(Serial Kampus…ing) Kejadian PASAR MALAM…AWAL PETAKA MIDUN UNTUK SEBULAN DAN MISTRI MALAM MENCEKAM

IMG_20120811_144458

Oleh : Deddy Azwar

Pukul 19.00 WIB Midun sudah tampak rapi sekali. Berbalut kemeja berwarna pink norak bercorak bunga-bungaan dan umbi-umbian dipadu dengan stelan celana jean belekan berwarna abu-abut gorilla. Biasanya Midun selalu mengenakan kemeja ataupun kaos selalu dimasukkan ke dalam celana agar rapi dan sopan. Kali ini dia ingin kelihatan lebih punk kehello-hello kitty-an begitu. Biar lebih nyentrik dan nyeni.

“Assalamualaikum. Selamat malam Bu. Tekya ada?” Mulut Midun sedang menempel di ujung gagang telepon.

“Wa’alaikumsalam. Selamat malam juga. Tekya ada kok. Ini dengan siapa ya.” Jawab suara wanita separuh baya di seberang sana. Suaranya keibu-ibuan. Iyalah lha wong memang sudah menjadi ibu.

“Oh ya hampir lupa. Ini Midun Bu. Teman kuliah Tekya.” Midun dengan ciri khasnya yang selalu nyengir dan cengengesan sampai kebawa juga saat sedang menelepon.

“Oh ini Mpok Indun ya. Kok mirip suara laki-laki…” tebak si Ibu sekenanya.

“Aduh Bu. Salah. Saya Midun bukan mpok Indun. Midun yang mirip Sandi Nayoan itu. Kan sudah sering ke rumah. Masak lupa Bu?” jelas Midun bernada sedikit kesal.

“Eei tunggu dulu. Temen Tekya kan banyak. Midun…Midun yang mana yah..Oh ya ya Ibu baru ingat. Ah kamu Midun yang tinggi dan rambutnya cepak ya? Maaf ya sudah nuduh Mpok Indun. Bilang dong dari tadi. Kirain Mpok Indun yang tukang jahit baju. Aduh, dia tukang jahit atau tukang pijat ya? “ Ibunya dilanda kebingungan tingkat tinggi. “Tunggu sebentar ya Ibu panggilin dulu. Midun jangan kemana-mana ya. Stay tune ya. Apalagi kalau sampai mandi dulu. Awas nanti kelamaan..” Lagi-lagi Ibu Tekya langsung nyerocos tanpa bisa dibendung.

Midun hanya bisa mendengarkan dengan pasrah. Tanpa bisa berkata apa-apa.

“Hallo, Midun. Kita jadi main ke Lapangan Sriwijaya?” Terdengar suara Tekya di telepon.

“Jadilah. Kan sudah janji. Bagaimana sih. Rugi banget Tek kalau kita tidak kesana. Seru!”

“Kamu yakin pasar malamnya malam ini. Bukan besok siang?”

“Wong eduan! Kalau siang namanya pasar minggu tahu eh pasar siang bro. Buruan Dun. Kalau telat nanti kita pulangnya bisa kemalaman. Segala permainan harus kita cicipin. Look! Aku sudah mandi uap dan rapi nih. Ready to go. Sepuluh menit lagi aku kesana.”

“Oke. Tapi aku mau mengerjakan tugas sebentar ya.”

“Aduh aduh. Apalagi sih Tekya. Kamu disuruh ibumu mengepel lantai?”

“Bukan. Ini tugas lain. Penting.”

“Perasaan nggak ada PR kok. Memang kita ada tugas dari dosen siapa? Rasa-rasanya..Udah deh besok-besok aja.”

“Wong edan. Kalau tugas ini nggak bisa dilarang. Bahkan presiden sekalipun. Maaf sudah diujung Dun. Aku nongkrong dulu. Daag..sampai nanti ya.” Tekya menutup telepon. Tekya lekas ke kamar mandi untuk nongkrong sebentar.

