(Serial Kampus…sing-Edisi Revisi) MISTRI WARUNG TENDA MURAH

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Oleh : Deddy Azwar

Siang itu sinar mentari terasa terik sekali. Sinarnya menjelajah memasuki ruang-ruang kelas di sebuah kampus swasta yang gedungnya berdiri dengan megahnya. Pak Samson, sang dosen yang mengajar mata kuliah manajemen keuangan, baru saja menutup perkuliahan yang dibimbingnya. Beberapa menit kemudian beliau membereskan perlengkapan mengajarnya. Setelah itu bergegas meninggalkan kelas.

Salah seorang mahasiswa bernama  Juned tidak kalah sibuknya ikut membereskan buku-buku catatan kuliahnya yang berantakan di atas meja. Sekilas tampaknya seperti kesibukan seorang dosen. Juned kelihatan sekali tergesa-gesa. Bukan apa-apa, sejak tadi dia merasakan perutnya sudah mulai memainkan musik intrumentalia. “ Perutku harus segera diisi, kalau tidak saya pingsan di kelas ini..” Pekiknya dalam hati. Telat sedikit saja Juned bisa ‘berantem’ dengan sakit maagnya. Coba lihat saja, saking laparnya, Juned mulai menjulurkan lidahnya ke luar mirip anjing buldog yang sedang dilanda kelaparan tingkat tinggi di belantara hutan afrika. Mulutny a sesekali  mangap lalu menguap lebar sekali. Beberapa iringan lalat hendak masuk ke mulut itu, akhirnya sadar akan aroma yang kurang sedap secepat kilat lari menghindar. Rada sulit memang membedakan antara apakah Juned sedang keroncongan perutnya atau sedang mengantuk.  Juned menuruni untaian tangga kampus dengan cepat dan mempercepat ayunan langkahnya. Kerumunan mahasiswi yang berwajah manis-manis yang sedang ngerumpi di koridor kampus tidak membuatnya tergoda sedikitpun. Dia takut selera nafsu makannya akan hilang lalu berganti dengan nafsu yang lain.

Arman, salah seorang temen kuliah Juned yang sedang duduk di barisan paling belakang mengamati gerak gerik si Juned yang mencurigakan. Seperti sedang dijangkiti sesuatu ‘penyakit’. Juned bertingkah laku tidak seperti biasanya kalau usai matas kuliah, dia malah betah berlama-lama di kursinya. Juned biasanya mulai mengeluarkan jururs rayuannya untuk menggoda Meva atau Sakinah untuk meminjam buku catatan. Juned adalah profil seorang mahasiswa yang easy going dan malah cendrung santai dan slow. Dengan makna lain sejalan dengan prinsipnya melakukan kegiatan dengan santai  tapi tidak selesai. Baik untuk melakukan aktivitas berlari kek,  mau berjalan kek makan kek.  Pokoknya semua dilakukan dengan slowly dan memakan waktu yang lama. Jika diadu cepat dengan ibunya Juned sendiri, sama santainya jika sedang berdandan ketika hendak pergi kondangan. Kalau sudah begitu Bokapnya Juned langsung kabur duluan meninggalkan ibunya yang mematut-matut di muka cermin seraya mengomel dalam hati.. “Ibu dan anak sama leletnya”. Karena sudah terlanjur kesal sih melihat istrinya yang senantiasa getol berdandan tapi hasilnya malah kayak badut. Mending setelah dandan mendadak berubah jadi aris kondang atau miss universe. Malah belepotan. Hihi.

Juned tetap mempercepat langkahnya. Tiba-tiba…

“Hey Jun!” Kamu mau kemana sih. Buru-buru amat. Apa yang nak kamu kejar?” panggil Arman sambil melewati kerumunan mahasiswa yang baru bubaran kuliah. Sialnya Juned tidak mendengar panggilan temannya itu. Akibat terlalu fokus mengejar Juned, Arman menghiraukan tembok besar yang menghadanya, jidatnya kepentok. Kapalanya terasa mendadak puyeng.  Arman terpaksa harus beristirahat dulu. Sementara Juned sudah hilang dari pandangan.

