(SERIAL CAMPUS…ING) SISTEM TUTOR BIKIN JONTOR SEHINGGA BERMUNCULAN PENGARANG BARU

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Oleh : Deddy Azwar

“Sistem Tutor akan berlaku dan akan diterapkan bulan depan! Tidak ada seorangpun yang boleh menawar. Itu sudah ketetapan dari rektor! Itu ucapan Pak Yunsor pada kuliah umum yang berlangsung tadi pagi.” Midun mencoba menjelaskan kepada teman-temannya. Walaupun telah dijelaskan sampai berbuih-buih Juned dan Yamato tetap 100 persen bingung pisan euy. Kebetulan Midun, Tekya, Parman,Ollan dan Arul mendapatkan giliran lebih dulu untuk sosialisasi sistem kuliah tutor.

“Aku masih belum pahan Dun kuliah sistem Jontor ini.” Ucap Juned dengan mulut membentuk huruf ‘O’. Belum lagi tatapan matanya yang tidak fokus. Pandangan nanar. Terlebih lagi jika melihat beberapa mahisiswi manis, cantik plus seksi jalan melintas, konsentrasinya langsung buyar. Juned memohon kepada Midun untuk mulai bercerita dari awal kembali. Otomatis Midun jadi sewot dan melempar tisu ke jidat Juned yang mirip landasan helikopter itu.

“Sudahlah Juned kamu nurut aja kalau mau lulus  bagus.”ujar Arul.

“Iya Jun. Besok kan kamu ada kuliah umum Ekonomi Mikro kan. Saya yakin akan ada sosialisasi lagi deh. Kamu tanya deh sepuas-puasnya. Pokoknya sistem tutorial ini diharap akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik.” Kata Tekya semangat bak dosen.

“Penjelasannya sekarang aja. Biar ces pleng. Aku kawatir ada efek sampingnya.”

“Lu kate minum obat.” Sempal Parman.

“Maksudku siapa tahu gara-gara sistem jontor ini uang spp kuliah kita dinaikkan. Kan bisa bikin jontor. Abahku bisa mencak-mencak nih. Please Midun explain to me again.”

“Sepertinya nggak nyinggung soal kenaikan biaya kuliah deh.” Hibur Tekya.

“Juned juned. Tadi pagi kamu sarapan beras plastik dari China ya?” Sembur Midun. “Aku kan sudah menerangkan selengkap ini kamu masih belum mengerti juga. Lepas dan ganti baju kaosmu dengan karung beras deh.”

“Habisnya saat dijelaskan oleh Midun, matamu jelalatan kemana-mana. Tidak bisa lihat barang bening dikit. Pake ngeces lagi.” Arul ikut protes.

Anak-anak tertawa terkekeh-kekeh. Juned tidak terima.

“Lho lho. Lantas apa hubungannya dengan lepas kaos segala sih. Its not make sense bro.”

“Iya Dun.”Yamato menimpali. “Kalau yang lepas kaos si Midha yang anak ekonomi itu pasti asik banget.”

“Pada ngelantur ntar kebentur plitur lho. Maksudku kalau otak kalian sudah pada down grade ya minta diupgrade ke toko komputer saja. Kaos yang kamu pakai untuk kuliah ini diganti sama baju kuli. Kayak kuli panggung beras di pasar 16 iliir sono. Paham?!” Midun setengah emosi menjelaskan kepada dua orang dari planet kampung itu.

“Pakai si Midha lagi dibawa-bawa. Lagipula kalau dia ingin membuka kaos yang pasti bukan di depan kamu.” Ujar Ollan.

“Di depan mana Lan?” Tanya Tekya penasaran.

“Pada mau ya? Pada penasaran ya? Kasih tempe nggak ya…Ollan mengulur-ngulur penjelasannya.

“Ayo buruan di depan mana?” Uber Juned penuh nafsyu.

