SERIAL ‘MASA SMA MASA BODO?’ MENGINTIP SI KRIBO PACARAN, APA ENAKNYA? KETIKA NGAPEL YANG DISHARE SECARA LIVE AKIBATNYA…

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Oleh : Deddy Azwar

“Mana sih rumahnya? Nggak seperti dikomplek ya. Tiap rumah bangunannya beda-beda. Bingung aku dibuatnya,”keluh Iwan Mukejenuh dongkol bukan kepalang.”

“Jangan bingung-bingung dong Wan…Yang namanya tinggal di perkampungan ya begin ini, Wan.”Tekya menanggapi dengan serius perkataannya temannya. “Berbeda alamnya antara perumahan di perkampungan dengan perumahan  di kompleks. Semua bangunan pasti mirip-mirip satu sama yang lain. Sebetulnya mencari alamat rumah di dalam komplek perumahan lebih rumit dan sulit lagi. Karena semuanya hampir setipe baik itu bentuk bidang dan bangunannya. Kadang-kadang warna cat rumahnyapun sama. Ukuran Sintetisnya juga…”

“Simetris kali…”potong Agus yang sedari tadi tekun menyimak mencoba meralat kalimat yang dilontarkan Tekya.

“Oh ya simetris. Aku baru tadi mau ngomongin itu.” Kilah Tekya senyum-senyum.

“Bayangkan hampir setengah jam kita mengitari kampung ini. Sudah banyak orang yang sudah kita tanyain dan interograsi. Rata-rata mereka menggeleng tidak tahu menahu. Huh! Kakiku sudah pada pegal-pegal. Seakan mau rontok tulang-tulangku. Jangan-jangan kamu salah menulis jalannya, tidak?”

“Pada dasarnya si Faisol kurang ngetop di kampungnya. Akibat malas berbaur dan berbaur. Begini jadinya. Padahal sangatlah penting untuk menjalin komunikasi dan silaturahmi antar tetangga. Nilai minusnya lebih banyak kalau kita tidak akrab dengan tetangga. Jika terjadi sesuatu atau musiabh yang tidak kita ketahui datang. Maka…orang yang pertama yang mengetahui dan menolong kita adalah’ jiron tetanggo’ itu. Terakhir yang kita tanyai si mbak tukang penjual jamu juga tidak tahu. Sudah kita sebutkan tadi bahwa ciri-cirinya badan tinggi kurus cendrung ceking, hidung bangir, bibir dower dan tebal dan rambut kribo mirip Ahmad Albar juga pada tidak tahu.”

“Sepertinya si Faisol tidak doyan jamu. Dia doyan sama Mbak penjual jamunya. Hihihi…”Ledek Agus.

“Tidak mungkin. Si Faisol sendiri yang menggambar denah lokasi rumahnya Wan. Menggunakan jari-jemarinya sendiri lho. ” Tekya berusaha meyakinkan Iwan yang sudah mulai rapuh dan goyah engsel-engselnya.”

“Mana coba kulihat.” Agus mengamati secarai kertas yang ada di genggaman Tekya. Kondisinya sedikit lecek dan basah. Dia mengamati di setiap sisi kertas, lalu mengibas-ngibas sebelum dibentangkan. Lagaknya seperti detektif partikelir yang ulung. “Kok semakin membingungkan. Ini gambar donal bebek ya.”

“Ah kacau kamu. Cara melihatnya terbalik sih. Guoblokk!”ujar Iwan terkekeh kekeh.

“Sudahlahn mana mungkin si Faisol ngerjain kita. Menurut peta yang tergambar ini kayaknya arahnya yang kita tuju sudah benar dan cocok kok. Di samping warung dekat mesjid sudah kita temukan. Lalu tiang listrik agak bengkok, Lalu…dimana rumahnya ya? Harusnya sekitar ini. Ini RT 5, nomor 17 an. Ya betul mestinya nggak jauh-jauh amat dari sini, dimana kita berdiri. Katanya pagar rumahnya zebra cross. Belang belang.”Tekya nyaris berputus asa. Sampai detik ini kebingungan itu semakin bertambah. Kembali dipandanginya lekat-lekat peta karya Faisol Kribo yang semakin tambah lecek sulecek.

“Oh ya, berapa tadi nomor rumahnya, Gus?” Iwan mulai gusar. Nomornya 25, RT 5. Dasar si Faisol orangnya kuper sih, jadi tidak ada yang kenal. Sableng!”

“Dikerjain nih kita.”tukas Iwan seraya mengeluarkan sehelai saputangannya dan segera mengelap butiran-butiran keringatnya yang keluar segede gede megaloman.

Tekya, Iwan dan Agus merasa yakin telah masuk ke dalam perangkap permainan Faisol. Mungkin saja denah yang digambarnya itu secara asal-asalan tanpa ada maknanya untuk sengaja mengelabui teman-temanya. Masak sih Faisol setega itu. Apa dia tidak takut rambutnya yang kribo subur itu bakalan dipangkas habis hingga plontos? Apa Faisol tidak takut bakalan kehilangan kegantengan dan keperkasaannya hilang seketika? Ibarat Samson yang sebelumnya tangguh dan kuat menjadi lemas dan loyo setelah rambutnya yang gondrong dicukur habis!

Setelah setengah jam mereka hilir mudik mondar mandiri bolak balik  seperti petugas karyawan pertanahan yang sedang mengukur jalan raya. Sudah bertanya kesana kemari. Menapaki aspal yang basah. Namun.. rumahnya si Kribo tetap tak diketemukan juga.

Belum lagi cuaca saat itu kurang mensupport. Hujan deras disertai petir menggelegar baru saja usai. Kini tinggak tersisa rintik hujan gerimis yang awet. Semua jalanan menjadi basah dan banyak diketemukan air tergenang dimana-mana. Tapi asiknya udara menjadi sejuk.  Tak terkecuali keadaan mereka juga setengah basah. Mereka kelupaan membawa payung. Belum lagi rambut-rambut mereka pada lepek semua. Kalau saja mereka menakai bedak pastilah sudah luntur dari tadi. Untungnya setelah mereka turun dari angkot hujanpun sudi mengalah. Akan tetapi cuaca tak menghalangi tekat mereka untuk menemukan rumah Faisol walaupun sampai ke ujung dunia sekalipun.

Kira-kira apa sih yang mereka kejar sehingga sebegitu nekatnya menembus dinginnya malam minggu.

Tekya masih ingat ocehan-ocehan Faisol dua hari yang lau ketika mereka sedang menyantap martabak India Haji Abdul Rojak (HAR) di bilangan jalan Jendral Sudirman, kuliner yang terkenal seantero Palembang. Setelah capek seharian jalan jalan sekaligus berbelanja di mall. Perkataan dari mulut Faisol menghasilkan sebuah cerita yang membius teman-temannya. Tidak lupa sedikit ditambahin bumbu secukupnya. Layaknya gosip makin digosok dan digesek sedikit makin sip dan asek. Sedikit banyaknya sanggup mempengaruhi pikiran. Alhasil termakan rayuan asemnya.

“Dengar nih teman-teman..” Faisol memulai ceritanya dengan semangat kemerdekaan, “ Awak punya kabar gumbira ria. Lihatlah muka Awak, betapa senang hati ini.”

“Sudah kulihat mukamu, kok kayak biawak…”lontar Tekya tanpa bersalah.

“Hebat hebat. Tekya kalau ngomong suka bener ya.” Timpal Agus sambil menyantap martabaknya yang masih hangat menyengat.

Faisol mendelik sewot. “Awas kalau masih meledek juga Awak batalin traktirannya.”

“Sungguh nih Sol, kamu mau mentraktir kita-kita?” Tanya Iwan dengan sinat mata berbinar binar. Seakan tak percaya.

“Tadinya niatnya sih iya. Sekarang tidak jadi.” Jawab Faisol ketus meletus.

“Huh! Dasar tukang ngibul!” Semprot Iwan.

“Biarin..Habis kalian telah menyakiti hatiku. Hehehe..”

“Sudah lanjut banyolanmu tadi Sol.” Tukas Tekya menetralisir keadaan.

“Tunggu. Ini kisah nyata tahu?! Bukan banyolan.” Protes Faisol ngamuk. “jadi begini ceritanya..Awak punya tetangga baru. Mereka sekeluarga pindahan dari Jakarta. Kudengar mereka merasa tidak nyaman tinggal disana. Mereka bilang waktu kita kebanyak habis di jalan karena macet. Makanya mereka pingah kemari. Menurut mereka kota Palembang masih belum secrowded seperti di Jakarta…”

“Sebentar…ini mau cerita tentang Jakarta atau tentang cewek itu sih..”potong Agus dengan muka merengut.

“Sebentar dong mukadimah dulu dong baru ke pokok persoalan.” Bela Faisol sambi cengengesan seperti biasanya.

“To The Point aja. Aku sudah tidak sabaran..”kata Agus sumringah.

“Oke oke. Nafsu banget kalian ini. Jadi tetangga baruku ini mempunyai anak perempuan yang oke punya coy. Orang Jakarta bilang kece banget dah..Hehehe. Matanya mek bulat dan sangat membius, hidungnya mancung, rambut hitam lebat bak mayang terurai, alisnya bak iringan semut,bibirnya sudah merah, ranum merekah. Bodinya kayak gitar spanyol, pahanya putih mulus. Amboy begitu sempurna. Sangat sulit diungkapkan dengan kata-kata. Percaya nggak? Sampai detik ini Awak masih terbayang padanya dan menempel abadi di jidatku yang bidang.”

“Dimana-mana yang bidang itu dada, brur. Kalau jidat itu pasangannya plontosn tahu!” Omel Agus kepalang kesal.

“Sorry juga brur. Sama teman ini perhitungan banget. Salah sedikit juga nggak apa-apa dong. Awak yakin mampu menggaetnya. Kalau nenek dan pembantunya sudah merestui. Tinggal ortunya nih yang belum…”

“Kamu kege-eran kali Sol. “ucap Iwan ketus, “tanya dulu ceweknya suka nggak? Jangan-jangan kamu bertepuk sebelah tangan. Aku rasa kalau memang benar apa yang kamu sebutkan tadi bahwa ceweknya cakep banget dia pasti mikir dulu untuk berpacaran sama tukang sol sepatu kayak kamu. Hahaha…”

“Iya, kamu stil sok yakin banget deh Sol.” Agus ikut mensupport Iwan.   ng

“Busyet! Kalian meledek awak nian. Jangan begitulah. Begini-begini awak punya kharisma di hadapan cewek. Tapi sejauh ini kalau awak suka berpoas-pasan sama dia eh dianya yang duluan suka menyapa dan tersenyum duluan kok.”

“Siapa tahu kamu dikira satpam di situ.” Ledek Tekya ikut-ikut memojokkan Faisol.

“Asem! Memang Awak setua itu.” Bela Faisol.

“Kalau memang begitu kenyataannya kenalin sama kita dong Sol. Jangan cuam koar koar saja. Kami bertiga mau melihat buktinya.” Ujar Iwan tak sabaran sambil menelan air liur.

“Betul. Kami perlu bukti bukan janji,”tambah Agus.

“Hhmmm, bagaimana ya? Sebentar awak pikir-pikir dulu dulu.” Ucap Faisol agak ragu-ragu.Kepalanya yang berbalut rambut kribo nan lebat itu digaruk-garuk. Lalu tanganya telunjuk tampak menyentuh keningnya. Lagaknya seperti orang sedang berpikir keras. Kepalanya menengadah ke langit-langit restoran. Bola matanya berpindah ke kiri dan kanan dengan cepat.

“Bagaimana keputusan Sol? Sudahlah jangan kelamaan mikirnya. Sebagai kawan kita ingin menilai saja kira-kira itu cewek cocok nggak dengan kamu. Chasing sih boleh cakep. Namun di dalam hatinya kita tidak bisa menebak kan?” kata Tekya sok memberikan nasehat. “Kami akan ikut sedih jika kamu hanya jadi planet-planetan si cewek, Eh ngomong-ngomong siapa namanya Sol?”

“Eng..nganu sebetulnya masih rahasia..”ucap Faisol pelan dan sedikut ragu-ragu seraya menggaruk kembali kepalanya yang rimbun. Dalam urusan perempuan begini kelihatan Faisol ini banyak aksi mikirnya. Faisol beranggapan belum selayaknya teman-temannya mengenal lebih jauh kisah pendekatannya. Karena dia belum berani ‘menembak’ si cewek. Dia lebih afdol jika sudah benar-benar merasa memiliki sepenuhnya. “Nanti deh Awask beritahu. Sekarang top secret. Off the record dulu deh ya. Bagaimana kalau minggu depan kalian baru main ke rumahku. Siapa tahu Awak sudah jadian dengan dia dan pas malam minggu sudah ngapel ke rumahnya.”

“Oalah baby…tapi kami bertiga belum tahu dimana rumahmu.”Kata Tekya lagi.

“Oke oke.” ucap Faisol. Kemudian dia memanggil pelayan restoran untuk minta diambilkan semacam post it. “Ini Awak buatkan denah lokasinya ya. Di perkampungan Mertua Mantu Indah. Banyak konglomerat yang tinggal ditempatku. Tahu sendiri kan. Kamu bisa membayangkan bagaimana rumah-rumah di sana.”

Faisol barusaja menyelesaikan menggambar denah lokasi rumahnya pada secarik post it berwarna kuning. Dia menyerahkannya kepada Iwan. Buru-buru Tekya dan Agus mengerubungi Iwan. Kening mereka berkerinyit setelah melihat denah itu. Tampak jelas muka-muka mereka kebingungan sekali.

“Lucu ya. Lebih mirip kandang burung,Sol. Gambar rumahnya kecil-kecil serta jalan-jalan penghubungnya sempit-sempit. Denah lokasinya kayak benang kusut. Katanya disitu banyak tinggal konglemerat. “

“Enak saja. Kenapa? Gambarnya bikin bingung apa?” Tanya Faisol santai.”Memang sengaja dijelekin gambarnya. Karena ini lokasi rumah orang-orang penting. Kalau dibikin real nggak cukup kertasnya coyy.

Jadi agak disamarkan. Bisa bahaya.”

“Belagu kamu. Ngomong-ngomong disana tempat para konglomerat bermukim?”cerca Iwan, kali ini agak bringas.

“Siapa bilang? Maksud Awak perkampungan para supirnya konglomerat. Hua hua hua.”

“Huh, apa kubilang. Tidak ada tampang Faisol tinggal di sana.” Ujar Agus. “Yang ada kolong melarat.”

Semua tertawa lepas.

Sebelum bubaran Faisol mengingatkan kembali kepada teman-temannya. “Jangan lupa malam minggu depan ya. Awak tunggu di rumah. Jangan sampai nyasar.”

“Beres. Oke. Kamu siapin saja kue yang banyak.” Usul Iwan sambil tersenyum nakal.

Semenjak ada cewek cakep yang menjadi tetangga barunya itu, prilaku Faisol menjadi berubah 180 derajat celcius. Semakin ke sini semakin suka dandan dan berpenampilan parlente. Necis abis. Dulu rambut kribonya boro-boro tersentuh foam atau minya rambut. Diolesi dengan minyak kelapa saja sudah syukur. Seakarang lebih sering diminyaki. Dia mengoleksi minyak rambut macam Brisk, styling foam dan Gatsby. Dulu parfumnya sering minjam spray milik Ibunya yang beraroma bunga melati dan bunga kamboja. Eeh malah dijauhi oleh teman-temannya. Sekarang Faisol mengoleksi Playboy, Bulgari dan Eclat dari Oriflame. Ya ya sekali lagi gara-gara tetangganya yang perawan nan rupawan dapat merubah Faisol dengat cepat.

Faisol jadi semakin menitikberatkan penampilannya. Performance. Teman-teman sekolahnya dapat menangkap sinyal perubahan tersebut. Mereka mengira Faisol memasuki masa puber lebih awal. Berarti Faisol akan menjadi dewasa dan tua belum pada waktunya? Mungkin. Intinya semua menangkap keganjilan itu. Yeah, semua teman yang akrab dengan Faisol secara jujur mengakui. Terlebih-lebih bagi teman sepenongkrongan setiap pulang sekolah, seperti tekya, Ferry, Iwan, Yudi, Yudo, Agus, Sony, Fikry dan Pito. Lokasinya kongkow mereka pun tak jauh-jauh. Sekitar pelataran sekolah dan di halte depan sekolah. Mereka lebih memilih mejeng dan ngeceng dulu di pinggir jalan baru pulang setelah merasankan perut keroncongan. Faisol kini jarang hadir di tengah mereka. Mereka merasakan kehilangan sesuatu yang…tidak begitu penting. Seseorang yang selalu menjadi andalan sebagai…bahan ledekan. Apalagi di zaman edan ini. Lho lantas apa hubungannya? Nah?!

Faisol yang berpostur tinggi ini lebih mirip pelawak daripada murid sekolahan. Tingkahnya dan gaya bicaranya yang mengarah kemelayu-layuan kerap menjadi tempat pelampiasan nafsu teman-temannya dalam melontarkan bahan-bahan ledekan. Gaya bicaranya yang suka meledak-ledak tidak karuan. Seperti satpam sedang marah. Padahal nagamuk. Meskipun begitu Faisol jarang merasa tersinggung jika ledekannya tidak kelewat sadis agtau melampaui batas. Fasiol enjoy enjoy saja. Dia merasa seakan mendapatkan berkah dan pahala apabila telah membuat teman-temanya tertawa dan senang.  Mulia juga kamu Faisol.

Siapa menyangka ternyata Faisol pernah bercita-cita menjadi komedian atau pelawak, akan tetapi setelah mengetahui semua teman-teman mensupport e-eh dia malah curiga. Apakah mereka benar-bbenar ihklas mendorong untuk kemajuan karir Faisol atau hanya ingin sekedar untuk menjebloskannya ke comberan? Basah basah basah seluruh tubuh, ah ah ah mandiri madu. Itulah sepenggal lirik dari Ibu Elvi Sukaesih.

Suasana di rumah Faisol pada suatu senja.

“Paakkk! Buappaaakk! Paaakk!” teriak ibunya Faisol seperti kebakaran konde, dari arah ruang tengah. “ Ini coba kemari sebentar. Lihat si Faisol, sudah mulai  genit dan ganjen. Minta duit untuk beli minyak wangi, beli baju, beli celana, beli celana dalam beli ini beli itu. Gayanya sudah mulai mengarah gaya konsumtif. Lama-lama kita bisa bangkrut nih. “ Teriakannya membahana seantero rumah. Bapaknya langsung datang dengan tergopoh-gopoh.

“Ada apa sih Bu?” Tanya sang Bapak sembari membetulkan gulungan kain sarungnya. Seperti barusan habis nongrong di kamar mandi. Kaos oblongnya kelihatan kena kecipratan air. “Kupingku belum tuli Bu. Tidak usah pakai teriak-teriak segala. Tak bsiakah kamu memanggil namaku semesra dahulu lagi sih. Berisik kan?”

“Sudah tidak zaman lagi untuk mesra-mesraan. Sekarang ada duit baru mesra.”

“Dasar matre.”

“Biarin. Ngomong-ngomong bapak sudah cebok belum dari kamar mandi.”

“Sudah. Ada apa tadi? Ibu belum menjawab pertanyaanku.”

“Ini, coba urus anakmu yang sudah mulai bujang ini. Dasar bujang lapuk.”

“Lho, Ibu mau kemana? Kok malah kabur…”

“Saya mau menonton acara kesukaanku ‘Americas Funnies Video dulu ya. Keburu habis ntar. Lumayan buat menghilangkan stress. Kepalaku serasa mau pecah. Bisa-bisa anggaran belanjaku bisa jeblok.” Ibunya Fisol ngeluyur ke ruang televisi untuk menyaksikan acara kesayangannya, meninggalkan bapak dan Faisol Kribo yang terbengong-bengong dan berdiri mematung.

“Keanapa Sol? Kamu mecahin pring lagi?”

“Tidak.”

“Kamu menguras parfum Ibumu lagi?”

“Tidak.”

“Oh kamu nyolong bedak Ibumu lagi?”

“Juga tidak Pak. Pokoknya semuanya bukan.”

“Lantas apa?”

“Tadi Saya minta duit buat kencan tidak dikasih Pak. Dasar Ibu pelit.”

“Masak hanya buat membeli kacang nggak dikasih. Berapa sih harganya sebungkus kacang. Ya sudah pakai saja uang kamu dulu. Paling seperak dua perak. Nanti Bapak ganti.”

“Hah! Kacang? Bapak salah.  Saya minta uang untuk beli parfum ke Ibu buat kencan bukan kacang.”

“KENCAN?” Mata Bapaknya terbelalak.” Lalu itu makanan apa Sol?”

“Aduh Bapakku sayang. Sepertinya musti beli katebat yang banyak deh. Kencan itu istilah anak remaja sekarang. Kencan itu sama dengan nge-date alias mengunjungi pacar dalam rangka menjalin keakraban begitu. Bukan kacang. Memangnya saya monyet dikasih makan kacang. Ganteng-ganteng begini kan Awak anak Bapak juga toh.”

“Iya iya. Bapak tidak budeg hanya tidak dengar saja.”

“Samimawon Pak.”

“Iya miwon penyedap rasa ya.”

“Gawat! Celaka dua puluh nih. Pantas tadi ibu tadi memanggil Bapak sampai teriak-teriak segala.”Faisol berbisik lirih sembari menempelkan mulutnya ke ujung kuping Bapaknya.

“Apaan? Tidak kedengaran. Kamu bisik-bisik atau sedang ngomong sih.”

Akhirnya Faisol mengulangi kalimatnya. Kali ini berteriak kencang dengan sekuat tenaga. Tentu saja membuat Bapaknya kaget kelimpungan.

“Oke oke. Oh minta duit buat beli minyak wangi untuk keperluan kencan. Bapak paham sekarang. Kan dulu pernah muda juga. Lain kali tidak usah pakai teriak-teriak segala. Kamu sama saja dengan ibumu. Sama-sama menuduh Bapak budeg. Kamu butuh berapa duit?”

“Goban deh.”

“Berapa tuh?”

“Lima  puluh ribu.”

“Buat tadi duitnya?”

“Awak mau mengajak jalan-jalan sama nonton bioskop kawan cewek tetangga kita itu Pak.”

“Besak nian jumlah segitu, Sol. Kamu kira Bapak toke beras. Nih dua puluh lima ribu saja ya. Cukup tidak cukup harus terima. Labih bagus lagi kalau ada kembaliannya.”

“Paceklik nih yeee.”

Bapak lalu mengeluarkan uang selembar nominal dua puluh ribuan dan satu lembar lima ribuan dari dalam lipatan sarung yang ia kenakan. Kemudian diberikan kepada anak bujangnya itu. Faisol dengan secepat kilat menyambar uang dari tangan bapaknya.

“Oalah, Bapak menyimpan uang ini di celana dalam ya?”

“Enak saja. Di bawah udel kok. Oh ya ya siapa nama kawan cewek kamu Sol? Tadi kamu tetangga baru kita. S-siapa ya?”

“Namanya Robi.”

“Robi? Apa pacaran dengan sesama jenis ya? Apakah kamu ini home alone eh homo erectus? Kamu malu-maluin Saya ya.”

“Bapak jangan menuduh sembarangan dong. Begini-begini Faisol masih normal dan punya nafsu. Nama lengkapnya Yati Robiatul Sanawiyah. Nah panggilan sayangnya Robi.”

“Ada yang aneh dengan kawanmu itu Sol. Kenapa tidak memakai nama Yati saja. Kan lebih mengandung kadar kewanitaannya. Daripada si Robi.”

“Kimia kali Pak pakai kadar segala. Kan lebih nyentrik Pak. Hehehe. Menurutku kalau dia menyandang nama Yati agak gimana gitu Pak. Kedengarannya kurang sreg. Mirip-mirip istilah untuk orang yang tidak lagi mempunyai bapak atau ibu lagi.”

“Itu yatim, Faisol!.” Bapak membetulkan definisi arti kata ‘yatim’.

Faisol langsung ngibrit sambil tersenyum mirip nenek sihir. Dia sudah menduga bahwa bapaknya susah diajak bercanda plesetan. Faisol lari keluar rumah melewati pintu belakang menuju ke pagar di depan rumah. Namun ketika hendak menuju pagar, dia berhenti. Lalu menoleh lagi ke belakang seraya berteriak kencang sekali. “ HALOOO BAPAKKK!! INGAT YA KALAU ADA MENCARI AWAK, SURUH MENYUSUL KE TETANGGA SEBELAH.” Pekikikannya tersebut tak ayal lagi terdengar sampai tiga kelurahan. Ciamik!

Bapak hanya mengangguk dan menghela nafas panjang. Geleng-geleng kepala. Perasaan sewaktu muda dia tidak pernah gokil begitu deh. Siapa yang mewariskannya ya?

Kita kembali lagi ke nasib perjalanan ‘three musketers’ alias tiga anak bujang lapuk yang masih sibuk mencari alamat rumah Faisol yang mistrius lagi tulalit. Akan tetapi mereka tidak pernah menyerah dan berputus asa. Tetap semangat. Karena sudah kepalang tanggung. Kini, mereka kembali menegakkan kepala, meluruskan badan dan merapatkan barisan untuk tak lelah bertanya kepada setiap orang yang mereka jumpai. Pada akhirnya langkah mereka terhenti persis di depan sebuah warung sembako. Mereka bertanya kepada pengunjung warung yang sedang mengaduk-aduk stoples yang berisi permen.

“Permisi Pak, kami mau menumpang eh menanyakan alamat teman kami. Namanya Faisol. Rambutnya kribo abis. Masih pelajar SMA. Dengan ciri-ciri seb…”Iwan Mukejenuh berinisiati duluan untuk bertanya.

“Sebentar…adik-adik ini mau mencari alamat atau mencari anak hilang sih?”

“Alamat pak.” sambar Iwan lagi.

“Oh begitu. Tapi bertanyanya seperti mencari orang hilang. Jangan terlalu lengkap. Begini ya…adik-adik remaja. Mohon maaf. Sekali mohon maaf. Saya ini kebetulan orang baru. Saya tidak kenal yang namanya siapa tadi…Poncol ya?”

