(Serial Kampus…sing) PRIA BERSERAGAM YANG LGBT DAN KEMAYU DAN DOSEN GALAK BERUBAH BAIK

MonkOleh : Deddy Azwar

Pagi ini Tekya bangun kesiangan. Alasannya, gara-gara kemaren pulang kuliah tidak langsung ke rumah, akan tetapi langsung menyambangi tempat bilyar alias bola sodok dulu. Bukannya pulang terus makan lalu bobo siang. Akibat keasikan bermain bilyar bola sembilan dan ceki kartu, Tekya dan teman-teman sekampus sekaligus segangnya jadi lupa waktu sehingga baru pulang ke rumah setelah larut malam. Jam weker di kamarnya sudah sejak jam setengah lima subuh sudah berbunyi, namun tidak digubris. Apa mau dikata ‘tahi kambing bulat-bulat dimakan jadi obat disimpan jadi jimat’. Jadi terlambat berangkat ke kampus. Bangun tidur jadi kesaingan eh kesiangan bleh! Padahal pagi itu ada mata kuliah manajemen perbankan asuhan Pak Sodikin. Gawat!
Pak Sodikin sungguh sosok dosen yang ditakuti mahasiswa karena kekillerannya. Pak Sodikin mempunyai peraturan sendiri terhadap mahasiswanya. Selama kuliah berlangsung tidak boleh ada suara berisik, kecuali batuk atau bersin. Mahasiswa harus sudah hadir sepuluh menit sebelum kuliah dimulai. Tidak boleh datang terlambat barang sedetikpun. Wajib berpakaian rapi dan sopan. Khusus cowok baju harus dimasukkan ke dalam celana. Rambut tidak boleh gondrong. Bagi cewek tidak boleh berpenampilan terlalu vulgar. Apalagi sampai menggoda. Beliau tidak segan-segan menghukum, apabila kedapatan ada mahasiswa melanggarnya.
Dahulu kala, pernah ada seorang mahasiswi sampai mewek alias menangis menjadi bulan-bulanan sang dosen. Usut punya usut ternyata si mahasiswi ada salahnya juga. Si Mahasiswi sudah datangnya terlambat masuk kelas, tidak mengerjakan PR, masuk tanpa permisi dan yang terakhir dia berpenampilan tidak sopan. Dia hanya mengenakant-shirt tanpa lengan alias you can see my ketiaks. Tentunya sungguh menganggu pemandangan dan sedikit menggoda iman para mahasiswa cowok yang normal lho. Tidak terkecuali Pak Sodikin sendiri jadi kelabakan dibuatnya. Ditambah lagi dengan rok jean ketat yang super mini semakin menambah gerah suasana yang memang panas terik kala itu. Si mahasiswi yang merasa bahwa itu sudah tradisinya berpenampilan seperti itu.
“Lumrah dong gue penampilan begini. Mode anak zaman sekarang. Dosennya aja yang kolot molot.” Kilah si cewek ketika ditanya temannya suatu hari.
Temannya hanya manggut-manggut tanpa berkata apa-apa, dengan tatapan matanya cepat menyoroti penampilannya temannya mulai dari ubun-ubun, bando rambut sampai ke ujung kaki jemponya. Huh pantes! Setelah itu baru tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Lu sih kelamaan di Amrik. Jadi melupakan adat timur.”Temannya langsung membatin.
Ollan, temannya Tekya pernah suatu hari menghayal kepengin menjadi manusia yang dapat menghilang sehingga tidak bisa dilihat oleh kasat mata. Si Ollan ternyata terinpirasi sama filmnya Invisible Man yang pernah diputar stasiun TVRI sekitar tahun 80-an. Film ini diproduksi pertama kali tahun 1933 yang berkisah tentang manusia tak kasat mata alias bisa menghilangkan wujudnya. Tapi bukan film horor lho. Diadaptasi dari novel klasik karya H.G. Wells. Lantas apa yang hendak di lakukan Ollan seandainya menjadi Invisible Man? Simple saja Ollan hanya ingin mereset jam tangan Pak Sodikin menjadi telat lima belat menit saja pada saat dia terlambat. Setelah itu dia berhasrat ingin menendang pantat sang dosen sampai tepos deh! Ada ada saja
Fakta yang terjadi adalah pagi ini Tekya bangun kesiangan. Dan ini bukan mimpi tapi nyata adanya. Tekya mencomot handuknya lalu berlari menuju ke kamar mandi. Mulutnya komat kamit seraya mengomel tak karuan. Tekya merasa kesal karena tak seorangpun yang peduli membangunkannya dari tidur pulas. Dan sebentar lagi dia akan berhadapan dengan sebuah masalah besar. Sebesar buritan kapal Titanic. Sebentar lagi dia akan berhadapan dengan seonggok monster planet yang tak punya hati. Kemudian melemparkannya ditengah hutan bersalju dan dikerumuni oleh…sekelompok dayang-dayang molek bagai bidadari dari kalangan gadis sampul. Nah kan malah ngelanturrr.