“Yaaa di depan bak mandi dong. Hehe…”

“Iya iya seandainya Midha nekat membuka kaosnya di sini. Kita-kita sudah pasti kabur dan lari…mendekatlah. Mubazir kalau tidak dilihat.” Celoteh Parman merem melek.

Tiba-tiba Pak Yunsor, dosen yang memberikan kuliah umum tentang tutor kebetulan melewati , tempat nongkrong geng ceki. Kesempatan emas ini dimanfaatkan oleh Juned dengan berapi-api. Dengan tidak sungkan-sungkan Juned mendekati Pak Yunsor dan menarik tangannya dengan paksa.

“Aduh apa-apaan ini. Kamu hendak menculik saya atau pingin traktir saya Jun? Eh eh tangan saya jangan ditarik-tarik dong. Belum diasuransikan nih.” Pak Yunsor gelagapan sambil tidak lupa merapikan jas safarinya yang berwarna krem itu. Kacamata rayban berukuran besar bertengger di atas hidungnya yang bangir. Seperti biasa beliau masih tetap setiap mengenakan celana panjang cut bray alias longgar di bagian bawah.

“Begini. Baiklah saya akan jelaskan lagi apa sih itu tutorial itu. Cemilan apa sih itu. Tutor atau tutorial itu semacam bimbingan belajar…”

Tuu kan bimbingan belajar..Dimana-mana kalau ada kata bimbingan biasanya diikutin dengan duit kan Pak.” Potong Juned sambil mendelik sewot.

“Huss Jun. Kita dengerin dulu penjelasan pak dosen. Kamu mirip tukang jahit deh. Main potong ajaa. Lanjut Pak…” kata Midun kesal.

“Bimbingan yang bersifat akademik oleh tutor atau dosen kepada mahasiswa atau tutee unutk membantu kelancaran proses belajar mandiri secara perorangan atau kelompok yang berkaitan dengan mata kuliah tertentu.”

“Oh. Mirip face to face ya Pak Yunsor? Tanya Ollan.

“Betul. Sedangkan istilah Tutor adalah orang yang memberikan ilmu kepada mahasiswa secara langsung, sehingga diharapkan mahasiswa lebih memahami konsep dan paraktek pendidikan non formal ke arah yang lebih baik. Itu harapan kami sebagai dosen. Pak Rektor dalam lawatannya ke Australia kemaren bertujuan untuk membawa pembaharuan di dunia pendidikan. Jadi Pak Rektor ke sana bukan sekedar jalan-jalan semata, namun ada sebuah ilmu yang di ambil. Sesuatu yang bersifat positif musti kita ambil. Seperti yang kita tahu dunia pendidikan di luar negeri sduah maju dan modern dibandingkan negara kita ini. Jadi nanti dalam setiap pertemuan kuliah nanti penyajian materi kuliah penuh intraksi tatap muka akan lebih dominan.”

“Lalu Pak bagaimana suasana belajar tutor tersebut?” Tanya Tekya.

“Iya. Biasanya dosen akan menguraikan ruang lingkup materi tutorial, tujuan-tujuan yang akan dicapai, juga memberikan informasi pula hubungan topik tutorial saat disajikan dengan topik-topik pada kegiatan tutotial untuk masa yang akan datang. Diharapkan dari mahasiswa akan aktif di sini. Dosen tidak ingin ada mahasiswa yang diam atau malu-malu. Kami mengharapkan para mahasiswa akan jadi terbiasa berani berbicara di depan umum. Mahasiswa bisa lebih aktif lebih mandiri. Maaf sebelumnya ya bro. Sebentar lagi saya akan rapat para dosen dengan rektor dulu ya. Ya ini membahas masalah tutor ini. Kapan-kapan kita obrolin di kantin ya. Selamat pagi.”

Belum lagi beranjak Pak Yunsor dihadang Midun dan memberondong dengan satu pertanyaan.

”Sebentar Pak…”Potong Midun. “Apa kelemahannya dari sistem ini?”

“Nanti kalian akan tahu sendiri.” Teriak Pak Yunsor dari kejauhan.