Arman mendaratkan pantatnya di kursi panjang. Jidatnya sedikit memar dan benjol.

Juned berjalan cepat menyusuri jalan raya di dekat kampus. Langkah makin lama makin cepat seperti mengejar sesuatu samil memang perutnya. Tiba-tiba langkahnya berhenti di depan sebuah rumah makan. Namun. ketika hendak masuk ke dalam warung Juned merasakan sebuah tangan kekar mencengkram bahunya dari belakang?

“Siapa sih nih? Jangan bercanda ya. Lagi lapar nih!” Juned menoleh sewot. Setelah tahu siapa yang usil Juned langsung menepuk pantat dan langsung nyengir kuda nil. Arman tersenyum tidak ikhlas. Nafasnya masih ngos-ngosan.

“Begitu ya sesama teman gank. Main tinggal saja. Nggak solider banget deh. Kamu lapar bukannya ngajak-ngajak saya. Memangnya saya nggak lapar apa?” protes Arman merengut dan bersungut.

“Kirain lagi puasa mutih, Man.” Ledek Juned sambil merangkul Arman mengajak masuk.

“Mentang-mentang kulitku hitam manis dibilang puasa mutih. Dasar lo!”

Sebelum masuk Juned mengintip dari balik pintu warung seraya celingak celinguk.

“Kanapa Jun? Ayo masuk. Kita nih mau makan atau mau maling sih.?” Bentak Arman seraya membelai perutnya yang kempes.

“Makanlah. Sabar dikit kenapa? Saya lagi memantau situasi.”

“Sabar sabar. Aku nggak kenal sama sabar. Buruan Jun! Laper nih!”

“Iya. Man, kamu bawa dompet kan?”

“Dompet sih bawa terus. Cuma isinya nggak menjamin.”

“Alaaa.”

“Wah, ketahuan ya. Kamu menunggak ya di warung ini?”

“Ssttt. Nunggak lima bulan doang.”

“Lima bulan? Doang?”

Arman mendorong paksa Juned, sehingga nyaris menabrak salah seorang pengunjung warung. Untunglah Juned dapat berkelit dengan meliukkan badannya.

“Nah ini dia ambo nanti-nanti akhirnya nampak juo batang hidungnya nan pesek.” Muncullah sesosok pemilik warung bernama Uda Chaniago. ”Masuklah Jun. Kamu datang disaat yang tepat. Pas saya sedang menghitung-hitung buku bon hutangmu. Artinya setelah ini ambo nda ado pendingan karajo lagi.”

“Apa Da? B-buku bon hutangku?”

“Iyolah. Masak buku masak-memasak. Mana sempat saya membacanya. Buku-buku hutang pelanggan warung ini yang selalu mengisi hari-hari ambo. Buku ini lebih penting daripada sertifikat tanah. Walaupun bukunya sudah lecek-lecek, namun menetukan kelangsungan warung hidup ambo. Mengerti tidak?”

Arman tidak nyambung mendengar percakapan antara Juned dan Uda Chaniago. Dia belum dapat menebak kemana arah dan tujuannya. IQ nya yang memang ngepas dan makin drop ketika berada di warung.  Dalam suasana kebingungan level menengah itu, dia segera mencari kursi kosong. Tiba-tiba bola matanya yang radat sipit menangkap seonggok gadis kampus yang sedang duduk sendiri sambil makan soto Padang. Sense of playboynya keluar. Dia sudah melupakan Juned. Saking seriusnya sang gadis tidak tahu kalau ada yang memperhatikan gerak-geriknya dari jauh. Seorang remaja kampus rada kolot sedang mengintai dari balik kaleng kerupuk.

