(SERIAL KAMPUS…SING) YATI INDRAYATI BIKIN HATI MENANTI WALAU TAK MENEMPATI

 

Oleh : Deddy Azwar

  1. MENEMANI PAPA BELANJA

Akhirnya Papa berhasil juga merayu Tekya, anak sulungnya itu, untuk menemaninya ke pasar 16 ilir untuk mengambil beberap krat minuman Fanta dan Sprite hadiah dari kantor tempatnya bekerja untuk hidangan spesial lebaran Idul Fitri. Papanya Tekya berencana juga hendak menguras sedikit uang di tabungannya demi membeli berbagai kebutuhan dan keperluan dapur.  Terutama bumbu-bumbu dapur dan bahan-bahan kue kering dan kue basah, pesanan istrinya yang lagi getol siang malam mengolah adonan kue untuk membuat penganan persiapan lebaran. Kebetulan Mamanya Tekya jago dalam hal begini. Khususnya kue yang bernuansa asal jadi…

Di bulan puasa, menjelang akhir tahun pula, ditambah lagi momen-momen liburan kuliah nan mengasyikan , Tekya lebih memiliki konsen untuk mengurung diri di kamarnya. Dia agak malas ke bepergian ke luar rumah. Tekya sudah membeli beberapa buku agama dan juga bahkan menyewa beberapa novel dan komik untuk menemaninya full setengah bulan. Di depan pintu kamarnya digantung tulisan ‘ JANGAN DIGANGGU SEDANG MENIMBA ILMU’.

Kebetulan acara pesantren kilat pada saat itu belum marak, sehingga para remaja seumuran Tekya kala itu bingung mau mengisi liburan dengan kegiatan seperti apa? Mau ngumpul-ngumpul di warung kopi takut ngopi, hiking nggak sempet booking, pergi ke departemn store takut capek,  berolahraga takut haus, nonton bioskop takut ada adegan syurnya.  Dan berjuta alasan lain. Semestinya tidak demikian. Padahal di bulan yang penuh berkah semua kegiatan positif yang kita lakukan akan menjadi pahala lho. Bahkan tertidur karena keletihan bekerjapun berbuah pahala. Tidak termasuk ketiduran dikarenakan begadang nonton bola semalam suntuk ya rekans. Satu-satunya kegiatan positif menurut seorang Tekya yaitu membaca buku sampai tamat. Dengan membaca buku selain dapat membuka cakrawala berpikir serta menambah wawasan kita. Dengan membaca membuat kita jadi ‘tahu banyak’ akan segala hal. Sebelum smartphone mewabah di zaman modern ini, sebuah buku adalah sesuatu yang berharga dan membuat banyak orang terlena hingga lupa waktu dan makan. Istilah kata di saat sedang menunggu sesuatu tanpa ditemani buku jadi bingung. Namun kini, semakin majunya teknologi, membaca sebuah novel cukup di layar di monitor handphone yang terlebih dahulu musti didonwload aplikasinya di google store. Book digital telah menggantikan book paper. Jelas masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tergantung (maaf jangan ngeres dulu) ‘Sikontolpanjang’ (situasi kondisi toleransi pandangan dan jangkauan)

Tekya memarkirkan mobil kijang dompok tahun 85 milik Papanya di sebuah lahan tidak beraspal tepatnya di samping  sebuah gedung bangunan lama kantor bank pemerintah yang sebenarnya tidak memiliki lahan parkir yang cukup memadai sehingga memaksa para nasabahnya yang memiliki kendaraaan roda empat khususnya untuk rela memarkirnya agak jauh dari lokasi kantor. Notabene jakalau sekitar sudah terisi penuh. Belum lagi ditambah  kehadiran warung-warung tenda di setiap sisinya semakin memberi warna eh salah kesempitan maksudnya dalam mencari tempat parkir.

