SERIAL MASA SMA, MASA BODOH? DALAM YUK, MENGISI MAJALAH DINDING SEKOLAH

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Masa SMA adalah masa yang indah. Banyak nostalgia dan memori tercipta. Sayang sekali kalau kisah manis itu terlupakan begitu saja. Paling tidak membuat para pembaca tersenyum saja sudah puas. Buah tangan dari pengarang dadakan yang tidak terkenal.

Cerita ini masih banyak kekurangan disana sini. Penulis siap menerima saran dan kitik. Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan lokasi bukan karena suatu kesengajaan dalam cerita ini. Mari kita simak cerita ini. Seting tahun 1990.

Oleh : Deddy Azwar

Back to school. Tanpa terasa aktivitas belajar sudah dimulai. Kira-kira baru berjalan satu bulan. Bagi siswa yang telah menempuh ujian dan lulus SMP, tentunya siap-siap untuk melanjutkan ke SMA, ibarat menemukan sebuah planet baru di antara luasnya tata surya. Untuk kali pertama pernah kita datang berkunjung ke planet asing tersebut, akan tetapi kita sudah mendapat bocoran alangkah manisnya kehidupan disana. Kita bakal menemukan  kisah-kisah seru di sana. Termsuk kisah cinta dua anak manusia. Roman picisan. Wuih! ITU, tiga kata yang sudah tidak asing lagi di teling kita, seringkali didedungkan oleh sang motivator terkenal Mario Teguh plus diiringi senyuman khasnya. Disamping kata ‘SUPER’.

Pada kenyataannya suasana di SMA  tidak segampang  yang dikira. Terutama soal pelajarannya. Setali tiga uang dengan sewaktu di SMP. Jujur saja kalau survey disebar dan ditanya ‘ Kamu lebih suka sekolah atau di rumah main game?’. Tidak perlu menunggu waktu berlama-lama dalam menjawabnya.

Dari segi pelajaran sepintas hampir sama. Hanya suasana dan  lingkungan pasti berbeda. Di SMP ada kita mengenal praktikum di laboratorium. Di SMA juga ada. Yang membedakan hanya di SMP belum ada pelajaran praktek komputer pada masa itu. Ketika menapaki masa SMA aura keseriusan untuk belajar tekun sudah terasa dari awal. Alasannya,  SMA memiliki jadwal spesifik lagi ketat. Artinya kita sudah harus mempersiapkan separuh nasib juga masa depan kita. Betul tidak? Sebab SMA merupakan salah satu cikal bakal seseorang  menuju level yang lebih tinggi lagi yakni melanjutkan ke perguruan tinggi nantinya. Nota bene yang menentukan sebuah masa depan seorang siswa.  Ya, walau tidak selamanya 100% akurat. Teori dan praktek seringkali tidak seiring sejalan. Beda rasanya manakala sudah terjun di lapangan. Masa depan masih merupakan misteri yang tak terpecahkan. Bisa saja sewaktu SMA, bakat bandelnya sudah kelihatan, pokoknya minta ampun deh. E-eh tapi setelah dewasa, masa depannya malah cemerlang. Menurut prediksi niah anak bakalan jadi preman atau centeng pasar. Bisa juga dulunya culun abis, rajin belajar, rajin menolong ibu, pintar dan berkacamata tebal, setelah beranjak dewasa berubah berantakan. Mengkilap atau suram masa depan seseorang tiada yang tahu. Entah dia menjadi saudagar atau kuli bangunan. Who knows? Bagaimanpun pekerjaannya kelak yang penting halal.

Hindari untuk percaya kepada paranormal terlalu jauh. Pasrahkan semuanya kepada Tuhan. Tugas kita berusaha dan berusaha menjadi yang terbaik. Tuhan yang mengetahui masa depan semua manusia ciptaanNYA. Bukanlah manusia.

Maka dari itu, tanamkan dalam hati bahwa kita ingin sukses. Rencanakanlah kita akan menjadi apa kelak. Tak perlu malu dan minder mempunyai cita-cita tinggi, walaupun mempunyai keterbatasan. Toh banyak orang sukses di tengah kekurangannya. Malah hal itu dianggap sebagai pemicu semangat mereka. Kebanyakan penemu atau ilmuwan terkenal memulai dari sebuah mimpi atau impian. Kemudian bertekad mewujudkannya hingga menjadi kenyataan. Make your dreams came true.  Plan without action akan menjadi sia-sia. Walaupun sehat, sakit, hidup, mati, jomblo, jodoh dan rezeki ada di ‘tangan’ Tuhan.

Banyak cara orang meraih kesuksesan. Jarang sekali mendapatkannya hanya dengan sekejap mata. Diperlukan semangat baja dan tidak patah semangat walau sering gagal. Malah ada yanga sampai jatuh bangun. Bangkit dan bangkit lagi. Berkorban tenaga serta waktu. Intinya bekerja keras. Selagi muda berusahalah.

Jangan baru menjadi kakek bertongkat baru nekat. Sudah telat. penyesalan selalu datang di akhir. Sekali lagi, kita tidak punya kuasa memutar waktu untuk balik ke masa lampau. Seandainya mampu, alangkah nikmatnya hidup ini.  Manusia dapat seenaknya menyetel waktu. Alangkah tidak asiknya apabila manusia sudah ada bocoran apa  yang menimpanya esok hari.  Semua manusia bisa berubah menjadi atheis. Sungguh menyeramkan! Dunia akan kacau. Karena tiap orang dengan mudah mempermainkan waktu sesuai kehendak dan nafsunya.  Betul tidak? Bahkan seorang paranormalpun tak mampu membaca nasibnya sendiri. Mengalami masa depan yang indah penuh wangi bunga, kaya tanpa kekurangan uang adalah impian semua umat manusia di dunia.

Pada tahun 1980-1990 sistem penjurusan dialami saat siswa naik ke kelas dua SMA. Siswa akan dibagi  jurusannya berdasarkan minat dan kemampuannya.  Kelas A1 (untuk katagori ilu pasti seperti matematika dan fisika), kelas A2 (untuk ilmu biologi), A3 (untuk ilmu sosial) A4 (untuk kesenian dan bahasa). Dari sana akan ketahuan jodohnya di bidang ilmu pasti atau ilmu sosial.  Mengalami kebingungan di saat memilih tentu ada. Banyak siswa yang memaksakan kehendak tanpa melihat kemampuannya sendiri. Atau hanya ikut-ikutan saja. Bisa demi gengsi. Setelah terlanjur masuk merasa terjerumus dan tidak cocok lalu kebingungan  sendiri.  Pilihan terakhir pasrah dengan keadaan. Itu yang gawat!

Terus apalagi ya? Oh ya masa SMA kata para alumni ketika ditanya apa yang berkesan di masa SMA? Apakah benar masa yang paling indah dan sulit dilupakan. Selalu terkenang-kenang sampai tua. Ah masak? Semua nostalgia berkumpul di sini. Ada mengalami masa pubertas. Masa mencari jatidiri. Masa boleh berpacaran? Masa bodoh? Memang iya? Perlu bukti. Lihat saja iklan  acara reuni mereka di medsos.

Sewaktu SMP Tekya gemar sekai menonton hampir semua film yang dibintangi  Rano Karno. Terutama yang bergenre remaja.  Macam ‘Galih dan Ratna’, ‘Gita Cinta dari SMA’, Puspa Indah Taman Hati’, Remaja Remaja, Romas Picisan, Selamat Tinggal Masa Remaja, Nostalgia di SMA,Kisah Cinta Tommi dan Jerri dan Ranjau-Ranjau Cinta. Ada yang mau menambahkan?

Hari kemaren Tekya masih bingung dan tak tahu dia ditempatkan di kelas mana. Kelas bulu, berat atau bantam? Melewati was-was dan penuh ketidakpastian, akhirnya nasib Tekya terkuak juga. Pada saat Tekya mendapati namanya terpampang di papan pengumuman  kelas 1.3 (dibaca satu tiga atau three in one).  Cukup cantik. Idealnya Tekya mengimpikan kelas 1.5 sesuai tanggal kelahirannya. Oh dimana posisi kelas tersebut? Denger punya denger lokasinya berada di lantai tiga. Tinngi bener sih. Ruginya sudah ada di depan mata. Kemana-kemana terasa jauh. Kebelet pipis harus ke lantai dasar dulu. Keburu ngocor kali. Apalagi kalau kepingin bolos membutuhkan perjuangan ekstra.  Diperlukan keberanian untuk meloncat dari lantai tiga untuk sampai ke bawah. Untungnya sejarah belum mencatat siapa yang telah berani bertindak bodoh tersebut. Kalau saja ada yang berani tanpa parasut. Sudah pasti sampai di tanah langsung menjadi tapai atau bangkai. Mau? Sepertinya bagi pelajar yang berniat dan hobi bolos kudu menunggu setahun atau dua tahun lagi sampai naik ke kelas dua atau tiga. Lumayan kalau di lantai dua tidak begitu tinggi. Paling kalau loncat paling geger otak ringan doang.

Ketika merasa jenuh dan bosan belajar itulah suka timbul  niat bolos. Makanya mesti ada persiapan khusus. Seperti harus meminjam tangga atau tali tambang biar bisa turun dengan aman. Jangan sampai bernasib apes,  pas mendarat di lantai bawah bisa-bisa sudah terlanjur kepergok oleh guru-guru yang berkantor di lantai dua. Belum lagi Bapak Kepsek juga bersemayam di sana ruangannya. Kalau tidak bertindak hati-hati dan bersikap waspada. Ketangkap oleh mereka hukumannya bisa menyesakkan dada lho. Belum lagi kelas 1.3 persis letaknya ada di pojokan. Untungnya bukan di pojok busana di department store.

Kesan pertama ketika melihat makhluk-makhluk di dalam kelas barunya itu Tekya merasakan aura spritual melanda. Selintas wajah-wajahn mereka pada alim-alim. Kemungkinan karena masih menyandang  predikat sebagai anak baru, jadi menjaga image  masing-masing.  Walaupun sekilas penampilan mereka rata-rata seperti wajah tanpa dosa atau anak-anak Mami. Mirip wajah orang-orang baik, rajin dan kutu buku. Tidak terlintas seperti  tipe-tipe pembangkang atau pecundang. Kenyatannya hampir saban hari kelas 1.3 selalu menciptakan kehebohan dan kebisingan. Semua mengeluarkan bakat bakat kebandelan yang terpendam. Ternyata oh ternyata. Namanya karena masih remaja dan muda tidak dilarang untuk hiperaktif dan energik.

Sesuai bocoran sebelumnya lokasi kelas Tekya kan letaknya paling pojok, mana paling berisik, paling males, paling kuat ngocolnya dan paling pangling dengan guru killer yang suka duka bikin keder. Untungnya masih ada sisi baiknya yaitu paling pintar. Walau hanya beberapa gelintir tapi yang lain ikut kebawa-bawa pintar-pintar..bodoh. Hehehe.  Lumayan walau pintarnya secuil cukup buat ngemil. Daripada ngupil. Idihhh jorse deh.

