(SERIAL CAMPUS…ING) KAMPUNG KAPUR BARUS, KAMPUNG BARU DAN PARANORMAL MEMPERBAIKI YANG TIDAK NORMAL

(SERIAL CAMPUS…ING) KAMPUNG KAPUR BARUS, KAMPUNG BARU DAN PARANORMAL MEMPERBAIKI YANG TIDAK NORMAL

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Oleh : Deddy Azwar

 

Nun jauh di sana.

“Kenapa akhir-akhir ini kok sepi ya yang mengunjungi kampung kita ini?” Tanya Mamat kepada teman di sebelahnya. Si Kohak. Namun manusia yang ditanya itu sedang asik ketiduran sambil mendengkur keras. Dasar si Mamat rada pilon campur bloon, eh sudah tahu rekannya sudah molor masih juga diajak ngobrol. Pertanyaannya jadi tidak dijawab deh alias pending.

Mamat menjadi dongkol setelah tersadar ternyata temannya sudah molor lebih dulu. Si Kohak memang mempunyai kebiasaan jelek yang parah. Sudah merokoknya kuat, makannya kuat, begadangnya tiap malam, kalau ada pertandingan bola dijabanin sampai pagi. Ketiduran dan kemalasan adalah dua kata yang acap terpatri pada dada si Kohak, yang selalu dibawanya kemana-mana.

Suatu ketika dia diajak tetangganya untuk memancing di kambang iwak dengan menaiki perahu, si Kohak juga ketiduran dan kecebur. Pada saat temannya sudah beberapi kali pancingnya yang berumpan cacing dan ikan asin itu disambar ikan-ikan penghuni kolam, si Kohak malah sibuk memancing kantuk dengan umpan molor.

“Kohak kohak…kerjaan kamu tidur melulu. “Kata temannya ngedumel sambil mengaitkan umpan di mata kail. “Kapan sih kamu berubahnya. Kiamat sudah dekat tahu. Lihat! Emberku sudah dipenuhi ikan. Lha embermu masih kosong melompong. Mirip pikiranmu yang lagi kosong.”

Jawaban pertanyaan temannya dibalas dengan dengkuran yang berbunyi nyaring. Menyebalkan!

Akhirnya temannya kembali fokus ke pancingan. Bisa habis waktunya jika hanya memikirkan ulah si Kohak Mohawk.

Sebenarnya si Kohak tidak hobi mancing namun karena takut mengecewakan teman baiknya dia turuti. Makanya hasilnya begini. Sejak di tengah perjalanan berboncengan motor si Kohak sudah terlelap tidur dipelukan temannya. Terbuai dengan mimpi indahnya. Setelah sampai di tempat tujuan akhirnya…si Kohak kembali melanjutkan tidurnya.

Nah! Saat keasikan tidur itulah si Kohak kecebur karena dikagetkan oleh temannya.

“Kohak! cepet bangun. Hak, Kohak! Umpanmu dimakan ikan tuh. Ayo buruan. Ikannya besar lho.” Teriak temannya itu sambil menguncang-guncang bahu Kohak keras-keras. Tumben, si Kohak langsung terjaga dan bangun sambil kebingungan. Sambil merapikan sarung dan topi kupluknya.

“Ada apa?! Ada kerusuhan? Ada Demo? Ada Kebanjiran?!” Kohar memberondong dengan beberapa pertanyaan penuh tanda kebingungan. Dia langsung lari kayak setrikaan. Tdakkah dia sadar bahwa sedang berada di atas kapal? Tidak aral melintang Kohakpun terjatuh dengan pantas. Seandainya tidak ditolong temannya Kohak tentunya sudah tenggelam.

 

Dari kejauhan Mamat tampak ada sebuah kendaraan hendak masuk ke wilayahnya penjagaannya. Dia bangkit dan berdiri. Lalu beranjak untuk melihat siapa gerangan tamu yang datang berkunjung. Oh, rupanya mobil Hardtop milik Ollan and the gang. Mamat langsung menghadang persis didepan kap mobil seraya berkacak pinggang. Memasang muka sedikit bengis sambil menahan pipis. Tak lupa dia memelintir kumisnya yang jarang-jarang itu.

“Lan, Awak yakin ini tempatnya.” Colek Tekya khawatir. “Perasaanku tidak enak ini.”

“Udah dienakin aja. Cocol pake saos.” Sambar Juned tidak nyambung.

“Aku juga lupa. Coba lihat peta buatan Bapakku. Tanda panahnya mengarah kemana juga tidak jelas.”  Sahut Ollan.