Setelah mengambil nafas 5 tarikan sambil mengucap doa sebelum makan, Arman mengumpulkan semua keberanian dan kenekatannya untuk menghampiri sang cewek.  Perasaan naksirnya sudah sulit terbendung pula. Dia yakin ini saatnya yang paling tepat untuk mengadu nasib. Kesempatan tidak datang lima kali. Arman sudah bosan menjomblo lebih dari 17 tahun! Wadowww! Beliau ingin merasakan bagaimana sih kalau kita diperhatikan oleh demenan.  Jok boncengan motor Arman sudah lama vakum. Kalau saja Jok motor Arman itu ‘manusia’ sudah pasti sering memohon dan  berharap agar dihadirkan pantat seorang wanita untuk mendudukinya.  Dia bosan diduduki pantat lelaki melulu.  Arman kawatir kelamaan kosong jok  boncengan nanti malah angker dan berhantu. Hiiiyyy.

Arman terhipnotis dan lupa ingatan akan problem rekannya, si Juned yang tengah berdebat dengan Uda warung. Harapan keduanya saling bertolak belakang. Si Uda berharap semua hutangnya dilunasi, sedangkan Juned berharap si Uda berbaik hati untuk me-reschedule seluruh hutang-hutangnya. Dengan tujuan mempersilahkan dia untuk boleh menyantap makan siang dengan damai.

Tak jauh dari warung tampak seorang mahasiswa berambut cepak, memacu pedal gas motornya dengan kencangnya. Diiringi bunyi decitan rem ban motornya yang membahana seantero jagad, motor berbodi besar bertenaga 250 cc berhenti tepat di muka warung. Lalu dia bergegas masuk.

Perlahan-lahan langkah sepatu Arman mulai bergerak dan mendekat. Setelah menempuh jarak dua meter hidung Arman seperti mencium aroma parfum Eclat Femme dari Swedia. Baunya wangi nian. Arman hapal betul. Karena adiknya direct selling Oriflame. Arman sering menumpahkn tester milik adiknya ke seluruh kaos dan kemeja kuliahnya. Mata Arman berkunang-kunang. Semakin dekat semakin menyengat. Berbeda sekali dengan wangi Juned yang beraroma gado-gado. Yaitu aroma minyak angin, oli, baygon dan minyak sayur. Entah apa jadinya. Sungguh dahsyat!

Perlahan mata Arman terpejam. Menikmati wangi demi wangi parfum yang melintas di depan hidungnya yang sedikit berkomedo. Kepalanya menengadah ke atas. Bermimpi seandainya bila si gadis menyambut perkenalan dengan nafsu membara. Tiba-tiba senyum sendiri. Mesem-mesem. Mirip orang kesambet celana jin.

“Pak Uda, mohon beri kesempatan saya hari ini untuk makan siang di sini. Tolonglah, Da.”Mohon Juned sambil bersimpuh di sudut warung. Juned mengeluarkan jurus muka orang susah. Memelas-memelas seraya mengelus perutnya yang meleber.

“Apa-apaan ini. Lebaran masih jauh. Tidak usah sungkem.” Bentak Uda kewalahan.

“Please Uda. Wesel saya belum datang..Minta sepiring nasi saja, masak tidak boleh. Uda tega ih. Ayolah Uda hanya sepring nasi saja…”

“Bener nih hanya sepiring nasi?”

“Iya Uda. Nasi beserta temen-temennya….”

“Samo sajo itu namonyo menu komplit. Samomawon kata orang Jawa. Ngerti nda?.”

“Nggak usah pake miwon Uda. Mengandung petsin.”

“Oalah..pakai minta ikan asin lagi.”

“Bukan telor asin?”

Keduanya sudah mulai ngaco tauco.

“Ah udah ah! Lama-lama saya bisa stress Ambo. Hari ini kamu musti puasa dulu. Hitung-hitung latihan sebelum bulan puasa ya.”