Ujian pertama yang akan dihadapi oleh paguyuban kelas 1.3 adalah ketika diberi mandat dari ketua OSIS SMA mereka agar turut memeriahkan class chalenging competition di bidang informasi dan telekomunikasi lewat media tulis menulis. Salah satunya yang diperlombakan adalah mengisi majalah dinding sekolah yang sudah sekian lama vakum. Mendengar berita santer ini sontak membuat Kelas 1.3 langsung gelagapan bagai disambar halilintar di siang bolong. Masih mending kalau permainan halilintar di Ancol. Sang Ketua kelasnya 1.3 yang bernama Mizal Bom Bom langsung kaget bercampur nanar. Tak ada sangkut pautnya dengan pasar kaget sama pasar segar? Semenjak mendengar berita itu mungkin untuk sebagian orang akan bersikap biasa-biasa saja. Tidak bagi Mizal, yang baru sebulan menjabat sebagai Ketua kelas mendadak terjangkit virus galau dan malas ngomong. Belakangan beliau berubah menjadi calm, pendiam dan suka menyendiri. Syukurnya nafsu makannya tidak berubah dan tetap stabil.

Terus terang sebagian teman yang berkawan akrab dengan Mizal otomatis menangkap perubahan yang tidak biasanya itu. Tekya saja yang terkenal cuwek kali ini merasakan sesuatu yang lain. Terlebih Iqsan TWEJ, teman sebangkunya. Tapi anak-anaknya yang lain malah cuwek bebek dan masa bodoh. Nggak ngefek dan napol. Puncaknya, beberapa hari kemudian terdengar kabar Mizal sakit.

Suasana rumah Mizal Bom-bom sepi.

“Kamu ini kenapa sih Zal?” Tanya sang Ibu kepada anaknya,  Mizal yang sedang terbaring sakit di kamarnya. Ibunya melanjutkan..“Mendadak tidak mau masuk sekolah. Malas ya? Barusan jadi anak SMA juga. Nanti penilaian kamu jelek dan tidak naik kelas lagi.

“Idih Ibu. Pikirannya sampai kesana. Sudah tenang saja, di sekolahku belum mulai belajar serius kok. Kan masih awal-awal Bu. Lagipula baru tidak masuk satu hari.”

“Ibu hanya kawatir saja. Sebenarnya kamu ini sakit tidak sih? Demam tidak, masuk angin tidak, flu apalagi. Muka kamu tidak pucat. Bibir kamu merah merekah eh maksud Ibu bibir kamu tidak pecah-pecah.”

“Memangnya bibir Mizal barang pecah belah, Bu. Ada-ada saja. Cuma perut agak pusing sedikit saja. Sama kepala agak mual gitu deh.”

“Kamu kebanyakan menghirup cuka pempek kali?”

“Tidak kok Bu. Mizal kalau makan pempek cuma sedikit kok. Hanya semangkok kecil…tapi sering.

“Itu penyebabnya. Walaupun semangkok kecil kalau sering lama-lama menjadi sebotol juga.”

“Tidak begitu-begitu amat sih Bu. Masak minum cuka sampai sebotol? Kalau jumlah pempeknya sebaskom baru seimbang.”

“Lantas apa dong? Jangan-jangan karena kamu makan pempek langsung ditelan tidak dikunyah terlebih dahului?”

“Bubur kali Bu langsung ditelan. Makan pempek ya dikunyah dulu atuh Bu. Kalau orang-orang biasa mengunyah 32 kali. Saya sampai 40 kali lho.”

“Lembek dong.”

“Iya.”

“Kamu suka beli pempek di pinggir jalan ya?”

“Tidak Bu. Mana pernah kecuali kepepet. Biasalah di kantin sekolah. Belum ada yang seenak pempek buatan Kak Mail Bu. Kalau digigit teras sekali ikannya. Seakan-akan makan humberger gitu.”

“Ngaco ah kamu. Mana ada pempek rasa begituan. Ngarang saja. Setahu Ibu makan pempek ya rasanya pempek. Kalau musang berbulu domba banyak.”

“Kalau musang bagaimana rasanya Bu? Saya belum pernah makan begituan. Hehehe.”

“Sama… Aha..Ibu tahu alasannya, kamu sakit gara-gara ditunjuk jadi ketua kelas kali. Susah ya mengurus mereka?”

“Mungkin juga Bu. Mereka kadang susah diatur. Tapi eh bukan itu penyebabnya.”

“Baru segitu saja kamu sudah pusing. Bagaimana kalau jadi camat?”

“Beda jauh dong ketual kelas dengan camat!”

“Nanti sore kamu ke dokter sama Ayah.”

“Jangan Bu. Siapa tahu nanti sore agak baikan.”

“Kalau begitu Ibu ke apotik dulu ya.”

“Apa? Ke apotik? Jangan deh Bu. Saya tidak mau minum obat.”

“Siapa yang mau membeli obat?”

“Lantas ke apotik mau ngapain Bu?”

“Ibu hanya mau membeli gula pasir  kok. Kan disamping apotik ada warung Wak Jarot.”

Mizal Bom Bom langsung menghela nafas. Ketika Ibunya ke luar kamar, dia langsung tertawa lepas.

Tidak lama kemudian telepon di rumah Mizal Bom Bom berdering.  Ibunya yang sudah ingin keluar pagar bergegas balik ke rumah lagi untuk mengangkat telepon.

“Zal, ada telepon dari temen sekolahmu.”

“Sari s-siapa Bu?”

“Suaranya kresek kresek. Jadi Ibu tidak tahu persis itu siapa.”

“Ibu tidak bilang saya sedang sakit. Bilang saja lagi tiduran Bu. Tanya dulu, wali kelas bukan? Takutnya wali kelas yang menelepon. Siapa tahu guru menyamar menjadi murid.”

“Sudahlah, kamu terima dulu saja. Dari nadanya sepertnya bukan suara orangtua.”

Akhirnya Mizal beranjak ke meja telepon dengan lemas.

“Hallo. Siapa ini?”

“Ini Mizal ya? Ini Aku Tekya, temen sekelas. Kudengar kamu sakit. Sakit apa?”

“Siapa ini, Yahya? Habis suaranya kurang jelas.”

“Masakan kamu tidak kenal suara jernihku.”

“Bener. Habis ada suara kresek-kreseknya.”

“Ya ampun siapa yang bawa kantung kresek? Kamu sakit parah nggak sih? Kamu sakit jiwa ya Bom? Waduh, gawat kamu  jangan-jangan kena penyakit amnesia kali, jadi lupa makan eh lupa ingatan.”

“Oh Tekya yang mirip Jimmy Gideon pelawak itu ya?”

Hush! Mirip Tommy Page, Bom.”

Akhirnya Tekya dan Mizal terlibat percakapan jarak jauh yang cukup alot dan seruuu.

Jelas sudah apa yang menjadi alasan Mizal mendadak pura-pura sakit. Ternyata dia mengalami dilema ringan. Di satu sisi Mizal lebih menyukai menonton bioskop daripada membaca buku. Dia merasa tidak mempunyai bakat dan hobi di dunia tulis-menulis. Kecuali menulis buku catatan sekolah dan membaca buku cetak pelajaran. Itupun karena terpaksa. Biasanya juga meminjam catatan dari temen lalu kemudian membawanya ke tukang potokopi. Beres. Dia ikut  kawatir  anak-anak di kelas yang dikomandoinya terjangkit  penyakit pesimis. Bayangkan jika semuanya yang ada di kelas itu tidak ada yang berminat untuk ikut berpartisipasi menghidupkan kembali ‘nafas’ mading sekolah.

Hari berikutnya Mizal sudah terlihat kembali ke sekolah.

Mizal mempercepat ayunan langkahnya. Lima menit lagi bel sekolah akan berbunyi. Beriringan dengan penutupan pintu gerbang sekolah. Jika apes dan terlambat pelajar wajib lapor dulu ke pos satpam. Setelah itu baru diizinkan masuk. Ketiba sampai di dalam sudah menanti hukuman apa yang akan diterima. Kalau kebetulan yang mengajar gurunya baik, kita akan langsung dipersilahkan duduk. Kalau gurunya killer pasrahlah…Bersiap-siaplah untuk dijemur di tengah lapangan upacara atau disetrap di depan papan tulis sebagai contoh anak yang bandel. Setelah itu dicemooh teman sekelas.

Saat melintasi lapangan basket, Mizal terpaku melihat sebuah mobil truk berhenti di dekat tiang basket. Di bak belakang truk terdapat muatan yang ditutupi  terpal. Mizal berhenti sebentar di bawah pohon rindang. Mizal mengamati dari jauh apakah gerangan isi muatan truk itu. Dia jadi bertanya-tanya. Apakah sekolah memborong seperangkat komputer baru? Atau mungkinkah membeli bangku dan meja baru? Nah! Siapa tahu sekolah bakal pasang AC di tiap-tiap kelas. Beli sound system baru kali. Sudah ah biking bingung saja, bathin Mizal. Tak lama kemudian dua orang turun dari bak. Mereka menurunkan sebuah kotak berbahan kayu dan berpintu kaca. Mirip-mirip jendela. Woww, majalah dinding sekolah baru!

“Wah Aku tahu. Keren. Ternyata Pak Kepsek tidak main-main. Setiap kelas dimodalin masing-masing kotak berpintu kaca untuk majalah dinding.” Bisik Mizal memandang takjub. Kemudian dia berlari-lari kecil menuju pintu utama gedung sekolah sambil bersiul-siul.

“Teman-teman yang kucintai…” Ucap Mizal Bom Bom terbata-bata ketika pelajaran Fisika bubaran…

“Hati hati nih kalau kata-kata ada ‘kucintai’. Pasti ada apa-apanya?” Sambar Eveliona geregetan. Jari-jarinya yang lentik gemelitik itu terus memainkan kepang rambutnya.

”Semula saya mengira kelas kita tidak mungkin diajak dalam kegiatan mading ini. Akan tetapi karena ini sebenarnya mandat dari kepala sekolah kita melalui ketua OSIS saya tak kuasa dan berani untuk menolaknya mentah-mentah. Tapi kalau disuruh makan yang mentah-mentah masih berani saya jabanin. Orang Jepang malah doyan makanan mentah.”

“Tuh betul tidak?” Gerutu Eveliona. Arleini ikut manggut-manggut tanda support.

Seisi kelas berteriak riuh. Mendengar itu kelas langsung bergemuruh. Membuat sekompi kelas 1.3 bagai kesetrum sengatan listrik ribuan watt. Hight voltage.

“Kalau kita serempak menolak bagaimana pak ketua?” Teriak Agus dari kursi belakang.

“Setujuuu.” Langsung disambut oleh seisi kelas.

Beberapa batang kapur berterbangan.

Iqsan TWEJ mencoba menenangkan. “Calm calm Man..”

Mizal mengacungkan jempolnya. Sambul berucap. “Thanks Can..”

Iqsan TWEJ mengangguk sambil menyunggingkan senyum manisnya. Lalu Mizal melanjutkan…

“Waduh. Maafkan saya sebagai ketua kelas tidak mungkin menolak perintah orang tertinggi di sekolah ini Gus. Apa dayalah kita sebagai murid. Mana berani Aku membantah. Kita lebih baik turut berpartisipasi. Ini Kegiatan sebagai ekstrakulikuler dari sekolah. Dan akan ada penilaian di akhir semester. Sungguh, berat bagi saya untuk mengemukakan hal ini. Secara pribadi yang notabene males membaca buku. Kalian juga sudah tahu saya tidak suka membaca komik. Novel  pertama kali sentuh hanyalah karya Asmaraman S Kho Ping Hoo. Saking tebal dan banyak ada beberapa jilid, Saya langsung mual. Sumpah! Apalagi disuruh menulis cerita, mohon maaf. Kalau disuruh menyalin dari buku cetak ke buku tulis saya jago. Yuk, mari teman-teman kita meriahkan mading ini ya…”

“Malas ahh.” Semua kembali berteriak kompak.

