KALKULATOR ,KONTRAKTOR,BUKAN KORUPTOR DAN PARAGNOST

 

Oleh : Deddy Azwar

 

Flashback Seminggu yang lalu.

Di balkon lantai 2 kos kosan tempat Juned mondok, terhampar wajah muram seorang remaja berusia muda namun bertampang tua. Hihi. Juned duduk tertegun sambil termangu. Duduk pasrah di kursi bambu beranyam yang panjang. Di ambilnya sebuah gitar yang sedari tadi terletak di balik pintu, kemudian dipetik-petik. Suaranya terdengar gember. Lalu buru-buru ditaruhnya kembali. Juned baru tersadar bahwa dia belum mahir bermain gitar. Kunci-kunci nada saja dia tidak tahu. Dulu, sewaktu masih duduk di bangku SMA, Juned telah menguasai beberapa kunci. Terutama kunci pelajaran matematika, bahasa inggris dan fisika. Setelah beranjak dewasa pengetahuan akan kunci-kunci kian bertambah. Antara lain kunci T, kunci inggris dan kunci kamar kos.

Lagi asik-asik melamun, Juned tiba-tiba dikejutkan oleh suara pintu balkon ditendang keras. Juned nyaris kelonjotan dan melompati pagar balkon. Dia lalu mengurungkan niatnya dan baru sadar ternyata lantai 2 di balkon cukup tinggi.

“Astagfirullah!!”Pekik Juned setengah mati. “Eh copot copot. Ada apa? Apa ada? Aku ganteng! Ganteng aku!” Masih dengan tergagap-gagap gempita dengan kalimat yang kebolak balik.

“Aduh! Segitunya…Mukamu mirip genteng!” Terdengar suara dari seseorang diiringin ketawa cekikikan. Tidak beberapa kemudian nongol dari balik tembok sesosok remaja berperawakan tubuh tinggi kurus berkamata tebal. Setebal mukanya.

“Kamu Gus!? Dasar centong nasih lu! Jangan bikin kaget salah satu anggota New Kids on The Block dong. Goblok!” Kaki ceking Juned spontan menendang pantat temannya itu.

“Siapa salah anggota NKTOB? Apa Aku tidak salah dengar nih?” Agus mengangkat tangannya lalu ditempelkan pada daun telinganya.

“Aku. Juned Knight!” Juned menepuk dada sembari terbatuk-batuk kayak orang bengek.

“Iya mirip kalau dilihat dari jembatan Ampera.”Ledek Agus sambil tertawa lebar. Kacamatanya hampir saja copot dan jatuh ke lantai.

“Ada angin apa yang membawa kamu kemari Jerapah?”

“Mau kasih kabar bagus sama kamu.”

“Begitu dong. Kabar apa-an?”

“Apa bazar celana dalam second tuh di pasar 16 ilir. Huahuahua…”

“Enak saja. Kesana saja sendiri! Celana dalamku semua beli baru. Tidak ada yang bekas. Emang kamu. Kaos oblong yang nggak kepakai disulap jadi kolor. Hihi. Miskin banget. Begitu ya kalau wesel dari kampung di stop ya.”

Agus mulai kehabisan kata-kata untuk menjawab berondongan pernyataan dari Juned.

“Ayo mau ngomong apa lagi lu.”

Agus langsung melempem. Sekonyong-konyong dia langsung ngeluyur pergi.

“Eh Gus, celana sirwal sudah belum? Balikin dong.” Teriakan Juned terdengar parau.

“Ntar ya.” Jawab Agus dari lantai bawah.

“Huh! Nggak modal banget sih” Juned membatin. Lalu melanjutkan aktivitasnya memetik-metik jenggotnya satu persatu. Hihh. Habisnya memetik gitar dia tidak bisa. Yang lain jadi korban.