“Apes. Mau pup aja kayak setrikaan. Bertele-tele sekali.”

Setengah jam kemudian Tekya dan Midun sudah membaur di antara kerumunan di alun-alun kota Palembang. Kebetulan lokasi pasar malam dekat dari rumah mereka. Tepatnya berlangsung di pelataran gedung olahraga sport hall Sriwijaya. Di Palembang mereka tidak mengenal istilah macet seperti di Jakarta.

Bagi Midun kehidupan keramaian yang penuh rona hiruk pikuk kota metropolitan seperti ibukota Jakarta untuk saat ini belum menjadi pilihannya. Walaupun Ayahnya pernah menawarkan pilihan untuk melanjutkan kuliah ke Jakarta, Bandung atau Palembang. Sebetulnya kota kembang Bandung menarik juga. Namun setelah menimbang-nimbang dia menjatuhkan pilihan ke Palembang saja. Ada beberapa alasan seperti : Jarak antara kota Lahat, kota kelahiran Midun, ke Palembang dapat ditempuh sekitar 217 km atau memakan waktu lebih kurang 5 jam. Kota Lahat tergabung ke dalam propinsi Sumatera Selatan. Rumah Midun berada di kampung Padang Tepong. Mayoritas penduduknya hidup dari hasil berkebun kopi. Kota Lahat berhawa cukup sejuk dan dingin, sehingga kebun Kopi dapat tumbuh subur di sana. Kopi made in Lahat cukup terkenal seantero Sumatera.

Ada suatu tradisi, jika musim panen raya tiba dan hasil produksinyapun cemerlang berimbas pada tebalnya kantong para toke-toke kopi disana tebal. Musim belanjapun tiba. Mereka berduyun-duyun pergi ke kota atau bahkan ke pulau Jawa hanya untuk sekedar berlibur dan berbelanja. Kalau sudah begitu kebiasaan orang suka lupa diri dan suka susah menahan nafsu konsumerismenya. Uang dari hasil panen dalam sekejap berubah bentuk menjadi kalung emas, cincing emas, gelang emas bahkan gigi emas. Mereka melakukan aksi borong dengan mendatangi butik dan supermarket untuk membeli baju-baju bagus nan mahal, membeli kendaraan bermotor dan lain-lain.

Pokoknya selagi beruang mereka memborong apa saja. Di samping shooping dan plesiran ke kota atau ke luar negeri, ada juga memanfaatkan moment tersebut untuk menunaikan ibadah haji sambil tetap shooping tentunya (nah lho?). Sepertinya tidak beda jauh dengan di kota lain.

Dari segi pendidikan mereka juga tidak tanggung-tanggung untuk menyekolahkan anak-anaknya ke kota besar seperti Palembang, Jakarta malah sampai ke Malaysia, Singapura bahkan  Eropa.

Ayahnya Midun termasuk juga tauke kopi yang sukses dan kaya raya di kampungnya. Maka dari itu penampilan Midun langsung berubah drastis ketika tiba di kota. Midun selalu tampil necis bila hendak bepergian dengan stelan baju-baju dan celana bermerk seperti hammer, osella, countri fiesta, levis, tira dan lain lain. Untuk pergi kuliah Midun juga dibekali sepeda motor bebek dan sepeda jengki.

Itulah sekilas selingan cerita tentang Midun dan kampung halamannya.

Midun begitu gelap mata ketika masuk ke arena pasar malam yang begitu ramai. Belum lagi disuguhi beraneka macam permainan yang komplit lagi menyenangkan. Sekali lagi, acara gebyar pasar malam seperti ini langka bagi Midun. Di kampungnya keramaian hanya bisa dijumpai jika ada perhelatan perkawinan atau acara  ulangtahun sering digelar orkes melayu, dangdutan, organ tunggal dan nonton layar tancap misbar alias gerimis bubar.