“Please bantu Aku dong. Tega ya…” Mohon Mizal Bom Bom. “Kita tunjukkan bahwa kelas ini  adalah kelas yang oke punya. Pandai. Paling kreatif. Mau ya ya ya?”

“Malas ah tidak ada hadiahnya..” Lontar Maman kurang bersemangat.

“Mungkin ad-da..”Jawab Mizal lagi sambil garuk-garuk kepala. “Kasih tempe nggak ya eh kasih tahu maksudnya?”

“Yaaa kok jawabannya kurang pasti.” Tekya ikut berkomentar.

“Hadiahnya mungkin kelas kita nanti dipindahkan ke lantai 4. Asik kan bisa menyaksikan kota Palembang dari ketinggian. Oh ya saya lupa di atas kelas ini tidak ada lantai lagi. Hehehe.”

“Sudahlah. Ayo teman-teman malasnya jangan sampai masuk stadium 4 gitu dong. Kasihan Mizal dong..” Bela Eta Mareta. “Mari kita sukseskan mading sekolah.”

Akhirnya usaha sang ketua kelas berbuah hasil. Walau terpaksa mereka mengiyakan juga.

Mizal Bom Bom segera sujud syukur.

Terjadi percakapan di lantai 2. Tepatnya di ruang guru sekaligus ada juga ruang kepala sekolah.

“Di atas ada kejadian apa ya?” Tiba-tiba Pak Adaptasi keluar dari ruangannya dengan tergopo-gopoh.

“Biasa Pak, kelas 1.3. Memang siapa lagi.” Jawab Ibu Ondel sambil memeriksa hasil ulangan yang menumpuk di atas mejanya.

“Kelas apa pasar sih.” Ujar Pak Adaptasi agak kesal.

“Mungkin heboh karena disuruh ikut aktif nulis di majalah dinding kali Pak?” Tebak Saleha.

“Ooh..mungkin juga ya. Tidak apa-apa biar mereka tahu rasa. Hehe.” Pak Kepsek tertawa puas.

“Cuma diminta begitu aja segitu hebohnya ya.” Celetuk guru yang lain.

“Masak saya harus pindah ke lantai dasar biar tenang. Enak saja. Mending dekat kantin. Kalau mau minum kopi tinggal teriak saja. Heheh..”Ujar Pak Kepsek sambil berlalu.

Semua guru tertawa tanpa dikomando.

Yeah…Sang Kepsek memang sangat merana kalau kelas 1.3 sedang berisik. Apalagi jam istirahat, seharusnya itu kelas keadaannya sepi karena waktunya mereka makan ke kantin. Apa daya susah menebak apa yang ada di dalam pikiran anak didiknya itu. Beliau saban hari memberi ultimatum melalui wali kelasnya Ibu Juminten agar paling meminimalisir tingkat keributan yang terjadi di lantai 3. Hasilnya tetap nihil. Perubahan sikap mereka yang baik hanya bertahan paling banter tiga hari setelah itu penyakitnya kumat lagi. Tiada mempan.

Ternyata usut punya usut kiranya Kepsek berniat menguji ketangkasan kelas 1.3 dalam mengisi majalah dinding sekolah. Apakah content yang akan mereka sumbangkan nanti mempunyai nilai kreativitas yang oke apa tidak? Apakah di balik kebandelan mereka tersimpan bakat terpendam di dunia penulisan? Kalau ada harus diangkat ke permukaan dong! Jangan hanya kemalasannya saja dipelihara. Buat apa?

Bak virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang mematikan itu begitu cepat menular yang menghinggapi mereka one by one. Khususnya Yudo Gembul, Agus Blepotan, Iwan Mukejenuh, Sony Betapermax mempunya motto sejati “Tiada hari tanpa canda tawa”. “Noise is Money. Bubarkan PR. Turunkan Guru Killer. Humor is very important. Walau tidak serius tapi santai dan Jangan cegah kami bermain bola.

Sosok Iqsan TWEJ  (Topo Wijaya Effendy James)  juga perlu kita kenal. Namanya memang panjang kayak truk gandeng. Berkacamata tebal. Kesukaannya membaca novel berbahasa Inggris. Seperti karya Shakespeare, Enid Blyton dan Alfred Hitchock. Buku-buka bergenre petualang hampir semua sudah dilahapnya. Jabatannya sebagai wakil ketua kelas akhir-akhir ini cukup membuatnya sedikit sibuk. Jadi jarang punya waktu untuk berkunjung ke perpustakaan dan ke toko buku. Culun-culun begini Iqsan TWEJ menghabiskan SD dan SMPnya di negeri Paman Bill Clinton. Tidak heran bahasa Inggrisnya was wis wes wos. Lancar banget dah.

Sudah dapat ditebak untuk urusan mading sekolah Mizal langsung mentitahkan Iqsan TWEJ, wakilnya untuk menghandle memeriksa hasil karya tulisan teman-temannya. Bila perlu Iqsan TWEJ disuruh menulis karangan atau artikel. Hobi membaca biasanya jago menulis juga. Komplit.

Agus Blepotan termasuk salah satu makhluk yang paling kesal saat ini. Disusul makhluk lain bernama Tekya. Apalagi kalau bukan masalah jam istirahat dipakai untuk rapat mading sekolah. Bete nggak tuh.

“Iya nih Gus. Biasanya waktu kita kongkow di kantin full time.. Sekarang kita mesti buru-buru ke lantai tiga lagi. “Ajak Tekya siang itu kepada Agus teman seganknya.

“Kamu duluan saja Tek..Aku masih kepingin makan pempek panggang. Janji, nanti aku nyusul. Masih lapar.”

Mereka berpisah di kantin Kak Mail

“Nih Tekya baru datang..” bisik Andreany kepada Qibal.

“Dari mana saja Tekya?” Tanya Qibal. “Kamu kebagian tugas menulis cerita yang lucu-lucu. Oke?”

“Kantin. Wah, jangan saya deh, Bal. Susah nyari bahannya.” Tekya beralasan.

“Kamu bisa cari bahannya dari tukang jahit..” Timpal Pito.

“Haha itu lucu barusan. Serius…”Potong Tekya sambil ketawa.

“Pito aja ya?” Rayu Tekya.

“Ahh itukan tidak sengaja. Menulis cerita lucu itu harus menunggu moodnya tahu. Kalau belum ketemu bisa-bisa bukan membuat orang tertawa tapi malah jadi cerita horor. Ya sudah kamu yang koordinator deh. Nanti kita join venture seraching cerita lucunya. Di majalah humor atau koran-koran. Kita guntung tinggal tempel.”

“Eeit…” Sela Mizal, “ Hendaknya karya orisinil. Kalau bisa jangan menjiplak karya orang lain. Ingat-ngat dulu kira-kira kamu pernah tidak mengalami kejadian lucu dimana gitu…”

“Susah amat mikirnya Tekya.”Ujar Susi membunyikan jari jempol dengan jari tengahnya. Itu pertanda ada ide cemerlang. “Pindahin saja ke kertas HVS pakai mesin tik.”

“Siip. Itu nanti jalan terakhir saja. Pokonya kita best effort ya.” Dukung Iqsan TWEJ.

“Aku datang!” Teriak Agus tiba-tiba. “Aku pasti cukup mendoakan kalian biar sukses saja.”

“Enak saja lu, Gus. Kalau urusan doa si Choi sudah cukup. Anak kyai. Gus, kamu meliput berita olahraga ya. Apa kek bisa tinju, gulat, volley, basket atau sepakbola. Cari pertandingan yang masih update.”

“Yeah. Nasib..nasib. Macam mana pula.”

“Iya Gus kita manut bae…”bujuk Yudo Gempul.

“Iya nih masalahnya perintah dari Pak Sutan Bagindo Adaptasi.” Ucap Novi lembut, selembut kulitnya.

“Buset Novi hapal nama lengkapnya. Ngomong-ngomong Siapa tuh Sutan Bagindo? Pemilik restoran Padang ya?”Ceplos Tekya sekenanya.

“Husss…”Bisik Sri Itemanis sgerera menetralisir suasana. “Dia Kepala sekolah kita tahu! Kedengaran bisa dikeluarin nanti.”

“Ohh kirain Bapak Kepsek…” Canda Yudo terkekeh-kekeh sudah sukses ngerjain Sri.

“Iya bener memang jabatannya kepala sekolah kok..”Tangkis Sri.

“Tuh benar kan kata saya…Dia itu kepala sekolah.” Tegas Yudo menampakkan muka bercadanya.

Awalnya Sri masih belum sadar juga kalau dia sebenarnya dikerjain oleh Yudo. Tidak lama setelah dibisikkan oleh Fatimah barulah dia tersadar. Hehe..

Sri Itemanis refleks menyambit kepala Yudo dengan kapur tulis. Tepat sasaran shootingny kena bersarang di rambutnya Yudo yang keriting sehingga nyangkut di sana.

“Yeee…kapurnya hilang di dalam rambut Yudo. Kamu harus ganti kapur punya sekolah.” Fatimah mengucek-ngecek rambut si gempul. Tentu saja Yudo berusaha menangkis dengan tangannya. Akan tetapi jari-jari milik Fatimah sudah terlanjur terjulur masuk ke rimbunan rambutnya.

“Eii..Apa-apaan ini! Fatimah! Rambutku jangan diaduk-aduk begini.  Kamu kira rambutku ini sarang burung. “Berapa sih harga kapur. Nanti Aku beli sama pabrik-pabriknya.”

“Sombong ya…Mentang-mentang anak Jendreal. Rambut kamu saja belum serimbun Ahmad Albar saja sudah bikin repot deh.”

Fatimah berangsur-angsur melepaskan aksi rogoh merogohnya. Membiarkan Yudo mencari kampur yang nyungsep di rambutnya. Setelah kapur papan tulis itu diketemukan langsung dilemparkannya ke rambut Fatimah yang hitam bergelombang dan berombak-ombak. Kebetulah di dalam kelas tidak ada angin berhembus sehingga ombaknya tidak tinggi dan menimbulkan tsunami. Sekarang, kapur itu telah bersemayam pula di rambut cewek berparas ayu itu. Fatimah blingsatan dan mengobrak-abrik rambutnya juga demi menemukan kapur sialan itu. Ketika Yudo berhasrat ingin membantu mengawut-awuti rambutnya. Namun dengan gerakan refleks Fatimah langsung mengusirnya.

“Huss..Sana Kamu. Rambutku barusan dari salon. Nanti rusak. Biar Aku saja yang nyari. Kamu tidak usah ikut campur  To. Bukan muhrimnya!”