“Oh ya. Kuliah hari diliburkan ya Pak?” Teriak Juned agak tertahan.

Pak Yunsor berhenti sejenak, berpikir dan menggeleng pasti.

Midun CS batal jadi jingkrak-jingkrak.

Pak Rusli sudah duduk di kursi dosen dan siap memulai tutor yang dihadiri sekitar 15 orang mahasiswa dalam satu kelas. Para siswa segera mengeluarkan buku cetak mata kuliah Perbankan. Pak Rusli memerikan beberapa menit untuk membaca buku untuk memperdalam materi. Setelah itu mereka akan diajak berdiskusi serta dimintai pendapat mereka satu persatu. Pak Rusli juga menanyakan apa yang telah mereka baca dan mohon dijelaskan mulai dari lingkup yang kecil sampai global.

“Juned. Coba kamu jelaskan kandungan dari buka yang tadi kamu baca. “ Tanya Pak Rusli memecahkan kesunyian dan ketegangan.

Juned yang sedari tadi berusaha untuk ngumpet di pojokan lalu mulutnya baca doa komaat kamit agaar terhindar dari pertanyaan Pak Rusli mendadak kaget bagai disambar badai salju di siang bolong. Akibat dari semalam Juned begadang nonton bola dan tidak menyentuh buku pelajaran sama sekali langsung blank. Isi materi di dalam buku  keluar semua dari otaknya. Materi nonton bola yang masih tertinggal. Keringat dingin bercucuran di tengah ruangan ber AC itu. Junde mengeluarkan sehelai saputangannya yang dipergunakan untuk mengelap jidatnya. Matanya malah melirik ke arah teman-temanya yang dari awal kepala mereka tertunduk. Sistem ini nyaris membuatku down, batin Juned dalam hati.

“Hello..Juned. Kamu tidak sedang sakit kan?” Tanya Pak Rusli sambil menatap Juned lekat-lekat. “Jangan grogi Juned. Jabarkan saja apa yang kamu ketahui. Selintas saja kok. Tidak perlu semua isi buku kamu ceritakan. Lagipula kalau kamu sudah hapal buku itu saya salut sekali. Silahkan duduk di kursi saya untuk menggantikan saya menjadi dosen.”

Akhirnya setelah mengumpulkan segala tenaga dan ilmu tenaga dalam dan luar, Juned pun kentut dengan sukses. Para hadirin serentak menutup hidungkan tak terkecuali Pak Rusli.

“Kamu makan jengkol dimana? “ Tanya Neneng gelagapan.

“Kamu habis nelen telor sekilo ya?” tuduh Safaat.

Roy malah hendak kabur ke luar kelas, untung Pak Rusli menghadangnya. “Mau kemana Roy? Kabur ya? Jangan ada yang ke luar kelas. Pelajaran kita belum selesai.”

“Saya tidak tahan Pak dengan baunya.” Bela Roy sambil cengengesan.

“Sudahlah jangan lebay baru kentut ini. Kalau ada bom baru…saya yang duluan keluar.” Ucap Pak Rusli diplomatis.

“Saya saja Pak yang keluar. Sebagai warga negara kampus yang baik. Daripada ada yang pingsan.” Juned siap-siap hendak keluar kelas alias melarikan diri.

Pak Rusli dengan sigap menarik lengan Juned menuju ke kursi kelas. Setelah kelas mulai hening. Pak Rusli kembali menanyakan kepada Juned. Kena lagi deh Juned.

Juned akhirnya terpaksa menjelaskan secara apa adanya. Jawabannya jauh dari fokus dan melantur kemana-mana. Jangankan Pak Rusli, Juned sendiri bingung dia ngomong apa. Sampai akhirnya Pak Rusli membuka kelemahan dari tutor…

“Aduh. Mulai muncul ya para pengarang-pengarang baru dari sistem ini. Pertanyaannya kemana jawabannya kemana…” Pak Rusli sambil garuk-garuk kepala.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s