“Kita musti mencoba seluruh permainan di sini bro. Percuma kita sudah beli tiket mahal-mahal. Hadiahnya juga menarik-menarik.”

“Gila lu Dun. Permainan di sini pasti puluhan. Mana sempat. Aku rasa sampai menjelang subuh juga nggak bakalan habis. Aku sih hayo aja. Aku kecewa nggak ada perlombaan idolaku.”

“Apaan tuh?”

“Lomba balap karung sama makan kerupuk.”

Midun hanya tertawa. “Kamu kira 17-an ya.”

“Kita pulang midnite ya Tek.”

“Siip deh.”

Midun bersemangat sekali merespon setiap sudut gerai permainan. Bermacam jenis permainan dan perlombaan. Ada bola tangkas, lempar bola ke keranjang, komidi putar dan lempar kaleng. Tekya merasa lega karena tidak ada perlombaan ‘lempar batu sembunyi tangan’. Tekya dan Midun seperti kerasukan jin, masup merangsek ke dalam setiap kerumunan. Justru lokasi permainan yang selalu ramai pengunjung mereka datangi. Sebenarnya hanya penasaran saja. Mereka menggiliri satu persatu. Kedua remaja ini semakin tenggelam dalam keceriaan dan kegembiraan luar biasa. Sampai lupa malam telah semakin larut. Mereka tidak mengenal istilah kelelahan dalam kamus mereka. The show must go on.

 

Pada akhirnya…

“Dun. Kita cari kedai makan ya. Aku lapar.” Ajak Tekya membelai pantatnya eh perutnya.

“Gila cing sudah jam 9 malam toh. Oh iya ya. Kita sampai lupa makan. Disana tuh ada bakso enak.”

“Bakso? Makan nasi dong. Mana kenyang. Kagak napol.”

“Dasar orang Indonesia nggak bisa dipisahkan dari nasi. Orang eropa makan gandum hidup juga.”

“Aku kalau belum berjumpa nasi belum afdol, Dun. Ke rumah makan Padang aja.”

“Dasar orang Padang nggak jauh-jauh dari rendang.”

“Salah melulu. Lantas makan apa kita?”

“Biar adil kita makan tekwan pakai nasi aja, gimana?”

Tekya mengangguk. “Boleh juga. Ayo, ntar keburu tutup. Bungkus bawa pulang atau makan sini?”

“Makan di sini aja, biar nggak repot.”

Setelah selesai makan.

“Biar aku yang bayar. Malam ini aku traktir kamu.” Kata Midun sambil berdiri dari kursi, meraba saku depan celana jeannya.” Midun sengaja tidak membawa dompet demi menghindari copet.

“Asikk. Terima kasih ya Dun. Tahu gitu aku nambah lagi.”

“Boleh. Tambah aja…kalau nggak malu.”

“Nggak aku bercanda kok. Dem kenyang Dun.”

Sekonyong-konyong Midun berteriak agak tertahan. Dia seperti mencona mengingat-ingat sesuatu. Sejenak menatap Tekya dengan mata melebar.

Tekya mengangkat kedua alisnya. Keningnya mengeriyit.

“Perasaanku nggak enak nih Tek. Masak sih duitku yang di saku kiri hilang!”ucapnya Midun lirih. Mukanya berubah drastis jadi merah.

“Serius?”

“Darius. Eh dua rius maksudku.”

“Waduh gawat! Periksa lagi Dun. Nyelip dimana gitu.”

“Sudah kuperiksa semua, tetap tidak ada. Disitu ada uang buat biaya sebulan sekaligus bayar semester juga.” Mata Midun sudah mulai berkaca-kaca. “Alasan apa yang akan kuutarakan ke Bapakku. Dimana hilangnya tadi ya..?”