“Iya..Tidak boleh Yudo. Dilarang dalam agama kalau menjamah perempuan. “ Bela Choiruddin sambil memamerkan senyumnya yang manis. Walaupun bertubuh mungil Choi cukup disegani oleh teman sekelah karena ilmu agamanya yang mumpuni. Makanya sering dijuluki Ustad. Jenggotnya yang tumbuh satu dua alias jarang-jarang itu dibiarkan tumbuh untuk menambah profil kewibawaannya dan kesyufiannya. Dan si choi ini mempunyai hobi tersenyum. Mungkin dia ingin menunjukkannya bahwa dia itu orangnya manis,humanis, penyabar dan berwibawa. Dia terkenal ramah dengan siapa saja yang ditemuinya. Sampai-sampai dia kalau sedang makan pempek di kantin Ismail  tetap dengan tersenyum sendiri. Gawatnya kalau orang yang belum mengenal akrab sosoknya bisa-bisa menduga-duga yang macam-macam. Miring kali yeee.

“Sejak kapan pelajar SMA potong rambutnya ke salon. Paling juga kamu ke barber shop. Oh ya bukannya Aku pernah lihat kamu pangkas rambut di bawah pohon Tembesu kan…”

“Itu nenekmu kali To..”Samber Fatimah kesel. “Suka-suka Aku dong. “

Tekya dan temen-temennya yang lain kembali meneruskan rapat. Jika masih terus mengikuti perkembangan percekcokan seru antara Fatimah dan Yudo dengan kapur tulisnya bisa-bisa rapat tidak menghasilkan apa-apa. Molor terus. Iqsan TWEJ mengasih kode kepada rekan-rekannya untuk tetap fokus dan membiarkan Fatimah dan Yudo yang konyol-konyol itu capek sendiri.

Kelas sudah sepi. Aktivitas sekolah sudah selesai. Anak-anak sudah pada pulang ke rumahnya masing-masing. Paling tersisa beberapa siswa yang masih malas pulang. Mereka lebih memilih mojok di kantin sambil guyon-guyonan. Beberapa murid kutubuku mengunjungi perpustakaan. Tidak sedikit juga yang ngobrol di depan gerbang sekolah sembari menunggu jemputan atau oplet (angkutan kota).

Choirudin membungkukkan badannya. Tampaknya dia menemukan sebongkah kapur tulis di bawah meja. Sejenak diamat-amatinya secara perlahan-lahan. Diambilnya lalu didekatkannya ke lobang hidungnya. Tanpa sadar dia menghirup aroma kapur itu dan …tersenyum. Lalu menghela nafas.

“Hhmmm..Kapur ini harum nian. Biar aku simpan saja. Ternyata Fatimah tidak bohong bahwa dia pergi ke salon. Fatimah…fatimah..Aku suka parasmu yang mirip cewek Pakistan. Seandainya kamu tahu…”

Choi meninggalkan ruangan kelas. Ternyata kamu Choi…

Rapat hari kedua waktu istirahat kembali berubah wujud menjadi waktu rapat darurat. Ketua kelas mengintruksikan kepada khalayak di kelas 1.3 untuk tidak keluar kelas terlebih dahulu. Untunglah semua mengamini. Mizal, sebagai ketua kelas mengemban tugas yang cukup berat demi mengangkat spirit kelas asuhannya untuk berkreatif dan berdisiplin. Tidak mudah mengumpulkan semua anak-anak 1.3 yang rada bandel-bandel untuk tetap berada di dalam kelas. Bayangkan? Tahu sendirikan semestinya perut-perut mereka yang  sudah sibuk berintrumentalia menyanyikan lagu-lagu kelaparan meminta peruti diisi oleh nasi atau cemilan. Menyatukan sebuah kelas untuk satu pikirian satu tujuan membutuhkan sebuah energi yang cukup besar. Mizal sedang mengumpulkan itu. Beliau benar-benar sedang mempertaruhkan karirnya demi suksesnya memeriahkan kembali mading sekolah.

MizaI menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan-lahan. Tubuhnya yang gempal tidak ada bedanya dengan Iqsan TWEJ dan Yudo yang terkenal doyan makan. Mizal siap ambil ancang-ancang untuk memimpin rapat.  Setelah dia merasakan emosionalnya mulai terkontrol barulah dia meminta  Iqsan TWEJ sambil memohon-mohon menggantinya untuk  memimpin rapat yang kembali berlangsung di kelas. Kemudia Mizal meminta izin untuk ke kantin bersama Fatimah untuk membeli cemilan-cemilan untuk keperluan rapat. Semua kelas berteriak…Asik lapang perutku!”

“Ah yang bener Bom?” Tanya Fatimah kepada Mizal Bom Bom ketika mereka sudah keluar kelas. Cewek hitam manis itu mengeryitkan keningnya. Tampak ada tiga kerutan nongol di jidatnya.

“Swear!” Mizal mengacungkan dua jarinya dan sedikit mendelik.

“Tapi kok banyak amat ya. Bukannya itu sebuah pemborosan.”

“Iya yah. Menurutku cukup beli satu saja. Nanti tiap hari diganti-ganti tajuknya. Dibikinkan saja jadwal piket tiap kelas untuk mengisinya. Majalah dinding sebanyak itu mau dijejerin dimana ya?”

“Manaku tahu.”

“Di koridor sekolah mungkin. Atau di lobby utama? Jangan-jangan ini pertanda buruk, Fat?”

“Pertanda buruk? Maksudnya?”

“Dengerin ya Fatimah. Sekolah inikan punya tujuh kelas. Berarti masing-masing dapat jatah satu. Merepotkan banget. Lalu…”

“Lalu apa Bom?”

“Hehehe…Nungguin ya kelanjutannya?”

“Kamu ngerjain Aku ya? Tak cubit nanti pipimu yang cubby itu.”

“Kasih tahu nggak ya?”

“Ayo cepetan dong tadi apa kelanjutan dari lalu tadi..?”

“Lalu kita akan dipaksa untuk mengisi majalah dinding itu secara terus menerus. Terus Kepsek akan memantau dan mengontrol saban minggu. Dan tentunya kalau ketahuan kelas mana saja yang  meja dindingnya tidak ada karya sama sekali akan mendapat hukuman.”

“Ah, kamu jangan menakut-nakuti kita dong.”

“Siapa tahu Fatimah. Merepotkan nggak tuh?”

“Sudahlah jangan ngelantur kamu.”

“Oh iya sampai dimana tadi…”Iqsan TWEJ membuka percakapan.

“Jangan kesurupan deh San. Kamu kan dari tadi belum ngomong.” Protes Marniyem sambil bertolak pinggang.

“Iya. Kamu tadi kumur-kumur.” Lanjut Tekya.

“Buanglah dulu permen karet di mulutmu Bang Iqsan TWEJ. Macam mana mau ngomong kalau masih mengulum permen maret. Bah!” Agus Blepotan sewot.

Iqsan TWEJ mengeluarkan permen karet dari mulutnya lalu menyimpannya di sebuah kotak kecil yang telah disiapkannya dari rumah. Kotak itu ditutup dengan rapat seraya dimasukkan ke dalam saku celananya.

Semua anak yang hadir mengeleng-gelengkan kepala tanda tak mengerti.

“Idiih. Dibuang aja kenapa.”Tukas Novi geregetan. “Kan jorok sudah jadi ampas gitu.”

“ Nanti aku ganti sama karet gelang. Makanlah sepuas-puasnya.” Tekya angkat bicara.

“Bukan apa-apa. Itu permen karet dari eropa. Belum masuk Palembang. Beda sama yang dijual di warung-warung.”

“Mau dari eropa kek atau dari planet sekalipun tetap jorok. “Kali ini Arleni yang bicara. “Barang sudah dari mulut jangan dimakan lagi. Pamali. Itu namanya menjilat ludah sendiri. Ngomong-ngomong betul nggak pribahasanya?”

“Sayang masih 50 persen lagi.” Jawab Iqsan TWEJ. “Ayo kita mulai saja ya.”

“Terserak kaulah.”Agus Blepotan masih tampak sewot.

“Perintah ini semata-mata datang dari sang Kepsek. Beliau menyampaikan pesan via Agung ketua OSIS sekolah kita. Via itu bukan Novia Kolakpisang ya. Sedangkan Agung bukan agung bakar atau rebus ya. Itu semua nama orangnya? Jangan salah.”

“Yang lucu boleh pulang. Iqsan, kamu boleh pulang.”ucap Qibal geram. Kepingin ngegaplok pake gagang sapu.

“Gara-gara permen karet kan jadi ngelantur dan ngawur kan…”Ledek Nyimas.

Iqsan TWEJ pun dijitak rame-rame. Kasihan.

“Ini serius. Maaf, joking dulu biar nggak tegang. Saya mengharapkan kerjsama dari teman-teman untuk dapat menunjukkan karyanya. Kalau bisa kita usahakan isi mading kita lebih berbobot dari yang lain. Mudah-mudahan mading kelas 1.3 bukan hanya sekedar memberikan tulisan atau berita yang menjadi hiburan semata akan tetapi ada sebuah pesan yang bermakna di dalamnya. Tempo hari saya bagi-bagi tugas. Tekya fokus di dalam cerita-cerita lucu, anehdot dan karikatur. Diam-diam ternyata dia jago gambar. Kalau Agus mengurusi berita-berita seputar olahraga. Selly Cheng, tugasnya mengisi tip-tips bagaimana mengelola usaha kelontongan. Karena Papanya punya usaha warung. Rata-rata orang chinese kan pedagang.”

“Saya kirain Selly Cheng menulis tips kecantikan ‘bagaimana cara memutihkan kulit’. Sangat bermanfaat sekali untuk Fatimah.” Yudo memulai sesi bercanda.

“Yudo!” Semprot Fatimah geram. “Awas nanti aku kempesin badan kamu yang bontet itu.”

“Sudah-sudah.” Pito dengan sigap melerai keduanya. “Secara tidak langsung kamu juga menyinggung saya dong.”

“Kamu kan nggak hitam, To. Hanya agak keling sedikit.” Canda Iwan Mukejenuh cekikikan.

Pito hanya mesem-mesem.

“Ayo lanjut lanjut.” Pinta Faisol Kribo tak sabar.

“Oke oke. Kembali ke rapat. Mari kita tunjukkan bahwa kita itu ada. Bukan makhluk halus.” Timpal Agus Blepotan. “Kelas 1.3, mari kita tonjolkan yang belum menonjol.  Kecuali anak-anak cewek…”

“Woo gitu, jadi kaum hawa tidak diperhitungkan. Kemana emansipasi kalian?” Protes Meta Weleh merasa tersinggung berat.

“Lho benar apa yang dikatakan oleh Agus.” Bela Tekya semangat.”Kalian semua memang sudah pada menonjol. Buat apa dibikin menonjol lagi. Bisa berabe toh.” Tekya sambil mengacungkan jari telunjuknya mengarah ke dada Meta Weleh.”

Pecahlah ketawa seisi kelas laksana rudal patriot.

“Ih Tekya porno nih. Dasar ngeres.” Meta menimpuk Tekya dengan karet penghapus. Untung Tekya dengan gesit mengelak.

“Kamu menyumbang apa Wan?” Tanya Faisol Kribo di sela-sela jam istirahat. Mereka sedang asik melahap pempek lenggang di kantin Kak Mail.

“Menyumbang? Memangnya ada bencana alam, Gus?” Sahut Iwan Mukejenuh menampakkan mimik wajah kebingungan. Kemudia dia menghirup cuka. Sruup!

