‘SERIAL MASA SMA MASA BODO?’ MEMBURU CAMELIA

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Oleh : Deddy Azwar

Masih ingatkah kawan-kawan dengan sesosok cewek yang dengan sudi plus sedikit terpaksa meminjamkan payungnya kepada Tekya di saat hujan deras tempo hari? Disaat keduanya berlarian menuju ke sekolah sembari membelah derasnya hujan. Mereka berlari susul susulan memghindari hujan. Kemudian ketika keduanya telah mendarat di halaman sekolah dengan keadaan basah kuyub, Tekya mengeluarkan sejumlah duit kertas lecek sebagai upah sewa, namun ditolak secara halus oleh sang cewek. Lalu dengan secepat kilat di lenyap di balik  tembok sekolah. Tekya justru senang karena duit jajannya selamat. Kagetnya kenapa dia menolak? Dan yang menjadi tanya besar bagi Tekya adalah lupa menanyakan namanya. Tekya sedikit menyesal dan kepikiran terus. Untungnya mereka satu sekolah. So sedikit membuat Tekya sedikit lega. Paling tidak kapan-kapan pasti ketemu. Hanya masalah waktu saaja. Siapa sangka kejadian romantis itu menjadi sesuatu yang amat berkesan dan terbayang terus oleh Tekya. Entah kalau bagi si cewek itu?

Ya, walaupun masih satu sekolah dan saru pekarangan entah sampai saat ini Tekya belum ada kesempatan bersua wajahnya. Akibat banyaknya PR di sekolah ditambah lagi kegiatan ekstrakulikuler membuat Tekya belum sempat menyelidiki keberadaan tuh cewek. Di kantin tak ketemu, di tempat ganti pakaian kosong? di lapangan bola di belakang sekolah nihil, diperpustakaan juga nggak ada, di parkiran motor apalagi. Pas upacara bendera di sekolah tiap Senin juga tidak ketemu. Tekya heran. Jangan-jangan cewek itu sosok bidadari yang dikirmkan Tuhan untukku? Tekya langsung jumawa. Oh kemanakah gerangan engkau wahai bidadariku. Jujur deh, aku belum sempat membalas kebaikanmu. Haruskah kita bertemu hanya di setiap musim hujan? Jangan dong…Pinta Tekya. Apakah pertemuan kemarin hanya sekali seumur hidup?

Bagi Pola peristiwa itu romantis banget. Ingin rasanya itu terulang kembali. Basah-basah kuyub biarin deh, gua jabanin. Begitu janji Tekya dalam hati. Agak muluk memang.

Semenjak  minggu lalu, ditambah lagi saling tatap-tatapan tidak sengaja itu membuahkan sebuah cinta segar nan hijau. Love for the first time. Swear, kalau disuruh mengingat-ingat masih membekas senyum manisnya. Bentuk wajahnya yang oval dengan dagu nan lancip. Rambut panjangnya berwarna agak kemerah-merahan terurai.  Sorot matanya nan sendu dan sayu. Badannya nan tinggi semampai. Berat badan yang proporsional. Ditambah lagi kulitnya yang putih. Oh ya bibir tipisnya nan merah merekah. Terkya langsung terbayang dengan aktris Mandarin Lin Ching Hsia jaman old. Wajahnya nyaris oriental. Sekilas Tekya bisa menilai Si cewek bukan tipe yang merepotkan pasangannya.  Itu terbukti ketika dia memandang Tekya dengan malu-malu harimau. Artinya tidak jelalatan melihat cowok ganteng. Kesimpulannya Tekya merasa ganteng nih? Tepat sekali cewek itu tipe lugu dan polos. Betulkah sangkaan Tekya. Pokoknya kepolosan dan keluguan yang ditawarkan sang cewek mistrius itu begitu terpancar dari wajah innosense tanpa dosa ditambah sorot matanya yang teduh. Hanya satu kata : FEMINIM.

Tekya terjangkit penyakit demam cinta. Dan yang dapat menyembuhkan adalah dokter cinta. Lalu nebus resep obatnya di apotik cinta pula. Cinta itu pula yang selalu mengusik tiap tidur malamnya. Wajah sang cewek kian terbayang melulu. Kadang tidak mengingat lokasi. Tidak di rumah, di pekarangan sekolah, di kamar tidur bahkan saat di kamar mandipun wajah imutnya selalu terbayang di pelupuk mata. Seringnya kebawa mimpi. Seakan-akan dia senantiasa hadir dalam mimpi-mimpi indahnya. Figurnya lama-kelamaan bagaikan virus yang menyerang hati dan jantung juga merusak pikiran. Memporak-porandakan jiwa. Untungnya belum bikin sakit jiwa. Tekya mulai bertingkah yang aneh-aneh. Sekarang dia mulai getol berdandan, mengatur ritme dan gaya berjalan. Tekya sudah mulai memperhatikan penampilan. Ambil contoh : Jikalau dulu boro-boro mengurusi rambut. Kadang sisir aja sering lupa kalau tidak diingatkan Mama. Seringnya kelima jarinya jadi pengganti sisir. Mau keadaan rambut awut-awutan kayang benang mah masa bodoh. Gaya rambutpun seada dan sekenanya. Rapi syukur berantantakan mujur. Mau rambut di sisir belah tengah, belah samping, belah duren atau belah ketupat tidak pernah dia singgung dan pikirin. Untuk siapa kagi kalau bukan untuk sang pujaan.

Pokoknya bagi Tekya menjaga penampilan adalah yang utama, penting dan genting. Dan kalau kebelet kencing musti buka kancing untuk pipis. Ingat jangan sampai nungging kayak trenggiling. Terus kalau sudah di toilet lihat samping kiri dan kanan. Takut tahu-tahu ada pocong laki ikut-ikutan kecing juga. Wah bisa modar.

Akhirnya Tekya bertekad memulai pencariannya. Diawali dengan berdoa terlebih dahulu. Rencananya dia akan mengitari seluruh tiap sudut halaman sekolah. Memeriksa setiap ruangan kelas dengan berpura-pura mencari teman. Tekya berkeyakinan kuat akan berhasil. Mustahil tidak dapat menemukan satu orang di area sekolah sendiri.  Tidak ada alasan untuk menyerah. Emang seberapa besar sih halaman sekolah Tekya? Emang ada berapa lantai gedung sekolahnya?

Keesokan harinya ketika masuk jam istirahat (keluar main). Tidak seperti biasanya bel istirahat jam pertama berbunyi lamaaaaa berulang-ulang. O-oh ternyata kabelnya konslet. Beberapa siswa langsung berhamburan keluar. Ada yang berjalan sendiri, mencari teman segank ataupun ikut gerombolan yang mempunyai selera seragam. Sudah bisa ditebak di otak mereka biasanya sudah terbayang-bayang akan makanan yang enak dan lezat di kantin sekolah, sudah menghantui perut mereka sejak 1 jam yang lalu. Kali ini Tekya tidak minat ikut siapa-siapa. Dia sudah berniat sejak tadi pagi ingin memisahkan diri dari teman-temannya. Tidak menerima ajakan dari siapapun. Lima menit sebelum bel istirahat berdering Tekya sudah berada di luar kelas. Sejenak kemudian Tekya sudah duduk di pokokan persis dekat jendela di kantin Kak Mail. Dengan memilih posisi duduk strategis Tekya berharap dapat memantau setiap gerak-gerik setiap aktifitas siswa dari balik tirai tanpa ketahuan. Kebetulan kaca jendela kantin Kak Mail rada gelap. Ya namanya usaha siapa tahu sang cewek kepergok sedang makan tekwan lima piring? Setelah hampir 10 menit Tekya tidak menemukan incarannya. Bidikannya belum menemui sasaran. Memasuki kam istirahat yang kedua Tekya mencoba menelusuri koridor kelas satu persatu. Tidak tanggung-tanggung, dari lantai satu sampai ke lantai tiga dia periksa. Malah sampai ke kolong-kolong meja segala. Nihil.

Pada hari kedua giliran tempat parkiran motor, lapangan bola dan lapangan basket mendapat giliran. Pada hari ketiga tinggal ruang perpustakaan, ruang praktikum, ruang kamar ganti olahraga dan gudang. Hasilnya semua sama saja. Tekya nyaris putus asa.

Ketika pulang sekolah, tekya buru-buru mencari tempat duduk di halte depan sekolah. Dia kepingin cepat pulang sebelum dikepung oleh teman seganknya untuk ngumpul-ngumpul ataupun sekedar ngobrol ngalor-ngidul yang tak jelas. Mending dia memilih cepat pulang dikarenakan perut dilanda keroncongan. Sampai di halte Tekya jadi ngos-ngosan deh! Situasi di halte tidak begitu ramai lagi.

Ketika Tekya sedang memelototi setiap angkutan kota dan bis sekolah yang lewat. Tekya takut tidak dapat oplet (angkot). Sinar matahari sudah berada tepat di atas kepala. Sudah hampir 20 menit Tekya belum dapat angkot. Kadang ada satu atau dua yang berhenti, akan tetapi langsung diserobot siswa lain. Tekya kembali menuju halte kembali dengan langkah gontai. Entah untuk kesekian kalinya dia begitu. Maklum siang nan terik itu menciptakan suasana hangat bagi semua sehingga kebanyakan orang pingin cepat sampai tujuan agar terhindar dari sinar ultra violet milik matahari. Tidak terkecuali si Tekya.

Tekya mendaratkan pantatnya yang tepos itu pada kursi besi di sebuah halte. Andaikan kursi itu dapat berbicara kursi pasti akan mengeluh hingga berteriak : “Idih aku bosan ketemu pantat si kurus ini lagi!!”. Tekya menundukkan kepalanya. Menghela nafas sebentar sambil berguman. “Duh, sudah siang begini maasak belum mendapatkan angkot sih. Dari kejauhan Tekya sempat mengintip Agus Blepotan dan gang kelas 1.3 juga dihadiri beberapa siswa dari kelas lain masih asik nongkrong di bawah besar lagi tua di pinggir jalan yang menghadap ke lapangan sepak bola. Selain halte, pohon besar itu dinobatkan menjadi tempat favorit untuk berteduh di bawah terik sinar matahari. Kabar punya kabar santer terdengar isu bahwa itu pohon lumayan angker dan keramat. Coba saja singgah ke sana saat malam tiba dijamin tak ada satupun yang berani mampir ke sana.

Di tengan perenungan dan kebengongan di padepokan halte sekolah, tiba-tiba mata Tekya tertuju pada sesosok wajah yang dia kenal. Bola matanya nyaris tak berkedip. Seolah-olah ingin meloncat keluar.  Tekya segera berkonsentrasi seraya mengingat-ingat. Aduh, siapakah gerangan cewek itu. Oh ya. Tralala trilili trijengki. Tidak salah lagi bidadari inilah yang saya cari, teriak Tekya dalam hati. Mata Tekya terus mengamati seorang siswa cewek berparas manis sedang bingung mencari bangku kosong di dalam bis kota yang hendak melaju. Tekya bangkit berdiri dan mencoba menghampiri. Kemudian dia berlari-lari kecil mengiringi bis tersebut.

“BINGO!” Akhirnya dapat juga namamu oh bidadariku,” Pekik Tekya tidak tertahan lagi. Ucapan itu terlepas begitu saja di bawah alam sadar. “YES YES, NAMAMU TELAH KUKANTONGI!” Tekyapun tersenyum 20 jari. Selamat tinggal lapar.

“SOL, nongomong-ngomong kamu tahu sama cewek bernama Camelia nggak?” Tekya bertanya kepada Faisol saat jeda pelajaran Fisika.

“Apa? Taman Ria? Waduh aku belum pernah ke sana tuh,” jawab Faisol sambil mengeluarkan komik Doraemon dan cergam Pendekar Hina Kelana.

“Dasar Kutukupret!” Damprat Tekya kesal. “Sajak kapan kamu bolot Sol?”

“Dasar Sontoloyo!” Balas Faisol tak mau kalah seraya membentangkan kedua tangannya. “Apa salahku?”

“Makanya kalau pejabat lagi berbicara nyimak dong. Kamu tahu Camelia tidak?”

Faisol mengeryitkan dahinya. “Tunggu dulu kawan…Saya ingat-ngat dulu. Camelia Contesa? Camelia Malik? Cameli lagunya Ebiet G Ade? Kriting mulai ngelantur.

“Kamu mikirnya kejauhan Sol Patu. Yang aku maksud Camelia di sekolah kita.”

“Ohhh itu. Camelia.. ya ya Camelia..”

“Artinya kamu tahu dong. Ayo apa yang kamu ketahui tentang dia?”

“Nggak. Aku nggak tahu. Kayaknya aku pernah punya deh. Tapi nama Camelia banyak di Palembang ini. ”

“Sontoloyo! Kupret!” Tekya menggetok jidat Faisol. “Kasihan kamu Sol. Selalu tidak upadate masalah yang beginian. Katanya playboy cap kuda duduk. Wah rugi kamu Sol. Ini cewek punya kisah khusus dengan saya. Cakepnya nggak ketulungan. Pokoknya belagak nian.” Tekya mengacungkan dua jempolnya. “Two thumb!”

“Ah yang benar? Biasanya saya tahu kok kalau ada siswi yang yahud. Apalagi adik-adik kelas kita. Emang kamu kena banget sama dia?”

“Pertanyaan yang bagus. Pasti kenal duongg.”Tekya mencoba berbohong seraya membusungkan dadanya yang datar. “Siapa dulu. Tekya kenal semua cewek pintar, bermutu dan berkwalitas.”

“Siapa dulu dong temannya. Faisolll.” Balas Faisol tak kalah sengit.”Tidak rugi kamu kenal sama awak. Awak juga kenal secara detail sama gadis2 sepalembang malah.”

“Bohong besar hehehe.” Ucap Tekya cespleng.

Faisol penasaran. Dia meminta Tekya menceritakan kisah awal pertemuannya dengan cewek berpayung itu. Segala kelebihan objeknya dipaparkan secara lengkap. Tekya mengisahkan semuanya tanpa ada yang terlewati, secara terperinci dan detail. Terutama pada bagian menguraikan anatomi tubuh. Dasar laki-laki! Faisol serius menyimak seraya berdecak kagum. Matanya sesekali melotot. Air liurnya nyaris menetes. Faisol langsung membayangkan dari miss universe, ratu sejagad, bintang film sampai miss world. Angan-angan terlempar jauh melampaui batas.

“Hanya satu kata. AMAZING! Penuturanmu super komplit. CIAMIK sekali.” Puji Faisol sambil bersiul. “Awak semakin penasaran setelah mendengar dongeng awak.”

“Eh sembarangan ya. Ini serius bukan dongeng. Real story. Fact.” Tukas Tekya sambil mendorong pundak Faisol.

“Iya Tekya. Awak bercanda. Penesan brur, penesan brur.”

Tekya meminta sahabatnya itu membantunya mencari tahu keberadaan sang pujaan hatinya.Tekya menatap Faisol penuh harap.

“Boleh. Awak penasaran kepingin tahu sejauhmana selera kamu terhadap wanita. Gimana sih tampangnya.”Ucap Faisol dengan nada setengah meledek

“Pokoknya si Yuli gacoanmu lewat.”

“Really? Serius?”

“Very beatiful abis deh.”

“Coba sebutkan kelebihannya…”

“Wajahnya oval, dagunya lancip. Rambutnya hitam sedikit kemerah-merahan. Wajah mandarin. Kayak pirang nggak jelas gitu deh. Bodinya bohay cak biola. Bibir tipis merekah. Kulitnya putih muluss.”

“Teruss…Apa lagi yang putih Tekya..”

“Betisnya. Aduhhh apalagi…?” Tekya mikir.

“Pa-hanya, ya?” Ucap Faisol pelan tapi lirih sambil ngiler…

“Dasar parno. Ada. Uban neneknya.”

Keduanya tertawa lepas. Membuat bingung teman di sekitanya.

“Kapan ini memulai misi kita Sol?” Tanya Tekya setelah reda.

“Tahun depan. Yang hari ini juga monyong. Waktu istirahat ‘keluar mainlah’…”

“Itu baru namanya kance. Ce-es.”

Mereka berdua ber-toast ria.

Suasana kelas lain. Seorang gadis sedang asik mencorat-coret di buku tulisnya bersampul berwarna coklat. Pelajaran Sejarah baru saja usai. Sambil menanti pergantian guru, Camelia Carla mempergunakan waktunya yang tersisa untuk melepaskan hobinya menggambar bunga. Teman-temanya yang lain ada yang sibuk bercanda, bergosip dan bersenandung. Beberapa anak memanfaatkan untuk buang air kecil di taman sekolah eh salah di toilet. Guratan spidolnya yang lincah menunjukkan kemahirannya menggambar berbagai macam bunga. Camelia Carla sangat menyukai bunga. Terutama bunga yang kelihatan cantik apalagi berbentuk unik. Dia akan betah memandangi dan membelai itu bunga. Ada beberapa jenus bunga yang dia sukai. Bunga Matahari, bunga Sakura, bunga mawar, bunga edelwies dan lain-lain. Camelia tidak suka dengan bunga yang jelek seperti bunga bakung, bunga tahi ayam dan bunga plastik!

“Hei cewek tukang kembang!” Teriakan Chica memecahkan ketenangan, kesunyian dan keseriusan Camelia.

Camelia hanya menanggapi dengan menoleh sekilas lalu tersenyum mengejek. Walaupun wajahnya dijelek-jelekin bagaimanapun tetap cantik. Saking dongkolnya karena dicuwekin, Chica  mencubit pelan pipi sahabat sebangkunya itu. Camelia tersentak dan hanya bereaksi sesaat.

“Please dong cicak..Lagi serius nih. Aku sedang konsentrasi menggambar bunga Mawar langka dari Afrika nih.”

“Bodo ah.  Terserah mau mawar dari Etiophia kek. Emang gue pikirin. Ayo dong comel, katanya bersedia menemani Aku ke perpus. Dua hari yang lalu kulihat ada novel baru lho. Lima Sekawannya Enid Blyton cetakan terbaru di sana. Aku kawatir kalau kita telambat keburu diembat anak kelas lain. Apalagi kelas 1.7 semuanya pada kutubuku.”

“Iya…kok anak kelas 1.3 sedikit sekali minat mereka untuk membaca ya cak?”

“Tau. Iya kali. Beberapa hari ini kamu ngomongin anak kelas 1.3 melulu. Aku curigation pasti ada apa-apanya.”

“Ah nggak kok. Tidak ada apa-apa.” Tukas Camelia agak mendelik.”Ngomong-ngomong apa saja yang kamu ketahui tentang mereka?”

“Mereka? Anak kelas 1.3 maksudmu?”

“He-eh.”

“Setahuku kalau anak kelas 1.7 terkenal dengar julukan kutubuku. Nah anak kelas 1.3 itu kutukupret. Hahaha…”

“Ah kamu bisa aja. Bercanda melulu.”

“Please comel. Angkatlah pantatmu sebentar. Ayuk kita ke koperasi eh perpus ding. Lima sekawan..lima sekawan Mel. Aku sudah tak tahan nih. Kalau sampai sana ternyata kosong kamu musti traktir Aku pempek panggang ya.”

“Lho kok gitu..Enak di kamu nggak enak di saya. Dasar cicak di dinding. Tunggu…kemarin pas aku sendiri kesana. Lima Sekawannya kosong kok..”Jawab Camelia dengan santai tanpa beranjak sedikitpun.

Chica semakin kesal dengan kelakuan sohibnya yang malas-malasan. Antara ikhlas dan pamrih. Antara mau dan ogah. Singkat cerita Chica sekonyon-konyong menarik paksa sohibnya. Pada akhirnya Camelia menurut juga.

Waktu istirahat yang dinanti-nantipun tiba. Bagi Tekya mungkin saat itu  adalah moment bel istirahat yang sangat spesial, spesifik dan luar biasa bedanya selama hidupnya di sekolah. Ceile. Begitulah hati anak kawula muda yang sedang kesengsem dengan sang pujaan hatinya. Tekya merasa kenapa ya kok seperti kayak diguna-guna. Tapi sepertinya tidak mungkin. Memangnya Tekya cowok ganteng sedunia yang dapat membius jutaan hati wanita. Bukan pula artis yang mempunyai ribuan fans. Bukan pula yang dapat mengumpulkan massa saat konferensi pers. So Tekya kamu jangan GE-ER ya. Tekya itu memang cakep kalau dilihat dari jembatan Ampera. Kalau dideketin katanya mirip pelawak Jimmy Gideon. Nah lho…Kesimpulannya no guna-guna but love for the first time kali….Katanya hati menjadi berkembang-kembang.

Faisol berjalan beriringan langkah dengan Tekya. Mereka menyusuri koridor terbuka menuju gedung perpustaakaan sekolah. Lokasinya berada di belakang kantin. Kali ini mereka tak langsung menuju kantini seperti hari biasanya, tapi malah menyambangi perpustakaan terlebih dahulu. Sungguh diluar kebiasaan. Sok kutubuku banget gayanya.

Hari itu pengunjung perpustakaan masih sepi. Karena jam-jam segitu kebanyakan siswa-siswi pada ngumpul di kantin. Maklum, keadaan perut musti diutamakan ketimbang otak. Bagaimana mau berpikir dalam keadaan lapar, bukan?

“Yang mana Tekya anaknya? Yang itu ya?” Tuding Faisol ketika sampai di depan pintu di dekat majalah dinding.

“Salah Solpatu. Itu si nenek ijah alias Azizah. Ngapain dia di perpustakaan?”Koreksi Tekya sambil geleng-geleng kepala.

“Oalah! Jadi yang mana Tekya?”

“Sabar dulu. Sol sol…Nah itu dia. Betul banget sepertinya dia sedang menuju kantin-eh salah ke perpustakaan. Yuk kita ikutin. Eh dia menuju dan masuk ke perpustakaan. Cepat buruan Sol. Langkahnya di besarkan dikit dong. Aduh Sol. Kamu melihat kemana? Itu anaknya. Gila makin kece aja. Kamu lihat nggak sih?!

“Iya iya. Awak lihat bayangannya.”

“Bayangan bagaimana? Setan kali…”Keluh Tekya tak paham.

Ternyata Faisol gagal fokus. Matanya melenceng ke objek yang lain. Sepertinya ada siswi lain yang menarik perhatiannya.

“Anu anu Tekya. Kan dia kan sudah keburu masuk ke perpustakaan. Lenyap di balik pintu. Mana saya tahu badannya. Tentu tinggal bayangannya. Awak ini lolo nian.” Kilah Faisol.

“Awak yang lolo. Semprul!” Omel Tekya. “Makanya harus konsentrasi dong Solpatu
. Kalau orang sedang berbicara mohon diperhatikan. Kalau orang menunjuk jangan meleng. Apa kan kataku. Kita kehilangan jejak. Buruanku lenyap.”

“Jangan overacting deh. Kita tidak sedang di pasar inpres yang ramai. Ini sekolah Tekya. Percayalah kalian akan kupertemukan.”

“Janji?”

“Iya janji.” Mereka bertoast ria.

“Yuk kita susul!”

Sebelum mendatangi perpustkaan mereka berdua menyambangi toilet karena sudah kebelet pengen kencing. Saking terburu-buru mereka salah masuk ke toiket milik cewek. Entah karena tidak tahu atau disengaja. Untung mereka cepat sadar dan berbalik arah.

“Buruan Sol!” Tekya menggedor pintu toilet. “Kamu ketiduran ya?”

“Iya. Kagek doken (sebentar napa sih)! Tahu gitu saya titip aja sama kamu kencingnya.”

“Lolo. Goblok!”

Di perpustakaan. Camelia dan Chica berjalan susul-susulan. Mereka menyusuri tiap koridor perpustakaan dan menemukan rak yang berlabel ‘FIKSI”. Segala novel dari berbagai genre tersusun rapi dan terpajang di sebuah rak berbahan dari kayu jati. Selain novel lokal adapula novel internasional.  Dahulu kala sempat  buku berjenis fiksi dilarang oleh Kepala Sekolah masuk ke ruang perpustakaan. Karena akan dikhawatirkan bacaan lain takut tidak mendapatkan tempat. Kepsek beralasan para pelajar jadi malas membaca buku-buku cetak pelajaran sekiranya ada novel. Menurut pengalaman, pelajar lebih betah dan nyaman berlama-lama sampai lupa waktu dan lupa belajar  jika sudah membaca sebuah novel. Namun setelah Kepala Perpustakaan dan para guru turun tangan baru diperbolehkan. Setelah beberapakali melakukan mediasi. Akhirnya sang Kep Sek lembek juga. Setelah diselediki ternyata dia anti cerita fiksi.

“Tuh kan apa kubilang ternyata sudah habis.”Rengek Chica mirip anak balita kehilangan permen.

“Sudah jangan sedih dulu Cak…Habis kan bukan berarti ada? Yuk, kita periksa. Tetap semangat mencari. Siapa tahu masih ada yang tergeletak dimeja sisa dibaca orang.”Camelia meyakin walau agak ketar ketir. Idiihh kalau tidak ketemu dia bakal traktir Chica pempek panggang.

“Kayaknya nggak mungkin deh. Mukjizat kalau masih ada.” Chica sudah merasa hopless.

Mereka berdua langsung hunting menyeruak menelusuri setiap lorong. Tiap tiap diperiksa satu persatu. Camelia malah kadang-kadang mencomot satu persatu buku dan majalah yang sudah tersusun rapi, lalu meletakkan kembali dalam keadaan kacau. Masalahnya sang sohib suka ngamuk yang aneh-aneh jikalau keinginannya tidak tercapai. Camaelia bertekad harus menemukan novel Lima Sekawan yang diincarnya. Seandainya saja di sebelah ada toko buku, Camelia pasti akan berusaha bela-belain untuk mampir kesana untuk….meminjam dan mempotokopi. Alamak!

Pegawai perpustakaan berhenti di salah satu rak. Kepalanya menggeleng pelan. Bola matanya sedikit melotot di balik kacamatanya yang tebal. Huh! Siapa sih yang berani mengacaukan sejumlah rak buku yang semula tersusun rapi? Tidak tahu apa ya? Kemaren, saya sepanjang hari menyusun buku-buku itu dengan hati-hati. Apa tidak kasihan sama saya ya?

Tekya sedang mengisi buku tamu di meja registrasi setelah tiba di perpustakaan. Faisol menunggu di belakang Tekya.

“Temennya yang kriting tidak mengisi buku tamu?” Tanya Bu Monika, sebagai penjaga perpustakaan menyimpan kecurigaan. Itulah akbiat Faisol jarang mengunjungi perpustakaan jadi tidak dikenal seantero perpustakaan.

“Oh nggak perlu Bu Monik. Faisol ini tukang ojek yang mangkal di depan sekolah.” Jawab Tekya sekenanya. Faisol menonjok pundak Tekya agak  keras. Kelihatan dia ngedumel tak karuan.

“Bu, saya ini juga pelajar disini. Sumpah.” Tukas Faisol ketus.

“Oohh. Saya kirain pelayannya Kak Mail kantin.”Tuduh Bu Monika sambil tersenyum kaget.

Tekya dan Faisol bergegas masuk menuju rak bagian Fiksi. Dia langsung mencomot beberapa novel andalannya. Setelah itu mereka mulai mencari incarannya. Mereka memeriksa di setiap sudut-sudut meja di sana. Seakan-akan tak membiarkan buruan mereka lepas. Siapa tahu si dia terperangkap di bawahnya (meja) hingga tak berkutik dan tinggal Tekya dan Faisol meringkusnya dengan mudah. Setelah itu Tekya berangan-angan Camelia dengan ikhlas dibimbingnya untuk mengucapkan tiga kata yaitu ‘ aku cinta kamu.  Begitulah khayalan atau angan-angan dua cowok ini. Simpel tapi bisa disemprot.

Hingga akhirnya datang suatu moment dahsyat dimana tanpa sengaja dua pasang remaja ini hampir saja bertabrakan satu sama lain. Untungnya karena kehati-hatian tiap-tiap orang hampir saja insiden dahsyat terjadi di depan pintu perpustakaan. Jujur, segalanya di luar skenario. Walaupun begitu Tekya bersyukur banget. Malah Tekya tadi berharap tabrakan benar-benar terjadi. Dengan begitu paling tidak bisa menyentuh setidaknya lengannya Camelia nan halus.

“Aduhhh kamu Sol!” Ucap Camelia gemes. Mukanya sedikit memucat. “Untung saja kami sigap bisa ngerem langkah kami. Coba kalau tidak bakal malu deh kita…”

Nama Faisol tak sengaja dipanggil oleh bibir mungil milik cewek manis berwajah orientalis. Cicha dan Tekya saling berpandangan dengan tatapan keheranan. Menandakan antara Faisol dan Camelia ternyata telah saling kenal. Tekya menghela nafas panjang. Setidaknya jalannya untuk berkenalan lebih akrab lagi dengan Camelia terbuka lebar. Faisol bisa dijadikan kambing hitam eh jadi mak comblang maksudnya.

 

“Hampir saja…”Chica geleng-geleng kepala. Nafasnya terdengar ngos-ngosan. Seraya meraba-raba dadanya. “Kalau saja ini bukan temen kamu Comel. Hih! Mungkin udah aku cemplungin ke sumur deh. Bikin jantung mau copot aja.” Untungnya Chica hanya berbisik. Jadi tidak membuat Faisol tersinggung.

“Uhffff…hampir aja kita melukai Cameli yang cakep.”Faisol memulai percakapan setelah detik-detik yang menegangkan urat syaraf itu terlewati. Kelihatan Faisol juga gugup dan gelagapan. Suaranyapun terdengar parau. Mirip kakek-kakek genit minta tolong ketika kecebur sumur. Sedangkan Tekya hanya terdiam terpaku terlem dan mematung. Tiba-tiba perasaan nervous dan malu menjangkiti. Namun Tekya berusaha menetralisir suasana. Mencoba untuk dipede-pedein. Padahal faktanya jantung Tekya berdebar-debar pada pertemuan keduanya dengan cewek yang pernah menolongnya agar terhindar dari basahnya hujan.

“Faisol ya?” Pekik Camelia pelan bercampur kaget. Eh nggak sangka kamu bisa masuk SMA ini juga. Temen SMP kita bilang kamu berniat melanjutkan ke SMP di kampung bapakmu?”

“Iya Lia. Rencananya semula begitu. Aku dan Ibu lebih memilih menetap di Palembang saja. Biarlah bapakku mencari duit di sana. Kami lebih betah disini. Eh Lama kelamaan Bapakku nggak kuat juga. Pada akhirnya dia mengalah mengikuti kami pindah. Aku betul betul tidak mengira lho bisa masuk SMA dambaan. Blessin banget gitu deh ah.”

Tekya sedikit terharu bercampur bahagia serta bangga terhadap level korespondensi Faisol yang lumayan oke itu ternyata pernah menjalin tali persahabatan dengan seorang siswi semanis Camelia. Oh…sungguh senangnya.

Ternyata Faisol terlalu lama beramah tamah dan berbasa basi ngobrol dengan Camelia sehingga mengabaikan keberadaan Tekya dan Chica. Mereka terlalu asik membicarakan masa-masa yang telah lampau. Tinggalah Tekya dan Chica saling berpandang-pandangan dan berhadap-hadapan cantik. Keduanya malu-malu untuk memulai saling menegur. Mereka adu gengsi kayaknya. Satu kata untuk Faisol. Terlalu…Jikalau melihat gelagat sesaat kelihatan Camelia agak sedikit kesal dan sebetulnya ingin juga bercengkrama dengan Tekya. Tapi Faisol mencercanya dengan berbagai pertanyaan yang menggebu-gebu.

“Sol…Sol..Udah dong ngobrolnya. Seru banget. Sampai lupa sama teman sendiri…”Sela Tekya sekonyong-konyong.

“Eh iya Mel. Kenalin ini temenku.”ucap Faisol.

Tekya langsung mengulurkan tangannya. Dan disambut dengan lembut oleh Camelia. Mereka berjabat tangan. Mereka saling melempar senyum yang termanis yang mereka miliki. Tak lupa Tekya juga menyalami Chica.

Tekya sengaja menanti pernyataan apa yang akan keluar darti mulut Camelia bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya. Masak sih dia tak akan ingat. Atau dia terserang penyakit amnesia di usia muda yang akut. Duh! Moment itu tak kunjung keluar. Tekya akan malu sekali seandainya Camelia begitu saja melupakan kejadian yang romantis berpayung di bawah hujan deras. Sudah dapat dibayangkan dia akan diledek habis-habisan. Faisol akan mengeluarkan nyengir kudanya yang natural.

Hingga pada suatu ketika…

“Tekya, sepertinya saya pernah melihat kamu dimana ya….” Tampaknya Camelia tidak lupa nih.

“Ayo, dimana coba tebak. Di tv ya?” Ceplos Tekya.

“Oh di bawah kolong jembatan. Dia sedang ngemis.” Faisol ikut ikutan nimbrung.

“Aiya…kamu yang minjam payungku tempo hari kan?” Camelia mengurlurkan jari telunjuknya ke pundak Tekya.

Tekya bernafas lega. Akhirnya Camelia nan cakep itu mengakui bahwa mereka pernah bertemu. Hati Tekya berbunga-bunga. Dia nyaris berniat sujud syukur di tempat. Namun dia urungkan.

Tiba-tiba Chica mengajak Camelia, Faisol dan Tekya untuk kembali ke perpustakaan lagi. Chica masih belum puas kalau belum mendapatkan novel lima sekawan yang dia incar.

“Ayo dong temenin ya. Saya mau nyari buku untuk di bawa pulang. Biasa buat baca sambil  tidur-tiduran.”

“Ngomong-ngomong si Chica mau cari buku pelajaran ya? “ Tanya Tekya kepada Camelia, setelah mereka duduk di kursi. “Rajin sekali ya temanmu itu.”

“Bukan buku pelajaran. Tapi novel lima sekawan.” Jawab Camelia seraya menyibakkan rambutnya yang sebahu dan berwarna kepirang-pirangan.

“Lima sekawan?!” Faisol ikut nimbrung. Lalu dia meneriaki Chica dari jauh. “Jangan diteruskan Chica mencarinya. Percuma. Sampai lebaran juga tidak bakalan ketemu.” Karena suara Faisol terdengar parau membuat suaranya tidak terdengar oleh Chica.

“Emang kenapa Sol?” Tanya Camelia bingung.

Faisol membisikkan sesuatu di telinga Camelia seraya jari telunjuknya menuju ke arah Tekya. Tekya pura-pura bego.

Camelia lalu mengangguk tanda mengerti. Kemudian dia mengucap lirih dengan suara nan menggoda…”Tekya,  kamu ternyata penganggum lima sekawan juga ya?”

“Iya ya. Memangnya kenapa?” Tekya kurang siap ditodong seperti itu. Ditanya eh malah balik nanya. Ketahuan sedang grogi.

“Tekya, merapat dong saya mau membisikkan sesuatu.” Panggil Camelia sambil mencondongkan badannya ke depan sambil melambaikan tangannya.

Tekya terkesima dan mengiyakan. Tekya bangkit dan berdiri. Tidak lama kemudia dia sudah duduk di samping Camelia. Entah topik apa yang akan dibicarakan oleh si cakep itu.

“Oh itu. Oke. Boleh kok. Apa sih yang tidak untuk kamu Lia.” Ujar Tekya. Kelihatan dia sedang menetralisir detak jantungnya yang terus berdegup kencang dengan irama tak menentu.

“Gombal!” Cibir Camelia. Ih, walaupun dia berusaha menjelek-jelekkan wajah, ajaibnya tetap tak bosan Tekya memandangnya.

“Waduh, Tekya mulai berani tuh sama kamu Lia. Biasanya dia pemalu lho. Sekarang malah malu-maluin.

Jam istirahat kali ini merupakan moment teramat spesial bagi Tekya. Really, sudah cukup lama dia memandam rasa kangen ingin bertemu dengan sosok Camelia. Entah kapan terwujud? Setelah kejadian hujan-hujan kemaren itu sungguh berkesan bagi remaja seperti Tekya. Beberapa hari setelah itu dia berharap dipertemukan kembali oleh Tuhan. Tanpa sadar kadang saat saat menjelang tidur malam wajah Camelia seakan-akan mengusiknya. Oh..apakah ini pertanda cinta pada pandangan pertama. Mirip lagu melayu yang didendangkan oleh penyanyi A Rafiq. Ya A Rafiq adalah penyanyi yang kesohor di jamannya. Pada setiap penampilannya suka berdandan ala Elvis Presley.

Padatnya pelajaran di sekolah membuatnya tidak ada waktu untuk mencari-cari keberadaannya Camelia. Oh, terlalu cepatkah cinta itu menghampiri…

Ruangan perpustakaan sekolah menjadi saksi pertemuan indah ini. Pertemuan mereka bagaikan pertemuan sahabat lama yang telah lama terpisah. Mungkin tahunan. Mereka asik sekali bercengkrama. Ngobrol ngalor ngidul. Walaupun masih sedikit canggung dan malu-malu. Tapi menurut Tekya dan Faisol sangat bernilai sekali. Rasanya berat sekali untuk mengangkat pantat dari kursi. Terlebih-lebih meninggalkan perpustakaan. Nggak kuat! Bel pun berbunyi. Suka tidak suka mau tidak mau mereka harus masuk kelas kembali. Duduk dengan tenang di bangku masing-masing untuk menerima pelajaran.

Di dalam kelas Chica masuk ke dalam kelas dengan muka masam dan ditekuk. Sepanjang koridor menuju kelas Camelia melihat ada keganjilan pada tingkah laku sahabatnya itu. Dia menjadi orang yang kalem dan pendiam. Kerjaannya hanya menunduk saja. Kecewa berat. Camelia tak habis pikir akan jalan pikiran sang sobat yang tiba-tiba mendadak aneh gara-gara gagal mendapatkan novel lima sekawan. Kegilaannya akan buku karang Enid Blyton itu sudah pada taraf sekarat.

Hendrasukma, teman sekelas Camelia yang berbodi gembor sedang asik menggosipin artis lokal. Sebut saja Mawar.

“Kalian pada tahu belum kalau bintang sinetron bernama Kembang Tahi Ayam alias Mawar itu ternyata penyuka sesama jenis lho?” Hendrasukam mulai menyalakan api gosip kepada temsan-temannya.

“Ah masak? Jangan nuduh sembarangan dong. Dosa tahu Ndra…”Sela Sopian sambil nyengir beruang.

“Namanya gosip kan belum tentu benar Sopi..” Bela Hendra. “Aku pernah baca di salah satu tabloid infotainment lagi. Kalau dia cewek tulen kenapa belum kawin-kawin sampai sekarang.? Hayooo…!

“Benar juga  ya. Dia kan cantik, sexy, bohay dan ya ya ya.” Timpal Maruto.”Kalau dia mau cowok mana yang tak bisa ditalkukkan.”

“Jangan asal bikin opini sendiri.” Tukas Nyunyun saraya membenahi kepangnya yang copot pitanya. “Siapa tahu dia masih ingin meneruskan kuliahnya. Mungkin ke Es lima kali. Atau mungkin sedang membiayai adiknya yang sedang kuliah. Kan butuh biaya besar.  Jadi dia fokus ke karir dulu.

“Aku rasa si Kembang sering dikecewakan laki-laki hidung belang. Jadi dia tidak mau nyemplung ke lobang yang sama.” Kali ini Sianida angkat bicara. “Makanya dari pada berteman dan jadi mangsa laki-laki lebih baik berteman denagn sesama jenis.”

“Ciri-cirinya gimana Hend?” Tanya Tania dengan muka lugu dan polos.

“Gampang kok. Kamu bisa lihat kalau orang sedang berpacaran. Maksudku pacaran normal. Beda jenis. Coba bayangkan. Yeah mirip mirtip begitulah. Kalau sedang berjalan mereka acapkali bergandengan. Kadang berpelukan untuk meluapkan rasa rindu berat mereka. Terus..kalau lagi mereka berciuman deh…”

“Mudah-mudahan di kelas kita tidak ada yang kayak begituan ya.” Ucap Susi pelan.

Mari kita lihat antara Camelia dan Chica masih berseteru.

“Lia, pokoknya aku hari ini kecewa berat sama kamu.” Protes Chica dengan jengkel jengkol setelah mendaratkan pantanya di kursi.

“Kecewa gimana si Cak?” Tanya Camelia dengan tampang diblo-onin. “Bukannya aku sudah menemani kamu ke perpustakaan. Please deh. Aku sudah berbaik-baik kok masih… ”

“Iya sih. Kamu memang baik. Tapi karena kita telat saja sekian menit. Lima sekawannya ludes dipinjam oleh kelas lain. Terlebih lagi besok kan long week end. Biasanya seharian mengurung di kamar berteman lima sekawan. Kamu tahu kan Lia.?.Aku pelan-pelan berniat meninggalkan kebiasaan dugem dan ngelayap sampai pagi.

“Maafin Aku ya.” Camelia menarik tangan Chica serta mengusap-usap jari jemari sohibnya itu. “Aku baru mengerti betapa berartinya novel lima sekawan bagimu.Swear! Aku support banget minat bacamu. Aku juga menghargai perjuangan dan pengorbananmu untuk melawan di dunia malam.”

“Ingat Lia. Walaupun dahulu aku tenggelam dalam kehidupan dunia malam. Tapi aku bisa menjaga diri. Aku tidak pernah terlibat sex bebas, alkohol apalagi narkoba.”

Camelia merapatkan badannya ke Chica. Lalu mereka berangkulan hangat sekali. Chica membalas dengan mencekal pundak temannya. Untuk beberapa saat Camelia membisikkan sesuatu ke telinga Chica. Tiba-tiba Chica bereaksi. Mulutnya menganga. Matanya melotot. Lambat laun mulutnya yang beberapa jam lalu tampak memble mulai menampakkan kegembiraan yang luar biasa.

“Kamu serius Lia? Kamu serius Lia?” Tanya Chica sambul mengulang-ulang. Seakan-akan tiidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar tadi.

“He-he.” Camelia mengangguk dan tersenyum. “Aku harus berterima kasih sama Tekya. Aku jadi malu, baru saja kenalan sudah merayu demi minjam lima sekawanmu itu…”

Tiba-tiba Chica bangkit dan melonjak gembira. Dia meloncat-loncat mirip anak TK kebagian kue ulang tahun. Ditariknya tangan Camelia…Adegan berikutnya mereka berpelukan dengan mesra.

Mereka tidak sadar bahwa Hendra Sukma cs sedang menyaksikan adegan dimaksud. Tentunya dengan mata setengah melotot. Serta mulut terbuka. ..

Iklan

SERIAL ‘MASA SMA MASA BODO’ DIMANA ADA HUJAN, DISANA ADA BERKAH. SIAPKAN DAUN PISANG SETELAH HUJAN.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Oleh : Deddy Azwar

     Pagi itu langit terlihat menghitam dan memekat. Segerombolan awan hitam tadi kemudian berlari berarak, berkelana, menggayut di angkasa lepas. Lebih mirip kapan yang kehita-hitaman dihantam uraian debu. Bisa juga seperti paru-paru yang menggelap setelah dihantam kandungan nikotin dari asap perokok dari tahun ke tahun.

Perlahan bergerak menutupi langit sedikit demi sedikit. Tadinya suasana cerah benderah, terang benderang berubah menjadi mendung mendengung, gelap gemerlap .  Hembusan angin nan sepoy lembut menerpa siapa saja tanpa pandang bulu. Bulunya merk apa dan jenis apa pasti kena. (Emang bulu jins?) Semilir angin sepoy nan amboy malah kerap membuat gugur beberapa helai dedaunan kering pada sebuah dahan nan lapuk. Persis keadaannya ketika gerhana matahari datang menjelang, suasana berubah mirip petang.

Cuaca mendung dan pertanda sebentar lagi hujan akan mengguyur. Itulah kesimpulannya.

Titik dan bulir hujan mulai perlahan jatuh. Memeluk tanah sehingga membuat segalanya basah dan kuyub. Tanah yang berdebupun tampak seperti mengeluarkan asap ketika titik air menerpanya.

Pak Adaptasi Sutan Bagindo, pagi itu, tengah menyeruput kopi susu buatan istrinya, Samsidar Markonah. Kemudian dia melahap beberapa lembar roti tawar yang telah diolesi selai srikaya. Tidak terasa dia telah menyikat hampir semua roti yang tersaji. Menyisakan empat lembar roti tawar di piring, di atas meja kecil berenda. Tangannya memegang lembaran koran pagi. Saking asiknya wajahnya ketutupan koran tersebut. Sementara dia sibuk memelototi koran, istrinya yang setia itu, kebetulan hanyakan mengenakan piyama, tetap sibuk saja mengolesi roti yang tersisa dengan mentega, selai buah nenas dimixed butiran kismis rasa coklat berwarna warni. Sadap betul!

Meva, anak sulung mereka yang sedang beranjak dewasa, masih pelajar kelas satu SMA, baru saja menyelesaikan sarapan, bangkit berdiri meraih tas hikingnya bergambar snoopy, sebelum menyorongkan kursi ke bawah meja. Lalu dia mendaratkan pantatnya ke bantal sofa yang empuk gepuk dengan posisi orang santai sedunia. Meva Sumaiyah mulai menjalin tali sepatu ketsnya berwarna putih bersih. Ya tali sepatunya lucu dan unik. Warna warni!

“Onde mande Tuesday, Uda ini bagaimana kho? Sudah jam segini masih dempet saja dengan koran. Sepertinya tidak bisa dipisahkan ya. Coba Uda, lihatlah ke luar jendela sana ho. Kayaknya mau hujan lebat nih!” ujar istrinya seraya melongokkan kepada ke jendela berkaca nako. Dalam keseharian istrinya kerap memanggil suaminya dengan sebutan ‘Uda’, karena kebetulan mereka berasal dari suku Minangkabau.

“Iyo Ayah. Cepatlah sikit dong. Meva mau menebeng sampai sekolah yo?”rayu Meva dengan manja. Matanya mengerdip ke ayahnya. Dibalas ayahnya dengan memonyongkan mulutnya.

“Ayah, jadi jelek kalau begitu deh.”

“Sabanta lai nak. Berita metropolitan lagi seru,”ucap Pak Adaptasi Sutan Bagindo, tetap tidak melepaskan pandangannya dari koran pagi itu. Dia terus berkosentrasi membaca koran baris demi baris, kolom demi kolom, lembar demi lembar. Seakan tidak boelh ketinggalan berita barang sekalimatpun. Memang, sebagai kepala sekolah, dia ogah buta berita dan informasi. Terutama yang berhubungan dengan dunia pendidikan. Dia tidak sudi tersaingi dengan guru-guru yang lain. Di kantor sekolah, para guru mempunyai kebiasaan menyombongkan diri tentang sebuah informasi. Seakan-akan dia paling jago menguasai informasi. Mereka suka mengklaim bahwa diri mereka tidak kuper dan selalu update berita yang menjadi topik utama dan berita hangat, sehangat pisang goreng. Ya begitulah. Mereka juga berebutan ingin mendapat pujian dari Pak Bagindo.

“Hebat hebat kalian. Ditengah terpaan sinetron teve dan jadwal mengajar kalian yang padat masih sempat membaca berita. Saya senang mendengarnya. Saya salut! Tugas guru memang mengajar karena untuk saat ini ilmu pengetahuan kita lebih banyak daripada murid. Makanya kita menyampaikannya agar mereka mengetahui dan pintar. Dan perlu diingat dan diketahui oleh guru juga jangan sampai ketinggalan berita yang yang terkini. Jangan sampai kita ditertawakan oleh murid-murid karena minim informasi. Kalau sudah begitu lebih baik kita berganti profesi menjadi pelawak saja.”

“Onde mande, Uda. Sebenarnya berita apa yang dibaca nih sehingga membuatmu serius begitu ha. Matanya sampai melotot begitu.”tanya istrinya agak kesal dan penasaran dari tadi dicuwekin melulu.

“Ini ni Bu. Si Demi Moore, bininya Bruce Jeep Wills, bikin heboh dan kontroversi. Dia tampil tanpa busana di majalah Vanity Vair. Apa nda gilo tuh. Padahal perutnya lagi kembung alias hamil.”

Istrinya bertambah kesal rupanya. “Onde mande, kirain baca berita pendidikan, tidak tahunya berita begituan. Ayah ayah… Sudah mulai genit pula ha. Ayo, kemarikan korannya. Suadh tua bangka juga. Bisa tidak putus-putus nanti. Atau bacanya di kantior saja setelah habis makan siang, Ayah. Seperti tidak ada waktu luang saja.”