“Tenang Dun.” Hibur Tekya. Tekya ikut merasakan musibah yang sedang melanda teman akrabnya barusan.”Berarti disaat kerumunan itu uangmu dicopet. Ada yang kamu curigai tadi?

Midun menggeleng lemas. Badannya seakan mau rontok.

“Kalau ketangkap bisa kupathkan tangannya. Lihat saja.” Ancam Midun geram.

“Tenang Man. Kita tidak bisa menuduh sembarang orang. Apalagi tempat umum.   ”Lanjut Tekya lagi. “Kamu yakin tidak merasakan apa2 sewaktu celanamu diraba? Atau bisa saja jatuh di jalan.”

“Kecil kemungkinan. Celeana jeansku ketat. Aku nggak habis pikir itu maling gape banget ya.”

“Memang itu profesinya Dun. Sudah pasti profesional.”

Midun menggeleng lagi tanpa tenaga. Dia merasa bersalah telah lengah. Sedetik kemudian ditundukkan kepalanya agak dalam.  Lalu menghela nafas panjang. Kedua jemari tangannya terangkat. Kemudian dijambaknya sediri rambutnya hingga awut-awutan tidak karuan. Persis orang baru bangun tidur pagi.

“Masalahnya sekarang aku jadi gagal traktir kamu. Nyesel aku terlalu bernafsu di pasar malam tadi. Bodoh sekali aku.”

“Sudahlah jangan memaki diri sendiri. Tidak perlu dipikirin. Niat traktirmu bisa digantikan lain waktu. Tak perlu disesali lagi. Nasi telah menjadi gosong eh bubur. Menghibur diri aja. Semua pasti ada hikmahnya.”

“Aku bingung. Bagaimana mungkin aku bisa membayar uang ujian semester dan membiayai makanku selama sebulan. Mana berani Aku minta uang lagi ke Bapakku Andai saja dia tahu kejadian ini. Pastilah aku sudah dilabrak habis-habisan.”

“Itu perasaanmu saja Midun. Bapakmu tidak mungkin marah. Beliau orang baik.”

“Kamu seperti sudah mengenal Bapakku lama saja, Ya. Sok tahu kamu Tekya.”

“Ini kan musibah Dun. Bukan disengaja. Manusia kan gudangnya salah dan ceroboh. Kamu ceritakan saja apa adanya.”

“Iya. Tapi tidak untuk dalam waktu dekat ini.”

“Maaf Mas semuanya jadi tiga puluh ribu.” Tiba-tiba pelayan warung nongol tiba-tiba sambil membawa secarik kertas bon.

Midun tercekat. Tekya melongo.

Malam itu jam dinding kamar  menunjukkan pukul 23.15. Midun dan Tekya sudah  berada di dalam kamar Midun. Mereka sedang asik tidur-tiduran di kasur Palembang. Keduanya belum ada yang memejamkan matanya. Terlebih lagi Midun. Tingkah lakunya seperti orang bingung dan linglung. Peristiwa tadi belum mampu dilupakannya.

“Kejadian ini akan kukenang seumur hidupku.”ucap Midun pelan.

“Kau bisa ceritakan kepada anak cucumu nanti.”ujar Tekya sambil tersenyum hambar.

“Walaupun bukan cerita positif ya…”

Tekya mengangguk.

“Makasih bro tadi. Malah kamu yang traktir aku jadinya.”

“Eit itu nggak gratis. Ganti tahu.”

Midun kaget.

“Hehehe. Aku bercanda kok.” Tekya kembali tertawa lebar.

Dari kamar terdengar petir menyambar-nyambar. Cahayanya bagaikan lampu disko yang berkerlap-kerlip. Tak lama hujanpun turun. Udara berubah adem. Hembusan angin kencang menimbulkan bunyi yang berisik. Midun buru-buru menutup jendela kamar di lantai dua, sebelum titik air hujan merembes masup ke dalam kamar. Dia juga tidak lupa menutup tirai.