Tidak berselang Tekya sudah berada di ujung jalan, sibuk menunggu angkot kijang berwarna biru langit lalu menyambung ke angkot carry berwarna merah. Tekya harus menaiki dua kali angkot untuk sampai ke tujuan.
Kebetulan dia berdiri tidak jauh dari Kedai makan Koh Sani. Tanpa sengaja dia mengintip ke jendela warung tersebut. Tanpa sengaja mata Tekya menangkap tumpukan pempek rebus yang belum digoreng nan segar serta montok lagi mengkilat. Sekilas tampak menggoda sekali. Tekya baru sadar bahwa dia belum menyentuh jenis makanan apapun sejak dari pagi tadi. Terbit air liurnya. Tekya membelai perutnya sekakan akan berbisik lirih…sabar…sabar…sabar.
Tiba-tiba punda Tekya dicolek seseorang dari belakang. Setelah menoleh, Koh Sani sudah berdiri di sampingnya sambil tertawa terkekeh kekeh.
“Berangkat kuliah Tekya? Tumben masuk pagi.” Sapa Koh Sani ramah.
“Iya Koh. Biasanya juga lebih pagi. Sekarang agak telat gara-gara kesiangan. Saya masuk siang kalau dosennya berhalangan masuk pagi. Koh Sani bikin saya kaget saja. Ngomong-ngomong ada apa?”
“Ah nggak kok. Maaf kalau begitu. Seperti biasa …ada mie ayam, ada pempek lenjer, pempek rebus, pempek telor, model tekwan… Ayo mampir dulu barang beberapa menit untuk sarapan.”
“Ah koh Sani. Lain kali aja saya lagi buru-buru. Mana sempetlah.”
“Dibungkus juga boleh sambil dimakan di jalan.”
“Oh ya bener juga. Kebetulan saya lapar. Tolong dibungkusin deh pempek telor dua, pempek ada-annya satu ya. Tidak pakai lama.”
Kok Sani langsung lari tergopoh-gopoh masuk ke dalam kedai miliknya. Kemudian datang dengan membawa bungkusan sesuai pesanan Tekya.
“Kamsia Koh.” Tekya merebut bungkusannya dan langsung kabur.
“Tekya! Uangnya belum!” Teriak Sani dengan suara parau.
“Ngutang dulu ya. Heheh..Angkotnya sudah nungguin tuh.”
“Aluh aluh. Nyesel owe.” Koh Sani nepok jidat. “Orang kaya kok ngutang.”
Angkot yang ditumpangi Tekya kembali berhenti tepat di depan gang jalan Natuna. Telah berdiri seorang bapak separuh baya, mengenakan kacamata, berkumis pirang serta mengenakan seragam Pemda. Setelah melongok-longok sebentar beliau akhirnya menjatuhkan pantat teposnya di bangku paling depan dekat supir. Dan disebelahnya sudah ada Tekya yang lebih dulu, saban naik angkutan umum remaja kampus satu ini selalu hobinya duduk di muka bersama pak supir yang sedang bekerja biar ngebut jalannya..Brem…brem..brem.
Sedari tadi Tekya memang tampak agak gelisah saat itu. Dia acapkali memoloti jam tanggannya. Mulutnya terus berdoa sambil berharap tidak terlambat sampai ke kampus. Biarlah Pak Sodikin saja yang terlambat. Masak sang dosen getol datang tepat waktu melulu. .. Jangan-jangan dia tinggal di lingkungan perumahan dosen di kampus itu. Jadi tidak perlu capek-capek. Tinggal loncat pagar rumahnya lalu nyebrang ke halaman kampus.
Tekya pada awalnya cuwek dengan kehadiran sang bapak berseragam Pemda itu. Tapi lama kelamaan Tekya merasakan ada sesuatu yang aneh dan ganjil. Pada saat Tekya memalingkan pandangan ke arah depan, sang bapak aneh itu memperhatikan dengan seksama. Akan tetapi disaat Tekya melepar pandangan ke jendela, sang bapak pura-pura menunduk atau melihat ke arah jendela juga. Mirip sepasang kekasih yang sedang tidak akur. Tekya mulai tidak nyaman. Kepingin cepat-cepat loncat dari angkot. Sekali sekali tangan sang bapak kedapatan menempel di pangal paha Tekya. Semula Tekya menganggap mungkin tidak sengaja. Tekya diam saja sambil pura-pura ketiduran. Akan tetapi anehnya durasinya cukup lama. Tidak mungkin jika tidak ada unsur kesengajaan, pikirnya. Ketika Tekya menggeser pantatnya, tangan sang bapak yang dihiasi gelang dan jari jemarinya dililit cincin itu buru-buru mengangkat tangannya kembali ke posisi semula.
