SERIAL MASA SMA MASA BODO? dalam ‘BOXING TIME-ULAH SI LEHER BETON MIKE TYSON VERSUS LARRY HOLMES DI SEKOLAH TEKYA’

Siapa yang tidak mengenal sosok petinju kondang Mike Tyson? Khusus penggemarnya pasti tahu betul track recordnya seperti profilnya, gaya bertinjunya, kehidupan sehari-harinya, kehidupan percintaannya, prestasi yang telah ditorehkannya, bahkan catatan kriminalnya.

Waktu itu tanggal 22 Januari 1988, TVRI menyiarkan secara langsung pertandingan spektakuler yang ditunggu-ditunggu itu antara Mike Tyson kontra Larry Holmes. Siapakah yang menjadi jawaranya? Di ronde berapakah salah satu dari mereka ada yang Knock Out?

Lantas apa hubungannya pertandingan tinju ini dengan serial ‘Masa SMA Masa Bodo?’. So pasti ada. Pokoknya satu sekolah dibikin kalang kabut oleh si Tyson ini. Kok bisa? So what? Apakah dia sedang mengunjungin Indonesia waktu itu? Maka kita simak bersama cerita yang makin seru ini.

(Mohon maaf apabila ada kesamaan nama dan lokasi bukan suatu kesengajaan)

Oleh : Deddy Azwar

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tahu Mike Tyson kan? No, dia bukan stand up comedy. Betul tebakanmu dia adalah petinju terkenal di dunia. Saya akan mengajak para pembaca untuk flashback sejenak. Bagi yang tergila-gila dengan pertandingan tinju so pasti mengenal nama-nama seperti Calsius Clay alias Muhammad Ali, Evander Holyfiled, Rocky Marciano, Mike Tyson, Hasim Rahman, Prince Naseem dan Larry Holmes. Sebenarnya masih bejibun deretan para petinju profesional dunia lainnya. Semuanya adalah nama petinju terkenal di zamannya. Mereka adalah legenda.

Disamping tontonan sepak bola, tontonan tinju juga selalu dinanti oleh para para penggemarnya. Bayangkan kerap ada pertandingan tinju, wabil khusus yang lagi berlaga merupakan petinju top. Apa yang terjadi? Biasanya akan membius semua orang untuk bela-belain menontonnya. Jalan-jalan di kampung-kampung maupun di kota-kota berubah menjadi hening dan sepi. Semua berduyun untuk menonton baik itu secara langsung di ring tinju maupun di televisi. Tiap orang  ogah melewatkan momen spesial itu. Mereka berebut ingin menjadi saksi sejarah. Biasanya kalau sudah di depan televisi, membuat mata mereka melotot. Para penganggum tinju, langsung menjadi tertib dan kusyuk banget. Mereka melahap detik demi detik, menit  demi menit dan dari jam demi jam. Bahkan untuk mengangkat pantat saja mereka ogah. Mungkin ada yang sampai menahan kencing. Luar biasa!

Lantas, setelah pertandingan usai, materi tinju dipakai untuk sebuah percakapan, kongkow atau obrolan dimana-mana. Virusnya tidak hanya di sekolah, di kampus, di kantor dan dimana-mana. Manakala mereka tidak tahu berita terkait tinju terbaru, bisa-bisa di olok-olok dan dicemooh alias kuper dan tidak gaul.

“Semalam tinju di tipi seru banget dah? Lha buju! Gini hari lu kagak update berita? A-appaa? Elu nggak nonton? Rugi lu. Emang ngapain? Ngangon bebek? Menggiring mereka ke kandang ya?” Ini salah satu beragam contoh olok-olok yang rada ekstrem dikit yang akan diterima.

Ya, boxing itu bisa membius. Jadi, bukan hanya wewenang dokter saja.

Siapa yang mengenal sosok Mike Tyson? Seorang petinju bertalenta super, juga terkenal dengan julukan si leher beton. Kabar gosip yang beredar layangan bogemnya dapat menghentikan sebuah mobil yang sedang melahu. Wow, fantastis! Berikut boleh disimak artikel yang dikutip dari blog milik petinju lendaris dari Indonesia yaitu Bang Syamsul Anwar harahap…

Mike Tyson lahir di Broklyin, New York tanggal 30 Juni 1966 dan hidup liar sebagai anak gelandangan dijalanan kawasan Brownsville. Ayahnya meninggalkan keluarganya ketika dia masih dalam kandungan. Ketika berusia 10 tahun Tyson kecil sudah akrab dengan perkelahian untuk menjadi preman yang berpengaruh.Masuk perawatan anak-anak nakal berulang kali dan terahir dimasukkan ke Tryon School for Boys, dimana dia berada hingga usia 13 tahun. Salah seorang pengawas disana, Bobby Stewart melihat potensi yang ada pada tubuh Tyson yang begitu tegap dengan otot yang baik. memperkenalkannya kepada Cus D’Amato. Cus D’Amato adalah manager dan pelatih tinju yang melahirkan juara dunia seperti Flyod Patterson dan Jose Torres. Mike Tyson diserahkan kepada Cus D;Amato pada ulang tahunnya yang ke-14. D’Amato mempunyai anggota yang cukup baik untuk menyokongnya sebagai pelatih, yaitu Jim Jacobs dan Bill Cayton. Bersama kedua orang itulah Tyson diperkenalkan bagaimana tehnik dasar bertinju serta mereka menonton film pertandingan tinju. Usai menonton, mereka menganalisis penampilan setiap petinju dengan argumen masing-masing. Mereka kemudian mengambil kesimpuilan bahwa Tyson harus bisa tampil sebagai petinju dengan gaya fighter bahkan mendekati gaya slugger karena tubuh Tyson termasuk pendek dari semua petinju kelas berat yang ada. Tyson muncul di ring tinju amatir dengan kemenangan yang meyakinkan, akan tetapi ketika seleksi untuk persiapan tim Olympiade Seoul dia kalah dan terlalu lama untuk menunggu Olympiade berikutnya .Mike Tyson terjun ke ring tinju pro pada bulan Mei 1985 dalam pertandingan kecil yang diatur oleh Jacob dan Clayton. Semula pembina Tyson amat menjaga agar Tyson tidak tampil dalam acara televisi nasional, agar Tyson bisa tampil dengan penampilan luarbiasa jika disaksikan untuk pertama kalinya oleh publik.Dari 15 pertandingannya pada tahun 1985, 11 lawannya dipukul KO pada ronde pertama. Tahun 1986 dia memenangkan 13 pertandingan tanpa terkalahkan. Trevor Berbick jatuh bangun dihajarnya pada ronde pertama dan pada ronde kedua Berbick harus menyerahkan sabuk juara dunia tinju kelas berat versi WBC kepada Mike Tyson. Mike Tyson memecahkan rekor Floyd Patterson sebagai juara dunia tinju kelas berat termuda. Usia Mike Tyson ketika merebut gelar juara dunia tinju pada usia 20 tahun dan 145 hari. Dalam tempo 10 bulan kemudian setelah menjatuhkan Berbick, Tyson menyatukan semua gelar juara dunia dipinggangnya. James Douglas juara dunia tinju kelas berat versi WBA sudah takut duluan, dia terus merangkul Tyson agar pukulan Tyson tidak leluasa menghajarnya. Tony Tucker juara dunia tinju kelas berat versi IBF juga ketakutan melawan Tyson dan bermain safe dengan merangkul Tyson lebih banyak.

Mike Tyson memiliki otot yang kokoh, dari otot yang kokoh tetapi lentur itu bisa melahirkan pukulan yang amat cepat menyambar sasaran pada tubuh atau kepala lawannya. Dengan tubuh yang lebih pendek dari hampir semua petinju kelas berat dunia, kepala dan badannya naik turun dan bergerak kekiri dan kekanan agar tidak mudah dibidik oleh lawan. Pergerakan badannya kekiri dan kekanan juga sekaligus ancang-ancang untuk melepaskan hook kiri atau hook kanan. Gaya bertinju seperti ini adalah kreasi dari Cus D’Amato yang disebut dengan peek-a-boo Kekuatan pukulan Tyson bisa membuat lawnnya KO jika kena pada bagian apapun, baik kepala maupun badan lawannya. Ahirnya hampir semua petinju kelas berat dunia takut terhadap Mike Tyson.

Tetapi dikemudian hari setelah Cus D’Amato meninggal dunia, kehidupan Mike Tyson menjadi limbung, tidak terkontrol. Mike Tyson seperti kehilangan kendali hidup dan terjerumus dalam kehidupan yang tidak sesuai dengan tuntunan Cus D’Amato’ Sedikit demi sedikit kemampuan bertinjunya menurun seiring dengan tidak terfokus lagi latihannya.

Gaya bertinju Mike Tyson ahirnya bisa diatasi oleh Evander Holyfield dengan caranya sendiri. Kalau takut melawan Mike Tyson sudah pasti kehilangan separuh tenaga, kalau berani melawan Tyson secara frontal berarti Tyson kehilangan separuh tenaganya. Mike Tyson menggempur Evander Holyfield dalam pertandingan pertama kereka di Las Vegas, tanggal9 Nopember 1996. Holyfield menahan serangan Tyson dengan membangun double-cover. Berkali-kali pada ronde pertama dan kedua pukulan Tyson tidak berhasil menembus pertahanan Holyfield dan Holyfield tenang-tenang saja seperti tak gentar. Ahirnya Mike Tyson frustrasi, tidak bisa berbuat banyak, sebaliknya Holyfield bertambah tinggi mentalnya. Holyfield membangun serangan beruntun terhadap Tyson, pukulan Holyfield beberapa mengena. Tyson tambah frustrasi karena tida dapat berbuat apa-apa, pukulannya tak mengena, pertahanannya dijebol oleh Holyfield. Kebetulan bertarung jarak dekat dan kepala Holyfield menempel di bahu Tyson, Tyson menggigit kuping Holyfield hingga berdarah. Yang terlihat kuat dan kokoh ternyata tak sekuat yang diduga oleh banyak orang. Orang yang kuat, petinju yang kuatnya luarbiasa, ternyata memiliki kelemahan yang luarbiasa juga. Bayangkan, hanya dengan menahan 10 pukulan keras Mike Tyson, Holyfield bisa mengalahkan Tyson. Dengan menahan pukulan Tyson, mental bertanding Tyson menurun tajam, sekaligus tenaganya juga anjlok tajam. Ternyata dalam dunia tinju erat hubungannya antara takut atau kesal dengan tenaga. Kalau kita takut, tenaga akan hilang, kalau kita kesal juga bisa membuat hilang konsentrasi dan sekaligus juga hilang tenaga.

