CERMIS (GHOST STORY) = HANTU PENUNGGU LANTAI LIMA BERTERIAK..”KOSONGKAN LANTAI INI JIKA…”

Terinspirasi dari kisah nyata ini saya dapatkan waktu sedang jalan-jalan ke Bandung. Tempat dan sumber informasinya saya rahasiakan.

Oleh : Deddy Azwar

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Sudah 2 bulan ini Neneng selalu pulang malam terus. Malah sudah minggu kemaren malah tidak pulang sama sekali alias ‘ngotel’ (nginap di hotel kantor). Di lantai lima itulah menjadi ajang penginapan mereka untuk sementara. Untungnya kantornya berbentuk gedung bukan villa.. jadi rada-rada mirip hotel dikit. Gara-gara target pekerjaan tidak tercapai, maka dari itu semua diwajibkan lembur.  Tanpa memandang pria atau wanita.

Sejatinya data yang diminta kantor pusat harus sudah beres pada bulan Oktober lalu, namun apa daya harus molor sampai mau tutup tahun masih juga belon kelar. Padahal segala daya upaya dan tenaga sudah dikerahkan. Penambahan orang ke dalam tim juga sudah dipenuhi. Ternyata masih tidak terkejar juga. Setelah diselidiki ternyata sistem yang menjadi momok persoalan. Sistem yang semula diharapkan bisa bekerja dan membantu lebih cepat malah loyo. Sering ngadat. Belum lagi  kesulitan dalam menghubungi  kantor vendor. Alhasil terpaksa Neneng dan tim menyambangi kantornya di lokasi. Eeh setelah sampai di sana mereka disambut dengan muka tidak ramah dan dituduh dengan berbagai kesalahan yang bermacam-macam. Seperti…tidak mengoperasikan sistem tidak sesuai prosedur kek, sistemnya sudah tidak layak lagi dan mesti diupgrade kek, inputnya jangan keroyokan kek dan lain sebagainya.

Pemimpin pusat bahkan sudah mengultimatum kantor cabang tempat Neneng bekerja, Jikalau masih molor lagi semua tanpa terkecuali di skorsing. Asik dong kerjanya libur. Libur? Gajinyapun libur juga toh? Kesimpulannya…Apapun yang terjadi. Walau badai menghadang kafilah tetap berjalan. Semangat kerja dan kekompakan tim kudu ditingkatkan dan dijaga terus biar…tidak ketiduran..Nah lho!?

“Aduh..sampai kapan ya kita harus begini terus?” Teriak batin Neneng sambil dengan muka merengut dan bersungut-sungut. Dia sudah mulai merasa gerah dan bosan. Memang sih, rasa capeknya baru terasa ketika sampai di rumah. Belum lagi harus menyelesaikan tugas-tugas di rumah sebagai bentuk kewajiban selaku istri dan ibu rumah tangga. Rasa capeknya makin sampai ke ubun-ubun saat melihat piring-piring kotor bergelimpangan karena belum ‘mandi’. Pakaian-paian kotor juga telah menggunung karena si Bibik cuti.

“Neng..gimana laporan kita yang seribu lembar sudah dikirim ke pusat?” Tanya Pak Asep Surasep tiba-tiba bikin sontak dan kaget Neneng. Bagaimana tidak, sedang asik menikmati hidangan malam spaghety hangat. Gulungan-gulungan spaghety yang hendak dimasukkan kemulut nyaris keluar lagi. Daripada keselek Neneng buru-buru minum lemon tea. Setelah itu baru dia mengalihkan pandangannya ke Pak Asep.

“Eh Bapak bikin saya kaget nih.”

“Maaf saya bikin kaget situ.”

“Beres Pak.”

“Apanya yang beres?”

“Laporan yang Bapak tanyakan tadi kan?”

“Oh iya. Syukurlah kalau beres. Artinya malam ini kita bisa pulang cepat kan? Badan saya sudah pegal-pegal rasanya. Kepala saya sampai berasap. Kepingin cepat-cepat liburan”

Neneng langsung berdiri tegap setengah menginjit. Dia amati kepala sang bos, namun tidak dia dapatkan asap mengepul.

“Lho, mengapa kamu melihat rambut saya sampai begitu amat?” Tanya Pak Asep terheran-heran.

“Siapa bilang rambut Bapak berasap. Menurut saya teh rambut tidak berasap tapi beruban atuh.”

“Ah si Eneng mah o-on atuh. Dbodors mah abdi. Ulah kitu ah.”