“Karya. Kamu kebagian tugas apa? Barusan Kemaren dirapatin kok sudah lupa. Payah. Mading Wan, mading Wan…”

“Oh itu. Tadi saya kira makan daging dimana? Soal itu gimana ya? Sebetulnya saya sibuk berat. No time for that. Tapi demi kekompakkan tim bisa diatur. Apalagi Aku sekarang lagi mempunyai pembantu baru bo. Molek dan seksi lagi manja. Setiap habis pulang sekolah selalu diminta menemani ke Hero Supermarket untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Maklum orang beruang.”

“Iya, memang kamu mirip beruang, Wan.”

“Beruang maksudnya banyak memiliki uang, Gus. Kalau kamu kan diminta menulis seputar olahraga ya. Lomba balap karung cukup keren untuk dipublikasikan.”

“Aku sebetulnya lebih tertarik mengupas seputar musik, Wan.”

“Hebat kamu. Bisa mistik.”

“Musik Wan, musik. Bukan bistik. Nah Aku nih orang Batak. Dari bayi sudah bisa mainin  gitar Bapakku. Ya sekedar mainin saja. Kadang dibanting. Nah setelah dewasa dimasukkan kursus gitar. Jadi sekarang sudah menguasai kunci-kunci. Termasuk kunci inggris. Kalau saja nanti peresmian majalah dinding perlu diiringi musik panggil Aku saja.”

“Kenapa tidak kau tulis saja artiket tentang ‘ perbedaan antara memetik gitar dengan memetik bunga’. Bagaimana brilian tidak ideku?”Usul Iwan dengan jumawa.

“Lantas hubungannya dengan olahraga apa?”

“Ada. Memetik gitar dan bunganya sambil bermain catur.” Jawab Iwan sekenanya.

“Buyan! (Blo’on). Dasar ngawur.”

“Sudah jangan bingung Gus.” Faisol Kribo tiba-tiba muncul dengan membawa sepiring tekwan yang masih hangat. Tampak asal mengepul di atas priringnya. “ Tadi barusan Yudo bilang ke Aku mau bantuin Agus ngasih bahan kiat bermain bola.”

“Kamu tidak salah ngomong kan Sol. Postur Yudo kan gembul kayak balon. Masak bola bawa bola. Lari saja dia kelihatan susah. Aku nggak percaya, Sol.”

“Ya sudah. Dari SD si Yudo sudah tergabung dalam pusdiklat sepak bola punya tentara. Aku pernah ditunjukkan poto-poto sewaktu Dia memperkuat salah satu klub dimana tempat Ayahnya Yudo berdinas.”

“Oke. Nanti Aku akan test dia dulu.”

Plang  bertuliskan ‘KANTIN KAK MA’IL’ terpampang di atas pintu sebuah kantin di sekolah itu. Kantin itu dikelola oleh Kak Ma’il dan keluarganya. Dan merupakan satu-satunya kantin yang tergeletak di halaman belakang gedung sekolah. Lokasinya bersebelahan dengan lahan parkir motor. Bertetanggaan juga dengan gedung perpustakaan dan gedung praktikum.

Kantin itu berdiri sudah cukup lumayan lama. Berawal dari Abinya (Ayah Kak Ma’il) yang keturunan Arab Palembang bersahabat akrab dengan Kepala Sekolah di zamannya. Pas kebetulan Kepala Sekolah kebingungan dengan keberadaan sebuah gudang yang dianggap sudah usang alias  tidak terpakai. Gudang peninggalan zaman Belanda itu, dulunya untuk menyimpan pasokan makanan di masa kemerdekaan. Kwalitas bangunannya masih kokoh banget, hanya saja penopang atapnya yang terbuat dari kayu sudah mendekati keropos termakan usia. Warna cat temboknya  sudah terlihat kusam dan lusuh sekali. Sukar ditebak apa warna aslinya. Karena dianggap akan merusak pemandangan, Bapak kepsek berencana ingin menghancurkan saja agar sekolah memiliki perbendaharaan lahan kosong. Seandainya kalau dipugar tentunya memakan ongkos.

Bapak Kepsek bercita-cita jika gudang itu berhasil diratakan dengan tanah, lokasi tersebut siapa tahu bisa digunakan untuk bercocok tanam.  Waktu Bapak Kepsek sudah deal dengan mandor tukangnya. Sayangnya setelah diteliti, mandor tukang meminta upah lebih. Alasannya masuk akal juga, untuk menghancurkan gudang yang tebal dan kokoh itu juga memakan waktu banyak biaya dan waktu yang lama. Bapak kepsek hanya bisa pasrah. Di saat momen kebingungan ‘high level’ itulah tanpa disangak dan dinyana datang Bapaknya Kak Ma’il datang mengunjungi temannya yang sudah menjadi kepala sekolah. memang kebetulan sedang mencari. Di tengan obrolah yang penuh emosional dan kehangatan, Bapak Kak Ma’il berkata :

“Anton, kalau gudang ini buat menyimpan apa?”

“Gudang ini sudah tidak terpakai lagi.  Seminggu yang lalu mau saya ratakan dengan tanah. Agar supaya sekolah ini mempunyai halaman yang luas. Ternyata si mandor sableng itu meminta upah tambahan lagi. Padahal di dalam surat perjanjian saya tinggal terima bersih lho. Tidak ada embel-embel lagi.”

“Tentu ada alasannya dong Ton?”

“Anu…kata si mandor, setelah diketok-ketok ternyata bangunan yang dibuat oleh kumpeni Belanda ini terlalu keras, tebal dan kokoh sekali untuk dihancurkan.”

“Syukurlah kalau batal menghancurkannya.”

“Lho kenapa Rozali? Apa manfaatnya buat kamu. Kamu mau ngekos di sana. Silahkan. Hehe…” Kata Pak Anton sambil bergurau.

“ Kebetulan! Jodoh tidak kemana!” Pak Rozali memukul pundak temannya dengan kencang. Pak Anton kaget dan nyaris terjatuh dari kursi.

“Barusan kita bertemu, kamu sudah mau mencelakakan Aku Jali!

“Maaf sudah mengagetkan kamu. Haha..”

“E-eh tadi apa Aku tidak salah dengar kamu bilang jodoh. Kamu berencana mau kawin lagi Jali? Kamu sudah siap untuk berpoligami apa? Berat lho.”

“Huss!. Jangan ngomong sembarangan kamu Ton. Siapa yang mau kawin lagi? Istri yang sekarang belum habis-habis. Bisa di gantung Aku nanti di pohon cabe.”

“Lantas apa dong?”

“Aku sudah lama ingin mencari lokasi berjualan. Semacam kantin gitulah. Kalau kamu tidak keberata saya sewa saja. Bagaimana?

“Boleh. Dengan senang hati. Biar silaturahmi kita tetap terjaga ya. “

“Betul banget. Serahkan semua urusan padaku. Biart aku  bikin cantik ini gudang.”

“Kamu mau jualan apa nanti?”

“Jual makanan. Sesuai selera murid-murid disini. Apa saja kesukaan mereka pasti aku sediakan. “

“Ide bagus Jali. Tidak terbayangkan dan terpikir olehku bahwa sekolah ini perlu sekali kantin.”

“Atur saja. Jangan lupa Aku masih doyan rujak mie lho.”

“Gampang. Rujak mie nanti kumasukkan dalam menu kantinku.”

Merekapun bersalaman seraya berpeluk-pelukan. Tentunya diiringi derai tawa.

Itulah sekilas kisah historinya kantin Kak Ma’il. Ternyata racikan resep dapurnya sesuai dengan selera para siswa, membuat mereka tidak bosan makan di sana. Belum lagi suasananya dibuat betah untuk nongkrong dan kongkow. Dekorasinya disulap gaya cafe anak muda. Pada dinding dipenuhi ornamen-ornamen yang cantik baik berupa lukisan kota Palembang di masa lalu. Poster-poster artis lokasl dan mancanegara juga tak kalah banyak.  Deretan artis hollywood , Bollywood, Tangkiwood dan Mandarinwood. Semacam poster John Stamos, bintang pameran utama film seri televisi ‘Full House’ dan ‘ Dreams ’sedang tersenyum manis. Poster Silvester Stallone dengan gaya khasnya di film ‘Cobra’ dan Over the Top’. Poster Amitabh Bachan juga ada. Poster Onky Alexander dalam ‘Catatn si Boy’. Tidak ketinggalan poster Jacky Chen dalam ‘Drunken Master’. Dan pernak-pernik dari mutiara dan kulit kerang juga menghiasi dinding. Di meja panjang berjejer becak dan jembatan ampera dalam bentuk miniatur.

Menu yang tersedia juga bermaca-macam. Sayangnya mereka tidak menyediakan nasi. Semua menu diberikan nama sesuai judul film yang lagi ngtren saat itu. Sebangsa empek-empek buntu pendekar mabok, otak-otak ikan tom and jerry, empek-empek panggang rambo, rujak mie galih dan ratna, mie celor jump street, kue donatello, model bold and beautiful dan tekwan james bond. Minuman tidak diberi nama-nama aneh. Kantin Kak Ma’il menyediakan minuman beraneka jenis jus buah, kopi, teh, es jeruk, jamu dan es hoya. Belum lagi pelayananannya yang ramah dan bersahabat juga cepat (note: kalau sepi pengunjung).

Satu lagi yang membuat para pengunjung betah yaitu full musik. Kak Ma’il memasang double speaker  yang dolby stereo di setiap sudut. Belum lagi tweaternya yahud. Jernih dan berdecit.  Ketahuan kalau pas lagi nyetel lagu yang rada ngrock, kontan kantin serasa diguncang gempa, dan sangat bergemuruh. Namun volumenya masih sebatas wajar, kalau tidak tentu dapat menganggu aktivitas belajar. Untuk kaset lagu disediakan oleh siswa-siswa. Jadi Kak Ma’il tak perlu repot-repot membawa kaset lagu dari rumah. Kebanyakan jadi ajang pengetesan kaset-kaset yang baru mereka beli. Selain tempat berkumpul dan ngegosip di saat suntuk berat dengan pelajaran tertentu.  Berubah fungsi juga sebagai tempat pelarian jika saat pelajaran kosong , guru rapat dan guru berhalangan, sebagai tempat penitipan helm, jaket dan tas. Penitipan tas biasanya untuk yang berniat bolos.

Siang itu mentari bersinar malu-malu. Seorang pelajar yang bergaya feminim dan sedikit manis berjalan menuju ke arah kantin. Dialah Zoeliesye, bergaya amat spesifik. Berbeda dengan pelajar cowok lainnya. Nama aslinya Zulkipli. Menjurus kemayu-mayuan atau bencong style. Dengan gaya gemulai, berjalan bak peragwati mentas di catwalk. Dengan malu-malu Zoel langsung duduk di kursi kosong di sebelah Faisol Kribo. Disana juga sudah ada Tekya, Iwan Mukejenuh dan Yudo Gempul.

“Awas pengacau datang. Hayo pada ngumpen ntar kita-kita dicium.” Serobot Iwan Mukejenuh.k pinggang. Sebentar-bentar menyibak rambutnya yang berdiri-berdiri.

“Aduh syahlalala…Kalian pada ngumpul di sini toh. Eyke kesepian nih. Kelas di atas sepi. Entah pada kemana?”

“Tak satupun?” Tanya Tekya.

“Iyee. Lu nggak percaya gue?” Mata Zoel melotot galak. Memang si Zoel ini cepat sekali tersungging eh tersinggung.