Merasa bosan hanya duduk-duduk di  banking hall bank tersebut, tiba-tiba Tekya merasa perutnya melantunkan’ irama lapar’ dan menuju ke salah satu warung tenda penjual mie celor…Lho kok pada tutup ya. Ada apakah gerangan? Oh my God! Astagfirullah! Tekya lupa bahwa hari itu adalah hari puasa pertama. Hehe.

“Beres Pa, narik duitnya?” Tanya tekya ketika Papanya keluar dari pintu kaca.

“Beres. Yuk sekarang ikut Papa ke Toko Kasihtaksampai. Kita jalan kaki saja. Mobil biar nongkrong di sini.”

“Iyalah Pa. Tadi Tekya ada 10 menit nyari parkirnya.”

“Oh, kirain nyari tukang parkirnya.”Ledek Papanya mesem-mesem.

Papa dan Tekya memasuki toko berbarengan yang menjual kebutuhan pokok. Pelanggannya belum begitu ramai pagi itu. Koh Jeki chen menyambut ramah Papa bagaikan kedatangan seorang pendekar Jet Li si Kungfu Master dari perguruan Shaolin Rudy Hadisuwarno. Pokoknya karena sudah menjadi pelanggan lama, Papa dan Koh Jeki layaknya sahabat . Mereka bersalaman sejenak.

“Kok Jeki. Saya pesan seperti bulan lampau ya. Masih ada catatannya?” Ujar Papa sembari membetulkan letak kacamatanya yang berframe tebal setebal bibirnya nan seksi (ualah).

“Masih Uda Amin. Ini saja atau ada tambahan lain?”

“Oh saya hampir kelupaan.” Papa Tekya menepuk jidatnya. “Untung Koh Jeki mengingatkan. Hehe…”

“Hehe. Iya Uda, sebagai pedagang saya musti selalu mengingatkan pelanggan. Kalau tidak barang dagangan saya tidak habis-habis. Betul tidak?”

“Tidak. Eh betul maksud saya.”

Koh Jeki terkekeh-kekeh dan terdedeh-dedeh (maknanya apa ya? Cari di kamus ya, penulis juga asal jeplak)

“Lantas, apa tambahannya Uda? Dari tadi saya sudah nungguin ini mau dicatat.”

“Saya beli minuman botol. Fanta, Sprite dan 7 Up ada kan? Rasanya orange, grape dan bening. Masing-masing satu lusin.”

“Oke Uda, nanti disiapin oleh anak saya. Uda Amin parkir mobilnya di mana. Masalahnya agak berat. Biar anak saya yang angkat dan bawa ke sana.”

“Mobil saya di gedung BDN Koh. Agak jauh. Tadinya saya mau berhenti di depan toko. Karena penuh batal deh.”

Kok Jeki lalu berteriak memanggil nama anaknya. “Yantooo! Yantoo!”

  1. KETEMU SANG IDAMAN DI SAAT MENJEMUKAN

Teriakan itu membuyarkan konsentrasi Tekya yang sedang asik membaca komik Doraemon. “Bukannya ngasih aba-aba dulu kek sebelum teriak. Kuping saya bisa jadi budeg ini.” Omel Tekya setengan berbisik.. Baru saja Tekya hendak kembali membaca..Sekonyong-konyong keluarlah seorang gadis oriental berparas cantik dengan rambut panjang hitam sebahu. Gadis itu mengenakan kaos tanpa lengan dari bahan kain blacu bernuansa warna karung goni. Memamerkan ketek dan kulitnya yang putih mulus. Wajahnya yang bersih terawat tanpa jerawat  kelihatannya kinclong. Seingat Tekya bukannya tadi Koh Jeki tadi kan memanggil nama seorang cowok kok yang keluar malah di luar dugaan. Sekian detik detak jantung Tekya berhentik berdetak. Bibirnya membentuk huruf “O”. Apakah makhluk ini berjenis kelamin waria? ”Ah, mana mungkin” Pekik Tekya seraya mengucek-ngucek matanya yang tidak gatal.

Ternyata yang kaget bukannya Tekya saja, Koh Jeki selaku ayahnya juga ikut-ikutan terperangah. “Yanto mana Ti? Kok kamu yang nongol.” Tanyanya sambil menguap lebar. Beberapa jenis lalat nyaris masuk ke mulutnya. Hehe.