“Faisol pak, Faisol pak.” Telya buru-buru membenarkan.

“Nah…apalagi dia tukang sol sepatu….”

Tiba-tiba keluarlah si pemilik warung yang sejak tadi hanya memperhatikan angkat bicara. “O ya si Oyong James Bon ya. Namanya aslinya emang Faisol. Tetapi dia lebih dikenal dengan julukan si Oyong James Bon. Masih SMA kan? Ciri-cirinya tinggi kurus, rambutnya kriting eh kribok ding. Jalannya mirip bebek. Betul kan?”

“Tidak salah lagi Pak.” Tukas Agus tersenyum. Kemarten-kemaren dia sering kemari. Namun akhir-akhir ini jarang kelihatan batang hidungnya. Kalau mampir ke warung ini biasanya suka ngebon dulu. Di dalam ada buku bonnya kok. Sudah tiga jilid. Kayak komik bersambung. Pekerjaan sampingan bapaknya adalah makelar mobil butut. Perasaan nama julukan bapaknya ‘ Patrick Bumper’.

“Syukurlah Pak. Itu buronan eh teman sekolah yang kami cari sejak dua jam yang lalu dengan susah payah. Terima banyak ya pak atas informasinya. Boleh tunjukkan kepada kami arah menuju ke rumahnya.

Dengan sigap si bapak pemilik warung membantu menunjukkan rute yang harus dilalui. Sebelum mereka beranjak tak lupa Agus membeli beberapa permen dan lembar roti manis komplit ‘rasa yang pernah kecewa’ sebagai bekal di perjalanan sekaligus rasa ungkapan terima kasih. Agus juga sempat melayangkan satu pertanyaan.

“Ngomong-ngomong nih, sudah berapa lama tinggal di sini pak?”

“Anu ya. Brapa yak. Baru sekita enam tahunan.”

“Pantas. Berarti belum sampai sepuluh tahun dong.”

Wajah si bapak pemilik warung tampak mikir sebentar lalu berkata. “Iya betul betul…Adik ini betul-betul blo’on ya. Orangtua diajak  bercanda saja.“

Merekapun buru-buru kabur.

Di sebuah taman nan tandus, setengah asri, dengan bertemankan cahaya rembulan dan cahaya redupnya lampu taman, tampak sesosok remaja sedang asik merayu cewek bak Rommy sedang menggobamlin Juliet. Mereka tengah bercengkrama di atas ayunan dekat teras depan sebuah rumah yang memiliki pekarangan yang cukup besar. Semua rayuan mautnya keluar tumpah ruah tak henti bagai air terjun tanpa kran, keluar membuncah dari mulutnya yang tidak seksi itu. Rayuan ala fil Beverly hils 90210 saja kalah jauh.

Mari kita simak rayuannya. Penasaran kan?

‘Robi..atau Yati…” Faisol mulai melancarkan serangan sporadis.

“Kakak ini bagaimana sih. Jadi laki-laki itu yang tegas dan konsisten dong. Kalau memanggil nama saya satu saja. Kalau lebih nyaman dengan memanggil Robi ya Robi saja. Kalau Yati ya Yati saja, jangan diborong dua-duanya. Itu kemaruk namanya. Jangan begitu dong. Itu namanya Kakak menduakan….nama saya.” Yati Robiatun Sanawiyah kelihatan kurang puas. Yati memang manis dan menggemaskan. Apalagi saat sedang merajuk dan bermanja. Entah kenapa dia bisa kepelet sama Faisol alias Oyong ini. Walaupun Robi tidak memiliki rambut panjang terurai namun Faisol tetap suka. Robi lebih senang berpenampilan ala Demi Moore.

“Awak panggil Yati saja ya? Kalau Robi kesannya gimana gitu…”kilah Faisol sambil fokus menatap lampu taman. Dia masih grogi menatap langsung wajah rupawan sang cewek.

“Bolehlah. Cepetan deh ah. Kak Oyong ini mau bilang apa?”

Faisol berdehem sejenak.

“Yati…”

“Hmmm…”

“Cobalah adik Yati melihat ke langit. Di antara kelamnya terdapat sinar-sinar imut-imut yang bercahaya. Kamu tahu? Cahaya tersebut yang membuat langit nampak indah. Sungguh menakjubkan ya. Apalagi ditambah dengan cahaya sinar rembulan purnama.”

“Kak Oyong ini ahli astronomi ya?”

“Tidak juga. Awak hanya takjub melihat fenomena di langit. Sama saja awak takjub dengan penampilan dik Yati malam ini. Begitu sempurna dimata kakak. Belum lagi pakaian yang adik kenakan. Serasi, luwes dan feminim. Pokoknya Yati itu very beatiful banget banget.”

“Aduh kak Oyong. Sudah deh gombalnya. Semua laki-laki sama saja. Kalau ada maunya jadi jago merayu.”

“Kakak pengecualiannya lho..”

“Masak?”

“Kak Oyong serius. Yati datang pada saat yang tepat.. pada saat…”

“Saat apa kak?”

“Ya pada saat rumah ini dijual oleh pemiliknya lalu dibeli oleh papa Yati. Coba kalau tidak buru-buru dibeli kan bisa angker nih rumah. Lalu kita tidak akan pernah berjumpa kan?”

“Ngaco! Kirain apaan.”

“By the way wewe. Rumahnya kok sepi amat. Jangan-jangan kita memang dikasih kesempatan leluasa untuk berduaan ya?”

“Jangan ge-er deh kak Oyong. Mama Papa ada kok di dalam. Lagi nonton sinetron. Kalau mau ramai kak Oyong bakar saja pos siskamling yang ada di pojokkan sama. Dijamin pasti ramai nanti.”

“Ah kamu ada-ada saja. Sadis pakai bakar-bakaran. Cukup ke pasar saja kan ramai.”

“Pasar malam juga ramai deh kalau mau mencari suasana ramai.”

“Oh ya. Oh penyuka sinetron juga ya ortunya. Sama dengan ortu kak Oyong juga begitu. Kirain sudah pada tidur. Kan asik, tidak ada yang mengawasi. Hihihi…”

“Tidak bakalan kak Oyong. Orang Yati kemana-kemana selalu ditemanin. Belum boleh dilepas jauh-jauh. Apalagi dibiarin malam-malam berdua-duanya dengan seorang cowok. Kak Oyong jangan macam-macam. Jangan salah, mereka selalu siaga kok demi Yati.”

Faisol alias Oyong tercekat. “Oh ya?”

“Kak Oyong tidak tahu ya. Di bawah kursi ini sudah Yati siapkan stick softball. Buat jaga-jaga kalau kak Oyong nakal. Kalau Papa bilang kalau ada seorang cowok yang iseng dan nakai sama Yati akan digantung di pohon mangga di belakang rumah.”

Faisol menelan ludah. Mulutnya mingkem-mingkem. Badannya mulai panas dingin dan sedikit gemetaran. ‘Waduh premannya juga keluarga si cewek’ batin Faisol. Pikirannya berkecamuk. Ternyata si Yati tidak bisa untuk cewek eksperimen. Bukan untuk dipermainkan seenaknya saja. Bagi Faisol yang berniat selumnya hanya untuk iseng-iseng berhadiah langsung kecut. Dalam hati yang paling dalam Faisol segera merubah niatnya untuk serius menjalin kasih dengan Yati. Tidak rugi kok. Sudah putih, cantik, seksi, manis dan rupawan, suaranya yang manja itu menjadi salah satu alsannya. Satu kata untuk Yati ‘SEMPURNA’. Terlebih-lebih Yati tampaknya menyukai Faisol yang mirip penyanyi dangdut Muchsin Alatas versi kw 3.

Diam-diam Yati yang melihat gaya Faisol yang mengkriuk, mengkerut dan mengkeret jadi geli dalam hati. Untungnya Yati sanggup menahan gelinya tersebut.

“Kak Oyong…yang lucu…” ucap Yatih lirih dan manja.

“Kok lucu?”

“Oh ya yang ganteng kayak genteng…Hihihi..”

“Terserah kamu deh.”

“Kak Oyong serius tidak ingin berteman dengan Aku?”

“Ya iyalah. Bahkan Kakak ingin lebih serius dan lebih dari sekedar seorang teman lho.”

“Maksudnya?”

“Pacar gitu.”

“Oh ya? Memangnya Kak Oyong suka tipe cewek seperti Aku?”

“Iya. Gombal atau gembel nih?”

“Serius Yati. Kak Oyong serius. Swear deh.”

“Demi apaan.”

“Langit dan bumi. Seisi alam semesta. Seluas angkasa, galaksi dan tata surya.”

Faisol mulai ngaco dan senewen kata-katanya. Dasar pujangga gagal.

“Oh ya? Dahsyat banget.” Yati terkesima. “Ngerayunya maut dan berbau sentimen begitu.”

“Apa? Tianmen? Siapa dia? Bekas pacar Yati ya?”tanya Faisol bego. Budeknya mulai keturan dari Bapaknya.

“Bukan Tianmen Kak. Budi nih. Budeg dikit ya. Maksud Yati sentimen.”

“Oh maaf kalau begitu. Missunderstanding. Waduh, sentimen itu maksudnya apa?”

“Katanya sudah SMA, definisi sentimen saja tidak kenal. Sentimen itu adalah terlalu berlebihan terhadap sesuatu. Terlalu over dosis. Makanya sering baca kamus dong kak. Kakak payah nih. Kalau mau jadi pacar Yati musti pintar syaratnya. Pasti kakak tidak tahu ‘elaborated code’ juga ya?”

“Tobat, tobat deh Yati. Istilah apa lagi tuh? Kode apa tadi? Kode buntut ya?”

“Bukan.”

“Kak Oyong minta tolong. Please. Pakai bahasa Indonesia saja ya. Kita wajib mencintai produk dalam negeri atau lokal.”

“Kak Oyong ini belagak pilon atau memang blo-on ya. Hehe. Maaf ya kalau Yati lancang. Itu artinya bahasa canggih. Dan itu sangat diperlukan dan diketahui di zaman era teknologi komputer ini.”

Semenit kemudian keduanya terdiam. Tanpa sengaja mereka bertatap-tatapan. Mata Yati tak mampu memandang bola mata Faisol yang bulat kayak boal pingpong itu lebih lama. Takut kesetrum atau takut kena guna-guna. Sedangkan mata Faisol kelihatan sedikit nakal dan liar. Keduanya serempak menunduk malu. Romantis namun kurang harmonis. Hehe…

Dalam kesunyian yang menyepi dan menghening itu, Faisol mencoba memberanikan diri untuk berucap sesuatu…

“Yati…, E-eng.., Yati mengerti bahasa Korea nggak?”

Yati hanya menggeleng pelan.

“Sun dong yang…” Ngerti nggak?”

“Sun itu matahari ya. Dong Yang nama kota ya?”

“Aduh, payah bin kuper nih. Masak nggak tahu.”

Yati kembali menggeleng untuk kedua kalinya. “Lantas apa dong…?”

Faisol lalu membisikkan maknanya di telinga Yati yang dihiasi anting-anting Hello Kitty. Mendengar bisikan Faisol Yati sontak kaget. Dia lalu mengusap-usap dada.

“Idih kak Oyong genit deh. Mau cium pipi Yati maksudnya. Pokoknya jangan sekarang. Kita kan belum resmi jadiannya. Pegang tangan saja sebenarnya tidak boleh apalagi sun di pipi. Bukan muhrimnya Kak. Kita berdua kan baru saja kenalan. Belum genap sebulan.”

Jangan sebut Faisol Kribo deh kalau belum mampu merebut hatinya Yati. Dia tetap saja gencar melontarkan rayuan hidung belang. Faisol yang kadang bandelnya suka kumat tetap berniat ingin ngesun pipi Yati. Padahal sudah dilarang keras. Faisol belum mau menyerah untuk merayu cewek di hadapannya, yang masih duduk di kelas 3 SMP ini. Faisol penasaran ingin menundukkan kegarangan si Yati. Akhirnya dengan semakin gencarnya rayuan maut mampu juga meluluhkan hatinya. Sepertinya bakat merayu itu juga diwariskan bapaknya yang mantan playboy cap kampung.

“Iya boleh. Tapi cium tangan saja ya. Kalau pipi NO. Ingat lho stick softballnya masih di bawah bangku.”

“Yaaa…kok cium tangan. Kayak anak sama orangtua dong.” Faisol kecewa. Wajahnya berubah ribet. Mirip benang kusut sebelum disulam.

“Ya udah kalau tidak mau.”

“Oke deh nggak apa-apa. Mencium jari jemarimu yang lentik juga tidak mengapa kok.”

“Tapi Cuma di tangan lho. Jangan menjalar kemana-mana ya. Nanti Yati pukul.”

“Iya iya. Nggak cang ca ya-an banget deh sama Kak Oyong.”

Kini, detik-detik menciumpun tiba. Faisolpun siap ambil ancang-ancang untuk ngesun jari jemari milik Yati nan halus dan putih itu. Bagi Faisol tangannya Yati montok juga. Walaupun begitu mata Yatipun ikut terpejam juga. Mari kita hitung…satu…dua…ti….

KLETAK! DUK! DUK! PLETUK! AWWW! ADUHH!

Sebiji batu koral atau kerikil kecil tiba-tiba melayang terbang dan landing di jidat Faisol yang bidang. Seolah-olah laksana peluru senapan yang dimuntahkan oleh seorang sniper terlatih. Otomatis Faisol kaget bukan kepalang. Dia merasakan sekali sakitnya yang berdenyut-denyut. Secara refleks bangkit dan berdiri. Sambil berkacak pinggang dan berteriak lantang..”HEY! SIAPA YANG BARUSAN TADI NIMPUK SAYA? AYO NGAKU!”

Faisol seakan murka. Sebiji batu yang telah merendahkan dan menjatuhkan martabatnya. Giginya bergemulutuk kayak jambu klutuk sambil memandangi semak-semak sekitar taman berumput jepang itu dengan geram. Matanya  sedikit melotot. Seakan bola matanya hendak melompat ke luar.

“Kenapa Kak?” tanya Yati belum mudeng.

“Seseorang telah menimpuk jidatku. Dasar haram jadah! Ayo siapa yang melempar tadi. Hoyy, kalau kalian berwujud manusia keluarlah berhadapan dengan secara jantan! Tapi jika han…hantuu keluarga secara….secara betina. Atau jangan…nongol deh sekalian!”

Yati hendak ngikik tapi untung bisa ditahannya.

Gertakan Faisol sia-sial alias tidak membuah hasil. Barang satu wujudpun tak nampak. Suasana sekejab kembali sunyi. Diiringi deruan semilir angin yang bersuhu dingin menerpa wajah mereka. Spontan membuat bulu  romawi berdiri. Rambut Faisol yang kribopun ikut-ikutan berdiri karena takut. Setelah dirasakan situasi tenang, aman dan terkendali, Faisol mendudukkan pantatnya di kursi lagi. Memasang kuda-kuda untuk mencium jemari lentik Yati.

Lima menit berselang. Kletak Ktipuk suara gendang bertalu-talu…Eh-eh malah menyanyi. Kali ini batu terkutuk itu melayang ke kepala ke kepala Faisol. Kerimbunan rambutnya dapat menghalau batu tersebut. Jadi tidak terasa sakit. Kurang ngefek. Jadi tidak menyebabkan benjol serius.

“E-eh masih nekat juga ya. Siapa nih yang usil sih. Sudah bosan hidup rupanya?!” makin Faisol mulai penasaran. Naik pitam. Naik delman. Dll. Dengan perasaan marah bercampur kesal yang tak terbendung. Dia merasa dipermainkan dan dipermalukan di depan Yati.

Faisol tampak kasak-kusuk mencari sesuatu. Dalam kekalutan Faisol menemukan ide brilian. Bingo! “Yati, biasanya Mamamu menyiram kembang dimana? Maksudku selangnya diletakkan dimana?”

Sebelum Yati menjawab. Nah ini dia! Faisol langsung gembira dan berjingkrak-jingkrak saat menemukan sebuag gulungan slang panjang untuk menyiram bunga. Buru-buru memasang ujung slang ke ujung kran. Kran diputar. Air siap dipancurkan!

Faisol mengarahkan slang itu secara membabi buta ke segala arah dan tempat. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Faisol untuk membungkam si pelempar batu mistrius.

“Jangan jangan! Ampun ampun! Kami menyerah. Oke kami keluar. Jangan disiram lagi. Kami minta maaf ya Sol.” Ujar salah satu dari mereka.

Satu persatu tersembul wujud kepala manusia nongol dari balik rimbunan taman.  Terdengar juga suara ketawa cekikikan. Tiba-tiba muncul tiga sosok remaja laki-laki. Sudah dapat ditebak siapa lagi kalau bukan Agus Blepotan, Tekya La Kadam dan Iwan Mukejenuh.

Faisol dan Yati tampak syok karena sudah diintip.

“Sontoloyo! Rupanya kalian hantunya toh. Senangnya melihat jidat kawannya lecet dan kepalanya benjol. Pada slompret ya.”bentak Faisol puas.

“Cuma bercanda kok Sol. Tadinya mau nimpuk pakai batu bata. Nggak tega. Haha…”ledek Tekya sambil mengibas-ngibaskan ujung celananya yang basah kuyub.

“Maaf ya Sol. Kamu tidak cedera kan. Lho kok bisa ya?” Giliran Iwan menimpali.

“Bukan begitu Sol alias Oyong.”ujar Iwan mengusap mukanya yang kebasahan.” Seharusnya kami bertiga yang marah. Kami beranggapan bahwa kau telah mengerjain dengan membuat denah bohong. Kamu niat nggak sih bikin peta rumahmu. Mana petanay tadi ya? Nah ini dia. Peta sialannya ternyata ikut-ikitan basah deh. Kami jadi kesasar kemana-mana. Rutenya centang perenang begitu, membuat bingung orang. Lihatlah keadaan kami sekarang menyedihkan sekali, bukan? Sudah kehujanan e-eh pas pakaian kami mau menjelang kering kamu guyur pakai air. Basah lagi jadinya nih.”

“Kayaknya cukup sekali saja deh ke rumahmu..Kami kapok!”rengek Agus.

“Ya sudah Awak juga minta maaf. Habis, kalian juga sih yang bikin kaget. Akhirnya senjata makan majikan. Hehehe..Jangan kapok ke rumahku lagi. By the way. Lantas tahu saya ada di sini dari mana?”

“Orang rumah kamu yang memberitahu. Terus dibantu juga sama orang warung sana.”

Puncaknya, kencan Faisol berantakan. Acara jalan-jalan malam mingguannya juga batal. Pada akhirnya dengan suka cita bercampur berat hati, Faisol jadi juga memperkenalkan Yati kepada kawan-kawannya. Agus mengerlingkan matanya tanda salut dengan keberuntungan Faisol sukses menaklukkan Yati. Tekya juga secara sembunyi sembunyi mengacungkan dua jari jempolnya. Two thumbs!

Selang beberapa minggu berlalu. Tepatnya pada minggu ke empat setelah insiden basah-basahan itu, Faisol kembali mengundang kawan-kawannya bertandang ke rumahnya. Ceritanya malam minggu ini Faisol hendak ‘wakupelcar = waktu ngapel pacar’ lagi. Kali ini Faisol berbuat nekat dan kumat lagi. Bagaiman tidak? Kali ini dia tidak ngapel sendiri, akan tetapi mengajak rombongan Agus, Iwan dan Tekya. Untuk apa? Untuk mengamati secara langsung alias ,mengintip lagi. Hitung menonton gratis dan belajar jurus jurus merayu ala Faisol. Ada ada saja. Remaja yang aneh! Kesimpulannya malam ini formasi yang dipakai adalah 3-1-1. Tiga orang pengintip, satu pelancar rayuan, satunya lagi korban rayuan.

Mulanya, ketiga kawannya menolak secara halus tawaran janggal dari Faisol. Agak risih juga. Selain takut menganggu, apa enaknya ngintip orang pacaran sih? Cuma bikin iri dan iri doang. Namun setelah dipikir dan ditimbang cukup asik dan menantang juga. Yang punya hajat juga tidak keberatan kok untuk diintip. Jujur, sebetulnya Faisol hanya kepingin memamerkan kecakepan pacarnya saja. Walau rada aneh.

Walaupun ide unik ini seratus persen murni berasal dari anak kribo itu, namun Tekya, Agus dan Iwan ketar-ketir juga jika ketahuan bisa gawat. Apakah dia tidak sadar seandainya kepergok bisa-bisa percintaannya dengan Yati terancam bubar. Yang pasti Faisol pasti sudah mempertimbangkan apa yang bakalan terjadi. Sebagai antisipasi kejadian yang tidak nyaman terjadi, Faisol memberlakukan beberapa syarat yang tidak boleh dilanggar oleh teman-temannya. Syarat pertama, Agus, Tekya dan Iwan diminta tidak membuat kecurigaan dan kekacauan. Kedua, Anak-anak diminta mengintip dari balik dinding taman yang terbuka. Ketiga cukup berat dan kurang manusiawi, dilarang untuk kentut dan sebisa mungkin untuk menahan rasa gatal. Jika ada yang  kedapatan melanggar akan dikenakan hukuman setimpal yaitu yang pertama, terhukum wajib mentraktir Faisol makan pempek sepuasnya di kantin Kak Ma’il selama empat hari. Hukuman kedua, wajib memperbaiki citra Faisol yang telah tercemar di hadapan Yati  dan keluarganya. Paling tidak hubungan Faisol dan Yati senantiasa terjalin. Ya sudahlah. The show must go on.

Malam minggu yang dinantikan telah tiba. Malam itu Faisol berdandan keren habis. Wah, kalau  kerennya habis berarti tinggal jeleknya dong? Rambutnya telah dicoba untuk disisir agar  rapi tapi tetap saja tidak rapi, malah awut-awutan kayak orang hutan. walaupun telah mematahkan tiga buah sisir, Faisol  tetap cuwek. Cilaka! Belum lagi satu botol minyak kelapa berubah fungsi menjadi minyak rambut juga menjadi korban alias habis tak tersisa. Walhasil sang rambutnya yang kribo tetap saja jauh dari klimis. Sedangkan kawan-kawannya yang masih jomblo itu terkesan berdandan seadanya saja.

“Yati, andai kamu menjadi cinderella. Kakak jadi apanya?” Tanya Faisol bukannya mulai melancarkan jurus merayunya malah main tebak-tebakan basi.

“Jadi apanya ya? Oh ya upik abunya, Mau?”

“Lho kok gitu. Demi Yati tidak apa-apa. Saya mengalah deh.”

“Oke lanjut. Siapa takut?” Tantang Yati dalam hati.

“Andai Yati sebagai bunga. Kakak sebagai…”

“Hama werengnya..”

“Kok bagianku jelek melulu.” Protes Faisol sambil merengut.

Yati cuwek saja.

Tidak jauh dari lokasi, tanpa sepengetahuan Yati, tim pengintip yang sedang berada di balik kerimbunan taman, mulai kasak kusuk gara-gara banyak nyamuk nakal berkeliaran. Sesekali terdengar cekikikan mirip kuntilanak.

“Kak…coba dengar deh, seperti ada orang tertawa. Jangan-jangan..”

“Hush! Ini kan malam minggu. Mana ada hantu keluar malam ini.”

“Sudahlah. Kita fokus saja ke urusan kita. Paling-paling kucing nguber tikus.”

“Bukan begitu Kak. Perasaan saya mulai tidak enak ini. Lihat ke sana deh, tidak angin kok pohon bonsan di taman depan bergoyang-goyang. Saya jadi curigation nih. Coba Kak Oyong ke sana. Tapi hati-hati ya.”

Agar tidak dicurigai, Faisol menuruti saja perintah demenannya. Faisol merangsek ke dalam rimbunan taman pohon bonsai yang tumbuh tinggi-tinggi. Ketika langkah Faisol mendekati ke lokasi persembunyian ketiga kawannya, dia langsung mengerlingkan matanya. Dibalas acunbgan jempol oleh dari balik pohon cabe.

“Tidak ada apa-apa kok Dik. Aman terkendali.” Ujar Faisol ketika kembali ke kursi taman di rumah sang cewek.

Tidak sampai tujuh menit, suasana kembali berisik.

“Kak, ada suara lagi. Berisik amat. Jangan-jangan…kawan-kawan kakak yang bandel itu.” Tebak Yati sambil sembunyi dibalik bahu Faisol yang ringkih.

“Alaah, mana berani mereka mengintip lagi. Ketiganya sudah mengaku kapok. Mereka sudah kakak damprat waktu mereka menginap di rumah tempo hari. Mungkin tikus got.”

Setelah sekian lama bercengkrama, bercerita, berguyon, bercanda, merayu dan cekakak cekikik, perlahan-perlahan, pantat Faisol beringsut-ingsut mendekati posisi duduknya Yati. Tampaknya akal bulusnya mulai bermain. Dia mulai melancarkan aksinya untuk mencium pipi pasangannya. Bukan Yati namanya bila tidak tahu akan niat ganjen Faisol. Yati sudah mencium gelagat yang tidak baik. Sudah terbaca dari kerdipan mata nakal Faisol. Dia hapal betul gelagat itu, pasti ada maunya. Yati hanya tersenyum saja. Dibalik itu dia telah menyiapkan perisai.

Nasib baik! Yati berpura-pura menyetujui permintaan nakal Faisol. Yati bersiap tertunduk malu seraya memicingkan kedua matanya. Pemandangan itu disaksikan oleh ketiga tim pengintai. Kasak kusuk lagi.

“Ayo Sol sosor terus..Sikat saja bleh.” Bisik Agus tak sabaran. Iwan dan Tekya lebih kalem, tapi dalam hati mereka berkecamuk.

“Sun saja Sol. Cepetan sebelum dia berubah pikiran,” tukas Iwan bersemangat. “Cepat dong Sol. Kesmepatan tidak datang dua kali. Mana nyamuk sih pada lapar-lapar pula.” Iwan asik menepak-nepak nyamuk-nyamuk nakal.