“Eh Iwan mukejelek dengerin baik-baik ya…Ike ini tuan puteri bukan pengacau. Tahu!” Protes Zoel sambil berkacak pinggang mirip mandor ubi kayu.

“Siang-siang begini pada ngegosipin Ike ya.”

“Rugi kita nggosipin situ. Bingung, bagian mana dari bodi kamu nggak ada yang enak buat digosipin. Pada rata semua. Weee.” Sambar Yudo Gempul blak-blakan.

“Dasar Zoel bences deh…”Ledek Faisol Kribo.

“Syukurlah kalau bukan. “ Zoel mengurut dadanya seraya menghela nafas panjang dan menghembuskannya ke segala arah. Faisol dan Tekya buru-buru tutup mulut. “Lega sekali bila jauh dari gosip. Heh! Cabe kriting situ tadi ngeledek saya bences. Awas ya! Jangan sembarangan…buang sampah dong eh ih salah ngucap. Coba kamu ngaca deh ya. Amati baik-baik dan dengan seksama. Muka saja kayak papan cucian. Rata semua. Mentang-mentang kamu tergolong jenis drawida.”

“Eh tunggu dulu. Siasp sih drawida. Anak baru ya?” Balas Faisol Kribo belagak pilon.

“Ketahuan ya tidak menyimak pelajaran sejarah. Makanya jangan molor pas lagi belajar. Ilmu Cuma masuk sedikit. Ketutupan rambutmu sih. Drawida itu nama sebuah bangsa. Dan kamu termasuk jenis itu. Ciri-cirinya persis banget sama kamu Solpatu..Rambut keriting, wajah bulat, Cuma kamu ketolong sama  kulitmu yang putih. Coba kalau hitam legam. Alangkah miripnya. Berarti kamu drawida kawe 3 (kwalitas no 3).

Faisol Kribo langsung naik pitam dledek begitu, seakan menjatuhkan harga dirinya yang sudah terdiskon. Mukanya merah padam mirip Donal bebek lagi berang. Melihat gelagat yang kurang beres dari, Zoel tanpa permisi lagi langsung kabur. Faisol yang sudah siap ancang-ancang ingin mengejar akhirnya batal setelah cengkraman jari-jari Yudo Gempul menahan langkahnya.

“Easy Man easy man.” Bujuk Yudo.

Bukan alang kepalang. Beberapa pelajar dari kelas lain hanya menahan geli-geli basah eh gelisah. Sebagian  lagi tertawa ngakak tanpa dikomando. Diiringin tepuk tangan nan riuh penuh semangat.

Di sebuah lokasi kompleks perumahan mewah.

Tiupan semilir angin malam nan dingin menerpa wajah bulat seorang pelajar SMA bernama Iqsan TWEJ.  Malam itu jam telah menunjukkan pukul 22.30. Iqsan masih terbuai dengan bahan-bahan yang akan dipakai untuk perlombaan majalah dinding sekolah. Sebentar-sebentar dia menguap lebar. Lalu membentangkan tangannya sekedar melakukan gerakan senam ringan. Beberapa menit kemudian  ia kembali meraih keyboard komputer untuk melanjutkan mengetik.  Di atas springbednya bertebaran kertas-kertas HVS ukuran A4 selesai diprint. Dia belum sempat menyusun dengan rapi. Sedangkan hasil ketikan yang salah lebih banyak lagi jumlahnya di dalam sebuah kotak sampah berukuran sedang berwarna jingga. Iqsan TWEJ mengetik dengan ditemani penerangan lampu meja belajarnya 25 watt. Tik Tak Tik Tuk begitulah bunyinya. Setiap sepuluh menit sekali ia mencopot kacamata tebalnya. Framenya juga berukuran besar. Lensanya sedikit dihawa-hawain. Setelah itu diseka menggunakan tissue khusus. Oh ya di atas mejanya terpampang poto ketika masih tinggal di Amerika. Iqsan TWEJ memandangi potonya yang masih culun. Dalam kesunyian seperti inilah suka teringat kenangan bersama teman-teman bulenya.

“What are You doing now, San?” Terdengar suara seorang wanita. Terdengar lembut dari balik punggungnya. Tanpa terasa sentuhan tangan Maminya sudah menempel di pundaknya. Rambutnya anaknya yang berdiri menantang layaknya rumput alang-alang, dibelainya dengan penuh kasih sayang. Dasar anak kesayangan!

“I am writing a story about my experience.” Jawab Iqsan sedikit manja.

“Good. Boleh Mami tahu pengalaman tentang apa?” Sang Mami ingin tahu.

“Thank You Mom. Waktu masih tinggal di United Stated.”

“Oh iya? Banyak ceritanya? Ada satu buku?”

“Absolutely not Mom. Impossible. Kalau dihitung-hitung sekitar lima lembar.”

“Wow, amazing! By the way. What for tuh?”

“Ini Mom. Ada perlombaan majalah dinding di sekolah. Saya kan sebagai wakil ketua kelas kebagian tugas lebih banyak. Tipe anak-anak di sini beda banget sama teman-teman di US. Di sana mereka rajin-rajin, kreatif dan enerjik. Di sini pada malas-malas dan manja-manja. Padahal mereka juga pintar-pintar. Tapi budaya yang malas dan malu yang bikin Aku nggak suka.”

“Sudah dinikmati saja. Kita kan belum setahun di kota Palembang ini. Mami kira kamu kan masih terus perlu beradaptasi dengan kebiasaan di sini. Kalau kamu tidak betah Momi bisa kirim lagi kamu ke US. Up to You my San.”

“Tidak secepat itu Mom. Aku suka kuliner di kota ini.”

“ I know. Lets me guess. Pempek kan?”

“Absolutely Yes Mom. One hundred percent for You. Horeee…”

Bila kita simak percakapan ibu dan anak ini, serasa berada dimana gitu? Seperti menonton bilingual film ya?

Konon, keluarga Iqsan TWEJ pernah bermukim di negeri Paman Sam atau Amerika selama kurang lebih 7 tahun. Masa SD atau Junior high schoolnya dihabiskan di sana. Papinya seorang arsitek jenius yang bekerja pada perusahaan kontraktor asing. Selaras namanya, kontraktor, ya berarti doyan mengontrak dimana-mana, dikontrak di sana sini. Tapi gajinya dollar bo..Mirip-mirip anak kuliahan yasng ngekos deh. Komunikasi keseharian mereka menganut billingual language. Bahasa Indonesia di mix dengan bahasa Inggris versi Amerika. American English languge dikombinasikan dengan Indonesian language. Semarak euy..

“Look at that! What time is it now? Nanti kamu oversleep lagi deh.

“Belum masuk midnite show juga, Mom.” Kilah Iqsan TWEJ. Padahal dia lagu sekuat tenaga menahan kantuknya. Menjaga image di depan Maminya.

“Nonton film kali, pakai midnight segala. Pintu studio satu sudah ditutup. Silahkan tidur. Haha.” Canda Maminya Iqsan TWEJ.”

“You must be joking, Mom.”

“He-e. Okey. Jangan terlalu capek.” Maminya kembali membelai rambut anaknya lalu mengecup jidatnya. Cup cup cup. “Let me know when you have finished doing your article, Son.”

“Sure. Of course Mom. With my pleasure. Don’t worry.”

Ketika Maminya hendak beranjak ke luar kamar. Tiba-tiba Iqsan TWEJ memanggil Maminya dengan nada manja. Persis rengekan remaja khas Amerika pada umumnya.

“What’s wrong, honey.” Maminya terhenti di depan pintu sambil berbalik. “Anything else? What can I do for you.”

“Would you please close the door when you go out.”

Maminya mengangguk pelan sambil tersenyum.

Di sebuah perkampungan, Faisol Kribo tampak juga kena penyakit ‘sibuk berat’juga. Naga-naganya lebih sibuk ketimbang Iqsan TWEJ. Ceritanya dia juga berniat menyumbang sesuatu demi kemeriahan majalah dinding sekolah. Bukannya sibuk mengetik, akan tetapi dia mencari sesuatu . Kasak kusuk nggak karuan. Betul sekali, Faisol lagi panik akibat kehilangan sebuah buku berjudul ‘ tips menjadi gitaris handal dengan menggunakan dua jari’, yang baru saja dibelinya di toko buku Gramedia sepulang sekolah lenyap entah kemana. Ibu dan adiknya terheran-heran melihat tingkah Faisol nan heboh kayak KPK sedang melakukan aksi geleldah di rumah koruptor. Sekarang rumah mereka keadaannya mirip kapal perang pecah. Berantakan gara-gara seonggok buku? Dari teras depan, ruang tamu, kamar, ruang makan sampai ke halaman belakang terlihat awut-awutan kayak benang sulaman kusut. Buku-buku pelajaran sekolah yang tak bersalah turut menjadi korban keganasan ‘nafsu’ Faisol Kribo. Semua jadi serba salah dan semrawut. Tidak ada bedanya dengan tampangnya saat itu.

“Fendiiii!!” Faisol Kribo memanggil adiknya dengan nada sopran. Tinggi sekali. Suaranya sudah hampir parau setelah sekian jam mengomel, mengedumel dan memaki-maki.

“Ada masalah, Kak Brur?” Sahut Fendi tenang.

“Brar, brur! Memang Broery Pesulima! Sudah mulai kurang ajar sama Kakak, ya? Kepalamu kecebur nanti. Baru tahu rasa.” Tangan Faisol menjewer pelan  telinga  adiknya dan menggiringnya ke sofa secara paksa. Fendi berteriak lebay.

“Ad-douuuuh! Bisa melar nanti kuping saya.”

“Biar melar sekalian mirip kue kuping gajah. Biar dimakan orang sekampung. Masa bodoh. Ayo, kamu lihat nggak buku gitarku?”

“Lepaskan dulu dong…”

“Ngomong dulu..”

“Bagaimana mau ngo…”

Akhirnya Faisol tidak tega juga. Dia melepaskan jewerannya. Fendi langsung manyun sembari memegang teliganya yang sudah kemerah-merahan. “Idih ..luka nih.”

“Pelan begitu. Ayo, sekarang sudah kakak lepasin. Mengaku saja kamu memang meminjamnya ya kan? Kakak perlu banget itu buku. Kakak lebih menghargai orang yang jujur.” Desak Faisol Kribo tak sabaran.

“Tidak boleh menuduh sembarangan dong. Mentang-mentang menjadi kakak mau seenaknya berkuasa dan menindas adiknya. Swear kok. Fendi berani sumpah palapa deh. Tidak pernah tahu dan melihat buku apa tadi…‘membuat sumbu kompor ya?”

“Tips menjadi gitaris handal!”

“Kamu itu kalau tiap ditanya selalu bilang tidak tahu. Sekali-kali tidak..tempe kek. Nggak kreatif banget. Padahal tadi kakak lihat kamu gencrang gencreng melulu.”

“Saya memang main gitar tadi.  Bukan mainin buku. Apalagi baca buku’ amit-amit. Mending baca komik Doraemon. Fendi kan sudah jago main gitarnya. Tidak perlu text book lagi. Please deh ah.”

“Aduuuh. Jadi siapa dong? Hantu wewe yang nyolong.” Tanya Faisol kesal. Rambut-rambutnya dikucek-kucek hingga berantakan. E-eh tiba-tiba keluarlah sebuah buku dari dalam rambutnya yang super kribo itu. Sekarang giliran Faisol yang malu terhadap Fendi.

