SERIAL ‘MASA SMA, MASA BODO?’ ADA BIOSKOP DI…SEMPIT

 

Oleh : Deddy Azwar

Janji adalah hutang. Hutang identik dengan uang. Mengumbar janji berarti mengumbar hutang? Wah! Berarti orang kaya dong yang doyan memberikan pinjaman ke orang-orang. Orangnya ini Istilah kerennya dinamakan debitur. Sedangkan orang mengingkari janji tergolong orang yang wanprestasi.  Bertindak Lalai dan tidak menepati janji. Lalai dalam membayar hutang. Tidak bertanggungjawab dan tidak terpuji. Teruss…jadi panjang deh definisinya. Tambah bingung kan? Sudahlah kita tinggalkan istilah yang membingungkan ini. Lebih baik kita lanjutkan kisah sentimental ini.

Pokoknya hari hari Tekya dihiasi dan dimeriahkan oleh janji-janji.  Belum terdeteksi apakah semua itu janji manis, pahit, asli atau cendrung palsu. Jangan merembet kemana-mana dulu ya.  Bahkan jauh sekali kolerasinya dengan film holywood pernah tayang di negeri kita. Film bertajuk ‘Jumanji’ yang dibintangi oleh aktor kocak lagi kawakan ‘nano nano’ Andy Williams.

Manusia  ideal adalah yang selalu berusaha untuk menepati janji  yang dibuatnya sendiri. Sampai disini kita sepakat kan? Apabila dilanggar mungkin dapat digolongkan manusia ‘idiot’.  Tekya selalu kemakan janji-janji manis konco-konconya. Entahlah, yang pasti tampangnya yang lugu dan cendrung polos itu sering menjadi bumerang. Padahal faktanya di lapangan tampang si Tekya bertolak belakang sama tabiatnya yang suka usil. Hanya saja suka ketutup sama chasingnya yang ‘baby face’. Masih ingatkan cerita sebelumnya? Di awal dikisahkan sohibnya semasa SMP bernama Denny berjanji dengan Tekya untuk pergi bareng besok pagi ke sekolah SMA mereka yang baru. Ceritanya kebetulan mereka baru lulus SMP. Tekya mendatangi rumah Denny sesuai janji yang mereka rancang via telepon semalam ba’da Isya.

Ketika Tekya bangun pagi pada keesokan harinya, ‘aroma SMA’ sudah tercium bersama hembusan angin. Suasana pagi yang segar itu mendongkrak semangat dan jiwanya Tekya. Tentunya dengan diimbangi pikiran nan positif, namun ujungnya berakhir dengan kekecewaan lantaran Denny sudah pergi duluan di antar sopir Ayahnya. Padahal Tekya sangat berharap bisa nebeng. Perasaan Tekya dia tidak terlambat lambat amat kok. Apa perlu Denny diboikot lantaran ingkar janji?, pikirnya. Dia yang berjanji dia pula yang mengingkari. Mirip lirik lagu lawas Tante Titik Puspa. Udah jangan pura-pura lupa deh…

Terlambat atau delay atau apapun namanya tidak hanya kita dijumpai pada jadwal penerbangan saja, akan tetapi pada saat rapat di kantor biasanya juga suka molor sekian menit,  itu mah hal biasa. Orang berpacaran kalau ngedate pas malam minggu juga suka molor alias ngaret. Mungkin untuk kalangan ibu-ibu juga dihinggapi ‘jam karet’ ketika mengadakan  arisan atau suka menganggap enteng bila berjanji dengan mas-mas  tukang kredit panci.

Di negeri tercinta ini sudah lama mengenal budaya jam karet di kalangan masyarakat kita. Berbagai macam alasan menjadi penyebabnya. Terlebih lagi yang tinggal di perkotaan khususnya di kota besar seperti Jakarta. Tiada hari tanpa kemacetan di jalan raya. Kemacetan acapkali dijadikan sebagai alasan senjata pamungkas ketiam seseorang terlambat.  Hal ini kelihatan sepele bagi sebagian orang. Akan tetapi jika dibiarkan akan menjadi ‘bom atom’ yang sewaktu-waktu akan mengoyak seluruh isi prilaku dan membuyarkan moral kita yang tadinya ‘mungkin’ baik.