Ketika Pak Asep Surasep hendak berlalu. Neneng secepat kilat memanggil. “Pak…mau kemana?” Jangan pulang dulu. Anu…”

“Gimana sih! Ibu Neneng yang cantik jelita dan terhormat..Tadi kan bilang sudah beres. Nah berarti sudah boleh pulang dong..Jangan menghalangi. Saya mau pulang.”

“Laporan hari ini sudah kelar tapi buat besok ada kendala Pak. Sistem kita ngadat lagi.”

“Apa? Sistem hank lagi? Waduh! Ini urusannya Belanda.” Pak Asep nepok jidat. Kali ini bener kepala Pak Asep tampak mengeluarkan asap. Asap galau.

Setelah kejadian semalam Pak Asep jadi uring-uringan. Bukan iring-iringan ya emang mau konvoi. Apalagi urang aring, emang samphoo. Jangan konyol deh. Intinya malam itu menjadi petaka buat Pak Asep. Dia bingung alasan apalagi yang akan dikemukakan kepada atasanya di kantor pusat. Kepalanya pusing lima keliling.

Pak Asep langsung berpikir keras. Segera dia kumpulkan kembali semua tim malam itu untuk digojlok. Disisipkan sedikit kalimat-kalimat penuh motivatsi dan semangat agar anakbuahnya lebih giat lagi dalam bekerja. Alhasil malam itu mereka lembur sampai pagi…lagi.

Pada malam berikutnya ternyata mereka mendapat kendala lagi. Kali ini bukan sistem yang berperan. Tapi sesuatu yang tidak masuk akal dan logika. Not make sense..

Menjelang magrib terjadi kehebohan di lantai 5. Salah satu rekan kerja Neneng bernama Saripah tiba-tiba kesurupan. Tubuhnya telah berhasil dirasuki jin berjenis kelamin laki-laki dari Mandarin. Terlihat dari omongannya yang ngelantur dan nggak jelas. Entah bahasa atau dialek hokkien atau Mandarin. Yang pasti semua orang yang hadir disini pada membisu dan tidak mengerti terjemahannya. Mata Teteh Saripah rada melotot dan menampakkan wajah tidak senang. Kadang-kadang berteriak memelas. Kadang mengeram. Kadang jingkrak-jingkrak sembarangan. Tingkahnya membuat sekitar antara takut dan kepingin ketawa.

Pak Asep lalu bertanya kepada anak buahnya siapakah di antara mereka ada yang tahu atau ada yang mengerti bahasa cina atau ada yang mempunyai tetangga yang ahli menterjemahkan. Namun semuanya dengan antusias mengelengkan sambil menundukkan kepala.

“Permisi..Sayas mau bertanya. Apakah Kokoh atau engkong ini penunggu gedung kami? Sudah berapa lamakah menjadi penghuni disini? Mengapa tidak bisa bahasa Indonesia sih. Bahasa sunda ngerti nte..” Pak Asep berusaha memberanikan diri bercakap-cakap dengan roh dari Kanton itu. “Mengapa nggak les bahasa Indonesia dulu. Kalau ngomong cincoala cincoali begini kepala saya jadi pusing, Kong. Swear! saya tidak paham.”

Neneg dan tim merasa geli mendengar omongan Pak Asep.

Roh itu kembali mengeluarkan kalimat-kalimat yang tidak dimengerti. Jelas sekali dari intonasi dan nada suaranya yang tinggi melukiskan kemarahannya. Sekilas mirip percakapan film Kungfu di TV deh. Belum selesai Pak Asep berbicara dengan nada kesal kepada si roh gentanyangan yang usil itu tiba-tiba keluar meninggalkan badan Saripah. Bersamaan Ibu Saripah tersadar. Tatapan matanya yang tadi menatap kosong sambil melotot ngeri itu normal kembali.

“Aduh, badan saya capek-capek semua. Berat rasanya mau berjalan saja. “ucap Bu Saripah lirih seraya memegang ubun-ubunnya. Kemudian menyibak-nyibak rambutnya. Bola matanya mulai jelalatan. Melirik ke kiri. Melirik ke kanan.  Lalu Bu Saripah melontarkan rentetan pertanyaan. “ Mengapa pada ngerubungin saya? Lho kalian pada nggak kerja? Apa yang terjadi sebenarnya.”

“Kamu keserupan Saripah!” kata Kang Pardi spontan. “Kamu nggak nyadar ya?”

“Kesurupan. Ah yang bener? Masak sih?”