“Itu apa. Dia sendiri yang ngumpetin di dalam rambut kribonya.” Faisol pasrah saja ketika bantal sofa mengenai jidatnya. Kalau saja tadi tepat mengenai rambutnya, bisa-bisa Ibunya repot bakal kehilangan bantal.

“Aneh ya. Kok bisa ada di dalam rambutku. Kayak film kartun.” Batin Faisol.

Faisol menyimpan bukunya di atas lemari. Akan tetapi keesokan harinya ketika dicari buku itu lenyap lagi. Faisol kembali mendatangi Fendi yang sedang nonton film kartun Tom and Jerry.

“Nggak kapok-kapok ya nuduh saya lagi.” Tangkis Fendi menutup kedua telinganya. Dia masih teringat peristiwa kemarin.

“Kakak tidak menuduh. Cuma pengen kerjasama  menangkap pencurinya..”Bisik Faisol. “Siapa tahu kamu melihatnya.”

“Coba tanya Kak Fedrosa. Tadi Fendi melihat dia sedang training doinya main gitar di ruang tamu. Siapa tahu buku kakak ada di sana.”

Tanpa dikomando, Faisol langsung menyongsong ruang tamu. Dia sudah gemes pengen melabrak kakanya yang ganjen itu. Dugaan Fendi tidak meleset. Benar saja, di sana Faisol menyaksikan kakaknya sedang kusyuk mengajari pacarnya cara memetik gitar dengan menggunakan 10 jari. Kak Fedrosa dengan hati-hati menuntun jemari halus kekasihnya agar gapek memetik tali senar gitar. Buku yang tengah di cari oleh Faisol tergeletak di atas meja. Ternyata buku Faisol dijadikan panduan. Faisol merebut buku seenaknya. “Misi ya mbak Saya mau ambil buku.” Setelah itu langsung kabur. Kedua sejoli itu terkejut. Kemudian mata mereka sejenak saling berpandangan. Fedrosa hanya bisa mingkem.Melongo.

Sebentar kemudian Faisol Kribo sudah berada di depan meja belajarnya. Duduk manis di kursinya yang bisa diputa-putar 180 derajat. Oke, siap untuk mulai mengetik.

Beberapa anak yang kebetulan diserahi tugas oleh Iqsan TWEJ mulai bersibuk ria. Kasak kusuk kusuk kasak. Pada waktu yang bersamaan pada lokasi yang berbeda pula, terhampar wajah-wajah macam Iwan Mukejenuh, Yudo Gempul, Arleni dan Eveltinova menyibukkan diri juga di rumah mereka masing-masing.

Hari perlombaan kreasi majalah dinding tinggal beberapa hari lagi. Mereka yang ikut terlibat tidak mau membuang waktu lagi. Mereka tidak hanya ingin sekedar mengejar hadiah akan tetapi menyabet gelar ‘king of school bulletin board of the year’ itu lebih penting dan sangat krusial. Dipastikan dapat mendongkrak popularitas kelas mereka di mata kepala sekolah. Walaupun rata-rata anak kelas 1.3 kebanyakan badung tapi mereka bertekad untuk tampil serius. Masing-masing kelas punya kans untuk menjadi pemenang. Ini gelar lumayan pretisius. Disetiap rapat ketua kelas dan wali kelas tidak henti-hentinya berpesan agar serius dan tidak membuang kesempatan emas ini. Bukan saja berusaha sekuat tenaga, menjaga kekompakan dan keseriusan juga belajar memikul tanggungjawab.

Tekya baru saja menyelesaikan selembar karikatur bertemakan kritik tentang taman sekolahan yang mulai tandus, kering, tanpa rerumputan hijau. Selembar lagi sebuah intermezo berupa percakapan  humor, terakhir sebuah puisi gaya bebas. Mungkin menganut azas kebebasan atau kebablasan? Bebas di sini artinya asal-asalan tapi bermakna. Lho?! Penasaran? Coba kita intip yuk bait demi bait :

CANTIK NATURAL

Rambut hitam tanpa peacock (pengecat rambut)

Mata lentik tanpa eye shadow

Bibir merah tanpa sapuan lipstik

Belahan dagu bukan make over

Engkau impian jejaka

Lahir di dusun kecil damai

Wajah tak tersentuh kosmetika

Apalagi bedah plastik bikin ngeri

Di kota

Para dara berhasrat elok

Merasa muka penyok

Muka malah dipermak

Apadaya tambah rusak

Kondisimu orisinil

Fisikmu full pressed body

Bebas dempul

Sungguh alami

Tak pula boros

Oh, cantikmu natural

Idaman setiap insan

Sepertinya Tekya ingin tampil prima. Namanya juga pria punya selera kayak jargon ‘rokok’. Tekya tak ingin muluk-muluk Cuma berharap karyanya dapat mengispirasi orang. Satu lagi, mudah-mudahan para pelajar cewek khusus yang bertampang cakep dan imut-imut menyukai karyanya. Siapa tahu setelah perlombaan mereka akan berebutan meminta tanda tangan dan kecupan ringan. Hihihi. It’s my lucky day, harapnya.

Tekya merasa dia pantas mendapatkan semua itu. Dia ogah rugi. Dia rela menjebol duit tabungannya guna membeli kerrta kwarto satu rem, lima buah spidol berwarna, pulpen rapido. Setelah coba dihitung-hitung pakai kalkulator milik Papanya ternyata biayanya cukup fantastis! Sebanding dengan uang jajannya satu minggu. Maka, konsekwensinya paling tidak BEP (Break Even Point). Istilahnya balik bandar. Berkorban untuk moment yang seperti ini bernilai samar-samar kelihatannya kayak orang bodoh. Setiap sesuatu yang besar dimulai dari hal yang kecil. Setipa kesuksesan diawali banyak kegagalan. Lebih baik berbuat sesuatu dari pada hanya berdiam diri bermimpi tapi hanya memendamnya. Suatu saat akan menampakkan hasilnya. Jika diiringi dengan kesabaran. Ada malah yang ekstem, Biarlah  kehilangan masa mudamu daripada kehilangan masa depanmu. Ayo, pilih mana?

Satu hari menjelang perlombaan digelar. Ketika semua anak  kelas lain sudah pulang ke rumah masing-masing mengejar sepiring nasi, kelas 1.3 malah tampil beda. Mereka kelihatan kompak sekali menempeli kertas-kertas pada sebuah kotak kayu berjendelakan kaca. Anak-anak cewek lagi serius menghiasi setiap sudut kota segi empat itu dengan pernak-pernik yang unik, ditambahi mani-manik berwarna ngejreng. Tampang-tampang mereka serius sekali. Bekerja pada porsinya.

Ya, hari telah beranjak siang. Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Terlihat guru-guru dan karyawan di bagian administrasi sekolah mulai sibuk untuk makan siang. Beberapa guru ada yang membawa bekal makan siang dari rumah. Sedangkan yang lain menuju warung makan atau restoran.

“Seandainya saja boleh dikasih janur kuning, akan lebih cantik lagi.” Heri berkomentar.

“Hus! Nanti dikirain ada kawinan. Terus nanti pada ngantre makan prasmanan bisa berabe. Hehehe.”

“Kamu sudah kepingin kawin ya Her? Kamu musti sabar. SMA saja baru kelar dua tahun lagi. Belum kuliah makan waktu lima tahunan kalau lancar. Bayangin tujuh tahun, masih lama lho. “Agus Blepotan ikut nimbrung.

“Dia mau kawin muda kali.” Pancing Sri sembari merekatkan manik-manik pada kertas karton berwarna pink.

“Sudah Zoel kamu terima aja pinangan si Heri. “ Iqsan TWEJ yang sedari tadi diam akhirnya gatal juga pingin ngomong.

Heri mesem-mesem tertunduk malu.

“Hei, pak ketua kelas. Kapan kita makan siangnya nih? Masak kerja terus. Orang kuli bangunan saja sudah pada makan.” Tanya Yudo Gempul sembari membelai-belai perutnya Iwan Mukejenuh. Dia sudah bosan meraba perutnya sendiri.”

“Aku janji kalau sudah beres kita akan makan….di rumah masing-masing.” Mizal Bom Bom bersabda juga akhirnya.

Semua berteriak serempak. Woooo.

“Mizal bohong tuh. Teman-teman jangan kawatir hari ini kita akan makan siang di restoran Padang Sederhana. Iqsan yang traktir. Setujuuuu!!”

“Orang bodoh yang bilang tidak setuju. Lha wong ditraktir.” Teriak Pito loncat kegirangan. Kayaknya dia lagi krisis makan siang jadi paling gembira banget di antara anak-anak lain.

Semua memuji-muji Iqsan TWEJ setinggi langit.

Keesokan harinya. Tanpa terasa hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Semua kelas menyambut  perlombaan dengan penuh semangat dan sangat antusias. Apakah karena mereka ingin menyabet gelar atau hadiah bergengsi? Atau dengan niat hanya ingin berpartispasi saja. Ikhlas jika tidak menang juga tidak apa-apa.

Perlombaan digelar sampai sore. Para juri terdiri dari dewan guru dan Kepala Sekolah. Keputusan juri tidak boleh di ganggu dan digugat. Mereka langsung terjun ke lapangan menyaksikan majalah dinding hasil karya anak didiknya. Wali kelas masing-masing hanya boleh menilai kelas lain. Jadi dilarang menilai kelas asuhannya sendiri. Para juri itu mendatangi majalah dinding yang diletakkan secara berjejer tepat di lobby sekolah, kemudian mengamati dan memberikan penilaian secara objektif. Kriteria penilain cukup berat dan ketat. Yaitu selain menilai kontennya berbobot atau tidak, hasdil saduran atau asli, copy paste atau dari ide murni mereka sendiri.  Misalnya untuk artikel tertentu memerlukan suryey lokasi. Atau ada sumber lain yang menjadi bahan inspirasi namun dikembangkan lagi dengan ide-ide serta disajikan dengan kalimat sendiri.

Tampilan dari majalah dinding itu sendiri cukup mempunyai nilai yang besar sebagai faktor penunjang dan dapat mendongkrak nilai. Panitia lomba juga kelihatan sok sibuk. Mondar-mandir…seperti kita analogikan sebuah kapal mainan yang terbuat dari kaleng yang diletakkan di dalam baskom, ketika mesinnya dinyalakan, kapal itu akan bergerak maju, berjalan seakan berlayar, akan tetap jalannya hanya terbatas mengitari baskom. Ketika kapal itu  membentur dinding baskom lalu membal balik lagi ke arah semula.

Diam-diam santer terdengar banyak pujian mengalir untuk keelokan majalah dinding kelas 1.3. Terbukti dari survey on the spot, setiap jam istirahat banyak anak-anak berkumpul di lokasi mereka. Walaupun tak sampai berbondong-bondong tapi lumayan juga. Persis orang berkerumun melihat poster film di bioskop. Terlihat dari kepuasan yang terpancar dari wajah para pengnjung. Kadang mereka mengangguk-angguk. Kadang mereka berbisik-bisik. Kadang mereka juga tertawa cekikikan. Bahkan ada yang pengunjung yang saat datang sedang lapar berat ketika melihat majalah dinding kelas 1.3 langsung mendadak kenyang. Dikirain isinya menu restoran apa? Namanya juga barang baru atau ‘new entry’ jadi wajar saja.