Sekonyong-konyong sang istri merebut koran dari cengkraman suaminya. Karuan saja akibat terlalu kuat, mengakibatkan koran kesayangannya robek besar hampir terbelah dua. Brett!

Pak Bagindo kaget kemudian tercengang.

Istrinya terbengong.

Meva Terkekeh.

Si kucing termeong.

Si ayam terkukuk.

“Waduh Ibu ibu…Lihat koran Ayah jadi robek begini. Ibu harus perbaiki ya. Bagaimana caranya kek. Saya belum sempat baca seluruh berita. Celaka tiga belas ini namanya ha. Berita Demi Moorenya juga kena. Onde Mande. Bagaimana pula ni ha. Macam mana ini ha.” Pak Bagindo mencak-mencak hampir membuat sarungnya copot. Dia lupa ternyata belum pakai celana dinas.

“Aman itu Da. Nanti Ambo (saya) sambung pakai plaster ha.”

“Tapi jangan pakai plaster berwarna hitam ya.”

“Bereslah itu.”

“Ibu ini ado-ado sajo. Memangnya duit receh yang diplester. Kalau duit receh masih layak ditukar di money changer. Lha kalau nasib koranku ini, siapa yang doyan koran bekas tambalan. Tukang loak saja ogah. “ Tampaknya Pak Bagindo masih belum puas dan tampak kecewa berat.

“Ibu minta maaf ha. Habis Ayah juga yang bikin masalah. Da, istrimu ini bukan tukang sulap yang dapat mengembalikan koran itu ke wujud semula.”

“Aduh aduh! Pusing kepalo Meva ini. Pusingg pusiang pusiiiang.” Meva menepuk-nepuk kepalanya. “Masa ribu karena persoalan sepel gitu. Ayah Ibu ayo berpelukan…Malu kan sama tetangga kiri kana depan belakang. Malu juga sama Pushme kucing Meva. Lihatlah kupingnua berdiri karena kaget. Nanti Meva ganti koran Ayah dengan majalah Bobo dulu ya hehe. Atau nanti Meva borong deh korannya. Bila si abang loper korannya Meva bawain ke mari.”

“Sombong sekali kamu ya Meva. Masih status pelajar sajo sudah ngomongnya melantur. Pitih saja masih minta sama orangtua. Mau mencoba memborong koran. Habis nanti uang jajanmu. Nda ado nan tersiso. Yang benar saja kamu ini ha.” Canda Pak Bagindo sambil mencubit pipi anak kesayangannya itu. Meva langsung cemberut.

Sekonyong-konyong  kilat menyambar. Petir menggelegar. Semua menjadi kaget. Terdiam. Dalam hati mereka segera mengucap Istigfar. Hujan yang tadinya gerimis berubah menjadi semakin deras mengguyur bumi pertiwi.

“Astaga gawat! Percekcokan kita terdengar oleh Tuhan,”desis Pak Bagindo dengan mimik muka diseriusin. Lalu dia tersenyum manis. Sang istripun tertawa, menular ke Meva. Kucingnya yang bernama Pushme pun tidak ketinggalan ikut tergelak-gelak.

Beberapa menit berselang, sanga istri Samsidar Markonah melepas keprgian suaminya, Sutan Bagindo sampai ke teras depan. Di tengah guyuran hujan, Pak Sutan sambil menggandeng Mewa berlari kecil menuju mobil mereka. Sebuah Toyota Hadrtop tua tapi antik yang diparkir di luar garasi. Dengan sepayung berdua bergegas menaiki kendaraan. Mobil itupun melaju ke jalan raya. Menerjang hujan dengan jumawa. Lalu berkumpul dengan komunitas mobil lain.

Di sebuah komplek perumahan yang berdekatan dengan rumah tahanan. Kira-kira berjarak 1 kilometer berdiri bangunan kokoh berbentuk benteng. Bangunan itu adalah penjara untuk orang-orang yang terkena hukuman karena melanggar hukum. Pagarnya yang super tinggi dihiasi dengan kawat berduri. Bak tanaman yang melilit pohon. Rupanya bangunan itu telah berdiri sejak zaman pendudukan Jepang. Semacam peninggalan zaman tentara Nippon. Tak jauh dari situ ada plang dengan tulisan besar tipe ‘arial’ berbunyi : ‘Rumah tahanan Bertobat itu Indah’. Tulisan yang sama dapat diktemukan juga di atas pintu gerbang masuk. Namanya cukup mengandung makna atau pesan untuk mengajak semua orang untuk bertobat dan menjuhkan diri dari niat atau perbuatan jahat.

Berbeda dengan penjara pada umumnya. Padahal apabila kita memasuki area tersebut akan merasakan suasana yang lebih tegang melebihi penjara yang terkejam di dunia, yaitu ‘Penjara Alcatraz’.

Nah! Kebetulan Agus Blepotan bermukim di daerah yang kita maksud. Kok bisa ya? Mau lagi…Di lokasi perumahan Agus juga turun hujan, namun tidak sederas di rumah Pak Kepsek. Maklum, hari itu hujan turun tidak merata.

Agus tinggal bersama kedua orangtuanya dan tiga saudara perempuannya. Kebetulan bapaknya bekerja sebagai kepala penjara. Makanya bapaknya termasuk orang yang dihormati dan terpandang. Memikul tanggungjawab yang cukup berat. Setiap hari bertugas mengawasi dan memastikan suasana tahanan tetap kondusif dan para tahanannya betah sehingga tidak ada yang berniat kabur sebelum masa tahanannya jatuh tempo. Bisa ditebak, otomatis seluruh keluarga pada manggut bin nurut untuk menempati rumah dinas yang disediakan lengkap dengan fasilitas yang ada. Pada awalnya Ibu dan ketiga anak perempuannya ragu untuk tinggal disana. Mungkin ada kekawatiran akan mempengaruhi secara psikologi. Tentu beda rasanya tinggal di perumahan dekat penjara dibandingkan perumahan pada umumnya. Malah sang Ibu pernah usul ke bapaknya untuk mencari rumah kontrakan saja. Mereka takut kalau-kalau salah satu tahanan mantan pembunuh menjebol sel dan lepas lalu kabur mencari jalan keluar dengan mengitari kompleks dengan menteror rumah. Atau yang lebih ekstrem denagn menakuti-nakuti atau bahkan mencekik leher orang yang ditemuinya dengan sadis. Biasanya aksi itu dilakukan tengah malan, dimana saat orang tidur lelap dihiasi mimpi-mimpi indah. Bayangkan! Bukan tanpa alasan, karena keluarga ini pernah mengalami kejadian yang seram itu. Sehingga sampai detik ini sang Ibu masih trauma. Beberapa tahun lahu ada seorang tahanan bekas pembunuh bayaran berdarah dingin berhasil menjebol dinding penjara. Untungnya sipir penjara dan tim yang berjaga pada malam itu cepat tanggap. Mereka berhasil menangkap dan menjebloskan kembali ke penjara. Plus penambahan masa tahanan. Seandainya takdir berkata lain, misalnya tahanan itu berhasil mengelabui penjaga dan masuk ke rumah dan menteror kepala penjara. Bisa saja dia suaminya diikat. Siapa yang akan membantu mereka. Tentu si narapidana dengan mudah membekuk para perempuan dengan mudah. Kejadian di atas masih menjadi momok bagi kaum ibu rumah tangga disana. Wakaupun sebelumnya mereka telah dibekali ilmu bela diri dari kantor.

Berkat ketelatenan dan kesabaran Pak  Banteng dalam menasehati istrinya. Akhirnya luluh juga. Bapaknya berusaha menyakinkan untuk tidak takut. Karena mereka tidak sendiri. Masih ada keluarga lain yang bernasib sama. Akhirnya persaan takut sang istri pun berangsur pudar dengan sendirinya. Tanpa terasa mereka telah tinggal disana kurang lebih empat tahun tanpa ada gangguan yang berarti. Malah, si Agus, anak laki-laki mereka yang nomor dua, tampak akrab dan bersahabat dengan beberapa orang penghuni rutan. Kadang-kadang Agus pulang sampai larut malam melayani penjaga penjara main gaplek atau main catur.

Pagi itu, Ibu Agus berteriak kencang sekali. Urat lehernyapun sampai jelas terlihat menegang. Sambil memegang toa (pengeras suara) sang Ibu mendatangi kamar anak-anaknya satu persatu.

“Agusss! Agustiniiii! Agustinaaa! Niniiik! Eh kalau Ninik kan masih TK. Ayo bangun! Apa kalian tidak mau berangkat ke sekolah? Hari ini bukan hari libur ya. Ayo cepat sedikit. Kalau hujan begini usahakan berangkatnya lebih pagi. Antisipasi macet atau banjir. Ayo buruan bangun, mandi dan sarapan pagi!”

Tanpa ba bi bu lagi semuanya otomatis terjaga. Mereka alergi dengan suara yang keluar dari pengeras suara. Benar-benar memekakkan telinga.

Tidak lama kemudian terdengarlah hiruk pikuk, hingar bingar, klbak klebuk, gemuruh dari ruang tengah. Setelah semua menyelesaikan mandi pagi, mereka bergegas berebutan mendatangi meja makan untuk sarapan pagi. Masing-masing saling mendahului, tidak mau kalah. Takut kehabisan jatah roti mentega campur coklat yang sedap buatan Ibunya. Akibat buru-buru dan serakah, mulut Agus langsung blepotan.

“Aduh kalian ini. Jangan membuat malu ibu dong. Kan anak-anak Ibu sudah pada besar-besar kok masih bertingkah tidak senonoh. Masak tiap pagi musti begini terus. Brisik terus. Persis anak kecil rebutan permen. Kalem sedikit kenapa sih.”

“Iya nih Bu. Agus sama Agustina sama saja bandelnya. Kakak sduah bilang bersikaplah sopan dan dewasa, lalu kalian akan dihargai pula oleh orang lain.”ujar Agustini, sebagai anak tertua ambil bagian. Dia merasa bertanggungjawab untuk memperingati adik-adiknya.

“Dengar apa yang dikatakan Kakakmu. Pasang telinga kalian baik-baik. Jadilah anak-anak yang baik dan penurut.”timpal Ibunya lagi. “Aduh Agus, kamu kan sudah kelas satu SMA. Kok jorok amat sih. Mulut sampai blepotan begitu. Bersihkan dengan tisu segera.”

“Maklum Bu, dia kan masih bayi. Makan saja masih belum beres.” Celetuk Agustina.

“Ibu selalu saja membela Mba Tina. Dia juga sama dengan Agus telat bangunnya. Mentang-mentang dia anak paling tua. Selalu lolos dari omelan. Dimana letak keadilan di rumah ini.”protes Agus sembari menyeka mulutnya. Lidahnya juga menjilat-jilat sisa kismis dan susu coklat yang masih menempel.”

“Agus, siapa saja yang nakal pasti Ibu omelin. Ngapain Ibu pilih bulu. Emang kalian ayam? Semua anak kesayangan Ibu. Semua posisinya sama di rumah ini.” Cetus Ibu Agus.

“Idih kamu ngiri ya Gus? Kakak tadi kaget dengar Ibu teriak lewat speaker. Disangka tadi ada gempa teknoktronik.”

“Tektonik Tin,” jelas Ibu cepat-cepat meluruskan, “ bukan elektronik.”

“Sorry Bu. Maksud Aku tadi mau ngomong begitu. Eh, sudah keduluan,”dalih Agustina mesem-mesem. Matanya merem-melek dengan genit. Lidahnya sengaja dijulurkan ke arah Agus. Agus pura-pura mau nimpuk pakai meja.

Petir menggelegar. Di luar hujan mulai lebat.

Tiba-tiba si bungsu Ninik alias Butet, si paling bontot barusaja keluar dari kamar sembari mengucek-ngucek matanya. Tanga kanannnya yang mungil masih memeluk bantal guling ‘Winnie the pooh’ nya. Sedangkan tangan sebelah kirinya mendekap selimutnya yang panjang menjuntai ke lantai.

“E-eh si cantik Butet sudah bangun ya..” sambut Ibu dengan suara sepertri mendendangkan sebuah lagu.

Ninik tersenyum.

“Bapak kemana Bu? Masak Butet tidak dibangunkan. Bapak nakal. Butetkan masu berangkat sekolah. Hari ini bu guru kasih pelajaran cara menggambar pemandangan di desa. Dia juga mau membuat patung dari lilin. Tahunya….telat deh. Butet harus berangkat pagi..Uhukk..uhuk” rengek Ninik sambil menarik-narik celemek Ibunya. Tangannya mengusap pipi dan mencium kening Ninik dengan lembut dan penuh kasih sayang. Kakak-kakaknya lalu bergantian mencium adik bungsungnya yang masih menggemaskan itu.

“Bapak tadi sudah mencoba membangunkan Ninik. Tapi tadi susah bangunnya. Bapak lihat tidurnya nyennyak sekali. Jadi Bapak tidak tega menganggu tidurnya Ninik. Bapak tadi minta maaf katanya harus berangkat ke kantor buru-buru karena ada rapat.”

“Rapat itu apa Bu?”

“Rapat itu. Bapak bersama teman-teman dikantornya membicarakan sesuatu yang penting.” Jelas Ibu sekenanya.

“Oh ngobrol ya. Tapi yang penting-penting. Iya iya.” Ninik mengangguk tanda mengerti.

“Yuk, mimik susu duulu. Nanti biar Opung yang mengantar. Sebentar lagi dia datang. Opung lagi jojing.” Ibu dengan cekatan memangku anak bungsunya itu. Ninik membalasnya dengan pelukan erat dan sayang.

“Bu…, Butet tidak mau diantar sama Opung ya.”

“Lho, kenapa sayang?”

“Opung kalau jalan suka lelet Bu.”

“Habis mau diantar sama siapa, wahai tuan putri?”

“Sama Ibu saja ya.”

“Bagaimana ya. Pekerjaan rumah tangga Ibu masih banyak dan kamar-kamar masih berantakan. Belum pakaian-pakaian kotor belum dicuci dan disetrika.”

“Ibu sekali-sekali istirahat dong. Kalau sakit bagaimana? Atau cari pembantu saja. Kalau ada pembantu kan bisa antar Butet. Betul nggak?”

“Sayang banget ya sama Ibu. Oke.” Jawab Ibu sambil menganggukkan kepala. Ninik melionjak kegirangan. Tertawanya lebar banget. Kemudian dia buru-buru meminum susu rasa strawberry kegemarannya dengan lahap sekali.

“Buu, jadi Bapak sudah berangkat duluan nih ceritanya?” tanya Agus dengan nada lemas.”Kok Bapak tega sih membiarkan anak-anaknya pergi sekolah dengan basah kuyub. Lalu kami ke sekolah naik oplet(angkot) ya?”

“Bukan begitu. Pokoknya semua tenang deh. Nanti Opung yang akan mengantarkan. Bapak tidak membawa mobil kok. Bapakmu tadi bilang ada keperluan mendesak. Makanya subuh-subuh dia sudah duluan bangun. Mana belum sempat sarapan pula. Tuh, lihat gelas kopinya masih di meja.”

“Ada apa sih Bu?” Tanya Agustina penasaran. Apa ada tahanan kabur. Atau dapat pelimpahan tahanan dari kota lain?”

Ibu menggeleng tanda tidak tahu. “Opung kemana nih. Tenaganya dibutuhkan untuk menyetir pagi ini malash belum balik-balik.”

“Opung lagi, Opung lagi.” Agustina ngambek.”Nyetir mobilnya lelet Bu. Bisa-bisa baru sampai pas jam istirahat deh.”

Agus berlari ke kamarnya untuk mengambil ular karet yang dibelinya kemarin sore. Setelah dimasukkan ke saku celana dia bergegas pergi.

Kesimpulannya Agus mengalah, lebih memilih naik angkutan umum saja. Kakak perempuannya akan diantar oleh Ibu. Karena setelah ditunggu lama si Opung belum nongol-nongol juga dari jojing. Ibu menduga si Opung pasti sedang berteduh di sesuatu tempat. Ibu berniat memanggil Agus biar bisa berangkat sama-sama. Akan tetapi Agus sudah terlanjur lenyap dari pandangan.

Tepat di kebun wak haji Adenin Palembang, Agus berhenti sebentar. Timbul ide untuk mengambil daun pisang yang lebar yang kebetulan menjuntai guna dipakai sebagai penganti payung. Ibarat kata pepatah tak ada payung daun pisangpun lumayan.

Tekya berusaha mempercepat langkahnya, tetap tidak bisa. Walaupun sudah separuh tenaganya di kerahkan, ayunan langkahnya semakin berat. Pantas saja, sepatu bagian bawahnya, tepatnya di alas kakinya sudah lengket dengan tanah liat yang merah. Belum lagi menghindari genangan air pada jalan yang berlobang, membuat pandangan menjadi saru. Terang saja dia kewalahan hari itu dia berjalan di tengan hujan yang semakin lama semakin lebat. Sialnya, tanpa dibekali sebuah payung lagi, Tekya menerobos hujan yang terus mendera. Tak ayal lagi, kondisi pakaian seragamnya nyaris basah kuyub.

Pada hari itu, keberuntungan sedang tidak berpihak kepada Tekya. Bagaimana tidak, ketika angkutan umum tinggal 100 meter lagi, tiba-tiba entah kenapa angkot yang dia tumpangi mendadak mogok. Bukan hanya bang supirnya yang kalang kabut, tetapi penumpang di dalamnya yang kebetulan tersisa Tekya seorang juga ikut senewen. Jarak antara sekolah dengan posisi kendaraan mogok masih tanggung. Sedangkan cuaca sedang tidak bersahabat. Hujan masih turun dengan curah lumayan deras. Bang Supir sudah berusaha mencoba dengan berbagai cara, semampunya dia. Berbagai gaya menstarter pada kunci kontak dia terapkan, namun tetap setrumnya terdengar lemah. Usahanya sia-sia. Kasihan keduanya.

“Bagaimana ini Pak? Masih tidak bisa ya?” Tanya Tekya berharap-harap cemas. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul 07.25. Sudah mepet betul.

“Iya Dik, sepertinya akinya lemah. Selemah hatiku saat ini gambarannya..” jawab Abang supir dengan lemas.

“Ayo bang, usaha lagi. Saya yakin Abang bisa kok. Banyak jalan menuju sekolah eh menuju roma ding. Coba stater lagi. Atau bukan karena akinya yang soak atau gara-gara lampu kucing atau wipernya yang rusak jadi menular ke mesinnya kali….”

“Adik, coba ya, jangan sok tahu deh. Saya sudah belasan tahun menjadi supir. Belum pernah terjadi seumur hidup saya kalau lampu kucing atau wipernya mati membuat mesin mobil mati juga. Nggak nyambung nian. Jadi jangan pakai mengajarin deh. Adik sekolah saja yang benar dan rajin. Jangan mencontek.” ucap Supir dengan ketus bercampur kesal.

“Eh, abang kok sewot sih.”balas Tekya ketus. “Masalahnya jarak sekolah saya tinggal sedikit lagi. Malah mobilnya mogok. Kalau saya turun, habislah saya kena hujan. Bagaimana ini? Tugas Abang belum selesai karena belum mengantar saya sampai tujuan. Penumpang adalah raja. Aduh! Sial bener saya hari ini.”

“Saya mengerti. Kita sama sama ketiban sial.”

“Bang, jadi kesimpulannya bagaimana? Apa yang harus dilakukan?”

“Satu-satunya cara adalah dengan mendorong, Dik.”

“Didorong? Saya sendiri?”

“Mau nggak mau. Kalau Saya ikut dorong siapa yang ngarahin stirnya Dik. Bisa-bisa kecebur got.”

“Oh begitu. Hujan-hujan begini. Terus kalau saya sakit siapa yang tanggungjawab? Coba pikirkan?”

“Mana saya tahu. Males banget deh. Hujan-hujan begini disuruh mikir. Kalau nggak mau ya sudah turun saja. Nanti Adik telat lho…”

Akhirnya dengan terpaksa Tekya keluar dari angkot dan menerobos hujan yang masih turun. Tekya masih mendengar teriakan Bang Supir sayup-sayup.

“Wah, katanya mau bantuin dorong dulu? Kok malah kabur..”

“Saya bantuin doa yaaa..!” pekik Tekya dengan penuh semangat. Meninggalkan bang supir dan mobil angkotnya yang masih terparkir di pinggir jalan.

Tekya tidak mungkin menanti hujan reda. Pawang hujan juga pasti tidak tahu, pikirnya dalam hati. Tekya memutuskan meneruskan perjalanannya sakralnya menuju sekolah. Dia musti mempercepat langkahnya agar tidak terlambat.

“Dasar apes sekali hari ini. Gara-gara mobil angkot yang sudah tua. Ya Tuhan apakah salah dan dosaku? Uhukk.. “Tekya tak henti mengutuki keadaannya. “Lagipula angkot sudah tua dan butut masih saja dioperasikan. Pantasnya sudah dimuseumkan. Coba kalau cuaca tidak hujan pasti saya sudah pilih-pilih angkot. Sudah mogoknya tidak pakai kompromi pula. Mbok ya hujannya berhenti dulu baru mogok. Aduh! Basah semua nih. Bisa-bisa sampai di sekolah diketawain sekelas. Oh my God! Buku gambarku juga ikut mandi hujan. Hiyyy dinginnnn…Brr..brr.”

Pada suatu ketika, tiba-tiba wajah Tekya langsung berubah ceria. Di hadapannya tersaji seorang murid cewek sedang berjalan juga. Dari belakang Tekya terus mengamati gerak-gerik si cewek. Tekya berusaha mendekat dan mensejajari langkahnya. Tekya semakin penasaran ingin melihat wajahnya. Siapa tahu dia kenal. Atau mungkin teman sekelasnya. Lumayan bisa nebeng. Kebetulan sekali cewek itu membawa dua buah payung. Kesempatan baik ini langsung dimanfaatkannya. Tekya memberanikan untuk menyapa..

“Hai, hallo, hallo hallo Bandung aku sedang kedinginan…Boleh nggak numpang payungnya. Payung saya ketinggalan di rumah.”

Cewek yang disapa otomatis kaget, ada cowok tidak dikenal tapi sok kenal. Si cewek langsung pasang muka curiga dulu. Walaupun di hadapannya berdiri seorang cowok sekelas Tommy Page, sepertinya si cewek tetap teguh pada pendiriannya. Emang saya cewek apaan langsung takluk dan termakan rayuan lirih si cowok cakep yang sekarang berdiri disampingnya. Menjaga image dan sedikit aksi jual mahal sebagai seorang wanita adalah hal yang terpenting. Apalagi kepada orang yang belum kita kenal.

“Mba mba, bokeh kan saya pinjam payungnya. Oke deh, kalau perlu saya sewa deh barang beberapa menit saja. Paling tidak sampai ke sekolah tidak kebasahan begini.”

“Nggak usah ya. Kamu siapa? Dari SMA mana sih? Berani-beraninya negur orang. Saya tidak kenal situ.” Tolak cewek itu sambil mendlik sewot. Tanpa menghiraukan permohonan Tekya yang mengiba-iba, dia terus berjalan berlenggak lenggok bak ‘gadis kebaya’. Bukan Tekya namanya bila menyerah begitu saja. Dia terus membarengi si cewek.

“Please…Pinjamkan dong Aku payungmu barang sekejab. Jangan pelit dong.”

“Bukannya saya pelit. Payung ini kekecilan buat kamu. Payung ini kepunyaan adik saya yang masih SD kelas satu.” Lagi-lagi si cewek menolak.

“Masak nggak boleh. Kamu tega nian ya melihat saya basah kuyub.  Ngomong-ngomong sepertinya kita satu sekolah deh.”

“Lho, Kamu tahu darimana?”

“Itu..dari atributmu ketahuan. Tidak bisa dibohongi. Kita satu sekolah.”

“Aku belum pernah melihat kamu.”

“Kamunya saja mungkin jarang bergaul. Di kelas melulu. Saya kan anak pungky, makanya jarang di kelas. Maksudnya saya nggak suka berlama-lama dalam kelas.”

“Kenapa? Nggak betah ya?” Akhirnya si cewek tanpa sadar memayungkan Tekya juga. Tekya tidak menjawab. Lama kelamaan dia tidak tega juga melihat Tekya menggigil kedinginan. “Kamu kesinian dong, katanya mau nebeng.”

Kemudian cewek itu malah menyodorkan juga sebuah payung kecilnya kepada Tekya. “Nih pakai.” Tekya dengan cepat membuka ikatannya dan segera mengembangkan payung itu.

“Terima kasih ya. Aku sudah menduga kamu pasti cewek baik hati. Kamu mirip artis idolaku dari Hongkong.“

“Emang siapa?”

“Lin Ching Hsia.”

“Nggak kenal.”

“Oh ya? Sayang sekali. Dia top lho. Kamu harus sering nonton film Mandarin.”

“Biarin. Aku kurang suka.”

“Sekali lagi terima kasih ya sudah meminjamkan payungnya.”

“Eeit enak saja pinjam. Sewa dong. Tarif Rp 5000 saja sampai sekolah.”

“Aduh, mahal amat. Ya sudah nggak apa-apa. Deal. Tapi bayarnya belakangan ya.  Hari ini saya bawa uangnya ngepas.”

“Iya.”

Tanpa dikomando, mereka berdua mulai berlari-lari kecil agar tiba sebelum bel berbunyi.

Sampai di depan lobby sekolah, mereka bergabung dengan murid-murid pasukan berpayung lain yang bernasib sama. Tekya meraba saku celananya. Lalu merogoh dompetnya dan menyodorkan uang kertas seribuan tiga lembar kepada si cewek. “Sekali lagi terima kasih ya Mba. Kekurangannya nanti saya bayar. Please..”

Cewek itu langsung mengambil payungnya dan bergegas meninggalkan Tekya yang masih memegang uang sembari berdiri mematung.

“Ini uang mbaaaa!” teriak Tekya tanpa memperdulikan sekitar.

“Nggak usah, pegang saja. Bercanda kok.”

Si cewek itu lenyap di balik tangga.

“Namanya siapa ya..Jadi lupa kenalan.” Tekya tersenyum tersipu-sipu.

Pak Kepsek terlihat berjalan tergopoh gopoh seraya menenteng tas besar berwarna hitam. Yang pasti tuh tas bukan bermerk Hermes. Di luar hujan masih belum juga berhenti. Namun intensitasnya sudah berkurang. Cendrung gerimis. Tidak biasanya beliau hari itu tidak membawa payung panjangnya. So jadi Pak Kepsek menggunankan sehelai saputangannya yang berwarna pink norak menjadikan penghiasa kepalanya, agar terhindar dari butiran-butiran air. Yang menghantam ubun-ubunnya berkali-kali. Sebagaimana yang kita dengar bahwa air hujan mengandung sedikit air raksa yang dapat mengakibatkan kepala menjadi pusing. Nasib Pak Kepsek masih lebih beruntung dibandingakan dari guru-guru yang lain. Malah, Bu Susun Kutacane nyaris basah kuyub.

Tidak apa sih. Ibu Idayati Gaga lebih miris legi menjadi tontonan gratis anak-anak. Masalahnya sang guru yang baru berdinas 6 bulan itu nyaris mandi. Bisa dibayangkan lekuk-lekuh bodynya nan semok itu jadi terpampang jelas bagai lukisan pemandangan yang mendapat ponten 100. Untungnya blazer hitam yang membalut tubuhnya cukup membantu kemejanya berwarna putih berkrah rada transparan, sedikit tertutup, sehingga menghalangi pandangan nakal orang-orang. Otomatis suasana hujan yang tidak romantisme itu dihiasi dengan suara teriakan wuihh….Bu Idayati nan menggemaskan itu telah dapat membaca situasi yang merugikan dirinya. Sekejab pemandangan makhluk  nan indah ciptaan Tuhan itu telah lenyap dibalik pintu.

Cukup soal Ibu Idayati Gaga, kita kembali fokus kepada keadaan Pak Kepsek. Walaupun tidak menarik perhatian. Sampai depan pintu lobi utama gedung sekolah, beliau disambut ramah oleh petugas administrasi dan tata usaha.

“Selamat pagi Pak, “ sapa Pak Tukijan  sumringah ketika berpas-pasan dengan atasannya, “Tumben tidak membawa payung Pak.? Aduh baju bapak basah semua.”

“Selamat pak Kijan. Iya saya lupa membawa payung. Tidak menyangka akan turun hujan. Bahkan koran pagiku juga tak terselamatkan. Ihikss”

“Betul Pak. Kadang prediksi kita suka meleset. Lho bawa tidak bawa mobil?”

“Mana mungkin bawa mobil, Pak Kijan. Mobil kan berat. Bagaimana mungkin? Canda Pak Kepsel.

“Ah Bapak bisa saja. “

“Saya diantar istri sampai di depan warung dekat SMEA.”

“Belanja dulu Pak?”

“ Iya beli permen dapat rokok.”

“Ah mana mungkin.”

“Mungkinlah..saya beli rokok uang kembaliannya ditukar permen. Hahaha..”

Keduanya tertawa.

“Wah, saya lihat kondisi kamu tidak basah. Pakaianmu kering kerontang. Diantar becak sampai ke halaman sekolah ya? Atau jangan-jangan kamu nginap di sekolah alias tidak pulang?”

“Tidaklah Pak.” Pak Tukijan hanya nyengir kuda nil.” Ah Pak Sutan ini bercanda melulu. Memangnya saya petugas siskamling. Hari ini saya datang lebih pagi Pak. “

“Bagus. Pak Tukijan, umumkan kepada guru-guru lain ya.”

“Umumkan apa Pak?”

“Tolong kosongkan kamar mandi. Saya mau pakai mesin pengering dulu. Masalahnya saya tidak bawa pakaian ganti.”

“Siap Pak. Oh ya, saya boleh pinjam korannya sebentar. Saya mau melihat pengumuman nama-nama pemenang  kuis TTS terbitan minggu lalu. Siapa tahu nama saya nyangkut.”

“Nih. Kalau menang jangan lupa traktir ya.” Ujar sang Kepsek sambil mengerdipkan matanya genit  sambil tidak lupa menyodorkan koran leceknya karena basah.

Pak Tukijan mengangguk sambil nyengir dinosaurus. Dengan mata-mata berbinar-binar dia membawa koran itu ke ruangannya. Lalu dibentangkannya lebar-lebar. Diiringi degup jantungnya yang berlari-lari. Setelah dibolak balik dilipat digulung dan dibentangkan dikibarkan lagi tetap tidak ketemu halaman yang dimaksud. Sampai pada suatu ketika, mata Pak Tukijan membelalak sambil mendengus kesal.

“Sialan. Pak Sutan bagaiman sih. Pantas, yang dikasih koran dua bulan lalu. Ternyata koran bekas.”

Dan..Pak Sutan pun ikut-ikutan lenyap di balik pintu. Besok-besok mungkin si pintu lenyap digondol maling. Hihi..

Air mulai menggenangi pekarangan, membasahi tanaman apotik hidup dan sedikit lapangan basket, tapi cukup mengakibatkan lapangan sepak bola menjadi becek. Suasana koridor kelas tampak sepi. Tiap kelas telah memulai aktivitas belajar. Tampak beberapa siswa masih berkeliaran di sekitar kantin untuk sekedar membeli cemilan dan minuman kaleng.

Sudah lumrah untuk suatu revolusi eh salah maksudnya hujan selalu dijadikan kambing hitam untuk datang terlambat. Alasan bisa bermacam-macam. Banjirlah…Jalanan macetlah…

Bel masukpun menjadi molor, biasanya pukul 7.30 WIB disulap menjadi pukul 8.30. Tergantung deras atau tidaknya curah hujan yang turun. Di lokasi lain mungkin momen hujan dapat dijadikan alasan untuk narik selimut lalu meringkuk di tempat tidur. Beberapa anak-anak kecil tampak asik bermain bola sepak di lapangan yang becek. Mereka tak menghiraukan efek dari hujan tersebut.

Sementara itu, sekumpulan gang serdadu kelas 1.3 tengah membentuk kerumunan sambil duduk-duduk bangku panjang. Di sana  ada beberapa pentolan siswa yang bandel. Seperti si Faisol Kriting, Ichsan TWEJ, Agus Blepotan, Ali Sanawiyah, Apto Priggodani dan Yudo Gempul.

“Heyy…Telya lakadam!! Sudah salaman belum sama Yudi!” Panggil Faiso seraya melambaikan tangannya. Tekya hanya terdiam bengong. Mirip kambing bingung.

“Sudah, kemari aja. Nggak dikerjain kok. Pakai pura-puran pinter lagi lho. Bukannya kamu sduah lebih tahu kalau masalah beginian. Kemaren kan hari raya Imlek alias sinchia..Katanya tetangga kamu kiri-kanan banyak chinesenya.” Timpal Ali Sanawiyah cengengasan yang menjadi ciri khasnya.

“Waduh, iya iya,” Tekya baru sadar sembari menepuk jidatnya, “selamat sinchia ya Yudi. Xong chi Fat Choy.  Xongsi..Xongsi..Tekya menyatukan dua genggam tangannya mirip kayak pendekar dalam film Mandarin memberi hormat.

“Kenapa tidak bawa kue yang berwarna merah-merah itu,” sela Yudo Gempul.

“Oh yang dari kacang hijau itu, “ sambar Yudi Sungideres yang kebetulan penganut Khong Hu Chu.. Yudo Gempul mengangguk. “Tenang kawan-kawan soal kue-kue gampang. Semuanya tersedia. Kue kering karna kejemur ada. Kue basah yang kecemplung sumur juga ada. Bahkan pempek dan tekwan orangtua juga menyediakan. Apalagi minuman cincau kaleng. Ssttt…bir songhie juga ada beberapa krat. Komplit. Asal nggak pada ngantongin kacang yg banyak seperti tahun kemaren.

“Bagaiman kalau pulang sekolah nanti kita mampir ke rumah Yudi? Rumah kamu di daerah Yud. Jauh tidak dari sekolah kita.” Ujar Faisol Kriting berapi-api. Saking kepingin dapat makanan gratis.

“Khusus acara begini, kita always standby kok Yud..” Cerocos Ichsan TWEJ. Kacama tebalnya nyaris copot ketika mendengar kata makanan.

“Lu ada shong hie sama whisky juga Yud?” Tanya Agus Blepotan.

Yudi mengangguk. “Iya habis pamanku juga doyan mabok.”

“Paten paten. Mantap!” puji Apto Pringgodani senyam senyum.

“Emang kenapa Gus..kamu nanya minuman keras? “ Tanya Yudi sedikit penasaran. “Kamu doyan mabok juga ya? Belum dewasa. Belum akhir balik, lebih jangan dulu deh. Nanti malah muntah-muntah di rumahku.”

“Ah kamu belum tahu Aku sih. Aku sudah lama tidak menenggak minuman-minumas keras. Sedap nih kalau di rumahmu ada. Masak Cuman kue-kue dong. Ah cemen bro…Emang saya pelajar banci kaleng. “ ketus Agus Blepotan yang rada bertampang centeng pasar inpres. Anatominya saja kalau diamati secara seriud lebih mirip botol kecap.

“Wah ini ini kalau kalian minum awas ya. Pokoknya tidak ada acara teler-teleran ya..”Protes Debby sambil menunjuk-nunjuk ujung hidung Agus. Agus terkesiap kaget. Dia kesel hidungnya yang sudah pesek alias mancung kedalem itu ditunjuk-tunjuk.

“I agree with you Debby. Deal. Thats stupid boy. Forbiden. Not useful. Very dangerous. Kalau pakai acara teler, I’am not followlah…timpal Ichsan TWEJ.

Pukul sembilan kurang seperempat bel berbunyi panjang. Pelajaran untuk jam pertama dipagi nan indah untuk kelas 1.3 yaitu kesenian atau menggambar. Dan akan diasuh oleh Kak Seto eh salah yang betul oleh Bu Yuli. Akan tetapi karena beliau berhalangan hadir lantaran ada kabar berita jalan menuju ke rumahnya kebanjiran. Sampai sekarang belum ada guru penggantinya. Sontak banyak siswa-siswa yang kecewa, alasannya tidak lain dan tidak bukan karena menggambar merupakan pelajaran yang super santai. Asik dibuat untuk rilex, melamun, ngalor ngidul dan menggosip. Noteabene tidak perlu menguras pikiran dan urat saraf. Tekya, termasuk paling menggerutu kali ini. Betapa tidak dia musti berkorban menyewa payung demi menyelamatkan bukur gambarnya. Dia juga sudah menyiapakan segala macam tetek bengek peralatannya, rapido, jangkar, mistar, spidol, pensil de el el. Dan dia juga terlihat dua ratus kali lebih serius dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Oh Ibu Yuli, engkau membuatku kecewa deh. Saking kesalnya, ingin rasanya Tekya melompat dari ruangan kelas di lantai tiga dilengkapi dengan parasut tentunya. Olala. Sejurus kemudian Tekya menerawang.

Rekan sebangku Tekya lain lagi, si Faisol menyaksikan Tekya yang tengah dilanda kecewa berat. Kelihatan dari gerak geriknya yang tidak tenang. Niat rencana ingin mengusili si Tekya, dia urungkan. Tekut disemprot. Lalu Faisol segera mengambil topik aksi lainnya. Oh ya lebih baik dia melamunkan makhluk hidup ciptaan Tuhan yang paling indah yaitu : perempuan alias cewek. Tampangnya seruwet rambut kribonya. Alamak! Rupanya dia sedang membayangkan sesosok wajah manis bernama Emilia, anak cewek kelas 1.5. Kelasnya tepat di muka tangga lantai tiga. Akibatnya Faisol jadi tertawa sendiri persis orang sedeng.

Tiba-tiba..Lamunan Faisol buyar gebyar. “ Sol..sol..kamu bawa buku gambar tidak?” Rupanya Tekya yang punya gawe. Eeh mahkluk yang ditanya malah tidak menjawab sepatah katapun. Dia tak bergeming. Tetap setia melamun. Swear, Faisol tak menghiraukan teguran teman sebangkunya. Akhirnya Tekya menempuh jalan terakhir menimpuk jidat Faisol dengan buku gambar berukuran A3. PLOOKK!!! Baru Faisol tersadar dan mulai kembali ke alam nyata.

“Ada apah sing begajul. “hardik Faisol kelabakan. “Kamu mengusik lamunanku saja. Kan sulit lagi Aku untuk berkesentrasi untuk kembali melamun. Tahu nggak?!”

“Aku lupa bawa buku gambar! Puas?!” Omel Faisol kepada Tekya. “Kamu ini kenapa si Tekya, tidaak boleh melihat orang senang sedikit sih. Buyar deh lamunannku. Kabur tuh cewek…”

“Wuihh, segitu sewotnya. Padahal saya kan tanyanya baik-baik. Sol Sol..Faisol bedegul. “

“Lupa Luapa! Aku lupa bawa. Emang kamu mau pinjamin Aku?”

“Ogah. Nanti kamu keterusan malesnya slalu lupa membawa buku gambar.”

“Habis ukurannya besar. Tasku tidak muat.”

“Yang penting niat bro..”

“Kali ini kamu beruntung. Bu Yuli berhalangan.”

“Asikkk.” Lantas kita sekarang waktunya bebas.” Wajah Faisol bercahaya. Dalam hatinya pengin loncat-loncat kegirangan namun diurungkannya tindakan gila tersebut.

“Lho aku kok nggak nemui buku gambarmu Tekya. Lupa juga ya?”Ledek Faisol dengan bibir yang dimancungkan. Nyaris dower mirip Mick Jagger. “Kalau begitu skor kita sama ya. Senasib sepenanggungan. Sama-sama lupa bawa buku gambar. Ibarat saudara kembar saja. Serupa tapi tak sama. Kalau kamu mirip manusia sedangkan saya manusia asli. Hehehe..”

Timbullah rasa  kesal Tekya. Sambil mendengus kayak wedus. Tekya cepat cepat merogoh sesuatu dari sorong mejanya. Kemudian terpampanglah seonggok buku menggambar ukuran A3 yang kondisinya sedikit basah dan kumal. Untung masih layak pakai.

Faisol kaget. Kedua bola matanya yang hitam bergeser ke tengah mirip orang juling. Sesaat kemudian kepalanya menggeleng-geleng tanda takjub heran.

“Gara-gara hujan sialan!” Maki Tekya.

“Astagfirullah! Nyebut Tekya…Hujan itu berkah dari Allah.”

“Ampun ya Allah. Ampuni bacot hambamu ini. Asal njeplak aja. Saya khilaf ya Tuhan.” Tekya langsung gelagapan.

Faisol cekikikan sampai  punggungnya tersender di sandaran bangku. Tiba-tiba dia refleks mengajak Tekya untuk toast. Dengan gerakan sedikit lamban dan gelagapan, akhirnya Tekya menyambut juga lima jari milik Faisol. Kelima jarinya juga keriting seindentik dengan rambutnya. Lalu Faisol berkata, “ Dengarin ya Tekya. Kamu masih lebih hoki dibanding Aku. Buku gambar milik kamu masih berwujud barang. Lha! Kalau punya awak ini sudah tidak ada juntrungnya lagi. Alias lenyap.”

“Maksudmu? Buku gambarmu basah kena hujan lalu menjadi hancur menjadi potongan-potongan kecil. Begitu?”

“Bukan begitu maksud awak. Hilang tak berbekas..”

“Aku jadi bingung Sol. Masih belum mudeng dan belum tahu arah pembicaraannya.”

“Gawat kamu. Kebanyakan minum pil koplo ya. Jadi overdosis.”

“Sudahlah, Jangan banyak cincong. Ceritamu diringkas aja. To the pont gitu.”

“Oke. Keseimpulannya “BUKU GAMBARKU KETINGGALAN DI OPLET”. Puas kamu?!”

Meledaklah ketawa Tekya seketika mendengan alasan dari mulut Faisol.

“Sudah kuduga kamu pasti akan meledekku. Huh! Daasar tidak setia kawan.”

“Lantas kamu tidak menguber dan berteriak? Biar busnya berhenti.”

“Sudah. Tapi mereka terus aja pergi. Ihikksss..”

“Kasihan kamu Sol. Aku turut prihatin.” Tekya menepuk bahu temannya dengan buku gambarnya yang kumal bin dekil.

Selang beberapa menit kemudian, menjelang pelajaran usai, suasana kelas tampak riuh gemuruh seperti di pasar inpres. Setidaknya terdapat beberapa gelintir anak-anak cowok bertingkah seperti begundal-gundal pacul-cul gembelengan…melancarkan aksi membuat gaduh. Sementara anak-anak cewek mengalah dan tidak mau terlibat, cukup berlaku kalem dan acu-acuh cuwek. Lebih nyaman menjadi penonton saja.

Para Serdadu kelas 1.3 dapat digolongkan katagori remaja berusia tanggung yang penuh kreativitas, enerjik over dinamis.

Seperti kejadian kali ini, sebuah konser gelap dadakan yang dimotori oleh Yuda Gempul tercipta sudah, plus personelnya macam  Agus Blepotan, Ferry Item, Choi Kurcaci also starring Sony Betapermax  mulai bangkit kekumatannya. Mereka bertindak atas komando Yuda Gempul yang menggerak-gerakkan layaknya konduktor atau dirigen yang memandu sekelompok pemusik pada suatu pagelaran konser musik. Beberapa anak bagaikan keiblisan mengeplak-geplak meja seolah-olah drum. Tentu saja bunyi yang dihasilkan berantakan. Lebih mirip knalpot pecah yang racing. Jauh dari kesan harmonis dan merdu. Komposisinya kocar-kacir. “PLAK! DUNG DUNG PLAK! PLETAK! GENJRANG GENJRENG! NA NA NA NA!” Kurang lebih seperti itulah nadanya. Sungguh tidak jelas. Suaranya membahana. Walaupun begitu mereka tetap cuwek dan kompak. Lama kelamaan agak terdengar dan terbentuk juga nadanya.

Memang, tidak ada greget dan nilai seninya. Yang pasti amburadul yang membuat pusing kepala. Sekali lagi, ahenya mereka tampak menjiwai seaakan-akan mengikuti irama dari pak komposer dengan benar. Tidak beberapa lama sayup-sayup terdengar lagu dengan balutan irama padang pasir di Timur Tengah. Mendayu-dayu dan melenggak lenggok bak ratu kebaya. Namun lagunya terdengar hancur ketika dimasukkan lirik yang diplesetkan menjadi parodi. Padahal iramanya mengambil sebuah lagu Koe Plus yang berjudul ‘di sekolah’. Lagunya kurang lebih seperti ini..: DI SEKOLAH YANG KUHITOING-LUHITOUNG, HANYAKAH CIWEK. KTELAH LAMA MENULAK-MENULAAAK EH MASIH NGEBEET JUGA.

Sejumlah siswi cewek seperti : Lala Arleini, Eveltine, Debby, Fatimah, Inyoy, Novelita, Dewi Brisik, Elbala Diba, Baba Bubu dan sejenisnya. Mereka serempak meneriakkan suara “HUUUUUU..! Zoel yang sering gamang akan jenis kelaminnya itu masuk ke kelompok mana. Zoel yang feminim itu memang lebih tertarik bermain dengan siswi cewek, walaupun dia terpasung dalam badan lelaki. Namun naluri dan sifatnya nyemplung  ke perempuan yang lemah lembur serta gemulai. Namun, kali ini Zoel tak ingin ambil bagian pada parade kali ini. Dia hanya terdiam diri di sudut kelas. Entah siluman apa yang sedang mamasuki raganya sehingga dia berlaku kalem kali ini. Biasanya dia acap berbaur malah terkadang bikin heboh. Tadi pagi Zoel ikut merasakan siraman air hujan yang dipercikan dari ban mobil oplet atau angkot. Kejadian itu sempat membuatnya naik darah. Zoel tak sempat mengumpat sopirnya, karena telah lenyap di balik tikungan. Juga timbul rasa malu ketika tengah memasuki area sekolah. Beberapa gelintir dari kelas lain sempat terdengar cekikikan tertawa mereka yang sepenuhnya Zoel rasakan nada meledek. Melihat bajunya terdapat beberapa bercak noda tanah dan basah. Seragamnya yang sebelumnya putih bersih mengkilap menjadi hitam buram. Seandainya saja (kalau boleh berandai-andai) disekitar kejadian masih sepi pastilah Zoel sudah berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Zoel hanya tidak tega menyaksikan Ibunya dengan susah payah membersihkan noda. Guyuran hujan dan insiden tadi pagi langsung membuatnya mati rasa.

Oh ya Debby sempat  menarik-narik tangannya diiringan rayuan agar mau bergabung. Tapi tak mempan. Zoel sudah terlanjur tidak bernafsu.

“Kenapa si Zoel?” Tanya Eltine kepada Debby.

“Entahlah. Tidak biasanya. Kesambet jin n jun kali.”jawab Debby sekenanya.

“Mungkin dia kesal sama kejadian tadi pagi yang merenggut….”cerita Eveltine.

“Merenggut….baju seragamnya ya? Hahaha.” Debby sumringah.

Eveltine dan Debby cekikikan.

Susasana tidak kondusif. Di tengah hiruk pikuk kelas yang mirip kapal Titanic yang pecah. Di sebuah meja dekat jendela. Iwan Mukejenuh yang bertubuh gembal, berbodi subur dan lumayan kekar. Selain berwajah Boolywood tampak sedang memeras keringat (bukan susu sapi ya…) mengumpulkan segala upaya, semangat dan tenaga yang dia punya dalam perhelatan adu panco gelap. Kali ini melawan Hery.

Mereka membentuk semacam arena yang melingkar. Masing-masing supporter maupun panchocheersleader mendukung andalannya. Auro dan aroma panas penuh semangat dari kubu masing-masing untuk  memenangkan jagoannya. Iwan menampakkan wajah penuh ketenangan dan kesantaian dalam menghadapi Hery. Sebagai juara bertahan panco antar bangku di kelas tersebut berusaha bersikap tenang. Berbeda 180 derajat dengan keadaan Hery. Dia dengan susah payah berupaya sekuat tenaga untuk menaklukkan Iwan. Nafasnya berhembus satu persatu. Terengah-engah dan payah. Butir-butiran keringan  mulai bercucuran membasahai beberapa bidang badannya.

“Ayo, terus Wan, masalah lo kalah si ceking Hery’ Tulangnya saja seperti papan cucian. Dia nggak ada apa-apanya!!” Teriak Faisol memberi semangat membara. “Jangan sampai kalah dong. Krdibilitasmu bisa anjlok.”

“Tenang Sol. Emang tampang saya tampang kalah. Nggak lah ya.”