Kalau tidak salah pertandingan antara Mike Tyson vs Larry Holmes yang berlangsung tanggal 22 Januari 1988, menjadi kenangan kita semua.  Kala itu saya sedang duduk dibangku SMA, dan tentu sedikitnya berpengaruh pada jam pelajaran kami pada waktu itu. Penasaran siapa yang menjadi jawaranya? Simak ceritanya..

Beberapa akhir pekan ini Tekya punya kebiasaan baru yaitu mulai jarang di rumah. Entah apa penyebabnya dia tidak betah di rumah. Setiap selesai jam makan malam, dia langsung ngelayap kabur. Kemana lagi kalau bukan ke rumah temen barunya yang baru pindah dari Karawang, bernama Zakaria alias Jack Challenger alias Opah. Nama julukannya sih keren. Berbanding terbalik dengan mukanya yang cendrung chubby. Uniknya, walaupun berusia muda belia  karena masih SMA, si Jack ini  biasa dia dipanggil Opah. Bukannya sebutan opah itu diperuntukkan untuk orang yang sudah uzur atau mendekati kakek-kakek. Betul tidak? Usut punya usut ternyata itu anak bernama lengkapnya Moustofa Zakaria.. Asumsinya kalau menilik dari namanya mestinya bertambang macho. Mantan cowok atau machomblang? Nama yang menipu. Rumahnya si Opah ini menjadi tempat permainan keduanya setelah rumah si Koming. Jack Opah, tetangga anyar di kampung kemang manis, baru saja empat bulan menjadi  warga di sana.  Jarak yang diperlukan untuk ke rumah Koming hanya lima langkah saja. Beda halnya ke rumahnya Jack cukup 10 langkah perjalanan, ditempuh dengan berjalan kaki dong. Lokasi rumahnya tepatnya persis di bawah rumah Tekya. Bingung ya, rumahnya terletak di dataran rendah sedangkan rumah Tekya di dataran tinggi. Sehingga kita harus menuruni jalan setapak  untuk bisa sampai ke rumahnya. Itu sekelumit data georafisnya.

Ketika musim penghujan tiba, apalagi kalau curahnya cukup deras, rumah Jack Opah seringkali kedatangan tamu yang tak diundang dan tak diharapkan bernama BANJIR. Kehadirannya suka semaunya tanpa permisi. Tanpa pilih bulu. Tanpa memandang situasi dan kondisi. Suka masuk ke dalam rumah lalu menelusuri ruangan-ruangan lain. Yang membuat jengkel, tak ada rasa sopan santun sedikitpun…

Anehnya, sebelum rumah Jack berdiri, disana tidak mengenal istlah banjir kok. Paling juga berupa genangan air saja. Tetapi semenjak rumah Jack dibangun, timbullah bencana itu. Karena sudah terlanjur basah, orangtua Jack belum berniat pindah lagi. Kesimpulannya, mereka menerima dengan sabar dan ikhlas atas peristiwa banjir yang selalu hadir tiap musim hujan. Mereka berusaha melewati dengan kuat dan tabah. Ibarat kata bubur telah menjadi hamberger!

Seperti kejadian malam kemaren, seisi rumah Jack dibuat kerepotan tak ketulungan, termasuk Tekya juga ketiban sial, yang kebetulan iseng bertandang ke sana, turut sibuk bahu-membahu mengusir air yang menggenang masuk ke ruang tamu. Jack beserta kakaknya, Jackpart terlihat menguras air dengan bantuan gayung dan selang panjang. Sedari tadi Jack, menghisap ujung selang dengan sekuat tenaga, agar supaya air masuk ke dalam selang dan mengalir ke luar pada ujungnya. Cukup tradisional dan bikin nafas tersengal. Sekali waktu Tekya pernah melihat cara itu dari tukang penjual minyak tanah keliling. Resikonya, bisa saja tertelan air atau minyak hasil sedotan tadi. Lumayan vitamin. Meskipun air perlahan terkuras, meninggalkan jejak,  yaitu kotoran sisa banjir. Belum lagi halaman dan jalanan jadi becek. Bikin kocek lecek.

“Terima kasih ya Tekya, kamu sudah rela berbasah dan berkotor ria membersihkan lantai rumah kami. “ Ucap Ibu Jack, sembari membawa nampan berisi pisang goreng.” Silahkan dicicipin pisang goreng buatan Ibu, biasa dari kebun binatang eh belakang maksudku.”

Tekya bergembira sekali disuguhi pisang goreng mentega beroleskan coklat buatan Ibunya Jack yang terkenal nikmat. “Waduh, terima kasih Bu. Dari aromanya pasti nikmat nih. Sudah merepotkan.”

“Kamu ini lucu lho Tekya. “ Sela Jack. “Kami ini yang sudah merepotkan kamu. Bukankah kamu sudah membantu kami untuk bersih-bersih. Kami sekeluarga sudah seharusnya menghaturkan banyak terima kasih.”

“Oh ya. Sudah sewajarnya kita saling membantu antar tetangga. Bantuan saya ini tidak perlu dibesar-besarkan. Nanti saya tidak dapat pahala lho.” Jawab Tekya diplomatis. “Sudah barang tentu karena kita hidup di dunia ini tidak sendiri toh.”

Jack Opah bergegas menuju dapur. Tidak lama kemudian dia keluar membawa dua cangkir kopi susu hangat dan sepiring buah duku komering, berbentuk bulat berwarna kekuning-kuningan. Betul betul mengundang selera.  Tak lama kemudian dia datang membawa beberapa lembar surat kabar dijepit di bawah ketiaknya. Lalu di mulutnya tersumbat satu biji pisang goreng yang tak sempat dikunyah. Dikulum doang.

“Waduh! Tidak perlu repot-repot, Jack. Keluarin aja semuanya yang ada di dapur.”Canda Tekya. “Pisang dari Ibu kamu saja sepertinya sudah bikin kenyang.”

“Ayolah Tekya. Bukan apa-apa sih. Malam ini kamu saya servis abis deh. Tapi kamu jangan ge-er dulu. Ini buah duku adalah sisa-sisa buah reject dari pasar segar dua hari yang lalu. Mubazir daripada saya buang ke selokan. Syukur-syukur masih bagus dan tidak bikin sakit perut. Ayolah dicicipin ya. Jangan lupa baca bismillah dulu biar selamet. Hahaha.” Jack Opah tertawa lebar. Udel  yang gendut itu nyaris tersembul gara-gara baju kaosnya yang ketat sedikit tersingkap.

Tekya langsung mencomot satu buah dukuh yang ternyata telah bersuhu dingin. Mulailah terbit air liurnya karena lapar. Kemudian diteguknya pelan-pelan kopi susu hangat yang nikmat itu. Takut keburu dingin.

Di tengah kepenatan mendera. Di tengah leseh-leseh, riak-riak amukan kejenuhan melanda.

“Jack, apa kamu nggak punya bacaan-bacaan?” Tekya membisikkan sesuatu ke telinga si Jack Opah.

Jack Opah hampir terlonjak ke belakang, kursinya nyaris terjungkir balik saking kagetnya. Otomotis Tekya juga malah lebih kaget lagi setelah melihat reaksi emosional temannya.

“Bacaan? Mantra-mantra maksudmu? Yang buat meletin cewek, ya? Eleng-eleng. Dalam agama Itu sirik namanya. Dosa yang sulit diampuni. Dosa besar gitu deh. Wajib kita menjauhi yang berbau praktek2 perdukunan. Nyebut Tekya…” Jack Opah malah ngerocos kemana-mana.

“Aduh! Jangan overacting begitu Jack. Ini payahnya kalau komunikasi dua arah tidak relevan. Tidak nyambung alias disconnect. Yang kumaksud bacaan itu adalah seperti majalah kek, koran kek, cerpen kek, novel kek, bengek kek. Bukannya mantra yang dipakai dukun cabul tahu?!, Blo-on. Pokoknya bacaan. Masak kita Cuma bengong-bengong saja. Nonton tipi acaranya begitu-begitu saja. Bosan Jack. Nanti kita dikira bujang pingitan lagi.“

“Itu ada koran di atas meja di sampingmu.” Jack Opah sambil menunjukkan jari telunjuknya.

“ Itu koran  ekonomi dan bisnis kan. Aku kurang tertarik, kalau doyan sudah dari tadi sudah kubakar eh kubaca Jack.

“It’s so very easy Tekya. Keciil. Kalau menyangkut soal media massa, publikasi dan informasi di sini gudangnya.”

“Kamu ngomongin apa Jack?”

“Dengerin ya. Saya punya semua mass media. Kamu maunya apa? Tinggal sebut saja. Pos Kota? Majalah Tempo? Tabloid Monitor? Koran Kompas? Majalah Bobo? Tom tam?”

“Apalagi….?” Tekya begitu antusias. “Gila, rumahmu ini loper koran?”

Sampai pada suatu ketika Jack Opah membisikkan dan menawarkan sesuatu. “Playboy?”