“Anuh Pah. Yanto lagi bikin PR Matematik, jangan diganggu katanya.” Ucap gadis yang mirip artis film dari Tiongkok, Gong Li.

“Belagu banget tu anak. Kayak Bos aja tidak boleh diganggu. Masalahnya ini barang agak berat Ti. Emang kamu kuat, nak?”

“Apaan barangnya Pah?”

“Botol limun. Tiga lusin.”

Anak gadis itu mengerlingkan mata indahnya sembari mengklik-kan jempol dan jari tengahnya nan lentik, dengan senyum manis menghias dibibir langsung membalikkan badan dan masuk lagi ke dalam dan hilang di balik tirai pintu.

Koh Jeki Chen langsung segera paham maksud anaknya kalau sudah memberi kode begitu. Pasti ada ide cemerlang yang bermukim di kepalanya yang otaknya cukup cerdas itu. Tekya tadi  berinisiatif ingin mengulurkan bantuan dengan menyingsingkan lengan baju demi meringankan beban sang pujaan langsung membatalkan niatnya, sambil menanti berharap-harap cemas menunggu kemunculannya yang begitu mendebarkan hati.

Gayung tersumbat eh bersambut. Tiga menit kemudian beliau menampakkan wujud kembali dengan mendorong sebuah troley mini, menghampiri papahnya.

“Bagus bagus. Ada ada saja idemu.”Koh Jeki mengusap-usap kepala anaknya dengan tangannya yang masih ada bekas tepung terigu. Otomatis  rambutnya yang hitam panjang terurai berubah menjadi putih ternoda oleh tepung terigu. Tekya jadi iri melihat kemesraan ayah dan anaknya.

“Kak. Ini minuman botolnya sudah siap dan lengkap sama belanjaan yang lain. Biar saya antar kemana?” tanya sang gadis yang sudah berdiri di hadapan Tekya. Tekya tersentak lalu bangkit dari tempat duduknya sambil terperangah. Matanya hampir pasti tak kuasa menatap bola mata indah bola tenis itu. Untuk sementara waktu Tekya dilanda amnesia.

“Aduh, mbak maaf ya jadi ngerepotin. Biar saya bantu.” Tawar Tekya basa-basi.

“Nggak usah kak. Sudah biasa kok.”

“Okelah. Ikutin saya ya. Tapi bener nih nggak apa-apa. Nanti kamu capek.”

“Kalau kita sedikit sedikit capek kapan Papah saya punya duitnya, Kak. Namanya orang dagang pasti ada capeknya.”

Papa Tekya mengamati pola tingkah anaknya bercakap dengan si gadis,  hanya tersenyum simpul saja.

“Namanya siapa?”

“Indrayati. Panggil Yati saja. Kakak siapa?”

“Nama saya Tekya. Tidak usah panggil kakak dong. Kita kan sepantaran.”

“Iya Kak eh Tekya.”

Tekya dan Indrayati tertawa bareng lagi.

Tekya segera berjalan mendahului dan sang gadis mengikuti dari belakang. Kebetulan jalan yang tengah mereka lalui agak sempit. Tak disangka dan ditebak pertemuan dengan Yati pada hari itu merupakan hari terindah dalam hidup Tekya. Rasanya seperti berbunga-bunga di taman firdaus. Apakah Yati merasakan hal yang sama?

  1. BACK TO CAMPUS DAN PERTEMUAN TAK TERDUGA JILID 2

Sebulan kemudian.

Bulan puasa telah pergi. Lebaran telah dilalui. Liburan kuliahpun telah usai.

Memang waktu begitu cepat berlalu. Tekya sudah jarang lagi bertemu Yati. Kebetulan Papa belum ada jadwal belanja bulanan ke Toko kasihtaksampai.

