(SERIAL KAMPUS…ING) ANTARA KALKULATOR, MOTOR DAN PARANORMAL

Oleh : Deddy Azwar

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Juned duduk blingsatan. Tingkahnya mirip orang ling lung sampai lunglay. Kepalanya yang rada plontos dihiasi seonggok rambut tipisnya nan terurai urai. Jidatnya rada jenong. Dibawah alisnya terbentang matanya nan belok mirip ikan mas koki. Nah sekarang kedua bola matanya berkedaap kedip seraya membelalak. Kadang-kadang pandangannya nanar. Pokoknya kesimpulannya ini hari si Juned layaknya orang sedang kebakaran kumis. Jalan ke sana nabrak tembok jalan ke kiri ketemu jamban. Pas saat kebelet pipis eh dia hendak keluar lewat jendela. Apalagi jendelanya plong tanpa jeruji besi. Mas lewat pintu dong!

Namun tingkahnya yang penuh keganjilan bukannya tidak mengundang perhatian orang disekitarnya. Belum lagi kalau si Juned sedang dilanda kebingungan high level pastilah menimbulkan suara kebisingan di sana sini. Alhasilnya kamarnya tampak porak poranda. Ranjangnya yang terletak disisi jendela sudah bertransmigrasi ke wc. Gerobok alias almarinya bertranformer menjadi jamban…hehe.

Bibik Jennifer, sang pembantu alias ajudannya Bunda Lilik, pemilik kos tempat dimana Juned bermukim, sedari tadi mengamati dan menganalisa apakah gerangan yang sedang terjadi di bilik sempit dan sumpek itu. Bukan lagi mirip kapal pecah tapi sudah seperti planet yang ambruk. Suaranya yang gaduh melebihi di atas ambang kewajaran.  Kebetulan Ibu Lilik sedang pergi ke pasar untuk membeli berbagai keperluan dapur.

“Ada apa Kak Juned?! Sepertinya kehilangan sesuatu. Waduh Kak! Kamarnya rapi ahmad sekalee.” Akhirnya nafsu Bik Jennifer berkobar ingin tahu permasalahan di bilik milik Juned.

“Eh..anu..Bik. Sesuatu yang penting dalam karirku sebagai mahasiswa Bik telah lenyap. Lenyap dengan senyap hingga membuatku….”

“…Pengap.” Tebak Bibik Jennifer ragu-ragu.

“Cetiau untuk bibik yang pintar!” Puji Juned sambil melirik genit si bibik yang molek.

“Kwetiau. Oh kok tahu menu kesukaanku akhir-akhir ini.”

“Bukan kwetiau Bik, tapi cetiau itu artinya sejuta. Chinese language itu.” Protes Juned.

“Ohhh. By the way we we. Kalau boleh tahu apa yang terjadi Kak Juned?”

“Kalkulatorku hilang!”

“Lha Kak Juned sudah punya mobil toh. Kapan saya diajak jalan-jalan? Terus mobilnya parkir dimana?”

“Mobil? Bibik Jennifer kleper..Nggak paham blo’on.”

“Tadi bilang kalburator?”

“Kalkulator Bik! Kalkulator Bik!”

“Hanya kalkulator?? Nyang buat ngitung itu ya. Saya pernah melihat Koh Jongos pakai itu di warungnya.”

“Betul. Tapi jangan menghina begitu. Ini bukan kalkulator sembarangan. Bibik melihat tidak kalkulator saya. Itu hadiah dari Abahku dari hasil panen kebun rambutan milik keluara kami. Kalkultaor saya harganya mahal. Masih jarang di kota ini. Limited edition. Tenaganya dari sinar matahari. Chasingnya dari kulit buaya. Dilengkapi time world, sin cos tangen. Memuat nomor telepon kawan-kawanku pula.

“Dahsyat bener.”

“Makanya…kepalaku sudah berasap nih. Abah pasti marah besar Bik.”

“Boleh saya ikut membantu mencari Kak Juned?” Bibik Jennifer mencoba menawarkan bantuan.