“Aduh. Bapakmu ini bagaimana sih mengasih nama kampung di peta semua pakai inisial. Sama sama KB lagi. Bikin bingung aja. Inisial mana yang menunjukkan nama ‘Kampung Baru’nya?” Kali ini Arman angkat bicara.

“Iya nih. Bapaknya Ollan payah. Saya kan sudah lama tidak ikut pramuka.” Tuduh Juned.

“Sudah sudah. Kok Bapaknya Ollan di bawa bawa sih. Salahin aja anaknya. Ayo kita pukul.” Canda Yamato nyengir.

Tekya dengan sigap melerai drama tersebut.

Ollah tiba-tiba mengerem mendadak ketika di depan mobilnya ada yang mendekati dengan muka tidak bersahabat.

Anak-anak langsung mempersilahkan Idham alias Midun untuk segera turun dari mobil. Apalagi alasannya kalau bukan karena Midun mempunyai postur tinggi besar mirip tukang pukul. Midun menolak lalu mempersilahkan Arman. Arman menggeleng. Midun juga memandang Tekya, Ollan, Arul, Juned dan Yamato. Kelimanya spontan menggeleng serempak. Midun mulai berkeringat dingin. T-shirt bagian keteknya mulai basah. Wah kalau itu memang sudah tradisi. Singkat cerita, akhirnya Midun menuruti juga kemauan teman-temannya walau terpaksa.

Midun merapikan sejenak pakaiannya. Menggulung sedikit lengan baju kaosnya untuk memberi kesan jagoan. Menyisir rambutnya yang tumbuh berdiri-berdiri kayak tentara. Midun mengambil nafas dalam-dalam lalu kentut. Preettt!!! Anak-anak melotot sambil menutup hidung. Midunpun dengan mantap dan gagah keluar dari jendela eh pintu mobil.

“Jangan lupa berdoa, Dun.” Pesan Syahrul.

“Iya Dun. Bacain ayat kursi ya biar takluk.” Tekya menambahkan.

Midun sudah berhadap-hadapan dengan Mamat. Mata mereka bertatapan. Tidak mesra.

“Aduh Kakak selamat datang di Kampung Kapur Barus. Kakak hendak melepas lelah sambil dipijat-pijat geli. Atau mandi kucing? Mandi madu? Mandi Kubangan?”

Midun otomatis bengong. Dia berdiri mematung. Suasana yang sekian menit lalu tegang langsung mencair. Bahkan berubar jadi es. Midun bernafas lega setelah tahu siapa jati diri sang jampang yang ternyata jumping. Tabir tersingkap. Ternyata si Mamat bukan sosok untuk ditakuti tapi di tertawakan…dalam hati. Mamat bersuara lembut dan gemulai. Midun menoleh ke arah rekan-rekannya sambil mengacungkan jemponya. Mengrlingkan matanya juga lho.

Suasana di dalam mobil berubah sejuk, walaupun udara di luar tidak hujan.

“Terima kasih Pak. Maaf , mau numpang tanya ini kampung baru ya?” Midun bertanya.

“E-eh. Nggak cucok bo..Kalau mau nanya boleh. Numpang jangan. Kecuali di rumah saya. Ehemm Nanti Ike servis habis deh luar dalem. Hehehe. Wah Kakak nyasar. Ini namanya Kampung Kapur Barus bukan Kampung Baru. Dulunya kampung kita kembaran. Sekarang sudah misah. Karena nggak cucuok bo…Ehemm..”

Melihat gelagat Mamat yang mulai ngelantur, tanpa berlama-lama Midun mohon pamit kepada Mamat. Sebelum berpisah Mamat menunjukkan arah jalan yang sesungguhnya.

“Permisi Pak.”

“Baik kakak. Mampirlah kapan-kapan. Kampung ini terbuka untuk kakak dan teman-temannya. Di sini banyak cewek-cewek cakep lho.”

“Tidak Pak. Terima kasih.”

Midun sudah bisa menebak kampung apa itu. Ternyata kampung yang menjual kenikmatan sesaat. “Idiih ini kampung tidak bener. Hampir salah masuk.”

Sesampai di dalam mobil, Midun segera menceritakan pengalamannya beberapa menit. Lalu pecahlah tawa mereka.

“Ini Bapak ya?” Tanya Ollan dari gagang telepon.

“Iya. Siapa ini ya?” Bapaknya Ollan balik nanya dari seberang telepon.

“Ini Ollan Pak. Kami tadi kesasar. Salah masuk  kampung.”

“Salah masuk kampung? Maksud kamu apa?”