“Ayon Ri! Hancurkan si juara bertahan Bila perlu sampai mampuih. Anggap saja  Iwan itu gentong air. Ayo Her, jangan malu-maluin bangsa Afrika.”dukung Apto sengit.

“Sialan kamu To. Kalau mau support yg bener. Tapi jangan fitnah dong saya dibilangin dari Afrika.

Dengan mudah bagi Iwan Mukejenuh untuk menaklukkan Hery Slim. Pergelangan tangan milik Hery agak kebiru-biruan terkulai lunglai. Sebagai tanda perjalanan aliran darahnya belum lancar. Walaupun begitu Hery tidak ingin menunjukkan muka kalahnya. Dia tetap tegar dan tersenyum. Tentu saja Hery tidak mau harga dirinya jatuh di hadapan siswi-siswi kelas 1.3. Bisa-bisa dia dicemooh dan diperolok-olok. Rasa sakitnya yang sedikit-dikit mulai mendera ditahannya kuat-kuat. Sudah menjadi rahasia umum kalau adu panco barusan terjadi adalah kurang fair alias tidak seimbang.  Hery yang berbadan tipis alias kurus nggak keurus itu harus dipaksa melawan Iwan. Terang saja Hery langusng keok dan KO cepat.

“Herryy. Tadi kamu sarapan apa sih..” Tanya Iqbal.

Hery hanya mesem-mesem. Buru-buru dia ngeluyur ke toilet. Alasannya sudah kebelet. Padahal dia mau mengaduh sepuasnya tanpa orang yang mengetahuinya.

“Makan serbuk gergaji ya?” Ledek Iwan jumawa.”Hayo siapa lagi lawan berikutnya. Ingat! Sebelum turun lapangan dicek dulu ya tenaganya. Kira-kira kalau tidak sanggup melawan saya mundur saja. Jangan kayak si Herry. Tidak kuat tapi belagak jago dipaksakan. Jadi begini akibatnya.”

Tiba-tiab muncul Andre unjuk kebolehan.

“Nyali lu gede juga Ndre..”Sambut Iwan sinis.

“Begini-begini saya sudah beberapa kali nonton film Silvester Stallone..” ucap Andre seraya mngyingsingkan lengan bajunya hingga kelihatannya ujung ketiaknya.

“Jangan ketinggian gulung bajunya Nde. Baunya kurang sedap. Ketek jelek kamu kelihatan.” Protes Iwan.

“Oh ya tadi kamu belajar dari film Stallone ya. Saya tebak pasti film ‘OVER THE TOP’. Pilem tentang seorang plonco.. eh pemanco.

“Enak saja. Sembarangan jawabnya. Asal njeplak aja. Salah.”ujar Andre kesal.

“Lantas film apa dong…”

“Basic Insticn.”

“Ancurminah. Anjriiit!”

Pinsa Anu Gerah, Iqbalik, Akhyar kembali bersorak-sorak sambil bertepuk tangan memberi semangat kepada kedua petarung panco tersebut.

Mari kita beralih ke meja lain. Ternyata sedang berlangsung pertandingan catur yang cukup….santai antara master Tekya dan master Agus Kecik. Akan tetapi keduanya menunjukkan muka tegang. Tekya dengan gaya bertopang dagu. Sedangkan Agus Kecil bertopeng monyet…hihi. Biar dikira penonton sedang memeras otak.

“Skakt Mamat!!” Pekik Tekya tertahan. Agus Kecik agak terpelongo. Mata terpelotot. Lidahnya menjulur. “ Ayo kamu mau kabur kemana? Raja kamu telah terkepung. Silahkan dik Agus yang kecik mengalah saja.” Tekya melonjak kegirangan seakan sudah yakin bakal menang. “Jalan kamu semua sudah ketutup. Kiri kana ada ruko. Hehehe.”

“Eit..tunggu dulu dong. Kasih kesempatan saya mencari jalan dan siasat.” Agus kecik ngotot belum mau mengaku kalah. Dia berusaha memandangi satu persatu buah catur-caturnya. Siapa tahu masih mempunyai peluang. Walaupun keadaan sang raja sedang gawat dan kritis toh masih ada mentri, benteng, luncuk dan sejumlah pion.

“Tenang sajalah. Masih banyak jalan menuju kecurangan..” Bisik Agus Kecik sambil berbisik kepada Choy.

“Apa kamu bilang curang? Pantesss…Ternyata…Perasaan awak tadi mengatakan pasti ada yg tidak beres.”

“Tadi itu iya sih. Sekarang murni lho..Giliran saya kan sekarang, skak ster hayooo…”ucap Tekya santai tanpa dosa.

“Steer? Mana ada ster? Ulang! Ulang! Itu tadi nggak syah!” Faisol mengamuk pertanda dia tak diterima.

“KEDOBRAAAKKKK!!!” Tak ayal lagi buah-buah catur berjatuhan dan berhamburan. Entah kenapa siapa yang berbuat? Entah siapa gerangan yang menganggu dan berbuat usil. Wow usult punya usut ternyata rupanya si Faisol yang membuat ulah. Kesambet jin Afrika kali…Balasannya rambut Faisol yang keriting itu diacak-acak oleh Tekya. AJAIB! Rambut Faisol tak berubah sedikitpun. Catur is finish.

Keributan tak berujung itu benar-benar membuat bising. Tak beda seperti keadaan di pasar kaget yang heboh oleh teriak-teriakan para pedagang selagi menawarkan barang loakannya. Otomatis beberapa kelas tetangga merasa terusik kondisi belajar mereka. Akibatnya suara para guru yang menerangkan pelajar berteriak sampai suara mereka parau tidak terdengar sama sekali ke telinga para murid.  Dulu, memang semua guru sudah pada maklum terhadap kelas 1-3 yang basicnya susah diatur dan dijelimetin dengan nasehat-nasehat usang. Badungnya sudah tidak ketulungan lagi. Tapi sekarang, aliran darah mereka sudah terlanjur naik sampai kepala. Istilah lain  sudah naik pitam.

“Aduh!” Ada yang tahu kelas mana itu yang bikin ribu?!” Tiba-tibal Ibu Wiwi melontarkan sebuah pertanyaan yang tak perlu dijawab dengan menguras otak kanan maupun kiri.

“Kelas satuuu tigaaaa Buuu.!!!” Teriak ana-anak murid kelas 1-5 secara serempak seperti koor paduan suara buaya. Mirip orkes simponi little pony.

“Lihatlah anak-anak, omel Bu Wiwi yang kebetulan memandu pelajaran bahasa Inggris di kelas 1-5, mendengar keributan itu.”Mirip anak-anak bebek kehilangan video game. Tak patut kaliah contoh. Untungnya rata-rata mereka berotak encer. Yang bernilai positif boleh kita contoh. Kenakalannya jangan ya. Sungguh memalukan. Terlalu…”

“Pada mau bertelor kali Bu. “Celetuk Udin Zabriks dari bangku paling belakang.

Mari kita kembali melihat keadaan kelas 1-3 yang saat ini menjadi sorotan para guru. Kegaduhan sudah mereda. Faisol dan Tekya yang tadi bertikai gara-gara bermain catur sudah didamaikan oleh teman-teman mereka sendiri.

Fatimah, Endah beserta Baba sedang asik membuka lembar demi lembar sebuah majalah remaja yang terbit edisi bulanan. Nama majalahnya Mode. Berita-berita sudah ketahuan yaitu sekitar mode dan fashion. Selain itu juga memamerkan model-mode muda yang kece-kece dan klimis-klimis. Sesekali mata mereka melotot sewaktu melihat gambar-gambar sosok-sosok para cover boy yang bertampang macho berpose bertelanjang dada di pinggir empang ikan lele. Pokoknya memakan satu halaman penuh.

“Waduh, kapan ye Ogut dapet lanang belagak-belagak mak ini (kapan ya saya dapat cowok cakep-cekep seperti ini) Oh betapa senengnya seandainya kelak dapat pendamping hidup itu sekeren ini. Betapa indah dan berwarnanya dunia. Bisa-bisa ogut betah dan sebulan tidak pernah keluar rumah.”

“Ngapain? Kali bersih-bersihin rumah ya? Ngepel dan nyapu gitu?” Tanya Endah mirip cewek bolot.

“Hey..emang kita pasangan babu apa? Maksudnya kami akan memadu kasih sepanjang hari dan malam. Lokasinya tidak perlu jauh-jauh. Kamar mandi kamar tidur,  kamar tidur kamar mandi.

“Idih, maunya! Emang kalau menikah itu lepas dari kewajiban urusan rumah tangga apa?!” Potong Baba, “Nih kalau saya nih Fatimeh. Kamu dengerin yee. Cowok pendamping aku tidak perlu terlalu good looking atau handsome tampangnya gitu. Tidak perlu muluk-muluk deh. Emang cerita dul muluk. Kepribadian dan akhlak nomor wahid. Terus dia merupakan laki-laki yang bertanggungjawab sebagai kepala rumah tangga. Menjadi imam bagi keluarga. Mempunyai pekerjaan yang mapan. Setia, pengertian, penyayang, sedikit kocak dan….cinta aku sampe dunia memisahkan kita.”

“Apanya yang nggak muluk- muluk. Semua kriteriaku sudah kamu borong semua Baba..” Ketus Endah. “ Saya sepakat sama kamu, buat jadiin cowok kalau bisa cakep. Tapi kalau suami tidak perlu cakep nanti sudah menjaganya. “

“Terserah kaliahlah. Kalau ogut mnasalah tampang sangat penting karena….” ucap Fatimah.

“…Sudahlah, Aku tahu alasannya. Untuk memperbaiki keturunan kan?” Samber Baba spontan.

Fatima sangat dongkol mendengarnya. “ Huh…memang betul sih..” katanya dalam hati. H rasanya Fatimah ingin meninju muka si Baba Holiang. Dasar terlalu jujur!

“Heh Baba Holiang! Kamu itu sudah gila dan aneh ya. Mukamu itu sudah kayak sendal jepit malah mencari cowok jelek sih. Apa kamu tidak kasihan sama anakmu kelak. Merana banget punya orangtua bermuka di bawah standar. Hehe…” Ledek Fatima sambil terkekeh-kekeh.

“Ponten seratus buat Fatimah. “ Endah menimpali. “Make sense itu. Cewek baskom cocoknya sama cowok baskom juga. Hua hua hua.”

“Bukan begitu mulut sumur! Cuka para! Maksud saya ..seumpama dikasih Tuhan cowok jelek kayak Tom Cruise atau Andrew Shue. Saya tidak mungkin menolak.” Baba ngeles.

Bisa ditebak setelah itu rambut Baba diacak-acak.

Dimeja depan, Arleini terlibat percakapan seru dengan Eveline. Biasa, maklum sedang menggosip. Gossip is the sip. Makin digosok makin siip deh! Di deretan bangku belakang keduanya, ada sosok Debby dan Novel menjadi pendengar setia setiap curahan gosip. Yang namanya pendengar hanya pasang kuping lebar-lebar, terus mata diplototin pertanda gosip itu seru dan juga mulut melongo sambil terbuka lebar-lebar.

“Vel..” Arleini membuka bumbu gosip baru.” Semalam Aku rasanya memergoki Bapakmu nongol di televisi deh.”

“Oh ya. Ah masak? Di tipi mana?”

“RCTI”

“RCTI?? Ooh mungkin juga. Belakangan ini Papa sibuk sekali. Sering pulang sampai larut malam sih. Ternyata kami juga sekeluarga baru tahu Papa tuh jago mengamati pemain bola. Dulu dia jago tarkam. Kalau tidak salah di posisi sebagai sticker atau gelandangan kekinian. Sorry saya lupa. Oleh karena itulah dia kerap diminta sebagai komentator khusus sepak bola.”

“Huh, kalo itu saya sudah tahu. Sebelum kamu lahir ke dunia ini malah..Tapi kasli ini beda lho Vel..Aku lihat dia stasiun yang beda. Nggak biasanya gitu.”

“Tunggu dulu. Aku belum paham maksudmu. Ohhh..Kamu melihat Papaku di stasiun Kereta Api ya?”

“Eh bukan. “

“Habis stasiun mana lagi. Stasiun kereta bukan. Stasiun pesawat kali ya?”

“Ngawur kamu.”

“Memangnya disaluran mana dong? Kok Aku sampai tidak tahu. AYO dong apa nama acaranya?” Eveline menampakkan wajah polos bercampur bingung.

“Di acara ini…eee…kontes ‘academy funny face award’!!”

“Goblok..Nggak lucu ah. Ngaco kamu Len!”

Semua tertawa terkekeh kekeh.

“Tuuhh kan, apa kubilang. Lucu kan Bapakmu?Buktinya  kalian pada ketawa. Hua hua.” Leni puas sekali ledekannya berhasil menjerat Eveline. Termasuk Debby dan Novel.

Kali ini Debby yang pingin cerita gosip tentang dirinya sendiri. Debby tidak mau kalah rupanya.

“Ayo sekarang gantian dong. Kalian dengerin curhatanku..” Rengek Debby.

“Ihh..Tidak mau denger curhat ah, Deb.”ujar Leni ketus. “Omongan kita ini hari khus gosip doang bukan cuthat Deb.”

“Curang deh. Curhatku ini ada bumbu gosipnya tau?!” Debby tidak patah semangat. Dia terus ingin bercerita.

“Ya udah deh. Kita dengerin aja kasihan kan Len. Masak temen sekelas curhat kita cuwekin.” Bela Novelita.

“Iya Len. Lanjutkan Deb.” Eveline juga memberi kans pada Debby.

“Baik. Saya akan mulai bercerita…”Belum lagi Debby memulai babak ceritanya sudah dipotong Arleini.

“Pada suatu hari hiduplah sang kancil…”Samber Leni.

“Ahhh Leni. Tidak begitu-begitu amat lagi. Goblok. Memang dongeng sebekum tidur.” Protes Debby kesal.

Sekarang gantian Eveline, Arleini dan Novelita menjadi pendengar setia.

“Nomong-ngomong Ogud lagi sedih nih. Pokoknya sedang dirundung sedih berat nan mendalam. Pilu dan dak kolu (nggak kuat).” Tiba-tiba roman wajah Debby berubah lemas, letih dan lunglay. Tampak sedikit guratan-guratan kepedihan yang berujung pada kepedihan. Juga kecewa.

“Sedih karena apa Deb? Diputus pacar ya? Cup cup sudahlah jangan sedih..” Arleini langsung merasa iba. “Lelaki masih banyak kok di pasar 16 ilir. Ceritakanlah Deb. Siapa tahu kami bisa membantumu.”

“Seriusan Deb?!” Novelita sedikit terperanjat sembari terbelalak.

“Terrusss Deb…”Pancing Eveline tidak sabaran bercampu penasaran.

Debby mulai bersabda…”Begini ceritanya. Kalian kan sudah tahu. Aku kan sudah lumayan lama berpacaran dengan Edot..”

“Berapa lama Deb?” Tanya Leini antusias.

“Lama sih. Sudah 7 hari gitu..”

“Kalo baru tujuah hari belum lama lagi. Baru seumur jagung bakar itu mah. Apalagi sama Bandot…”Celetuk Novelita.

“Novel! Awas kamu. Nama pacarku Edot bukan bandot. Kedengerennya nggak enak tahu?!”

“Iyo iyo. Sudah, lanjutkelah. “Novelita gregetan.

“Nah, hubungan kami ini telah diketahui oleh orangtuanya Edot. Dan mereka tidak ada masalah yang berarti. Kami telah direstui untuk menjadi teman akrab alias pacaran. Dan pesan orangtuanya, asal masih batas wajar dan normal. Kami diminta tetap menjaga diri masing-masing. Bayangkan sampai segitunya pesannya. Bagiku itu gimana gitu dan sakral dan kramat banget.”

Untuk sementara teman-temannya Debby pada berdecak kagum. Sedikit terharu.

Kemudian Debby melanjutkan kisahnya…”Nah…disaat kedua orangtua telah sepakat dan harmonis. Tiba-tiba tidak ada kabut tidak ada asap ada seserorang yang menetang hubungan kami berdua yang sudah berjalan manis ini.  Makhluk satu ini yang menjadi penyebab dan pangkal masalahnya. Dia dia..tega tidak merestui hubungan kami…”Debby sedikit menunduk. Ada nada getir di nada suaranya. Untuk beberapa detik dia menghela nafas. Menghirup nafas dalam dalam lalu menghembuskannya lewat pantat. Idiihhh!

“ Waduh gawat Deb!” Pekik Eveline.

“Pasti dari paman bibik, tante om atau dari adik atau kakak? Atau saudara jaunya ya?” Arleini menduga-duga.”Siapa sih. Ya udah kita tonjok aja Deb.”

“Oh so sad and so bad…” rintih Novelita turut prihatin.”

“Nah, kalian mau tahu siapa orangnya?” Tanya Debby dengan nada penuh kecewa.

“Iya Deb, kasih tahu kepada sahabatmu ini siapa nama cecunguk itu?” Eveline langsung naik pitam. Amarahnya memuncak. Dia langsung menyingsingkan lengan bajunya. Sepertinya darah mudanya mengalir kencang sekali. Ingin rasanya dia menghantam orang yang menjadi penghalang jalinan kasih teman sekelasnya itu. Rasa kesetiakawanannya boleh juga.

“Serempak mereka menyodrokan kepalanya masing agar mendekat kepada mulut Debby. Sepertinya Debby hendak berbisik. Kelihatannya dari mulutnya yang sedikit dower ingin berbicara. Lipstik berwarna jingga yang melekat di bibirnya dibasah-basahin dengan ujung lidahnya. Jadi ada efek mengkilap dan cerah benderah. Debby mulai memberi kode agar teman-temannya lebih mendekat lagi.

“S-siapa Deb? Aku nggak dengar kamu tadi ngomong apa?” Tukas Eveline.

“Yeee…Orang belum ngomong kok.” Bela Debby sambil memelintir bibirnya yang bagian bawah. Mirip nenek lemper.

“Ayo dong beri tahu. Cepetan. Nanti keburu bel berbunyi.” Arleini nyerocos penuh nafsyu.

“NAMANYA CEK ODAH MARODAH!!” Cetus Debby.

“NAH! Siapa pula itu?”Tanya Arleini, Eveline dan Novelita tersintak serempak.

“BABUNYA YANG BAHENOL DAN GANJEN!” HAHAHAHA…”Debby tidak sanggup lagi menahan ketawanya yang meledak-ledak. Saking puasnya tertawa, mata Debby nyaris mengeluarkan air mata dan terkentut-kentut. Untung persoalan yang satu ini dia berusaha untuk menahannya. Demi gengsi dan harga diri. Ketiga orang temannya baru sadar telah dikerjain oleh Debby. Mereka sewot bukan main.

“SIALAAANNNN KAMU DEBBY!!!” Tak ampun lagi. Kini rambut Debby yang semula dikucir pita telah awut-awutan diacak-acak jadi tidak karuan.

Di sela jam pelajaran menggambar  yang kosong itu diisi oleh anak-anak kelas 1.3 dengan canda ria dan keributan-keributan yang tak berarti. Mereka beranggapan kapan lagi dapat bertindak ‘free play in the class’. Lantas mereka segera bersuka ria. Mengenyahkan semua kepenatan otak mereka. Karena kesempatan jarang datang dua kali alias berentetan. Makanya musti dimanfaatkan sebaik-baiknya. Walaupun tampak sedikit buruk.

Dalam hati mereka mengucap syukur kepada Tuhan sang Pencipta karena hari ini telah dianugerahkan guyuran hujan membasahi bumi. ‘Hujan awet’ istilah mereka alias hujan yang belum berhenti walau menjelang bubaran sekolah. Hujan yang menyamankan dan menyejukkan hati.

Apabila hujan deras yang terus turun, maka akan mengakibatkan banjir. Makan jangalah kita menyalahkan sang hujan. Berarti kita berpransangka jelek kepada sang Pencipta. Tak boleh begitu ya. Kadang tanpa disadari kita mengumpat-umpat hujan. Seakan dia sebagai tersangkan yang harus dihukum. Padahal kita tahu keasalahn pasti ada pada manusia. Iya toh. Banjir terjadi karena siapa? Siapa lagi kalau bukan manusia yang suka membuang sampah seenaknya. Menebang pohon sesukanya. Memanfaatkan lahan yang semestinya untuk resapan air malah mendirikan mall, perumahan dan pertokoan. Mbo ya disulap menjadi taman yang asri dan rimbun. Sehiingga tiap butiran hujan yang jatuh. Sang bumipun siap menyambutnya penuh suka cita.

Tekya melongok ke luar jendela. Dari lantai tiga seperti  menyimpan pemandangan yang lumayan. Sudah kodratnya ketika sedang di atas biasanya melihat ke atasnya lagi. Setelah itu baru ke bawah. Kemudian pandangan diarahkan ke seberang jalan. Terlihat beberapa orang yang tidak membawa payung berlarian mencari tempat berteduh. Halte adalah menjadi sasaran empuk dibanding pohon. Lalu taman hijau milik sekolah yang mulai menggenang. Kolam ikan pun nyaris meluber karena tidak sanggung menampung serangan air hujan. Sejenak dilihatnya genteng sekolah yang kelihatan bersih tersapu hujan. Butiran air itu seperti berebut untuk meluncur menuju talang air.

“Terima kasih ya Tuhan. Aku suka sekali cuaca hari ini. Semula aku menuduh Tuhan. Tadi sih benar menyebalkan sekali. Kini hatiku senang.” Bathin Tekya. Mukanya sumringah sambil memberikan senyum terbaiknya.

Suasana hati Tekya berbanding terbalik dengan Ichsan TWJ, sang ketua kelas. Dia sudah berusaha dari tadi untuk menenangkan suasana kelas. Berusaha untuk mengajak semua teman sekelasnya untuk duduk manis, tidak ribut dan tertib. Namun bagi Ichsan TWEJ terlalu sulit untuk menyetir ataupun mengkoordinir puluhan orang dengan niat yang berbeda. Keseimpulannya adalah : Dia gagal mengontrol dan mengatasi kegaduhan demi kegaduhan. Pernah terlintas di benaknya untuk mencoba marah dan galak sebuas beruang kutub. Malah teman-teman seperti  Agus Blepotan dan Yudo Gempul tidak mempan dan tak perduli. Mereka lebih galak faktanya. Ya ampun. Ichsan ingin segera meletakkan jabatan nirlabanya sebagai ketua kelas sebelum waktunya. Mungkin lebih cepat lebuh baik. Bukannya dia tak pernah mencoba mengumpulkan semua uneg-uneg dan kemarahannya. Ketika hendak memuntahkan nafsu marah itu…Sudah sih. Hasilnya dia dicemplungin ke dalam bak sampah yang besar di belakang sekolah. Walaupun bagi mereka itu bercanda. Bagi Ichsan itu sudah keterlaluan. Tapi itu dulu, sebelum mereka akrab. Namun setelah akrab….makin parah. Hehe. Habis ketika sedang marah Ichsan lebih mirip pelawak Timbul Srimulat. Habis deh dia menjadi bahan olok-olokan.

Ichsan memutuskan untuk bertindak kalem saja. SDS. Selamatkan diri sendiri.

Ajaibnya, ketika waktu menunjukkan jam istirahat (keluar main), suasana kelas 1.3 makin mengglegar. Ritme kegaduhan tetap terjaga. Out of control again. Pasalnya Bu Sapi’i belum juga kelihatan daun telinganya. Entah terlambat memasuki kelas atau tidak mengajar. Masih simpang siur. Masih plintat plintut. Intonasi nada suara para siswa disini masih meninggi. Dobly stereo saja kalah berisik. Tiba-tiba diawali sebuah teriakan keras melengking dan nyaring membahana mengisi seluruh ruang kelas. Pastinya membikin kaget semua orang. Sumber suara tersebut dari mulut seorang siswa cewek bernama Sridimitha Rajni Kutacane Tunjahe-jahe (oayayai ini nama apa gerbong kereta api). Dia merupakan cewek blasteran Aceh-India. Si Sridimitha sedang dilanda ketakutan tingkat akut. Dia sedang berlari kencang menelusuri koridor kelas di lantai tiga. Derap kakinya mengundang beberapa pasang mata. Yang spontan nongol dari balik jendela kaca kelas. Semua pada penasaran. Ada apakah gerangan yang terjadi? Otomotas menjadi tontotan gratis kelaslain. Mungkinkah si sri melihat penampakan hantu wewe atau nini towok atau setan alas kaki? Namun…? Tidak lama kemudian muncullah penampakan seorang manusia di belakang Sridimitha. Orang itu terus mengejar untuk menyusul korbannya.

Usut punya usut ternyata biang keroknya adalah Agus Blepotan. Dia berusaha mengisengi Sridimitha dengan menakut-nakuti dengan ular-luran karet. Sedangkan sang cewek sudah tampak pucat mukanya. Dari hitam manis menjadi putih manis. Nafasnya pun sudah tersengal-sengal. Matanya yang bulat membesar. Untunglah, sang pahlawan yang tengah melamun bernama Ichsan TWEJ dengan sigap dan refleks menengahi kedua anak kelasnya itu.

“Came on guy. Comeon Gus! Are you crazy?”Ichsan membentas Agus secara refleks. Akhirnya emosinya yang tak tahan menyaksikan perempuan dianiaya ringan.

Agus tersentak kaget. “Apa San. Aku hanya bercanda doang. Tak usahlah kau teriak macam tu.” Agus langsung mengantongi ular mainannya ke dalam saku.

“Mitha! Sudah aman kok. Hanya ular mainan!”Teriak Ichsan TWEJ memanggil Sridimitha kencang. “Gus, kamu kan sudah gede. Masak bercanda seperti anak di playgroup sih. Kamu semestinya melindungi cewek dong. Bukan menakuti seperti tadi. Ayo Gus, minta maaf secara jantan.”

Agus sebetulnya rada gengsian. Apalagi sampai dibentak oleh seorang Ichsan. Seorang cowok culun berkacamata tebal dan kutu buku pula. Kebetulan menjadi ketua kelasnya. Dan harus dihormati. Dalam hati Agus berkata beraninya dia membentak-bentak aku. Agus untuk kali ini dia mencoba menuruti perintah sang ketua kelas.

“Bukan begitu Gus. Aku minta maaf kalau tadi membuatmu kaget. Karena tadi aku spontan saja. Karena kaget bukan main mendengar suara histeris wanita.”

Ichsan cepat-cepat menarik tangan Agus disaat melihat Sridimitha keluar dari persembunyiannya. Dia keluar dibalik ruang ganti pakaian. Mitha mendatangi secara mengendap-endap. Masih ada perasaan takut dan jengkel. Ingin rasanya dia menampar pipi si Agus keras-keras. Atau dia juag bernafsu ingin menarik rambutnya si Agus geblek itu.

“Awas kamu Gus! Kelewatan ya. Kuadukan kau ke kepala sekolah nanti baru tahu rasa.” Ancam Mitha serius.

“Sorry Mitha. Janganlah kau adukan aku. Jangan karena hanya ular karet aku sampai diskors. Aku Cuma ingin memamerkan ular kobra karet ini saja kok. Aku beli di bawah jembatan Ampera. Terus si Mitha kaget dan kabur. Ulaar karet doang, Mit..” Ucap Agus lirih dan pelan sekali. Mukanya mencoba untuk cengengesan. Agak tersedak.

“Agus bohong San. Jangan percaya dia.”Bantah Sridimitha bergidik.”

“Tenang Mit. Aku percaya Tuhan kok, bukan Agus.” Nada Ichsan TWEJ sedikit bercanda.

“Dia bukan memamerkan ular itu.” Lanjut Mitha lagi. “Aku yakin dia sengaja menakut-nakuti Aku karena tidak jadi memperkenalkan dia dengan Evi. Agus naksir Evi, San”

“Mitha…Evi mana?” Elak Agus.” Siapa yang mau kenalan. Jangan kau bongkar pula soal si Evi tu.”

“Evi? Anak mana?” Tanya Ichsan.

“Evi itu…Anaknya yang berkacamata tebal kayak kamu. Dia jago bahasa Inggris juga.” Jawab Mitha.

“Oh ya?” Ichsan agak terperangah. Dia memang agak takjub dengan cewek yang jago bahasa Inggris. Biar nyambung kalau diajak coversation.

“Kenapa San?” Tanya Agus melotot. Ada nada cemburu dik kata-katamu. “Masalahku saja belum beres. Aku dulu kenalan baru kamu.”

“Oke, habis itu giliran saya ya,”harap Ichsan TWEJ seraya mengiba.

Agus dan Sridimitha memandang aneh ke arah sang ketua kelas, lalu bertanya  serempak : “ADA DENGANMU ICHSAN?!”

Ichsan hanya bisa terpelongo. Sepertinya dia bertindak di bawah alam sadar.

“Huh! Kok ya laki-laki dimana aja sama ya! Nggak bisa lihat barang baru. Cewek licin sedikit. Dasar mata belang.”

“Joking, joking Sri. Kamu menanggapinya serius sekali. Kayaknya Agus bukannya tipenya Evi deh..”ceplos Ichsan.

“Jaga mulutmu, San…” Ancam Agus dengan gigi gemelutuk mirip jambu klutuk mengutuk Ichsan jadi kutuk buku.

Sepulang sekolah gerombolan anak-anak kelas 1.3 berbondong-bondong menyerbu rumahnya Yudi. Apalagi kalau bukan menyicipin penganan imlek buatan Mamanya Rudi. Xong Chi Fat choy!

SERIAL ‘MASA SMA MASA BODO?’ MENGINTIP SI KRIBO PACARAN, APA ENAKNYA? KETIKA NGAPEL YANG DISHARE SECARA LIVE AKIBATNYA…

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Oleh : Deddy Azwar

“Mana sih rumahnya? Nggak seperti dikomplek ya. Tiap rumah bangunannya beda-beda. Bingung aku dibuatnya,”keluh Iwan Mukejenuh dongkol bukan kepalang.”

“Jangan bingung-bingung dong Wan…Yang namanya tinggal di perkampungan ya begin ini, Wan.”Tekya menanggapi dengan serius perkataannya temannya. “Berbeda alamnya antara perumahan di perkampungan dengan perumahan  di kompleks. Semua bangunan pasti mirip-mirip satu sama yang lain. Sebetulnya mencari alamat rumah di dalam komplek perumahan lebih rumit dan sulit lagi. Karena semuanya hampir setipe baik itu bentuk bidang dan bangunannya. Kadang-kadang warna cat rumahnyapun sama. Ukuran Sintetisnya juga…”

“Simetris kali…”potong Agus yang sedari tadi tekun menyimak mencoba meralat kalimat yang dilontarkan Tekya.

“Oh ya simetris. Aku baru tadi mau ngomongin itu.” Kilah Tekya senyum-senyum.

“Bayangkan hampir setengah jam kita mengitari kampung ini. Sudah banyak orang yang sudah kita tanyain dan interograsi. Rata-rata mereka menggeleng tidak tahu menahu. Huh! Kakiku sudah pada pegal-pegal. Seakan mau rontok tulang-tulangku. Jangan-jangan kamu salah menulis jalannya, tidak?”

“Pada dasarnya si Faisol kurang ngetop di kampungnya. Akibat malas berbaur dan berbaur. Begini jadinya. Padahal sangatlah penting untuk menjalin komunikasi dan silaturahmi antar tetangga. Nilai minusnya lebih banyak kalau kita tidak akrab dengan tetangga. Jika terjadi sesuatu atau musiabh yang tidak kita ketahui datang. Maka…orang yang pertama yang mengetahui dan menolong kita adalah’ jiron tetanggo’ itu. Terakhir yang kita tanyai si mbak tukang penjual jamu juga tidak tahu. Sudah kita sebutkan tadi bahwa ciri-cirinya badan tinggi kurus cendrung ceking, hidung bangir, bibir dower dan tebal dan rambut kribo mirip Ahmad Albar juga pada tidak tahu.”

“Sepertinya si Faisol tidak doyan jamu. Dia doyan sama Mbak penjual jamunya. Hihihi…”Ledek Agus.

“Tidak mungkin. Si Faisol sendiri yang menggambar denah lokasi rumahnya Wan. Menggunakan jari-jemarinya sendiri lho. ” Tekya berusaha meyakinkan Iwan yang sudah mulai rapuh dan goyah engsel-engselnya.”

“Mana coba kulihat.” Agus mengamati secarai kertas yang ada di genggaman Tekya. Kondisinya sedikit lecek dan basah. Dia mengamati di setiap sisi kertas, lalu mengibas-ngibas sebelum dibentangkan. Lagaknya seperti detektif partikelir yang ulung. “Kok semakin membingungkan. Ini gambar donal bebek ya.”

“Ah kacau kamu. Cara melihatnya terbalik sih. Guoblokk!”ujar Iwan terkekeh kekeh.

“Sudahlahn mana mungkin si Faisol ngerjain kita. Menurut peta yang tergambar ini kayaknya arahnya yang kita tuju sudah benar dan cocok kok. Di samping warung dekat mesjid sudah kita temukan. Lalu tiang listrik agak bengkok, Lalu…dimana rumahnya ya? Harusnya sekitar ini. Ini RT 5, nomor 17 an. Ya betul mestinya nggak jauh-jauh amat dari sini, dimana kita berdiri. Katanya pagar rumahnya zebra cross. Belang belang.”Tekya nyaris berputus asa. Sampai detik ini kebingungan itu semakin bertambah. Kembali dipandanginya lekat-lekat peta karya Faisol Kribo yang semakin tambah lecek sulecek.

“Oh ya, berapa tadi nomor rumahnya, Gus?” Iwan mulai gusar. Nomornya 25, RT 5. Dasar si Faisol orangnya kuper sih, jadi tidak ada yang kenal. Sableng!”

“Dikerjain nih kita.”tukas Iwan seraya mengeluarkan sehelai saputangannya dan segera mengelap butiran-butiran keringatnya yang keluar segede gede megaloman.

Tekya, Iwan dan Agus merasa yakin telah masuk ke dalam perangkap permainan Faisol. Mungkin saja denah yang digambarnya itu secara asal-asalan tanpa ada maknanya untuk sengaja mengelabui teman-temanya. Masak sih Faisol setega itu. Apa dia tidak takut rambutnya yang kribo subur itu bakalan dipangkas habis hingga plontos? Apa Faisol tidak takut bakalan kehilangan kegantengan dan keperkasaannya hilang seketika? Ibarat Samson yang sebelumnya tangguh dan kuat menjadi lemas dan loyo setelah rambutnya yang gondrong dicukur habis!

Setelah setengah jam mereka hilir mudik mondar mandiri bolak balik  seperti petugas karyawan pertanahan yang sedang mengukur jalan raya. Sudah bertanya kesana kemari. Menapaki aspal yang basah. Namun.. rumahnya si Kribo tetap tak diketemukan juga.

Belum lagi cuaca saat itu kurang mensupport. Hujan deras disertai petir menggelegar baru saja usai. Kini tinggak tersisa rintik hujan gerimis yang awet. Semua jalanan menjadi basah dan banyak diketemukan air tergenang dimana-mana. Tapi asiknya udara menjadi sejuk.  Tak terkecuali keadaan mereka juga setengah basah. Mereka kelupaan membawa payung. Belum lagi rambut-rambut mereka pada lepek semua. Kalau saja mereka menakai bedak pastilah sudah luntur dari tadi. Untungnya setelah mereka turun dari angkot hujanpun sudi mengalah. Akan tetapi cuaca tak menghalangi tekat mereka untuk menemukan rumah Faisol walaupun sampai ke ujung dunia sekalipun.

Kira-kira apa sih yang mereka kejar sehingga sebegitu nekatnya menembus dinginnya malam minggu.

Tekya masih ingat ocehan-ocehan Faisol dua hari yang lau ketika mereka sedang menyantap martabak India Haji Abdul Rojak (HAR) di bilangan jalan Jendral Sudirman, kuliner yang terkenal seantero Palembang. Setelah capek seharian jalan jalan sekaligus berbelanja di mall. Perkataan dari mulut Faisol menghasilkan sebuah cerita yang membius teman-temannya. Tidak lupa sedikit ditambahin bumbu secukupnya. Layaknya gosip makin digosok dan digesek sedikit makin sip dan asek. Sedikit banyaknya sanggup mempengaruhi pikiran. Alhasil termakan rayuan asemnya.

“Dengar nih teman-teman..” Faisol memulai ceritanya dengan semangat kemerdekaan, “ Awak punya kabar gumbira ria. Lihatlah muka Awak, betapa senang hati ini.”

“Sudah kulihat mukamu, kok kayak biawak…”lontar Tekya tanpa bersalah.

“Hebat hebat. Tekya kalau ngomong suka bener ya.” Timpal Agus sambil menyantap martabaknya yang masih hangat menyengat.

Faisol mendelik sewot. “Awas kalau masih meledek juga Awak batalin traktirannya.”

“Sungguh nih Sol, kamu mau mentraktir kita-kita?” Tanya Iwan dengan sinat mata berbinar binar. Seakan tak percaya.

“Tadinya niatnya sih iya. Sekarang tidak jadi.” Jawab Faisol ketus meletus.

“Huh! Dasar tukang ngibul!” Semprot Iwan.

“Biarin..Habis kalian telah menyakiti hatiku. Hehehe..”

“Sudah lanjut banyolanmu tadi Sol.” Tukas Tekya menetralisir keadaan.

“Tunggu. Ini kisah nyata tahu?! Bukan banyolan.” Protes Faisol ngamuk. “jadi begini ceritanya..Awak punya tetangga baru. Mereka sekeluarga pindahan dari Jakarta. Kudengar mereka merasa tidak nyaman tinggal disana. Mereka bilang waktu kita kebanyak habis di jalan karena macet. Makanya mereka pingah kemari. Menurut mereka kota Palembang masih belum secrowded seperti di Jakarta…”

“Sebentar…ini mau cerita tentang Jakarta atau tentang cewek itu sih..”potong Agus dengan muka merengut.

“Sebentar dong mukadimah dulu dong baru ke pokok persoalan.” Bela Faisol sambi cengengesan seperti biasanya.

“To The Point aja. Aku sudah tidak sabaran..”kata Agus sumringah.

“Oke oke. Nafsu banget kalian ini. Jadi tetangga baruku ini mempunyai anak perempuan yang oke punya coy. Orang Jakarta bilang kece banget dah..Hehehe. Matanya mek bulat dan sangat membius, hidungnya mancung, rambut hitam lebat bak mayang terurai, alisnya bak iringan semut,bibirnya sudah merah, ranum merekah. Bodinya kayak gitar spanyol, pahanya putih mulus. Amboy begitu sempurna. Sangat sulit diungkapkan dengan kata-kata. Percaya nggak? Sampai detik ini Awak masih terbayang padanya dan menempel abadi di jidatku yang bidang.”

“Dimana-mana yang bidang itu dada, brur. Kalau jidat itu pasangannya plontosn tahu!” Omel Agus kepalang kesal.

“Sorry juga brur. Sama teman ini perhitungan banget. Salah sedikit juga nggak apa-apa dong. Awak yakin mampu menggaetnya. Kalau nenek dan pembantunya sudah merestui. Tinggal ortunya nih yang belum…”

“Kamu kege-eran kali Sol. “ucap Iwan ketus, “tanya dulu ceweknya suka nggak? Jangan-jangan kamu bertepuk sebelah tangan. Aku rasa kalau memang benar apa yang kamu sebutkan tadi bahwa ceweknya cakep banget dia pasti mikir dulu untuk berpacaran sama tukang sol sepatu kayak kamu. Hahaha…”

“Iya, kamu stil sok yakin banget deh Sol.” Agus ikut mensupport Iwan.   ng

“Busyet! Kalian meledek awak nian. Jangan begitulah. Begini-begini awak punya kharisma di hadapan cewek. Tapi sejauh ini kalau awak suka berpoas-pasan sama dia eh dianya yang duluan suka menyapa dan tersenyum duluan kok.”

“Siapa tahu kamu dikira satpam di situ.” Ledek Tekya ikut-ikut memojokkan Faisol.

“Asem! Memang Awak setua itu.” Bela Faisol.

“Kalau memang begitu kenyataannya kenalin sama kita dong Sol. Jangan cuam koar koar saja. Kami bertiga mau melihat buktinya.” Ujar Iwan tak sabaran sambil menelan air liur.

“Betul. Kami perlu bukti bukan janji,”tambah Agus.

“Hhmmm, bagaimana ya? Sebentar awak pikir-pikir dulu dulu.” Ucap Faisol agak ragu-ragu.Kepalanya yang berbalut rambut kribo nan lebat itu digaruk-garuk. Lalu tanganya telunjuk tampak menyentuh keningnya. Lagaknya seperti orang sedang berpikir keras. Kepalanya menengadah ke langit-langit restoran. Bola matanya berpindah ke kiri dan kanan dengan cepat.

“Bagaimana keputusan Sol? Sudahlah jangan kelamaan mikirnya. Sebagai kawan kita ingin menilai saja kira-kira itu cewek cocok nggak dengan kamu. Chasing sih boleh cakep. Namun di dalam hatinya kita tidak bisa menebak kan?” kata Tekya sok memberikan nasehat. “Kami akan ikut sedih jika kamu hanya jadi planet-planetan si cewek, Eh ngomong-ngomong siapa namanya Sol?”

“Eng..nganu sebetulnya masih rahasia..”ucap Faisol pelan dan sedikut ragu-ragu seraya menggaruk kembali kepalanya yang rimbun. Dalam urusan perempuan begini kelihatan Faisol ini banyak aksi mikirnya. Faisol beranggapan belum selayaknya teman-temannya mengenal lebih jauh kisah pendekatannya. Karena dia belum berani ‘menembak’ si cewek. Dia lebih afdol jika sudah benar-benar merasa memiliki sepenuhnya. “Nanti deh Awask beritahu. Sekarang top secret. Off the record dulu deh ya. Bagaimana kalau minggu depan kalian baru main ke rumahku. Siapa tahu Awak sudah jadian dengan dia dan pas malam minggu sudah ngapel ke rumahnya.”

“Oalah baby…tapi kami bertiga belum tahu dimana rumahmu.”Kata Tekya lagi.

“Oke oke.” ucap Faisol. Kemudian dia memanggil pelayan restoran untuk minta diambilkan semacam post it. “Ini Awak buatkan denah lokasinya ya. Di perkampungan Mertua Mantu Indah. Banyak konglomerat yang tinggal ditempatku. Tahu sendiri kan. Kamu bisa membayangkan bagaimana rumah-rumah di sana.”

Faisol barusaja menyelesaikan menggambar denah lokasi rumahnya pada secarik post it berwarna kuning. Dia menyerahkannya kepada Iwan. Buru-buru Tekya dan Agus mengerubungi Iwan. Kening mereka berkerinyit setelah melihat denah itu. Tampak jelas muka-muka mereka kebingungan sekali.

“Lucu ya. Lebih mirip kandang burung,Sol. Gambar rumahnya kecil-kecil serta jalan-jalan penghubungnya sempit-sempit. Denah lokasinya kayak benang kusut. Katanya disitu banyak tinggal konglemerat. “

“Enak saja. Kenapa? Gambarnya bikin bingung apa?” Tanya Faisol santai.”Memang sengaja dijelekin gambarnya. Karena ini lokasi rumah orang-orang penting. Kalau dibikin real nggak cukup kertasnya coyy.

Jadi agak disamarkan. Bisa bahaya.”

“Belagu kamu. Ngomong-ngomong disana tempat para konglomerat bermukim?”cerca Iwan, kali ini agak bringas.

“Siapa bilang? Maksud Awak perkampungan para supirnya konglomerat. Hua hua hua.”

“Huh, apa kubilang. Tidak ada tampang Faisol tinggal di sana.” Ujar Agus. “Yang ada kolong melarat.”

Semua tertawa lepas.

Sebelum bubaran Faisol mengingatkan kembali kepada teman-temannya. “Jangan lupa malam minggu depan ya. Awak tunggu di rumah. Jangan sampai nyasar.”

“Beres. Oke. Kamu siapin saja kue yang banyak.” Usul Iwan sambil tersenyum nakal.

Semenjak ada cewek cakep yang menjadi tetangga barunya itu, prilaku Faisol menjadi berubah 180 derajat celcius. Semakin ke sini semakin suka dandan dan berpenampilan parlente. Necis abis. Dulu rambut kribonya boro-boro tersentuh foam atau minya rambut. Diolesi dengan minyak kelapa saja sudah syukur. Seakarang lebih sering diminyaki. Dia mengoleksi minyak rambut macam Brisk, styling foam dan Gatsby. Dulu parfumnya sering minjam spray milik Ibunya yang beraroma bunga melati dan bunga kamboja. Eeh malah dijauhi oleh teman-temannya. Sekarang Faisol mengoleksi Playboy, Bulgari dan Eclat dari Oriflame. Ya ya sekali lagi gara-gara tetangganya yang perawan nan rupawan dapat merubah Faisol dengat cepat.

Faisol jadi semakin menitikberatkan penampilannya. Performance. Teman-teman sekolahnya dapat menangkap sinyal perubahan tersebut. Mereka mengira Faisol memasuki masa puber lebih awal. Berarti Faisol akan menjadi dewasa dan tua belum pada waktunya? Mungkin. Intinya semua menangkap keganjilan itu. Yeah, semua teman yang akrab dengan Faisol secara jujur mengakui. Terlebih-lebih bagi teman sepenongkrongan setiap pulang sekolah, seperti tekya, Ferry, Iwan, Yudi, Yudo, Agus, Sony, Fikry dan Pito. Lokasinya kongkow mereka pun tak jauh-jauh. Sekitar pelataran sekolah dan di halte depan sekolah. Mereka lebih memilih mejeng dan ngeceng dulu di pinggir jalan baru pulang setelah merasankan perut keroncongan. Faisol kini jarang hadir di tengah mereka. Mereka merasakan kehilangan sesuatu yang…tidak begitu penting. Seseorang yang selalu menjadi andalan sebagai…bahan ledekan. Apalagi di zaman edan ini. Lho lantas apa hubungannya? Nah?!

Faisol yang berpostur tinggi ini lebih mirip pelawak daripada murid sekolahan. Tingkahnya dan gaya bicaranya yang mengarah kemelayu-layuan kerap menjadi tempat pelampiasan nafsu teman-temannya dalam melontarkan bahan-bahan ledekan. Gaya bicaranya yang suka meledak-ledak tidak karuan. Seperti satpam sedang marah. Padahal nagamuk. Meskipun begitu Faisol jarang merasa tersinggung jika ledekannya tidak kelewat sadis agtau melampaui batas. Fasiol enjoy enjoy saja. Dia merasa seakan mendapatkan berkah dan pahala apabila telah membuat teman-temanya tertawa dan senang.  Mulia juga kamu Faisol.

Siapa menyangka ternyata Faisol pernah bercita-cita menjadi komedian atau pelawak, akan tetapi setelah mengetahui semua teman-teman mensupport e-eh dia malah curiga. Apakah mereka benar-bbenar ihklas mendorong untuk kemajuan karir Faisol atau hanya ingin sekedar untuk menjebloskannya ke comberan? Basah basah basah seluruh tubuh, ah ah ah mandiri madu. Itulah sepenggal lirik dari Ibu Elvi Sukaesih.

Suasana di rumah Faisol pada suatu senja.

“Paakkk! Buappaaakk! Paaakk!” teriak ibunya Faisol seperti kebakaran konde, dari arah ruang tengah. “ Ini coba kemari sebentar. Lihat si Faisol, sudah mulai  genit dan ganjen. Minta duit untuk beli minyak wangi, beli baju, beli celana, beli celana dalam beli ini beli itu. Gayanya sudah mulai mengarah gaya konsumtif. Lama-lama kita bisa bangkrut nih. “ Teriakannya membahana seantero rumah. Bapaknya langsung datang dengan tergopoh-gopoh.

“Ada apa sih Bu?” Tanya sang Bapak sembari membetulkan gulungan kain sarungnya. Seperti barusan habis nongrong di kamar mandi. Kaos oblongnya kelihatan kena kecipratan air. “Kupingku belum tuli Bu. Tidak usah pakai teriak-teriak segala. Tak bsiakah kamu memanggil namaku semesra dahulu lagi sih. Berisik kan?”

“Sudah tidak zaman lagi untuk mesra-mesraan. Sekarang ada duit baru mesra.”

“Dasar matre.”

“Biarin. Ngomong-ngomong bapak sudah cebok belum dari kamar mandi.”

“Sudah. Ada apa tadi? Ibu belum menjawab pertanyaanku.”

“Ini, coba urus anakmu yang sudah mulai bujang ini. Dasar bujang lapuk.”

