(Serial Kampus…sing) RUNTUHNYA KESOMBONGAN SI JAGO SNOOKER

IMG-20151124-WA0001

RUNTUHNYA KESOMBONGAN SI JAGO SNOOKER

Oleh : Deddy Azwar

Hawa siang hari ini begitu dingin seperti siraman salju yang jatuh perlahan-lahan dari langit. Begitu seperti apa yang dirasakan oleh Arman. Ya Iyalah, Arman, Ollan dan Tekya sedang berada di Megahria Mall saat itu. Kebetulan ditambah lagi hujan masih turun dengan derasnya membasahi bumi Sriwijaya. Menambah semakin dingin suasana. Seperti menggigit gigit kue lapis yang legit selangit!

“Amboyy dinginn nian ya di sini. Lama-lama aku bisa kaku dan hypotermia nih,”keluh Arman seraya memeluk badannya sendiri. Kadang-kadang keduatangannya di lengketkan ke mulutnya yang sering berhembus. Dia penasaran kira-kira dari mulutnya akan keluar asap putih apa tidak. Jelas tidaklah. Kecuali turun salju betulan.

 

“Aduh, Man baru dingin begini saja kamu sudah payah. Bagaimana kalau suatu saat kita pergi ke eropa. Lebih kamu nggak usah ikut deh.”ledek Ollan.

 

“Kalau ke eropa aku pasti kuat dong.” Arman ngeles.

“Nggak usah ke eropa dulu. Kamu tes lapangan saja ke Curup di Bengkulu, atau di Bukittinggi atau di Puncak yang ada di Jawa Barat. Jauh amat sampai ke eropa.”timpal Tekya pura-pura mengibaskan kerah baju seperti orang kepanasan kena sinar terik matahari. Dia sengaja mau meledek Arman yang sotoy.

 

“Tekya belagu.”ujar Arman cengengesan.”Jaketku kutinggalkan di motor lagi. Atau aku ke parkiran sebentar ya, fren. Aku mau jaketku dulu. Habis dingin.”

“Tidak kompak nih Man. Kan kita saya sama Tekya tidak mengenakan jaket juga. Katanya kita timpuk eh team work. Kalau nanti kamu pakai jaket jadi timpang kelihatannya gang kita. Udah deh jangan cemen deh.”tandas Ollan sambil berkacak pinggang. Mirip juragan yang mau jual sapi kurban.

“Aku takut demam. Kata Mama jangan sering sakit, ongkos dokter mahal.”

“Ke dukun sembur saja.” Sergap Tekya.

Telah setengah jam tiga sekawan dari gang ceki berkeliling di Megahria Mall. Salah satu pusat perbelanjaan yang berada di kota Palembang. Tempat perbelanjaan terlengkap. Kebanyakan toko-toko diisi oleh para penjual pakaian, penjahit pakaian, barber shoop, mainan anak-anak, elektronik, kedai, kantin, restoran dan perlengkapan rumah tangga. Yang membuat mereka betah berlama-lama bermukim di gedung itu karena banyak juga tempat arena bermain dan hiburan. Arena game dingdong ada, bola tangkas juga. Di lantai paling atas ada bioskop 21 alias teater dilengkapi empat layar. Satu lantai di bawahnya ada arena billiard. Tempat inilah bagai surga bagi mereka. Sebuah tempat menghilangkan stress setelah selesai jam kuliah yang cukup menjemukan. Tempat mereka bercengkrama sambil bercanda ria. Kalau sudah menginjakkan kaki di sana, semua masalah persoalan, baik itu soal-soal ujian kuliah, PR dan dimarahin dosen langsung hilang dari ingatan. Arena billyar bagaikan kampus kedua mereka. Mereka bebas tertawa-tawa dan berteriak-teriak kecil. Selain itu juga sebagai sarana mejenging cewek-cewek penjaga meja billiard yang rata-rata berparas manis dan imut. Bagi bapak-bapak disediakan penjaga yang sudah keibu-ibuan.

 

Detik itu juga jejak langkah Arman, Ollan dan Tekya dengan pasti menuju ke tempat Billiard. Kebetulan hari ini mereka bertiga sedang tidak mood untuk berbelanja dan menonton film. Hari itu teman-teman yang lain tidak bisa ikut karena bentrok sama mata kuliah yang lain. Di kampus mereka menganut sistem tutor yaitu setiap ruangan diisi oleh hanya lima belas orang. Cara belajarnya kebanyakan diwarnai dengan tanya jawab antara dosen dengan mahasiswa lalu antara mahasiswa dengan mahasiswa. Di paruh waktu dtutup dengan diskusi interaktif. Berlaku untuk semua mata kuliah. Kecuali dalam seminggu ada dua kali kuliah umum. Dimana semua mahasiswa di kumpulkan dalam suatu gedung auditroium untuk membahas satu pelajaran mata kuliah. Bisa dibayangkan betapa gaduhnya. Semua tumplek jadi satu. Malah menjadi tidak konsentrasi. Biasanya Tekya and the gang menyukai kuliah umum. Karena di saat dosen menerangkan dengan penuh berbusa-busa, mereka santai tidur di bangku bagian belakang.