Agus, si anak dari Kepulauan Riau ini, buru-buru masuk ke kamar kosnya. Sesampai di kamar di rebahkan badannya ke kasur yang sudah menipis kadar kapasnya, tanpa dipan. Diraihnya bantal guling dan dibenamkannya tu muka. Dalam kondisi seperti itu dia masih sempat-sempatnya tertawa cekikikan. “Hihi. Juned bakal kelimpungan. Tahu rasa…”

Present Day

Gang Ceki sedang berkumpul di rumah Ollan, setelah Juned mengeluarkan statement kehilangan kalkulator canggihnya. Walaupun hanya seonggok kalkulator. Zaman itu mesin itu masih terbilang barang mewah. Tepatnya tahun 80-an. Kalkulator digunakan bagi kalangan berprofesi khusus. Seperti orang yang mengerjakan pembukuan atau akuntansi, toke-toke yang berjualan di pasar, tukang jagal daging sapi, guru matematika, tukang emas dan pegawai bank.

“Juned. Kamu masih berniat mencari kalkulatormu yang hilang?” Midun membuka obrolan.

“Jelas. Saya kepingin barang itu kembali ke pangkuanku.” Jawab Juned dengan nada lemas terkulay.

“Masak kamu tidak ingat sih itu barang ditarus dimana? Masak masih mudah sudah lupa sih. Coba diingat-ingat dulu baru lupa kemudian.” Ujar Yamato sembari mengelus-elus kumisnya yang tumbuh jarang-jarang. Kira-kira adalah sepuluh helai. Malah akibat dielus copot dua helai. Yamato mendadak menyesal.

“Aku benar-benar blank nih. Antara lupa, hilang dan atau dipinjam seseorang. Mungkin ketika aku keluar untuk pipis terus ada orang masuk.”

“Mungkin saja dia berniat minjam karena tidak ada orangnya  diambil aja kali.”Timpal Parman.

“Siapa saya yang kamu curigai Jun?” Tekya menginterograsi. Mirip detektif partikelir.

“Tidak tahu. Sementara ini aku bingung. Kamarku memang selalu kubiarkan terbuka kalau sedang tidak kemana-mana. Paling juga yang suka main ke kamar Bik Jennifer, Pongky, Eva Nanas, Ikang Paus, Opikus Picantropus…”

“Itu nama-nama sejenis umbi-umbian ya…”Terka Ollan sekenanya.

“Itu Pongki penyanyi ya. Namanya keren banget.” Tekya ngelantur.

“Pongky, anak ibu kos. Eva Nanas adiknya Pongki.”

“Sudah gede-gede?” Tanya Midun.

“Kalian jarang sih main ke rumah kosku, jadi tidak terlalu akrab. Mereka masih anak-anak.” Kata Juned.

“Siapa tahu mereka kira itu mainan gamewatch. Padahal kalkulator.” Ungkap Syahrul sambil memelintir kumisnya yang lebat. Hampir menutupi separuh bibirnya. Alisnya yang tebal baik segerombolan gajah beriring juga hampir menutupi matanya. Ah bercanda awak ini.

Pada akhirnya mereka mengambil suatu kesimpulan untuk mencoba mengadukan masalah ini kepada seseorang paranormal yang bernama Wak Gery. Kebetulan beliau bersahabat baik dengan Bapaknya Ollan. Wak Gery adalah dianggap seorang yang alim dan memiliki indra ke enam. Gosip yang beredar dia bisa meramal masa depan dan lain-lain. Semua kelebihan Wak Gery diceritakan oleh Ollan dengan seru.

“Tampang seperti apa Lan?” Parman penasaran. Dia kawatir Wak Gery lebih ganteng dari dirinya atau artis penyanyi Tommy J Pisa.

“Jangan-jangan serem seperti di film vodoo..”Yamato mencoba menakut-nakuti.

“Iya serem seperti mukamu itu, Yam.”Celetuk Ollan senyum meledek.

“Sebetulnya saya kurang begitu suka dengan hal-hal begini.”Tekya angkat bicara. “Saya lebih percaya dengn sang Pencipta. Manusia hanya sebagai perantara saja. Tentu dengan seizin Tuhan. Lebih afdol si Juned lebih banya berdoa dan memohon pada-Nya. Daripada kita meminta pada manusia juga. Bukan begitu?”