“Ayo Sol, kapan jadinya sih dari tadi tatapan melulu. Saling colek. Memang sabun colek.” Tekya juga mulai kumat bandelnya.

Akibat tidak dapat menahan nafsunya, merekapun terseruduk ke depan. Bahkan si Tekya terjungkal ke belakang, nyaris kecebur di got.

Uji kata pepatah selalu benar. Sepandai-pandainya tupai melompat akan jatuh jua. Menyimpan buah durian serapi apapun akan tercium juga aromanya. Faisol hanya geleng-geleng kepala. Mau diomelin adalah kawan sendiri. Bingung. Hanya bisa nepuk jidat dan gigit jari.

Kesimpulannya mereka kepergok juga oleh Yati. Tak ayal lagi ketiganya diseret di tengah taman. Berikutnya akal bulus Faisol ikut tercium juga. Akhirnya Yati juga mengetahui siapa yang mempromotori aksi pengintipan. Faisol jadi pusing sepuluh keliling.

“Jadi Kak Oyong yang mendalangi mereka untuk mengintip kita pacaran. Kakak jahat ih, tega-teganya. Yati kan jadi malu. Maluuu banget!” Rengek Yati nyaris menangis.

“Bener Ti, ini inisiatif mereka sendiri. Dasar mata keranjang kalian ya..”tangkis Faisol, lalu pura-pura menghardik.

“Bohong, Ti!” sambar Agus. “Ini ide kami bersama kok. Bukan niat jahat kok. Hanya saja Kak Oyongmu taku t kalau berpacaran sendirian. Katanya rumahmu angker.”

“Ya sudah. Cukup-cukup. Kalau Kakak benar-benar sayang sama Yati, pasti rela berkorban. Apapun yang Yati minta mau tidak melaksanakannya? Please…”

“Oh sure. So pasti Dik. Apapun kan kulakukan demi kamu. Kalau boleh tahu kira-kira kamu mau minta apa?”

Yati segera mengambil gulungan selang air dan menyemprotkan ke muka Faisol, Agus, Tekya dan Iwan. Byuur byarrr!. Semuanya menjadi basah kuyub.

“Yati ingin melihat kakak-kakak ini mandi wajib. Rasakan nih.”

Iklan

SERIAL MASA SMA MASA BODO? dalam ‘BOXING TIME-ULAH SI LEHER BETON MIKE TYSON VERSUS LARRY HOLMES DI SEKOLAH TEKYA’

Siapa yang tidak mengenal sosok petinju kondang Mike Tyson? Khusus penggemarnya pasti tahu betul track recordnya seperti profilnya, gaya bertinjunya, kehidupan sehari-harinya, kehidupan percintaannya, prestasi yang telah ditorehkannya, bahkan catatan kriminalnya.

Waktu itu tanggal 22 Januari 1988, TVRI menyiarkan secara langsung pertandingan spektakuler yang ditunggu-ditunggu itu antara Mike Tyson kontra Larry Holmes. Siapakah yang menjadi jawaranya? Di ronde berapakah salah satu dari mereka ada yang Knock Out?

Lantas apa hubungannya pertandingan tinju ini dengan serial ‘Masa SMA Masa Bodo?’. So pasti ada. Pokoknya satu sekolah dibikin kalang kabut oleh si Tyson ini. Kok bisa? So what? Apakah dia sedang mengunjungin Indonesia waktu itu? Maka kita simak bersama cerita yang makin seru ini.

(Mohon maaf apabila ada kesamaan nama dan lokasi bukan suatu kesengajaan)

Oleh : Deddy Azwar

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tahu Mike Tyson kan? No, dia bukan stand up comedy. Betul tebakanmu dia adalah petinju terkenal di dunia. Saya akan mengajak para pembaca untuk flashback sejenak. Bagi yang tergila-gila dengan pertandingan tinju so pasti mengenal nama-nama seperti Calsius Clay alias Muhammad Ali, Evander Holyfiled, Rocky Marciano, Mike Tyson, Hasim Rahman, Prince Naseem dan Larry Holmes. Sebenarnya masih bejibun deretan para petinju profesional dunia lainnya. Semuanya adalah nama petinju terkenal di zamannya. Mereka adalah legenda.

Disamping tontonan sepak bola, tontonan tinju juga selalu dinanti oleh para para penggemarnya. Bayangkan kerap ada pertandingan tinju, wabil khusus yang lagi berlaga merupakan petinju top. Apa yang terjadi? Biasanya akan membius semua orang untuk bela-belain menontonnya. Jalan-jalan di kampung-kampung maupun di kota-kota berubah menjadi hening dan sepi. Semua berduyun untuk menonton baik itu secara langsung di ring tinju maupun di televisi. Tiap orang  ogah melewatkan momen spesial itu. Mereka berebut ingin menjadi saksi sejarah. Biasanya kalau sudah di depan televisi, membuat mata mereka melotot. Para penganggum tinju, langsung menjadi tertib dan kusyuk banget. Mereka melahap detik demi detik, menit  demi menit dan dari jam demi jam. Bahkan untuk mengangkat pantat saja mereka ogah. Mungkin ada yang sampai menahan kencing. Luar biasa!

Lantas, setelah pertandingan usai, materi tinju dipakai untuk sebuah percakapan, kongkow atau obrolan dimana-mana. Virusnya tidak hanya di sekolah, di kampus, di kantor dan dimana-mana. Manakala mereka tidak tahu berita terkait tinju terbaru, bisa-bisa di olok-olok dan dicemooh alias kuper dan tidak gaul.

“Semalam tinju di tipi seru banget dah? Lha buju! Gini hari lu kagak update berita? A-appaa? Elu nggak nonton? Rugi lu. Emang ngapain? Ngangon bebek? Menggiring mereka ke kandang ya?” Ini salah satu beragam contoh olok-olok yang rada ekstrem dikit yang akan diterima.

Ya, boxing itu bisa membius. Jadi, bukan hanya wewenang dokter saja.

Siapa yang mengenal sosok Mike Tyson? Seorang petinju bertalenta super, juga terkenal dengan julukan si leher beton. Kabar gosip yang beredar layangan bogemnya dapat menghentikan sebuah mobil yang sedang melahu. Wow, fantastis! Berikut boleh disimak artikel yang dikutip dari blog milik petinju lendaris dari Indonesia yaitu Bang Syamsul Anwar harahap…

Mike Tyson lahir di Broklyin, New York tanggal 30 Juni 1966 dan hidup liar sebagai anak gelandangan dijalanan kawasan Brownsville. Ayahnya meninggalkan keluarganya ketika dia masih dalam kandungan. Ketika berusia 10 tahun Tyson kecil sudah akrab dengan perkelahian untuk menjadi preman yang berpengaruh.Masuk perawatan anak-anak nakal berulang kali dan terahir dimasukkan ke Tryon School for Boys, dimana dia berada hingga usia 13 tahun. Salah seorang pengawas disana, Bobby Stewart melihat potensi yang ada pada tubuh Tyson yang begitu tegap dengan otot yang baik. memperkenalkannya kepada Cus D’Amato. Cus D’Amato adalah manager dan pelatih tinju yang melahirkan juara dunia seperti Flyod Patterson dan Jose Torres. Mike Tyson diserahkan kepada Cus D;Amato pada ulang tahunnya yang ke-14. D’Amato mempunyai anggota yang cukup baik untuk menyokongnya sebagai pelatih, yaitu Jim Jacobs dan Bill Cayton. Bersama kedua orang itulah Tyson diperkenalkan bagaimana tehnik dasar bertinju serta mereka menonton film pertandingan tinju. Usai menonton, mereka menganalisis penampilan setiap petinju dengan argumen masing-masing. Mereka kemudian mengambil kesimpuilan bahwa Tyson harus bisa tampil sebagai petinju dengan gaya fighter bahkan mendekati gaya slugger karena tubuh Tyson termasuk pendek dari semua petinju kelas berat yang ada. Tyson muncul di ring tinju amatir dengan kemenangan yang meyakinkan, akan tetapi ketika seleksi untuk persiapan tim Olympiade Seoul dia kalah dan terlalu lama untuk menunggu Olympiade berikutnya .Mike Tyson terjun ke ring tinju pro pada bulan Mei 1985 dalam pertandingan kecil yang diatur oleh Jacob dan Clayton. Semula pembina Tyson amat menjaga agar Tyson tidak tampil dalam acara televisi nasional, agar Tyson bisa tampil dengan penampilan luarbiasa jika disaksikan untuk pertama kalinya oleh publik.Dari 15 pertandingannya pada tahun 1985, 11 lawannya dipukul KO pada ronde pertama. Tahun 1986 dia memenangkan 13 pertandingan tanpa terkalahkan. Trevor Berbick jatuh bangun dihajarnya pada ronde pertama dan pada ronde kedua Berbick harus menyerahkan sabuk juara dunia tinju kelas berat versi WBC kepada Mike Tyson. Mike Tyson memecahkan rekor Floyd Patterson sebagai juara dunia tinju kelas berat termuda. Usia Mike Tyson ketika merebut gelar juara dunia tinju pada usia 20 tahun dan 145 hari. Dalam tempo 10 bulan kemudian setelah menjatuhkan Berbick, Tyson menyatukan semua gelar juara dunia dipinggangnya. James Douglas juara dunia tinju kelas berat versi WBA sudah takut duluan, dia terus merangkul Tyson agar pukulan Tyson tidak leluasa menghajarnya. Tony Tucker juara dunia tinju kelas berat versi IBF juga ketakutan melawan Tyson dan bermain safe dengan merangkul Tyson lebih banyak.

Mike Tyson memiliki otot yang kokoh, dari otot yang kokoh tetapi lentur itu bisa melahirkan pukulan yang amat cepat menyambar sasaran pada tubuh atau kepala lawannya. Dengan tubuh yang lebih pendek dari hampir semua petinju kelas berat dunia, kepala dan badannya naik turun dan bergerak kekiri dan kekanan agar tidak mudah dibidik oleh lawan. Pergerakan badannya kekiri dan kekanan juga sekaligus ancang-ancang untuk melepaskan hook kiri atau hook kanan. Gaya bertinju seperti ini adalah kreasi dari Cus D’Amato yang disebut dengan peek-a-boo Kekuatan pukulan Tyson bisa membuat lawnnya KO jika kena pada bagian apapun, baik kepala maupun badan lawannya. Ahirnya hampir semua petinju kelas berat dunia takut terhadap Mike Tyson.

Tetapi dikemudian hari setelah Cus D’Amato meninggal dunia, kehidupan Mike Tyson menjadi limbung, tidak terkontrol. Mike Tyson seperti kehilangan kendali hidup dan terjerumus dalam kehidupan yang tidak sesuai dengan tuntunan Cus D’Amato’ Sedikit demi sedikit kemampuan bertinjunya menurun seiring dengan tidak terfokus lagi latihannya.

Gaya bertinju Mike Tyson ahirnya bisa diatasi oleh Evander Holyfield dengan caranya sendiri. Kalau takut melawan Mike Tyson sudah pasti kehilangan separuh tenaga, kalau berani melawan Tyson secara frontal berarti Tyson kehilangan separuh tenaganya. Mike Tyson menggempur Evander Holyfield dalam pertandingan pertama kereka di Las Vegas, tanggal9 Nopember 1996. Holyfield menahan serangan Tyson dengan membangun double-cover. Berkali-kali pada ronde pertama dan kedua pukulan Tyson tidak berhasil menembus pertahanan Holyfield dan Holyfield tenang-tenang saja seperti tak gentar. Ahirnya Mike Tyson frustrasi, tidak bisa berbuat banyak, sebaliknya Holyfield bertambah tinggi mentalnya. Holyfield membangun serangan beruntun terhadap Tyson, pukulan Holyfield beberapa mengena. Tyson tambah frustrasi karena tida dapat berbuat apa-apa, pukulannya tak mengena, pertahanannya dijebol oleh Holyfield. Kebetulan bertarung jarak dekat dan kepala Holyfield menempel di bahu Tyson, Tyson menggigit kuping Holyfield hingga berdarah. Yang terlihat kuat dan kokoh ternyata tak sekuat yang diduga oleh banyak orang. Orang yang kuat, petinju yang kuatnya luarbiasa, ternyata memiliki kelemahan yang luarbiasa juga. Bayangkan, hanya dengan menahan 10 pukulan keras Mike Tyson, Holyfield bisa mengalahkan Tyson. Dengan menahan pukulan Tyson, mental bertanding Tyson menurun tajam, sekaligus tenaganya juga anjlok tajam. Ternyata dalam dunia tinju erat hubungannya antara takut atau kesal dengan tenaga. Kalau kita takut, tenaga akan hilang, kalau kita kesal juga bisa membuat hilang konsentrasi dan sekaligus juga hilang tenaga.

Kalau tidak salah pertandingan antara Mike Tyson vs Larry Holmes yang berlangsung tanggal 22 Januari 1988, menjadi kenangan kita semua.  Kala itu saya sedang duduk dibangku SMA, dan tentu sedikitnya berpengaruh pada jam pelajaran kami pada waktu itu. Penasaran siapa yang menjadi jawaranya? Simak ceritanya..

Beberapa akhir pekan ini Tekya punya kebiasaan baru yaitu mulai jarang di rumah. Entah apa penyebabnya dia tidak betah di rumah. Setiap selesai jam makan malam, dia langsung ngelayap kabur. Kemana lagi kalau bukan ke rumah temen barunya yang baru pindah dari Karawang, bernama Zakaria alias Jack Challenger alias Opah. Nama julukannya sih keren. Berbanding terbalik dengan mukanya yang cendrung chubby. Uniknya, walaupun berusia muda belia  karena masih SMA, si Jack ini  biasa dia dipanggil Opah. Bukannya sebutan opah itu diperuntukkan untuk orang yang sudah uzur atau mendekati kakek-kakek. Betul tidak? Usut punya usut ternyata itu anak bernama lengkapnya Moustofa Zakaria.. Asumsinya kalau menilik dari namanya mestinya bertambang macho. Mantan cowok atau machomblang? Nama yang menipu. Rumahnya si Opah ini menjadi tempat permainan keduanya setelah rumah si Koming. Jack Opah, tetangga anyar di kampung kemang manis, baru saja empat bulan menjadi  warga di sana.  Jarak yang diperlukan untuk ke rumah Koming hanya lima langkah saja. Beda halnya ke rumahnya Jack cukup 10 langkah perjalanan, ditempuh dengan berjalan kaki dong. Lokasi rumahnya tepatnya persis di bawah rumah Tekya. Bingung ya, rumahnya terletak di dataran rendah sedangkan rumah Tekya di dataran tinggi. Sehingga kita harus menuruni jalan setapak  untuk bisa sampai ke rumahnya. Itu sekelumit data georafisnya.

Ketika musim penghujan tiba, apalagi kalau curahnya cukup deras, rumah Jack Opah seringkali kedatangan tamu yang tak diundang dan tak diharapkan bernama BANJIR. Kehadirannya suka semaunya tanpa permisi. Tanpa pilih bulu. Tanpa memandang situasi dan kondisi. Suka masuk ke dalam rumah lalu menelusuri ruangan-ruangan lain. Yang membuat jengkel, tak ada rasa sopan santun sedikitpun…

Anehnya, sebelum rumah Jack berdiri, disana tidak mengenal istlah banjir kok. Paling juga berupa genangan air saja. Tetapi semenjak rumah Jack dibangun, timbullah bencana itu. Karena sudah terlanjur basah, orangtua Jack belum berniat pindah lagi. Kesimpulannya, mereka menerima dengan sabar dan ikhlas atas peristiwa banjir yang selalu hadir tiap musim hujan. Mereka berusaha melewati dengan kuat dan tabah. Ibarat kata bubur telah menjadi hamberger!

Seperti kejadian malam kemaren, seisi rumah Jack dibuat kerepotan tak ketulungan, termasuk Tekya juga ketiban sial, yang kebetulan iseng bertandang ke sana, turut sibuk bahu-membahu mengusir air yang menggenang masuk ke ruang tamu. Jack beserta kakaknya, Jackpart terlihat menguras air dengan bantuan gayung dan selang panjang. Sedari tadi Jack, menghisap ujung selang dengan sekuat tenaga, agar supaya air masuk ke dalam selang dan mengalir ke luar pada ujungnya. Cukup tradisional dan bikin nafas tersengal. Sekali waktu Tekya pernah melihat cara itu dari tukang penjual minyak tanah keliling. Resikonya, bisa saja tertelan air atau minyak hasil sedotan tadi. Lumayan vitamin. Meskipun air perlahan terkuras, meninggalkan jejak,  yaitu kotoran sisa banjir. Belum lagi halaman dan jalanan jadi becek. Bikin kocek lecek.

“Terima kasih ya Tekya, kamu sudah rela berbasah dan berkotor ria membersihkan lantai rumah kami. “ Ucap Ibu Jack, sembari membawa nampan berisi pisang goreng.” Silahkan dicicipin pisang goreng buatan Ibu, biasa dari kebun binatang eh belakang maksudku.”

Tekya bergembira sekali disuguhi pisang goreng mentega beroleskan coklat buatan Ibunya Jack yang terkenal nikmat. “Waduh, terima kasih Bu. Dari aromanya pasti nikmat nih. Sudah merepotkan.”

“Kamu ini lucu lho Tekya. “ Sela Jack. “Kami ini yang sudah merepotkan kamu. Bukankah kamu sudah membantu kami untuk bersih-bersih. Kami sekeluarga sudah seharusnya menghaturkan banyak terima kasih.”

“Oh ya. Sudah sewajarnya kita saling membantu antar tetangga. Bantuan saya ini tidak perlu dibesar-besarkan. Nanti saya tidak dapat pahala lho.” Jawab Tekya diplomatis. “Sudah barang tentu karena kita hidup di dunia ini tidak sendiri toh.”

Jack Opah bergegas menuju dapur. Tidak lama kemudian dia keluar membawa dua cangkir kopi susu hangat dan sepiring buah duku komering, berbentuk bulat berwarna kekuning-kuningan. Betul betul mengundang selera.  Tak lama kemudian dia datang membawa beberapa lembar surat kabar dijepit di bawah ketiaknya. Lalu di mulutnya tersumbat satu biji pisang goreng yang tak sempat dikunyah. Dikulum doang.

“Waduh! Tidak perlu repot-repot, Jack. Keluarin aja semuanya yang ada di dapur.”Canda Tekya. “Pisang dari Ibu kamu saja sepertinya sudah bikin kenyang.”

“Ayolah Tekya. Bukan apa-apa sih. Malam ini kamu saya servis abis deh. Tapi kamu jangan ge-er dulu. Ini buah duku adalah sisa-sisa buah reject dari pasar segar dua hari yang lalu. Mubazir daripada saya buang ke selokan. Syukur-syukur masih bagus dan tidak bikin sakit perut. Ayolah dicicipin ya. Jangan lupa baca bismillah dulu biar selamet. Hahaha.” Jack Opah tertawa lebar. Udel  yang gendut itu nyaris tersembul gara-gara baju kaosnya yang ketat sedikit tersingkap.

Tekya langsung mencomot satu buah dukuh yang ternyata telah bersuhu dingin. Mulailah terbit air liurnya karena lapar. Kemudian diteguknya pelan-pelan kopi susu hangat yang nikmat itu. Takut keburu dingin.

Di tengah kepenatan mendera. Di tengah leseh-leseh, riak-riak amukan kejenuhan melanda.

“Jack, apa kamu nggak punya bacaan-bacaan?” Tekya membisikkan sesuatu ke telinga si Jack Opah.

Jack Opah hampir terlonjak ke belakang, kursinya nyaris terjungkir balik saking kagetnya. Otomotis Tekya juga malah lebih kaget lagi setelah melihat reaksi emosional temannya.

“Bacaan? Mantra-mantra maksudmu? Yang buat meletin cewek, ya? Eleng-eleng. Dalam agama Itu sirik namanya. Dosa yang sulit diampuni. Dosa besar gitu deh. Wajib kita menjauhi yang berbau praktek2 perdukunan. Nyebut Tekya…” Jack Opah malah ngerocos kemana-mana.

“Aduh! Jangan overacting begitu Jack. Ini payahnya kalau komunikasi dua arah tidak relevan. Tidak nyambung alias disconnect. Yang kumaksud bacaan itu adalah seperti majalah kek, koran kek, cerpen kek, novel kek, bengek kek. Bukannya mantra yang dipakai dukun cabul tahu?!, Blo-on. Pokoknya bacaan. Masak kita Cuma bengong-bengong saja. Nonton tipi acaranya begitu-begitu saja. Bosan Jack. Nanti kita dikira bujang pingitan lagi.“

“Itu ada koran di atas meja di sampingmu.” Jack Opah sambil menunjukkan jari telunjuknya.

“ Itu koran  ekonomi dan bisnis kan. Aku kurang tertarik, kalau doyan sudah dari tadi sudah kubakar eh kubaca Jack.

“It’s so very easy Tekya. Keciil. Kalau menyangkut soal media massa, publikasi dan informasi di sini gudangnya.”

“Kamu ngomongin apa Jack?”

“Dengerin ya. Saya punya semua mass media. Kamu maunya apa? Tinggal sebut saja. Pos Kota? Majalah Tempo? Tabloid Monitor? Koran Kompas? Majalah Bobo? Tom tam?”

“Apalagi….?” Tekya begitu antusias. “Gila, rumahmu ini loper koran?”

Sampai pada suatu ketika Jack Opah membisikkan dan menawarkan sesuatu. “Playboy?”

“Hah! Apa Aku tidak salah dengar nih? Masak kamu menyimpan majalah Playboy? Bukan majalah tentang mainan khusus anak laki-laki kan?” tanya Tekya semakin penasaran seraya membetulkan posisi duduknya. Gayanya serupa orang panik. “Mana-mana?”

“Bukan majalahnya Tekya. Tapi parfumnya…” Jack Opah mesem-mesem. Dia puas telah mengelabui temannya.

“Sontoloyo. Ember lu.”

Jack Opah cekikikan. “Tunggu ya Tekya… Saya mau ambil mantra-mantra dulu. Biar kita tidak kebingungan dan kebengongan.”

Usai makan malam. Suasana di rumah Tekya sedikit terjadi kehingar bingaran. Mamanya lagi marah besar.

“TEKYA! Tekya!” Kemana sih anak itu? Apa dia lupa kewajibannya malam ini? Tabel giliran untuk cuci piring sudah dibuat dan disepakati. Eh-eh malah dimushola.”

Papa yang sedari tadi asik tengah membaca surat kabar, jadi terusik lantaran teriakan Mama yang ribut dari arah dapur. Papa melipat korannya, dengan serta merta menemui Istrinya.

“Ada apa Ma? Kok mengomel. Mama mama, ngomongnya malah ngelantur. Bukan dimushola tapi dilanggar. Kata yang tepat adalah dilanggar. Jadi, peraturan yang Mama buat itu dilanggar kan?” Papa buru-buru membetukan ucapan istrinya.

“Mama tahu Pa. Tidak boleh main plesetan apa?”

“Mama kayak anak muda saja. Lagian kalau jalan tidak licit manabisa kepeleset. Masa remaja Mama sudah lewat.”

“Ee, ini. Tekya mulai bandel. Ngelayap kemana sih? Malam ini giliran dia mencuci piring.”

“Lho, memangnya dia kemana Ma?”

“Papa ini komedian ya? Lucu. Mana Mama tahu Pa. Bagaimana sih Papa ini. Seandainya kalau tahu mana mungkin Mama sampai teriak-teriak begini.”

“Sudah. Change place saja dulu sama si Evan. Tukar guling eh tukar tempat maksudnya.”

“Apa dia mau ya..”

“Yaa, itu jalan satu-satunya. Dugaanku dia mungkin main ke rumah Koming Ma.”

Setelah dibujuk oleh Mama, Evan mengangguk lesu. Mama terpaksa melimpahkan tugas negara rumah tangga itu kepada Evan yang sedang konsentrasi dengan pelajarannya.

“Apes nian nasib saya. “Ujar Eva mencak-mencak. “ Evan lagi Evan lagi. Padahal kemaren malam Evan sudah kan Ma? Mestinya giliran si Uda. Kepengin Evan pukul pantatnya.”

“Iya Mama tahu. Pokoknya sekarang Udamu sedang tidak di rumah.”

“Biar Evan cari dulu ya Ma? Dasar Kakak yang tidak bertanggungjawab. Huh!”

“Sudah Van, tak perlu. Tadi sehabis makan tadi dia langsung ngeluyur entah kemana. Tidak pakai izin dulu. Atau ngobrol kek. Kamu gantikan dulu ya, nak. Besok-besok tugasnya jadi dobel.”

“Iya deh. Oh ya Ma, hampir Evan lupa. Padahal besok ada hapalan bahasa Inggris lagi. Kami nanti diminta ke depan kelas satu-satu. Malu kan Ma, kalau sampai lupa.”

Evan masuk ke dapur untuk menemui setumpuk piring-piring kotor yang telah menantinya. Seakan minta dimandikan. “Gara-gara si konyol itu semua hapalan bahasa inggris  yang nyangkut di otak jadi keluar semua. Awas saja. Astagfirullah, kok Aku jadi menyumpahi dia ya?”

Setelah menunaikan tugas. Evan menghadap Mamanya yang sedang serius menikmati sandiwara di televisi. “Mama! Sudah beres. “ Lapor Evan dengan semangat kemerdekaan.

“Anak pintar. Bersih kan?”

“Pokoknya kinclong deh Ma. Dijamin 70 persen.”

“Lhaaa…Kok bisa begitu. Bukannya 100 persen.”

“Hihihi…Ma tiada yang sempurna di dunia ini. Ma, pokoknya kalau si Uda pulang harus dikenakan sanksi atau hukuman. “Rengek Evan.

“Apa hukuman yang pantas?” Tanya Mama sambil tetap melototin televisi.

“Yang enteng saja. Dirajam seratus kali?”

“Astaga jangan itu namanya tidak berprikemanusiaan. Menurutmu lebih baik digantung saja di bawah pohon petay.”

“Hahaha. Betul. Setelah itu kita kitik-kitik pinggangnya.”