“Bener atuh. Sumpah! Kami menyaksikannya tadi. Ibu kemasukan roh yang njelimet.” Timpal Pak Asep sambil menyeka keringat dengan sapu tangan warna pink.

“Apa Pak Asep? Jin nasi liwet?” Tanya Saripah membelalak.

“ Njelimet! Bukan nasi liwet.” Jawab Pak Asep kesal.

Kondisi badan Saripah masih begitu lemas dan lunglai. Seakan akan habis memikul beberapa karung berisi beras. Dia bersidekap kayak orang kedinginan. Sekali-sekali meraba-raba mukanya, lalu kedua pundaknya dan telapak tangannya yang tampak masih putih pucat. Bibirnya semula ikut pucat juga mulai dimasuk aliran darah dan memerah. “Hiiiy saya jadi takut..”

“Kami yang dari tadi ketakutan. Kami kawatir akan terjadi kenapa-kenapa denganmu?” Neneng ikut angkat bicara.

“Gimana perasaanmu sekarang Pah?” tanya Abah Adin, sang satpam gedung yang sudah senior dan sepuh.

“Agak baikan. Tadi lemas dan pusing banget Bah..”

Pak Asep lalu mengambil kursi dorong dan duduk dekat Saripah. Menyentuh halus punggung anak buahnya itu sambil komat-kamit sedikit. Setelah itu Pak Asep menceritakan semua kejadian yang menimpa Saripah.

“Sok.. Saripah. Kamu rehat dulu. Pasti kamu capek. Jangan bengong lagi atuh.”

“Iya Pak Asep. Nuhun nyak..

“Sama-sama. Apakah sudah sholat maghrib tadi?”

“Acan {belum} Pak. Saya lupa.”

“Pantes. Gancang sholat dulu sana. Biar nanti saya minta tolong Ria yang menemani kamu ya.”

“Tak usahlah. Sendiri saja Pak. Tidak apa-apa kok.”

“Eeit kamu ini bagaimana? Nanti kalau terjadi apa-apa di kamar mandi saya lagi yang stres. Kan saya bos di sini. Yang bertanggungjawab saya Pah. Udah jangan pake nawar segala.”

Saripah mengangguk.

Di malam berikutnya peristiwa kemaren terulang lagi. Untuk kali kedua Saripah kemasukan roh iseng lagi. Untungnya Pak Asep sudah menyiapkan Koh A Lung, tetangganya yang jago bahasa Chinese yang akan didaulat sebagai penterjemah. Koh Alung ini sudah sejak pagi mendekam di kantor.  Selain Koh Alung Pak Asep juga mengundang salah seorang Ustad bernama Kang Amin yang tinggal disamping gedung kantor yang akan ditugasi membaca doa-doa pengusir roh iseng. Akan tetapi anehnya malam itu si roh laki-laki yang mengoceh bahasa chinese atau Mandarin itu tidak datang. Mungkin berhalangan. Ternyata penggantinya yang masuk ke tubuh Saripah lagi adalah seorang wanita yang untungnya dapat berbahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Semua hadirin bernafas lega.

“Assalamualaikum…Permisi Nyai..Kalau boleh tahu apa maksud dan tujuan datang kemari?” bisik Ustad Amin ke telinga Saripah yang sedang kerasukan.

Sang Nyai tidak langsung menanggapi. Matanya yang kali ini agak menyipit memandang ke segala penjuru lantai. Lalu menatap wajah-wajah yang hadir disitu dengan sedikit tersenyum. Kemudian mengangguk-angguk.

“Selamat Malam..Saya Nyai Tusima. Hihihi..Tugasnya hanya pada malam hari…Hihihi…nyai tadi sedang patroli eh tiba-tiba ada yang bengong. Ya udah nyai masukin saja. Kehadiran nyai kemari untuk mengajak kalian…”

Semua yang hadir merinding dan takut. Iyalah..Bagaiman kalau si nyai nekat mengajak mereka ke alamnya? Kan serem banget.

“Mengajak kami? Kemana?” Tanya Kang Amin penasaran. “Kalau ke restoran, maaf saya sudah kenyang.”

“Husss. Kang Amin gelok ah. Ditraktir dia juga saya ogah. Ntar menunya aneh-aneh euy…” Desis Pak Asep.

“Kemana? Hihihi…” Jawab Nyai terkekeh-kekeh.” Saya ingin mengajak kalian untuk segera mengosongkan lantai lima ini secepatnya! Hihihi.”

Semua hadirin terkejut.

“Mengapa kami harus mengosongkan tempat ini. Emang disini ada bom?” Tanya Kang Amin.