“Hooyyy! Melamun jorok ya?” Teriakan Syahrul cukup mengagetkan dan membuat Tekya beranjak dari bangku panjang kampus. Tekya mengusap dadanya. Sejenak mereka terlibat kejar-kejaran.

“Dasar kumis sontoloyo ya! Bikin orang jantungan aja. Untung masih ABG, jadi aman.” Omel Tekya sambil melempar temannya itu dengan pot kembang eh sepatu. Syahrul sigap mengelak, dan sepatu itu mendarat tepat di perut Ipul yang kebetulan melintas di depan mereka. Ipul terlihat geram. Akhirnya ketiga makhluk Tuhan itupun kejar-kejaran seru.

“Ayo kamu musti ganti rugi lho!” Bentak Tekya.

“Ganti rugi apa sih Teko?” tangkis Syahrul garuk-garuk kepala sampai ketombenya keluar.

“Gara-gara kamu. Buruanku jadi hilang deh.” Jawab Tekya sambil pandangannya terus mengitari seluruh sudut kampus. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan seolah-olah mencari sesuatu yang lepas.

“Emang lagi berburu babi hutan?” Ledek Syahrul sambil melintir-lintir kumis tebalnya.

“Ah, mau tahu saja. Kasih tahu nggak ya?”

“Kasih tahu dong.”

“Kalau mau tahu ke kantin sana. Ada banyak tahu goreng, pempek tahu dan tahu gejrot tuh.”

Kehebohan akhirnya dihentikan oleh kakak tingkat Komandan Wamil yang kebetulan sedang serius mengatur baris berbaris di lapangan kampus. Mereka segera didamaikan sebelum pecah perang dunia ke lima.

Lantaran kaget setengah mati, tanpa disengaja Arman baru saja menjatuhkan koran yang digenggamnya. Arman tidak sengaja bertubrukan dengan seorang cewek di perpustakaan. Semula Arman berniat marah tapi tidak jadi. Apalagi kalau alasannya kalau bukan yang ditabrak berjenis kelamin wanita. Coba saja kalau cowok pasti sudah diajak ribut. Keributan kecil itu cukup memancing penghuni perpustakaan menoleh ke lokasi TKP. Termasuk Tekya and the ceki gank.

“Maaf ya saya tidak sengaja. Habis buru-buru mau mencari buku Ekonomi. Barusan teman saya kasih tahu, takut lupa. Sekali maaf ya.” Mohon Yati, nama cewek itu menampakkan raut kawatir.

“Ah, nggak apa-apa. Saya juga minta maaf.” Jawab Arman terbata-bata sambil matanya tetap menatap wajah sang cewek tanpa lepas. Di dalam hati Arman seakan berkata ‘tubruk sekali lagi juga tidak apa-apa manis’.

“Eh Yati!” Tekya berteriak sedikit tertahan. Dia sedang asik duduk di barisan paling belakang sambil memegang majalah Infobank. Tekya menghampiri Yati yang masih berdiri mematung. Di luar dugaan Tekya dan Indrayati kembali bertemu di tempat yang tak terduga.

“Eh Tekya ya. Ngapain di sini?” tanya Yati masih kaget.

“Memang saya mau belanja. Ya kuliah dong di sini.”Jawab Tekya cengar cengir. Tinggal Arman masih berdiri bengong karena dihiraukan. “

“Kok kamu tidak bilang-bilang sih. Ya amplas.”

“Kamu juga tidak bilang-bilang. Ya tahu gitu…”

“Tahu gitu kenapa…?” tanya Yati penasaran banget.

“Tidak perlu jauh-jauh kalau saya mau pesan sprite lagi.” Tekya tersenyum.

“Ah kamu ada ada saja.” Yati mencubit manja lengan Tekya hingga terpekik bahagia.

“Aduh kok jadi gini, bagaimana ya. Yang tubrukan siapa eh yang kenalan siapa…?” Arman masih tetap berdiri bengong sambil melongo. Arman tidak habis mikir dan terus menganalisa. Tapi Tekya sudah terburu mengenggam tangan Yati untuk diajak ke luar perpustakaan.