“Lho, Ibu mau kemana? Kok malah kabur…”

“Saya mau menonton acara kesukaanku ‘Americas Funnies Video dulu ya. Keburu habis ntar. Lumayan buat menghilangkan stress. Kepalaku serasa mau pecah. Bisa-bisa anggaran belanjaku bisa jeblok.” Ibunya Fisol ngeluyur ke ruang televisi untuk menyaksikan acara kesayangannya, meninggalkan bapak dan Faisol Kribo yang terbengong-bengong dan berdiri mematung.

“Keanapa Sol? Kamu mecahin pring lagi?”

“Tidak.”

“Kamu menguras parfum Ibumu lagi?”

“Tidak.”

“Oh kamu nyolong bedak Ibumu lagi?”

“Juga tidak Pak. Pokoknya semuanya bukan.”

“Lantas apa?”

“Tadi Saya minta duit buat kencan tidak dikasih Pak. Dasar Ibu pelit.”

“Masak hanya buat membeli kacang nggak dikasih. Berapa sih harganya sebungkus kacang. Ya sudah pakai saja uang kamu dulu. Paling seperak dua perak. Nanti Bapak ganti.”

“Hah! Kacang? Bapak salah.  Saya minta uang untuk beli parfum ke Ibu buat kencan bukan kacang.”

“KENCAN?” Mata Bapaknya terbelalak.” Lalu itu makanan apa Sol?”

“Aduh Bapakku sayang. Sepertinya musti beli katebat yang banyak deh. Kencan itu istilah anak remaja sekarang. Kencan itu sama dengan nge-date alias mengunjungi pacar dalam rangka menjalin keakraban begitu. Bukan kacang. Memangnya saya monyet dikasih makan kacang. Ganteng-ganteng begini kan Awak anak Bapak juga toh.”

“Iya iya. Bapak tidak budeg hanya tidak dengar saja.”

“Samimawon Pak.”

“Iya miwon penyedap rasa ya.”

“Gawat! Celaka dua puluh nih. Pantas tadi ibu tadi memanggil Bapak sampai teriak-teriak segala.”Faisol berbisik lirih sembari menempelkan mulutnya ke ujung kuping Bapaknya.

“Apaan? Tidak kedengaran. Kamu bisik-bisik atau sedang ngomong sih.”

Akhirnya Faisol mengulangi kalimatnya. Kali ini berteriak kencang dengan sekuat tenaga. Tentu saja membuat Bapaknya kaget kelimpungan.

“Oke oke. Oh minta duit buat beli minyak wangi untuk keperluan kencan. Bapak paham sekarang. Kan dulu pernah muda juga. Lain kali tidak usah pakai teriak-teriak segala. Kamu sama saja dengan ibumu. Sama-sama menuduh Bapak budeg. Kamu butuh berapa duit?”

“Goban deh.”

“Berapa tuh?”

“Lima  puluh ribu.”

“Buat tadi duitnya?”

“Awak mau mengajak jalan-jalan sama nonton bioskop kawan cewek tetangga kita itu Pak.”

“Besak nian jumlah segitu, Sol. Kamu kira Bapak toke beras. Nih dua puluh lima ribu saja ya. Cukup tidak cukup harus terima. Labih bagus lagi kalau ada kembaliannya.”

“Paceklik nih yeee.”

Bapak lalu mengeluarkan uang selembar nominal dua puluh ribuan dan satu lembar lima ribuan dari dalam lipatan sarung yang ia kenakan. Kemudian diberikan kepada anak bujangnya itu. Faisol dengan secepat kilat menyambar uang dari tangan bapaknya.

“Oalah, Bapak menyimpan uang ini di celana dalam ya?”

“Enak saja. Di bawah udel kok. Oh ya ya siapa nama kawan cewek kamu Sol? Tadi kamu tetangga baru kita. S-siapa ya?”

“Namanya Robi.”

“Robi? Apa pacaran dengan sesama jenis ya? Apakah kamu ini home alone eh homo erectus? Kamu malu-maluin Saya ya.”

“Bapak jangan menuduh sembarangan dong. Begini-begini Faisol masih normal dan punya nafsu. Nama lengkapnya Yati Robiatul Sanawiyah. Nah panggilan sayangnya Robi.”

“Ada yang aneh dengan kawanmu itu Sol. Kenapa tidak memakai nama Yati saja. Kan lebih mengandung kadar kewanitaannya. Daripada si Robi.”

“Kimia kali Pak pakai kadar segala. Kan lebih nyentrik Pak. Hehehe. Menurutku kalau dia menyandang nama Yati agak gimana gitu Pak. Kedengarannya kurang sreg. Mirip-mirip istilah untuk orang yang tidak lagi mempunyai bapak atau ibu lagi.”

“Itu yatim, Faisol!.” Bapak membetulkan definisi arti kata ‘yatim’.

Faisol langsung ngibrit sambil tersenyum mirip nenek sihir. Dia sudah menduga bahwa bapaknya susah diajak bercanda plesetan. Faisol lari keluar rumah melewati pintu belakang menuju ke pagar di depan rumah. Namun ketika hendak menuju pagar, dia berhenti. Lalu menoleh lagi ke belakang seraya berteriak kencang sekali. “ HALOOO BAPAKKK!! INGAT YA KALAU ADA MENCARI AWAK, SURUH MENYUSUL KE TETANGGA SEBELAH.” Pekikikannya tersebut tak ayal lagi terdengar sampai tiga kelurahan. Ciamik!

Bapak hanya mengangguk dan menghela nafas panjang. Geleng-geleng kepala. Perasaan sewaktu muda dia tidak pernah gokil begitu deh. Siapa yang mewariskannya ya?

Kita kembali lagi ke nasib perjalanan ‘three musketers’ alias tiga anak bujang lapuk yang masih sibuk mencari alamat rumah Faisol yang mistrius lagi tulalit. Akan tetapi mereka tidak pernah menyerah dan berputus asa. Tetap semangat. Karena sudah kepalang tanggung. Kini, mereka kembali menegakkan kepala, meluruskan badan dan merapatkan barisan untuk tak lelah bertanya kepada setiap orang yang mereka jumpai. Pada akhirnya langkah mereka terhenti persis di depan sebuah warung sembako. Mereka bertanya kepada pengunjung warung yang sedang mengaduk-aduk stoples yang berisi permen.

“Permisi Pak, kami mau menumpang eh menanyakan alamat teman kami. Namanya Faisol. Rambutnya kribo abis. Masih pelajar SMA. Dengan ciri-ciri seb…”Iwan Mukejenuh berinisiati duluan untuk bertanya.

“Sebentar…adik-adik ini mau mencari alamat atau mencari anak hilang sih?”

“Alamat pak.” sambar Iwan lagi.

“Oh begitu. Tapi bertanyanya seperti mencari orang hilang. Jangan terlalu lengkap. Begini ya…adik-adik remaja. Mohon maaf. Sekali mohon maaf. Saya ini kebetulan orang baru. Saya tidak kenal yang namanya siapa tadi…Poncol ya?”

“Faisol pak, Faisol pak.” Telya buru-buru membenarkan.

“Nah…apalagi dia tukang sol sepatu….”

Tiba-tiba keluarlah si pemilik warung yang sejak tadi hanya memperhatikan angkat bicara. “O ya si Oyong James Bon ya. Namanya aslinya emang Faisol. Tetapi dia lebih dikenal dengan julukan si Oyong James Bon. Masih SMA kan? Ciri-cirinya tinggi kurus, rambutnya kriting eh kribok ding. Jalannya mirip bebek. Betul kan?”

“Tidak salah lagi Pak.” Tukas Agus tersenyum. Kemarten-kemaren dia sering kemari. Namun akhir-akhir ini jarang kelihatan batang hidungnya. Kalau mampir ke warung ini biasanya suka ngebon dulu. Di dalam ada buku bonnya kok. Sudah tiga jilid. Kayak komik bersambung. Pekerjaan sampingan bapaknya adalah makelar mobil butut. Perasaan nama julukan bapaknya ‘ Patrick Bumper’.

“Syukurlah Pak. Itu buronan eh teman sekolah yang kami cari sejak dua jam yang lalu dengan susah payah. Terima banyak ya pak atas informasinya. Boleh tunjukkan kepada kami arah menuju ke rumahnya.

Dengan sigap si bapak pemilik warung membantu menunjukkan rute yang harus dilalui. Sebelum mereka beranjak tak lupa Agus membeli beberapa permen dan lembar roti manis komplit ‘rasa yang pernah kecewa’ sebagai bekal di perjalanan sekaligus rasa ungkapan terima kasih. Agus juga sempat melayangkan satu pertanyaan.

“Ngomong-ngomong nih, sudah berapa lama tinggal di sini pak?”

“Anu ya. Brapa yak. Baru sekita enam tahunan.”

“Pantas. Berarti belum sampai sepuluh tahun dong.”

Wajah si bapak pemilik warung tampak mikir sebentar lalu berkata. “Iya betul betul…Adik ini betul-betul blo’on ya. Orangtua diajak  bercanda saja.“

Merekapun buru-buru kabur.

Di sebuah taman nan tandus, setengah asri, dengan bertemankan cahaya rembulan dan cahaya redupnya lampu taman, tampak sesosok remaja sedang asik merayu cewek bak Rommy sedang menggobamlin Juliet. Mereka tengah bercengkrama di atas ayunan dekat teras depan sebuah rumah yang memiliki pekarangan yang cukup besar. Semua rayuan mautnya keluar tumpah ruah tak henti bagai air terjun tanpa kran, keluar membuncah dari mulutnya yang tidak seksi itu. Rayuan ala fil Beverly hils 90210 saja kalah jauh.

Mari kita simak rayuannya. Penasaran kan?

‘Robi..atau Yati…” Faisol mulai melancarkan serangan sporadis.

“Kakak ini bagaimana sih. Jadi laki-laki itu yang tegas dan konsisten dong. Kalau memanggil nama saya satu saja. Kalau lebih nyaman dengan memanggil Robi ya Robi saja. Kalau Yati ya Yati saja, jangan diborong dua-duanya. Itu kemaruk namanya. Jangan begitu dong. Itu namanya Kakak menduakan….nama saya.” Yati Robiatun Sanawiyah kelihatan kurang puas. Yati memang manis dan menggemaskan. Apalagi saat sedang merajuk dan bermanja. Entah kenapa dia bisa kepelet sama Faisol alias Oyong ini. Walaupun Robi tidak memiliki rambut panjang terurai namun Faisol tetap suka. Robi lebih senang berpenampilan ala Demi Moore.

“Awak panggil Yati saja ya? Kalau Robi kesannya gimana gitu…”kilah Faisol sambil fokus menatap lampu taman. Dia masih grogi menatap langsung wajah rupawan sang cewek.

“Bolehlah. Cepetan deh ah. Kak Oyong ini mau bilang apa?”

Faisol berdehem sejenak.

“Yati…”

“Hmmm…”

“Cobalah adik Yati melihat ke langit. Di antara kelamnya terdapat sinar-sinar imut-imut yang bercahaya. Kamu tahu? Cahaya tersebut yang membuat langit nampak indah. Sungguh menakjubkan ya. Apalagi ditambah dengan cahaya sinar rembulan purnama.”

“Kak Oyong ini ahli astronomi ya?”

“Tidak juga. Awak hanya takjub melihat fenomena di langit. Sama saja awak takjub dengan penampilan dik Yati malam ini. Begitu sempurna dimata kakak. Belum lagi pakaian yang adik kenakan. Serasi, luwes dan feminim. Pokoknya Yati itu very beatiful banget banget.”

“Aduh kak Oyong. Sudah deh gombalnya. Semua laki-laki sama saja. Kalau ada maunya jadi jago merayu.”

“Kakak pengecualiannya lho..”

“Masak?”

“Kak Oyong serius. Yati datang pada saat yang tepat.. pada saat…”

“Saat apa kak?”

“Ya pada saat rumah ini dijual oleh pemiliknya lalu dibeli oleh papa Yati. Coba kalau tidak buru-buru dibeli kan bisa angker nih rumah. Lalu kita tidak akan pernah berjumpa kan?”

“Ngaco! Kirain apaan.”

“By the way wewe. Rumahnya kok sepi amat. Jangan-jangan kita memang dikasih kesempatan leluasa untuk berduaan ya?”

“Jangan ge-er deh kak Oyong. Mama Papa ada kok di dalam. Lagi nonton sinetron. Kalau mau ramai kak Oyong bakar saja pos siskamling yang ada di pojokkan sama. Dijamin pasti ramai nanti.”

“Ah kamu ada-ada saja. Sadis pakai bakar-bakaran. Cukup ke pasar saja kan ramai.”

“Pasar malam juga ramai deh kalau mau mencari suasana ramai.”

“Oh ya. Oh penyuka sinetron juga ya ortunya. Sama dengan ortu kak Oyong juga begitu. Kirain sudah pada tidur. Kan asik, tidak ada yang mengawasi. Hihihi…”

“Tidak bakalan kak Oyong. Orang Yati kemana-kemana selalu ditemanin. Belum boleh dilepas jauh-jauh. Apalagi dibiarin malam-malam berdua-duanya dengan seorang cowok. Kak Oyong jangan macam-macam. Jangan salah, mereka selalu siaga kok demi Yati.”

Faisol alias Oyong tercekat. “Oh ya?”

“Kak Oyong tidak tahu ya. Di bawah kursi ini sudah Yati siapkan stick softball. Buat jaga-jaga kalau kak Oyong nakal. Kalau Papa bilang kalau ada seorang cowok yang iseng dan nakai sama Yati akan digantung di pohon mangga di belakang rumah.”

Faisol menelan ludah. Mulutnya mingkem-mingkem. Badannya mulai panas dingin dan sedikit gemetaran. ‘Waduh premannya juga keluarga si cewek’ batin Faisol. Pikirannya berkecamuk. Ternyata si Yati tidak bisa untuk cewek eksperimen. Bukan untuk dipermainkan seenaknya saja. Bagi Faisol yang berniat selumnya hanya untuk iseng-iseng berhadiah langsung kecut. Dalam hati yang paling dalam Faisol segera merubah niatnya untuk serius menjalin kasih dengan Yati. Tidak rugi kok. Sudah putih, cantik, seksi, manis dan rupawan, suaranya yang manja itu menjadi salah satu alsannya. Satu kata untuk Yati ‘SEMPURNA’. Terlebih-lebih Yati tampaknya menyukai Faisol yang mirip penyanyi dangdut Muchsin Alatas versi kw 3.

Diam-diam Yati yang melihat gaya Faisol yang mengkriuk, mengkerut dan mengkeret jadi geli dalam hati. Untungnya Yati sanggup menahan gelinya tersebut.

“Kak Oyong…yang lucu…” ucap Yatih lirih dan manja.

“Kok lucu?”

“Oh ya yang ganteng kayak genteng…Hihihi..”

“Terserah kamu deh.”

“Kak Oyong serius tidak ingin berteman dengan Aku?”

“Ya iyalah. Bahkan Kakak ingin lebih serius dan lebih dari sekedar seorang teman lho.”

“Maksudnya?”

“Pacar gitu.”

“Oh ya? Memangnya Kak Oyong suka tipe cewek seperti Aku?”

“Iya. Gombal atau gembel nih?”

“Serius Yati. Kak Oyong serius. Swear deh.”

“Demi apaan.”

“Langit dan bumi. Seisi alam semesta. Seluas angkasa, galaksi dan tata surya.”

Faisol mulai ngaco dan senewen kata-katanya. Dasar pujangga gagal.

“Oh ya? Dahsyat banget.” Yati terkesima. “Ngerayunya maut dan berbau sentimen begitu.”

“Apa? Tianmen? Siapa dia? Bekas pacar Yati ya?”tanya Faisol bego. Budeknya mulai keturan dari Bapaknya.

“Bukan Tianmen Kak. Budi nih. Budeg dikit ya. Maksud Yati sentimen.”

“Oh maaf kalau begitu. Missunderstanding. Waduh, sentimen itu maksudnya apa?”

“Katanya sudah SMA, definisi sentimen saja tidak kenal. Sentimen itu adalah terlalu berlebihan terhadap sesuatu. Terlalu over dosis. Makanya sering baca kamus dong kak. Kakak payah nih. Kalau mau jadi pacar Yati musti pintar syaratnya. Pasti kakak tidak tahu ‘elaborated code’ juga ya?”

“Tobat, tobat deh Yati. Istilah apa lagi tuh? Kode apa tadi? Kode buntut ya?”

“Bukan.”

“Kak Oyong minta tolong. Please. Pakai bahasa Indonesia saja ya. Kita wajib mencintai produk dalam negeri atau lokal.”

“Kak Oyong ini belagak pilon atau memang blo-on ya. Hehe. Maaf ya kalau Yati lancang. Itu artinya bahasa canggih. Dan itu sangat diperlukan dan diketahui di zaman era teknologi komputer ini.”

Semenit kemudian keduanya terdiam. Tanpa sengaja mereka bertatap-tatapan. Mata Yati tak mampu memandang bola mata Faisol yang bulat kayak boal pingpong itu lebih lama. Takut kesetrum atau takut kena guna-guna. Sedangkan mata Faisol kelihatan sedikit nakal dan liar. Keduanya serempak menunduk malu. Romantis namun kurang harmonis. Hehe…

Dalam kesunyian yang menyepi dan menghening itu, Faisol mencoba memberanikan diri untuk berucap sesuatu…

“Yati…, E-eng.., Yati mengerti bahasa Korea nggak?”

Yati hanya menggeleng pelan.

“Sun dong yang…” Ngerti nggak?”

“Sun itu matahari ya. Dong Yang nama kota ya?”

“Aduh, payah bin kuper nih. Masak nggak tahu.”

Yati kembali menggeleng untuk kedua kalinya. “Lantas apa dong…?”

Faisol lalu membisikkan maknanya di telinga Yati yang dihiasi anting-anting Hello Kitty. Mendengar bisikan Faisol Yati sontak kaget. Dia lalu mengusap-usap dada.

“Idih kak Oyong genit deh. Mau cium pipi Yati maksudnya. Pokoknya jangan sekarang. Kita kan belum resmi jadiannya. Pegang tangan saja sebenarnya tidak boleh apalagi sun di pipi. Bukan muhrimnya Kak. Kita berdua kan baru saja kenalan. Belum genap sebulan.”

Jangan sebut Faisol Kribo deh kalau belum mampu merebut hatinya Yati. Dia tetap saja gencar melontarkan rayuan hidung belang. Faisol yang kadang bandelnya suka kumat tetap berniat ingin ngesun pipi Yati. Padahal sudah dilarang keras. Faisol belum mau menyerah untuk merayu cewek di hadapannya, yang masih duduk di kelas 3 SMP ini. Faisol penasaran ingin menundukkan kegarangan si Yati. Akhirnya dengan semakin gencarnya rayuan maut mampu juga meluluhkan hatinya. Sepertinya bakat merayu itu juga diwariskan bapaknya yang mantan playboy cap kampung.

“Iya boleh. Tapi cium tangan saja ya. Kalau pipi NO. Ingat lho stick softballnya masih di bawah bangku.”

“Yaaa…kok cium tangan. Kayak anak sama orangtua dong.” Faisol kecewa. Wajahnya berubah ribet. Mirip benang kusut sebelum disulam.

“Ya udah kalau tidak mau.”

“Oke deh nggak apa-apa. Mencium jari jemarimu yang lentik juga tidak mengapa kok.”

“Tapi Cuma di tangan lho. Jangan menjalar kemana-mana ya. Nanti Yati pukul.”

“Iya iya. Nggak cang ca ya-an banget deh sama Kak Oyong.”

Kini, detik-detik menciumpun tiba. Faisolpun siap ambil ancang-ancang untuk ngesun jari jemari milik Yati nan halus dan putih itu. Bagi Faisol tangannya Yati montok juga. Walaupun begitu mata Yatipun ikut terpejam juga. Mari kita hitung…satu…dua…ti….

KLETAK! DUK! DUK! PLETUK! AWWW! ADUHH!

Sebiji batu koral atau kerikil kecil tiba-tiba melayang terbang dan landing di jidat Faisol yang bidang. Seolah-olah laksana peluru senapan yang dimuntahkan oleh seorang sniper terlatih. Otomatis Faisol kaget bukan kepalang. Dia merasakan sekali sakitnya yang berdenyut-denyut. Secara refleks bangkit dan berdiri. Sambil berkacak pinggang dan berteriak lantang..”HEY! SIAPA YANG BARUSAN TADI NIMPUK SAYA? AYO NGAKU!”

Faisol seakan murka. Sebiji batu yang telah merendahkan dan menjatuhkan martabatnya. Giginya bergemulutuk kayak jambu klutuk sambil memandangi semak-semak sekitar taman berumput jepang itu dengan geram. Matanya  sedikit melotot. Seakan bola matanya hendak melompat ke luar.

“Kenapa Kak?” tanya Yati belum mudeng.

“Seseorang telah menimpuk jidatku. Dasar haram jadah! Ayo siapa yang melempar tadi. Hoyy, kalau kalian berwujud manusia keluarlah berhadapan dengan secara jantan! Tapi jika han…hantuu keluarga secara….secara betina. Atau jangan…nongol deh sekalian!”

Yati hendak ngikik tapi untung bisa ditahannya.

Gertakan Faisol sia-sial alias tidak membuah hasil. Barang satu wujudpun tak nampak. Suasana sekejab kembali sunyi. Diiringi deruan semilir angin yang bersuhu dingin menerpa wajah mereka. Spontan membuat bulu  romawi berdiri. Rambut Faisol yang kribopun ikut-ikutan berdiri karena takut. Setelah dirasakan situasi tenang, aman dan terkendali, Faisol mendudukkan pantatnya di kursi lagi. Memasang kuda-kuda untuk mencium jemari lentik Yati.

Lima menit berselang. Kletak Ktipuk suara gendang bertalu-talu…Eh-eh malah menyanyi. Kali ini batu terkutuk itu melayang ke kepala ke kepala Faisol. Kerimbunan rambutnya dapat menghalau batu tersebut. Jadi tidak terasa sakit. Kurang ngefek. Jadi tidak menyebabkan benjol serius.

“E-eh masih nekat juga ya. Siapa nih yang usil sih. Sudah bosan hidup rupanya?!” makin Faisol mulai penasaran. Naik pitam. Naik delman. Dll. Dengan perasaan marah bercampur kesal yang tak terbendung. Dia merasa dipermainkan dan dipermalukan di depan Yati.

Faisol tampak kasak-kusuk mencari sesuatu. Dalam kekalutan Faisol menemukan ide brilian. Bingo! “Yati, biasanya Mamamu menyiram kembang dimana? Maksudku selangnya diletakkan dimana?”

Sebelum Yati menjawab. Nah ini dia! Faisol langsung gembira dan berjingkrak-jingkrak saat menemukan sebuag gulungan slang panjang untuk menyiram bunga. Buru-buru memasang ujung slang ke ujung kran. Kran diputar. Air siap dipancurkan!

Faisol mengarahkan slang itu secara membabi buta ke segala arah dan tempat. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Faisol untuk membungkam si pelempar batu mistrius.

“Jangan jangan! Ampun ampun! Kami menyerah. Oke kami keluar. Jangan disiram lagi. Kami minta maaf ya Sol.” Ujar salah satu dari mereka.

Satu persatu tersembul wujud kepala manusia nongol dari balik rimbunan taman.  Terdengar juga suara ketawa cekikikan. Tiba-tiba muncul tiga sosok remaja laki-laki. Sudah dapat ditebak siapa lagi kalau bukan Agus Blepotan, Tekya La Kadam dan Iwan Mukejenuh.

Faisol dan Yati tampak syok karena sudah diintip.

“Sontoloyo! Rupanya kalian hantunya toh. Senangnya melihat jidat kawannya lecet dan kepalanya benjol. Pada slompret ya.”bentak Faisol puas.

“Cuma bercanda kok Sol. Tadinya mau nimpuk pakai batu bata. Nggak tega. Haha…”ledek Tekya sambil mengibas-ngibaskan ujung celananya yang basah kuyub.

“Maaf ya Sol. Kamu tidak cedera kan. Lho kok bisa ya?” Giliran Iwan menimpali.

“Bukan begitu Sol alias Oyong.”ujar Iwan mengusap mukanya yang kebasahan.” Seharusnya kami bertiga yang marah. Kami beranggapan bahwa kau telah mengerjain dengan membuat denah bohong. Kamu niat nggak sih bikin peta rumahmu. Mana petanay tadi ya? Nah ini dia. Peta sialannya ternyata ikut-ikitan basah deh. Kami jadi kesasar kemana-mana. Rutenya centang perenang begitu, membuat bingung orang. Lihatlah keadaan kami sekarang menyedihkan sekali, bukan? Sudah kehujanan e-eh pas pakaian kami mau menjelang kering kamu guyur pakai air. Basah lagi jadinya nih.”

“Kayaknya cukup sekali saja deh ke rumahmu..Kami kapok!”rengek Agus.

“Ya sudah Awak juga minta maaf. Habis, kalian juga sih yang bikin kaget. Akhirnya senjata makan majikan. Hehehe..Jangan kapok ke rumahku lagi. By the way. Lantas tahu saya ada di sini dari mana?”

“Orang rumah kamu yang memberitahu. Terus dibantu juga sama orang warung sana.”

Puncaknya, kencan Faisol berantakan. Acara jalan-jalan malam mingguannya juga batal. Pada akhirnya dengan suka cita bercampur berat hati, Faisol jadi juga memperkenalkan Yati kepada kawan-kawannya. Agus mengerlingkan matanya tanda salut dengan keberuntungan Faisol sukses menaklukkan Yati. Tekya juga secara sembunyi sembunyi mengacungkan dua jari jempolnya. Two thumbs!

Selang beberapa minggu berlalu. Tepatnya pada minggu ke empat setelah insiden basah-basahan itu, Faisol kembali mengundang kawan-kawannya bertandang ke rumahnya. Ceritanya malam minggu ini Faisol hendak ‘wakupelcar = waktu ngapel pacar’ lagi. Kali ini Faisol berbuat nekat dan kumat lagi. Bagaiman tidak? Kali ini dia tidak ngapel sendiri, akan tetapi mengajak rombongan Agus, Iwan dan Tekya. Untuk apa? Untuk mengamati secara langsung alias ,mengintip lagi. Hitung menonton gratis dan belajar jurus jurus merayu ala Faisol. Ada ada saja. Remaja yang aneh! Kesimpulannya malam ini formasi yang dipakai adalah 3-1-1. Tiga orang pengintip, satu pelancar rayuan, satunya lagi korban rayuan.

Mulanya, ketiga kawannya menolak secara halus tawaran janggal dari Faisol. Agak risih juga. Selain takut menganggu, apa enaknya ngintip orang pacaran sih? Cuma bikin iri dan iri doang. Namun setelah dipikir dan ditimbang cukup asik dan menantang juga. Yang punya hajat juga tidak keberatan kok untuk diintip. Jujur, sebetulnya Faisol hanya kepingin memamerkan kecakepan pacarnya saja. Walau rada aneh.

Walaupun ide unik ini seratus persen murni berasal dari anak kribo itu, namun Tekya, Agus dan Iwan ketar-ketir juga jika ketahuan bisa gawat. Apakah dia tidak sadar seandainya kepergok bisa-bisa percintaannya dengan Yati terancam bubar. Yang pasti Faisol pasti sudah mempertimbangkan apa yang bakalan terjadi. Sebagai antisipasi kejadian yang tidak nyaman terjadi, Faisol memberlakukan beberapa syarat yang tidak boleh dilanggar oleh teman-temannya. Syarat pertama, Agus, Tekya dan Iwan diminta tidak membuat kecurigaan dan kekacauan. Kedua, Anak-anak diminta mengintip dari balik dinding taman yang terbuka. Ketiga cukup berat dan kurang manusiawi, dilarang untuk kentut dan sebisa mungkin untuk menahan rasa gatal. Jika ada yang  kedapatan melanggar akan dikenakan hukuman setimpal yaitu yang pertama, terhukum wajib mentraktir Faisol makan pempek sepuasnya di kantin Kak Ma’il selama empat hari. Hukuman kedua, wajib memperbaiki citra Faisol yang telah tercemar di hadapan Yati  dan keluarganya. Paling tidak hubungan Faisol dan Yati senantiasa terjalin. Ya sudahlah. The show must go on.

Malam minggu yang dinantikan telah tiba. Malam itu Faisol berdandan keren habis. Wah, kalau  kerennya habis berarti tinggal jeleknya dong? Rambutnya telah dicoba untuk disisir agar  rapi tapi tetap saja tidak rapi, malah awut-awutan kayak orang hutan. walaupun telah mematahkan tiga buah sisir, Faisol  tetap cuwek. Cilaka! Belum lagi satu botol minyak kelapa berubah fungsi menjadi minyak rambut juga menjadi korban alias habis tak tersisa. Walhasil sang rambutnya yang kribo tetap saja jauh dari klimis. Sedangkan kawan-kawannya yang masih jomblo itu terkesan berdandan seadanya saja.

“Yati, andai kamu menjadi cinderella. Kakak jadi apanya?” Tanya Faisol bukannya mulai melancarkan jurus merayunya malah main tebak-tebakan basi.

“Jadi apanya ya? Oh ya upik abunya, Mau?”

“Lho kok gitu. Demi Yati tidak apa-apa. Saya mengalah deh.”

“Oke lanjut. Siapa takut?” Tantang Yati dalam hati.

“Andai Yati sebagai bunga. Kakak sebagai…”

“Hama werengnya..”

“Kok bagianku jelek melulu.” Protes Faisol sambil merengut.

Yati cuwek saja.

Tidak jauh dari lokasi, tanpa sepengetahuan Yati, tim pengintip yang sedang berada di balik kerimbunan taman, mulai kasak kusuk gara-gara banyak nyamuk nakal berkeliaran. Sesekali terdengar cekikikan mirip kuntilanak.

“Kak…coba dengar deh, seperti ada orang tertawa. Jangan-jangan..”

“Hush! Ini kan malam minggu. Mana ada hantu keluar malam ini.”

“Sudahlah. Kita fokus saja ke urusan kita. Paling-paling kucing nguber tikus.”

“Bukan begitu Kak. Perasaan saya mulai tidak enak ini. Lihat ke sana deh, tidak angin kok pohon bonsan di taman depan bergoyang-goyang. Saya jadi curigation nih. Coba Kak Oyong ke sana. Tapi hati-hati ya.”

Agar tidak dicurigai, Faisol menuruti saja perintah demenannya. Faisol merangsek ke dalam rimbunan taman pohon bonsai yang tumbuh tinggi-tinggi. Ketika langkah Faisol mendekati ke lokasi persembunyian ketiga kawannya, dia langsung mengerlingkan matanya. Dibalas acunbgan jempol oleh dari balik pohon cabe.

“Tidak ada apa-apa kok Dik. Aman terkendali.” Ujar Faisol ketika kembali ke kursi taman di rumah sang cewek.

Tidak sampai tujuh menit, suasana kembali berisik.

“Kak, ada suara lagi. Berisik amat. Jangan-jangan…kawan-kawan kakak yang bandel itu.” Tebak Yati sambil sembunyi dibalik bahu Faisol yang ringkih.

“Alaah, mana berani mereka mengintip lagi. Ketiganya sudah mengaku kapok. Mereka sudah kakak damprat waktu mereka menginap di rumah tempo hari. Mungkin tikus got.”

Setelah sekian lama bercengkrama, bercerita, berguyon, bercanda, merayu dan cekakak cekikik, perlahan-perlahan, pantat Faisol beringsut-ingsut mendekati posisi duduknya Yati. Tampaknya akal bulusnya mulai bermain. Dia mulai melancarkan aksinya untuk mencium pipi pasangannya. Bukan Yati namanya bila tidak tahu akan niat ganjen Faisol. Yati sudah mencium gelagat yang tidak baik. Sudah terbaca dari kerdipan mata nakal Faisol. Dia hapal betul gelagat itu, pasti ada maunya. Yati hanya tersenyum saja. Dibalik itu dia telah menyiapkan perisai.

Nasib baik! Yati berpura-pura menyetujui permintaan nakal Faisol. Yati bersiap tertunduk malu seraya memicingkan kedua matanya. Pemandangan itu disaksikan oleh ketiga tim pengintai. Kasak kusuk lagi.

“Ayo Sol sosor terus..Sikat saja bleh.” Bisik Agus tak sabaran. Iwan dan Tekya lebih kalem, tapi dalam hati mereka berkecamuk.

“Sun saja Sol. Cepetan sebelum dia berubah pikiran,” tukas Iwan bersemangat. “Cepat dong Sol. Kesmepatan tidak datang dua kali. Mana nyamuk sih pada lapar-lapar pula.” Iwan asik menepak-nepak nyamuk-nyamuk nakal.

“Ayo Sol, kapan jadinya sih dari tadi tatapan melulu. Saling colek. Memang sabun colek.” Tekya juga mulai kumat bandelnya.

Akibat tidak dapat menahan nafsunya, merekapun terseruduk ke depan. Bahkan si Tekya terjungkal ke belakang, nyaris kecebur di got.

Uji kata pepatah selalu benar. Sepandai-pandainya tupai melompat akan jatuh jua. Menyimpan buah durian serapi apapun akan tercium juga aromanya. Faisol hanya geleng-geleng kepala. Mau diomelin adalah kawan sendiri. Bingung. Hanya bisa nepuk jidat dan gigit jari.

Kesimpulannya mereka kepergok juga oleh Yati. Tak ayal lagi ketiganya diseret di tengah taman. Berikutnya akal bulus Faisol ikut tercium juga. Akhirnya Yati juga mengetahui siapa yang mempromotori aksi pengintipan. Faisol jadi pusing sepuluh keliling.

“Jadi Kak Oyong yang mendalangi mereka untuk mengintip kita pacaran. Kakak jahat ih, tega-teganya. Yati kan jadi malu. Maluuu banget!” Rengek Yati nyaris menangis.

“Bener Ti, ini inisiatif mereka sendiri. Dasar mata keranjang kalian ya..”tangkis Faisol, lalu pura-pura menghardik.

“Bohong, Ti!” sambar Agus. “Ini ide kami bersama kok. Bukan niat jahat kok. Hanya saja Kak Oyongmu taku t kalau berpacaran sendirian. Katanya rumahmu angker.”

“Ya sudah. Cukup-cukup. Kalau Kakak benar-benar sayang sama Yati, pasti rela berkorban. Apapun yang Yati minta mau tidak melaksanakannya? Please…”

“Oh sure. So pasti Dik. Apapun kan kulakukan demi kamu. Kalau boleh tahu kira-kira kamu mau minta apa?”

Yati segera mengambil gulungan selang air dan menyemprotkan ke muka Faisol, Agus, Tekya dan Iwan. Byuur byarrr!. Semuanya menjadi basah kuyub.

“Yati ingin melihat kakak-kakak ini mandi wajib. Rasakan nih.”

SERIAL MASA SMA MASA BODO? dalam ‘BOXING TIME-ULAH SI LEHER BETON MIKE TYSON VERSUS LARRY HOLMES DI SEKOLAH TEKYA’

Siapa yang tidak mengenal sosok petinju kondang Mike Tyson? Khusus penggemarnya pasti tahu betul track recordnya seperti profilnya, gaya bertinjunya, kehidupan sehari-harinya, kehidupan percintaannya, prestasi yang telah ditorehkannya, bahkan catatan kriminalnya.

Waktu itu tanggal 22 Januari 1988, TVRI menyiarkan secara langsung pertandingan spektakuler yang ditunggu-ditunggu itu antara Mike Tyson kontra Larry Holmes. Siapakah yang menjadi jawaranya? Di ronde berapakah salah satu dari mereka ada yang Knock Out?

Lantas apa hubungannya pertandingan tinju ini dengan serial ‘Masa SMA Masa Bodo?’. So pasti ada. Pokoknya satu sekolah dibikin kalang kabut oleh si Tyson ini. Kok bisa? So what? Apakah dia sedang mengunjungin Indonesia waktu itu? Maka kita simak bersama cerita yang makin seru ini.

(Mohon maaf apabila ada kesamaan nama dan lokasi bukan suatu kesengajaan)

Oleh : Deddy Azwar

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tahu Mike Tyson kan? No, dia bukan stand up comedy. Betul tebakanmu dia adalah petinju terkenal di dunia. Saya akan mengajak para pembaca untuk flashback sejenak. Bagi yang tergila-gila dengan pertandingan tinju so pasti mengenal nama-nama seperti Calsius Clay alias Muhammad Ali, Evander Holyfiled, Rocky Marciano, Mike Tyson, Hasim Rahman, Prince Naseem dan Larry Holmes. Sebenarnya masih bejibun deretan para petinju profesional dunia lainnya. Semuanya adalah nama petinju terkenal di zamannya. Mereka adalah legenda.

Disamping tontonan sepak bola, tontonan tinju juga selalu dinanti oleh para para penggemarnya. Bayangkan kerap ada pertandingan tinju, wabil khusus yang lagi berlaga merupakan petinju top. Apa yang terjadi? Biasanya akan membius semua orang untuk bela-belain menontonnya. Jalan-jalan di kampung-kampung maupun di kota-kota berubah menjadi hening dan sepi. Semua berduyun untuk menonton baik itu secara langsung di ring tinju maupun di televisi. Tiap orang  ogah melewatkan momen spesial itu. Mereka berebut ingin menjadi saksi sejarah. Biasanya kalau sudah di depan televisi, membuat mata mereka melotot. Para penganggum tinju, langsung menjadi tertib dan kusyuk banget. Mereka melahap detik demi detik, menit  demi menit dan dari jam demi jam. Bahkan untuk mengangkat pantat saja mereka ogah. Mungkin ada yang sampai menahan kencing. Luar biasa!

Lantas, setelah pertandingan usai, materi tinju dipakai untuk sebuah percakapan, kongkow atau obrolan dimana-mana. Virusnya tidak hanya di sekolah, di kampus, di kantor dan dimana-mana. Manakala mereka tidak tahu berita terkait tinju terbaru, bisa-bisa di olok-olok dan dicemooh alias kuper dan tidak gaul.

“Semalam tinju di tipi seru banget dah? Lha buju! Gini hari lu kagak update berita? A-appaa? Elu nggak nonton? Rugi lu. Emang ngapain? Ngangon bebek? Menggiring mereka ke kandang ya?” Ini salah satu beragam contoh olok-olok yang rada ekstrem dikit yang akan diterima.

Ya, boxing itu bisa membius. Jadi, bukan hanya wewenang dokter saja.

Siapa yang mengenal sosok Mike Tyson? Seorang petinju bertalenta super, juga terkenal dengan julukan si leher beton. Kabar gosip yang beredar layangan bogemnya dapat menghentikan sebuah mobil yang sedang melahu. Wow, fantastis! Berikut boleh disimak artikel yang dikutip dari blog milik petinju lendaris dari Indonesia yaitu Bang Syamsul Anwar harahap…

Mike Tyson lahir di Broklyin, New York tanggal 30 Juni 1966 dan hidup liar sebagai anak gelandangan dijalanan kawasan Brownsville. Ayahnya meninggalkan keluarganya ketika dia masih dalam kandungan. Ketika berusia 10 tahun Tyson kecil sudah akrab dengan perkelahian untuk menjadi preman yang berpengaruh.Masuk perawatan anak-anak nakal berulang kali dan terahir dimasukkan ke Tryon School for Boys, dimana dia berada hingga usia 13 tahun. Salah seorang pengawas disana, Bobby Stewart melihat potensi yang ada pada tubuh Tyson yang begitu tegap dengan otot yang baik. memperkenalkannya kepada Cus D’Amato. Cus D’Amato adalah manager dan pelatih tinju yang melahirkan juara dunia seperti Flyod Patterson dan Jose Torres. Mike Tyson diserahkan kepada Cus D;Amato pada ulang tahunnya yang ke-14. D’Amato mempunyai anggota yang cukup baik untuk menyokongnya sebagai pelatih, yaitu Jim Jacobs dan Bill Cayton. Bersama kedua orang itulah Tyson diperkenalkan bagaimana tehnik dasar bertinju serta mereka menonton film pertandingan tinju. Usai menonton, mereka menganalisis penampilan setiap petinju dengan argumen masing-masing. Mereka kemudian mengambil kesimpuilan bahwa Tyson harus bisa tampil sebagai petinju dengan gaya fighter bahkan mendekati gaya slugger karena tubuh Tyson termasuk pendek dari semua petinju kelas berat yang ada. Tyson muncul di ring tinju amatir dengan kemenangan yang meyakinkan, akan tetapi ketika seleksi untuk persiapan tim Olympiade Seoul dia kalah dan terlalu lama untuk menunggu Olympiade berikutnya .Mike Tyson terjun ke ring tinju pro pada bulan Mei 1985 dalam pertandingan kecil yang diatur oleh Jacob dan Clayton. Semula pembina Tyson amat menjaga agar Tyson tidak tampil dalam acara televisi nasional, agar Tyson bisa tampil dengan penampilan luarbiasa jika disaksikan untuk pertama kalinya oleh publik.Dari 15 pertandingannya pada tahun 1985, 11 lawannya dipukul KO pada ronde pertama. Tahun 1986 dia memenangkan 13 pertandingan tanpa terkalahkan. Trevor Berbick jatuh bangun dihajarnya pada ronde pertama dan pada ronde kedua Berbick harus menyerahkan sabuk juara dunia tinju kelas berat versi WBC kepada Mike Tyson. Mike Tyson memecahkan rekor Floyd Patterson sebagai juara dunia tinju kelas berat termuda. Usia Mike Tyson ketika merebut gelar juara dunia tinju pada usia 20 tahun dan 145 hari. Dalam tempo 10 bulan kemudian setelah menjatuhkan Berbick, Tyson menyatukan semua gelar juara dunia dipinggangnya. James Douglas juara dunia tinju kelas berat versi WBA sudah takut duluan, dia terus merangkul Tyson agar pukulan Tyson tidak leluasa menghajarnya. Tony Tucker juara dunia tinju kelas berat versi IBF juga ketakutan melawan Tyson dan bermain safe dengan merangkul Tyson lebih banyak.

Mike Tyson memiliki otot yang kokoh, dari otot yang kokoh tetapi lentur itu bisa melahirkan pukulan yang amat cepat menyambar sasaran pada tubuh atau kepala lawannya. Dengan tubuh yang lebih pendek dari hampir semua petinju kelas berat dunia, kepala dan badannya naik turun dan bergerak kekiri dan kekanan agar tidak mudah dibidik oleh lawan. Pergerakan badannya kekiri dan kekanan juga sekaligus ancang-ancang untuk melepaskan hook kiri atau hook kanan. Gaya bertinju seperti ini adalah kreasi dari Cus D’Amato yang disebut dengan peek-a-boo Kekuatan pukulan Tyson bisa membuat lawnnya KO jika kena pada bagian apapun, baik kepala maupun badan lawannya. Ahirnya hampir semua petinju kelas berat dunia takut terhadap Mike Tyson.

Tetapi dikemudian hari setelah Cus D’Amato meninggal dunia, kehidupan Mike Tyson menjadi limbung, tidak terkontrol. Mike Tyson seperti kehilangan kendali hidup dan terjerumus dalam kehidupan yang tidak sesuai dengan tuntunan Cus D’Amato’ Sedikit demi sedikit kemampuan bertinjunya menurun seiring dengan tidak terfokus lagi latihannya.

Gaya bertinju Mike Tyson ahirnya bisa diatasi oleh Evander Holyfield dengan caranya sendiri. Kalau takut melawan Mike Tyson sudah pasti kehilangan separuh tenaga, kalau berani melawan Tyson secara frontal berarti Tyson kehilangan separuh tenaganya. Mike Tyson menggempur Evander Holyfield dalam pertandingan pertama kereka di Las Vegas, tanggal9 Nopember 1996. Holyfield menahan serangan Tyson dengan membangun double-cover. Berkali-kali pada ronde pertama dan kedua pukulan Tyson tidak berhasil menembus pertahanan Holyfield dan Holyfield tenang-tenang saja seperti tak gentar. Ahirnya Mike Tyson frustrasi, tidak bisa berbuat banyak, sebaliknya Holyfield bertambah tinggi mentalnya. Holyfield membangun serangan beruntun terhadap Tyson, pukulan Holyfield beberapa mengena. Tyson tambah frustrasi karena tida dapat berbuat apa-apa, pukulannya tak mengena, pertahanannya dijebol oleh Holyfield. Kebetulan bertarung jarak dekat dan kepala Holyfield menempel di bahu Tyson, Tyson menggigit kuping Holyfield hingga berdarah. Yang terlihat kuat dan kokoh ternyata tak sekuat yang diduga oleh banyak orang. Orang yang kuat, petinju yang kuatnya luarbiasa, ternyata memiliki kelemahan yang luarbiasa juga. Bayangkan, hanya dengan menahan 10 pukulan keras Mike Tyson, Holyfield bisa mengalahkan Tyson. Dengan menahan pukulan Tyson, mental bertanding Tyson menurun tajam, sekaligus tenaganya juga anjlok tajam. Ternyata dalam dunia tinju erat hubungannya antara takut atau kesal dengan tenaga. Kalau kita takut, tenaga akan hilang, kalau kita kesal juga bisa membuat hilang konsentrasi dan sekaligus juga hilang tenaga.

Kalau tidak salah pertandingan antara Mike Tyson vs Larry Holmes yang berlangsung tanggal 22 Januari 1988, menjadi kenangan kita semua.  Kala itu saya sedang duduk dibangku SMA, dan tentu sedikitnya berpengaruh pada jam pelajaran kami pada waktu itu. Penasaran siapa yang menjadi jawaranya? Simak ceritanya..

Beberapa akhir pekan ini Tekya punya kebiasaan baru yaitu mulai jarang di rumah. Entah apa penyebabnya dia tidak betah di rumah. Setiap selesai jam makan malam, dia langsung ngelayap kabur. Kemana lagi kalau bukan ke rumah temen barunya yang baru pindah dari Karawang, bernama Zakaria alias Jack Challenger alias Opah. Nama julukannya sih keren. Berbanding terbalik dengan mukanya yang cendrung chubby. Uniknya, walaupun berusia muda belia  karena masih SMA, si Jack ini  biasa dia dipanggil Opah. Bukannya sebutan opah itu diperuntukkan untuk orang yang sudah uzur atau mendekati kakek-kakek. Betul tidak? Usut punya usut ternyata itu anak bernama lengkapnya Moustofa Zakaria.. Asumsinya kalau menilik dari namanya mestinya bertambang macho. Mantan cowok atau machomblang? Nama yang menipu. Rumahnya si Opah ini menjadi tempat permainan keduanya setelah rumah si Koming. Jack Opah, tetangga anyar di kampung kemang manis, baru saja empat bulan menjadi  warga di sana.  Jarak yang diperlukan untuk ke rumah Koming hanya lima langkah saja. Beda halnya ke rumahnya Jack cukup 10 langkah perjalanan, ditempuh dengan berjalan kaki dong. Lokasi rumahnya tepatnya persis di bawah rumah Tekya. Bingung ya, rumahnya terletak di dataran rendah sedangkan rumah Tekya di dataran tinggi. Sehingga kita harus menuruni jalan setapak  untuk bisa sampai ke rumahnya. Itu sekelumit data georafisnya.

Ketika musim penghujan tiba, apalagi kalau curahnya cukup deras, rumah Jack Opah seringkali kedatangan tamu yang tak diundang dan tak diharapkan bernama BANJIR. Kehadirannya suka semaunya tanpa permisi. Tanpa pilih bulu. Tanpa memandang situasi dan kondisi. Suka masuk ke dalam rumah lalu menelusuri ruangan-ruangan lain. Yang membuat jengkel, tak ada rasa sopan santun sedikitpun…

Anehnya, sebelum rumah Jack berdiri, disana tidak mengenal istlah banjir kok. Paling juga berupa genangan air saja. Tetapi semenjak rumah Jack dibangun, timbullah bencana itu. Karena sudah terlanjur basah, orangtua Jack belum berniat pindah lagi. Kesimpulannya, mereka menerima dengan sabar dan ikhlas atas peristiwa banjir yang selalu hadir tiap musim hujan. Mereka berusaha melewati dengan kuat dan tabah. Ibarat kata bubur telah menjadi hamberger!