Ternyata Tekya masih betah mendekam di rumah Jack Opah. Belum terlintas niat untuk pulang.

“WAH! ADA TINJUU!!” Teriak Jack Opah sembari menunjukkan halaman muka sebuah llembaran koran kepada Tekya. Kebetulan redaksi menjadikannya sebagai tajuk laporan utama mengangkat berita menjelang pertandingan perebutan gelar tinju.

“Tinju? Siapa yang berantem?” Tekya menoleh ke kiri dan ke kanan. Wajahnya menampakkan kelinglungan.” Oh berita di koran. Bikin orang kaget saja.”

“Tekya. Saya bisa rugi.” Ujar Jack Opah sambil menepuk pundak Tekya. Dia tidak dapat menyimpan kegembiraannya. Jack Opah memang maniak tinju dan sepakbola.

“Rugi? Apanya yang rugi Jack? Kamu kalah judi berapa?” Tanya Jack masih belum mengerti. Tekya kembali dibuat bingung oleh ucapan Jack Opah. Maklum keduanya belum terlalu lama menjadi sahabat. Perlu adaptasi menuju tingkat kecocokan.

“Begini Tekya. Besok sabtu disiarkan pertandingan tinju di TVRI. Mike Tyson yang berjulukan si leher beton itu akan melawan Larry Holmes. Nih baca deh korannya. Horeee.  Bakal seru, haru dan biru.” Ucap Jack Opah bersemangat sekali.

Sekonyong-konyong Tekya merebut koran dari tangan Jack Opah. “Mantap nih. Crazy! Dalam sejarah pertinjuan, Muhammad Ali pernah didepak si Larry. Ini kabar gembira namanya. Malah untung, bukan rugi.”

“Alaaa, kamu belum mengerti maksudku. Pertandingan sabtu nanti disiarkan secara live oleh TVRI. Percuma, Tekya. Masalahnya sabtu kan kita sekolah. Kamu kepengen bolos?”

“Gimana ya…Kenapa tidak diundur hari Minggu saja ya. Sayang jika dilewatkan.”

Keduanya tampak tidak bergairah. Masing-masing mulai bermodus jelek. Berpikir dan mencari alasan untuk tidak masuk sekolah. Mereka menyesali kenapa masih berstatus masih sebagai murid saat ini. Coba kalau sudah dewasa, tidak perlu capek-capek belajar dan bersekolah lagi. Berstatus menjadi karyawan atau wiraswasta akan lebih memudahkan untuk menonton tinju. Mereka tidak perlu repot-repot harus meminta izin kepada orangtua. Menjadi orang dewasa tentu lebih bebas karena sudah dapat mengatur diri sendiri. Menjadi orang dewasa lebih menguntungkan dibandingkan menjadi anak sekolah. Mereka mulai berkhayal yang bukan-bukan. Predikat sebagai murid sungguh menyusahkan. Andai Tekya dan Jack Opah tahu bahwa semakin dewasa seseorang tentunya porsi kewajibannya pun tentu lebih banyak dan besar juga. Menjadi dewasa juga tidak mudah. Mereka mempunyai tanggungjawab untuk menghadapi masa depan. Mencari uang, mencari kerja dan menghidupi keluarga andai dia telah mempunyai keluarga. Masing-masing jenis usia sudah ada kodratnya.

Di sebuah lokasi perkampungan yang terletak sekitar beberapa kilometer dari perumahan Jack dan Tekya.

“Kakak  serius ingin memindahkan televisi kita dari rumah?”Tanya seorang wanita muda kepada Suaminya, Ismail. Sang suami hanya mengangguk dan berdehem kecil. Sang istri terus membuntuti langkah kaki suaminya, kemanapun dia berjalan. Begitupula halnya ketika sang suami hendak menuju ke kamar mandi. Istrinyapun langsung tersadar dan berhenti hanya di depan pintu. Kak Mail yang semula ingin menutup pintu jadi terhalang.

“Kak Mail belum menjawab pertanyaanku. Sudah dipikirkan masak-masak Kak?”

“Sudah Dik. Kakak mau mandi dulu. Malahan mikirnya sampai gosong saking matangnya. Persoalan membawa tipi ke kantin saja nanyanya sampai sebegitunya. Bagaimana kalau saya ingin memindahkan rumah kita ke sekolah, Dik. Bisa-bisa kamu kelojotan setengah mati.”

“Sampai kapan Kak tipi kita ada di kantin?”

“Tidak lama. Kakak hanya ingin menonton pertandingan tinju Mike Tyson saja. Nanti kalau sudah selesai kubawa pulang lagi.”

“Betul ya. Jangan sampai lupa. Kasihan si Tohir, dia kan doyan nonton film kartun si Puma”

“Padahal kamu yang ngebet kan? Tiap malam hobinya nonton sinetron melulu.”

“Hati-hati Kak jangan sampai anak-anak sekolah tahu. Bisa-bisa mereka pada kumpul di kantin nanti buat nonton tinju. Kalau kelas sampai kosong bisa gawat, Nanti Kak Mail bisa ditegur oleh Kepala Sekolah.”

“Kamu ada-ada saja. Saat pertandingan tinju berlangsung bertepatan dengan waktu anak-anak belajar kok. Jadi aman.”

“Kalau ada rezeki, kita beli satu lagi ya Kak. Khusus untuk di kantin. Biar ada hiburan.”

“Amin. Ya sudah, sekarang Adik mundur beberapa langkah. Kakak mau menutup pintu. Mau sekalian ngebom dulu baru kecibang kecibung.”

“Oh ya Adik lupa kirain kita sedang di kamar.”

Mari kita tengok sejenak suasana kelas 1.3 pagi ini. Hening dan sunyi. Kelihatan dari banyaknya tempat duduk masih banyak yang kosong, dalam artian majikan si bangku belum pada datang. Mungkin masih on the way. Yudo Gempul dan Arleini salah satu pengecualiannya. Entah angin apa yang membawa mereka untuk datang lebih pagi ke sekolah. Dikala teman-teman sekolah belum kelihatan ujung jempolnya, keduanya justru sibuk merumpi jarak jauh. Yudo, anaknya yang berbodi subur lagi besar ini sedang nangkring di meja guru. Sementara Arleini cukup puas duduk di bangku murid di barisan paling depan. Mumpung suasana masih sepi. Kapan lagi Yudo bisa mencicipi kursi guru. Duduk dimanapun tidak ada yang protes. Tinggal pilih. Sesekali Arleini berteriak, karena suaranya tergolong sofly sound. Kalau dia ngomong very slowly nyaris tidak terdengar.

“Len..kenapa sih suaramu halus bener. Kencengin sedikit volumenya dong. Biar Aku kedengaran kamu ngomong apa. Radiasinya tidak sampai kemari.”

“Siapa suruh duduknya berjauhan.” Sela Arleini manja.

“Kamu maunya kita duduknya mepet-mepet kayak di oplet (angkot). Mau dong. Aku kesana ya. “ Mata Yudo berbinar-binar. Senyumannya mengembang bantet kayak kue basah.

“Eiitt. Tunggu dulu. Jangan pindah duduk. Nanti kita disangka sedang ngapain.” Cegah Arleini secepat kilat, takut Yudo terlanjur bernafsu. Arleini mengelus dada. Yudo Gempul sontak kecewa berat. Hati-hatinya tadinya berbunga-bunga dan merekah mendadak melayu. Arleini melanjutkan…”Husss…namanya saja kita lagi merumpi. Kan serba rahasia. Top secret. Harus pelan bicaranya. “

“Kamu ini orang planet ya, Len. Dimana-mana orang merumpi duduknya harus dekat-dekatan dong. Biar tidak terdengar orang. Kalau berjauhan begini, tahun depan baru kelar gosip kita.”

Memang, Yudo Gempul dan Arleini sedang membicarakan situasi panas permusuhan antara Mizal Bom Bom dan Ferry Handsome. Bukan menjadi rahasia umum lagi. Persahabatan yang telah mereka jalin sejak SMP terancam pecah pasca perlombaan majalah dinding.

“Kemaren si Yudi melihat mereka berdua berjalan pas-pasan. Keduanya tidak saling bertegur sapa. Malah membuang muka. Masing-masing berusaha menjaga gengsi.” Ucap Yudo, tetap bersuara dari meja guru.

“Oh ya. Wah ini berita terupdate.” Arleini menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Seperti orang sedang tercengang. Mirip gambar di poster film ‘Scream’. “Sepertinya mereka belum bisa menyelesaikan persoalan kemaren Betul nggak Yudo?”

“Apa? Kamu tadi ngomong apa?”  Yudo membuka lebar saah satu telinganya. Tuh kan tidak kedengaran lagi suaramu. Terdengar sayup-sayup. Aku yakin sekali kupingku belum budeg.” Yudo menghentakkan telinganya dengan ujung lengannya, demi meyakinkan bahwa pendengarannya tidak terganggu alias masih oke.

“Sudah deh kita ganti topik saja. Soal Bom Bom kita tutup dan disimpan dulu buat nanti siang. Hihi kayak bekal makanan saja. Ada gosip lain tidak yang lebih ‘in’ begitu. Hallo, Yudo, Yudo!” Arleini akhirnya berhasil menaikkan volume suaranya.

“Apa ya?” Yudo berlagak kayak orang mikir. Sudah membedakannya ketika Yudo sedang berpikir atau sedang kebelet pipis. “Oh ya ini nih. Kamu pasti belum dengar berita baru ini.”

“Giama? Gimana? Terus…terus. “ Arleini berapi-api sekali. Nyaris terbakar nafsu gosipnya.

“Ini tentang Pak Lamtoro, guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila) kita. Gila betul Dia.” Nada suara Yudo melambat.

“Eh Yudo, kalau dia gila tidak mungkin menjadi guru!” Protes Arleini.

“Dia terlibat affair. Saya melihat dengan mata kepala hidung kaki sendiri.”

“Yang benar saja Yudo. Masak sih? Gosipmu bisa dipercaya tidak?” Mata Arleini kembali membelalak. Malah sedikit melotot. Mirip artis Suzanna dalam film ‘Sundel Bolong’.

“Yang namanya gosipkan bisa betul bisa tidak, Leni.”

“Oke deh. Terus kamu lihat dia sedang bercumbu dengan siapa?”

“Jelas sama bininya…”Jawab Yudo santai.

“Yudo!” Teriak Arleini kesal bin dongkol. “Orang sudah terlanjur serius mendengar dari tadi. Kiranya….”

Yudo Gempul dan Arleini tidak menyadari kehadiran Tekya.

“Pacaran nih yee. Di bioskop dong kalau sedang pacaran. Tidak modal banget pacaran di kelas.” Tuduh Tekya spontan.

“Enak saja. Siapa yang pacaran Tekya? Kalau ngomong suka benar ya.” Jawab Yudo melantur.

“Lha itu pakai mojok segala.”

“Walaupun Kita mojok juga duduknya saling berjauhan lagi.” Jawab Arleini ketus.

“Sudah Leni, bilang saja kita sedang penjajakan…”Bisik Yudo pelan tapi mencekam.

Arleini langsung sewot dan buru-buru ke luar kelas. “Yudo jelek. Udah ah, jadi kepengin pipis melihat muka kalian.”

“Yudo Yudo, pagi-pagi begini sudah usaha ya..”Timpal Sony Betapermax tiba-tiba ngongol dari arah belakang. “Malah asik mojok bukannya mengerjakan tugas piket. Ayo. Siapa yang sudah mengerjakan PR Matematika. Pinjang dong, mau Aku salin nih. Pertanyaannya sih gampang cuma jawabannya susah. “

“Eh, pentil sepeda. Ini satu lagi Sony Sontoloyo. Datang-datang langsung nuduh seenaknya udelnya. “Yudo Gempul berusaha membela diri. Sejujurnya, Yudo merasa diuntungkan dituduh naksir Arleini, malah akan semakin memudahkannya menarik perhatian si cewek. Yudo mengerdipkan matanya saat Arleini melintas di sampingnya. Ya, Yudo berpura-pura tersinggung. Faktanya dia bahagia bukan kepalang. Cowok mana yang menolak bila disandingkan dengan cewek manis, lembut, bermata sendu, berambut hitam sebahu, berkulit kuning langsat dan satu lagi berbibir tebal lagi seksi kayak Angelina Jolie. Belum lagi suaranya nan amboy.

Kelas mulai kembali ke habitatnya. Ramai seperti ranjau habis meledak. Acara merumpipun bubar jalan.

“Sorry berat friends. “Timpal Tekya meninju pelan perut buncit Yudo.”Aku Cuma bercanda. “Kasihan si Leni kena tuduh begitu. Kalau si Yudo tidak kupikirin.”

“Love is blind kata Tiffany Yud. Hahaha.”Ucap Yudo penuh keyakinan.

“Hei teman-teman. Kabarnya pagi ini ada tinju lho di teve. Tyson vs Larry Holmes.” Tekya langsung mengabarkan berita gembira., sambil menyaring siapa saja yang berniat bolos selama pertandingan tinju berlangsung. Tekya melihat mimik muka mereka satu persatu.

“Masak sih. Kamu jangan menyebarkan isu Tekya. Biasanya kalau ada info tinju saya paling update. Kok bisa kecolongan. Jam berapa. Berlangsung dimana? Berapa ronde? Kamu pegang siapa? Kita taruhan yuk? Saya pilih ronde genap.”

“Dimana-manas kalau baca mantra ada titik komanya Yudo Gempul. Nyerocos bae cak sepur (ngerocos saja mirip kereta api). Bukannya ngucapin terima kasih sama Tekya. E-eh malah mengajak taruhan. Dosa tahu. Dikira saya tidak mau apa? Ayo lima ribuan saja. ”Tukas Udin dengan muka bersungut.

“Samobae. Samimawon. Sekarepmulah.” Ucap Parto dengan dialek jawanya yang kental.

“Kenapa Yudo? Tipinya sudah digadai?” Ledek Ali Caplok dengan ciri khasnya yang cengengesan. Cara berjalannya meniru Charlie Chaplin beda kumis.

Kelaspun kembali heboh. Pasar stock excange Dow John di New York kalah berisiknya. Berita tinju itu membikin gempar bukan saja melanda seisi kelas tapi malah merembet seisi sekolah sudah pada tahu. Pertandingan tinju profesional antara Mike Tyson kontra Larry Holmes menjadi deadline pagi itu. Berita itu terbang sampai ke kantin dan jatuh di lapangan sepak bola. Lho?

Bagi peminat tinju hal itu teramat krusial banget. Bagi anak-anak yang buta berita atau tak sempat atau tak doyan baca koran ataupun tabloid saat dikasih tahu, mendadak ceria bagaikan ketiban durian runtuh. Berita gembira yang langka begini tidak boleh dilewatkan begitu saja. Sebagian besar merencanakan bolos ‘semi permanet atau permanen total’. Mengerti tidak tidak maksudnya? Kalau semi permanen adalah hanya bolos sesaat saja pas tinju berlangsung. Nah, kalau permanen total atau full permanent pasti sudah menebaknya.

Kepasrahan juga menghinggapi para guru yang peminat tinju. Kalau saja boleh cuti so pasti mereka akan mengambilnya dengan segera. Hal itu akan mustahil, karena hampir separuh guru-guru laki-laki tergila-gila dengan olahraga tinju. Sekolah mendadak sepi. Bapak Kepala Sekolah tidak akan mengizinkan dan tidak akan rela. Untunglah para guru memegang prinsip istiqomah (berpendirian teguh) yaitu ‘teaching is very important. Lagipula di dunia perguruan belum ada istilahnya sekolah diliburkan hanya gara-gara pertandingan tinju doang. Apalagi yang bertanding bukan pula atlit nasional malah dari negara lain yang nun jauh disana. Apa kata dunia? Apa ucapan masyarakat nanti. Bisa-bisa image guru menjadi rusak.

Pertandingan idaman lelaki sebentar lagi menjelang. Acara-acara yang dianti-nanti akan berlangsung pukul 11.00 WIB. Pagi itu jam di ruang meja guru menunjukkan hampir setengah delapan. Artian masih menunggu 4 jam setengah lagi. Bagi penggila tinju 4 jam itu adalah kelamaan.

Bel sekolah belum berdentang eh salah berbunyi coy, Tekya cs bergabung dengan kelas lain sibuk mengekspos habis-habisan serta mengupas secara tuntas berita headline itu di kantin Kak Ma’il. Otomotis, pelanggan kantin membludak.

Sementara di pojok kantin. Sekelompok siswa sedang bersenda gurau.

“Minta-minta saja sekolah kita diliburkan.” Iwan Mukejenuh berharap-harap. Jemari-jemarinya dengan cekatan mencomot satu persatu pempek telor dari piring yang sudah tersaji di atas meja.

“Ada-ada saja.” Kata Yudo. “Mana mungkin.Kalau saja itu betul-betul terjadi, aku berani mencukur habis rambutku. Termasuk bulu ketek dan bulu-bulu yang lain.”

“Haha..klimis dong.”

“Coba kalau kamu bersekolah di sekolah bulu tangkis Ragunan. Disana olahraga diutamakan. Bisa jadi setiap ada pertandingan olahraga penting terjadi, para murid wajib untuk menonton. Asik nggak tuh?” Kali ini Alfikry angkat bicara.

“Kamu pindah saja Wan. Mau nggak?”Tawar Heri sambil senyam senyum. “Kudengar dari Pamanku yang mengajar di sana masih menerima murid baru kok. Walaupun tempatnya terbatas.”

“Oh ya. Masih ada kelas yang kosong dong?” Tanya Iwan bernafsu.

“Iya. Tapi sayangnya hanya kelas khusus kebun binatang saja.”

Iwan hanya terdiam.

“Bercanda saja kerjamu ya.” Timpal Agus sambil tidak dapat menahan ketawanya.

“Sudah sudah, begini saja, “ ucap Sony Betapermax mencoba menengahi, “kita kan sudah terlanjur meributkan si Mike Tyson melulu. Bagaimana kalau kita bolos, yuk?” Setelah selesai berbicara si Sony segera menyeruput es kacang merahnya dengan lahap. Tampaknya dia kehausan tingkat tinggi. Lalu dia bersendawa dengan keras.

Mendengar ajakan Sony yang di luar dugaan itu sontak membuat semuanya kaget.

“Kamu seriusan, Son?” Tanya Yudo seakan tidak percaya.

“Dua rius malah!” Tantang Sony. “Bagaimana dengan yang lain? Kalau setuju join sama Aku.”

Teeeeetttt. Terdengar samar-samar suara bel berbunyi dari kejauhan.

Belum sempat mengiyakan ajakan Sony, anak-anakpun bubar menuju ke kelas.

Jam pelajaran pertama adalah Fisika, yang dipandu oleh Pak Ir.Jumadil Tengah. Berperawakan pendek, gendut dan memiliki kumis tebal. Sekilas mirip bintang film Azrul Zulmy. Kayaknya kembarannya Pak Drs. Suryadi alias Pak Raden, dalam film boneka si Unyil. Saking tebalnya itu kumis murid-murid kesusahan menebak apakah Pak Jumadil lagi tersenyum atau emosi.

“S-siiap! Beri salam!” Seru Iqsan TWEJ penuh khidmat. Semua murid bangkit berdiri.

“Selamat pagi Pak!” Semuanya memberi salam serempak semabri membungkukkan sedikit badannya.

“Selamat pagi juga.” Jawab Pak Jumadil singkat. Oh ya, tolong kumpulkan PR yang Bapak berikan minggu lalu. Pasti sduah pada selesai kan?”

Semua anak saling berpandangan. Wajah mereka memancarkkan suasana kebingungan. Diana tampak mengangkat bahu saat dicolek oleh Dora.

“Maaf Pak, sepertinya tidak ada PR.” Tegas Miza Bom Bom memberanikan diri sambil plarak plirik kiri kanan. Dia kawatir pernyataannya salah bisa diledek sekelas. Beberapa anak bernafas lega.

“Bapak mimpi kali nih yee. Kalau tidak salah memang tidak ada PR menurut perasaan saya. Kalau tidak salah berarti pasti betul kan Pak?” Giliran Agus Blepotan bersuara mendukung ketua kelas.

“E-eh si bapak, ganteng-ganteng sudah pelupa ya…” rayu Fatimah genit.

Pak Jumadil langsung gede rasa. Dia hanya mesem-mesem. Lagi lagi susah diprediksi karena ketutup oleh kumisnya itu. “Ah masak sih? Ya sudah kalau memang tidak ada PR, Bapak minta maaf kalau begitu. Sekarang keluarkan buku cetak kalian. Coba buka halaman belakang tentang masalah pompa hidrolik. Di saitu ada soal tiga biji. Kerjakan dengan tertib dan jangan tergesa-gesa. Waktu 20 menit. MULAI!”

“Siaap Pak.” Jawab Tekya ketus.

“Huuu!!..keluh anak-anak yang lain. Pekikan mereka membahana ke pelosok ruang.

“Ayo tenang, jangan berisik, nanti menganggu kelas lain. Ingat, hanya tangannya saya minta yang bekerja bukan mulutnya. Sudah selesai?!

“Ya bapak bercanda nih. Cepat banget…Setengah jam ya pak…” rayu Debbie.

“Belum lima menit kok Pak,” rengek Yudo Gempul kelabakan.

“Besok saja dikumpulkan ya..”bisik Agus Blepotan.

Agus Blepotan membenci pelajaran Fisika. Selain banyak ketemu rumus-rumus di dalam setiap bab-nya, jawabannya panjang-panjang. Kadang memakan kertas satu halaman ukuran kwarto. Rumus-rumus musti dihapal di luar kepala. Sungguh menjengkelkan sekali. Membuat otaknya jadi vakum, mumet dan rumit. Sudah begitu gurunya strength sekali. Dalam menyelesaikan harus detail, rapi dan jelas jikalau ingin mendapat ganjaran nilai yang bagus. Belum lagi beliau meminta anak murid menjunjung tinggi ketertiban dan kedisiplinan. Bukan hanya sekedar jadi idiom semata. Tapi justru harus dijawantahkan secara seksama.

Pak Jumadil memiliki kebiasaan suka menyuruh murid-muridnya satu persatu untuk menyelesaikan soal-soal fisika yang rumit-rumit ke depan kelas. Bagi yang tidak dapat menjawabnya dengan benar diminta untuk berdiri dulu di depan alias disetrap sampai ada murid yang dapat menjawab dengan benar barulah kembali ke tempat duduknya. Kebiasaan ini yang paling dibenci oleh murid-muridnya. Beruntunglah bagi murid yang pintar untuk pelajaran Fisika, mereka akan berebutan ingin ditunjuk mengerjakan soal ke depan kelas. Dijadikan sebagai ajang mempertontonkan kebolehan mereka. Meranalah bagi mereka yang tidak doyan pelajaran. Satu jam di kelas serasa bagaikan di neraka. Mereka menanti giliran dengan was-was dan jantung berdebar-debar. Sambil berdoa agar Pak Jumadil lengah dan tidak menunjuk mereka. Dan Pak Jumadil sudah paham betul gelagat muridnya yang ketakutan, gemetar, menunduk, over acting, juga pretending clever berarti tanda-tanda tidak bisa, Momen-moment ini membuat Pak Jumadil geli. Di dalam hati mungkin dia tertawa dalam hati seakan berkata ‘nih gua kerjain lo satu persatu’. Terlebih ketika melihat Pak Jumadil bangkit berdiri dan berkeliling mengitari meja satu persatu. Seperti Tekya sedari tadi duduknya sudah resah dan gelisah menunggu ditunjuk oleh si guru. Jangkan menjawab soal melihat pertanyaanya saja dia sudah menyerah. Di meja barisan belakang tampak Agus Blepotan juga mengalami hal serupa. Dia mendadak stroke ringan. Sama halnya   dengan Maman Sumaman,  butiran keringan mengucur dari keningnya mengalir sehingga membuat basah baju seragamnya. Seperti menanti eksekusi di tiang pancung.

Menyeramkan sekali pelajaran ini ya. Kalau sudah begini bisa ditebak doa-doa mereka pasti seragam. ‘Ya Tuhan buatlah guru kami ini sakit perut dan pingsan mendadak agar pelajaran ini cepat berkahir’. Atau ya Tuhan berikanlah kami ilmu bisa menghilang. Atau ya Tuhan kirimkanlah kami Superman agar  dia membawa kami terbang ke angkasa. Atau lagi ya Tuhan tolong pintarkanlah kami dalam sekejab. Atau yang lebih ektream, ya Tuhan mudah-mudahan sekolah ini mendapat teror bom?!. Tidak aneh jikas semua yang diharapkan dan diminta menjurus sesuatu yang konyol. Mereka seakan-akan sedang berhadapan dengan zombie ganas yang akan memangsa siapa saja yang tidak paham pelajaran fisika.

Pak Jumadil melirik arloji pemberian istrinya. Karena sedari tadi matanya melancong ke seluruh penjuru kelas.

Detik-detik menegangkanpun tiba. “Waktu telah habis. Bapak harap semua sudah selesai mengerjakan.” Kata Pak Jumadil sambil berdiri. Lalu menatap muridnya satu-persatu. Mulai dari barisan depan tengah belakang kiri kanan. Semua tak luput dari penglihatannya.

Agus Blepotan terkesiap. Jantungnya kembali berdebar kencang. Darahnya berdesir hebat, laksana mengalir sampai ke otaknya. Body languagenya berbicara mensinyalkan sesuatu yang negatif. Buku latihan yang ada dihadapannya samasekali belum terisi alias masih kosong. Bahkan belum tersentuh. Agus Blepotan berdoa kembali mengharapkan keajaiban datang tiba-tiba. Pertandingan tinju Mike Tyson memberikan efek samping yang dahsyat untuknya, sekligus membuyarkan semua konsentrasinya. Dalam kondisi normal saja dia sudah susah mengerjakan soal fisika  apalagi ketika di saat tegang. Beda dengan Tekya, kelihatannya dia berusaha mengontrol kadar emosional dan ketakutannya dengan tetap bersikap kalem. Berusaha bersikap sewajarnya di hadapan Pak Jumadil. Seakan-akan dia mampu mengerjakan soal fisika yang akan diberikan kepadanya. Tekya sempat melirik ‘tetangga’ sebelahnya, Ferry, bernasib setali tiga uang dengan Agus Blepotan dan Tekya.