Memang, kuliah umum ada kekurangannya. Membuat jadi kurang efektif. Dosen ngomong kemana. Siswa asik merumpi. Lebih mirip lagi nonton konser atau stand up comedy yang dibungkus dengan pendidikan. Khusus hari sabtu ruangan auditorium disulap menjadi bioskop gratis untuk menghibur siswa yang kebetulan sedang tidak ada kegiatan. Tapi di hari minggu gedung tersebut sering disewakan untuk resepsi pernikahan. Karena kegiatan perkuliahan libur. Usaha sampingan kampus.

 

Sistem tutor ini diadopsi dari Australia. Negara yang nota bene pendidikan sudah lebih maju dan modern. Ide ini tercetus saat sang rektor melancong ke negeri kanguru tersebut, sambil meninjau cara belajar di sana. Rektor membayangkan kalau saja diterapkan di kampusnya pasti bisa lebih efektif. Ada kalanya sistem barat tidak cocok untuk iklim timur. Betul tidak?

 

Lima menit kemudian Arman, Tekya dan ollan sudah berada di arena billyar. Mereka tengah asik menyodok bola

billiard. Sepertinya Arman sudah melupakan hawa dingin di Mall tersebut. Aura permainan billyar membuatnya seperti ditimpa terik mentari. Terasa panas dan bergelora.

 

Mba Emy, bagaikan teman mereka bertiga di meja billiard. Beliau dengan sangat sabar dan telaten mengurusi para remaja-remaja tanggung itu. Mba Emy selalu senyum di setiap kesempatan. Baginya pelanggan adalah pengeran yang harus diservis dengan baik. Kebetulan tingkah mereka masih terbilang wajar. Tidak seperti tingkah pelanggan yang sudah bapak-bapak suka banyak tingkah. Kadang ada satu dua yang hidung belang dan doyan nyolek. Belum lagi asap rokok suka dihembuskan ke sembarang tempat. Permintaannyapun terkesan aneh. Misalnya mereka mau memesan kopi susu sama Mba Emy. Namun di temapt billiard tidak menyediakan karena kebetulan persediaan kopi sedang kosong. Eh, si bapak-bapak malah ngotot minta dibeliin ke warung depan Mall. Huh! Emang Mba Emy kurang kerjaan.

 

“Eh, kalian bela-belain kemari hujan-hujan begini cuma buat main billiard doang. Emang hari ini tidak ada jadwal kuliah? Jangan-jangan pada bolos ya. Kasihan orangtua kalian sudah cepek-capek membiayai kuliah.” Sabda Mba Emy siang itu.

“Mba Emy, memangnya nggak merasa ya kalau kita kemari hanya buat ketemu kamu seorang.” Arman mencoba mengeluarkan rayuan hoaxnya.

“Ah masak.” Mba Emy melirik ke arah Arman sambil senyam senyum ge-er. Jemari tangannya dengan gesit menyusun bola-bola billyar hingga membentuk segitiga.” Kok aku nggak merasa ya.”

“Bener Mba Emy, timpat Tekya. “Arman tadi bilang sudah kangen berat pingin ketemu. Kangen senyumnya dan kangen suaranya mba.”

“Iya hanya Arman takut dimarahin cem-ceman Mba Emy.” Ollan ambil bicara.

“Siapa sih cem-ceman saya?”

“Itu lho Sahrul.” Jawab Tekya mantap.

“Oh, si om kumis ya. Hehehe…” Mba Emy kembali mesem-mesem sambil tertunduk malu. Sepertinya dia emang ada hati sama Sahrul, teman satu gang Tekya. Sahrul adalah remaja tampan, mempunyai alis tebal dan hitam melingkar di atas matanya yang bulat. Belum lagi kumisnya yang hitam rapi dan lebat dibiarkan tumbuh di atas bibirnya yang juga tebal. Bikin semua wanita tak tahan. Ada saru lagi andalannya Sahrul yaitu senyumnya yang sengaja dimanis-manisin. Bila diamati secara seksama dan dalam tempo, gatra, me eh salah ding! Maksudnya senyumannya itu sungguh maut bingits.