“Bibik sedang sibuk tidak?”

“Tidak kok. Saya sudah beres menjemur pakaian.”

Sekejap kemudian Juned dan Bibik Jennifer terlibat pencarian mesin kalkulkator di bilik sempit itu. Bergumul dengan penuh keringat. Berguling guling dengan desahan nafas kecapaian. Apa daya, kalkulator tetap belum diketemukan.

Jam 10 pagi Juned sudah duduk terpekur di kursi perpustakaan. Segera dia mengeluarkan buku cetak pembukuan atau akuntansi. Lalu dia mengeluarkan lembaran ukuran F4 yang bergaris-garis. Rupanya remaja ini hendak mengerjakan PR akuntansi. Dan ajaibnya PR kali ini ternyata banyak hitungannya. Tentunya paling tidak memerlukan alat hitung. Tidak perlu canggih. Bisa dipencet langsung keluar hasilnya. Kalkulator atau sempoa.

Juned berhasrat sekali ingin menuntaskan pekerjaan rumah tersebut. Seharusnya dari kemaren itu PR sudah beres. Akan tetapi karena kehilangan kalkulator kesayangannya semuanya jadi mumet dan ribet. Mestinya dia sudah bisa duduk duduk santai di perpustakaan sambil cuci mata. Tapi apa yang terjadi sekarang? Semuanya berantakan. Suasana seperti yang tidak diinginkan Juned. Menyebalkan!

30 menit mata kuliah Akuntansi akan dimulai. Sialnya ada beberapa soal belum ada jawabannya, karena ada hitung-hitungannya. Saat ini Juned sibuk mencari teman kuliahnya yang lain. Siapa tahu bisa dipinjamin kalkulator. Di benak Juned sudah terbayang rumus apa yang digunakan untuk menyelesaikannya solusi soal tersebut. Menurutnya soal-soal itu gampil alias mudah. Hanya kendalanya pada kalkulator doang.

Umumnya banyak orang sangat begitu tergantung dengan mesin kalkulator dari Jepang itu. Alasannya Cuma satu saja yaitu tidak mau repot dan pusing dalam berhitung sehingga otaknya jarang dipakai dan dibiarkan berkarat. Kebanyakan orang ingin serba praktis dan instant.

Padahal manusia dianuegrahkan oleh Sang Pencipta akal untuk berpikir. Termasuk untuk menjawab dan mencari jalan keluar soal matematika. Menyerah sebelum mencoba tidaklah baik. Juned juga begitu. Juned sudah dimanja oleh keadaan. Sejujurnya soal akuntansi yang sedang dibingungkannya tidaklah sulit amat.

Di tengah kebengongan, Juned akhirnya dapat juga berpekik gembira. Bibirnya mengembang senyum. Dari kejauhan dia melihat Tekya hendak melangkah memasuki gedung perpustakaan. Pucuk teh dipetik nasi ulampun tiba. Gayungpun disambit. Juned pun berlari kecil menyambut kedatangan Tekya. Sang teman sejati. Khusus untuk hari itu.

“Eh apa-apan nih Juned. Sudah tidak usah pakai peluk-pelukan. Memang kita berpacaran.” Tekya menangkis belaian tangan Juned yang ingin bergelayutan di pundaknya. Siomay amat deh.

“Oh Tekya kamulah sang penyelamatku pagi ini.” Sambut Juned sambil menari-nari humba humbala berputar-putar. “Pinjamkan aku kalkulatormu barang sekejap.”

“Buat apa?”

“PR akuntasi wak dung!” Hitungannya susah tahu!”

“Alah, kamu saja yang malas. Pakai ini dong. Mikirr.”

“Kamu sudah beres belum?”

“Sudah dari seminggu yang lalu.”

“Dasar! PR-nya baru dikasih kemaren lusa oleh dosen bro. Seminggu yang lalu itu mata kuliah apa? Ilmu hitam?”

“Mata kuliah Ampun Hansip (akuntansi). Hehe…”

“Sini pinjam. Ayo buruan nih sebentar lagi masuk.”