Tebersit niat Agus untuk mengelabui Pak Jumadil dengan berpura-pura sakit perut agar terhindar dari malapetaka yang bernama ‘fisika’ tersebut. Dia sudah tidak tahan lagi dengan keadaan genting begini. Dalam hatinya berkata, ingin berusaha menundukkan pelajaran sialan itu suatu saat dengan mencoba mengambil kursus atau berguru dengan Iqsan dan Andi, yang berotak encer.

“Tekya…”bisik Agus Blepotan kepada Tekya, di tengah kegelisahan, di saat Pak Jumadil lengah, dia sempatkan menoleh ke belakang. “Boleh Aku nyontek sebentar bukumu?”

“Teman yang ditanya menggeleng pelan. Lalu mendesis pelan, “Aku juga tidak bisa. Bukuku masih kosong.”

Tekya lantas menunjuk Iwan.

“Hah! Iwan? Payah. Coba Kau tanya Faisol, mungkin dia simpan jawabannya di dalam rambutnya.

Tekya melirik Faisol, teman sebangkunya. Rupanya si kribo asik sibuk mencorat coret di kertas buram. Dia berpura-pura sedang menjabarkan sebuah rumus. “Pusing! Pusing!” Tekya mendengar keluhan Faisol Kribo.

“Percuma Gus. Samimawon.”

“Gawat. Mati Aku.”Pekik Agus dalam hati.” Dia sangat kawatir hari ini merupakan nasib tersialnya bila samapi disuruh maju ke depan kelas. Bayangan bakal disetrap menari-nari di atas kepalanya. “Waduh, pamorku bisa jatuh nih.”

Dia sempatkan untuk meminta bantuan duet jenius Fisika, Iqsan TWEJ dan Andyman. Pasti keduanya tidak merasa terbebani seperrti Agus. Dari jauh kelihatan jelas wajah-wajah mereka tidak melukiskan ketakutan seperti yang Agus alami. Buku latihan mereka satu halaman penuh sudah terisi jawaban beserta rumus-rumus.  Andyman dan Iqsan TWEJ kebetulan sebangku. Klop, sama-sama pintar lagi. Sekarang mereka berdua tengah asik bercanda sambil santai. Layaknya seperti dua sahabat karib yang sedang kongkow di warung bakso.

Agus Blepotan betul-betul pusing. Untuk sementara dia masih menunda-nunda niatnya untuk berpura-pura sakit perut yang telah dicanangkannya di awal.

Kini, Pak Jumadil Tengah mulai menjalankan aksinya. Sudah menjadi tradisi, di awal soal dia menawarkan kepada murid-murid yang pintar dan berani bersedia maju.

Tiab-tiba seorang murid bernama Andyman memecah ketegangan kelas dengan berani mengacungkan jari telunjuknya. Sebagian murid berpaling kepada Andyman. Sebagian murid yang lain menghela nafas lega.

Agus tersenyum puas. Terima kasih Andyman, telah memberikan nafas buatan untukku. Agus ngebatin.

“A-adaauuuuh. Maaf Pak Jumadil perutku sakiiiit!!” Teriak Agus sedikit tertahan. Semua murid kini berpindah ke bangku Agus. Tekya, Faisol dan Ferry terhenyak dan terkaget bercampur senang. Mereka buru-buru menawarkan bantuan.

“Interupsi sebentar Pak. Agus kelihatannya sakit perut.” Tekya memanggil Pak Jumadil yang sudah duduk di singgasananya.

“Ada apa? Kenapa si Agus?” Tanya Pak Jumadil heran.

“Mau beranak kali Pak, “ celetuk Mimi sambil menutup mulutnya dengan selembar saputangan berwarna jingga.

“Kenapa perutmu Gus?” Pak Jumadil menghampiri bangku Agus. Kelihatan sekali muka Agus meringis dan merintih. “Kamu belum sarapan ya? Atau kebanyakan minum cuka pempek?”

“Iya. Tadi minum cuka pempek setengah botol.” Jawab Agus sekenanya.

“Sebentar…Perasaan ini kali kedua kamu sakit perut pada jam pelajaran saya. Alasan kamu saja kali. Ayo, jangan berpura-pura. Bapak tahu kartu kamu. Kamu takut disuruh ya?” Gertak sang guru.

“Betul saya sakit perut. Minggu lalu saya sakit kepala. Kan penyakitnya beda pak.” Elak Agus dengan yakin. Agus sudah membulatkan tekad. Apapun yang terjadi dia tak gentar untuk melanjutkan akal bulusnya. Istilah kata sudah terlanjur basah. “Ayo bantu dong. Jangan biarkan aku menderita.” Rintih Agus terdengar pilu.

Setelah itu, Pak Jumadil segera mengintruksikan kepada teman terdekatnya untuk memapah Agus ke ruang P3K. Tekya, Faisol dan Ferry berebutan ingin membantu. Ternyata anak-anak lain juga ingin berpartisipasi ikut menolong.

“Sudah biar Tekya, Faisol dan Yudo saja yang membantu. Yang lain tenang dan kembali ke bangku masing-masing. Tidak usah semua ya. Kelas ini bisa kosong nanti. Ayo, kita melanjutkan pelajaran kembali.”

“Kami bawa sekarang Pak?” Tanya Yudo Gempul bingung.

“Iya sekarang. Masak tahun depan. Keburu keluar di sini nanti. Kan bikin kotor lantai kelas.” Jawab Pak Guru gemas.

Pola memberi kode kepada Yudo dan Faisol untuk cepat menggotong Agus. “Kita bawa ke ruang P3K yuuk.”

“Iya. Awas jangan dibawa ke kantin ya.” Canda Pak guru.

“Beres Pak.” Jawab Faisol.

Sesampai di ruang P3K atau PMR, Agus mengerdipkan mata. Merasa telah diperdaya oleh Agus, Tekya CS langsung melepaskan bopongannya secara paksa, sehingga pantat Agus yang tempos mendarat mulus di lantai.

“Aduh! Teganya kalian.”Protes Agus sambil meringis kesakitan, lalu meraba pantatnya sebentar.

“Kamu menipu kami lagi, Gus?” Dengus Yudo kecapain.

“Mending ringan, dasar gajah!” Umpat Tekya seraya menghapus keringatnya.

Tidak lama kemudian datang Mbak Lily datang memberikan sebotol minyak angin cap ‘kayu jati’ kepada Agus.

“Di olesin sama Mba ya?” Agus mencoba merayu.

“Oleh sendiri ya Gus. Jangan manja ya. Malu dong kan sudah gede.” Mba Lili menolak halus.

“Katanya kalau mau cepat sembuh langsung diminum saja Gus.” Saran Tekya.

“Kau pikir ini cuka pempek. Sontoloyo kamu!” Agus mendorong pundak Tekya.

Kemudian Mba Lily minta permisi ke belakang sebentar. Setelah dirasa sepi Agus langsung bersorak dan melonjak kegirangan. “Yesss.”

Tekya, Faisol dan Yudo terheran-heran.

“Hihi. Aku berhasil menipu si Jumadil culun itu. Hebat tidak aktingku? Sekarang aku terbebas dari fisika yang menyebalkan itu. Kalian lupa ya. Sebentar lagi pertandingan Tyson di teve akan dimulai.

Walaupun masih menyimpan rasa kesal, Tekya, Faisol dan Yudo harus berterima kasih juga kepada Agus yang telah menyelamatkan mereka juga dari ancaman Fisika yang mencekam itu. Mereka berempat kembali ke kelas setelah pelajaran Pak Jumadil usai.

Di kantin, Agus,Tekya,Yudo dan Faisol terlibat party-ria di kantin Kak Ma’il.  Menu mereka tidak tanggung-tanggung, pindang ikan patin, pempek kapal selam, lenggang dan es kacang merah. “Aduh nikmatnya bisa terlepas dari Fisika. Asoyyy!” teriak Agus sambil menyenderkan dirinya di dinding karena kekenyangan.

Pukul 10.15 WIB, pada saat kelas lain hening belajar, di kelas 1.3 belum menampakkan tanda-tanda kehadiran guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Tampak sosok dua bayangan mengendap-ngendap di lantai tiga. Kedua makhluk itu tak lain dan tak u’uk adalah Yudo Gempul dan Sony Betapermax masih berjalan berjingkrak-jingkrak menelusuri koridor dengan tas diumpetin di bawah ketiak. Sekiras mirip pencoleng atau teroris yang hendak menjalankan aksi jahatnya. Ya, ternyata telah disepakati bersama mereka ingin….BOLOS.

“Kamu yakin Son, si Faisol sudah di bawah?” Tanya Yudo sedikit gugup. Ini pengalaman pertama kali dia bolos.

“He-e. Ce-cepat sedikit, mumpung sepi,” ujar Sony tak kalah gemetar. Nanti tas ini kita lempar dari atas.”

Keduanya mengendap mendekati balkon di lantai tiga. Yudo melongokkan kepalanya untuk dapat melihat ke bawah dan memastikan Faisol sudah standby untuk menyambut tas. Sony menoleh ke kiri ke kanan, setelah dirasa aman, dia langsung mengambil ancang-ancang untuk melempar tas.

“Siap Sol?”

Faisol hanya mengacungkan jempolnya tanda siap.

Sony meleparkan tas secara serabutan sehingga membuat Faisol kelimpungan dan kebingungan memilih tas mana dulu yang akan dia selamatkan. Hop! Hop! Tanpa ampun sebuah tas menimpa kepalanya. Untungnya rambutnya yang kribo itu cukup membantu sebagai tameng.

“Aduh! Hoy Sonyloyo! Ember!  Panci! Satu satu dong melemparnya. Benjol nih”

Percuma saja Faisol mengomel di bawah, sedangkan kedua makhluk di balkon telah lenyap dari pandangan.

Setelah memungut tas teman-temannya satu-persatu. Kemudian dia bersiap hendak menuju sebuah pohon rindang di dekat lapangan sepak bola. Untuk mencapainya Faisol harus melewati celah-celah pagar besi yang bolong. Pagar tersebut memisahkan gedung sekolah mereka dengan gedung sekolah SMP. Setelah itu Faisol, Yudo dan Sony bertemu kembali. Namun…

“Boles nih yee..”tiba-tiba terdengah sebuah suara yang agak berat intonasinya. Bersamaan seonggok tangan menepuk pundak Faisol. “Mengapa tidak lewat dari depan saja. Pintunya tidak digembok kok…”

Rupanya siang itu dewi fortuna tidak berpihak kepada mereka. Ternyata aksi mereka kepergok dan digagalkan oleh Pak Jono, sang wakil kepala sekolah yang memang doyan patroli keliling halaman sekolah mengrazia murid-murid yang berniat bolos. Pak Jono menggiring mereka ke ruang sidang. Mereka diceramahin habis-habisan agar tidak mengulangi lagi.

Setengah jam kemudian, Pak Lamtoro si guru PMP, baru menampakkan jenggotnya bersama langkah gontainya masuk ke kelas. Ketika sudah duduk di kursi guru, dia langsung memanggil salah satu murid perempuan.

“Rajni, kemari sebentar,” panggilnya setelah mendaratkan pantatnya di kursi, “Catat buku ini dari sini ke sana.

“Huu. Nyatat lagi, nyatat lagi. Bosan, “omel Rajni dalam hati. Kendati demikian dia tidak bisa menolak, walau hati kadang gondok. Tentunya, sudah bukan rahasia umum jika pelajaran civic ini membosankan serdadu 1.3. Bagaimana tidak bosan? Begitu guru masuk kelas langsung menerapkan sistem CBSA (Catat Buku Sampai Abis). Side effectnya tangan terasa pegal. Satu hal lagi yang membuat dongkol mereka, selagi anak-anak tekun mencatat, eeh dia malah sibuk berceramah apa saja. Pokoknya melenceng dari pelajaran semula deh. Seldom out line! Sampai-sampai segala tetek bengek Family Bussinessnya diborong ke kelas.

Tet!! Pelajaran pun usal. Semua bernafas lega.

“Kita bagai dihadapkan pada sebuah dilema,” ujar Iwan Mukejenuh suatu hari berfilsafat, “Di satu sisi kita sudah melaksanakan perintahnya, yaitu mencatat. Di sisi lain dia malah mengajak ngobrol ngalur ngidul. Aku belum pernah mendengar konsentrasi dua arah, kecuali tangan, mata sama kepala bisa dipisah. Itu akan sulit sekali. Hanya orang-orang tertentu yang dapat melakukan itu. Kalau kita tidak mencatat salah, tidak menyimak salah, nah kalau kita molor lebih parah lagi.”

“Bisa gawat nasib semesteran kita nanti,”sela Agus, “catatanku amburadul, buku pedoman tidak punya. Apa tidak kacau balau nantinya? Padahal ini tergolong pelajaran keramat, merah di rapor bisa bisa tidak naik kelas, Coba bayangkan tidak lucu lantaran pelajaran PMP kita bisa tua di sini gara-gara tidak naik kelas melulu. Idiih amit amat deh.”

Beberapa anak memang tidak menyukai metode mengajar Pak Lamtoro. Beliau dinilai terlalu banyak santainya dalam memberikan materi. Dia seringkali memanfaatkan muridnya demi keuntungannya sendiri.  Kelakuannya sudah hapal di luar kepala. Ketika masuk kelas, lalu panggil salah satu murid untuk mencatat di papan tulis. Terus dia sibuk bercerita apa saja di luar konteks. Ya, sedikitkali yang nyambung dengan pelajarannya. Malah kadang-kadang curhat sendiri. Menceritakan mana yang mood menurut dia. Enak dan santai sekali. Anak-anak paling hanya manggut-manggut pura-pura menanggapi. Sebenarnya bagi anak-anak yang pemalas senang banget dapat guru tipe begini. Ditambah lagi duduk di bagian barisan paling belakang. Tutup buku lalu tidur. Anehnya dibiarkan saja oleh sang guru. Kok ya bisa lulus menjadi guru. Entahlah, apa karena pelajaran yang diasuhnya memang tidak seperti pelajaran matematika atau fisika yang memerlukan konsentrasi dan berpikir keras. Padahal PMP sangat diperlukan untuk menata moral dan prilaku kita agar sejalan dengan Pancasila.

“Bagaimana kalau kita laporin saja ke kepala sekolah bahwa kita akan berdemo untuk menurunkan Pak Lamtoro. Kita protes minta diganti dengan guru wanita yang lebih seksi?” Usul Tekya.

“Jangan begitu. Itu sadis namanya.”protes Kemas. “nanti kalau dia dipecat keluarganya dikasih makan apa. Tapi kalau…diganti sama guru yang bening boleh juga sih. Hehe.”

“Tidak segampang itu Tekya. Tanpa bukti otentik, Pak Antono pasti cuwek. Ya kita bisa saja mengajak Pak Antono saat Pak Lamtoro mengajar sebagai bukti. Tapi tentu saja dengan diam-diam tanpa sepengetahuan dia.”Faisol yang baru saja kena razia Pak Antono ikut nimbrung.

“Menurutku itu sudah tabiatnya kali. Tidak mudah mengubahnya.” Iqsan berdiplomasi.

“Betul juga kata Kemas tadi. Tumben. Saya setuju,” Ujar Rajni sambil mengacungkan jemponya. “Kita minta kepada Kepsek untuk mengevaluasi kwalitas dia. Siapa tahu dengan sedikit masukan atau nasehat membuat Pak Lamtoro sadar dan mengubah metode pelajarannya.

“Betul. Biar dia sadar bahwa metode mengajarnya tidak efektif.”sambut Qibal. “Kalau hal ini dibiarkan berlarut-larut ruginya ada pada kita sendiri.”

“Saya setuju, “timbang Yudo Gempul, “status kita kan masih anak baru, bau kencur lagi. Yang namanya remaja itu, emosionalnya dan egonya lebih dominan. Belum stabil. Takutnya suara kita tidak didengar.”

“Pak Lamtoro itu…”ucap Novelita lembut, sebetulnya orang baik. Mungkin dia punya masalah hingga bersikap demikian. Sebagai buktinya, segala masalah ditumpakahkan atau dicurahkan kepada kita. Wong kita masih kecil belum tahu urusan orang dewasa. Ya bengong toh. Kita harus memakluminya. Cuma aku herannya dia nggak pernah meminta feedback dari kita. Kasihan Pak Lamtoro…Ini sekedar info yang kudengar dari kakak kelas kita. Pokoknya yang penting dia nggak pelit kasih nilai kok. Asal kita rajin mencatat, menyimak, nggak badung dan banyak tingkah, nurut, gitu. Dijamin tahan lama eh maksudku nilainya bakalan tokcer deh.

“Aduh Novel, kamu piye iki.”ujar Pito,”dimana-mana orang yang rajin ya logikanya sudah pasti pintar, Ta. Kerjaannya belajar melulu. Setiap orang pintar selalu naik kelas, kecuali…sekolahnya ambruk.”

Semua tersenyum.

“Zaman sekarang kalau tidak gesit akan sulit hidup. Mencari kerjaan perlu koneksi dan duit. Bahkan ketika seseorang mau naik pangkat atau jabatan saja orang rela kehilangan harga diri. Segala cara dicari. Halal haram hantam.”komentar Fatimah sembari menyibakkan rambutnya nan hitam tergerai.

Mencari kesalahan dan memvonisnya seseorang adalah pekerjaan gampang. Mengkoreksi diri itu tidak semua orang dapat melakukannya. Bercermin dan bercermin. To say is easy.

Sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan seorang teman hidup guna mengarungi kehidupan di dunia ini. Makhluk yang bernama ‘manusia’ itu adalah gudangnya salah. Maha sempurna mutlak milik sang Pencipta. Sebab tak ada gading yang tak retak. Tak ada manusia yang sepenuhnya sempurna. Tiap orang oleh Tuhan memiliki kelebihan dan kekurangan. Mari mensyukuri segala karunianya.

Bel istirahat tersisa 8 menit lagi. Agus Blepotan, Tekya, Iwan Mukejenuh dan Ferry berlari kecil, bergegas menuruni tangga menuju lobby sekolah. Mereka berebut saling mendahului. Mirip kucing balap lari dengan tikus demi seonggok tulang ikan. Kayaknya lapar berat. Sesampai di sana mereka heran hanya sedikit  siswa yang tampak berkeliaran. Biasanya juga jam istiraharat tiba sudah mirip pasar 16 ilir. Ramai dan hiruk pikuk.

“Lho kok sepi banget. Pada kemana semua anak? Apa sudah pindah ke planet lain?” Tanya Agus Blepotan heran. Dia langsung mengucek-ngucek matanya.

“Siapa tahu mereka sedang puasa senin kamis apa.” Tebak Tekya. “Oh mungkin di kantin Kak Ismail sedang ada diskon, jadi semua murid pada pergi kesana.”

“Kamu pikir warung Kak Mail pasar swalayan?” cetus Iwan Mukejenuh sengit.

“Jangan-jangan pada bolos massal ya?”Ferry mulai curiga. Dia masih sempat melirik jam arlojo merk Daiwanya. “HAH Pukul 11.05 menit.”

“TINJU!!” Ketiga berteriak serempak. Mereka baru menyadari jam segitu adalah pertandingan tinju antara Tyson dan Holmes disiarkan di teve.

Tidak lama kemudian, dari pintu toilet keluarlah seorang murid laki-laki, sambil berlari menuju ke arah mereka, kemudian melewati mereka tanpa menegur lagi.

“Ada apa coy lari-lari? Ditagih debt collector ya?” Tuduh Agus setengah berteriak. Namun pertanyaannya tak digubrik sama sekali.

“Aduh! Kita mau menonton tinju dimana?”Iwan serasa mau menangis gara-gara tidak dapat menonton pertandingan tinju dambaannya. Tiba-tiba pucuk dicinta nasi ulampun tiba. Tanpa disengaja sosok yudo Gempul nongol secara tiba-tiba dan ketika dia hendak berlari Iwan buru-buru menghalangi. “Mau keman Do? Kok kami dicuwekin sih?”

“Aku mau toilet. Jangan dihalangi dong. Mending kalian bergabung sama anak-anak. Lagi seru nih. Kak Mail sedang bertinju. Eh maksudku semua anak pada ngumpul di kantin. Ada pertandingan tinju. Mumpung baru ronde kedua.”

“Serius Yud?” Agus Blepotan antara kaget  bercampur sumringah.

“Sumpah tuyul deh. Biar dikawinin sama Shanen Doherty kalau saya menipu.”

“Ayo kita kesana. Serbu!!” Tanpa bak bik buk bek bok lagi ketiga murid itu segera ke kantin, sambil berterian..”TINJU TINJU TINJU!!”

Kantin Kak Mail siang itu penuh sesak. Full house. Sudah kayak pasar kaget kedatangan artis dangdut ibukota. Mereka berebutan hendak masuk. Rata-rata murid cowok. Murid cewek hanya segelintir saja. Ya, ternyata mereka sedang menonton pertandingan tinju di televisi. Kak Mail menaruh sebuah televisi berukuran 14 inch di atas meja yang tinggi. Kantin Kak Mail sebenarnya lumayan luas menjadi terasa sempit. Sedangkan kapasitas terbatas. Kak Mail pantas diacungin jempol karena bisa memenuhi aspirasi nafsu tinju pengunjungnya.

Saking asik dan seriusnya mereka menonton, sampai-sampai tidak mendengar kalau bel tanda  istrirahat sudah berakhir.

“Bel masuk tuh! Bagaimana nih tinjunya belom selesai.” Tekya bertanya kepada Iwan.”Masuk yuuk.”

“Tanggung nih. Nanti kita barengan saja ke atas. Kesempatan Ini jarang terjadi. Yang lain juga belum pada masuk kok..” Keluh Iwan sambil menarik kemeja Tekya.

“Biar disetrapnya bareng. Kita kan kompak.” Ujar Yudo nyegir kuda lumping.

Akhirnya Tekya terpaksa menuruti dan menonton dengan kusyuk.

Bu Tata kaget setengah hidup. Mulutnya sempat menganga lebar, matanya terbelalak setelah mendapatkan kelas begitu sepi. Hanya kelihatan anak-anak cewek yang hadir. Termasuk si Zoel yang gemulai sedang asik bercanda dengan Dora dan Diana.

“Anak laki-laki pada kemana ya?” Ibu Tata bertanya kepada Fatimah.

“Ma-masih pada di kantin Bu. Masak Ibu tidak update berita.” Jawab Fatimah bernada serius.

“Berita apa ya?”

“Mike Tyson berantem sama Larry Holmes.”

“Hah! Apa? Dimana?”

“Tenang Bu. Hanya di teve kok.”

“Aduh! Di sekolah ini kan tempatnya untuk belajar dan menuntut ilmu. Bukan macam-macam. Ayo salah satu dari kalian tolong panggil mereka semua. Suruh mereka masu. Pelajaran akan dimulai. Apa tidak dengar bel tanda masuk ya?” Bunyi bel sekeras itu sampai tidak kedengaran. Pada budeg apa semua. Baru duduk di kelas satu sudah bandel. Cepat cari mereka. Kok masih pada bengong kayak anjing nyolong. Oke? Nanti lapor ke Ibu ya. Ibu mau ke ruang guru sebentar. Ada buku yang ketinggalan.” Setelah berceloteh panjang lebar Ibu Tata mgeloyor pergi.

“Idiihh, marah nih yee,” ledek si Zoel,”Galak sih. Makanya tidak laku. Belum nikah-nikah juga. Siapa yang mau?”

“Huss! Usil banget mulut kamu Zoel. Ketahuan Bu Tata, baru tahu rasa.”Maki Debbie, “ayo kita terusin main hom pim panya.”

“Ayuk!” Seru Zoel.

Apa mau dikata. Nasi telah menjadi humberger! Tahi kambing bulat bulat dimakan jadi obat disimpan jadi zimat. Kelas yang sepi tidak hanya dialami kelas 1.3 saja, akan tetapi hampir semua sampai kelas 1.7. Badai tinju menerjang seluruh kelas. Otomatis menimpa guru-guru juga. Guru di kelas lain yang hendak memulai mengajar bernasib serupa ketika memergoko kelas sepi dan hanya murid cewek  yang setia. Pertandingan tinju mendramatisir keadaan.

“Masak gara-gara tinju sih mereka malas masuk. Mereka lebih mementingkan acara tinju di teve daripada belajar. Generasi macam apa ini? Mau menjadi petinju semua apa? Anak-anak sudah mulai kurang ajar ya. Saya juga suka tinju tapi tidak norak seperti mereka. ” Ucap Pak Mul Mul ketus, sang wali kelas 1.5. Dari nada bicaranya kelihatannya marah besar.

Setelah semua murid sudah kembali ke dalam kelas masing-masing. Termasuk kelas 1.3. Pelajaranpun dimulai. Akibat tinju waktu belajar menjadi molor. Konsekwensinya durasi mengajarpun dibuat panjang oleh para guru. Semua murid menerima dengan pasrah dan lapang dada. Walaupun terbersit kekesalan di hati mereka. Di dalam hati mereka dapat tersenyum puas masih bisa menonton pertandingan Mike Tyson melawan Holmes yang seru itu adalah salah satu duel yang paling ditunggu, kalau tidak salah waktu itu tanggal 22 Januari 1988.. Holmes yang berstatus sebagai mantan juara dunia menghadapi keperkasaan dan keganasan Tyson. Tak lupa promotor terkenal Don King juga hadir. Bermain di salah satu kasino milik Donald Trump, Tyson berhasil mengalahkan Holmes dengan tinju di wajah pada ronde keempat. Mereka tidak akan pernah melupakan peristiwa bersejarah itu.

Di rumah Kak Mail terjadi percakapan dengan istrinya..

“Rezeki tidak kemana-mana, Dik..say…,” hibur Kak Ma’il pada None Milah, istrinya di dapur.