 

“Eh Bik Cek Saqenaa!”teriak Midun dari kursi belakang, dalam sebuah perkuliahan umum. Karena suasana kelas lagi gaduh teriakan Midun nyaris tak terdengar oleh Saqenaa. Sang cewek anti terhadap teriakan cemprengan. Dia tetap berkonsetrasi, tekun dan saksama mendengarkan pak dosen yang memberi kuliah. Bagi Juned pak dosen seperti seorang dukun yang sedang komat kamit entah ngomongin apa. Yamato menganggap pak dosen seperti sedang meninabobokan dirinya sampai pulas. Bagi Sahrul beda lagi. Dia sekakan-seakan sedang menatap konser bisu.

Saqenaa, gadis yang dipanggil itu ternyata hanyalah seonggok makhluk cantik keturunan arab. Salah satu bunga di kampus itu. Saqenaa sangat memperhatikan penampilannya. Dia selalu ingin tampil cantik dan anggun. Matanya dan bibirnya yang sexy kas perempuan timur tengah. Saqenaa memang paling menonjol sendiri seandainya dibariskan antara deretan para mahasiswa cowok. Pasti bagian atas dan belakangnya nampak berbeda. Hihi. Ya iyalah kan jika dibandingkan dengan anak cowok. Kelihatan dari rambutnya nan hitam lebat, panjang terurai harum semerbak mewangin sepanjang hari. Karena teriakannya tak didengar, Midun bangkit berdiri dan dengan serta merta berjalan menuju bangku Saqenaa sambil mengendap-ngendap. Layaknya pejuang Intifadha sedang merangsek ke sarang Israel.

“Kamu sombong nih. Aku panggil nggak noleh.” Ucap Midun kecewa.

“Memangnya ada apaan sih Dun?”

“Cuma mau nanya. Pelajaran ini samapai jam berapa sih?”

“Ceilah..Kirain penting sampai nymaperin kemari. Sepulut menit lagi kelar kok.” Jawab Saqenaa sambil tersenyum manis. Bagi Midun, senyuman itu sudah lebih dari istimewa.

 

Ada cerita terkait Saqenaa. Pernah sekali waktu dia melintas di depan anak-anak gang ceki yang lagi asik membahas ujian semester. Sejenak para kawula muda cowok itu berhenti berbicara dan mengalihkan pandangan ke arah Saqenaa yang asik melenggak-lenggok bagai di atas catwalk dengan full percaya diri. Pinggulnya seperti naik turun mengikuti irama langkah kakinya.  Semua memperlihatkan wajah bengong, melongo dengan mulut menganga. Seakan terbius total. Wewengian yang dia tebarkan membuat Midun menghirup dalam-dalam tanpa dikeluarkan lagi lewat mulut. Romannya parfum yang dikenakan bukan berasal dari negeri gurun pasir.

“Pasti Giordano nih! Tebak Yamato sambil tetap menghirup.

“Wah ini pasti oriflame. Berani taruhan deh.” Juned menganalisa.

“Pasti nggak salah lagi. Kayaknya Bimoli deh.”Yamato yang sangat awam dengan merk parfum menebak sekenanya.

“Bulgari! Midun bersuara lantang.

“Aica Aibon!” Kali Arman angkat bicara.

“ Dasar pempek! Ngaco. Merk lem sama minyak goreng disebut-sebut.” Antonius menengahi.

Anak-anak tertawa lepas sambil aksi dorong-dorongan.

 

“Kasturi!! Jawab Saqenaa suatu hari, ketika Tekya ditodong teman-temannya untuk menanyakan  rasa parfum si cewek.

“Oh. Kamu nggak bohong Na?”

“Dosa dong kalo bo-ong.”

“Kayak produk luar deh.”

“Oh ya? Aku tersanjung.”

“Sinetron kalee.”

“Listen. Aku belum terpikir nyemprot parfum dari luar negeri. Parfumku asli Egypt, dibelikan Abi sewaktu melancong ke Dubai.

 

Midun berbisik ke telinga Sahrul. “Sttt..Bagaimanam jika kita kabur yuuk sehabis pelajaran ini?”

“Oke. Tapi mau kemana Dun?”

“Kita susul Tekya. Main billyarlah. Asik kan?”

“Di luar hujan deras coyy.”

“Oh iya ya.” Tanpa sadar Midun menepak jidatnya yang lebar bagai landasan pesawat itu.