“Iya sih. Bapak menggambar peta bikin Ollan bingung tadi. Nama-namanya kok pakai inisial. Kebetulan ada kampung yang namanya. “

“Oh ya?! Aduh Bapak minta maaf. Bapak lupa memang ada dua kampung. Kamu jangan sampai masuk ke kampung ‘kapur barus’ ya. Itu kampung terlarang khusus orang-orang dewasa. Maksudnya jauhi saja. Awas kalau kedapatan ya. Jauhi kampung itu. Ingat itu. Oke?”

“Oke Pak. Kami masih remaja baik-baik Pak. Hahaha”

“Eng…tapi kalau masuk saja boleh?”

“Eiit. Tidak boleh Lan. Tidak Boleh !!!”

 

Beberapa saat kemudian Ollah and the gang melanjutkan kembali perjalanannya. Setelah menempuh sekian perjalanan yang cukup meletihkan. Beberapa kali terasar. Mengalami cuaca panas terik, hujan deras, mendung dan lain-lain. Akhirnya tibalah mereka tempat yang dituju. Sebuah perkampungan bernama ‘Kampung Baru’. Entah kenapa dinamakan begitu. Kalau kita amati sekilas  rumah-rumah para penduduk di sana rata-rata bangunan lama cendrung berusia tua. Kelihatan dari tampilan-tampilannya. Memang ada beberapa rumah yang baru dibangun. Karena tampak ada beberapa tukang sedang membuat pondasi.

Setelah sempat bertanya-tanya dengan beberapa orang yang ditemui di jalan yang mereka lalui, sampailah mereka di depan rumah yang sederhana. Bangunannya biasa saja. Tidak terkesan mewah. Di sisi rumah terbentang sebuah jalan kecil. Seukuran satu mobil sedan. Letak jalan tersebut lebih tinggi daripada rumah. Ada ada sebuah tangga terbuat dari semen yang menghubungkan keduanya.

Singkat cerita mereka bersua juga dengan si pemilik rumah. Wak Geri menyambut dengan ramah. Ollan menyalami pria paruh baya itu dengan sedikit membungkuk. Kemudian diikuti beberapa temannya ikut menyalaminya juga. Wak Geri menanyakan kabar.

“Bagaimana kabar Bapakmu? Sudah bugar dia?”

“Tentu Wak. Hanya kemarin sempat flu.” Jawab Ollan.

“Bilang sama dia jangan suka begadang dan main hujan. Kalau sakit itu salah sendiri.Hahaha.”

“Iya Uwak.”

Setelah beramah tamah sejenak. Tanpa basa basi Ollan menceritakan tujuannya dan maksud kedatangannya. Wak Geri tertawa meledek Juned.

Uwak Gery meminta Juned untuk masuk ke kamar prakteknya. Teman teman yang lain diminta menunggu di luar. Tidak ada kesan seram dan angker seperti yang dilihat di film film sinetron. Begitupun Wak Geri dan keluarganya, tidak ada tampang seram. Juned terlalu mendramatisir.

“Hanya karena sebuah kalkulator sampai membawa kalian ke kampung ini.”

“Iya Uwak.” Jawab Juned terbata-bata. “Itu pemberian dari orangtua saya Uwak. Harganya cukup mahal. Featurenya lengkap. Bukan hanya sekedar buat menghitung. Lalu…”

“Lalu apa?”

“Saya takut Ayah saya marah seandainya dia tahu barang itu hilang. Berarti saya tidak bisa menjaga dan menghargai pemberiannya.”

“Juned Juned. Bapakmu sudah membelikan kamu sebuah kalkulator kan. Saya yakin setiap pemberian orangtua ke anaknya adalah ikhlas. Kalkulator itu sudah menjadi sepenuhnya milik kamu. Ayahmu kalau sedih, marah dan kecewa itu wajar. Karena Juned tidak dapat menyimpan dan menjaganya dengan baik. Ayahmu tidak berhak menghukummu. Ingat itu. Dia tidak berhak. Kecuali dia hanya meminjamkannya. Boleh dong dia minta kembali. Jadi tidak perlu takut.”

“Iya Uwak. Lalu…”

“Lalu apa lagi…”

“Lalu…saya hanya ingin meminta bantuan Uwak untuk melihat kira-kira siapa orang yang telah mengambil kalkulator saya. Menurut Ollan, Uwak ahli dalam hal begitu. Saya penasaran saja .”

“Oh begitu.”

“Begitu Wak.”