“Hah! Apa Aku tidak salah dengar nih? Masak kamu menyimpan majalah Playboy? Bukan majalah tentang mainan khusus anak laki-laki kan?” tanya Tekya semakin penasaran seraya membetulkan posisi duduknya. Gayanya serupa orang panik. “Mana-mana?”

“Bukan majalahnya Tekya. Tapi parfumnya…” Jack Opah mesem-mesem. Dia puas telah mengelabui temannya.

“Sontoloyo. Ember lu.”

Jack Opah cekikikan. “Tunggu ya Tekya… Saya mau ambil mantra-mantra dulu. Biar kita tidak kebingungan dan kebengongan.”

Usai makan malam. Suasana di rumah Tekya sedikit terjadi kehingar bingaran. Mamanya lagi marah besar.

“TEKYA! Tekya!” Kemana sih anak itu? Apa dia lupa kewajibannya malam ini? Tabel giliran untuk cuci piring sudah dibuat dan disepakati. Eh-eh malah dimushola.”

Papa yang sedari tadi asik tengah membaca surat kabar, jadi terusik lantaran teriakan Mama yang ribut dari arah dapur. Papa melipat korannya, dengan serta merta menemui Istrinya.

“Ada apa Ma? Kok mengomel. Mama mama, ngomongnya malah ngelantur. Bukan dimushola tapi dilanggar. Kata yang tepat adalah dilanggar. Jadi, peraturan yang Mama buat itu dilanggar kan?” Papa buru-buru membetukan ucapan istrinya.

“Mama tahu Pa. Tidak boleh main plesetan apa?”

“Mama kayak anak muda saja. Lagian kalau jalan tidak licit manabisa kepeleset. Masa remaja Mama sudah lewat.”

“Ee, ini. Tekya mulai bandel. Ngelayap kemana sih? Malam ini giliran dia mencuci piring.”

“Lho, memangnya dia kemana Ma?”

“Papa ini komedian ya? Lucu. Mana Mama tahu Pa. Bagaimana sih Papa ini. Seandainya kalau tahu mana mungkin Mama sampai teriak-teriak begini.”

“Sudah. Change place saja dulu sama si Evan. Tukar guling eh tukar tempat maksudnya.”

“Apa dia mau ya..”

“Yaa, itu jalan satu-satunya. Dugaanku dia mungkin main ke rumah Koming Ma.”

Setelah dibujuk oleh Mama, Evan mengangguk lesu. Mama terpaksa melimpahkan tugas negara rumah tangga itu kepada Evan yang sedang konsentrasi dengan pelajarannya.

“Apes nian nasib saya. “Ujar Eva mencak-mencak. “ Evan lagi Evan lagi. Padahal kemaren malam Evan sudah kan Ma? Mestinya giliran si Uda. Kepengin Evan pukul pantatnya.”

“Iya Mama tahu. Pokoknya sekarang Udamu sedang tidak di rumah.”

“Biar Evan cari dulu ya Ma? Dasar Kakak yang tidak bertanggungjawab. Huh!”

“Sudah Van, tak perlu. Tadi sehabis makan tadi dia langsung ngeluyur entah kemana. Tidak pakai izin dulu. Atau ngobrol kek. Kamu gantikan dulu ya, nak. Besok-besok tugasnya jadi dobel.”

“Iya deh. Oh ya Ma, hampir Evan lupa. Padahal besok ada hapalan bahasa Inggris lagi. Kami nanti diminta ke depan kelas satu-satu. Malu kan Ma, kalau sampai lupa.”

Evan masuk ke dapur untuk menemui setumpuk piring-piring kotor yang telah menantinya. Seakan minta dimandikan. “Gara-gara si konyol itu semua hapalan bahasa inggris  yang nyangkut di otak jadi keluar semua. Awas saja. Astagfirullah, kok Aku jadi menyumpahi dia ya?”

Setelah menunaikan tugas. Evan menghadap Mamanya yang sedang serius menikmati sandiwara di televisi. “Mama! Sudah beres. “ Lapor Evan dengan semangat kemerdekaan.

“Anak pintar. Bersih kan?”

“Pokoknya kinclong deh Ma. Dijamin 70 persen.”

“Lhaaa…Kok bisa begitu. Bukannya 100 persen.”

“Hihihi…Ma tiada yang sempurna di dunia ini. Ma, pokoknya kalau si Uda pulang harus dikenakan sanksi atau hukuman. “Rengek Evan.

“Apa hukuman yang pantas?” Tanya Mama sambil tetap melototin televisi.

“Yang enteng saja. Dirajam seratus kali?”

“Astaga jangan itu namanya tidak berprikemanusiaan. Menurutmu lebih baik digantung saja di bawah pohon petay.”

“Hahaha. Betul. Setelah itu kita kitik-kitik pinggangnya.”

Ternyata Tekya masih betah mendekam di rumah Jack Opah. Belum terlintas niat untuk pulang.

“WAH! ADA TINJUU!!” Teriak Jack Opah sembari menunjukkan halaman muka sebuah llembaran koran kepada Tekya. Kebetulan redaksi menjadikannya sebagai tajuk laporan utama mengangkat berita menjelang pertandingan perebutan gelar tinju.

“Tinju? Siapa yang berantem?” Tekya menoleh ke kiri dan ke kanan. Wajahnya menampakkan kelinglungan.” Oh berita di koran. Bikin orang kaget saja.”

“Tekya. Saya bisa rugi.” Ujar Jack Opah sambil menepuk pundak Tekya. Dia tidak dapat menyimpan kegembiraannya. Jack Opah memang maniak tinju dan sepakbola.

“Rugi? Apanya yang rugi Jack? Kamu kalah judi berapa?” Tanya Jack masih belum mengerti. Tekya kembali dibuat bingung oleh ucapan Jack Opah. Maklum keduanya belum terlalu lama menjadi sahabat. Perlu adaptasi menuju tingkat kecocokan.

“Begini Tekya. Besok sabtu disiarkan pertandingan tinju di TVRI. Mike Tyson yang berjulukan si leher beton itu akan melawan Larry Holmes. Nih baca deh korannya. Horeee.  Bakal seru, haru dan biru.” Ucap Jack Opah bersemangat sekali.

Sekonyong-konyong Tekya merebut koran dari tangan Jack Opah. “Mantap nih. Crazy! Dalam sejarah pertinjuan, Muhammad Ali pernah didepak si Larry. Ini kabar gembira namanya. Malah untung, bukan rugi.”

“Alaaa, kamu belum mengerti maksudku. Pertandingan sabtu nanti disiarkan secara live oleh TVRI. Percuma, Tekya. Masalahnya sabtu kan kita sekolah. Kamu kepengen bolos?”

“Gimana ya…Kenapa tidak diundur hari Minggu saja ya. Sayang jika dilewatkan.”

Keduanya tampak tidak bergairah. Masing-masing mulai bermodus jelek. Berpikir dan mencari alasan untuk tidak masuk sekolah. Mereka menyesali kenapa masih berstatus masih sebagai murid saat ini. Coba kalau sudah dewasa, tidak perlu capek-capek belajar dan bersekolah lagi. Berstatus menjadi karyawan atau wiraswasta akan lebih memudahkan untuk menonton tinju. Mereka tidak perlu repot-repot harus meminta izin kepada orangtua. Menjadi orang dewasa tentu lebih bebas karena sudah dapat mengatur diri sendiri. Menjadi orang dewasa lebih menguntungkan dibandingkan menjadi anak sekolah. Mereka mulai berkhayal yang bukan-bukan. Predikat sebagai murid sungguh menyusahkan. Andai Tekya dan Jack Opah tahu bahwa semakin dewasa seseorang tentunya porsi kewajibannya pun tentu lebih banyak dan besar juga. Menjadi dewasa juga tidak mudah. Mereka mempunyai tanggungjawab untuk menghadapi masa depan. Mencari uang, mencari kerja dan menghidupi keluarga andai dia telah mempunyai keluarga. Masing-masing jenis usia sudah ada kodratnya.

Di sebuah lokasi perkampungan yang terletak sekitar beberapa kilometer dari perumahan Jack dan Tekya.

“Kakak  serius ingin memindahkan televisi kita dari rumah?”Tanya seorang wanita muda kepada Suaminya, Ismail. Sang suami hanya mengangguk dan berdehem kecil. Sang istri terus membuntuti langkah kaki suaminya, kemanapun dia berjalan. Begitupula halnya ketika sang suami hendak menuju ke kamar mandi. Istrinyapun langsung tersadar dan berhenti hanya di depan pintu. Kak Mail yang semula ingin menutup pintu jadi terhalang.

“Kak Mail belum menjawab pertanyaanku. Sudah dipikirkan masak-masak Kak?”

“Sudah Dik. Kakak mau mandi dulu. Malahan mikirnya sampai gosong saking matangnya. Persoalan membawa tipi ke kantin saja nanyanya sampai sebegitunya. Bagaimana kalau saya ingin memindahkan rumah kita ke sekolah, Dik. Bisa-bisa kamu kelojotan setengah mati.”

“Sampai kapan Kak tipi kita ada di kantin?”

“Tidak lama. Kakak hanya ingin menonton pertandingan tinju Mike Tyson saja. Nanti kalau sudah selesai kubawa pulang lagi.”

“Betul ya. Jangan sampai lupa. Kasihan si Tohir, dia kan doyan nonton film kartun si Puma”

“Padahal kamu yang ngebet kan? Tiap malam hobinya nonton sinetron melulu.”

“Hati-hati Kak jangan sampai anak-anak sekolah tahu. Bisa-bisa mereka pada kumpul di kantin nanti buat nonton tinju. Kalau kelas sampai kosong bisa gawat, Nanti Kak Mail bisa ditegur oleh Kepala Sekolah.”

“Kamu ada-ada saja. Saat pertandingan tinju berlangsung bertepatan dengan waktu anak-anak belajar kok. Jadi aman.”