“Alhamdulillah. Banyak duit yang masuk yo Kak?” ucap istrinya Kak Ma’il sedikit kaget, meninggalkan sebentar setrikaan yang lumayan menumpuk. Dikarenakan sudah beberapa hari hujan turun terus. None Milah dengan manja menyenggol tubuh suaminya, sehingga membuat Kak Ma’il nyaris terjengkang. “Bagi dong say…duitnya.”

Buru-buru Kak Ma’il mengembalikan posisi tubuhnya seperti semula. Terlambat sedikit saja pantatnya pasti mencium lantai.

“Hampir saja kamu mencederaiku, Dik. Seperti mau copot jantungku.”

“Maaf ya Kak. Adik tidak sengaja.”

“Nanti adikku sayang. Istriku sayang. Ini gara-gara Mike Tyson! Kantin kita ketiban rezeki ngompol eh nomplok. Laris laris tanjung kimpol.”

“Tunggu kak..Teksun? Siapo itu Kak? Tetanggo kito ya?”

“Bukan. Kamu ini bagaimana? Masak tidak kenal Mike Tyson. Si leher beton. Dia petinju dunia yang terkenal wahai adikku.”

“Jadi dia datang ke kantin kita kak? Asik kantin kita dikunjungi orang terkenal.”Istrinya gembira bukan ilalang eh kepalang.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

SERIAL ‘MASA SMA, MASA BODO?’ ADA BIOSKOP DI…SEMPIT

 

Oleh : Deddy Azwar

Janji adalah hutang. Hutang identik dengan uang. Mengumbar janji berarti mengumbar hutang? Wah! Berarti orang kaya dong yang doyan memberikan pinjaman ke orang-orang. Orangnya ini Istilah kerennya dinamakan debitur. Sedangkan orang mengingkari janji tergolong orang yang wanprestasi.  Bertindak Lalai dan tidak menepati janji. Lalai dalam membayar hutang. Tidak bertanggungjawab dan tidak terpuji. Teruss…jadi panjang deh definisinya. Tambah bingung kan? Sudahlah kita tinggalkan istilah yang membingungkan ini. Lebih baik kita lanjutkan kisah sentimental ini.

Pokoknya hari hari Tekya dihiasi dan dimeriahkan oleh janji-janji.  Belum terdeteksi apakah semua itu janji manis, pahit, asli atau cendrung palsu. Jangan merembet kemana-mana dulu ya.  Bahkan jauh sekali kolerasinya dengan film holywood pernah tayang di negeri kita. Film bertajuk ‘Jumanji’ yang dibintangi oleh aktor kocak lagi kawakan ‘nano nano’ Andy Williams.

Manusia  ideal adalah yang selalu berusaha untuk menepati janji  yang dibuatnya sendiri. Sampai disini kita sepakat kan? Apabila dilanggar mungkin dapat digolongkan manusia ‘idiot’.  Tekya selalu kemakan janji-janji manis konco-konconya. Entahlah, yang pasti tampangnya yang lugu dan cendrung polos itu sering menjadi bumerang. Padahal faktanya di lapangan tampang si Tekya bertolak belakang sama tabiatnya yang suka usil. Hanya saja suka ketutup sama chasingnya yang ‘baby face’. Masih ingatkan cerita sebelumnya? Di awal dikisahkan sohibnya semasa SMP bernama Denny berjanji dengan Tekya untuk pergi bareng besok pagi ke sekolah SMA mereka yang baru. Ceritanya kebetulan mereka baru lulus SMP. Tekya mendatangi rumah Denny sesuai janji yang mereka rancang via telepon semalam ba’da Isya.

Ketika Tekya bangun pagi pada keesokan harinya, ‘aroma SMA’ sudah tercium bersama hembusan angin. Suasana pagi yang segar itu mendongkrak semangat dan jiwanya Tekya. Tentunya dengan diimbangi pikiran nan positif, namun ujungnya berakhir dengan kekecewaan lantaran Denny sudah pergi duluan di antar sopir Ayahnya. Padahal Tekya sangat berharap bisa nebeng. Perasaan Tekya dia tidak terlambat lambat amat kok. Apa perlu Denny diboikot lantaran ingkar janji?, pikirnya. Dia yang berjanji dia pula yang mengingkari. Mirip lirik lagu lawas Tante Titik Puspa. Udah jangan pura-pura lupa deh…

Terlambat atau delay atau apapun namanya tidak hanya kita dijumpai pada jadwal penerbangan saja, akan tetapi pada saat rapat di kantor biasanya juga suka molor sekian menit,  itu mah hal biasa. Orang berpacaran kalau ngedate pas malam minggu juga suka molor alias ngaret. Mungkin untuk kalangan ibu-ibu juga dihinggapi ‘jam karet’ ketika mengadakan  arisan atau suka menganggap enteng bila berjanji dengan mas-mas  tukang kredit panci.

Di negeri tercinta ini sudah lama mengenal budaya jam karet di kalangan masyarakat kita. Berbagai macam alasan menjadi penyebabnya. Terlebih lagi yang tinggal di perkotaan khususnya di kota besar seperti Jakarta. Tiada hari tanpa kemacetan di jalan raya. Kemacetan acapkali dijadikan sebagai alasan senjata pamungkas ketiam seseorang terlambat.  Hal ini kelihatan sepele bagi sebagian orang. Akan tetapi jika dibiarkan akan menjadi ‘bom atom’ yang sewaktu-waktu akan mengoyak seluruh isi prilaku dan membuyarkan moral kita yang tadinya ‘mungkin’ baik.

Cobalah kita tengok negara-negara yang sudah maju baik di Eropa maupun Asia. Tidak perlu jauh dalam mencari contoh. Ambil contoh orang Jepang. Mengapa Jepang? Mereka adalah pekerja keras dan bertanggungjawab pada profesinya.  Profesional sekali. Kita layak meniru orang Jepang. Sebagian besar memegang tangguh sebuah janji. Apalagi untuk melanggar janji. Rata-rata selain rajin juga berjiwa ksatria. Pada masa kekaisaran Jepang, para ksatria samurai akan merasa malu dan hina sekali apabila mereka gagal dalam melakukan sebuah pekerjaan, maka mereka tidak segan segan untuk duduk bersimpuh dan melakukan harakiri dengan pedangnya. Di masa kini, di dalam pemerintahannya jika seorang pejabat yang melakukannya maka dia akan secara legowo berhenti dari pekerjannya serta secara berani dan ihklas menerima hukuman.  On time is an important. Bukan better late than never. Sekali saja mereka mengingkari akan berpengaruh kepada figur dan bisnis mereka. Sekali lancung ujian orang tidak akan percaya pada kita lagi seumur hidup. Mengerikan bukan? Bayangkan anda dijauhkan teman-teman bahkan lingkungan gara-gara menyepelekan sebuah janji. Pikirkanlah. Intinya mulai sekarang mari menepati janji.

Ternyata Tekya bersahabat dengan Komeng eh Koming ding! Koming ini temen sepermainannya dari kecil. Nama aslinya Aman Theng Kwan Ming. Dari namanya sudah ketahuan kalau dia asli dari Papua..Yah nggak lah. Koming adalah peranakan chinese. Mereka berteman sejak duduk di bangku SD sampai SMP. Hanya saja setamat SMP Koming lebih memilih sekolah swasta karena memang begitu kenyataannya.  Sedangkan Tekya terdampar di sekolah negeri.  Mereka bertetangga. Rumahnya hanya lima langkah dari rumah Tekya. Saking dekatnya. Im coming home!

Di kampung Kemang Manis itu Koming dan keluarga termasuk sudah sepuh. Konon, menurut cerita Encik Toke, berprofesi sebagai tukang jahit yang mangkal persis di depan rumah Tekya ini, keluarga Papa dan Mamanya Koming sudah menetap sejak zaman Jepang. Dulu, kampung Kemang Manis masih berupa hutan belantara. Istilah kata tempat jin buang anak. Serem. Selain rawan binatang buas masih bebas berkeliaran juga dihuni sekelompok makhluk halus dan sebangsanya. Bayangkan saja zaman itu masih belum tersentuh peradaban. Mamanya sering sekali melihat sejenis penampakan mahkluk asral mondar mandir. Bukan hanya keluar di malam hari bahkan di siang hari mereka pede dilihatin oleh manusia.

Menurut pengakuan Papanya Koming, mereka tidak begitu memperdulikan kehadiran mahkluk harus lagi. Lagian beda alam kenapa mesti takut? Saking sudah terbiasa mereka bagaikan layaknya ‘sahabat’. Asal tidak saling menganggu. Seorang tentara Jepang atau Nippon saja yang nongol itu sudah merupakan ‘hantu’ yang menakutkan mereka kala itu. Mereka terkenal kejam dan sadis. Apalagi kalau sudah melihat perempuan. Secara psikologis boleh dikatakan mereka ‘nyaris gila’ kebanyakan terkena tekanan jiwa. Terlebih lagi jika dari sayup sayup terdengar deruan pesawat tempur Jepang melintas di atas kampung. Mereka langsung menembaki dan memborbardir secara membabi buta. Desingan peluru bagaikan ‘musik rock’ yang menghibur. Bikin bulu bergidik.

Hari Sabtu. Jam weker berbentuk Micky Mouse milik Tekya telah menunjukkan pukul 18.30 WIB. Berarti malam minggu telah di ambang pintu. Tiba waktunya para kawula muda menyambut waktu janji apel malam minggu atau wakuncar (waktu kunjung pacar). Yang cowok siap-siap mengunjungi rumah ceweknya. Setelah itu mereka melanjutkan ke arah jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, pasar malam atau nonton bioskop midnite.

Di kamarnya yang cukup luas Tekya tampak merias diri. Spesial untuk malam ini dia sengaja memilih kemeja bermotif kotak kotak dan garis garis berwarna abu-abu gorilla bercorak bunga flamboyan? Untuk dalaman tubuhnya dibalut dengan t-shirt tebal bernuansa putih berbahan polyster bercorak sablonan. Fungsinya untuk menghindari udara malam yang dingin. Dari jauh Tekya kelihatan parlente namun ketika dilihat dari planet Pluto persis tukang sate. Ironis memang.

Ya, di malam minggu Tekya ada janji untuk nonton bioskop Cineplek yang letaknya di kota Palembang. Kebetulan lokasinya bersebelahan dengan pasar Cinde. Tadi sore Koming sudah wanti-wanti agar Tekya jangan sampai terlambat dan terlalu lama berdandan. Koming sudah memilih waktu pertunjukannya yang sudah ideal. Tidak terlalu kesorean dan tidak terlalu kemalaman. Kalau terlambat datang ke bioskop mereka terpaksa mengambil waktu berikutnya. Dan itu termasuk jam midnite.

“Malam nanti kamu nggak ada acara ngapel kan Tek? Mending kita ngelayap aja, gimana?” Ajak Koming kepada Tekya. Mereka ngobrol sambil jongkok di samping kandang ayam  milik Koming. Remaja satu ini memang mempunyai hobby yang agak aneh yaitu mengkoleksi berbagai jenis ayam kecuali ayam ‘kampus’. Ayam bangkok dan ayam kate menjadi prioritas yang terkurung di dalam kandang emasnya. Memang betulnya kandang bercat warna ke-emas-emasan. Biar terkesan kandang yang mewah.

“Emang kenapa? Sepertinya malam ini saya vakum janji nih.” Jawab Tekya.

“Kebetulan! Mending ikut ogud ya. Kita nonton ke bioskop. Filmnya yahud. Pemainnya megastarnya Asia. “

“Siapa? Andy Lau? Lo Lieh?” Tebak Tekya rada antusias.

“Salam semua. Jacky Chen Lung! Si dewa mabok di film ‘Drunken Master’.”

“Kirain Meggy Z. Hahaha…”

“Sembrono kamu. Tahunya bintang dangdut melulu. Upgrade dong otakmu Tek..” Koming mendorong jidat Tekya.

“Boleh. Saya suka gaya kungfunya.”

“Akting action beneran Tek. Sumpah. Jacky Chen untuk adegan laga tak pernah memakai jasa stuntman lho. Adegan berbahaya juga. Seperti meloncat dari gedung bertingkat. Jumping di atas atap bus. Bergelayutan di tempat tinggi hanya dengan seutas kain.”

“Sehelai kain kali. Seutas itu untuk tali Ming.”

“Oh iya. Sehelai kain. Sama temen ini perhitungan lu.”

“Tidak bisa kata yang salah mesti di ralat. Nanti nilai bahasa Indonesiamu jelek. Sebagai teman saya wajib membetulkan Ming.”

“Iya Pak Tua. Terima kasih nasehatnya.”

“Iya kakak. Ngomong-ngomong judulnya apa? Beranak dalam kubur ya?”

“Bukan. Dikejar babi ngepet. Huh! Nanyanya nggak pakai mikir ya. Mau ngajak ribut terus nih. Aku lupa judulnya Tekya. Habis pakai bahasa Inggris.”

”Kalau bahasa Mandarinnya kamu tahu?”

“Apalagi…”

“Wee. Parah. Aku tahu Judulnya ‘Siang siang maling seng silau mang’.”

“Sabar Ming kalau ngomong sama Tekya.” Tiba-tiba terdengar suara Apek yang nyambar dari balik pintu rumah. Kedua tangannya menggenggam stoples berisi ikan tempalo dan ikan pedang. Jadi, kalau pamannya tergila-gila sama ayam, si Apek sebagai keponakan penggemar berat ikan hias. Nggak apa-apa yang penting mereka akur. Usia mereka tidak begitu terpaut jauh.

“Tidak banyak yang tahu bahwa Jacky Chen memulai kariernya di industri perfilman sebagai pameran pengganti di film-filmnya Bruce Lee.” Lanjut Apek lagi.

“Oh ya?” Tanya Tekya. “Sepertinya Dia bakal diramalkan menjadi penerus Bruce Lee. Kabarnya filmya ‘Rumble in the Bronx’ menembus pasar Amerika dan mendongkrak namanya ke hoolywood. Pada tahun 1998 Jacky Chen menyutradarai film Who Am I? Di bawah bendera Golden Harvest yang terkenal memproduksi film film laga mandarin.”

“Bagaimana kesimpulannya setujukan kita nonton malam ini? Kamu tinggal bawa badan saja. Aku traktir deh. Mau kan? Mau dong?” Rayu Koming sedikit memaksa.

“Ayo. Siapa yang nolak kalau ditraktir. Rezeki kan tidak boleh ditolak. Pamali tahu!” ujar Tekya loncat kegirangan. Dengar punya dengar ternyata Koming dapat subsidi dari kakak perempuannya yang bernama Aling. Suaminya adalah pengusaha yang memiliki toko bakery.

Bagi Tekya, ajakan Koming pada situasi yang pas, di saat kantongnya sedang dilanda ‘kanker’ alias kantong kering.

Lima menit sebelum acara berita malamnya TVRI, Tekya sudah nongkrong di rumah Koming kembali. Kali ini tidak lagi disamping kandang ayam tapi di kandang Koming. Karena Tekya sudah terbiasa hilir mudik main ke kamarnya Koming sudah dianggap sebagai penjual bakpao langganan keluarga Koming. Hihi. Sampai di dalam kamar Tekya langsung menyergap tapedeck yang terletak di pojok. Dia langsung menyetel lagu pop milik Tommy Page. “A shouldher to cry on.” Si Poky anjing peliharaan Koming juga sudah hapal betul muka Tekya. Si Poky baru menyalak kencang jika ada orang asing.

“Oma. Koming ke mana?” Tanya Tekya ketika menemui Mamanya Koming yang sedang melipat baju hasil setrikaannya.

“Itu, lagi mandi. Rapi amat Tekya malam ini. Mau pergi jalan ya?” Mama Koming malah balik tanya.

“Biasa anak muda Oma.”

“Iya iya. Oma juga pernah muda juga. Zaman dulu penuh keterbatasan. Tidak seperti sekarang segalanya sudah tersedia. “

“Yee Oma curhat ya..”Ledek tekya. Oma berlalu sambil nyengir.

Mata Tekya menatap semua sudut kamar. Kamar seluas 3 x 3 meter itu Cuma dihuni oleh Koming sendirian. Tekya agak mengiri. Karena sampai saat ini dia masih tidur satu kamar sama adik-adiknya Evan dan Cikal. Huh, malu banget deh. Apalagi mereka kalau tidur kadang mendengkur serta tidak stabil. Suka transmigran kemana mana. Malah kadang ada yang nemplok di atas lemari! Entah lagi bermimpi apa? Permohonannya agar dibuatkan kamar sendiri selalu ditolak halus oelh sang Mama. Mamanya selalu saja mempunyai segudang alasan, belum punya duitlah, tunggu ada rezeki nomploklah, masih bulan tualah, masih belum gajian level direktulah, tunggu ada sayembara berhadiah kamarlah.

Dindingnya dipenuhi poster-poster bintang mandarin. Coba tebak? Ada aktor film Andy Lau the Hua, U Chi lung,  Chang Min, Aman Chou Youn Fat, ada penyanyi Arron Kwok, Leon Lai, Wang Chie. Dan di balik pintu terpampang poster unik. Poster editan Pak Tile adu panco sama Herman Ngantuk mirip Silvester Stallone di film ‘Over The Top’. Ciamik!

Poster poster keren itu pernah diprotes Mamanya karena bikin suasana kamar jadi sempit dan mirip iklan bioskop. Mamanya merayu Koming untuk mencopot semuanya. Tapi ancaman Koming untuk mogok makan pangsit dan bakpao membuat Mamanya mengendurkan urat saraf. Koming memang anak bontot yang paling disayang. Karena dia masih peduli dan suka membantu Mamanya yang sudah tua. Sedangkan Cici dan Kokonya yang lain pada cuwek. Terutama yang tinggalnya tidak satu kampung.

“Sudah lama nunggunya?” Tanya Koming sambil berhanduk ria.

“Wah sudah telat nih. Sembilan bulan lewat seminggu. Kambing kambing. Kirain tadi kamu sudah siap. Ini mandi saja belum ternyata.” Omel Tekya sembari mengacak kaset-kaset box yang menempel di dinding. Tekya mencari kaset yang dibeli Koming kemaren. Kaset Marah Karma eh salah Mariah Carey ding yang bertitel ‘Hero’.

“Weei…jangan diacak-acak. Orang sduah capek dirapiin.” Protes Koming sambil melempar handuk ke muka Tekya. Untung Koming sudah berbusana. Kalau tidak bisa kena sanksi pornografi. Tekya balas dengan melempar bantal guling ke arah Koming. Koming mencoba mengelak. Bantal mendarat mulus di jidatnya.

“Aduh! Jerawatnya pecah!” Pekik Koming lebay seraya meraba pantatnya yang tepos kayak termos.

“Sontoloyo dipelihara. Jerawat itu adanya di muka bukan di pantat. Nah kalau bisul baru adanya di muka.”

Mereka akhirnya cabut juga. Ternyata di tengah jalan Koming mengatakan ingin mampir ke rumah Jono si professor blo’on yang tinggal di kampung sebelah. Namanya kampung ‘sungai hitam’.

“Kirain kita nonton berdua saja Ming? Jono mau ikut juga?”

“Masak berdua saja? Kayak orang pacaran dong.”

“Kalau begini kita bisa nonton yang midnite Koming.”

“Sudahlah kamu ikut saja. Nanti juga tahu sendiri.”

Tekya manut saja. Namanya orang ditraktir.

“Gimana Jon sudah siap semuanya?” Tanya Koming kepada Jono ketika tiba di depan pintu rumah Jono.

“Beres. Ayo masuk. Sudah kusulap kamarku menjadi bioskop.”

“Cakep.” Puji Koming.

“Sulap? Menjadi bioskop?” Tanya Tekya terheran-heran. Sepertinya perasaannya tidak enak. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres.

“Iya Tekya mari masuk. Kamu jangan tercengang ya kalau sudah di dalam kamarku?” Ajak Jono bersemangat.

Koming dari tadi hanya mesem-mesem. Seperti menyembunyikan sesuatu rahasia. Terlebih saat melihat wajah Tekya yang penuh kebingungan.

Setelah masuk ke kamar Jono baru semuanya terkuak. Ternyata si Jono yang berjulukan professor blo’on itu hendak memamerkan home theathernya toh. Tekya mangut-manggut.

“Suprise!!” teriak Koming tanpa rasa bersalah. Koming membentangkan tangannya lebar-lebar. Dihadapan mereka tersaji sebuah televisi 21 inch, seperangkat VCD dan satu set home teahter.

Tekya membelalakkan matanya. Bukan karena takjub, akan tetapi kesal karena Koming berhasil mengelebuinya. Bioskop di dalam kamar sempit!

“Sangat tidak lucu…Sial juga kamu Ming. Aku sudah bayangin bakal duduk di gedung bioskop kembar di Cineplex dekat Cinde tahu nggak? Ternyata kita Cuma menonton video home teathre di kamarnya Jono. Kecurigaanku di awal menjadi kenyataan. Pantes tumben-tumbenan kamu kepingin nraktir. Tega kamu Ming sama Akyu!” Tekya mencak-mencak sembari mengacak-ngacak rambut Koming yang sudah diolesi styling foam.

“Maaf ya Tekya. Aku hanya pengen ditemenin ke rumah Jono. Kamu kan tahu sendiri jalan menuju ke rumahnya harus melewati komplek kuburan cina.”

“ Tiada maaf bagimu.!”

Tekya lalu kejar-kejaran dengan Koming. Tinggal Jono sekarang yang bengong. Sebentar lagi kamar Jono sekana-akan berguncang-guncang.

Setelah capek kejar-kejaran. Tekya dan Koming tersender di samping ranjang Jono. Terntunduk lesu dan lemes…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Menurut teman-teman dalam hal ini apakah Koming menepati janjinya nggak?

CERMIS (GHOST STORY) = HANTU PENUNGGU LANTAI LIMA BERTERIAK..”KOSONGKAN LANTAI INI JIKA…”

Terinspirasi dari kisah nyata ini saya dapatkan waktu sedang jalan-jalan ke Bandung. Tempat dan sumber informasinya saya rahasiakan.

Oleh : Deddy Azwar

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Sudah 2 bulan ini Neneng selalu pulang malam terus. Malah sudah minggu kemaren malah tidak pulang sama sekali alias ‘ngotel’ (nginap di hotel kantor). Di lantai lima itulah menjadi ajang penginapan mereka untuk sementara. Untungnya kantornya berbentuk gedung bukan villa.. jadi rada-rada mirip hotel dikit. Gara-gara target pekerjaan tidak tercapai, maka dari itu semua diwajibkan lembur.  Tanpa memandang pria atau wanita.

Sejatinya data yang diminta kantor pusat harus sudah beres pada bulan Oktober lalu, namun apa daya harus molor sampai mau tutup tahun masih juga belon kelar. Padahal segala daya upaya dan tenaga sudah dikerahkan. Penambahan orang ke dalam tim juga sudah dipenuhi. Ternyata masih tidak terkejar juga. Setelah diselidiki ternyata sistem yang menjadi momok persoalan. Sistem yang semula diharapkan bisa bekerja dan membantu lebih cepat malah loyo. Sering ngadat. Belum lagi  kesulitan dalam menghubungi  kantor vendor. Alhasil terpaksa Neneng dan tim menyambangi kantornya di lokasi. Eeh setelah sampai di sana mereka disambut dengan muka tidak ramah dan dituduh dengan berbagai kesalahan yang bermacam-macam. Seperti…tidak mengoperasikan sistem tidak sesuai prosedur kek, sistemnya sudah tidak layak lagi dan mesti diupgrade kek, inputnya jangan keroyokan kek dan lain sebagainya.

Pemimpin pusat bahkan sudah mengultimatum kantor cabang tempat Neneng bekerja, Jikalau masih molor lagi semua tanpa terkecuali di skorsing. Asik dong kerjanya libur. Libur? Gajinyapun libur juga toh? Kesimpulannya…Apapun yang terjadi. Walau badai menghadang kafilah tetap berjalan. Semangat kerja dan kekompakan tim kudu ditingkatkan dan dijaga terus biar…tidak ketiduran..Nah lho!?

“Aduh..sampai kapan ya kita harus begini terus?” Teriak batin Neneng sambil dengan muka merengut dan bersungut-sungut. Dia sudah mulai merasa gerah dan bosan. Memang sih, rasa capeknya baru terasa ketika sampai di rumah. Belum lagi harus menyelesaikan tugas-tugas di rumah sebagai bentuk kewajiban selaku istri dan ibu rumah tangga. Rasa capeknya makin sampai ke ubun-ubun saat melihat piring-piring kotor bergelimpangan karena belum ‘mandi’. Pakaian-paian kotor juga telah menggunung karena si Bibik cuti.

“Neng..gimana laporan kita yang seribu lembar sudah dikirim ke pusat?” Tanya Pak Asep Surasep tiba-tiba bikin sontak dan kaget Neneng. Bagaimana tidak, sedang asik menikmati hidangan malam spaghety hangat. Gulungan-gulungan spaghety yang hendak dimasukkan kemulut nyaris keluar lagi. Daripada keselek Neneng buru-buru minum lemon tea. Setelah itu baru dia mengalihkan pandangannya ke Pak Asep.

“Eh Bapak bikin saya kaget nih.”

“Maaf saya bikin kaget situ.”

“Beres Pak.”

“Apanya yang beres?”

“Laporan yang Bapak tanyakan tadi kan?”

“Oh iya. Syukurlah kalau beres. Artinya malam ini kita bisa pulang cepat kan? Badan saya sudah pegal-pegal rasanya. Kepala saya sampai berasap. Kepingin cepat-cepat liburan”

Neneng langsung berdiri tegap setengah menginjit. Dia amati kepala sang bos, namun tidak dia dapatkan asap mengepul.

“Lho, mengapa kamu melihat rambut saya sampai begitu amat?” Tanya Pak Asep terheran-heran.

“Siapa bilang rambut Bapak berasap. Menurut saya teh rambut tidak berasap tapi beruban atuh.”

“Ah si Eneng mah o-on atuh. Dbodors mah abdi. Ulah kitu ah.”

Ketika Pak Asep Surasep hendak berlalu. Neneng secepat kilat memanggil. “Pak…mau kemana?” Jangan pulang dulu. Anu…”

“Gimana sih! Ibu Neneng yang cantik jelita dan terhormat..Tadi kan bilang sudah beres. Nah berarti sudah boleh pulang dong..Jangan menghalangi. Saya mau pulang.”