Ini merupakan malam pertama Tekya menginap di rumah milik Pamannya Midun. Kebetulan Pamannya Midun pindah tugas ke ke luar kota. Keluarganya ikut serta. Rumahnya cukup besar dan megah. Langit-langitnyapun dibuat tinggi sekali, menjadikannya agak sejuk. Hanya saja rumah tersebut belum seratus persen selesai proses pengerjaannya. Omnya Midun sudah keburu dimutasi ke Aceh. Midun dan kakaknya bernama Saipul mendapat amanah untuk menempatinya selama bertugas ke luar kota.  Semula Midun diwanti-wanti oleh Bapaknya untuk mencari tempat kos saja. Dengan alasan untuk tidak merepotkan keluarga. Sekaligus tentu saja agar bisa belajar hidup mandiri.

“Dun. Rumah Om kamu besar sekali. Anaknya banyak ya?” tanya Tekya sambil mendekap bantal guling erat-erat.

“Tidak juga. Anaknya baru dua. Tapi masih kecil-kecil.”jawab Midun sambil memeluk bantal bergambar Micky Mouse.

“Buat apa dia membangun rumah sebesar ini. Kan mubazir.”

“Katanya untuk kumpul-kumpul keluarga besar pas lebaran. Bisa menampung saudara yang tinggalnya di luar kota….”

Belum sempat melanjutkan ucapannya, tiba-tiba lampu listri padam. Bersamaan dengan bunyi petir yang besar dan membuat kaget. Malampun berubah hitam pekat. Di luar cahaya kilat kembali menyambar-nyambar bagai lampu kamera. Suasana malam berubah seram mencekam.

“Astaga!” Pekik Tekya gelagapan.

“Pakai mati lampu segala!” Omel Midun.

Walaupun mereka tidur berdekatan, namun tidak bisa memandang satu sama lain. Kamar gelap gulita. Hanya tampak bayangan pohon-pohon yang meliuk-liuk ditiup angin malam yang menderu-deru seperti bunyi pasir yang beterbangan.

“Sudah berapa lama kamu tinggal disini?”

“Baru malam ini kok.”

“Apa? Baru malam ini? Kok kamu nggak cerita?”

“Sebelumnya aku kos tiga rumah dari sini. Baru saja tadi pagi pindahannya.”

Untuk beberapa saat mereka terdiam sebentar. Suasana kembali hening dan sunyi. Deru angin mulai menjinak. Mereka berdua menajamkan pendengarannya. Mereka seperti mendengar derap langkah kaki menaiki anak tangga. Jelas sekali arahnya sedang menuju tempat kamar mereka…

“Dun..Selain kita ada lagi siapa lagi yang tinggal disini?”

“Nggak ada lagi. Cuma kita berdua.”

“Di kamar bawah emang nggak ada orang?”

Midun menggeleng penuh keyakinan.

“Kita berdua saja?! Saipul kali?”

“Saipul masih tidur di kos-kosan. Karena masih menjaga barang-barang kita yang belum sempat kebawa. Lagipula kamu kan menyaksikan sendiri kan ketika aku mengunci pintu. Tidak ada orang lain yang masuk.”

“Lalu…itu langkah kaki sia-ppa ya-a?”

“Manaku tahu. Kalau maling nggak mungkin. Pengamanan rumah disini ketat. Di gerbang komplek juga ada pos satpam.

“Kalau gitu jangan…jangan…” bisik Tekya.

Tanpa dikomando keduanya langsung berebutan ngumpet di balik selimut. Mereka berdua menutupi semua badan. Meringkuk ketakutan. Dan berharap pagi segera menjelang.

“Dun.. dun..”panggil Tekya sambil mencolek punggung  Midun. “Pintu kamar sudah dikunci belum?”

“Belum!”

“Cepet kunci Dun.”

“Besok aja.”

“Huahhh?!!!

Keduanya kembali meringkuk lebih dalam.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s