Hari Sabtu pagi Tekya bersiap untuk bergerilya menelepon teman-teman satu gangnya satu persatu. Tekya berharap salah satu di antara mereka mau diajak menemaninya berkunjung ke Toko milik Indrayati. Siapakah temen yang beruntung itu? Lantaran saat ini Tekya sedang terjangkit penyakit ‘malarindu tropikangen’. Ciri-cirinya hati panas dingin, demam cinta suhu diatas 38 derrajat celcius, gatal gata di sekitar jiwa, perut kembang kempis, kepala senut senit, jantung berdebar-debar mengalunkan irama lagu kangenya-Dewa. Begitu sulit untuk diungkapkan apalagi dilukiskan. Belum lagi harga alat-alat untuk mengaggambar dan melukis mahal-mahal.

Tekya menelepon temasn pertamanya, Ollan. Lumayan bisa nebeng motornya yang Honda GL Pro. Setipa mampir ke rumahnya Ollan hobby mentraktir anak-anak bakso plus teh botol sosro.

  1. Ollan Marpaung (Ollan)

“Wah, maaf nian fren. Sabtu sampai Minggu acaraku padat. Biasa ada acara kebaktian di gerejaku.  Band worshipku dipercaya untuk mengiringi. Aku pegang gitar.”

“Oh ada kerja bakti ya?”

“Kebaktian Mang Tekya. Bukan kerja bakti tahu.”

“Terus kenapa gitar pakai dipegang-pegang segala. Setahuku gitar itu dipetik. Sudah suruh temenmu aja yang pegang. Biar kamu nemenin Aku dulu ke tempat cewek cakep. Rugi lho.”

“Bodoh ah. Lain kali aja ya Tek. Aku musti nyuci piring dulu.” Ollan menutup teleponnya.

  1. Idham Midun (Midun)

“Maaf Tek, ngggak bisa. Mau antar Bapak pulang ke Lahat dulu. Minggu aja ya? Minggu aku sudah pulang.” Jawab Midun dari seberang telepon.

“Kalau minggu bukan ngapel namanya. Ngepel. Ngapel kok malam senin kuyung!”

  1. Syahrul Kumisan (Arul)

“Sorry Teko.” Aku masih sakit hati bila mengingat pertengkaran kita kemarin. Buang-buang waktu saja. Mestinya itu tidak terjadi. Lalu kenapa ini terjadi.”

“Hei Semprul. Cukup jawab bisa atau tidak. Kamu yang buang-buang waktu. Mestinya aku nggak usah telepon kamu. Bodoh sekali aku.”

“Emang. Hehehe. Maaf Teko saya mau ke salon kumis dulu ya. Kumisku sudah gondrong.”

  1. Ramlan Yamato (Yamato)

Tidak ditelepon, karena anak kos jadi tidak punya telepon.

  1. Jhon Junedi (Juned)

Ditelepon tapi yang angkat Ibu kos. Ibu kos bilang sedang ke department store untuk membeli celana dalamnya yang sudah robek. Akibat tidak hati-hati mengangkat dari jemuran hingga tersangkut di kawatnya.

Semua sudah ditelepon. Oh ada satu tinggal Arman. Sekarang harapan satu-satunya tergantung padanya. Bila ditolak mau tidak mau Tekya harus pergi sendiri ke rumah Indrayati.

  1. Suparmando Rano J Pisa (Arman)

“ Man, temeni aku yuk ke toko di pasar 16 ilir.” Ajak Tekya.

“Ogah ah ke pasar. Dilarang dokter kulit dan kelamin pribadiku. Katanya pasar tradisional itu selalu becek, jorok dan banyak beterbangan lalat. Gengsi dong. Aku sudah terbiasa ke departmen store dari kecil. Apalagi pasar inpress. Idiih. Secara nama sudah nggak intelek lagi.”

“Oke oke. Ayo kita ke departmen store ya.”

“Ayo. Aku ganti sarung dulu eh celana maksudku.”