Seperti kejadian malam kemaren, seisi rumah Jack dibuat kerepotan tak ketulungan, termasuk Tekya juga ketiban sial, yang kebetulan iseng bertandang ke sana, turut sibuk bahu-membahu mengusir air yang menggenang masuk ke ruang tamu. Jack beserta kakaknya, Jackpart terlihat menguras air dengan bantuan gayung dan selang panjang. Sedari tadi Jack, menghisap ujung selang dengan sekuat tenaga, agar supaya air masuk ke dalam selang dan mengalir ke luar pada ujungnya. Cukup tradisional dan bikin nafas tersengal. Sekali waktu Tekya pernah melihat cara itu dari tukang penjual minyak tanah keliling. Resikonya, bisa saja tertelan air atau minyak hasil sedotan tadi. Lumayan vitamin. Meskipun air perlahan terkuras, meninggalkan jejak,  yaitu kotoran sisa banjir. Belum lagi halaman dan jalanan jadi becek. Bikin kocek lecek.

“Terima kasih ya Tekya, kamu sudah rela berbasah dan berkotor ria membersihkan lantai rumah kami. “ Ucap Ibu Jack, sembari membawa nampan berisi pisang goreng.” Silahkan dicicipin pisang goreng buatan Ibu, biasa dari kebun binatang eh belakang maksudku.”

Tekya bergembira sekali disuguhi pisang goreng mentega beroleskan coklat buatan Ibunya Jack yang terkenal nikmat. “Waduh, terima kasih Bu. Dari aromanya pasti nikmat nih. Sudah merepotkan.”

“Kamu ini lucu lho Tekya. “ Sela Jack. “Kami ini yang sudah merepotkan kamu. Bukankah kamu sudah membantu kami untuk bersih-bersih. Kami sekeluarga sudah seharusnya menghaturkan banyak terima kasih.”

“Oh ya. Sudah sewajarnya kita saling membantu antar tetangga. Bantuan saya ini tidak perlu dibesar-besarkan. Nanti saya tidak dapat pahala lho.” Jawab Tekya diplomatis. “Sudah barang tentu karena kita hidup di dunia ini tidak sendiri toh.”

Jack Opah bergegas menuju dapur. Tidak lama kemudian dia keluar membawa dua cangkir kopi susu hangat dan sepiring buah duku komering, berbentuk bulat berwarna kekuning-kuningan. Betul betul mengundang selera.  Tak lama kemudian dia datang membawa beberapa lembar surat kabar dijepit di bawah ketiaknya. Lalu di mulutnya tersumbat satu biji pisang goreng yang tak sempat dikunyah. Dikulum doang.

“Waduh! Tidak perlu repot-repot, Jack. Keluarin aja semuanya yang ada di dapur.”Canda Tekya. “Pisang dari Ibu kamu saja sepertinya sudah bikin kenyang.”

“Ayolah Tekya. Bukan apa-apa sih. Malam ini kamu saya servis abis deh. Tapi kamu jangan ge-er dulu. Ini buah duku adalah sisa-sisa buah reject dari pasar segar dua hari yang lalu. Mubazir daripada saya buang ke selokan. Syukur-syukur masih bagus dan tidak bikin sakit perut. Ayolah dicicipin ya. Jangan lupa baca bismillah dulu biar selamet. Hahaha.” Jack Opah tertawa lebar. Udel  yang gendut itu nyaris tersembul gara-gara baju kaosnya yang ketat sedikit tersingkap.

Tekya langsung mencomot satu buah dukuh yang ternyata telah bersuhu dingin. Mulailah terbit air liurnya karena lapar. Kemudian diteguknya pelan-pelan kopi susu hangat yang nikmat itu. Takut keburu dingin.

Di tengah kepenatan mendera. Di tengah leseh-leseh, riak-riak amukan kejenuhan melanda.

“Jack, apa kamu nggak punya bacaan-bacaan?” Tekya membisikkan sesuatu ke telinga si Jack Opah.

Jack Opah hampir terlonjak ke belakang, kursinya nyaris terjungkir balik saking kagetnya. Otomotis Tekya juga malah lebih kaget lagi setelah melihat reaksi emosional temannya.

“Bacaan? Mantra-mantra maksudmu? Yang buat meletin cewek, ya? Eleng-eleng. Dalam agama Itu sirik namanya. Dosa yang sulit diampuni. Dosa besar gitu deh. Wajib kita menjauhi yang berbau praktek2 perdukunan. Nyebut Tekya…” Jack Opah malah ngerocos kemana-mana.

“Aduh! Jangan overacting begitu Jack. Ini payahnya kalau komunikasi dua arah tidak relevan. Tidak nyambung alias disconnect. Yang kumaksud bacaan itu adalah seperti majalah kek, koran kek, cerpen kek, novel kek, bengek kek. Bukannya mantra yang dipakai dukun cabul tahu?!, Blo-on. Pokoknya bacaan. Masak kita Cuma bengong-bengong saja. Nonton tipi acaranya begitu-begitu saja. Bosan Jack. Nanti kita dikira bujang pingitan lagi.“

“Itu ada koran di atas meja di sampingmu.” Jack Opah sambil menunjukkan jari telunjuknya.

“ Itu koran  ekonomi dan bisnis kan. Aku kurang tertarik, kalau doyan sudah dari tadi sudah kubakar eh kubaca Jack.

“It’s so very easy Tekya. Keciil. Kalau menyangkut soal media massa, publikasi dan informasi di sini gudangnya.”

“Kamu ngomongin apa Jack?”

“Dengerin ya. Saya punya semua mass media. Kamu maunya apa? Tinggal sebut saja. Pos Kota? Majalah Tempo? Tabloid Monitor? Koran Kompas? Majalah Bobo? Tom tam?”

“Apalagi….?” Tekya begitu antusias. “Gila, rumahmu ini loper koran?”

Sampai pada suatu ketika Jack Opah membisikkan dan menawarkan sesuatu. “Playboy?”

“Hah! Apa Aku tidak salah dengar nih? Masak kamu menyimpan majalah Playboy? Bukan majalah tentang mainan khusus anak laki-laki kan?” tanya Tekya semakin penasaran seraya membetulkan posisi duduknya. Gayanya serupa orang panik. “Mana-mana?”

“Bukan majalahnya Tekya. Tapi parfumnya…” Jack Opah mesem-mesem. Dia puas telah mengelabui temannya.

“Sontoloyo. Ember lu.”

Jack Opah cekikikan. “Tunggu ya Tekya… Saya mau ambil mantra-mantra dulu. Biar kita tidak kebingungan dan kebengongan.”

Usai makan malam. Suasana di rumah Tekya sedikit terjadi kehingar bingaran. Mamanya lagi marah besar.

“TEKYA! Tekya!” Kemana sih anak itu? Apa dia lupa kewajibannya malam ini? Tabel giliran untuk cuci piring sudah dibuat dan disepakati. Eh-eh malah dimushola.”

Papa yang sedari tadi asik tengah membaca surat kabar, jadi terusik lantaran teriakan Mama yang ribut dari arah dapur. Papa melipat korannya, dengan serta merta menemui Istrinya.

“Ada apa Ma? Kok mengomel. Mama mama, ngomongnya malah ngelantur. Bukan dimushola tapi dilanggar. Kata yang tepat adalah dilanggar. Jadi, peraturan yang Mama buat itu dilanggar kan?” Papa buru-buru membetukan ucapan istrinya.

“Mama tahu Pa. Tidak boleh main plesetan apa?”

“Mama kayak anak muda saja. Lagian kalau jalan tidak licit manabisa kepeleset. Masa remaja Mama sudah lewat.”

“Ee, ini. Tekya mulai bandel. Ngelayap kemana sih? Malam ini giliran dia mencuci piring.”

“Lho, memangnya dia kemana Ma?”

“Papa ini komedian ya? Lucu. Mana Mama tahu Pa. Bagaimana sih Papa ini. Seandainya kalau tahu mana mungkin Mama sampai teriak-teriak begini.”

“Sudah. Change place saja dulu sama si Evan. Tukar guling eh tukar tempat maksudnya.”

“Apa dia mau ya..”

“Yaa, itu jalan satu-satunya. Dugaanku dia mungkin main ke rumah Koming Ma.”

Setelah dibujuk oleh Mama, Evan mengangguk lesu. Mama terpaksa melimpahkan tugas negara rumah tangga itu kepada Evan yang sedang konsentrasi dengan pelajarannya.

“Apes nian nasib saya. “Ujar Eva mencak-mencak. “ Evan lagi Evan lagi. Padahal kemaren malam Evan sudah kan Ma? Mestinya giliran si Uda. Kepengin Evan pukul pantatnya.”

“Iya Mama tahu. Pokoknya sekarang Udamu sedang tidak di rumah.”

“Biar Evan cari dulu ya Ma? Dasar Kakak yang tidak bertanggungjawab. Huh!”

“Sudah Van, tak perlu. Tadi sehabis makan tadi dia langsung ngeluyur entah kemana. Tidak pakai izin dulu. Atau ngobrol kek. Kamu gantikan dulu ya, nak. Besok-besok tugasnya jadi dobel.”

“Iya deh. Oh ya Ma, hampir Evan lupa. Padahal besok ada hapalan bahasa Inggris lagi. Kami nanti diminta ke depan kelas satu-satu. Malu kan Ma, kalau sampai lupa.”

Evan masuk ke dapur untuk menemui setumpuk piring-piring kotor yang telah menantinya. Seakan minta dimandikan. “Gara-gara si konyol itu semua hapalan bahasa inggris  yang nyangkut di otak jadi keluar semua. Awas saja. Astagfirullah, kok Aku jadi menyumpahi dia ya?”

Setelah menunaikan tugas. Evan menghadap Mamanya yang sedang serius menikmati sandiwara di televisi. “Mama! Sudah beres. “ Lapor Evan dengan semangat kemerdekaan.

“Anak pintar. Bersih kan?”

“Pokoknya kinclong deh Ma. Dijamin 70 persen.”

“Lhaaa…Kok bisa begitu. Bukannya 100 persen.”

“Hihihi…Ma tiada yang sempurna di dunia ini. Ma, pokoknya kalau si Uda pulang harus dikenakan sanksi atau hukuman. “Rengek Evan.

“Apa hukuman yang pantas?” Tanya Mama sambil tetap melototin televisi.

“Yang enteng saja. Dirajam seratus kali?”

“Astaga jangan itu namanya tidak berprikemanusiaan. Menurutmu lebih baik digantung saja di bawah pohon petay.”

“Hahaha. Betul. Setelah itu kita kitik-kitik pinggangnya.”

Ternyata Tekya masih betah mendekam di rumah Jack Opah. Belum terlintas niat untuk pulang.

“WAH! ADA TINJUU!!” Teriak Jack Opah sembari menunjukkan halaman muka sebuah llembaran koran kepada Tekya. Kebetulan redaksi menjadikannya sebagai tajuk laporan utama mengangkat berita menjelang pertandingan perebutan gelar tinju.

“Tinju? Siapa yang berantem?” Tekya menoleh ke kiri dan ke kanan. Wajahnya menampakkan kelinglungan.” Oh berita di koran. Bikin orang kaget saja.”

“Tekya. Saya bisa rugi.” Ujar Jack Opah sambil menepuk pundak Tekya. Dia tidak dapat menyimpan kegembiraannya. Jack Opah memang maniak tinju dan sepakbola.

“Rugi? Apanya yang rugi Jack? Kamu kalah judi berapa?” Tanya Jack masih belum mengerti. Tekya kembali dibuat bingung oleh ucapan Jack Opah. Maklum keduanya belum terlalu lama menjadi sahabat. Perlu adaptasi menuju tingkat kecocokan.

“Begini Tekya. Besok sabtu disiarkan pertandingan tinju di TVRI. Mike Tyson yang berjulukan si leher beton itu akan melawan Larry Holmes. Nih baca deh korannya. Horeee.  Bakal seru, haru dan biru.” Ucap Jack Opah bersemangat sekali.

Sekonyong-konyong Tekya merebut koran dari tangan Jack Opah. “Mantap nih. Crazy! Dalam sejarah pertinjuan, Muhammad Ali pernah didepak si Larry. Ini kabar gembira namanya. Malah untung, bukan rugi.”

“Alaaa, kamu belum mengerti maksudku. Pertandingan sabtu nanti disiarkan secara live oleh TVRI. Percuma, Tekya. Masalahnya sabtu kan kita sekolah. Kamu kepengen bolos?”

“Gimana ya…Kenapa tidak diundur hari Minggu saja ya. Sayang jika dilewatkan.”

Keduanya tampak tidak bergairah. Masing-masing mulai bermodus jelek. Berpikir dan mencari alasan untuk tidak masuk sekolah. Mereka menyesali kenapa masih berstatus masih sebagai murid saat ini. Coba kalau sudah dewasa, tidak perlu capek-capek belajar dan bersekolah lagi. Berstatus menjadi karyawan atau wiraswasta akan lebih memudahkan untuk menonton tinju. Mereka tidak perlu repot-repot harus meminta izin kepada orangtua. Menjadi orang dewasa tentu lebih bebas karena sudah dapat mengatur diri sendiri. Menjadi orang dewasa lebih menguntungkan dibandingkan menjadi anak sekolah. Mereka mulai berkhayal yang bukan-bukan. Predikat sebagai murid sungguh menyusahkan. Andai Tekya dan Jack Opah tahu bahwa semakin dewasa seseorang tentunya porsi kewajibannya pun tentu lebih banyak dan besar juga. Menjadi dewasa juga tidak mudah. Mereka mempunyai tanggungjawab untuk menghadapi masa depan. Mencari uang, mencari kerja dan menghidupi keluarga andai dia telah mempunyai keluarga. Masing-masing jenis usia sudah ada kodratnya.

Di sebuah lokasi perkampungan yang terletak sekitar beberapa kilometer dari perumahan Jack dan Tekya.

“Kakak  serius ingin memindahkan televisi kita dari rumah?”Tanya seorang wanita muda kepada Suaminya, Ismail. Sang suami hanya mengangguk dan berdehem kecil. Sang istri terus membuntuti langkah kaki suaminya, kemanapun dia berjalan. Begitupula halnya ketika sang suami hendak menuju ke kamar mandi. Istrinyapun langsung tersadar dan berhenti hanya di depan pintu. Kak Mail yang semula ingin menutup pintu jadi terhalang.

“Kak Mail belum menjawab pertanyaanku. Sudah dipikirkan masak-masak Kak?”

“Sudah Dik. Kakak mau mandi dulu. Malahan mikirnya sampai gosong saking matangnya. Persoalan membawa tipi ke kantin saja nanyanya sampai sebegitunya. Bagaimana kalau saya ingin memindahkan rumah kita ke sekolah, Dik. Bisa-bisa kamu kelojotan setengah mati.”

“Sampai kapan Kak tipi kita ada di kantin?”

“Tidak lama. Kakak hanya ingin menonton pertandingan tinju Mike Tyson saja. Nanti kalau sudah selesai kubawa pulang lagi.”

“Betul ya. Jangan sampai lupa. Kasihan si Tohir, dia kan doyan nonton film kartun si Puma”

“Padahal kamu yang ngebet kan? Tiap malam hobinya nonton sinetron melulu.”

“Hati-hati Kak jangan sampai anak-anak sekolah tahu. Bisa-bisa mereka pada kumpul di kantin nanti buat nonton tinju. Kalau kelas sampai kosong bisa gawat, Nanti Kak Mail bisa ditegur oleh Kepala Sekolah.”

“Kamu ada-ada saja. Saat pertandingan tinju berlangsung bertepatan dengan waktu anak-anak belajar kok. Jadi aman.”

“Kalau ada rezeki, kita beli satu lagi ya Kak. Khusus untuk di kantin. Biar ada hiburan.”

“Amin. Ya sudah, sekarang Adik mundur beberapa langkah. Kakak mau menutup pintu. Mau sekalian ngebom dulu baru kecibang kecibung.”

“Oh ya Adik lupa kirain kita sedang di kamar.”

Mari kita tengok sejenak suasana kelas 1.3 pagi ini. Hening dan sunyi. Kelihatan dari banyaknya tempat duduk masih banyak yang kosong, dalam artian majikan si bangku belum pada datang. Mungkin masih on the way. Yudo Gempul dan Arleini salah satu pengecualiannya. Entah angin apa yang membawa mereka untuk datang lebih pagi ke sekolah. Dikala teman-teman sekolah belum kelihatan ujung jempolnya, keduanya justru sibuk merumpi jarak jauh. Yudo, anaknya yang berbodi subur lagi besar ini sedang nangkring di meja guru. Sementara Arleini cukup puas duduk di bangku murid di barisan paling depan. Mumpung suasana masih sepi. Kapan lagi Yudo bisa mencicipi kursi guru. Duduk dimanapun tidak ada yang protes. Tinggal pilih. Sesekali Arleini berteriak, karena suaranya tergolong sofly sound. Kalau dia ngomong very slowly nyaris tidak terdengar.

“Len..kenapa sih suaramu halus bener. Kencengin sedikit volumenya dong. Biar Aku kedengaran kamu ngomong apa. Radiasinya tidak sampai kemari.”

“Siapa suruh duduknya berjauhan.” Sela Arleini manja.

“Kamu maunya kita duduknya mepet-mepet kayak di oplet (angkot). Mau dong. Aku kesana ya. “ Mata Yudo berbinar-binar. Senyumannya mengembang bantet kayak kue basah.

“Eiitt. Tunggu dulu. Jangan pindah duduk. Nanti kita disangka sedang ngapain.” Cegah Arleini secepat kilat, takut Yudo terlanjur bernafsu. Arleini mengelus dada. Yudo Gempul sontak kecewa berat. Hati-hatinya tadinya berbunga-bunga dan merekah mendadak melayu. Arleini melanjutkan…”Husss…namanya saja kita lagi merumpi. Kan serba rahasia. Top secret. Harus pelan bicaranya. “

“Kamu ini orang planet ya, Len. Dimana-mana orang merumpi duduknya harus dekat-dekatan dong. Biar tidak terdengar orang. Kalau berjauhan begini, tahun depan baru kelar gosip kita.”

Memang, Yudo Gempul dan Arleini sedang membicarakan situasi panas permusuhan antara Mizal Bom Bom dan Ferry Handsome. Bukan menjadi rahasia umum lagi. Persahabatan yang telah mereka jalin sejak SMP terancam pecah pasca perlombaan majalah dinding.

“Kemaren si Yudi melihat mereka berdua berjalan pas-pasan. Keduanya tidak saling bertegur sapa. Malah membuang muka. Masing-masing berusaha menjaga gengsi.” Ucap Yudo, tetap bersuara dari meja guru.

“Oh ya. Wah ini berita terupdate.” Arleini menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Seperti orang sedang tercengang. Mirip gambar di poster film ‘Scream’. “Sepertinya mereka belum bisa menyelesaikan persoalan kemaren Betul nggak Yudo?”

“Apa? Kamu tadi ngomong apa?”  Yudo membuka lebar saah satu telinganya. Tuh kan tidak kedengaran lagi suaramu. Terdengar sayup-sayup. Aku yakin sekali kupingku belum budeg.” Yudo menghentakkan telinganya dengan ujung lengannya, demi meyakinkan bahwa pendengarannya tidak terganggu alias masih oke.

“Sudah deh kita ganti topik saja. Soal Bom Bom kita tutup dan disimpan dulu buat nanti siang. Hihi kayak bekal makanan saja. Ada gosip lain tidak yang lebih ‘in’ begitu. Hallo, Yudo, Yudo!” Arleini akhirnya berhasil menaikkan volume suaranya.

“Apa ya?” Yudo berlagak kayak orang mikir. Sudah membedakannya ketika Yudo sedang berpikir atau sedang kebelet pipis. “Oh ya ini nih. Kamu pasti belum dengar berita baru ini.”

“Giama? Gimana? Terus…terus. “ Arleini berapi-api sekali. Nyaris terbakar nafsu gosipnya.

“Ini tentang Pak Lamtoro, guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila) kita. Gila betul Dia.” Nada suara Yudo melambat.

“Eh Yudo, kalau dia gila tidak mungkin menjadi guru!” Protes Arleini.

“Dia terlibat affair. Saya melihat dengan mata kepala hidung kaki sendiri.”

“Yang benar saja Yudo. Masak sih? Gosipmu bisa dipercaya tidak?” Mata Arleini kembali membelalak. Malah sedikit melotot. Mirip artis Suzanna dalam film ‘Sundel Bolong’.

“Yang namanya gosipkan bisa betul bisa tidak, Leni.”

“Oke deh. Terus kamu lihat dia sedang bercumbu dengan siapa?”

“Jelas sama bininya…”Jawab Yudo santai.

“Yudo!” Teriak Arleini kesal bin dongkol. “Orang sudah terlanjur serius mendengar dari tadi. Kiranya….”

Yudo Gempul dan Arleini tidak menyadari kehadiran Tekya.

“Pacaran nih yee. Di bioskop dong kalau sedang pacaran. Tidak modal banget pacaran di kelas.” Tuduh Tekya spontan.

“Enak saja. Siapa yang pacaran Tekya? Kalau ngomong suka benar ya.” Jawab Yudo melantur.

“Lha itu pakai mojok segala.”

“Walaupun Kita mojok juga duduknya saling berjauhan lagi.” Jawab Arleini ketus.

“Sudah Leni, bilang saja kita sedang penjajakan…”Bisik Yudo pelan tapi mencekam.

Arleini langsung sewot dan buru-buru ke luar kelas. “Yudo jelek. Udah ah, jadi kepengin pipis melihat muka kalian.”

“Yudo Yudo, pagi-pagi begini sudah usaha ya..”Timpal Sony Betapermax tiba-tiba ngongol dari arah belakang. “Malah asik mojok bukannya mengerjakan tugas piket. Ayo. Siapa yang sudah mengerjakan PR Matematika. Pinjang dong, mau Aku salin nih. Pertanyaannya sih gampang cuma jawabannya susah. “

“Eh, pentil sepeda. Ini satu lagi Sony Sontoloyo. Datang-datang langsung nuduh seenaknya udelnya. “Yudo Gempul berusaha membela diri. Sejujurnya, Yudo merasa diuntungkan dituduh naksir Arleini, malah akan semakin memudahkannya menarik perhatian si cewek. Yudo mengerdipkan matanya saat Arleini melintas di sampingnya. Ya, Yudo berpura-pura tersinggung. Faktanya dia bahagia bukan kepalang. Cowok mana yang menolak bila disandingkan dengan cewek manis, lembut, bermata sendu, berambut hitam sebahu, berkulit kuning langsat dan satu lagi berbibir tebal lagi seksi kayak Angelina Jolie. Belum lagi suaranya nan amboy.

Kelas mulai kembali ke habitatnya. Ramai seperti ranjau habis meledak. Acara merumpipun bubar jalan.

“Sorry berat friends. “Timpal Tekya meninju pelan perut buncit Yudo.”Aku Cuma bercanda. “Kasihan si Leni kena tuduh begitu. Kalau si Yudo tidak kupikirin.”

“Love is blind kata Tiffany Yud. Hahaha.”Ucap Yudo penuh keyakinan.

“Hei teman-teman. Kabarnya pagi ini ada tinju lho di teve. Tyson vs Larry Holmes.” Tekya langsung mengabarkan berita gembira., sambil menyaring siapa saja yang berniat bolos selama pertandingan tinju berlangsung. Tekya melihat mimik muka mereka satu persatu.

“Masak sih. Kamu jangan menyebarkan isu Tekya. Biasanya kalau ada info tinju saya paling update. Kok bisa kecolongan. Jam berapa. Berlangsung dimana? Berapa ronde? Kamu pegang siapa? Kita taruhan yuk? Saya pilih ronde genap.”

“Dimana-manas kalau baca mantra ada titik komanya Yudo Gempul. Nyerocos bae cak sepur (ngerocos saja mirip kereta api). Bukannya ngucapin terima kasih sama Tekya. E-eh malah mengajak taruhan. Dosa tahu. Dikira saya tidak mau apa? Ayo lima ribuan saja. ”Tukas Udin dengan muka bersungut.

“Samobae. Samimawon. Sekarepmulah.” Ucap Parto dengan dialek jawanya yang kental.

“Kenapa Yudo? Tipinya sudah digadai?” Ledek Ali Caplok dengan ciri khasnya yang cengengesan. Cara berjalannya meniru Charlie Chaplin beda kumis.

Kelaspun kembali heboh. Pasar stock excange Dow John di New York kalah berisiknya. Berita tinju itu membikin gempar bukan saja melanda seisi kelas tapi malah merembet seisi sekolah sudah pada tahu. Pertandingan tinju profesional antara Mike Tyson kontra Larry Holmes menjadi deadline pagi itu. Berita itu terbang sampai ke kantin dan jatuh di lapangan sepak bola. Lho?

Bagi peminat tinju hal itu teramat krusial banget. Bagi anak-anak yang buta berita atau tak sempat atau tak doyan baca koran ataupun tabloid saat dikasih tahu, mendadak ceria bagaikan ketiban durian runtuh. Berita gembira yang langka begini tidak boleh dilewatkan begitu saja. Sebagian besar merencanakan bolos ‘semi permanet atau permanen total’. Mengerti tidak tidak maksudnya? Kalau semi permanen adalah hanya bolos sesaat saja pas tinju berlangsung. Nah, kalau permanen total atau full permanent pasti sudah menebaknya.

Kepasrahan juga menghinggapi para guru yang peminat tinju. Kalau saja boleh cuti so pasti mereka akan mengambilnya dengan segera. Hal itu akan mustahil, karena hampir separuh guru-guru laki-laki tergila-gila dengan olahraga tinju. Sekolah mendadak sepi. Bapak Kepala Sekolah tidak akan mengizinkan dan tidak akan rela. Untunglah para guru memegang prinsip istiqomah (berpendirian teguh) yaitu ‘teaching is very important. Lagipula di dunia perguruan belum ada istilahnya sekolah diliburkan hanya gara-gara pertandingan tinju doang. Apalagi yang bertanding bukan pula atlit nasional malah dari negara lain yang nun jauh disana. Apa kata dunia? Apa ucapan masyarakat nanti. Bisa-bisa image guru menjadi rusak.

Pertandingan idaman lelaki sebentar lagi menjelang. Acara-acara yang dianti-nanti akan berlangsung pukul 11.00 WIB. Pagi itu jam di ruang meja guru menunjukkan hampir setengah delapan. Artian masih menunggu 4 jam setengah lagi. Bagi penggila tinju 4 jam itu adalah kelamaan.

Bel sekolah belum berdentang eh salah berbunyi coy, Tekya cs bergabung dengan kelas lain sibuk mengekspos habis-habisan serta mengupas secara tuntas berita headline itu di kantin Kak Ma’il. Otomotis, pelanggan kantin membludak.

Sementara di pojok kantin. Sekelompok siswa sedang bersenda gurau.

“Minta-minta saja sekolah kita diliburkan.” Iwan Mukejenuh berharap-harap. Jemari-jemarinya dengan cekatan mencomot satu persatu pempek telor dari piring yang sudah tersaji di atas meja.

“Ada-ada saja.” Kata Yudo. “Mana mungkin.Kalau saja itu betul-betul terjadi, aku berani mencukur habis rambutku. Termasuk bulu ketek dan bulu-bulu yang lain.”

“Haha..klimis dong.”

“Coba kalau kamu bersekolah di sekolah bulu tangkis Ragunan. Disana olahraga diutamakan. Bisa jadi setiap ada pertandingan olahraga penting terjadi, para murid wajib untuk menonton. Asik nggak tuh?” Kali ini Alfikry angkat bicara.

“Kamu pindah saja Wan. Mau nggak?”Tawar Heri sambil senyam senyum. “Kudengar dari Pamanku yang mengajar di sana masih menerima murid baru kok. Walaupun tempatnya terbatas.”

“Oh ya. Masih ada kelas yang kosong dong?” Tanya Iwan bernafsu.

“Iya. Tapi sayangnya hanya kelas khusus kebun binatang saja.”

Iwan hanya terdiam.

“Bercanda saja kerjamu ya.” Timpal Agus sambil tidak dapat menahan ketawanya.

“Sudah sudah, begini saja, “ ucap Sony Betapermax mencoba menengahi, “kita kan sudah terlanjur meributkan si Mike Tyson melulu. Bagaimana kalau kita bolos, yuk?” Setelah selesai berbicara si Sony segera menyeruput es kacang merahnya dengan lahap. Tampaknya dia kehausan tingkat tinggi. Lalu dia bersendawa dengan keras.

Mendengar ajakan Sony yang di luar dugaan itu sontak membuat semuanya kaget.

“Kamu seriusan, Son?” Tanya Yudo seakan tidak percaya.

“Dua rius malah!” Tantang Sony. “Bagaimana dengan yang lain? Kalau setuju join sama Aku.”

Teeeeetttt. Terdengar samar-samar suara bel berbunyi dari kejauhan.

Belum sempat mengiyakan ajakan Sony, anak-anakpun bubar menuju ke kelas.

Jam pelajaran pertama adalah Fisika, yang dipandu oleh Pak Ir.Jumadil Tengah. Berperawakan pendek, gendut dan memiliki kumis tebal. Sekilas mirip bintang film Azrul Zulmy. Kayaknya kembarannya Pak Drs. Suryadi alias Pak Raden, dalam film boneka si Unyil. Saking tebalnya itu kumis murid-murid kesusahan menebak apakah Pak Jumadil lagi tersenyum atau emosi.

“S-siiap! Beri salam!” Seru Iqsan TWEJ penuh khidmat. Semua murid bangkit berdiri.

“Selamat pagi Pak!” Semuanya memberi salam serempak semabri membungkukkan sedikit badannya.

“Selamat pagi juga.” Jawab Pak Jumadil singkat. Oh ya, tolong kumpulkan PR yang Bapak berikan minggu lalu. Pasti sduah pada selesai kan?”

Semua anak saling berpandangan. Wajah mereka memancarkkan suasana kebingungan. Diana tampak mengangkat bahu saat dicolek oleh Dora.

“Maaf Pak, sepertinya tidak ada PR.” Tegas Miza Bom Bom memberanikan diri sambil plarak plirik kiri kanan. Dia kawatir pernyataannya salah bisa diledek sekelas. Beberapa anak bernafas lega.

“Bapak mimpi kali nih yee. Kalau tidak salah memang tidak ada PR menurut perasaan saya. Kalau tidak salah berarti pasti betul kan Pak?” Giliran Agus Blepotan bersuara mendukung ketua kelas.

“E-eh si bapak, ganteng-ganteng sudah pelupa ya…” rayu Fatimah genit.

Pak Jumadil langsung gede rasa. Dia hanya mesem-mesem. Lagi lagi susah diprediksi karena ketutup oleh kumisnya itu. “Ah masak sih? Ya sudah kalau memang tidak ada PR, Bapak minta maaf kalau begitu. Sekarang keluarkan buku cetak kalian. Coba buka halaman belakang tentang masalah pompa hidrolik. Di saitu ada soal tiga biji. Kerjakan dengan tertib dan jangan tergesa-gesa. Waktu 20 menit. MULAI!”

“Siaap Pak.” Jawab Tekya ketus.

“Huuu!!..keluh anak-anak yang lain. Pekikan mereka membahana ke pelosok ruang.

“Ayo tenang, jangan berisik, nanti menganggu kelas lain. Ingat, hanya tangannya saya minta yang bekerja bukan mulutnya. Sudah selesai?!

“Ya bapak bercanda nih. Cepat banget…Setengah jam ya pak…” rayu Debbie.

“Belum lima menit kok Pak,” rengek Yudo Gempul kelabakan.

“Besok saja dikumpulkan ya..”bisik Agus Blepotan.

Agus Blepotan membenci pelajaran Fisika. Selain banyak ketemu rumus-rumus di dalam setiap bab-nya, jawabannya panjang-panjang. Kadang memakan kertas satu halaman ukuran kwarto. Rumus-rumus musti dihapal di luar kepala. Sungguh menjengkelkan sekali. Membuat otaknya jadi vakum, mumet dan rumit. Sudah begitu gurunya strength sekali. Dalam menyelesaikan harus detail, rapi dan jelas jikalau ingin mendapat ganjaran nilai yang bagus. Belum lagi beliau meminta anak murid menjunjung tinggi ketertiban dan kedisiplinan. Bukan hanya sekedar jadi idiom semata. Tapi justru harus dijawantahkan secara seksama.

Pak Jumadil memiliki kebiasaan suka menyuruh murid-muridnya satu persatu untuk menyelesaikan soal-soal fisika yang rumit-rumit ke depan kelas. Bagi yang tidak dapat menjawabnya dengan benar diminta untuk berdiri dulu di depan alias disetrap sampai ada murid yang dapat menjawab dengan benar barulah kembali ke tempat duduknya. Kebiasaan ini yang paling dibenci oleh murid-muridnya. Beruntunglah bagi murid yang pintar untuk pelajaran Fisika, mereka akan berebutan ingin ditunjuk mengerjakan soal ke depan kelas. Dijadikan sebagai ajang mempertontonkan kebolehan mereka. Meranalah bagi mereka yang tidak doyan pelajaran. Satu jam di kelas serasa bagaikan di neraka. Mereka menanti giliran dengan was-was dan jantung berdebar-debar. Sambil berdoa agar Pak Jumadil lengah dan tidak menunjuk mereka. Dan Pak Jumadil sudah paham betul gelagat muridnya yang ketakutan, gemetar, menunduk, over acting, juga pretending clever berarti tanda-tanda tidak bisa, Momen-moment ini membuat Pak Jumadil geli. Di dalam hati mungkin dia tertawa dalam hati seakan berkata ‘nih gua kerjain lo satu persatu’. Terlebih ketika melihat Pak Jumadil bangkit berdiri dan berkeliling mengitari meja satu persatu. Seperti Tekya sedari tadi duduknya sudah resah dan gelisah menunggu ditunjuk oleh si guru. Jangkan menjawab soal melihat pertanyaanya saja dia sudah menyerah. Di meja barisan belakang tampak Agus Blepotan juga mengalami hal serupa. Dia mendadak stroke ringan. Sama halnya   dengan Maman Sumaman,  butiran keringan mengucur dari keningnya mengalir sehingga membuat basah baju seragamnya. Seperti menanti eksekusi di tiang pancung.

Menyeramkan sekali pelajaran ini ya. Kalau sudah begini bisa ditebak doa-doa mereka pasti seragam. ‘Ya Tuhan buatlah guru kami ini sakit perut dan pingsan mendadak agar pelajaran ini cepat berkahir’. Atau ya Tuhan berikanlah kami ilmu bisa menghilang. Atau ya Tuhan kirimkanlah kami Superman agar  dia membawa kami terbang ke angkasa. Atau lagi ya Tuhan tolong pintarkanlah kami dalam sekejab. Atau yang lebih ektream, ya Tuhan mudah-mudahan sekolah ini mendapat teror bom?!. Tidak aneh jikas semua yang diharapkan dan diminta menjurus sesuatu yang konyol. Mereka seakan-akan sedang berhadapan dengan zombie ganas yang akan memangsa siapa saja yang tidak paham pelajaran fisika.

Pak Jumadil melirik arloji pemberian istrinya. Karena sedari tadi matanya melancong ke seluruh penjuru kelas.

Detik-detik menegangkanpun tiba. “Waktu telah habis. Bapak harap semua sudah selesai mengerjakan.” Kata Pak Jumadil sambil berdiri. Lalu menatap muridnya satu-persatu. Mulai dari barisan depan tengah belakang kiri kanan. Semua tak luput dari penglihatannya.

Agus Blepotan terkesiap. Jantungnya kembali berdebar kencang. Darahnya berdesir hebat, laksana mengalir sampai ke otaknya. Body languagenya berbicara mensinyalkan sesuatu yang negatif. Buku latihan yang ada dihadapannya samasekali belum terisi alias masih kosong. Bahkan belum tersentuh. Agus Blepotan berdoa kembali mengharapkan keajaiban datang tiba-tiba. Pertandingan tinju Mike Tyson memberikan efek samping yang dahsyat untuknya, sekligus membuyarkan semua konsentrasinya. Dalam kondisi normal saja dia sudah susah mengerjakan soal fisika  apalagi ketika di saat tegang. Beda dengan Tekya, kelihatannya dia berusaha mengontrol kadar emosional dan ketakutannya dengan tetap bersikap kalem. Berusaha bersikap sewajarnya di hadapan Pak Jumadil. Seakan-akan dia mampu mengerjakan soal fisika yang akan diberikan kepadanya. Tekya sempat melirik ‘tetangga’ sebelahnya, Ferry, bernasib setali tiga uang dengan Agus Blepotan dan Tekya.

Tebersit niat Agus untuk mengelabui Pak Jumadil dengan berpura-pura sakit perut agar terhindar dari malapetaka yang bernama ‘fisika’ tersebut. Dia sudah tidak tahan lagi dengan keadaan genting begini. Dalam hatinya berkata, ingin berusaha menundukkan pelajaran sialan itu suatu saat dengan mencoba mengambil kursus atau berguru dengan Iqsan dan Andi, yang berotak encer.

“Tekya…”bisik Agus Blepotan kepada Tekya, di tengah kegelisahan, di saat Pak Jumadil lengah, dia sempatkan menoleh ke belakang. “Boleh Aku nyontek sebentar bukumu?”

“Teman yang ditanya menggeleng pelan. Lalu mendesis pelan, “Aku juga tidak bisa. Bukuku masih kosong.”

Tekya lantas menunjuk Iwan.

“Hah! Iwan? Payah. Coba Kau tanya Faisol, mungkin dia simpan jawabannya di dalam rambutnya.

Tekya melirik Faisol, teman sebangkunya. Rupanya si kribo asik sibuk mencorat coret di kertas buram. Dia berpura-pura sedang menjabarkan sebuah rumus. “Pusing! Pusing!” Tekya mendengar keluhan Faisol Kribo.

“Percuma Gus. Samimawon.”

“Gawat. Mati Aku.”Pekik Agus dalam hati.” Dia sangat kawatir hari ini merupakan nasib tersialnya bila samapi disuruh maju ke depan kelas. Bayangan bakal disetrap menari-nari di atas kepalanya. “Waduh, pamorku bisa jatuh nih.”

Dia sempatkan untuk meminta bantuan duet jenius Fisika, Iqsan TWEJ dan Andyman. Pasti keduanya tidak merasa terbebani seperrti Agus. Dari jauh kelihatan jelas wajah-wajah mereka tidak melukiskan ketakutan seperti yang Agus alami. Buku latihan mereka satu halaman penuh sudah terisi jawaban beserta rumus-rumus.  Andyman dan Iqsan TWEJ kebetulan sebangku. Klop, sama-sama pintar lagi. Sekarang mereka berdua tengah asik bercanda sambil santai. Layaknya seperti dua sahabat karib yang sedang kongkow di warung bakso.

Agus Blepotan betul-betul pusing. Untuk sementara dia masih menunda-nunda niatnya untuk berpura-pura sakit perut yang telah dicanangkannya di awal.

Kini, Pak Jumadil Tengah mulai menjalankan aksinya. Sudah menjadi tradisi, di awal soal dia menawarkan kepada murid-murid yang pintar dan berani bersedia maju.

Tiab-tiba seorang murid bernama Andyman memecah ketegangan kelas dengan berani mengacungkan jari telunjuknya. Sebagian murid berpaling kepada Andyman. Sebagian murid yang lain menghela nafas lega.

Agus tersenyum puas. Terima kasih Andyman, telah memberikan nafas buatan untukku. Agus ngebatin.

“A-adaauuuuh. Maaf Pak Jumadil perutku sakiiiit!!” Teriak Agus sedikit tertahan. Semua murid kini berpindah ke bangku Agus. Tekya, Faisol dan Ferry terhenyak dan terkaget bercampur senang. Mereka buru-buru menawarkan bantuan.

“Interupsi sebentar Pak. Agus kelihatannya sakit perut.” Tekya memanggil Pak Jumadil yang sudah duduk di singgasananya.

“Ada apa? Kenapa si Agus?” Tanya Pak Jumadil heran.

“Mau beranak kali Pak, “ celetuk Mimi sambil menutup mulutnya dengan selembar saputangan berwarna jingga.

“Kenapa perutmu Gus?” Pak Jumadil menghampiri bangku Agus. Kelihatan sekali muka Agus meringis dan merintih. “Kamu belum sarapan ya? Atau kebanyakan minum cuka pempek?”

“Iya. Tadi minum cuka pempek setengah botol.” Jawab Agus sekenanya.

“Sebentar…Perasaan ini kali kedua kamu sakit perut pada jam pelajaran saya. Alasan kamu saja kali. Ayo, jangan berpura-pura. Bapak tahu kartu kamu. Kamu takut disuruh ya?” Gertak sang guru.

“Betul saya sakit perut. Minggu lalu saya sakit kepala. Kan penyakitnya beda pak.” Elak Agus dengan yakin. Agus sudah membulatkan tekad. Apapun yang terjadi dia tak gentar untuk melanjutkan akal bulusnya. Istilah kata sudah terlanjur basah. “Ayo bantu dong. Jangan biarkan aku menderita.” Rintih Agus terdengar pilu.

Setelah itu, Pak Jumadil segera mengintruksikan kepada teman terdekatnya untuk memapah Agus ke ruang P3K. Tekya, Faisol dan Ferry berebutan ingin membantu. Ternyata anak-anak lain juga ingin berpartisipasi ikut menolong.

“Sudah biar Tekya, Faisol dan Yudo saja yang membantu. Yang lain tenang dan kembali ke bangku masing-masing. Tidak usah semua ya. Kelas ini bisa kosong nanti. Ayo, kita melanjutkan pelajaran kembali.”

“Kami bawa sekarang Pak?” Tanya Yudo Gempul bingung.

“Iya sekarang. Masak tahun depan. Keburu keluar di sini nanti. Kan bikin kotor lantai kelas.” Jawab Pak Guru gemas.

Pola memberi kode kepada Yudo dan Faisol untuk cepat menggotong Agus. “Kita bawa ke ruang P3K yuuk.”

“Iya. Awas jangan dibawa ke kantin ya.” Canda Pak guru.

“Beres Pak.” Jawab Faisol.

Sesampai di ruang P3K atau PMR, Agus mengerdipkan mata. Merasa telah diperdaya oleh Agus, Tekya CS langsung melepaskan bopongannya secara paksa, sehingga pantat Agus yang tempos mendarat mulus di lantai.

“Aduh! Teganya kalian.”Protes Agus sambil meringis kesakitan, lalu meraba pantatnya sebentar.

“Kamu menipu kami lagi, Gus?” Dengus Yudo kecapain.

“Mending ringan, dasar gajah!” Umpat Tekya seraya menghapus keringatnya.

Tidak lama kemudian datang Mbak Lily datang memberikan sebotol minyak angin cap ‘kayu jati’ kepada Agus.

“Di olesin sama Mba ya?” Agus mencoba merayu.

“Oleh sendiri ya Gus. Jangan manja ya. Malu dong kan sudah gede.” Mba Lili menolak halus.

“Katanya kalau mau cepat sembuh langsung diminum saja Gus.” Saran Tekya.

“Kau pikir ini cuka pempek. Sontoloyo kamu!” Agus mendorong pundak Tekya.

Kemudian Mba Lily minta permisi ke belakang sebentar. Setelah dirasa sepi Agus langsung bersorak dan melonjak kegirangan. “Yesss.”

Tekya, Faisol dan Yudo terheran-heran.

“Hihi. Aku berhasil menipu si Jumadil culun itu. Hebat tidak aktingku? Sekarang aku terbebas dari fisika yang menyebalkan itu. Kalian lupa ya. Sebentar lagi pertandingan Tyson di teve akan dimulai.

Walaupun masih menyimpan rasa kesal, Tekya, Faisol dan Yudo harus berterima kasih juga kepada Agus yang telah menyelamatkan mereka juga dari ancaman Fisika yang mencekam itu. Mereka berempat kembali ke kelas setelah pelajaran Pak Jumadil usai.

Di kantin, Agus,Tekya,Yudo dan Faisol terlibat party-ria di kantin Kak Ma’il.  Menu mereka tidak tanggung-tanggung, pindang ikan patin, pempek kapal selam, lenggang dan es kacang merah. “Aduh nikmatnya bisa terlepas dari Fisika. Asoyyy!” teriak Agus sambil menyenderkan dirinya di dinding karena kekenyangan.

Pukul 10.15 WIB, pada saat kelas lain hening belajar, di kelas 1.3 belum menampakkan tanda-tanda kehadiran guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Tampak sosok dua bayangan mengendap-ngendap di lantai tiga. Kedua makhluk itu tak lain dan tak u’uk adalah Yudo Gempul dan Sony Betapermax masih berjalan berjingkrak-jingkrak menelusuri koridor dengan tas diumpetin di bawah ketiak. Sekiras mirip pencoleng atau teroris yang hendak menjalankan aksi jahatnya. Ya, ternyata telah disepakati bersama mereka ingin….BOLOS.

“Kamu yakin Son, si Faisol sudah di bawah?” Tanya Yudo sedikit gugup. Ini pengalaman pertama kali dia bolos.

“He-e. Ce-cepat sedikit, mumpung sepi,” ujar Sony tak kalah gemetar. Nanti tas ini kita lempar dari atas.”

Keduanya mengendap mendekati balkon di lantai tiga. Yudo melongokkan kepalanya untuk dapat melihat ke bawah dan memastikan Faisol sudah standby untuk menyambut tas. Sony menoleh ke kiri ke kanan, setelah dirasa aman, dia langsung mengambil ancang-ancang untuk melempar tas.

“Siap Sol?”

Faisol hanya mengacungkan jempolnya tanda siap.

Sony meleparkan tas secara serabutan sehingga membuat Faisol kelimpungan dan kebingungan memilih tas mana dulu yang akan dia selamatkan. Hop! Hop! Tanpa ampun sebuah tas menimpa kepalanya. Untungnya rambutnya yang kribo itu cukup membantu sebagai tameng.

“Aduh! Hoy Sonyloyo! Ember!  Panci! Satu satu dong melemparnya. Benjol nih”

Percuma saja Faisol mengomel di bawah, sedangkan kedua makhluk di balkon telah lenyap dari pandangan.

Setelah memungut tas teman-temannya satu-persatu. Kemudian dia bersiap hendak menuju sebuah pohon rindang di dekat lapangan sepak bola. Untuk mencapainya Faisol harus melewati celah-celah pagar besi yang bolong. Pagar tersebut memisahkan gedung sekolah mereka dengan gedung sekolah SMP. Setelah itu Faisol, Yudo dan Sony bertemu kembali. Namun…

“Boles nih yee..”tiba-tiba terdengah sebuah suara yang agak berat intonasinya. Bersamaan seonggok tangan menepuk pundak Faisol. “Mengapa tidak lewat dari depan saja. Pintunya tidak digembok kok…”

Rupanya siang itu dewi fortuna tidak berpihak kepada mereka. Ternyata aksi mereka kepergok dan digagalkan oleh Pak Jono, sang wakil kepala sekolah yang memang doyan patroli keliling halaman sekolah mengrazia murid-murid yang berniat bolos. Pak Jono menggiring mereka ke ruang sidang. Mereka diceramahin habis-habisan agar tidak mengulangi lagi.

Setengah jam kemudian, Pak Lamtoro si guru PMP, baru menampakkan jenggotnya bersama langkah gontainya masuk ke kelas. Ketika sudah duduk di kursi guru, dia langsung memanggil salah satu murid perempuan.

“Rajni, kemari sebentar,” panggilnya setelah mendaratkan pantatnya di kursi, “Catat buku ini dari sini ke sana.

“Huu. Nyatat lagi, nyatat lagi. Bosan, “omel Rajni dalam hati. Kendati demikian dia tidak bisa menolak, walau hati kadang gondok. Tentunya, sudah bukan rahasia umum jika pelajaran civic ini membosankan serdadu 1.3. Bagaimana tidak bosan? Begitu guru masuk kelas langsung menerapkan sistem CBSA (Catat Buku Sampai Abis). Side effectnya tangan terasa pegal. Satu hal lagi yang membuat dongkol mereka, selagi anak-anak tekun mencatat, eeh dia malah sibuk berceramah apa saja. Pokoknya melenceng dari pelajaran semula deh. Seldom out line! Sampai-sampai segala tetek bengek Family Bussinessnya diborong ke kelas.

Tet!! Pelajaran pun usal. Semua bernafas lega.

“Kita bagai dihadapkan pada sebuah dilema,” ujar Iwan Mukejenuh suatu hari berfilsafat, “Di satu sisi kita sudah melaksanakan perintahnya, yaitu mencatat. Di sisi lain dia malah mengajak ngobrol ngalur ngidul. Aku belum pernah mendengar konsentrasi dua arah, kecuali tangan, mata sama kepala bisa dipisah. Itu akan sulit sekali. Hanya orang-orang tertentu yang dapat melakukan itu. Kalau kita tidak mencatat salah, tidak menyimak salah, nah kalau kita molor lebih parah lagi.”