“Sudahlah jangan banyak bertanya. Turuti saja perintah saya kalau ingin selamat. Hihihi…”

“Tidak mungkin Nyai!! Teriak Kang Amin nekat bercampur kesal. “ Enak saja nyai ini main usir-usir kami. Lantai ini. Gedung ini milik kami. Kami manusia dan derajat kami lebih tinggi dari nyai dan teman-teman Nyai. Alam kita berbeda nyai. Jangan mencampuri urusan kami. Lebih baik tinggalkan tubuh ini. Dia tidak tahu apa-apa. Kasihan dia…”

“Apa? Tidak mau?” Si nyai kiranya emosi juga langsung lari ke sana ke mari. Kemudian guling-gulingan di lantai. Berteriak-teriak histeris. Kayaknya dia protes keras.

“Apa alasannya kami harus menuruti permintaan nyai?”

“Kalian manusia telah mengusik ketenangan tempat tinggal kami. Kami tidak suka kalian menganggu ‘rumah kami’. Kami sudah ratusan tahun tinggal di tempat ini. Semenjak kalian belum ada. Ini dulunya hutan belantara yang rimbun. Kaum kami menyukai tempat ini. Kami nyaman tinggal di sini. Tiba-tiba kalian manusia mengubahnya. Mati kami jadi berpindah-pindah. Untuk apa kalian menempati tempat kami sampai pagi. Kami terusik dan terganggu..”

“Nggak kebalik nih Nyai. Dimana-mana hantu yang suka menganggu manusia. Hantu yang aneh..”Protes Neneng dalam hati.

“Nyanyi ini aneh ya. Kami yang merasa diganggu bukan menganggu. Ayo segera tinggalkan tempat ini sekarang juga.,”Kali ini ancaman Ustad Amin tidak main-main. Dengan sigap dia berdiri sambil mengangkat tangannya dan berdoa. “Jika tidak saya akan usir secara paksa!”

“Nyai tidak mau meninggalkan tempat ini kalau tidak diantar.”

“Diantar? Kemana? Jangan macam-macam. Saya tidak mau pakai taksi ya?”

“Ihh. Sudah tua pakai dianter..”Ledek salah seorang..yang tidak mau menyebutkan namanya..Hiii

“Tidak jauh kok. Antarkan saya ke ruang jenset. Itu ‘rumah kedua ‘ saya. Hihihi..”

“Pak Asep ruang jenset dimana di gedung ini?”

“Agak jauh Ustad. Turun gedung dulu. Lalu keluar menuju basemen parkiran. Adanya di belakang gedung. Kami jarang kesana Kang. Tempatnya itu sudah gelap, pengap, sepi dan angker. Sudahlah suruh dia pergi sendiri atuh. Datang tidak diminta pulangngpun jangan diantar. Salah dia sendiri.

”Ayo siapa yang berani mengantar? “ Tanya Ustad.

Tidak ada satupun yang berniat mengantar. Semuanya mengelengkan kepala.

“Ustad saja.” Usul Neneng spontan.

“Saya mah ogah. Buang-buang waktu.”

“Yaa kok begitu. Nyai sendiri dong..” Teriak nyai kecewa berat.

Ustad Amin berdoa dengan kusyuk. Diraihnya lengan saripah. Tiba-tiba Saripah mronta-ronta, berteriak dan merintih mirip orang yang sedang kesakitan.

“Jangan! Jangan! “Nyai Tusima berteriak-teriak tidak karuan. “Sakit sakit! Panas Panas.”

Selang beberapa menit Saripah akhirnya siuman. Lantai lima kembali hening.

Malam berikutnya nyai iseng itu tidak menampakkan rohnya kembali. Akan tetapi teman-teman sebangsanya si nyai yang tidak terima sesepuh mereka diusir secara paksa mulai membikin ulah. Walaupun Saripah sudah tidak lagi diganggu. Sekarang Saripah sudah tidak mau bengong dan menyendiri lagi. Apalagi sekarang dia sudah mulai mengenakan kerudung.

Rupanya temen-temen nyai masih berusaha untuk menganggu tubuh yang lain. Tampaknya mereka masih berniat menduduki lantai lima di gedung itu. Tempat yang disinyalir sebagai hunian ternyaman bangsa jin.