Cobalah kita tengok negara-negara yang sudah maju baik di Eropa maupun Asia. Tidak perlu jauh dalam mencari contoh. Ambil contoh orang Jepang. Mengapa Jepang? Mereka adalah pekerja keras dan bertanggungjawab pada profesinya.  Profesional sekali. Kita layak meniru orang Jepang. Sebagian besar memegang tangguh sebuah janji. Apalagi untuk melanggar janji. Rata-rata selain rajin juga berjiwa ksatria. Pada masa kekaisaran Jepang, para ksatria samurai akan merasa malu dan hina sekali apabila mereka gagal dalam melakukan sebuah pekerjaan, maka mereka tidak segan segan untuk duduk bersimpuh dan melakukan harakiri dengan pedangnya. Di masa kini, di dalam pemerintahannya jika seorang pejabat yang melakukannya maka dia akan secara legowo berhenti dari pekerjannya serta secara berani dan ihklas menerima hukuman.  On time is an important. Bukan better late than never. Sekali saja mereka mengingkari akan berpengaruh kepada figur dan bisnis mereka. Sekali lancung ujian orang tidak akan percaya pada kita lagi seumur hidup. Mengerikan bukan? Bayangkan anda dijauhkan teman-teman bahkan lingkungan gara-gara menyepelekan sebuah janji. Pikirkanlah. Intinya mulai sekarang mari menepati janji.

Ternyata Tekya bersahabat dengan Komeng eh Koming ding! Koming ini temen sepermainannya dari kecil. Nama aslinya Aman Theng Kwan Ming. Dari namanya sudah ketahuan kalau dia asli dari Papua..Yah nggak lah. Koming adalah peranakan chinese. Mereka berteman sejak duduk di bangku SD sampai SMP. Hanya saja setamat SMP Koming lebih memilih sekolah swasta karena memang begitu kenyataannya.  Sedangkan Tekya terdampar di sekolah negeri.  Mereka bertetangga. Rumahnya hanya lima langkah dari rumah Tekya. Saking dekatnya. Im coming home!

Di kampung Kemang Manis itu Koming dan keluarga termasuk sudah sepuh. Konon, menurut cerita Encik Toke, berprofesi sebagai tukang jahit yang mangkal persis di depan rumah Tekya ini, keluarga Papa dan Mamanya Koming sudah menetap sejak zaman Jepang. Dulu, kampung Kemang Manis masih berupa hutan belantara. Istilah kata tempat jin buang anak. Serem. Selain rawan binatang buas masih bebas berkeliaran juga dihuni sekelompok makhluk halus dan sebangsanya. Bayangkan saja zaman itu masih belum tersentuh peradaban. Mamanya sering sekali melihat sejenis penampakan mahkluk asral mondar mandir. Bukan hanya keluar di malam hari bahkan di siang hari mereka pede dilihatin oleh manusia.

Menurut pengakuan Papanya Koming, mereka tidak begitu memperdulikan kehadiran mahkluk harus lagi. Lagian beda alam kenapa mesti takut? Saking sudah terbiasa mereka bagaikan layaknya ‘sahabat’. Asal tidak saling menganggu. Seorang tentara Jepang atau Nippon saja yang nongol itu sudah merupakan ‘hantu’ yang menakutkan mereka kala itu. Mereka terkenal kejam dan sadis. Apalagi kalau sudah melihat perempuan. Secara psikologis boleh dikatakan mereka ‘nyaris gila’ kebanyakan terkena tekanan jiwa. Terlebih lagi jika dari sayup sayup terdengar deruan pesawat tempur Jepang melintas di atas kampung. Mereka langsung menembaki dan memborbardir secara membabi buta. Desingan peluru bagaikan ‘musik rock’ yang menghibur. Bikin bulu bergidik.

Hari Sabtu. Jam weker berbentuk Micky Mouse milik Tekya telah menunjukkan pukul 18.30 WIB. Berarti malam minggu telah di ambang pintu. Tiba waktunya para kawula muda menyambut waktu janji apel malam minggu atau wakuncar (waktu kunjung pacar). Yang cowok siap-siap mengunjungi rumah ceweknya. Setelah itu mereka melanjutkan ke arah jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, pasar malam atau nonton bioskop midnite.