“Kalau ada rezeki, kita beli satu lagi ya Kak. Khusus untuk di kantin. Biar ada hiburan.”

“Amin. Ya sudah, sekarang Adik mundur beberapa langkah. Kakak mau menutup pintu. Mau sekalian ngebom dulu baru kecibang kecibung.”

“Oh ya Adik lupa kirain kita sedang di kamar.”

Mari kita tengok sejenak suasana kelas 1.3 pagi ini. Hening dan sunyi. Kelihatan dari banyaknya tempat duduk masih banyak yang kosong, dalam artian majikan si bangku belum pada datang. Mungkin masih on the way. Yudo Gempul dan Arleini salah satu pengecualiannya. Entah angin apa yang membawa mereka untuk datang lebih pagi ke sekolah. Dikala teman-teman sekolah belum kelihatan ujung jempolnya, keduanya justru sibuk merumpi jarak jauh. Yudo, anaknya yang berbodi subur lagi besar ini sedang nangkring di meja guru. Sementara Arleini cukup puas duduk di bangku murid di barisan paling depan. Mumpung suasana masih sepi. Kapan lagi Yudo bisa mencicipi kursi guru. Duduk dimanapun tidak ada yang protes. Tinggal pilih. Sesekali Arleini berteriak, karena suaranya tergolong sofly sound. Kalau dia ngomong very slowly nyaris tidak terdengar.

“Len..kenapa sih suaramu halus bener. Kencengin sedikit volumenya dong. Biar Aku kedengaran kamu ngomong apa. Radiasinya tidak sampai kemari.”

“Siapa suruh duduknya berjauhan.” Sela Arleini manja.

“Kamu maunya kita duduknya mepet-mepet kayak di oplet (angkot). Mau dong. Aku kesana ya. “ Mata Yudo berbinar-binar. Senyumannya mengembang bantet kayak kue basah.

“Eiitt. Tunggu dulu. Jangan pindah duduk. Nanti kita disangka sedang ngapain.” Cegah Arleini secepat kilat, takut Yudo terlanjur bernafsu. Arleini mengelus dada. Yudo Gempul sontak kecewa berat. Hati-hatinya tadinya berbunga-bunga dan merekah mendadak melayu. Arleini melanjutkan…”Husss…namanya saja kita lagi merumpi. Kan serba rahasia. Top secret. Harus pelan bicaranya. “

“Kamu ini orang planet ya, Len. Dimana-mana orang merumpi duduknya harus dekat-dekatan dong. Biar tidak terdengar orang. Kalau berjauhan begini, tahun depan baru kelar gosip kita.”

Memang, Yudo Gempul dan Arleini sedang membicarakan situasi panas permusuhan antara Mizal Bom Bom dan Ferry Handsome. Bukan menjadi rahasia umum lagi. Persahabatan yang telah mereka jalin sejak SMP terancam pecah pasca perlombaan majalah dinding.

“Kemaren si Yudi melihat mereka berdua berjalan pas-pasan. Keduanya tidak saling bertegur sapa. Malah membuang muka. Masing-masing berusaha menjaga gengsi.” Ucap Yudo, tetap bersuara dari meja guru.

“Oh ya. Wah ini berita terupdate.” Arleini menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Seperti orang sedang tercengang. Mirip gambar di poster film ‘Scream’. “Sepertinya mereka belum bisa menyelesaikan persoalan kemaren Betul nggak Yudo?”

“Apa? Kamu tadi ngomong apa?”  Yudo membuka lebar saah satu telinganya. Tuh kan tidak kedengaran lagi suaramu. Terdengar sayup-sayup. Aku yakin sekali kupingku belum budeg.” Yudo menghentakkan telinganya dengan ujung lengannya, demi meyakinkan bahwa pendengarannya tidak terganggu alias masih oke.

“Sudah deh kita ganti topik saja. Soal Bom Bom kita tutup dan disimpan dulu buat nanti siang. Hihi kayak bekal makanan saja. Ada gosip lain tidak yang lebih ‘in’ begitu. Hallo, Yudo, Yudo!” Arleini akhirnya berhasil menaikkan volume suaranya.

“Apa ya?” Yudo berlagak kayak orang mikir. Sudah membedakannya ketika Yudo sedang berpikir atau sedang kebelet pipis. “Oh ya ini nih. Kamu pasti belum dengar berita baru ini.”

“Giama? Gimana? Terus…terus. “ Arleini berapi-api sekali. Nyaris terbakar nafsu gosipnya.

“Ini tentang Pak Lamtoro, guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila) kita. Gila betul Dia.” Nada suara Yudo melambat.

“Eh Yudo, kalau dia gila tidak mungkin menjadi guru!” Protes Arleini.

“Dia terlibat affair. Saya melihat dengan mata kepala hidung kaki sendiri.”

“Yang benar saja Yudo. Masak sih? Gosipmu bisa dipercaya tidak?” Mata Arleini kembali membelalak. Malah sedikit melotot. Mirip artis Suzanna dalam film ‘Sundel Bolong’.

“Yang namanya gosipkan bisa betul bisa tidak, Leni.”

“Oke deh. Terus kamu lihat dia sedang bercumbu dengan siapa?”

“Jelas sama bininya…”Jawab Yudo santai.

“Yudo!” Teriak Arleini kesal bin dongkol. “Orang sudah terlanjur serius mendengar dari tadi. Kiranya….”

Yudo Gempul dan Arleini tidak menyadari kehadiran Tekya.

“Pacaran nih yee. Di bioskop dong kalau sedang pacaran. Tidak modal banget pacaran di kelas.” Tuduh Tekya spontan.

“Enak saja. Siapa yang pacaran Tekya? Kalau ngomong suka benar ya.” Jawab Yudo melantur.

“Lha itu pakai mojok segala.”

“Walaupun Kita mojok juga duduknya saling berjauhan lagi.” Jawab Arleini ketus.

“Sudah Leni, bilang saja kita sedang penjajakan…”Bisik Yudo pelan tapi mencekam.

Arleini langsung sewot dan buru-buru ke luar kelas. “Yudo jelek. Udah ah, jadi kepengin pipis melihat muka kalian.”

“Yudo Yudo, pagi-pagi begini sudah usaha ya..”Timpal Sony Betapermax tiba-tiba ngongol dari arah belakang. “Malah asik mojok bukannya mengerjakan tugas piket. Ayo. Siapa yang sudah mengerjakan PR Matematika. Pinjang dong, mau Aku salin nih. Pertanyaannya sih gampang cuma jawabannya susah. “

“Eh, pentil sepeda. Ini satu lagi Sony Sontoloyo. Datang-datang langsung nuduh seenaknya udelnya. “Yudo Gempul berusaha membela diri. Sejujurnya, Yudo merasa diuntungkan dituduh naksir Arleini, malah akan semakin memudahkannya menarik perhatian si cewek. Yudo mengerdipkan matanya saat Arleini melintas di sampingnya. Ya, Yudo berpura-pura tersinggung. Faktanya dia bahagia bukan kepalang. Cowok mana yang menolak bila disandingkan dengan cewek manis, lembut, bermata sendu, berambut hitam sebahu, berkulit kuning langsat dan satu lagi berbibir tebal lagi seksi kayak Angelina Jolie. Belum lagi suaranya nan amboy.

Kelas mulai kembali ke habitatnya. Ramai seperti ranjau habis meledak. Acara merumpipun bubar jalan.

“Sorry berat friends. “Timpal Tekya meninju pelan perut buncit Yudo.”Aku Cuma bercanda. “Kasihan si Leni kena tuduh begitu. Kalau si Yudo tidak kupikirin.”

“Love is blind kata Tiffany Yud. Hahaha.”Ucap Yudo penuh keyakinan.

“Hei teman-teman. Kabarnya pagi ini ada tinju lho di teve. Tyson vs Larry Holmes.” Tekya langsung mengabarkan berita gembira., sambil menyaring siapa saja yang berniat bolos selama pertandingan tinju berlangsung. Tekya melihat mimik muka mereka satu persatu.

“Masak sih. Kamu jangan menyebarkan isu Tekya. Biasanya kalau ada info tinju saya paling update. Kok bisa kecolongan. Jam berapa. Berlangsung dimana? Berapa ronde? Kamu pegang siapa? Kita taruhan yuk? Saya pilih ronde genap.”

“Dimana-manas kalau baca mantra ada titik komanya Yudo Gempul. Nyerocos bae cak sepur (ngerocos saja mirip kereta api). Bukannya ngucapin terima kasih sama Tekya. E-eh malah mengajak taruhan. Dosa tahu. Dikira saya tidak mau apa? Ayo lima ribuan saja. ”Tukas Udin dengan muka bersungut.

“Samobae. Samimawon. Sekarepmulah.” Ucap Parto dengan dialek jawanya yang kental.

“Kenapa Yudo? Tipinya sudah digadai?” Ledek Ali Caplok dengan ciri khasnya yang cengengesan. Cara berjalannya meniru Charlie Chaplin beda kumis.

Kelaspun kembali heboh. Pasar stock excange Dow John di New York kalah berisiknya. Berita tinju itu membikin gempar bukan saja melanda seisi kelas tapi malah merembet seisi sekolah sudah pada tahu. Pertandingan tinju profesional antara Mike Tyson kontra Larry Holmes menjadi deadline pagi itu. Berita itu terbang sampai ke kantin dan jatuh di lapangan sepak bola. Lho?

Bagi peminat tinju hal itu teramat krusial banget. Bagi anak-anak yang buta berita atau tak sempat atau tak doyan baca koran ataupun tabloid saat dikasih tahu, mendadak ceria bagaikan ketiban durian runtuh. Berita gembira yang langka begini tidak boleh dilewatkan begitu saja. Sebagian besar merencanakan bolos ‘semi permanet atau permanen total’. Mengerti tidak tidak maksudnya? Kalau semi permanen adalah hanya bolos sesaat saja pas tinju berlangsung. Nah, kalau permanen total atau full permanent pasti sudah menebaknya.

