teriak seorang bapak-bapak bertumbuh tinggi itu berkata kepada ajudannya. Segera dia turun dari mobil untuk melerai. Sang ajudan bernama Basuki itu, mundur beberapa langkah. Dengan sigap diambilnya tongkat sang bos, yang tiada lain dan tiada bukan seorang adalah Kepala Samsat. Kebetulan mereka dalam perjalanan menuju rumah.

“Bas, coba kamu cek surat-suratnya!” Perintah Bapak itu tegas.

“Siapp Pak. Laksanakan.” Jawab Basuki dengan suara lantang. Ternyata di balik mukanya yang garang, tersimpan ketampanan wajahnya. Kulitnyapun putih terawat.

Tanpa diperintah lebih Arman lanngsung membuka dompet pink hello kittynya. Dikeluarkannya SIM dan STNK. Saking gugupnya kartu-kartu lainpun ikut keluar dan berjatuhan. Termasuk kartu…

Basuki langsung memungut kartu mahasiswa milik Arman.

“Mereka mahasiswa Pak,”lapor Basuki dengan mimik muka serius.

“Oh ya?”jawab Bapak kepala sambil mengeleng-gelengkan kepala. Lalu tersenyum dingin. “Cepat kamu proses Bas. Saya masih ada urusan. Kalau sudah kembali ke mobil ya.”

Sang bos membisikkan ke sesuatu ke telinga ajudannya. Kemudia dia mengangguk-angguk.

Karena masih ada urusan lain si Bapak Kepala memerintahkan untuk menahan surat-surat milik Arman. Tanpa berkata sepatah katapun di bergegas masuk kembali ke mobil.

“Suart-surat kalian kami tahan. Besok pagi ambil saja di kantor Samsat. Begitu pesan Bapak. Silahkan pulang.”

“Baik, terima kasih Pak.”jawab Arman dan Tekya serempak.

 

 

“Bagaimana wak Midun. Kita lanjut atau pulang.”tawar Juned kepada Midun, ketua gang.

“Lanjut aja. Kita sudah kadung di sini.” Jawab Midun sambil terus melihat jam tangannya.

“Bagaimana dengan Tekya dan Arman?” tanya Sahrul sambil mengerlingkan matanya. Teman-temanya tidak ada yang bisa menangkap maksud kerlingan mata Sahrul.

“Aku yakin mereka pasti kesini kok.” Ucap Ollan pasti. “Ayo kita menunggunya di dalam saja.”

Mereka bergegas masuk ke dalam Megahria Mall.

 

Mba Emy baru saja membuka meja billiard. Jemari tangannya yang mungil dan lentik dengan gesit, telaten dan cepat menyusun dan mengatur tempat bola-bola yang berjumlah lima belas buah. Semua bola ditampung oleh kayu segitiga, sehingga tidak lari kemana-mana. Setelah selesai Mba Emy mempersilahkan Sahrul terlebih dahulu mendapat giliran untuk menyodok bola putih yang tepat berada di tengah bagian bawah. Sahrul membungkukkan punggungnya hingga dadanya menyentuh ujung meja. Matanya disipit-sipitkan seperti orang mau menembak seekor kijang dengan senapan laras panjang. Stick billiard dipleintir-plinter biar kelihatan sepertim master snooker. Selang beberapa menit…Kletaarrr!!. Bola yang semula tersusun segitiga berhamburan ke setiap sisi dan sudut area berlapis karpet hijau yang halus. Sore itu Sahrul kurang beruntung. Bola putihnya lebih dahulu masuk lobang. Sedangkan bola-bola lain tidak ada satupun yang masuk. Sehingga tidak mendapat point. Malah minus.

“Sudah seperempat jam kita menunggu. Kok Arman sama Tekya belum datang juga sih.”kata Midun gelisah. “Nggak asik kalau kita-kita saja yang main nih.”

“Nyasar kemana ya mereka. Niat nggak sih mau main billiard.”Yamato juga ikut berkomentar. Beberapa menit yang lalu dia hanya termenung di kursi pojok.

Sepuluh menit kemudian

“Hei kawan-kawan itu Arman sama Tekya datang!” teriak Ollan gembira.” Asiik.” Kaget

Mulanya kawan-kawan satu gang kaget melihat keadaan Tekya dan Arman yang datang agak tertatih-tatih. Arman menceritakan semua kejadian tadi sore.

 

Keesokan harinya. Arman dan Tekya sudah duduk di ruang kerja Bapak Kepala Samsat. Sambil dengan muka tertunduk mereka seriu menyimak nasehat-nasehat beliau.

“Aduh aduh, ternyata adik-adik ini mahasiswa ya.” Ucap Bapak itu berwibawa. Nada suaranya benar-benar teratur dan tersusun rapi. Maklum, perwira tinggi.

“Siap Pak. Iya Pak..”jawab Tekya.

“Mestinya prilaku mahasiswa tidak seperti ini dong. Betul tidak?”

“Betul Pak!” jawab Arman cepat.

“Tidak betul Man eh Pak.” Tekya membenarkan.

Bapak perwira itu melanjutkan lagi, “Adik-adik ini pasti orang-orang yang berpendidikan tinggi. Sudah mahasiswa lagi, ya toh. Saya percaya kalian mempunyai intelektual yang baik. Terntu sebagai seorang mahasiswa , terdidik lagi tidak seharusnya mengendarai motor tanpa mengenakan helm. Sedangkan helm itu manfaatnya untuk keselamatan kalian juga. Coba kalau tadi di tengah jalan tiba-tiba jatuh atau ketabrak. Bukannya mendoakan yang tidak-tidak. Coba apa yang terjadi? Sayangilah kepala kalian. Cintailah otak kalian. Itu karunia yang tidak ternilai dari Tuhan. Bermodal akal dan pikiran itulah dapat mengantarkan kalian menjadi mahasiswa. Camkanlah baik-baik omongan saya. Apakah kalian tidak malu jika hal ini diketahui oleh rektor atau orangtua kalian?

“Malu Pak. Kami menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi Pak.”ucap Arman seperti memohon.

“Itu sih ucapan klise setelah tertangkap. Semuanya pasti ngomong begitu. Saya ingin dengar ucapan janji dari..dari lubuk hati yang paling dalam. Layaknya janji ksatria. Berjanjilah kepada diri sendiri. Berucaplah secara dewasa dan terpuji….”

Arman dan Tekya sedang menikmati minuman es kelapa hijau di depan Gedung Sport Hall Sriwijaya. Keduanya saling berpandangan dan akhirnya tertawa-tawa. Mereka sepakat berkata dalam hati bahwa yang baru saja mereka alami adalah pengalaman yang langka dan berharga. Mereka bersyukur sekali tidak kena tilang dan disidang. Malah mendapat undangan khusus dari Kepala Samsat.

“Pengalaman ini akan kuceritakan kepada anak-anakku kelak jika seandainya sudah berumahtangga.” Ucap Tekya sambil tersenyum. Pikirannya menerawang.

“Aku juga.” Kata Arman sembari garuk-garuk kepala.

Mereka berduapun bertoast-an.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s