 

Kembali ke meja billiard. Ketika sedang asik bermain kartu ceki di meja billiard.  Mereka didatangi oleh seorang laki-laki remaja. Sepertinya dia tidak kebagian meja, karena semua penuh terpakai. Makanya dia ingin bergabung sama rombongan Tekya cs. Kebetulan mereka seusia, jadi cepat akrab. Mereka berempat bermain dengan seru. Ternyata anak laki-laki itu jago bermain billiard. Shooting-shootingnya ternyata jitu semua. Semua bola-bola yang dia incar dengan mudah dimasukkan ke lobang. Arman, Tekya dan Ollan hanya memandangi tanpa mendapat giliran. Pundi poin-poin milik Kipruk terkumpul banyak. Alhasil Kipruk terhindar dari biaya sewa meja.

“Aduh, ternyata permainan kalian biasa aja ya.” ledek Kipruk jumawa. “Aku kira pada gapek gapek semua mainnya.

Anak-anak kaget mendengar perkataan Kipruk yang begitu menyudutkan mereka. Di sela keramahannya menyimpan sifat-sifat kesombongan yang terkuak. Kalau saja mereka mengetahui dari awal perangai buruk itu, pastilah Arman cs tak mau menawarkan Kipruk ikut nimbrung bersama mereka. Tekya, Arman dan Ollan saling berpandangan. Kemudian sambil geleng-geleng kepala melihat Kipruk menyunggingkan senyuman sinis. Bagi Tekya permainan Kipruk biasa biasa saja. Cendrung aji mumpung. Bagi Ollan skillnya di atas mereka bertiga. Bagi Arman hanya karena keberuntungan semata. Karena kesal Arman mengajak Kipruk duel satu lawan satu dengan bola lima belas. Kipruk setuju. Sesuai perjanjian yang kalah membayar sewa meja. Arman mengambil giliran pertama. Pertandingan awalnya begitu seru, namu akhirnya membosankan. Arman main dengan emosi tinggi sehingga tembakannya jarang yang tepat sasaran. Keseringan bola putihnya yang masuk. Walau ada beberapa tembakan Arman yang jitu-jitu. Overall, kegugupan membuat Arman sedikit pontang panting. Apalagi bola jumping, menjadi makanan empuk bagi lawannya. Sementara Kipruk bermain sangat berhati-hati sekali. Ritmenya pelan sekali. Penuh pertimbangan. Game pertama selesai, kemenangan untuk Kipruk.

Game Kedua Ollan turun gunung. Cowok berdarah Batak ini sebenarnya cukup mumpuni untuk bola-bola jumping, sehingga dapat mengimbangi permainan Kipruk. Tampaknya Ollan lebih bisa mengendalikan emosi. Makanya dia banyak sekali menggertak Kipruk. Kadang tertawa ngakak untuk mengalihkan perhatian lawan. Beberapa kali Kipruk grogi tidak karuan. Tembakannya sering melenceng. Hasil akhirnya Ollan tumbang dengan sukses. Kalah tipis sih. Game terakhir menjadi milik Tekya. Arman dan Ollan berpesan kepada Tekya untuk bermain serius. Syukur-syukur bisa memenangkannya.

“Tekya. Tinggal kamu harapan kami. Menanglah untuk gang kita. Semangat!!” teriak Arman bergelora. Tangannya terkepal.

“Hidup Tekya!”sorak Ollan tak kalah semangat.

Tekya menggangguk. Matanya menatap tajam ke arah mata Kipruk. Lima detik mereka saling menatap dan melotot.  Babak terakhir betul-betul dimanfaatkan oleh Tekya. Dia memanfaatkan moment dimana tenaga, konsentrasi dan pikiran Kipruk sudah terkuras. Awal permainan penampilan Tekya kurang begitu menyakinkan. Tembakannya suka salah sasaran. Akan tetapi di tengah paruh waktu permainan Tekya mulai terkendali. Dalam hati kecilnya, dia bertekad untuk membuat Kipruk bertekuk lutut. Dia ingin sekali merobohkan batu karang kesombongan lawannya yang semakin ngelunjak. Giliran Kipruk yang grogi dan kewalahan. Sebentar-sebentar dia menyeka keringatnya dengan sapu ijuk eh saputangan. Mukanya mulai merah padam karena malu. Akibat takut kalah Kipruk bermain curang pura pura pipis dan batuk-batuk. Tanpa diduga dua babak disapu bersih oleh Tekya. Merekapun berangkulan sambil tertawa puas. Seusai kalah Kipruk dengan tergesa-gesa mendatangi Mba Emy untuk membayar sewa meja. Setelah bersalaman Kipruk pamit.

“Thanks ya. Aku cabut dulu coy. Kapan-kapan kita main lagi, oke?”

Arman, Tekya dan Ollan menggangguk mantap.

     “Ayo, aku traktir makan lenggang.” Ajak Arman

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s