Di kamarnya yang cukup luas Tekya tampak merias diri. Spesial untuk malam ini dia sengaja memilih kemeja bermotif kotak kotak dan garis garis berwarna abu-abu gorilla bercorak bunga flamboyan? Untuk dalaman tubuhnya dibalut dengan t-shirt tebal bernuansa putih berbahan polyster bercorak sablonan. Fungsinya untuk menghindari udara malam yang dingin. Dari jauh Tekya kelihatan parlente namun ketika dilihat dari planet Pluto persis tukang sate. Ironis memang.

Ya, di malam minggu Tekya ada janji untuk nonton bioskop Cineplek yang letaknya di kota Palembang. Kebetulan lokasinya bersebelahan dengan pasar Cinde. Tadi sore Koming sudah wanti-wanti agar Tekya jangan sampai terlambat dan terlalu lama berdandan. Koming sudah memilih waktu pertunjukannya yang sudah ideal. Tidak terlalu kesorean dan tidak terlalu kemalaman. Kalau terlambat datang ke bioskop mereka terpaksa mengambil waktu berikutnya. Dan itu termasuk jam midnite.

“Malam nanti kamu nggak ada acara ngapel kan Tek? Mending kita ngelayap aja, gimana?” Ajak Koming kepada Tekya. Mereka ngobrol sambil jongkok di samping kandang ayam  milik Koming. Remaja satu ini memang mempunyai hobby yang agak aneh yaitu mengkoleksi berbagai jenis ayam kecuali ayam ‘kampus’. Ayam bangkok dan ayam kate menjadi prioritas yang terkurung di dalam kandang emasnya. Memang betulnya kandang bercat warna ke-emas-emasan. Biar terkesan kandang yang mewah.

“Emang kenapa? Sepertinya malam ini saya vakum janji nih.” Jawab Tekya.

“Kebetulan! Mending ikut ogud ya. Kita nonton ke bioskop. Filmnya yahud. Pemainnya megastarnya Asia. “

“Siapa? Andy Lau? Lo Lieh?” Tebak Tekya rada antusias.

“Salam semua. Jacky Chen Lung! Si dewa mabok di film ‘Drunken Master’.”

“Kirain Meggy Z. Hahaha…”

“Sembrono kamu. Tahunya bintang dangdut melulu. Upgrade dong otakmu Tek..” Koming mendorong jidat Tekya.

“Boleh. Saya suka gaya kungfunya.”

“Akting action beneran Tek. Sumpah. Jacky Chen untuk adegan laga tak pernah memakai jasa stuntman lho. Adegan berbahaya juga. Seperti meloncat dari gedung bertingkat. Jumping di atas atap bus. Bergelayutan di tempat tinggi hanya dengan seutas kain.”

“Sehelai kain kali. Seutas itu untuk tali Ming.”

“Oh iya. Sehelai kain. Sama temen ini perhitungan lu.”

“Tidak bisa kata yang salah mesti di ralat. Nanti nilai bahasa Indonesiamu jelek. Sebagai teman saya wajib membetulkan Ming.”

“Iya Pak Tua. Terima kasih nasehatnya.”

“Iya kakak. Ngomong-ngomong judulnya apa? Beranak dalam kubur ya?”

“Bukan. Dikejar babi ngepet. Huh! Nanyanya nggak pakai mikir ya. Mau ngajak ribut terus nih. Aku lupa judulnya Tekya. Habis pakai bahasa Inggris.”

”Kalau bahasa Mandarinnya kamu tahu?”

“Apalagi…”

“Wee. Parah. Aku tahu Judulnya ‘Siang siang maling seng silau mang’.”

“Sabar Ming kalau ngomong sama Tekya.” Tiba-tiba terdengar suara Apek yang nyambar dari balik pintu rumah. Kedua tangannya menggenggam stoples berisi ikan tempalo dan ikan pedang. Jadi, kalau pamannya tergila-gila sama ayam, si Apek sebagai keponakan penggemar berat ikan hias. Nggak apa-apa yang penting mereka akur. Usia mereka tidak begitu terpaut jauh.

“Tidak banyak yang tahu bahwa Jacky Chen memulai kariernya di industri perfilman sebagai pameran pengganti di film-filmnya Bruce Lee.” Lanjut Apek lagi.