“Udah nggak perlu pakai kalkulator. Pakai otak dong. Dikasih Tuhan buat dipakai bukan dianggurin.”

“Ya sudah. Aku pinjam PR kamu aja. Sudah mepet nih.”

“Ini kalkulatornya Jun.”

“Tidak jadi. Buang aja. Aku mau pakai otakku.”

“Sontoloyo!” Pakai otak atau nyalin punya orang.”

Pelajaran Ampun Hansip (plesetan untuk akuntansi) pun selesai. Junedpun bernafas lega. Beberapa detik kemudian terbayang lagi akan kalkulatornya yang lenyap entah kemana. Membawa memorinya terbang ke awan. Teringat kembali kala Abahnya menghadiahkan kalkulator cantik berfeatures lengkap itu kepadanya. Saat itu di luar hujan gerimis. Angin bertiup semilir. Abah memberikan barang tersebut dengan harapan Juned akan meneruskan kelangsungan bisnis jual kain yang telah dirintisnya beberapa puluh tahun silam. Tampuk usaha dagang akan diestafetkan ke anak bungsunya itu kelak. Juned tidak berniat menolak dan mengecewakan Abahnya. Tapi dalam hati kecil yang paling dalam Juned bercita-cita menjadi orang kantoran. Paling tidak sesuai dengan jurusannya sekarang yaitu sekor  perbankan.

“Kalkulatormu yang keren itu kemana?” Ollan membuyarkan lamunan Juned. Kepalanya ditundukkan dalam lipatan kakinya yang menjongkok.

Juned tidak segera menjawab. Matanya menerawang. Pandangannya nanar. Ingin rasanya dia menitikkan air matanya, tapi takut dicap cengeng, kalau ingat nilai historisnya.

“Hilang…” Hanya kata itu yang sempat diucapkakn setelah mengerahkan seluruh tenaganya yang dilanda kelesuan.

“Serius Jun. Waduh, itu kan kalkulator bagus. Barang yang selalu kamu bawa ke tempat tidur dan selalu kamu cium kan?”

“Iya Lan. Barang itu berguna banget. Melebihi segalanya…”

“Walahh…Berlebihan deh.”

“Kapan hilangnya?”

“Aku lupa-lupa ingat. Kayaknya pas waktu ulangan statistis. Waktu itu kejadiannya malam hari. Ingat nggak kita tesnya menjelang Isya. Selesai aku beresin semua perlengkapan. Perasaanku sduah nggak ada yang tertinggal. Semua sudah tumplek di dalam tasku.”

“Ingat ingat dulu apakah kamu meminjamkan kepada seseorang.”

“Nah, aku tidak ingat.”

Tiba-tiba Ollan membisikkan sesuatu di telinga Juned hingga membuatnya ternganga. “Apa? Ke dukun?”

“Hus! Jangan kencang-kencang dong.”

“Zaman sekarang kok percaya dukun sih Lan.”

“Ollan Ollan. Yang hilangkan kalkulatorku. Bukan aku mau meletin cewek. Apalagi pake guna-guna. Hii ngeri. Di dalam agamaku dilarang tahu!?”

“Bukan dukun Juned. Paranormal. Beda. Dia bisa apa yang akan terjadi dengan melihat mata bathin. Nanti saya antarkan kesana?”

“Aduh nanti syaratnya macam-macam lagi. Duitku tidak banyak.”

“Itu urusan nanti. Dia itu guru spritual Bapakku. Namanya Uwak Gerry.”

“Hari Sabtu.”

“Deal. Oke kita kesana naik apa?”

“Naik motor kaulah bang. Punyaku ada di Tanjung Enim. Bensin aku yang tanggung.”

“Naik motor?! Capek tahu.”

“Lantas naik helikopter?”

“Naik Hardtop aku aja. Tempatnya agak jauh di pinggiran kota.”

“Waduh. Nginap dong?”

“Nggak usah. Gimana kalo kita ajak gang kita. Hitung-hitung jalan-jalan.”

“Deal.”

(bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s