SINOPSIS SERIAL REMAJA CAMPUS…ING

SINOPSIS SERIAL CAMPUS…ING

 

Seting tahun 1990 sampai 1993

Pemain Utama          : Tekya, Midun, Arman, Ollan,Juned,Arul dan Yamato.

Pemain Pendukung : Agus, Babe, Bik Jennifer,Anton,Johan dan Husin.

Lokasi  Asli                   : Kampus Universitas Tridinanti Palembang

Genre                           : Remaja, drama, roman picisan

Pengarang                  : Deddy Azwar

 

Mengangkat  potret remaja-remaja yang sedang menimba ilmu di perguruan tinggi swasta di kota Palembang, dengan beraneka ragam polah tingkah, kisah, cerita yang menghiasi kisah kehidupan dunia kampus. Pertemuan awal masa-masa OSPEK di kampus mempertemukan anak-anak asli pribumi  ini menjadi suatu persahabatan yang teramat sakral, akrab satu sama lain. Berawal dari sering bertemunya mereka di kampus saat kegiatan kuliah, ketika nongkrong di kantin si Babe atau saat ngeceng di perpustakaan kampus. Menjadikan sosok Tekya, Arman, Midun, Arul, Ollan,Juned dan Yamato mendirikan sebuah gang yang bernama ‘ Gang Ceki’. Istilah Ceki diambil dari permainan kartu dipadukan dengan permainan bola sembilan atau lima belas dimeja bilyard. Dimana suatu keadaan apabila salah satu pemain  masih menyisakan satu kartu remi yang artinya sudah mendekati kemenangan, maka dia aka berteriak ‘ceki’. Para pemain lain biasanya langsung kasak-kusuk takut kalah dan masing-masing mengatur siasat untuk menggagalkannya. Salah satunya berusaha bagaimana menyembunyikan atau menghalang-halangi arah pergerakan sebuah bola putih di balik bola-bola lain. Dengan demikian pemain yang telah mendekati ujung permainan akan kepayahan dan terkena nilai minus. Karena bola putih tidak mengenai bola yang dituju. Otomatis dapat berakibat menunda kemenangannya, sehingga permainan akan semakin seru dan tegang sekali. Semula pemain tersebut sudah menyebarkan muka ceria berhias senyum sumringah karena menang telah di depan mata berubah menjadi bermuka masam dan cemberut.

Mereka mulai tergila-gila dengan bilyard atau snooker itu sejak semester ke tiga. Pada waktu itu permainan sedang trend. Tempat hiburan bilyardpun mulai menjamur dan mudah ditemukan di setiap sudut kota. Seringkali  arena bilyar yang menjadi ajang pelarian bagi anak-anak kuliah yang sering bolos. Para karyawanpun turut meramaikan dan tidak ketinggalan mengunjungi tempat billyard pada saat jam makan siang. Ada yang sengaja untuk menghilangkan stress dengan bersenang-senang sambil mempertajam keahlian menyodok bola. Ada juga bertaruh sekedar iseng dengan niat mendapatkan uang. Ada juga sekedar menggoda atau bahkan terlibat percintaan dengan pelayan di sana. Namun tempat hiburan ini tidak memperkenankan pelajar berseragam SMA, kecuali mereka melepas seragam dan menggantinya.

Mereka juga memiliki temen akrab dalam permainan billyard yaitu Antonius Wong, Husin dan Johan. Kalau sudah kumpul dan bertepatan kosong jam kuliah, mereka pasti hijrah ke tempat billyard. Kadang sampai lupa waktu dan pulang menjelang larut malam. Makan malam mereka dihabiskan diwarung pempek saja atau mie instant.

Dunia kampus tidak terlalu jauh berbeda dengan masa SMA, sama sama penuh dengan gejolak kawula muda dengan segala pernak pernik dan berwarna-warni. Jika telah melewati masa itu maka tibalah saatnya untuk menjadikannya sebuah legenda  atau memori yang patut dikenang. Haram untuk  dilupakan. Tidak heran sering diabadikan dalam suatu acara reuni perangkatan  untuk sekedar berkumpul, bertemu, berbagi cerita dan pengalaman serta melepas kangen.