“Oh ya?” Tanya Tekya. “Sepertinya Dia bakal diramalkan menjadi penerus Bruce Lee. Kabarnya filmya ‘Rumble in the Bronx’ menembus pasar Amerika dan mendongkrak namanya ke hoolywood. Pada tahun 1998 Jacky Chen menyutradarai film Who Am I? Di bawah bendera Golden Harvest yang terkenal memproduksi film film laga mandarin.”

“Bagaimana kesimpulannya setujukan kita nonton malam ini? Kamu tinggal bawa badan saja. Aku traktir deh. Mau kan? Mau dong?” Rayu Koming sedikit memaksa.

“Ayo. Siapa yang nolak kalau ditraktir. Rezeki kan tidak boleh ditolak. Pamali tahu!” ujar Tekya loncat kegirangan. Dengar punya dengar ternyata Koming dapat subsidi dari kakak perempuannya yang bernama Aling. Suaminya adalah pengusaha yang memiliki toko bakery.

Bagi Tekya, ajakan Koming pada situasi yang pas, di saat kantongnya sedang dilanda ‘kanker’ alias kantong kering.

Lima menit sebelum acara berita malamnya TVRI, Tekya sudah nongkrong di rumah Koming kembali. Kali ini tidak lagi disamping kandang ayam tapi di kandang Koming. Karena Tekya sudah terbiasa hilir mudik main ke kamarnya Koming sudah dianggap sebagai penjual bakpao langganan keluarga Koming. Hihi. Sampai di dalam kamar Tekya langsung menyergap tapedeck yang terletak di pojok. Dia langsung menyetel lagu pop milik Tommy Page. “A shouldher to cry on.” Si Poky anjing peliharaan Koming juga sudah hapal betul muka Tekya. Si Poky baru menyalak kencang jika ada orang asing.

“Oma. Koming ke mana?” Tanya Tekya ketika menemui Mamanya Koming yang sedang melipat baju hasil setrikaannya.

“Itu, lagi mandi. Rapi amat Tekya malam ini. Mau pergi jalan ya?” Mama Koming malah balik tanya.

“Biasa anak muda Oma.”

“Iya iya. Oma juga pernah muda juga. Zaman dulu penuh keterbatasan. Tidak seperti sekarang segalanya sudah tersedia. “

“Yee Oma curhat ya..”Ledek tekya. Oma berlalu sambil nyengir.

Mata Tekya menatap semua sudut kamar. Kamar seluas 3 x 3 meter itu Cuma dihuni oleh Koming sendirian. Tekya agak mengiri. Karena sampai saat ini dia masih tidur satu kamar sama adik-adiknya Evan dan Cikal. Huh, malu banget deh. Apalagi mereka kalau tidur kadang mendengkur serta tidak stabil. Suka transmigran kemana mana. Malah kadang ada yang nemplok di atas lemari! Entah lagi bermimpi apa? Permohonannya agar dibuatkan kamar sendiri selalu ditolak halus oelh sang Mama. Mamanya selalu saja mempunyai segudang alasan, belum punya duitlah, tunggu ada rezeki nomploklah, masih bulan tualah, masih belum gajian level direktulah, tunggu ada sayembara berhadiah kamarlah.

Dindingnya dipenuhi poster-poster bintang mandarin. Coba tebak? Ada aktor film Andy Lau the Hua, U Chi lung,  Chang Min, Aman Chou Youn Fat, ada penyanyi Arron Kwok, Leon Lai, Wang Chie. Dan di balik pintu terpampang poster unik. Poster editan Pak Tile adu panco sama Herman Ngantuk mirip Silvester Stallone di film ‘Over The Top’. Ciamik!

Poster poster keren itu pernah diprotes Mamanya karena bikin suasana kamar jadi sempit dan mirip iklan bioskop. Mamanya merayu Koming untuk mencopot semuanya. Tapi ancaman Koming untuk mogok makan pangsit dan bakpao membuat Mamanya mengendurkan urat saraf. Koming memang anak bontot yang paling disayang. Karena dia masih peduli dan suka membantu Mamanya yang sudah tua. Sedangkan Cici dan Kokonya yang lain pada cuwek. Terutama yang tinggalnya tidak satu kampung.