Kali ini mereka mengisengi penjaga gedung yang sedang ronda. Akibat kecapekan berkeliling pekarangan dan lantai gedung, membuat Kang Sotoy asik ketiduran di ruang posnya. Kang Sotoy lebih memilih tidur di kursi panjang di samping pintu. Saat tengah malam, sekitar jam 3 dini hari dia mendadak terjaga dari tidur pulasnya. Dia menajamkan pendengarannya. Tanpa sengaja sayup-sayup terdengar kegaduhan dari ruang kantin yang ada dekat basemen.

“Idih. Suara apa ya gerangan di basemen. Wadud..Sepertinya dari arah kantin nih. Masak jam 3 pagi orang kantin sudah datang. Mungkin saja ada pesanan banyak..”batin Kang Sotoy. Beliau bergegas menuruni anak tangga perlahan-lahan. Berusaha menjauhi perasaan takut dengan memberanikan diri untuk menghampiri lokasi. Saat itu ruangan masih gelap. Penerangan hanya didapat dari cahaya pantulan dari luar saja. Kesan terlihat remang-remang. Sampai di pintu masuk kantin Kang Sotoy melihat dari kejauhan sosok wanita yang sepertinya dia kenal. Ya itu sepertinya Neng Sofie, pelayan kios yang menjual makanan  gado-gado. Tanpa perasaan curiga dan pikiran macam-macam dihampirinya sosok tersebut. Namun semakin didekatinya dia merasa aneh. Kok Neng Sofie yang berambut panjang sebahu dan gemar berkaos putih itu hanya diam tertunduk memandangi meja makan. Aneh, tidak selincah seperti biasanya.

“Neng Sofie Neng Sofie..” Colek Kang Sotoy dari belakang. “Ngapain gelap-gelapan di sini. Nyalain aja lampunya atuh.

Wanita itu hanya terdiam sejenak. Tanpa menoleh.

“Neng…”Desis Kang Sotoy lagi. “Suka gelap-gelapan ya?”

“Iya Kang…Biar lebih mesra.”

“Idih si eneng bisa aja. Emang sih…”Kang Sotoy mulai kumat dan ganjen. Jarang-jarang Neng Sofie berbicara dengan nada sedikit genit.

“Ke sini aja kang. Duduk di depan saya. Kursinya kosong kok.”

“Serius Neng?”

“Iya Kang.”

Jantung Kang Sotoy berdebar-debar kencang. Nafasnya ngos-ngosan. Ada bumbu nafsu di otaknya. Bakal seru nih pikirnya. Tanpa diduga Sofie memberikan penawaran yang menarik. Kesempatan tidak datang dua kali bukan? Dengan keyakinan yang tinggi dan penuh percaya diri, Kang Sotoy buru-buru duduk…Tetapi ketika pantatnya  duduk di kursi kosong itu dia langsung pingsan dengan mulus setelah sadar bahwa sosok wanita yang sedang berada di hadapannya itu rupanya berwajah datar. Seketika itu juga ketawa seramnya membahana ke seluruh ruangan…

Nandar, selang dua malam berikutnya mengalami kejadian serupa. Tepat jam dua malam ketika sedang asik menonton acara hiburan di tv dikejutkan dengan suara ketukan di pintu kaca.

“Wah..Bapak siapa ya?” Tanya Nandar sambil mengucek-ngucek mata dan menguap lebar.

“Maaf..Saya calon satpam di gedung sebelah Kang. Saya baru datang dari kampung. Kemalaman dan pingin numpang mandi sebentar. Boleh kang.”

“Bagaimana Bapak bisa masuk halaman gedung?”

“Pagarnya tidak terkunci.”

“Masak sih? Mana mungkin tadi saya kunci kok. Ya sudah kamar mandi ada di bawah . Turun saja satu lantai. Kamar mandinya ada di pojokan dekat parkir motor. Bawa handuk?”

Sosok laki-laki mistrius itu mengangguk pelan.

Nandar buru-buru menuruni tangga. Meninggalkan bapak itu sendirian. Ketika menginjakkan kakinya di lantai lobby, Nandar sontak terkejut. Lho..bukannya Bapak yang mau numpang mandi masih di atas. Kok Tiba kelihatan melintas di jendela kaca ya? Nandar langsung ngibrit.

Setelah kejadian itu Pak Asep bernisiatif mengundang kembali Ustad Amin untuk mengadakan doa dan pengajian bersama. Ide pak Asep disambut gembira. Alhamdulillah…setelah itu tidak pernah ada kejadian aneh yang mistrius lagi. Bahkan Pak Asep mengajak anakbuahnya liburan ke puncak sebagai bentuk terima kasih karena pekerjaan mereka telah beres semua.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s