“Perut saya musti diisi nih Uda. Saya tidak mungkin mengerjakan ujian nanti dengan perut kosong. IQ saya bisa drop.”

“Bukan urusan saya. Mau nilai ujiannmu jeblok itu urusan dalam negerimu sendiri.”

Ketika membuka kedua matanya, Arman kaget bukan main. Seakan tiada percaya. Seonggok gadis kampus nan manis itu sudah lenyap di depan matanya. Tiada badai tiada salju. Kursi itu telah kosong melompong. Di atas meja masih ada piring dan mangkok yang sudah ludes makanannya.

“Sialan! Oh tidak mungkin aku bermimpi.” Arman mengucek matanya berkali-kali. “Aku yakin cewek itu nyata banget tadi ada dihadapanku. Apa hanya halusinasi karena lapar ya…” Arman mengusap-usap kursi bekas cewek tadi. “Lha kok panas ya.” Setelah sadar dia buru-buru berlari ke pintu keluar. Ternyata si cewek sudah kabur dijemput cowoknya menaiki motor. Arman memandang sisa kepulan asap motor yang hitam dengan geram. Guratan kesedihan membekas jelas. “Oh, ternyata jomblo memang sudah takdirku. Ihikkk.”

Arman kembali menemui Juned. Arman langsung menyamber tangan temannya. Juned hanya bisa pasrah mengikuti kehendak Arman.

“Ayo Jun. Kita cari warung lain.”

“Warung lain?”

“Kamu saja. Kita kan belum mulai makan.”

“Nafsu makanku hilang Jun.”

Mereka berdua langsung cabut pindah mencari warung lain. Meninggalkan warung Uda yang telah setahun menjadi senderan perutnya.

“Hey mau keman kamu Jun? Mau kabur ya?” hadang si Uda.

“Saya mau pergi dulu Uda. Mau cari duit dulu.” Jawab Juned sekenanya.

“Cari yang banyak ya. Hehe….Teriak Uda lagi bersemangat. “Maaf Jun, kali ini tidak bisa. Kamu boleh kembali setelah melunasi hutangmu. Gara-gara kamu juga bayaran sewa warungku juga ikut nunggak…”bisik Uda lirih sambil menunduk lesu. Sebenarnya dia juga tidak tega membiarkan pelanggan setianya yang doyan ngutang itu kelaparan.

Setelah setengah jam mengitari perkampungan dekat kampus, akhirnya mereka menemukan juga warung makan yang bertarif murah. Letaknya cukup strategis di pojokan dekat tembok komplek h gedongan , tepatnya di bawah pohon yang rindang. Walaupun atapnya hanya dari tenda tapi cukup lumayan. Pengunjungnya membludak. Rata-rata status mereka mahasiswa dan pagawai. Area perparkiran mobil dan motor hampir penuh. Juned dan Arman terpaksa harus sabar mengantri.

Arman sedikit was-was. “Jun, ini warung rame karena murah, enak atau apa ya…?”

Juned menggeleng-geleng tanda tidak tahu sekaligus takjub. Air liurnya sudah ditelan puluhan kali. Kelaparan tingkat tinggi! Lalu membisikkan sesuatu ke telinga Arman. “Kalau harganya mahal ini untuk kali pertama dan terakhir aku kemari.”

“Sama. Aku juga. Eh-tapi kalo murah kapan-kapan kita ajak kawan-kawan kita. Kita masukkan dalam warung list langganan kita.”

Santap siang selesai.

“Man man..”bisik Juned setelah membayar makanan. Lidi tusuk gigi masih diemut-emut di mulutnya.

“Ada apa Jun?” tanya Arman penasaran.

“Coba kamu bayangin nasi sama telor bulat, tahu, tempe, sayur lodeh, mie Cuma kebayar tujuh ribu doang. Wah, kalau begitu aku bisa nabung banyak nih.” Juned menabrakkan sepatunya ke sepatu temannya itu.