“Sip. Tapi..sebelum ke sana mampir ke pasar dul…”

“Ogah ah. Lagi nggak minat.”

“Ya udah, kalau begitu kamu ke department store aku ke pasar. Lho kok jadi ngawur tenan. Bingung aku. Begini aja deh. Biar kelar. Kamu temenin aku ke rumah cewek yang cantik kemaren ya. Mau ya?”

“Amboyy. Yang mirip Lin cing Hsia itu. Oke oke Aku siap. Mau mau.”

“Dasar mata cewek lo. Langsung mau.”

“Aku pria normal Tek.”

“Kirain abnormal.”

“Semprul luh. Jemput ya.”

“Hah! Naik motor kamu aja. Bensin aku tanggung. Takut macet ah.”

“Mobil kamu aja. Panas bikin gerah.”

“Mobilku kagak ada AC-nya.”

“Taksi dong.”

“Mahal. Ya udah aku jemput kamu. Jangan kemana-mana dan jangan lama-lama. State tune.”

“Pakai apa?”

“Jalan kaki.”

“Batal batal.”

“Iya iya. Mobil mobil. Dasar cowok matre, ke sungai Musi aje.”

Beberapa jam kemudian mobil Tekya sudah parkir di depan Toko Kasihtaksampai. Arman sempat protes karena merasa dibohongi karena Tekya tetap mengajaknya ke pasar 16 ilir. Arman minta berhenti dan diturunkan di pinggir jalan. Tapi urung karena dompetnya ketinggalan. Di dalam toko, Tekya asik bercengkrama dengan Indrayati. Entah topik apa yang dibicarakan. Mereka ngobrol ngalor ngidul. Indrayati tetap tidak melupakan pelanggan dan tetap melayaninya dengan ramah. Kayaknya Indrayati selalu bersikap ramah kepada semua orang. Senyum malu-malunya itu yang menjadi ciri khas. Dan itu yang membuat Tekya melayang-layang dan gemesss deh! Arman dibelikan Tekya es limun hoya dan chiki snack biar kalem dan tidak menganggu. Setelah makanannya ludes Arman gatal juga ikut nimbrung.

“Nanti malam saya boleh main ke rumah Yat?

“Ka-Kapan-kapan saja.”

“Lho kenapa? Ada yang marah ya?”

“Iya sih.”

“Oh ya? Cowok kamu ya?” tebak Tekya.

“Bukan. Papah saya. Hehe nggak kok. Kan Papahku sudah kenal kamu toh. Yang suka marah kokoh saya. Hehe.”

“kalau yang melarang kakak kamu aku sih maklum saja. La wong dia kakakmu kan kawatir bila…”

Tiba-tiba datanglah seorang cowok muda berperawakan agak gendut sambil memainkan kunci mobil. Tekya langsung melihat ke tempat parkir. Oh ternyata tunggangannya mobil Sedan BMW mengkilap.

“Eh, yayang nanti malam jadi kan kita nonton Jet Li. Ada film baru. Judulnya Kungfu Master III. Spektakuler dan ciamik. Waduh, toko kamu rame. Panen dong hari ini.”

“Iya begitulah. Kamsia. Sie sie Koh. Biasanya  nelepon dulu kalau kemari.”

“Boleh dong yang, sekali-sekali kagetan.”

“Ada yang dibeli Koh ke pasar.”

“Ada yang. Tadi aku mampir ke toko onderdil buat mobilku. Ingat kamu jadi aku mampir deh.”

“Eh ah uh.” Indrayati tampak gelagapan. Mukanya langsung berubah merah padam. Dia memperkenalkan kepada Tekya dan Arman bahwa yang  datang adalah pacarnya. Namanya Amir, biasanya dipanggil dengan kokoh alias kakak ketemu gede. Amir sudah janjian hendak nonton midnite di cineplek dekat pasar cinde. Rupanya Yati juga bisa menangkap rahasia di balik hati Tekya. Dalam hati kecilnya, tidak bisa dipungkiri. Kalau boleh berkata jujur Yati diam-diam juga menyimpan cinta untuk Tekya…

Tekya bagaikan disambar gledek mendengar penjelasan Indrayati. Tekya jadi salah tingkah. Arman hanya banyak tertunduk sambil berpura-pura melihat barang-barang di toko itu. Melihat-lihat label harga. Tekya dan Arman berubah bak patung manekin saat itu. Tanpa kuat untuk mengucap apa-apa.