“Sudah lama nunggunya?” Tanya Koming sambil berhanduk ria.

“Wah sudah telat nih. Sembilan bulan lewat seminggu. Kambing kambing. Kirain tadi kamu sudah siap. Ini mandi saja belum ternyata.” Omel Tekya sembari mengacak kaset-kaset box yang menempel di dinding. Tekya mencari kaset yang dibeli Koming kemaren. Kaset Marah Karma eh salah Mariah Carey ding yang bertitel ‘Hero’.

“Weei…jangan diacak-acak. Orang sduah capek dirapiin.” Protes Koming sambil melempar handuk ke muka Tekya. Untung Koming sudah berbusana. Kalau tidak bisa kena sanksi pornografi. Tekya balas dengan melempar bantal guling ke arah Koming. Koming mencoba mengelak. Bantal mendarat mulus di jidatnya.

“Aduh! Jerawatnya pecah!” Pekik Koming lebay seraya meraba pantatnya yang tepos kayak termos.

“Sontoloyo dipelihara. Jerawat itu adanya di muka bukan di pantat. Nah kalau bisul baru adanya di muka.”

Mereka akhirnya cabut juga. Ternyata di tengah jalan Koming mengatakan ingin mampir ke rumah Jono si professor blo’on yang tinggal di kampung sebelah. Namanya kampung ‘sungai hitam’.

“Kirain kita nonton berdua saja Ming? Jono mau ikut juga?”

“Masak berdua saja? Kayak orang pacaran dong.”

“Kalau begini kita bisa nonton yang midnite Koming.”

“Sudahlah kamu ikut saja. Nanti juga tahu sendiri.”

Tekya manut saja. Namanya orang ditraktir.

“Gimana Jon sudah siap semuanya?” Tanya Koming kepada Jono ketika tiba di depan pintu rumah Jono.

“Beres. Ayo masuk. Sudah kusulap kamarku menjadi bioskop.”

“Cakep.” Puji Koming.

“Sulap? Menjadi bioskop?” Tanya Tekya terheran-heran. Sepertinya perasaannya tidak enak. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres.

“Iya Tekya mari masuk. Kamu jangan tercengang ya kalau sudah di dalam kamarku?” Ajak Jono bersemangat.

Koming dari tadi hanya mesem-mesem. Seperti menyembunyikan sesuatu rahasia. Terlebih saat melihat wajah Tekya yang penuh kebingungan.

Setelah masuk ke kamar Jono baru semuanya terkuak. Ternyata si Jono yang berjulukan professor blo’on itu hendak memamerkan home theathernya toh. Tekya mangut-manggut.

“Suprise!!” teriak Koming tanpa rasa bersalah. Koming membentangkan tangannya lebar-lebar. Dihadapan mereka tersaji sebuah televisi 21 inch, seperangkat VCD dan satu set home teahter.

Tekya membelalakkan matanya. Bukan karena takjub, akan tetapi kesal karena Koming berhasil mengelebuinya. Bioskop di dalam kamar sempit!

“Sangat tidak lucu…Sial juga kamu Ming. Aku sudah bayangin bakal duduk di gedung bioskop kembar di Cineplex dekat Cinde tahu nggak? Ternyata kita Cuma menonton video home teathre di kamarnya Jono. Kecurigaanku di awal menjadi kenyataan. Pantes tumben-tumbenan kamu kepingin nraktir. Tega kamu Ming sama Akyu!” Tekya mencak-mencak sembari mengacak-ngacak rambut Koming yang sudah diolesi styling foam.

“Maaf ya Tekya. Aku hanya pengen ditemenin ke rumah Jono. Kamu kan tahu sendiri jalan menuju ke rumahnya harus melewati komplek kuburan cina.”

“ Tiada maaf bagimu.!”

Tekya lalu kejar-kejaran dengan Koming. Tinggal Jono sekarang yang bengong. Sebentar lagi kamar Jono sekana-akan berguncang-guncang.

Setelah capek kejar-kejaran. Tekya dan Koming tersender di samping ranjang Jono. Terntunduk lesu dan lemes…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Menurut teman-teman dalam hal ini apakah Koming menepati janjinya nggak?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s