“Man!” Teriak Midun seraya melambaikan tangannya dari depan gedung perpustakaan.
“Hoyy.”Balas Arman sambil berjalan menghampiri Midun yang menunggu sambil cengengesan. “Ada apa Dun?”
“Ketemu Tekya nggak tadi?” Tanya Midun sambil menguap lebar.
“Lha bukannya semalam nebeng motor kamu Dun?”
“Iya sih. Semalam aku antar sampai depan rumahnya.”
“Kirain kalian tidur bareng. Hehehe..”Ledek Arman gantian cengengesan pula.
“Gouoblok! Memang tidur bareng. Aku tidur di rumahku. Dia tidur dirumahnya. Wah, jangan-jangan tuh anak kesiangan. Kemaren sudah Aku wanti-wanti datangnya pagi karena besok ada kelasnya Pak Sodik.” Midun garu-garuk kepala. Rambutnya ternyata lupa di samphoo tadi pagi.
“Aku baru saja markirin motor. Gila, parkiran full house. Ada sekitar sepuluh menitan nyari tempat parkir. Memang lagi ada hajatan apa dikampus kita?”
“Mana aku tahu. Lagian kalau ada acaranya biasanya sudah ada spanduk yang membentang lebar di atas gerbang. Iya nggak?”
“Bener juga. Sudah pada insaf kali ya kalau biaya kuliah itu mahal jadi pada rajin-rajin kuliah.”
“Lantas kamu dapat space parkir dimana?”
“Di samping kios potokopi kampus.”
“Syukurlah yang penting sudah dapat parkiran kan?”
Arman mengangguk. “Anak-anak yang pada kemana. Pada telat berjama’ah rupanya ya?”
“Anak-anak sudah komplit. Mereka lagi pada asik baca koran di perpustakaan.”
“Kasih kode di kaca Dun. Biar mereka tahu. Sebentar lagi si dosen killer datang. Ayo, jangan sampai dijewer pula kita. Kan nggak lucu.”
“Siaapp kumendan Arman! Laksanakan!”
Tekya sih tidak berniat menuduh yang macam-macam. Terus terang seratus persen full download dia mulai gusar dan gemetaran duduk berdampingan dengan sang bapak stress di kursi pelaminan angkot. Saking keselnya Tekya rasa-rasanya mau melayangkan bogem mentah ke wajah tuh bapak. Apalagi di saat dia pura-pura tidur dan bersender manis di pundak Tekya. Idih amit-amit deh. Jangan sampai ilernya nempel di kemejaku, batin Tekya. Sedangkan si sopir angkot hanya tersenyum mesem-mesem saja.
“Maaf ya dik..”Akhirnya keluar juga ucapan dari mulut si om eh si bapak ganjen itu. Suaranya kelihatan disamarkan. Agak diperhalus dan intonasinya agak berat. “Saya tadi ketiduran. Semalam ada tetangga dangdutan.”
“Oh iya Pak. Tidak apa-apa.” Ujar Tekya gelagapan. Sambil tetap menjaga jarak.
“Kuliah di Kamboja ya?”
“Kok Bapak tahu saya kuliaha disana.?”
“Gampang dik. Satu-satunya kampus yang dilewati angkot ini ya hanya kampus adik. Tidak ada yang lain kan? Kecuali ada kampus yang baru dibangun.”
“Oh iya ya Pak. Saya baru tahu.”
“Nama adik siapa?”
“Kadam Pak.”Tekya menjawab sekenanya.
“Oh Sadam Husein ya? Hehe.”
“Kadam Pak. Bukan Sadam.
”Oh Elya khadam?”
“Ya tersearah Bapaklah. Nyerah saya.”
“Kenal dengan Odik nggak? Dia temen sekelas saya waktu kuliah. Saya dan dia sama-sama alumni dari kampus adik juga.”
“Ooh…Odik siapa ya Pak. Saya baru denger. Tidak ada nama begituan setahu saya.”
“Oh ya saya lupa. Nama lengkapnya Sodikuncoro Anderson.”