Kepasrahan juga menghinggapi para guru yang peminat tinju. Kalau saja boleh cuti so pasti mereka akan mengambilnya dengan segera. Hal itu akan mustahil, karena hampir separuh guru-guru laki-laki tergila-gila dengan olahraga tinju. Sekolah mendadak sepi. Bapak Kepala Sekolah tidak akan mengizinkan dan tidak akan rela. Untunglah para guru memegang prinsip istiqomah (berpendirian teguh) yaitu ‘teaching is very important. Lagipula di dunia perguruan belum ada istilahnya sekolah diliburkan hanya gara-gara pertandingan tinju doang. Apalagi yang bertanding bukan pula atlit nasional malah dari negara lain yang nun jauh disana. Apa kata dunia? Apa ucapan masyarakat nanti. Bisa-bisa image guru menjadi rusak.

Pertandingan idaman lelaki sebentar lagi menjelang. Acara-acara yang dianti-nanti akan berlangsung pukul 11.00 WIB. Pagi itu jam di ruang meja guru menunjukkan hampir setengah delapan. Artian masih menunggu 4 jam setengah lagi. Bagi penggila tinju 4 jam itu adalah kelamaan.

Bel sekolah belum berdentang eh salah berbunyi coy, Tekya cs bergabung dengan kelas lain sibuk mengekspos habis-habisan serta mengupas secara tuntas berita headline itu di kantin Kak Ma’il. Otomotis, pelanggan kantin membludak.

Sementara di pojok kantin. Sekelompok siswa sedang bersenda gurau.

“Minta-minta saja sekolah kita diliburkan.” Iwan Mukejenuh berharap-harap. Jemari-jemarinya dengan cekatan mencomot satu persatu pempek telor dari piring yang sudah tersaji di atas meja.

“Ada-ada saja.” Kata Yudo. “Mana mungkin.Kalau saja itu betul-betul terjadi, aku berani mencukur habis rambutku. Termasuk bulu ketek dan bulu-bulu yang lain.”

“Haha..klimis dong.”

“Coba kalau kamu bersekolah di sekolah bulu tangkis Ragunan. Disana olahraga diutamakan. Bisa jadi setiap ada pertandingan olahraga penting terjadi, para murid wajib untuk menonton. Asik nggak tuh?” Kali ini Alfikry angkat bicara.

“Kamu pindah saja Wan. Mau nggak?”Tawar Heri sambil senyam senyum. “Kudengar dari Pamanku yang mengajar di sana masih menerima murid baru kok. Walaupun tempatnya terbatas.”

“Oh ya. Masih ada kelas yang kosong dong?” Tanya Iwan bernafsu.

“Iya. Tapi sayangnya hanya kelas khusus kebun binatang saja.”

Iwan hanya terdiam.

“Bercanda saja kerjamu ya.” Timpal Agus sambil tidak dapat menahan ketawanya.

“Sudah sudah, begini saja, “ ucap Sony Betapermax mencoba menengahi, “kita kan sudah terlanjur meributkan si Mike Tyson melulu. Bagaimana kalau kita bolos, yuk?” Setelah selesai berbicara si Sony segera menyeruput es kacang merahnya dengan lahap. Tampaknya dia kehausan tingkat tinggi. Lalu dia bersendawa dengan keras.

Mendengar ajakan Sony yang di luar dugaan itu sontak membuat semuanya kaget.

“Kamu seriusan, Son?” Tanya Yudo seakan tidak percaya.

“Dua rius malah!” Tantang Sony. “Bagaimana dengan yang lain? Kalau setuju join sama Aku.”

Teeeeetttt. Terdengar samar-samar suara bel berbunyi dari kejauhan.

Belum sempat mengiyakan ajakan Sony, anak-anakpun bubar menuju ke kelas.

Jam pelajaran pertama adalah Fisika, yang dipandu oleh Pak Ir.Jumadil Tengah. Berperawakan pendek, gendut dan memiliki kumis tebal. Sekilas mirip bintang film Azrul Zulmy. Kayaknya kembarannya Pak Drs. Suryadi alias Pak Raden, dalam film boneka si Unyil. Saking tebalnya itu kumis murid-murid kesusahan menebak apakah Pak Jumadil lagi tersenyum atau emosi.

“S-siiap! Beri salam!” Seru Iqsan TWEJ penuh khidmat. Semua murid bangkit berdiri.

“Selamat pagi Pak!” Semuanya memberi salam serempak semabri membungkukkan sedikit badannya.

“Selamat pagi juga.” Jawab Pak Jumadil singkat. Oh ya, tolong kumpulkan PR yang Bapak berikan minggu lalu. Pasti sduah pada selesai kan?”

Semua anak saling berpandangan. Wajah mereka memancarkkan suasana kebingungan. Diana tampak mengangkat bahu saat dicolek oleh Dora.

“Maaf Pak, sepertinya tidak ada PR.” Tegas Miza Bom Bom memberanikan diri sambil plarak plirik kiri kanan. Dia kawatir pernyataannya salah bisa diledek sekelas. Beberapa anak bernafas lega.

“Bapak mimpi kali nih yee. Kalau tidak salah memang tidak ada PR menurut perasaan saya. Kalau tidak salah berarti pasti betul kan Pak?” Giliran Agus Blepotan bersuara mendukung ketua kelas.

“E-eh si bapak, ganteng-ganteng sudah pelupa ya…” rayu Fatimah genit.

Pak Jumadil langsung gede rasa. Dia hanya mesem-mesem. Lagi lagi susah diprediksi karena ketutup oleh kumisnya itu. “Ah masak sih? Ya sudah kalau memang tidak ada PR, Bapak minta maaf kalau begitu. Sekarang keluarkan buku cetak kalian. Coba buka halaman belakang tentang masalah pompa hidrolik. Di saitu ada soal tiga biji. Kerjakan dengan tertib dan jangan tergesa-gesa. Waktu 20 menit. MULAI!”

“Siaap Pak.” Jawab Tekya ketus.

“Huuu!!..keluh anak-anak yang lain. Pekikan mereka membahana ke pelosok ruang.

“Ayo tenang, jangan berisik, nanti menganggu kelas lain. Ingat, hanya tangannya saya minta yang bekerja bukan mulutnya. Sudah selesai?!

“Ya bapak bercanda nih. Cepat banget…Setengah jam ya pak…” rayu Debbie.

“Belum lima menit kok Pak,” rengek Yudo Gempul kelabakan.

“Besok saja dikumpulkan ya..”bisik Agus Blepotan.

Agus Blepotan membenci pelajaran Fisika. Selain banyak ketemu rumus-rumus di dalam setiap bab-nya, jawabannya panjang-panjang. Kadang memakan kertas satu halaman ukuran kwarto. Rumus-rumus musti dihapal di luar kepala. Sungguh menjengkelkan sekali. Membuat otaknya jadi vakum, mumet dan rumit. Sudah begitu gurunya strength sekali. Dalam menyelesaikan harus detail, rapi dan jelas jikalau ingin mendapat ganjaran nilai yang bagus. Belum lagi beliau meminta anak murid menjunjung tinggi ketertiban dan kedisiplinan. Bukan hanya sekedar jadi idiom semata. Tapi justru harus dijawantahkan secara seksama.

Pak Jumadil memiliki kebiasaan suka menyuruh murid-muridnya satu persatu untuk menyelesaikan soal-soal fisika yang rumit-rumit ke depan kelas. Bagi yang tidak dapat menjawabnya dengan benar diminta untuk berdiri dulu di depan alias disetrap sampai ada murid yang dapat menjawab dengan benar barulah kembali ke tempat duduknya. Kebiasaan ini yang paling dibenci oleh murid-muridnya. Beruntunglah bagi murid yang pintar untuk pelajaran Fisika, mereka akan berebutan ingin ditunjuk mengerjakan soal ke depan kelas. Dijadikan sebagai ajang mempertontonkan kebolehan mereka. Meranalah bagi mereka yang tidak doyan pelajaran. Satu jam di kelas serasa bagaikan di neraka. Mereka menanti giliran dengan was-was dan jantung berdebar-debar. Sambil berdoa agar Pak Jumadil lengah dan tidak menunjuk mereka. Dan Pak Jumadil sudah paham betul gelagat muridnya yang ketakutan, gemetar, menunduk, over acting, juga pretending clever berarti tanda-tanda tidak bisa, Momen-moment ini membuat Pak Jumadil geli. Di dalam hati mungkin dia tertawa dalam hati seakan berkata ‘nih gua kerjain lo satu persatu’. Terlebih ketika melihat Pak Jumadil bangkit berdiri dan berkeliling mengitari meja satu persatu. Seperti Tekya sedari tadi duduknya sudah resah dan gelisah menunggu ditunjuk oleh si guru. Jangkan menjawab soal melihat pertanyaanya saja dia sudah menyerah. Di meja barisan belakang tampak Agus Blepotan juga mengalami hal serupa. Dia mendadak stroke ringan. Sama halnya   dengan Maman Sumaman,  butiran keringan mengucur dari keningnya mengalir sehingga membuat basah baju seragamnya. Seperti menanti eksekusi di tiang pancung.

Menyeramkan sekali pelajaran ini ya. Kalau sudah begini bisa ditebak doa-doa mereka pasti seragam. ‘Ya Tuhan buatlah guru kami ini sakit perut dan pingsan mendadak agar pelajaran ini cepat berkahir’. Atau ya Tuhan berikanlah kami ilmu bisa menghilang. Atau ya Tuhan kirimkanlah kami Superman agar  dia membawa kami terbang ke angkasa. Atau lagi ya Tuhan tolong pintarkanlah kami dalam sekejab. Atau yang lebih ektream, ya Tuhan mudah-mudahan sekolah ini mendapat teror bom?!. Tidak aneh jikas semua yang diharapkan dan diminta menjurus sesuatu yang konyol. Mereka seakan-akan sedang berhadapan dengan zombie ganas yang akan memangsa siapa saja yang tidak paham pelajaran fisika.