“Iya. Eh bukan. Eh begitu.” Midun kebingungan.

“Terserah kalian. Terutama Juned. Saya hanya memberikan jalan dan informasi saja. Bahwa saya kenal dengan Wak Gery. Dan dia pernah menolong Bapakku ketika terkena guna-guna.” Ollan bewejang.

“Oh Ya? Bagaimana ceritanya?” Syahrul antusias sekali. Sampai-sampai kacama hitam nyaris lepas. Rokok yang dikulum di mulutnya hampir termakan.

“Bapakku ternyata disantet oleh saingannya di bisnis kontraktor. Kami hampir saja kehilangan orang yang kami cintai. Seorang peserta tender ad tidak suka melihat Bapak memenangkan tender. Dia iri sekali. Sampai-sampai mengambil jalan yang dilarang Tuhan. Tender ditolak dukun bertindak. Kami tak henti-henti berdoa di gereja. Memohon pendeta untuk berdoa bersama-sama. Para tetangga yang merasa perhatian dan iba melihat kondisi Bapak yang selalu kesakitan serta merintih-rintih.”

“Tidak dibawah ke dokter?” Tanya Juned.

“Sempat sih. Ya, kemampuan dokter hanya di bidang medis yang ia kuasai. Namun setelah dirotgen tidak kelihatan apa-apa. Dokterpun angkat tangan. Tidak lama datang seorang tetangga Pak Haji Karim datang bertamu. Pak Haji teman baik Bapakku. Walaupun berbeda keyakinan mereka sangat akrab. Beliau prihatin sekali lalu menawarkan bantuan untuk membawa ke seorang pintar yang alim. Mulanya kami ragu. Akan tetapi setelah dibawa kesana alhasil sembuh juga. Dua minggu baru sembuh total. Wak Geri orang yang baik. Beliau menolong siapa saja tanpa pandang bulu. Beliau menolong dengan ikhlas. Maka dari itu tidak pernah mengenakan tarif. Semua pasien diminta berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Kesembuhan bukan berasal dari dirinya tapi semua adanya ridho dari Tuhan Yang Maha Kuasa.”

“Saya suka Wak Geri.”Sanjung Juned. “Saya salut…tidak mengenakan tarif. Tahu sendiri hal ini sempat membuat dia tidak tidur dua malam karena memikirkan biaya yang akan dikeluarkan untuk membayar jasa paranormal. Juned sudah menyisihkan uang belanja ditambah uang semester. Bahkan dalam hati kecilnya akan berhemat dalam berbelanja dan makan. Biasanya makan dua piring diganti makan dengan daun pisang. Biasanya minum air galon dirubah dengan air hujan. Biasanya makan nasi diganti dengan singkong. Biasanya mengenakan pakaian dan celana bermerk akhirnya pergi ke taylor.

Secara harafiah pengertian atau definisi paranormal adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang yang tidak dimiliki oleh orang kebanyakan. Biasanya berhubungan dengan hal-hal yang mistik,metafisik, kemampuan indra keenam dalam berkomunikasi dengan alam gaib, kemampuan meramal akan masa depan, ilmu kebal dan dapat menyembuhkan suatu penyakit terutama yang berasal dari hal hal yang ganjil. Sedangkan orang yang memiliki kemampuan paranormal dikenal dengan Paragnost.

Julukan mereka bisa bermacam-macam antara  lain : orang pintar, mbah dukun, wak, eyang, datuk. Rata-rata mereka amat disegani, dihormati bahkan ada yang ditakuti. Di Indonesia terdapat beberapa nama yaitu Prabu Jayabaya, Mpu Baradah, Ki Jokobodo, Gendeng Pamungkas dan Mama Lauren.

Setelah berembuk, Tekya, Midun, Parman,Ollan,Yamato, Syahrul dan Juned sendiri yang mempunyai hajat telah berkumpul di rumah Ollan. Tidak ada ritual khusus yang mereka lakukan sebelum berangkat. Ollan sempat minta restu Bapaknya sekalian minta dibuatin petunjuk jalan yang akan dilewati oleh rombongan.

(bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s