“Bisa gawat nasib semesteran kita nanti,”sela Agus, “catatanku amburadul, buku pedoman tidak punya. Apa tidak kacau balau nantinya? Padahal ini tergolong pelajaran keramat, merah di rapor bisa bisa tidak naik kelas, Coba bayangkan tidak lucu lantaran pelajaran PMP kita bisa tua di sini gara-gara tidak naik kelas melulu. Idiih amit amat deh.”

Beberapa anak memang tidak menyukai metode mengajar Pak Lamtoro. Beliau dinilai terlalu banyak santainya dalam memberikan materi. Dia seringkali memanfaatkan muridnya demi keuntungannya sendiri.  Kelakuannya sudah hapal di luar kepala. Ketika masuk kelas, lalu panggil salah satu murid untuk mencatat di papan tulis. Terus dia sibuk bercerita apa saja di luar konteks. Ya, sedikitkali yang nyambung dengan pelajarannya. Malah kadang-kadang curhat sendiri. Menceritakan mana yang mood menurut dia. Enak dan santai sekali. Anak-anak paling hanya manggut-manggut pura-pura menanggapi. Sebenarnya bagi anak-anak yang pemalas senang banget dapat guru tipe begini. Ditambah lagi duduk di bagian barisan paling belakang. Tutup buku lalu tidur. Anehnya dibiarkan saja oleh sang guru. Kok ya bisa lulus menjadi guru. Entahlah, apa karena pelajaran yang diasuhnya memang tidak seperti pelajaran matematika atau fisika yang memerlukan konsentrasi dan berpikir keras. Padahal PMP sangat diperlukan untuk menata moral dan prilaku kita agar sejalan dengan Pancasila.

“Bagaimana kalau kita laporin saja ke kepala sekolah bahwa kita akan berdemo untuk menurunkan Pak Lamtoro. Kita protes minta diganti dengan guru wanita yang lebih seksi?” Usul Tekya.

“Jangan begitu. Itu sadis namanya.”protes Kemas. “nanti kalau dia dipecat keluarganya dikasih makan apa. Tapi kalau…diganti sama guru yang bening boleh juga sih. Hehe.”

“Tidak segampang itu Tekya. Tanpa bukti otentik, Pak Antono pasti cuwek. Ya kita bisa saja mengajak Pak Antono saat Pak Lamtoro mengajar sebagai bukti. Tapi tentu saja dengan diam-diam tanpa sepengetahuan dia.”Faisol yang baru saja kena razia Pak Antono ikut nimbrung.

“Menurutku itu sudah tabiatnya kali. Tidak mudah mengubahnya.” Iqsan berdiplomasi.

“Betul juga kata Kemas tadi. Tumben. Saya setuju,” Ujar Rajni sambil mengacungkan jemponya. “Kita minta kepada Kepsek untuk mengevaluasi kwalitas dia. Siapa tahu dengan sedikit masukan atau nasehat membuat Pak Lamtoro sadar dan mengubah metode pelajarannya.

“Betul. Biar dia sadar bahwa metode mengajarnya tidak efektif.”sambut Qibal. “Kalau hal ini dibiarkan berlarut-larut ruginya ada pada kita sendiri.”

“Saya setuju, “timbang Yudo Gempul, “status kita kan masih anak baru, bau kencur lagi. Yang namanya remaja itu, emosionalnya dan egonya lebih dominan. Belum stabil. Takutnya suara kita tidak didengar.”

“Pak Lamtoro itu…”ucap Novelita lembut, sebetulnya orang baik. Mungkin dia punya masalah hingga bersikap demikian. Sebagai buktinya, segala masalah ditumpakahkan atau dicurahkan kepada kita. Wong kita masih kecil belum tahu urusan orang dewasa. Ya bengong toh. Kita harus memakluminya. Cuma aku herannya dia nggak pernah meminta feedback dari kita. Kasihan Pak Lamtoro…Ini sekedar info yang kudengar dari kakak kelas kita. Pokoknya yang penting dia nggak pelit kasih nilai kok. Asal kita rajin mencatat, menyimak, nggak badung dan banyak tingkah, nurut, gitu. Dijamin tahan lama eh maksudku nilainya bakalan tokcer deh.

“Aduh Novel, kamu piye iki.”ujar Pito,”dimana-mana orang yang rajin ya logikanya sudah pasti pintar, Ta. Kerjaannya belajar melulu. Setiap orang pintar selalu naik kelas, kecuali…sekolahnya ambruk.”

Semua tersenyum.

“Zaman sekarang kalau tidak gesit akan sulit hidup. Mencari kerjaan perlu koneksi dan duit. Bahkan ketika seseorang mau naik pangkat atau jabatan saja orang rela kehilangan harga diri. Segala cara dicari. Halal haram hantam.”komentar Fatimah sembari menyibakkan rambutnya nan hitam tergerai.

Mencari kesalahan dan memvonisnya seseorang adalah pekerjaan gampang. Mengkoreksi diri itu tidak semua orang dapat melakukannya. Bercermin dan bercermin. To say is easy.

Sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan seorang teman hidup guna mengarungi kehidupan di dunia ini. Makhluk yang bernama ‘manusia’ itu adalah gudangnya salah. Maha sempurna mutlak milik sang Pencipta. Sebab tak ada gading yang tak retak. Tak ada manusia yang sepenuhnya sempurna. Tiap orang oleh Tuhan memiliki kelebihan dan kekurangan. Mari mensyukuri segala karunianya.

Bel istirahat tersisa 8 menit lagi. Agus Blepotan, Tekya, Iwan Mukejenuh dan Ferry berlari kecil, bergegas menuruni tangga menuju lobby sekolah. Mereka berebut saling mendahului. Mirip kucing balap lari dengan tikus demi seonggok tulang ikan. Kayaknya lapar berat. Sesampai di sana mereka heran hanya sedikit  siswa yang tampak berkeliaran. Biasanya juga jam istiraharat tiba sudah mirip pasar 16 ilir. Ramai dan hiruk pikuk.

“Lho kok sepi banget. Pada kemana semua anak? Apa sudah pindah ke planet lain?” Tanya Agus Blepotan heran. Dia langsung mengucek-ngucek matanya.

“Siapa tahu mereka sedang puasa senin kamis apa.” Tebak Tekya. “Oh mungkin di kantin Kak Ismail sedang ada diskon, jadi semua murid pada pergi kesana.”

“Kamu pikir warung Kak Mail pasar swalayan?” cetus Iwan Mukejenuh sengit.

“Jangan-jangan pada bolos massal ya?”Ferry mulai curiga. Dia masih sempat melirik jam arlojo merk Daiwanya. “HAH Pukul 11.05 menit.”

“TINJU!!” Ketiga berteriak serempak. Mereka baru menyadari jam segitu adalah pertandingan tinju antara Tyson dan Holmes disiarkan di teve.

Tidak lama kemudian, dari pintu toilet keluarlah seorang murid laki-laki, sambil berlari menuju ke arah mereka, kemudian melewati mereka tanpa menegur lagi.

“Ada apa coy lari-lari? Ditagih debt collector ya?” Tuduh Agus setengah berteriak. Namun pertanyaannya tak digubrik sama sekali.

“Aduh! Kita mau menonton tinju dimana?”Iwan serasa mau menangis gara-gara tidak dapat menonton pertandingan tinju dambaannya. Tiba-tiba pucuk dicinta nasi ulampun tiba. Tanpa disengaja sosok yudo Gempul nongol secara tiba-tiba dan ketika dia hendak berlari Iwan buru-buru menghalangi. “Mau keman Do? Kok kami dicuwekin sih?”

“Aku mau toilet. Jangan dihalangi dong. Mending kalian bergabung sama anak-anak. Lagi seru nih. Kak Mail sedang bertinju. Eh maksudku semua anak pada ngumpul di kantin. Ada pertandingan tinju. Mumpung baru ronde kedua.”

“Serius Yud?” Agus Blepotan antara kaget  bercampur sumringah.

“Sumpah tuyul deh. Biar dikawinin sama Shanen Doherty kalau saya menipu.”

“Ayo kita kesana. Serbu!!” Tanpa bak bik buk bek bok lagi ketiga murid itu segera ke kantin, sambil berterian..”TINJU TINJU TINJU!!”

Kantin Kak Mail siang itu penuh sesak. Full house. Sudah kayak pasar kaget kedatangan artis dangdut ibukota. Mereka berebutan hendak masuk. Rata-rata murid cowok. Murid cewek hanya segelintir saja. Ya, ternyata mereka sedang menonton pertandingan tinju di televisi. Kak Mail menaruh sebuah televisi berukuran 14 inch di atas meja yang tinggi. Kantin Kak Mail sebenarnya lumayan luas menjadi terasa sempit. Sedangkan kapasitas terbatas. Kak Mail pantas diacungin jempol karena bisa memenuhi aspirasi nafsu tinju pengunjungnya.

Saking asik dan seriusnya mereka menonton, sampai-sampai tidak mendengar kalau bel tanda  istrirahat sudah berakhir.

“Bel masuk tuh! Bagaimana nih tinjunya belom selesai.” Tekya bertanya kepada Iwan.”Masuk yuuk.”

“Tanggung nih. Nanti kita barengan saja ke atas. Kesempatan Ini jarang terjadi. Yang lain juga belum pada masuk kok..” Keluh Iwan sambil menarik kemeja Tekya.

“Biar disetrapnya bareng. Kita kan kompak.” Ujar Yudo nyegir kuda lumping.

Akhirnya Tekya terpaksa menuruti dan menonton dengan kusyuk.

Bu Tata kaget setengah hidup. Mulutnya sempat menganga lebar, matanya terbelalak setelah mendapatkan kelas begitu sepi. Hanya kelihatan anak-anak cewek yang hadir. Termasuk si Zoel yang gemulai sedang asik bercanda dengan Dora dan Diana.

“Anak laki-laki pada kemana ya?” Ibu Tata bertanya kepada Fatimah.

“Ma-masih pada di kantin Bu. Masak Ibu tidak update berita.” Jawab Fatimah bernada serius.

“Berita apa ya?”

“Mike Tyson berantem sama Larry Holmes.”

“Hah! Apa? Dimana?”

“Tenang Bu. Hanya di teve kok.”

“Aduh! Di sekolah ini kan tempatnya untuk belajar dan menuntut ilmu. Bukan macam-macam. Ayo salah satu dari kalian tolong panggil mereka semua. Suruh mereka masu. Pelajaran akan dimulai. Apa tidak dengar bel tanda masuk ya?” Bunyi bel sekeras itu sampai tidak kedengaran. Pada budeg apa semua. Baru duduk di kelas satu sudah bandel. Cepat cari mereka. Kok masih pada bengong kayak anjing nyolong. Oke? Nanti lapor ke Ibu ya. Ibu mau ke ruang guru sebentar. Ada buku yang ketinggalan.” Setelah berceloteh panjang lebar Ibu Tata mgeloyor pergi.

“Idiihh, marah nih yee,” ledek si Zoel,”Galak sih. Makanya tidak laku. Belum nikah-nikah juga. Siapa yang mau?”

“Huss! Usil banget mulut kamu Zoel. Ketahuan Bu Tata, baru tahu rasa.”Maki Debbie, “ayo kita terusin main hom pim panya.”

“Ayuk!” Seru Zoel.

Apa mau dikata. Nasi telah menjadi humberger! Tahi kambing bulat bulat dimakan jadi obat disimpan jadi zimat. Kelas yang sepi tidak hanya dialami kelas 1.3 saja, akan tetapi hampir semua sampai kelas 1.7. Badai tinju menerjang seluruh kelas. Otomatis menimpa guru-guru juga. Guru di kelas lain yang hendak memulai mengajar bernasib serupa ketika memergoko kelas sepi dan hanya murid cewek  yang setia. Pertandingan tinju mendramatisir keadaan.

“Masak gara-gara tinju sih mereka malas masuk. Mereka lebih mementingkan acara tinju di teve daripada belajar. Generasi macam apa ini? Mau menjadi petinju semua apa? Anak-anak sudah mulai kurang ajar ya. Saya juga suka tinju tapi tidak norak seperti mereka. ” Ucap Pak Mul Mul ketus, sang wali kelas 1.5. Dari nada bicaranya kelihatannya marah besar.

Setelah semua murid sudah kembali ke dalam kelas masing-masing. Termasuk kelas 1.3. Pelajaranpun dimulai. Akibat tinju waktu belajar menjadi molor. Konsekwensinya durasi mengajarpun dibuat panjang oleh para guru. Semua murid menerima dengan pasrah dan lapang dada. Walaupun terbersit kekesalan di hati mereka. Di dalam hati mereka dapat tersenyum puas masih bisa menonton pertandingan Mike Tyson melawan Holmes yang seru itu adalah salah satu duel yang paling ditunggu, kalau tidak salah waktu itu tanggal 22 Januari 1988.. Holmes yang berstatus sebagai mantan juara dunia menghadapi keperkasaan dan keganasan Tyson. Tak lupa promotor terkenal Don King juga hadir. Bermain di salah satu kasino milik Donald Trump, Tyson berhasil mengalahkan Holmes dengan tinju di wajah pada ronde keempat. Mereka tidak akan pernah melupakan peristiwa bersejarah itu.

Di rumah Kak Mail terjadi percakapan dengan istrinya..

“Rezeki tidak kemana-mana, Dik..say…,” hibur Kak Ma’il pada None Milah, istrinya di dapur.

“Alhamdulillah. Banyak duit yang masuk yo Kak?” ucap istrinya Kak Ma’il sedikit kaget, meninggalkan sebentar setrikaan yang lumayan menumpuk. Dikarenakan sudah beberapa hari hujan turun terus. None Milah dengan manja menyenggol tubuh suaminya, sehingga membuat Kak Ma’il nyaris terjengkang. “Bagi dong say…duitnya.”

Buru-buru Kak Ma’il mengembalikan posisi tubuhnya seperti semula. Terlambat sedikit saja pantatnya pasti mencium lantai.

“Hampir saja kamu mencederaiku, Dik. Seperti mau copot jantungku.”

“Maaf ya Kak. Adik tidak sengaja.”

“Nanti adikku sayang. Istriku sayang. Ini gara-gara Mike Tyson! Kantin kita ketiban rezeki ngompol eh nomplok. Laris laris tanjung kimpol.”

“Tunggu kak..Teksun? Siapo itu Kak? Tetanggo kito ya?”

“Bukan. Kamu ini bagaimana? Masak tidak kenal Mike Tyson. Si leher beton. Dia petinju dunia yang terkenal wahai adikku.”

“Jadi dia datang ke kantin kita kak? Asik kantin kita dikunjungi orang terkenal.”Istrinya gembira bukan ilalang eh kepalang.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

SERIAL MASA SMA, MASA BODOH? DALAM YUK, MENGISI MAJALAH DINDING SEKOLAH

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Masa SMA adalah masa yang indah. Banyak nostalgia dan memori tercipta. Sayang sekali kalau kisah manis itu terlupakan begitu saja. Paling tidak membuat para pembaca tersenyum saja sudah puas. Buah tangan dari pengarang dadakan yang tidak terkenal.

Cerita ini masih banyak kekurangan disana sini. Penulis siap menerima saran dan kitik. Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan lokasi bukan karena suatu kesengajaan dalam cerita ini. Mari kita simak cerita ini. Seting tahun 1990.

Oleh : Deddy Azwar

Back to school. Tanpa terasa aktivitas belajar sudah dimulai. Kira-kira baru berjalan satu bulan. Bagi siswa yang telah menempuh ujian dan lulus SMP, tentunya siap-siap untuk melanjutkan ke SMA, ibarat menemukan sebuah planet baru di antara luasnya tata surya. Untuk kali pertama pernah kita datang berkunjung ke planet asing tersebut, akan tetapi kita sudah mendapat bocoran alangkah manisnya kehidupan disana. Kita bakal menemukan  kisah-kisah seru di sana. Termsuk kisah cinta dua anak manusia. Roman picisan. Wuih! ITU, tiga kata yang sudah tidak asing lagi di teling kita, seringkali didedungkan oleh sang motivator terkenal Mario Teguh plus diiringi senyuman khasnya. Disamping kata ‘SUPER’.

Pada kenyataannya suasana di SMA  tidak segampang  yang dikira. Terutama soal pelajarannya. Setali tiga uang dengan sewaktu di SMP. Jujur saja kalau survey disebar dan ditanya ‘ Kamu lebih suka sekolah atau di rumah main game?’. Tidak perlu menunggu waktu berlama-lama dalam menjawabnya.

Dari segi pelajaran sepintas hampir sama. Hanya suasana dan  lingkungan pasti berbeda. Di SMP ada kita mengenal praktikum di laboratorium. Di SMA juga ada. Yang membedakan hanya di SMP belum ada pelajaran praktek komputer pada masa itu. Ketika menapaki masa SMA aura keseriusan untuk belajar tekun sudah terasa dari awal. Alasannya,  SMA memiliki jadwal spesifik lagi ketat. Artinya kita sudah harus mempersiapkan separuh nasib juga masa depan kita. Betul tidak? Sebab SMA merupakan salah satu cikal bakal seseorang  menuju level yang lebih tinggi lagi yakni melanjutkan ke perguruan tinggi nantinya. Nota bene yang menentukan sebuah masa depan seorang siswa.  Ya, walau tidak selamanya 100% akurat. Teori dan praktek seringkali tidak seiring sejalan. Beda rasanya manakala sudah terjun di lapangan. Masa depan masih merupakan misteri yang tak terpecahkan. Bisa saja sewaktu SMA, bakat bandelnya sudah kelihatan, pokoknya minta ampun deh. E-eh tapi setelah dewasa, masa depannya malah cemerlang. Menurut prediksi niah anak bakalan jadi preman atau centeng pasar. Bisa juga dulunya culun abis, rajin belajar, rajin menolong ibu, pintar dan berkacamata tebal, setelah beranjak dewasa berubah berantakan. Mengkilap atau suram masa depan seseorang tiada yang tahu. Entah dia menjadi saudagar atau kuli bangunan. Who knows? Bagaimanpun pekerjaannya kelak yang penting halal.

Hindari untuk percaya kepada paranormal terlalu jauh. Pasrahkan semuanya kepada Tuhan. Tugas kita berusaha dan berusaha menjadi yang terbaik. Tuhan yang mengetahui masa depan semua manusia ciptaanNYA. Bukanlah manusia.

Maka dari itu, tanamkan dalam hati bahwa kita ingin sukses. Rencanakanlah kita akan menjadi apa kelak. Tak perlu malu dan minder mempunyai cita-cita tinggi, walaupun mempunyai keterbatasan. Toh banyak orang sukses di tengah kekurangannya. Malah hal itu dianggap sebagai pemicu semangat mereka. Kebanyakan penemu atau ilmuwan terkenal memulai dari sebuah mimpi atau impian. Kemudian bertekad mewujudkannya hingga menjadi kenyataan. Make your dreams came true.  Plan without action akan menjadi sia-sia. Walaupun sehat, sakit, hidup, mati, jomblo, jodoh dan rezeki ada di ‘tangan’ Tuhan.

Banyak cara orang meraih kesuksesan. Jarang sekali mendapatkannya hanya dengan sekejap mata. Diperlukan semangat baja dan tidak patah semangat walau sering gagal. Malah ada yanga sampai jatuh bangun. Bangkit dan bangkit lagi. Berkorban tenaga serta waktu. Intinya bekerja keras. Selagi muda berusahalah.

Jangan baru menjadi kakek bertongkat baru nekat. Sudah telat. penyesalan selalu datang di akhir. Sekali lagi, kita tidak punya kuasa memutar waktu untuk balik ke masa lampau. Seandainya mampu, alangkah nikmatnya hidup ini.  Manusia dapat seenaknya menyetel waktu. Alangkah tidak asiknya apabila manusia sudah ada bocoran apa  yang menimpanya esok hari.  Semua manusia bisa berubah menjadi atheis. Sungguh menyeramkan! Dunia akan kacau. Karena tiap orang dengan mudah mempermainkan waktu sesuai kehendak dan nafsunya.  Betul tidak? Bahkan seorang paranormalpun tak mampu membaca nasibnya sendiri. Mengalami masa depan yang indah penuh wangi bunga, kaya tanpa kekurangan uang adalah impian semua umat manusia di dunia.

Pada tahun 1980-1990 sistem penjurusan dialami saat siswa naik ke kelas dua SMA. Siswa akan dibagi  jurusannya berdasarkan minat dan kemampuannya.  Kelas A1 (untuk katagori ilu pasti seperti matematika dan fisika), kelas A2 (untuk ilmu biologi), A3 (untuk ilmu sosial) A4 (untuk kesenian dan bahasa). Dari sana akan ketahuan jodohnya di bidang ilmu pasti atau ilmu sosial.  Mengalami kebingungan di saat memilih tentu ada. Banyak siswa yang memaksakan kehendak tanpa melihat kemampuannya sendiri. Atau hanya ikut-ikutan saja. Bisa demi gengsi. Setelah terlanjur masuk merasa terjerumus dan tidak cocok lalu kebingungan  sendiri.  Pilihan terakhir pasrah dengan keadaan. Itu yang gawat!

Terus apalagi ya? Oh ya masa SMA kata para alumni ketika ditanya apa yang berkesan di masa SMA? Apakah benar masa yang paling indah dan sulit dilupakan. Selalu terkenang-kenang sampai tua. Ah masak? Semua nostalgia berkumpul di sini. Ada mengalami masa pubertas. Masa mencari jatidiri. Masa boleh berpacaran? Masa bodoh? Memang iya? Perlu bukti. Lihat saja iklan  acara reuni mereka di medsos.

Sewaktu SMP Tekya gemar sekai menonton hampir semua film yang dibintangi  Rano Karno. Terutama yang bergenre remaja.  Macam ‘Galih dan Ratna’, ‘Gita Cinta dari SMA’, Puspa Indah Taman Hati’, Remaja Remaja, Romas Picisan, Selamat Tinggal Masa Remaja, Nostalgia di SMA,Kisah Cinta Tommi dan Jerri dan Ranjau-Ranjau Cinta. Ada yang mau menambahkan?

Hari kemaren Tekya masih bingung dan tak tahu dia ditempatkan di kelas mana. Kelas bulu, berat atau bantam? Melewati was-was dan penuh ketidakpastian, akhirnya nasib Tekya terkuak juga. Pada saat Tekya mendapati namanya terpampang di papan pengumuman  kelas 1.3 (dibaca satu tiga atau three in one).  Cukup cantik. Idealnya Tekya mengimpikan kelas 1.5 sesuai tanggal kelahirannya. Oh dimana posisi kelas tersebut? Denger punya denger lokasinya berada di lantai tiga. Tinngi bener sih. Ruginya sudah ada di depan mata. Kemana-kemana terasa jauh. Kebelet pipis harus ke lantai dasar dulu. Keburu ngocor kali. Apalagi kalau kepingin bolos membutuhkan perjuangan ekstra.  Diperlukan keberanian untuk meloncat dari lantai tiga untuk sampai ke bawah. Untungnya sejarah belum mencatat siapa yang telah berani bertindak bodoh tersebut. Kalau saja ada yang berani tanpa parasut. Sudah pasti sampai di tanah langsung menjadi tapai atau bangkai. Mau? Sepertinya bagi pelajar yang berniat dan hobi bolos kudu menunggu setahun atau dua tahun lagi sampai naik ke kelas dua atau tiga. Lumayan kalau di lantai dua tidak begitu tinggi. Paling kalau loncat paling geger otak ringan doang.

Ketika merasa jenuh dan bosan belajar itulah suka timbul  niat bolos. Makanya mesti ada persiapan khusus. Seperti harus meminjam tangga atau tali tambang biar bisa turun dengan aman. Jangan sampai bernasib apes,  pas mendarat di lantai bawah bisa-bisa sudah terlanjur kepergok oleh guru-guru yang berkantor di lantai dua. Belum lagi Bapak Kepsek juga bersemayam di sana ruangannya. Kalau tidak bertindak hati-hati dan bersikap waspada. Ketangkap oleh mereka hukumannya bisa menyesakkan dada lho. Belum lagi kelas 1.3 persis letaknya ada di pojokan. Untungnya bukan di pojok busana di department store.

Kesan pertama ketika melihat makhluk-makhluk di dalam kelas barunya itu Tekya merasakan aura spritual melanda. Selintas wajah-wajahn mereka pada alim-alim. Kemungkinan karena masih menyandang  predikat sebagai anak baru, jadi menjaga image  masing-masing.  Walaupun sekilas penampilan mereka rata-rata seperti wajah tanpa dosa atau anak-anak Mami. Mirip wajah orang-orang baik, rajin dan kutu buku. Tidak terlintas seperti  tipe-tipe pembangkang atau pecundang. Kenyatannya hampir saban hari kelas 1.3 selalu menciptakan kehebohan dan kebisingan. Semua mengeluarkan bakat bakat kebandelan yang terpendam. Ternyata oh ternyata. Namanya karena masih remaja dan muda tidak dilarang untuk hiperaktif dan energik.

Sesuai bocoran sebelumnya lokasi kelas Tekya kan letaknya paling pojok, mana paling berisik, paling males, paling kuat ngocolnya dan paling pangling dengan guru killer yang suka duka bikin keder. Untungnya masih ada sisi baiknya yaitu paling pintar. Walau hanya beberapa gelintir tapi yang lain ikut kebawa-bawa pintar-pintar..bodoh. Hehehe.  Lumayan walau pintarnya secuil cukup buat ngemil. Daripada ngupil. Idihhh jorse deh.

Ujian pertama yang akan dihadapi oleh paguyuban kelas 1.3 adalah ketika diberi mandat dari ketua OSIS SMA mereka agar turut memeriahkan class chalenging competition di bidang informasi dan telekomunikasi lewat media tulis menulis. Salah satunya yang diperlombakan adalah mengisi majalah dinding sekolah yang sudah sekian lama vakum. Mendengar berita santer ini sontak membuat Kelas 1.3 langsung gelagapan bagai disambar halilintar di siang bolong. Masih mending kalau permainan halilintar di Ancol. Sang Ketua kelasnya 1.3 yang bernama Mizal Bom Bom langsung kaget bercampur nanar. Tak ada sangkut pautnya dengan pasar kaget sama pasar segar? Semenjak mendengar berita itu mungkin untuk sebagian orang akan bersikap biasa-biasa saja. Tidak bagi Mizal, yang baru sebulan menjabat sebagai Ketua kelas mendadak terjangkit virus galau dan malas ngomong. Belakangan beliau berubah menjadi calm, pendiam dan suka menyendiri. Syukurnya nafsu makannya tidak berubah dan tetap stabil.

Terus terang sebagian teman yang berkawan akrab dengan Mizal otomatis menangkap perubahan yang tidak biasanya itu. Tekya saja yang terkenal cuwek kali ini merasakan sesuatu yang lain. Terlebih Iqsan TWEJ, teman sebangkunya. Tapi anak-anaknya yang lain malah cuwek bebek dan masa bodoh. Nggak ngefek dan napol. Puncaknya, beberapa hari kemudian terdengar kabar Mizal sakit.

Suasana rumah Mizal Bom-bom sepi.

“Kamu ini kenapa sih Zal?” Tanya sang Ibu kepada anaknya,  Mizal yang sedang terbaring sakit di kamarnya. Ibunya melanjutkan..“Mendadak tidak mau masuk sekolah. Malas ya? Barusan jadi anak SMA juga. Nanti penilaian kamu jelek dan tidak naik kelas lagi.

“Idih Ibu. Pikirannya sampai kesana. Sudah tenang saja, di sekolahku belum mulai belajar serius kok. Kan masih awal-awal Bu. Lagipula baru tidak masuk satu hari.”

“Ibu hanya kawatir saja. Sebenarnya kamu ini sakit tidak sih? Demam tidak, masuk angin tidak, flu apalagi. Muka kamu tidak pucat. Bibir kamu merah merekah eh maksud Ibu bibir kamu tidak pecah-pecah.”

“Memangnya bibir Mizal barang pecah belah, Bu. Ada-ada saja. Cuma perut agak pusing sedikit saja. Sama kepala agak mual gitu deh.”

“Kamu kebanyakan menghirup cuka pempek kali?”

“Tidak kok Bu. Mizal kalau makan pempek cuma sedikit kok. Hanya semangkok kecil…tapi sering.

“Itu penyebabnya. Walaupun semangkok kecil kalau sering lama-lama menjadi sebotol juga.”

“Tidak begitu-begitu amat sih Bu. Masak minum cuka sampai sebotol? Kalau jumlah pempeknya sebaskom baru seimbang.”

“Lantas apa dong? Jangan-jangan karena kamu makan pempek langsung ditelan tidak dikunyah terlebih dahului?”

“Bubur kali Bu langsung ditelan. Makan pempek ya dikunyah dulu atuh Bu. Kalau orang-orang biasa mengunyah 32 kali. Saya sampai 40 kali lho.”

“Lembek dong.”

“Iya.”

“Kamu suka beli pempek di pinggir jalan ya?”

“Tidak Bu. Mana pernah kecuali kepepet. Biasalah di kantin sekolah. Belum ada yang seenak pempek buatan Kak Mail Bu. Kalau digigit teras sekali ikannya. Seakan-akan makan humberger gitu.”

“Ngaco ah kamu. Mana ada pempek rasa begituan. Ngarang saja. Setahu Ibu makan pempek ya rasanya pempek. Kalau musang berbulu domba banyak.”

“Kalau musang bagaimana rasanya Bu? Saya belum pernah makan begituan. Hehehe.”

“Sama… Aha..Ibu tahu alasannya, kamu sakit gara-gara ditunjuk jadi ketua kelas kali. Susah ya mengurus mereka?”

“Mungkin juga Bu. Mereka kadang susah diatur. Tapi eh bukan itu penyebabnya.”

“Baru segitu saja kamu sudah pusing. Bagaimana kalau jadi camat?”

“Beda jauh dong ketual kelas dengan camat!”

“Nanti sore kamu ke dokter sama Ayah.”

“Jangan Bu. Siapa tahu nanti sore agak baikan.”

“Kalau begitu Ibu ke apotik dulu ya.”

“Apa? Ke apotik? Jangan deh Bu. Saya tidak mau minum obat.”

“Siapa yang mau membeli obat?”

“Lantas ke apotik mau ngapain Bu?”

“Ibu hanya mau membeli gula pasir  kok. Kan disamping apotik ada warung Wak Jarot.”

Mizal Bom Bom langsung menghela nafas. Ketika Ibunya ke luar kamar, dia langsung tertawa lepas.

Tidak lama kemudian telepon di rumah Mizal Bom Bom berdering.  Ibunya yang sudah ingin keluar pagar bergegas balik ke rumah lagi untuk mengangkat telepon.

“Zal, ada telepon dari temen sekolahmu.”

“Sari s-siapa Bu?”

“Suaranya kresek kresek. Jadi Ibu tidak tahu persis itu siapa.”

“Ibu tidak bilang saya sedang sakit. Bilang saja lagi tiduran Bu. Tanya dulu, wali kelas bukan? Takutnya wali kelas yang menelepon. Siapa tahu guru menyamar menjadi murid.”

“Sudahlah, kamu terima dulu saja. Dari nadanya sepertnya bukan suara orangtua.”

Akhirnya Mizal beranjak ke meja telepon dengan lemas.

“Hallo. Siapa ini?”

“Ini Mizal ya? Ini Aku Tekya, temen sekelas. Kudengar kamu sakit. Sakit apa?”

“Siapa ini, Yahya? Habis suaranya kurang jelas.”

“Masakan kamu tidak kenal suara jernihku.”

“Bener. Habis ada suara kresek-kreseknya.”

“Ya ampun siapa yang bawa kantung kresek? Kamu sakit parah nggak sih? Kamu sakit jiwa ya Bom? Waduh, gawat kamu  jangan-jangan kena penyakit amnesia kali, jadi lupa makan eh lupa ingatan.”

“Oh Tekya yang mirip Jimmy Gideon pelawak itu ya?”

Hush! Mirip Tommy Page, Bom.”

Akhirnya Tekya dan Mizal terlibat percakapan jarak jauh yang cukup alot dan seruuu.

Jelas sudah apa yang menjadi alasan Mizal mendadak pura-pura sakit. Ternyata dia mengalami dilema ringan. Di satu sisi Mizal lebih menyukai menonton bioskop daripada membaca buku. Dia merasa tidak mempunyai bakat dan hobi di dunia tulis-menulis. Kecuali menulis buku catatan sekolah dan membaca buku cetak pelajaran. Itupun karena terpaksa. Biasanya juga meminjam catatan dari temen lalu kemudian membawanya ke tukang potokopi. Beres. Dia ikut  kawatir  anak-anak di kelas yang dikomandoinya terjangkit  penyakit pesimis. Bayangkan jika semuanya yang ada di kelas itu tidak ada yang berminat untuk ikut berpartisipasi menghidupkan kembali ‘nafas’ mading sekolah.

Hari berikutnya Mizal sudah terlihat kembali ke sekolah.

Mizal mempercepat ayunan langkahnya. Lima menit lagi bel sekolah akan berbunyi. Beriringan dengan penutupan pintu gerbang sekolah. Jika apes dan terlambat pelajar wajib lapor dulu ke pos satpam. Setelah itu baru diizinkan masuk. Ketiba sampai di dalam sudah menanti hukuman apa yang akan diterima. Kalau kebetulan yang mengajar gurunya baik, kita akan langsung dipersilahkan duduk. Kalau gurunya killer pasrahlah…Bersiap-siaplah untuk dijemur di tengah lapangan upacara atau disetrap di depan papan tulis sebagai contoh anak yang bandel. Setelah itu dicemooh teman sekelas.

Saat melintasi lapangan basket, Mizal terpaku melihat sebuah mobil truk berhenti di dekat tiang basket. Di bak belakang truk terdapat muatan yang ditutupi  terpal. Mizal berhenti sebentar di bawah pohon rindang. Mizal mengamati dari jauh apakah gerangan isi muatan truk itu. Dia jadi bertanya-tanya. Apakah sekolah memborong seperangkat komputer baru? Atau mungkinkah membeli bangku dan meja baru? Nah! Siapa tahu sekolah bakal pasang AC di tiap-tiap kelas. Beli sound system baru kali. Sudah ah biking bingung saja, bathin Mizal. Tak lama kemudian dua orang turun dari bak. Mereka menurunkan sebuah kotak berbahan kayu dan berpintu kaca. Mirip-mirip jendela. Woww, majalah dinding sekolah baru!

“Wah Aku tahu. Keren. Ternyata Pak Kepsek tidak main-main. Setiap kelas dimodalin masing-masing kotak berpintu kaca untuk majalah dinding.” Bisik Mizal memandang takjub. Kemudian dia berlari-lari kecil menuju pintu utama gedung sekolah sambil bersiul-siul.

“Teman-teman yang kucintai…” Ucap Mizal Bom Bom terbata-bata ketika pelajaran Fisika bubaran…

“Hati hati nih kalau kata-kata ada ‘kucintai’. Pasti ada apa-apanya?” Sambar Eveliona geregetan. Jari-jarinya yang lentik gemelitik itu terus memainkan kepang rambutnya.

”Semula saya mengira kelas kita tidak mungkin diajak dalam kegiatan mading ini. Akan tetapi karena ini sebenarnya mandat dari kepala sekolah kita melalui ketua OSIS saya tak kuasa dan berani untuk menolaknya mentah-mentah. Tapi kalau disuruh makan yang mentah-mentah masih berani saya jabanin. Orang Jepang malah doyan makanan mentah.”

“Tuh betul tidak?” Gerutu Eveliona. Arleini ikut manggut-manggut tanda support.

Seisi kelas berteriak riuh. Mendengar itu kelas langsung bergemuruh. Membuat sekompi kelas 1.3 bagai kesetrum sengatan listrik ribuan watt. Hight voltage.

“Kalau kita serempak menolak bagaimana pak ketua?” Teriak Agus dari kursi belakang.

“Setujuuu.” Langsung disambut oleh seisi kelas.

Beberapa batang kapur berterbangan.

Iqsan TWEJ mencoba menenangkan. “Calm calm Man..”

Mizal mengacungkan jempolnya. Sambul berucap. “Thanks Can..”

Iqsan TWEJ mengangguk sambil menyunggingkan senyum manisnya. Lalu Mizal melanjutkan…

“Waduh. Maafkan saya sebagai ketua kelas tidak mungkin menolak perintah orang tertinggi di sekolah ini Gus. Apa dayalah kita sebagai murid. Mana berani Aku membantah. Kita lebih baik turut berpartisipasi. Ini Kegiatan sebagai ekstrakulikuler dari sekolah. Dan akan ada penilaian di akhir semester. Sungguh, berat bagi saya untuk mengemukakan hal ini. Secara pribadi yang notabene males membaca buku. Kalian juga sudah tahu saya tidak suka membaca komik. Novel  pertama kali sentuh hanyalah karya Asmaraman S Kho Ping Hoo. Saking tebal dan banyak ada beberapa jilid, Saya langsung mual. Sumpah! Apalagi disuruh menulis cerita, mohon maaf. Kalau disuruh menyalin dari buku cetak ke buku tulis saya jago. Yuk, mari teman-teman kita meriahkan mading ini ya…”

“Malas ahh.” Semua kembali berteriak kompak.

“Please bantu Aku dong. Tega ya…” Mohon Mizal Bom Bom. “Kita tunjukkan bahwa kelas ini  adalah kelas yang oke punya. Pandai. Paling kreatif. Mau ya ya ya?”

“Malas ah tidak ada hadiahnya..” Lontar Maman kurang bersemangat.

“Mungkin ad-da..”Jawab Mizal lagi sambil garuk-garuk kepala. “Kasih tempe nggak ya eh kasih tahu maksudnya?”

“Yaaa kok jawabannya kurang pasti.” Tekya ikut berkomentar.

“Hadiahnya mungkin kelas kita nanti dipindahkan ke lantai 4. Asik kan bisa menyaksikan kota Palembang dari ketinggian. Oh ya saya lupa di atas kelas ini tidak ada lantai lagi. Hehehe.”

“Sudahlah. Ayo teman-teman malasnya jangan sampai masuk stadium 4 gitu dong. Kasihan Mizal dong..” Bela Eta Mareta. “Mari kita sukseskan mading sekolah.”

Akhirnya usaha sang ketua kelas berbuah hasil. Walau terpaksa mereka mengiyakan juga.

Mizal Bom Bom segera sujud syukur.

Terjadi percakapan di lantai 2. Tepatnya di ruang guru sekaligus ada juga ruang kepala sekolah.

“Di atas ada kejadian apa ya?” Tiba-tiba Pak Adaptasi keluar dari ruangannya dengan tergopo-gopoh.

“Biasa Pak, kelas 1.3. Memang siapa lagi.” Jawab Ibu Ondel sambil memeriksa hasil ulangan yang menumpuk di atas mejanya.

“Kelas apa pasar sih.” Ujar Pak Adaptasi agak kesal.

“Mungkin heboh karena disuruh ikut aktif nulis di majalah dinding kali Pak?” Tebak Saleha.

“Ooh..mungkin juga ya. Tidak apa-apa biar mereka tahu rasa. Hehe.” Pak Kepsek tertawa puas.

“Cuma diminta begitu aja segitu hebohnya ya.” Celetuk guru yang lain.

“Masak saya harus pindah ke lantai dasar biar tenang. Enak saja. Mending dekat kantin. Kalau mau minum kopi tinggal teriak saja. Heheh..”Ujar Pak Kepsek sambil berlalu.

Semua guru tertawa tanpa dikomando.

Yeah…Sang Kepsek memang sangat merana kalau kelas 1.3 sedang berisik. Apalagi jam istirahat, seharusnya itu kelas keadaannya sepi karena waktunya mereka makan ke kantin. Apa daya susah menebak apa yang ada di dalam pikiran anak didiknya itu. Beliau saban hari memberi ultimatum melalui wali kelasnya Ibu Juminten agar paling meminimalisir tingkat keributan yang terjadi di lantai 3. Hasilnya tetap nihil. Perubahan sikap mereka yang baik hanya bertahan paling banter tiga hari setelah itu penyakitnya kumat lagi. Tiada mempan.

Ternyata usut punya usut kiranya Kepsek berniat menguji ketangkasan kelas 1.3 dalam mengisi majalah dinding sekolah. Apakah content yang akan mereka sumbangkan nanti mempunyai nilai kreativitas yang oke apa tidak? Apakah di balik kebandelan mereka tersimpan bakat terpendam di dunia penulisan? Kalau ada harus diangkat ke permukaan dong! Jangan hanya kemalasannya saja dipelihara. Buat apa?

Bak virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang mematikan itu begitu cepat menular yang menghinggapi mereka one by one. Khususnya Yudo Gembul, Agus Blepotan, Iwan Mukejenuh, Sony Betapermax mempunya motto sejati “Tiada hari tanpa canda tawa”. “Noise is Money. Bubarkan PR. Turunkan Guru Killer. Humor is very important. Walau tidak serius tapi santai dan Jangan cegah kami bermain bola.

Sosok Iqsan TWEJ  (Topo Wijaya Effendy James)  juga perlu kita kenal. Namanya memang panjang kayak truk gandeng. Berkacamata tebal. Kesukaannya membaca novel berbahasa Inggris. Seperti karya Shakespeare, Enid Blyton dan Alfred Hitchock. Buku-buka bergenre petualang hampir semua sudah dilahapnya. Jabatannya sebagai wakil ketua kelas akhir-akhir ini cukup membuatnya sedikit sibuk. Jadi jarang punya waktu untuk berkunjung ke perpustakaan dan ke toko buku. Culun-culun begini Iqsan TWEJ menghabiskan SD dan SMPnya di negeri Paman Bill Clinton. Tidak heran bahasa Inggrisnya was wis wes wos. Lancar banget dah.

Sudah dapat ditebak untuk urusan mading sekolah Mizal langsung mentitahkan Iqsan TWEJ, wakilnya untuk menghandle memeriksa hasil karya tulisan teman-temannya. Bila perlu Iqsan TWEJ disuruh menulis karangan atau artikel. Hobi membaca biasanya jago menulis juga. Komplit.

Agus Blepotan termasuk salah satu makhluk yang paling kesal saat ini. Disusul makhluk lain bernama Tekya. Apalagi kalau bukan masalah jam istirahat dipakai untuk rapat mading sekolah. Bete nggak tuh.

“Iya nih Gus. Biasanya waktu kita kongkow di kantin full time.. Sekarang kita mesti buru-buru ke lantai tiga lagi. “Ajak Tekya siang itu kepada Agus teman seganknya.

“Kamu duluan saja Tek..Aku masih kepingin makan pempek panggang. Janji, nanti aku nyusul. Masih lapar.”

Mereka berpisah di kantin Kak Mail

“Nih Tekya baru datang..” bisik Andreany kepada Qibal.

“Dari mana saja Tekya?” Tanya Qibal. “Kamu kebagian tugas menulis cerita yang lucu-lucu. Oke?”

“Kantin. Wah, jangan saya deh, Bal. Susah nyari bahannya.” Tekya beralasan.

“Kamu bisa cari bahannya dari tukang jahit..” Timpal Pito.

“Haha itu lucu barusan. Serius…”Potong Tekya sambil ketawa.

“Pito aja ya?” Rayu Tekya.

“Ahh itukan tidak sengaja. Menulis cerita lucu itu harus menunggu moodnya tahu. Kalau belum ketemu bisa-bisa bukan membuat orang tertawa tapi malah jadi cerita horor. Ya sudah kamu yang koordinator deh. Nanti kita join venture seraching cerita lucunya. Di majalah humor atau koran-koran. Kita guntung tinggal tempel.”

“Eeit…” Sela Mizal, “ Hendaknya karya orisinil. Kalau bisa jangan menjiplak karya orang lain. Ingat-ngat dulu kira-kira kamu pernah tidak mengalami kejadian lucu dimana gitu…”

“Susah amat mikirnya Tekya.”Ujar Susi membunyikan jari jempol dengan jari tengahnya. Itu pertanda ada ide cemerlang. “Pindahin saja ke kertas HVS pakai mesin tik.”

“Siip. Itu nanti jalan terakhir saja. Pokonya kita best effort ya.” Dukung Iqsan TWEJ.

“Aku datang!” Teriak Agus tiba-tiba. “Aku pasti cukup mendoakan kalian biar sukses saja.”

“Enak saja lu, Gus. Kalau urusan doa si Choi sudah cukup. Anak kyai. Gus, kamu meliput berita olahraga ya. Apa kek bisa tinju, gulat, volley, basket atau sepakbola. Cari pertandingan yang masih update.”

“Yeah. Nasib..nasib. Macam mana pula.”

“Iya Gus kita manut bae…”bujuk Yudo Gempul.

“Iya nih masalahnya perintah dari Pak Sutan Bagindo Adaptasi.” Ucap Novi lembut, selembut kulitnya.

“Buset Novi hapal nama lengkapnya. Ngomong-ngomong Siapa tuh Sutan Bagindo? Pemilik restoran Padang ya?”Ceplos Tekya sekenanya.

“Husss…”Bisik Sri Itemanis sgerera menetralisir suasana. “Dia Kepala sekolah kita tahu! Kedengaran bisa dikeluarin nanti.”

“Ohh kirain Bapak Kepsek…” Canda Yudo terkekeh-kekeh sudah sukses ngerjain Sri.

“Iya bener memang jabatannya kepala sekolah kok..”Tangkis Sri.

“Tuh benar kan kata saya…Dia itu kepala sekolah.” Tegas Yudo menampakkan muka bercadanya.

Awalnya Sri masih belum sadar juga kalau dia sebenarnya dikerjain oleh Yudo. Tidak lama setelah dibisikkan oleh Fatimah barulah dia tersadar. Hehe..

Sri Itemanis refleks menyambit kepala Yudo dengan kapur tulis. Tepat sasaran shootingny kena bersarang di rambutnya Yudo yang keriting sehingga nyangkut di sana.

“Yeee…kapurnya hilang di dalam rambut Yudo. Kamu harus ganti kapur punya sekolah.” Fatimah mengucek-ngecek rambut si gempul. Tentu saja Yudo berusaha menangkis dengan tangannya. Akan tetapi jari-jari milik Fatimah sudah terlanjur terjulur masuk ke rimbunan rambutnya.

“Eii..Apa-apaan ini! Fatimah! Rambutku jangan diaduk-aduk begini.  Kamu kira rambutku ini sarang burung. “Berapa sih harga kapur. Nanti Aku beli sama pabrik-pabriknya.”

“Sombong ya…Mentang-mentang anak Jendreal. Rambut kamu saja belum serimbun Ahmad Albar saja sudah bikin repot deh.”

Fatimah berangsur-angsur melepaskan aksi rogoh merogohnya. Membiarkan Yudo mencari kampur yang nyungsep di rambutnya. Setelah kapur papan tulis itu diketemukan langsung dilemparkannya ke rambut Fatimah yang hitam bergelombang dan berombak-ombak. Kebetulah di dalam kelas tidak ada angin berhembus sehingga ombaknya tidak tinggi dan menimbulkan tsunami. Sekarang, kapur itu telah bersemayam pula di rambut cewek berparas ayu itu. Fatimah blingsatan dan mengobrak-abrik rambutnya juga demi menemukan kapur sialan itu. Ketika Yudo berhasrat ingin membantu mengawut-awuti rambutnya. Namun dengan gerakan refleks Fatimah langsung mengusirnya.

“Huss..Sana Kamu. Rambutku barusan dari salon. Nanti rusak. Biar Aku saja yang nyari. Kamu tidak usah ikut campur  To. Bukan muhrimnya!”

“Iya..Tidak boleh Yudo. Dilarang dalam agama kalau menjamah perempuan. “ Bela Choiruddin sambil memamerkan senyumnya yang manis. Walaupun bertubuh mungil Choi cukup disegani oleh teman sekelah karena ilmu agamanya yang mumpuni. Makanya sering dijuluki Ustad. Jenggotnya yang tumbuh satu dua alias jarang-jarang itu dibiarkan tumbuh untuk menambah profil kewibawaannya dan kesyufiannya. Dan si choi ini mempunyai hobi tersenyum. Mungkin dia ingin menunjukkannya bahwa dia itu orangnya manis,humanis, penyabar dan berwibawa. Dia terkenal ramah dengan siapa saja yang ditemuinya. Sampai-sampai dia kalau sedang makan pempek di kantin Ismail  tetap dengan tersenyum sendiri. Gawatnya kalau orang yang belum mengenal akrab sosoknya bisa-bisa menduga-duga yang macam-macam. Miring kali yeee.