Tekya salah menduga. Dibalik sosoknya yang pemalu dan lembut ternyata Yati supel dalam bergaul. Ternyata Yati bukanlah cewek yang kuper dan susah bergaul. Tidak sulit bagi Yati untuk mendapatkan seorang pangeran yang ingin menawar hatinya. Berbekal kecantikannya sudah barang tentu berkerumun cowok-cowok yang mau mendaftar menjadi pendampingnya. Oh Yati kamu mendapatkan cowok di saat yang tidak tepat. Disaat Tekya tengah berharap bakal ada yang mengisi relung hatinya. Sosok Tekya yang sesungguhnya sudah lama mengesampingkan masalah pacaran ketika sudah berkumpul dengan teman segangnya. Momen yang teramat istimewa itu langsung berubah hambar dalam hitungan menit.

Ketika Tekya bergumul mesra dengan bantal guling di kamarnya. Telepon di ruangan tengah berbunyi. Mama Tekya dengan sigap mengangkat telpon. Beberapa menit kemudian mendatangi kamar Tekya. “Tekya. Telepon dari teman kuliah. Cewek lho.”

“Hallo!”

“Ya hallo juga. Dengan siapa saya bicara.” Tekya bersikap formal.

“Ini Yati. Maaf kejadian dua hari yang lalu.”

“Lho kamu kok tahu nomor telpon saya. Pasti dari Arman ya?”

“Bukan. Jangan sembarang nuduh deh. Memangnya saya nggak boleh telpon nih.”

“Bukan begitu. Boleh kok. Agak suprise aja Yat.”

“Ah kamu ini gimana. Papa kamu sudah lama jadi pelanggan tokoku. Aku dapat dari daftar pelanggan Papahku. Di kertas bon-bonnya dialah.”

“Memang pinter kamu. Tapi sayang…”

“Sayang apa Tek…? Aku jelek ya.”

“Hanya orang yang pikun dan bego nuduh kamu jelek. Yati Yati.”

“Lantas apa dong”

“Kamu sudah punya cowok sih.”

“Kan kita tetap bisa berteman. Sekali waktu bisa ngobrol-ngobrol lagi. Habis kamu culun dan lucu Tekya. Rugi kalau tidak berteman sama kamu. Selain itu kamu anaknya baik dan jujur. Kamu juga ganteng mirip mirip Andi Lau….tan api. Heheh.”

Pecahlah tertawa mereka.

“Aduh. Jadi ge-er nih. Kamsia kamsia.”

“Tekya aku mau jelasin sesuatu ke kamu. Kamu belum ngantuk kan? Sebenarnya aku baru saja baikan lagi sama si Kokoh. Tepat dua hari setelah kedatangan kamu ke toko. Statusku masih single abis. Kami sempat putus. Aku sempat down. Karena kami sudah setahun jadian. Ketemu waktu ospek kemaren. Makanya aku waktu ketemu kamu ada niat mau macarin kamu. Preman kan saya? Hehehe. Terusss…Entah kenapa tiba-tiba dia mengajak rujuk lagi. Sialnya aku langsung mau. Habis aku nggak kepikiran bakal ketemu lagi. Eh kalau saja aku tahu kita sekampus. Iya kan Tekya. Dengerin ya…Aku juga suka kamu. Hallo? Hallo? Tekya! Kamu masih di gagang telepon kan? Huh kamu tega kok sudah tidur duluan!!”

Indrayati membanting telepon sambil ngedumel. Kasihan Tekya ketidaksanggupan mendengar kesaksian Yati membuatnya tak kuasa menahan kantuknya. Mimpi indah ya.

IMG_20120215_121823

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s