“Saya hanya manusia biasa Nak Juned. Semua kelebihan yang saya miliki hanya titipan. Suatu saat bisa saja diambil oleh Tuhan kembali. Dan saya minta Juned juga berusaha dan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan. Nanti saya juga akan bantu. Saya amati sekilas, ada sedikit keganjilan dan ketidaknormalan yang sekarang bertengger di badanmu. Efeknya membuat pusing dan suka bertindak gegabah. Suka tanpa sengaja memamerkan sesuatu. Tenang, nanti saya obatin dulu pemilik kalkulatornya dulu yah. Setelah Juned sembuh baru kalkulatornya.”

“Tunggu Uwak. Saya tidak sakit kok.”

“Junde sakit. Menurut penerawangan Uwak begitu. Dan harus diobati. Uwak lihat Juned mulai menjauh dari Tuhan semenjak kehilangan kalkulator.”

“Tapi saya benci obat Wak. Saya tidak suka pil, kapsul dan puyer yang pahit-pahit. Saya anti itu Uwak. Dan saya tidak mau disuntik.”

Wak Geri melongo. “Anda kira saya dokter hewan eh maksudnya dokter jiwa.”

“Saya bukan dokter dan tidak akan menyuntik pantatmu. Ada ada saja kamu ini.”

“Maafkan saya Wak. Kirain…”

“Terus saya mau dikasih obat apa Wak?” Juned nagih.

“Wudhu?” Ucap Wak Gery sambil mengangguk mantap.

“Wudhu Wak? Kan belum masuk waktu sholat?”

“Wudhu itu nggak mesti untuk sholat saja. Sudah Kamu ke pancuran yang ada kendinya. Nanti balik lagi kemari.”

Juned menuruti saja apa kemauan Wak Gery. Biar beres permasalahannya, pikir Juned. Dia bergegas menuju ruangan belakang. Setelah sempat celingak celinguk akhirnya dia menemukannya. Kamar mandi di rumah itu lumayan luas. Tidak ditemukan shower, wastafel ataupun bath up di sana. Juned hanya menjumpai pancuran yang terbuat dari bambu kuning yang digerakkan oleh pompa hidrolik otomatis elektrik. Dari ujungnya menyembur air yang jernih tak berbau. Di sekitar berdiri kendi-kendi dari keramik china yang berukuran besar dan kecil dipergunakan sebagai penampung air. Sentuhan hiasan dan tradisional sangat mendominasi sekali.

Setelah berwudhu, Juned diberi sebotol air mineral ukuran 1500 liter yang telah dibacakan doa dan mantra. Tak lupa Juned diminta membaca doa yang disuruh dihapal.   Juned percaya saja bahwa air itu telah diberi doa dan mantra. Padahal Wak Geri hanya membisikkan surah Alfateha saja. Wak Gery sebetulnya tidak ingin dikatakan paranormal atau dukun. Dia tidak mau dianggap sebagai orang pintar yang mengerti segalanya melebihi sang Pencipta. Dia tidak mau ada orang terjerumus dalam kesirikan. Wak Geri acapkali berpesan kepada setiap pasiennya, “Yang memberi kesembuhan adalah Tuhan. Saya hanya media saja. Maka berdoalah pada-Nya. Mohon ingat saya hanya manusia biasa yang lemah dan terbatas kemampuan. Saya ingin orang selalu pada jalur yang benar dan tidak mendewakan manusia. Sekali lagi keberhasilan ramalan dan pengobatan saya adalah semua dari Sang Pencipta.”

Pada suatu kesempatan, Junedpun menerima pesan seperti di atas dari Wak Geri. Juned terpekur dan merasa kecil dihadapan-Nya. Semula dia telah membayangkan Wak Geri yang tidak-tidak, seperti seorang dukun yang bertampang seram, memasang tarif mahal, berkalungkan tengkorak, penuh aroma keangkeran, penuh nuansa mistik dan tumpahan mantra mantra dan lain sebagainya. Ternyata berbalik 180 derajat. Dugaannya meleset. Ternyata Wak Gery memberi banyak pelajaran berharga apa artinya kehidupan ini.

Kedatangan Juned disambut oleh teman-temannya seperti orang yang telah lama tak jumpa.

Siang itu Juned sedang asik tiduran di kamar kosnya. Tangannya hendak meraih buku mata kuliah. Dia kaget bukan kepalang ketika melihat ada sebuah kalkulator tergeletak di situ. Diambil dan diciumnya. Juned mengeryitkan keningnya dan menggelengkan kepala pelan. Para pembaca mungkin sudah tahu siapa pelakunya bukan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s