Saat detik-detik pembacaan pengumuman pemenang oleh dewan juru semua yang hadir mewakili kelas masing-masing menanti berdebar-debur, cemas dan harap-harap tegang. Bak menanti hasil miss universe saja.

“Pemenang Perlombaan Katagori juara umum untuk ‘king of school bulletin board of the year’ adalah…KELAS SATU TIGAAA.”

Meledaklah tepuk tangan dari para penonton. Lobby berubah gegap gempita. Riuh. Rasa Gembira dan rasa haru bercampur aduk menjadi satu. Langit serasa kerlap kerlip. Bumi goncang gancing. Begitu gambaran keadaan emosional kelas 1.3.

Tak pelak, kebahagiaan sedang menghinggapi kelas 1.3 pagi itu. Jerih payah mereka selama  ini terbayar lunas. Mereka berlonjak kegirangan meluapkan kegembiraan. Tak disangka kelas yang selama ini berpredikat jelek ternyata mampu juga menorehkan prestasi. Dimana ada kemauan pasti ada jalan. Tak terkecuali para guru,mereka berdecak kagum. Awalnya kelas 1.3 dianggap sebagai kuda hitam atau sebagai penggembira.

Hari itu menjadi spesial buat Bu Juminten, selalu wali kelas, juga turut puas dengan hasil yang diperoleh, sehingga beliau banyak mendapat ucapan selamat baik dari rekan maupun dari murid-murid lain. Mizal berdiri mematung di pojokan, matanya tampak berkaca-kaca, ketika hendak menyeka cucuran keringatnya, sekonyong-konyong malah ditarik oleh teman-temannya, dibopong lalu dilemparkan ke udara sampai beberapa kali. Mereka berterika “Horeee horeee..”

“Alhamdulillah..” Akhirnya keluar juga suara teriakan balasan dari mulut Mizal Bom-Bom. Mari kita rayakan kemenangan ini dengan…Belum sempat ngomong Mizal Bom Bom dilemparkan kembali oleh temen-temennya ke udara tingi-tinggi. Dia sempat berteriak histeris, takut kalau-kalau nyangsang di langit-langit sekolah. Hihihik. Jantung serasa mau copot. Mukanya langsung pucat.

“Asiik. Dirayakan dimana kemenangan kita Bom?” Tanya Ferry kepada Mizal Bom Bom setelah aksi pelemparan ke udara selesai.

“Dirayakan dirumah masing-masinglah…”Jawab Mizal ketus. “Kamu hadir pas menang doang. Pas lagi sibuk kamu ada dimana Fer Fer?”

“Sorry. Aku merasa malu dan bersalah Bom. Aku tidak mengira kelas kita akan jadi juaranya. Makanya…”

“Habis kamu terlalu underestimate dan pesimis tentang apa saja. Kamu mengira kelas kita itu terlalu underground banget apa? Kamu salah besar Fer.”

“Jangan terlalu jauh menuduh saya seperti itu. Ingat Bom, kita sudah berteman sejak dari SMP. Jangan sampai persoalan sepele ini.”

“Fer..jangan terlalu menyepelekan sesuatu. Ujung-ujungnya kamu akan susah sendiri. Semua masalah itu tergantung bagaiman kita menyikapinya. Semua problema dalam hidup ini pasti ada solusinya. Ada way outnya. Percayalah. Yang penting kita jangan mudah untuk menyerah. Never give up.”

“Baik Bom. Saya mengaku salah. Aku bodoh sekali, sudah mengecewakanmu dan teman sekelas. Sekali lagi maafkan ya.”

“Okey. Kamu sedikit beruntung. Ungtungnya belum semua teman kita yang mengetahui pembelotanmu ini.  Fer..Mengapa Kamu tidak pede dengan prestasi kelasmu sendiri? Mengapa Kamu malah sibuk bergabung dan membantu kelas lain? Itu namanya tidak solider. Aku sudah menduga apa penyebabnya. Apalagi kalau bukan karena pacarmu ada di sana ya. Bukan begitu? Kamu tidak ada bedanya dengan penghianat Fer. Saat kami membutuhkan tenagamu kamu hilang. Lenyap secara tiba-tiba. Di saat kami menang kamu malah berteriak paling kencang. Hmm Lucu.”

“Maafkan Zal. Saat itu Aku seperti menghadapi sebuah dilema. Aku rasa kalau Kau berada di posisiku tentu akan merasa kesulitan juga. Sulit sekali menetukan pilihan. Percayalah Zal…Badanku memang berat di kelas pacarku tapi hati tetap tertambat di satu tiga. Kamu percaya kan Zal?”

“Gombal.”

Ferry terdiam. Hatinya tersentak juga. Mizal Bom Bom meninggalkannya begitu saja…Dalam kekalutan. Sebenarnya dalam hati yang paling dalam, kesalahan Ferry sudah dia maafkan. Hanya saja Mizal sengaja menggantungkan masalah itu demi mengetes sampai diamana kadar rasa penyesalannya saja.

Dua hari setelah hari kebahagiaan dan hari kekecewaan itu.

Bel istirahat pertama dimulai.

“Kok Tekya tidak kelihatan ya, Gus?” Tanya Yudo Gempul kepada Agus Blepotan. Mereka berdua sedang duduk-duduk di sebuah taman yang asri di pekarangan sekolahani. Dihadapannya terbentang sebuah kolam yang dipenuhi dengan ikan mas koki. Ikan-ikan itu bergelut dan berenang kesana kemari. Mulutnya membuka menutup mirip di jalur jakarta ke arah puncak.

“Tadi perasaan ada deh. Pas bel berbunyi Dia sudah kabur duluan. Mungkin doi lapar berat kayaknya.”

“Aneh, jarang ikut kita-kita ngumpul tuh anak. Kemana ya?”

“Kenapa mencari dia Yud? Kamu mau menagih hutang?”

“Ah nggak. Kalau nggak ada dia sepi. Nggak ada bahan ledekan. Hehehe.

“Dasar kamu. Eh Aku punya permen karet rasa pare mau?” Agus mengeluarkan sebungkus permen karet.

“Terima kasih Gus. Tidak usah, pahit. Lidahku nggak terbiasa.”

“Ya udah.”

Di sebuah taman yang lain, Tekya sedang duduk termangu sendirian di bawah rindangnya pohon akasia. Posisi duduknya nggak level sekali, yaitu mirip orang nongkrong di kloset untuk buang hajat. Tangan kanannya mencorat coret sesuatu di atas tanah. Ketika semua anak masih tenggelam dalam kegembiraan. Berkumpul dan bercengkrama bersama. Di saat itu pula Tekya malah mengasingkan diri dari kerumunan. Entah kesambet apa?

“Walaupun Aku tidak mengerti soal gambar menggambar…”Terdengar seseorang berbicara tepat di samping Tekya. Rupanya Denny Van Skuter, temannya yang berbeda kelas. “Tapi kalau boleh kutebak itu pasti gambar mata uang dollar. Benar tidak?”

Tak disangka Denny sedari tadi mengamati corat coretan Tekya di atas tanah merah.

Suasana hening sejenak. Kedua mata Tekya melirik ke samping. Dipandangnya mulai dari ujung sepatu merek Converse sampai ujung rambut kepirang-pirangan. Tekya  mendongakkan kepalanya. Tekya buru-buru menyipitkan matanya. Silau terhalang oleh sinar matahari siang itu.

“Kau rupanya Den..” Ucap Tekya pelan sambil tersenyum hambar. “ Aku pun bingung ini gambar apa Den? Aku hanya sedang menuruti kata hatiku saja. Tadi kamu tebak gambarku ini dollar ya? Oh ya. Bisa jadi ini mata uang dollar. Semoga menjadi kenyataan.”

“Amin. Tumben menyendiri kayak di film India saja lagakmu Tekya.” Denny Van Skuter pun ikut  duduk mensejajari duduknya Tekya.

“Lagi iseng saja.”

“Majalah dinding dari kelas kamu oke juga. Apalagi kartiktur buatanmu bagus banget.”

“Ah memuji atau meledek nih.”

“Serius. Ini pujian dariku. Sudah kuduga ini pasti gambarnya kamu. Siapa lagi. Sejak di SMP kamu sudah tergila-gila dengan pelajaran menggambar kan? Puisimu juga keren. Sarat dengan makna. Pokoknya kapan-kapan kamu harus mengajariku Tek. Sekali lagi selamat ya Tekya. “Denny VS menjulurkan kelima jarinya dan disambut hangat oleh Tekya. “Give me five Den      .”

“Makasih ya Den. Mading kelas kamu juga bagus kok. Hanya belum beruntung saja.”

“Oh ya Tekya. Sudah hampir memasuki bulan kedua kita bersekolah disini. Bayangkan baru sekarang Aku dapat bertemu denganmu. Serasa menemukan anak hilang. Tahu nggak? Busyet! Kemana saja, sibuk?”

“Alaaahh. Deni Deni. Kamu saja yang kuper. Tidak pernah keluar-keluar dari kelas. Mendekam melulu. Kayak ayam lagi bertelor. Kalau semedi di gunung sono bukan di kelas Den. Sekali-kali jajan di kantin dong. Memang kamu bawa bekal dari rumah? Dasar anak mama. Hehehe…”

“Siapa bilang. Orang Aku sudah menjajal semua pekarangan sekolah ini. Kantin mana yang belum Aku jelajahi. Pantes nggak pernah ketemu Tekya. Saya biasa jajan di kantin seberang sekolah. Makanannya bervariasi. Makan Pempek melulu juga ada bosannya.”

“Kok bisa Den? Kamu pasti manjat pagar sekolah ya? Setahuku pintu gerbang di kunci dan dijaga ketat oleh Satpam. Bukan begitu?”

“Pinter pinter kita saja. Bilang saja izin ada keperluan. Kadang-kadang pas istirahat suka dibuka. Tergantung sikonlah. Kadang juga memanjat pagar di belakang sekolah.  Kebetulan besi-besinya sudah pada keropos. Menyisakan lubang yang bisa dimasuki. Resikonya berat kalau kepergok guru. Bisa dijemur di lapangan basket. Ya sekali-sekali mencari suasana baru.”

“Ternyata kamu nekat juga. Beda banget chasing dengan kelakuan. Muka penipu. Huahua.”

“Daripada dibilang nggak kompak oleh temen sekelasku. “

“Padahal kekompakan bukan berarti  kita harus melanggar aturan dan menantang bahaya.”

“Sudah deh kotbahnya. Kita ke kantin luar yuuk. Aku sudah niat mau mentraktir kamu. Hitung-hitung mau menebus kesalahanku tempo hari. Sorry banget. Aku diajak bareng sama supir Papa. Eh sampai di sekolah baru ingat ada janji sama kamu. Bukan disengaja lho?!’

“Oohh itu. Ya ya.” Tekya mengangguk-angguk tanda mengerti.

Lantas Denny menarik paksa lengan Tekya. Mereka bergegas ke kantin di seberang sekolah. Tentulah setelah meminta izin dengan penjaga pintu gerbang dengan alasan untuk pergi ke tukang potokopi. “Buruan Den. Waktu tersisa 15 menit lagi.”

BERSAMBUNG KE SERI 4

BOXING TIME-ULAH MIKE TYSON DAN LARRY HOLMES?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s