Pak Jumadil melirik arloji pemberian istrinya. Karena sedari tadi matanya melancong ke seluruh penjuru kelas.

Detik-detik menegangkanpun tiba. “Waktu telah habis. Bapak harap semua sudah selesai mengerjakan.” Kata Pak Jumadil sambil berdiri. Lalu menatap muridnya satu-persatu. Mulai dari barisan depan tengah belakang kiri kanan. Semua tak luput dari penglihatannya.

Agus Blepotan terkesiap. Jantungnya kembali berdebar kencang. Darahnya berdesir hebat, laksana mengalir sampai ke otaknya. Body languagenya berbicara mensinyalkan sesuatu yang negatif. Buku latihan yang ada dihadapannya samasekali belum terisi alias masih kosong. Bahkan belum tersentuh. Agus Blepotan berdoa kembali mengharapkan keajaiban datang tiba-tiba. Pertandingan tinju Mike Tyson memberikan efek samping yang dahsyat untuknya, sekligus membuyarkan semua konsentrasinya. Dalam kondisi normal saja dia sudah susah mengerjakan soal fisika  apalagi ketika di saat tegang. Beda dengan Tekya, kelihatannya dia berusaha mengontrol kadar emosional dan ketakutannya dengan tetap bersikap kalem. Berusaha bersikap sewajarnya di hadapan Pak Jumadil. Seakan-akan dia mampu mengerjakan soal fisika yang akan diberikan kepadanya. Tekya sempat melirik ‘tetangga’ sebelahnya, Ferry, bernasib setali tiga uang dengan Agus Blepotan dan Tekya.

Tebersit niat Agus untuk mengelabui Pak Jumadil dengan berpura-pura sakit perut agar terhindar dari malapetaka yang bernama ‘fisika’ tersebut. Dia sudah tidak tahan lagi dengan keadaan genting begini. Dalam hatinya berkata, ingin berusaha menundukkan pelajaran sialan itu suatu saat dengan mencoba mengambil kursus atau berguru dengan Iqsan dan Andi, yang berotak encer.

“Tekya…”bisik Agus Blepotan kepada Tekya, di tengah kegelisahan, di saat Pak Jumadil lengah, dia sempatkan menoleh ke belakang. “Boleh Aku nyontek sebentar bukumu?”

“Teman yang ditanya menggeleng pelan. Lalu mendesis pelan, “Aku juga tidak bisa. Bukuku masih kosong.”

Tekya lantas menunjuk Iwan.

“Hah! Iwan? Payah. Coba Kau tanya Faisol, mungkin dia simpan jawabannya di dalam rambutnya.

Tekya melirik Faisol, teman sebangkunya. Rupanya si kribo asik sibuk mencorat coret di kertas buram. Dia berpura-pura sedang menjabarkan sebuah rumus. “Pusing! Pusing!” Tekya mendengar keluhan Faisol Kribo.

“Percuma Gus. Samimawon.”

“Gawat. Mati Aku.”Pekik Agus dalam hati.” Dia sangat kawatir hari ini merupakan nasib tersialnya bila samapi disuruh maju ke depan kelas. Bayangan bakal disetrap menari-nari di atas kepalanya. “Waduh, pamorku bisa jatuh nih.”

Dia sempatkan untuk meminta bantuan duet jenius Fisika, Iqsan TWEJ dan Andyman. Pasti keduanya tidak merasa terbebani seperrti Agus. Dari jauh kelihatan jelas wajah-wajah mereka tidak melukiskan ketakutan seperti yang Agus alami. Buku latihan mereka satu halaman penuh sudah terisi jawaban beserta rumus-rumus.  Andyman dan Iqsan TWEJ kebetulan sebangku. Klop, sama-sama pintar lagi. Sekarang mereka berdua tengah asik bercanda sambil santai. Layaknya seperti dua sahabat karib yang sedang kongkow di warung bakso.

Agus Blepotan betul-betul pusing. Untuk sementara dia masih menunda-nunda niatnya untuk berpura-pura sakit perut yang telah dicanangkannya di awal.

Kini, Pak Jumadil Tengah mulai menjalankan aksinya. Sudah menjadi tradisi, di awal soal dia menawarkan kepada murid-murid yang pintar dan berani bersedia maju.

Tiab-tiba seorang murid bernama Andyman memecah ketegangan kelas dengan berani mengacungkan jari telunjuknya. Sebagian murid berpaling kepada Andyman. Sebagian murid yang lain menghela nafas lega.

Agus tersenyum puas. Terima kasih Andyman, telah memberikan nafas buatan untukku. Agus ngebatin.

“A-adaauuuuh. Maaf Pak Jumadil perutku sakiiiit!!” Teriak Agus sedikit tertahan. Semua murid kini berpindah ke bangku Agus. Tekya, Faisol dan Ferry terhenyak dan terkaget bercampur senang. Mereka buru-buru menawarkan bantuan.

“Interupsi sebentar Pak. Agus kelihatannya sakit perut.” Tekya memanggil Pak Jumadil yang sudah duduk di singgasananya.

“Ada apa? Kenapa si Agus?” Tanya Pak Jumadil heran.

“Mau beranak kali Pak, “ celetuk Mimi sambil menutup mulutnya dengan selembar saputangan berwarna jingga.

“Kenapa perutmu Gus?” Pak Jumadil menghampiri bangku Agus. Kelihatan sekali muka Agus meringis dan merintih. “Kamu belum sarapan ya? Atau kebanyakan minum cuka pempek?”

“Iya. Tadi minum cuka pempek setengah botol.” Jawab Agus sekenanya.

“Sebentar…Perasaan ini kali kedua kamu sakit perut pada jam pelajaran saya. Alasan kamu saja kali. Ayo, jangan berpura-pura. Bapak tahu kartu kamu. Kamu takut disuruh ya?” Gertak sang guru.

“Betul saya sakit perut. Minggu lalu saya sakit kepala. Kan penyakitnya beda pak.” Elak Agus dengan yakin. Agus sudah membulatkan tekad. Apapun yang terjadi dia tak gentar untuk melanjutkan akal bulusnya. Istilah kata sudah terlanjur basah. “Ayo bantu dong. Jangan biarkan aku menderita.” Rintih Agus terdengar pilu.

Setelah itu, Pak Jumadil segera mengintruksikan kepada teman terdekatnya untuk memapah Agus ke ruang P3K. Tekya, Faisol dan Ferry berebutan ingin membantu. Ternyata anak-anak lain juga ingin berpartisipasi ikut menolong.

“Sudah biar Tekya, Faisol dan Yudo saja yang membantu. Yang lain tenang dan kembali ke bangku masing-masing. Tidak usah semua ya. Kelas ini bisa kosong nanti. Ayo, kita melanjutkan pelajaran kembali.”

“Kami bawa sekarang Pak?” Tanya Yudo Gempul bingung.

“Iya sekarang. Masak tahun depan. Keburu keluar di sini nanti. Kan bikin kotor lantai kelas.” Jawab Pak Guru gemas.

Pola memberi kode kepada Yudo dan Faisol untuk cepat menggotong Agus. “Kita bawa ke ruang P3K yuuk.”

“Iya. Awas jangan dibawa ke kantin ya.” Canda Pak guru.

“Beres Pak.” Jawab Faisol.

Sesampai di ruang P3K atau PMR, Agus mengerdipkan mata. Merasa telah diperdaya oleh Agus, Tekya CS langsung melepaskan bopongannya secara paksa, sehingga pantat Agus yang tempos mendarat mulus di lantai.

“Aduh! Teganya kalian.”Protes Agus sambil meringis kesakitan, lalu meraba pantatnya sebentar.

“Kamu menipu kami lagi, Gus?” Dengus Yudo kecapain.

“Mending ringan, dasar gajah!” Umpat Tekya seraya menghapus keringatnya.

Tidak lama kemudian datang Mbak Lily datang memberikan sebotol minyak angin cap ‘kayu jati’ kepada Agus.

“Di olesin sama Mba ya?” Agus mencoba merayu.

“Oleh sendiri ya Gus. Jangan manja ya. Malu dong kan sudah gede.” Mba Lili menolak halus.

“Katanya kalau mau cepat sembuh langsung diminum saja Gus.” Saran Tekya.

“Kau pikir ini cuka pempek. Sontoloyo kamu!” Agus mendorong pundak Tekya.

Kemudian Mba Lily minta permisi ke belakang sebentar. Setelah dirasa sepi Agus langsung bersorak dan melonjak kegirangan. “Yesss.”

Tekya, Faisol dan Yudo terheran-heran.

“Hihi. Aku berhasil menipu si Jumadil culun itu. Hebat tidak aktingku? Sekarang aku terbebas dari fisika yang menyebalkan itu. Kalian lupa ya. Sebentar lagi pertandingan Tyson di teve akan dimulai.

Walaupun masih menyimpan rasa kesal, Tekya, Faisol dan Yudo harus berterima kasih juga kepada Agus yang telah menyelamatkan mereka juga dari ancaman Fisika yang mencekam itu. Mereka berempat kembali ke kelas setelah pelajaran Pak Jumadil usai.

Di kantin, Agus,Tekya,Yudo dan Faisol terlibat party-ria di kantin Kak Ma’il.  Menu mereka tidak tanggung-tanggung, pindang ikan patin, pempek kapal selam, lenggang dan es kacang merah. “Aduh nikmatnya bisa terlepas dari Fisika. Asoyyy!” teriak Agus sambil menyenderkan dirinya di dinding karena kekenyangan.