“Laporan hari ini sudah kelar tapi buat besok ada kendala Pak. Sistem kita ngadat lagi.”

“Apa? Sistem hank lagi? Waduh! Ini urusannya Belanda.” Pak Asep nepok jidat. Kali ini bener kepala Pak Asep tampak mengeluarkan asap. Asap galau.

Setelah kejadian semalam Pak Asep jadi uring-uringan. Bukan iring-iringan ya emang mau konvoi. Apalagi urang aring, emang samphoo. Jangan konyol deh. Intinya malam itu menjadi petaka buat Pak Asep. Dia bingung alasan apalagi yang akan dikemukakan kepada atasanya di kantor pusat. Kepalanya pusing lima keliling.

Pak Asep langsung berpikir keras. Segera dia kumpulkan kembali semua tim malam itu untuk digojlok. Disisipkan sedikit kalimat-kalimat penuh motivatsi dan semangat agar anakbuahnya lebih giat lagi dalam bekerja. Alhasil malam itu mereka lembur sampai pagi…lagi.

Pada malam berikutnya ternyata mereka mendapat kendala lagi. Kali ini bukan sistem yang berperan. Tapi sesuatu yang tidak masuk akal dan logika. Not make sense..

Menjelang magrib terjadi kehebohan di lantai 5. Salah satu rekan kerja Neneng bernama Saripah tiba-tiba kesurupan. Tubuhnya telah berhasil dirasuki jin berjenis kelamin laki-laki dari Mandarin. Terlihat dari omongannya yang ngelantur dan nggak jelas. Entah bahasa atau dialek hokkien atau Mandarin. Yang pasti semua orang yang hadir disini pada membisu dan tidak mengerti terjemahannya. Mata Teteh Saripah rada melotot dan menampakkan wajah tidak senang. Kadang-kadang berteriak memelas. Kadang mengeram. Kadang jingkrak-jingkrak sembarangan. Tingkahnya membuat sekitar antara takut dan kepingin ketawa.

Pak Asep lalu bertanya kepada anak buahnya siapakah di antara mereka ada yang tahu atau ada yang mengerti bahasa cina atau ada yang mempunyai tetangga yang ahli menterjemahkan. Namun semuanya dengan antusias mengelengkan sambil menundukkan kepala.

“Permisi..Sayas mau bertanya. Apakah Kokoh atau engkong ini penunggu gedung kami? Sudah berapa lamakah menjadi penghuni disini? Mengapa tidak bisa bahasa Indonesia sih. Bahasa sunda ngerti nte..” Pak Asep berusaha memberanikan diri bercakap-cakap dengan roh dari Kanton itu. “Mengapa nggak les bahasa Indonesia dulu. Kalau ngomong cincoala cincoali begini kepala saya jadi pusing, Kong. Swear! saya tidak paham.”

Neneg dan tim merasa geli mendengar omongan Pak Asep.

Roh itu kembali mengeluarkan kalimat-kalimat yang tidak dimengerti. Jelas sekali dari intonasi dan nada suaranya yang tinggi melukiskan kemarahannya. Sekilas mirip percakapan film Kungfu di TV deh. Belum selesai Pak Asep berbicara dengan nada kesal kepada si roh gentanyangan yang usil itu tiba-tiba keluar meninggalkan badan Saripah. Bersamaan Ibu Saripah tersadar. Tatapan matanya yang tadi menatap kosong sambil melotot ngeri itu normal kembali.

“Aduh, badan saya capek-capek semua. Berat rasanya mau berjalan saja. “ucap Bu Saripah lirih seraya memegang ubun-ubunnya. Kemudian menyibak-nyibak rambutnya. Bola matanya mulai jelalatan. Melirik ke kiri. Melirik ke kanan.  Lalu Bu Saripah melontarkan rentetan pertanyaan. “ Mengapa pada ngerubungin saya? Lho kalian pada nggak kerja? Apa yang terjadi sebenarnya.”

“Kamu keserupan Saripah!” kata Kang Pardi spontan. “Kamu nggak nyadar ya?”

“Kesurupan. Ah yang bener? Masak sih?”

“Bener atuh. Sumpah! Kami menyaksikannya tadi. Ibu kemasukan roh yang njelimet.” Timpal Pak Asep sambil menyeka keringat dengan sapu tangan warna pink.

“Apa Pak Asep? Jin nasi liwet?” Tanya Saripah membelalak.

“ Njelimet! Bukan nasi liwet.” Jawab Pak Asep kesal.

Kondisi badan Saripah masih begitu lemas dan lunglai. Seakan akan habis memikul beberapa karung berisi beras. Dia bersidekap kayak orang kedinginan. Sekali-sekali meraba-raba mukanya, lalu kedua pundaknya dan telapak tangannya yang tampak masih putih pucat. Bibirnya semula ikut pucat juga mulai dimasuk aliran darah dan memerah. “Hiiiy saya jadi takut..”

“Kami yang dari tadi ketakutan. Kami kawatir akan terjadi kenapa-kenapa denganmu?” Neneng ikut angkat bicara.

“Gimana perasaanmu sekarang Pah?” tanya Abah Adin, sang satpam gedung yang sudah senior dan sepuh.

“Agak baikan. Tadi lemas dan pusing banget Bah..”

Pak Asep lalu mengambil kursi dorong dan duduk dekat Saripah. Menyentuh halus punggung anak buahnya itu sambil komat-kamit sedikit. Setelah itu Pak Asep menceritakan semua kejadian yang menimpa Saripah.

“Sok.. Saripah. Kamu rehat dulu. Pasti kamu capek. Jangan bengong lagi atuh.”

“Iya Pak Asep. Nuhun nyak..

“Sama-sama. Apakah sudah sholat maghrib tadi?”

“Acan {belum} Pak. Saya lupa.”

“Pantes. Gancang sholat dulu sana. Biar nanti saya minta tolong Ria yang menemani kamu ya.”

“Tak usahlah. Sendiri saja Pak. Tidak apa-apa kok.”

“Eeit kamu ini bagaimana? Nanti kalau terjadi apa-apa di kamar mandi saya lagi yang stres. Kan saya bos di sini. Yang bertanggungjawab saya Pah. Udah jangan pake nawar segala.”

Saripah mengangguk.

Di malam berikutnya peristiwa kemaren terulang lagi. Untuk kali kedua Saripah kemasukan roh iseng lagi. Untungnya Pak Asep sudah menyiapkan Koh A Lung, tetangganya yang jago bahasa Chinese yang akan didaulat sebagai penterjemah. Koh Alung ini sudah sejak pagi mendekam di kantor.  Selain Koh Alung Pak Asep juga mengundang salah seorang Ustad bernama Kang Amin yang tinggal disamping gedung kantor yang akan ditugasi membaca doa-doa pengusir roh iseng. Akan tetapi anehnya malam itu si roh laki-laki yang mengoceh bahasa chinese atau Mandarin itu tidak datang. Mungkin berhalangan. Ternyata penggantinya yang masuk ke tubuh Saripah lagi adalah seorang wanita yang untungnya dapat berbahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Semua hadirin bernafas lega.

“Assalamualaikum…Permisi Nyai..Kalau boleh tahu apa maksud dan tujuan datang kemari?” bisik Ustad Amin ke telinga Saripah yang sedang kerasukan.

Sang Nyai tidak langsung menanggapi. Matanya yang kali ini agak menyipit memandang ke segala penjuru lantai. Lalu menatap wajah-wajah yang hadir disitu dengan sedikit tersenyum. Kemudian mengangguk-angguk.

“Selamat Malam..Saya Nyai Tusima. Hihihi..Tugasnya hanya pada malam hari…Hihihi…nyai tadi sedang patroli eh tiba-tiba ada yang bengong. Ya udah nyai masukin saja. Kehadiran nyai kemari untuk mengajak kalian…”

Semua yang hadir merinding dan takut. Iyalah..Bagaiman kalau si nyai nekat mengajak mereka ke alamnya? Kan serem banget.

“Mengajak kami? Kemana?” Tanya Kang Amin penasaran. “Kalau ke restoran, maaf saya sudah kenyang.”

“Husss. Kang Amin gelok ah. Ditraktir dia juga saya ogah. Ntar menunya aneh-aneh euy…” Desis Pak Asep.

“Kemana? Hihihi…” Jawab Nyai terkekeh-kekeh.” Saya ingin mengajak kalian untuk segera mengosongkan lantai lima ini secepatnya! Hihihi.”

Semua hadirin terkejut.

“Mengapa kami harus mengosongkan tempat ini. Emang disini ada bom?” Tanya Kang Amin.

“Sudahlah jangan banyak bertanya. Turuti saja perintah saya kalau ingin selamat. Hihihi…”

“Tidak mungkin Nyai!! Teriak Kang Amin nekat bercampur kesal. “ Enak saja nyai ini main usir-usir kami. Lantai ini. Gedung ini milik kami. Kami manusia dan derajat kami lebih tinggi dari nyai dan teman-teman Nyai. Alam kita berbeda nyai. Jangan mencampuri urusan kami. Lebih baik tinggalkan tubuh ini. Dia tidak tahu apa-apa. Kasihan dia…”

“Apa? Tidak mau?” Si nyai kiranya emosi juga langsung lari ke sana ke mari. Kemudian guling-gulingan di lantai. Berteriak-teriak histeris. Kayaknya dia protes keras.

“Apa alasannya kami harus menuruti permintaan nyai?”

“Kalian manusia telah mengusik ketenangan tempat tinggal kami. Kami tidak suka kalian menganggu ‘rumah kami’. Kami sudah ratusan tahun tinggal di tempat ini. Semenjak kalian belum ada. Ini dulunya hutan belantara yang rimbun. Kaum kami menyukai tempat ini. Kami nyaman tinggal di sini. Tiba-tiba kalian manusia mengubahnya. Mati kami jadi berpindah-pindah. Untuk apa kalian menempati tempat kami sampai pagi. Kami terusik dan terganggu..”

“Nggak kebalik nih Nyai. Dimana-mana hantu yang suka menganggu manusia. Hantu yang aneh..”Protes Neneng dalam hati.

“Nyanyi ini aneh ya. Kami yang merasa diganggu bukan menganggu. Ayo segera tinggalkan tempat ini sekarang juga.,”Kali ini ancaman Ustad Amin tidak main-main. Dengan sigap dia berdiri sambil mengangkat tangannya dan berdoa. “Jika tidak saya akan usir secara paksa!”

“Nyai tidak mau meninggalkan tempat ini kalau tidak diantar.”

“Diantar? Kemana? Jangan macam-macam. Saya tidak mau pakai taksi ya?”

“Ihh. Sudah tua pakai dianter..”Ledek salah seorang..yang tidak mau menyebutkan namanya..Hiii

“Tidak jauh kok. Antarkan saya ke ruang jenset. Itu ‘rumah kedua ‘ saya. Hihihi..”

“Pak Asep ruang jenset dimana di gedung ini?”

“Agak jauh Ustad. Turun gedung dulu. Lalu keluar menuju basemen parkiran. Adanya di belakang gedung. Kami jarang kesana Kang. Tempatnya itu sudah gelap, pengap, sepi dan angker. Sudahlah suruh dia pergi sendiri atuh. Datang tidak diminta pulangngpun jangan diantar. Salah dia sendiri.

”Ayo siapa yang berani mengantar? “ Tanya Ustad.

Tidak ada satupun yang berniat mengantar. Semuanya mengelengkan kepala.

“Ustad saja.” Usul Neneng spontan.

“Saya mah ogah. Buang-buang waktu.”

“Yaa kok begitu. Nyai sendiri dong..” Teriak nyai kecewa berat.

Ustad Amin berdoa dengan kusyuk. Diraihnya lengan saripah. Tiba-tiba Saripah mronta-ronta, berteriak dan merintih mirip orang yang sedang kesakitan.

“Jangan! Jangan! “Nyai Tusima berteriak-teriak tidak karuan. “Sakit sakit! Panas Panas.”

Selang beberapa menit Saripah akhirnya siuman. Lantai lima kembali hening.

Malam berikutnya nyai iseng itu tidak menampakkan rohnya kembali. Akan tetapi teman-teman sebangsanya si nyai yang tidak terima sesepuh mereka diusir secara paksa mulai membikin ulah. Walaupun Saripah sudah tidak lagi diganggu. Sekarang Saripah sudah tidak mau bengong dan menyendiri lagi. Apalagi sekarang dia sudah mulai mengenakan kerudung.

Rupanya temen-temen nyai masih berusaha untuk menganggu tubuh yang lain. Tampaknya mereka masih berniat menduduki lantai lima di gedung itu. Tempat yang disinyalir sebagai hunian ternyaman bangsa jin.

Kali ini mereka mengisengi penjaga gedung yang sedang ronda. Akibat kecapekan berkeliling pekarangan dan lantai gedung, membuat Kang Sotoy asik ketiduran di ruang posnya. Kang Sotoy lebih memilih tidur di kursi panjang di samping pintu. Saat tengah malam, sekitar jam 3 dini hari dia mendadak terjaga dari tidur pulasnya. Dia menajamkan pendengarannya. Tanpa sengaja sayup-sayup terdengar kegaduhan dari ruang kantin yang ada dekat basemen.

“Idih. Suara apa ya gerangan di basemen. Wadud..Sepertinya dari arah kantin nih. Masak jam 3 pagi orang kantin sudah datang. Mungkin saja ada pesanan banyak..”batin Kang Sotoy. Beliau bergegas menuruni anak tangga perlahan-lahan. Berusaha menjauhi perasaan takut dengan memberanikan diri untuk menghampiri lokasi. Saat itu ruangan masih gelap. Penerangan hanya didapat dari cahaya pantulan dari luar saja. Kesan terlihat remang-remang. Sampai di pintu masuk kantin Kang Sotoy melihat dari kejauhan sosok wanita yang sepertinya dia kenal. Ya itu sepertinya Neng Sofie, pelayan kios yang menjual makanan  gado-gado. Tanpa perasaan curiga dan pikiran macam-macam dihampirinya sosok tersebut. Namun semakin didekatinya dia merasa aneh. Kok Neng Sofie yang berambut panjang sebahu dan gemar berkaos putih itu hanya diam tertunduk memandangi meja makan. Aneh, tidak selincah seperti biasanya.

“Neng Sofie Neng Sofie..” Colek Kang Sotoy dari belakang. “Ngapain gelap-gelapan di sini. Nyalain aja lampunya atuh.

Wanita itu hanya terdiam sejenak. Tanpa menoleh.

“Neng…”Desis Kang Sotoy lagi. “Suka gelap-gelapan ya?”

“Iya Kang…Biar lebih mesra.”

“Idih si eneng bisa aja. Emang sih…”Kang Sotoy mulai kumat dan ganjen. Jarang-jarang Neng Sofie berbicara dengan nada sedikit genit.

“Ke sini aja kang. Duduk di depan saya. Kursinya kosong kok.”

“Serius Neng?”

“Iya Kang.”

Jantung Kang Sotoy berdebar-debar kencang. Nafasnya ngos-ngosan. Ada bumbu nafsu di otaknya. Bakal seru nih pikirnya. Tanpa diduga Sofie memberikan penawaran yang menarik. Kesempatan tidak datang dua kali bukan? Dengan keyakinan yang tinggi dan penuh percaya diri, Kang Sotoy buru-buru duduk…Tetapi ketika pantatnya  duduk di kursi kosong itu dia langsung pingsan dengan mulus setelah sadar bahwa sosok wanita yang sedang berada di hadapannya itu rupanya berwajah datar. Seketika itu juga ketawa seramnya membahana ke seluruh ruangan…

Nandar, selang dua malam berikutnya mengalami kejadian serupa. Tepat jam dua malam ketika sedang asik menonton acara hiburan di tv dikejutkan dengan suara ketukan di pintu kaca.

“Wah..Bapak siapa ya?” Tanya Nandar sambil mengucek-ngucek mata dan menguap lebar.

“Maaf..Saya calon satpam di gedung sebelah Kang. Saya baru datang dari kampung. Kemalaman dan pingin numpang mandi sebentar. Boleh kang.”

“Bagaimana Bapak bisa masuk halaman gedung?”

“Pagarnya tidak terkunci.”

“Masak sih? Mana mungkin tadi saya kunci kok. Ya sudah kamar mandi ada di bawah . Turun saja satu lantai. Kamar mandinya ada di pojokan dekat parkir motor. Bawa handuk?”

Sosok laki-laki mistrius itu mengangguk pelan.

Nandar buru-buru menuruni tangga. Meninggalkan bapak itu sendirian. Ketika menginjakkan kakinya di lantai lobby, Nandar sontak terkejut. Lho..bukannya Bapak yang mau numpang mandi masih di atas. Kok Tiba kelihatan melintas di jendela kaca ya? Nandar langsung ngibrit.

Setelah kejadian itu Pak Asep bernisiatif mengundang kembali Ustad Amin untuk mengadakan doa dan pengajian bersama. Ide pak Asep disambut gembira. Alhamdulillah…setelah itu tidak pernah ada kejadian aneh yang mistrius lagi. Bahkan Pak Asep mengajak anakbuahnya liburan ke puncak sebagai bentuk terima kasih karena pekerjaan mereka telah beres semua.

SINOPSIS SERIAL REMAJA CAMPUS…ING

SINOPSIS SERIAL CAMPUS…ING

 

Seting tahun 1990 sampai 1993

Pemain Utama          : Tekya, Midun, Arman, Ollan,Juned,Arul dan Yamato.

Pemain Pendukung : Agus, Babe, Bik Jennifer,Anton,Johan dan Husin.

Lokasi  Asli                   : Kampus Universitas Tridinanti Palembang

Genre                           : Remaja, drama, roman picisan

Pengarang                  : Deddy Azwar

 

Mengangkat  potret remaja-remaja yang sedang menimba ilmu di perguruan tinggi swasta di kota Palembang, dengan beraneka ragam polah tingkah, kisah, cerita yang menghiasi kisah kehidupan dunia kampus. Pertemuan awal masa-masa OSPEK di kampus mempertemukan anak-anak asli pribumi  ini menjadi suatu persahabatan yang teramat sakral, akrab satu sama lain. Berawal dari sering bertemunya mereka di kampus saat kegiatan kuliah, ketika nongkrong di kantin si Babe atau saat ngeceng di perpustakaan kampus. Menjadikan sosok Tekya, Arman, Midun, Arul, Ollan,Juned dan Yamato mendirikan sebuah gang yang bernama ‘ Gang Ceki’. Istilah Ceki diambil dari permainan kartu dipadukan dengan permainan bola sembilan atau lima belas dimeja bilyard. Dimana suatu keadaan apabila salah satu pemain  masih menyisakan satu kartu remi yang artinya sudah mendekati kemenangan, maka dia aka berteriak ‘ceki’. Para pemain lain biasanya langsung kasak-kusuk takut kalah dan masing-masing mengatur siasat untuk menggagalkannya. Salah satunya berusaha bagaimana menyembunyikan atau menghalang-halangi arah pergerakan sebuah bola putih di balik bola-bola lain. Dengan demikian pemain yang telah mendekati ujung permainan akan kepayahan dan terkena nilai minus. Karena bola putih tidak mengenai bola yang dituju. Otomatis dapat berakibat menunda kemenangannya, sehingga permainan akan semakin seru dan tegang sekali. Semula pemain tersebut sudah menyebarkan muka ceria berhias senyum sumringah karena menang telah di depan mata berubah menjadi bermuka masam dan cemberut.

Mereka mulai tergila-gila dengan bilyard atau snooker itu sejak semester ke tiga. Pada waktu itu permainan sedang trend. Tempat hiburan bilyardpun mulai menjamur dan mudah ditemukan di setiap sudut kota. Seringkali  arena bilyar yang menjadi ajang pelarian bagi anak-anak kuliah yang sering bolos. Para karyawanpun turut meramaikan dan tidak ketinggalan mengunjungi tempat billyard pada saat jam makan siang. Ada yang sengaja untuk menghilangkan stress dengan bersenang-senang sambil mempertajam keahlian menyodok bola. Ada juga bertaruh sekedar iseng dengan niat mendapatkan uang. Ada juga sekedar menggoda atau bahkan terlibat percintaan dengan pelayan di sana. Namun tempat hiburan ini tidak memperkenankan pelajar berseragam SMA, kecuali mereka melepas seragam dan menggantinya.

Mereka juga memiliki temen akrab dalam permainan billyard yaitu Antonius Wong, Husin dan Johan. Kalau sudah kumpul dan bertepatan kosong jam kuliah, mereka pasti hijrah ke tempat billyard. Kadang sampai lupa waktu dan pulang menjelang larut malam. Makan malam mereka dihabiskan diwarung pempek saja atau mie instant.

Dunia kampus tidak terlalu jauh berbeda dengan masa SMA, sama sama penuh dengan gejolak kawula muda dengan segala pernak pernik dan berwarna-warni. Jika telah melewati masa itu maka tibalah saatnya untuk menjadikannya sebuah legenda  atau memori yang patut dikenang. Haram untuk  dilupakan. Tidak heran sering diabadikan dalam suatu acara reuni perangkatan  untuk sekedar berkumpul, bertemu, berbagi cerita dan pengalaman serta melepas kangen.

Begitupun masa perkuliahan tidak kalah mengasikkan dibanding masa SMA. Banyak kejadian-kejadian ajaib tercipta. Kenakalan dan keisengan bercampur aduk. Perpaduan anak lokal dan anak perantauan berbaur menjadi satu dalam persahabatan sejati yang menarik untuk disimak indarsampai mereka mereka tua. Bagi anak-anak perantauan sangat akrab dengan istilah kos-kosan atau mess, ibu kos, ngutang di warung, menginap di rumah temen untuk menghindari dari kejaran atau tagihan ibu kos atau bapak kos, menunggak uang bayaran, IPK rendah, didamprat dosen, bolos kuliah, wajib militer, marching band, pramuka, naksir mahasiswi atau mahasiswa, begadang sampai malam bila ada ujian semester dan lain-lain. Bagi kalangan siswa yang beruntung memiliki orangtua yang kaya senantiasa membawa mobil atau motor gede mereka ke kampus. Belum lagi dengan balutan pakaian-pakaian bermerk dan mahal. Tidak lupa akan perubahan dunia fashion atau style rambut. Mereka sering diakrabi oleh siswa perantauan  untuk sekedar dapat traktiran makan dan tebengan  gratis. Beda nasib dengan siswa berasal dari daerah yang walau ada juga dari kaum berada. Namun tidak sedikut dari kedua orangtuanya dari kampung yang membiayai kuliah anaknya dari hasil panen perkebunan atau peternakan. Mereka jauh dari kesan hidup bermewah-mewah malah cendrung prihatin. Kecerian dan kegembiraan akan hinggap apabila wesel dari kampung sudah datang. Karena jika tidak mereka akan penuh kesulitan dalam membiayai kehidupan sehari-hari. Meminta surat miskin apabila belum dapat mencicil biaya gedung atau menunggak SPP. Menunda makan karena memiliki cukup uang. Sering puasa senin kamis. Sering mengkonsumsi mie instan.  Makan bakso dengan porsi separuh, kuahnya yang banyak dan membawa nasi dari rumah. Makan enak dan mewah jika kiriman uang telah mampir. Berlari menjauh dari kejaran para penagih utang dan ibu kos.

Cerita ini masih tergolong menarik untuk diangkat ke layar perak atau layar kaca. Dituangkan menjadi cerpen atau novel. Syaratnya harus bisa dikemas se apik dan ciamik mungkin. Lebih drama sedikit fragmen. Pawai dalam berucap dan bermain dalam situasi. Dibuat apa adanya alias senatural mungkin, tanpa dilabeli yang aneh aneh yang dapat merusak inti cerita. Ambil contoh cerita remaja serial Lupus yang menjadi hambar setelah menjadi film bioskop. Beda jauh lebih asik membaca novelnya daripada menyaksikan filmya.

Gang Ceki adalah sekumpulan manusia juga yang mempunyai kelebihan dan kekurangan masing individu, karena kadang mereka melakukan pekerjaan iseng dan konyol . Seperti ada cerita Parman dan Tekya bolos kuliah lalu ngeluyur ke tempat hiburan permainan bola sodok. Mereka nekat ke jalan raya tanpa mengenakan helm. Dan sialnya saat berhenti di lampu mereka ketangkap tangan oleh Pimpinan Polisi lalu lintas. Ketika hendak kabur motor mereka ditarik dan diangkat oleh ajudan polisi yang berpostur tinggi besar. Akhirnya mereka terjatuh dan tersungkur. Mereka berhasil diringkus dan digiring ke kantor polisi pada keesokan harinya. Habis mereka diceramahin oleh Pak Polisi.

Ada juga cerita Tekya yang sedang dimabuk asrama dengan temen wanita satu kampus. Kebetulan si cewek mempunyai toko di pasar 16 ilir. Dan Papanya Tekya ternyata adalah pelanggan tetap tokonya si Indrayati. Gayungpun bersambut menjadi perkenalan namun kandas karena si cewek telah ada yang punya.

Yang lebih seru cerita ketika Juned kehilangan kalkulator kesayangannya. Raib entah kemana. Atas usulan Ollan jadilah mereka melawat ke paranormal. Juned penasaran sama orang yang berani mencuri mesin penghitung hadiah dari Abahnya. Tujuan awal ingin mencari si pencuri eh malah si Juned divonis sedang terjangkit penyakit berkelakuan aneh dan harus diobati. Juned mencak-mencak merasa tidak sakit. Junedpun menyerah demi kalkulator. Juned dibekali minuman dan ramuan dari resep herbal.

Ada juga cerita sedih dari Midun. Saat ditemani ke pasar malam oleh Tekya, tanpa sadar Midun kecopetan dan terpaksa menunggak uang kuliah dan bingung bagaimana makannya selama sebulan. Ingin jujur ke orantua takut disemprot. Midun sedih dan kalang kabut dibuatnya. Ketika pulang ke rumah mereka baru sadar bahwa rumah tumpangannya Midun ternyata angker. Ada bunyi langkah-langkah kaki menaiki tangga. Padahal hanya mereka berdua yang bermukim saat itu.