“Sejak kapan pelajar SMA potong rambutnya ke salon. Paling juga kamu ke barber shop. Oh ya bukannya Aku pernah lihat kamu pangkas rambut di bawah pohon Tembesu kan…”

“Itu nenekmu kali To..”Samber Fatimah kesel. “Suka-suka Aku dong. “

Tekya dan temen-temennya yang lain kembali meneruskan rapat. Jika masih terus mengikuti perkembangan percekcokan seru antara Fatimah dan Yudo dengan kapur tulisnya bisa-bisa rapat tidak menghasilkan apa-apa. Molor terus. Iqsan TWEJ mengasih kode kepada rekan-rekannya untuk tetap fokus dan membiarkan Fatimah dan Yudo yang konyol-konyol itu capek sendiri.

Kelas sudah sepi. Aktivitas sekolah sudah selesai. Anak-anak sudah pada pulang ke rumahnya masing-masing. Paling tersisa beberapa siswa yang masih malas pulang. Mereka lebih memilih mojok di kantin sambil guyon-guyonan. Beberapa murid kutubuku mengunjungi perpustakaan. Tidak sedikit juga yang ngobrol di depan gerbang sekolah sembari menunggu jemputan atau oplet (angkutan kota).

Choirudin membungkukkan badannya. Tampaknya dia menemukan sebongkah kapur tulis di bawah meja. Sejenak diamat-amatinya secara perlahan-lahan. Diambilnya lalu didekatkannya ke lobang hidungnya. Tanpa sadar dia menghirup aroma kapur itu dan …tersenyum. Lalu menghela nafas.

“Hhmmm..Kapur ini harum nian. Biar aku simpan saja. Ternyata Fatimah tidak bohong bahwa dia pergi ke salon. Fatimah…fatimah..Aku suka parasmu yang mirip cewek Pakistan. Seandainya kamu tahu…”

Choi meninggalkan ruangan kelas. Ternyata kamu Choi…

Rapat hari kedua waktu istirahat kembali berubah wujud menjadi waktu rapat darurat. Ketua kelas mengintruksikan kepada khalayak di kelas 1.3 untuk tidak keluar kelas terlebih dahulu. Untunglah semua mengamini. Mizal, sebagai ketua kelas mengemban tugas yang cukup berat demi mengangkat spirit kelas asuhannya untuk berkreatif dan berdisiplin. Tidak mudah mengumpulkan semua anak-anak 1.3 yang rada bandel-bandel untuk tetap berada di dalam kelas. Bayangkan? Tahu sendirikan semestinya perut-perut mereka yang  sudah sibuk berintrumentalia menyanyikan lagu-lagu kelaparan meminta peruti diisi oleh nasi atau cemilan. Menyatukan sebuah kelas untuk satu pikirian satu tujuan membutuhkan sebuah energi yang cukup besar. Mizal sedang mengumpulkan itu. Beliau benar-benar sedang mempertaruhkan karirnya demi suksesnya memeriahkan kembali mading sekolah.

MizaI menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan-lahan. Tubuhnya yang gempal tidak ada bedanya dengan Iqsan TWEJ dan Yudo yang terkenal doyan makan. Mizal siap ambil ancang-ancang untuk memimpin rapat.  Setelah dia merasakan emosionalnya mulai terkontrol barulah dia meminta  Iqsan TWEJ sambil memohon-mohon menggantinya untuk  memimpin rapat yang kembali berlangsung di kelas. Kemudia Mizal meminta izin untuk ke kantin bersama Fatimah untuk membeli cemilan-cemilan untuk keperluan rapat. Semua kelas berteriak…Asik lapang perutku!”

“Ah yang bener Bom?” Tanya Fatimah kepada Mizal Bom Bom ketika mereka sudah keluar kelas. Cewek hitam manis itu mengeryitkan keningnya. Tampak ada tiga kerutan nongol di jidatnya.

“Swear!” Mizal mengacungkan dua jarinya dan sedikit mendelik.

“Tapi kok banyak amat ya. Bukannya itu sebuah pemborosan.”

“Iya yah. Menurutku cukup beli satu saja. Nanti tiap hari diganti-ganti tajuknya. Dibikinkan saja jadwal piket tiap kelas untuk mengisinya. Majalah dinding sebanyak itu mau dijejerin dimana ya?”

“Manaku tahu.”

“Di koridor sekolah mungkin. Atau di lobby utama? Jangan-jangan ini pertanda buruk, Fat?”

“Pertanda buruk? Maksudnya?”

“Dengerin ya Fatimah. Sekolah inikan punya tujuh kelas. Berarti masing-masing dapat jatah satu. Merepotkan banget. Lalu…”

“Lalu apa Bom?”

“Hehehe…Nungguin ya kelanjutannya?”

“Kamu ngerjain Aku ya? Tak cubit nanti pipimu yang cubby itu.”

“Kasih tahu nggak ya?”

“Ayo cepetan dong tadi apa kelanjutan dari lalu tadi..?”

“Lalu kita akan dipaksa untuk mengisi majalah dinding itu secara terus menerus. Terus Kepsek akan memantau dan mengontrol saban minggu. Dan tentunya kalau ketahuan kelas mana saja yang  meja dindingnya tidak ada karya sama sekali akan mendapat hukuman.”

“Ah, kamu jangan menakut-nakuti kita dong.”

“Siapa tahu Fatimah. Merepotkan nggak tuh?”

“Sudahlah jangan ngelantur kamu.”

“Oh iya sampai dimana tadi…”Iqsan TWEJ membuka percakapan.

“Jangan kesurupan deh San. Kamu kan dari tadi belum ngomong.” Protes Marniyem sambil bertolak pinggang.

“Iya. Kamu tadi kumur-kumur.” Lanjut Tekya.

“Buanglah dulu permen karet di mulutmu Bang Iqsan TWEJ. Macam mana mau ngomong kalau masih mengulum permen maret. Bah!” Agus Blepotan sewot.

Iqsan TWEJ mengeluarkan permen karet dari mulutnya lalu menyimpannya di sebuah kotak kecil yang telah disiapkannya dari rumah. Kotak itu ditutup dengan rapat seraya dimasukkan ke dalam saku celananya.

Semua anak yang hadir mengeleng-gelengkan kepala tanda tak mengerti.

“Idiih. Dibuang aja kenapa.”Tukas Novi geregetan. “Kan jorok sudah jadi ampas gitu.”

“ Nanti aku ganti sama karet gelang. Makanlah sepuas-puasnya.” Tekya angkat bicara.

“Bukan apa-apa. Itu permen karet dari eropa. Belum masuk Palembang. Beda sama yang dijual di warung-warung.”

“Mau dari eropa kek atau dari planet sekalipun tetap jorok. “Kali ini Arleni yang bicara. “Barang sudah dari mulut jangan dimakan lagi. Pamali. Itu namanya menjilat ludah sendiri. Ngomong-ngomong betul nggak pribahasanya?”

“Sayang masih 50 persen lagi.” Jawab Iqsan TWEJ. “Ayo kita mulai saja ya.”

“Terserak kaulah.”Agus Blepotan masih tampak sewot.

“Perintah ini semata-mata datang dari sang Kepsek. Beliau menyampaikan pesan via Agung ketua OSIS sekolah kita. Via itu bukan Novia Kolakpisang ya. Sedangkan Agung bukan agung bakar atau rebus ya. Itu semua nama orangnya? Jangan salah.”

“Yang lucu boleh pulang. Iqsan, kamu boleh pulang.”ucap Qibal geram. Kepingin ngegaplok pake gagang sapu.

“Gara-gara permen karet kan jadi ngelantur dan ngawur kan…”Ledek Nyimas.

Iqsan TWEJ pun dijitak rame-rame. Kasihan.

“Ini serius. Maaf, joking dulu biar nggak tegang. Saya mengharapkan kerjsama dari teman-teman untuk dapat menunjukkan karyanya. Kalau bisa kita usahakan isi mading kita lebih berbobot dari yang lain. Mudah-mudahan mading kelas 1.3 bukan hanya sekedar memberikan tulisan atau berita yang menjadi hiburan semata akan tetapi ada sebuah pesan yang bermakna di dalamnya. Tempo hari saya bagi-bagi tugas. Tekya fokus di dalam cerita-cerita lucu, anehdot dan karikatur. Diam-diam ternyata dia jago gambar. Kalau Agus mengurusi berita-berita seputar olahraga. Selly Cheng, tugasnya mengisi tip-tips bagaimana mengelola usaha kelontongan. Karena Papanya punya usaha warung. Rata-rata orang chinese kan pedagang.”

“Saya kirain Selly Cheng menulis tips kecantikan ‘bagaimana cara memutihkan kulit’. Sangat bermanfaat sekali untuk Fatimah.” Yudo memulai sesi bercanda.

“Yudo!” Semprot Fatimah geram. “Awas nanti aku kempesin badan kamu yang bontet itu.”

“Sudah-sudah.” Pito dengan sigap melerai keduanya. “Secara tidak langsung kamu juga menyinggung saya dong.”

“Kamu kan nggak hitam, To. Hanya agak keling sedikit.” Canda Iwan Mukejenuh cekikikan.

Pito hanya mesem-mesem.

“Ayo lanjut lanjut.” Pinta Faisol Kribo tak sabar.

“Oke oke. Kembali ke rapat. Mari kita tunjukkan bahwa kita itu ada. Bukan makhluk halus.” Timpal Agus Blepotan. “Kelas 1.3, mari kita tonjolkan yang belum menonjol.  Kecuali anak-anak cewek…”

“Woo gitu, jadi kaum hawa tidak diperhitungkan. Kemana emansipasi kalian?” Protes Meta Weleh merasa tersinggung berat.

“Lho benar apa yang dikatakan oleh Agus.” Bela Tekya semangat.”Kalian semua memang sudah pada menonjol. Buat apa dibikin menonjol lagi. Bisa berabe toh.” Tekya sambil mengacungkan jari telunjuknya mengarah ke dada Meta Weleh.”

Pecahlah ketawa seisi kelas laksana rudal patriot.

“Ih Tekya porno nih. Dasar ngeres.” Meta menimpuk Tekya dengan karet penghapus. Untung Tekya dengan gesit mengelak.

“Kamu menyumbang apa Wan?” Tanya Faisol Kribo di sela-sela jam istirahat. Mereka sedang asik melahap pempek lenggang di kantin Kak Mail.

“Menyumbang? Memangnya ada bencana alam, Gus?” Sahut Iwan Mukejenuh menampakkan mimik wajah kebingungan. Kemudia dia menghirup cuka. Sruup!

“Karya. Kamu kebagian tugas apa? Barusan Kemaren dirapatin kok sudah lupa. Payah. Mading Wan, mading Wan…”

“Oh itu. Tadi saya kira makan daging dimana? Soal itu gimana ya? Sebetulnya saya sibuk berat. No time for that. Tapi demi kekompakkan tim bisa diatur. Apalagi Aku sekarang lagi mempunyai pembantu baru bo. Molek dan seksi lagi manja. Setiap habis pulang sekolah selalu diminta menemani ke Hero Supermarket untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Maklum orang beruang.”

“Iya, memang kamu mirip beruang, Wan.”

“Beruang maksudnya banyak memiliki uang, Gus. Kalau kamu kan diminta menulis seputar olahraga ya. Lomba balap karung cukup keren untuk dipublikasikan.”

“Aku sebetulnya lebih tertarik mengupas seputar musik, Wan.”

“Hebat kamu. Bisa mistik.”

“Musik Wan, musik. Bukan bistik. Nah Aku nih orang Batak. Dari bayi sudah bisa mainin  gitar Bapakku. Ya sekedar mainin saja. Kadang dibanting. Nah setelah dewasa dimasukkan kursus gitar. Jadi sekarang sudah menguasai kunci-kunci. Termasuk kunci inggris. Kalau saja nanti peresmian majalah dinding perlu diiringi musik panggil Aku saja.”

“Kenapa tidak kau tulis saja artiket tentang ‘ perbedaan antara memetik gitar dengan memetik bunga’. Bagaimana brilian tidak ideku?”Usul Iwan dengan jumawa.

“Lantas hubungannya dengan olahraga apa?”

“Ada. Memetik gitar dan bunganya sambil bermain catur.” Jawab Iwan sekenanya.

“Buyan! (Blo’on). Dasar ngawur.”

“Sudah jangan bingung Gus.” Faisol Kribo tiba-tiba muncul dengan membawa sepiring tekwan yang masih hangat. Tampak asal mengepul di atas priringnya. “ Tadi barusan Yudo bilang ke Aku mau bantuin Agus ngasih bahan kiat bermain bola.”

“Kamu tidak salah ngomong kan Sol. Postur Yudo kan gembul kayak balon. Masak bola bawa bola. Lari saja dia kelihatan susah. Aku nggak percaya, Sol.”

“Ya sudah. Dari SD si Yudo sudah tergabung dalam pusdiklat sepak bola punya tentara. Aku pernah ditunjukkan poto-poto sewaktu Dia memperkuat salah satu klub dimana tempat Ayahnya Yudo berdinas.”

“Oke. Nanti Aku akan test dia dulu.”

Plang  bertuliskan ‘KANTIN KAK MA’IL’ terpampang di atas pintu sebuah kantin di sekolah itu. Kantin itu dikelola oleh Kak Ma’il dan keluarganya. Dan merupakan satu-satunya kantin yang tergeletak di halaman belakang gedung sekolah. Lokasinya bersebelahan dengan lahan parkir motor. Bertetanggaan juga dengan gedung perpustakaan dan gedung praktikum.

Kantin itu berdiri sudah cukup lumayan lama. Berawal dari Abinya (Ayah Kak Ma’il) yang keturunan Arab Palembang bersahabat akrab dengan Kepala Sekolah di zamannya. Pas kebetulan Kepala Sekolah kebingungan dengan keberadaan sebuah gudang yang dianggap sudah usang alias  tidak terpakai. Gudang peninggalan zaman Belanda itu, dulunya untuk menyimpan pasokan makanan di masa kemerdekaan. Kwalitas bangunannya masih kokoh banget, hanya saja penopang atapnya yang terbuat dari kayu sudah mendekati keropos termakan usia. Warna cat temboknya  sudah terlihat kusam dan lusuh sekali. Sukar ditebak apa warna aslinya. Karena dianggap akan merusak pemandangan, Bapak kepsek berencana ingin menghancurkan saja agar sekolah memiliki perbendaharaan lahan kosong. Seandainya kalau dipugar tentunya memakan ongkos.

Bapak Kepsek bercita-cita jika gudang itu berhasil diratakan dengan tanah, lokasi tersebut siapa tahu bisa digunakan untuk bercocok tanam.  Waktu Bapak Kepsek sudah deal dengan mandor tukangnya. Sayangnya setelah diteliti, mandor tukang meminta upah lebih. Alasannya masuk akal juga, untuk menghancurkan gudang yang tebal dan kokoh itu juga memakan waktu banyak biaya dan waktu yang lama. Bapak kepsek hanya bisa pasrah. Di saat momen kebingungan ‘high level’ itulah tanpa disangak dan dinyana datang Bapaknya Kak Ma’il datang mengunjungi temannya yang sudah menjadi kepala sekolah. memang kebetulan sedang mencari. Di tengan obrolah yang penuh emosional dan kehangatan, Bapak Kak Ma’il berkata :

“Anton, kalau gudang ini buat menyimpan apa?”

“Gudang ini sudah tidak terpakai lagi.  Seminggu yang lalu mau saya ratakan dengan tanah. Agar supaya sekolah ini mempunyai halaman yang luas. Ternyata si mandor sableng itu meminta upah tambahan lagi. Padahal di dalam surat perjanjian saya tinggal terima bersih lho. Tidak ada embel-embel lagi.”

“Tentu ada alasannya dong Ton?”

“Anu…kata si mandor, setelah diketok-ketok ternyata bangunan yang dibuat oleh kumpeni Belanda ini terlalu keras, tebal dan kokoh sekali untuk dihancurkan.”

“Syukurlah kalau batal menghancurkannya.”

“Lho kenapa Rozali? Apa manfaatnya buat kamu. Kamu mau ngekos di sana. Silahkan. Hehe…” Kata Pak Anton sambil bergurau.

“ Kebetulan! Jodoh tidak kemana!” Pak Rozali memukul pundak temannya dengan kencang. Pak Anton kaget dan nyaris terjatuh dari kursi.

“Barusan kita bertemu, kamu sudah mau mencelakakan Aku Jali!

“Maaf sudah mengagetkan kamu. Haha..”

“E-eh tadi apa Aku tidak salah dengar kamu bilang jodoh. Kamu berencana mau kawin lagi Jali? Kamu sudah siap untuk berpoligami apa? Berat lho.”

“Huss!. Jangan ngomong sembarangan kamu Ton. Siapa yang mau kawin lagi? Istri yang sekarang belum habis-habis. Bisa di gantung Aku nanti di pohon cabe.”

“Lantas apa dong?”

“Aku sudah lama ingin mencari lokasi berjualan. Semacam kantin gitulah. Kalau kamu tidak keberata saya sewa saja. Bagaimana?

“Boleh. Dengan senang hati. Biar silaturahmi kita tetap terjaga ya. “

“Betul banget. Serahkan semua urusan padaku. Biart aku  bikin cantik ini gudang.”

“Kamu mau jualan apa nanti?”

“Jual makanan. Sesuai selera murid-murid disini. Apa saja kesukaan mereka pasti aku sediakan. “

“Ide bagus Jali. Tidak terbayangkan dan terpikir olehku bahwa sekolah ini perlu sekali kantin.”

“Atur saja. Jangan lupa Aku masih doyan rujak mie lho.”

“Gampang. Rujak mie nanti kumasukkan dalam menu kantinku.”

Merekapun bersalaman seraya berpeluk-pelukan. Tentunya diiringi derai tawa.

Itulah sekilas kisah historinya kantin Kak Ma’il. Ternyata racikan resep dapurnya sesuai dengan selera para siswa, membuat mereka tidak bosan makan di sana. Belum lagi suasananya dibuat betah untuk nongkrong dan kongkow. Dekorasinya disulap gaya cafe anak muda. Pada dinding dipenuhi ornamen-ornamen yang cantik baik berupa lukisan kota Palembang di masa lalu. Poster-poster artis lokasl dan mancanegara juga tak kalah banyak.  Deretan artis hollywood , Bollywood, Tangkiwood dan Mandarinwood. Semacam poster John Stamos, bintang pameran utama film seri televisi ‘Full House’ dan ‘ Dreams ’sedang tersenyum manis. Poster Silvester Stallone dengan gaya khasnya di film ‘Cobra’ dan Over the Top’. Poster Amitabh Bachan juga ada. Poster Onky Alexander dalam ‘Catatn si Boy’. Tidak ketinggalan poster Jacky Chen dalam ‘Drunken Master’. Dan pernak-pernik dari mutiara dan kulit kerang juga menghiasi dinding. Di meja panjang berjejer becak dan jembatan ampera dalam bentuk miniatur.

Menu yang tersedia juga bermaca-macam. Sayangnya mereka tidak menyediakan nasi. Semua menu diberikan nama sesuai judul film yang lagi ngtren saat itu. Sebangsa empek-empek buntu pendekar mabok, otak-otak ikan tom and jerry, empek-empek panggang rambo, rujak mie galih dan ratna, mie celor jump street, kue donatello, model bold and beautiful dan tekwan james bond. Minuman tidak diberi nama-nama aneh. Kantin Kak Ma’il menyediakan minuman beraneka jenis jus buah, kopi, teh, es jeruk, jamu dan es hoya. Belum lagi pelayananannya yang ramah dan bersahabat juga cepat (note: kalau sepi pengunjung).

Satu lagi yang membuat para pengunjung betah yaitu full musik. Kak Ma’il memasang double speaker  yang dolby stereo di setiap sudut. Belum lagi tweaternya yahud. Jernih dan berdecit.  Ketahuan kalau pas lagi nyetel lagu yang rada ngrock, kontan kantin serasa diguncang gempa, dan sangat bergemuruh. Namun volumenya masih sebatas wajar, kalau tidak tentu dapat menganggu aktivitas belajar. Untuk kaset lagu disediakan oleh siswa-siswa. Jadi Kak Ma’il tak perlu repot-repot membawa kaset lagu dari rumah. Kebanyakan jadi ajang pengetesan kaset-kaset yang baru mereka beli. Selain tempat berkumpul dan ngegosip di saat suntuk berat dengan pelajaran tertentu.  Berubah fungsi juga sebagai tempat pelarian jika saat pelajaran kosong , guru rapat dan guru berhalangan, sebagai tempat penitipan helm, jaket dan tas. Penitipan tas biasanya untuk yang berniat bolos.

Siang itu mentari bersinar malu-malu. Seorang pelajar yang bergaya feminim dan sedikit manis berjalan menuju ke arah kantin. Dialah Zoeliesye, bergaya amat spesifik. Berbeda dengan pelajar cowok lainnya. Nama aslinya Zulkipli. Menjurus kemayu-mayuan atau bencong style. Dengan gaya gemulai, berjalan bak peragwati mentas di catwalk. Dengan malu-malu Zoel langsung duduk di kursi kosong di sebelah Faisol Kribo. Disana juga sudah ada Tekya, Iwan Mukejenuh dan Yudo Gempul.

“Awas pengacau datang. Hayo pada ngumpen ntar kita-kita dicium.” Serobot Iwan Mukejenuh.k pinggang. Sebentar-bentar menyibak rambutnya yang berdiri-berdiri.

“Aduh syahlalala…Kalian pada ngumpul di sini toh. Eyke kesepian nih. Kelas di atas sepi. Entah pada kemana?”

“Tak satupun?” Tanya Tekya.

“Iyee. Lu nggak percaya gue?” Mata Zoel melotot galak. Memang si Zoel ini cepat sekali tersungging eh tersinggung.

“Eh Iwan mukejelek dengerin baik-baik ya…Ike ini tuan puteri bukan pengacau. Tahu!” Protes Zoel sambil berkacak pinggang mirip mandor ubi kayu.

“Siang-siang begini pada ngegosipin Ike ya.”

“Rugi kita nggosipin situ. Bingung, bagian mana dari bodi kamu nggak ada yang enak buat digosipin. Pada rata semua. Weee.” Sambar Yudo Gempul blak-blakan.

“Dasar Zoel bences deh…”Ledek Faisol Kribo.

“Syukurlah kalau bukan. “ Zoel mengurut dadanya seraya menghela nafas panjang dan menghembuskannya ke segala arah. Faisol dan Tekya buru-buru tutup mulut. “Lega sekali bila jauh dari gosip. Heh! Cabe kriting situ tadi ngeledek saya bences. Awas ya! Jangan sembarangan…buang sampah dong eh ih salah ngucap. Coba kamu ngaca deh ya. Amati baik-baik dan dengan seksama. Muka saja kayak papan cucian. Rata semua. Mentang-mentang kamu tergolong jenis drawida.”

“Eh tunggu dulu. Siasp sih drawida. Anak baru ya?” Balas Faisol Kribo belagak pilon.

“Ketahuan ya tidak menyimak pelajaran sejarah. Makanya jangan molor pas lagi belajar. Ilmu Cuma masuk sedikit. Ketutupan rambutmu sih. Drawida itu nama sebuah bangsa. Dan kamu termasuk jenis itu. Ciri-cirinya persis banget sama kamu Solpatu..Rambut keriting, wajah bulat, Cuma kamu ketolong sama  kulitmu yang putih. Coba kalau hitam legam. Alangkah miripnya. Berarti kamu drawida kawe 3 (kwalitas no 3).

Faisol Kribo langsung naik pitam dledek begitu, seakan menjatuhkan harga dirinya yang sudah terdiskon. Mukanya merah padam mirip Donal bebek lagi berang. Melihat gelagat yang kurang beres dari, Zoel tanpa permisi lagi langsung kabur. Faisol yang sudah siap ancang-ancang ingin mengejar akhirnya batal setelah cengkraman jari-jari Yudo Gempul menahan langkahnya.

“Easy Man easy man.” Bujuk Yudo.

Bukan alang kepalang. Beberapa pelajar dari kelas lain hanya menahan geli-geli basah eh gelisah. Sebagian  lagi tertawa ngakak tanpa dikomando. Diiringin tepuk tangan nan riuh penuh semangat.

Di sebuah lokasi kompleks perumahan mewah.

Tiupan semilir angin malam nan dingin menerpa wajah bulat seorang pelajar SMA bernama Iqsan TWEJ.  Malam itu jam telah menunjukkan pukul 22.30. Iqsan masih terbuai dengan bahan-bahan yang akan dipakai untuk perlombaan majalah dinding sekolah. Sebentar-sebentar dia menguap lebar. Lalu membentangkan tangannya sekedar melakukan gerakan senam ringan. Beberapa menit kemudian  ia kembali meraih keyboard komputer untuk melanjutkan mengetik.  Di atas springbednya bertebaran kertas-kertas HVS ukuran A4 selesai diprint. Dia belum sempat menyusun dengan rapi. Sedangkan hasil ketikan yang salah lebih banyak lagi jumlahnya di dalam sebuah kotak sampah berukuran sedang berwarna jingga. Iqsan TWEJ mengetik dengan ditemani penerangan lampu meja belajarnya 25 watt. Tik Tak Tik Tuk begitulah bunyinya. Setiap sepuluh menit sekali ia mencopot kacamata tebalnya. Framenya juga berukuran besar. Lensanya sedikit dihawa-hawain. Setelah itu diseka menggunakan tissue khusus. Oh ya di atas mejanya terpampang poto ketika masih tinggal di Amerika. Iqsan TWEJ memandangi potonya yang masih culun. Dalam kesunyian seperti inilah suka teringat kenangan bersama teman-teman bulenya.

“What are You doing now, San?” Terdengar suara seorang wanita. Terdengar lembut dari balik punggungnya. Tanpa terasa sentuhan tangan Maminya sudah menempel di pundaknya. Rambutnya anaknya yang berdiri menantang layaknya rumput alang-alang, dibelainya dengan penuh kasih sayang. Dasar anak kesayangan!

“I am writing a story about my experience.” Jawab Iqsan sedikit manja.

“Good. Boleh Mami tahu pengalaman tentang apa?” Sang Mami ingin tahu.

“Thank You Mom. Waktu masih tinggal di United Stated.”

“Oh iya? Banyak ceritanya? Ada satu buku?”

“Absolutely not Mom. Impossible. Kalau dihitung-hitung sekitar lima lembar.”

“Wow, amazing! By the way. What for tuh?”

“Ini Mom. Ada perlombaan majalah dinding di sekolah. Saya kan sebagai wakil ketua kelas kebagian tugas lebih banyak. Tipe anak-anak di sini beda banget sama teman-teman di US. Di sana mereka rajin-rajin, kreatif dan enerjik. Di sini pada malas-malas dan manja-manja. Padahal mereka juga pintar-pintar. Tapi budaya yang malas dan malu yang bikin Aku nggak suka.”

“Sudah dinikmati saja. Kita kan belum setahun di kota Palembang ini. Mami kira kamu kan masih terus perlu beradaptasi dengan kebiasaan di sini. Kalau kamu tidak betah Momi bisa kirim lagi kamu ke US. Up to You my San.”

“Tidak secepat itu Mom. Aku suka kuliner di kota ini.”

“ I know. Lets me guess. Pempek kan?”

“Absolutely Yes Mom. One hundred percent for You. Horeee…”

Bila kita simak percakapan ibu dan anak ini, serasa berada dimana gitu? Seperti menonton bilingual film ya?

Konon, keluarga Iqsan TWEJ pernah bermukim di negeri Paman Sam atau Amerika selama kurang lebih 7 tahun. Masa SD atau Junior high schoolnya dihabiskan di sana. Papinya seorang arsitek jenius yang bekerja pada perusahaan kontraktor asing. Selaras namanya, kontraktor, ya berarti doyan mengontrak dimana-mana, dikontrak di sana sini. Tapi gajinya dollar bo..Mirip-mirip anak kuliahan yasng ngekos deh. Komunikasi keseharian mereka menganut billingual language. Bahasa Indonesia di mix dengan bahasa Inggris versi Amerika. American English languge dikombinasikan dengan Indonesian language. Semarak euy..

“Look at that! What time is it now? Nanti kamu oversleep lagi deh.

“Belum masuk midnite show juga, Mom.” Kilah Iqsan TWEJ. Padahal dia lagu sekuat tenaga menahan kantuknya. Menjaga image di depan Maminya.

“Nonton film kali, pakai midnight segala. Pintu studio satu sudah ditutup. Silahkan tidur. Haha.” Canda Maminya Iqsan TWEJ.”

“You must be joking, Mom.”

“He-e. Okey. Jangan terlalu capek.” Maminya kembali membelai rambut anaknya lalu mengecup jidatnya. Cup cup cup. “Let me know when you have finished doing your article, Son.”

“Sure. Of course Mom. With my pleasure. Don’t worry.”

Ketika Maminya hendak beranjak ke luar kamar. Tiba-tiba Iqsan TWEJ memanggil Maminya dengan nada manja. Persis rengekan remaja khas Amerika pada umumnya.

“What’s wrong, honey.” Maminya terhenti di depan pintu sambil berbalik. “Anything else? What can I do for you.”

“Would you please close the door when you go out.”

Maminya mengangguk pelan sambil tersenyum.

Di sebuah perkampungan, Faisol Kribo tampak juga kena penyakit ‘sibuk berat’juga. Naga-naganya lebih sibuk ketimbang Iqsan TWEJ. Ceritanya dia juga berniat menyumbang sesuatu demi kemeriahan majalah dinding sekolah. Bukannya sibuk mengetik, akan tetapi dia mencari sesuatu . Kasak kusuk nggak karuan. Betul sekali, Faisol lagi panik akibat kehilangan sebuah buku berjudul ‘ tips menjadi gitaris handal dengan menggunakan dua jari’, yang baru saja dibelinya di toko buku Gramedia sepulang sekolah lenyap entah kemana. Ibu dan adiknya terheran-heran melihat tingkah Faisol nan heboh kayak KPK sedang melakukan aksi geleldah di rumah koruptor. Sekarang rumah mereka keadaannya mirip kapal perang pecah. Berantakan gara-gara seonggok buku? Dari teras depan, ruang tamu, kamar, ruang makan sampai ke halaman belakang terlihat awut-awutan kayak benang sulaman kusut. Buku-buku pelajaran sekolah yang tak bersalah turut menjadi korban keganasan ‘nafsu’ Faisol Kribo. Semua jadi serba salah dan semrawut. Tidak ada bedanya dengan tampangnya saat itu.

“Fendiiii!!” Faisol Kribo memanggil adiknya dengan nada sopran. Tinggi sekali. Suaranya sudah hampir parau setelah sekian jam mengomel, mengedumel dan memaki-maki.

“Ada masalah, Kak Brur?” Sahut Fendi tenang.

“Brar, brur! Memang Broery Pesulima! Sudah mulai kurang ajar sama Kakak, ya? Kepalamu kecebur nanti. Baru tahu rasa.” Tangan Faisol menjewer pelan  telinga  adiknya dan menggiringnya ke sofa secara paksa. Fendi berteriak lebay.

“Ad-douuuuh! Bisa melar nanti kuping saya.”

“Biar melar sekalian mirip kue kuping gajah. Biar dimakan orang sekampung. Masa bodoh. Ayo, kamu lihat nggak buku gitarku?”

“Lepaskan dulu dong…”

“Ngomong dulu..”

“Bagaimana mau ngo…”

Akhirnya Faisol tidak tega juga. Dia melepaskan jewerannya. Fendi langsung manyun sembari memegang teliganya yang sudah kemerah-merahan. “Idih ..luka nih.”

“Pelan begitu. Ayo, sekarang sudah kakak lepasin. Mengaku saja kamu memang meminjamnya ya kan? Kakak perlu banget itu buku. Kakak lebih menghargai orang yang jujur.” Desak Faisol Kribo tak sabaran.

“Tidak boleh menuduh sembarangan dong. Mentang-mentang menjadi kakak mau seenaknya berkuasa dan menindas adiknya. Swear kok. Fendi berani sumpah palapa deh. Tidak pernah tahu dan melihat buku apa tadi…‘membuat sumbu kompor ya?”

“Tips menjadi gitaris handal!”

“Kamu itu kalau tiap ditanya selalu bilang tidak tahu. Sekali-kali tidak..tempe kek. Nggak kreatif banget. Padahal tadi kakak lihat kamu gencrang gencreng melulu.”

“Saya memang main gitar tadi.  Bukan mainin buku. Apalagi baca buku’ amit-amit. Mending baca komik Doraemon. Fendi kan sudah jago main gitarnya. Tidak perlu text book lagi. Please deh ah.”

“Aduuuh. Jadi siapa dong? Hantu wewe yang nyolong.” Tanya Faisol kesal. Rambut-rambutnya dikucek-kucek hingga berantakan. E-eh tiba-tiba keluarlah sebuah buku dari dalam rambutnya yang super kribo itu. Sekarang giliran Faisol yang malu terhadap Fendi.

“Itu apa. Dia sendiri yang ngumpetin di dalam rambut kribonya.” Faisol pasrah saja ketika bantal sofa mengenai jidatnya. Kalau saja tadi tepat mengenai rambutnya, bisa-bisa Ibunya repot bakal kehilangan bantal.

“Aneh ya. Kok bisa ada di dalam rambutku. Kayak film kartun.” Batin Faisol.

Faisol menyimpan bukunya di atas lemari. Akan tetapi keesokan harinya ketika dicari buku itu lenyap lagi. Faisol kembali mendatangi Fendi yang sedang nonton film kartun Tom and Jerry.

“Nggak kapok-kapok ya nuduh saya lagi.” Tangkis Fendi menutup kedua telinganya. Dia masih teringat peristiwa kemarin.

“Kakak tidak menuduh. Cuma pengen kerjasama  menangkap pencurinya..”Bisik Faisol. “Siapa tahu kamu melihatnya.”

“Coba tanya Kak Fedrosa. Tadi Fendi melihat dia sedang training doinya main gitar di ruang tamu. Siapa tahu buku kakak ada di sana.”

Tanpa dikomando, Faisol langsung menyongsong ruang tamu. Dia sudah gemes pengen melabrak kakanya yang ganjen itu. Dugaan Fendi tidak meleset. Benar saja, di sana Faisol menyaksikan kakaknya sedang kusyuk mengajari pacarnya cara memetik gitar dengan menggunakan 10 jari. Kak Fedrosa dengan hati-hati menuntun jemari halus kekasihnya agar gapek memetik tali senar gitar. Buku yang tengah di cari oleh Faisol tergeletak di atas meja. Ternyata buku Faisol dijadikan panduan. Faisol merebut buku seenaknya. “Misi ya mbak Saya mau ambil buku.” Setelah itu langsung kabur. Kedua sejoli itu terkejut. Kemudian mata mereka sejenak saling berpandangan. Fedrosa hanya bisa mingkem.Melongo.

Sebentar kemudian Faisol Kribo sudah berada di depan meja belajarnya. Duduk manis di kursinya yang bisa diputa-putar 180 derajat. Oke, siap untuk mulai mengetik.

Beberapa anak yang kebetulan diserahi tugas oleh Iqsan TWEJ mulai bersibuk ria. Kasak kusuk kusuk kasak. Pada waktu yang bersamaan pada lokasi yang berbeda pula, terhampar wajah-wajah macam Iwan Mukejenuh, Yudo Gempul, Arleni dan Eveltinova menyibukkan diri juga di rumah mereka masing-masing.

Hari perlombaan kreasi majalah dinding tinggal beberapa hari lagi. Mereka yang ikut terlibat tidak mau membuang waktu lagi. Mereka tidak hanya ingin sekedar mengejar hadiah akan tetapi menyabet gelar ‘king of school bulletin board of the year’ itu lebih penting dan sangat krusial. Dipastikan dapat mendongkrak popularitas kelas mereka di mata kepala sekolah. Walaupun rata-rata anak kelas 1.3 kebanyakan badung tapi mereka bertekad untuk tampil serius. Masing-masing kelas punya kans untuk menjadi pemenang. Ini gelar lumayan pretisius. Disetiap rapat ketua kelas dan wali kelas tidak henti-hentinya berpesan agar serius dan tidak membuang kesempatan emas ini. Bukan saja berusaha sekuat tenaga, menjaga kekompakan dan keseriusan juga belajar memikul tanggungjawab.

Tekya baru saja menyelesaikan selembar karikatur bertemakan kritik tentang taman sekolahan yang mulai tandus, kering, tanpa rerumputan hijau. Selembar lagi sebuah intermezo berupa percakapan  humor, terakhir sebuah puisi gaya bebas. Mungkin menganut azas kebebasan atau kebablasan? Bebas di sini artinya asal-asalan tapi bermakna. Lho?! Penasaran? Coba kita intip yuk bait demi bait :

CANTIK NATURAL

Rambut hitam tanpa peacock (pengecat rambut)

Mata lentik tanpa eye shadow

Bibir merah tanpa sapuan lipstik

Belahan dagu bukan make over

Engkau impian jejaka

Lahir di dusun kecil damai

Wajah tak tersentuh kosmetika

Apalagi bedah plastik bikin ngeri

Di kota

Para dara berhasrat elok

Merasa muka penyok

Muka malah dipermak

Apadaya tambah rusak

Kondisimu orisinil

Fisikmu full pressed body

Bebas dempul

Sungguh alami

Tak pula boros

Oh, cantikmu natural

Idaman setiap insan

Sepertinya Tekya ingin tampil prima. Namanya juga pria punya selera kayak jargon ‘rokok’. Tekya tak ingin muluk-muluk Cuma berharap karyanya dapat mengispirasi orang. Satu lagi, mudah-mudahan para pelajar cewek khusus yang bertampang cakep dan imut-imut menyukai karyanya. Siapa tahu setelah perlombaan mereka akan berebutan meminta tanda tangan dan kecupan ringan. Hihihi. It’s my lucky day, harapnya.

Tekya merasa dia pantas mendapatkan semua itu. Dia ogah rugi. Dia rela menjebol duit tabungannya guna membeli kerrta kwarto satu rem, lima buah spidol berwarna, pulpen rapido. Setelah coba dihitung-hitung pakai kalkulator milik Papanya ternyata biayanya cukup fantastis! Sebanding dengan uang jajannya satu minggu. Maka, konsekwensinya paling tidak BEP (Break Even Point). Istilahnya balik bandar. Berkorban untuk moment yang seperti ini bernilai samar-samar kelihatannya kayak orang bodoh. Setiap sesuatu yang besar dimulai dari hal yang kecil. Setipa kesuksesan diawali banyak kegagalan. Lebih baik berbuat sesuatu dari pada hanya berdiam diri bermimpi tapi hanya memendamnya. Suatu saat akan menampakkan hasilnya. Jika diiringi dengan kesabaran. Ada malah yang ekstem, Biarlah  kehilangan masa mudamu daripada kehilangan masa depanmu. Ayo, pilih mana?

Satu hari menjelang perlombaan digelar. Ketika semua anak  kelas lain sudah pulang ke rumah masing-masing mengejar sepiring nasi, kelas 1.3 malah tampil beda. Mereka kelihatan kompak sekali menempeli kertas-kertas pada sebuah kotak kayu berjendelakan kaca. Anak-anak cewek lagi serius menghiasi setiap sudut kota segi empat itu dengan pernak-pernik yang unik, ditambahi mani-manik berwarna ngejreng. Tampang-tampang mereka serius sekali. Bekerja pada porsinya.

Ya, hari telah beranjak siang. Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Terlihat guru-guru dan karyawan di bagian administrasi sekolah mulai sibuk untuk makan siang. Beberapa guru ada yang membawa bekal makan siang dari rumah. Sedangkan yang lain menuju warung makan atau restoran.

“Seandainya saja boleh dikasih janur kuning, akan lebih cantik lagi.” Heri berkomentar.

“Hus! Nanti dikirain ada kawinan. Terus nanti pada ngantre makan prasmanan bisa berabe. Hehehe.”

“Kamu sudah kepingin kawin ya Her? Kamu musti sabar. SMA saja baru kelar dua tahun lagi. Belum kuliah makan waktu lima tahunan kalau lancar. Bayangin tujuh tahun, masih lama lho. “Agus Blepotan ikut nimbrung.

“Dia mau kawin muda kali.” Pancing Sri sembari merekatkan manik-manik pada kertas karton berwarna pink.

“Sudah Zoel kamu terima aja pinangan si Heri. “ Iqsan TWEJ yang sedari tadi diam akhirnya gatal juga pingin ngomong.

Heri mesem-mesem tertunduk malu.

“Hei, pak ketua kelas. Kapan kita makan siangnya nih? Masak kerja terus. Orang kuli bangunan saja sudah pada makan.” Tanya Yudo Gempul sembari membelai-belai perutnya Iwan Mukejenuh. Dia sudah bosan meraba perutnya sendiri.”

“Aku janji kalau sudah beres kita akan makan….di rumah masing-masing.” Mizal Bom Bom bersabda juga akhirnya.

Semua berteriak serempak. Woooo.

“Mizal bohong tuh. Teman-teman jangan kawatir hari ini kita akan makan siang di restoran Padang Sederhana. Iqsan yang traktir. Setujuuuu!!”

“Orang bodoh yang bilang tidak setuju. Lha wong ditraktir.” Teriak Pito loncat kegirangan. Kayaknya dia lagi krisis makan siang jadi paling gembira banget di antara anak-anak lain.

Semua memuji-muji Iqsan TWEJ setinggi langit.

Keesokan harinya. Tanpa terasa hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Semua kelas menyambut  perlombaan dengan penuh semangat dan sangat antusias. Apakah karena mereka ingin menyabet gelar atau hadiah bergengsi? Atau dengan niat hanya ingin berpartispasi saja. Ikhlas jika tidak menang juga tidak apa-apa.

Perlombaan digelar sampai sore. Para juri terdiri dari dewan guru dan Kepala Sekolah. Keputusan juri tidak boleh di ganggu dan digugat. Mereka langsung terjun ke lapangan menyaksikan majalah dinding hasil karya anak didiknya. Wali kelas masing-masing hanya boleh menilai kelas lain. Jadi dilarang menilai kelas asuhannya sendiri. Para juri itu mendatangi majalah dinding yang diletakkan secara berjejer tepat di lobby sekolah, kemudian mengamati dan memberikan penilaian secara objektif. Kriteria penilain cukup berat dan ketat. Yaitu selain menilai kontennya berbobot atau tidak, hasdil saduran atau asli, copy paste atau dari ide murni mereka sendiri.  Misalnya untuk artikel tertentu memerlukan suryey lokasi. Atau ada sumber lain yang menjadi bahan inspirasi namun dikembangkan lagi dengan ide-ide serta disajikan dengan kalimat sendiri.

Tampilan dari majalah dinding itu sendiri cukup mempunyai nilai yang besar sebagai faktor penunjang dan dapat mendongkrak nilai. Panitia lomba juga kelihatan sok sibuk. Mondar-mandir…seperti kita analogikan sebuah kapal mainan yang terbuat dari kaleng yang diletakkan di dalam baskom, ketika mesinnya dinyalakan, kapal itu akan bergerak maju, berjalan seakan berlayar, akan tetap jalannya hanya terbatas mengitari baskom. Ketika kapal itu  membentur dinding baskom lalu membal balik lagi ke arah semula.

Diam-diam santer terdengar banyak pujian mengalir untuk keelokan majalah dinding kelas 1.3. Terbukti dari survey on the spot, setiap jam istirahat banyak anak-anak berkumpul di lokasi mereka. Walaupun tak sampai berbondong-bondong tapi lumayan juga. Persis orang berkerumun melihat poster film di bioskop. Terlihat dari kepuasan yang terpancar dari wajah para pengnjung. Kadang mereka mengangguk-angguk. Kadang mereka berbisik-bisik. Kadang mereka juga tertawa cekikikan. Bahkan ada yang pengunjung yang saat datang sedang lapar berat ketika melihat majalah dinding kelas 1.3 langsung mendadak kenyang. Dikirain isinya menu restoran apa? Namanya juga barang baru atau ‘new entry’ jadi wajar saja.

Saat detik-detik pembacaan pengumuman pemenang oleh dewan juru semua yang hadir mewakili kelas masing-masing menanti berdebar-debur, cemas dan harap-harap tegang. Bak menanti hasil miss universe saja.

“Pemenang Perlombaan Katagori juara umum untuk ‘king of school bulletin board of the year’ adalah…KELAS SATU TIGAAA.”

Meledaklah tepuk tangan dari para penonton. Lobby berubah gegap gempita. Riuh. Rasa Gembira dan rasa haru bercampur aduk menjadi satu. Langit serasa kerlap kerlip. Bumi goncang gancing. Begitu gambaran keadaan emosional kelas 1.3.

Tak pelak, kebahagiaan sedang menghinggapi kelas 1.3 pagi itu. Jerih payah mereka selama  ini terbayar lunas. Mereka berlonjak kegirangan meluapkan kegembiraan. Tak disangka kelas yang selama ini berpredikat jelek ternyata mampu juga menorehkan prestasi. Dimana ada kemauan pasti ada jalan. Tak terkecuali para guru,mereka berdecak kagum. Awalnya kelas 1.3 dianggap sebagai kuda hitam atau sebagai penggembira.

Hari itu menjadi spesial buat Bu Juminten, selalu wali kelas, juga turut puas dengan hasil yang diperoleh, sehingga beliau banyak mendapat ucapan selamat baik dari rekan maupun dari murid-murid lain. Mizal berdiri mematung di pojokan, matanya tampak berkaca-kaca, ketika hendak menyeka cucuran keringatnya, sekonyong-konyong malah ditarik oleh teman-temannya, dibopong lalu dilemparkan ke udara sampai beberapa kali. Mereka berterika “Horeee horeee..”

“Alhamdulillah..” Akhirnya keluar juga suara teriakan balasan dari mulut Mizal Bom-Bom. Mari kita rayakan kemenangan ini dengan…Belum sempat ngomong Mizal Bom Bom dilemparkan kembali oleh temen-temennya ke udara tingi-tinggi. Dia sempat berteriak histeris, takut kalau-kalau nyangsang di langit-langit sekolah. Hihihik. Jantung serasa mau copot. Mukanya langsung pucat.

“Asiik. Dirayakan dimana kemenangan kita Bom?” Tanya Ferry kepada Mizal Bom Bom setelah aksi pelemparan ke udara selesai.

“Dirayakan dirumah masing-masinglah…”Jawab Mizal ketus. “Kamu hadir pas menang doang. Pas lagi sibuk kamu ada dimana Fer Fer?”

“Sorry. Aku merasa malu dan bersalah Bom. Aku tidak mengira kelas kita akan jadi juaranya. Makanya…”

“Habis kamu terlalu underestimate dan pesimis tentang apa saja. Kamu mengira kelas kita itu terlalu underground banget apa? Kamu salah besar Fer.”

“Jangan terlalu jauh menuduh saya seperti itu. Ingat Bom, kita sudah berteman sejak dari SMP. Jangan sampai persoalan sepele ini.”

“Fer..jangan terlalu menyepelekan sesuatu. Ujung-ujungnya kamu akan susah sendiri. Semua masalah itu tergantung bagaiman kita menyikapinya. Semua problema dalam hidup ini pasti ada solusinya. Ada way outnya. Percayalah. Yang penting kita jangan mudah untuk menyerah. Never give up.”

“Baik Bom. Saya mengaku salah. Aku bodoh sekali, sudah mengecewakanmu dan teman sekelas. Sekali lagi maafkan ya.”

“Okey. Kamu sedikit beruntung. Ungtungnya belum semua teman kita yang mengetahui pembelotanmu ini.  Fer..Mengapa Kamu tidak pede dengan prestasi kelasmu sendiri? Mengapa Kamu malah sibuk bergabung dan membantu kelas lain? Itu namanya tidak solider. Aku sudah menduga apa penyebabnya. Apalagi kalau bukan karena pacarmu ada di sana ya. Bukan begitu? Kamu tidak ada bedanya dengan penghianat Fer. Saat kami membutuhkan tenagamu kamu hilang. Lenyap secara tiba-tiba. Di saat kami menang kamu malah berteriak paling kencang. Hmm Lucu.”

“Maafkan Zal. Saat itu Aku seperti menghadapi sebuah dilema. Aku rasa kalau Kau berada di posisiku tentu akan merasa kesulitan juga. Sulit sekali menetukan pilihan. Percayalah Zal…Badanku memang berat di kelas pacarku tapi hati tetap tertambat di satu tiga. Kamu percaya kan Zal?”

“Gombal.”