Begitupun masa perkuliahan tidak kalah mengasikkan dibanding masa SMA. Banyak kejadian-kejadian ajaib tercipta. Kenakalan dan keisengan bercampur aduk. Perpaduan anak lokal dan anak perantauan berbaur menjadi satu dalam persahabatan sejati yang menarik untuk disimak indarsampai mereka mereka tua. Bagi anak-anak perantauan sangat akrab dengan istilah kos-kosan atau mess, ibu kos, ngutang di warung, menginap di rumah temen untuk menghindari dari kejaran atau tagihan ibu kos atau bapak kos, menunggak uang bayaran, IPK rendah, didamprat dosen, bolos kuliah, wajib militer, marching band, pramuka, naksir mahasiswi atau mahasiswa, begadang sampai malam bila ada ujian semester dan lain-lain. Bagi kalangan siswa yang beruntung memiliki orangtua yang kaya senantiasa membawa mobil atau motor gede mereka ke kampus. Belum lagi dengan balutan pakaian-pakaian bermerk dan mahal. Tidak lupa akan perubahan dunia fashion atau style rambut. Mereka sering diakrabi oleh siswa perantauan  untuk sekedar dapat traktiran makan dan tebengan  gratis. Beda nasib dengan siswa berasal dari daerah yang walau ada juga dari kaum berada. Namun tidak sedikut dari kedua orangtuanya dari kampung yang membiayai kuliah anaknya dari hasil panen perkebunan atau peternakan. Mereka jauh dari kesan hidup bermewah-mewah malah cendrung prihatin. Kecerian dan kegembiraan akan hinggap apabila wesel dari kampung sudah datang. Karena jika tidak mereka akan penuh kesulitan dalam membiayai kehidupan sehari-hari. Meminta surat miskin apabila belum dapat mencicil biaya gedung atau menunggak SPP. Menunda makan karena memiliki cukup uang. Sering puasa senin kamis. Sering mengkonsumsi mie instan.  Makan bakso dengan porsi separuh, kuahnya yang banyak dan membawa nasi dari rumah. Makan enak dan mewah jika kiriman uang telah mampir. Berlari menjauh dari kejaran para penagih utang dan ibu kos.

Cerita ini masih tergolong menarik untuk diangkat ke layar perak atau layar kaca. Dituangkan menjadi cerpen atau novel. Syaratnya harus bisa dikemas se apik dan ciamik mungkin. Lebih drama sedikit fragmen. Pawai dalam berucap dan bermain dalam situasi. Dibuat apa adanya alias senatural mungkin, tanpa dilabeli yang aneh aneh yang dapat merusak inti cerita. Ambil contoh cerita remaja serial Lupus yang menjadi hambar setelah menjadi film bioskop. Beda jauh lebih asik membaca novelnya daripada menyaksikan filmya.

Gang Ceki adalah sekumpulan manusia juga yang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing individu, karena kadang mereka melakukan pekerjaan iseng dan konyol . Seperti ada cerita Parman dan Tekya bolos kuliah lalu ngeluyur ke tempat hiburan permainan bola sodok. Mereka nekat ke jalan raya tanpa mengenakan helm. Dan sialnya saat berhenti di lampu mereka ketangkap tangan oleh Pimpinan Polisi lalu lintas. Ketika hendak kabur motor mereka ditarik dan diangkat oleh ajudan polisi yang berpostur tinggi besar. Akhirnya mereka terjatuh dan tersungkur. Mereka berhasil diringkus dan digiring ke kantor polisi pada keesokan harinya. Habis mereka diceramahin oleh Pak Polisi.

Ada juga cerita Tekya yang sedang dimabuk asrama dengan temen wanita satu kampus. Kebetulan si cewek mempunyai toko di pasar 16 ilir. Dan Papanya Tekya ternyata adalah pelanggan tetap tokonya si Indrayati. Gayungpun bersambut menjadi perkenalan namun kandas karena si cewek telah ada yang punya.

Yang lebih seru cerita ketika Juned kehilangan kalkulator kesayangannya. Raib entah kemana. Atas usulan Ollan jadilah mereka melawat ke paranormal. Juned penasaran sama orang yang berani mencuri mesin penghitung hadiah dari Abahnya. Tujuan awal ingin mencari si pencuri eh malah si Juned divonis sedang terjangkit penyakit berkelakuan aneh dan harus diobati. Juned mencak-mencak merasa tidak sakit. Junedpun menyerah demi kalkulator. Juned dibekali minuman dan ramuan dari resep herbal.

Ada juga cerita sedih dari Midun. Saat ditemani ke pasar malam oleh Tekya, tanpa sadar Midun kecopetan dan terpaksa menunggak uang kuliah dan bingung bagaimana makannya selama sebulan. Ingin jujur ke orantua takut disemprot. Midun sedih dan kalang kabut dibuatnya. Ketika pulang ke rumah mereka baru sadar bahwa rumah tumpangannya Midun ternyata angker. Ada bunyi langkah-langkah kaki menaiki tangga. Padahal hanya mereka berdua yang bermukim saat itu.

Masih banyak cerita lagi yang belum sempat tertuang. Mudah-mudahan sinopsis yang singkat ini bisa menghibur dan juga memberi sedikit manfaat bagi kita semua.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s