Masih banyak cerita lagi yang belum sempat tertuang. Mudah-mudahan sinopsis yang singkat ini bisa menghibur dan juga memberi sedikit manfaat bagi kita semua.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

(SERIAL CAMPUS…ING) KAMPUNG KAPUR BARUS, KAMPUNG BARU DAN PARANORMAL MEMPERBAIKI YANG TIDAK NORMAL

(SERIAL CAMPUS…ING) KAMPUNG KAPUR BARUS, KAMPUNG BARU DAN PARANORMAL MEMPERBAIKI YANG TIDAK NORMAL

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Oleh : Deddy Azwar

 

Nun jauh di sana.

“Kenapa akhir-akhir ini kok sepi ya yang mengunjungi kampung kita ini?” Tanya Mamat kepada teman di sebelahnya. Si Kohak. Namun manusia yang ditanya itu sedang asik ketiduran sambil mendengkur keras. Dasar si Mamat rada pilon campur bloon, eh sudah tahu rekannya sudah molor masih juga diajak ngobrol. Pertanyaannya jadi tidak dijawab deh alias pending.

Mamat menjadi dongkol setelah tersadar ternyata temannya sudah molor lebih dulu. Si Kohak memang mempunyai kebiasaan jelek yang parah. Sudah merokoknya kuat, makannya kuat, begadangnya tiap malam, kalau ada pertandingan bola dijabanin sampai pagi. Ketiduran dan kemalasan adalah dua kata yang acap terpatri pada dada si Kohak, yang selalu dibawanya kemana-mana.

Suatu ketika dia diajak tetangganya untuk memancing di kambang iwak dengan menaiki perahu, si Kohak juga ketiduran dan kecebur. Pada saat temannya sudah beberapi kali pancingnya yang berumpan cacing dan ikan asin itu disambar ikan-ikan penghuni kolam, si Kohak malah sibuk memancing kantuk dengan umpan molor.

“Kohak kohak…kerjaan kamu tidur melulu. “Kata temannya ngedumel sambil mengaitkan umpan di mata kail. “Kapan sih kamu berubahnya. Kiamat sudah dekat tahu. Lihat! Emberku sudah dipenuhi ikan. Lha embermu masih kosong melompong. Mirip pikiranmu yang lagi kosong.”

Jawaban pertanyaan temannya dibalas dengan dengkuran yang berbunyi nyaring. Menyebalkan!

Akhirnya temannya kembali fokus ke pancingan. Bisa habis waktunya jika hanya memikirkan ulah si Kohak Mohawk.

Sebenarnya si Kohak tidak hobi mancing namun karena takut mengecewakan teman baiknya dia turuti. Makanya hasilnya begini. Sejak di tengah perjalanan berboncengan motor si Kohak sudah terlelap tidur dipelukan temannya. Terbuai dengan mimpi indahnya. Setelah sampai di tempat tujuan akhirnya…si Kohak kembali melanjutkan tidurnya.

Nah! Saat keasikan tidur itulah si Kohak kecebur karena dikagetkan oleh temannya.

“Kohak! cepet bangun. Hak, Kohak! Umpanmu dimakan ikan tuh. Ayo buruan. Ikannya besar lho.” Teriak temannya itu sambil menguncang-guncang bahu Kohak keras-keras. Tumben, si Kohak langsung terjaga dan bangun sambil kebingungan. Sambil merapikan sarung dan topi kupluknya.

“Ada apa?! Ada kerusuhan? Ada Demo? Ada Kebanjiran?!” Kohar memberondong dengan beberapa pertanyaan penuh tanda kebingungan. Dia langsung lari kayak setrikaan. Tdakkah dia sadar bahwa sedang berada di atas kapal? Tidak aral melintang Kohakpun terjatuh dengan pantas. Seandainya tidak ditolong temannya Kohak tentunya sudah tenggelam.

 

Dari kejauhan Mamat tampak ada sebuah kendaraan hendak masuk ke wilayahnya penjagaannya. Dia bangkit dan berdiri. Lalu beranjak untuk melihat siapa gerangan tamu yang datang berkunjung. Oh, rupanya mobil Hardtop milik Ollan and the gang. Mamat langsung menghadang persis didepan kap mobil seraya berkacak pinggang. Memasang muka sedikit bengis sambil menahan pipis. Tak lupa dia memelintir kumisnya yang jarang-jarang itu.

“Lan, Awak yakin ini tempatnya.” Colek Tekya khawatir. “Perasaanku tidak enak ini.”

“Udah dienakin aja. Cocol pake saos.” Sambar Juned tidak nyambung.

“Aku juga lupa. Coba lihat peta buatan Bapakku. Tanda panahnya mengarah kemana juga tidak jelas.”  Sahut Ollan.

“Aduh. Bapakmu ini bagaimana sih mengasih nama kampung di peta semua pakai inisial. Sama sama KB lagi. Bikin bingung aja. Inisial mana yang menunjukkan nama ‘Kampung Baru’nya?” Kali ini Arman angkat bicara.

“Iya nih. Bapaknya Ollan payah. Saya kan sudah lama tidak ikut pramuka.” Tuduh Juned.

“Sudah sudah. Kok Bapaknya Ollan di bawa bawa sih. Salahin aja anaknya. Ayo kita pukul.” Canda Yamato nyengir.

Tekya dengan sigap melerai drama tersebut.

Ollah tiba-tiba mengerem mendadak ketika di depan mobilnya ada yang mendekati dengan muka tidak bersahabat.

Anak-anak langsung mempersilahkan Idham alias Midun untuk segera turun dari mobil. Apalagi alasannya kalau bukan karena Midun mempunyai postur tinggi besar mirip tukang pukul. Midun menolak lalu mempersilahkan Arman. Arman menggeleng. Midun juga memandang Tekya, Ollan, Arul, Juned dan Yamato. Kelimanya spontan menggeleng serempak. Midun mulai berkeringat dingin. T-shirt bagian keteknya mulai basah. Wah kalau itu memang sudah tradisi. Singkat cerita, akhirnya Midun menuruti juga kemauan teman-temannya walau terpaksa.

Midun merapikan sejenak pakaiannya. Menggulung sedikit lengan baju kaosnya untuk memberi kesan jagoan. Menyisir rambutnya yang tumbuh berdiri-berdiri kayak tentara. Midun mengambil nafas dalam-dalam lalu kentut. Preettt!!! Anak-anak melotot sambil menutup hidung. Midunpun dengan mantap dan gagah keluar dari jendela eh pintu mobil.

“Jangan lupa berdoa, Dun.” Pesan Syahrul.

“Iya Dun. Bacain ayat kursi ya biar takluk.” Tekya menambahkan.

Midun sudah berhadap-hadapan dengan Mamat. Mata mereka bertatapan. Tidak mesra.

“Aduh Kakak selamat datang di Kampung Kapur Barus. Kakak hendak melepas lelah sambil dipijat-pijat geli. Atau mandi kucing? Mandi madu? Mandi Kubangan?”

Midun otomatis bengong. Dia berdiri mematung. Suasana yang sekian menit lalu tegang langsung mencair. Bahkan berubar jadi es. Midun bernafas lega setelah tahu siapa jati diri sang jampang yang ternyata jumping. Tabir tersingkap. Ternyata si Mamat bukan sosok untuk ditakuti tapi di tertawakan…dalam hati. Mamat bersuara lembut dan gemulai. Midun menoleh ke arah rekan-rekannya sambil mengacungkan jemponya. Mengrlingkan matanya juga lho.

Suasana di dalam mobil berubah sejuk, walaupun udara di luar tidak hujan.

“Terima kasih Pak. Maaf , mau numpang tanya ini kampung baru ya?” Midun bertanya.

“E-eh. Nggak cucok bo..Kalau mau nanya boleh. Numpang jangan. Kecuali di rumah saya. Ehemm Nanti Ike servis habis deh luar dalem. Hehehe. Wah Kakak nyasar. Ini namanya Kampung Kapur Barus bukan Kampung Baru. Dulunya kampung kita kembaran. Sekarang sudah misah. Karena nggak cucuok bo…Ehemm..”

Melihat gelagat Mamat yang mulai ngelantur, tanpa berlama-lama Midun mohon pamit kepada Mamat. Sebelum berpisah Mamat menunjukkan arah jalan yang sesungguhnya.

“Permisi Pak.”

“Baik kakak. Mampirlah kapan-kapan. Kampung ini terbuka untuk kakak dan teman-temannya. Di sini banyak cewek-cewek cakep lho.”

“Tidak Pak. Terima kasih.”

Midun sudah bisa menebak kampung apa itu. Ternyata kampung yang menjual kenikmatan sesaat. “Idiih ini kampung tidak bener. Hampir salah masuk.”

Sesampai di dalam mobil, Midun segera menceritakan pengalamannya beberapa menit. Lalu pecahlah tawa mereka.

“Ini Bapak ya?” Tanya Ollan dari gagang telepon.

“Iya. Siapa ini ya?” Bapaknya Ollan balik nanya dari seberang telepon.

“Ini Ollan Pak. Kami tadi kesasar. Salah masuk  kampung.”

“Salah masuk kampung? Maksud kamu apa?”

“Iya sih. Bapak menggambar peta bikin Ollan bingung tadi. Nama-namanya kok pakai inisial. Kebetulan ada kampung yang namanya. “

“Oh ya?! Aduh Bapak minta maaf. Bapak lupa memang ada dua kampung. Kamu jangan sampai masuk ke kampung ‘kapur barus’ ya. Itu kampung terlarang khusus orang-orang dewasa. Maksudnya jauhi saja. Awas kalau kedapatan ya. Jauhi kampung itu. Ingat itu. Oke?”

“Oke Pak. Kami masih remaja baik-baik Pak. Hahaha”

“Eng…tapi kalau masuk saja boleh?”

“Eiit. Tidak boleh Lan. Tidak Boleh !!!”

 

Beberapa saat kemudian Ollah and the gang melanjutkan kembali perjalanannya. Setelah menempuh sekian perjalanan yang cukup meletihkan. Beberapa kali terasar. Mengalami cuaca panas terik, hujan deras, mendung dan lain-lain. Akhirnya tibalah mereka tempat yang dituju. Sebuah perkampungan bernama ‘Kampung Baru’. Entah kenapa dinamakan begitu. Kalau kita amati sekilas  rumah-rumah para penduduk di sana rata-rata bangunan lama cendrung berusia tua. Kelihatan dari tampilan-tampilannya. Memang ada beberapa rumah yang baru dibangun. Karena tampak ada beberapa tukang sedang membuat pondasi.

Setelah sempat bertanya-tanya dengan beberapa orang yang ditemui di jalan yang mereka lalui, sampailah mereka di depan rumah yang sederhana. Bangunannya biasa saja. Tidak terkesan mewah. Di sisi rumah terbentang sebuah jalan kecil. Seukuran satu mobil sedan. Letak jalan tersebut lebih tinggi daripada rumah. Ada ada sebuah tangga terbuat dari semen yang menghubungkan keduanya.

Singkat cerita mereka bersua juga dengan si pemilik rumah. Wak Geri menyambut dengan ramah. Ollan menyalami pria paruh baya itu dengan sedikit membungkuk. Kemudian diikuti beberapa temannya ikut menyalaminya juga. Wak Geri menanyakan kabar.

“Bagaimana kabar Bapakmu? Sudah bugar dia?”

“Tentu Wak. Hanya kemarin sempat flu.” Jawab Ollan.

“Bilang sama dia jangan suka begadang dan main hujan. Kalau sakit itu salah sendiri.Hahaha.”

“Iya Uwak.”

Setelah beramah tamah sejenak. Tanpa basa basi Ollan menceritakan tujuannya dan maksud kedatangannya. Wak Geri tertawa meledek Juned.

Uwak Gery meminta Juned untuk masuk ke kamar prakteknya. Teman teman yang lain diminta menunggu di luar. Tidak ada kesan seram dan angker seperti yang dilihat di film film sinetron. Begitupun Wak Geri dan keluarganya, tidak ada tampang seram. Juned terlalu mendramatisir.

“Hanya karena sebuah kalkulator sampai membawa kalian ke kampung ini.”

“Iya Uwak.” Jawab Juned terbata-bata. “Itu pemberian dari orangtua saya Uwak. Harganya cukup mahal. Featurenya lengkap. Bukan hanya sekedar buat menghitung. Lalu…”

“Lalu apa?”

“Saya takut Ayah saya marah seandainya dia tahu barang itu hilang. Berarti saya tidak bisa menjaga dan menghargai pemberiannya.”

“Juned Juned. Bapakmu sudah membelikan kamu sebuah kalkulator kan. Saya yakin setiap pemberian orangtua ke anaknya adalah ikhlas. Kalkulator itu sudah menjadi sepenuhnya milik kamu. Ayahmu kalau sedih, marah dan kecewa itu wajar. Karena Juned tidak dapat menyimpan dan menjaganya dengan baik. Ayahmu tidak berhak menghukummu. Ingat itu. Dia tidak berhak. Kecuali dia hanya meminjamkannya. Boleh dong dia minta kembali. Jadi tidak perlu takut.”

“Iya Uwak. Lalu…”

“Lalu apa lagi…”

“Lalu…saya hanya ingin meminta bantuan Uwak untuk melihat kira-kira siapa orang yang telah mengambil kalkulator saya. Menurut Ollan, Uwak ahli dalam hal begitu. Saya penasaran saja .”

“Oh begitu.”

“Begitu Wak.”

“Saya hanya manusia biasa Nak Juned. Semua kelebihan yang saya miliki hanya titipan. Suatu saat bisa saja diambil oleh Tuhan kembali. Dan saya minta Juned juga berusaha dan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan. Nanti saya juga akan bantu. Saya amati sekilas, ada sedikit keganjilan dan ketidaknormalan yang sekarang bertengger di badanmu. Efeknya membuat pusing dan suka bertindak gegabah. Suka tanpa sengaja memamerkan sesuatu. Tenang, nanti saya obatin dulu pemilik kalkulatornya dulu yah. Setelah Juned sembuh baru kalkulatornya.”

“Tunggu Uwak. Saya tidak sakit kok.”

“Junde sakit. Menurut penerawangan Uwak begitu. Dan harus diobati. Uwak lihat Juned mulai menjauh dari Tuhan semenjak kehilangan kalkulator.”

“Tapi saya benci obat Wak. Saya tidak suka pil, kapsul dan puyer yang pahit-pahit. Saya anti itu Uwak. Dan saya tidak mau disuntik.”

Wak Geri melongo. “Anda kira saya dokter hewan eh maksudnya dokter jiwa.”

“Saya bukan dokter dan tidak akan menyuntik pantatmu. Ada ada saja kamu ini.”

“Maafkan saya Wak. Kirain…”

“Terus saya mau dikasih obat apa Wak?” Juned nagih.

“Wudhu?” Ucap Wak Gery sambil mengangguk mantap.

“Wudhu Wak? Kan belum masuk waktu sholat?”

“Wudhu itu nggak mesti untuk sholat saja. Sudah Kamu ke pancuran yang ada kendinya. Nanti balik lagi kemari.”

Juned menuruti saja apa kemauan Wak Gery. Biar beres permasalahannya, pikir Juned. Dia bergegas menuju ruangan belakang. Setelah sempat celingak celinguk akhirnya dia menemukannya. Kamar mandi di rumah itu lumayan luas. Tidak ditemukan shower, wastafel ataupun bath up di sana. Juned hanya menjumpai pancuran yang terbuat dari bambu kuning yang digerakkan oleh pompa hidrolik otomatis elektrik. Dari ujungnya menyembur air yang jernih tak berbau. Di sekitar berdiri kendi-kendi dari keramik china yang berukuran besar dan kecil dipergunakan sebagai penampung air. Sentuhan hiasan dan tradisional sangat mendominasi sekali.

Setelah berwudhu, Juned diberi sebotol air mineral ukuran 1500 liter yang telah dibacakan doa dan mantra. Tak lupa Juned diminta membaca doa yang disuruh dihapal.   Juned percaya saja bahwa air itu telah diberi doa dan mantra. Padahal Wak Geri hanya membisikkan surah Alfateha saja. Wak Gery sebetulnya tidak ingin dikatakan paranormal atau dukun. Dia tidak mau dianggap sebagai orang pintar yang mengerti segalanya melebihi sang Pencipta. Dia tidak mau ada orang terjerumus dalam kesirikan. Wak Geri acapkali berpesan kepada setiap pasiennya, “Yang memberi kesembuhan adalah Tuhan. Saya hanya media saja. Maka berdoalah pada-Nya. Mohon ingat saya hanya manusia biasa yang lemah dan terbatas kemampuan. Saya ingin orang selalu pada jalur yang benar dan tidak mendewakan manusia. Sekali lagi keberhasilan ramalan dan pengobatan saya adalah semua dari Sang Pencipta.”

Pada suatu kesempatan, Junedpun menerima pesan seperti di atas dari Wak Geri. Juned terpekur dan merasa kecil dihadapan-Nya. Semula dia telah membayangkan Wak Geri yang tidak-tidak, seperti seorang dukun yang bertampang seram, memasang tarif mahal, berkalungkan tengkorak, penuh aroma keangkeran, penuh nuansa mistik dan tumpahan mantra mantra dan lain sebagainya. Ternyata berbalik 180 derajat. Dugaannya meleset. Ternyata Wak Gery memberi banyak pelajaran berharga apa artinya kehidupan ini.

Kedatangan Juned disambut oleh teman-temannya seperti orang yang telah lama tak jumpa.

Siang itu Juned sedang asik tiduran di kamar kosnya. Tangannya hendak meraih buku mata kuliah. Dia kaget bukan kepalang ketika melihat ada sebuah kalkulator tergeletak di situ. Diambil dan diciumnya. Juned mengeryitkan keningnya dan menggelengkan kepala pelan. Para pembaca mungkin sudah tahu siapa pelakunya bukan?

(SeriSERIAL KAMPUS…ING) BERKUNJUNG KE RUMAH PARANORMAL

Oleh : Deddy Azwar

 

Mobil Toyota Hardtop milik Ollan berjalan dengan jumawa menjelajahi jalan raya. Keempat bannya berputar kencang menapaki jalanan beraspal dengan kokohnya. Bodynya yang jangkung memudahkan Ollan memandang ke luar melalui kaca depan. Layaknya seorang raksasa sedang berjalan mengangkangi kendaraan-kendaraan berbadan rendah  di bawahnya. Seakan-akan setiap injakan kakinya mendarat ke tanah membuat bumi bergetar dan bergemuruh. Terguncang-guncang. Memang kendaraan double gardan ini diibaratkan seorang pejantan tangguh berjalan dengan penuh percaya diri.

Juned, merupakan masalah penumpang yang paling was was di antara rekan seimg_20151018_082820gangnya. Mukanya menunjukkan ketidakjelasan. Berbeda dengan semua temannya yang tidak memiliki beban dan perasaan apa-apa alias tenang-tenang saja bah. Wajah Juned melukiskan kegelisahan dan kegalauan yang teramat dalam. Terbersit sinar ketakutan dan keseraman. Kalau saja mobilnya Ollan sedikit luas dan lega Juned sudah pasti koprol dan jungkir balik. Melayang-layang seperti di dalam ruangan hampa udara layaknya astronot.

“Lan..Kamu ada poto wak Gery.” Junde membuka suara dengan pelan.

Pertanyaan Juned tidak langsung dijawab oleh Ollah. Bukan karena malas, namun matanya terasa berat dan kerap terkatup. Rasa kantuk itu telah melandanya saat mobil yang di stirnya mulai memasuki kawasan perkampungan. Mereka telah jauh meninggalkan pemukiman perkotaan. Perlahan-lahan aroma udara segar terasa masuk lewat jendela. Udara bersih terasa berbeda dengan udara kota.

“Lan, Juned nanya tuh!” Tekya mencolek bahu Ollan hingga dia tersentak kaget.

“Oh ya? Kamu nanya apa Jun? Sorry aku melamun.” Ollan sasmbil menolehkan kepalanya sambil menguap. “Ooh. Emang dia pacarku jadi musti simpan potonya. Sudahlah nanti sampai di sana kamu akan tahu sendiri.”

“Orangnya nggak serem kan Lan?”

“Serem kok. Hehehe.” Ledek Ollan

“Ee-eh kalau kamu mengantuk biar aku gantikan. Bahaya nih, kita semua kan belum pada kawin.” Tawar Midun bersemangat setelah melihat Ollan mulai loyo. Tangannya sudah gatal ingin mengemudi.

“Berapa jam lagi kita baru sampai?” Yamato mulai kasak kusuk.

“Iya Bro. Kalau masih jauh…”ucasp Parman lirih.

“Maksudnya istirahat ya Man?”Terka Syahrul.

“Bukan Rul, perutku sudah berinstrumentalia.” Parman mengelus-elus perutnya.

“Wah! Kalau gitu kita sama.” Ucap Midun spontan.

“Sabar. Sebentar lagi sampai kok.” Ollan meyakinkan. Kemudian dia menyetel lagu dari Panbers.

“Sebentar lagi. Sebentar lagi melulu. Emang kamu tidak lapar?” Protes Parman.

Akhirnya Ollan menyerah juga untuk berhenti mengemudi juga setelah dikeroyok beberapa temannya yang nyata-nyata sudah kelaparan. Parman dan Midun adalah orang paling bergembira melihat gelagat Ollan.

“Oke oke. Yuuk kita makan. Aku pinginnya kita makan disana saja. Ada warung di sana sedap masakannya. Tapi kalau memang sudah nggak tahan lagi. Apa boleh buat.”

Ollan membelokkan kendarannya ke sebuah rumah makan Padang. Mereka sengaja mencari rumah makan berhalaman parkir yang luas . Terdapat beberapa kendaraan bernaung di bawah pohon yang rimbun. Apabila ada rumah makan selalu tampak ramai oleh pengunjung terdapat beberapa kemungkinan alasan-alasan yang timbul ke permukaan. Alasan pertama, tentu saja karena disebabkan masakannya nyata-nyata lezat sehingga menarik-narik lidah-lidah pelanggan untuk makan di sana. Sudah pasti koki masaknya jago dalam meramu bahan-bahan dan bumbu-bumbu dengan jitu dengan panduan dari resep-resep rahasia yang berasal dari warisan leluhurnya. Alasan kedua sedang promo tertentu dengan memberikan paket harga tertentu. Alasan ketiga yang paling ekstrem dan berani memakai tenaga makhluk asral dengan melakukan ritual tertentu sehingga tanpa sadar para pelanggan merasakan masakaannya nikmat tiada tara. Si pemilik restoran sudah tidak takut dosa lagi. Yang ada dalam kepalanya hanya mencari untung walau dengan cara tidak halal. Alasan keempat ada yang hanya sengaja mencari lokasi yang menyenangkan dengan berbagai fasilitas bermain untuk anak-anak,  taman yang asri dengan perpohonan nan rimbun, atau support wifi tanpa menghiraukan menu-menu yang disajikan. Dengan kata lain semata-semata mencari tempat kongkow atau nongkrong saja.

Tujuh sekawan ini makan dengan lahap sesuai porsi masing-masing. Walaupun masakannya lezat sesuai selera, namun tidak ada seorangpun yang berani menambah menu lain. Mereka sadar akan kondisi kantong yang pas pasan sebagai seorang mahasiswa. Terlebih lagi dengan Midun, Juned dan Yamato yang sudah terbiasa dengan kamus berhemat, irit dan efisiensi. Sebagai anak rantau yang masih mengandalkan wesel dari orang tua tidak berani untuk berfoya-foya. Ketiganya sangat memperhitungan anggaran keuangan mereka dengan cermat dari bulan ke bulan. Jika tidak akan amburadul sekali.

“Bener nih nggak ada yang mau nambah?” Tawar Midun.

“Maksudmu nambah apa nih? Tanya Yamato kebingunan.

“Apa kek, air putih kek, nasi kek, tekek ke…”Jawab Midun.

“Kamu mau ntraktir kita-kita Dun?” Syahrul memancing-mancing.

“Enak saja. Bayar sendiri-sendirilah. Kan tanggal tua.” Tangkis Midun seraya berkata lagi, “Ayo siapa yang mau nambah makan lagi?”

Semuanya serempak menggeleng. “Sudaaaah kenyuaaang!!”

“Kalau gitu ayo kita cabut.” Ajak Ollan sambil melempar kunci mobil kepada Midun. Karena tidak siap, kunci beserta dompetnya mendarat di jidatnya. Midun gelalgapan sambil mengomel-ngomel. Ollan berlalu sambil tertawa lepas.

Midun memacu kendaraan dengan sangat kencang sekali. Ada kali di atas 100 km perjam. Membuat keadaan di dalam mobil berguncang-guncang. Syahrul nyaris terlempar ke pangkuan Parman. Tekya nyaris mencium kaca jendela samping. Yamato mendarat sukses di lantai mobil. Tekya dengan cekatan mencengkram besi jok dengan kuat sehingga dia hanya terantuk atap dua kali. Juned terpental lalu menindih Yamato. Ollan yang duduk di depan kepalanya kejeduk dashboard. Dia berteriak, “Bantal gulingku mana? Bantal gulingku mana?” Rupanya dia menginggau karena keasikan tertidur.

“Ollan nggigau! Ollan nggigau. Huhua,” Midun tergelak tanpa rasa bersalah.

“Pelan dikit dong Dun! Kau mau mencelakakan kita-kita apa!” Bentak Ollan kesal. “Awas! Kalau masih ngebut biar saya aja yang nyetir.”

“Aduh. Sorry sorry bro. Bagiku itu kecepatan normal kok.”

“Normal pala lu benjut!” Juned ikut-ikutan marah.

“Iya nih. Kita-kita kan belum mencicipi kawin, tahu.?!” Tekya ikut-ikutan menyudutkan Midun.

“Coba tadi kalau nih mobil kebalik? Aku tidak bisa membayangkan kalau Ollan digantung Bapaknya di pohon cabe. Hehe” Ledek Parman.

Lima menit kemudian suasana netral lagi.