Ferry terdiam. Hatinya tersentak juga. Mizal Bom Bom meninggalkannya begitu saja…Dalam kekalutan. Sebenarnya dalam hati yang paling dalam, kesalahan Ferry sudah dia maafkan. Hanya saja Mizal sengaja menggantungkan masalah itu demi mengetes sampai diamana kadar rasa penyesalannya saja.

Dua hari setelah hari kebahagiaan dan hari kekecewaan itu.

Bel istirahat pertama dimulai.

“Kok Tekya tidak kelihatan ya, Gus?” Tanya Yudo Gempul kepada Agus Blepotan. Mereka berdua sedang duduk-duduk di sebuah taman yang asri di pekarangan sekolahani. Dihadapannya terbentang sebuah kolam yang dipenuhi dengan ikan mas koki. Ikan-ikan itu bergelut dan berenang kesana kemari. Mulutnya membuka menutup mirip di jalur jakarta ke arah puncak.

“Tadi perasaan ada deh. Pas bel berbunyi Dia sudah kabur duluan. Mungkin doi lapar berat kayaknya.”

“Aneh, jarang ikut kita-kita ngumpul tuh anak. Kemana ya?”

“Kenapa mencari dia Yud? Kamu mau menagih hutang?”

“Ah nggak. Kalau nggak ada dia sepi. Nggak ada bahan ledekan. Hehehe.

“Dasar kamu. Eh Aku punya permen karet rasa pare mau?” Agus mengeluarkan sebungkus permen karet.

“Terima kasih Gus. Tidak usah, pahit. Lidahku nggak terbiasa.”

“Ya udah.”

Di sebuah taman yang lain, Tekya sedang duduk termangu sendirian di bawah rindangnya pohon akasia. Posisi duduknya nggak level sekali, yaitu mirip orang nongkrong di kloset untuk buang hajat. Tangan kanannya mencorat coret sesuatu di atas tanah. Ketika semua anak masih tenggelam dalam kegembiraan. Berkumpul dan bercengkrama bersama. Di saat itu pula Tekya malah mengasingkan diri dari kerumunan. Entah kesambet apa?

“Walaupun Aku tidak mengerti soal gambar menggambar…”Terdengar seseorang berbicara tepat di samping Tekya. Rupanya Denny Van Skuter, temannya yang berbeda kelas. “Tapi kalau boleh kutebak itu pasti gambar mata uang dollar. Benar tidak?”

Tak disangka Denny sedari tadi mengamati corat coretan Tekya di atas tanah merah.

Suasana hening sejenak. Kedua mata Tekya melirik ke samping. Dipandangnya mulai dari ujung sepatu merek Converse sampai ujung rambut kepirang-pirangan. Tekya  mendongakkan kepalanya. Tekya buru-buru menyipitkan matanya. Silau terhalang oleh sinar matahari siang itu.

“Kau rupanya Den..” Ucap Tekya pelan sambil tersenyum hambar. “ Aku pun bingung ini gambar apa Den? Aku hanya sedang menuruti kata hatiku saja. Tadi kamu tebak gambarku ini dollar ya? Oh ya. Bisa jadi ini mata uang dollar. Semoga menjadi kenyataan.”

“Amin. Tumben menyendiri kayak di film India saja lagakmu Tekya.” Denny Van Skuter pun ikut  duduk mensejajari duduknya Tekya.

“Lagi iseng saja.”

“Majalah dinding dari kelas kamu oke juga. Apalagi kartiktur buatanmu bagus banget.”

“Ah memuji atau meledek nih.”

“Serius. Ini pujian dariku. Sudah kuduga ini pasti gambarnya kamu. Siapa lagi. Sejak di SMP kamu sudah tergila-gila dengan pelajaran menggambar kan? Puisimu juga keren. Sarat dengan makna. Pokoknya kapan-kapan kamu harus mengajariku Tek. Sekali lagi selamat ya Tekya. “Denny VS menjulurkan kelima jarinya dan disambut hangat oleh Tekya. “Give me five Den      .”

“Makasih ya Den. Mading kelas kamu juga bagus kok. Hanya belum beruntung saja.”

“Oh ya Tekya. Sudah hampir memasuki bulan kedua kita bersekolah disini. Bayangkan baru sekarang Aku dapat bertemu denganmu. Serasa menemukan anak hilang. Tahu nggak? Busyet! Kemana saja, sibuk?”

“Alaaahh. Deni Deni. Kamu saja yang kuper. Tidak pernah keluar-keluar dari kelas. Mendekam melulu. Kayak ayam lagi bertelor. Kalau semedi di gunung sono bukan di kelas Den. Sekali-kali jajan di kantin dong. Memang kamu bawa bekal dari rumah? Dasar anak mama. Hehehe…”

“Siapa bilang. Orang Aku sudah menjajal semua pekarangan sekolah ini. Kantin mana yang belum Aku jelajahi. Pantes nggak pernah ketemu Tekya. Saya biasa jajan di kantin seberang sekolah. Makanannya bervariasi. Makan Pempek melulu juga ada bosannya.”

“Kok bisa Den? Kamu pasti manjat pagar sekolah ya? Setahuku pintu gerbang di kunci dan dijaga ketat oleh Satpam. Bukan begitu?”

“Pinter pinter kita saja. Bilang saja izin ada keperluan. Kadang-kadang pas istirahat suka dibuka. Tergantung sikonlah. Kadang juga memanjat pagar di belakang sekolah.  Kebetulan besi-besinya sudah pada keropos. Menyisakan lubang yang bisa dimasuki. Resikonya berat kalau kepergok guru. Bisa dijemur di lapangan basket. Ya sekali-sekali mencari suasana baru.”

“Ternyata kamu nekat juga. Beda banget chasing dengan kelakuan. Muka penipu. Huahua.”

“Daripada dibilang nggak kompak oleh temen sekelasku. “

“Padahal kekompakan bukan berarti  kita harus melanggar aturan dan menantang bahaya.”

“Sudah deh kotbahnya. Kita ke kantin luar yuuk. Aku sudah niat mau mentraktir kamu. Hitung-hitung mau menebus kesalahanku tempo hari. Sorry banget. Aku diajak bareng sama supir Papa. Eh sampai di sekolah baru ingat ada janji sama kamu. Bukan disengaja lho?!’

“Oohh itu. Ya ya.” Tekya mengangguk-angguk tanda mengerti.

Lantas Denny menarik paksa lengan Tekya. Mereka bergegas ke kantin di seberang sekolah. Tentulah setelah meminta izin dengan penjaga pintu gerbang dengan alasan untuk pergi ke tukang potokopi. “Buruan Den. Waktu tersisa 15 menit lagi.”

BERSAMBUNG KE SERI 4

BOXING TIME-ULAH MIKE TYSON DAN LARRY HOLMES?

SERIAL ‘MASA SMA, MASA BODO?’ ADA BIOSKOP DI…SEMPIT

 

Oleh : Deddy Azwar

Janji adalah hutang. Hutang identik dengan uang. Mengumbar janji berarti mengumbar hutang? Wah! Berarti orang kaya dong yang doyan memberikan pinjaman ke orang-orang. Orangnya ini Istilah kerennya dinamakan debitur. Sedangkan orang mengingkari janji tergolong orang yang wanprestasi.  Bertindak Lalai dan tidak menepati janji. Lalai dalam membayar hutang. Tidak bertanggungjawab dan tidak terpuji. Teruss…jadi panjang deh definisinya. Tambah bingung kan? Sudahlah kita tinggalkan istilah yang membingungkan ini. Lebih baik kita lanjutkan kisah sentimental ini.

Pokoknya hari hari Tekya dihiasi dan dimeriahkan oleh janji-janji.  Belum terdeteksi apakah semua itu janji manis, pahit, asli atau cendrung palsu. Jangan merembet kemana-mana dulu ya.  Bahkan jauh sekali kolerasinya dengan film holywood pernah tayang di negeri kita. Film bertajuk ‘Jumanji’ yang dibintangi oleh aktor kocak lagi kawakan ‘nano nano’ Andy Williams.

Manusia  ideal adalah yang selalu berusaha untuk menepati janji  yang dibuatnya sendiri. Sampai disini kita sepakat kan? Apabila dilanggar mungkin dapat digolongkan manusia ‘idiot’.  Tekya selalu kemakan janji-janji manis konco-konconya. Entahlah, yang pasti tampangnya yang lugu dan cendrung polos itu sering menjadi bumerang. Padahal faktanya di lapangan tampang si Tekya bertolak belakang sama tabiatnya yang suka usil. Hanya saja suka ketutup sama chasingnya yang ‘baby face’. Masih ingatkan cerita sebelumnya? Di awal dikisahkan sohibnya semasa SMP bernama Denny berjanji dengan Tekya untuk pergi bareng besok pagi ke sekolah SMA mereka yang baru. Ceritanya kebetulan mereka baru lulus SMP. Tekya mendatangi rumah Denny sesuai janji yang mereka rancang via telepon semalam ba’da Isya.

Ketika Tekya bangun pagi pada keesokan harinya, ‘aroma SMA’ sudah tercium bersama hembusan angin. Suasana pagi yang segar itu mendongkrak semangat dan jiwanya Tekya. Tentunya dengan diimbangi pikiran nan positif, namun ujungnya berakhir dengan kekecewaan lantaran Denny sudah pergi duluan di antar sopir Ayahnya. Padahal Tekya sangat berharap bisa nebeng. Perasaan Tekya dia tidak terlambat lambat amat kok. Apa perlu Denny diboikot lantaran ingkar janji?, pikirnya. Dia yang berjanji dia pula yang mengingkari. Mirip lirik lagu lawas Tante Titik Puspa. Udah jangan pura-pura lupa deh…

Terlambat atau delay atau apapun namanya tidak hanya kita dijumpai pada jadwal penerbangan saja, akan tetapi pada saat rapat di kantor biasanya juga suka molor sekian menit,  itu mah hal biasa. Orang berpacaran kalau ngedate pas malam minggu juga suka molor alias ngaret. Mungkin untuk kalangan ibu-ibu juga dihinggapi ‘jam karet’ ketika mengadakan  arisan atau suka menganggap enteng bila berjanji dengan mas-mas  tukang kredit panci.

Di negeri tercinta ini sudah lama mengenal budaya jam karet di kalangan masyarakat kita. Berbagai macam alasan menjadi penyebabnya. Terlebih lagi yang tinggal di perkotaan khususnya di kota besar seperti Jakarta. Tiada hari tanpa kemacetan di jalan raya. Kemacetan acapkali dijadikan sebagai alasan senjata pamungkas ketiam seseorang terlambat.  Hal ini kelihatan sepele bagi sebagian orang. Akan tetapi jika dibiarkan akan menjadi ‘bom atom’ yang sewaktu-waktu akan mengoyak seluruh isi prilaku dan membuyarkan moral kita yang tadinya ‘mungkin’ baik.

Cobalah kita tengok negara-negara yang sudah maju baik di Eropa maupun Asia. Tidak perlu jauh dalam mencari contoh. Ambil contoh orang Jepang. Mengapa Jepang? Mereka adalah pekerja keras dan bertanggungjawab pada profesinya.  Profesional sekali. Kita layak meniru orang Jepang. Sebagian besar memegang tangguh sebuah janji. Apalagi untuk melanggar janji. Rata-rata selain rajin juga berjiwa ksatria. Pada masa kekaisaran Jepang, para ksatria samurai akan merasa malu dan hina sekali apabila mereka gagal dalam melakukan sebuah pekerjaan, maka mereka tidak segan segan untuk duduk bersimpuh dan melakukan harakiri dengan pedangnya. Di masa kini, di dalam pemerintahannya jika seorang pejabat yang melakukannya maka dia akan secara legowo berhenti dari pekerjannya serta secara berani dan ihklas menerima hukuman.  On time is an important. Bukan better late than never. Sekali saja mereka mengingkari akan berpengaruh kepada figur dan bisnis mereka. Sekali lancung ujian orang tidak akan percaya pada kita lagi seumur hidup. Mengerikan bukan? Bayangkan anda dijauhkan teman-teman bahkan lingkungan gara-gara menyepelekan sebuah janji. Pikirkanlah. Intinya mulai sekarang mari menepati janji.

Ternyata Tekya bersahabat dengan Komeng eh Koming ding! Koming ini temen sepermainannya dari kecil. Nama aslinya Aman Theng Kwan Ming. Dari namanya sudah ketahuan kalau dia asli dari Papua..Yah nggak lah. Koming adalah peranakan chinese. Mereka berteman sejak duduk di bangku SD sampai SMP. Hanya saja setamat SMP Koming lebih memilih sekolah swasta karena memang begitu kenyataannya.  Sedangkan Tekya terdampar di sekolah negeri.  Mereka bertetangga. Rumahnya hanya lima langkah dari rumah Tekya. Saking dekatnya. Im coming home!

Di kampung Kemang Manis itu Koming dan keluarga termasuk sudah sepuh. Konon, menurut cerita Encik Toke, berprofesi sebagai tukang jahit yang mangkal persis di depan rumah Tekya ini, keluarga Papa dan Mamanya Koming sudah menetap sejak zaman Jepang. Dulu, kampung Kemang Manis masih berupa hutan belantara. Istilah kata tempat jin buang anak. Serem. Selain rawan binatang buas masih bebas berkeliaran juga dihuni sekelompok makhluk halus dan sebangsanya. Bayangkan saja zaman itu masih belum tersentuh peradaban. Mamanya sering sekali melihat sejenis penampakan mahkluk asral mondar mandir. Bukan hanya keluar di malam hari bahkan di siang hari mereka pede dilihatin oleh manusia.

Menurut pengakuan Papanya Koming, mereka tidak begitu memperdulikan kehadiran mahkluk harus lagi. Lagian beda alam kenapa mesti takut? Saking sudah terbiasa mereka bagaikan layaknya ‘sahabat’. Asal tidak saling menganggu. Seorang tentara Jepang atau Nippon saja yang nongol itu sudah merupakan ‘hantu’ yang menakutkan mereka kala itu. Mereka terkenal kejam dan sadis. Apalagi kalau sudah melihat perempuan. Secara psikologis boleh dikatakan mereka ‘nyaris gila’ kebanyakan terkena tekanan jiwa. Terlebih lagi jika dari sayup sayup terdengar deruan pesawat tempur Jepang melintas di atas kampung. Mereka langsung menembaki dan memborbardir secara membabi buta. Desingan peluru bagaikan ‘musik rock’ yang menghibur. Bikin bulu bergidik.

Hari Sabtu. Jam weker berbentuk Micky Mouse milik Tekya telah menunjukkan pukul 18.30 WIB. Berarti malam minggu telah di ambang pintu. Tiba waktunya para kawula muda menyambut waktu janji apel malam minggu atau wakuncar (waktu kunjung pacar). Yang cowok siap-siap mengunjungi rumah ceweknya. Setelah itu mereka melanjutkan ke arah jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, pasar malam atau nonton bioskop midnite.

Di kamarnya yang cukup luas Tekya tampak merias diri. Spesial untuk malam ini dia sengaja memilih kemeja bermotif kotak kotak dan garis garis berwarna abu-abu gorilla bercorak bunga flamboyan? Untuk dalaman tubuhnya dibalut dengan t-shirt tebal bernuansa putih berbahan polyster bercorak sablonan. Fungsinya untuk menghindari udara malam yang dingin. Dari jauh Tekya kelihatan parlente namun ketika dilihat dari planet Pluto persis tukang sate. Ironis memang.

Ya, di malam minggu Tekya ada janji untuk nonton bioskop Cineplek yang letaknya di kota Palembang. Kebetulan lokasinya bersebelahan dengan pasar Cinde. Tadi sore Koming sudah wanti-wanti agar Tekya jangan sampai terlambat dan terlalu lama berdandan. Koming sudah memilih waktu pertunjukannya yang sudah ideal. Tidak terlalu kesorean dan tidak terlalu kemalaman. Kalau terlambat datang ke bioskop mereka terpaksa mengambil waktu berikutnya. Dan itu termasuk jam midnite.

“Malam nanti kamu nggak ada acara ngapel kan Tek? Mending kita ngelayap aja, gimana?” Ajak Koming kepada Tekya. Mereka ngobrol sambil jongkok di samping kandang ayam  milik Koming. Remaja satu ini memang mempunyai hobby yang agak aneh yaitu mengkoleksi berbagai jenis ayam kecuali ayam ‘kampus’. Ayam bangkok dan ayam kate menjadi prioritas yang terkurung di dalam kandang emasnya. Memang betulnya kandang bercat warna ke-emas-emasan. Biar terkesan kandang yang mewah.

“Emang kenapa? Sepertinya malam ini saya vakum janji nih.” Jawab Tekya.

“Kebetulan! Mending ikut ogud ya. Kita nonton ke bioskop. Filmnya yahud. Pemainnya megastarnya Asia. “

“Siapa? Andy Lau? Lo Lieh?” Tebak Tekya rada antusias.

“Salam semua. Jacky Chen Lung! Si dewa mabok di film ‘Drunken Master’.”

“Kirain Meggy Z. Hahaha…”

“Sembrono kamu. Tahunya bintang dangdut melulu. Upgrade dong otakmu Tek..” Koming mendorong jidat Tekya.

“Boleh. Saya suka gaya kungfunya.”

“Akting action beneran Tek. Sumpah. Jacky Chen untuk adegan laga tak pernah memakai jasa stuntman lho. Adegan berbahaya juga. Seperti meloncat dari gedung bertingkat. Jumping di atas atap bus. Bergelayutan di tempat tinggi hanya dengan seutas kain.”

“Sehelai kain kali. Seutas itu untuk tali Ming.”

“Oh iya. Sehelai kain. Sama temen ini perhitungan lu.”

“Tidak bisa kata yang salah mesti di ralat. Nanti nilai bahasa Indonesiamu jelek. Sebagai teman saya wajib membetulkan Ming.”

“Iya Pak Tua. Terima kasih nasehatnya.”

“Iya kakak. Ngomong-ngomong judulnya apa? Beranak dalam kubur ya?”

“Bukan. Dikejar babi ngepet. Huh! Nanyanya nggak pakai mikir ya. Mau ngajak ribut terus nih. Aku lupa judulnya Tekya. Habis pakai bahasa Inggris.”

”Kalau bahasa Mandarinnya kamu tahu?”

“Apalagi…”

“Wee. Parah. Aku tahu Judulnya ‘Siang siang maling seng silau mang’.”

“Sabar Ming kalau ngomong sama Tekya.” Tiba-tiba terdengar suara Apek yang nyambar dari balik pintu rumah. Kedua tangannya menggenggam stoples berisi ikan tempalo dan ikan pedang. Jadi, kalau pamannya tergila-gila sama ayam, si Apek sebagai keponakan penggemar berat ikan hias. Nggak apa-apa yang penting mereka akur. Usia mereka tidak begitu terpaut jauh.

“Tidak banyak yang tahu bahwa Jacky Chen memulai kariernya di industri perfilman sebagai pameran pengganti di film-filmnya Bruce Lee.” Lanjut Apek lagi.

“Oh ya?” Tanya Tekya. “Sepertinya Dia bakal diramalkan menjadi penerus Bruce Lee. Kabarnya filmya ‘Rumble in the Bronx’ menembus pasar Amerika dan mendongkrak namanya ke hoolywood. Pada tahun 1998 Jacky Chen menyutradarai film Who Am I? Di bawah bendera Golden Harvest yang terkenal memproduksi film film laga mandarin.”

“Bagaimana kesimpulannya setujukan kita nonton malam ini? Kamu tinggal bawa badan saja. Aku traktir deh. Mau kan? Mau dong?” Rayu Koming sedikit memaksa.

“Ayo. Siapa yang nolak kalau ditraktir. Rezeki kan tidak boleh ditolak. Pamali tahu!” ujar Tekya loncat kegirangan. Dengar punya dengar ternyata Koming dapat subsidi dari kakak perempuannya yang bernama Aling. Suaminya adalah pengusaha yang memiliki toko bakery.

Bagi Tekya, ajakan Koming pada situasi yang pas, di saat kantongnya sedang dilanda ‘kanker’ alias kantong kering.

Lima menit sebelum acara berita malamnya TVRI, Tekya sudah nongkrong di rumah Koming kembali. Kali ini tidak lagi disamping kandang ayam tapi di kandang Koming. Karena Tekya sudah terbiasa hilir mudik main ke kamarnya Koming sudah dianggap sebagai penjual bakpao langganan keluarga Koming. Hihi. Sampai di dalam kamar Tekya langsung menyergap tapedeck yang terletak di pojok. Dia langsung menyetel lagu pop milik Tommy Page. “A shouldher to cry on.” Si Poky anjing peliharaan Koming juga sudah hapal betul muka Tekya. Si Poky baru menyalak kencang jika ada orang asing.

“Oma. Koming ke mana?” Tanya Tekya ketika menemui Mamanya Koming yang sedang melipat baju hasil setrikaannya.

“Itu, lagi mandi. Rapi amat Tekya malam ini. Mau pergi jalan ya?” Mama Koming malah balik tanya.

“Biasa anak muda Oma.”

“Iya iya. Oma juga pernah muda juga. Zaman dulu penuh keterbatasan. Tidak seperti sekarang segalanya sudah tersedia. “

“Yee Oma curhat ya..”Ledek tekya. Oma berlalu sambil nyengir.

Mata Tekya menatap semua sudut kamar. Kamar seluas 3 x 3 meter itu Cuma dihuni oleh Koming sendirian. Tekya agak mengiri. Karena sampai saat ini dia masih tidur satu kamar sama adik-adiknya Evan dan Cikal. Huh, malu banget deh. Apalagi mereka kalau tidur kadang mendengkur serta tidak stabil. Suka transmigran kemana mana. Malah kadang ada yang nemplok di atas lemari! Entah lagi bermimpi apa? Permohonannya agar dibuatkan kamar sendiri selalu ditolak halus oelh sang Mama. Mamanya selalu saja mempunyai segudang alasan, belum punya duitlah, tunggu ada rezeki nomploklah, masih bulan tualah, masih belum gajian level direktulah, tunggu ada sayembara berhadiah kamarlah.

Dindingnya dipenuhi poster-poster bintang mandarin. Coba tebak? Ada aktor film Andy Lau the Hua, U Chi lung,  Chang Min, Aman Chou Youn Fat, ada penyanyi Arron Kwok, Leon Lai, Wang Chie. Dan di balik pintu terpampang poster unik. Poster editan Pak Tile adu panco sama Herman Ngantuk mirip Silvester Stallone di film ‘Over The Top’. Ciamik!

Poster poster keren itu pernah diprotes Mamanya karena bikin suasana kamar jadi sempit dan mirip iklan bioskop. Mamanya merayu Koming untuk mencopot semuanya. Tapi ancaman Koming untuk mogok makan pangsit dan bakpao membuat Mamanya mengendurkan urat saraf. Koming memang anak bontot yang paling disayang. Karena dia masih peduli dan suka membantu Mamanya yang sudah tua. Sedangkan Cici dan Kokonya yang lain pada cuwek. Terutama yang tinggalnya tidak satu kampung.

“Sudah lama nunggunya?” Tanya Koming sambil berhanduk ria.

“Wah sudah telat nih. Sembilan bulan lewat seminggu. Kambing kambing. Kirain tadi kamu sudah siap. Ini mandi saja belum ternyata.” Omel Tekya sembari mengacak kaset-kaset box yang menempel di dinding. Tekya mencari kaset yang dibeli Koming kemaren. Kaset Marah Karma eh salah Mariah Carey ding yang bertitel ‘Hero’.

“Weei…jangan diacak-acak. Orang sduah capek dirapiin.” Protes Koming sambil melempar handuk ke muka Tekya. Untung Koming sudah berbusana. Kalau tidak bisa kena sanksi pornografi. Tekya balas dengan melempar bantal guling ke arah Koming. Koming mencoba mengelak. Bantal mendarat mulus di jidatnya.

“Aduh! Jerawatnya pecah!” Pekik Koming lebay seraya meraba pantatnya yang tepos kayak termos.

“Sontoloyo dipelihara. Jerawat itu adanya di muka bukan di pantat. Nah kalau bisul baru adanya di muka.”

Mereka akhirnya cabut juga. Ternyata di tengah jalan Koming mengatakan ingin mampir ke rumah Jono si professor blo’on yang tinggal di kampung sebelah. Namanya kampung ‘sungai hitam’.

“Kirain kita nonton berdua saja Ming? Jono mau ikut juga?”

“Masak berdua saja? Kayak orang pacaran dong.”

“Kalau begini kita bisa nonton yang midnite Koming.”

“Sudahlah kamu ikut saja. Nanti juga tahu sendiri.”

Tekya manut saja. Namanya orang ditraktir.

“Gimana Jon sudah siap semuanya?” Tanya Koming kepada Jono ketika tiba di depan pintu rumah Jono.

“Beres. Ayo masuk. Sudah kusulap kamarku menjadi bioskop.”

“Cakep.” Puji Koming.

“Sulap? Menjadi bioskop?” Tanya Tekya terheran-heran. Sepertinya perasaannya tidak enak. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres.

“Iya Tekya mari masuk. Kamu jangan tercengang ya kalau sudah di dalam kamarku?” Ajak Jono bersemangat.

Koming dari tadi hanya mesem-mesem. Seperti menyembunyikan sesuatu rahasia. Terlebih saat melihat wajah Tekya yang penuh kebingungan.

Setelah masuk ke kamar Jono baru semuanya terkuak. Ternyata si Jono yang berjulukan professor blo’on itu hendak memamerkan home theathernya toh. Tekya mangut-manggut.

“Suprise!!” teriak Koming tanpa rasa bersalah. Koming membentangkan tangannya lebar-lebar. Dihadapan mereka tersaji sebuah televisi 21 inch, seperangkat VCD dan satu set home teahter.

Tekya membelalakkan matanya. Bukan karena takjub, akan tetapi kesal karena Koming berhasil mengelebuinya. Bioskop di dalam kamar sempit!

“Sangat tidak lucu…Sial juga kamu Ming. Aku sudah bayangin bakal duduk di gedung bioskop kembar di Cineplex dekat Cinde tahu nggak? Ternyata kita Cuma menonton video home teathre di kamarnya Jono. Kecurigaanku di awal menjadi kenyataan. Pantes tumben-tumbenan kamu kepingin nraktir. Tega kamu Ming sama Akyu!” Tekya mencak-mencak sembari mengacak-ngacak rambut Koming yang sudah diolesi styling foam.

“Maaf ya Tekya. Aku hanya pengen ditemenin ke rumah Jono. Kamu kan tahu sendiri jalan menuju ke rumahnya harus melewati komplek kuburan cina.”

“ Tiada maaf bagimu.!”

Tekya lalu kejar-kejaran dengan Koming. Tinggal Jono sekarang yang bengong. Sebentar lagi kamar Jono sekana-akan berguncang-guncang.

Setelah capek kejar-kejaran. Tekya dan Koming tersender di samping ranjang Jono. Terntunduk lesu dan lemes…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Menurut teman-teman dalam hal ini apakah Koming menepati janjinya nggak?

CERMIS (GHOST STORY) = HANTU PENUNGGU LANTAI LIMA BERTERIAK..”KOSONGKAN LANTAI INI JIKA…”

Terinspirasi dari kisah nyata ini saya dapatkan waktu sedang jalan-jalan ke Bandung. Tempat dan sumber informasinya saya rahasiakan.

Oleh : Deddy Azwar

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Sudah 2 bulan ini Neneng selalu pulang malam terus. Malah sudah minggu kemaren malah tidak pulang sama sekali alias ‘ngotel’ (nginap di hotel kantor). Di lantai lima itulah menjadi ajang penginapan mereka untuk sementara. Untungnya kantornya berbentuk gedung bukan villa.. jadi rada-rada mirip hotel dikit. Gara-gara target pekerjaan tidak tercapai, maka dari itu semua diwajibkan lembur.  Tanpa memandang pria atau wanita.

Sejatinya data yang diminta kantor pusat harus sudah beres pada bulan Oktober lalu, namun apa daya harus molor sampai mau tutup tahun masih juga belon kelar. Padahal segala daya upaya dan tenaga sudah dikerahkan. Penambahan orang ke dalam tim juga sudah dipenuhi. Ternyata masih tidak terkejar juga. Setelah diselidiki ternyata sistem yang menjadi momok persoalan. Sistem yang semula diharapkan bisa bekerja dan membantu lebih cepat malah loyo. Sering ngadat. Belum lagi  kesulitan dalam menghubungi  kantor vendor. Alhasil terpaksa Neneng dan tim menyambangi kantornya di lokasi. Eeh setelah sampai di sana mereka disambut dengan muka tidak ramah dan dituduh dengan berbagai kesalahan yang bermacam-macam. Seperti…tidak mengoperasikan sistem tidak sesuai prosedur kek, sistemnya sudah tidak layak lagi dan mesti diupgrade kek, inputnya jangan keroyokan kek dan lain sebagainya.

Pemimpin pusat bahkan sudah mengultimatum kantor cabang tempat Neneng bekerja, Jikalau masih molor lagi semua tanpa terkecuali di skorsing. Asik dong kerjanya libur. Libur? Gajinyapun libur juga toh? Kesimpulannya…Apapun yang terjadi. Walau badai menghadang kafilah tetap berjalan. Semangat kerja dan kekompakan tim kudu ditingkatkan dan dijaga terus biar…tidak ketiduran..Nah lho!?

“Aduh..sampai kapan ya kita harus begini terus?” Teriak batin Neneng sambil dengan muka merengut dan bersungut-sungut. Dia sudah mulai merasa gerah dan bosan. Memang sih, rasa capeknya baru terasa ketika sampai di rumah. Belum lagi harus menyelesaikan tugas-tugas di rumah sebagai bentuk kewajiban selaku istri dan ibu rumah tangga. Rasa capeknya makin sampai ke ubun-ubun saat melihat piring-piring kotor bergelimpangan karena belum ‘mandi’. Pakaian-paian kotor juga telah menggunung karena si Bibik cuti.

“Neng..gimana laporan kita yang seribu lembar sudah dikirim ke pusat?” Tanya Pak Asep Surasep tiba-tiba bikin sontak dan kaget Neneng. Bagaimana tidak, sedang asik menikmati hidangan malam spaghety hangat. Gulungan-gulungan spaghety yang hendak dimasukkan kemulut nyaris keluar lagi. Daripada keselek Neneng buru-buru minum lemon tea. Setelah itu baru dia mengalihkan pandangannya ke Pak Asep.

“Eh Bapak bikin saya kaget nih.”

“Maaf saya bikin kaget situ.”

“Beres Pak.”

“Apanya yang beres?”

“Laporan yang Bapak tanyakan tadi kan?”

“Oh iya. Syukurlah kalau beres. Artinya malam ini kita bisa pulang cepat kan? Badan saya sudah pegal-pegal rasanya. Kepala saya sampai berasap. Kepingin cepat-cepat liburan”

Neneng langsung berdiri tegap setengah menginjit. Dia amati kepala sang bos, namun tidak dia dapatkan asap mengepul.

“Lho, mengapa kamu melihat rambut saya sampai begitu amat?” Tanya Pak Asep terheran-heran.

“Siapa bilang rambut Bapak berasap. Menurut saya teh rambut tidak berasap tapi beruban atuh.”

“Ah si Eneng mah o-on atuh. Dbodors mah abdi. Ulah kitu ah.”

Ketika Pak Asep Surasep hendak berlalu. Neneng secepat kilat memanggil. “Pak…mau kemana?” Jangan pulang dulu. Anu…”

“Gimana sih! Ibu Neneng yang cantik jelita dan terhormat..Tadi kan bilang sudah beres. Nah berarti sudah boleh pulang dong..Jangan menghalangi. Saya mau pulang.”

“Laporan hari ini sudah kelar tapi buat besok ada kendala Pak. Sistem kita ngadat lagi.”

“Apa? Sistem hank lagi? Waduh! Ini urusannya Belanda.” Pak Asep nepok jidat. Kali ini bener kepala Pak Asep tampak mengeluarkan asap. Asap galau.

Setelah kejadian semalam Pak Asep jadi uring-uringan. Bukan iring-iringan ya emang mau konvoi. Apalagi urang aring, emang samphoo. Jangan konyol deh. Intinya malam itu menjadi petaka buat Pak Asep. Dia bingung alasan apalagi yang akan dikemukakan kepada atasanya di kantor pusat. Kepalanya pusing lima keliling.

Pak Asep langsung berpikir keras. Segera dia kumpulkan kembali semua tim malam itu untuk digojlok. Disisipkan sedikit kalimat-kalimat penuh motivatsi dan semangat agar anakbuahnya lebih giat lagi dalam bekerja. Alhasil malam itu mereka lembur sampai pagi…lagi.

Pada malam berikutnya ternyata mereka mendapat kendala lagi. Kali ini bukan sistem yang berperan. Tapi sesuatu yang tidak masuk akal dan logika. Not make sense..

Menjelang magrib terjadi kehebohan di lantai 5. Salah satu rekan kerja Neneng bernama Saripah tiba-tiba kesurupan. Tubuhnya telah berhasil dirasuki jin berjenis kelamin laki-laki dari Mandarin. Terlihat dari omongannya yang ngelantur dan nggak jelas. Entah bahasa atau dialek hokkien atau Mandarin. Yang pasti semua orang yang hadir disini pada membisu dan tidak mengerti terjemahannya. Mata Teteh Saripah rada melotot dan menampakkan wajah tidak senang. Kadang-kadang berteriak memelas. Kadang mengeram. Kadang jingkrak-jingkrak sembarangan. Tingkahnya membuat sekitar antara takut dan kepingin ketawa.

Pak Asep lalu bertanya kepada anak buahnya siapakah di antara mereka ada yang tahu atau ada yang mengerti bahasa cina atau ada yang mempunyai tetangga yang ahli menterjemahkan. Namun semuanya dengan antusias mengelengkan sambil menundukkan kepala.

“Permisi..Sayas mau bertanya. Apakah Kokoh atau engkong ini penunggu gedung kami? Sudah berapa lamakah menjadi penghuni disini? Mengapa tidak bisa bahasa Indonesia sih. Bahasa sunda ngerti nte..” Pak Asep berusaha memberanikan diri bercakap-cakap dengan roh dari Kanton itu. “Mengapa nggak les bahasa Indonesia dulu. Kalau ngomong cincoala cincoali begini kepala saya jadi pusing, Kong. Swear! saya tidak paham.”

Neneg dan tim merasa geli mendengar omongan Pak Asep.

Roh itu kembali mengeluarkan kalimat-kalimat yang tidak dimengerti. Jelas sekali dari intonasi dan nada suaranya yang tinggi melukiskan kemarahannya. Sekilas mirip percakapan film Kungfu di TV deh. Belum selesai Pak Asep berbicara dengan nada kesal kepada si roh gentanyangan yang usil itu tiba-tiba keluar meninggalkan badan Saripah. Bersamaan Ibu Saripah tersadar. Tatapan matanya yang tadi menatap kosong sambil melotot ngeri itu normal kembali.

“Aduh, badan saya capek-capek semua. Berat rasanya mau berjalan saja. “ucap Bu Saripah lirih seraya memegang ubun-ubunnya. Kemudian menyibak-nyibak rambutnya. Bola matanya mulai jelalatan. Melirik ke kiri. Melirik ke kanan.  Lalu Bu Saripah melontarkan rentetan pertanyaan. “ Mengapa pada ngerubungin saya? Lho kalian pada nggak kerja? Apa yang terjadi sebenarnya.”

“Kamu keserupan Saripah!” kata Kang Pardi spontan. “Kamu nggak nyadar ya?”

“Kesurupan. Ah yang bener? Masak sih?”

“Bener atuh. Sumpah! Kami menyaksikannya tadi. Ibu kemasukan roh yang njelimet.” Timpal Pak Asep sambil menyeka keringat dengan sapu tangan warna pink.

“Apa Pak Asep? Jin nasi liwet?” Tanya Saripah membelalak.

“ Njelimet! Bukan nasi liwet.” Jawab Pak Asep kesal.

Kondisi badan Saripah masih begitu lemas dan lunglai. Seakan akan habis memikul beberapa karung berisi beras. Dia bersidekap kayak orang kedinginan. Sekali-sekali meraba-raba mukanya, lalu kedua pundaknya dan telapak tangannya yang tampak masih putih pucat. Bibirnya semula ikut pucat juga mulai dimasuk aliran darah dan memerah. “Hiiiy saya jadi takut..”

“Kami yang dari tadi ketakutan. Kami kawatir akan terjadi kenapa-kenapa denganmu?” Neneng ikut angkat bicara.

“Gimana perasaanmu sekarang Pah?” tanya Abah Adin, sang satpam gedung yang sudah senior dan sepuh.

“Agak baikan. Tadi lemas dan pusing banget Bah..”

Pak Asep lalu mengambil kursi dorong dan duduk dekat Saripah. Menyentuh halus punggung anak buahnya itu sambil komat-kamit sedikit. Setelah itu Pak Asep menceritakan semua kejadian yang menimpa Saripah.

“Sok.. Saripah. Kamu rehat dulu. Pasti kamu capek. Jangan bengong lagi atuh.”

“Iya Pak Asep. Nuhun nyak..

“Sama-sama. Apakah sudah sholat maghrib tadi?”

“Acan {belum} Pak. Saya lupa.”

“Pantes. Gancang sholat dulu sana. Biar nanti saya minta tolong Ria yang menemani kamu ya.”

“Tak usahlah. Sendiri saja Pak. Tidak apa-apa kok.”

“Eeit kamu ini bagaimana? Nanti kalau terjadi apa-apa di kamar mandi saya lagi yang stres. Kan saya bos di sini. Yang bertanggungjawab saya Pah. Udah jangan pake nawar segala.”

Saripah mengangguk.

Di malam berikutnya peristiwa kemaren terulang lagi. Untuk kali kedua Saripah kemasukan roh iseng lagi. Untungnya Pak Asep sudah menyiapkan Koh A Lung, tetangganya yang jago bahasa Chinese yang akan didaulat sebagai penterjemah. Koh Alung ini sudah sejak pagi mendekam di kantor.  Selain Koh Alung Pak Asep juga mengundang salah seorang Ustad bernama Kang Amin yang tinggal disamping gedung kantor yang akan ditugasi membaca doa-doa pengusir roh iseng. Akan tetapi anehnya malam itu si roh laki-laki yang mengoceh bahasa chinese atau Mandarin itu tidak datang. Mungkin berhalangan. Ternyata penggantinya yang masuk ke tubuh Saripah lagi adalah seorang wanita yang untungnya dapat berbahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Semua hadirin bernafas lega.

“Assalamualaikum…Permisi Nyai..Kalau boleh tahu apa maksud dan tujuan datang kemari?” bisik Ustad Amin ke telinga Saripah yang sedang kerasukan.

Sang Nyai tidak langsung menanggapi. Matanya yang kali ini agak menyipit memandang ke segala penjuru lantai. Lalu menatap wajah-wajah yang hadir disitu dengan sedikit tersenyum. Kemudian mengangguk-angguk.

“Selamat Malam..Saya Nyai Tusima. Hihihi..Tugasnya hanya pada malam hari…Hihihi…nyai tadi sedang patroli eh tiba-tiba ada yang bengong. Ya udah nyai masukin saja. Kehadiran nyai kemari untuk mengajak kalian…”

Semua yang hadir merinding dan takut. Iyalah..Bagaiman kalau si nyai nekat mengajak mereka ke alamnya? Kan serem banget.

“Mengajak kami? Kemana?” Tanya Kang Amin penasaran. “Kalau ke restoran, maaf saya sudah kenyang.”

“Husss. Kang Amin gelok ah. Ditraktir dia juga saya ogah. Ntar menunya aneh-aneh euy…” Desis Pak Asep.

“Kemana? Hihihi…” Jawab Nyai terkekeh-kekeh.” Saya ingin mengajak kalian untuk segera mengosongkan lantai lima ini secepatnya! Hihihi.”

Semua hadirin terkejut.

“Mengapa kami harus mengosongkan tempat ini. Emang disini ada bom?” Tanya Kang Amin.

“Sudahlah jangan banyak bertanya. Turuti saja perintah saya kalau ingin selamat. Hihihi…”

“Tidak mungkin Nyai!! Teriak Kang Amin nekat bercampur kesal. “ Enak saja nyai ini main usir-usir kami. Lantai ini. Gedung ini milik kami. Kami manusia dan derajat kami lebih tinggi dari nyai dan teman-teman Nyai. Alam kita berbeda nyai. Jangan mencampuri urusan kami. Lebih baik tinggalkan tubuh ini. Dia tidak tahu apa-apa. Kasihan dia…”

“Apa? Tidak mau?” Si nyai kiranya emosi juga langsung lari ke sana ke mari. Kemudian guling-gulingan di lantai. Berteriak-teriak histeris. Kayaknya dia protes keras.

“Apa alasannya kami harus menuruti permintaan nyai?”

“Kalian manusia telah mengusik ketenangan tempat tinggal kami. Kami tidak suka kalian menganggu ‘rumah kami’. Kami sudah ratusan tahun tinggal di tempat ini. Semenjak kalian belum ada. Ini dulunya hutan belantara yang rimbun. Kaum kami menyukai tempat ini. Kami nyaman tinggal di sini. Tiba-tiba kalian manusia mengubahnya. Mati kami jadi berpindah-pindah. Untuk apa kalian menempati tempat kami sampai pagi. Kami terusik dan terganggu..”

“Nggak kebalik nih Nyai. Dimana-mana hantu yang suka menganggu manusia. Hantu yang aneh..”Protes Neneng dalam hati.

“Nyanyi ini aneh ya. Kami yang merasa diganggu bukan menganggu. Ayo segera tinggalkan tempat ini sekarang juga.,”Kali ini ancaman Ustad Amin tidak main-main. Dengan sigap dia berdiri sambil mengangkat tangannya dan berdoa. “Jika tidak saya akan usir secara paksa!”

“Nyai tidak mau meninggalkan tempat ini kalau tidak diantar.”

“Diantar? Kemana? Jangan macam-macam. Saya tidak mau pakai taksi ya?”

“Ihh. Sudah tua pakai dianter..”Ledek salah seorang..yang tidak mau menyebutkan namanya..Hiii

“Tidak jauh kok. Antarkan saya ke ruang jenset. Itu ‘rumah kedua ‘ saya. Hihihi..”

“Pak Asep ruang jenset dimana di gedung ini?”

“Agak jauh Ustad. Turun gedung dulu. Lalu keluar menuju basemen parkiran. Adanya di belakang gedung. Kami jarang kesana Kang. Tempatnya itu sudah gelap, pengap, sepi dan angker. Sudahlah suruh dia pergi sendiri atuh. Datang tidak diminta pulangngpun jangan diantar. Salah dia sendiri.

”Ayo siapa yang berani mengantar? “ Tanya Ustad.

Tidak ada satupun yang berniat mengantar. Semuanya mengelengkan kepala.

“Ustad saja.” Usul Neneng spontan.

“Saya mah ogah. Buang-buang waktu.”

“Yaa kok begitu. Nyai sendiri dong..” Teriak nyai kecewa berat.

Ustad Amin berdoa dengan kusyuk. Diraihnya lengan saripah. Tiba-tiba Saripah mronta-ronta, berteriak dan merintih mirip orang yang sedang kesakitan.

“Jangan! Jangan! “Nyai Tusima berteriak-teriak tidak karuan. “Sakit sakit! Panas Panas.”

Selang beberapa menit Saripah akhirnya siuman. Lantai lima kembali hening.

Malam berikutnya nyai iseng itu tidak menampakkan rohnya kembali. Akan tetapi teman-teman sebangsanya si nyai yang tidak terima sesepuh mereka diusir secara paksa mulai membikin ulah. Walaupun Saripah sudah tidak lagi diganggu. Sekarang Saripah sudah tidak mau bengong dan menyendiri lagi. Apalagi sekarang dia sudah mulai mengenakan kerudung.

Rupanya temen-temen nyai masih berusaha untuk menganggu tubuh yang lain. Tampaknya mereka masih berniat menduduki lantai lima di gedung itu. Tempat yang disinyalir sebagai hunian ternyaman bangsa jin.

Kali ini mereka mengisengi penjaga gedung yang sedang ronda. Akibat kecapekan berkeliling pekarangan dan lantai gedung, membuat Kang Sotoy asik ketiduran di ruang posnya. Kang Sotoy lebih memilih tidur di kursi panjang di samping pintu. Saat tengah malam, sekitar jam 3 dini hari dia mendadak terjaga dari tidur pulasnya. Dia menajamkan pendengarannya. Tanpa sengaja sayup-sayup terdengar kegaduhan dari ruang kantin yang ada dekat basemen.

“Idih. Suara apa ya gerangan di basemen. Wadud..Sepertinya dari arah kantin nih. Masak jam 3 pagi orang kantin sudah datang. Mungkin saja ada pesanan banyak..”batin Kang Sotoy. Beliau bergegas menuruni anak tangga perlahan-lahan. Berusaha menjauhi perasaan takut dengan memberanikan diri untuk menghampiri lokasi. Saat itu ruangan masih gelap. Penerangan hanya didapat dari cahaya pantulan dari luar saja. Kesan terlihat remang-remang. Sampai di pintu masuk kantin Kang Sotoy melihat dari kejauhan sosok wanita yang sepertinya dia kenal. Ya itu sepertinya Neng Sofie, pelayan kios yang menjual makanan  gado-gado. Tanpa perasaan curiga dan pikiran macam-macam dihampirinya sosok tersebut. Namun semakin didekatinya dia merasa aneh. Kok Neng Sofie yang berambut panjang sebahu dan gemar berkaos putih itu hanya diam tertunduk memandangi meja makan. Aneh, tidak selincah seperti biasanya.

“Neng Sofie Neng Sofie..” Colek Kang Sotoy dari belakang. “Ngapain gelap-gelapan di sini. Nyalain aja lampunya atuh.

Wanita itu hanya terdiam sejenak. Tanpa menoleh.

“Neng…”Desis Kang Sotoy lagi. “Suka gelap-gelapan ya?”

“Iya Kang…Biar lebih mesra.”

“Idih si eneng bisa aja. Emang sih…”Kang Sotoy mulai kumat dan ganjen. Jarang-jarang Neng Sofie berbicara dengan nada sedikit genit.

“Ke sini aja kang. Duduk di depan saya. Kursinya kosong kok.”

“Serius Neng?”

“Iya Kang.”

Jantung Kang Sotoy berdebar-debar kencang. Nafasnya ngos-ngosan. Ada bumbu nafsu di otaknya. Bakal seru nih pikirnya. Tanpa diduga Sofie memberikan penawaran yang menarik. Kesempatan tidak datang dua kali bukan? Dengan keyakinan yang tinggi dan penuh percaya diri, Kang Sotoy buru-buru duduk…Tetapi ketika pantatnya  duduk di kursi kosong itu dia langsung pingsan dengan mulus setelah sadar bahwa sosok wanita yang sedang berada di hadapannya itu rupanya berwajah datar. Seketika itu juga ketawa seramnya membahana ke seluruh ruangan…

Nandar, selang dua malam berikutnya mengalami kejadian serupa. Tepat jam dua malam ketika sedang asik menonton acara hiburan di tv dikejutkan dengan suara ketukan di pintu kaca.

“Wah..Bapak siapa ya?” Tanya Nandar sambil mengucek-ngucek mata dan menguap lebar.

“Maaf..Saya calon satpam di gedung sebelah Kang. Saya baru datang dari kampung. Kemalaman dan pingin numpang mandi sebentar. Boleh kang.”

“Bagaimana Bapak bisa masuk halaman gedung?”

“Pagarnya tidak terkunci.”

“Masak sih? Mana mungkin tadi saya kunci kok. Ya sudah kamar mandi ada di bawah . Turun saja satu lantai. Kamar mandinya ada di pojokan dekat parkir motor. Bawa handuk?”

Sosok laki-laki mistrius itu mengangguk pelan.

Nandar buru-buru menuruni tangga. Meninggalkan bapak itu sendirian. Ketika menginjakkan kakinya di lantai lobby, Nandar sontak terkejut. Lho..bukannya Bapak yang mau numpang mandi masih di atas. Kok Tiba kelihatan melintas di jendela kaca ya? Nandar langsung ngibrit.

Setelah kejadian itu Pak Asep bernisiatif mengundang kembali Ustad Amin untuk mengadakan doa dan pengajian bersama. Ide pak Asep disambut gembira. Alhamdulillah…setelah itu tidak pernah ada kejadian aneh yang mistrius lagi. Bahkan Pak Asep mengajak anakbuahnya liburan ke puncak sebagai bentuk terima kasih karena pekerjaan mereka telah beres semua.