Tekya tercekat. Terperangah bercampur kaget. Kok bisa Pak Sodikun yang terkenal galak dan streng itu bisa berteman dengan yang beginian. Itulah dunia…
“Apa Pak Sodik? Oh kalau itu baru kenal. Dia dosen kami Pak. Jadi jadi bapak kenal Pak Sodik ya.”
“Iya dik. Beliau ngajar apa dik?”
“Manajemen Perbankan.”
Akhirnya penderitaan Tekya berakhir untuk sementara. Teriakan fals supir angkot menyelamatkannya. “Nyang kampus! Nyang kampus turun!”
Dengan serta merta Tekya langsung turun. “Misi ya Pak, duluan.”
Si Bapak genit tidak lupa mengerlingkan matanya lalu tersenyum sambil berkata, “Salam ya buat Pak Odik ya dari Om Herce. Jangan lupa ya ganteng. ”
Tekya hanya sempat mengacungkan jempolnya tanda mengerti.
Tekya tanpa dikomando langsung mengambil langkah sejuta.
Di dalam kelas mata kuliah Manajemen Perbankan terdengar suasana riuh sekali. Mirip pasar kaget. Anehnya, jika ada salah seorang dosen melintas di depan kelas suasana langsung berubah 180 derajat tenang dan sunyi. Mirip di kuburan. Hihi..
“Hari ini salah satu rekan segang kita dalam bahaya nih.” Bisik Yamato kepada Juned. “Saya tidak bakal tega melihatnya. Tidak rela.”
“Ao. Memangnya ade ape, To? Siape?” tanya Juned penasaran. Logat dusunnya keluar. Pantatnya digeser biar mepet ke Yamato. “Kabe ngecek ape?”
“Waduh. Bener-bener tidak perhatian sih kamu Jun. Payah kamu Jun. Apakah kamu tidak merasa ada yang kurang dalam kelompok kita.”
“Oh iya ada.”
“Apa-an?”
“Kita kurang kompak. Kurang banyak. Dan…kurang makan.”
“Yang begini ini harusnya dicoret dari gang kita. Gawat tahu. Tekya sampai sekarang belum datang. Nyadar nggak kamu? Tekya bisa diomelin habis-habisan nanti sama Pak Odong-odong.”
“A-paaa? Bukannya bilang dari To” Jun melongo.
“Preettt!!!” Yamato menjulurkan lidahnya. “Oh tadi otakmu belum naik ya. Masih di jempol kaki toh.”

Tekya berusaha mempercepat ayunan langkahnya. Menyusuri kelas demi kelas, koridor demi koridor dan toilet demi toilet. Akhirnya tanpa disengaja berpas-pasan dengan…
“Pak Sodikk!” Tekya berteriak tertahan.
“Tekyaaa!” Pak Sodik berteriak juga.
Kedua manusia beda genre dan zaman itu nyaris bertubrukan.
“Lha kok kamu masih disini. Bukannya sudah di kelas? Jam berapa ini? Jam berapa?”
“Lho, Bapak juga kenapa ada di sini. Saya kirain sudah di kelas?”
“Suka-suka saya.”Bela Pak Sodik. “Siap-siap kalau telat masuk kelas ada sanksinya ya.”
“Maaf Pak. Jangan dihukum dong. Oh ya…Sebentar Pak, tadi bapak dapat salam lho.”
Beberapa menit kemudian perseteruan telah usai. Entah mengapa keduanya langsung tampak akrab. Ternyata tanpa sengaja Tekya mengeluarkan jurus ampuhnya. Tekya menceritakan kisahnya saat menuju ke kampus dan bertemu dengan teman lama Pak Sodik yang bernama Herce. Uniknya Pak Sodik merespon hebat. Sepertinya ketika mendengar nama Herce disebut oleh Tekya, membawa cerita nostalgia yang teramat lucu bagi Pak Sodik. Suasana pada awalnya tegang berdentang berubah total jadi asikk.
“Hehehe. Zaman kuliah dulu Herce itu suka kami ledek-ledekin. Dia sudah bertingkah gemulai dari dulu. Hati-hati aja..Huahhua..”Cerita Pak Sodik tidak sanggup menahan tawanya. Tekyapun turut tertawa.
Dan bisa ditebak. Keakraban itu pun berlanjut sampai ke dalam kelas. Pak Sodikunpun hanyut sampai lupa hukuman apa yang akan dia jatuhkan untuk Tekya. Sekarang waktunya teman-teman segangnya Tekya dan seluruh orang yang ada di dalam kelas bersusah payah menterjemahkan pemandangan yang barusan saja mereka lihat. Pak Sodikun jalan beriringan dengan Tekya sambil tertawa-tawa pula tanpa sadar bahwa keduanya sudah datang terlambat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s