Pukul 10.15 WIB, pada saat kelas lain hening belajar, di kelas 1.3 belum menampakkan tanda-tanda kehadiran guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Tampak sosok dua bayangan mengendap-ngendap di lantai tiga. Kedua makhluk itu tak lain dan tak u’uk adalah Yudo Gempul dan Sony Betapermax masih berjalan berjingkrak-jingkrak menelusuri koridor dengan tas diumpetin di bawah ketiak. Sekiras mirip pencoleng atau teroris yang hendak menjalankan aksi jahatnya. Ya, ternyata telah disepakati bersama mereka ingin….BOLOS.

“Kamu yakin Son, si Faisol sudah di bawah?” Tanya Yudo sedikit gugup. Ini pengalaman pertama kali dia bolos.

“He-e. Ce-cepat sedikit, mumpung sepi,” ujar Sony tak kalah gemetar. Nanti tas ini kita lempar dari atas.”

Keduanya mengendap mendekati balkon di lantai tiga. Yudo melongokkan kepalanya untuk dapat melihat ke bawah dan memastikan Faisol sudah standby untuk menyambut tas. Sony menoleh ke kiri ke kanan, setelah dirasa aman, dia langsung mengambil ancang-ancang untuk melempar tas.

“Siap Sol?”

Faisol hanya mengacungkan jempolnya tanda siap.

Sony meleparkan tas secara serabutan sehingga membuat Faisol kelimpungan dan kebingungan memilih tas mana dulu yang akan dia selamatkan. Hop! Hop! Tanpa ampun sebuah tas menimpa kepalanya. Untungnya rambutnya yang kribo itu cukup membantu sebagai tameng.

“Aduh! Hoy Sonyloyo! Ember!  Panci! Satu satu dong melemparnya. Benjol nih”

Percuma saja Faisol mengomel di bawah, sedangkan kedua makhluk di balkon telah lenyap dari pandangan.

Setelah memungut tas teman-temannya satu-persatu. Kemudian dia bersiap hendak menuju sebuah pohon rindang di dekat lapangan sepak bola. Untuk mencapainya Faisol harus melewati celah-celah pagar besi yang bolong. Pagar tersebut memisahkan gedung sekolah mereka dengan gedung sekolah SMP. Setelah itu Faisol, Yudo dan Sony bertemu kembali. Namun…

“Boles nih yee..”tiba-tiba terdengah sebuah suara yang agak berat intonasinya. Bersamaan seonggok tangan menepuk pundak Faisol. “Mengapa tidak lewat dari depan saja. Pintunya tidak digembok kok…”

Rupanya siang itu dewi fortuna tidak berpihak kepada mereka. Ternyata aksi mereka kepergok dan digagalkan oleh Pak Jono, sang wakil kepala sekolah yang memang doyan patroli keliling halaman sekolah mengrazia murid-murid yang berniat bolos. Pak Jono menggiring mereka ke ruang sidang. Mereka diceramahin habis-habisan agar tidak mengulangi lagi.

Setengah jam kemudian, Pak Lamtoro si guru PMP, baru menampakkan jenggotnya bersama langkah gontainya masuk ke kelas. Ketika sudah duduk di kursi guru, dia langsung memanggil salah satu murid perempuan.

“Rajni, kemari sebentar,” panggilnya setelah mendaratkan pantatnya di kursi, “Catat buku ini dari sini ke sana.

“Huu. Nyatat lagi, nyatat lagi. Bosan, “omel Rajni dalam hati. Kendati demikian dia tidak bisa menolak, walau hati kadang gondok. Tentunya, sudah bukan rahasia umum jika pelajaran civic ini membosankan serdadu 1.3. Bagaimana tidak bosan? Begitu guru masuk kelas langsung menerapkan sistem CBSA (Catat Buku Sampai Abis). Side effectnya tangan terasa pegal. Satu hal lagi yang membuat dongkol mereka, selagi anak-anak tekun mencatat, eeh dia malah sibuk berceramah apa saja. Pokoknya melenceng dari pelajaran semula deh. Seldom out line! Sampai-sampai segala tetek bengek Family Bussinessnya diborong ke kelas.

Tet!! Pelajaran pun usal. Semua bernafas lega.

“Kita bagai dihadapkan pada sebuah dilema,” ujar Iwan Mukejenuh suatu hari berfilsafat, “Di satu sisi kita sudah melaksanakan perintahnya, yaitu mencatat. Di sisi lain dia malah mengajak ngobrol ngalur ngidul. Aku belum pernah mendengar konsentrasi dua arah, kecuali tangan, mata sama kepala bisa dipisah. Itu akan sulit sekali. Hanya orang-orang tertentu yang dapat melakukan itu. Kalau kita tidak mencatat salah, tidak menyimak salah, nah kalau kita molor lebih parah lagi.”

“Bisa gawat nasib semesteran kita nanti,”sela Agus, “catatanku amburadul, buku pedoman tidak punya. Apa tidak kacau balau nantinya? Padahal ini tergolong pelajaran keramat, merah di rapor bisa bisa tidak naik kelas, Coba bayangkan tidak lucu lantaran pelajaran PMP kita bisa tua di sini gara-gara tidak naik kelas melulu. Idiih amit amat deh.”

Beberapa anak memang tidak menyukai metode mengajar Pak Lamtoro. Beliau dinilai terlalu banyak santainya dalam memberikan materi. Dia seringkali memanfaatkan muridnya demi keuntungannya sendiri.  Kelakuannya sudah hapal di luar kepala. Ketika masuk kelas, lalu panggil salah satu murid untuk mencatat di papan tulis. Terus dia sibuk bercerita apa saja di luar konteks. Ya, sedikitkali yang nyambung dengan pelajarannya. Malah kadang-kadang curhat sendiri. Menceritakan mana yang mood menurut dia. Enak dan santai sekali. Anak-anak paling hanya manggut-manggut pura-pura menanggapi. Sebenarnya bagi anak-anak yang pemalas senang banget dapat guru tipe begini. Ditambah lagi duduk di bagian barisan paling belakang. Tutup buku lalu tidur. Anehnya dibiarkan saja oleh sang guru. Kok ya bisa lulus menjadi guru. Entahlah, apa karena pelajaran yang diasuhnya memang tidak seperti pelajaran matematika atau fisika yang memerlukan konsentrasi dan berpikir keras. Padahal PMP sangat diperlukan untuk menata moral dan prilaku kita agar sejalan dengan Pancasila.

“Bagaimana kalau kita laporin saja ke kepala sekolah bahwa kita akan berdemo untuk menurunkan Pak Lamtoro. Kita protes minta diganti dengan guru wanita yang lebih seksi?” Usul Tekya.

“Jangan begitu. Itu sadis namanya.”protes Kemas. “nanti kalau dia dipecat keluarganya dikasih makan apa. Tapi kalau…diganti sama guru yang bening boleh juga sih. Hehe.”

“Tidak segampang itu Tekya. Tanpa bukti otentik, Pak Antono pasti cuwek. Ya kita bisa saja mengajak Pak Antono saat Pak Lamtoro mengajar sebagai bukti. Tapi tentu saja dengan diam-diam tanpa sepengetahuan dia.”Faisol yang baru saja kena razia Pak Antono ikut nimbrung.

“Menurutku itu sudah tabiatnya kali. Tidak mudah mengubahnya.” Iqsan berdiplomasi.

“Betul juga kata Kemas tadi. Tumben. Saya setuju,” Ujar Rajni sambil mengacungkan jemponya. “Kita minta kepada Kepsek untuk mengevaluasi kwalitas dia. Siapa tahu dengan sedikit masukan atau nasehat membuat Pak Lamtoro sadar dan mengubah metode pelajarannya.

“Betul. Biar dia sadar bahwa metode mengajarnya tidak efektif.”sambut Qibal. “Kalau hal ini dibiarkan berlarut-larut ruginya ada pada kita sendiri.”

“Saya setuju, “timbang Yudo Gempul, “status kita kan masih anak baru, bau kencur lagi. Yang namanya remaja itu, emosionalnya dan egonya lebih dominan. Belum stabil. Takutnya suara kita tidak didengar.”

“Pak Lamtoro itu…”ucap Novelita lembut, sebetulnya orang baik. Mungkin dia punya masalah hingga bersikap demikian. Sebagai buktinya, segala masalah ditumpakahkan atau dicurahkan kepada kita. Wong kita masih kecil belum tahu urusan orang dewasa. Ya bengong toh. Kita harus memakluminya. Cuma aku herannya dia nggak pernah meminta feedback dari kita. Kasihan Pak Lamtoro…Ini sekedar info yang kudengar dari kakak kelas kita. Pokoknya yang penting dia nggak pelit kasih nilai kok. Asal kita rajin mencatat, menyimak, nggak badung dan banyak tingkah, nurut, gitu. Dijamin tahan lama eh maksudku nilainya bakalan tokcer deh.

“Aduh Novel, kamu piye iki.”ujar Pito,”dimana-mana orang yang rajin ya logikanya sudah pasti pintar, Ta. Kerjaannya belajar melulu. Setiap orang pintar selalu naik kelas, kecuali…sekolahnya ambruk.”

Semua tersenyum.

“Zaman sekarang kalau tidak gesit akan sulit hidup. Mencari kerjaan perlu koneksi dan duit. Bahkan ketika seseorang mau naik pangkat atau jabatan saja orang rela kehilangan harga diri. Segala cara dicari. Halal haram hantam.”komentar Fatimah sembari menyibakkan rambutnya nan hitam tergerai.

Mencari kesalahan dan memvonisnya seseorang adalah pekerjaan gampang. Mengkoreksi diri itu tidak semua orang dapat melakukannya. Bercermin dan bercermin. To say is easy.

Sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan seorang teman hidup guna mengarungi kehidupan di dunia ini. Makhluk yang bernama ‘manusia’ itu adalah gudangnya salah. Maha sempurna mutlak milik sang Pencipta. Sebab tak ada gading yang tak retak. Tak ada manusia yang sepenuhnya sempurna. Tiap orang oleh Tuhan memiliki kelebihan dan kekurangan. Mari mensyukuri segala karunianya.

Bel istirahat tersisa 8 menit lagi. Agus Blepotan, Tekya, Iwan Mukejenuh dan Ferry berlari kecil, bergegas menuruni tangga menuju lobby sekolah. Mereka berebut saling mendahului. Mirip kucing balap lari dengan tikus demi seonggok tulang ikan. Kayaknya lapar berat. Sesampai di sana mereka heran hanya sedikit  siswa yang tampak berkeliaran. Biasanya juga jam istiraharat tiba sudah mirip pasar 16 ilir. Ramai dan hiruk pikuk.

“Lho kok sepi banget. Pada kemana semua anak? Apa sudah pindah ke planet lain?” Tanya Agus Blepotan heran. Dia langsung mengucek-ngucek matanya.

“Siapa tahu mereka sedang puasa senin kamis apa.” Tebak Tekya. “Oh mungkin di kantin Kak Ismail sedang ada diskon, jadi semua murid pada pergi kesana.”

“Kamu pikir warung Kak Mail pasar swalayan?” cetus Iwan Mukejenuh sengit.

“Jangan-jangan pada bolos massal ya?”Ferry mulai curiga. Dia masih sempat melirik jam arlojo merk Daiwanya. “HAH Pukul 11.05 menit.”

“TINJU!!” Ketiga berteriak serempak. Mereka baru menyadari jam segitu adalah pertandingan tinju antara Tyson dan Holmes disiarkan di teve.

Tidak lama kemudian, dari pintu toilet keluarlah seorang murid laki-laki, sambil berlari menuju ke arah mereka, kemudian melewati mereka tanpa menegur lagi.

“Ada apa coy lari-lari? Ditagih debt collector ya?” Tuduh Agus setengah berteriak. Namun pertanyaannya tak digubrik sama sekali.

“Aduh! Kita mau menonton tinju dimana?”Iwan serasa mau menangis gara-gara tidak dapat menonton pertandingan tinju dambaannya. Tiba-tiba pucuk dicinta nasi ulampun tiba. Tanpa disengaja sosok yudo Gempul nongol secara tiba-tiba dan ketika dia hendak berlari Iwan buru-buru menghalangi. “Mau keman Do? Kok kami dicuwekin sih?”

“Aku mau toilet. Jangan dihalangi dong. Mending kalian bergabung sama anak-anak. Lagi seru nih. Kak Mail sedang bertinju. Eh maksudku semua anak pada ngumpul di kantin. Ada pertandingan tinju. Mumpung baru ronde kedua.”

“Serius Yud?” Agus Blepotan antara kaget  bercampur sumringah.

“Sumpah tuyul deh. Biar dikawinin sama Shanen Doherty kalau saya menipu.”

“Ayo kita kesana. Serbu!!” Tanpa bak bik buk bek bok lagi ketiga murid itu segera ke kantin, sambil berterian..”TINJU TINJU TINJU!!”

Kantin Kak Mail siang itu penuh sesak. Full house. Sudah kayak pasar kaget kedatangan artis dangdut ibukota. Mereka berebutan hendak masuk. Rata-rata murid cowok. Murid cewek hanya segelintir saja. Ya, ternyata mereka sedang menonton pertandingan tinju di televisi. Kak Mail menaruh sebuah televisi berukuran 14 inch di atas meja yang tinggi. Kantin Kak Mail sebenarnya lumayan luas menjadi terasa sempit. Sedangkan kapasitas terbatas. Kak Mail pantas diacungin jempol karena bisa memenuhi aspirasi nafsu tinju pengunjungnya.

Saking asik dan seriusnya mereka menonton, sampai-sampai tidak mendengar kalau bel tanda  istrirahat sudah berakhir.

“Bel masuk tuh! Bagaimana nih tinjunya belom selesai.” Tekya bertanya kepada Iwan.”Masuk yuuk.”

“Tanggung nih. Nanti kita barengan saja ke atas. Kesempatan Ini jarang terjadi. Yang lain juga belum pada masuk kok..” Keluh Iwan sambil menarik kemeja Tekya.

“Biar disetrapnya bareng. Kita kan kompak.” Ujar Yudo nyegir kuda lumping.

Akhirnya Tekya terpaksa menuruti dan menonton dengan kusyuk.

Bu Tata kaget setengah hidup. Mulutnya sempat menganga lebar, matanya terbelalak setelah mendapatkan kelas begitu sepi. Hanya kelihatan anak-anak cewek yang hadir. Termasuk si Zoel yang gemulai sedang asik bercanda dengan Dora dan Diana.

“Anak laki-laki pada kemana ya?” Ibu Tata bertanya kepada Fatimah.

“Ma-masih pada di kantin Bu. Masak Ibu tidak update berita.” Jawab Fatimah bernada serius.

“Berita apa ya?”

“Mike Tyson berantem sama Larry Holmes.”

“Hah! Apa? Dimana?”

“Tenang Bu. Hanya di teve kok.”

“Aduh! Di sekolah ini kan tempatnya untuk belajar dan menuntut ilmu. Bukan macam-macam. Ayo salah satu dari kalian tolong panggil mereka semua. Suruh mereka masu. Pelajaran akan dimulai. Apa tidak dengar bel tanda masuk ya?” Bunyi bel sekeras itu sampai tidak kedengaran. Pada budeg apa semua. Baru duduk di kelas satu sudah bandel. Cepat cari mereka. Kok masih pada bengong kayak anjing nyolong. Oke? Nanti lapor ke Ibu ya. Ibu mau ke ruang guru sebentar. Ada buku yang ketinggalan.” Setelah berceloteh panjang lebar Ibu Tata mgeloyor pergi.

“Idiihh, marah nih yee,” ledek si Zoel,”Galak sih. Makanya tidak laku. Belum nikah-nikah juga. Siapa yang mau?”

“Huss! Usil banget mulut kamu Zoel. Ketahuan Bu Tata, baru tahu rasa.”Maki Debbie, “ayo kita terusin main hom pim panya.”

“Ayuk!” Seru Zoel.

Apa mau dikata. Nasi telah menjadi humberger! Tahi kambing bulat bulat dimakan jadi obat disimpan jadi zimat. Kelas yang sepi tidak hanya dialami kelas 1.3 saja, akan tetapi hampir semua sampai kelas 1.7. Badai tinju menerjang seluruh kelas. Otomatis menimpa guru-guru juga. Guru di kelas lain yang hendak memulai mengajar bernasib serupa ketika memergoko kelas sepi dan hanya murid cewek  yang setia. Pertandingan tinju mendramatisir keadaan.

“Masak gara-gara tinju sih mereka malas masuk. Mereka lebih mementingkan acara tinju di teve daripada belajar. Generasi macam apa ini? Mau menjadi petinju semua apa? Anak-anak sudah mulai kurang ajar ya. Saya juga suka tinju tapi tidak norak seperti mereka. ” Ucap Pak Mul Mul ketus, sang wali kelas 1.5. Dari nada bicaranya kelihatannya marah besar.

Setelah semua murid sudah kembali ke dalam kelas masing-masing. Termasuk kelas 1.3. Pelajaranpun dimulai. Akibat tinju waktu belajar menjadi molor. Konsekwensinya durasi mengajarpun dibuat panjang oleh para guru. Semua murid menerima dengan pasrah dan lapang dada. Walaupun terbersit kekesalan di hati mereka. Di dalam hati mereka dapat tersenyum puas masih bisa menonton pertandingan Mike Tyson melawan Holmes yang seru itu adalah salah satu duel yang paling ditunggu, kalau tidak salah waktu itu tanggal 22 Januari 1988.. Holmes yang berstatus sebagai mantan juara dunia menghadapi keperkasaan dan keganasan Tyson. Tak lupa promotor terkenal Don King juga hadir. Bermain di salah satu kasino milik Donald Trump, Tyson berhasil mengalahkan Holmes dengan tinju di wajah pada ronde keempat. Mereka tidak akan pernah melupakan peristiwa bersejarah itu.

Di rumah Kak Mail terjadi percakapan dengan istrinya..

“Rezeki tidak kemana-mana, Dik..say…,” hibur Kak Ma’il pada None Milah, istrinya di dapur.

“Alhamdulillah. Banyak duit yang masuk yo Kak?” ucap istrinya Kak Ma’il sedikit kaget, meninggalkan sebentar setrikaan yang lumayan menumpuk. Dikarenakan sudah beberapa hari hujan turun terus. None Milah dengan manja menyenggol tubuh suaminya, sehingga membuat Kak Ma’il nyaris terjengkang. “Bagi dong say…duitnya.”

Buru-buru Kak Ma’il mengembalikan posisi tubuhnya seperti semula. Terlambat sedikit saja pantatnya pasti mencium lantai.

“Hampir saja kamu mencederaiku, Dik. Seperti mau copot jantungku.”

“Maaf ya Kak. Adik tidak sengaja.”

“Nanti adikku sayang. Istriku sayang. Ini gara-gara Mike Tyson! Kantin kita ketiban rezeki ngompol eh nomplok. Laris laris tanjung kimpol.”

“Tunggu kak..Teksun? Siapo itu Kak? Tetanggo kito ya?”

“Bukan. Kamu ini bagaimana? Masak tidak kenal Mike Tyson. Si leher beton. Dia petinju dunia yang terkenal wahai adikku.”

“Jadi dia datang ke kantin kita kak? Asik kantin kita dikunjungi orang terkenal.”Istrinya gembira bukan ilalang eh kepalang.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s