“Iya ya. Aku makan sama ayam hanya delapan ribu. Tapi suasanya tidak sesedap di warung si Uda. Tapi rasa tidak pernah bohong. Maknyuss.”

“Warung Uda kan sekelas restoran kali. Kemahalan untuk dompet anak kampus seperti kita.”

“Jun! Kok bisa murah banget ya!” Teriak Arman agak penasaran.

Juned buru-buru membekap congor Arman. “SSttt…“. Nggak usah kamu pikirin Man. Lagian ngebacot jangan kenceng-kenceng nanti ketahuan murah besok-besok dimahalin baru nyahok kita.”

Arman gelalagapan. “Udah hey! Tanganmu bau jengkol.”

Setelah itu mereka pun bertos ria. Berjalan dengan riang gembira sembari bergandeng tangan. Mirip anak TK berangkat sekolah.

Setelah seminggu berlalu. Juned dan Arman masih merahasiakan perihal warung murah ke kawan-kawannya. Akibat jadwal kuliah dan ujian yang padat hampir membuat mereka lupa. Akhirnya pada suatu kesempatan. Pada hari berikutnya,  di saat-saat jam makan siang, tepatnya jam istirahat kuliah, Arman dan Juned kembali mampir ke warung tenda itu. Kali ini mereka mengajak rekan segangnya, Tekya, Ollan, Midun, Yamato dan Syahrul. Karena terhitung murah mereka kepingin makan sepuasnya dan sekenyangnya. Sesampai di lokasi betapa kagetnya mereka karena warung tenda idola telah lenyap!

Otomatis semua pada kecewa. Kawan-kawannya merasa dipermainkan oleh Juned dan Arman.

“Mana ada jaman paceklik begini ada warung murah. Man..man.”ledek Midun terkekeh kekeh kepada Arman.

“Mimpi kali ye.”Ollan menimpali.

“Swear. Demi Tuhan deh. Kami nggak bohong kok.” Bela Juned.

“Waduh! Libur apa kena gusur ya.” Arman menerka-nerka. “Karena laku keras mereka berlibur.”

“Alah. Paling warung siluman…”Yamato angkat bicara.

“Nggak mungkin.”Tangkis Arman. “Orang kita berdua kemari siang bolong. Kecuali jam dua malem. Baru…siluman.”

Karena suasana sepi mereka tidak bisa bertanya kepada siapa-siapa.

Sebulan kemudian.

Pada suatu malam. Juned tergopoh-gopoh mendatangi rumah Arman. Kebetulan Arman sedang bermain gitar sambil menyanyikan lagu Tommy J Pisa. Karena suprise Arman segera menghentikan aktivitasnya itu.

“Ada angin apa Jun tiba-tiba kemari.” Sambut Arman sambil meletakkan gitarnya.

Juned sekonyong-konyong membisikkan sesuatu ke telinga Arman. Namun Arman menangkis tangan Juned. “Nggak usah pake bisik-bisik. Geli ah. Lagipula di sini lagi nggak ada orang.”

“Lha kita bukan orang apa?”

“Maksudku. Aku lagi sendirian. Semua keluargaku lagi main ke Mall.”

Tanpa dikomando Juned menceritakan kabar yang dia dapat dari orang yang dapat dipercaya.

“Apa Jun. Warung yang kemaren itu rame karena memakai jasa jin alias makhluk halus.” Mata Arman membelalak. Seakan tidak percaya. Bola matanya hampir copot. Lebai deh…

Juned mengangguk berkali-kali.

“Beberapa malam aku tidak bisa tidur membayangkan kejadian itu Man. Bawaannya mual dan pingin muntah. Persis kayak ibu-ibu hamil ngidam.”

“Ya Tuhan! Bumbu yang membuat enak itu dari air liur Jin!” Arman pun pingsan dengan sukses di atas kursi. Junedpun memilih pingsan di lantai saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s